You are on page 1of 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Manusia adalah makhluk rasional yang berbeda dengan makhluk hidup lainnya secara
eksistensial dan secara rasional dan yang membedakannya adalah kebudayaan. Kebudayaan adalah
ruang lingkup dimana manusia hidup dan beraktifitas sehingga tercermin berbagai fenomena dan
realitas yang mengandung makna dan nilai. Di dalam kebudayaan itulah nampak ciri khas
ekstensial dan esensial dari manusia itu saat dilahirkan, dibentuk dan dibesarkan dalam ruang dan
waktu yang diatur menurut tata cara, pola dan norma tertentu. Dari kemampuan itulah manusia
menciptakan, memelihara, dan mewariskan kebudayaan secara turun-temurun. Manusia dan
kebudayaan digambarkan seperti mata uang dan kedua sisinya dimana terjalin suatu kesatuan yang
tak terpisahkan. Jadi, manusia sebagai pendukung tumbuh dan berkembangnya kebudayaan.
Sebaliknya, kebudayaan mencerminkan identitas dan integritas manusia sebagai suatu masyarakat,
suku atau bangsa.

Dalam kehidupan masyarakat dikenal suatu sistem yang disebut sebagai sistem sosial
dimana antar manusia saling berinteraksi. Dalam interaksi sosial seringkali terdapat upaya dari
masyarakat untuk mempererat relasi maupun memperbaiki relasi yang pernah renggang. Upaya-
upaya dalam sistem sosial ini dilakukan sesuai dengan tradisi dan kebudayaan dimana masyarakat
tersebut berada.

Negara Indonesia merupakan tempat dimana terdapat berbagai suku, bangsa, ras dengan
beraneka kebudayaan di dalamnya. Setiap suku di Indonesia memiliki kebudayaan yang unik
dalam menata sistem sosial guna mempererat maupun memperbaiki relasi kelompok masyarakat
yang biasanya dilakukan melalui ritual atau acara adat. Ritual atau acara adat ini umumnya
menggunakan hewan sebagai suatu simbol dan korban. Hewan yang digunakan mendapatkan
perlakuan khusus yang telah ditentukan menurut adat masyarakat setempat. Perlakuan-perlakuan
terhadap hewan biasanya tidak terbatas pada tubuh hewan itu saja, tetapi juga digunakan dan
dikonsumsi oleh manusia dan juga mendapat perlakuan dengan alam sekitar. Hal ini menjadi
penting dipelajari oleh mahasiswa kedokteran hewan untuk menganalisis perlakuan yang
dilakukan terhadap hewan berdasarkan prinsip kesejahteraan hewan, menganalisis apakah bagian

1
bagian tubuh hewan yang digunakan, dikonsumsi, maupun yang diberi perlakuan terhadap alam
sekitar tidak menimbulkan bahaya penyakit yang bisa saja mengenai manusia maupun disebarkan
melalui alam sekitar.

Salah satu provinsi di Indonesia yang kaya akan suku dan budaya adalah Nusa Tenggara
Timur. NTT terdiri atas pulau-pulau seperti Flores, Sumba, Timor, Alor, Lembata, Rote, Sabu,
Adonara, Solor, Komodo, Palue dan masih banyak lagi pulau-pulau kecil lainnya. Pulau-pulau ini
memiliki suku-suku yang memegang adat-istiadat dalam tradisi dan budaya hidupnya termasuk
dalam sistem sosialnya.

Berdasarkan uraian ini, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Undana yang berada di
Provinsi NTT tepatnya Pulau Timor harus menggali dan mengenal lebih dalam mengenai
kebudayaan yang ada di Provinsi ini terutama yang berkaitan dengan ranah kedokteran hewan
sehingga bisa membantu masyarakat dalam menangani kasus-kasus yang terjadi di lapangan.
Untuk itu, dibuatlah makalah ini guna membuka wwasan mengenai budaya sistem sosial yang
berkaitan dengan ranah dokter hewan.

1.2. TUJUAN

1. Mengenal kebudayaan dalam sistem sosial yang ada di beberapa pulau di NTT.

2. Menganalisis perlakuan-perlakuan terhadap hewan sesuai dengan ranah keedokteran hewan.

3. Mempertimbangkan kesesuaian perlakauan terhadap hewan dengan prinsip kedokteran hewan.

2
BAB II

ISI

1. KEGIATAN SOSIAL MENGGUNAKAN HEWAN – SUMBA TIMUR

Sumba adalah pulau unik yang sejak dulu sebagai penghasil kuda. Kain tenun ikat
yang dibuat oleh penduduk pulau ini juga dikenal sebagai salah satu yang terbaik di dunia
karena kerumitannya, serta tradisi dan nilai-nilai yang melingkupinya.
Masyarakat Sumba semula mengenal empat pembagian strata sosial, yaitu golongan
ratu/rato (imam atau pemimpin keagamaan), maramba (bangsawan), kabihu (orang
merdeka), dan ata (hamba sahaya) (Kapita, 1976:40). Dalam perkembangan selanjutnya,
golongan ratu dan marimba seringkali disatukan dalam sebutan ratu-maramba sebagai
golongan yang memimpin segala aktivitas masyarakat, baik di bidang religius, sosial,
ekonomi, politik dan sebagainya. Golongan ratu dan marimba sangat dihormati, bahkan
sampai sekarang banyak dari keturunan mereka menjadi pejabat atau pemimpin politik di
tingkat local.

