You are on page 1of 49

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keselamatan dan kesejahteraan ibu secara menyeluruh merupakan
perhatian yang utama bagi seorang bidan. Bidan bertanggung jawab
memberikan pengawasan, nasehat serta asuhan bagi wanita selama masa
hamil, bersalin dan nifas. Asuhan kebidanan yang diberikan termasuk
pengawasan pelayanan kesehatan masyarakat di komunitas, baik di rumah,
posyandu maupun polindes (Rafless, 2011).
Sebagai seorang bidan yang nantinya yang akan ditempatkan di
desa, dalam menjalankan tugas ia merupakan komponen dan bagian dari
masyarakat desa dimana ia bertugas. Selain dituntut dapat memberikan
asuhan bermutu tinggi dan komprehensif, seorang bidan harus dapat
mengenal masyarakat sesuai budaya setempat dengan sebaik-baiknya,
mengadakan pendekatan dan bekerjasama dalam memberikan pelayanan,
sehingga masyarakat dapat menyadari masalah kesehatan yang dihadapi
serta ikut secara aktif dalam menaggulangi masalah kesehatan baik untuk
individu mereka sendiri maupun keluarga dan masyarakat sekitarnya
(Rafless, 2011).
Bidan sebagai pelaksana utama yang memberikan pelayanan yang
bermutu dan terjangkau oleh masyarakat. Bidan juga tinggal di dalam
suatu masyarakat dikomunitas tertentu oleh karena itu memberikan
pelayanan tidak hanya memandang ibu dan anak sebagai individu tetapi
juga mempertimbangkan faktor lingkungan dimana ibu tinggal.
Lingkungan ini dapat berupa sosial, politik, dan keadaan ekonomi. Asuhan
kebidanan yang diberikan berfokus pada making pregnancy safer.
pelayanan yang diberikan di upayakan memenuhi standar.kebidanan
komunitas diperkukan agar bidan dapat mengenal kehiduoan sosial ibu
dan anak yang dapat mempengaruhi status kesehatannya.

1
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu:
1. Bagaimanakah asuhan Intranatal?
2. Bagaimanakah bayi baru lahir dan neonatus?
3. Bagaimanakah Asuhan ibu postpartum di rumah?
4. Bagaimankah pelayanan kontrasepsi dan KB di masyarakat?
5. Bagaimmanakah pelayanan lansia yang berkaitan dengan kesehatan
reproduksi di masyarakat?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimanakah asuhan Intranatal.
2. Untuk mengetahui bagaimanakah bayi baru lahir dan neonatus.
3. Untuk mengetahui bagaimanakah asuhan ibu postpartum di rumah.
4. Untuk mengetahui bagaimankah pelayanan kontrasepsi dan KB di
masyarakat.
5. Untuk mengetahui bagaimanakah pelayanan lansia yang berkaitan
dengan kesehatan reproduksi di masyarakat.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Asuhan Intranatal
1. Standar Pelayanan Kebidanan
a. Asuhan persalinan kala I
Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai,
kemudian memberikan asuhan dan pemantauan yang memadahi,
dengan memperhatikan kebutuhan klien, selama proses persalinan
berlangsung. Bidan juga melakukan pertolongan proses persalinan
dan kelahiran yang bersih bersih dan aman, dengan sikap sopan
dan penghargaan terhadap hak pribadi ibu serta memperhatikan
tradisi setempat. Disamping itu ibu diijinkan memilih orang yang
akan mendampinginya selama proses persalinan dan kelahiran.
b. Persalinan kala II yang aman
Bidan melakukan pertolongan persalinan yang aman
dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap klien serta
memperhatikan tradisi setempat. Disamping itu ibu diijinkan untuk
memilih siapa yang akan mendampinginya saat persalinan.

c. Penatalaksanaan aktif kala III


Bidan melakukan penegangan tali pusat dengan benar
untuk membantu pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara
lengkap.
Bidan sebagai tenaga penolong harus terlatih dan terampil
dalam melakukan manajemen aktif kala III. Asuhan persalinan
pada kala III merupakan hal penting, mengingat salah satu
penyebab kematian ibu adalah perdarahan. Oleh karena itu, dalam
asuhan kala III ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu
bidan sebagai penolong persalinan harus terlatih dan terampil
melakukan manajemen aktif kala III, tersedianya peralatan dan
perlengkapan manajemen aktif kala III dan pencegahan infeksi,

3
tersedianya obat – obatan dan metode efektif untuk penyimpanan ,
serta sistem rujukan untuk kegawat daruratan obstetri yang efektif.
Asuhan persalinan kala III diberikan dengan tujuan untuk
membantu mengeluarkan plasenta dan selaput janin secara
lengkap, mengurangi kejadian perdarahan pasca - salin,
memperpendek kala III, mencegah terjadinya komplikasi, dan
mencegah terjadinya retensio plasenta. Dalam hal ini bidan
mepunyai tugas rutin, yaitu melakukan penatalaksanaan aktif
persalinan kala III (manajemen aktif kala III).

d. Penanganan kala II dengan gawat janin melalui episiotomy


Bidan mengenali secara tepat tanda – tanda gawat janin
pada persalinan kala II yang lama, dan segera melakukan
episiotomi dengan aman untuk memperlancar persalinan, diikuti
dengan penjahitan perineum.
Asuhan persalinan yang mencakup pada pengawasan satu
sampai dua jam setelah plasenta lahir. Pengawasan / observasi
ketat dilakukan pada hal - hal yang menjadi perhatian pada asuhan
persalinan kala IV. Pada kala ini tidak menutup kemungkinan
terjadi perdarahan dan atonia uteri. Kehilangan darah biasanya
terjadi karena pelepasan plasenta dan robekan serviks dan perinium
jumlah darah yang keluar harus diukur ( 1 bengkok = ± 500 cc ),
apabila jumlah perdarahan lebih dari 500 cc harus dicari
penyebabnya.
2. Persalinan di Rumah
Banyak ibu lebih memilih melahirkan dirumah, hal ni disebabkan
oleh beberapa faktor.
1) Persalinan dirumh didukung oleh keluarga, dalam ligkungan yang
dikenal,tempat mereka memiliki kendali terhadap tubuhnya.
2) Lingkungan rumah sendiri menimbulkan rasa tenang dan tentram
pada ibu yang akan melahirkan.

