You are on page 1of 14

MODUL 6

KETIDAKPASTIAN DAN INFORMASI

6.1 KONSEP DASAR KETIDAKPASTIAN

A. Hubungan risiko dengan probabilitas


1. Pengertian Risiko
Resiko adalah kejadian yang tidak diinginkan merupakan bagian dari kehidupan yang
dapat terjadi tetapi tidak selalu dapat dihindari. Resiko juga dapat diartikan sebagai kata atau
kondisi yang hampir selalu dihadapi dalam hidup, tidak mungkin manusia hidup tanpa resiko,
begitu juga dengan bisnis atau usaha.
Berikut ini hal-hal yang berhubungan dengan resiko. Resiko adalah:
a. Ketidak pastian mengenai sesuatu.
b. Kejadian yang tidak diinginkan.
c. Sesuatu yang terjadi diluar tujuan semula.
d. Kemungkinan terjadinya sesuatu yang merugikan.
Besar kecilnya resiko dapat diukur dengan konsep statistik, yaitu teori probabilitas (Pi).
variance (σ2) / standar deviasi (σ). Probabilitas (Pi) adalah peluang timbulnya kejadian anyara 0
< Pi < 1, Besarnya probabilitas suatu kejadian antaraa 0 dan 1. Jumlah probabilitas dari seluruh
kejadian yang mungkin terjadi adalah 1 (ΣPi = 1).
Jenis kejadian (event) menurut probabilitas adalah
· Kejadian yang pasti terjadi (certainty event) bila Pi = 1
· Kejadian yang tidak mungkin terjadi (impossible event) bila Pi = 0
· Kejadian yang mungkin terjadi (possible event) bila 0 < Pi < 1

