You are on page 1of 29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kehamilan air ketuban merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi

kehidupan janin dalam kandungan. Kekurangan atau pun kelebihan air ketuban sangat

mempengaruhi keadaan janin. Oleh karena itu penting mengetahui keadaan air ketuban

selama kehamilan demi keselamatan janin.

Namun dalam kehamilan kadang kala terjadi pecah ketuban sebelum waktunya atau

yang sering disebut dengan ketuban pecah dini. Ketuban pecah dini merupakan masalah

penting dalam obstetri berkaitan dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi

sampai sepsis yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal dan menyebabkan

infeksi ibu (sarwono 2008).

Ketuban pecah dini didefenisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya

melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya

melahirkan. Dalam keadaan normal 8-10% perempuan hamil aterm akan mengalami ketuban

pecah dini (Sarwono 2008).

B. Tujuan

1. Tujuan umum

Untuk mendeskripsikan asuhan kebidanan pada pasien KPD, mengetahui penyebab dan

tanda-tanda serta gejala KPD

2. Tujuan khusus

a. Mendefinisikan dan menjelaskan terjadinya ketuban pecah dini

b. Mengidentifikasi pemeriksaan yang diperlukan untuk diagnosis

c. Mendiskusikan penanganan tepat dan cepat pada ketuban pecah dini dan

komplikasinya.
3. Manfaat

Penulisan makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan

mahasiswa, sehingga dapat mengaplikasikannya dalam memberikan asuhan kebidanan pada

penderita ketuban pecah sebelum waktunya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teoritis kasus

1. Definisi ketuban pecah dini

Ketuban Pecah Dini adalah rupturnya membrane ketuban sebelum persalinan

berlangsung (Manuaba,2002). Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya

ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun

jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan 37
minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya

melahirkan.

Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan

setelah ditunggu satu jam belum memulainya tanda persalinan(ilmu kebidanan,penyakit

kandungan, dan KB 2010)

Ketuban merupakan hal yang penting dalam kehamilan karena ketuban memiliki fungsi

seperti:

a. Untuk proteksi janin.

b. Untuk mencegah perlengketan janin dengan amnion.

c. Agar janin dapat bergerak dengan bebas.

d. Regulasi terhadap panas dan perubahan suhu.

e. Mungkin untuk menambah suplai cairan janin, dengan cara ditelan atau diminum

yang kemudian dikeluarkan melalui kencing janin.

f. Meratakan tekanan intra – uterin dan membersihkan jalan lahir bila ketuban pecah.

Oleh sebab itu perlu untuk mengetahui asuhan apa yang harus diberikan.

2. Etiologi

Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau

meningkatnya tekanan intrauterin. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan oleh adanya

infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks. Selain itu ketuban pecah dini merupakan

masalah kontroversi obstetri. Penyebab lainnya adalah sebagai berikut :

a. Inkompetensi serviks (leher rahim)

Inkompetensia serviks adalah istilah untuk menyebut kelainan pada otot-otot leher

atau leher rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah, sehingga sedikit membuka ditengah-

tengah kehamilan karena tidak mampu menahan desakan janin yang semakin besar.
b. Peninggian tekanan intra uterin

Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan dapat

menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini. Misalnya : 1. Trauma : Hubungan seksual,

pemeriksaan dalam, amniosintesis

a. Gemelli

Kehamilan kembar adalah suatu kehamilan dua janin atau lebih. Pada kehamilan

gemelli terjadi distensi uterus yang berlebihan, sehingga menimbulkan adanya

ketegangan rahim secara berlebihan. Hal ini terjadi karena jumlahnya berlebih, isi

rahim yang lebih besar dan kantung (selaput ketuban ) relative kecil sedangkan

dibagian bawah tidak ada yang menahan sehingga mengakibatkan selaput ketuban

tipis dan mudah pecah. (Saifudin. 2002)

