You are on page 1of 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN

OSTEOARTHRITIS

Pembimbing Akademik
Abu Bakar Siddik, S.Kep

Pembimbing Klinik
Miming Oksiandi, S.Kep., Ns., M.Kes., M.Kep

Disusun Oleh:
1. Dewi Purnama Sari 15.14201.31.02
2. Putri Dwi Cahyanti 15.14201.31.03
3. Anggita Nadya 15.14201.31.05
4. Anggun Ledia 15.14201.31.06
5. Juairia 15.14201.31.07
6. Syakinah Mardhatillah 15.14201.31.09

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BINA HUSADA
PALEMBANG
2018
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Topik : Penyuluhan Osteoarthritis
Hari/Tanggal : Jumat, 23 November 2018
Waktu : 09.00 s/d Selesai

1. Analisa Situasional
Penyuluh : Mahasiswa STIK Bina Husada Palembang
Peserta : Pasien Panti Jompo Tresna Werdha Teratai Dengan Osteoarthritis
Tempat: Aula Panti Jompo Tresna Werdha Teratai

2. Tujuan
a. Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan tentang osteoarthritis, diharapkan pasien
lebih mengerti dan mengetahui tentang tindakan yang dilakukan dalam
mengatasi masalah osteoarthritis.
b. Tujuan khusus
Setelah diberikan penyuluhan, diharapkan pasien mampu:
1) Mengetahui pengertian osteoarthritis
2) Mengetahui penyebab osteoarthritis
3) Mengetahui tanda dan gejala osteoarthritis
4) Mengetahui cara mengatasi osteoarthritis

3. Sasaran
Pasien di panti jompo tresna werdha teratai Palembang

4. Garis Besar Materi


1. Pengertian osteoarthritis
2. Penyebab osteoarthritis
3. Tanda dan gejala osteoarthritis

5. Metode
a. Ceramah
b. Tanya Jawab

6. Media
a. Poster
b. Leaflet

7. Pelaksanaan Kegiatan
Tahap kegiatan Kegiatan perawat Kegiatan klien Media

Pembukaan Salam pembuka Mendengarkan ceramah


(5 menit) memperkenalkan diri keterangan pengaji
menjelaskan maksud
dan tujuan
menghidupkan laptop
dan proyektor
Penyajian 1. Menyampaikan Memperhatikan dan ceramah
(15 menit) materi: mendengarkan
Menjelaskan keterangan penyaji
pengertian
osteoarthritis
2. Menjelaskan
penyebab
osteoarthritis
3. Menjelaskan
tanda dan gejala
osteoarthritis
4. Menjelaskan
pencegahan
penyakit
osteoarthritis
Penutup Menjelaskan Tanya Mendengarkan dan ceramah
(10 menit) jawab menutup bertanya
pertemuan

8. Pengorganisasian
Moderator : Syakinah Mardhatillah
Penyaji : Anggun Ledia
Notulen : Anggita Nadya
Dokumentasi : Dewi Purnama Sari
Anggota : Juairia
Putri Dwi Cahyanti

9. Tahap Kerja

a. Salam Penyuluhan
Penyuluhan memperkenalkan diri

b. Penjelasan Memperkenalkan Diri


Saudara /saudari peserta perlu diketahui bahwa tujuan dari
penyuluhan ini adalah diharapkan pasien lebih mengerti dan mengetahui
tentang tindakan yang dilakukan dalam mengatasi masalah osteoarthritis.

c. Langkah-langkah kegiatan penyuluhan:


1. Penjelasan tujuan dilaksanakannya penyuluhan tentang Osteoarthritis
2. Menjelaskan materi tentang Osteoarthritis
3. Berdiskusi dengan peserta penyuluhan, yang dibagi menjadi 2 sesi,
dengan masing-masing sesi terdapat dua pertanyaan.

10. Evaluasi
a. Evaluasi respon subjektif
Meminta salah seorang peserta menyebutkan isi kesimpulan penyuluhan
yang telah diberikan
b. Evaluasi respon objektif
Observasi respon perilaku audiens selama penyuluhan
c. Tindak Lanjut
Audiens dapat memahami dan menerapkan cara yang dilakukan dalam
mengatasi osteoarthritis.