4
3) Berdasarkan dengan perbandingan dengan pengalaman melahirkan
dirumah sakit, dalam lingkungan yang kurang memiliki sentuhan
pribadi yang penh dengan peraturan an staf yang sibuk.

Kerugian pertolongan persalian dirumah


Kerugian dai pertolongan persalinan dirumah adalah ketika
pross melahirkan mengalami kesulitan, pertolongan lebih lanjut
tidak dapat segera diberikan. Hal ini disebabkan tidak tersedianya
alat-alat sehingga membutuhkan waktu lama sebelum tiba di rumah
sakit. Contohnya, selama persalian bayi mungkin mengalami
distress yang memerlukan tindakan untuk melahirkan segera, atau
setelah lahir bayi tidak dapat bernapas dengan baik. Dirumah sakit,
dua bahaya ini dapat ditangani dengan cepat karena tersedia
fasilitas, yang mungkin tidak tersedia dirumah. Selain itu beberapa
wanita mengalami perdarahan setelah kelahiran. Dirumah sakit,
perdarahan ini dapat ditangani dengan cepat karena tersedia darah.
Bahaya bagi bayi degan resiko dengan hemoragi
pascapartum masih merupaka alasan utama mengapa lebih dari
tiga tahun silam kelahiran bayi dirumah digantikan
dengankelahiran dirumah sakit.

Indikasi dan Syarat Pertolongan Persalinan dirumah


Indikasi dilakukannya pertolongan persalinan dirumah adalah:
1) Multipara, umumnya ibu yang baru pertama kali bersalin
dianjurkan bersalin dirumah sakit atau di klinik bersalin. Jika
pada waktu melahirkan bayi pertama itu tidak mengalami
kesulitan, melahirkan bayi berikutnya dirumah sendiri dapat
diizinan.
2) Selama melakukan asuhan antenatal tidak didapati adanya
kelainan atau peyakityang akan menyulitkan proses persalinan.
3) Jauh dari tempat pelayanan kesehatan.

5
3. Persiapan Bidan Untuk Persalinan di Rumah
Persiapan bidan dalam memberikan asuhan intranatal di komunitas
adalah harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya terutama dari segi
kompetensi, sehingga dapat memberikan pelayanan persalinan yang
bersih dan aman serta tahu saat yang dapat untuk merujuk kasus-kasus
kegawatdaruratan.Dengan demikian bisa menyelamatkan ibu dan bayi
dan dapat menurunkan AKI.
Persiapan bidan meliputi:
a) Menilai secara tepat bahwa persalinan sudah dimulai, kemudian
memberikan asuhan dan pemantauan yang memadai dengan
memperhatikan kebutuhan ibu selama proses persalinan.
b) Mempersiapkan ruangan yang hangat dan bersih serta nyaman
untuk persalinan dan kelahiran bayi.
c) Persiapan perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obatan yang
diperlukan dan pastikan kelengkapan jenis dan jumlah bahan-
bahan yang diperlukan serta dalam keadaan siap pakai pada setiap
persalinan dan kelahiran bayi.
d) Mempersiapkan persiapan rujukan bersama ibu dan keluarganya.
Karena jika terjadi keterlambatan untuk merujuk ke fasilitas yang
lebih memadai dan membahayakan keselamatan ibu dan bayinya.
Apabila itu dirujuk, siapkan dan sertakan dokumentasi asuhan
yang telah diberikan.
e) Memberikan asuhan sayang ibu, seperti memberi dukungan
emosional, membantu pengaturan posisi ibu, memberikan cairan
dan nutrisi, memberikan keleluasan untuk menggunakan kamar
mandi secara teratur, serta melakukan pertolongan persalinan
yang bersih dan aman dengan teknik pencegahan infeksi.
4. Persiapan Rumah dan Lingkungan
Ruangan atau lingkungan dimana proses persalinan akan berlangsung
harus memiliki:
a) Tersedia ruangan yang bersih dan layak
b) Terdapat sumber air bersih, air panas dan air dingin

6
c) Tersedianya penerangan yang baik, ranjang sebaiknya diletakan
ditengah-tengah ruangan agar mudah didekati dari kiri
maupun kanan,dan cahaya sedapat mungkin tertuju pada tempat
persaalinan.
d) Terdapat fasilitas telepon yang bisa diakses untuk menghubungi
ambulan jika diperlukan saat melakukan rujukan atau tersedianya
mobil yang bisa digunakan saat diperlukan untuk merujuk.
Persiapan untuk mencegah terjadinya kehilangan panas tubuh
berlebihan, perlu disiapkan juga lingkungan yang sesuai bagi bayi
baru lahir dengan memastikan bahwa ruangan bersih, hangat,
pencahayaan yang cukup dan bebasdari tiupan angin. Apabila
lokasi tempat tingggal ibu di daerah pegunungan atau yang
beriklim dingin, sebaiknya sediakan minimal 2 selimut, kain atau
handuk yang kering dan bersih untuk mengeringkan dan menjaga
kehangatan tubuh bayi.