2. Pengertian probabilitas
Istilah Probabilitas digunakan untuk mengukur secara kuantitatif berbagai kemungkinan
kejadiannya yang tidak pasti. Konsep probabilitas ini dibagi dua yaitu probabilitas obyektif dan
probabilitas subyektif. konsep yang lebih banyak digunakan adalah probabilitas subyektif.
a. Probabilitas Obyektif yang merupakan suatu konsep yang didasarkan pada frekuensi
relatif dalam jangka panjang.
b. Probabilitas Subyektif dapat diterjemahkan dengan cara orang bertaruh, misalkan taruhan
sepak bola, dsb.
Probabilitas subjektif dapat dimisalkan apabila kita menyaksikan pertandingan basket
antara Fakultas ekonomi dan Fakultas Hukum. Jika kita mengatakan bahwa:
1. Probabilitas FE menang =½
2. Probabilitas FH menang =¼
3. Probabilitas pertandingan seri =¼
Maka kita bersedia bertaruh 2 banding 1 untuk FIA melawan FH dan kita bertaruh 1
banding 1 untuk seri. Dalam hal ini tentu saja secara konsisten kita bersedia membayar taruhan 2
dibanding 1 bila terjadi seri.
3. Hubungan risiko dengan probabilitas
Frant Knight (1992) menggambar suatu hubungan antara risiko dengan ketidakpastian.
Knight melukiskan suatu keadaan sebagai suatu keadaan yang beresiko jika kita dapat
menentukan probabilitas obyektif yang dapat ditentukan. Knight menyimpulkan bahwa
keputusan enterpreneurial dan laba termasuk teori ketidakpastian, bukan risiko. Permasalahan
dalam analisis Knight bahwa ia tidak mengembangkan suatu teori ketidakpastian. Teori
probabilitas berdasarkan keyakinan-keyakinan obyektif telah berkembang saat knight menulis
bukunya. Oleh karena itu kita akan menggunakan istilah ketidakpastian untuk menggambarkan
setiap keadaan dimana probabilitas dari suatu hasil tidak sama dengan 0 atau 1.
Variabel Random merupakan variabel yang memiliki nilai tidak pasti namun telah
mempunyai distribusi probabilitas. Misalnya sebuah perusahaan tidak dapat meramalkan labanya
tetapi dapat memperkirakan laba tersebut dalam probabilitas tertentu. Laba perusahaan disebut
variabel random.
Jika variabel random X terdiri dari X1, X2,…..Xn denan probabilitas P1, P2,….Pn (ingat
bahwa P1+P2+…+Pn = 1). kemudian nilai harapan (expected value) dari variabel random
dituliskan dengan E(X) maka persamaannya dituliskan sebagai berikut :
E(x) = P1.X1 + P2.X2 + … + Pn.Xn
Misalkan perusahaan Araya tidak dapat memastikan berapa laba yang akan diperoleh
tahun depan, tetapi perusahaan tersebut yakin mempunyai suatu peluang yang sama dengan yang
mereka peroleh tahun ini, dan jika berubah , perubahannya pun akan sama yakni naik Rp. 100
juta atau turun 100 juta. Bila laba tahun ini sebesar Rp. 400 juta, maka kita dapat menghitung
distribusi probabilitas laba pada tahun depan
Probabilitas menghasilkan laba Rp. 400 juta = ½
Probabilitas menghasilkan laba Rp. 300 juta = ¼
Probabilitas menghasilkan laba Rp. 500 juta = ¼
Laba yang diharapkan adalah :
E (laba) = ½ (400) + ¼ (300) + ¼ (500) = Rp. 400 juta
Misalkan perusahaan tersebut memiliki bayangan mengenai investasi alternatif yang
mempunyai distribusi probabilitas laba sebagai berikut :
Probabilitas menghasilkan laba Rp. 400 juta =½
Probabilitas menghasilkan laba Rp. 0 juta =¼
Probabilitas menghasilkan laba Rp. 800 juta =¼
Jika laba berubah, maka perubahannya mempunyai kesempatan yang sama, naik Rp. 400 juta
atau turun Rp. 400 juta. Maka :
E (laba) = ½ + ¼ (0) + ¼ (80) = Rp. 400 juta
Jadi, dua kasus diatas sama-sama mempunyai laba yang diharapkan sebesar Rp. 400 juta,
tetapi kasus yang terakhir berisiko lebih tinggi daripada kasus sebelumnya. Oleh karena itu harus
mengukur resiko tersebut. Resiko tersebut ditunjukkan oleh varian dari laba yang diharapkan.
Dalam analisis ketidakpastian dapat menggunakan nilai harapan dan varian dari laba,
harga, biaya, dan sebagainya. Biasanya perusahaan dapat menaikkan nilai laba harapan hanya
dengan melakukan investasi yang berisiko lebih tinggi, yang berarti akan menaikkan varian dari
labanya. Akan tetapi, investasi yang berisiko lebih tinggi tidak selalu menaikkan nilai laba
harapan dengan tingkat yang sama dengan risikonya.
B. Sikap terhadap risiko
Beberapa orang sangat senang mengambil risiko. Bagi mereka risiko tidaklah buruk,
tetapi sesuatu yang bagus. Sementara yang lainnya indiferen. Namun, ada juga orang yang tidak
suka mengambil risiko. Orang yang tidak suka mengambil risiko disebut risk averse.
Dalam menjalankan usaha atau bisnis perusahaan ,manajemen dalam menghadapi resiko
dapat menentukan sikap terhadap resiko tersebut, yaitu :
· Seseoarang disebut risk everter bila dia tidak bersedia ikut dalam suatu permainan, taruhan
yang fair.
· Seorang disebut risk neutral bila dia tidak bisa dipengaruhi untuk menolak atau mengikuti
taruhan yang fair.
· Seorang disebut risk lover atau risk seeker jika dia sangat senang mengikuti taruhan yang
fair.
Bebarapa cara yang lazim dalam menghadapi resiko :
1. Menghindari resiko (avoiding risk) yaitu menghindari penyebab timbulnya resiko
2. Mengurangi resiko (reducing risk) yaitu memperkecil kemungkinan /probabilitas untuk
terjadinya resiko tersebut atau memperkecil kerugian atau akibat resiko yang mungkin
terjadi
3. Mengasuransikan resiko (shifting the risk into an insurance company) yaitu memindahkan
resiko yang bakal terjadi ke perusahaan asuransi.
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh resiko yang diasuransikan (insurable risk)
adalah :
1. Peluang (probability) terjadinya resiko tersebut harus dapat diperkirakan (predictable)
2. Besarnya kerugian yang timbul oleh resiko tersebut harus dapat terukur (measurable)
3. Resiko atau kerugian tersebut terjadi tidak direkayasa
4. Resiko atau kerugian tersebar luas disemua wilayah
5. Perusahaan asuransi berhak untuk menerima atau menolak resiko yang akan diasuransikan
6. Perusahaan asuransi dapat menolak untuk membayar resiko yang terlalu kecil sehingga
biaya memproses tagihan /klaim lebih besar dari tagihan.

