You are on page 1of 9

ARTHROPODA

Oleh :
Nama : Hamzah Syahid Al Amjad
NIM : B1A016144
Rombongan : III
Kelompok :4
Asisten : Dwi Iva Fitriana

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2018
I. PENDAHULAN

A. Latar Belakang

Arthropoda (arthros = sendi atau ruas dan podos = kaki) adalah hewan yang
memiliki kaki bersendi atau beruas-ruas. Arthropoda merupakan filum terbesar dari
kingdom animalia. Jumlah spesiesnya lebih banyak dari filum-filum lainnya.
Arthropoda dapat ditemukan di berbagai habitat, antara lain di air, di darat, di dalam
tanah dan ada juga yang hidup sebagai parasit pada hewan dan tumbuh-tumbuhan.
Arthropoda adalah hewan triploblastik, selomata (tubuh dan kaki beruas-ruas) dan
bilateral simetris. Tubuhnya terdiri atas kepala, dada, dan abdomen yang
keseluruhannya dibungkus oleh zat kitin dan merupakan kerangka luar
(eksoskeleton). Biasanya diantara ruas-ruas terdapat bagian yang tidak berkitin
sehingga ruas-ruas tersebut mudah digerakkan. Pada waktu tertentu kulit dan tubuh
arthropoda dapat mengalami pergantian kulit (eksdisis) (Zhang, 2013).
Arthropoda memiliki sistem pencernaan yang sempurna (memiliki anus). Mulut
dilengkapi dengan rahang. Sistem peredaran darahnya terbuka dan darahnya
berwarna biru, karena mengandung hemosianin (bukan hemoglobin). Sistem
pernapasannya ada yang berupa trakea, insang, paru-paru buku, atau melalui seluruh
permukaan tubuhnya. Organ ekskresinya berupa tubulus malphigi yang bermuara
pada usus belakang. Reproduksi dilakukan dengan perkawinan, tetapi ada juga
beberapa hewan yang melakukan partenogenesis. Partenogenesis adalah proses
perkembangan embrio dari telur yang tidak dibuahi. Jenis kelaminnya terpisah
(gonokori). Artinya ada hewan jantan ada hewan betina. Sistem sarafnya adalah
sistem saraf tangga tali (Sutarno et al., 2007).
Menurut Sutarno et al., (2007), Arthropoda memiliki empat kelas diantaranya yaitu :
1. Kelas Myriapoda.
2. Kelas Crustacea.
3. Kelas Arachnida.
4. Kelas Insecta.
Arthropoda dalam dunia hewan merupakan filum yang terbesar di dunia. Empat
dari lima bagian spesies hewan adalah Arthropoda, dengan jumlah di atas satu juta
spesies modern yang ditemukan dan rekor fosil yang mencapai awal Cambrian.
Jumlah spesiesnya yaitu sekitar 900.000 spesies dengan beragam variasi. Jumlah ini
kira-kira 80% dari spesies hewan yang diketahui sekarang. Arthropoda dapat hidup
di air tawar, laut, tanah, dan praktis semua permukaan bumi dipenuhi oleh spesies
ini. Arthropoda dianggap berkerabat dekat dengan Annelida, contohnya adalah
Peripetus di Afrika Selatan. Arthropoda mungkin satu-satunya yang dapat hidup di
Antartika dan liang-liang batu terjal di pegunungan yang tinggi. Semua anggota
filum ini mempunyai tubuh beruas-ruas dan kerangka luar yang tersusun dari kitin.
Rongga tubuh utama disebut hemocoel. Hemocoel terdiri dari sejumlah ruangan kecil
yang dipompa oleh jantung. Jantung terletak pada sisi dorsal dari tubuhnya (Zhang,
2013). Arthropoda pada umumnya mempunyai peran penting bagi ekosistem,
baik secara langsung maupun tidak langsung. Tanpa kehadiran suatu serangga,
maka kehidupan suatu ekosistem akan terganggu dan tidak akan mencapai suatu
keseimbangan. Peranan serangga dalam ekosistem diantaranya adalah sebagai
polinator, dekomposer, predator (pengendali hayati), parasitoid (pengendali
hayati), hingga sebagai bioindikator bagi suatu ekosisitem (Ardillah et al, 2014).
Wawasan dari studi pengembangan komparatif dan pertumbuhan resolusi
filogenetik sangat meningkatkan pemahaman kita tentang evolusi dari rencana tubuh
arthropoda. Peningkatan resolusi filogeni arthropoda telah didasarkan sebagian besar
pada analisis filogenetik baru dan penggabungan data dari artropoda fosil. Kekayaan
fosil arthropoda awal baru telah dijelaskan dari fosil Kambrium yang diawetkan
dengan baik di Tiongkok (Chengjiang dan Kali biotas) dan Australia (Emu Bay
Shale), dan fosil baru telah muncul dari Burgess Shale deposit dari Kanada.
Penaksiran beberapa Fosil yang lebih tua juga telah mengungkapkan informasi baru.
Data perkembangan dari berbagai model dan spesies pan-arthropoda non-model telah
menjelaskan pada asal perkembangan dan homologi dari sifat artropoda kunci. Bukti
ini memberikan peningkatan resolusi hubungan di antara fase evolusi arthropoda, dan
sifat transisi evolusioner. Kecepatan yang cepat perkembangan ini telah
meningkatkan pentingnya sintesis di seluruh filogenik, paleontologis, dan komunitas
perkembangan (Chipman & Erwin, 2017)