Pada intinya untuk persiapan Rumah dan lingkungan dapat


dibedakan menjadi berikut :
1) Situasi dan Kondisi
Situasi dan kondisi yang harus diketahui oleh keluarga, yaitu :
a. Rumah cukup aman dan hangat
b. Tersedia ruangan untuk proses persalinan
c. Tersedia air mengalir
d. Terjamin kebersihannya
e. Tersedia sarana media komunikasi
2) Rumah
Tugas bidan adalah mengecek rumah sebelum usia kehamilan
37 minggu dan syarat rumah diantaranya :
a. Ruangan sebaiknya cukup luas
b. Adanya penerangan yang cukup
c. Tempat nyaman
Tempat tidur yang layak untuk proses persalinan

7
5. Persiapan Alat Bidan Kit
Perlengkapan alat yang harus disiapkan bidan/penolong persalinan :
Persiapan untuk pertolongan persalinan
a. Tensimeter
b. Stetoskop
c. Monoaural
d. Jam yang mempunyai detik
e. Termometer
f. Partus set
g. Heacting set
h. Bahan habis pakai ( injeksi oksitosin, lidokain ,kapas ,kasa, detol /
lisol)
i. Set kegawatdaruratan
j. Bengkok
k. Tempat sampah basah,kering dan tajam
l. Alat –alat proteksi diri
6. Persiapan Ibu dan Keluarga
Persalinan adalah saat yang menegangkan bahwa dapat menjadi saat
yang menyakitkan dan menakutkan bagi ibu. Upaya untuk mengatasi
gangguan emosional dan pengalaman yang menegangkan dapat
dilakukan dengan asuhan sayang ibu selama proses persalinan. Adapun
persiapan ibu dan keluarga diantaranya:
a) Waskom besar
b) Tempat/ember untuk penyediaan air
c) Kendil atau kwali untuk ari-ari
d) Tempat untuk cuci tangan (air mengalir)+sabun+handuk kering
e) Daster
f) Dua kain panjang, satu untuk ibu dan satu untuk ditaruh diatas
alas plastik atau karet.
g) BH menyusui
h) Pembalut
i) Satu handuk

8
j) Sabun
k) Dua waslap.
l) Perlengkapan pakaian bayi
m) Selimut bayi
n) Kain halus atau lunak untuk mengeringkan dan membungkus bayi
7. Manajemen Ibu Intranatal
a. Asuhan Persalinan Kala I
Bertujuan untuk memberikan pelayanan kebidanan yang
memadai dalam pertolongan persalinan yang bersih dan
aman.Bidan perlu mengingat konsep tentang konsep sayang ibu,
rujuk bila partograf melewati garis waspada atau ada kejadian
penting lainnya.
Ada tugas dan proses/ langkah-langkah yang harus di lalui
dalam memberikan asuhan persalinan pada Kala I.
Tugas dan proses tersebut seperti yang dijabarkan di bawah ini :
a) Melakukan penilaian secara tepat kapan persalinan dimulai
b) Mampu memberikan asuhan yang memadai dengan
memperhatikan kebutuhan ibu.
c) Terampil dalam melakukan pertolongan persalinan
d) Menghargai hak dan pribadi ibu serta tradisi setempat.
e) Mengizinkan adanya pendamping.

Sebelum bidan melakukan menajemen asuhan kala I, bidan


perlu mengingat tentang konsep sayang ibu, rujuk apabila partograf
melewati garis waspada atau da kejadian-kejadian penting lain,
serta lakukan observasi ketat apabila didapatkan penyimpangan
dalam partograf.

Langkah-langkah asuhan intranatal kala I meliputi :

a) Mengizinkan ibu memilih pendamping persalinan;


b) Bidan harus segera datang kerumah ibu apabila dipanggil;
c) Memperhatiakan proses pencegahan infeksi;

9
d) Melakukan anamnesis secara lengkap tentang kehamilan
ibu;
e) Melakukan pemeriksaan fisik secara lengkap;
f) Melakukan pemeriksaan dalam sesuai kebutuhan/indikasi;
g) Melakukan pemantauan kemajuan persalinan menggunakan
partograf;
h) Dokumentasikan secara lengkap semua kejadian dalam
lembar observasi dan partograf;
i) Berikan dukaungan moral pada ibu,suami, dan keluarga;
j) Libatkan keluarga secara aktif dalam proses persalinan;
k) Jelaskan proses persalianan yang sedang berlangsung dan
beritahu setisp kemajuan;
l) Lakukan manajemen nyeri non farmakologi (masase
punggung, relaksasi, dan lain-lain);
m) Lakukan persiapan untuk pertolongan persalinan
b. Asuhan Persalinan Kala II
Bertujuan memastikan proses persalinan aman, baik untuk ibu
maupun bayi.Bidan dapat mengambil keputusan sesegera mungkin
apabila diperlukan rujukan.Tugas yang harus dilakukan bidan
dalam asuhan kala II adalah sebagai berikut :
a) Melakukan pertolongan persalinan yang bersih dan aman;
b) Menghargai hak ibu secara pribadi;
c) Menghargai tradisi setempat;
d) Mengizinkan ibu untuk memilih pendamping persalianan;

Langkah-langkah asuhan intranatal kala II yaitu sebagai berikut


:
a) Berikan pendampingan dan hargai ibu selama proses
persalinan;
b) Memastikan tersedianya ruangan dibutuhkan;
c) Cuci tangan dengan air mengalir sebelum dan setelah
melakukan tindakan;
d) Bantu ibu untuk memilih posisi yang diinginkan;

10
e) Kosongkan kantong kemih setiap 2 jam;
f) Anjurkan ibu mengejan hanya jika ada dorongan ingin
mengejan;
g) Berikan pujian kepada ibu;
h) Berikan minum yang mengandung gula, pada saat tidak ada
his;
i) Lakukan observasi ketat denyut jantung janin setiap tidak
ada his, jika terjadi gawat janin percepat persalinan dengan
melakukan episiotomi;
j) Hindari peregangan vagina secara manual;
k) Lakukan pertolongan persalinan sesuai dengan standar
normal (APN);
l) Apabila rektum ibu mengeluarkan feses, bersihkan dengan
kain bersih;
m) Lakukan inisiasi menyusui dini;
n) Berikan injeksi fitamin K pada paha bayi;
o) Berikan salep mata pada bayi;
p) Dokumentasikan secara lengkap semua temuan;
Hal-hal yang menjadi perhatian bidan pada saat
memberikan asuhan intranatal kala II antara lain sebagai
berikut :
a) Hindari untuk meminta ibu mengejan jika dalam posisi
terlentang;
b) Ingat tiga bersih, yaitu bersih alat, tempat persalinan,
pengikat dan pemotong tali pusat;
c) Pimpin ibu mengejan jika ada keinginan untuk mengejan;
d) Hindari intervensi apabila tidak dibutuhkan;
e) Terapkan konsep sayang ibu;
f) Lakukan pengambilan keputusan sesegera mungkin apabila
diperlukan rujukan.

