You are on page 1of 13

BAB II

HUKUM LAUT INTERNASIONAL

A. DEFINISI HUKUM LAUT INTERNASIONAL

Sebelum berbicara mengenai definisi hukum laut internasional, Penulis terlebih dahulu
menguraikan definisi hukum laut. Satu dan lain sebab karena hukum laut dapat diartikan
sebagai rangkaian peraturan dan atau kebiasaan hukum mengenai laut yang bersifat:
1. Keperdataan, menyangkut kepentingan perorangan, yang mengatur hubungan-
hubungan perdata yang ditimbulkan karena perjanjian-perjanjian perdata, perjanjian-
perjanjian pengangkutan penyeberangan laut dengan kapal laut niaga. Hukum ini
merupakan matra dari hukum pengangkutan yang merupakan bagian dari hukum
dagang, yang termasuk dalam hukum privat dan;
2. Hukum laut publik (kenegaraan), yaitu hukum yang objeknya berasal dari peraturan-
peraturan dan kebiasaan-kebiasaan baik nasional maupun internasional.
Dari pengertian tersebut di atas; Penulis memfokuskan bahwa yang menjadi topik
utama pembahasan dalam penulisan skripsi ini adalah hukum laut yang bersifat publik,
khususnya yaitu hukum laut internasional yang pada dasarnya merupakan cabang dari
hukum internasional. Tidak ada cabang hukum internasional yang lebih banyak mengalami
perubahan secara revolusioner selama beberapa decade terakhir, selain daripada hukum
laut dan jalur-jalur maritim (maritime highways).
B. Perkembangan hokum laut internasional
Munculnya konsepsi laut teritorial menandakan awal dari perkembangan hukum laut
internasional di zaman modern. Namun, pengaturan mengenai lebar laut teritorial menjadi
permasalahan tersendiri bagi dunia internasional karena dalam praktiknya negara-negara
menetapkan lebar laut teritorial yang berbeda-beda.
Bahwa pada mulanya, lebar laut teritorial sebagaimana yang dikemukakan oleh dua
orang ahli hukum berkebangsaan Italia yang bernama Gailani dan Azuni adalah sejauh 3
(tiga) mil diukur dari garis pangkal normal. Namun, memasuki awal abad ke-20, negara-
negara pantai mulai meninggalkan lebar laut teritorial 3 mil laut dan mengklaim lebar laut
teritorial yang melebihi dari 3 mil laut. 32 Ketidakpastian mengenai lebar laut teritorial ini
terus terjadi hingga Perang Dunia I usai, yakni sekitar tahun 1918.
Pada tahun 1919, dibentuklah suatu organisasi internasional yang memiliki kapasitas
global, yakni Liga Bangsa-Bangsa (the League of Nations), yang sekarang dikenal sebagai
PBB. Organisasi yang didirikan berdasarkan piagam Kovenan LBB singkatan dari Liga
Bangsa-Bangsa (Covenant of the League of Nations) dibentuk dengan tujuan untuk
mewujudkan keamanan dan perdamaian dunia serta untuk mencegah terulangnya kembali
perang dunia.
Bahwa dalam rangka untuk mewujudkan tujuan yang Penulis uraikan di atas, Kovenan
LBB mengamanatkan kepada negara-negara anggotanya agar melakukan pengodifikasian
hukum internasional.33 Menindaklanjuti hal tersebut, LBB mengadakan konferensi
internasional di Den Haag, Belanda, pada tanggal 13 Maret sampai dengan 12 April 1930.
Konferensi ini memfokuskan kepada 3 (tiga) bidang hukum, yakni tentang : 1)
kewarganegaraan (nationality); 2) perairan teritorial (territorial waters); dan 3) tanggung
jawab negara terhadap kerugian yang diderita oleh perorangan, ataupun harta kekayaan
orang asing yang ada di wilayah negara lain.
Dengan uraian tersebut; terlihat bahwa pembahasan mengenai laut teritorial hanyalah
salah satu dari bidang hukum yang akan dikodifikasikan melalui konferensi tersebut. Hal
yang ingin dicapai dalam pembahasan mengenai laut teritorial ini adalah tercapainya kata
sepakat mengenai lebar laut teritorial, namun hal ini tidak terwujud. Konferensi Den Haag
1930 gagal mencapai kata sepakat mengenai lebar laut teritorial tersebut. Dengan kondisi
tersebut, negara-negara mengusulkan untuk dibentuk konferensi hukum selanjutnya agar
dapat menghasilkan ketentuan hukum yang pasti mengenai hal tersebut.
Hingga akhirnya pada tahun 1947, Perserikatan Bangsa-Bangsa yang sebelumnya
sudah terbentuk secara resmi pada tanggal 28 Oktober 1945, melalui Majelis Umumnya
menyerukan untuk menyelenggarakan kembali konferensi internasional yang bertujuan
untuk merealisasikan rancangan naskah konvensi yang telah disiapkan oleh Komisi Hukum
Internasional (International Law Commission). Rancangan naskah konvensi tersebut
memuat berbagai bidang dalam hukum internasional, salah satunya adalah mengenai
hukum laut internasional. Menindaklanjuti hal tersebut, diadakan konferensi-konferensi