Golongan marimba dapat dikenali dari nama gelar yang mereka pakai, yaitu Umbu
atau Tamu Umbu untuk laki-laki dan Rambuatau Tamu Rambu untuk perempuan. Mereka
adalah penguasa atas tanah (mangu tanangu) dan hamba yang diwariskan secara turun
temurunhingga sekarang. Seorang marimba bahkan dapat memiliki puluhan hingga ratusan
hamba karena mendapatkan warisan dari orang tua dan/atau mertua mereka. Penguasaan
terhadap tanah (sawah, ladang, atau perkebunan), hewan ternak, dan sejumlah hamba
meningkatkan status sosial marimba yang bersangkutan. Kegiatan sosial yang
menggunakan hewan di Sumba Timur dapat dilihat melalui budaya perkawinan di Sumba
Timur.

Pola umum perkawinan suku Sumba adalah perkawinan eksogami dimana seorang
laki-laki atau wanita harus kawin diluar marganya (kabihu), dan tidak boleh kawin dalam
kabihunya sendiri. Jika perkawinan terjadi dalam kabihunya itu sendiri maka dianggap
sebagai suatu pelanggaran hokum yang akan membawa bencana bagi seluruh marga
tersebut. Peristiwa yang demikian harus diserahkan kepada kabihu yang berwewenang
sebagai “Ina Tola Mata”- Ama Waimaringu”. Suatu perkawinan dianggap telah selesai

3
urusannya apbila kedua belah pihak sudah menemui tata cara perkawinan melalui tahap
upacara adat.

A. Tahap-tahap Perkawinan Sumba Timur

Dalam perkawinan Adat Sumba ada tahap-tahap yang harus dilalui oleh calon
mempelai laki-laki dan mempelai wanita sebelum menikah. Prosesi yang harus dilalui
oleh kedua calon mempelai antara lain :

 Pihak laki-laki mengajukan permohonan kepada keluarga wanita dengan membawa


mamuli, lulu amahu dan kuda sebagai alat meminta gadisnya.
 Pihak wanita mengajukan tawaran kepada pihak laki-laki dengan membawa kain
(kombu). Hal tersebut bukti bahwa mereka mau memberikan anak gadisnya kepada
pihak keluarga laki-laki.
 Jika pihak keluarga wanita dan laki-laki menyetuji hal tersebut, maka kedua belah
pihak akan mendapatkan balasan atau imbalan “ bagi pihak laki-laki diterima
dengan kain dan babi oleh pihak wanita, sedangkan bagi pihak wanita diterima
dengan kuda, mamuli dan lulu amah”. Selanjutnya adak dilakukan musyawarah
antara kedua belah pihak (pahamang).
 Penyelesaian adat kawin-mawin secara tuntas dan sederhana. Tuntas artinya
mengadakan kegiatan adat secara besar-besaran sampai selesai. Jadi pihak wanita
mengajukan satu persyaratan dengan kain dan babi yaitu menanyakan apakah dari
hati nurani mau mengadakan hubungan kekeluargaan dengan kami ? dan meminta 5
ekor kuda, 2 ekor kerbau, 1 buah mamuli emas dan 1 utas kanatar.

B. Cara-cara Perkawinan Sumba Timur


Adapun cara-cara perkawinan Suku Sumba Timur yaitu : memperkenalkan
diri (kandarakunu pinu), dalam hal ini tahap yang dilakukan pertama oleh
keluarga laki-laki adalah menyuruh seorang juru bicara (wunang) untuk bertemu
denga pihak keluarga wanita, dalam hal ini yang ditemui adalah paman dari
mempelai perempuan beserta seluruh keluarganya. Biasanya pembicaraan
disampaikan dengan cara kekeluargaan. Dalam pertemuan ini antara juru bicara

4
dan keluarga mempelai perempuan memperbincangkan anak gadis mereka yang
akan dilamar oleh pihak keluarga laki-laki.
C. Bentuk belis

Belis terdiri dari barang - barang yang merupakan benda mati dan hidup
yang digunakan sebagai sarana atau alat dalam adat perkawinan masyarakat suku
Sumba Timur. Dalam pelaksanaan adat perkawinan ini dikenal 2 bentuk belis
yaitu:
a) Belis benda hidup (Banda Loru) berupa:

 Kerbau (Karambua)
 Kuda (Njara)
b) Belis benda mati (Banda Matu) berupa:
 Lulu Amahu (Emas, perak dan perunggu)
 Mamuli (Emas, perak dan perunggu)
 Kanatar (Emas dan perak)
 Kain (Sarung Tenun)
 Anahida (Muti Salak)
Fungsi Belis adat adalah sebagai berikut :
 Alat pengikat untuk mempererat hubungan antara kedua keluarga besar atau
hubungan kawi - mawin khusus kedua pengantin.
 Alat pengikat martabat (citra perkawinan)
 Sebagai bukti resmiya adat perkawinan, dimana kedua pengantin yang sah
adat suku sumba.
 Upacara religius dengan melakukan kebaktian dirumah marapu yang
dilakukan oleh kedua mempelai. Dengan mempersembahkan hewan korban
khusus. Hewan tersebut disumba timur disebut patunungu.

Mempelai pria menyembelih seeokor kerbau, mempelai wanita menyembelih


seekor babi. Disusul dengan menyembelih seekor ayam jantan pilihan. Hati ayam
dibakar lalu dimakan bersama kedua mempelai. Hal ini melambangkan bahwa
kedua mempelai itu telah bertekad bulat seia-sekata dalam menempuh hidup baru.