11
c. Asuhan Persalinan Kala III
Bidan sebagai tenaga penolong harus terlatih dan terampil
dalam melakukan manajemen aktif kala III.

Asuhan persalinan pada kala III merupakan hal penting,


mengingat salah satu penyebab kematian ibu adalah perdarahan.
Oleh karena itu, dalam asuhan kala III ada beberapa syarat yang
harus dipenuhi, yaitu bidan sebagai penolong persalinan harus
terlatih dan terampil melakukan manajemen aktif kala III,
tersedianya peralatan dan perlengkapan manajemen aktif kala III
dan pencegahan infeksi, tersedianya obat-obatan dan metode
efektif untuk penyimpanan , serta sistem rujukan untuk
kegawatdaruratan obstetri yang efektif.

Asuhan persalinan kala III diberikan dengan tujuan untuk


membantu mengeluarkan plasenta dan selaput janin secara
lengkap, mengurangi kejadian perdarahan pasca-salin,
memperpendek kala III, mencegah terjadinya komplikasi, dan
mencegah terjadinya retensio plasenta. Dalam hal ini bidan
mepunyai tugas rutin, yaitu melakukan penatalaksanaan aktif
persalinan kala III (manajemen aktif kala III).

Hal-hal yang yang menjadi perhatian bidan pada saat


memberikan asuhan intranatal kala III adalah sebagai berikut :

a) Penyimpanan oksitosin harus didlam lemari es pada suhu 2-


80C dan hindarkan dari paparan cahaya secara langsung.
b) Pada suhu 300C oksitosin dapat bertahan selama 1 bulan,
dan pada suhu 400C oksitosin dapat bertahan selama 2
minggu.
c) Tidak dianjurkan untuk memberikan ergometrin atau
metergin sebelum bayi lahir.

12
d) Tanda-tanda pelepasan plasenta adalah fundus naik dan
berkontraksi dengan baik, keluar darah dari vagina, serta
tali pusat memanjang.
e) Pada saat melahirkan plasenta, jangan mendorong fundus
dan menarik tali pusat secara berlebihan.
f) Lakukan peregangan tali pusat dengan hati-hati
g) Hentikan peregangan tali pusat apabila ibu mengeluh nyeri
atau tali pusat tertahan.

Apabila merasa tidak yakin plasenta dapat dilahirkan dengan


lengkap, ikuti prosedur tetap penatalaksanaan plasenta rest, bila
perlu rujuk.

d. Asuhan Persalinan Kala IV


Asuhan persalinan yang mencakup pada pengawasan satu
sampai dua jam setelah plasenta lahir.Pengawasan/observasi ketat
dilakukan pada hal-hal yang menjadi perhatian pada asuhan
persalinan kala IV.

Pada kala ini tidak menutup kemungkinan terjadi perdarahan


dan atonia uteri. Kehilangan darah biasanya terjadi karena
pelepasan plasenta dan robekan serviks dan perinium.. jumlah
darah yang keluar harus diukur (1 bengkok = ± 500 cc), apabila
jumlah perdarahan lebih dari 500 cc harus dicari penyebabnya.

Hal-hal yang herus diperhatikan pada asuhan persalinan kala


IV adalah sebagai berikut :

a) Kontraksi uterus
b) Perdarahan
c) Kandung kemih
d) Adanya luka
e) Keadaan plasenta dan selaputnya harus lengkap
f) Tanda-tanda vital
g) Keadaan bayi

13
B. Asuhan Bayi Baru Lahir dan Neonatus
1. Jadwal Kunjungan
Kunjungan neonatus bertujuan untuk meningkatkan akses neonatus
terhadap pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin
komplikasi yang terjadi pada bayi sehingga dapat segera ditangani dan
bila tidak dapat ditangani maka dirujuk ke fasilitas yang lebih lengkap
untuk mendapatkan perawatan yang optimal. Jadwal kunjungan
neonatus atau bayi baru lahir antara lain:
a. Kunjungan I
Dilakukan pada 6 jam pertama setelah kelahiran.
1) Menjaga agar bayi tetap hangat dan kering. Menilai
penampilan bayi secara umum yaitu bagaimana penampakan
bayi secara keseluruhan dan bagaimana ia bersuara yang dapat
menggambarkan keadaan kesehatannya.
2) Tanda-tanda pernapasan, denyut jantung dan suhu badan
penting untuk diawasi selama 6 jam pertama.
3) Menjaga tali pusat agar tetap bersih dan kering.
4) Pemberian ASI awal.
b. Kunjungan II
Pada hari ke-3 setelah kelahiran
1) Menanyakan pada ibu mengenai keadaan bayi
2) Menanyakan bagaimana bayi menyusui.
3) Memeriksa apakah bayi terlihat kuning (ikterus)
4) Memeriksa apakah ada nanah pada pusat bayi dan apakah
baunya busuk
c. Kunjungan III
Pada hari ke-8 sampai 28 hari setelah kelahiran. Tapi biasanya
pada minggu ke-2 bersamaandengan saat melakukan kunjungan
nifas yang ketiga pada ibu.
1) Tali pusat biasanya sudah lepas pada kunjungan 2 minggu
pasca salin
2) Memastikan apakah bayi mendapatkan ASI yang cukup

14
3) Bayi harus mendapatkan imunisasi
d. Kunjungan IV
Pada 6 minggu setelah kelahiran. Kunjungan neonatus hanya 3
kali kunjungan tapi saatmelakukan kunjungan nifas yang ke-
4 pada ibu sekaligus melihat kondisi bayi.
1) Memastikan bahwa laktasi berjalan baik dan berat badan bayi
meningkat
2) Melihat hubungan antara ibu dan bayi.
3) Menganjurkan ibu untuk membawa bayinya ke posyandu
untuk penimbangan dan imunisasi

