You are on page 1of 10

Majalah Teknologi Agro Industri (Tegi)

Volume 9 No. 2 Juni 2017

Harmonisasi Standar Nasional (SNI) Air Minum Dalam


Kemasan Dan Standar Internasional
(The Harmonization on the requirement of National Standard (SNI)
Bottled Drinking Water Against to International standard
Sri Agustini
Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang
Jl. Perindustrian II No. 12, Km. 9, Sukarame, Palembang 30152
email: sragustini@yahoo.com

ABSTRAK Studi harmonisasi Standar Nasional Indonesia untuk Air minum dalam kemasan terhadap
persyaratan kualitas air minum yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan No. 492/2010, persyaratan
IBWA (2015) dan persyaratan WHO telah dilakukan. SNI membedakan AMDK menjadi air mineral
(SNI 3553:2015) dan air demineral (SNI 6241:2015) sebagaimana yang dilakukan oleh IBWA
sementara Permekes dan WHO tidak. Selain itu ada perbedaan parameter wajib antara SNI dengan
Permenkes, IBWA dan WHO untuk kontaminasi mikroba. Permenkes, IBWA dan WHO menetapkan
cemaran Total coliform dan E.Coli tidak boleh terdeteksi per 100 ml sampel, sedangkan persyaratan
SNI menetapkan cemaran Total coliform, ALT dan Pseudomonas aeruginosa tidak boleh terdeteksi per
250 ml sampel. Hasil Pengawasan berkala terhadap 8 contoh AMDK yang dilakukan oleh 3
Laboratorium yang berbeda menunjukkan bahwa semua contoh tidak terdeteksi adanya Total
coliform. SNI tidak mensyaratkan pengujian terhadap E.Coli tetapi menetapkan Pseudomonas
aeruginosa, dan ALT sebagai persyaratan. SNI untuk air mineral dan Permenkes menetapkan
parameter persyaratan kimia yang sama untuk parameter yang berpengaruh langsung terhadap
kesehatan. Namun demikian beberapa persyaratan SNI lebih ketat dibandingkan dengan persyaratan
Permenkes. SNI tidak mensyaratkan parameter kesadahan, aluminium dan seng yang merupakan
persyaratan wajib pada Permenkes, WHO dan IBWA. SNI telah mensyaratkan produk samping
disinfeksi yang merupakan persyaratan tambahan yang ditetapkan oleh Permenkes, IBWA dan WHO.
Tidak ada perbedaan persyaratan untuk parameter fisika.
Kata kunci : AMDK, SNI, Permenkes No. 492/ /2010, IBWA code of practice,WHO guidelines.

ABSTRACT The harmonization on the National Standard for bottled drinking water for mineral water
(SNI 3553:2015) and demineral water (SNI 6241:2015) against the regulatory requirements set by
Minister of healt regulation number 492/2010 and International Bottled Water Association
(IBWA,2015), and WHO guidelines for drinking water quality has been done. The objective was to
identify the harmonisation among requirements and standard specification which apllied on the bottled
drinking water. There were 2 distinc differentiation identified. There is different mandatory parameter
between Minister regulation and SNI. The SNI is more stringent and protected than standard required
by Minister regulation for microbial contaminant. The Minister regulation and IBWA requires Total
coliform and E. coli must not be detectable in any 100 ml sample of drinking water, while SNI has set
Total coliform, Total Plate count and Pseudomonas aeruginosa as requirement. Test result for the
samples taken during surveillance showed that all of 8 samples which were sent to 3 different
laboratories did not detected for Total coliform. Instead of E. coli, SNI requires Pseudomonas aeruginosa
and Total plate count as mandatory requirement. Both SNI for mineral water, demineral water and
Minister regulation have the same chemical requirements for those which have health concern, but for
some parameter SNI more stringent than Minister regulation. SNI has not required hardness, aluminium
and zinc those are mandotory parameter according to Minister regulation and IBWA. SNI has reqiured
desinfection by product which were secondary parameter according to minister of health regulation,
IBWA and WHO. No differentiation for physical properties identified between Minister regulation, SNI,
IBWA and WHO.
Keywords: Bottled drinking water, SNI, Ministry of health regulation 492/2010, IBWA code of practice, WHO guidelines.