b. Makrosomia

Makrosomia adalah berat badan neonatus >4000 gram kehamilan dengan

makrosomia menimbulkan distensi uterus yang meningkat atau over distensi dan

menyebabkan tekanan pada intra uterin bertambah sehingga menekan selaput ketuban,

manyebabkan selaput ketuban menjadi teregang,tipis, dan kekuatan membrane

menjadi berkurang, menimbulkan selaput ketuban mudah pecah. (Winkjosastro, 2006)

c. Hidramnion

Hidramnion atau polihidramnion adalah jumlah cairan amnion >2000mL. Uterus dapat

mengandung cairan dalam jumlah yang sangat banyak. Hidramnion kronis adalah

peningaktan jumlah cairan amnion terjadi secara berangsur-angsur. Hidramnion akut, volume

tersebut meningkat tiba-tiba dan uterus akan mengalami distensi nyata dalam waktu beberapa

hari saja.

3. Kelainan letak janin dan rahim : letak sungsang, letak lintang.
4. Kemungkinan kesempitan panggul : bagian terendah belum masuk PAP (sepalopelvic

disproporsi).

5. Korioamnionitis

Adalah infeksi selaput ketuban. Biasanya disebabkan oleh penyebaran organisme

vagina ke atas. Dua factor predisposisi terpenting adalah pecahnyaselaput ketuban >

24 jam dan persalinan lama.

6. Penyakit Infeksi

Adalah penyakit yang disebabkan oleh sejumlah mikroorganisme yang meyebabkan

infeksi selaput ketuban. Infeksi yang terjadi menyebabkanterjadinya proses

biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga memudahkan

ketuban pecah.

7. Faktor keturunan (ion Cu serum rendah, vitamin C rendah, kelainan genetik

8. Riwayat KPD sebelumya

9. Kelainan atau kerusakan selaput ketuban

10. Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu

3. Tanda dan gejala

Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina. Aroma

air ketuban berbau amis dan tidak seperti bau amoniak, Cairan ini tidak akan berhenti atau

kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila Anda duduk atau berdiri, kepala

janin yang sudah terletak di bawah biasanya “mengganjal” atau “menyumbat” kebocoran

untuk sementara. Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin

bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.

4. Pengaruh KPD
1. TerhadapJanin

Walaupun ibu belum menunjukan gejala-gejala infeksi tetapi janin mungkin sudah

terkena infeksi, karena infeksi intrauterin lebih dahulu terjadi (amnionitis,vaskulitis)

sebelum gejala pada ibu dirasakan. Jadi akan meninggikan mortalitas dan morbiditas

perinatal.

2. TerhadapIbu

Karena jalan telah terbuka, maka dapat terjadi infeksi intrapartal, apalagi bila

terlalu sering diperiksa dalam. Selain itu juga dapat dijumpai infeksi puerpuralis atau

nifas, peritonitis dan septikemia, serta dry-labor. Ibu akan merasa lelah karena

terbaring di tempat tidur, partus akan menjadi lama, maka suhu badan naik, nadi cepat

dan nampaklah gejala-gejala infeksi lainnya.

5. Komplikasi KPD

Komplikasi yang timbul akibat Ketuban Pecah Dini bergantung pada usia kehamilan.

Dapat terjadi Infeksi Maternal ataupun neonatal, persalinan prematur, hipoksia karena

kompresi tali pusat, deformitas janin, meningkatnya insiden SC, atau gagalnya persalinan

normal.

1. Infeksi

Resiko infeksi ibu dan anak meningkat pada Ketuban Pecah Dini. Pada ibu

terjadi Korioamnionitis. Pada bayi dapat terjadi septikemia, pneumonia, omfalitis.

Umumnya terjadi korioamnionitis sebelum janin terinfeksi. Pada ketuban Pecah Dini

premature, infeksi lebih sering dari pada aterm. Secara umum insiden infeksi pada

KPD meningkat sebanding dengan lamanya periode laten.