2. Manajemen Pada Bayi Baru Lahir Dan Neonatus


a. Pengkajian segera BBL
1) Pemeriksaan awal
a) Nilai kondisi bayi
b) Apakah bayi menangis kuat/bernapas tanpa kesulitan ?
c) Apakah bayi bergerak aktif/lemas ?
d) Apakah warna merah muda,pucat/biru ?
e) APGAR Score Merupakan alat untuk peagkajian bayi
setelah lahir meliputi 5 variabel yaitu pernapasan, frekuensi
jantung, warna kulit, tonus otot, reflek . Apgar score
ditemukan oleh virginia apgar (1950).
b. Pemeriksaan lengkap beberapa jam kemudian
Semua bayi harus diperiksa lengkap beberapa jam kemudian,
setelah membiarkan bayi beberapa waktu untuk pulih karena
kelahiran. Bayi secara keseluruhan. Bayi normal berbaring dengan
posisi fleksi (menekuk). la mungkin meregang atau menguap.
Warnanya merah muda. la menangis. Pernapas-annya teratur. la
memberikan respon terkejut yang normal, jika tiba-tiba diberi
sentakan (ia akan melemparkan tangannya ke arah depan luar
seperti hendak meraih seseorang). Ini disebut refleks Moro.
1) Kepala

15
a) Ukurlah lingkar kepala. Ukuran kepala yang tidak
normal besarnya disebut hidrosefalus. Ukuran kepala
yang terlalu kecil disebut mikrosefalus. Lingkar kepala
rata-rata adalah 33 cm.
b) Rabalah fontanela anterior, seharusnya tidak menonjol
(membengkak).
c) Lihatlah adanya celah bibir (seperti bibir kelinci) atau celah
palatum.

2) Punggung.
Spina bifida merupakan kelainan tulang belakang pada bayi.
Tidak didapatkan tulang dan kadang-kadang tidak ada kulit
yang menutupi sumsum tulang belakang bayi.
3) Anus
Periksalah apakah anus terbuka dan mekonium dapat keluar.
Ini untuk meyakinkan tidak adanya anus imperforate/atresia
ani. Anus imperforata atau atresia ani merupakan kelainan
kongenital pada anus dimana tidak terdapatnya lubang anus.
4) Anggota tubuh
Periksa kondisi semua anggota tubuh, apakah normal ataukah
terdapat kelainan.
c. Pemeliharaan BBL
Dalam melakukan kunjungan rumah, bidan harus memperhatikan
kebutuhan higiene, memandikan bayi, memelihara tali pusat,
pakaian bayi, merawat kuku bayi, merawat mulut bayi, merawat
telinga, merawat hidung, kebutuhan makanan, dan kebutuhan tidur.
1) Kebutuhan Hygiene
Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
memelihara kebersihan :
a) Kuku jari tangan ibu hendaknya selalu pendek supaya tidak
ada kuman dan kotoran yang terselip di bawah kuku dan
mencegah jangan sampai melukai badan bayi.

16
b) Sebelum dan sesudah memegang bayi ibu harus selalu
mencuci tangan.
c) Kamar bayi terlindungi dari angin, debu, tetapi cukup
mendapat sinar matahari dan udara segar.
d) Untuk menghindari infeksi, pakaian bayi harus dicuci
terpisah dari pakaian anggota keluarga yang lain.
e) Pakaian bayi harus selalu bersih dan kering dan tidak
memberi kapur/kamper pada pakaian bayi.
2) Memandikan Bayi
Cara memandikan bayi :
a) Bersihkan wajah bayi dengan waslap basah tanpa sabun
karena bahaya sabun masuk ke mata bayi. Badan disabuni
mulai dari kepala, leher, tangan, jari, ketiak, dada, perut,
sekitar pusat, kemudian punggung, kaki, dan terakhir alat
kelamin. Perhatikan lipatan, misalnya leher, ketiak, paha
harus dibersihkan dengan baik. Dengan waslap bersih,
badan dibersihkan dari sabun.
b) Bayi dimasukan ke dalam ember mandi dan bilas sampai
bersih.
c) Bayi diangkat dari air, diletakkan diatas handuk dan
dikeringkan mulai dari kepala menurun ke bawah.
Perhatikan, lipatan harus benar-benar kering dan dilihat
apakah ada kelainan kulit dan sebagainya.
3) Memelihara Tali Pusat
Jika tali pusat masih ada, ambil sepotong kasa steril kering
kemudian tali pusat dibungkus. Perhatikan pangkal/puntung tali
pusat harus terbungkus dengan baik.
4) Pakaian Bayi
Semua pakaian bayi yang akan dipakai harus dicuci dahulu,
tidak boleh disimpan dengan kapur barus karena dapat
menyebabkan bayi kuning.
5) Merawat Kuku Bayi

17
Jika kuku bayi panjang harus digunting, tetapi jangan terlalu
pendek. Sebaiknya, gunakan pemotong kuku khusus untuk bayi
atau gunting kecil. Hati-hati, jangan sampai melukai jari bayi
karena kulit bayi masih sangat lunak.
6) Merawat Mulut Bayi
Mulut bayi dengan bercak putih mungkin karena sisa dari susu
(apabila bayi tidak minum ASI). Cara menghilangkannya ialah
membilasnya dengan air putih setelah minum susu.
7) Merawat Telinga
Telinga bagian dalam harus tetap kering. Jika keluar cairan
berbau, harus segera berobat ke dokter.
8) Merawat Hidung
Jika bayi pilek, lendir pada lubang hidung dapat dibersihkan
dengan memasukkan kapas yang digulung dan diputar sedikit
ke dalam lubang hidung, jangan menggunakan benda lain.
9) Kebutuhan Makanan
Makanan utama dan terbaik bagi bayi yang sudah disediakan
Tuhan adalah air susu ibu (ASI).
10) Kebutuhan Tidur
Bayi harus cukup tidur dan teratur. Pada bulan pertama, bayi
akan tidur terus, ia hanya bangun jika lapar, mandi, dan jika
diganti popoknya. Makin besar, waktu tidur bayinya makin
berkurang karena bayi sudah dapat bermain. Meskipun
demikian harus tetap diusahakan agar bayi tidur teratur pagi,
sore, dan malam hari.
11) Cara menjaga kesehatan bayi
a) Amati pertumbuhan bayi baru lahir dan neonatus secara
teratur.
(1) Timbang BB bayi baru lahir dan neonatus sebulan
sekali sejak usia 1 bulan sampai 5 tahun di posyandu.
(2) Tanya hasil penimbangan dan minta pada kader
mencacat di KMS.