30
Majalah Teknologi Agro Industri (Tegi)
Volume 9 No. 2 Juni 2017

6242-2015 dan Air Minum Embun SNI 01-


1. Pendahuluan 7812-2013).
Air minum adalah air yang melalui proses Peraturan Menteri Kesehatan nomor :
pengolahan atau tanpa pengolahan yang 492/MENKES/PER/IV/2010 tertanggal 19
memenuhi syarat kesehatan dan dapat April 2010 menetapkan persyaratan kualitas
langsung diminum (Permenkes air minum dengan pertimbangan agar air
No.492/2010). Menurut WHO (2011) kualitas minum yang dikonsumsi oleh masyarakat
air minum merupakan penentu kesehatan tidak menimbulkan gangguan kesehatan.
bagi lingkungan, karena air sangat penting Peraturan Kepala BPOM HK. 00.06.1.52.4011
bagi kehidupan dan mampu mentransmisikan tertanggal 28 oktober 2009 selanjutnya
penyakit pada suatu negara bahkan ke seluruh disebut Perkabpom juga menetapkan 6
benua. Diperkirakan setiap tahun terjadi 4,6 parameter persyaratan cemaran mikroba, dan
miliar insiden penyakit yang diturunkan dari 4 parameter cemaran logam berat untuk
air utamanya kolera yang mengakibatkan 2,2 AMDK.
juta kematian.
Asosiasi Air minum kemasan internasional
Air minum dan Air minum dalam kemasan (IBWA, 2015) dalam Bottled water code of
(AMDK) merupakan produk yang diatur practice, dan WHO drinking water guidelines
secara ekstensiv karena mempunyai peran telah menetapkan persyaratan standar yang
yang sangat penting dalam kesehatan komprehensiv meliputi persyaratan kimia,
masyarakat. Peraturan tersebut dapat berasal fisika dan mirobiologi untuk menjamin
dari peraturan internasional seperti WHO, kualitas dan kemanan produk AMDK.
negara, pemerintah daerah dan dalam
beberapa kasus peraturan tersebut berasal Untuk menjaga kualitas dan daya saing, maka
dari asosiasi misalnya IBWA. Umumnya industri AMDK harus memenuhi persyaratan
peraturan tersebut merupakan standar yang teknis yang ditetapkan dalam Permenperin
didasarkan pada pertimbangan kesehatan. No. 96/M-IND/PER/12/2011 tanggal 20
Desember 2011. Permenperind ini juga
Air minum dalam kemasan yang selanjutnya menetapkan produsen AMDK harus
disebut AMDK adalah termasuk produk memenuhi persyaratan SNI AMDK,
makanan yang dikemas secara individual persyaratan administratif, lokasi sumber air
menggunakan kemasan saniter yang tersegel. baku, persyaratan peralatan minimum,
Menurut Aspadin selama tahun 2009-2014 persyaratan kemasan serta persyaratan
konsumsi AMDK tumbuh 12,5% per tahun. monitoring terhadap mutu produk.
Saat ini, ada sekitar 500 perusahaan yang
bergerak di industri AMDK. (Anonim, 2015). Dari uraian di atas maka SNI AMDK sebagai
satu satunya standar produk AMDK yang
Sebagai produk industri, AMDK ditetapkan berlaku secara nasional harus
sebagai produk yang penerapan SNI nya selaras/harmonis dengan persyaratan AMDK
diberlakukan secara wajib. Penerapan SNI yang ditetapkan dalam Permenkes
AMDK secara wajib diperlukan untuk No.492/2010 dan Permenperin No. 96/2011.
meningkatkan kemampuan bersaing, Selain itu harmonisasi dengan standar
menciptakan persaingan bisnis yang adil, internasional juga diperlukan untuk
untuk menjamin kesehatan, keselamatan dan memfasilitasi ekspor produk AMDK.
keamanan konsumen serta untuk melindungi
lingkungan. Pemberlakuan SNI AMDK sebagai Tulisan ini bertujuan untuk melakukan review
SNI wajib telah ditetapkan sejak tahun 1990 terhadap semua persyaratan produk AMDK,
melalui Permenperind 120/M/SK/10/1990 bagaimana persyaratan ini memberikan
(SNI.0240-1990) yang kemudian direvisi perlindungan terhadap konsumen dan
melalui Permenperind 69/M- harmonisasi antara regulasi yang berlaku di
IND/PER/07/2009 (yaitu pemberlakuan SNI dalam negeri dan harmonisasi dengan
01-3553-2006 dan SNI 0240-90 dinyatakan persyaratan internasional.
tidak berlaku), selanjutnya diatur kembali 1. Bahan dan Metode
melalui Permenperind 49/M-
IND/PER/03/2006 (penambahan air mineral Studi difokuskan kepada persyaratan SNI
alami SNI 01-6242-2000 sebagai SNI wajib), 3553:2015 dan SNI 6241:2015 dibandingkan
dan terakhir direvisi melalui Permenperind dengan persyaratan Permenkes 492/2010
78/M-IND/PER/11/2016 (pemberlakuan SNI tentang persyaratan kualitas air minum dan
Air Mineral SNI 3553:2015, SNI Air demineral Permenperin 96/2011 tentang persyaratan
SNI 6241:2015, SNI Air mineral alami SNI teknis industri air minum dalam kemasan

