You are on page 1of 32

1

PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

“UJI DAYAHAMBAT EKSTRAK BAKAU MINYAK


(Rhizophora apiculata) TERHADAP PERTUMBUHAN
BAKTERI PATOGEN (Escherichia coli, Pseudomonas
aeruginosa, DAN Vibrio alginolyticus)”

BIDANG KEGIATAN:
PKM PENELITIAN

Diusulkan Oleh:
Adrian Marchel 1504120004 2015
Muhammad Isnan Alindra 1504114675 2015
Nian Sari 1604123932 2016

UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2018
2
3

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL PROPOSAL PKM..........................................................i


PENGESAHAN PROPOSAL PKM.....................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................iii
DAFTAR TABEL.................................................................................................iv
DAFTARGAMBAR.............................................................................................v

BAB 1.
PENDAHULUAN...................................................................................................1
1.1 Latar belakang ............................................................................................... 1
1.2 Rumusan Permasalahan ................................................................................ 2
1.3Luaran Penelitian ............................................................................................ 2
1.4Manfaat Penelitian .......................................................................................... 3

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 4


2.1 Klasifikasi dan Morfologi Bakau Minyak...................................................4
2.2 Habitat dan Penyebaran. ............................................................................... 5
2.3 Kandungan Kimia Bakau Minyak ................................................................ 5
2.4 Kegunaan (Khasiat) Bakau Minyak.............................................................6
2.5 Daya Hambat Antibakteri.............................................................................6
2.6 Potensi Senyawa Antibakteri........................................................................8
2.7 Bakteri Patogen.............................................................................................9
2.7 Ekstraksi.......................................................................................................11

BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN ........................................................ 12


3.1Tahapan Penelitian.................………………………….………………… 12
3.2 Teknik Pengumpulan....................................................................................12
3.3Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data…………...…………..….....…12

BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN ................................................ 13


4.1 Anggaran Biaya ........................................................................................... 13
4.2 Jadwal Kegiatan............................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 14

LAMPIRAN-LAMPIRAN..................................................................................18
Lampiran 1. Biodata Ketua, Anggota, dan Dosen Pembimbing........................18
Lampiran 2. Justifikasi Anggaran Dana ............................................................ 23
Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Kegiatan dan Pembagian Tugas............25
Lampiran 4. Surat Pernyataan Ketua Pelaksana ................................................ 27
4

DAFTAR TABEL

Tabel 1.Ketentuan Potensi Antibakteri........................................................ 8


Tabel 2. Biaya............................................................................................... 13
Tabel 3. Jadwal Penelitian............................................................................ 13
5

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.Morfologi batang, buah dan daun Bakau minyak


(Rhizophora apiculata..................................................................4
1

BAB 1.PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Bakau minyak (R. apiculata) merupakan salah satu pohon yang hidup di
hutan mangrove. Tanaman ini termasuk dalam famili Rhizophoraceae, Genus
Rhizophora dan spesies R. apiculata. Bakau minyak (R. apiculata) juga
merupakan salah satu jenis bakau yang memiliki nilai komersial dan telah banyak
dipergunakan masyarakat terutama sebagai bahan bangunan dan bahan bakar. Hal
ini menyebabkan bakau minyak mempunyai nilai ekologis dan ekonomis yang
tinggi di kalangan masyarakat. Semakin meningkatnya kebutuhan akan bakau
minyak, berdampak pula pada eksploitasi besar-besaran sehingga menyebabkan
terjadinya degradasi habitat dan menyebabkan kepunahan pada beberapa spesies
yang memiliki nilai ekonomis dan nilai hayati yang tinggi.
Bakau minyak atau sering disebut juga bakau tandok, bakau akik, atau
bakau kacang (R. apiculata) merupakan jenis bakau yang dimanfaatkan untuk
bahan obat-obatan tradisional. Baru-baru ini, meningkat laporan pada bidang
pharmakologis mengenai Rhizophora dan kemampuannya sebagai antioksidan,
anti diare, obat mual, dan muntah yang mengindikasikan bahwa bakau minyak
memiliki potensi yang besar untuk penelitian dan pemanfaatan lebih lanjut (Sari,
2017).
Beberapa jenis dari genus Rhizophora, seperti bakau merah (Rhizophora
mucronata) dan bakau minyak (R. apiculata), telah digunakan di Papua selama
puluhan tahun sebagai obat tradisional yang sangat penting dan berharga. Menurut
teori pengobatan tradisional Papua, fungsi utama bakau minyak pada bagian kulit
adalah untuk obat sakit gigi dan malaria, serta pada bagian buah, bungan , akar,
daun dan batang digunakan sebagai obat penyakit beri –beri, hepatitis haematoma,
dan borok (Kusmana et al., 2003).
Kelurahan Purnama merupakan salah satu desa di kecamatan Dumai Barat
yang merupakan wilayah administratif di Kota Dumai, Provinsi Riau. Kelurahan
ini memiliki ekosistem mangrove yang luas dan cukup banyak terangkat informasi
mengenai mangrove di daerah ini. Perairan yang keruh dan distribusi lumpur
menjadi habitat yang baik bagi bakau minyak.
Penelitian yang telah dilakukan oleh Gunawan (2012) ditemukan bahwa
ekstrak metanol bakau minyak dapat dikembangkan menjadi senyawa
antibakterial serta memiliki selektivitas yang baik. Penelitian mengenai uji
aktivitas antibakteri yang diekstrak dari daun, buah dan batang bakau minyak
terhadap bakteri Patogen yaitu; V. parahaemolyticus, V. alginolyticus, dan V.
anguillarum. juga pernah dilakukan oleh Feliatra (2000). Ekstrak daun, buah dan
batang bakau minyak untuk memproduksi senyawa antibakteri yang melawan
bakteri patogen memiliki mekanisme persaingan yang memberikan kemungkinan
mikroorganisme antagonisme digunakan sebagai agen kontrol biologis.
Escherichia coli adalah salah satu jenis spesies utama bakteri Gram
negatif, berbentuk batang pendek (kokobasik) ditemukan oleh Theodor Escherich.
E.coli dapat bertahan hingga suhu 60°C selama 15 menit atau pada 55°C selama
60 menit. Hidup pada tinja dan menyebabkan masalah kesehatan pada manusia,
seperti diare, muntaber serta masalah pencernaan lainnya, oleh sebab itu perlu
adanya antibakterial alami disamping adanya antibiotik yang diproduksi secara
kimia.
2

Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri Gram negatif aerob obligat,


berkapsul, mempunyai flagella polar sehingga bakteri ini bersifat motil, berukuran
sekitar 0,5-1,0 µm. Bakteri aerob ini mensekresikan beberapa jenis pigmen, di
antaranya pyocyanin (hijau-biru), fluorescein (kuning-hijau) dan pyorubin
(merah-cokelat). Bakteri ini dapat tumbuh tanpa oksigen jika tersedia NO3
sebagai akseptor elektron, ketakutan terhadap P. aeruginosa pada tambak baik di
perairan payau maupun di laut, maka peran antibakterial alami sangat dibutuhkan
dalam penambahan komposisi pada pakan hewan tambak.
Bakteri Vibrio merupakan bakteri patogen yang paling berbahaya bagi
ikan laut. Bakteri tersebut bertanggung jawab dalam menyebarkan penyakit
vibriosis dan menyebabkan angka kematian yang tinggi (Balcazar et al., 2010).
Bakteri patogen utama yang sering menyerang udang maupun ikan terutama ikan
kerapu adalah bakteri Vibrio alginolyticus, oleh sebab itu perlu adanya
penambahan antibiotik alami dari tumbuhan maupun hewan disamping antiobiotik
sintesi buatan manusia.
Riset yang mengkaji tentang antibakteri bakau minyak masih sangat
sedikit dilakukan. Penelitian maupun kajian yang dilakukan oleh peneliti kimia
dan farmasi memperlihatkan perhatian pada mangrove karena keberadaan
senyawa bioaktif yang terkandung dari jenis biota tersebut. Dari sekitar bebrapa
senyawa bioaktif yang berhasil diekstrak dari berbagai mangrove, sebagian
berasal dari jenis genus Rhizophora, Avicennia, Bruguiera, Xylocarpus dan
sebagian kecil dari Genus Ceriops, Lumnitzera dan Nypa. Dengan demikian, pada
penelitian ini ingin mengetahui pengaruh ekstrak bakau minyak (R. apiculata)
yang telah banyak digunakan sebagai bahan baku obat-obatan pada manusia
terhadap pertumbuhan bakteri Patogen (V. alginolyticus, E. coli dan P.
aeruginosa) yang merupakan bakteri patogen pada ikan maupun manusia.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang sering dihadapi pada pembuatan pempek adalah
sifatBakau minyak merupakan salah satu jenis mangrove yang banyak terdapat di
perairan Indonesia. Potensi bakau minyak yang bernilai medis banyak
dimanfaatkan di luar negeri, namun di Indonesia masih minim akan hal tersebut
walaupun Indonesia merupakan salah satu negara yang memenuhi kebutuhan
bangsa lain akan bakau minyak.
Selama ini, pencegahan terhadap serangan bakteri pada umumnya
dilakukan dengan pemberian antibiotik dan bahan kimia. Akan tetapi, penggunaan
antibiotik ternyata dapat menimbulkan efek samping bagi patogen itu sendiri
maupun terhadap objek yang memakainya. Pemberian antibiotik secara terus
menerus dapat menyebabkan organisme patogen menjadi resisten, sehingga
penggunaan antimikroba menjadi tidak efektif. Informasi mengenai manfaat lain
dari bakau Minyak sulit didapatkan. Sejauh manakah ekstrak bakau minyak
memiliki potensi antibakteri terhadap bakteri patogen (E. coli, P. aeruginosa, dan
V. alginolyticus) belum diketahui.
1.3 Luaran Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji daya hambat ekstrak bakau
Minyak terhadap pertumbuhan bakteri (E. coli, P. aeruginosa, dan V.
3

alginolyticus) pada konsentrasi 100%, 50%, 25% dan 12,5%. Hasil penelitian ini
diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai bakau minyak dan
memberikan informasi mengenai potensinya sebagai sumber senyawa antibakteri
sehingga dapat digunakan dalam bidang bioteknologi kelautan.
1.4 Manfaat Penelitian
Sedangkan manfaat penelitian ini adalah memberikan informasi mengenai
antibakteri dari spesies mangrove bakau minyak untuk pencegahan bakteri
patogen yang merugikan manusia atau organisme lainnya dalam bidang
Bioteknologi Kelautan.
4

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi dan Morfologi Bakau Minyak


Bakau minyak dengan nama latin Rhizophora apiculata Bl. atau R.
conjugata L. Dengan nama lokal : bakau minyak,bakau tandok, bakau akik, atau
bakau kacang. Menurut Midori (2013) dalam taksonomi, tumbuhan ini
diklasifikasikan sebagai berikut :
Superregnum : Eukaryota
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Rhizophorales
Famili : Rhizophoraceae
Genus : Rhizophora
Spesies : Rhizophora apiculata Bl.
Morfologi bakau minyak yaitu memiliki tangkai daun dan sisi bawah daun
berwarna kemerahan. Bunga biasanya berkelopak dua-dua, dengan daun mahkota
gundul dan kekuningan. Buah kecil, coklat, panjangnya 2 – 3,5 cm. Hipokotil
kemerahan atau jingga, dan merah pada leher kotiledon bila sudah matang.
Panjang hipokotil sekitar 18 – 38 cm. R. apiculata memiliki ciri khas ketinggian
pohon dapat mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai 50 cm, memiliki
perakaran yang khas hingga dapat mencapai 5 m, dan kadang-kadang memiliki
akar udara yang keluar dari cabang. kulit kayu berwarna abu-abu tua dan berubah-
ubah. Menyukai tanah berlumpur halus dan dalam, yang tergenang jika pasang
serta terkena pengaruh air tawar yang tetap dan kuat. (Kadarsyah, 2012).
Bakau minyak mempunyai ciri-ciri pada (Gambar 1) sebagai berikut :akar
tunjang yang menyolok dan bercabang-cabang. Batang berkayu dan berbentuk
silindris. Daun tanaman bakau minyak berbentuk lonjong, pertulanagan daun
berada ditengah, berwarna hijau. Buah bakau minyak kecil berbentuk memanjang
dengan bagian ujung tangkai buah membulat berwarna coklat dengan
ukuran panjangnya 2 – 3,5 cm kemudian memajang ke ujung buah ukurannya 18
– 38 cm, dan berwarna hijau (Noor et al., 2012).

(a) (b) (c)