internasional yang khusus membahas perihal hukum laut yang dapat penulis bagi ke dalam
4 (empat) konferensi, yakni sebagai berikut:
A. Konferensi Hukum Laut Internasional I
Konferensi hukum laut internasional yang pertama kalinya diselenggarakan di
Jenewa, Swiss, pada tahun 1958. Konferensi ini menghasilkan beberapa konvensi
mengenai hukum laut, yaitu terdiri dari36:
1. Konvensi tentang Laut Teritorial dan Zona Tambahan (Convention on the
Territorial Sea and Contiguous Zone), mulai berlaku pada tanggal 10 September
1964;
2. Konvensi tentang Laut Lepas (Convention on the High Seas), mulai berlaku pada
tanggal 30 September 1962;
3. Konvensi tentang Perikanan dan Perlindungan Kekayaan Hayati Laut Lepas
(Convention on Fishing and Conservation of The Living Resources of the High
Seas), mulai berlaku pada tanggal 20 Maret 1966; dan
4. Konvensi tentang Landas Kontinen (Convention on the Continental Shelf), mulai
berlaku 10 Juli 1964.
Konvensi Jenewa 1958 dianggap sebagai sebuah konvensi yang telah meletakkan
dasar-dasar dalam hukum internasional, khususnya hukum laut. Namun, waktu yang terus
berjalan dan hukum laut internasional yang kembali mengalami perkembangan kemudian
mulai menimbulkan pendapat yang mengemukakan bahwa Konvensi Jenewa 1958 harus
ditinjau kembali. Beberapa alasan yang mendasari peninjauan ulang Konvensi Jenewa
1958 tersebut yaitu37 : (a) bangkitnya bangsa-bangsa merdeka di Afrika setelah tahun 1958
yang menginginkan perubahan dalam konsepsi kebebasan laut-laut yang dianggapnya
terlalu menguntungkan negara-negara maritim; (b) insiden terdamparnya kapal tangki
minyak Torrey Canyon di dekat pantai Perancis dan Inggris pada tahun 1967, yang
menyadarkan masyarakat dunia tentang bahaya pencemaran lingkungan laut.38 Selain itu,
munculnya konsepsi mengenai zona ekonomi ekslusif (exclusive economic zone) pertama
kali dalam sidang Organisasi Persatuan Afrika serta masih adanya ketidakpastian mengenai
lebar laut teritorial juga mendasari pertimbangan peninjauan konvensi tersebut.
b. Konferensi Hukum Laut Internasional II
Konferensi berikutnya diadakan di kota yang sama dengan konferensi hukum laut
sebelumnya yakni di Jenewa, Swiss, yangberlangsung dari tanggal 16 Maret sampai
dengan 26 April 1960. Konferensi ini diadakan berdasarkan Resolusi Majelis Umum
PBB Nomor 1307 (XIII) tanggal 10 Desember 1958 yang meminta kepada Sekretaris
Jenderal PBB supaya memprakarsai penyelenggaraan konferensi hukum laut di Jenewa
yang kedua39. Konferensi ini memfokuskan kepada persoalan mengenai lebar laut
teritorial. Namun, konferensi ini kembali tidak menghasilkan ketentuan yang pasti
mengenai lebar laut teritorial.
c. Konferensi Hukum Laut Internasional III
Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 3067 (XXVIII) menjadi dasar
diselenggarakannya Konferensi Hukum Laut Internasional III yang dilaksanakan di
Caracas, Venezuela, pada tahun 1973. Konferensi ini dilanjutkan di New York,
Amerika Serikat, dan akhirnya berhasil menyepakati naskah final Konvensi Hukum
Laut Internasional. Naskah konvensi ini berisikan berbagai rezim dalam hukum laut
internasional yang berlaku hingga saat ini, termasuk pula konsepsi negara kepulauan
(archipelagic state) yang diajukan oleh negara Indonesia. Naskah final konvensi
tersebut kemudian ditandatangani dalam Konferensi di Montego Bay, Jamaika, pada
tanggal 10 Desember 1982.
Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982 merupakan satu Konvensi yang
mengatur masalah kelautan secara utuh dan terpadu sebagai satu kesatuan. 41 Selain
melakukan perubahan pada keempat Konvensi yang lahir pada tahun 1958, konvensi ini
juga memberikan penambahan mengenai lembaga-lembaga yang berkaitan dengan hukum
laut internasional, seperti Komisi Batas Landas Kontinen (Commision on the Limits of the
Continental Shelf) atau yang dikenal dengan CLCS, dan Badan Otorita Dasar Laut
Internasional (International Sea-bed Authority) atau yang disebut dengan ISA. UNCLOS
1982 memuat berbagai prinsip pokok yang terdiri dari
1) Mengatur rezim-rezim wilayah laut;
2) Mengakui kedaulatan, hak berdaulat, dan yurisdiksi negara pantai di laut;
3) Mengakui rezim hukum negara kepulauan;
4) Mengatur hak dan kewajiban kapal di laut bebas;
5) Mencegah adanya benturan kepentingan antara negara pantai dan
negara bendera kapal dan menyediakan semua penyelesaian konflik..