KONSEP PENYAKIT
1. Pengertian

Osteoartritis atau rematik adalah penyakit sendi degeneratif dimana terjadi


kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan berhubungan
dengan usia lanjut, terutama pada sendi-sendi tangan dan sendi besar yang
menanggung beban.
Secara klinis osteoartritis ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran
sendi dan hambatan gerak pada sendi-sendi tangan dan sendi besar. Seringkali
berhubungan dengan trauma maupun mikro trauma yang berulang-ulang,
obesitas, stress oleh beban tubuh dan penyakit-penyakit sendi lainnya.

2. Penyebab
Etiologi penyakit ini tidak diketahui secara pasti. Namun ada beberapa
faktor resiko yang diketahui berhubungan dengan penyakit ini, antara lain;
1. Usia lebih dari 40 tahun
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor penuaan
adalah yang terkuat. Akan tetapi perlu diingat bahwa osteoartritis bukan
akibat penuaan saja. Perubahan tulang rawan sendi pada penuaan berbeda
dengan eprubahan pada osteoartritis.
2. Jenis kelamin wanita lebih sering
Wanita lebih sering terkena osteosrtritis lutut dan sendi. Sedangkan
laki-laki lebih sering terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan dan
leher. Secara keseluruhan, dibawah 45 tahun, frekuensi osteoartritis kurang
lebih sama antara pada laki-laki dan wanita, tetapi diats usia 50 tahun
(setelah menopause) frekuensi osteoartritis lebih banyak pada wanita dari
pada pria. Hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada patogenesis
osteoartritis.
3. Suku bangsa
Nampak perbedaan prevalensi osteoartritis pada masingn-masing
suku bangsa. Hal ini mungkin berkaitan dnegan perbedaan pola hidup
maupun perbedaan pada frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan
tulang.
4. Genetik
5. Kegemukan dan penyakit metabolik
Berat badan yang berlebih, nyata berkaitan dengan meningkatnya
resiko untuk timbulnya osteoartritis, baik pada wanita maupun pria.
Kegemukan ternyata tidak hanya berkaitan dengan osteoartritis pada sendi
yang menanggung beban berlebihan, tapi juga dnegan osteoartritis sendi
lain (tangan atau sternoklavikula). Oleh karena itu disamping faktor
mekanis yang berperan (karena meningkatnya beban mekanis), diduga
terdapat faktor lain (metabolit) yang berperan pada timbulnya kaitan
tersebut.
6. Cedera sendi, pekerjaan dan olahraga
Pekerjaan berat maupun dengan pemakaian satu sendi yang terus
menerus berkaitan dengan peningkatan resiko osteoartritis tertentu.
Olahraga yang sering menimbulkan cedera sendi yang berkaitan dengan
resiko osteoartritis yang lebih tinggi.
7. Kelainan pertumbuhan
Kelainan kongenital dan pertumbuhan paha telah dikaitkan dengan
timbulnya oateoartritis paha pada usia muda.
8. Kepadatan tulang
Tingginya kepadatan tulang dikatakan dapat meningkatkan resiko
timbulnya osteoartritis. Hal ini mungkin timbul karena tulang yang lebih
padat (keras) tidak membantu mengurangi benturan beban yang diterima
oleh tulang rawan sendi. Akibatnya tulang rawan sendi menjadi lebih
mudah robek.

3. Tanda dan Gejala

Gejala utama dari osteoartritis adalah adanya nyeri pada sendi yang
terkena, terutama waktu bergerak. Umumnya timbul secara perlahan-lahan.
Mula-mula terasa kaku, kemudian timbul rasa nyeri yang berkurang dengan
istirahat. Terdapat hambatan pada pergerakan sendi, kaku pagi, krepitasi,
pembesaran sendi dan perubahan gaya jalan. Lebih lanjut lagi terdapat
pembesaran sendi dan krepitasi.
Tanda-tanda peradangan pada sendi tidak emnonjol dan timbul
belakangan, mungkin dijumpai karena adanya sinovitis, terdiri dari nyeri
tekan, gangguan gerak, rasa hangat yang merata dan warna kemerahan, antara
lain:
1. Nyeri sendi
Keluhan ini merupakan keluhan utama. Nyeri biasanya bertambah dengan
gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan tertentu
kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri yang lebih dibandingkan gerakan
yang lain.
2. Hambatan gerakan sendi
Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan-pelan
sejalan dengan bertambahnya rasa nyeri.
3. Kaku pada waktu pagi
Pada beberapa pasien, nyeri sendi yang timbul setelah immobilisasi,
seperti duduk dari kursi, atau setelah bangun dari tidur.
4. Krepitasi
Rasa gemeretak (kadang-kadang dapat terdengar) pada sendi yang sakit.
5. Pembesaran sendi (deformitas)
Pasien mungkin menunjukkan bahwa salah satu sendinya (lutut atau
tangan yang paling sering) secara perlahan-lahan membesar.
6. Perubahan gaya berjalan
Hampir semua pasien osteoartritis pergelangan kaki, tumit, lutut atau
panggul berkembang menjadi pincang. Gangguan berjalan dan gangguan
fungsi sendi yang lain merupakan ancaman yang besar untuk kemandirian
pasien yang umumnya tua (lansia).