31
Majalah Teknologi Agro Industri (Tegi)
Volume 9 No. 2 Juni 2017

serta teknologi proses yang diterapkan pada persyaratan tambahan. Menurut peraturan ini
industri air minum dalam kemasan dan air minum dikatakan aman bagi kesehatan jika
persyaratan yang ditetapkan oleh IBWA, memenuhi persyaratan fisika, mikrobiologis,
WHO, FDA dan Codex. Dalam studi ini kimiawi, dan radio aktiv yang ditetapkan
dilakukan 3 tahap kegiatan yaitu : dalam persyaratan parameter wajib dan
tambahan.
a. Penilaian terhadap persyaratan SNI
3553:2015 dan SNI 6241:2015 dibanding SNI 3553:2015 menetapkan 34 parameter
kan dengan persyaratan kualitas air sebagai persyaratan kualitas AMDK.
minum yang ditetapkan dalam Permenkes Persyaratan tersebut meliputi 6 parameter
492/2010 serta persyaratan yang mengenai kondisi fisika, 6 parameter
ditetapkan oleh WHO drinking water persyaratan cemaran logam berat, 16
guidelines dan persyaratan International parameter kimia serta 5 parameter
Bottled Water Association/IBWA bottled persyaratan mikrobiologi.
water code of practice (2015), persyaratan
Perbandingan persyaratan yang ditetapkan
FDA dan Codex 33/1985.
dalam peraturan dan SNI, IBWA, WHO, Codex
b. Mempelajari teknologi proses pengolahan 33/1985 dan Permenkes dapat dilihat pada
terkait dengan standar persyaratan AMDK, Tabel 1, Tabel 2 dan Tabel 3.
sumber polutan serta dampaknya
3.1. Parameter Mikrobiologi
terhadap kesehatan dan keselamatan
konsumen yang mengkonsumsinya. Dari Tabel 1 terlihat bahwa Permenkes
492/2010 dan IBWA mensyaratkan dua
c. Melakukan pengambilan contoh serta
parameter mikrobiologi yaitu Coliform dan E.
melakukan pengujian terhadap beberapa
coli, sedangkan SNI 3553:2015 dan SNI
produk AMDK di pabrik serta yang beredar
6241:2015 tidak mensyaratkan parameter E.
di pasaran di laboratorium yang
coli, namun mensyaratkan Total Coliform, ALT,
terakredetasi.
dan Pseudomonas aeruginosa.
3. Hasil dan Pembahasan
Dari segi jumlah, parameter mikrobiologi yang
Air minum didefinisikan sebagai air yang ditetapkan oleh SNI air mineral dan air
melalui proses pengolahan atau tanpa proses demineral lebih banyak bila dibandingkan
pengolahan yang memenuhi persyaratan dengan Permenkes 492/2010, WHO (2011)
kesehatan dan langsung dapat diminum dan IBWA (2015). Hal ini dimungkinkan
(Permenkes, 2010). Dari definisi ini maka karena Permenkes 492/2010 mengizinkan
dapat disimpulkan bahwa air yang disediakan adanya penetapan parameter tambahan
oleh PDAM tidak termasuk dalam subjek sesuai kondisi kualitas lingkungan. Selain itu
peraturan ini, karena air yang dihasilkan tidak Perka BPOM HK.00.06.1.52.4011 menetapkan
dapat diminum langsung. Berbeda halnya parameter ALT, Coliform, Salmonella dan
dengan AMDK dan air minum isi ulang, Pseudomonas aeruginosa sebagai cemaran
keduanya termasuk subjek yang diatur dalam yang mungkin terdapat dalam AMDK. Codex
peraturan ini karena merupakan air yang 33/1985 juga menetapkan Pseudomonas
dapat diminum langsung. aerugenosa, ALT, entero cocci, E.coli, Coliform
dan sporeforming sulphite reducing anaerobes
Permenkes 492/2010 mewajibkan produsen
sebagai cemaran yang mungkin terdapat
air minum menjamin air minum yang
dalam air minum dalam kemasan.
produksinya memenuhi persyaratan fisika,
mikrobiologis, kimia dan radio aktif yang 3.1.1.Total Coliform dan E. coli
ditetapkan sebagai parameter wajib.
SNI air mineral dan air demineral
Sedangkan untuk parameter tambahan
mensyaratkan cemaran Coliform tidak boleh
masing masing sesuai kondisi dan lingkungan
terdeteksi adanya koloni coliform per 250 ml
setempat namun tetap mengacu pada
AMDK, begitu pula Permenkes 492/2010,
parameter tambahan yang ditetapkan oleh
IBWA dan WHO. Dari Tabel 1 terhat bahwa
Permenkes tersebut.
persyaratan SNI untuk cemaran coliform telah
Permenkes 492/2010 menetapkan 8 harmonis dengan Permenkes, IBWA.
parameter wajib yang berhubungan langsung
Pada SNI AMDK sebelumnya SNI 3553-2006
dengan kesehatan ( 6 parameter kimia dan 2
penetapan standar Coliform dinyatakan dalam
parameter mikrobiologi) dan 12 parameter
satuan APM/100ml (APM<2), yang berarti
wajib yang tidak langsung berhubungan
bahwa pengujian Coliform dilakukan
dengan kesehatan serta parameter

