You are on page 1of 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Perubahan – perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan makin
meningkatnya usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga usia
lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh.
Keadaan demikian itu tampak pula pada semua sistem muskuloskeletal dan
jaringan lain yang ada kaitannya dengan kemungkinan timbulnya beberapa
golongan reumatik. Salah satu golongan penyakit reumatik yang sering menyertai
usia lanjut yang menimbulkan gangguan muskuloskeletal terutama adalah
osteoartritis. Kejadian penyakit tersebut akan makin meningkat sejalan dengan
meningkatnya usia manusia.
Reumatik dapat mengakibatkan perubahan otot, hingga fungsinya dapat
menurun bila otot pada bagian yang menderita tidak dilatih guna mengaktifkan
fungsi otot. Dengan meningkatnya usia menjadi tua fungsi otot dapat dilatih dengan
baik. Namun usia lanjut tidak selalu mengalami atau menderita reumatik.
Bagaimana timbulnya kejadian reumatik ini, sampai sekarang belum sepenuhnya
dapat dimengerti.
Reumatik bukan merupakan suatu penyakit, tapi merupakan suatu sindrom
dan.golongan penyakit yang menampilkan perwujudan sindroma reumatik cukup
banyak, namun semuanya menunjukkan adanya persamaan ciri. Menurut
kesepakatan para ahli di bidang rematologi, reumatik dapat terungkap sebagai
keluhan dan/atau tanda. Dari kesepakatan, dinyatakan ada tiga keluhan utama pada
sistem muskuloskeletal yaitu: nyeri, kekakuan (rasa kaku) dan kelemahan, serta
adanya tiga tanda utama yaitu: pembengkakan sendi., kelemahan otot, dan
gangguan gerak.
Reumatik dapat terjadi pada semua umur dari kanak – kanak sampai usia lanjut,
atau sebagai kelanjutan sebelum usia lanjut. Dan gangguan reumatik akan
meningkat dengan meningkatnya umur. (Felson, 1993, Soenarto dan Wardoyo,
1994)
Saat ini belum didapatkan suatu cara pencegahan dan pengobatan Reumatik
yang sempurna. Namun diketahui konsep pengobatan dari Reumatik diantaranya

1
yaitu menghilangkan gejala inflamasi aktif baik lokal maupun sistemik, mencegah
terjadinya destruksi jaringan, mencegah terjadinya deformitas dan memelihara
fungsi persendian agar tetap dalam keadaan baik, serta mengembalikan kelainan
fungsi organ dan persendian yang terlibat agar sedapat mungkin menjadi normal
kembali (Daud, 2007).
Dalam mencapai tahap pengobatan yang sesuai dengan konsep pengurangan
nyeri dan mencegah kerusakan sendi digunakan obat-obatan konvensional dalam
pengobatan Rheumatoid Arthritis. Obat-obat tersebut berupa Disease Modifying
Anti Rheumatic Drugs (DMARDs) dengan cara kerja memperlambat perkembangan
penyakit, sebagai pengubah respon biologis untuk mengurangi peradangan,
kerusakan struktural sendi, obat anti-inflamasi (OAINS) / NSAID dan kortikosteroid
untuk mengurangi peradangan (U.S. Department of Health and Human Services,
2013). Namun terdapat efek samping yang cukup berat dari pemakaian OAINS ini,
seperti hipersensitivitas, gangguan fungsi hati dan ginjal serta penekanan sistem
hematopoetik (Daud, 2007).
Efek samping dari pemakaian terapi farmakologi cukup berbahaya dan
sebaiknya dihindari. Karena alasan tersebut banyak pasien mulai melihat kepada
terapi non-farmakologi alternatif obat dan terapi komplementer / Complementary
and Alternative Medicine (CAM) sebagai pilihan dalam mengatasi penyakit.
Perawat sebagai profesi yang melakukan perawatan secara holistik tentunya
memiliki andil terhadap terapi non-farmakologis untuk mengurangi nyeri sehingga
dapat meningkatkan kenyamanan. Berbagai teori keperawatan menyatakan
kenyamanan sebagai kebutuhan dasar klien yang merupakan tujuan utama
pemberian asuhan keperawatan (Potter & Perry, 2006).
Salah satu penatalaksanaan yang dapat diberikan perawat berupa terapi
komplementer. Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan (PERMENKES) RI
tentang penyelenggaraan praktik perawat bahwa pelaksanaan tindakan keperawatan
salah satunyan berupa terapi komplementer (Menteri Kesehatan RI, 2010).

1.2 Rumusan masalah
1. Bagaimana asuhan keperawatan pada lansia dengan penyakit Reumatik?
2. Adakah terapi komplementer untuk penanganan non farmakologi pada
lansia dengan penyakit Reumatik?

2
1.3 Tujuan
1. Mahasiswa dapat menjelaskan dan memahami bagaimana asuhan
keperawatan pada lansia dengan penyakit Reumatik.
2. Mahasiswa dapat menjelaskan dan memahami bahwa ada terapi
komplementer untuk pengananan non farmakologi pada lansia dengan
penyakit Reumatik.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Reumatik
Istilah rheumatism berasal dari bahasa Yunani, rheumatismos yang berarti
mucus, suatu cairan yang dianggap jahat mengalir dari otak ke sendi dan struktur lain
tubuh sehingga menimbulkan rasa nyeri atau dengan kata lain, setiap kondisi yang
disertai kondisi nyeri dan kaku pada sistem muskuloskeletal disebut reumatik.
Penyakit rematik meliputi cakupan luas dari penyakit yang dikarakteristikkan
oleh kecenderungan yang mempunyai efek ke tulang, sendi, dan jaringan lunak
(Soumya, 2011). Penyakit rematik dapat digolongkan dalam 2 bagian, yang pertama
rematik sebagai penyakit jaringan ikat karena mempunyai efek ke rangka pendukung
(supporting framework) tubuh dan organ – organ internalnya. Penyakit yang dapat
digolongkan dalam golongan ini adalah osteoartritis, gout, dan fibromialgia. Golongan
yang kedua dikenal sebagai penyakit autoimun karena ia terjadi apabila sistem imun
yang biasanya memproteksi tubuh dari infeksi dan penyakit, mulai merusak jaringan -
jaringan tubuh yang sehat. Penyakit yang dapat digolongkan dalam golongan ini adalah
rheumatoid artritis,spondiloartritis, lupus eritematosus sistemik dan skleroderma.
(NIAMS, 2008)

