You are on page 1of 36

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan membahas tentang mengenai hasil penelitian


secara sistematis dari analisis geomorfologi, analisis stratigrafi, litologi,
analisis sturktur geologi, analisis sejarah geologi, lingkungan pengendapan
dan potensi geologi. Hasil penelitian akan disajikan berupa hasil interpretasi
atau data-data yang di dapat dilapangan.

4.1 Geomorfologi
Analisis Geomorfologi meliputi Morofologi umum derah penelitian,
pola pengaliran, kelurusan, dan satuan geomorfologi daerah penelitian.
4.1.1. Morfologi Umum Daerah Penelitian
Geomorfologi didaerah penelitian diamati dengan melakukan
interpretasi topografi, citra SRTM, citra DEM, dan pengamatan langsung
di lapangan. Secara umum, daerah penelitian terdiri dari perbukitan dan
dataran rendah yang dilalui oleh sungai utama yaitu sungai malakutan.
Elevasi tertinggi didaerah penelitian berada pada bagian barat daya yaitu
625 meter dari atas permukaan laut dan elevasi terendah berada pada
bagian barat laut atau berada pada sungai malakutan yaitu 293 meter dari
permukaan laut. Kemiringan lereng di daerah penelitian landai hingga
curam ( 2% - 70%), yang diklasifikasikan berdasarkan kemiringan lereng
oleh Van Zuidam (1985).
4.1.2. Pola Aliran Sungai
Berdasarkan klasifikasi Howard, 1967), pola aliran sungai daerah
penelitian secara umum dapat dikelompokkan ke dalam pola aliran
subdentritik (Gambar 1.1). Pola aliran subdentritik terletak dibagian
seluruh daerah penelitian yaitu dari arah utara hingga barat yang memiliki
morfologi dominan berupa perbukitan. Pola aliran subdentritik pada
umumnya dipengaruhi oleh kekerasan batuan disekitarnya yang cendrung
keras serta morfologinya yang membentuk perbukitan struktural (sesar,

40
lipatana, ataupun kekar). Secara genetik, sungai di daerah penelitian
yaitu sungai subsekuen. Sungai subsekuen adalah sungai yang arah
alirannya searah dengan jurus lapisan batuan.

(Gambar 1.1 Pola aliran subdendritik)


4.1.3. Pola Kelurusan
Berdasarkan kenampakan pada pola kontur di DEM, terdapat
beberapa kelurusan-kelurusan yang dijadikan sebagai salah satu indikasi
terhadap proses tektonik yang terjadi didaerah penelitian (gambar 1.2)

Kelurusan-kelurusan yang ditemukan pada daerah penelitian


yaitu: kelurusan dibagian baratdaya yang relative berarah baratdaya-
timurlaut yang disebabkan oleh intrusi. Kelurusan dibagian tenggara yang
(Gambar 1.2. Kelurusan pada daerah penelitian DEM)
berarah barat – timur yang disebabkan oleh proses sesar geser yang
mengakibatkan kekar dengan arah gaya tegasa utama dari baratlaut –
tenggara. Kelurusan dibagian timurlaut yang relative berarah barat –
timur yang disebabkan oleh adanya gaya tarik pisah pada bagian
timurlaut - baratdaya.

41
4.1.4. Satuan Geomorfologi
Berdasarkan pengamatan dari peta topografi, citra satelit SRTM,
DEM, dan pengamatan lapangan, satuan geomorfologi di daerah penelitian
dibagi menjadi dua satuan. Satuan geomorfologi di daerah penelitian yaitu :
 Satuan perbukitan struktural
 Alluvial
4.1.4.1. Satuan perbukitan struktural
Satuan ini menempati 90% daerah penelitian, seperti yang dilihat
pada peta geomorfologi (Gambar 1.3), dan dicirkan oleh
perbukitan yang terjal dengan utara – selatan maupun barat –
timur . Satuan ini memiliki kemiringan lereng 15% - 70% yang
termasuk daerah lereng yang agak curam sampai curam
(berdasarkan klasifikasi Van Zuidam. 1985), dengan ketinggian
topografi 300 – 600 m diatas permukaan laut. Litologi yang
menyusun satuan ini adalah batupasir karbonatan, batupasir,
batulempung, batuandesit, metasedimen, konglomerat.

