You are on page 1of 6

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Hasil
1.1 Tabel hasil diagnosis penyakit pasca panen pada buah strawberry

NO GAMBAR KETERANGAN

Perkembangan jamur pada


1.
strawberry di suhu dingin

2. Perkembangan jamur pada


strawberry di suhu ruang

Pengamatan Mikroskopis Jamur


Botrytis pada strawberry
3. di suhu ruang dan suhu dingin
Persentase yang didapat :
3/16 x 100% = 18,75%

Pengamatan Mikroskopis Jamur


Phytophthora pada strawberry
4. di suhu dingin
Persentase yang didapat :
2/16 x 100% = 12,5%
1.2 Tabel hasil deteksi jamur gudang dengan metode blotter pada kacang buncis
NO. GAMBAR KETERANGAN
1.

Aspergillus niger

2.

Fusarium sp

3.

Penicillium sp

4.
Aspergillus ochraceus

B. Pembahasan
2.1. Jamur yang terdapat pada Strawberry di Suhu Ruang dan Suhu Dingin
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap perkembangan jamur pada buah
strawberry didapatkan hasil bahwa pada suhu ruang perkembangan jamur lebih
banyak dan lebih cepat. Sedangkan pada suhu dingin (kulkas) perkembangan
jamur lambat.
Berdasarkan pengamatan jamur yang berkembang pada buah strawberry
adalah jamur Botrytis dan Phytophora. Beberapa penyakit yang biasanya
ditemukan pada buah strawberry yang menyebabkan kerusakan pada buah adalah
busuk cokelat oleh Phytophthora sp dan penyakit busuk kelabu oleh Botrytis
cinerea Pers. Ex Fr.
Penyakit ini bisa menjadi masalah serius saat penanganan pascapanen. Jika
terdapat buah terinfeksi ikut terpanen, akan dengan mudah menulari buah lainnya
saat penyimpaan dingin sehingga bisa membuat kehilangan pascapanen yang
besar.
Botrytis cinerea merupakan jamur parasit yang akan menyerang tanaman
yang sedang dalam kondisi lemah oleh karena itu vigor dan daya tahan tanaman
perlu dijaga secara baik. Temperatur rendah 15 oC hingga 20 oC mempercepat
infeksi oleh jamur ini pada tanaman. Setelah masuk ke jaringan tanaman,
jamur Botrytis akan membelah diri secara aktif dan menghasilkan spora. Hal ini
dapat kita lihat pada kumpulan debu yang tersebar di beberapa strawberry yang
terserang. Debu sporta Botrytis sendiri dapat mengakibatkan infeksi sekunder
yang akan menyerang tanaman lain di sekitarnya. Periode inkubasinya
berlangsung selama 15 jam.
Beberapa ciri serangan awal Jamur Botrytis cinerea pada tanaman antara
lain adalah munculnya area kehitaman yang dikelilingi dengan bulu-bulu halus
berwarna abu-abu pada beberapa strawberry yang diserang. Ciri lain biasanya juga
akan terlihat dari munculnya noda seperti bintik atau yang disebut “ghost spots.
Bintik ini akan ditandai dengan cincin berwarna gelap di sekitarnya. Tanda-tanda
serangan Botrytis pada buah strawberry tersebut biasanya akan terlihat seperti ciri
serangan busuk lunak Erwinia sp. Tetapi keduanya dapat dibedakan dengan
bentuk spora yang berbeda, jika Botrytis akan terlihat seperti berdebu, maka
serangan busuk lunak Erwinia sp. Akan terlihat seperti berwarna kehitaman dan
lunak saja.
Phytophthora infestans (Mont.) de Bary merupakan pathogen yang
tergolong kelas Oomycetes, ordo Peronosporales dan family
Pythiaceae. Phytophthora infestans (Mont.) de Bary dikenal sebagai pathogen
dengan menyebabkan timbulnya busuk. Penyakit ini dapat menyebabkan
kegagalan panen, penurunan hasil, kehilangan dalam penyimpanan dan
peningkatan biaya proteksi tanaman.
Penyakit ini sangat merusak dan sulit dikendalikan, karena P.
infestans merupakan jamur pathogen yang memiliki patogenisitas beragam. Pada
umumnya pathogen ini berkembang biak secara aseksual dengan oospora. Jamur
ini bersifat heterotalik, artinya perkembangbiakan secara seksual atau
pembentukan oospora hanya terjadi bila terjadi perkawinan silang (matting) atanra
dua isolate P.infestans yang memiliki matting tipe beda.
Serangan pada strawberry menyebabkan bercak yang berwarna coklat atau
hitam ungu, masuk sampai 3-6 mm kedalam dan tampak waktu penyimpanan.
Gejala lebih jelas tampak setelah penyimpanan dan dapat menutupi seluruh
strawberry , menyebabkan busuk, karena perkembangan pathogen dan adanya
organism sekunder.
Persentase jamur Botrytis menyerang strawberry adalah 18,75%
sedangkan persentase jamur Phytophora menyerang strawberry adalah 12,5%
selain itu juga terdapat serangan bakteri busuk lunak pada strawberry dan juga
serangan hama lalat buah pada penyimpanan buah strawberry di subu ruang. Hal
tersebut dapat saja terjadi karena kondisi lingkungan yang kurang terjaga.