2.2 Sebab – sebab gangguan reumatik pada usia lanjut
Penyebab dari Reumatik hingga saat ini masih belum terungkap, namun
beberapa faktor resiko untuk timbulnya Reumatik antara lain adalah :
1. Umur
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor ketuaan adalah
yang terkuat. Prevalensi dan beratnya orteoartritis semakin meningkat dengan
bertambahnya umur. Osteoartritis hampir tak pernah pada anak-anak, jarang
pada umur dibawah 40 tahun dan sering pada umur diatas 60 tahun.
2. Jenis Kelamin
Wanita lebih sering terkena osteoartritis lutut dan sendi , dan lelaki lebih sering
terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keeluruhan
dibawah 45 tahun frekuensi osteoartritis kurang lebih sama pada laki dan wanita

4
tetapi diatas 50 tahun frekuensi oeteoartritis lebih banyak pada wanita dari pada
pria hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada patogenesis osteoartritis.
3. Genetic
Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis missal, pada ibu dari
seorang wanita dengan osteoartritis pada sendi-sendi inter falang distal terdapat
dua kali lebih sering osteoartritis pada sendi-sendi tersebut, dan anakanaknya
perempuan cenderung mempunyai tiga kali lebih sering dari pada ibu dananak
perempuan dari wanita tanpa osteoarthritis.
4. Suku
Prevalensi dan pola terkenanya sendi pada osteoartritis nampaknya terdapat
perbedaan diantara masing-masing suku bangsa, misalnya osteoartritis paha
lebih jarang diantara orang-orang kulit hitam dan usia dari pada kaukasia.
Osteoartritis lebih sering dijumpai pada orang – orang Amerika asli dari pada
orang kulit putih. Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup
maupun perbedaan pada frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan.
5. Kegemukan
Berat badan yang berlebihan nyata berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk
timbulnya osteoartritis baik pada wanita maupun pada pria. Kegemukan
ternyata tak hanya berkaitan dengan osteoartritis pada sendi yang menanggung
beban, tapi juga dengan osteoartritis sendi lain (tangan atau sternoklavikula).

2.3 Tanda Dan Gejala Reumatik
1. Nyeri pada anggota gerak
2. Kelemahan otot
3. Peradangan dan bengkak pada sendi
4. Kekakuan sendi
5. Kejang dan kontraksi otot
6. Gangguan fungsi
7. Sendi berbunyi(krepitasi)
8. Sendi goyah
9. Timbunya perubahan bentuk
10. Timbulnya benjolan nodul

5
2.3 Beberapa reumatik pada usia lanjut
1. Osteoartritis
Dari data epidemiologik, ternyata OA menduduki urutan pertama dari
golongan reumatik sebagai penyebab kecacatan. Prevalensinya meningkat
dengan meningkatnya usia, jarang dijumpai pada usia, jarang dijumpai pada
usia dibawah 40 tahun dan lebih sering dijumpai pada usia diatas 60 tahun.
Faktor umum dan jenis kelamin menunjukkan adanya perbedaan frekuensi
(Soenarto, 1994, Solomon, 1997).
Pada wanita umur 45 tahun ditemukan sebanyak 2%, pada umur 45 – 64
tahun sekitar 30% dan diatas 65 tahun sekitar 68%. Sedangkan pada pria umur
45 – 64 tahun persentase kejadian mirip dengan yang terjadi pada wanita, tetapi
pada umur lebih dari 65 tahun ternyata lebih rendah angka kejadian OA
dibanding pada wanita (Soenarto, 1994).
Penyebab OA hingga saat ini masih belum terungkap, namun beberapa
faktor risiko untuk timbulnya OA antara lain adalah :
 Umur
Dengan meningkatnya umur, terjadi peningkatan OA
 Wanita
Setelah umur 50 tahun
 Obesitas
Dari studi epidemiologi ditemukan adanya hubungan antara OA lutut
dengan obesitas
 Trauma
Trauma yang berulang mempermudah timbulnya OA, faktor mekanik /
biomekanik berpengaruh terhadap timbulnya OA
 Kelainan kongenital dan didapat
Kelainan kongenital yang berujud abnormalitas mekanik sendi dapat
menimbulkan OA prematur, misalnya pada displasia epifise dan
dislokasi sendi coxa. Demikian pula kelainan yang didapat misalnya
fraktur yang tak direposisi.
 Herediter dan penyakit timbunan kristal
 Timbunan kristal dalam cairan sinovial yaitu CPPD dijumpai antara
1,8% - 60% penderita OA

6
Kristal BCP sering pula ditemukan dalam kartilago yang mengalami
degenerasi
 Yang masih menjadi pertanyaan atau pertentangan pendapat adalah :
perokok dan bukan perokok ; diabetes mellitus ; pemakaian estrogen ;
hipertensi (Wardoyo & Soenarto, 1994).
.
Patofisiologi
UMUR JENIS KELAMIN GENETIK SUKU
KEGEMUKAN

Kerusakan fokal tulang rawan pembentukan tulang baru pada
sendi yang progresif tulang rawan, sendi dan tepi sendi

Perubahan metabolisme tulang

Peningkatan aktivitas enzim yang merusak
makro molekul matriks tulang rawan sendi

Penurunan kadar proteoglikan

Berkurangnya kadar proteoglikan

Perubahan sifat sifat kolagen

Berkurangnya kadar air tulang rawan sendi

Permukaan tulang rawan sendi terbelah pecah dengan robekan

Timbul laserasi

OSTEOARTRITIS

7
2. Artritis Rematoid
Artritis rematoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dengan
manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh.
Terlibatnya sendi pada pasien artritis rematoid terjadi setelah penyakit ini
berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progresifitasnya. Pasien dapat juga
menunjukkan gejala berupa kelemahan umum cepat lelah.
Meskipun jarang dapat timbul pada usia lanjut atau sebagai kelanjutannya
penyakit pada saat muda. Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita dibanding
pada pria.
Guna memudahkan diagnosis AR, oleh American Rheumatism Association
telah menyusun kriteria seperti tertera berikut ini :
Kriteria American Rheumatism Association untuk Arthritis Rheumatoid tahun 1987
No Kriteria Definisi
1. Kaku pagi hari Kekakuan pada pagi hari di persendian dan
sekitarnya sekurang – kurangnya selama satu
jam sebelum perbaikan maksimal
2. Artritis pada 3 daerah Pembengkakan jaringan lunak atau persendian
atau efusi (bukan pertumbuhan tulang), pada
sekurang – kurangnya 3 sendi secara bersamaan
yang di observasi oleh seorang dokter. Dalam
kriteria ini terdapat 14 persendian yang
memenuhi kriteria yaitu PIP, MCP, pergelangan
tangan, siku, pergelangan kaki, dan MTP kiri
dan kanan.
3. Artritis pada persendian Sekurang – kurangnya terjadi pembengkakan
satu persendian tangan seperti pada 2.
4. Artritis simetris Keterlibatan sendi yang sama sperti tertera pada
2, pada kedua belah sisi (keterlibatan PIP, MCP
atau MTP bilateral dapat diterima meskipun
tidak mutlak bersifat simetris)
5. Nodul Reumatoid Nodul subkutan pada penonjolan tulang atau
permukaan ekstensor atau daerah juksta artikuler
yang diobservasi oleh seorang dokter.