42
a)

b)

(Gambar 1.3. a.Satuan geomorfologi perbukitan struktural agak


curam, b. Satuan geomorfololgi perbukitan struktural curam)

4.1.4.2. Alluvial
Satuan ini menempati 10 persen daerah penelitian. Satuan ini
dicirikan dengan lembah yang memanjang yang berada pada bagian barat
laut daerah penelitian seperti yang terlihat pada peta geomorfologi (Gambar
1.4). satuan ini memiliki kemiringan lereng 2% - 7% yang termasuk kelas
landai (klasifikasi van zuidam, 1985) dengan ketinggian 295 meter diatas
permukaan laut. Satuan ini terdapat disepanjang sungai malakutan. Satuan
ini terdiri dari material lepas berupa bongkah hingga lempung yang
merupakan hasil rombakan dari batuan beku, batuan sedimen dan batuan
material volkanik. Proses sedimen masih berlangsung hingga saat ini.

43
4.2. Geologi
Secara regional, stratigrafi pada daerah penelitian akan membahas tentang
litologi, satuan batuan serta tatanan stratigrafi daerah penelitian yang
mengacu padaGambar
stratigrafi
1.4peta geologi
Dataran lembar
Alluvial padasolok (Kastowo,
bagian barat laut 1995).
daerah
4.2.1. Litologi penelitian
Litologi yang terdapat pada daerah penelitian memiliki berbagai
macam litologi yaitu diantaranya :
4.2.1.1. Konglomerat
konglomerat terdapat dibagian baratlaut pada daerah penelitian yang
memiliki warna lapuk hitam kehijauan dan warna segarnya merah bata,
teksturnya yaitu (1) besar butiran kerakal (2) kebundarannya yaitu
membundar tanggung hingga membundar (3) kemasnya terbuka.Struktur
sedimen masif, pemilihannya sangat buruk, tidak karbonatan ,mempunyai
kekompakan yang keras, matriknya batupasir. Fragmen tadi dari Carbonate
clast : 5%, cheert clast: 25%, silicateclastic:70%. Nama batuan tersebut
adalah Konglomerat pasiran (gambar 1.5).

44
N 30 5° N 30 °
E E

Gambar 1.5 Konglomerat pasiran stasiun 27


4.2.1.2. Batupasir
Batupasir terdapat dibagian baratlaut pada daerah penelitian dengan
warna lapuk hitam kehijauan, warna segar merah bata, besar butir pasir
halus, kebundaranya yaitu agak membundar hingga membundar, kemasnya
tertutup, struktur sedimen yaitu masif, pemilahannya sangat buruk,
karbonatan, kekompakannya agak keras. Pada batuan ini komposisi
mineralnya adalah Kuarsa 20%, Feldspar: 50%, Fragmen lain: 30%. Setelah
diklasifikasikan menggunakan segitiga IUGS berdasarkan pettijhon 1987
nama batuan pada stasiun ini yaitu batupasir arkose arenit (gambar 1.6).

N 254 ° N 74 °
E E

Gambar 1.6 Batupasir arkos arenit stasiun 29


4.2.1.3. Batulempung
Batulempung terdapat dibagian tenggara pada daerah penelitian
dengan warna lapuk hitam kehijauan, warna segar hitam kecoklatan, besar
butir lempung, tidak karbonatan, kebundaran sangat membundar, struktur
sedimennya masif, kekompakannya keras, kemasnya tertutup. Komposisi
yaitu batuannya Pasir : 10%, Lempung : 80%, Lanau : 10%
Setelah diklasifikasikan menggunakan segitiga IUGS berdasarkan Picard

45
1971 nama batuan pada stasiun ini yaitu batulempung (gambar 1.7).