2. Hipoksia dan asfiksia

Dengan pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat
hingga terjadi asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin

dan derajat oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban, janin semakin gawat

3. Syndrom deformitas janin

Ketuban Pecah Dini yang terjadi terlalu dini menyebabkan pertumbuhan janin

terhambat, kelainan disebabkan kompresi muka dan anggota badan janin, serta hipoplasi

pulmonal.

6. Penanganan

1. Konservatif

 Rawat di rumah sakit

Jika ada perdarahan pervaginam dengan nyeri perut, curigai adanya kemungkinan

solusioplasenta. Jika ada tanda-tanda infeksi (demam dan cairan vagina berbau),

berikanantibiotika sama halnya jika terjadi amnionitosis

Jika tidak ada infeksi dan kehamilan< 37 minggu:

 Berikan antibiotika untuk mengurangi morbiditas ibu dan janin

 Ampisilin 4x 500mg selama 7 hari ditambah eritromisin 250mg per oral 3x perhari selama 7

hari.

Jika usia kehamilan 32 - 37 mg, belum inpartu, tidak ada infeksi, beri dexametason,

dosisnya IM 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 x, observasi tanda-tanda infeksi dan kesejahteraan

janin. Jika usia kehamilan sudah 32 - 37 mg dan sudah inpartu, tidak ada infeksi maka

berikan tokolitik ,dexametason, dan induksi setelah 24 jam

2. Aktif

Kehamilan lebih dari 37 mg, induksi dengan oksitosin. Bila gagal Seksio Caesaria

dapat pula diberikan misoprostol 25 mikrogram – 50 mikrogram intravaginal tiap 6 jam max
4 x. Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi dan persalinan diakhiri.

Indikasi melakukan induksi pada ketuban pecah dini adalah sebagai berikut :

a. Pertimbangan waktu dan berat janin dalam rahim. Pertimbangan waktuapakah 6, 12,

atau 24 jam. Berat janin sebaiknya lebih dari 2000 gram.

b. Terdapat tanda infeksi intra uteri. Suhu meningkat lebih dari 38°c, dengan

pengukuran per rektal. Terdapat tanda infeksi melalui hasil pemeriksaanlaboratorium

dan pemeriksaan kultur air ketuban

Penatalaksanaan lanjutan :

a. Kaji suhu dan denyut nadi setiap 2 jam. Kenaikan suhu sering kali didahului kondisi

ibu yang menggigil.

b. Lakukan pemantauan DJJ. Pemeriksaan DJJ setiap jam sebelum persalinan adalah

tindakan yang adekuat sepanjang DJJ dalam batas normal. Pemantauan DJJ ketat

dengan alat pemantau janin elektronik secara kontinu dilakukan selama induksi

oksitosin untuk melihat tanda gawat janin akibat kompresi tali pusat atau induksi.

Takikardia dapat mengindikasikan infeksiuteri.

c. Hindari pemeriksaan dalam yang tidak perlu.

d. Ketika melakukan pemeriksaan dalam yang benar-benar diperlukan, perhatikan juga

hal-hal berikut:

a. Apakah dinding vagina teraba lebih hangat dari biasa

b. Bau rabas atau cairan di sarung tanagn anda

c. Warna rabas atau cairan di sarung tangan

e. Beri perhatian lebih seksama terhadap hidrasi agar dapat diperoleh gambaranjelas dari

setiap infeksi yang timbul. Seringkali terjadi peningkatan suhu tubuh akibat dehidrasi.
B. Teoritis Manajemen Asuhan Kebidanan Menurut Varney

Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode

untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah.

Proses manajemen terdiri dari 7 langkah yang berurutan dimana setiap langkah

disempurnakan secara periodik. Proses dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir

dengan evaluasi.