C. Langkah-Langkah Pengambilan Keputusan


Secara umum, proses pengambilan keputusan dibagi menjadi 6 langkah, yaitu :

1. Pembatasan Masalah
Menentukan dengan jelas batasan-batasan keputusan apa yang akan dibuat.
2. Penentuan tujuan
Pada tahap ini ditanyakan apa tujuan pengambil keputusan, bagaimana seharusnya si pengambil
keputusan menilai hasilnya dibandingkan dengan tujuannya, bagaimana jika si pengambil
keputusan ingin mencapai tujuan yang bertentangan satu sama lain.
3. Pencarian Alternatif
Pada tahap ini ada beberapa pertanyaan diajukan apa alternatif tindakan untuk pencapaian tujuan,
variabel apa saja yang dapat kita kendalikan, apa kendala yang kita hadapi dalam pencapaian
tujuan.
4. Peramalan Dampak
Pada tahap ini mengamati: bagaimana konsekuensi dari setiap alternatif pilihan, jika hasil yang
diharapkan tidak pasti bagaimana sifatnya, dapatkan informasi yang lebih baik diperoleh untuk
meramalkan suatu hasil. Peramalannya bisa dengan:
- perhitungan aritmatis sederhana,
- menggunakan model statistik atau ekonometrika,
- menggunakan model deterministik jika keadaannya pasti,
- model probabilistik jika pengambilan keputusan dalam keadaan yang mengandung risiko
atau ketidakpastian
5. Penentuan Pilihan
Setelah semua analisis selesai dilakukan, maka kemudian menentukan pilihan yang paling
diinginkan. Jika semua variabel dalam proses peengambilan keputusan (misalnya tujuan dan
hasilnya) bisa dikuantifikasikan, maka dapat menggunakan beberapa metoda tertentu untuk
menetapkan keputusan yang paling optimal, yaitu:
- analisis marjinal,
- programasi linier,
- pohon keputusan (decision trees),
- analisis manfaat-biaya, dsb.
6. Analisis Sensitivitas
Pada tahap akhir ini perlu diperhatikan : bagaimana sifat dari masalah yang menentukan pilihan
tindakan yang optimal, bagaimana pengaruh perubahan keadaan-keadaan tertentu terhadap
keputusan yang optimal yang diambil, apakah pilihan tersebut peka terhadap perubahan-
perubahan variabel ekonomi utama yang terabaikan oleh si pengambil keputusan tersebut.
Analisis sensitivitas menjelaskan bagaimana suatu keputusan yang optimal akan berubah jika
fakta-fakta ekonomi utama berubah.
Analisis sensitivitas memiliki d tiga kegunaan yaitu:
a. memberikan informasi faktor-faktor kunci dalam permasalahan yang mempengaruhi
keputusan,
b. menelusuri pengaruh perubahan-perubahan variabel yang tidak diyakini manajer, dan
c. menghasilkan solusi dalam kasus proses pengulangan pengambilan kepuutusan jika
keadaan-keadaan tertentu dimodifikasi.
6.2 PASAR DAN INFORMASI ASIMETRIS

1 Pengertian Teori Asimetri Informasi

Dalam bidang ekonomi, asimetri informasi terjadi jika salah satu pihak dari suatu transaksi
memiliki informasi lebih banyak atau lebih baik dibandingkan pihak lainnya. (Sering juga
disebut dengan istilah informasi asimetrik/informasi asimetris). Umumnya pihak penjual yang
memiliki informasi lebih banyak tentang produk dibandingkan pembeli, meski kondisi
sebaliknya mungkin juga terjadi.

Contoh situasi dimana penjual memiliki informasi lebih baik ada banyak, termasuk di dalamnya
penjual mobil bekas, pialang saham, agen real estate, dan asuransi jiwa.

2 Teori Asimetri Informasi

Asimetri informasi merupakan kondisi di mana ada ketidakseimbangan perolehan informasi


antara pihak manajemen sebagai penyedia informasi (prepaper) dengan pihak pemegang saham
dan stakeholder pada umumnya sebagai pengguna informasi (user).

Teori asimetri mengatakan bahwa pihak-pihak yang berkaitan dengan perusahaan tidak
mempunyai informasi yang sama mengenai prospek dan resiko perusahaan. Pihak tertentu
mempunyai informasi yang lebih baik dibandingkan dengan pihak lainnya. Manajer biasanya
mempunyai informasi yang lebih baik dibandingkan dengan pihak luar (investor) karena itu bisa
dikatakan terjadi asimetri informasi antara manajer dengan infestor. Infestor, yang merasa
mempunyai informasi yang lebih sedikit akan berusha menginterpretasikan perilaku manajer.
Dengan kata lain, perilaku manajer termasuk dalam perilaku penentuan strktur modal.

Informasi yang lebih banyak dimiliki oleh manajer dapat memicu untuk melakukan tindakan-
tindakan yang sesuai dengan keinginan dan kepentingan untuk memaksimumkan utility bagi
dirinya.

Sedangkan bagi pemilik modal dalam hal ini investor, akan sulit untuk mengontrol secara efektif
tindakan yang dilakukan oleh manajemen karena hanya memiliki sedikit informasi yang ada.

Manajer sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek
perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemilik (pemegang saham). Oleh karena itu
sebagai pengelola, manajer berkewajiban memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan
kepada pemilik. Sinyal yang diberikan dapat dilakukan melalui pengungkapan informasi
akuntansi seperti laporan keuangan.