N 41 ° E N 220 ° E

Gambar 1.7 Batulempung stasiun 21

4.2.1.4. Kontak antara batupasir dengan konglomerat


Kontak antara batupasir dengan konglomerat terdapat dibagian barat
pada daerah penelitian (gambar 1.8). Batupasir dengan warna lapuk hitam
kehijauan, warna segar hitam kecoklatan, besar butir pasir halus,
kebundarannya membundar tanggung hingga membundar, kemas tertutup,
memiliki struktur sedimen yaitu perlapisan, pemilahan baik, tidak
karbonatan, kekompakan keras sampai agak keras, kontak berangsur. Dan
pada batuan ini terdapat komposisi mineral Kuarsa 20%, Feldspar 50%,
Rock fragmen 30%. Setelah diklasifikasikan menggunakan segitiga IUGS
berdasarkan pettijhon 1987 nama batuan pada stasiun ini yaitu batupasir
arkos arenit.
Konglomerat dengan warna lapuk merah gelap dan warna segarnya
kuningan keabuan, teksturnya yaitu (1) ukuran butir yaitu butiran, (2)
kebundarannya, membundar tanggung hingga membundar, (3) kemasnya
terbuka. Struktur sedimen perlapisan, pemilihannya sangat buruk , tidak
karbonatan , kekompakannya keras, matriknya batupasir. Fragmennya yaitu
Carbonate clast 10%, Siliclastic clast 10%, Chert clast 80%. Setelah
diklasifikasikan menggunakan segitiga IUGS berdasarkan Boogs,1992)
nama batuan tersebut adalah konglomerat pasiran.

46
N 245 ° N 55 ° E
E
Konglomerat

Batupasir

Gambar 1.8 Kontak Kontak antara batupasir dengan


konglomerat stasiun 30

4.2.1.5. Kontak antara batupasir karbonatan dengan


metasedimen
Kontak batupasir karbonatan dengan metasedimen batupasir terdapat
dibagian utara pada daerah penelitian (gambar 1.9). Metasedimen dengan
warna lapuknya kuning kecoklatan dan warna segarnya coklat-hitam,
teksturnya yaitu (1) besar butirnya pasir sangat halus (2) kebundarannya
sangat membundar (3) kemasnya tertutup. Memiliki struktur sedimennya
perlapisan, pemilihannya jelek, tidak karbonatan , mempunyai kekompakan
yang agak keras. Kontak tajam. Memiliki komposisi mineral Kuarsa 5%,
Plagioklas 20%Hornblende 75%.

Batupasir karbonatan memiliki warna lapuk abu-abu coklat, warna


N 104 ° E N 280 ° E
segar abu-abu, besar butir pasir halus, memiliki kebundaran membundar
tanggung, kemasnya tertutup, pemilahan sangat buruk, karbonatan,
kekompakannya agak keras, kontak tajam. Batupasir
karbonatan

47
4.2.1.6. Kontak antara batupasir dengan batulempung

Kontak antara batupasir dengan batulempung terdapat pada bagian


barat daerah penelitian (gambar 2.0). Batupasir dengan warna lapuk coklat
keabuan, warna segar hijau keabuan, besar butir pasir halus, kebundarannya
membundar tanggung hingga membundar, kemas tertutup, memiliki struktur
sedimen yaitu nonconformity, pemilahan sangat buruk, tidak karbonatan,
kekompakan agak keras, kontaknya tajam. Dan pada batuan ini terdapat
komposisi mineral Kuarsa 20%, Feldspar 50%, Rock fragmen 30%. Setelah
diklasifikasikan menggunakan segitiga IUGS berdasarkan pettijhon 1987
nama batuan pada stasiun ini yaitu batupasir arkos arenit.

Batulempung dengan warna lapuk merah gelap, warna segar merah


N 50 ° E N 230 °
bata, besar butir lempung, tidak karbonatan, kebundarannya membundar
E
tanggung hingga membundar,pemilahannya buruk,struktur sedimen yaitu
nonconformity, kekompakannya agak keras, kontaknya tajam. Pada batuan
ini komposisi batuannya pasir 10%, Lempung 80%, Lanau 10%. Setelah
Batulempung Batupasir
diklasifikasikan menggunakan segitiga IUGS berdasarkan Picard 1971 nama
batuan pada stasiun ini yaitu batulempung.