Tujuh langkah Manajemen Kebidanan menurut Varney adalah:

1. Langkah I (Pertama): Pengumpulan Data Dasar

Pada langkah pertama ini dilakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang

diperlukan untuk mengevaluasi keadaan klien secara lengkap:

a. Riwayat kesehatan

b. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhannya

c. Meninjau catatan terbaru atau catatan sebelumnya

d. Meninjau data laboratorium dan membandingkannya dengan hasil study

2. Langkah II ( kedua): Interpretasi Data Dasar

Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa atau masalah

dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah

dikumpulkan. Data dasar yang telah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga ditemukan

masalah atau diagnosa yang spesifik.

3. Langkah III (ketiga): Mengidentifikasi diagnosa atau masalah Potensial

Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan

rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan

antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien bidan

diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa/masalah potensial ini benar-benar terjadi.
4. Langkah IV (Empat): Mengidentifikasi Dan Menetapkan Kebutuhan Yang Memerlukan

Penanganan Segera

Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan dan atau untuk dikonsultasikan atau

ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien serta

dapat merujuk sesuai kondisi klien.

5. Langkah V (Kelima): Merencanakan Asuhan Menyeluruh

Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-

langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manjemen terhadap diagnosa atau

maslah yang telah diidentifikasi atau diantasipasi, pada langkah ini informasi/ data dasar yang

tidak lengkap dapat dilengkapi.

6. Langkah VI (Keenam) : Melaksanakan Perencanaan

Pada langkah ke enam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada

langkah ke 5 dilaksankan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya

oleh bidan atau sebagian dilakukan oleh bidan dan sebagian lagi oleh klien, atau anggota tim

kesehatan lainnya. Jika bidan tidak melakukannya sendiri, ia tetap memikul tanggung jawab

untuk mengarahkan.

7. Langkah VII ( ketujuh) : Evaluasi

Pada langkah ke VII ini dilakukan evaluasi efektif dari asuhan yang sudah diberikan

meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai

dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam masalah dan diagnosa. Rencana

tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya. Ada

kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut telah efektif sedang sebagian belum efektif.

C. Teori Tehnik Pendokumentasian Kebidanan
Teknik pendokumentasian ada dua yaitu bentuk narative dan flowsheet/ checklist.

Bentuk narative merupakan catatan yang dibentuk oleh sumber asal dari dokumentasi maka

sering disebut sebagai dokumentasi berorientasi pada sumber. Sumber atau asal dokumentasi

dapat dari petugas kesehatan yang bertanggung jawab untuk memberikan informasi. Cara

penulisan ini mengikuti dengan ketat urutan kejadian/kronologis. Sedangkan bentuk

flowsheet atau checklist adalah cara tercepat dan paling efisien untuk mencatat informasi.

Selain itu tenaga kesehatan akan dengan mudah mengetahui keadaan klien hanya dengan

melihat grafik yang terdapat pada flowsheet.
BAB III

STUDI KASUS

A. Jenis Laporan Kasus

Laporan kasus ini dilakukan dalam bentuk kegiatan studi kasus community of care

metode penulisan deskriptif yang merupakan suatu kegiatan yang dilakukan dengan tujuan

untuk memperoleh gambaran tentang asuhan kebidanan pada persalinan patologi.

B. Lokasi dan Waktu

Lokasi penelitian dilakukan di RSUD Meuraxa Banda Aceh. Waktu penelitian

dilakukan pada tanggal 8 November 2016.

C. Subjek Laporan Kasus

Dalam asuhan kebidanan pada persalinan patologi terhadap Ny.M dilakukan dengan

sistematis yaitu melakukan pengkajian data subjektif (hasil wawancara atau anamnesa). Pada

tanggal 8 November 2016 Pukul 20:00 Wib ibu datang ke RSUD Meraxa Banda Aceh Ruang

Bersalin, Ibu mengeluh nyeri didaerah simpisis yang menjalar kepinggang dan rasa ingin

mengendan. Ibu mengatakan sudah keluar lendir bercampur darah dan ketuban sudah pecah,

gerakan anak masih dirasakan.