2.2. Deteksi jamur pada kacang buncis dengan metoda blotter


Berdasarkan hasil pengamatan dari praktikum yang telah dilaksanakan
didapatkan hasil yakni jenis jamur yang berbeda-beda pada kacang buncis yang
telah diisolasi. Adapun dari 100 kacang buncis yang telah diisolasi terdapat 19
kacang buncis yang terserang jamur. Setelah diamati pada 19 jamur yang
terserang, terdapat empat jenis jamur dengan jenis yang berbeda.
Adapun pada masing- masing petri dish diisi 10 kacang buncis.. Setelah
diisolasi selama tujuh hari didapatkan 19 jamur yang mana pada ulangan tujuh
dan ulangan tiga tidak terdapat jamur sama sekali. Sedangkan pada ulangan
sembilan dan empat diamati paling banyak jamur yakni empat jamur. Pada
ulangan dua, ulangan satu dan ulangan enam terdapat masing-masing dua kacang
buncis yang terserang jamur. Kemudian sisanya pada ulangan delapan, sepuluh
dan tiga dengan masing- masing terdapat 1,1 dan 3 kacang buncis yang terserang
jamur.
Pada 19 kacang buncis yang terserang jamur, terdapat empat jenis jamur
yang berbeda. Setelah diamati di bawah mikroskop ditemukan satu jamur
Aspergillus niger , satu jamur Aspergillus ochraceus, lima jamur Penicillium sp
dan jamur yang paling banyak ditemukan pada kacang buncis yang kami isolasi
ialah Fusarium sp pada 13 kacang buncis.
Setelah diamati, kacang buncis yang terserang jamur Aspergillus niger
memiliki konidia berwarna hitam cenderung coklat yang berukuran besar dengan
phialides yang diatur dalam kepala bulat dan bersrektur kasar. Berdasarkan
literatur yang kami baca hifa septat dan miseliumnya bercabang, biasanya tidak
berwarn, koloni ditemukan berkelompok, konidiofora membengkak menjadi
vesikel pada ujungnya, dan konidia membentuk rantai yang berwarna hijau, coklat
atau hitam. Hal tersebut sesuai dengan hasil pengamatan yamg telah kami amati
yang mana dapat dilihat pada tabel hasil.

Fusarium sp merupakan salah satu jenis jamur yang sangat penting untuk
diketahui dalam melaksanakan budidaya tanaman. Berdasarkan hasil pengamatan
yang telah dilakukan terdapat spora mikrokonidium bersel tunggal, tidak bersekat,
tidak berwarna, berdinding tipis dan bentuknya bulat seperti telur. Fusarium sp
merupakan fungi berfilamen yang memiliki 3 macam konidia, yaitu
klamidiospora, makrokonidia yang berbentuk lengkung seperti bulan sabit dengan
kedua ujung yang lancip dan mikronidia yang berbentuk bulat, tidak bersekat dan
tidak berwarna dan berdinding tebal. Spora ini terbentuk dari penebalan bagian-
bagian tertentu dari suatu hifa somatik. Menurut Semangun (2004) miselium
cendawan ini bersekat terutama terdapat di dalam sel, khususnya di dalam
pembuluh kayu. Cendawan ini juga membentuk miselium yang terdapat diantara
sel-sel, yaitu dalam kulit dan di jaringan parenkim di dekat tempat terjadinya
infeksi

Pada jamur Penicillium sp yang kami amati yakni terdapat hifa dengan
miselium yang bercabang dan tidak berwarna. Kemudian kepala yang membawa
spora berbentuk seperti sapu, dengan sterigmata atau fialida muncul dalam
kelompok. Menurut Waluyo (2007) konidia membentuk rantai karena muncul satu
per satu dari sterigmata. Konidia pada waktu masih muda berwarna hijau,
kemudian berubah menjadi kebiruan atau kecoklatan

Pada pengamatan terhadap jamur Aspergillus ochraceus yakni


karakteristik koloni berwarna kuning. Beberapa koloni Aspergillus ochraceus ada
yang berwarna merah muda ke ungu, tidak teratur, kerikil seperti sclerotia.
Sedangkan pada cawan petri pucat sampai kecoklatan. Aspergillus ochraceus
adalah spesies jamur dalam genus Aspergillus yang dikenal untuk menghasilkan
toksin ochratoxin A , salah satu yang paling berlimpah mikotoksin makanan
mencemari, dan citrinin . Hal ini juga menghasilkan dihydroisocoumarin mullein .
Ini adalah jamur filamen di alam dan memiliki konidiofor biseriate karakteristik.
Apabila diamati secara langsung bagian konidiofor Aspergillus ochraceus
terlihat seperti tepung. Kepala konidia pada awalnya muncul bulat, namun
semakin lama rantai konidia berkembang menjadi dua atau tiga kolom yang
berbeda. Adapun warna konidiofor adalah kapur kuning pucat kuning coklat.