Metasedimen

Gambar 1.9 Kontak antara batupasir karbonatan dengan


metasedimen stasiun 16

48
4.2.1.7. Batupasir sisipan batulempung

Batupasir sisipan batulempung ditemukan pada bagian timurlaut


daerah penelitian (gambar 2.1) . Pada stasiun ini ditemukannya batupasir
sisipan batulanau dengan batulanau yaitu ketebalan 10 cm.
Batupasir dengan warna lapuk kuning kecoklatan, warna segar
kuning terang, besar butir pasir halus, kebundarannya membundar tanggung
hingga membundar, kemas tertutup, memiliki struktur sedimen yaitu
perlapisan, pemilahan baik, tidak karbonatan, kekompakan agak keras. Dan
pada batuan ini terdapat komposisi mineral Kuarsa 15%, Feldspar 75%,
Rock fragmen 10%. N Setelah
120 ° diklasifikasikan menggunakan
N 300 segitiga
° IUGS
E
berdasarkan pettijhon 1987 nama batuan pada stasiun iniE yaitu batupasir
arkos arenit. Batulempung
Batulanau dengan warna lapuk coklat kemerahan, warna segar
kuning gelap, besar butir lempung, tidak karbonatan, struktur sedimen yaitu
perlapisan, kekompakannya agak keras, kontak dari batuan ini yaitu
berangsur. Pada batuan ini komposisi batuannya pasir 10%, Lempung 80%,
Lanau 10%. Setelah diklasifikasikan menggunakan segitiga IUGS
berdasarkan Picard 1971 nama batuan pada stasiun ini yaitu batulempung.
Gambar 2.0 Kontak antara batupasir dengan batulempung stasiun
34

49
4.2.1.8. Batupasir sisipan batubara
Batupasir sisipan batubara yang mana ketebalan batubara tersebut
yaitu 180 cm ditemukan dibagian timurlaut pada daerah penelitian (gambar
N 240 ° N 60 ° E
2.2). Batupasir dengan warna
E lapuk kuning kehitaman, warna segar kuning,
besar butir pasir sedang, kebundarannya membundar tanggung hingga
membundar, kemas tertutup, memiliki struktur sedimen yaitu perlapisan,
Batubara
pemilahan baik, tidak karbonatan, kekompakan agak keras. Dan pada
batuan ini terdapat komposis mineral Kuarsa 15%, Feldspar 70%, Rock
fragmen 15%. Setelah diklasifikasikan menggunakan segitiga IUGS
berdasarkan pettijhon 19872.2
Gambar nama batuan
Batupasir padabatubara
sisipan stasiunstasiun
ini yaitu
45 batupasir
arkos arenit. Batubara dengan warna hitam, pecahannya berlapis-lapis,
kekerasannya sedang, komposisi mineral karbon, teksturnya amorf.

Gambar 2.1 Batupasir sisipan batulempung stasiun 43


4.2.1.9. Batuandesit
Batuandesit ditemukan pada bagian tenggara daerah penelitian
(gambar 2.3). Pada litologi ini terdapat batuandesit dengan warna lapuk
coklat gelap , warna segar hijau kehitaman, teksturnya yaitu kristalinnya
hipokristalin, granulisasinya faneritik, kemasnya inequigranular dan
hipodiomorf. Struktur nonconformity, kenampakannya intrusi. Komposisi

50
mineral Kuarsa 25%, Feldspar 15%, Rock fragmen 60%. Setelah
diklasifikasikan menggunakan segitiga IUGS berdasarkan diagram batuan
beku afanitik nama batuan pada stasiun ini yaitu batuandesit.