5
Apabila mempelai wanita telah tiba dikampung suaminya ia akan disambut dengan
suatu upacara magis religius, yaitu dengan ditebari beras merah beras putih pada seluruh
tubuhnya agar memperoleh kesuburan. Dikampung sang suami, dilakukan pula kebaktian
dirumah marapu dan disertai hewan korban. Ada baiknya, untuk hewan kurban dilakukan
pemeriksaan kesehatan agar menjamin tidak adanya penyakit zoonosis.

Gambar Pemotongan Kerbau

2. TRADISI SOSIAL ‘HELAKETA’ – SUKU DAWAN (TIMOR), TTU


Pulau Timor adalah salah satu pulau di Wilayah Timur Indonesia yang dimana pada
masa penjajahan, masih banyak kerajaan besar di Timor yang berperang melawan penjajah
dan kerajaan lain untuk memperluas wilayah kekuasaan kerajaan dan mempertahankan
wilayah kerajaan. Dalam peperangan setiap suku/ keluarga akan berperang
mempertahankan wilayah/ tanah adat keluarga. Oleh karena itu semua keluarga yang
berperang melawan suku/keluarga dari kerajaan lain akan memakan banyak korban sampai
peperangan selesai, Setelah masa perang selasai entah berakhir dengan kekalahan atau
kemenangan. Setiap panglima perang dari setiap suku akan melakukan sumpah adat
bersama suku yang lain di batas wilayah, agar semua keluarga tidak boleh saling tegur
sapa juga hidup berdampingan dengan keluarga lawan/musuh diwaktu perang. Sumpah itu
biasa disebut dalam bahasa daerah Lasi Bata ( dalam bahasa Indonesia tembok batas
ucapan). Jikalau ada keluarga yang melanggar maka keluarga yang melanggar semua
keturunannya akan musnah dengan sendiri. Sumpah itu sangat di percayai oleh seluruh
keluarga dan tidak ada seseorang yang berani melanggar.
Dengan berkembangnya zaman dan penduduk diwilayah timor dan zaman yang
semakin canggih, maka anak cucu yang telah tumbuh menjadi dewasa dan akan memasuki
6
bathera hidup perkawinan. Sudah mulai lupa akan sumpah yang pernah orang tua/nenek
moyang mereka sepakati. Oleh karena itu untuk menghindari sumpah adat yang dibuat oleh
nenek moyang maka munculnya acara adat yang namanya “ Laeb Kisan Tunbubun/
Helaketa”. Dimana acara ini yang bias mempersatukan kembali semua keluarga di pulau
Timor dan juga menghidari sumpah yang pernah nenek moyang mereka sepakati.
Acara Laeb Kisan Tunbubun/Hela Keta adalah salah satu acara adat yang
dilakukan oleh masyrakat di pulau timor, untuk menyatukan kembali dua suku/keluarga
besar antara keluarga A dan B yang pernah terlibat peperangan/ pertikaian antar kedua suku
keluarga besar untuk mempertahankan tanah air/wilayah tempat kekuasaan masing- masing
suku. Acara ini dilakukan apabila ada sepasang pasang muda mudi dari kedua keluarga
ingin melangsungkan perkawinan. Acara Laebkisan Tunbubun/Helaketa ini dilakukan
agar pemuda dari keluarga A yang mengambil calon istri dari keluarga B, kedapannya
hubungan mereka direstui keluarga dan bisa langgeng seterusnya anak cucu mereka selalu
di berkati oleh nenek moyang dan juga sang pencipta.
Ritual ini biasanya dilakukan di tempat-tempat seperti sungai atau kali yang telah
disepakati oleh keluarga kedua mempelai, dimana keluarga kedua belah pihak harus berdiri
terpisah atau berseberangan diantara sungai. Ritual Helaketa dilakukan dengan masing-
masing perwakilan atau tokoh adat dari kedua calon mempelai bertemu ditengah sungai
bersama dengan kedua calon mempelai sambil bertegur sapa menggunakan bahasa daerah
setempat (bahasa dawan), dan membawa serta barang istiadat yang telah disepakati oleh
keluarga kedua calon mempelai. Dalam ritual tersebut kedua tokoh adat akan membuang
uang logam pada aliran sungai, sebagai pertanda bahwa keduanya telah sepakat dan saling
menerima, kemudian akan ada penyembelihan dua ekor hewan dari masing-masing pihak
keluarga, penyembelihan dilakukan oleh ketua adat yang nantinya darah dari kedua hewan
tersebut akan di alirkan ke sungai, pengaliran darah tersebut dipercayai dapat
membersihkan atau menghilangkan segala pertiakaian nenek moyang yang telah mereka
pupuk bertahun-tahun, biarlah segala pertikaian tersebut hilang dibawah aliran sungai,
sehingga kedua pihak keluarga dapat bersatu dan pernikahan yang akan dilangsungkan
nantinya dapat berlangsung dengan baik. (Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, 2018).
Setelah semua keluarga saling silahturami di seberang sungai. Maka dimulailah
acara makan bersama di pinggir sungai. Makanan yang dibawah harus dihabiskan tidak