4. Penatalaksanaan

1. Medikamentosa
Tidak ada pengobatan medikamentosa yang spesifik, hanya bersifat
simtomatik. Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) bekerja hanya sebagai
analgesik dan mengurangi peradangan, tidak mampu menghentikan proses
patologis
2. Istirahatkan sendi yang sakit, hindari aktivitas yang berlebihan pada sendi
yang sakit.
3. Mandi dengan air hangat untuk mengurangi rasa nyeri
4. Lingkungan yang aman untuk melindungi dari cedera
5. Dukungan psikososial
6. Fisioterapi dengan pemakaian panas dan dingin, serta program latihan
yang tepat
7. Diet untuk menurunkan berat badan dapat mengurangi timbulnya keluhan
8. Diet rendah purin:
Tujuan pemberian diet ini adalah untuk mengurangi pembentukan asam
urat dan menurunkan berat badan, bila terlalu gemuk dan
mempertahankannya dalam batas normal. Bahan makanan yang boleh dan
yang tidak boleh diberikan pada penderita osteoarthritis:
Golongan bahan Makanan yang boleh Makanan yang tidak boleh
makanan diberikan diberikan
Karbohidrat Semua --
Protein hewani Daging atau ayam, ikan Sardin, kerang, jantung, hati,
tongkol, bandeng 50 gr/hari, usus, limpa, paru-paru, otak,
telur, susu, keju ekstrak daging/ kaldu, bebek,
angsa, burung.
Protein nabati Kacang-kacangan kering 25 --
gr atau tahu, tempe, oncom

Lemak Minyak dalam jumlah --


terbatas.

Sayuran Semua sayuran sekehendak Asparagus, kacang polong,


kecuali: asparagus, kacang kacang buncis, kembang kol,
polong, kacang buncis, bayam, jamur maksimum 50
kembang kol, bayam, jamur gr sehari
maksimum 50 gr sehari

Buah-buahan Semua macam buah --

Minuman Teh, kopi, minuman yang Alkohol


mengandung soda
Bumbu, dll Semua macam bumbu Ragi

5. Patofisioligi
Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema,
kongesti vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular. Peradangan yang
berkelanjutan, sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular
kartilago dari sendi. Pada persendian ini granulasi membentuk pannus, atau
penutup yang menutupi kartilago. Pannus masuk ke tulang sub chondria.
Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan pada
nutrisi kartilago artikuer. Kartilago menjadi nekrosis.
Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan
sendi. Bila kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara
permukaan sendi, karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis).
Kerusakan kartilago dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah
dan bisa menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendian. Invasi dari
tulang sub chondrial bisa menyebkan osteoporosis setempat.
6. Pemeriksaan Diagnostik
1) Tes serologi
 Sedimentasi eritrosit meningkat
 Darah, bisa terjadi anemia dan leukositosis
 Rhematoid faktor, terjadi 50-90% penderita
2. Pemerikasaan radiologi
 Periartricular osteoporosis, permulaan persendian erosi
 Kelanjutan penyakit: ruang sendi menyempit, sub luksasi dan ankilosis
3. Aspirasi sendi
Cairan sinovial menunjukkan adanya proses radang aseptik, cairan
dari sendi dikultur dan bisa diperiksa secara makroskopik.
DAFTAR PUSTAKA

Adnan Zainal. 2007. Mekanisme Gangguan Sendi (Osteoartritis) Dan


Pengelolaannya. Online http://perpustakaan.uns.ac.id, diakses 12 januari 2012.

Soeroso , Joewono, dkk. 2006 . Osteoartritis. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,


Simadibrata M, Setiati S, editors. Buku ajar ilmu penyakit dalam. 4th ed. Jakarta:
Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Indonesia.

Imayati, K. 2011. Laporan Kasus Osteoarthritis. Bagian IlmuPenyakit


Dalam.Denpasar: Fakultas Kedokteran. Universitas Udayana(online) yang diakses
tanggal 19 Oktober 2015.