8
6. Faktor reumatoid serum Terdapatnya titer abnormal faktor reumatoid
serum yang diperiksa dengan cara memberi hasil
positif kurang dari 5% kelompok kontrol yang
diperiksa
7. Perubahan gambaran Gambaran radiologis yang khas pada tangan
radiologis posteroanterior dan pergelangan tangan
menunjukkan adanya erosi atau dekalsifikasi
tulang yang berlokasi pada sendi atau daerah
yang berdekatan dengan sendi.

Seseorang dinyatakan menderita Artritis Reumatoid bila sekurang – kurangnya
memenuhi 4 dari 7 kriteria.
Kriteria 1 sampai 4 harus terdapat minimal selama 6 minggu
PIP : Proximal Inter Pharlangeal
MCP : MetanCarpo Phalangeal
MTP : Metatarso Phalangeal

3. Polimialgia Reumatik.
Penyakit ini merupakan suatu sindrom gejala biasanya simetri, namun
adakalanya saat nyeri dapat timbul pada satu bahu yang kemudian berangsur –
angsur menyebar ke lain bagian tubuh. Penderita merasakan nyeri dan kaku di
leher, bahu, pinggang atau bagian belakang, pantat dan paha. Gejala ini tanpa
disertai kelemahan atau atrofi otot yang dapat berlangsung kurang lebih dari
satu bulan yang terdiri dari rasa nyeri dan kekakuan yang terutama mengenai
otot ekstremitas proksimal, leher, bahu dan panggul. Terutama mengenai usia
pertengahan atau usia lanjut sekitar 50 tahun ke atas.

4. Artritis Gout (Pirai).
Artritis gout adalah suatu sindrom klinik yang mempunyai gambaran khusus,
yaitu artritis akut. Artritis gout lebih banyak terdapat pada pria dari pada wanita.
Pada pria sering mengenai usia pertengahan, sedangkan pada wanita biasanya
mendekati masa menopause.

9
2.4 Menifestasi klinis
Gejala-gejala utama ialah adanya nyeri pada sendi yang terkena, terutama waktu
bergerak. Umumnya timbul secara perlahan-lahan, mula-mula rasa kaku,
kemudian timbul rasa nyeri yang berkurang saat istirahat. Terdapat hambatan
pada pergerakan sendi, kaku pagi , krepitasi, pembesaran sendi, dan perubahan
gaya berjalan.

2.5 Penatalaksanaan
Obat obatan
Sampai sekarang belum ada obat yang spesifik yang khas untuk osteoartritis,
oleh karena patogenesisnya yang belum jelas, obat yang diberikan bertujuan
untuk mengurangi rasa sakit, meningkatkan mobilitas dan mengurangi ketidak
mampuan. Obat-obat anti inflamasinon steroid bekerja sebagai analgetik dan
sekaligus mengurangi sinovitis, meskipun tak dapat memperbaiki atau
menghentikan proses patologis osteoartritis.
Perlindungan sendi
Osteoartritis mungkin timbul atau diperkuat karena mekanisme tubuh yang
kurang baik. Perlu dihindari aktivitas yang berlebihan pada sendi yang sakit.
Pemakaian tongkat, alat-alat listrik yang dapat memperingan kerja sendi juga
perlu diperhatikan. Beban pada lutut berlebihan karena kakai yang tertekuk
(pronatio).
Diet
Diet untuk menurunkan berat badan pasien osteoartritis yang gemuk harus
menjadi program utama pengobatan osteoartritis. Penurunan berat badan
seringkali dapat mengurangi timbulnya keluhan dan peradangan.
Dukungan psikososial
Dukungan psikososial diperlukan pasien osteoartritis oleh karena sifatnya yang
menahun dan ketidakmampuannya yang ditimbulkannya. Disatu pihak pasien
ingin menyembunyikan ketidakmampuannya, dipihak lain dia ingin orang lain
turut memikirkan penyakitnya. Pasien osteoartritis sering kali keberatan untuk
memakai alat-alat pembantu karena faktor-faktor psikologis.

Persoalan Seksual

10
Gangguan seksual dapat dijumpai pada pasien osteoartritis terutama pada tulang
belakang, paha dan lutut. Sering kali diskusi karena ini harus dimulai dari dokter
karena biasanya pasien enggan mengutarakannya.
Fisioterapi
Fisioterapi berperan penting pada penatalaksanaan osteoartritis, yang meliputi
pemakaian panas dan dingin dan program latihan ynag tepat. Pemakaian panas
yang sedang diberikan sebelum latihan untk mengurangi rasa nyeri dan
kekakuan. Pada sendi yang masih aktif sebaiknya diberi dingin dan obat-obat
gosok jangan dipakai sebelum pamanasan. Berbagai sumber panas dapat dipakai
seperti Hidrokolator, bantalan elektrik, ultrasonic, inframerah, mandi paraffin
dan mandi dari pancuran panas.
Program latihan bertujuan untuk memperbaiki gerak sendi dan memperkuat otot
yang biasanya atropik pada sekitar sendi osteoartritis. Latihan isometric lebih
baik dari pada isotonic karena mengurangi tegangan pada sendi. Atropi rawan
sendi dan tulang yang timbul pada tungkai yang lumpuh timbul karena
berkurangnya beban ke sendi oleh karena kontraksi otot. Oleh karena otot-otot
periartikular memegang peran penting terhadap perlindungan rawan senadi dari
beban, maka penguatan otot-otot tersebut adalah penting.
Operasi
Operasi perlu dipertimbangkan pada pasien osteoartritis dengan kerusakan sendi
yang nyata dengan nyari yang menetap dan kelemahan fungsi. Tindakan yang
dilakukan adalah osteotomy untuk mengoreksi ketidaklurusan atau
ketidaksesuaian, debridement sendi untuk menghilangkan fragmen tulang rawan
sendi, pebersihan osteofit

