You are on page 1of 17

SMALL GROUP DISCUSSION

KEPERAWATAN PENCERNAAN I

ASUHAN KEPERAWATAN : GANGGUAN REFLUKS


GATROESOFAGUS

Disusunoleh:

Kelompok 3/ Kelas A3/ Angkatan 2014

1. KartikaHarsaktiningtyas (131411131012)
2. GilangDwiKuncahyo (131411131030)
3. CholilatulZuhriya (131411131051)
4. Yolanda EkaMaulida (131411131069)
5. Annisa Mufidah (131411131084)
6. Istinur Alifah (131411131102)
7. Aisyah Kartika (131411131072)
8. Zakarias Novianto (131411133022)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya. Adapun tujuan dibuatnya makalah
ini adalah sebagai syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan
Pencernaan I.

Keberhasilan dalam penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bimbingan


serta bantuan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan
terima kasih kepada Bu Ni Ketut Alit Armini, S. Kp., M. Kes.

Akhir kata, kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca pada umumnya dan bagi kami pada khususnya.

Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini,


oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun akan kami terima
dengan senang hati.

Penulis,

2
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………………………................. 1
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………................ 2
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………............................ 3
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………………….... 4
1.2 Tujuan Umum…………………………………………………………………………………..... 4
1.3 Tujuan Khusus………………………………………………………………………………….... 5
1.4 Manfaat…………………………………………………………………………………............. 5
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian………………………………………………………………………………….......... 6
2.2 Etiologi…………………………………………………………………………………................ 7
2.3 Patofisiologi…………………………………………………………………………………........ 8
2.4 Manifetasi Klinis…………………………………………………………………………………. 10
BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian………………………………………………………………………………….......... 11
3.2 WOC…………………………………………………………………………………................... 12
3.3 Diagnosa Krperawatan……………………………………………………………………… 13
3.4 Intervensi dan Rasional……………………………………………………………………… 13
BAB 4 KESIMPULAN………………………………………………………………………………….............. 16
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………................. 17

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Esofagus merupakan organ silindris berongga dengan panjang sekitar 25 cm


dan berdiameter 2 cm, yang terbentang dari hipofaring hingga kardia lambung.
Esofagus terletak di posterior jantung dan trakea, di anterior vertebra, dan
menembus hiatus diafragma tepat di anterior aorta. Esofagus terutama berfungsi
menghantarkan bahan yang dimakan dari faring menuju ke lambung.
Menelan merupakan suatu aksi fisiologis kompleks dimana makanan atau
cairan berjalan menuju lambung. Menelan juga merupakan rangkaian gerakan
otot yang sangat terkoordinasi, dimulai dari ergerakan volunteer lidah dan
diselesaikan reflex dalam faring dan esophagus. Pada saat menelan sfingter
esophagus atas membuka sesaat untuk memberijlan kepada bolus makanan yang
ditelan. Menelan menimbulkan gelombang kontraksi yang bergerak ke bawah
sampai ke lambung. Hal ini dimungkinkan dengan adanya kerja sama antara
kedua lapisan otot esophagus yang berjalan sirkuler da kongitudinal dan adanya
daya tarik grafitasi. Namun terdapat beberapa bukti bahwa rangkaian gerakan
kompleks yang menyebabkan terjadinya proses menelan mungkin terganggu bila
ada sejumlah proses patologis. Proses ini dapat menggangu transport makanan
maupun mencegah refluks lambung.
Salah satu gangguan pada esofagus adalah Refluks gastroesofagus
merupakan kembalinya isi lambung ke esofagus atau lebih proksimal. Isi lambung
tersebut bisa berupa asam lambung, udara, maupun, makanan (Resto dalam
Muttaqin, 2009).

1.2 Tujuan Umum

Setelah tersusunnya makalah ilmiah ini, pembaca diharapkan memahami


dan mengerti tentang asuhan keperawatan pada gangguan Refluks
Gastroesofagus.