18
(3) Jika bayi baru lahir dan neonatus tumbuh kurang sehat
minta nasehat gizi ke petugas kesehatan.
(4) Bermain dan bercakap-cakap pada BBL dan neonatus
sangat penting bagi perkembangan BBL dan neonatus
b) Minta imunisasi sesuai jadwal di posyandu, rumah sakit
atau praktek swasta.
(1) BBL dan neonatus harus di imunisasi lengkap sebelum
berusia 1 tahun.
(2) Imunisasi mencegah penyakit TBC, hepatitis, polio,
difteri, batuk 100 hari, tetanus dan campak
3. Pelayanan Kesehatan Pada bayi dan Balita
Pelayanan kesehatan kepada bayi meliputi:
Asuhan bayi baru lahir Pelaksanaan asuhan bayi baru lahir
mengacu pada pedoman Asuhan Persalinan Normal yang tersedia
di puskesmas, pemberi layanan asuhanbayi baru lahir dapat
dilaksanakan oleh dokter, bidan atau perawat.Pelaksanaan asuhan
bayi baru lahir dilaksanakan dalam ruangan yangsama dengan
ibunya atau rawat gabung (ibu dan bayi dirawat dalam satukamar,
bayi berada dalam jangkauan ibu selama 24 jam). Asuhan bayibaru
lahir meliputi:
Pelayanan neonatal esensial dan tatalaksana neonatal
meliputi:
a. Pertolongan persalinan yang atraumatik, bersih dan aman
b. Menjaga tubuh bayi tetap hangat dengan kontak dini
c. Membersihkan jalan nafas, mempertahankan bayi bernafas
spontan
d. Pemberian ASI dini dalam 30 menit setelah melahirkan
Inisiasi menyusui dini ( IMD ) adalah proses bayi menyusu
segera setelah dilahirkan dimana bayi dibiarkan mencari puting
susu ibunya sendiri. Inisiasi menyusui dini (IMD ) akan sangat
membantu dalam keberlangsungan pemberian ASI
ekslusif. Pemerintah Indonesia mendukung kebijakan WHO

19
dan UNICEF yang merekomendasikan inisiasi menyusui dini
sebagai tindakan penyelamatan kehidupan, karena IMD dapat
menyelamatkan 22 % dari bayi yang meninggal sebelum usia 1
bulan. Program ini dilakukan dengan cara langsung
meletakkan bayi baru lahir di dada ibunya dan membiarkan
bayi mencari untuk menemukan putting susu ibun untuk
menyusu. IMD harus dilaksanakan langsung saat lahir, tanpa
boleh ditunda dangan kegiatan menimbang atau mengukur
bayi. Bayi juga tidak boleh dibersihkan hanya dikeringkan
kecuali tangannya. Proses ini harus berlangsung skin to skin
antara bayi dan ibu.
Menyusui 1 jam pertama kehidupan yang di awali dengan
kontak kulit antara ibu dan bayi dinyatakan sebagai indicator
global dan Ini merupakan hal baru bagi Indonesia, dan
merupakan program pemerintah khususnya Departemen
Kesehatan RI.
e. Melakukan penilaian terhadap bayi baru lahir
 Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernafas tanpa
kesulitan
 Apakah bayi bergerak dengan aktif atau lemas
 Jika bayi tidak bernapas atau bernapas megap – megap
atau lemah maka segera lakukan tindakan resusitasi
bayi baru lahir.
f. Membebaskan Jalan Nafas nafas
Dengan cara sebagai berikut yaitu bayi normal akan menangis
spontan segera setelah lahir, apabila bayi tidak langsung
menangis, penolong segera membersihkan jalan nafas dengan
cara sebagai berikut :
 Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras
dan hangat.

20
 Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu
sehingga leher bayi lebih lurus dan kepala tidak menekuk.
Posisi kepala diatur lurus sedikit tengadah ke belakang.
 Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokkan bayi
dengan jari tangan yang dibungkus kassa steril.
 Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau
gosok kulit bayi dengan kain kering dan kasar.
 Alat penghisap lendir mulut (De Lee) atau alat penghisap
lainnya yang steril, tabung oksigen dengan selangnya
harus sudah ditempat
 Segera lakukan usaha menghisap mulut dan hidung
 Memantau dan mencatat usaha bernapas yang pertama
(Apgar Score)
 Warna kulit, adanya cairan atau mekonium dalam hidung
atau mulut harus diperhatikan.
g. Merawat tali pusat
Setelah plasenta dilahirkan dan kondisi ibu dianggap stabil,
ikat atau jepitkan klem plastik tali pusat pada puntung tali
pusat.
 Celupkan tangan yang masih menggunakan sarung
tangan ke dalam larutan klonin 0,5 % untuk
membersihkan darah dan sekresi tubuh lainnya.
 Bilas tangan dengan air matang atau disinfeksi tingkat
tinggi
 Keringkan tangan (bersarung tangan) tersebut dengan
handuk atau kain bersih dan kering.
 Ikat ujung tali pusat sekitar 1 cm dari pusat bayi dengan
menggunakan benang disinfeksi tingkat tinggi atau klem
plastik tali pusat (disinfeksi tingkat tinggi atau steril).
Lakukan simpul kunci atau jepitankan secara mantap
klem tali pusat tertentu.