C. Pembagian Wilayah Laut Menurut Konvensi Hukum Laut PBB 1982 (United
Nations Convention On The Law Of The Sea)
Wilayah laut sangat kaya dengan materi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Oleh karena ke depan wilayah laut akan selalu menjadi objek eksploitasi dan eksplorasi.
Fenomenanya yang sedemikian itu dapat mengakibatkan timbulnya permasalahan yang
menjuruskan kepada perselisihan tentang wilayah laut. Antara lain dalam hal pemanfaatan
laut; terutama mengenai berapa jarakyang menjadi batas seseorang maupun kelompok
masyarakat dari sebuah negara pantai yang akan memanfaatkan wilayah laut tersebut.
Permasalahan ini juga akan diwarnai dengan adanya perkembangan zaman, kemajuan
peradaban dan teknologi.
Penulis berpendapat bahwa perkembangan zaman, kemajuan peradaban dan teknologi
sebagaimana diuraikan di atas; akan melahirkan dan berkembangannya perselisihan bahkan
dapat menjurus kepada tindak kejahatan beserta kompleksitasnya. Walaupun demikian
hukum sesuai tujuannya adalah untuk menciptakan ketertiban dalam kehidupan. Pada
waktu hukum harus memutuskan suatu sengketa, maka hukum berpikir, bagaimanakah
membuat suatu keputusan yang dampaknya akan meningkatkan efisiensi dan produktifitas.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas; Penulis meneliti bahwa UNCLOS 1982
menjawab permasalahan tersebut dengan membagi zona-zona maritim dan status
hukumnya masing-masing. Dalam hal ini wilayah laut atau zona maritim tersebut
dibedakan berdasarkan yurisdiksinya, yaitu di bawah yurisdiksi nasional dan di luar
yurisdiksi nasional. Zona-zona maritim yang berada di bawah yurisdiksi nasionalkemudian
dibagi lagi kedalam zona-zona maritim yang berada di bawah kedaulatan penuh negara
pantai, dan zona-zona maritim bagian-bagian dimana negara pantai dapat melaksanakan
wewenang-wewenang serta hak-hak khusus yang diatur dalam konvensi.
Sebagaimana diuraikan di atas bahwa wilayah laut terbagi 2(dua) yaitu wilayah
lautyang merupakan yurisdiksi nasional dan wilayah lautyang berada di luar yurisdiksi
nasional. Pembagian tersebut di atas dapat penulis uraikan sebagai berikut
1. Wilayah Laut Yang Merupakan Yurisdiksi Nasional.
a) Perairan Pedalaman (Internal Waters)
Perairan pedalaman atau yang disebut dengan perairan dalam atau perairan
nasional merupakan zona maritim yang berada di bawah kedaulatan penuh suatu
negara pantai. Artinya, tidak terdapat innocent passage bagi kapal-kapal asing,
sebagaimana yang terdapat pada zona maritim lain seperti laut teritorial.Perairan
pedalaman suatu negara terdiri atas perairan pada sisi darat garis pangkal laut
teritorial, terkecuali yang diatur dalam Bab IV UNCLOS.
b) Perairan Kepulauan (Archipelagic Waters)
Salah satu rezim hukum yang diatur dalam UNCLOS 1982 adalah rezim
Negara kepulauan, yang termuat dalam Bab IV konvensi tersebut. Definisi Negara
kepulauan sebagaimana termuat dalam Pasal 46 UNCLOS yaitu suatu Negara yang