32
Majalah Teknologi Agro Industri (Tegi)
Volume 9 No. 2 Juni 2017

menggunakan metode APM. Dengan Persyaratan mutu air baku yang ditetapkan
pemberlakuan SNI 3553:2015 dan 6241:2015 dalam lampiran 1 Permenperind 78/M-
persyaratan mutu untuk Total coliform yang IND/PER/11/2016 hanya mensyaratkan
ditetapkan telah harmonis dengan Permenkes persyaratan mikrobiologi untuk total Coliform
492/2010, IBWA (2015) dan WHO (2011). yaitu sebesar 50 MPN/100 ml untuk air bukan
perpipaan dan 10 MPN/100 ml untuk air
Hasil pengujian terhadap contoh AMDK yang
perpipaan dan tidak mensyaratkan E. coli
diambil untuk pengawasan berkala yang
sebagai parameter kualitas air bersih sebagai
dilakukan di 3 laboratorium menunjukkan
bahan baku air mineral dan demineral.
bahwa dari 8 contoh yang diuji semuanya
memenuhi persyaratan total coliform (TTD), E. coli dan Thermotolerant Coliform
yang juga berarti bahwa semua laboratorium merupakan bakteri yang dapat tumbuh dan
uji yang ditunjuk telah mampu melakukan berkembang pada suhu 44,2oC. E. coli secara
pengujian sesuai dengan metode uji yang luas dianggap sebagai indeks kontaminasi
ditetapkan dalam SNI. faecal. Adanya E. coli pada air minum juga
sering digunakan sebagai indikasi kurang
Coliform adalah bakteri gram negatif, tidak
efektivnya pengolahan air serta sering
membentuk spora dan dapat tumbuh dan
dianggap sebagai indikasi adanya patogen
berkembang pada suhu 37oC. Coliform
pada produk (IBWA, 2015). Meskipun
merupakan kelompok bakteri yang
demikian produk yang tidak mengandung E.
mempunyai karakteristik biokimia dan
coli tidak menjamin bahwa produk tersebut
pertumbuhan yang berhubungan dengan
tidak mengandung patogen. WHO (2011)
kontaminasi faecal. Namun demikian
menetapkan E. coli sebagai parameter untuk
kehadiran Coliform dalam air minum tidak
memantau kualitas air minum. Standard of
serta merta berarti adanya kontaminasi faecal,
quality IBWA (SOQ IBWA) dan standard of
karena Coliform juga terdapat pada air yang
quality FDA (SOQ FDA) tidak membolehkan
tidak terkontaminasi oleh faecal misalnya
adanya E. coli pada AMDK. Jika E. coli
Klebsilia, Entero bacter, dan Cetro bacter.
terdeteksi pada AMDK maka produk dianggap
Adanya Coliform mengindikasikan kebersihan
tercemar dan tidak boleh didistribusikan
dan integritas sistim distribusi serta potensi
kepada konsumen.
terbentuknya biofilm (Medema et al., 2003).
E. coli sangat banyak pada air selokan, limbah
Peraturan Menteri Perindustrian 96/2011
serta semua air yang terkontaminasi oleh
mensyaratkan pengujian Coliform dilakukan
tinja, kotoran hewan serta aktivitas pertanian.
seminggu sekali untuk air baku dan untuk
E. coli merupakan bukti adanya polusi faecal
AMDK dilakukan setiap hari. Berdasarkan
sehingga tidak boleh ada dalam air minum.
Permenperin ini air baku untuk AMDK harus
AMDK yang menggunakan sumber air yang
memenuhi syarat kesehatan yang ditentukan
berasal dari air permukaan harus diberikan
berdasarkan undang undang. Saat ini
perlakuan disinfeksi. E. coli merupakan
persyaratan mutu air baku yang digunakan
bakteri yang resistensinya terhadap desinfeksi
adalah lampiran 1 Permenperind 78/M-
chlorine rendah dan dapat diinaktivasi dengan
IND/PER/11/2016. IBWA (2015)
efektif menggunakan ozon (Solomon, et al.,
mensyaratkan pengujian Total coliform dan
1998; Swancara, 2007; Von Gunten, 2003;
E.coli dilakukan sekali setiap minggu baik
WHO,2011).
untuk air baku maupun untuk produk AMDK.
3.1.2.Pseudomonas aeruginosa
Permenkes 492/2010 dan IBWA
mensyaratkan pengujian E. coli sebagai SNI AMDK 3553:2015 mensyaratkan
parameter wajib yang langsung berhubungan pengujian Pseudomonas aeruginosa. Hal ini
dengan kesehatan. Sedangkan SNI 3553:2015 sesuai dengan Perka BPOM dan standar
dan Perka BPOM HK.00.06.1.52.4011 tidak CAC/RCP33-1985 yang mensyaratkan
mensyaratkan pengujian terhadap cemaran E. pengujian cemaran Pseudomonas. Sedangkan
coli. Hal ini sesuai dengan WHO (2011) dan Permenkes 492/2010 dan IBWA tidak.
FDA (2009) yang mensyaratkan pengujian
Pseudomonas aeruginosa bukan merupakan
terhadap E. coli jika pada air minum terdeteksi
flora alamiah pada air mineral, umumnya
adanya total Coliform. Artinya karena SNI
berasal dari tinja, tanah, air dan selokan.
(2015) mensyaratkan cemaran coliform tidak
Kehadiran P. aeruginosa mengindikasikan
boleh terdeteksi pada AMDK, maka pengujian
kurangnya kebersihan sistim distribusi. P.
E. coli tidak perlu dipersyaratkan.
aeruginosa menyebabkan terjadinya infeksi
pada sistem pernafasan (pneumonia), saluran

33
Majalah Teknologi Agro Industri (Tegi)
Volume 9 No. 2 Juni 2017

kemih, dermatitis, bacterimia, infeksi tulang


dan persendian, infeksi gastrointestinal dan
Air permukaan sangat rentan terhadap
meningitis ( Mena dan Gerba, 2011;
kontaminasi cemaran mikroba yang berasal
WHO,2011). P. aeruginosa dapat bertahan
dari faeses utamanya air sungai. Permenperin
hidup dan tumbuh pada air mineral, sehingga
96/2011 membolehkan penggunaan air
dijadikan indikator kontaminasi pada air baku
permukaan sebagai air baku untuk AMDK.
atau selama proses produksi (CAC/RCP 33-
Menurut Permenperin 96/2011, air
1985).
permukaan adalah air tawar yang terdapat di
3.1.3.Angka Lempeng Total (ALT) atas permukaan tanah yang dapat berupa
mata air, air artesis, air sumur, air sungai, atau
Angka lempeng total merupakan bagian dari
air danau. Ini berarti bahwa air sungai boleh
flora alamiah pada air mineral dan digunakan
digunakan sebagai air baku untuk AMDK.
sebagai indikator pengelolaan proses.
Penggunaan air sungai sebagai air baku untuk
Peningkatan angka lempeng total di atas batas
AMDK sangat rentan terhadap cemaran baik
yang ditentukan menunjukan penurunan
kimia, fisika maupun cemaran biologi, karena
kebersihan, stagnasi atau pembentukan
menurut Angeline et al. (2015) air sungai Deli
biofilm (CAC/RCP 33-1985).
mengandung cemaran E. coli. Hendrawan
Cemaran mikroba seperti Coliform, E.coli, P. (2005) menyatakan bahwa 83 % indeks
aeruginosa dan ALT pada air semuanya kualitas air sungai di Jakarta berkategori
berasal dari tinja, limbah industri, ataupun buruk. Fauzi et al. (2013) menyatakan bahwa
dari pembusukan tumbuhan dan tanah. Faeces hampir seluruh sungai utama di Indonesia
dapat menjadi sumber bakteri patogen, virus, tidak dapat digunakan langsung sebagai
protozoa dan helmint. Air merupakan media sumber air bersih, karena tercemar oleh
tranportasi yang efektip bagi infeksi mikroba limbah cair domestik dan industri, sampah
(Levantesi, 2012; WHO, 2011). Selama musim domestik, pemakaian air berlebihan, dan
hujan, sumber air baku sangat mungkin penataan fungsi lahan yang tidak baik. Selain
terkontaminasi oleh mikro organisme. Sistim itu 30 % masyarakat masih buang air besar di
saluran limbah yang tidak memadai dapat badan air. WHO (2011) menyarankan untuk
menjadi sumber cemaran bagi air baku. menghindari penggunaan air sungai sebagai
sumber air baku untuk air minum jika kualitas
Permenperin 96/2011 mensyaratkan jarak
airnya tidak baik, hal ini untuk menurunkan
sumber air baku dengan sumber pencemar
resiko dan mencegah potensi masalah pada
minimum 15 meter dari saluran limbah yang
proses pengolahan selanjutnya.
kedap air, 30 meter dari septik tank atau
saluran limbah lainya yang tidak kedap air IBWA (2015) dan FDA (2015) tidak
dan 60 meter dari lubang sumur, lapangan membolehkan penggunaan air permukaan
penimbunan limbah, kandang/lapangan sebagai sumber air untuk AMDK. Bottled
tempat tinggal hewan. Ketentuan ini dapat water microbial rule yang ditetapkan oleh FDA
mencegah kontaminasi sumber air baku dari menyatakan jika pada sumber air baku
cemaran mikroba, karena menurut Medema et terdeteksi adanya E. coli maka sumber air
al. (2003) selama perjalanan menuju sumber baku tersebut tidak aman dan tidak saniter
air baku, mikroba akan tersaring dan melekat untuk AMDK dan tidak dibolehkan untuk
pada partikel tanah dan mati. Ini juga berati digunakan sebagai air sumber untuk AMDK,
bahwa air sumur dalam lebih terlindung dari begitu pula dengan standar IBWA.
kontaminasi cemaran mikroba dari pada air
permukaan.