7
boleh di bawah pulang kembali ke rumah. Setelah acara Laebkisan/Helaketa di pinggir
maka kedua pemuda pemudi bisa melangsungkan perkawinan dan hidup elayaknya
keluarga yang lain.
Tradisi Helaketa, selain digunakan dalam perkawinan, juga digunakan untuk
pemulihan jiwa bagi pelaku pembunuhan. Secara budaya, suku-suku di NTT, membedakan
antara kematian yang wajar dan kematian tidak wajar. Kematian wajar merujuk pada
kematian usia lanjut atau karena sakit yang diangap sebagai kehendak Ilahi, sedangkan
kematian tidak wajar adalah karena kecelakaan, dibunuh, disambar petir, dirampok maupun
bunuh diri. Umumnya dua metafora digunakan untuk kematian, yaitu dingin dan
manisuntuk kematian wajar sedangkan panas dan asin untuk kematian tidak wajar.
(Kolimon,2008)
Untuk itu, jika terjadi mati asin atau panas perlu adanya pendinginan melalui ritus-
ritus pemulihan. Jika tidak, akan berakibat buruk bagi keluarga si pembunuh seperti
kecelakaan, musibah dan kematian karena dipercaya bahwa darah korban akan terus
menuntut melalui berbagai musibah sampai proses pendinginan dilakukan (Kolimon,
2008). Dengan melakukan ritus, sebenarnya pelaku mengakui bahwa apa yang dibuatnya
tidak benar secara budaya (mengakibatkan panas) dan karena itu butuh pemulihan.
Ritus pemulihan Hela keta akan dilakukan dengan pemotongan binatang korban,
biasanya babi, karena bagi orang Meto (Timor), babi dipandang sebagai binatang korban
yang paling tepat sebab darahnya dingin, sedangkan binatang lain dipandang panas dan
tidak baik untuk ritual seperti ini. Darah babi kemudian sebagian dipercikan pada kedua
belah pihak keluarga yang bertikai dan sebagian darahnya dialirkan ke sungai (Kolimon,
M. 2015).
Darah merupakan simbol dari pendinginan hati yang panas sehingga merujuk pada
perdamaian yang telah terjadi. Pengaliran darah di sungai dipandang mendinginkan korban
dan pelaku serta meluputkan mereka dari bencana. Pemulihan dan rekonsiliasi itu bahkan
dipandang mencakup pemulihan dan rekonsiliasi dengan mereka yag sudah meninggal
(Fallo, M. 2008).
Dari segi kesehatan lingkungan, darah merupakan limbah ynag dapat mencemari
lingkungan air dan sungai dapat menjadi media penyebaran peyakit dari hewan yang
digunakan dalam ritual tersebut.

8
3. SISTEM SOSIAL – SABU
Menurut James Fox (1996) yang mempelajari catatan pemerintah Belanda yang
datang ke Pulau Sabu, sampai akhir abad 19 orang Sabu sama sekali tidak tertarik pada
agama Kristen atau Islam. Pada masa itu seluruh masyarakat Sabu menganut kepercayaan
lokal yang bernama Jingitiu. Penamaan kepercayaan Jingitiu sendiri sebenarnya
merupakan sebutan dari para penginjil Kristen Portugis untuk kepercayaan asli orang Sabu
yang tidak diketahui secara pasti namanya. Jingitiu dalam bahasa setempat berarti menolak
(Jingi) dari (ti) Tuhan (Au). Hal ini bertentangan dengan kepercayaan Orang Sabu sendiri
yang menyakini adanya Tuhan yang mereka sebut “Deo Ama”. Warga yang masih
menganut kepercayaan lokal “Jingitiu” sebagian besar adalah para orang tua dan beberapa
anak mereka.
Walau begitu orang tua yang masih memegang teguh ajaran Jingitiu membebaskan
anaknya untuk keluar dari kepercayaan Jingittiu. Penduduk yang sudah memeluk agama

9
resmi menyebut orang yang masih menganut kepercayaan Jingitiu “kafir”, namun hal
tersebut untuk penyebutan saja bagi orang yang belum beragama resmi.
1) HOLE
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti menurut beberapa
tokoh adat hole berasal dari kata “mengusir” atau “memotong” bahagian demi bahagian
/pemangkasan. Mengusir atau memangkas yang dimaksukan oleh kedua orang tokoh
adat ini yaitu mengusir /memotong yang jahat, yang buruk, baik itu malapetaka, sakit
penyakit, peperangan, serta kekacauan. Menurut tokoh adat yang lain hole merupakan
ritual budaya “pembersihan” hal-hal buruk yang ada di pulau Sabu untuk menerima
berkat atau kebaikan yang baru atau menerima hal-hal baik bagi kemakmuran semua
masyarakat di pulau tersebut. Hole adalah upacara sakral yang berasal dari agama suku
Jingitiu, yang ditandai dengan ritual/ adat istiadat pemberian persembahan sebagai
tanda ungkapan syukur dari mereka atas tanah yang ditinggalkan oleh para leluhur atau
nenek moyang yang ditandai dengan pemberian “upeti” atau “bala” kepada Tuhan atau
Zat Ilahi yang “Suci” dan “Kudus” yang disapa sebagai “Deo Ama” (dalam sebutan
orang kristen di sapa sebagai Allah Bapa).
Persembahan hole ini diberikan kepada Deo Ama karena mereka mempercayai
bahwa Dialah yang menciptakan atau menjadikan segala sesuatu yang ada di bumi ini.
Hal ini dilakukan sebagai salah satu wujud ungkapan syukur dari manusia kepada sang
pencipta atas segala kebaikan dan kemakmuran yang diperoleh. Deo Ama memiliki
kedudukan yang sangat tinggi dalam masyarakat Sabu elayaknya orang Kristen
mempercayai Allah Bapa sebagai pencipta manusia dan segala sesuatu di alam semesta.
Selain sebagai ungkapan syukur kepada sang pencipta, tradisi hole ini juga
dilakukan sebagai keharusan dan memiliki makna sebagai ritual balas jasa atau bentuk
ucapan terimakasih kepada para leluhur atas warisan (tanah yang subur, bibit tanaman
yang baik, alam yang bersahabat serta nilai-nilai kehidupan yang membangun dan
mempererat struktur kekerabatan diantara mereka). Dapat dikatakan juga benda-benda
yang dipersembahkan pada saat tradisi hole berlangsung disebut sebagai “upeti” atau
“bala” yang dikirm keluar dari pulau Sabu lewat perahu hole (Mapiga laga) yang
dipercayai akan diterima oleh para leluhur yang kemudian dibawa kepada Deo Ama.
Upeti atau bala terrsebut berupa ketupat-ketupat yang didalamnya berisi padi, sorgum,