N 158 ° N 336 ° E
E

Gambar 2.3 Batuandesit stasiun 50

51
4.3. Satuan Batuan
Berdasarkan litologi – litologi yang di jumpai didaerah penelitian,
maka dapat ditarik kesimpulkan satuan batuan daerah penelitian
pembuatannya menggunkana metode free hand yang mengacu
berdasarkan hasil observasi sebaran batuan langsung dilapangan dan
geologi regional. Maka, hasil interpretasi berupa 4 satuan batuan yang
terdiri dari satuan batupasir karbonat, satuan batupasir, satuan
konglomerat, dan batuandesit.
4.3.1. Satuan Batupasir karbonatan
Satuan batupasir umumnya berada pada dibagian barat daya yang
menerus hingga ke timurlaut, daerah penelitian mengacu pada geologi
regional yang disetarakan dengan Formasi Silungkang. Satuan ini terdiri
dari litologi batupasir karbonatan, batulempung, kontak antara batulempung
dengan batupasir (conformity), batupasir kontak antara andesit
(disconfirmity) yang berumur karbon-trias dan terendapkan pada lingkungan
transisi. Satuan ini ditandai dengan warna kuning gelap pada peta geologi
daerah penelitian.
4.3.2. Satuan Batupasir
Satuan batupasir umumnya berada pada dibagian selatan yang
menerus dari selatan hingga ke utara dan terdapat juga dibagian utara
menerus hingga ke selatan, daerah penelitian mengacu pada geologi regional
yang disetarakan dengan Formasi Brani. Satuan ini terdiri dari litologi
batupasir, batupasir sisipan batulempung, batupasir sisipan batubara yang
berumur paleosen – eosen dan terendapkan pada lingkungan kipas aluvial.
Satuan ini ditandai dengan warna kuning pada peta geologi daerah
penelitian.
4.3.3. Satuan Konglomerat
Satuan konglomerat umumnya berada pada dibagian tenggara yang
menerus hingga ke baratlaut, daerah penelitian mengacu pada geologi
regional yang disetarakan dengan Formasi Brani. Satuan ini terdiri dari
konglomerat, batupasir, kontak antara batupasir dengan konglomerat,

52
batulempung, batuandesit yang berumur paleosen – eosen dan terendapkan
pada lingkungan aluvial. Satuan ini ditandai dengan warna orange pada peta
geologi daerah penelitian.

4.4. Tatanan Stratigrafi Daerah Penelitian


Tatanan stratigrafi pada daerah penelitian mengacu pada
kesebandingan umur stratigrafi regional. Berdasarkan stratigrafi regional,
satuan batuan pada daerah penelitian urutannya dimulai dari yang tua
hingga muda. (Tabel 1.0).
a. Satuan Batupasir karbonatan setara dengan Formasi
Silungkang berumur Zaman Karbon – Permian, Pada
zaman Karbon terendapkan Satuan Batu Pasir Karbonat
memiliki hubungan stratigrafi yaitu nonconformity.

b. Satuan Batupasir berumur Zaman Oligosen Awal - Tengah,


dan merupakan satuan batuan yang muda didaerah
penelitian. Satuan ini terendapkan pada lingkungan kipas
alluvial yang menjari dengan Satuan Batu Konglomerat
yang memiliki hubungan stratigrafi yaitu conformity.

c. Satuan Batuan Konglomerat setara dengan Formasi Brani


berumur Zaman Oligosen Awal - Akhir , Satuan ini
terendapkan pada lingkungan alluvial yang menjari
dengan satuan batupasir.

53
Tabel 4.1 : Kolom Tabel Stratigrafi Daerah Penelitian dengan
Kesebandingan Regional Ph.Silitonga & Kastowo(1991).

4.5 Struktur Geologi

Struktur Geologi yang berkembang didaerah penelitian yaitu


kekar, sesar dan lipatan. Metode yang digunakan dalam penentuan jenis
sesar yaitu metode stereonet ( Wuff nett dan Schmith ) yang diambil dari
pengukuran-pengukuran data struktur yang bersifat primer seperti pitch
dan offset pada zona hancuran, sementara untuk menentukan jenis lipatan
juga menggunakan metode stereonet ( Wuff nett dan Schmith ) yang di
ambil dari pengukuran-pengukuran data yang bersifat primer seperti
plunge, nilai jurus dan kemirigan sayap kanan dan kiri, sedangakan data

54
sekunder diambil dari data kekar yang berkembang di lapangan. Adapun
hasil pengukuran data struktur tersebut sebagai berikut :