D. Intrument Laporan Kasus

Istrumen dalam laporan ini dilakukan dengan menggunakan format pengkajian ibu

bersalin

E. Tekhnik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, pemeriksaan fisik palpasi,

auskultasi, perkusi dan pemeriksaaan laboratorium.
F. Alat dan Bahan

1. Persiapan perlindungan diri :

- celemek plastik

- sepatu boot

- masker

- Handuk bersih

- kacamata

- penutup kepala

- mencuci tangan 7 langkah

2. Persiapan Ibu dan Bayi

- 1 buah handuk

- 1/3 kain Alas bokong ibu

- Selimut untuk mengganti

- Topi Bayi

- Pakaian ibu

- Kain/sarung yang bersih dan kering (±5 buah)

- Pakaian bayi

- 2 buah washlap

3. Peralatan steril atau DTT parus set (Dalam wadah steril yang berpenutup) :

- 2 klem Kelly/ klem kocher

- Gunting tali pusat

- Benang tali pusat / klem plastik

- Kateter nelaton

- Gunting episiotomi

- Klem 1⁄2 kocher
- 2 pasang sarung tangan

- Kasa atau kain kecil 5 bh

- Gulungan kapas basah (1 kom kapas kapas DTT, 1 kom alat DTT)

- Tabung suntik 2,5 atau 3 ml

- Penghisap lendir De Lee

4. Heacting set (penjahitan episiotomi)

- Tabung suntik 10 ml beserta jarum suntik

- 1 Pinset anatomi dan 1 pinset sirurgi

- Pegangan jarum / nald pooder

- 2-3 jarum jahit tajam/ nald (kulit dan otot)

- Benang chromic ukuran 2.0 atau 3.0

- 1 pasang sarung tangan DTT atau steril

5. Peralatan tidak steril

- Termometer

- Stetoskop

- Tensimeter

- Pita pengukur / meteran

- Pinnards, fetoskop.stetoskop Laenec atau dopler

- Bengkok

- Piring plasenta

- Timbangan bayi

- Pengukur panjang bayi

- Gunting ferband

- Sarung tangan rumah tangga
- Wadah untuk larutan klorin 0,5 %

- Wadah untuk air DTT

- Tempat sampah (sampah tajam, kering dan basah)

6. Obat-Obat dan bahan habis pakai

- Oksitosin 1 ml 10 U

- Lidokain 1%

- Cairan infus R/L,Nacl, dan Dext 5%

- Peralatan untuk menginfus

- Kanula IV no 16-18G

- Methylergometrin

- MgSO4 40% (25 gr)

- Amoxicillin / ampisilin tab 500 gr atau IV 2 gr

- Vitamin K

- salep mata tetrasilklin 1 %

7. Peralatan resusitasi (persiapkan semua menjelang persalinan)

- Meja yang bersih, datar dan keras

- 1 buah kain di gelar di atas perut ibu

- 1 buah kain untuk mengalas meja dan untuk mengganti kain pembungkus bayi yang basah

- 1 buah kain untuk mengganjal bahu bayi

- Lampu sorot 60 watt

- Alat penghisap lendir (bola-bola karet/ de lee)

- Balon dengan sungkupnya

- Jam / pecatat waktu

8. Formulir yang disiapkan

- Formulir informed consent
- Formulir partograf

- Formulir persalinan / nifas dan KB

- Formulir rujukan

- Formulir surat kelahiran

- Formulir permintaan darah

- Formulir kematian

9. Bahan-bahan yang bisa disiapkan oleh keluarga

- Makanan dan minuman untuk ibu

- Beberapa sarung bersih (3-5)

- Beberapa kain bersih (3-5)