3 Myers dan Majluf (1977)

Teori Packing Order sangat sesuai dengan kenyataan empiris tetapi teori tersebut pada awalnya
kurang dibicarakan dalam lingkungan akademis. Myers dan Majluf (1977) kemudian
memberikan justifikasi teoritis. Mereka membua asimetri informsai antara manajer dengan pihak
luar. Tujuannya untuk menjelaskan fenomena menarik yang sering kali dijumpai yaitu harga
saham cenderung mengalami penurunan pada saat pengumuman penerbitan saham baru.

Menurut Myers dan Majluf (1977) ada asimetri informasi antara manajer dengan pihak luar
manajer mempunyai informasi yang lebih lengkap mengenai kondisi perusahaan dibandingkan
dengan pihak luar. Pada saat harga saham menunjukan nilai yang sangat tinggi (over value)
manajer akan cenderung mengeluarkan saham (memanfaatkan harga yang terlalu tinggi).
Tentunya pihak luar (pasar) tidak mau ditipu, karena itu pada saat pengumuman saham baru di
umumkan harga akan jatuh karena pasar menginterpretasikan harga saham sudah over value.
Teori tersebut bisa menjelaskan fenomena jatuhnya harga saham pada saat terjadi pengumuman
penerbitan saham baru.

Jika harga saham jatuh cukup serius pemegang saham lama akan dirugikan jika dilakukan
penerbitan saham baru. Sebaliknya pemegang saham baru akan diuntungkan karena bisa
membeli saham dengan harga murah. Karena jatuhnya harga saham tersebut berkaitan dengan
asimetri informasi maka dikatan bahwa ada biaya asimetri informasi yang berkaitan dengan
penerbitan saham. Biaya tersebut akan semakin besar jika harga saham jatuh cukup signifikan.

Dibandingkan dengna saham, pengumuman penerbitan utang menurut pengamatan biasanya


disertai dengan penurunan harga saham yang lebih kecil. Dilihat dari asimetri informasi sekuritas
utang mempunyai asimetri informasi yang lebih kecil dibandingkan dengan saham. Utang
mempunyai pendapatan yang bersifat tetap (bunga utang), karena itu ketidakpastian pendapatan
utang lebih kecil dibandingikan dengan ketidapastian saham. Asimetri informasi dari utang tidak
sebesar asimetri untuk saham. Dengan kata lain biaya asimetri utang lebih kecil dibandingkan
dengan biaya asimetri saham.

Karena biaya asimetri saham cenderung paling besar, manajer akan enggan untuk menerbitkan
saham. Saham menjadi alternatif paling akhir dalam upaya mencari dana. Dana internal praktis
bebas dari biaya asimetri informasi, karena itu dana internal akan dipilih pertama kali jika
perusahaan mebutuhkan dana. Jika kebutuhan dana masih ada, maka perusahaan akan
menerbitkan utang. Jika kebutuhan dana masih ada, maka langkah terakhir adalah penerbitan
saham.

Teori asimetri tersebut bisa digunakan untuk menjelaskan teori packing order (perusahaan
memilih dana internal, dan menggunakan penerbitan sebagai langkah terakhir). Dalam konteks
asimetri informasi, penerbitan saham yang paling kecil (urutan paling rendah), disebabkan biaya
asimetri saham adalah yang paling besar. Utang mempunyai asimetri yang lebih rendah
dibandingkan saham. Dana internal bebas dari biaya asimetri, oleh karena itu dana internal
mempinyai asimetri paling kecil. Karenanya, urut-urutan preferensi penggunaan berdasarkan
asimetri biaya adalah :
1. Dana Internal
2. Utang
3. Penerbitan
Oleh karena itu model asimetri informasi bisa dipakai menjelaskan stuktur modal.

Tetapi dengan adanya asimetri informasi memungkinkan adanya konflik yang terjadi antara
principal dan agent untuk saling mencoba memanfatkan pihak lain untuk kepentingan sendiri.
Eisenhardt (1989) mengemukakan tiga asumsi sifat dasar manusia yaitu:

manusia pada umunya mementingkan diri sendiri (self interest),

manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality)

manusia selalu menghindari resiko (risk adverse).

Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia tersebut menyebabkan bahwa informasi yang dihasilkan
manusia untuk manusia lain selalu dipertanyakan reliabilitasnya dan dapat dipercaya tidaknya
informasi yang disampaikan.