4.5.1. Kekar

Pengukuran data kekar yang terdapat pada bagian daerah


penelitian dilakukan sebanyak tujuh stasiun yaitu pada stasiun 2, stasiun
19, stasiun 34, stasiun 48, stasiun 49, stasiun 65 dan stasiun 66. Dari hasil
plotting data-data kekar, maka didapatkan arah tegasan utama / dari
analisis stereografi yaitu sebagai berikut:
Kekar Stasiun 2 A

Dari hasil plotting data kekar pada stasiun 2A, maka


didapatkan arah tegasan utama / dari analisis stereografi yaitu
Barat Daya-Timur laut

Gambar 2.4 Kekar pada stasiun 2A

Gambar 2.5 Stereonet pengukuran data kekar stasiun 2A

55
Kekar Stasiun 2 B

Dari hasil plotting data kekar pada stasiun 2B, maka didapatkan arah
tegasan utama / dari analisis stereografi yaitu Barat Daya-Timur laut.

Gambar 2.6 Kekar pada stasiun 2B

56
Gambar 2.8 Kekar pada stasiun 2C
Kekar Stasiun 2 C

Dari hasil plotting data kekar pada stasiun 2C, maka didapatkan arah
tegasan utama / dari analisis stereografi yaitu Barat -Timur .

Gambar 2.7 Stereonet pengukuran data kekar stasiun 2B

57
Gambar 2.9 Stereonet pengukuran data kekar stasiun 2C
Kekar Stasiun 19

Dari hasil plotting data kekar pada stasiun 19, maka didapatkan arah
tegasan utama / dari analisis stereografi yaitu Tenggara – Barat Laut.

58
Gambar 3.0 Kekar pada stasiun 19

Kekar Stasiun
Gambar 34
3.1 Stereonet pengukuran data kekar stasiun 19

Dari hasil plotting data kekar pada stasiun 34, maka didapatkan arah
tegasan utama / dari analisis stereografi yaitu Tenggara – Barat Laut.

59
Gambar 3.2 Kekar pada stasiun 34

Gambar 3.3 Stereonet pengukuran data kekar stasiun 34

Kekar Stasiun 48

Dari hasil plotting data kekar pada stasiun 48 , maka didapatkan arah
tegasan utama / dari analisis stereografi yaitu Barat Daya – Timur Laut.

60
Gambar 3.4 Kekar pada stasiun 48

Gambar 3.5 Stereonet pengukuran data kekar stasiun 48

61
Kekar Stasiun 49

Dari hasil plotting data kekar pada stasiun 49 , maka didapatkan arah
tegasan utama / dari analisis stereografi yaitu Tenggara – Barat Laut

Gambar 3.6 Kekar pada stasiun 49

Gambar 3.7 Stereonet pengukuran data kekar stasiun 49

62
Kekar Stasiun 65

Dari hasil plotting data kekar pada stasiun 65 , maka didapatkan arah
tegasan utama / dari analisis stereografi yaitu Barat Daya – Timur Laut.

Gambar 3.8 Kekar pada stasiun 65

Gambar 3.9 Stereonet pengukuran data kekar stasiun 65

63
Kekar Stasiun 66

Dari hasil plotting data kekar pada stasiun 66 , maka didapatkan arah
tegasan utama / dari analisis stereografi yaitu Barat Daya – Timur Laut.

Gambar 4.0 Kekar pada stasiun 66

Gambar 4.1 Stereonet pengukuran data kekar stasiun 66

64
4.5.2. Sesar

Pada saat pengamatan atau interpretasi di lapangan, dilakukan pengukuran


pitch di stasiun 2, stasiun 25 Stasiun 51, dan stasiun penjelasan dari hasil
pengukuran yaitu sebagai berikut :

4.5.2.1 Sesar Normal

A. Pengukuran pitch di stasiun 2 dengan nilai pitch 500 mengindikasikan


bahwa adanya sesar normal.