10
kacang hijau, kelapa, serta sepotong kayu dadap yang biasanya dipakai untuk menenun,
juga kayu cendana. Bukan hanya tumbuhan saja tetapi ada beberapa hewan yang
dimasukan juga dalam perahu hole yaitu kambiing, ayam dan anak anjing. Hewan-
hewan dipersembahkan sebagai simbol untuk menebus kesalahan, pelanggaran yang
dilakukan karena telah menyakiti para leluhur serta tuhan yang menciptakan dan
memberikan merek segala sesuatu baik secara sadar maupun tidak sadar. Semua barang
yang dimasukan dalam perahu tersebut merupakan apa yang telah diterimanya tersebut.
Upacara adat ini dipimpin oleh Mone ama rai yang adalah ketua dewan adat, yang
bertugas untuk memimpin upacara-upacara adat atau ritual yang ada di pulau sabu
selama 6 bulan musim hujan dan 6 bulan musim kemarau. Hole diadakan pada bulan
Sabu yaitu bulan Banga liwu (dalam kalender tahun Masehi April-Mei), yang
merupakan bulan panen dan hari raya besar dalam tahun adat yang berjalan (seperti
bulan Desember bagi agama kristen). Hole diadakan pada bulan ini juga, karena
merupakan puncak upacara massal yang dipercaya dapat membawa untung, serta bulan
untuk bergembira.
Secara historis, Hawu Ga (Kika Liru) dan luji liru adalah leluhur pertama orang
Sabu yang melakukan perjanjian dengan “Tuan tanah”, sehingga menimbun pulau sabu
menjadi besar, dan memberikan tanah untuk mengusahakan semua hasil alam yang ada
sampai saat ini beserta dengan ternak-ternaknya. Maka dari itu orang sabu harus
membayar “ihi rai” (pajak atau ulu hasil) yang terus dijalankan secara turun temurun.
Bagi orang sabu adat istiadat tidak boleh dilanggar oleh karena merupakan perjanjian
yang dilakukan untuk nenek moyang mereka yang adalah kewajiban yang harus terus
dijaga secara turun temurun dari para leluhur. Ritual Hole yang mereka lakukan
diyakini mempunyai kuasa yang besar dan membawa harapan baru untuk kehidupan
agar lebih baik di masa panen yang akan datang. Ini menjadi kepercayaan yang telah
tertanam dalam jiwa orang Sabu dan merupakan identitas mereka sehingga tidak ada
kekuatan apapun yang dapat membatasi masyarakat Sabu untuk terus melestarikan
tradisi budaya ini. Orang Sabu selalu terikat dengan tradisi atau budaya turun temurun,
mereka harus selalu menjalankan tradisi-tradisi yang ada termasuk Hole. Semua
masyarakat harus berbaur dan mengambil bagian dalam setiap ritual adat.

Ritual-Ritual dalam Upacara Adat Hole

11
Upacara adat hole sarat dengan ritual-ritual yang merupakan puncak dari semua
ritual adat yang ada di sabu. Upacara Hole dilakukan selama dua bulan dengan berbagai
kegiatan sebelum pelepasan perahu hole yaitu salah satunya yang berkaitan dengan
dunia kedokteran hewan ialah:
a) “Sabung ayam” atau para ada dilakukan setelah pengantaran masakan. Sabung
ayam ini akan dilakukan dua kali yaitu di arena kampung Reamedi dan pada
akhir puncak acara di lapangan Altar Besar di Nada Ae. Taji ayam sendiri
memiliki arti bukan sebagai arena penghibur atau sarana untuk berjudi, tetapi
merupakan suatu ritual tradisi budaya yang melambangkan sebuah “perdamaian
abadi” atau “temu sahabat jauh”. Karena pada waktu taji ayam berlangsung
bukan hanya masyarakat Mehara saja yang melakukan upacara adat ini tetapi
orang-orang dari berbagai suku-suku yang ada di pulau sabu (Mehara-Liae,
Seba, Sabu Timu, Raijua) akan ikut menyaksikan dan terlibat dalam sabung
ayam tersebut. Sebagian besar orang-orang Sabu diperantauan akan pulang
untuk mengikuti upacara adat besar ini. Sabung ayam dilakukan dengan maksud
agar tidak lagi ada pertumpahan darah, dan menjadi symbol perdamaian bagi
semua masyarakat Sabu.
3. TATA CARA PERNIKAHAN ADAT