Tabel 1. Pengujian Awal


Parameter Satuan IBWA (2015) Menkes WHO Air Mineral Air
(2010) (2011) SNI3553:20 demineral
15 SNI
6241:2015
Total Coliform Jml/250 ml 0 0 0 TTD TTD
E. Coli Jml/ 100 ml 0 0 0 - -
ALT awal Koloni/ ml - - - 1 x 102 1x102
ALT Akhir Koloni/ - - - 1 x 105 1x105
Pseudo monas A Koloni/ 250ml - -. - TTD TTD

34
Majalah Teknologi Agro Industri (Tegi)
Volume 9 No. 2 Juni 2017

3.2. Parameter Kimia logam dan garam dengan efektip. Namun


demikian code of practice IBWA (2015)
Permenkes 492/2010 menetapkan 8
menetapkan persyaratan untuk air demineral
parameter kimia sebagai parameter wajib
meliputi pH, chlorida, sulfat, amonia, kalsium,
yang langsung berhubungan dengan
CO2 serta bahan yang mudah teroksidasi.
kesehatan dan 10 parameter kimia wajib yang
tidak langsung berhubungan dengan Bahan kimia di dalam air minum dapat
kesehatan. SNI 3553:2015 menetapkan 24 memberikan pengaruh yang tidak diinginkan
parameter kimia untuk air mineral dan SNI bagi kesehatan. Berbeda dengan kontaminasi
6241:2015 untuk air demineral hanya 8. mikroba yang bersifat akut dan menimbulkan
gejala dalam waktu singkat setelah tertelan,
Semua parameter kimia wajib yang
maka kontaminasi bahan kimia dapat
berhubungan langsung dengan kesehatan
menimbulkan penyakit kronis dengan periode
yang ditetapkan dalam Permenkes 492/2010
laten yang signifikan sebelum menimbulkan
juga disyaratkan oleh SNI 3553:2015 untuk
gejala (Howard, 2003).
air mineral bahkan untuk beberapa parameter
( flourida, nitrit, nitrat dan sianida) lebih ketat Dari 10 parameter wajib yang tidak langsung
dari persyaratan Permenkes. Perbedaan ini berhubungan dengan kesehatan yang
dapat dilihat secara rinci pada Tabel 2. ditetapkan oleh Permenkes 492/2010, ada 3
parameter yang tidak disyaratkan oleh SNI Air
Bahan kimia pada air dapat berasal dari
mineral, yaitu Aluminium, kesadahan dan
sumber air, misalnya sumur dalam dapat
seng.
mengandung garam arsen, flourida dan dapat
pula berasal dari kontaminasi selokan, limbah Permenkes mendefinisikan air minum yang
pabrik, limbah pertambangan, kebocoran aman bagi kesehatan adalah apabila
septik tank, pengilangan, pengeboran, korosi memenuhi persyaratan fisika, kimia,
pada perpipaan, plumbing, erosi deposit alami mikrobiologi dan radioaktiv yang disyaratkan
serta hasil samping proses disinfeksi dalam parameter wajib dan tambahan.
(Disinfection by product/dbp). Penetapan Parameter wajib merupakan persyaratan
bahan kimia sebagai persyaratan air minum kualitas air minum yang wajib ditaati oleh
didasarkan pada kemungkinan keberadaan seluruh penyelenggara air minum. Hal ini
bahan kimia tersebut di dalam air minum, baik berarti bahwa persayaratan SNI 3553:2015
secara alamiah maupun sebagai akibat dari belum harmonis dengan persyaratan
proses pengolahan serta pengaruhnya Permenkas 492/2010.
terhadap kesehatan dan aestetika (WHO,
Aluminium, seng dan kesadahan merupakan
2011, Ozier dan Mc Farland, 2005).
parameter yang tidak langsung berhubungan
Berbeda halnya dengan air mineral, dari 8 dengan kesehatan. Keberadaan ketiga
parameter wajib yang langsung berhubungan parameter tersebut pada air minum dapat
dengan kesehatan hanya parameter Arsen dan memicu keluhan konsumen, karena akan
Cadmium yang ditetapkan batas mempengaruhi rasa, serta bau. IBWA (2015),
maksimumnya untuk air demineral, sisanya 6 FDA (2016) dan EPA menetapkan aluminium
parameter tidak ditetapkan. Jika dilihat dari dan seng sebagai secondary parameter untuk
proses produksinya, air demineral diproduksi pertimbangan estetik dan aspek
dengan cara Reverse osmosis, destilasi ataupun keberterimaan serta tidak berhubungan
deionisasi sehingga zat terlarut yang terdapat dengan kesehatan. Namun WHO (2011)
pada air demineral hanya 10 mg/l (SNI, 2016). menyarankan untuk meminimalkan kadar
Umumnya air demineral di Indonesia aluminium pada air minum karena berpotensi
diproduksi dengan menggunakan Membrane meracuni syaraf (neurotoxicity). Meskipun
reverse osmosis. Menurut WHO (2011) demikian WHO tidak menetapkan aluminium,
membrane reverse osmosis akan menolak ion seng dan kesadahan sebagai parameter
bervalensi satu dan zat organik yang standar untuk air minum, karena ketiga
berukuran > 50 dalton (ukuran membran parameter tersebut konsentrasinya di dalam
reverse osmosis < 0,002 μm). Ada dua jenis air minum tidak berpengaruh terhadap
membran yang biasa digunakan pada reverse kesehatan. FDA dan IBWA menetapkan
osmosis, yaitu Cellulose triacetate (CTA) aluminium dan seng sebagai persyaratan
digunakan untuk menghilangkan chlorine dari sekunder dengan kadar maksium 5 mg/l
air, dan Thin film composite (TFC) yang sangat untuk seng dan 0,2 mg/l untuk aluminium.
resisten terhadap bakteri. Proses reverse
Tabel 2 juga menunjukkan adanya 2
osmosis dapat menghilangkan bakteri, virus,
parameter yang disyaratkan oleh SNI AMDK