Gambar 4.2 sesar pada stasiun 2

Gambar 4.3 Stereonet pengukuran data SESAR stasiun 2

65
B. Pengukuran pitch di stasiun 51 dengan nilai pitch 500 mengindikasikan
bahwa adanya sesar normal.

Gambar 4.4 Gores garis pada stasiun 51

Gambar 4.5 Stereonet pengukuran data SESAR stasiun 51

66
C. Pengukuran pitch di stasiun 52 dengan nilai pitch 300 mengindikasikan
bahwa adanya sesar normal.

Gambar 4.6 Gores garis pada stasiun 52

Gambar 4.6 Stereonet pengukuran data SESAR stasiun 52

67
4.5.2.2. Sesar Geser

A. Pengukuran pitch di stasiun 25 dengan nilai pitch 80 mengindikasikan


bahwa adanya sesar geser

Gambar 4.7 Gores garis pada stasiun 25

4.5.4. Lipatan

Pada saat pengamatan dilapangan, ditemukan struktur lipatan dan


dilakukan pengukuran terhadap jurus dan kemiringan sayap kanan dan
sayap kiri lipatan. Pengukuran data dilakukan sebanyak satu stasiun yaitu
sehingga didapat arah gaya dibuat 90 dari pada bidang bantu dimana
bidang bantu tetap pada posisi N-5 yaitu , arah tegasan utama (garis tegak
lurus) yaitu dengan arah Barat - Timur dan titik temu (titik tengah
perpotongan antara dua sayap lipatan) yaitu , dari analisis stereografi yaitu
sebagai berikut :

68
Lipatan Stasiun 10

Dari hasil plotting data maka didapat arah tegasan utama


tenggara-baratlaut, dan di dapat nilai lipatan dari analisis stereografi
yaitu : 84 N 72 E, : 90 N 72 E, : 268 N 43 E , dengan plunge 80, trend
N1100E Dari hasil tersebut maka dapat dinamakan lipatan yaitu
lipatan Rebah.tegak ( lipatan talago gunung ) dengan arah tegasan
Barat –Timur.

Gambar 4.7 Struktur Lipatan Rebah tegak pada stasiun 10

Gambar 4.8 Stereonet pengukuran data lipatan stasiun 10

69
4.6. Sejarah Geologi

Berdasarkan data-data lapangan, data-data sekunder berupa umur dan


lingkungan pengendapan, didukung oleh pola struktur yang berkembang
didaerah penelitian kemudian ditambah dengan penafsiran berupa interpretasi,
maka dapat disimpulkan sejarah geologi daerah penelitian. Penentuan sejarah
geologi juga mengacu pada sejarah geologi peneliti-peneliti terdahulu. Sejarah
geologi daerah penelitian dimulai pada satuan batuan tertua hingga satuan
batuan termuda yang diendapkan.

Dengan kesebandingan staratigrafi regional, pada zaman Karbon-Trias


diendapkan satuan batupasir karbonatan merupakan satuan batuan paling tua.
Satuan batuan diendapkan pada di lingkungan transisi, pada zaman ini tektonik
masih stabil dan merupakan batuan dasar (Gambar 4.9).

Gambar 4.9 Ilustrasi Pengendapan Satuan Batupasir Karbonatan (Lingkungan


transisi).

Pada zaman Yura-Kapur tidak ditemukan endapan, hal tersebut


mengindikasikan bahwa pada zaman tersebut terjadi proses orogenesa yang
menyebabkan daerah penelitian dan cekungan ombilin menjadi tinggian, dan
pada zaman ini terjadi proses rifting yang diakibatkan oleh sesar-sesar tua yang
mengalami reaktifasi kembali dan terjadi pengangkatan atau tinggian-tinggian
pada satuan Batupasir Karbonatan (Gambar 5.0).

70
Gambar 5.0 Ilustrasi Pengendapan Satuan Batupasir Karbonatan
(Lingkungan transisi).

Pada zaman Eosen – Oligosen Tengah terendapkan satuan batupasir dan


satuan konglomerat yang diendapkan pada lingkungan kipas alluvial dan saling
menjemari (Gambar 5.1)

Gambar 5.1 Ilustrasi Pengendapan Satuan Batu Pasir dan Satuan


Konglomerat (Lingkungan transisi).