Dalam perkawinan adat, sebelum perkawinan terjadi biasanya pihak laki-laki


akan mendatangi pihak perempuan atau biasa disebut “masuk minta” (peminangan).
Perkawinan secara adat dilakukan di kediaman pihak laki-laki, di rumah adat yang
bernama “Dara Rai Kolo Tede”. Upacara perkawinan dimulai dengan calon pengantin
laki-laki mendatangi kediaman calon pengantin perempuan dengan membawa “kenoto”
atau mas kawin. Kedatangan pihak laki-laki disambut oleh pihak perempuan, pengantin
laki-laki dan perempuan dihadapkan pada pemuka adat untuk meramalkan
kelanggengan pernikahan tersebut. Di depan rumah, pemuka adat itu memukul ayam
hidup tiga kali hingga mati. Arah jatuh ayam itu dapat meramalkan kelanggengan
pernikahan. Jika arah ayam jatuh ke arah Timur maka diprediksikan pernikahan akan
langgeng selamanya sampai pasangan meninggal. Jika ayam jatuh menghadap arah
Barat maka diprediksikan bahwa pernikahan tidak akan lama. Jika arah ayam jatuh
diantara Barat dan Timur maka belum dapat dipastikan apakah pernikahan langgeng

12
atau tidak. Setelah “kenoto” diserahkan kemudian pengantin laki-laki kembali
kekediamannya. Di tempat pihak perempuan “kenoto” dibuka didepan keluarga besar
perempuan, kenoto tidak akan dibuka jika keluarga besar belum semuanya hadir. Jika
kenoto sesuai dengan kesepakatan maka pihak istri akan menuju ke kediaman laki-laki
dengan membawa satu ekor babi. Sementara itu, di kediaman pihak laki-laki, calon
pengantin laki-laki dan keluarga besar sudah menunggu. Pengantin laki-laki akan turun
dari rumah adatnya ketika perempuan datang. Kemudian kedua calon pengantin akan
masuk ke dalam rumah adat, di sana kedua mempelai akan disuapi kacang hijau dan
gula Sabu sebanyak tiga suapan oleh ketua adat. Kacang hijau diberikan sebagai
lambang keberkahan dan kemakmuran sedangkan gula sabu melambangkan
kelembutan dan kelekatan. Hal ini dimaksudkan agar kedua mempelai mendapat
kemakmuran dan menjadi pasangan yang selalu setia dalam perkawinan. Setelah
memakan kacang hijau suami dan istri meminum air dari satu tempurung kelapa secara
bergantian, air diberikan sebagai lambang agar rumah tangga tetap dingin layaknya air.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pemberian sirih pinang oleh ketua adat kepada
kedua mempelai. Ketua adat menyuapi masing-masing mempelai dengan sirih pinang.
Di luar rumah adat, babi yang dibawa oleh pihak perempuan dipersiapkan untuk
disembelih oleh ketua adat. Babi kemudian dibakar untuk persiapan prosesi puncak dari
acara perkawinan. Kedua mempelai kemudian keluar dari rumah adat dan dipersilahkan
untuk duduk dihalaman rumah dengan dikelilingi keluarga besar, ketua adat dan
masyarakat setempat. Masing-masing dari ketua adat, tokoh masyarakat dan wakil dari
keluarga memberikan petuah-petuah dalam berumah tangga. Setelah petuah selesai
diberikan maka akan dilakukan doa bersama dengan dipimpin tokoh agama setempat.
Setelah doa selesai maka acara dilanjutkan dengan menyuapi kedua pengantin dengan
kacang hijau dan gula sabu. Kemudian para tamu yang datang dipersilahkan untuk
mengambil hidangan yang telah disiapkan.
Kedua mempelai kemudian kembali ke rumah adat, disana telah disiapkan
bagian-bagian tubuh dari babi yang tadi disembelih seperti jantung, ginjal, paru-paru,
hati, usus di dalam “Kerigi wore” (piring besar yang terbuat dari daun lontar). Semua
bagian tersebut dipotong kecil-kecil kemudian disatukan dalam satu tempat untuk
disuapkan kepada pengantin. Hal ini melambangkan penyatuan antara dua keluarga

13
besar dan merupakan puncak dari acara pernikahan. Dalam perkawinan adat Sabu, tidak
hanya satu babi yang dipersiapkan melainkan bisa berjumlah puluhan. Puluhan babi
harus disiapkan karena selain untuk disantap bersama di tempat. Setiap tamu yang hadir
akan mendapatkan jatah pembagian daging untuk dibawa pulang. Untuk
mempersiapkan belasan babi ini kedua pengantin tidak harus menyiapkan sendiri
melainkan dibantu oleh keluarga besar. Setiap keluarga membantu tanpa harus diminta
terlebih dahulu sehingga terkumpul jumlah babi sesuai yang dibutuhkan. Sebelumnya
telah ada larangan pemerintah memotong banyak ternak untuk pesta perkawinan
maupun kematian. Namun himbauan ini hanya diikuti beberapa bulan karena
masyarakat sudah terbiasa mendapat daging untuk dibawa pulang.
Dalam dunia kedokteran hewan kedua hal tersebut, tidak boleh dilakukan
karena akan bertentangan dengan kesejahteraan hewan yang diatur dalam UU Nomor
41 Tahun 2014 pasal 66 ayat (2), yaitu bebas dari rasa sakit (Budinuryanto, 2015).
Dimana hal tersebut akan membuat hewan merasa kesakitan dan pada akhirnya hewan
tersebut akan mati.