11
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN REUMATIK

3.1 Pengkajian
AKTIVITAS/ISTIRAHAT
Gejala : sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stress pada sendi :
kekakuan pada pagi hari.
Keletihan
Tanda : Malaise
Keterbatasan rentang gerak ; atrofi otot, kulit : kontraktur atau kelainan pada
sendi dan otot
KARDIOVASKULER
Gejala : Jantung cepat, tekanan darah menurun
INTEGRITAS EGO
Gejala : Faktor-faktor stress akut atau kronis : Misalnya finansial, pekerjaan,
ketidakmampuan, factor-faktor hubungan
Keputusasaan dan ketidak berdayaan
Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi misalnya
ketergantungan pada orang lain
MAKANAN ATAU CAIRAN
Gejala : Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/ cairan
adekuat : mual.
Anoreksia
Kesulitan untuk mengunyah
Tanda : Penurunan berat badan
Kekeringan pada membran mukosa
HIGIENE
Gejala : berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas pribadi, ketergantungan
pada orang lain.
NEUROSENSORI
Gejala : kebas/kesemutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan
Tanda : Pembengkakan sendi

12
NYERI / KENYAMANAN
Gejala : fase akut dari nyeri
Terasa nyeri kronis dan kekakuan
KEAMANAN
Gejala: Kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga
Kekeringan pada mata dan membran mukosa
INTERAKSI SOSIAL
Gejala: kerusakan interaksi dan keluarga / orang lsin : perubahan peran: isolasi

3.2 ASUHAN KEPERAWATAN
DIAGNOSA 1: Nyeri b/d penurunan fungsi tulang
Kriteria hasil: nyeri hilang atau tekontrol
INTERVENSI RASIONAL
mandiri
o kaji keluhan nyeri, catat lokasi dan o membantu dalam menentukan
intensitas (skala 0 – 10). Catat kebutuhan managemen nyeri dan
factor-faktor yang mempercepat dan keefektifan program
tanda-tanda rasa sakit non verbal
o berikan matras atau kasur keras, o matras yang lembut/empuk, bantal
bantal kecil. Tinggikan linen tempat yang besar akan mencegah
tidur sesuai kebutuhan pemeliharaan kesejajaran tubuh
yang tepat, menempatkan setres
pada sendi yang sakit. Peninggian
linen tempat tidur menurunkan
tekanan pada sendi yang
terinflamasi / nyeri
o biarkan pasien mengambil posisi o pada penyakit berat, tirah baring
yang nyaman pada waktu tidur atau mungkin diperlukan untuk
duduk di kursi. Tingkatkan istirahat membatasi nyeri atau cedera sendi.
di tempat tidur sesuai indikasi
o dorong untuk sering mengubah o Mencegah terjadinya kelelahan
posisi. Bantu pasien untuk bergerak umum dan kekakuan sendi.
di tempat tidur, sokong sendi yang Menstabilkan sendi, mengurangi
sakit di atas dan di bawah, hindari gerakan/rasa sakit pada sendi

13
gerakan yang menyentak
o anjurkan pasien untuk mandi air o Panas meningkatkan relaksasi otot
hangat atau mandi pancuran pada dan mobilitas, menurunkan rasa
waktu bangun. Sediakan waslap sakit dan melepaskan kekakuan di
hangat untuk mengompres sendi- pagi hari. Sensitifitas pada panas
sendi yang sakit beberapa kali dapat dihilangkan dan luka dermal
sehari. Pantau suhu air kompres, air dapat disembuhkan
mandi
o berikan masase yang lembut o Meningkatkan
relaksasi/mengurangi tegangan otot

kolaborasi
o beri obat sebelum aktivitas atau o Meningkatkan relaksasi,
latihan yang direncanakan sesuai mengurangi tegangan otot,
petunjuk seperti asetil salisilat memudahkan untuk ikut serta dalam
(aspirin) terapi.

DIAGNOSA 2 : Intoleran aktivitas b/d perubahan otot.
Kriteria Hasil : Klien mampu berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan.
INTERVENSI RASIONAL
o Pertahankan istirahat tirah o Untuk mencegah kelelahan dan .
baring/duduk jika diperlukan. mempertahankan kekuatan.
o Bantu bergerak dengan bantuan o Meningkatkan fungsi sendi,
seminimal mungkin. kekuatan otot dan stamina umum.
o Dorong klien mempertahankan o Memaksimalkan fungsi sendi dan
postur tegak, duduk tinggi, berdiri mempertahankan mobilitas.
dan berjalan.
o Berikan lingkungan yang aman dan o Menghindari cedera akibat
menganjurkan untuk menggunakan kecelakaan seperti jatuh.
alat bantu.
o Berikan obat-obatan o Untuk menekan inflamasi sistemik
akut

14
DIAGNOSA 3 : Resiko tinggi cedera b/d penurunan fungsi tulang
Kriterian hasil : Klien dapat mempertahankan keselamatan fisik
INTERVENSI RASIONAL
o Kendalikan lingkungan dengan : o Lingkungan yang bebas bahaya .
Menyingkirkan bahaya yang tampak akan mengurangi resiko cedera dan
jelas, mengurangi potensial cedera membebaskan keluaraga dari
akibat jatuh ketika tidur misalnya kekhawatiran yang konstan
menggunakan penyanggah tempat
tidur, usahakan posisi tempat tidur
rendah, gunakan pencahayaan
malam hari siapkan lampu panggil
o Izinkan kemandirian dan kebebasan o Hal ini akan memberikan pasien
maksimum dengan memberikan merasa otonomi, restrain dapat
kebebasan dalam lingkungan yang meningkatkan agitasi,
aman, hindari penggunaan restrain, mengegetkan pasien akan
ketika pasien melamun alihkan meningkatkan ansietas
perhatiannya ketimbang
mengagetkannya

DIAGNOSA 4 : Perubahan pola tidur b/d nyeri
Kriteria hasil : klien dapat memenuhi kebutuhan istirahat tidur
INTERVENSI RASIONAL
o Tentukan kebiasaan tidur dan o Mengkaji perlunya dan .
perubahan yang terjadi mengidentifikasi intervensi yang
tepat
o Berikan tempat tidur yang nyaman o Meningkatkan kenyamaan tidur
serta dukungan
fisiologis/psikologis
o Buat rutinitas tidur baru yang o Bila rutinitas baru mengandung
dimasukkan dalam pola lama dan aspek sebanyak kebiasaan lama,
lingkungan baru stress dan ansietas yang
berhubungan dapat berkurang

15
membantu menginduksi tidur
o Instruksikan tindakan relaksasi o Meningkatkan efek relaksasi
o Tingkatkan regimen kenyamanan o Dapat merasakan takut jatuh
waktu tidur, misalnya mandi hangat karena perubahan ukuran dan
dan masase tinggi tempat tidur, pagar tempat
tidur memberi keamanan untuk
membantu mengubah posisi
o Gunakan pagar tempat tidur sesuai o Tidur tanpa gangguan lebih
indikasi : rendahkan tempat tidur menimbulkan rasa segar, dan
bila mungkin pasien mungkin tidak mampu
o Hindari mengganggui bila mungkin, kembali tidur bila terbangun
misalnya membangunkan untuk obat
atau terapi
Kolaborasi
o Berikan sedative, hipnotik sesuai o Mungkin diberikan untuk
indikasi membantu pasien tidur atau
istirahat