21
 Jika menggunakan benang tali pusat, lingkarkan benang
sekeliling ujung tali pusat dan dilakukan pengikatan
kedua dengan simpul kunci dibagian tali pusat pada sisi
yang berlawanan.
 Lepaskan klem penjepit tali pusat dan letakkan di dalam
larutan klonin 0,5%
 Selimuti ulang bayi dengan kain bersih dan kering,
pastikan bahwa bagian kepala bayi tertutup dengan
baik..(Dep. Kes. RI, 2002)
h. Pencegahan Kehilangan Panas
Mekanisme kehilangan panas
 Evaporasi
Penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh
panas tubuh bayi sendiri karena setelah lahir, tubuh bayi
tidak segera dikeringkan.
 Konduksi
Kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara
tubuh bayi dengan permukaan yang dingin, co/ meja,
tempat tidur, timbangan yang temperaturnya lebih rendah
dari tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi bila
bayi diletakkan di atas benda – benda tersebut
 Konveksi
Kehilangan panas tubuh terjadi saat bayi terpapar udara
sekitar yang lebih dingin, co/ ruangan yang dingin,
adanya aliran udara dari kipas angin, hembusan udara
melalui ventilasi, atau pendingin ruangan.
 Radiasi
Kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan
di dekat benda – benda yang mempunyai suhu tubuh
lebih rendah dari suhu tubuh bayi, karena benda – benda
tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi (walaupun
tidak bersentuhan secara langsung)

22
Cegah terjadinya kehilangan panas melalui upaya berikut
:
 Keringkan bayi dengan seksama
Mengeringkan dengan cara menyeka tubuh bayi, juga
merupakan rangsangan taktil untuk membantu bayi
memulai pernapasannya.
 Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat
Ganti handuk atau kain yang telah basah oleh cairan
ketuban dengan selimut atau kain yang baru (hanngat,
bersih, dan kering)
 Selimuti bagian kepala bayi
Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yg relative
luas dan bayi akan dengan cepat kehilangan panas jika
bagian tersebut tidak tertutup.
 Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya
Pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan
tubuh dan mencegah kehilangan panas. Sebaiknya
pemberian ASI harus dimulai dalam waktu satu (1) jam
pertama kelahiran
 Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru
lahir Karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan
panas tubuhnya, sebelum melakukan penimbangan,
terlebih dahulu selimuti bayi dengan kain atau selimut
bersih dan kering. Berat badan bayi dapat dinilai dari
selisih berat bayi pada saat berpakaian/diselimuti
dikurangi dengan berat pakaian/selimut. Bayi sebaiknya
dimandikan sedikitnya enam jam setelah lahir.
i. Pencegahan Infeksi
 Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah
bersentuhan dengan bayi

23
 Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani
bayi yang belum dimandikan
 Pastikan semua peralatan dan bahan yang
digunakan, terutama klem, gunting, penghisap
lendir DeLee dan benang tali pusat telah
didesinfeksi tingkat tinggi atau steril.
 Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan kain
yang digunakan untuk bayi, sudah dalam keadaan
bersih. Demikin pula dengan timbangan, pita
pengukur, termometer, stetoskop.
 Memberikan vitamin K
Untuk mencegah terjadinya perdarahan karena
defisiensi vitamin K pada bayi baru lahir normal
atau cukup bulan perlu di beri vitamin K per oral 1
mg / hari selama 3 hari, dan bayi beresiko tinggi di
beri vitamin K parenteral dengan dosis 0,5 – 1 mg
IM.
 Memberikan obat tetes atau salep mata
Untuk pencegahan penyakit mata karena klamidia
(penyakit menular seksual) perlu diberikan obat
mata pada jam pertama persalinan, yaitu
pemberian obat mata eritromisin 0.5 % atau
tetrasiklin 1 %, sedangkan salep mata biasanya
diberikan 5 jam setelah bayi lahir.
Perawatan mata harus segera dikerjakan, tindakan
ini dapat dikerjakan setelah bayi selesai dengan
perawatan tali pusat
j. Pemeriksaan Fisik Bayi Baru Lahir
Kegiatan ini merupakan pengkajian fisik yang
dilakukan oleh bidan yang bertujuan untuk memastikan
normalitas & mendeteksi adanya penyimpangan dari
normal.Pengkajian ini dapat ditemukan indikasi tentang

24
seberapa baik bayi melakukan penyesuaian terhadap
kehidupan di luar uterus dan bantuan apa yang
diperlukan. Dalam pelaksanaannya harus diperhatikan
agar bayi tidak kedinginan, dan dapat ditunda apabila
suhu tubuh bayi rendah atau bayi tampak tidak sehat.
Prinsip pemeriksaan bayi baru lahir
 Jelaskan prosedur pada orang tua dan minta
persetujuan tindakan
 Cuci dan keringkan tangan , pakai sarung tanga
 Pastikan pencahayaan baik
 Periksa apakah bayi dalam keadaan hangat, buka
bagian yangg akan diperiksa (jika bayi telanjang
pemeriksaan harus dibawah lampu pemancar) dan
segera selimuti kembali dengan cepat
 Periksa bayi secara sistematis dan menyeluruh
k. Imunisasi BCG, hepatitis B dan polio oral

4. Perawatan kesehatan bayi


a. Mengukur suhu peranus
b. Membungkus bayi dengan selimut atau bedong
Tindakan ini tidak hanya membuatnya merasa hangat tetapi
sedikit tekanan disekitar tbuh bayi akan memberikan rasa
aman. Untuk membungkus bayi dengan selimut, rentangkan
selimut dengan rata dengan satu sisi dilipat ujung nya.
Baringkan bayi dengan wajah menghadap keatas, dengan
kepalanya pada sudut yang akan dilipat. Bungkus sudut kiri
pada tubuhnya danmemasukan ujungnya kebawahnya. lipat
bagian bawah menutupi kakinya, dan kemudian lipat sudut
kanan disekitar tubuhnya dengan membiarkan kepala dan
Lehernya terbuka.
Bayi tidak dapat memegang thermometer dengan tetep
dimulutnya untuk diambil suhu peroralnya.sementara kertas