Gambar 1. Morfologi : (a) Batang, (b)Buah, dan (c) Daun Bakau Minyak
5

2.2. Habitat dan Penyebaran


Bakau minyak hanya dapat dijumpai di beberapa pesisir dunia, mulai dari
kawasan beriklim tropis hingga beriklim sedang. Habitat bakau minyak terutama
di sepanjang pesisir pantai berlumpur, muara pantai dan pesisir yang tingkat
kekeruhannya tinggi. Wilayah persebarannya Sri Lanka, seluruh Malaysia dan
Indonesia hingga Australia Tropis dan Kepulauan Pasifik (Tumengkol, 2013).
Di Indonesia, bakau minyak banyak tersebar di perairan pantai timur
Sumatera, utara pulau Jawa, Bali dan Barat Kalimantan, Sulawesi dan Papua.
Populasi bakau minyak terbesar terdapat diperairan Indo-Pasifik. Di bagian timur
Indonesia, di tepi Dangkalan Sahul, bakau minyak yang masih baik terdapat di
pantai barat daya Papua, terutama di sekitar Teluk Bintuni (Saripedia, 2011).
2.3. Kandungan Kimia Bakau Minyak
Menurut Purnobasuki (2004) beberapa senyawa metabolit baru-baru ini
dengan struktur kimia dan tergolong salah satu diversitas dari ‘kelas-kelas kimia’
telah dikarakterisasi dari tumbuhan mangrove khususnya R. apiculata , di antara
yang terbaru ditemukan adalah gugus substansi dari getah dan perekat sampai
senyawa alkaloid dan saponin dan beberapa senyawa lainnya yang terkait dengan
industri obat-obatan, seperti halnya: derivat benzoquinone, naphthoquinone,
naphthofurans, flavonoid, polyfenol, rotenone, flavoglican, sesquiterpene, di- dan
triterpene, limonoid, minyakesensial, sterols, karbohidrat, o -metil-inositol, gula,
iridoid glikosida, alkaloid dan asam amino bebas, feromon, gibberellin, forbol
ester, keterosiklik oksigen, senyawa sulfur, lemak dan hidrokarbon, alcohol
alipatik rantai panjang dan lemak jenuh, asam lemak bebas termasuk PUFAs
(asam lemak tak jenuh ganda).
Menurut Dewi dan Usman (2016) R. apiculata kaya akan senyawa steroid,
saponin, flavonoid dan tannin. Senyawa saponin dari tumbuhan adalah glikosida
dari triterpene dan steroid yang larut dalam air dan mempunyai kemampuan
membentuk buih sabun bila dikocok di air. Penggunaan saponin sebagai deterjen
alam dan racun ikan telah dikenal oleh masyarakat tradisional. Sedangkan
menurut Dwinovantyo (2014) bahwa sifat farmatikal yang berhubungan dengan
obat Cina ‘ginseng’ merupakan atribut dari senyawa saponin. Saponin tumbuhan
seperti halnya dioscin, bernilai komersial setelah ditemukan sebagai bahan untuk
hormon steroid sintetis.
Manfaat lain dari saponin adalah sebagai spermisida (obat kontrasepsi
laki-laki); antimikrobia, anti peradangan, dan aktivitas sitotoksik (Mahato et al.,
1988). Ekstrak metanol bakau minyak memiliki suatu senyawa diterpen baru
15(S)-isopimar-7-en-1-oxo-15,16-diol ditemukan pada ekstrak tumbuhan
R.apiculata (Gau et al., 2011). Peneliti lain mengemukakan ekstrak kasar R.
apiculata menunjukan zona inhibisi sebesar 15-21 mm lebih besardibandingkan
ekstrak R. mucronata menunjukkan zona inhibisi 10-19 mm pada sebuah test
mikroorganisme sebesar 0,5 mg/ml dengan menggunakan mikroorganisme
S.aureus dan E.coli (Pimpliskar et al., 2011).
6

Senyawa utama yang terkandung dalam bakau minyak adalah saponin dan
tanin yang paling toksik terhadap larva nyamuk Culex quinquefasciatus dengan
nilai LC50 sebesar 25,7 mg/L (Usman, 2017). Ekstrak kasar metanol dari kulit
kayu R. apiculata memiliki senyawa aktif sebagai inhibitor tirosinase dan
antioksidan yang diketahui merupakan senyawa isoflavon (Abdullah, 2011).
2.4. Kegunaan (Khasiat) Bakau Minyak
Bakau minyak banyak digunakan oleh masyarakat untuk Beri-beri,
febrifuge, haematoma (kulit batang); hepatitis (kulit batang, bunga, daun, akar;
borok (kulit batang) (Gunawan, 2012). Peneliti lain mengemukakan ekstrak
kloroform kulit batang tumbuhan R. apiculata memiliki aktivitas biolarvasida
terhadap larva Aedesaegypti. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diperoleh nilai
LC50 ekstrak untukwaktu 24; 48; dan 72 jam yaitu sebesar 906,345 mg/L;
441,022 mg/L; dan 338,364 mg/L (Ariyanti, 2012). Ekstrak kasar metanol dari
tanaman bakau, khususnya dari spesies Rhizopora sp. memiliki aktivitas anti
bakteri patogen, Escherichia coli, P. aeruginosa, K.pneumonia, Enterobacter sp
dan Streptococcus aureus dengan menggunakanmetode disk diffusion (Ravikumar
et al., 2010).
Potensi mangrove khususnya R. apiculata sebagai tanaman obat sebagian
besar bagian dari tumbuhan mangrove bermanfaat sebagai bahan obat . Ekstrak
dan bahan mentah dari mangrove telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat
pesisir untuk keperluan obat-obatan alamiah. Campuran senyawa kimia bahan
alam oleh para ahli kimia dikenal sebagai pharmacopoeia. R. apiculata dan
mangrove lainnya digunakan pula sebagai bahan tradisional insektisida dan
pestisida (Purnobasuki, 2004). R. apiculata kaya akan senyawa steroid, saponin,
flavonoid dan tannin. Penggunaan saponin sebagai deterjen alam dan racun ikan
telah dikenal oleh masyarakat tradisional (Purwaningsih, et al. 2013).
2.5. Daya Hambat Antibakteri
Antibakteri merupakan zat yang dapat membasmi bakteri, khususnya yang
bersifat patogen pada manusia. Berdasarkan sifat toksisitas selaktif, senyawa
natibakteri terbagi atas bakteriostatik dan bakterisida. Bakteriostatik yaitu zat
yang memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri. Bakterisida yaitu
zat yang memiliki kemampuan untuk membunuh bakteri (Ganiswarna, 2003).
Golongan bakteriostatik bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein
pada ribosom bakteri melalui proses difusi pasif melalui kanal hidrofilik dan
sistem transport aktif. Setelah antibakteri masuk ke dalam ribosom, maka akan
berikatan dengan ribosom dan menghalangi masuknya kompleks tRNA-asam
amino pada lokasi asam amino, sehingga bakteri tidak dapat berkembang biak
(Kimball dalam Roihanah et al., 2011).
Menurut Brooks et al (2004), aktivitas antibakteri diukur untuk
menentukan efek zat antibakteri dalam larutan, konsentrasinya dalam cairan tubuh
dan jaringan serta kepekaan mikroorganisme terhadap obat pada konsentrasi
tertentu. Penentuan kepekaan bakteri patogen terhadap antibakteri dapat dilakukan
7

