You are on page 1of 10

LAPORAN PRAKTIKUM

HIGIENE PANGAN

UJI RESIDU ANTIBIOTIK PADA SUSU KAMBING

FELSIATRI AGNESIA JEDAUT 1509010013

NELSI KURNIAWATI ROHI 1509010015

YUSINTA VERONIKA NAWA 1509010017

FRITS B. H. FRANCIS 1509010019

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

KUPANG

2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Susu merupakan cairan yang berasal dari ambing ternak perah sehat dan bersih.
Diperoleh dengan cara pemerahan yang benar sesuai ketentuan yang berlaku. Kandungan
alaminya tidak dikurangi atau ditambah sesuatu apapun dan belum mendapat perlakuan
apapun, kecuali proses pendinginan.

Antibiotika merupakan zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi
yang dapat menghambat pertumbuhan atau dapat membasmi mikroba jenis lain dan
merupakan segolongan senyawa, baik alami maupun sintesik. Antibiotika mempunyai
efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya
dalam proses infeksi oleh bakteri.

Residu antibiotika merupakan zat antibiotika termasuk metabolitnya yang


terkandung dalam daging, telur dan susu, baik sebagai akibat langsung maupun tidak
langsung dari penggunaan antibiotika (SNI 7424: 2008). Residu obat seperti antibiotik
dapat dijumpai pada daging maupun susu bila pemakaian obat-obatan hewan tidak sesuai
dengan petunjuk yang diberikan, misalnya waktu henti obat tidak dipatuhi menjelang
hewan akan dipotong.

Adanya residu antibiotika pada susu dapat mengakibatkan terhambatnya


pertumbuhan starter yoghurt yang berakibat gagalnya proses fermentasi.

1.2 Tujuan
 Untuk mengetahui cara pengujian residu antibitik pada susu kambing
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi susu

Susu adalah cairan yang berasal dari ambing ternak perah yang sehat dan bersih
yang diperoleh dengan cara pemerahan yang benar sesuai ketentuan yang berlaku yang
kandungan alaminya tidak dikurangi atau ditambah sesuatu apapun dan belum mendapat
perlakuan apapun kecuali proses pendinginan (BSN 2008).

Susu merupakan hasil utama pada usaha budidaya ternak perah. Susu yang
dihasilkan harus memenuhi syarat ASUH yaitu aman, sehat, utuh, dan halal (Hidayat
2010). Hal ini membutuhkan perhatian khusus karena susu merupakan sumber utama
yang paling memungkinkan terjadinya foodborne disease pada masyarakat, terutama
anak-anak. Foodborne disease bisa disebabkan oleh virus, bakteri, cendawan, dan residu
antibiotika (Gustiani 2009).

2.2 Residu Antibiotik pada susu

Residu antibiotika adalah senyawa asal dan/atau metabolitnya yang terdapat


dalam jaringan produk hewani dan termasuk residu hasil uraian lainnya dari antibiotika
tersebut. Residu dalam bahan pangan meliputi senyawa asal yang tidak berubah,
metabolit dan/atau konjugat lain. Beberapa metabolit obat diketahui bersifat kurang atau
tidak toksik dibandingkan dengan senyawa asalnya, namun beberapa metabolit bersifat
lebih toksik (Lukman 2010).

Menurut Bishop (2005), penggunaan produk obat-obatan dalam menangani


berbagai permasalahan kesehatan di peternakan dapat menyebabkan terjadinya residu
dalam susu dan mempengaruhi kualitas susu tersebut. Kehadiran substansi antimikrobial
dalam susu seperti residu antibiotika dapat mengakibatkan masalah kesehatan yang
serius. Hadirnya residu antibiotika dalam susu dapat diakibatkan oleh tidak
diperhatikannya withdrawal time antibiotika tersebut.
Adanya residu antibiotika pada susu dapat mengakibatkan terhambatnya
pertumbuhan starter yoghurt yang berakibat gagalnya proses fermentasi. Beberapa
antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan starter yoghurt diantaranya Penicillin,
Streptomycin, Tetracyclin, Chlortetracyline, Oxytetracy-cline, Bacitracin,
Erytromycin,Tetracyclin, Chloramphenicol dengan dosis penghambatan antara 0,01 IU
sampai 0,40 IU (Hui, 1992).