B. Tujuan

1. Praktikan mengenal beberapa anggota Phylum Arthropoda.


2. Praktikan mengetahui beberapa karakter penting untuk identifikasi dan klasifikasi
anggota Phylum Arthropoda.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Arthropoda adalah filum yang paling besar dalam dunia hewan dan
mencakup serangga, laba-laba, udang, lipan dan hewan sejenis lainnya. Arthropoda
diperkirakan memiliki 1.302.809 spesies, termasuk 45.769 spesies fosil (keragaman
taksa fosil ini dipandang sebelah mata bagi banyak taksa dari Arthropoda). Insecta
(1.070.781 spesies) merupakan kelompok yang paling banyak, dan menyumbang
lebih dari 80% dari semua arthropoda. Urutan serangga yang paling banyak yaitu
Coleoptera (392.415 spesies), mewakili lebih dari sepertiga dari semua spesies pada
39 ordo serangga. Kelompok utama dalam Arthropoda adalah kelas Arachnida
(114.275 spesies), yang didominasi oleh Acari (55.214 tungau dan kutu spesies) dan
Araneae (44.863 spesies laba-laba). Kelompok arthropoda beragam lainnya termasuk
Crustacea (73.141 spesies), Trilobitomorpha (20.906 spesies) dan Myriapoda (12.010
spesies). Anggota phylum Arthropoda yang sangat banyak kemudian dikelompokkan
ke dalam lima subfilum, yaitu subfilum Trilobitomorpha, subfilum Chelicerata,
subfilum Crustacea, subfilum Hexapoda, dan subfilum Myriapoda (Zhang, 2013).
Arthropoda memiliki beberapa karakteristik yang membedakan dengan
filum yang lain yaitu tubuh bersegmen, segmen biasanya bersatu menjadi dua atau
tiga daerah yang jelas. Anggota tubuh bersegmen berpasangan (asal penamaan
Arthropoda). Tubuhnya simetri bilateral memiliki tiga lapisan sel (triploblastik
schizocoelomata). Eksoskeleton berkitin, secara berkala mengalir dan diperbaharui
sebagai pertumbuhan hewan. Kanal alimentari seperti pipa dengan mulut dan anus.
Sistem sirkulasi terbuka, hanya pembuluh darah yang biasanya berwujud sebuah
struktur dorsal seperti pipa menuju kanal alimentar dengan bukaan lateral di daerah
abdomen (Latoantja et al., 2013).
Menurut Sutarno et al., (2007) karakter lain yang dimiliki oleh filum
Arthropoda diantaranya tubuh umumnya beruas-ruas, kepala dan abdomen jelas atau
bersatu (ruas kepala selalu bersatu). Appendages satu pasang setiap ruas (somite)
atau tidak ada, masing-masing dihubungkan dengan sendi. Memiliki eksoskeleton
yang terbuat dari zat kitin, sebagai hasil sekresi epidermis, melakukan ekdisis pada
interval tertentu. Alat pencernaan lengkap, mulut diadaptasikan untuk mengunyah
atau menusuk dan anus di bagian ujung. Sistem peredaran darah terbuka, darah akan
kembali ke dalam jantung melalui rongga tubuh (haemocoel), sistem arteri semakin
berkembang. Respirasi melalui insang, sistem trakea, paru-paru buku, atau
permukaan tubuh. Sistem ekskresi dengan kelenjar hijau atau coxal, atau saluran
Malpighi yang bersatu dengan usus. Sistem saraf dengan ganglia supra esophageal
yang dihubungkan ke tali saraf (nerve cord) yang meluas di sepanjang tubuhnya
dengan ganglion dan sepasang tali saraf lateral di setiap ruas. Organ sensoris berupa
antenna, rambut, mata majemuk, dan statocyst. Umunya berumah dua, fertilisasi
umumnya internal dan pada beberapa Crustacea parthenogenesis.
Anggota Chelicerata meliputi kalajengking, laba-laba, tungau atau caplak.
Kebanyakan hewan ini bersifat parasit yang merugikan manusia, hewan dan
tumbuhan. Arachnida bersifat karnivora sekaligus predator. Tempat hidupnya adalah
di darat. Subhylum Chelicerata dicirikan dengan adanya chelicerae, yaitu sepasang