dengan salah satu dari dua metode pokok yaitu dilusi atau difusi (Jawetz et al.,
2001).
a. Metode Dilusi
Metode ini menggunakan antimikroba dengan kadar yang menurun secara
bertahap, baik dengan media cair atau padat. Kemudian media diinokulasi bakteri
uji dan dieramkan. Tahap akhir dilarutkan antimikroba dengan kadar yang
menghambat atau mematikan. Uji kepekaan cara dilusi agar memakan waktu dan
penggunaannya dibatasi pada keadaan tertentu saja.
b. Metode Difusi
Metode yang paling sering digunakan adalah metode difusi agar. Cakram
kertas saring berisi sejumlah tertentu obat ditempatkan pada permukaan medium
padat yang sebelumnya telah diinokulasi bakteri uji pada permukaannya. Setelah
inkubasi, diameter zona hambatan sekitar cakram dipergunakan mengukur
kekuatan hambatan obat terhadap organisme uji. Metode ini dipengaruhi oleh
beberapa faktor fisik dan kimia, selain faktor antara obat dan organisme (misalnya
sifat medium dan kemampuan difusi, ukuran molekular dan stabilitas obat).
Standarisasi faktor-faktor tersebut memungkinkan melakukan uji kepekaan
dengan baik.Penggunaan cakram tunggal untuk tiap bakteri memungkinkan
penilaian kepekaan atau resistensi organisme dengan membandingkan ukuran
daerah hambatan terhadap suatu obat antimikroba (metode Kirby-Bauer) (Amin,
2015).
Metode cakram Kirby Bauer adalah cara yang paling mudah untuk
menetapkan antibiotik dengan cara menginokulasikan plat agar dengan biakan dan
membiarkan antibiotik berdifusi ke media agar. Cakram yang telah mengandung
antibiotik diletakkan ke permukaan plat agar yang mengandung organisme yang
diuji. Konsentrasi dengan luas difusi (Harmita, 2004).
Metode cakram kerta memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya
adalah mudah dilakukan, tidak memerlukan peralatan khusus dan relatif murah.
Sedangkan kelemahannya adalah ukuran zona bening yang terbentuk tergantung
oleh kondisi inkubasi, inokulum, predifusi dan preinkubasi serta ketebalan
medium. Apabila keempat faktor tersebut tidak sesuai maka hasil dari metode
cakram kertas relatif sulit untuk diinterpretasikan. Selain itu, metode cakram
kertas ini tidak dapat diaplikasikan pada mikroorganisme yang pertumbuhannya
lambat dan mikroorganisme yang bersifat anaerob obligat (Murray et al., 2007).
Pemakaian antibakteri yang berlebihan menyebabkan bakteri yang semula
sensitif terhadap antibiotik menjadi resisten. Oleh karena itu, senyawa antibakteri
baru diperlukan untuk mengatasi bakteri resisten tersebut. Di samping itu juga
pengembangan antiseptik dan desinfektan yang lebih aman bagi kulit dan jaringan
tubuh manusia. Umumnya antibiotik yang ada sekarang adalah metabolit sekunder
yang dihasilkan oleh mikroorganisme, sedangkan antibiotik dari tumbuhan tingkat
tinggi masih dalam pencarian (Ardiansyah, 2007).
8

Menurut Lenny (2006) uji aktivitas antibakteri dari ekstrak dapat


dilakukan dengan tiga metode yaitu:
1. Metode difusi agar,
2. Metode pengenceran; dan
3. Metode bioautografi.
2.6. Potensi Senyawa Antibakteri
Senyawa antibakteri adalah senyawa yang dapat mengganggu
pertumbuhan atau metabolisme bakteri (Pelczar dan Chan dalam Santoso, 1999).
Berdasarkan aktivitasnya senyawa antibakteri dibedakan menjadi dua jenis, yang
pertama memiliki aktivitas bakteriostatik (menghambat pertumbuhan bakteri) dan
yang kedua memiliki aktivitas bakterisida (membunuh bakteri).
Parameter yang diukur adalah aktivitas antibakteri dengan cara mengukur
zona hambat yang terbentuk. Data yang diperoleh dianalisa secara deskriptif
dengan cara membandingkan rata-rata zona hambat yang terbentuk dengan
kriteria kekuatan antibakteri pada Tabel 1 (Rita, 2010).
Tabel 1. Ketentuan Potensi Antibakteri
Daerah Hambatan Ketentuan
>20 mm Sangat kuat
10-20 mm Kuat
5-10 mm Sedang
<5 mm Lemah
Menurut Santoso dalam Todar (2005) ruang lingkup bakteri yang
dipengaruhi oleh zat antibakteri disebut dengan spektrum aksi antibakteri,
berdasarkan spektrum aksinya, senyawa antibakteri dibagi menjadi tiga, yaitu :
a. Spektrum luas :
Senyawa antibakteri dikatakan berspektrum luas apabila senyawa tersebut
efektif melawan prokariotik baik membunuh atau menghambat bakteri Gram
positif dan Gram negatif dalam ruang lingkup yang luas.
b. Spektrum sempit :
Senyawa antibakteri yang efektif melawan sebagian bakteri Gram positif atau
Gram negatif dengan zona hambat yang terbentuk terlihat kecil.
c. Spektrum terbatas :
Senyawa antibakteri yang efektif melawan suatu spesies bakteri tertentu.
Menurut Branen dalam Santoso (1999), cara kerja senyawa antibakteri
dipengaruhi oleh sifat-sifat senyawanya, antara lain :
1. Polaritas
Sifat hidrofilik sangat penting untuk menjamin bahwa antibakteri larut
dalam air ketika pertumbuhan bakteri terjadi sedangkan pada saat yang sama
antibakteri bekerja pada membran sel yang hidrofobik sehingga membutuhkan
sifat hidrofobik. Jadi keseimbangan antara sifat hidrofilik dan hidrofobik ini
diperlukan untuk memperoleh suspensi senyawa yang mantap dan efektif.
2. Keadaan Molekul
9

Keadaan molekul senyawa antibakteri yang tidak bermuatan lebih


memudahkan senyawa antibakteri untuk berpenetrasi ke dalam dinding sel dan
bereaksi dengan sel sehingga dapat menghancurkan atau membatasi
pertumbuhannya.
Beberapa penelitian terdahulu seperti dikemukakan oleh Putra (2006)
dalam alga laut sebagai biotarget industri bahwa alga hijau, alga merah atau alga
coklat merupakan sumber potensial senyawa bioaktif yang sangat bermanfaat bagi
pengembangan industri farmasi seperti sebagai antibakteri, antitumor, antikanker
atau sebagai reversal agent industri agrokimia terutama untuk antifeeddant,
fungisida dan herbisida.
Senyawa bahan alam yang bersifat antibakteri dapat dibagi ke dalam
beberapa kelompok yang meliputi fenolik, terpenoid, alkaloid dan senyawa lain
pemakaian metabolit sekunder (diantaranya sebagai antibakteri dan antifungi)
diberbagai bidang menunjukkan kecenderungan untuk meningkat setiap tahunnya
(Sardjoko dalam Sidabutar, 2015).
Beberapa senyawa antibakteri kimiawi (sintesis) diantaranya senyawa
antibakteri yang penggunaannya berkaitan erat dengan produk-produk makanan
dan senyawa antibakteri yang digunakan sebagai obat-obatan, termasuk dalam
kelompok ini adalah antibiotik dan senyawa antibakteri lain. Cara kerja senyawa
antibakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri, yaitu (Ajizah et al., 2007) :
1) Menghambat sintesis dinding sel bakteri
2) Mengganggu fungsi dari membran sel bakteri
3) Menghambat sintesis protein dan asam nukleat bakteri
4) Mengganggu metabolisme sel bakteri
Senyawa antibakteri dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang bersifat
patogen. Senyawa-senyawa kimia yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri
terdiri dari garam logam-logam, senyawa fenolik, formaldehid, alkohol, yodium,
senyawa klor, deterjen, sulfonamida dan antibiotik (Tortora et al, 2001).
2.7. BakteriPatogen
2.7.1. Bakteri Escherichia coli
Menurut Indra (2016), E.coli merupakan bakteri batang Gram negatif,
tidak berkapsul, umumnya mempunyai fibria dan bersifat motil. Sel E.coli
mempunyai ukuran panjang 2,0-6,0 mm dan lebar 1,1-1,5 mm, tersusun tunggal,
berpasangan. Bakteri ini dapat menggunakan asetat sebagai sumber karbon.
Bakteri ini tumbuh pada suhu antara 10-40 °C, dengan suhu optimum 37 ºC. pH
minimum untuk pertumbuhan adalah pada 7,0-7,5, pH optimum pada pH 9,0.
Dengan taksonomi sebagai berikut :
Divisio : Bakteria
Filum : Proteobacteria
Kelas : Gamma Proteobacteria
Ordo : Enterobacteriales
Familia : Enterobacteriaceae
10