Diagnosa 5 : Defisit perawatan diri b/d nyeri
Kriteria hasil : Klien dapat melaksanakan aktivitas perawatan sendiri secara mandiri
INTERVENSI RASIONAL
o Kaji tingkat fungsi fisik o Mengidentifikasi tingkat bantuan .
atau dukungan yang diperlukan
o Pertahankan mobilitas, kontrol o Mendukung kemandirian fisik /
terhadap nyeri dan program latihan emosional
o Kaji hambatan terhadap partisipasi o Menyiapkan untuk meningkatkan
dalam perawatan diri identifikasi kemandirian yang akan
untuk modifikasi lingkungan meningkatkan harga diri
o Identifikasi untuk perawatan yang o Memberikan kesempatan untuk
diperlukan, misalnya : lift, melakukan aktivitas secara mandiri
peninggian dudukan toilet, kursi
roda

16
Diagnosa 6 : Gangguan citra tubuh/ perubahan penampilan peran b/d perubahan
kemampuan untuk melakukan tugas-tugas umum.
Kriteria hasil : mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan untuk
menghadapi penyakit, perubahan gaya hidup dan kemungkinan keterbatasan
INTERVENSI RASIONAL
o Dorong pengungkapan mengenai o Beri kesempatan untuk
masalah mengenai proses mengidentifikasi rasa takut /
penyakit, harapan masa depan kesalahan konsep dan
menghadapinya secara langsung
o Diskusikan arti dari kehilangan / o Mengidentifikasi bagaimana
perubahan pada pasien / orang penyakit mempengaruhi persepsi
terdekat. Memastikan bagaimana diri dan interaksi dengan orang
pandangan pribadi pasien dalam lain akan menentukan kebutuhan
memfungsikan gaya hidup sehari – terhadap intervensi atau konseling
hari termasuk aspek seksual. lebih lanjut
o Diskusikan persepsi pasien o Isyarat verbal / nonverbal oran
terhadap mengenai bagaimana terdekat dapat mempunyai
orang terdekat menerima pengaruh mayor pada bagaimana
keterbatasan. pasien memandang dirinya sendiri
o Akui dan terima kasih perasaan o Nyeri konstan akan melelahkan
berduka, kemusuhan, dan perasaan marah bermusuhan
ketergantungan. umum terjadi
o Perhatian perilaku menarik diri, o Dapat menunjukkan emosiaonal
penggunaan menyangkal atau atau metode koping maladaptive
terlalu memperhatikan tubuh / membutuhkan intervensi lebih
perubahan. lanjut atau dukungan psikologis
o Susun batasan pada perilaku o Membantu untuk
maladaptive. Bantu pasien untuk mempertahankan kontrol diri yang
mengidentifikasi perilaku positif dapat meningkatkan persaan harga
yang dapat membantu koping diri
o Ikut sertakan pasien dalam o Meningkatkan perasaan
merencanakan perawatan dan kompetensi / harga diri,
membuat jadwal aktivitas mendorong kemandirian dan

17
Kolaborasi mendorong partisipasi dan terapi
o Rujuk pada konseling psikiatri o Pasien / orang terdekat mungkin
membutuhkan dukungan selama
berhadapan dengan proses jangka
panjang / ketidakmampuan
o Berikan obat – obat sesuai o Mungkin dibutuhkan pada saat
petunjuk muncuknya depresi hebat sampai
pasien mengembangkan
kemampuan koping yang lebih
efektif.

18
BAB III
TINJAUAN KASUS

1. Identitas klien
Nama : Ny.S
Usia : 67 tahun
Alamat : Indralaya
Pendidikan : SMA
Tanggal masuk panti werdha : Tahun 2011
Jenis kelamin : Perempuan
Suku : Jawa
Agama : Islam
Status perkawinan : Janda

2. Status kesehatan saat ini
a. Nutrisi
Pemenuhan nutrisi selama di panti terpenuhi, untuk makan teratur 3 x sehari
terdiri dari nasi, lauk dan sayur.
b. Cairan dan elektrolit
Dalam sehari kira – kira 1,5 gelas besar perhari
c. Aktivitas
Selama pemenuhan Activity Daily Living (ADL) dibantu oleh perawat dan
kadang dibantu teman dalam satu wisma.
Riwayat kesehatan sekarang (PQRST)
Nenek S mengatakan bahwa pernah memakai ramuan yaitu daun ubi, pala, jahe,
kemudian ditumbuk dan airnya di sapukan ke kakinya yang bengkak dan terlihat
memang kempes. Tapi nyerinya masih selalu kambuh kaki kanan dan kiri terasa
sakit apalagi dibawa berjalan (skala : 4 – 6). Saat pengkajian nenek S tampak
memijat-mijat kakinya dan wajahnya terlihat meringis. Nenek S. mengatakan
sakitnya menyebar ke paha. Nenek S. mengatakan sakitnya sangat mengganggu
aktivitas karena pernah membuat klien tidak bisa berjalan (pernah bengkak). Sejak
sakit ini klien tidak mempunyai aktivitas yang rutin karena keadaan kakinya yang
tidak bisa dibawa berjalan jauh.

19
Klien mengatakan sakitnya sejak 4 tahun ½ terakhir ini, dan pernah kedua kakinya
bengkak sehingga membuat tidak bisa berjalan selama 3 bulan pada tahun 2002.

3. Riwayat kesehatan dahulu
a. Nutrisi
Selama dirumah, makan kurang teratur frekuensi makan 2 x sehari, terdiri dari
nasi, lauk dan kadang – kadang ada sayur.
b. Cairan dan elektrolit
Minum dalam satu hari kira – kira satu gelas besar
c. Aktivitas
Selama pemenuhan Activity Daily Living (ADL) dibantu oleh keluarga.

4. Riwayat kesehatan keluarga
Klien mengatakan dalam keluarga, orang tua memiliki riwayat hipertensi

5. Tinjauan sistem
a. Keadaan umum : klien dalam kondisi baik namun terlihat kondisi
kaki lemah sehingga perlu bantuan tongkat untuk berjalan dan menopang badan.
b. Integumen : kulit klien tampak bersih, warna kulit sawo
matang, turgor kulit tidak elastis lagi karena faktor usia dan tampak kulit sudah
keriput.
c. Kepala : bentuk kepala simetris, dan kulit kepala tampak
bersih. Rambut sudah beruban dan rontok sedikit berbau keringat.
d. Mata : bentuk mata simetris terhadap wajah, ketajaman
penglihatan sudah menurun sehingga perlu kaca mata untuk alat bantu
penglihatan, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterus, pupil isokor (kanan
dan kiri).
e. Telinga : bentuk telinga simetris kanan kiri, ketajaman
pendengaran sudah menurun sehingga waktu berbincang perlu bersuara keras
didepan telinga.
f. Mulut dan tenggorokan : bibir tampak kering, gigi terlihat sedikit karies
dan tidak lengkap. Tidak mengalami gangguan pada tenggorokan.
g. Leher : tidak pembesaran vena jugularis, tidak terdapat
pembesaran KGB dan suara klien terdengar cukup jelas.