2.3 Dampak Residu Antibiotika

Residu antibiotika dalam makanan dan penggunaannya dalam bidang kedokteran


hewan berkaitan dengan aspek kesehatan, aspek teknologi, dan aspek lingkungan.
Ancaman potensial residu antibiotika dalam makanan terhadap kesehatan secara umum
dibagi menjadi tiga kategori, yaitu aspek toksikologis, aspek mikrobiologis, dan aspek
imunopatologis. Residu antibiotika bersifat toksik terhadap hati, ginjal, dan pusat
hemopoitika (pembentukan darah) bila ditinjau dari aspek toksikologis, sedangkan dari
aspek mikrobiologis, residu antibiotika dapat mengganggu mikroflora dalam saluran
pencernaan dan menyebabkan terjadinya resistensi mikroorganisme yang dapat
menimbulkan masalah kesehatan manusia dan hewan. Bahaya potensial residu antibiotika
dari aspek imunopatologis dapat menimbulkan reaksi alergi yang ringan dan lokal,
hingga menyebabkan shock yang berakibat fatal. Menurut Detha (2014) pengobatan
dengan antibiotik yang tidak sesuai prosedur yang tepat seringkali menimbulkan residu
dan dapat menyebabkan masalah yang sangat merugikan peternak hewan perah, industri
pengolah susu dan konsumen.Dampak negatif keberadaan residu antibiotika dalam bahan
pangan dari aspek teknologi pengolahan dapat menghambat atau menggagalkan proses
fermentasi yang menggunakan mikroba dalam pengolahannya (Lukman 2010)
BAB III

METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilakukan pada hari Rabu, tanggal 17 Oktober 2018, pukul 08.00
WITA sampai pukul 09.40 WITA, bertempat di laboratorium FKH Undana.
3.2 Materi
3.2.1 Alat
Tabung reaksi, jarum ose, cawan petri, bunsen, pinset, mikro pipet, batang L, jangka
sorong.
3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan adalah susu kambing PE, alkohol 70%, blank cakram, cakram
antibiotik, Nutrient Broth, Nutrient Agar, spiritus, biakan bakteri (S. aueus).
3.3 Langkah kerja
3.3.1 Metode difusi
1. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum.
2. Menuangkan media NB (Nutrient broth) dalam tabung reaksi, kemudian disetarakan
dengan standar Mc Farland 0,5. Jika NB (Nutrient broth) belum setara dengan Mc
Farland maka NB (Nutrient broth) ditambahkan dengan aquadest.
3. Mengambil kultur bakteri pada media miring sebanyak 1 ose, kemudian dimasukkan
kedalam media NB (Nutrient broth) dihomogenkan dan disetarakan dengan
konsentrasi 0,5 Mc Farland. Mc Farland adalah penyetaraan konsentrasi mikroba
dengn menggunakan larutan BaCl2 1% dan H2SO4 1%. Standar kekeruhan Mc
Farland ini dimasukkan untuk menggantikan perhitungan bakteri satu per satu dan
untuk memperkirakan kepadatan sel yang akan digunakan pada prosedur pengujian
antimikroba. Skala Mc Farland 0,5 setara dengan 150 CFU (108/mL) sel bakteri
(Sutton, 2011).
4. Setelah disetarakan dan hasil kekeruhan telah sama dengan standar Mc Farland 0,5.
5. Menuangkan NA (Nutrient agar) ke dalam cawan petri, kemudian dibiakan hingga
padat.
6. Mengambil 1 ml bakteri menggunakan mikropipet dalam NB (Nutrient broth) dan
dimasukkan ke dalam cawan petri yang berisi NA (Nutrient agar)
7. Meratakan bakteri menggunakan batang L.
8. Meletakkan cakram blank dan cakram antibiotik dalam cawan petri yang sudah
terdapat media.
9. Memasukkan 0,1 ml susu ke dalam blank cakram.
10. Menginkubasi selama 24 jam dan mengamati adanya zona hambat pada susu setelah
24 jam.
11. Menghitung zona hambat pada blank cakran dan blank antibiotik menggunakan
jangka sorong.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