Genus : Escherichia
Spesies : Escherichia coli
Pengendalian E. coli dapat dilakukan dengan penggunaan berbagai jenis
antibiotika seperti Oralit, amoksilin, Chloramfenikol, eritromisina dan
oksitetrasiklin. Sifat lain yang tidak kalah penting adalah sifat proteolitik yang
berkaitan dengan mekanisme infeksi bakteri (Marianti, 2016).
2.7.2. Bakteri Pseudomonas aeruginosa
Sistematika Pseudomonas aeruginosa menurut Holt (1998) adalah sebagai
berikut :
Divisio : Bakteri
Classis : Schizomycetes
Ordo : Pseudomonales
Familia : Pseudomonaceae
Genus : Pseudomonas
Species : Pseudomonas aeruginosa
P. aeruginosa merupakan bakteri Gram negatifyang dapat menyebabkan
penyakit pada mamalia. P. aeruginosa dapat bergerak karena mempunyai flagel
monotrika (flagel tunggal yang terletak pada kutub), berbentuk batang dengan
ukuran 0,6 x 2 µm dan bersifat aerobik obligat yang dapat tumbuh dengan cepat
pada berbagai tipe media. P.aeruginosa dapat tumbuh baik pada suhu 37-42°C
(Wahyuni, 2014).
Penanganan P. aeruginosa dapat dilakukan dengan penggunaan berbagai
jenis antibiotika amfenikol, sepalosporin, dan Penisilin antipseudomonas
(antipseudomonal penisilin). Penisilin ini termasuk karbenisilin, tikarsilin,
meklosilin dan piperasilin diindikasikan khusus untuk bakteri P. aeruginosa.
(Somelus, 2009).
2.7.3. Bakteri Vibrio Alginolyticus
Menurut Bergey’s Manual of Bacteriology (Buchanan and Gibbons dalam
Meritasari et al., (2010) bakteri V. Alginolyticus mempunyai ciri-ciri berbentuk
batang pendek, bersifat Gram negatif, bergerak dengan flagellum polar, tidak
berspora, tidak berkapsul, bersifat fakultatif anaerob dan berkembang biak dengan
pembelahan biner. Klasifikasi V. Alginolyticus adalah :
Kingdom : Bacteria
Phylum : Proteobacteria
Class : Gammaprotobacteria
Ordo : Vibrionales
Family : Vibrionaceae
Genus : Vibrio
Species : Vibrio alginolyticus
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh tujuh strain bakteri Vibrio sp., lima
diantaranya sudah ada secara internasional pada Gen Bank Dunia, yaitu V.
alginolyticus, V. parahaemolyticus, V. harveyi, V.shilonii dan V. vulnificus dengan
11

tingkat homolog diatas 97%, sedangkan dua strain diantaranya merupakan strain
yang belum terdaftar secara Internasional dalam Gen Bank Dunia, dan ini diyakini
merupakan Vibrio sp. asli Indonesia (Feliatra et al., 2011).
Bakteri ini merupakan jenis bakteri yang paling patogen dibandingkan
jenis bakteri lainnya, dengan nilai konsentrasi letal median (LC50) adalah sebesar
106,6 pada ikan dengan berat antara 5-10 gram (Fahri, 2009).
2.8. Ekstraksi
Ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu padatan
atau cairan dengan bantuan pelarut atau dapat pula dikatakan ekstraksi merupakan
proses pemisahan satu atau lebih komponen dari suatu campuran homogen
menggunakan pelarut cair sebagai separating gen. Pemisahan terjadi atas dasar
kemampuan larut yang berbeda dari komponen-komponen dalam campuran.
Ekstraksi pelarut cair-cair merupakan satu komponen bahan atau lebih dari
suatu campuran yang dipisahkan dengan bantuan pelarut, ekstraksi cair-cair tidak
dapat digunakan apabila pemisahan campuran dengan cara destilasi karena
kepekaannya terhadap panas atau tidak ekonomis. Seperti pada ekstraksi padat-
cair, ekstraksi cair-cair selalu terdiri dari pencampuran secara intensif bahan
ekstraksi dengan pelarut dan pemisahan kedua fase cair sempurna (Khopkar,
2010).
Proses ekstraksi secara umum dapat dibagi menjadi 2 (dua) yaitu ekstraksi
padat-cair (solid-liquid extraction) dan ekstraksi cair-cair (liquid-liquid
extraction). Ekstraksi padat-cair umumnya digunakan untuk mengektraksi
senyawa atau molekul-molekul dari bahan alam. Sedangkan ekstraksi cair-cair
pada umumnya digunakan dalam proses separasi atau pemurnian senyawa dari
alam maupun senyawa produk dari suatu reaksi kimia (Pavia et al., 1995).
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut
sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Senyawa
aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan ke dalam
golongan minyak atsiri, alkaloid, flavonoid dan lain-lain. Setelah diketahui
senyawa aktif yang dikandung oleh simplisia, akan mempermudah pemilihan
pelarut dan cara ekstraksi yang tepat. Simplisia yang lunak seperti rimpang dan
daun mudah ditembus oleh pelarut, karena itu pada proses ekstraksi tidak perlu
diserbuk sampai halus. Simplisia yang keras seperti biji, kulit kayu dan kulit akar
sulit untuk ditembus oleh pelarut, karena itu perlu diserbuk sampai halus (Depkes,
2000).
12