35
Majalah Teknologi Agro Industri (Tegi)
Volume 9 No. 2 Juni 2017

dan tidak disyaratkan oleh Permenkes yang ditetapkan dalam SNI 3553:2015 dan SNI
492/2010 yaitu untuk parameter total zat 6241:2015 yaitu ozon (dbp: bromat) dan ion
organik (untuk air demineral) dan perak perak (dbp: perak). IBWA, FDA dan EPA
(untuk air mineral dan demineral). IBWA dan menetapkan 2 jenis desinfeksi yaitu (1) ozon
FDA mensyaratkan parameter perak pada dengan dbp: bromat, Haloacetic acids (HAA5),
AMDK dan tidak mensyaratkan parameter Total Trihalomethanes (TTHMs) dan (2)
total zat organik karbon baik pada AMDK disinfektan berbasis klorin (klorin, kloramin,
maupun pada air yang dimurnikan (air atau klorin dioksida) dengan dbp HAA5 dan
demineral). Namun demikian Permenkes Total Trihalomethanes (TTHMs).
492/2010 juga membolehkan penetapan
Disinfeksi menggunakan klorin akan
parameter tambahan bagi air minum namun
menghasilkan produk samping berupa
harus tetap mengacu pada persyaratan
trihalomethane/THM (chloroform, bromo
tambahan yang ditetapkan dalam Permenkes
dichloromenthane, bromoform dan
492/2010. Parameter total zat organik, dan
dibromochloromethene), dan haloacetic
perak tidak termasuk dalam parameter
acids/HAA5 (monochloroacetic acid,
tambahan yang ditetapkan oleh Permenkes
dichloroacetic acid, trichloroacetic acid,
492/2010. Begitu pula IBWA, FDA dan WHO
monobromoacetic acid dan dibromoacetic
tidak menetapkan parameter Parameter total
acid). IBWA membatasi kontaminasi total tri
zat organik sebagai persyaratan kualitas air
halomethane (TTHM) pada air minum sebesar
minum. Penetapan parameter tambahan harus
0,01 ppm dan 0,06 ppm untuk HAA5.
mempertimbangkan kemungkinan
keberadaan bahan tersebut di dalam air Disinfeksi menggunakan ozon akan
minum, kondisi kualitas lingkungan setempat menghasilkan produk samping senyawa
serta teknologi yang dipakai pada pengolahan bromate, sedangkan disinfeksi menggunakan
air minum tersebut. ion perak dapat meninggalkan residu perak
pada produk. Permenperin 96/2011
Saat ini teknologi pengolahan yang dipakai
membatasi residu perak pada produk
pada produksi AMDK adalah filtrasi meliputi
maksimum 25 ppb. SNI 3553:2015 dan SNI
reverse osmosis, nano filtrasi, ultra filtrasi,
6241:2015 mensyaratkan cemaran perak
mikro filtrasi, bag and cartrigde filter, filtrasi
pada air mineral/demineral dan menetapkan
granular termasuk sand and slow filtration
batas maksimum cemaran perak sebesar
(Stanfield et al., 2003) yang diikuti dengan
0,025 ppm.
disinfeksi. Proses disinfeksi yang sering
dipakai adalah klorin, ozonisasi ataupun EPA menetapkan perak sebagai salah satu
penggunaan radiasi sinar UV dan ion silver standar sekunder yang dimaksudkan untuk
(Pemenperind 96/2011). Proses desinfeksi pertimbangan estetis dan tidak berisiko
dengan ion silver (ion perak) akan terhadap kesehatan. Menurut EPA (2001),
menyebabkan adanya residu perak pada Fewtrel (2014), dan WHO (2003) perak
AMDK yang dihasilkan. menyebabkan perubahan warna pada kulit
dan menyebabkan perubahan warna bagian
Proses disinfeksi diketahui akan menimbulkan
putih pada mata menjadi kelabu yang disebut
produk samping disinfeksi (disinfection by
argyria dan tidak mengganggu fungsi tubuh.
product/dbp) karena disinfektan akan
EPA (2001) menetapkan standar untuk perak
bereaksi dengan bromida dan/atau bahan
karena perak digunakan sebagai antibakterial
kimia organik alami yang ada di dalam air
pada banyak peralatan pengolahan air di
baku (EPA,2006; Richardson, et al., 2000; Von
rumah tangga, sehingga berpotensi
Gunten, 2003, Trevor, 2001).
menimbulkan masalah. EPA menetapkan
Permenkes 492/2010 menetapkan dbp secondary maximum contaminant level untuk
sebagai persyaratan tambahan, begitu pula perak sebesar 0,1 mg/l sedangkan SOQ IBWA
SNI 3553:2015 dan SNI 6241:2015 (2015) dan FDA (2016) menetapkan batas
mensyaratkan batas maksimum dbp pada perak masing masing sebesar 0,025 mg/l dan
AMDK. IBWA, FDA dan EPA mensyaratkan 0,1 mg/l.
pengujian untuk semua dbp pada AMDK dan
Menurut EPA (2004) produk samping
air sumber jika dilakukan disinfeksi dengan
disinfeksi dapat berpengaruh buruk terhadap
periode pengujian setahun sekali. Menurut
kesehatan. Senyawa bromate dapat
WHO (2010); WHO (2003); WHO (2005) tidak
meningkatkan tekanan darah dan bersifat
semua dbp harus menjadi persyaratan, tetapi
carcinogenic, senyawa trihalomethane dapat
harus memperhatikan jenis disinfeksi yang
merusak ginjal atau merusak sistim syaraf
digunakan. Ada 2 jenis desinfektan dan dbp

