You are on page 1of 5

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Peternakan yang merupakan sub sektor pertanian mempunyai arti strategis

dalam pembangunan pertanian secara menyeluruh. Pembangunan peternakan terus

dilanjutkan melalui peningkatan usaha diversifikasi, intensifikasi dan ekstensifikasi

ternak, didukung oleh pengembangan dan pemanfaatan ilmu dan teknologi

(Purbajanti,E,D.2013).

Pangan asal temak sangat dibutuhkan bagi perhunbuhan, kesehatan dan

kecerdasan masyarakat Indonesia . Daging merupakan salah satu bahan pangan

yang sangat penting dalam mencukupi kebutuhan gizi masyarakat, serta merupakan

komoditas ekonomi yang mempunyai nilai strategis . Kebutuhan daging di

Indonesia terutama berasal dari: (a) unggas (broiler, petelur jantan, ayam kampung

dan itik), (b) sapi (sapi potong, sapi perah dan kerbau), (c) babi, serta (d) kambing

dan domba (kado) (Inounu,dkk.,2005).

Bahan pakan adalah setiap bahan yang dapat dimakan, disukai, dapat

dicerna sebagian atau seluruhnya, dapat diabsorpsi dan bermanfaat bagi ternak.

Oleh karena itu agar dapat disebut sebagai bahan pakan maka harus memenuhi

semua persyaratan tersebut, sedang yang dimaksud dengan pakan adalah bahan

yang dapat dimakan, dicerna dan diserap baik secara keseluruhan atau sebagian dan

tidak menimbulkan keracunan atau tidak mengganggu kesehatan ternak yang

mengkonsumsinya ( kamal, 1998).

Keberhasilan usaha peternakan ditentukan oleh tiga faktor yaitu

genetik,pakan dan manajemen pengelolaan. Pakan memegang peran penting dalam


usaha peternakan mengingat kontribusinya yang sangat besar terhadap biaya

produksi total dalam usaha peternakan.Usaha peternakan sangat tergantung pada

faktor pakan yang menyangkut aspek kuantitas, kualitas,kontinyuitas dan

keseimbangan zat gizi.Industri peternakan di Indonesia mempunyai dua sumber

pakan yaitu hijauan pakan dan limbah tanaman pangan (Purbajanti,E,D.2013).

Hijauan pakan ternak adalah semua bentuk bahan pakan berasal dari

tanaman atau rumput termasuk leguminosa baik yang belum dipotong maupun yang

dipotong dari lahan dalam keadaan segar yang berasal dari pemanenan bagian

vegetatif tanaman yang berupa bagian hijauan yang meliputi daun, batang,

kemungkinan juga sedikit bercampur bagian generatif, utamanya sebagai sumber

makanan ternak ruminansia (Reksohadiprodjo, 1985).

Hijauan merupakan sumber pakan utama untuk ternak ruminansia, sehingga

untuk meningkatkan produksi ternak ruminansia harus diikuti oleh peningkatan

penyediaan hijauan yang cukup baik dalam kuantitas maupun kualitas. Beberapa

faktor yang menghambat penyediaan hijauan, yakni terjadinya perubahan fungsi

lahan yang sebelumnya sebagai sumber tumbuhnya hijauan pakan menjadi lahan

pemukiman, lahan untuk tanaman pangan, dan tanaman industri. Salah satu langkah

untuk mengurangi keterbatasan hijauan dan pakan adalah dengan pemanfaatan

limbah pertanian dan hijauan yang tumbuh di lahan perkebunan. Dengan demikian,

perlu dicari potensi hijauan asal limbah pertanian dan hijauan yang tumbuh di lahan

perkebunan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak ruminansia

(Muhtarudin,dkk.,2014).
Hijauan pakan merupakan bagian tanaman terutama rumput dan leguminosa

yang digunakan sebagai pakan ternak (Hartadi et al., 1993). Wilkins (2000)

menyatakan bahwa hijauan merupakan bagian tanaman yang dapat dimakan,

termasuk padi-padian yang diberikan dengan cara menggembalakan ternak maupun

dipanen untuk diberikan langsung pada ternak. Menurut keberadaannya, hijauan

makanan ternak terdiri dari hijauan yang tumbuh secara alami tanpa campur tangan

manusia seperti pastura alami dan hijauan yang sengaja ditanam oleh petani seperti

rumput gajah, gamal, lamtoro, dan waru (Sutarti dkk, 1976).

Ketersediaan hijauan sangat tergantung pada musim dan pola tanam yang

dilakukan oleh petani. Hal ini sebetulnya umum terjadi pada peternak rakyat

khususnya di lahan kering, hampir seluruh kebutuhan hijauan tergantung dari

limbah tanaman pangan yang ditanam, kualitas hijauan yang akan diberikan pada

ternak hampir tidak pernah diperhatikan oleh petani, yang petani perhatikan adalah

ketersediaannya apalagi musim kemarau (Musofie,A dan Supriadi,2009)

Manajemen pemberian pakan pada umumnya dilakukan dengan sistem cut

and carry untuk pakan basal, sedangkan pakan tambahan diberikan berupa

konsentrat, ampas tahu dan lain sebagainya sesuai dengan ketersediaan di wilayah

tersebut. Pemberian pakan basal berupa rumput introduksi seperti rumput gajah,

rumput raja, setaria dan lainnya, dimana kemampuan suatu wilayah untuk

menyediakan lahan guna menanam rumput introduksi ini semakin berkurang.

Hilangnya areal padang penggembalaan umum serta pengurangan lahan sebagai

akibat semakin diintensifkannya usaha tanaman pangan dan peningkatan kawasan

industri maupun pemukiman mengakibatkan luas areal sumber tanaman pakan

ternak semakin berkurang (Priyanti,A dan Bambang,R,P.,2015).


Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui Budidaya

Hijauan Pakan Ternak.

Kegunaan Penulisan

Adapun kegunaan penulisan makalah ini adalah merupakan salah satu

komponen penilaian Mata Kuliah Dasar Peternakan dan sebagai bahan informasu

bagi pihak yang membutuhkan.


SUTARTI, H., A. JAYANEGARA, A. R., SIREGAR, dan T.
MANURUNG. 1976. Hasil analisa bahan makanan ternak. Lembaga Penelitian
Peternakan – Laporan Khusus No 3. Bogor.

Kamal, M. 1998. Bahan Pakan dan Ransum Ternak. Fakultas Peternakan,


Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Reksohadiprodjo, S. 1985. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak tropic.


Edisi Kedua. BPFE. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Siregar, S.B. 1994. Ransum
Ternak Ruminansia. PT. Penebar Swadaya, Jakarta.

Purbajanti,E.D.,2013.Rumput dan Legum.Graha Ilmu

Inounu,I.Atien,P.Kusuma,D,.2005.Prospek dan arah pengembangan komoditas


peternakan:unggas,sapi dan kambing-domba.Bogor

Musofie,A.Supriadi,.2009.Hijauan pakan dan kegunaan lainnya dilahan


kering.yogyakarta

Priyanti,A dan Bambang,R,P,.2015. Teknologi pasokan hijau pakan yang


berkelanjutan mendukung pengembangan usaha sapi perah di indonesia. Balai penelitian
ternak. Bogor