seluruhnya terdiri dari satu atau lebih kepulauan dan dapat mencakup pulau-pulau
lain.
Kedaulatan suatu negara kepulauan meliputi perairan yang ditutup oleh garis
pangkal kepulauan, yang ditarik sesuai dengan ketentuan pasal 47 UNCLOS,
disebut sebagai perairan kepulauan, tanpa memperhatikan kedalaman atau
jaraknya dari pantai.50Sama halnya dengan perairan pedalaman, dalam perairan
kepulauan pada dasarnya juga berlaku kedaulatan penuh suatu negara pantai.
c) Laut Teritorial (Territorial Sea)
Secara umum, laut teritorial dapat didefinisikan sebagai bagian laut yang
terletak pada sisi luar dari garis pangkal dan di sebelah luarnya dibatasi oleh garis
atau batas luar (outer limit).51Setiap Negara berhak menetapkan lebar laut
teritorialnya dengan jarak tidak melebihi 12 mil dan diukur dari garis pangkal
sesuai yang ditetapkan dalam UNCLOS. Hal ini ditegaskan dalam pasal 3 yang
berbunyi : “Every State has the right to establish the breadth of its territorial sea
up to a limit not exceeding 12 nautical miles, measured from baselines determined
in accordance with this Convention.”
Kedaulatan suatu Negara pantai atas laut territorial mutlak dan
lengkap,meskipundibatasiolehkewajiban-kewajiban internasional yang timbul
dari ketentuan-ketentuan hokum kebiasaan internasional dan perjanjian inte
d) Zona Tambahan (Contiguous Zone);
Zona tambahan ini sebenarnya sudah dikenal sebelum Perang Dunia II,
sebagai suatu konsep hukum yang pertama kali diajukan oleh Oden de Bouen
dalam konferensi internasional tentang perikanan yang diselenggarakan di Madrid,
Spanyol.54Beberapa Negara pada waktu itu sudah ada yang menerapkannya untuk
keperluan yurisdiksi-yurisdiksi yang terbatas.
Zona tambahan merupakan zona transisi antara laut lepas dan laut
wilayah.56 Dikatakan demikian karena fungsi dari zona tambahan adalah untuk
mengurangi kontras dari laut wilayah yang rezimnya tunduk seluruhnya pada
kedaulatan Negara pantai dan laut lepas di mana terdapat rezim kebebasan, dan
juga hukum internasional menerima wewenang tertentu Negara pantai di suatu
zona laut yang langsung teretak di sebelah luar laut wilayah.
Lebar dari zona tambahan adalah tidak dapat melebihi lebih dari 24 mil
laut dari garis pangkal dari manalebar laut territorial diukur58, dengan catatan
bahwa lebar laut territorial dimana suatuNegara pantai memiliki kedaulatan penuh
didalamnya sesuai dengan Pasal 3 UNCLOS adalah 12 mil laut, dan lebar zona
tambahan suatu Negara pantai yaitu 24 mil laut dikurangi 12 menjadi 12 mil laut.
Sebagaimana yang telah disebutkan dalam alinea sebelumnya, dalam zona
tambahan berlaku kedaulatan penuh suatu Negara pantai, sehingga suatu Negara
pantai memiliki wewenang-wewenang tertentu terhadap zona tambahan yang
dimilikinya. Pasal 33 ayat 1 UNCLOS 1982 berisikan pengaturan yang berlaku
bagi Negara pantai untuk dapat melaksanakan pengawasan dalam zona tambahan
dengan tujuan:

1) Mencegah pelanggaran peraturan perundang-undangan bea cukai, fiskal,


imigrasi atau saniter di dalam wilayah atau laut teritorialnya;
2) Menghukum pelanggaran peraturan perundang-undangan tersebut di atas yang
dilakukan di dalam wilayah atau laut teritorialnya.
e) Zona Ekonomi Eksklusif (Exclusive Economic Zone)
Wilayah perairan lainnya yang menjadi yurisdiksi nasional suatu Negara pantai
adalah zona ekonomi eksklusif. Konsepsi zona ekonomi eksklusif dalam rezim hukum laut
internasional merupakan manifestasi dari usaha-usaha Negara-negara pantai, khususnya
Negara-negara berkembang, untuk melakukan pengawasan dan penguasaan terhadap
segala macam sumber kekayaan yang terdapat di zona laut yang terletak di luar dan
berbatasan dengan laut wilayahnya.59Hal ini disebabkan karena Negara-negara
berkembang merasa bahwa dengan adanya konsepsi laut bebas hanya semakin
menguntungkan Negara-negara maju dengan teknologi kelautan yang canggih untuk
mengelola kekayaan alam laut yang berdekatan dengan wilayah perairan Negara
berkembang.Kemudian oleh negara-negara berkembang tersebut dibentuklah berbagai
pernyataan sepihak mengenai pelebaran laut wilayah masing-masing Negara pantai
maupun mengenai penguasaan zona-zona laut lainnya.
Dalam UNCLOS 1982 zona ekonomi eksklusif diartikan sebagai suatu daerah di
luar dan berdampingan dengan laut teritorial.60 Dalam pasal tersebut lebih lanjut dinyatakan
bahwa zona ekonomi eksklusif tunduk pada rezim khusus (special legal regime) yang
meliputi beberapa hal yakni:
1) Hak-hak berdaulat, yurisdiksi, dan kewajiban Negara pantai;
2) Hak-hak serta kebebasan dari Negara lain;
3) Kebebasan-kebebasan laut lepas; dan
4) Kaidah-kaidah hukum internasional sebagaimana ditentukan dalam konvensi.
Pengaturan lainnya mengenai zona ekonomi eksklusif adalah tentang lebar zona
ekonomi eksklusif.Pasal 57 UNCLOS 1982 menyatakan bahwa zona ekonomi eksklusif
tidak boleh melebihi 200 mil laut dari garis pangkal dari mana lebar laut territorial
diukur.Dalam rentang jarak tersebut, berlaku hak-hak berdaulat bagi negara pantai untuk
keperluan eksplorasi dan eksploitasi, konservasi dan pengelolaan sumber kekayaan alam
yang terdapat di wilayah laut tersebut.

