You are on page 1of 5

TUGAS EPIDEMIOLOGI GIZI

“Mengkaji masalah gizi kwashiorkor pada balita”

DOSEN PENGAMPU

Kasyani, S.Gz, MPH

DISUSUN OLEH

NAMA : Rini dwi oktaviani

NPM :2016 31 034

PROGRAM STUDI GIZI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BAITURRAHIM

JAMBI

2018
KWASHIORKOR ATAU KEKURANGAN ENERGI PROTEIN (KEP)

PADA BALITA

Definisi KEP

Kurang Energi Protein (KEP) adalah seseorang yang kurang gizi yang disebabkan
oleh rendahnya komsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari atau gangguan
penyakit penyakit tertentu. Anak tersebut kurang energi protein (KEP) apabila berat badanya
kurang dari 80 % indek berat badan/umur baku standar,WHO –NCHS, (DEPKES RI,1997).

Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2010 melaporkan prevalensi KEP diIndonesia
berdasarkan pengukuran berat badan terhadap usia sebesar 17,9% dengan persentase kategori
gizi kurang sebesar 13% dan kategori gizi buruk sebesar 4,9%.

 Agent
 Asupan makan
Protein merupakan zat gizi esensial dalam menunjang pertumbuhan yang
optimal, perkembangan, manajemen berat badan, dan kesehatan manusia.
Bahan makanan yang kaya akan protein hewani adalah daging, ikan, telur,
unggas, serta produk susu dan olahannya.
Selama ini banyak orang tua yang menganggap jika anaknya hanya diberi
makan nasi dengan kecap atau dengan lauk kerupuk atau hanya ikan tanpa
sayur, maka orang tua beranggapan bahwa itu sudah benar karena anaknya
terbebas dari lapar, tetapi sebenarnya pemberian dilakukan secara terus
menerus akan berdampak buruk pada anak, tentunya pertumbuhan anak akan
terganggu, kurangnya sumber tenaga, ataupun bisa menyebabkan anemia pada
anak karena kekurangan protein, karbohidrat, ataupun vitamin dalam
makanannya.

 Faktor penyebab
Menurut kajian UNICEF 1998, masalah gizi (kurang) disebabkan oleh faktor
yang disebut sebagai penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab
langsung adalah ketidak seimbangan antara asupan makanan yang berkaitan
dengan penyakit infeksi. Penyebab tidak langsung yaitu ketahanan pangan
keluarga, pola asuh anak, pelayanan kesehatan dan lungkungan, dan berkaitan
pula dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan keterampilan anggota
keluarga.
 Host
 Usia
Gangguan pertumbuhan ini sudah mulai muncul pada anak berumur antara 1-6
bulan. Hal ini diduga berkaitan dengan praktek pemberian ASI. Pada saat
umur 6-18 bulan merupakan usia rawan bagi anak untuk menderita KEP. Hal
ini dapat dilihat dari kurva kecepatan gangguan pertumbuhan anak yang
sangat berbeda antar kelompok umur. Rata rata kesepatan gangguan
pertumbuhan pada umur 0-5 bulan adalah -0,2 sd/bulan. Sedangkan untuk
umur 6-11 bulan adalah -0.1 sd/bulan serta untuk umur 12-17 bulan dan umur
18-23 bulan sebesar -0,05 sd/bulan. (Jahari dkk,2000).

Pada penelitian yang dilakukan oleh Elizabeth (2012) ditemukan bahwa
kurang energi protein ini tidak hanya terjadi pada golongan masyarakat
berpendidikan rendah tetapi juga golongan masyarakat berpendidikan tinggi
yang umumnya memberikan pengganti ASI lebih dini dengan kualitas protein
yang baik.
Balita KEP pada penelitian ini lebih banyak ditemukan pada rentang usia 12-
23 bulan yaitu sebanyak 31 balita (30,10%). Hasil penelitian yang dilakukan
oleh Theshome dkk10 di Ethiopia, Hasnain dkk11 di Pakistan, Zhang dkk12 di
Cina dan Janevic dkk13 di Roma juga didapatkan hasil yang sama bahwa
kejadian KEP lebih banyak pada rentang usia antara 12-23 bulan secara
berturut-turut sebesar 39,11%, 29,7%, 25,1% dan 22,8%. Balita pada rentang
usia antara 12-23 bulan rentan untuk menderita KEP, karena pada usia
tersebut merupakan masa lanjutan dari periode menyapih.