4 Macam Asimetri Informasi

Menurut Scott (2000), ada dua macam asimetri informasi:

Adverse Selection

Adverse selection adalah jenis asimetri informasi dalam mana satu pihak atau lebih yang
melangsungkan atau akan melangsungkan suatu transaksi usaha, atau transaksi usaha potensial
memiliki informasi lebih atas pihak-pihak lain. Adverse selection terjadi karena beberapa orang
seperti manajer perusahaan dan para pihak dalam (insiders) lainnya lebih mengetahui kondisi
kini dan prospek ke depan suatu perusahaan daripada para investor luar.

Para manajer serta orang-orang dalam lainnya biasanya mengetahui lebih banyak tentang
keadaan dan prospek perusahaan dibandingkan investor pihak luar. Dan fakta yang mungkin
dapat mempengaruhi keputusan yang akan diambil oleh pemegang saham tersebut tidak
disampaikan informasinya kepada pemegang saham.

Moral Hazard

Moral hazard adalah jenis asimetri informasi dalam mana satu pihak yang melangsungkan atau
akan melangsungkan suatu transaksi usaha atau transaksi usaha potensial dapat mengamati
tindakan-tindakan mereka dalam penyelesaian transaksi-transaksi mereka sedangkan pihak-pihak
lainnya tidak. Moral hazard dapat terjadi karena adanya pemisahan pemilikan dengan
pengendalian yang merupakan karakteristik kebanyakan perusahaan besar.

Kegiatan yang dilakukan oleh manajer tidak seluruhnya diketahui oleh pemegang saham maupun
pemberi pinjaman. Sehingga manajer dapat melakukan tindakan di luar pengetahuan pemegang
saham yang melanggar kontrak dan sebenarnya secara etika atau norma mungkin tidak layak
dilakukan.

Daftar Pustaka

Mamduh Hanafi. 2004.Manajemen Keuangan. Cetakan Pertama. Penerbit BPFE :Yogyakarta.

http://nyariduitreceh.blogspot.com/2011/04/asimetri-informasi.html

http://ilmuakuntansi.web.id/pengertian-asimetri-informasi
Resiko
Para pembuat keputusan dalam setiap permasalahan merupakan para pembuatan keputusan yang
menggenggam kepastian dalam dunia yang tidak pasti. Mereka ingin tahu apa yang akan terjadi
bukan apa yang mungkin terjadi. Seperti pembuatan keputusan ini, kebanyakan dari kita gagal
untuk menerima bahwa banyak keputusan harus dibuat dalam menghadapi ketidakpastian.
Sebaliknya, kita cenderung ingin dan percaya bahwa jika kita bekerja cukup keras, kita dapat
mengontrol hasil. Dawes (1988) telah mengamati bahwa cara yang umum untuk mengatasi
ketidakpastian adalah dengan mengabaikannya.
Langer (1975) telah mendokumentasikan bahwa kecenderungan ini sering diterjemahkan ke
dalam keyakinan yang tidak tepat yang kebetulan tidak melibatkan ketrampilan dan dapat di
kontrol. Penjudi cenderung melempar dadu lebih keras ketika mereka mencoba untuk menggapai
(roll) angka tinggi (Dawes, 1998). Pembeli tiket undian percaya bahwa kemampuan mereka
untuk memilih jumlah akan meningkatkan kemungkinan mereka untuk menang. Dowes
berpendapat bahwa manusia memiliki kebutuhan patologis untuk tahu sekarang dalam situasi
yang mengandung ketidakpastian yang melekat. Ia menegaskan bahwa kebutuhan untuk
meniadakan ketidakpastian sering menyebabkan orang mengambil kredibilitas terlalu banyak
untuk keberhasilan dan terlalu banyak disalahkan atas kegagalan.
Suatu tindakan atau kebijakan administrasi bisnis membutuhkan pengambilan keputusan
berdasarkan beberapa alternatif pemilihan keputusan. Dalam pengambilan keputusan, harus
disertai sasaran yang jelas yang ingin dicapai. Dalam mencapai sasaran yang diinginkan, terdapat
beberapa tindakan yang harus dipilih sebagai keputusan tindakan. Masing-masing dari beberapa
alternatif tindakan perlu diukur manfaat atau biaya yang dihasilkannya. Tentunya dalam
pengambilan keputusan, terdapat situasi ketidakpastian mengenai hasil yang dicapai, di mana
terdapat risiko yang akan selalu mungkin terjadi.