organ pertama yang berfungsi untuk memakan mangsa. Ciri-ciri Chelicerata lainya
yaitu tubuhnya terbagi atas kepala-dada (sefalotoraks) dan perut yang dapat
dibedakan dengan jelas, kecuali Acarina. Bagian kepala-dada tidak terdapat antena,
tetapi mempunyai beberapa pasang mata tunggal, mulut, kelisera dan pedipalpus.
Mempunyai empat pasang kaki pada kepala-dada. Alat ekskresi dilengkapi dengan
saluran malphigi dan kelenjar coxal. Alat pernafasan berupa trakea, paru-paru buku
atau insang buku. Alat mulut dan alat pencernaan makanan terutama disesuaikan
untuk mengisap serta memiliki kelenjar racun (Chernoff, 1982).
Crustacea adalah hewan akuatik (air) yang terdapat di air laut dan air tawar.
Kata Crustacea berasal dari bahasa latin yaitu kata crusta yang berarti cangkang yang
keras. Ciri-ciri Crustacea yaitu memliki tubuh bersegmen (beruas) dan terdiri atas
sefalotoraks (kepala dan dada menjadi satu) serta abdomen (perut). Bagian anterior
(ujung depan) tubuh besar dan lebih lebar, sedangkan posterior (ujung belakang) nya
sempit. Bagian kepala terdapat beberapa alat mulut, seperti dua pasang antena, satu
pasang mandibulla, untuk menggigit mangsanya, satu pasang maksilla, satu pasang
maksiliped. Maksilla dan maksiliped berfungsi untuk menyaring makanan dan
menghantarkan makanan ke mulut. Alat gerak berupa kaki (satu pasang setiap ruas
pada abdomen) dan berfungsi untuk berenang, merangkak atau menempel di dasar
perairan. Crustasea dibagi menjadi dua sub-kelas, yaitu Entomostraca (udang tingkat
rendah) dan Malacostrata (udang tingkat tinggi). Entomostraca umumnya berukuran
kecil dan merupakan zooplankton yang banyak ditemukan di perairan laut atau air
tawar (Yamindago, 2013).
Insecta sering disebut serangga atau Heksapoda. Heksapoda berasal dari
kata hexa berarti enam dan kata podos berarti kaki. Heksapoda berarti hewan berkaki
enam. Diperkirakan jumlah insecta lebih dari 900.000 jenis yang terbagi dalam 25
ordo. Hal ini menunjukkan bahwa banyak sekali variasi dalam kelas insecta baik
bentuk maupun sifat dan kebiasaannya. Ciri-ciri Insecta, antara lain tubuhnya dapat
dibedakan dengan jelas antara kepala, dada dan perut. Kepala dengan satu pasang
mata facet (majemuk), mata tunggal (ocellus), dan satu pasang antena sebagai alat
peraba. Alat mulut yang disesuaikan untuk mengunyah, menghisap, menjilat dan
menggigit. Bagian mulut ini terdiri atas rahang belakang (mandibula), rahang depan
(maksila), dan bibir atas (labrum) serta bibir bawah (labium). Dada (thorax) terdiri
atas tiga ruas yaitu prothorax, mesothorax dan metathorax. Setiap segmennya
terdapat sepasang kaki (Rupert and Barner, 1994).
Myriapoda adalah gabungan dari kelas Chilopoda dan Diplopoda dengan
tubuh beruas-ruas dans setiap ruas mempunyai satu pasang atau dua pasang kaki.
Tubuh dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu kepala dan abdomen (perut). Hewan ini
banyak dijumpai di daerah tropis dengan habitat di darat terutama tempat yang
banyak mengandung sampah, misal kebun dan di bawah batu-batuan. Ciri-cirinya
adalah tubuh bersegmen (beruas) tidak mempunyai dada jadi hanya kepala dan perut.
Kepala terdapat dua kelopak mata tunggal (ocellus), satu pasang antena dan alat
mulut. Susunan saraf tangga tali. Sistem pernafasan dengan trakea. Mempunyai
spirakel yang terdapat pada setiap ruas tubuhnya untuk keluar masuknya udara dan
sistem peredaran darahnya terbuka (Rupert & Barner, 1994).
III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara Arthropoda yaitu bak


