You are on page 1of 2

MOTIVATION LETTER

“Insan Abdi Masyarakat”

Nama saya Saeful Anwari yang mengandung arti “Pedang Tajam”, saya sebagai pedang
yang siap membantu dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, saya lahir
di daerah termuda yang ada di Jawa Barat, yaitu Kabupaten Pangandaran, Pangandaran
merupakan wilayah pesisir yang didominasi oleh masyarakat pesisir dengan tingkat pendidikan
dan ekonomi yang rendah, oleh karena itu saya bertekad menjadi pedang sebagai pemutus
rantai kemiskinan di daerah saya khususnya dan negara umumnya.
Sejak kecil saya diajarkan mengabdi kepada masyarakat karena peran dari orang tua,
orang tua saya sebagai ketua forum pemuda desa yang menggerakan karang taruna, usia muda
merupakan usia produktif sehingga saya tidak ingin menyianyiakan kesempatan ini untuk
kegiatan yang kurang berguna. Mulai dari SLTA saya dan rekan-rekan membentuk sebuah
forum yang dinamakan dengan “Rumah Plankton”yaitu suatu wadah minat literasi yang
diselenggarakan untuk masyarakat umum. Kami membangun sebuah perpustakaan kecil di
Pangandaran karena menyadari bahwa tingkat pendidikan dan minat literasi masyarakat pesisir
yang tergolong rendah, dan hal tersebut berlanjut hingga kuliah. Saya melanjutkan pendidikan
di Universitas Padjadjaran dengan program studi Ilmu Kelautan, program studi itu saya pilih
karena ketertarikan saya di dunia kelautan yang berhubungan dengan kondisi sosial
kemasyarakatan masyarakat pesisir, dan bermimpi menjadi agent of change untuk daerah
pesisir.
Saya berlatar belakang organisasi kepemudaan, yaitu Purna Paskibraka Indonesia, yang
mengajarkan kedisiplinan yang tinggi dan cinta tanah air, kemudian saya bergabung dengan
organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Padjadjaran Kabinet
Satya Graha 2018 dengan departemen sosial lingkungan, dari departemen tersebut sangat
berkorelasi dengan latar belakang saya yang bertujuan sebagai insan abdi masyarakat, hal itu
diwujudkan dengan ikut serta dalam pembangunan “Taman Ilmu” yaitu wadah minat literasi
untuk anak usia Taman Kanak-kanak dan Sekolah dasar agar gemar membaca dan belajar,
kemudian dari hal tersebut saya melangkah kepada hal yang lebih luas yaitu pemberdayaan
masyarakat dengan program “Lingkar Abdi Jatinangor” yang berlokasi di Jatinangor, hal
tersebut mendapat dukungan dari masyarakat dan mendapat apresiasi dari banyak pihak karena
program ini sebagai wujud dari pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sekitar kampus,
selanjutnya saya dan rekan-rekan kembali memberdayakan masyarakat di Desa Cipelah,
Kabupaten Bandung, dan mendapat dukungan dari pemerintah yaitu KEMENRISTEKDIKTI
yang berupa pendanaan dari Program Hibah Dana Desa (PHBD).
Dari hal-hal tersebut saya sangat tertarik dengan pengabdian, pemberdayaan, dan
aktivitas sosial kemasyarakatan, setiap ahad saya dan rekan-rekan memberikan ajaran kepada
anak-anak yang belajar di taman ilmu, kehidupan anak-anak sangat dinamis sehingga saya
dituntut dapat beradaptasi cepat ketika bersama dengan anak-anak dan professional ketika
program pemberdayaan masyarakat. Kehidupan pengabdian tidak semudah yang dibayangkan,
banyak rintangan baik secara moral maupun mental, tekanan, cacian, dan perlakuan yang
kurang baik harus siap dirasakan, terkadang dana pribadi pun harus siap digelontorkan demi
hasrat pengabdian, oleh karena itu kehidupan pengabdian tidak dapat berjalan tanpa kawan,
karena sejatinya pengabdian butuh kawan.
Saya sangat tertarik dengan program saudara satu negara ini, karena program ini
merupakan program pengabdian masyarakat lintas negara yang bertujuan sangat mulia, dengan
latar belakang saya sebagai insan abdi masyarakat saya ingin memberikan dedikasi saya untuk
negeri tercinta, implementasi keilmuan yang telah didapatkan sebelumnya dapat menjadi suatu
acuan saya mengikuti program ini, dan saya ingin menunjukan bahwa pedang tidaklah
mencelakai namun dia menyayangi.
Pengabdian tidak terhitung oleh waktu, walaupun program telah usai namun
pengabdian tetap berjalan, dari setiap program yang telah dilaksanakan akan memberikan suatu
hasil yang dapat menjadi bahan koreksi dalam implementasi pengabdian selanjutnya, oleh
karena itu setelah program pengabdian dilaksanakan saya akan tetap mengabdi walau harus
merintis kembali, saya sangat termotivasi dari kutipan pidato Presiden Republik Indonesia
yang pertama yaitu Presiden Soekarno “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut
semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia” dan saya
bertekad menjadi salah satu dari 10 pemuda yang akan mengguncangkan dunia.