- Beberapa celana dalam bersih

- Pembalut wanita, handuk, sabun

- Pakaian ibu dan bayi

- Washlap 2 buah

BAB IV
TINJAUAN KASUS

A. Manajemen Asuhan Kebidanan

I. Pengumpulan Data

A. Identitas

Identitas

Nama Ibu : Ny. M Nama Suami : Tn. J

Umur : 32 Thn Umur : 43 Thn

Suku/Kebangsaan : Aceh Suku/Kebangsaan : Aceh

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta

Alamat Rumah : Tingkeum Alamat Rumah : Tingkeum

B. Anamnesa (Data Subjektif)

Pada tanggal : 16-11-2016 Pukul : 09:00Wib

1. Alasan kunjungan ini :

Pada tanggal 16 November 2016 Pukul 09:00 Wib ibu datang ke RSUD Meraxa Banda Aceh

Ruang bersalin, Ibu mengeluh nyeri didaerah simpisis yang menjalar kepinggang. Ibu

mengatakan sudah keluar lendir bercampur darah dan ketuban sudah pecah, gerakan anak

masih dirasakan.
2. Perasaan (sejak Terakhir Datang ke RSUD Meraxa Banda Aceh):

Ibu merasa cemas menanti kelahiran bayinya

3. Tanda-tanda Bersalin

Kontraksi : Ada sejak tanggal 8 November 2016 jam 14:00 Wib

Frekuensi : 4 x setiap 10 menit

Lamanya : 30 detik, kekuatan meningkat

Lokasi ketidaknyamanan : Dibagian simpisis dan pinggang

4. Pengeluaran Pervagina

Darah lendir : Ada Warna : Merah kecoklatan

5. Masalah-masalah khusus : tidak ada

6. Riwayat Kehamilan Sekarang

HPHT : 03 Februari 2016

Haid bulan sebelumnya : Desember

Siklus : 28 Hari

Lamanya : 7 hari

ANC : Teratur

Frekuensi : 4 x, di Puskesmas

7. Riwayat Imunisasi : Ada.

8. Riwayat kehamilan, Persalinan dan Nifas yang lalu :

No Tgl Thn Tmpt Usia Penolong Penyulit Jenis BB PB Keadaan

Persalinan Persalinan Kehamilan Kehamilan Persalinan

dan

persalinan
1 16-11- R.Sakit Bidan Tidak ada Normal 2300gr 45cm Baik

2002

2 16-11- R.Sakit Bidan Tidak ada sc 2500gr 47cm Baik

2016

9. Pergerakan janin dalam 24 jam terakhir : 20 X

10. Makan dan minum terakhir, pukul : 13:00 Wib

Jenis makanan : nasi, ikan dan telur

11. Buang air kecil terakhir : 13:30 Wib

12. Buang air besar teakhir : 13:30 Wib

13. Tidur :

- Malam : ± 8 jam/ hari

- Siang : ± 2 jam/ hari

14. Psikologi : Normal

15. Keluhan lain (bila ada) : tidak ada

C. Pemeriksaan Fisik (Obyektif)

1. Keadaan umum : Baik

Kesadaran : Compos mentis

Keadaan emosional : Stabil

2. Tanda Vital :

Tekanan Darah : 110/70 mmHg,

Polse : 85 x/m

Respirasi : 24x/m,

Suhu : 36 0C

3. Berat badan

Sebelum hamil : 55 Kg
Sekarang : 65 Kg

Tinggi Badan : 159 Cm

Lila : 25 Cm

4. Mata

Kelopak mata : Tidak ada kelainan

Konjungtiva : tidak anemis

Skelera : tidak ikterik

Reflek pupil : +/+

5. Mulut dan gigi

Gigi : Tidak caries

Gusi : tidak ada pembekakan

Kelainan : tidak ada

6. Dada

Jantung : Baik

Payudara : Pembesaran : tidak ada

Puting susu : Menonjol

Simestris : Ada

Benjolan : Tidak ada

Rasa Nyeri : Tidak ada

Lain-lain : Tidak ada

7. Punggung dan pinggang : Normal

Posisi tulang belakang : Lordosis

Pinggang : Normal

8. Ekstramitas atas dan bawah
Oedema : Tidak ada

Kekuatan otot dan sendi : normal

Kemerahan : tidak ada

Varises :Ada

9. Abdomen

Pembesaran : Ada

Benjolan : tidak ada

Bekas luka Operasi : Tidak ada

Konsitensi : keras

Pembesaran lien/liver : tidak ada

Kandung Kemih : Kosong

10. Pemeriksaan Kebidanan

a. Palpasi Uterus :