Gambar Acara Hole

4. Kehidupan Sosial masarakat Larantuka yang berhubungan dengan Kedokteran


Hewan
1. Pernikahan

14
Pernikahan sebagai ritual adat, agama, budaya dan sosial yang menggambarkan
kearifan budaya lamaholot yang sejak dahulu diwariskan secara turun temurun dari nenek
moyang. Ritual adat ini melibatkan kehidupan sosial dari masyarakat setempat. Rangkaian
acara pernikahan meliputi :

a. Tongka Tanya

Proses ini mengawali proses menuju perkawianan.Dalam proses ini keluarga dari
pihak laki-laki akan menyambangi kediaman perempuan.Orang tua dari laki-laki beserta
keluarga besarnya setelah menanyakan keseriusan anaknya bermaksud untuk
memperkenalkan diri kepada keluarga perempuan. Juru bicara dari pihak laki-laki akan
menjelaskan maksud kedatangan keluarga besar mereka dan meminta ijin kiranya pihak
perempuan berkenan merestui anaknya untuk menjalin hubungan dengan anak mereka.
Biasanya dalam proses ini belum dibicarakan secara serius tentang kelanjutan hubungan
kedua pasangan,hanya sekedar silahturahmi dan berkenalan. Kadang pada proses ini sudah
mulai dibicarakan tentang belis/mahar yang harus dipenuhi pihak laki-laki.
Pada tahap tongka tanya biasanya dilakukan acara makan bersama kedua keluarga
besar. Dari pihak laki-laki maupun perempuan akan menyiapkan hewan seperti babi,
kambing, dan ayam sebagai lauk pada acara makan bersama tersebut. Kehidupan sosial
masyarakat nagi dengan memberi makan banyak orang tidak lepas dari semua acara yang
ada.
b. Tuka Cince
Orang tua laki-laki akan kembali mengumpulkan keluarga besarnya dan bersama-
sama mereka mendatangi pihak perempuan. Sebelum kedatangan umumnya keluarga
wanita diberitahukan terlebih dahulu sehingga telah ada persiapan.Ketika memasuki proses
ini maka pasangan sudah terikat. Cincin dipersiapkan sebagai lambang mengikatkan cinta
kedua anak mereka dan kedua keluarga besar. Kedua keluarga juga membicarakan proses
selanjutnya,setelah cincin dikenakan oleh masing-masing pasangan. Kedua keluarga besar
secara resmi sudah dipersatukan dan ketika ada hajatan diantara keduanya maka mereka
akan saling mengundang. Perempuan dengan sendirinya harus lebih sering diperhatikan
laki-laki dengan menyiapkan segala yang menjadi kebutuhannya. Pada proses ini kadang
selain membawa cincin keluarga laki-laki juga membawa perlengkapan lainnya

15
seperti perhiasan emas yang akan dikenakan wanita.Kesempatan ini juga dipakai untuk
membicarakan belis/mahar yang harus disiapkan mempelai laki-laki.
c. Tuli Nama
Tuli nama/tulis nama merupakan kegiatan mencatatkan nama pasangan di Gereja
untuk mengikuti pemberkatan nikah. Peraturan gereja katolik mewajibkan pasangan untuk
mengikuti kursus perkawinan sebelum menikah. Setelah itu pasangan yang akan menikah
diumumkan dalam tiga minggu berturut-turut namanya diumumkan di Gereja asal
pasangan. Melengkapai proses di Gereja kedua keluarga kembali bertemu dan mulai
berbicara serius mengenai kegiatan pernikahan.Detail acara dan perlengkapan yang
diperlukan sudah mulai dibicarakan dalam kesempatan ini.Kedua keluarga
berkumpul sambil menikamati hidangan yang disediakan pihak wanita. Tanggal
pernikahan mulai ditetapkan.
d. Kumpo Kao
Bukan termasuk tahapan pernikahan tetapi proses yang mengikutinya.Beberapa
jam sebelumnya di tenda pesta keluarga dari calon pengantin pria dan wanita akan
menerima tamu dari keluarga yang mengantar pemberian berupa uang dan binatang
(anta bagian)yang dikumpulkan (urung rembuk)memberikan bantuan/partisipasi
(kumpo kao).Kumpo kao merupakan adat kebaiasaan yang dilakukan keika ada pesta
pernikahan atau ada kematian.
Kumpo kao dimaknai sebagai sambo tangan (ikut berkontribusi)
membantu dengan memberikan uang sesuai kemampuan.Kumpo kao hanya untuk
keluarga besar dari yang empunya hajat/yang ada hubungan kekerabatan.Keluarga
menyiapkan jamuan makan dan minum untuk rombongan kumpo kao sebagai ucapan
terima kasih.Biasanya keluarga yang hadir pada saat ini kebanyakan tidak mengikuti
jamuan pernikahan (pesta pernikahan) besoknya.
e. Anta Sire pinang
Setelah pengumuman ketiga di Gereja dan dipastikan pernikahan sesuai jadwal
yang ditentukan,sehari sebelum pemberkatan pernikahan (biasanya malamnya dilanjutkan
dengan resepsi pernikahan) digelar proses anta sire pinang. Proses ini di banyak daerah
sering disebut dengan “antar seserahan”. Dahulu pada acara ini selalu diiringi kelompok

