You are on page 1of 4

Nama: Rizki Wira Prasetiya

Kelas : XII IPS 2
No. : 30
PARTNER LAPANGAN
Namaku Rizki Wira, biasa dipanggil Rizki atau teman-temanku menyebutku
“Ndewon” mungkin karena aku mirip orang korea. Sewaktu masih kecil, aku dan
teman-temanku suka bermain sepak bola. Kami bermain pada sore hari, kadang jika
sudah tidak ada aktivitas di rumah, kami akan bermain lebih awal dan berhenti saat
adzan maghrib berkumandang. Kami mencintai sepak bola, hal ini bisa dilihat saat
kami bermain semuanya pasti memakai kostum yang bernamakan pemain idola tim
kesayangan dan meniru gaya pemain yang diidolakan. Kami bermain di lapangan
hijau dekat rumah kami. Bagiku melewati lawan sambil menggiring bola adalah hal
yang paling mudah yang pernah aku lakukan selama ini. Kisah ku tentang sepak bola
dimulai dari sini.
Sembilan tahun pun telah berlalu, kini aku sudah mengenyam pendidikan di
Universitas Liverpoool atau Liverpool Hope University, London, Inggris. Disana aku
juga memiliki profesi yang menyenangkan dan aku damba-dambakan selama ini,
yaitu menjadi pemain sepak bola professional. Aku bermain untuk klub sepak bola
Liverpool Football Club yang bermarkas di Anfield Stadium, Inggris. Kalian tahu apa
yang membuatku lebih bahagia lagi? Jawabannya adalah karena aku bermain bersama
pemain idolaku yaitu Mohamed Salah, seorang pesepak bola Muslim asal Mesir yang
berpegang teguh pada pendirian Islamnya. Dia tidak pernah melakukan hal-hal yang
bertentangan dengan Agama Islam. Dan satu hal lagi yang aku segani dari dirinya, dia
selalu melakukan selebrasi sujud di pinggir lapangan setelah membuat gol ke gawang
lawan, membuatku banyak belajar tentang arti kehidupan dari diri seorang Mohamed
Salah.
Meskipun aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan, namun ada yang
belum aku dapatkan, yaitu restu kedua orang tuaku. Orang tuaku tidak ingin aku
menjadi seorang pesepak bola, mereka lebih senang jika aku berprofesi sebagai guru
atau polisi. Beberapa kali aku coba meyakinkan mereka berdua, namun selalu gagal.
Yang terbaru adalah ketika aku pulang kerumah dari London ke Pekalongan saat libur
Idul Fitri, aku berusaha membujuk mereka agar mau merestui aku. Aku berkata “Pak,
Bu, tolong restui Rizki agar menjadi pemain sepak bola, aku mohon”. Ibuku
menjawab “Ibu tidak akan pernah merestui kamu menjadi seorang pemain sepak bola,
meskipun kamu bermain di klub sebesar Liverpool”. Bapakku meneruskan “Nak apa
yang dikatan ibumu itu benar, lebih baik kamu menjadi sebagai guru atau polisi”.
Aku terdiam, sedih, tak bisa berkata apa-apa. Namun aku berkata kepada mereka
berdua “Baiklah Pak, Bu, akan kubuktikan bahwa aku mampu menunjukkan
kemampuan diriku dihadapan dunia dan mengharumkan nama Indonesia dan
keluarga, untuk bias menjadi pesepabola bagaimana? “Baiklah, itupun kalau kamu
mampu” jawab Bapakku yang seolah-olah mengejekku.
Liburan Idul Fitri yang hanya selama tiga hari pun telah usai, aku pun kembali
ke London, untuk mempersiapkan diri untuk pertandingan Semifinal Liga Champion.
Aku dan teman-teman satu timku berlatih keras dan semangat agar dapat menuju ke
final. Hari pertandingan pun datang. Aku menelopon kedua orang tuaku agar melihat
penampilanku dilayar televisi. Pada pertandingan itu, kami melawan AS Roma yang
diisi oleh Daniele De Rossi dan kawan-kawan. Aku berposisi sebagai pemain
gelandang, sedangkan Mohamed Salah berposisi sebagai penyerang sayap kanan.
Pertandingan pun dimulai, kami berusaha sekuat tenaga menahan gempuran dari AS
Roma, usaha kami tidak berhasil, mereka berhasil mencetak gol terlebih dahulu.
Babak pertama skor 2-0 untuk keunggulan AS Roma. Dibabak kedua pelatih kami
menginstruksikan agar bermain lebih terbuka dan mengandalkan lini tengah sebagai
motor serangan aliran bola kepada penyerang. Babak kedua pun dimulai, bola
dialirkan dari James Milner, digiring lalu diumpankan kepada Mohamed Salah dan
langsung ditendang dari luar kotak penalti dan gol. 2-1 untuk skor sementara. Kali ini
bola dialirkan dari Sadio Mane ke Andrew Robertson lalu menuju kearahku dan
disundul lah bola tersebut dan gol. 2-2 untuk keungulan kami. Kali ini giliranku,
seperti yang aku katakan sebelumnya, melewati lawan sambil menggiring bola adalah
hal yang paling aku gemari dan paling mudah yang pernah aku lakukan, Kostas
Manolas aku lewati, giliran Lucas Pellegrini dan Kolarov. Gocek sana dan gocek sini,
aku berhasil melewati mereka semua dan gol. 2-3 untuk kemenangan kami. Kami
berhasil menuju ke final.