Tinggi Fundus Uteri : 35 Cm (3 jari dibawah px)

Kontraksi : 4x dalam 10 menit

Fetus : Letak : memanjang

Posisi : Punggung janin berada

disebelah kiri ibu

Presentasi : Kepala

Pergerakan : aktif

Penurunan : 0/5

Taksiran berat janin: (TFU-11) x 155

= (35-11) x 155

= 24 x155

= 3720 gram
b. Auskultasi

DJJ : 140 x/i

Frekuensi : teratur

c. Ano-genital Sinspeksi :

Perenium Luka Perut : tidak ada

Vulva Vagina

Warna : merah kebiruan

Fistula : tidak ada

Pengeluaran Pervaginam : Lendir bercampur darah

Warna : Merah kecoklatan

Jumlah : 5 cc

Kelenjar Bertolini : Pembekakan : tidak ada

Konsistensi : Lunak

Hoemorid : tidak ada

d. Pemeriksaan Dalam

Atas Indikasi : inpartu pukul 09:00 wib oleh bidan

Dinding Vagina : normal

Portio : Tebal Pemukaan Servik : tidak ada

Posisi Portio : Normal Konsistensi : Lunak

Ketuban : Pecah Presentasi Fetus : kepala

Penurunan bagian terbawah : 3/5

Posisi : Punggung janin berada disebelah kiri ibu

D. Uji Diagnostik

Pemeriksaan laboratorium (jika ada indikasi albumin)
Keton : tidak dilakukan

Hemoglobin : 11 gr %

Halmotokrit : tidak dilakukan

II. Interprestasi Data

Diagnosa :

G3 P2 A0 dengan inpartu kala I fase aktif, janin tunggal hidup intra uteri, letak punggung

janin disebelah perut kiri ibu, presentasi kepala

Data Dasar

- Ibu mengatakan ini kehamilan yang pertama,

- HPHT 03-02-2016

Data Objektif

- pembukaan 2 cm

- ketuban pecah.

Janin hidup,tunggal, intrauterine, presentasi kepala terdengar jelas DJJ 134 x/menit,

dan teraba 3 bagian besar janin

III. Antisipasi Diagnosa dan Masalah Potensial

Infeksi Gawat pada janin

IV. Tindakan Segara atau Kolaborasi

Kolaborasi dengan dokter spOg

V. Rencana Manajemen

- Informasikan hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga

- Anjurkan ibu untuk tirah baring dengan posisi kaki lebih tinggi dari pada kepala.

- Berikan terapi obat ampisilin/amoxilin atas anjuran dokter

- Beritahu Ibu akan dilakukan induksi

- Lakukan induksi oksitosin 1 ampul atas anjuran dokter
- Laporkan setiap perkembangan kepada dokter

- Persiapan alat

- Observasi DJJ,HIS, nadi setiap 30 menit, dan TD,suhu, periksa dalam 4 jam kemudian.

VI. Tindakan Pelaksanaan
 Menginformasikan hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga bahwa

kehamilan ibu berumur 36 minggu, ketuban sudah tidak ada

 Menganjurkan ibu untuk tirah baring dengan posisi kaki lebih tinggi dari kepala

 Memberikan ibu terapi obat amoxilin atas anjuran dokter

 Memberitahukan Ibu akan dilakukan induksi

 Melakukan induksi oksitosin 1 ampul setiap 1 jam dinaikkan 4 tetes

 Melaporkan setiap perkembangan kepada dokter

 Mempersiapkan alat

 Mengobservasi DJJ,HIS, nadi setiap 30 menit, dan TD,suhu, periksa dalam 4 jam kemudian

VII. Evaluasi

 Ibu dan keluarga mengetahui hasil pemeriksaan

 Ibu bersedia untuk tidur dengan kaki lebih tinggi dari kepala

 Ibu bersedia untuk meminun obat sesuai anjuran dokter

 Induksi sudah dilakukan

 Dokter mengetahui setiap pekembangan ibu dan janin.