1. Pengertian Resiko
Menurut Frank Knight yang dikutip dalam Robison dan Barry (1987), risiko menunjukkan
peluang terhadap suatu kejadian yang dapat diketahui oleh pembuat keputusan yang didasarkan
pada data historis dan pengalaman selama mengelola kegiatan usaha. Risiko juga menunjukkan
peluang terjadinya peristiwa yang menghasilkan pendapatan di atas atau di bawah rata-rata dari
pendapatan yang diharapkan. Sementara itu, Debertin (1986) menyatakan bahwa kejadian
berisiko adalah kejadian dimana peluang dan hasil dari kejadian tersebut dapat diketahui oleh
pembuat keputusan. Risiko dapat pula diartikan sebagai kemungkinan kejadian yang merugikan.
Menurut M, risiko merupakan peluang terjadinya hasil yang tidak diinginkan sehingga risiko
hanya terkait dengan situasi yang memungkinkan munculnya hasil negatif serta berkaitan dengan
kemampuan memperkirakan terjadinya hasil negatif tersebut.
Risiko berhubungan dengan ketidakpastian, akan tetapi terdapat perbedaan mendasar antara
risiko dan ketidakpastian. Menurut Robison dan Barry (1987), risiko adalah peluang dari suatu
kejadian yang dapat diperhitungkan dan akan memberikan dampak negatif yang dapat
menimbulkan kerugian, sedangkan ketidakpastian adalah peluang dari suatu kejadian yang tidak
dapat diperhitungkan oleh pebisnis selaku pengambil keputusan. Djohanputro (2006)
menyatakan risiko sebagai ketidakpastian yang telah diketahui tingkat probabilitas kejadiannya.
Menurut Kountur (2004) ketidakpastian ini terjadi akibat kurangnya atau tidak tersedianya
informasi yang menyangkut apa yang akan terjadi. Ketidakpastian yang dihadapi oleh
perusahaan dapat berdampak merugikan atau menguntungkan. Apabila ketidakpastian yang
dihadapi berdampak menguntungkan maka disebut dengan istilah kesempatan (opportunity),
sedangkan ketidakpastian yang berdampak merugikan disebut sebagai risiko.

2 Cara Mengatasi Resiko

Resiko adalah kejadian yang tidak diinginkan merupakan bagian dari kehidupan yang dapat
terjadi tetapi tidak selalu dapat dihindari. Beberapa cara yang biasanya dipakai dalam
menghadapi resiko.
· Menghindari resiko ( avoiding risk ) yaitu menghindari penyebab timbulnya resiko.
Menghindari risiko merupakan strategi yang sangat penting, strategi ini merupakan strategi yang
umum digunakan untuk menangani risiko. Dengan menghindari risiko, kontraktor dapat
mengetahui bahwa perusahaannya tidak akan mengalami kerugian akibat risiko yang telah
ditafsir. Di sisi lain, kontraktor juga akan kehilangan sebuah peluang untuk mendapatkan
keuntungan yang mungkin didapatkan dari asumsi risiko tersebut.
Contohnya : seorang kontraktor yang ingin menghindari risiko politik dan finansial berkaitan
dengan proyek pada negara dengan kondisi politik yang tidak stabil, dapat menolak melakukan
tender proyek pada negara tersebut. Namun demikian, apabila kontraktor tersebut menolak untuk
melakukan tender, maka kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan dari proyek tersebut juga
ikut menghilang.
· Mengurangi resiko ( reducing risk ) yaitu memperkecil kemungkinan atau probabilitas
untuk terjadinya resiko tersebut atau memperkecil kerugian atau akibat resiko yang mungkin
terjadi. Dengan strategi seperti itu, risiko dapat ditahan dengan berbagai cara, tergantung pada
filosofi, Alternatif strategi yang kedua adalah mencegah risiko dan mengurangi kerugian.
Strategi ini secara langsung mengurangi potensi risiko kontraktor dengan 2 cara, yaitu :
1.Mengurangi kemungkinan terjadinya risiko.
2.Mengurangi dampak finansial dari risiko, apabila risiko tersebut benar benar terjadi.
Contohnya : pemasangan alarm atau alat anti maling pada peralatan di proyek, akan mengurangi
kemungkinan terjadinya pencurian. Sebuah gedung yang dilengkapi dengan sprinkler system,
akan mengurangi dampak finansial, apabila gedung tersebut mengalami kebakaran.
· Mengasuransikan resiko ( shifting the risk into an insurance company ) yaitu
memindahkan resiko yang bakal terjadi keperusahaan asuransi. Asuransi menjadi bagian penting
dari program manajemen risiko, baik untuk sebuah organisasi ataupun untuk individu. Asuransi
juga termasuk di dalam strategi transfer risiko, dimana pihak asuransi setuju untuk menerima
beban finansial yang muncul dari adanya kerugian. Secara formal, asuransi dapat didefinisikan
sebagai kontrak persetujuan antara 2 pihak yang terkait yaitu : pengasuransi (insured) dan pihak
asuransi (insurer). Dengan adanya persetujuan tersebut, pihak asuransi (insurer) setuju untuk
mengganti rugi kerugian yang terjadi (seperti yang tercantum dalam kontrak) dengan balasan,
pengasuransi (insured) harus membayar sejumlah premi tiap periodenya.