4
1.3 Tujuan Khusus

1. Menjelaskan tentang pengertian refluks gastroesofagus

2. Menjelaskan tentang etiologi dan patofisiologi pada refluks


gastroesofagus

3. Menjelaskan tentang asuhan keperawatan pada gangguan refluks


esofagus

1.4 Manfaat

1. Mengetahui dan memahami tentang pengertian refluks


gastroesofagus

2. Mengetahui dan memahami tentang etiologi dan patofisiologi pada


refluks gastroesofagus

3. Mengetahui dan memahami tentang asuhan keperawatan pada


gangguan refluks gastroesofagus

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian

Esofagus merupakan suatu organ silindris berongga yang terbentanng dari


hipofaring hingga kardia lambung; fungsinya adalah untuk menghantarkan bahan
makanan yang dimakan. Sfingter mengatur makanan yang bertahan di esofagus.
Sfingter esofagus bagian atas dibentuk oleh otot krikofaringeus, secara nomal
berada dalam keadaan kontralsi kecuali pada saat menelan. Dinding esofagus
terdir atas lapisan mukosa, submukosa, muskularis dan serosa. Kadar keasaman
(pH) esofagus adalah agak basa dan kurang dapat menoleransi kandungan asama
lambung1

Esofagitis refluks kronik atau refluks gastroesofagus merupakan bentuk


esofagitis yang paling sering ditemukan secara klinis. Gangguan ini disebabkan
oleh sfingter esofagus bagian bawah yang bekerja dengan kurang baik dan refluks
asam lambung atau getah akali usus ke dalam esofagus yang berlangsung dalam
waktu lama. Penyebab lazim adalah gangguan motilitas esofagus dan hernia hiatus
diarek sliding. 1

Mekanisme secara normal mencegah terjadinya refluks gastroesofageal


adalah (1) kontraksi normal sfingter esofagus bagian bawah yang menyebabkan
daerah tekanan tinggi; (2) sudut lancip gastroesofageal yang menyebabkan efek
seperti katup penutup; dan (3) tekanan yang terbentuk melalui ligamen
frenikoesofageal menyebabkan efek katup pinchcock. 1

Refluks gastroesofagus merupakan kembalinya isi lambung ke esofagus


atau lebih proksimal. Isi lambung tersebut bisa berupa asam lambung, udara,
maupun, makanan.2

1
Price, Sylvia A. & Wilson,Lorraine M. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
EGC: Jakarta
2
Arif, Kumala. 2011. Gangguan Gastrointestinal : Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal Bedah.
Salemba Medika : Jakarta

6
Refluks gastroesofagus merupakan lairan balik isi lambung atau
duodenum ke dalam esofagus. Hal ini adalah normal, baik pada orang dewasa dan
anak0anaka, refluks berlebihan dapat terjadi karen sfingter esofagus tidak
kompete, stenosis, pilorik, atau gangguan motilitas. Kekambuhan refluks tampak
meningkat sesuai penambahan usia.3

2.2 Etiologi

Berikut yang dapat menyebabkan refluks gastroesofageal;

- Intubasi nasogastrik selama lebih dari 4 hari

- Agen yang menurunkan tekanan LES; makanan; alkohol; rokok; anti-


cholinergics, seperti atropin, belladonna, dan propantheline; dan obat-obatan
lainnya; seperti morfin, diazepam, calcium channel blockers, dan meperidine.

- Hernia hiatus dengan kerusakan sfingter

- Setiap kondisi atau posisi yang meningkatkan intra-abdomen tekanan. Biasanya,


kontes lambung tidak kembali ke kerongkongan karena LES menciptakan tekanan
yang cukup di sekitar ujung bawah kerongkongan untuk menutupnya. Refluks
terjadi ketika tekanan LES kekurangan atau tekanan dalam perut melebihi tekanan
LES.

2
Arif, Kumala. 2011. Gangguan Gastrointestinal : Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal Bedah.
Salemba Medika : Jakarta

7
Refluks esofagitis, komplikasi utama dari lambung refluks, dapat
menyebabkan gangguan lain, termasuk struktur esofagus, ulkus esofagus, dan
penggantian epitel mukosa normal dengan epitel kolumnar (epitel Barrett). Parah
refluks esofagitis dapat menyebabkan anemia dari perdarahan lowgrade kronis
mukosa yang meradang.