Setelah berhasil mengalahkan AS Roma, kami pulang kembali menuju
London untuk beristirahat dan menyiapkan diri jelang laga final nanti. Kedua orang
tuaku masih belum memberi apresiasi kepada diriku, ya sudahlah biarkan, biar waktu
yang menjawab. Kami pun sampai di London dan kami pulang ke rumah masing-
masing untuk beristirahat. Keesokan harinya aku menyuruh orang tuaku untuk
berkunjung ke rumahku, orang tuaku pun menyetujuinya. Setelah sampai di bandara
London, aku menjemput mereka berdua. Wajah mereka berdua masih saja pahit untuk
dilihat, datar, tak ada senyuman diwajah mereka. Tidak lama setelah kita sampai di
rumahku, Mohamed Salah datang berkunjung ke rumahku. Salah tahu tentang
masalahku, dia pun berbicara kepada orang tuaku “Halo Bapak dan Ibu nya Rizki
Wira ya? Aku sudah tahu permasalahan yang kalian alami, bukan maksudku ikut
campur dalam masalah kalian, namun apakah kalian tahu masih banyak anak diluar
sana yang tidak bisa mendapatkan profesi yang mereka inginkan. Mereka kebanyakan
menjadi anak jalanan dan nasibnya tidak seberuntung Rizki Wira”. Sontak kedua
orang tuaku langsung terdiam dan merenung, Ibuku pun berkata “Tuan Mohamed
Salah, apa yang engkau katakan benar, Masya Allah maafkan hamba-Mu ini yang
sudah tidak bersyukur dengan apa yang telah Engkau berikan”, kemudian kedua
orang tuaku pun menangis. Melihat mereka menangis aku pun tidak tahan dan ikut
menangis juga, akhirnya kami saling memaafkan satu sama lain.
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, yaitu Final Liga Champion antara
Liverpool melawan Real Madrid. Aku sangat gugup dan tegang, aku pikir bukan
diriku saja yang merasakan hal tersebut, tapi semua pemain, pelatih dan jajaran staf,
karena sudah lama tim ini tidak lolos ke final. Kami mulai memasuki lapangan, tidak
lupa aku memanjatkan do’a kepada Sang Maha Kuasa. Dari kejahuan aku melihat
kedua orang tuaku sedang menatap ke arahku dari bangku penonton. Babak pertama
dimulai, Real Madrid mengambil inisiatif menyerang terlebih dahulu dan mereka
berhasil mencetak gol terlebih dahulu, skor 1-0 dibabak pertama untuk keunggulan
Real Madrid. Entah apa yang terjadi pada diriku, aku saat ini bukan aku yang
sesungguhnya, aku pun harus merubah rasa gugup dan tegangku menjadi rasa
semangat yang berapi-apite tetapi temanku Mohamed Salah harus keluar lapangan
karena ditekel oleh Sergio Ramos, terasa berbeda permainan tim tanpa Mohamed
Salah. Babak kedua dimulai, Real Madrid masih mendominasi permainan dan bahkan
mereka berhasil mencetak gol kedua untuk keunggulan mereka, skor 2-0. Kami pun
menenangkan pikiran kami, merubah dan menjalankan strategi. Serang, serang dan
serang kami lancarkan agar kami bisa mencetak gol, alhasil kami berhasil mencetak
gol melalui Sadio Mane dengan hasil bola rebon dari bek Real Madrid, skor 2-1. Satu
gol tersebut menjadi titik balik bagi kami, akhirnya kami menguasai pertandiangan.
Dimenit 75’ aku membawa bola dari hasil umpan silang Andrew Robertson, lalu aku
melakukan gocekan melewati lawan, kemudian ku umpankan bola tersebut kepada
Roberto Firmino dan gol! 2-2 skor saat ini. Waktu terus berjalan sampai akhirnya
dipenghujung babak yaitu dimenit 90’ aku berhasil mencetak gol kegawang Kaylor
Navas tersebut dengan hasil umpan terobosan dari Virgil van Dijk, skor 2-3 untuk
keunggulan kami. Dan prit, prit, prit, kami berhasil memenangkan Liga Champion.
Akupun tak bisa membendung tangisku, begitu juga orang tuaku dan kawan-
kawanku. Orang tuaku sangat terharu kepadaku, tak menyangka bahwa anaknya
menjadi orang Indonesia pertama yang mengangkat Trofi “Si Kuping Besar” Liga
Champion.
Hari demi hari telah berlalu, memori tak terlupakan akan selalu kukenang.
Dimana aku dan kawan-kawanku berhasil menjadi juara Liga Champion, hubungan
diriku dan kedua orang tuaku kembali harmonis. Dan saatnya aku menghadiri acara
penghargaan Fifa. Saat dibacakan tim kesebelasan terbaik didunia, tak kusangka ada
namaku di daftar itu. Betapa bangga dan gembiranya diriku. Beberapa hari kemudian,
yang aku harapkan sebagai seseorang yang cinta terhadap tanah airnya pun terwujud,
aku dipanggil oleh pelatih Timnas Indonesia untuk mengikuti pelatihan pusat guna
mempersiapkan diri untuk kompetisi sepak bola di Asia Tenggara dan Asia. Seperti
yang kukatakan sebelumnya, sekarang dunia tahu namaku, tahu siapa Rizki Wira itu,
ya seorang bocah yang dulunya tidak direstui orang tuanya untuk menjadi pemain
sepak bola dan sekarang menjadi salah satu pemain sepak bola terbaik didunia.