 Jenis kelamin
Data distribusi balita KEP berdasarkan jenis kelamin ditemukan lebih banyak
pada balita dengan jenis kelamin perempuan yaitu 64 balita (62,14%) dengan
perbandingan balita KEP perempuan dan laki-laki adalah 1,6:1. Penelitian
Odebode dkk di Nigeria juga didapatkan kejadian KEP lebih banyak pada
balita perempuan dengan perbandingan 1,7:1. Hien dkk di Vietnam didapatkan
hasil yang sama dengan perbandingan 1,07:1. Ikwan dalam penelitiannya di
RSU Pusat Haji Adam Malik Medan juga menunjukkan hasil sama dengan
perbandingan 1,3:1.24

Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Ahmed dkk16 di Mesir yang
menunjukkan kejadian KEP lebih banyak pada balita laki-laki dengan
perbandingan 1,2:1 dan perbedaan jenis kelamin ini tidak signifikan dalam
mempengaruhi kejadian KEP pada balita.. Hasil penelitian Mahyar dkk di Iran
menunjukkan bahwa perbedaan kejadian KEP berdasarkan jenis kelamin dapat
dihubungkan dengan distribusi jenis kelamin dalam masyarakat.

 Environment
 Pekerjaan
Bekerja bagi ibu mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga. Ibu yang
bekerja mempunyai batasan yaitu ibu yang melakukan aktifitas ekonomi yang
mencari penghasilan baik dari sektor formal atau informal yang dilakukan
secara reguler di luar rumah yang akan berpengaruh terhadap waktu yang
dimiliki oleh ibu untuk memberikan pelayanan terhadap anaknya.
Hasil penelitian dapat diketahui bahwa pengetahuan ibu yang mempunyai balita
1-5 tahun tentang kwashiorkor berdasarkan pekerjaan, berpengetahuan baik
sebagian besar pada ibu yang tidak bekerja sebanyak 9 orang (25,71%) dan tidak
terdapat ibu yang bekerja sebagai petani dan PNS, berpengetahuan cukup
sebagian besar pada ibu yang tidak bekerja sebanyak 14 orang (40%) dan
sebagian kecil pada ibu yang bekerja sebagai wiraswasta sebanyak 2 orang
(40%), PNS sebanyak 2 orang (50%), berpengetahuan kurang sebagian besar
pada ibu yang tidak bekerja sebanyak 12 orang (34,29%) dan sebagian kecil
pada ibu yang bekerja sebagai wiraswasta sebanyak 1 orang (20%).

 Lingkungan
Tipe kwasiorkor yang sering ditemukan di daerah pedesaan karena lebih
sering mengkonsumsi makanan pokok berupa karbohidrat yang kandungan
dan kualitas proteinnya rendah.
Penelitian ini tidak didapatkan balita KEP derajat berat tipe kwasiorkor. Hal
ini dikarenakan penelitian ini dilakukan pada daerah perkotaan yaitu di kota
Pontianak. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Riyadi dkk29 di tiga
desa yang terdapat di Kabupaten Timor Tengah Utara Provinsi Nusa Tenggara
Timur yang menemukan sebesar 74,5% balita mengalami kekurangan protein
dan sebesar 37,6% balita mengalami kekurangan energi. Hal ini dikarenakan
perbedaan frekuensi konsumsi makanan yang mengandung protein dan energi
serta sulitnya mengakses makanan dipasar yang relatif jauh dan mahal.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan RI. Laporan nasional riset kesehatan dasar (RISKESDAS) tahun 2010.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta: Depkes RI; 2010. h. 1-25.

Elizabeth K. Changing Profile of Undernutrition and Edematous Severe Acute Malnutrition (E-
SAM). Indian Pediatrics. 2012 Oct 16; 49; 843.

Jahari, AB., Sandjaja, H. Sudiman, Soekirman, l. Jus’at, F. Jalal, D. Latief, Atmarita. 2000.
Status Gizi Balita di Indonesia Sebelum dan Sesudah Krisis (Analisis Data Antropometri
SUSENAS 1989 s/d 1999). Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VII, LIPI, Jakarta.

Unicef. 1998. The State of The World’s Children. Oxford University press.