20
h. Payudara : tidak dilakukan karena klien malu
i. Sistem pernafasan : klien bernafas vesikuler dengan RR 24x/ menit,
tidak ada tanda kesulitan dalam bernafas.
j. Sistem kardiovaskular : tidak ada riwayat penyakit jantung, TD 140/80
mmHg
k. Sistem gastrointestinal : bentuk simetris tidak ada benjolan, tidak ada
nyeri tekan, tanda ascites tidak ada, pembengkakan hepar juga tidak ada.
l. Sistem perkemihan : frekuensi BAK normal 5 – 6 x/ hari
m. Sistem genitoreproduksi : menopause, libido berkurang
n. Sistem muskuloskeletal : tidak ada edema, otot – otot kaki tampak
simetris, kekuatan otot berkurang dimana klien lebih banyak duduk (tidak ada
aktivitas rutin) bila berjalan menggunakan alat bantu yaitu tongkat dan berjalan
sedikit lambat.
o. Sistem saraf : tidak dilakukan
p. Sistem endokrin : tidak dilakukan

6. Pengkajian psikososial dan spiritual
a. Psikososial
Bahasa yang digunakan klien bahasa jawa dan indonesia. Kemampuan klien
dalam bergaul baik, klien mau bergaul dengan sesama warga panti terutama
dengan sesama anggota satu wisma. Klien dapat beradaptasi dengan warga di
panti walaupun kurang mengikuti kegiatan yang ada di pantai seperti pengajian,
gotong royang dan senam pagi karena keterbatasan gerak akibat penyakitnya.
b. Identifikasi masalah emosional dan spiritual
Klien tidak mengalami susah tidur, klien merasa gelisah dan sedikit murung
karena saat ini keluarga belum mengunjungi. Klien kadang merasa sedikit
khawatir tentang penyakitnya bila tak diobati.
Nenek S beragama Islam dan selalu taat dalam beribadah dan berdoa untuk
kesembuhannya dan klien menyadari sholat merupakan kewajiban bagi umat
muslim sebagai amal ibadah pada saat meninggal dunia nanti walaupun gerakan
sholatnya terbatas nenek S sholat biasanya dengan posisi duduk

21
c. Pengkajian fungsional klien
KATZ indeks
A Mandiri dalam makan, kontinensia, (BAK , BAB), menggunakan pakaian,
pergi ketoilet, berpindah mandi.
B Mandiri semuanya, kecuali salah satu saja dari fungsi di atas
C Mandiri kecuali mandi dan salah satu lagi fungsi yang lain
D Mandiri kecuali mandi, berpakaian dan salah satu lagi fungsi yang lain
E Mandiri kecuali mandi, berpakaian, ke toilet dan salah satu lagi fungsi
yang lain
F Mandiri kecuali mandi, berpakaian, ketoilet, dan salah satu lagi fungsi
yang lain
G Ketergantungan untuk semua fungsi diatas
- Dari ke tujuh kategori diatas Nenek S termasuk ke kategori F Mandiri kecuali
mandi, berpakaian, ketoilet, dan salah satu lagi fungsi yang lain

d. Modifikasi dari Barthel

No Kriteria Dengan
Mandiri Keterangan
Bantuan
1 Makan 5 Frekuensi : 2-3x
Jumlah : 1/2 porsi
Jenis : Nasi, sayur,
tempe.
2 Minum 5 Frekuensi : 8-10 gls
Jumlah : 2 liter
Jenis : air putih
3 Berpindah dari kursi 5
ke tempat tidur
4 Personal toilet 0 5 Frekuensi : 1x/hari
5 Keluar masuk toilet 5
6 Mandi 5 5 Frekuensi : 2x/hari
7 Jalan di permukaan 0 5
datar
8 Naik turun tangga 5
9 Menggunakan 5 5
pakaian
10 Kontrol bowel 5 5 Frekuensi : 1x/hari
(BAB) Konsistensi : padat
11 Kontrol bowel 5 5 Frekuensi : 6-7x/hari
(BAK) Warna : Kuning keruh

22
Jumlah : 1500 ml
12 Olah raga/latihan 5 5 Frekuensi : tidak
pernah
Jenis : -
13 Rekreasi 5 5
Frekuensi : -
pemanfaatan waktu
Jenis : Nonton TV.
luang
Total Score 55 40 95
- Interpretasi hasil : ketergantungan sebagian

e. Pengkajian status mental gerontik
 Identifikasi tingkat kerusakan intelektual dengan menggunakan SPMSQ
(Short Portable Mental Status Questioner).
BENAR SALAH No PERTANYAAN
√ 1 Tanggal berapa hari ini ?
√ 2 Hari apa sekarang ?
√ 3 Apa nama tempat ini ?
√ 4 Dimana alamat anda ?
√ 5 Berapa umur anda ?
√ 6 Kapan anda lahir ?
√ 7 Siapa presiden Indonesia sekarang ?
√ 8 Siapa presiden Indonesia sebelumnya ?
√ 9 Siapa nama ibu anda ?
√ 10 Kurangi 3 dari 20 ?
Score total : 8
Interprestasi hasil : fungsi intelektual utuh

f. Identifikasi aspek kognitif dari fungsi mental dengan menggunakan MMSE
(Mini Mental Status Exam)
Nilai
No Aspek Kognitif Nilai Klien Kriteria
Maksimal
1 Orientasi waktu 5 5 Menyebutkan dengan
benar :
1. Tahun
2. Musim
3. Tanggal
4. Hari
5. Bulan
Orientasi ruang 5 5 Dimana kita sekarang:

23
1. Negara Indonesia
2. Propinsi Sumsel
3. Kabupaten ogan ilir
4. Panti werdha
2 Registrasi 3 3 Sebutkan nama obyek
yang telah disebutkan:
1. Gelas
2. Sendok
3. Piring
Perhatian dan 5 5 Minta Klien untuk
kalkulasi memulai dari angka 100
kemudian dikurangi 7
sampai 5 kali/tingkat
1. 93
2. 86
3. 79
4. 72
5. 65
Mengingat 3 3 Minta klien untuk
kembali mengulangi ketiga obyek
no.2( registrasi),bila
benar,1 poin untuk
masing-masing obyek

Bahasa 9 7 Tunjukan kepada klien
suatu benda dan
tanyakannamanya pada
klien
- (misal : jam tangan)
- (misal : pensil)

Minta klien untuk
mengulangi kata berikut
“tak ada
jika,dan,atau,tetapi”.bila
nilai 1 poin
- Pertanyaan benar 2 buah :
tak ada,tetapi.