Selain hak-hak berdaulat, Negara pantai juga mempunyai yurisdiksi dalam zona ekonomi
eksklusif, dalam hal ini berkenaan dengan:
1) Pembuatan dan pemakaian pulau buatan, instalasi, dan bangunan;
2) Riset ilmiah kelautan; dan
3) Perlindungan dan pelestarian lingkungan laut.
f) Landas Kontinen (Continental Shelf)
Landas Kontinen (continental shelf) pada mulanya diartikan dalam perspektif geologi
(khususnya geologi kelautan), sebagai kawasan dasar laut dan tanah di bawahnya yang
bersambungan dengan pantai yang berada di permukaan air (laut). Pengertian landa
kontinen dalam perspektif geologi disebutkandalam Encyclopedia Americana, yakni:
“ the part of the ocean floor that is adjacent to the shores of the continents and is
covered by water of shallow depth, less than 80-100 fathoms (490-600 feet, or 145-180
meters)”.
(bagian dari dasar samudera (lautan) yang bersambungan dengan pantai dari suatu
benua dan yang ditutupi oleh perairan yang dangkal, yaitu kurang dari 80-100 fathoms
(490-600 kaki, atau 145-180 meter)).
Selain itu, landas kontinen juga ditafsirkan secara ekonomis.Fenomena ekonomis ini
berkaitan dengan kekayaan alam, khususnya kekayaan mineral yang terdapat dalam landas
kontinen. Melimpahnya kekayaan mineral yang terdapat pada landas kontinen seperti
emas, kobalt, nikel, tembaga, dan mineral-mineral lainnya menyebabkan pengelolaan
besar-besaran yang dilakukan oleh Negara-negara maju, khususnya Negara-negara yang
memiliki kemajuan dalam teknik pengeboran.64Kemajuan teknologi yang luar biasa
cepatnya inilah yang juga menyebabkan tiba-tiba sumber mineral di dasar laut lepas dan
lapisan tanah di bawahnya menjadi sangat berharga.
Istilah landas kontinen kemudian mulai diartikan dalam perspektif hukum.Hal ini
didasarkan atas permasalahan yang timbul seperti pihak manakah yang dapat memiliki
landas kontinen, pihak manakah yang boleh mengeksploitir kekayaan alam di landas
kontinen, dan sebagainya.Istilah landas kontinen dalam arti yuridis pertama kali
diperkenalkan oleh Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman (1945-1953) dalam
Proklamasi Truman, yang telah Penulis jelaskan dalam uraian sebelumnya.
Landas Kontinen diatur dalam Bab VI UNCLOS 1982, termuat mulai dari pasal 76
sampai dengan pasal 85. Pasal 76 ayat (1) UNCLOS 1982 memberikan batasan (defenisi)
tentang landas kontinen sebagai berikut:
“Landas kontinen dari suatu negara pantai meliputi dasar laut dan tanah di bawahnya
dari area di bawah perairan laut yang terletak di luar area laut teritorial yang merupakan
perpanjangan atau kelanjutan secara alamiah dari wilayah daratannya sampai pada
pinggiran luar dari tepi kontinen atau sampai pada suatu jarak 200 mil laut dari garis
pangkal tempat lebar laut teritorial negara pantai itu diukur serta pinggiran luar dari tepi
kontinen tidak boleh melampaui dari jarak tersebut.”
Landas kontinen, sebagaimana dalam defenisi yang telah Penulis uraikan di atas,
memiliki batas sejauh 200 mil laut. Namun, perlu untuk diketahui bahwa ada 60 negara
pantai yang mempunyai landas kontinen yang melebihi batas 200 mil laut tersebut.66
Negara-negara yang memiliki landas kontinen melebihi batas yang diperkenankan dalam
hukum internasional tersebut mengajukan Landas Kontinen Ekstensi (LKE). Negara pantai
yang ingin mengajukan LKE harus menyampaikannya kepada Komisi Batas Landas
Kontinen atau CLCS(Commission on the Limits of the Continental Shelf).67 Batas-batas
landas kontinen ditetapkan oleh suatu negara pantai atas dasar “bersifat final dan mengikat”
(final and binding).68 Akan tetapi, berdasarkan ketentuan Pasal 76 ayat (10) UNCLOS
1982, kekuatan mengikat penetapan batas terluar landas kontinen dapat ditolak oleh negara-
negara tetangga yang melakukan klaim tumpang tindih atas landas kontinen tersebut.
Serupa halnya dengan wilayah zona ekonomi eksklusif, negara pantai memiliki hak-
hak berdaulat dan yurisdiksi-yurisdiksi tertentu dalam wilayah landas kontinen.Hak