3 Sikap Terhadap Resiko


Dalam menjalankan usaha atau bisnis perusahaan, manajemen dalam menghadapi resiko dapat
menentukan sikap terhadap resiko tersebut, yaitu
· Menghindar dari resiko ( risk avers ), perusahaan akan menghitung mana yang lebih besar
antara resiko dan harapan keuntungan. Bila resiko lebih besar dari keuntungan, maka manajemen
yang masuk kelompok risk avers akan menghindar dari usaha tersebut.
· Netral terhadap resiko ( risk netral ) yaitu sikap rasional dalam menghadapi resiko, bila
peluang usaha mempunyai harapan keuntungan yang akan diperoleh dan juga peluang resiko
mungkin juga terjadi.
· Senang bermain dengan resiko ( risk preferer ) yaitu perilaku individu yang bersedia
mengambil resiko. Risk preferer cenderung menganggap resiko sebagai sesuatu hal yang tidak
perlu dikhawatirkan.

4 Mengukur Resiko
Besar kecilnya resiko dapat diukur dengan konsep statistik, yaitu teori probabilitas (Pi).
Probabilitas adalah peluang timbulnya kejadian antara 0 ≤ P ≤ 1, maksutnya adalah Masalah
ketidakpastian dicoba untuk dapat diukur atau dikuantifisir dengan suatu konsep Probabilitas
(probability, kemungkinan). Probabilitas (P) dinyatakan dalam angka-angka 0 sampai 1.
Probabilitas (P) = 0, artinya suatu peristiwa atau kejadian mempunyai kemungkinan terjadi 0%
atau dengan kata lain peristiwa itu tidak mungkin terjadi. Di lain pihak, apabila suatu peristiwa
atau kejadian dinyatakan probabilitasnya (P) = 1, berarti bahwa peristiwa atau kejadian itu 100%
pasti terjadi.
Jenis kejadian (event) menurut probabilitas adalah
· Kejadian yang pasti terjadi ( certainly event ) bila Pi=1
· Kejadian yang tidak mungkin terjadi (impossible event ) bila Pi=0
· Kejadian yang mungkin terjadi ( possible event ) bila 0 ≤ P ≤ 1

5 Nilai Harapan (Expected Value) dan Resiko (Risk)


Dari sudut manajemen nilai harapan dan risiko berkaiatan dengan keputusan yang akan dibuat
sekarang untuk dilaksanakan dimasa yang akan datang.
Nilai rata-rata yang diharapkan (Expected Value)
E(x) = ΣXi.Pi
Xi = even / kejadian
Pi = Probabilitas terjadinya Xi
E(x) dalam statistik diskriptif dikenal dengan rata-rata hitung probabilitas, dinotasikan Pi adalah
besarnya peluang untuk terjadinya suatu kejadian dari beberapa alternatif kemungkinan.

6 Langkah-Langkah Pengambilan Keputusan


a. Perumusan Masalah
Langkah ini sebagai awal menentukan batasan-batasan keputusan yang akan dibuat yang
mencakup penentuan alternative-alternatif yang akan ditanyakan seperti:
· Masalah apa yang dihadapi
· Siapa yang memutuskan
· Bagaimana keadaan yang melatarbelakangi pengambilan keputusan
· Bagaimana pengaruhnya terhadap tujuan-tujuan manajemen

Dalam langkah ini keputusan yang dibuat tidak dalam ruang hampa udara melainkan dibuat
berdasarkan fakta dan data yang akan dipakai dalam pengambilan keputusan.

b. Penentuan Tujuan
Pada tahap ini pertanyaan yang diajukan untuk antara lain
· Apa tujuan pengambilan keputusan
· Bagaimana seharusnya pengambil keputusan tersebut menilai hasilnya dibandingkan
tujuannya
· Bagaimana jika pengambil keputusan tersebut ingin mencapai tujuan yang
bertentangan satu sama lain

c. Pencarian Alternatif
Pada tahap ini ada beberapa hal yang perlu diajukan yaitu:
· Apa alternative untuk pencapain tujuan
· Variabel apa saja yang dapat kita kendalikan
· Apa kendala yang kita hadapi dalam pencapaian tujuan
· Seorang pengambil keputusan yang ideal, akan membuka semua kemungkinan pilihan
yang ada dan kemudian memilih satu diantaranya yang akan memberikan hasil terbaik
bagi pencapaian tujuannya.