Minta klien untuk
mengikuti perintah berikut
terdiri dari 3 langkah :
1. Ambil kertas ditangan
anda
2. Lipat 2 : taruh dilantai
3. Perintahkan pada klien
untuk hal berikut (bila
aktivitas sesuai
perintah nilai 1 poin)

24
Tutup mata anda
Perintahkan pada klien
untuk menulis satu kalimat
dan menyalin gambar
Tulis satu
kalimat,menyalin gambar
- Interpretasi hasil : tidak ada gangguan kognitif

ANALISA DATA

No Data Masalah keperawatan
1. DO : Nyeri
- Klien tampak memijat – mijat kakinya
saat pengkajian
- Wajahnya terlihat meringis
- Skala nyeri 4 – 6 (Sedang)

DS :
- Klien mengatakan kaki kanan dan
kirinya sakit apalagi ketika dibawa
berjalan
2. DO : Intoleransi aktivitas
- Klien berjalan menggunakan alat bantu
tongkat
- Klien lebih banyak duduk
- Klien berjalan lambat

DS :
- Klien mengatakan tidak sanggup berjalan
jauh

PRIORITAS MASALAH KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan penurunan fungsi tulang ditandai dengan wajah
meringis dan skala nyeri 4-6.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan perubahan otot lemah ditandai dengan
klien mengunakan alat bantu tongkat.

25
ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK
Perencanaan
Diagnosa
No Tujuan Rasionalisasi
Keperawatan Intervensi
Kriteria Hasil
1. Nyeri Nyeri hilang / 1. Kaji nyeri, 1. Membantu dalam
berhubungan terkontrol catat lokasi, menentukan
dengan dengan kriteria karakteristik, manajemen nyeri
penurunan hasil : derajat (skala
fungsi tulang pasien tampak 0 – 10)
ditandai rileks dan tidak 2. Anjurkan 2. Panas
dengan wajah meringis klien untuk meningkatkan
meringis dan menahan nyeri mandi air letak sisi otak
skala nyeri 4- lagi panas / dan mobilitas
6 hangat menurunkan rasa
sakit
3. Berikan klien 3. Tirah baring
posisi yang mungkin
nyaman pada diperlukan utnuk
waktu tidur / membatasi nyeri
duduk / cedera sendi
dikursi
4. Berikan 4. Menaikkan
masase yang relaksasi atau
lembut regangan otot
5. Berikan obat 5. Menaikkan
sesuai relaksasi dan
indikasi sebagai terapi
pengobatan.
2. Intolerasi Klien mampu 1. Pertahankan 1. Untuk mencegah
aktivitas berpartisipasi istirahat tirah kelelahan dan
berhubungan pada aktivitas baring / memepertahanka
dengan yang diinginkan, duduk jika n kekuatan
perubahan dengan kriteria diperlukan
otot lemah hasil : 2. Bantu 2. Menaikkan

26
ditandai Klien tidak bergerak fungsi, kekuatan
dengan klien banyak duduk dengan otot dan stamina
mengunakan lagi, klien bantuan umum
alat bantu. tampak rileks seminimal
mungkin
3. Dorong klien 3. Memaksimalkan
mempertaha fungsi sendi dan
nkan postur mempertahankan
tegak, mobilitas
duduk,
tinggi, dan
berjalan
4. Berikan 4. Menghindari
lingkungan cedera akibat
yanga aman kecelakaan
dan
menganjurka
n untuk
menggunaka
n alat bantu
5. Berikan obat 5. Untuk menekan
– obat sesuai inflamasi
dengan sistemik akut
indikasi
3. Resti cedera Klien dapat 1. Kendalikan 1. Lingkaran yang
fisik mempertahankan lingkungan bebas bahaya
berhubungan keselamatan dengan akan mnegurangi
dengan fisik menyingkirk risiko cedera
mobilitas an bahaya
menurun yang tampak
ditandai jelas seperti
dengan klien pencahayaan
tampak pada malam

27
berhati hati hari
saat berjalan. 2. Membantu 2. Mengetahui
regimen tahapan
medikasi pengobatan
3. Anjurkan 3. Mengurangi
untuk risiko cedera
berjalan atau
bangkit dari
duduk dan
tidur dengan
perlahan –
lahan

CATATAN PERKEMBANGAN
No Diagnosa keperawatan Implementasi Evaluasi
1. Nyeri berhubungan Pukul 15.00 WIB S : klien menyatakan
dengan penurunan fungsi - Mengkaji keluhan bahwa kaki kanan dan
tulang ditandai dengan nyeri dan catat kirinya masih sakit
wajah meringis dan skala lokasi skala nyeri. apalagi ketika dibawa
nyeri 4-6 Skala nyeri 6 berjalan
- Menganjurkan
klien untuk mandi O : klien memijat – mijat
air panas / hangat kaki nya
- Memberikan klien Klien tampak meringis
posisi yang Skala nyeri 6
nyaman ketika
duduk dikursi A : intervensi dilanjutkan
- Memberikan
massage yang P : R/T dilanjutkan
lembut pada kaki /
lutut
2. Intolerasi aktivitas Pukul 15.15 WIB S : klien menyatakan
berhubungan dengan - Mempertahankan masih tidak sanggup

28
perubahan otot lemah istirahat duduk jika berjalan lama
ditandai dengan klien diperlukan
mengunakan alat bantu. - Membantu O:
bergerak dengan Klien berjalan
bantuan seminimal menggunakan tongkat
mungkin klien lebih banyak duduk
- Mendorong klien Klien berjalan lambat
mempertahankan
postur tegak, A:
duduk tinggi, Masalah belum teratasi
berdiri dan
berjalan P:
Intervensi dilanjutkan
3. Resti cedera fisik Pukul 15.25 WIB S : klien menyatakan
berhubungan dengan - Mengendalikan masih takut untuk
mobilitas menurun lingkungan dengan berjalan jauh
ditandai dengan klien dengan
tampak berhati hati saat menyarankan O : klien tampak berhati
berjalan. untuk – hati saat berjalan, klien
menggunakan menggunakan tongkat
penyangga tempat saat berjalan
tidur
- Menganjurkan A: masalah teratasi
untuk berjalan atau sebagian
bangkit dari duduk
dan tidur dengan P : intervensi dilanjutkan
perlahan – lahan