berdaulat negara pantai atas landas kontinen disebutkan dalam Pasal 77 UNCLOS 1982,
yang artinya berbunyi sebagai berikut:
1) Negara pantai menjalankan hak berdaulat di landas kontinen untuk tujuan
mengeksplorasinya dan mengeksploitasi sumber kekayaan alamnya;
2) Hak yang tersebut dalam ayat (1) di atas adalah eksklusif dalam arti bahwa apabila
negara pantai tidak mengeksplorasi landas kontinen atau mengeksploitasi sumber
kekayaan alamnya, tiada seorangpun dapat melakukan kegiatan itu tanpa
persetujuan tegas negara pantai;
3) Hak suatu negara pantai atas landas kontinen tidak tergantung pada pendudukan (
okupasi), baik efektif atau tidak tetap (notional), atau pada proklamasi
4) Sumber kekayaan alam tersebut dalam Bab ini terdiri dari sumber kekayaan
mineral dan sumber kekayaan non hayati lainnya pada dasar laut dan tanah di
bawahnya, bersama dengan organisme hidup yang tergolong jenis sedenter yaitu
organisme yang pada tingkat yang sudah dapat dipanen dengan tidak bergerak
berada pada atau di bawah dasar laut atau tidak dapat bergerak kecuali jika berada
dalam kontak fisik tetap dengan dasar laut atau tanah di bawahnya. Sedangkan hak-
hak lainnya bagi negara pantai atas landas kontinennya berupa : 1) hak untuk
memasang kabel-kabel dan pipa-pipa saluran (pasal 79 ayat 1) ; 2) hak untuk
mengatur pencegahan, pengurangan dan pengawasan atas polusi yang bersumber
dari kabel-kabel ataupun saluran pipa tersebut, namun tidak sampai menghalangi
pemasangan atau pemeliharaan kabel atau pipa tersebut (pasal 79 ayat 2); 3) Hak
untuk membangun pulau buatan, instalasi dan bangunan di atas landas kontinen
(pasal 80); 4) hak eksklusif untuk mengizinkan dan mengatur pengeboran di landas
kontinen untuk segala keperluan (pasal 81). Hak negara pantai atas landas kontinen
tidak mempengaruhi status hukum perairan di atasnya atau ruang udara di atas
perairan tersebut.70 Sedangkan kewajiban negara pantai pada landas kontinen
yaitu sebagai beriku
1) Menghormati hak-hak negara lain pada landas kontinen pada landas kontinen
sebagaimana dijamin oleh UNCLOS 1982, seperti hak negara atau pihak lain
untuk memasang kabel atau pipa saluran;
2) Menghormati kaidah-kaidah hukum laut internasional yang berlaku pada
landas kontinen;
3) Terhadap kegiatan eksplorasi dan eksploitasi pada landas kontinen yang
dilakukan negara pantai atau pihak lain, negara pantai berkewajiban untuk
menghormatinya.
4) Membayar sejumlah pembayaran atau sumbangan kepada International
Seabed Authority atas eksploitasi yang dilakukan pada landas kontinen yang
berada di luar batas 200 mil laut (pasal 82 UNCLOS 1982).
2. Wilayah Laut Yang Berada Di Luar Yurisdiksi Nasional.
a) Laut Lepas (High Seas)
UNCLOS 1982 tidak menyebutkan secara tegas pengertian laut lepas atau high
seas. Namun, penulis berpendapat bahwa pasal 86 UNCLOS 1982 dapat dikatakan
memberikan pendefinisian mengenai laut lepas. Bunyi pasal 86 UNCLOS 1982 adalah
sebagai berikut:
“The provisions of this part apply to all parts of the sea that are not included in the
exclusive economic-zone, in the territorial sea or in the internal waters of a State, or in
the archipelagic waters of an archipelagic state. This article does not entail any
adbridgement of the freedoms enjoyed by all States in the exclusive eonomic zone in
accordance with article 58.”
Dari ketentuan pasal 86 tersebut dapat disimpulkan bahwa laut lepas adalah
sebagai bagian laut yang tidak termasuk dalam zona ekonomi eksklusif, laut teritorial
atau perairan pedalaman suatu negara, atau perairan kepulauan dari suatu negara
kepulauan.
Laut lepas (high seas) sebagaimana telah penulis uraikan di atas merupakan
wilayah laut yang berada di luar yurisdiksi nasional negara pantai. Hal ini berarti tidak
ada satu negara pun boleh mengklaim kedaulatan ataupun melakukan tindakan-
tindakan yang mencerminkan kedaulatan di laut lepas atau di bagian-bagian tertentu
dari laut lepas.
Hal ini bahkan ditegaskan dalam pasal 89 UNCLOS 1982 yang menyatakan bahwa