d. Peramalan Dampak
Pada tahap ini yang perlu dipahami adalah:
· Bagaiman konsekuensi dari setiap pilihan
· Jika hasil yang diharapkan tidak pasti bagaimana sifatnya
· Dapatkan informasi yang lebih baik diperoleh untuk meramalkan suatu hasil
· Tugas peramalan konsekuensi ini tergantung pada keadaannya bisa dilakukan secara
langsung atau diabaikan sama sekali.
e. Penentuan Pilihan
Seteleah semua analisis selesai dilakukan, kita dapat menentukan pilihan yang paling dingiinkan
yaitu:
· Seorang pengambil keputusan menetapkan konteks permasalahan
· Menetapkan tujuan
· Mengidentifikasi alternative yang tersedia
· Bagaimana caranya untuk memilih satu pilihan yang diinginkan

f. Analisis Sensitivitas
Pada tahap akhir ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:
· Bagaimana sifat dari masalah yang menentukan pilihan tindakan yang optimal
· Bagaimana pengaruh perubahan tertentu terhadap optimal yang diambil
· Apakah pilihan tersebut peka terhadap perubahan variabel-variabel ekonomi utama
yang terabaikan oleh pengambil keputusan.

· Kegunaan dari analisis sensitivitas, yaitu


· memberikan informasi faktor-faktor kunci dalam permasalahan yang mempengaruhi
keputusan.
· menelusuri pengaruh perubahan-perubahan variabel yang tidak diyakini manajer.
· menghasilkan solusi dalam kasus proses pengulangan pengambilan keputusan jika
keadaan-keadaan tertentu dimodifikasi

7 Teknik pengambilan keputusan dalam ketidakpastian


1. Teknik Optimasi
Manusia terlahir sebagai mahluk yang tak pernah puas. Manusia memiliki sejumlah besar
kebutuhan dan lebih banyak lagi keinginan. Disisi lain, sumber daya ekonomi sebagai pemuas
kebutuhan dan keinginan manusia relatif langka. Dua hal ini memberikan latar belakang yang
kontradiktif dan mengharuskan manusia memilih. Maka manusia selaku homoekonomicus akan
senantiasa berupaya menetapkan pilihan yang terbaik sebagai solusi optimal yang dapat
dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan yang nyaris tanpa batas itu. Lalu, apa
dan bagaimanakah alternatif pilihan yang optimal itu? Apakah konsep maksimalisasi sama
dengan optimalisasi?. Dari aspek Manajerial, pilihan yang optimal merupakan solusi yang efektif
dan efisien. Secara harpiah, kata efektif dapat dipadankan dengan kata berdaya guna, sedangkan
efisien lebih bersesuaian makna dengan kata berhasil guna. Pilihan yang efektif merujuk pada
alternatif proses produksi untuk mencapai output maksimal pada level penggunaan input yang
sudah ditetapkan besarannya, sementara pilihan yang efisien merujuk kepada alternatif proses
produk untuk mencapai besaran out put tertentu dengan penggunaan input minimal. Dari uraian
ini, dapat disimpulkan bahwa optimalisasi mencakup terminologi maksimalisasi output dan
minimalisasi input atau biaya. Pemahaman atas solusi optimal ini dapat diterapkan baik pada
kajian tentang perilaku produksi maupun prilaku konsumsi.
2. Teknik Analisis Resiko
Risiko adalah hal yang tidak akan pernah dapat dihindari pada suatu kegiatan / aktivitas yang
dilakukan manusia, termasuk aktivitas proyek pembangunan dan proyek konstyruksi. Karena
dalam setiap kegiatan, seperti kegiatan konstruksi, pasti ada berbagai ketidakpastian
(uncertainty). Faktor ketidakpastian inilah yang akhirnya menyebabkan timbulnya risiko pada
suatu kegiatan.
3. Teknik Pendugaan/Peramalan
Tujuan dari peramalan ekonomi adalah untuk mengurangi resiko atau ketidak pastian yang
dihadapi suatu perusahaan dalam pengambilan keputusan operasional jangka pendeknya dan
dalam merencanakan pertumbuhan jangka panjangnya. Teknik peramalan bervariasi dari yang
sederhana dan tidak mahal hingga yang canggih tetapi mahal. Dengan mempertimbangkan
semua keuntungan dan batasan dari berbagai macam teknik ramalan tersebut, manajer dapat
memilih metode atau kombinasi dari metode yang paling cocok dengan perusahaannya.
Peramalan kualitatif dalam didasari oleh survei terhadap rencana para eksekutif bisnis untuk
rencana pengeluaran pembangunan dan peralatan, perubahan inventori, dan harapan penjualan,
serta survei terhadap rencana pengeluaran konsumen. Ramalan penjualan dapat didasari oleh
jajak pendapat terhadap eksekutif perusahaan, tenaga penjual, dan konsumen perusahaan
biasanya meminta pandangan dari pejabat luar negeri atau orang-orang bisnis.