BAB 3.METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tahap Penelitian


Penelitian ini akandilakukan pada bulan Februari hingga April 2019
(selama 3 bulan). Persiapan awal hingga analisa data dari penelitian ini dilakukan
di Laboratorium Kimia Laut Jurusan Ilmu Kelautan dan proses evaporasi di
Laboratorium Kimia Terpadu Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Riau.
Analisis daya hambat ekstrak Bakau minyak dilakukan di Laboratorium
Mikrobiologi Laut Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan
KelautanUniversitas Riau Kampus Bina Widya km 12,5 Simpang Baru Panam
Pekabaru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen
yaitu melakukan pembuatan 4 konsentrasi ekstrak bakau minyak dan peran
antibiotik dalam menghambat bakteri patogen (E. coli, P. aeruginosa, dan V.
alginolyticus).
Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL)
satu faktor yaitu 4 konsentrasi ekstrak bakau minyak dan 3 perlakuan yaitu bakteri
patogen (E. coli P. aeruginosa, dan V. alginolyticus). Empat konsentrasi yang
digunakan yaitu 100%, 50%, 25%, dan 12,5% dan 1 kontrol positif yaitu cakram
antibiotik amoxiclav, dan 1 kontrol negatif yaitu metanol, maka didapatkan 54
unit percobaan.
3.2 Teknik Pengumpulan
Data diperoleh dari hasil uji daya hambatbakau minyak terhadap bakteri
patogen (E. coli, P. aeruginosa, dan V. alginolyticus) pada masing-masing
perlakuan pemberian (100%, 50%, 25%, 12,5%) ditamabah kontrol positif dari
antibiotik amosiclav dan kontrol negatif dari pelarut metanol. Uji daya hambat
dilakukan oleh 3 orang peneliti agak terlatih.
3.3 Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data
Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
H0 : Ekstrak bakau minyak tidak memiliki kemampuan menghambat
pertumbuhan bakteri patogen (E. coli, P. aeruginosa, dan V.
alginolyticus).
H1 : Ekstrak bakau minyak memiliki kemampuan menghambat
pertumbuhan bakteri patogen (E. coli, P. aeruginosa, dan V.
alginolyticus).
Data yang diperoleh terlebih dahulu ditabulasikan ke dalam bentuk tabel
dan dianalisis sacara statistik dengan analisis varians (Anova). Kemudian dari
perhitungan yang dilakukan diperoleh F-hitung yang akan menentukan diterima
atau ditolaknya hipotesis yang telah diajukan.
Berdasarkan hasil dari analisis variansi jika diperoleh F-hitung lebih besar
dari F-tabel pada tingkat kepercayaan 95%, maka hipotesis ditolak.Apabila
hipotesis ditolak maka dilanjutkan uji lanjut untuk melihat perbedaan setiap
perlakuan.
13

BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN

4.1 AnggaranBiaya
No Jenis Pengeluaran Biaya (Rp)
1 Bahan Habis Pakai Rp 3.980.000,-
2 Peralatan Penunjang Pengolahan Rp 5.629.000,-
3 Transportasi Rp 500.000,-
4 Lain-Lain Rp 2.100.000,-
Jumlah Rp 12.209.000,-

4.2 Jadwal Penelitian


Penelitian akan dilakukan selama kurang lebih 3 bulan di Laboratorium
Kimia Laut Jurusan Ilmu Kelautan dan proses evaporasi di Laboratorium Kimia
Terpadu Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Riau. Analisis daya hambat
ekstrak Bakau minyak dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Laut Jurusan Ilmu
Kelautan Fakultas Perikanan dan KelautanUniversitas Riau Kampus Bina Widya
km 12,5 Simpang Baru Panam Pekabaru.

No. Kegiatan Bulan ke-

1 2 3 4
1 Mengumpulkan serta mempelajari berbagai
jurnal yang berkiatan dengan topik
penelitian
2 Pencarian atau pemesanan bahan baku serta
mengurus meminjaman alat atau izin
penggunaan laboratorium
3 Persiapan penelitian di laboratorium
4 Pelaksanaan penelitian:
-Pembuatan hidrolisat protein udang rebon
-Pembuatan tepung premix pempek yang
difortifikasi hidrolisat protein udang rebon
dan dilanjutkan analisis proksimat dari
tepung tersebut
-Pembuatan pempek menggunakan tepung
premix dan dilakukan uji organoleptik
5 Analisa Hasil Penelitian
6 Penyusunan laporan dan jurnal untuk
publikasi
14

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah. 2011. Potensi bakau Rhizophora apiculata sebagai Inhibitor Tirosinase
dan Antioksidan. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Hlm 38. Bogor : Jawa
Barat.
Ajizah, A., Thirtana, dan Mirhanudin. 2007. Potensi Ekstrak Kayu Ulin (Eusi
deroxylon zwagery T ET B). Bioascentie. 1 : 37-42.
Amin, F. 2015. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Teripang Holothuria sp. Terhadap
Bakteri Salmonella Typhi secara In vitro. Universitas Riau. Pekanbaru.
Ardiansyah. 2007. Antimikroba dari Tumbuhan (Bagian Kedua).
http://health.detik.com/read/2010/11/24/124425/1501213/763/dampak
serius-bakteri-eoli-lebih-dari-sekedar-diare. Tanggal akses : 30 September
2018.
Ariyanti. 2012. Biolarvasida dari tumbuhan bakau minyak (Rhizophora apiculata)
(Rhizophoraceae). UNESA Journal ofChemistry.1(1). Hlm 10-13.
Balcazar, J. L., L. Sara, J. D. S. Yolanda., P. Jose, and P. Miquel. 2010.
Identification and Characterization of Bacteria with Antibacterial
Activities Isolated from Seahorses (Hippocampus guttulatus). The Journal
of Antibiotics. Diakses 30 September 2018. 63 (5) : 271 hal.
Brooks, G. T., J. S.Butel, S.A. Morse, E. Jawetz, J. L. Melnick and E. A.
Adelberg. 2004. Medical microbiology 23rd edition. Mc Graw Hill
Companies Inc. P. 223-253.
Depkes RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan
Pertama. Jakarta: Ditjen POM. Halaman 17, 31-32.
Dewi, R.E.O. dan Usman. 2016. Uji fitokimia dan uji antibakteri dari akar
mangrove rhizopora apiculata terhadap bakteri escherichia coli dan
staphylococcus aureus dalam Prosiding : Seminar Nasional Tumbuhan
Obat Indonesia Ke-50. Program Studi Pendidikan Kimia. Unmul
Samarinda. Kalimantan Timur.
Dwinovantyo, A. 2014. Uji Bahan Aktif dan Bahan Antibakteri Rhizopora
mucronata dalam Upaya Penanggulangan Penyakit Diare pada Saluran
Pencernaan Manusia. PKM-Penelitian. Institut Pertanian Bogor. Bogor :
Jawa barat.
Fahri, M., 2009. Bakteri Patogen pada Budidaya Perikanan. Program Pasca
Sarjana Universitas Brawijaya. Malang.
Feliatra. 2000. Studi awal tumbuhan Mangrove sebagai antimikroba. Lembaga
Penelitian Universitas Riau. Riau.
Feliatra, F., T.T. Nugroho, S. Silalahi dan Y. Octavia. 2011. skrining bakteri
Vibrio sp. asli indonesia sebagai penyebab penyakit udang berbasis teknik
16s ribosomal DNA. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
3(2):85-99.
15