No Gambar Keterangan
1.  Cakram blank : tidak terdapat
adanya zona hambat pada cakam
blank yang ditetesi susu sebanyak
0,1 ml. Artinya tidak ada antibiotik
pada susu yang ditetesi.
 Cakram antibiotik : terlihat adanya
zona hambat

2.  Pada cakram antibiotik


chloamphenicol yang dianggap
sebagai kontrol terlihat adanya zona
hambat.
Diamater zona bening adalah skala
utama + skala nonius.
Diketahui :
Skala utama : 2,3
Skala nonius : 0,2.
Jasi, diameter adalah 2,3 + 0,2 = 2,5
.

4.2 Pembahasan
Dari hasil yang telah diperoleh pada saat praktikum, diketahui bahwa cakram
blank yang ditetesi dengan susu 0,1 ml tidak memiliki zona hambat, susu kambing
peranakan etawa yang di ambil dari sumlili tidak mengandung residu antibiotik. Hal ini
disebabkan karena peternakan kambing perah sumlili tidak menggunakan antibiotik pada
ambing susu yang diperah ataupun kambing perah tidak dalam pengobatan pemberian
antibiotik.
Pada cakram Kloramfenikol sebagai kontrol terbentuk zona bening yang
berdiamater 2,5 karena Kloramfenikol merupakan penghambat sintesis protein yang kuat
pada mikroorganisme. Obat ini menghalangi pelekatan asam amino pada rantai peptide
yang baru timbul pada unit 50S pada ribosom, dengan mengganggu daya kerja peptidil
transferase. Kloramfenikol pada dasarnya bersifat bakteriostatik; spectrum; dosis serta
kadarnya dalam darah mirip dengan tetrasiklin. Resistensi kloramfenikol merupakan
akibat dari perusakan obat oleh suatu enzim yang dikendalikan oleh plasmid (Jawetz et
al., 2001).
Perkembangan resistensi kuman terhadap antibiotika sangat dipengaruhi oleh
intensitas pemaparan antibiotika di suatu wilayah, tidak terkendalinya penggunaan
antibiotika cenderung akan meningkatkan resistensi kuman yang semula sensitif
(Refdanita dkk, 2001).
BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Dari hasil dan pembahasan di atas dapat simpulkan sebagai berikut :

1. Penggunaan antibiotik yang tidak teratur dapat menyebabkan resistensi antibiotik.


2. Adanya zona bening yang terbentuk pada cakram kloromfenikol mengindikasikan tidak
adanya residu antibiotik pada susu kambing.
3. Tidak terbentuknya zona bening pada cakram yang telah ditetesi susu sebanyak 0,1 ml.
4. Diameter zona bening pada cakram antibiotik kloromfenikol sebesar 2,3.
DAFTAR PUSTAKA

[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2000. SNI No. 01-6366-2000 tentang Batas Maksimum
Cemaran Mikroba dan Batas Maksimum Residu dalam Bahan Makanan Asal Hewan.
Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.

Bishop MY, ed. 2005. The Veterinary Formula. Ed ke-6. Cambridge: Great Britain University
Press.
Detha A. 2014. Pengujian Residu Antibiotik Pada Susu. Jurnal Kajian Veteriner. Vol. 2 No. 2 :
203-208.

Gustiani E. 2009. Pengendalian cemaran mikroba pada bahan pangan asal ternak (daging dan
susu) mulai dari peternakan sampai dihidangkan. Litbang Pertanian 28(3): 96-100.

Hidayat A. 2010. Manajemen Kesehatan Pemerahan. Bandung: Dinas Peternakan Jawa Barat.

Lukman, DW. 2010. Residu antibiotika dalam pangan asal hewan. http://Penelitian Kesehatan
Masyarakat Veteriner/residu-antibiotik-dalampangan-asal_16.html [16 Juli 2010].