36
Majalah Teknologi Agro Industri (Tegi)
Volume 9 No. 2 Juni 2017

pusat dan meningkatkan resiko kanker (EPA, berkala memenuhi persyaratan kimia yang
2001; WHO, 2011). Permenkes 492/2010 ditetapkan dalam SNI air demineral.
menetapkan disinfektan dan produk
3.3. Parameter Fisika
sampingnya sebagai persyaratan tambahan
dengan batas maksimum untuk bromate Permenkes menetapkan 6 parameter
sebesar 0,01 mg/l. persyaratan fisika meliputi bau, warna, rasa,
TDS, kekeruhan dan suhu. Sedangkan SNI
Hasil pengujian terhadap contoh air mineral
hanya menetapkan 5 parameter dari 6
yang diambil untuk pengawasan berkala
parameter fisika yang ditetapkan oleh
diambil memenuhi persyaratan kimia yang
Permenkes dan satu parameter yang tidak
ditetapkan dalam SNI air mineral. Begitu pula
ditetapkan yaitu suhu. SNI AMDK
menunjukkan bahwa semua contoh uji yang
mensyaratkan kekeruhan lebih ketat dari
hasil uji untuk contoh air demineral yang
persyaratan Permenkes.
diambil memenuhi selama pengawasan

Tabel 2. Perbandingan persyaratan kimia (dalam mg/l)


Parameter IBWA, 2015 WHO,2011 Menkes Air Mineral Air demin
(mg/l) (mg/l) (mg/l) (mg/l) (mg/l)
Arsen1 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01
Flourida1 1,4 1,5 1,5 1,0 -
Total Kromium1 0,05 0,05 0,05 0,05 -
Kadmium1 0,005 0,003 0,003 0,003 0,003
Nitrit (NO2-)1 1 0,2 3 0,1 -
Nitrat (NO3-)1 10 50 50 44 -
Sianida1 0,1 0,07 0,07 0,05 -
Selenium1 0,01 0,01 0,01 0,01 -
Aluminim2 0,2 0,2 0,2 - -
Besi (Fe)2 0,3 - 0,3 0,1 -
Kesadahan2 - - 500 - -
Klorida2 250 - 250 250 -
Mangan 2 0,05 0,4 0,4 0,05 -
pH2 6,5-8,5/5-7,0 6,5-8,5 6,5-8,5 6,0-8,5 5,0-7,5
Seng2 5 5 3 - -
Sulfat2 250 - 250 200 -

Tembaga2 1 2 2 0,5 0,5


Amonium2 - - - 0,15 -

Barium 3 1 0,7 0,7 0,7 -

Boron 3 - 0,5 0,5 2,4 --

Timbal 3 0,005 0,01 0,01 0,005 0,005


Raksa 3 0,001 0,001 0,001 0,001 0,001
KMNO4 3 - - 10 1,0 -
Klor bebas3 0,1 0,5 5 0,1 -

T. organik carbon 4 - - - - 0,5


Perak 6 0,025 - - 0,025 0,025
Bromat5 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01
Kadar CO2 bebas7 - - - 3000-5890 3000-5890
O2 terlarut awal8 - - - min 40,0 min 40,0
O2 terlarut akhir8* - - - min 20,0 min 20,0
Catatan : Parameter wajib yang langsung berhubungan dengan kesehatan, Parameter wajib yang
1) 2)

tidak langsung berhubungan dengan kesehatan, 3) Parameter tambahan, 4) tidak ditetapkan oleh
Permenkes 492/2010, 5) jika desinfeksi dengan proses ozonisasi, 6) desinfeksi dengan proses ion perak,
7) Jika dilakukan penambahan CO2, 8) Jika dilakukan penambahan O2,

37
Majalah Teknologi Agro Industri (Tegi)
Volume 9 No. 2 Juni 2017

Tabel 3. Perbandingan persyaratan Fisika


Parameter IBWA Permenkes Air Mineral Air demineral
SNI3553:2015 SNI6241:2015
Bau 3 T.O.N Tak berbau Tak berbau Tak berbau
Warna 5 unit 15 TCU 5 PT Co 5 PT Co
TDS (mg/l) 500 500 500 500
Kekeruhan(NTU) 0,5 5 1,5 1,5
Rasa - Tak berasa Normal Normal
suhu( oC) - Suhu udara ± 3 - -