preparat, pinset, kaca pembesar, sarung tangan (gloves), masker dan alat tulis.
Bahan yang digunakan yaitu beberapa koleksi spesimen athropoda

B. Metode

Metode yang dilakukan dalam praktikum antara lain:


1. Diamati, digambar, dan dideskripsikan karakter pada spesimen yang diamati
berdasarkan ciri-ciri morfologi.
2. Diidentifikasi spesimen dengan kunci identifikasi.
3. Dibuat laporan sementara dari hasil praktikum.
DAFTAR REFERENSI

Ardillah, J. S., Leksono, A. S., & Hakim, L., 2014. Diversitas Arthropoda Tanah Di
Area Restorasi Ranu Pani Kabupaten Lumajang. Jurnal Biotropika, 2(4), pp
208-213.

Chernoff, B. 1982. Character variation among populations and the analysis of


biogeography. Amer. Zool. 22 : 425-439.

Chipman, A. D, & Erwin, D. H. The Evolution of Arthropod Body Plans: Integrating


Phylogeny, Fossils, and Development—An Introduction to the Symposium.
Integrative and Comparative Biology, 57(3), pp. 450-454.

Latoantja A. S., Hasriyanti & A. Anshary. 2013. Inventory of Arthropods on the Soil
Surface In the Chilli (Capsicum annum L.) Cropping. e-J. Agrotekbis. 1 (5) :
406-412.

Rupert, E.E. & Barner R.D., 1994. Invertebrata Zoology. 6th edition. New York:
Sounders College Publishing.

Sutarno N., A. Syulasmi, R. Solihat. 2007. Hand out Zoologi Invertebrata. Jurusan
Pendidikan Biologi Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Yamindago, A. 2013. Naskah Modul Elektronik Filum Arthropoda. Malang:


Universitas Brawijaya.

Zhang, Z. Q. 2013. Phylum Arthropoda. Zootaxa. 3703 (1): 17-26.