Ganiswarna, S. G. 2003. Farmakologi dan terapi. Edisi 4. Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia. Jakarta.
Gau, S., H.Y. Liu, H. P. He, C. Y. Chen, Y. M. Shen and X. J. Hao. 2011. Two
New Diterpenoid from Callicarpa pedunculata. Helvetica Chimica Acta.
89 (5). 1017-1022, 2006.
Gunawan, H., 2012. Aktifitas antibakteri ekstrak buah mangrove Rhizophora sp.
terhadap bakteri Vibrio spp [skripsi]. Program Studi Budidaya Perairan.
Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Lampung
Harmita. 2004. Petunjuk Pelaksananaan Validasi Metoda dan Cara
Perhitungannya. Majalah Ilmu Kefarmasian. 1: 119-122.
Holt, J, G., 1998. Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology, 9th. edition.
Williams and Wilkins. Baltimore. 230-356.
Indra, K. 2016. Klasifikasi dan morfologi Escherichia coli. Kumpulan
pennegtahuan umum : Gooyaabi Templates Press. Indonesia.
Jawetz, E., J. L. Melnick, and E. A. Adelberg. 2001. Mikrobiologi Kedokteran ;
Edisi I. Salemba Medika. Jakarta.
_____, E., J. L. Melnick, dan E. A. Adelberg. 2005. Mikrobiologi Kedokteran,
Diterjemahkan oleh Maulany, R.F., dan Edinugroho. Jakarta.
Kadarsyah, A. 2012. Jenis Vegetasi Mangrove dari Famili.
http://anangkadarsah.blogspot.com/2012/08/jenis-vegetasi-mangrove-dari-
famili.html. Diakses tanggal 30 September 2018 pukul 22.19 WIB.
Kusmana, C., Onrizal dan Sudarmadji. 2003. Jenis-jenis pohon mangrove di teluk
bintuni, papua. Onrizal WordPress : Bogor. 64 hal.
Khopkar, S.M., 2010. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press: Jakarta. 447 hal.
Landgrebe, J.A., (1982). Theory and Practice in The Organic Laboratory. Edisi
ketiga. Canada: D.C. Health and Company. Halaman 87, 99.
Lenny, S., 2006. Uji Bioaktivitas Kandungan Kimia Utama Pudding Merah
dengan Metoda Uji Bhrine Shrimp. USU Repository 2006. Tanggal Akses
30 September 2018.
Mahato, S.B., S.K. Sarkar and G. Poddar. 1988. Triterpenoid saponin.
Phytochemistry 27: 3037-3067.
Marianti. 2016. Pengertian, penyebab dan solusi mengatasi bakteri Escherichia
coli.Bacterial Dieases. Alodokter : Jakarta.
Mayo, D.W., R.M. Pike, and P.K. Trumper. 1955. Microscale Organic
Laboratory. Edisi ketiga. Canada: John Wiley and Sons. Halaman 24, 78.
Meritasari, D., Jannah, R., Irshalina, D. dan Innayah, S. 2010. Eksplorasi bahan
aktif mikroalga laut nannochloropsis oculata sebagai antibakteri
(penghambat) Vibrio alginolyticus. Universitas Airlangga. Surabaya.
Midori. 2013. Bakau (mangrove). Wikipedia Nusantara. Jakarta.
Murray, R. P., E.J. Baron, J. H. Jorgensen, M. L. Landry and M. A. Pfaller. 2007.
Manual of clinical microbiology 9th Edition.
16

Noor, Y.R., M. Khazali dan I. Suryadiputra. 2012. Panduan pengenalan


mangrove di indonesia. Bogor : Wetlands International Indonesia
Programme.
Pavia, D. L., G.M. Lampman, G.S. Kritz, and R.G. Engel. 1995. Introduction to
Organic Laboratory Techniques: A Contemporary Approach. W. B.
Saunders College Publishing, Philadelphia, USA.
Pimpliskar, M. R., R.N. Jadhav, and B.L Jadhav,. 2011. Study on Antimicrobial
Principles of Rhizophora Species Along Mumbai Coast. J.Aqua.Biol.26(1).
Hlm 6–11.
Purnobasuki, H. 2004. Potensi Mangrove Sebagai Tanaman Obat. Jurnal
Farmakologi. Universitas Airlangga. Surabaya.
Purwaningsih, S.E. Salamah., A. Y. P. Sukarno dan D. Eka. 2013. aktivitas
antioksidan dari buah mangrove (rhizophora mucronata Lamk.) pada suhu
yang berbeda. Jurnal Teknologi Hasil Perairan. Jurusan THP. Institut
Pertanian Bogor. Bogor : Jawa Barat.
Putra, S.E. 2006. Biota Laut sebagai Bio Target Industri.
www.energi.lipi.go.id/utama.cgi. Artikel 11586897. Tanggal Akses 30
September 2018.
Ravikumar, S.M. Gnanadesigan., P. Suganthi, and A. Ramalaksmi. 2010.
Antibacterial potential of chosen mangrove plants againts isolated urinary
tract infectious bacterial pathogens. International Journalof Medicine and
Medical Sciences. 2(3). Hlm 94-99.
Rita, W.S. 2010. Isolasi, Identifikasi dan Uji Aktifitas Antibakteri Senyawa
Golongan Triterpenoid pada Rimpang Temu Putih (Curcuma zedoaria
(Berg.) Roscoe). Jurnal kimia FMIPA. Universitas Udayana. Bukit
Jimbaran.
Roihanah, S., Sukoso dan Andayani. 2011. Aktivitas antibakteri ekstrak teripang
Holothuria sp. Terhadap Bakteri Vibrioharveyi secara In vitro. J. Exp.
Life Sci. 1(2) : 95-99.
Santoso. 1999. Kesehatan dan Gizi. Rineka Cipta. Jakarta.
Sari, N. Uji aktivitas larvasida ekstrak n-heksan, etil asetat dan etanol 96% akar
napas tumbuhan bakau minyak (Rhizophora apiculata Blume.) terhadap
larva nyamuk Aedes aegypti L [skripsi]. Fakultas Kedokteran Dan Ilmu
Kesehatan. Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar : Sulawesi
Selatan. 93 hal.
Saripedia. 2011. Pentingnya pelestarian hutan mangrove untuk mengatasi
perubahan iklim. Articel os Sciences. Kompas Press. Jakarta.
Satria, D. 2014. Elusidasi struktur senyawa aktif kuda laut (Hippocampus
trimaculatus Leach). Terhadap Sel Mcf-7 [Tesis].
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/47570. Universitas Sumatera
Utara. Medan.
17