tidak ada suatu negara pun yang dapat secara sah menundukkan kegiatan manapun dari
laut lepas pada kedaulatannya. Posisi lautlepas yang berada di luar yurisdiksi nasional
suatu negara pantai, mengindikasikan berlakunya kebebasan-kebebasan bagi seluruh
negara dan hal tersebut telah diakomodir oleh UNCLOS 1982. Kebebasan di laut lepas
tersebut meliputi 6 (enam) hal yakni sebagai berikut73 :
1) kebebasan berlayar (freedom of navigation);
2) kebebasan penerbangan (freedom of overflight);
3) kebebasan untuk memasang kabel dan pipa bawah laut, dengan tunduk pada Bab
VI (freedom of lay submarine cables and pipelines, subject to part VI);
4) kebebasan untuk membangun pulau buatan dan instalasi lainnya yang
diperbolehkan berdasarkan hukum internasional, dengan tunduk pada Bab VI
(freedom to construct artificial islands and other installations permitted under
part VI);
5) kebebasan menangkap ikan, dengan tunduk pada persyaratan yang tercantum
dalam bagian 2 (freedom of fishing, subject to the conditions laid down to section
2);
6) Kebebasan riset ilmiah, dengan tunduk pada bab VI dan XIII (freedom of scientific
research, subject to Parts VI and XIII).
b. Kawasan Dasar Laut Internasional(International Seabed Area)
Selain laut lepas, zona maritim yang berada di luar yurisdiksi nasional adalah kawasan
dasar laut internasional (international seabed area). Isu mengenai kawasan dasar laut
internasional muncul dari gagasan seorang duta besar Malta di PBB yaitu. Arvid Pardo,
yang mengusulkan kepada Majelis Umum PBB dalam Sidang MU PBB tahun 1967 agar
sumber daya alam khususnya sumber daya mineral yang terkandung di kawasan dasar laut
internasional menjadi warisan bersama umat manusia (common heritage of mankind). Atas
tindak lanjut dari usulan tersebut, PBB mengeluarkan Resolusi Majelis Umum No. 2749
(XXV) tahun 1970 yang menjadi ketentuan pertama yang mengatur mengenai kawasan
dasar laut internasional (international seabed area).
Kawasan dasar laut internasional atau yang dalam UNCLOS 1982 disebut Kawasan
(area) adalah dasar laut dan tanah di bawahnya yang terletak di luar batas yurisdiksi
nasional suatu negara.74 Dalam UNCLOS 1982, keseluruhan pengaturan mengenai
kawasan termuat dalam Bab XI.
Seperti yang telah penulis uraikan dalam bab sebelumnya, sumber daya alam di
kawasan (area) sangat berlimpah, khususnya sumber daya mineral. Mineral-mineral yang
dihasilkan dari wilayah kawasan dapat dieksplorasi dan dieksploitasi oleh negara-negara
atau perusahaan-perusahaan dengan memenuhi persyaratan yang diberlakukan oleh suatu
otorita yang dinamakan Badan Otorita Dasar Laut Internasional (International Seabed
Authority).
Pembahasan mengenai kawasan dasar laut internasional serta otoritanya secara lebih
mendalam akan Penulis uraikan dalam bab-bab selanjutnya, mengingat bahwa judul skripsi
ini adalah terkait dengan kawasan dasar laut internasional serta badan otorita yang
berwenang dalam kawasan dasar laut internasional tersebut yang mengharuskan Penulis
menjelaskan kedua hal tersebut dalam bab-bab tersendiri.
BAB III
KESIMPULAN

3.1 KESIMPULAN

Kesimpulan yang diperoleh dari makalah ini adalah sebagai berikut:

1) Hukum Laut Internasional adalah kaidah-kaidah hukum yang mengatur hak dan

kewenangan suatu negara atas kawasan laut yang berada dibawah yurisdiksi

nasionalnya (national jurisdiction).

2) hukum laut dapat diartikan sebagai rangkaian peraturan dan atau kebiasaan hukum

mengenai laut yang bersifat: Keperdataan, menyangkut kepentingan perorangan,

yang mengatur hubungan-hubungan perdata yang ditimbulkan karena perjanjian-

perjanjian perdata, perjanjian-perjanjian pengangkutan penyeberangan laut dengan

kapal laut niaga. Hukum ini merupakan matra dari hukum pengangkutan yang

merupakan bagian dari hukum dagang, yang termasuk dalam hukum privat dan;

Hukum laut publik (kenegaraan), yaitu hukum yang objeknya berasal dari

peraturan-peraturan dan kebiasaan-kebiasaan baik nasional maupun internasional.