 Alat sudah disiapkan.

 Hasil observasi DJJ 140 x/menit, HIS 3 kali dalam 10 menit lamanya 45 menit, nadi 80

x/menit, TD 120/80 mmHg, suhu 36,5 ºC,
B. Pendokumentasian Asuhan dalan Bentuk SOAP

Hari/Tgl Pukul SOAP

Rabu , 08:00 S: Ibu mengatakan sakit dibagian atas simpisis

16/11/2016 Wib yang menjalar ke pinggang

Ibu mengatakan air ketuban sudah pecah sejak

pukul 23.30 WIB

O Vital Sign

: - TD : 110/70 mmHg

- Pols : 90 x/i

- RR : 24 x/i

- Temp : 36 0C

- Palpasi Uterus : ada

- TFU : 33 Cm ( 3 jari dibawah

Poxxus Xipoideus)
- Kontraksi : 4 x setiap 10 menit lamanya

30 dtik

- Fetus : Letak : memanjang

Presentasi : Kepala

Posisi : Punggung

Janin berada disebelah kiri

ibu

Penurunan : 0/5

Pergerakan : Aktif

A Ny. M umur 32 tahun G3 P2 A0 usia kehamilan

: 36 minggu, inpartu kala I Fase aktif. Janin

tunggal/ Puki, presentasi kepala, hidup intra

uteri

P : - Memberi penjelasan pada ibu dan keluarga

tentang proses persalinan yaitu keluar lendi

bercampur darah

- Memberi kenyamanan kepada ibu dengan cara

mengelus-elus pinggang ibu

- Menganjurkan ibu untuk miring kiri

- Menyiapkan alat (partus set dan obat)

- Melakukan pendokumentasian tindakan
BAB V

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil pengamatan saya pada Ny. M umur 32 tahun G3 P2 A0 mengenai

penerapan Asuhan Persalinan Normal diRSUD Meraxa Banda Aceh, Sudah memenuhi

prosedur dan peralatan untuk SC dengan indikasi KPD sudah lengkap, seperti Masker,

Handscon, kacamata, celemek dan sepatu boot, baju ok, topi pelindung.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pemeriksaan dalam dengan jari meningkatkan resiko infeksi dan tidak perlu

dilakukan pada wanita dengan pecah ketuban dini, karena ia akan diurus sesuai kebutuhan

persalinan sampai persalinan terjadi atau timbul tanda dangejala korioamninitis. Jika timbul

tanda dan gejala korioamnionitis,diindikasikan untuk segera berkonsultasi dengan dokter

yang menanganiwanita guna menginduksi persalinan dan kelahiran. Pilihan metode

persalinan(melalui vagina atau SC) bergantung pada usia gestasi, presentasi dan

beratkorioamnionitis

A. Saran

1. Bagi RSUD Meraxa Banda Aceh

Dengan adanya presentasi kasus ini dapat meningkatkan pelayanan kebidanan tentang

asuhan persalinan normal serta meningkatkan kesejahteraan ibu dan bayinya.

2. Bagi Pendidikan

Bagi Akademi Kebidanan Pemkab Aceh Utara diharapkan dapat menambah

pengetahuan mahasiswa akademi kebidanan untuk melakukan pelayanan asuhan persalinan

normal.

3. Bagi klien/Masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan ibu dan bayi setelah

dilakukan asuhan kebidanan persalinan normal.

DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo,Sarwono. Ilmu Kebidanan.Jakarta.Bina Pustaka.2008

Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. 2003. Jakarta: YBP-SP.

Gede, Ida Bagus. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB. Manuaba DSOD. EGD