29
BAB IV
ANALISA JURNAL
4.1 Terapi komplementer
Penyakit rematik pada lansia dapat menyerang laki – laki dan perempuan
pada segala usia, tetapi kelompok lansia memang lebih banyak terkena rematik.
Penyakit ini ditandai dengan keluhan utama rasa sakit atau pegal linu dan rasa
kaku. Bisa pula terjadi bengkak sendi, gangguan gerak, dan lemah otot. Penyakit
rematik pada lansia yang menahun (kronis) menimbulkan cacat dibagian tubuh
yang terkena. Dengan demikian, rematik merupakan kumpulan gejala yang
penyebabnya beraneka ragam, tetapi perwujudannya hampir serupa.
Harus dipahami penyakit pada lansia ini bukan merupakan akibat mandi pada
malam hari, akibat cuaca dingin atau karena ruangan ber-AC. Fakta telah
membuktikan bahwa subtropis yang berhawa dingin dan banyak orang yang
bekerja diruang ber-AC tidak semuanya kena rematik. Penyakit rematik juga
diturunkan, karena anak penderita rematik tidak semuanya terkena rematik
meskipun memang diakui ada penyakit nodus herbeden (benjolan atau nodus –
nodus kecil dan keras akibat penulangan rawan sendi, biasanya timbul dijari – jari
tangan) yang dipengaruhi oleh gen tertentu.
Terapi komplementer yang bisa digunakan untuk rematik adalah ramuan
jahe, latihan ROM, Slow Stroke Massage dan yoga.

4.2 Analisa Jurnal
1. Dalam jurnal penelitian yang berjudul Slow Stroke Back Massage terhadap
intensitas nyeri RA pada lanjut usia. Hasil penelitian membuktikan bahwa
terdapat perbedaan signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol
yaitu 60 %. Dalam penatalaksanaan nyeri RA umumnya dilakukan dengan
stimulasi kutanues, terapi panas atau dingin, latihan atau aktifitas fisik dan
distraksi. Masase dan sentuhan merupakan teknik integrasi sensori yang
mempengaruhi aktifitas sistem saraf otonom (Meek, 1993 dalam Potter & Perry
2005). Salah satu teknik masase yakni Slow Stroke Back Massage. Vasodilatasi
pembuluh darah akan meningkatkan peredaran darah pada area yang diusap
sehingga aktivitas sel meningkat dan akan mengurangi rasa sakit sensasi hangat
juga dapat meningkatkan rasa nyaman (Reeves, 1999). Meode yang dilakukan

30
yakni mengusap kulit klien secara perlahan dan berirama dengan tangan
berkecepatan 60 kali usapan per menit. Kedua tangan menutup suatu area yang
lebarnya 5 cm pada kedua sisi tonjolan tulang belakang dari ujung kepala
sampai area sakrum selama 3 – 10 menit.
2. Dalam jurnal penelitian yang berjudul Pengaruh Senam Yoga Terhadap Skala
Nyeri Rhematoid Arthritis Pada Lansia. Latihan asana yoga yang sistematis dan
konsisten memaksa tubuh mengaktifkan sistem sirkulasi limfatik tubuh dan
melancarkan sirkulasi darah secara merata ke seluruh tubuh. Hal ini membuat
tubuh menggunakan seluruh nutrisi yang didapatnya dengan baik sehingga
mampu mencegah penyakit akibat fenomena penurunan fungsi.Yoga dapat
mengontrol stres dan produksi kortisol (terkait dengan produksi adrenalin)
dalam darah sebagai satu upaya ampuh menjaga kesehatan tulang dan sendi.
Gerakan-gerakan ini dapat dilakukan oleh manula ataupun manusia dengan
keterbatasan fisik tanpa harus mendapatkan risiko cidera yaitu antara lain;
Dandasana (posisitongkat), Uttasana (posisi peregangan intensif),
Bharadvjasana (posisi Begawan–perputaran sejajar), Setuban
dhanasarvangasana (posisi jembatan),dan terakhir savasana (Posisi Orang Mati).
Gerakan ini dapat diberikan secara rutin selama 30 menit, setidaknya 5-6 hari
seminggu.
3. Pada jurnal penelitian dengan judul Pemberian Kompres Hangat Memakai Jahe
Untuk Meringankan Skala Nyeri Pada Pasien Asam Urat. Hasil penelitiannya
mengatakan ada pengaruh kompres hangat dengan jahe terhadap perubahan
nyeri pada lansia dengan asam urat. Carana adalah jahe 100 gram yang diparut
dan di letakan diatas kain yang sudah di celupkan pada air hangat yang bersuhu
40-50 0C setelah itu di kompres pada daerah yang nyeri selama 20 menit.
kandungan jahe bermanfaat untuk mengurangi nyeri pada asam urat karena jahe
memiliki sifat pedas, pahit dan aromatic dari olerasin seperti zingeron, gingerol
dan shogaol. Olerasin memiliki potensi anti inflamasi, analgetik dan antioksidan
yang kuat. Kandungan air dan minyak tidak menguap pada jahe berfungsi
sebagai enhancer yang dapat meningkatkan permeabilitas olerasin menembus
kulit tanpa menyebabkan olerasin atau zingerol dapat menghambat sintesis
prostlaglandin sehingga nyeri reda atau radang berkurang kompres air hangat
juga dapat meningkatkan aliran darah untuk mendapatkan efek analgesic dan
relaksasi otot sehingga proses inflamasi berkurang.

31
BAB V
PENUTUP

Kesimpulan dan saran
Perawat sebagai profesi yang melakukan perawatan secara holistik tentunya
memiliki andil terhadap terapi non-farmakologis untuk mengurangi nyeri sehingga
dapat meningkatkan kenyamanan. Salah satu penatalaksanaan yang dapat diberikan
perawat berupa terapi komplementer.
Terapi komplementer yang dapat digunakan pada nyeri akibat rematik adalah
ramuan jahe, latihan ROM, Slow Stroke Massage dan yoga.

32
DAFTAR PUSTAKA

Jhonson R. dan Leny R (2010) keperawatan keluarga plus contoh askep keluarga.
Yogyakarta : Nuha Medika.

Lynda, Jual. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. alih bahasa Monica
Ester, Skp.EGC : Jakarta

Mustaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Keperawatan Klien Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Editor, Eko Karioni. Jakarta : EGC

Prapti Utami dan Tim Lentera. (2003). Tanaman Obat untuk Mengatasi Rematik
dan Asam Urat. Jakarta: Agro Media Pustaka.

Sjaifoellah Noer. (1996). Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Jakarta: FKUI.

Wahyudi Nugroho. (2000). Asuhan Keperawatan Gerontik. Jakarta: EGC.

33