4. Kesimpulan
Codex Alimentarius Comission (2007). Water.
Terdapat perbedaan persyaratan parameter Firts Ed. Rome, Italy.
mikrobiologi antara SNI 3553:2015 dan SNI
Codex Alimentarius Comission (2011).
6241:2015 dengan Permenkes 492/2010,
CAC/RCP 33-1985. Code of Hygine and
IBWA (2015) dan FDA dan WHO (2011). SNI
Practice for Collecting, Processing and
3553:2015 dan SNI 6241:2015 tidak
Marketing of natural mineral water.
mensyaratkan E. coli sebagai parameter yang
Rome, Italy.
harus dipastikan tidak boleh ada pada AMDK.
Hal ini berbeda dengan Permenkes 492/2010, EPA.(2001). 40 CFR 143 National Secondary
IBWA, FDA dan WHO yang mensyaratkan Drinking Water Regulations. 7-
bahwa E. coli tidak boleh ada pada air minum. 1(01):608-610.
Sebaliknya SNI AMDK mensyaratkan
EPA.(2005). 40 CFR Parts 9, 141, dan 142.
parameter Pseudomonas aeruginosa serta
National Primary Drinking Water
angka lempeng total seperti yang disyaratkan
Regulations: Stage 2 Disinfectants and
oleh Perka BPOM.
Disinfection By products Rule. Fed. Reg.,
SNI 3553:2015 belum harmonis dengan 71(2):388–493.
Permenkes 492/2010, IBWA dan WHO yaitu
FDA. (2016). 21CFR165.110.b Requirements
kesadahan, aluminium dan seng. Perlu
for Specific Standardized Botteld water.
dilakukan revisi dan harmonisasi antara
http://www.accessdata.fda.gov/scripts
persyaratan SNI 3553:2015 dengan regulasi
/cdrh/cfdocs/cfcfr/CFRSearch.cfm?fr=1
yang ditetapkan oleh pemerintah seperti
65.110&SearchTerm=bottled%20water.
Permenkes, Permenperin serta persyaratan
Diakses tanggal 12 November 2015.
internasional.
FDA.21CFR129.(2016). Processing and Bottling
Ucapan terima kasih
of Bottled Drinking Water.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada http://www.accessdata.fda.gov/scripts
Balai Riset dan Standardisasi Palembang /cdrh/cfdocs/cfcfr/CFRSearch.cfm?CFR
Kementerian Perindustrian yang telah Part=129&showFR=1. Diakses tanggal
memfasilitasi penelitian ini. 12 November 2015.
Daftar Pustaka Fewtrel, L. (2014) Silver : water disinfection
BPOM. (2009). Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat and Toxicity. Centre for Research into
dan Makanan RI Nomor: Environment and Health.
HK.00.06.1.52.4011. Jakarta Howard, G. (2003). Arsenic, drinking water and
Badan Standardisasi Nasional.(2015). SNI health risk substitution in arsenic
3553:2015 Standar Nasional Indonesia mitigation : a discusion paper.WHO.
Air Mineral. Jakarta. Geneva.

Badan Standardisasi Nasional.(2015). SNI IBWA. (2015). Bottled water code of practice.
6241:2015 Standar Nasional Indonesia Alexandria, Virginia.
Air Demineral. Jakarta. Hendrawan, D. 2005. Kualitas air sungai dan
Badan Standardisasi Nasional.(2015). SNI 01- situ di DKI Jakarta. Makara Kesehatan. 9
3554-2015 Standar Nasional Indonesia (1):13-19.
Cara Uji Air Minum Dalam Kemasan. http://marketeers.com/article/industri-air-
Jakarta. minum-di-indonesia-tak-pernah-

38
Majalah Teknologi Agro Industri (Tegi)
Volume 9 No. 2 Juni 2017

paceklik.html (diakses tanggal 18 Nov


2015).
Kementerian Perindustrian R.I. (2011).
Peraturan Menteri Perindustrian R.I
nomor 96/M-IND/PER/12/2011.
Jakarta.
Kementerian Perindustrian R.I. (2016).
Peraturan Menteri Perindustrian R.I
nomor 78/M-IND/PER/10/2016.
Jakarta.
Levantesi, C., Bonadonna, L., Briancesco, R.,
Grohmann, E., Toze, S., dan Tandoi, V.
(2012). Salmonella in surface and
drinking water: Occurrence and water-
mediated transmission. Food Research
International.45(2):587-602.
Medema, G.J., Payment, P., Dufour, A.,
Robertson, W., Waite, M., Hunter, P.,
Kirby, R., dan Anderson, Y.(2003). Safe
drinking water: an on going challenge in
WHO Assessing microbial Safety of
drinking water. Iwa Publishing London.
Medema, G.J., Shaw, S., Waite, M., Snozzi, M.,
Morreau, A., dan Grabouw, W.( (2003).
Chatchment characterisation and source
water quaity in WHO Assessing microbial
Safety of drinking water. Iwa Publishing
London.
Mena, K.D., dan Gerba, C.P. (2009). Risk
assessment of Pseudomonas aeruginosa
in water. Rev Environm Contam Toxicol,
201:71-115.
Menteri Kesehatan R.I. (2010). Keputusan
Menteri Kesehatan R.I nomor
492/MENKES/PER/IV/2010.
Departemen Kesehatan Jakarta.
Ozier, M.C dan Mcfarland, M. (2005). Drinking
water Standards. Texas water institute.
Texas A and M University system.

39