2.3 Patofisiologi

Penyakit gastroesophageal reflux (GERD) adalah gangguan GI yang


paling umum di negara-negara Amerika. Hal ini terjadi paling sering pada orang
dewasa setengah baya dan lebih tua tetapi dapat mempengaruhi orang-orang dari
segala usia. GERD terjadi sebagai akibat dari refluks (aliran mundur) isi GI ke
dalam mukosa esofagus terhadap efek iritasi dari isi lambung atau duodenum,
menghasilkan peradangan. Seseorang dengan gejala akut peradangan sering
digambarkan sebagai memiliki esofagitis refluks, yang mungkin ringan atau berat
(Mccance & Huether, 2006)

Refluks isi lambung ke kerongkongan biasanya dicegah dengan kehadiran


dua daerah tekanan tinggi yang tetap berkontraksi saat istirahat. Sebuah 1,2 inci
(3cm) segmen di proksimal mengakhiri kerongkongan disebut sfingter esofagus
bagian atas (UES). Sedangkan untuk 8,0-1,6 inci (2-4 cm) di persimpangan
gastroesophageal (dekat sfingter jantung) disebut Lower esophageal sphincter
(LES) fungsi LES didukung oleh penempatan anatomi di perut, di mana tekanan
sekitarnya secara signifikan lebih tinggi daripada di thorax tekanan rendah. Fungsi
sfingter juga didukung oleh sudut lancip yang terbentuk sebagai g umum dari
GERD adalah relaksasi berlebihan LES, yang memungkinkan kerongkongan
memasuki perut.

Penyebab palinrefluks isi lambung ke kerongkongan dan paparan asam


lambung pada mukosa esofagus. Pada malam hari, refluks cenderung
menyebabkan kontak yang terlalu lama pada kerongkongan terhadap asam karena
posisi terlentang dapat menurunkan peristaltik dan manfaat gravitasi. (Mc Cance
& Huether, 2006).

8
Seseorang yang menderita refluks mungkin asimtomatik dan tidak menyadari
bahwa refluks terjadi. PH asam yang disekresikan oleh lambung berkisar 1,5-2,0,
sedangkan pH esofagus distal biasanya netral (6,0-7,0). Bahan makanan dialirkan
dikembalikan ke perut dengan kombinasi gravitasi, air liur, dan peristaltik.
.

Distensi lambung yang disebabkan oleh makan makanan yang sangat besar
atau tertunda pengosongannya di lambung. Sejumlah faktor individu, termasuk
makanan dan obat-obatan tertentu, mempengaruhi fungsi LES. Merokok dan
alcohol juga melemahkan LES.

Pasien yang memiliki aliran nasogastrik juga mengalami penurunan fungsi


sfingter esofagus. sfingter yang terbuka memungkinkan isi asam dari lambung
masuk ke kerongkongan. Faktor lain yang meningkatkan tekanan intra-abdomen
dan intra-lambung mengatasi tekanan gastroesophageal gradien dikelola oleh LES
dan memungkinkan refluks terjadi. Banyak pasien dengan penyumbatan jalan
nafas saat tidur sering mengalami GERD (talk et al., 2006). Orang dengan hernia
hiatus sering memiliki refluks karena bagian atas perut menonjol melalui
diafragma ke dada untuk memungkinkan asam untuk mencapai kerongkongan.
Penelitian terbaru juga telah dikaitkan dengan berat badan dan GERD. kelebihan
berat badan dan obesitas pasien berada pada peningkatan risiko untuk penyakit ini
(Jacobson et al., 2006).

9
2.4 Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis refluks bervariasi dalam tingkat keparahan, tergantung


pada pasien. Dispepsia, juga dikenal sebagai "heartburn", adalah gejala utama
GERD. Rasa sakit digambarkan sebagai sensasi terbakar substernal yang
cenderung bergerak ke atas dan ke bawah dada dengan cara seperti gelombang.
Karena mulas mungkin tidak dipandang sebagai masalah serius. Pasien dapat
menunda mencari pengobatan. Jika mulas parah, rasa sakit dapat menyebar ke
leher atau rahang atau dapat disebut belakang. Rasa sakit biasanya memburuk
ketika pasien membungkuk, atau berbaring
Dengan GERD parah, nyeri terjadi setelah setiap makan dan berlangsung
selama 20 menit sampai 2 jam. Pasien biasanya mendapatkan bantuan cepat
dengan minum cairan, mengambil antasid, atau mempertahankan postur tegak.
Regurgitasi (aliran mundur ke tenggorokan) dari partikel makanan atau
cairan adalah umum. Pasien merasa cairan hangat bepergian tenggorokan tanpa
rasa mual. Jika cairan mencapai tingkat faring, ia mencatat rasa asam atau pahit di
mulut. Masalah ini bahkan dapat terjadi dalam posisi tegak. Bahaya aspirasi
meningkat jika regurgitasi terjadi ketika pasien berbaring.

10
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

Perawat menanyakan tentang nafsu makan pasien.