Sidabutar, A.R., 2015. Uji Aktivitas Antimikroba Bakteriosin dari Bakteri


Probiotik yang Diisolasi dari Udang Windu (Panaeus monodon Fabricus).
Universitas Riau. Pekanbaru.
Somelus, C. 2009. Penggunaan antibiotika yang tepat untuk bakteri gram positif
dan negatif. Soal Medis : Wordpress. Yogyakarta.
Todar, K., 2005. Todar’s Online Textbook of Bacteriology.
http://textbookofmicrobiologi.net. Tanggal Akses 30 September 2018.
Tortora G. J., B.R. Funke, and C. L. Case. 2001. Microbiology, An Introduction.
7th edition. USA: Addisom Wesley Longman Inc.
Tumengkol, S. M,. 2013. Potensi dan permasalahan pembangunan wilayah pesisir
dan lautan. Karya Ilmiah :Suatu Kajian Terhadap Sosiotogi Pembangunan
Wilayah Pesisir. UNSRAT Press.
Usman, H., 2017. Kimia Organik Bahan Alam Laut. Jurnal Kimia Orgaik.
Makassar: Universitas Hasanuddin.
Wahyuni, R., 2014. Uji daya hambat ekstrak tanaman kakao terhadap bakteri
Pseudomonas aeruginosa. Pendidikan Kimia. FKIP. UMP.
18
19
20
21

A. Biodata Dosen Pendamping


1. Nama Lengkap (dengan gelar) Dr.DessyYoswaty, S.Pi, M.Si
2. Jenis Kelamin Perempuan
3. Program Studi Ilmu Kelautan
4. NIP/NIDN 19711213 199702 2 002/ 0013127102
5. Tempat dan Tanggal Lahir Pekanbaru, 13 Desember 1971
6. E-mail dyoswaty@yahoo.com
7. Nomor Telepon/Hp 08131932146

B. Riwayat Pendidikan
S1 S2 S3
Nama Institut Universitas Riau Universitas Universitas
Indonesia Kebangsaan
Malaysia
Jurusan
Tahun Masuk-
Lulus

C. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation)


No. Nama Pertemuan Judul Artikel Ilmiah Waktu dan
Ilmiah/ Seminar Tempat
1 Seminar Karya Analisis Ekstrak Metanol Oktober, D.I.
Ilmiah Kelauatan Rhizophora apiculata dan Yogyakarta.
Xylocarpus granatum Terhadap
Bakteri Patogen

2
3
4
5
22
23

Lampiran 2.Justifikasi Anggaran Dana


1. Barang Habis Pakai
Material Satuan Kuantitas Harga Satuan Jumlah
Bakau Minyak kg 3 Rp 50.000,- Rp 150.000,-
Isolat Bakteri Patogen gr 3 Rp 100.000,- Rp 300.000,-
Aquades liter 7 Rp 20.000,- Rp 140.000,-
Media MHA gr 150 Rp 5.000,- Rp 750.000,-
Media NB gr 50 Rp. 2500,- Rp 120.000,-
Kertas cakram kotak 1 Rp 700.000,- Rp 700.000,-
Cakram Antibiotik kotak 1 Rp 1.000.000,- Rp 1.000.000,-
Antibiotik amoksiclav tablet 1 Rp 100.000,- Rp 100.000,-
Metanol 96% liter 15 Rp 25.000,- Rp 375.000,-
Alkohol 70% liter 1 Rp 150.000,- Rp 150.000,-
Spritus liter 1 Rp 150.000,- Rp 150.000,-
Aluminium foil gulung 1 Rp 40.000,- Rp 40.000,-
Kertas label lembar 5 Rp 1.000,- Rp 5.000,-
SUB TOTAL Rp 3.980.000,-

2. Peralatan Penunjang Pengolahan

Material Satuan Kuantitas Harga Satuan Jumlah


Blender Buah 1 Rp 600.000,- Rp 600.000,-
Pisau Buah 3 Rp 30.000,- Rp 90.000,-
Timbangan Buah 1 Rp 500.000,- Rp 500.000,-
Nampan besar Buah 6 Rp 30.000,- Rp 180.000,-
Serbet Buah 4 Rp 15.000,- Rp 60,000,-
Botol kaca gelap besar Botol 3 Rp 35.000,- Rp 105.000,-
Botol kaca gelap kecil Botol 6 Rp. 5.000,- Rp 30.000,-
Cawan petri Lusin 180 Rp 20.000,- Rp 3.600.000,-
Kertas saring Lusin 1 Rp 50.000,- Rp 50.000,-
Whatman
Jarum ose Buah 3 Rp 3.000,- Rp 9.000,-
Erlemeyer Buah 12 Rp 15.000,- Rp 180.000,-
Tabung reaksi Buah 25 Rp 7.000,- Rp 175.000,-
Masker Kotak 1 Rp 30.000,- Rp 30.000,-
Sarung tangan Kotak 1 Rp 20.000,- Rp 20.000,-
SUB TOTAL Rp 5.629.000,-

3. Transportasi

Transportasi
Transportasi pengiriman bakau minyak Rp 150.000,-
Transportasi pengiriman isolat bakteri patogen Rp 100.000,-
Transportasi lainnya Rp 250.000,-
SUB TOTAL Rp 500.000,-
24

4. Biaya lain-lain

Biaya lain-lain
Sewa alat dan administrasi laboratorium Rp 1.000.000,-
Dokumentasi Rp 400.000,-
Laporan dan Penggandaan Rp 300.000,-
Publikasi Rp 400.000,-
SUB TOTAL Rp 2.100.000,-
Total Keseluruhan Dana Rp 12.209.000,-
25

Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Kegiatan dan Pembagian Tugas

3.1 Susunan Organisasi Tim Kegiatan

Dosen Pendamping
Ketua Tim
Dr. DessyYoswaty,
Adrian Marchel S.Pi, M.Si

Pencatatan, kelengkapan, Persiapan bahan dan alat,


serta dokumentasi mengatur anggaran biaya

Nian Sari Muhammad Isnan Alindra


26

3.2 Pembagian Tugas

No Nama/NIM Program Bidang Alokasi Uraian Tugas


Studi Ilmu Waktu
(Jam/Ming
gu)
1 Adrian Ilmu Mikrobiologi 10 Mengkoordinir setiap
Marchel/ Kelautan Laut anggota, mengolah
1504120004 S1 data, dan menyusun
serta membuat
laporan
2 Muhammad Ilmu Biologi Laut 10 Persiapan dan
Isnan Alindra/ KelautanS pembersihan alat dan
1504114675 1 bahan, pembelian
alat dan bahan, serta
mengatur anggaran
biaya
3 Nian Sari/ Ilmu Bioteknologi 10 Mengatur izin untuk
1604123932 Kelautan Kelautan menggunakan alat
S1 laboratorium,
notulen dan
dokumentasi dalam
setiap kegiatan
27