71
4.7. Lingkungan Pengendapan

Berdasarkan kesebandingan dari geologi regional, bahwa data geologi


yang di dapat dilapangan, terdapat Satuan Batupasir Karbonatan setara dengan
Formasi Silungkang, Satuan Konglomerat dan Satuan batupasir setara dengan
Formasi Brani dan satuan. Satuan Batupasir Karbonatan diendapkan pada
lingkungan transisi pada zaman karbon - trias, sedangkan Satuan Konglomerat
dan Satuan batupasir diendapkan secara menjemari yang di endapkan pada
lingkungan pengendapan kipas alluvial pada zaman Eosen – Oligosen Tengah.
Pada Pengendapan Satuan Batu Pasir Karbonatan daerah penelitian di
endapkan pada daerah transisi dikarenakan ciri-ciri litologi yang karbonatan
dan memiliki litologi batuan lempung hingga pasir halus yang sangat
mencirikan daerah transisi, pasang surut air laut menyebabkan batuan
mengandung karbonatan dan sedimen dari darat di pengaruhi oleh arus
turbulent (Gambar 5.3)
Pada pengendapan Satuan Konglomerat dan Satuan batu Pasir
diendapkan saling menjemari pada lingkungan kipas alluvial (Gambar 5.4)
yang disebabkan oleh perbedaan relief tinggi. Arus pengendapan pada
lingkungan kipas alluvial dipengaruhi oleh arus turbidit. Satuan Konglomerat
dan Satuan batu Pasir yang saling menjemari terdapat pada bagian timurlaut
dengan ditemukannya bukti kontak antara Satuan Konglomerat dan Satuan batu
Pasir bahwa diendapkan pada Eosen – Oligosen Tengah.
Pada pengendapan Oligosen Tengah terjadi nya intrusi yang memotong
ketiga satuan batuan yang menyebabkan batuan ini menjadi batuan yang paling
muda pada daerah penelitian, dikarenakan sesuai hukum stratigrafi yaitu
potong-memotong yang dimana batuan yang di potong lebih tua dibandingkan
dengan batuan yang memotong ( Steno 1669 ), dan pada daerah ini juga
terdapat ketidakselarasan kontak antara batuan beku dan batuan sedimen yaitu
batuan andesit dan batuan lempung, batu pasir (Gambar 5.5).

72
Gambar 5.3 Batupasir Karbonat

Gambar 5.3 Batu pasir Karbonat

Gambar 5.4 Morfologi kipas aluvial

Gambar 5.5 Ketidakselarasan antara batu lempung dan


batu andesit

4.8. . Potensi Geologi

73
Pada daerah penelitian, proses yang terjadi menghasilkan suatu tatanan
bentang alam yang indah dan memiliki nilai ekonomis untuk memajukan
daerah tersebut. Pembentukan ini merupakan fenomena yang dikontrol oleh
serangkaian proses dinamika kebumian yang inik dalam rentang waktu yang
sangat lama. Keberadaan fenomena ini dapat dimanfaatkan untuk
pengembangan geowisata berupa air terjun yang memiliki pemandangan yang
sangat indah serta air yang mengalir didaerah tersebut sangat jernih dan bersih.
Sebagian warga disana juga sudah ada yang berkunjung atau mandi di air terjun
tersebut. Air terjun pada daerah penelitian itu memiliki tinggi 12 meter
(Gambar 5.6 & 5.7) dan pada daerah penelitian juga ditemukannya sisipan
batubara yang ketebalannya 180 cm, kemungkinan pada daerah tersebut akan
menjadi tambang batubara ditahun yang akan datang. Air terjun dan tambang
batubara bernilai ekonomi yang dapat membantu daerah penelitian tersebut
supaya lebih maju dan berkembang(Gambar 5.8).
Pengolahan lingkungan untuk kawasan geowisata dan tambang dapat
dilakukan dengan melibatkan masyarakat dalam kegiatan pengolahan dan
pemeriksaan rutin terhadap fasilitas infrastruktur dan pengolahan lingkungan
melibatkan pihak pengelola, masyarakat maupun pemerintah, struktur
organisasi yang baik, dan pengembangan dalam potensi geologi.

Gambar 5.6 Potensi geowisata air terjun

74
Gambar 5.7 Potensi geowisata air terjun

Gambar 5.8 Potensi tambang batubara

75