1. Apakah tetap sama, meningkat, atau menurun?


2. Adakah ketidaknyamanan saat menelan?
3. Bila ada, apakah terjadi hanya pada makanan tertentu?
4. Apakah berhubungan dengan nyeri ?
5. Apakah perubahan posisi mempengaruhi ketidaknyamanan ?

Pasien ditanyakan untuk menggambarkan pengalaman nyeri.

1. Adakah yang memperberat nyeri ?


2. Adakah gejala lain yang terjadi secara regular, seperti regurgitasi,
regurgitasi nocturnal, eruktasi, nyeri ulu hati, tekanan substernal, sensasi
makanan menyangkut di tenggorok, perasaan penuh setelah makan
makanan dalam jumlah sedikit, mual, muntah, atau penurunan berat
badan ?
3. Apakah gejala meningkat dengan emosi ?

Bila pasien melaporkan adanya keluhan ini, perawat menanyakan waktu


kejadiannya; hubungannya dengan makan; factor penghilang atau pemberat
seperti perubahan posisi, kembung,antasida, atau muntah.

Riwayat ini juga mencakup pertanyaan tentang adanya factor penyebab


masa lalu atau sekarang, seperti infeksi dan iritan kimia, mekanik, atau fisik;
derajat penggunaan alcohol dan tembakau; dan jumlah asupan makanan setiap
hari. Perawat menentukan apakah pasien tampak kurus atau auskultasi dada
pasien untuk menentukan adanya komplikasi pulmonal.

11
3.2 WOC
4.
Gaya Hidup Kegemukan Usia

Pola makan berlebih Penurunan fungsi organ

Motilitas lambung menurun

Gangguan fungsi LES

GERD

Makanan kembali ke
esofagus

Inflamasi

Luka di esofagus

MK. NYERI MK. ANSIETAS Sulit menelan

MK. KEKURANGAN
NUTRISI

12
3.3 Diagnosis Keperawatan

Berdasarkan data pengkajian, diagnose keperawatan dapat mencakup hal


berikut:

1. Nyeri, berhubungan dengan inflamasi esophagus.


2. Ketidakseimbangan nutrisi, berhubungan dengan kesulitan menelan.
3. Ansietas, berhubungan dengan ancaman aktual atau presepsi ancaman
terhadap integritas biologis, sekunder akibat penyakit.

3.4 Intervensi dan Rasional

Diagnosa Intervensi Rasional


Dx I : Berikan makan Makan sedikit demi
Nyeri, berhubungan sedikit dan sedikit akan
dengan inflamasi dianjurkan sering mengurangi beban
esofagus. lambung dan
Tujuan Umum : mencegah adanya
Pasien menyatakan refluks lambung
redanya/berkurangnya Hindari pasien dari Minuman yang panas
minuman panas dan dan dingin serta
rasa nyeri. dingin serta makanan makanan yang pedas
Tujuan Khusus : yang pedas dapat merangsang
Pasien tidak spasme esophagus
mengeluhkan adanya dan meningkatkan
rasa nyeri pada leher sekresi asam
bagian dalam. bidroklorida
Hindarkan pasien Aktivitas yang
Kriteria Hasil :
dari adanya aktivitas meregangkan area
Dalam jangka watktu yang meregangkan torakal dapat
1X24 jam klien adanya area torakal menimbulkan rasa
peningkatan nyeri pada pasien
kenyamanan terutama Bantu pasien untuk Dengan mengalihkan
di saat makan. lebih berfokus pada focus pasien
aktivitas, bukan pada terhadap rasa
nyeri dan rasa tidak nyerinya, pasien
nyaman dengan dapat melupakan
melakukan atau mengurangi
pengalihan melalui perasaan nyerinya.
televise, radio, dan
interaksi dengan
pengunjung
Kendalikan factor Suasana yang
lingkungan yang mendukung dapat
dapat memengaruhi membuat rileks
respon pasien pasien sehingga