16
musik dengan perlengkapan musik,gendang,suling,juk/okulele,gitar dan biola sambil
membawakan lagu Lui E dan lagu daerah lainnya.
Dalam proses ini keluarga laki-laki akan menghantar belis/mahar juga segala
perlengkapan pernikahan dan pesta pernikahan kepada keluarga wanita. Baju pengantin dan
semua perlengkapan pakaian yang akan dikenakan mempelai wanita disiapakan dari ujung
rambut sampai ujung kaki. Binatang yang akan disembelih. Beras dan perlengkapan
makanan lainnya beserta peralatan memasak. Juga tak lupa kayu bakar. Sebelum memasuki
rumah mempelai wanita,di depan pintu rumah perwakilan keluarga calon pengantin pria
akan dijemput oleh perwakilan keluarga calon pengantin wanita.Wakil keluarga pria akan
menuangkan arak di gelas dan memberikan kepada wakil keluarga wanita.
Setelah wakil keluarga calon mempelai wanita menenggak arak yang
diberikan,wakil keluarga pria akan memberikan belis (uang/gading sesuai kespakatan
kedua keluarga) dan diterima wakil dari keluarga wanita.Wakil keluarga wanita umumnya
akan membalas dengan memberikan sarung (tenun ikat Flores timur)satu atau dua lembar
atau cindera mata lain(tergantung kesepakatan keluarga wanita).Setelah upacara serah-
serahan hantaran selesai dilanjutkan dengan santap malam menikmati hidangan yang
disediakan keluarga calon pengantin wanita.

f. Nikah
Pernikahan merupakan puncak dari seluruh rangkaian yang ada. Puncak nikah
dilakukan di gereja yang diikuti keluarga besar kedua belah pihak maupun tamu undangan.
Rangkaian acara ini yang berkaitan dengan Kedokteran Hewan adalah dalam setiap acara
akan menggunakan hewan sebagai lauk. Dari segi kesejateraan hewan terlihat bahwa
terkadang hewan-hewan yang akan disembelih dikumpuklan pada rumah tempat acara
tidak diberi makan terkadang keempat kakinya diikat. Hal ini tidak seseuai dengan animal
walfare yang ada. Selain itu hewan-hewan yang digunakan untuk makan pada acara-acara
ini tidak dilakukan pemeriksaan sehingga kemungkinan adanya infestasi penyakit bisa
tertular ke manusia. Pada acara anta Sire Pinang menggunakan hewan Kambing dan gading
sebagai mahar atau belis yang kemudian dibalas dari pihak perempuan berupa kain adat,
pada saat acara berlangsung dilakuakn pemukulan gendang, Gendang merupakan alat
musik pukul yang terbuat dari kayu dan kulit hewan. Proses pembuatan gendang tidak

17
melalui tahap-tahap pemeriksaan jadi kemungkinan adanya materi patogen yang terdapat
pada kulit hewan bisa tertular ke manusia.

Gambar Proses Penyembelihan Hewan dan Proses Pemotongan

18
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Budaya, adat istiadat dan kehidupan sosial masyarakat NTT berkaitan erat
dengan hewan yang mana digunakan sebagai simbol untuk memperbaiki relasi yang
peranh renggang pada masyarakat timor dalam acara Helaketa, di Sumba Timur,
Sabu dan Flores Timur hewan digunakan sebagai belis dimana belis merupakan
simbol untuk mengikat keluarga yang bersangkutan dan mempererat relasi serta
sebagai simbol tingkat status sosial dalam masyarakat. Selain itu pada acara Hole di
Sabu yang dilaksanakan sebagai tanda perdamaian bagi seluruh masyarakat Sabu.

19
DAFTAR PUSTAKA

Budinuryanto, Dwi C. 2015. Hewan Qurban, Animal Welfare dan daging Asuh. Fakultas
Peternakan: UNPAD.
Fox, James J. 1996. Panen Lontar: Perubahan Ekologi dalam Kehidupan Masyarakat Pulau Rote
dan Sawu. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Hidayat ZR1976. Masyarakat Dan Kebudayaan Suku - Suku Bangsa di Nusa Tenggara Timur.
Tarsiti:Bandung

https://www.google.com/search?q=sistem+sosial+pulau+sabu&ie=utf-8&oe=utf-
8&client=firefox-b-ab#

Kapita Oe, H. 1976. Masyarakat Sumba Dan Adat - Istiadat. Bpk Gunung Mulia: Jakarta
Martha Fallo. 2008. Ritus Halan Nekaf. Suatu Tinjauan Teologis Kontekstual Terhadap Ritus
Halan Nekaf di Jemaat Sonhalan Oefau Klasis Amanuban Selatan, Desa Oebaki, Kecamatan
Kuanfatu, Kabupaten TimorTengah Selatan. Skripsi S-1, Fakultas Teologi UKAW Kupang, hlm.
58-61.

Mery Kolimon.2008. A Theology of Empowerment. Reflections from a West Timorese Perspective,


Berlin : Verlag, hlm. 151.

Mery Kolimon. 2015. Para Pelaku Mencari Penyembuhan, Berteologi Dengan Narasi Para Pelaku
Tragedi ’65 di Timor Barat. Jurnal LEDALERO. Vol. 14 (1) : 34-59

Tukan, A. T. 2014. Kebudayaan Masyarakat Flores Timur-NTT. Universitas Negeri Semarang.

20