13
terhadap dapat mengurangi
ketidaknyamanan rasa
(misalnya suhu, ketidaknyamanan
rungan,
pencahayaan, dan
kegaduhan)
Dx II : Yakinkan pasien dan Lingkungan yang
Ketidakseimbangan berikan lingkungan tenang memberikan
Nutrisi berhubungan yang tenang selama rasa nyaman pada
dengan kesulitan makan pasien saat makan
menelan. Ubah posisi pasien Posisi semi fowler
Tujuan Umum : semi fowler atau atau fowler tinggi
Pasien mampu fowler tinggi dapat memudahkan
memenuhi kebutuhan proses menelan
nutrisi tubuh. Anjurkan pasien Cara makan tersebut
Tujuan Khusus : untuk makan dengan membuat pasien
Pasien tidak perlahan dan tidak mudah tersedak
mengalami kesulitan mengunyah makanan sehingga makanan
menelan. secara seksama dapat lewat dengan
Kriteria Hasil : mudah ke lambung
Dalam jangka watktu Pemberian makan Untuk meningkatkan
1X24 jam pasien sedikit dan sering pencernaan dan
melaporkan dengan bahan mencegah iritasi
peningkatan makanan yang tidak jaringan
kemampuan menelan. bersifat iritatif
Siapkan makanan Untuk membantu
secara menarik merangsang nafsu
makan pasien
Biar pasien pada Menunggu selama 30
posisi semi fowler menit untuk
atau fowler selama mencegah terjadinya
30 menit setelah aspirasi
makan
Gunakan spuit jika Memudahkan
perlu menelan
Dx III : Berikan kenyamanan Keadaan nyaman dan
Ansietas, berhubungan dan ketentraman hati kenang memberikan
dengan ancaman actual dengan perlihatkan efek psikologis yang
rasa empati (misal: baik.
atau presepsi atau
kehadiran yang
ancaman terhadap menenangkan,
integritas biologis, menyentuh,
membiarkan klien

14
sekunder akibat menangis, berbicara)
penyakit. Singkirkan stimulasi Stimulasi yang
Tujuan Umum : yang berlebihan; berlebihan dapat
Individu akan batasi kontak dengan menyebabkan klien
orang lain yang juga atau pasien merasa
menyatakan merasa cemas. tidak nyaman dan
peningkatan membuatnya
kenyamanan psikologis semakin buruk.
dan fisiologis. Bantu klien Pengetahuan klien
Tujuan Khusus : mengenali ansietas dapat membantu
Klien dapat untuk memulai klien lebih nyaman
pembelajaran atau dalam
menggunakan
pemecahan masalah menyelesaikan
mekanisme koping sedikit keluhannya
yang efektif. sendiri.
Kriteria Hasil : Ajarkan penghenti Mengalihkan
Dalam jangka waktu 2 ansietas yang dapat perhatian dapat
X 24 pasien dapat diterapkan jika membantu klien agar
menurunkan tingkat situasi yang tidak terpaku pada
ansietasnya. menimbulkan stress rasa cemasnya.
tidak dapat dihindari
missal melihat ke
atas, pernapasan
terkendali,
memperlambat
pikiran.

15
BAB IV

KESIMPULAN

Esofagitis refluks kronik atau refluks gastroesofagus merupakan bentuk


esofagitis yang paling sering ditemukan secara klinis. Gangguan ini disebabkan
oleh sfingter esofagus bagian bawah yang bekerja dengan kurang baik dan refluks
asam lambung atau getah akali usus ke dalam esofagus yang berlangsung dalam
waktu lama. Penyebab lazim adalah gangguan motilitas esofagus dan hernia hiatus
diarek sliding. Penyebabkan refluks gastroesofageal antara lain adanya intubasi
nasogastrik, adanya agen yang menurunkan tekanan LES, hernia hiatus, dan setiap
kondisi atau posisi yang meningkatkan intra-abdomen tekanan. Manifestasi klinis
refluks bervariasi dalam tingkat keparahan, tergantung pada pasien. Rasa sakit
digambarkan sebagai sensasi terbakar substernal yang cenderung bergerak ke atas
dan ke bawah dada dengan cara seperti gelombang.

16
DAFTAR PUSTAKA

Price, Sylvia A. & Wilson,Lorraine M. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-


Proses Penyakit. EGC: Jakarta
Arif, Kumala. 2011. Gangguan Gastrointestinal : Aplikasi Asuhan Keperawatan
Medikal Bedah. Salemba Medika: Jakarta
Ignatavicius, Workman. 2010. Medical- Surgical Nursing Patient- Centered
Collaborative Care Sixth Edition. Mosby Elseiver: USA
Carpenito- Moyet, L.J.2009.Nursing Care Plans & Documentation : Nursing
Diagnoses and Collaborative Probems (9th). Philadelphia: Lippincott
Williams and Wilkins.

17