25
pengukur suhu yang ditempatkan dikening bayi member hasil
tidak tepat. Cara yang terbaik mengukur demam pada bayi
adalah dengan mengukur peranus. Caranya adalah memegang
termometerdiantara ibu jari dan telunjuk (pada ujung lain dari
thermometer) dan putar pelan-pelan kebelakang dan kedepan
sampai anda melihat kolom air raksa. Pembacaan suhu
berhubungan dengan ujung kolom. Thermometer digital lebih
mudah dibaca tetapi lebih mahal.
Prosedur untuk mengambil suhu anus adalah sebagai berikut:
1) Goyang- goyang kolom air raksa sampai suhu terbaca
dibawah 35 derajat celecius.
2) Ulasi ujung tumpul dengan alkuhol atau sabun dan air dan
bilaslah dengan air bersih
3) Tempatkan sejumlah kecil pelumas seperti jeli petroleum
pada uung tersebut.
4) Tempatkan bayi telungkup pada permukaan yang keras
5) Tekat telapak dari sati tangan pada pungung bayi tepat
diatas bokong agar bayi tidak bergerak.
6) Dengan tangan anda yang lain sisipkan terometer sedalam
1-2,5 cmkedalam anus. Pegang thermometer diantara jari
keduan dan ketiga dengan tangan menampung dibagian
bawah bayi. Tahan ditempat selama 2menit
7) Pembacaan peranus dengan suhu sebesar 38 derajat celcius
meng idikasikan adanya demam. Suhu anak dapat diambil
pada anak – anak segala usia,tetapi menjenglang usia
4tahun atau 5 tahun anak kemungkinan cukup dapat bekerja
sama untuk diambil suhu permulut yang membutukan
penyimpanan termometerdibawah kidah selama 2menit.
c. Mengunjungi dokter anak
Idealnya kedua orang tua harus hadir pada kunjungan awal ini.
Pertemuan ini memberikan orang tua dan dokter untuk saling
mengenal dan bertukar pikiran. Tujuan dari pemeriksaan adalah

26
untuk memastikan bahwa anak tumbuh dengan sehat dan
berkembang dengan sewajarnya dan tak ada ketidak normalan
secara serius.secara khusus dokter akan memeriksa hal – hal
sebagai berikut yaitu:
1) Pertumbuhan
2) Kepala
3) Telinga
4) Mata
5) Mulut
6) Jantung dan paru
7) Perut
8) Alat kelamin
5. Perawatan Kesehatan Anak Balita
Salah satu upaya untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian
anak balita adalah dengan melakukan pemeliharaan kesehatannya.
Bidan yang bekerja di komunitas melakukan kegiatan pelayanan
kesehatan anak balita di rumah (keluarga), Puskesmas/Puskesmas
pembantu, Posyandu, Polindes dan Taman Kanak-kanak.
a. Pelayanan kesehatan pada anak balita
1) Pemeriksaan kesehatan anak balita secara berkala
2) Penyuluhan pada orang tua, menyangkut perbaikan gizi,
kesehatan lingkungan, pengawasan tumbuh kembang anak
3) Imunisasi dan upaya pencegahan penyakit lainnya
4) Identifikasi tanda kelainan dan penyakit yang mungkin timbul
pada bayi dan cara menanggulanginya
b. Kunjungan anak balita

Bidan berkewajiban mengunjungi bayi yang ditolongnya atupun


yang ditolong oleh dukun di bawah pengawasan bidan di rumah.

1) Kunjungan ini dilakukan pada minggu pertama setelah


persalinan. Untuk selanjutnya bayi bisa dibawa ke tempat bidan
bekerja

27
2) Anak berumur sampai 5 bulan diperiksa setiap bulan
3) Kemudian pemeriksaan dilakukan setiap 2 bulan sampai anak
berumur 12 bulan
4) Setelah itu pemeriksaan dilakukan setiap 6 bulan sampai anak
bet umur 24 bulan
5) Selanjutnya pemeriksaan dilakukan satu kali se-tahun.

Kegiatan yang dilakukan pada kunjungan balita antara lain:

1) Pemeriksaan fisik anak ditakukan termasuk penimbangan berat


badan
2) Penyuluhan atau nasehat pada ibu tentang pemeliharaan
kesehatan anak dan perbaikan gizi serta hubungan psiko sosial
antar anak, ibu dan keluarga. Ibu diminta memperhatikan
tumbuh kembang anak, pola makan dan tidur serta
perkembangan prilaku dan sosial anak.
3) Penjelasan tentang Keluarga Berencana
4) Dokumentasi pelayanan
c. Pemeriksaan kesehatan anak balita
Kegiatan observasi dilakukan untuk mengetahui keadaan umum
anak.
Beberapa hal yang perlu dilakukan pada pemeriksaan fisik adalah
sebagai berikut:
1) Anak diperiksa dalam keadaan tanpa pakalan kecuali popok
atau celana dalam
2) Bila anak gelisah, pemeriksaan dilakukan di atas pangkuan ibu
3) Ibu diminta membantu proses pemeriksaan agar berjalan lancer
4) Berikan pengertian pada anak yang sudah besar dan mengerti
tentang pemeriksaan
5) Denyut nadi, suhu napas jangan lupa diperiksa
6. Pemantauan Tumbuh Kembang Bayi dan Balita/Deteksi Dini
Deteksi dini tumbuh kembang bayi, balita dan anak pra
sekolah adalah kegiatan pemeriksaan untuk menemukan secara

28
dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak
pra sekolah. Dengan ditemukan secara dini penyimpangan/
masalah tumbuh kembang bayi, balita dan anak pra sekolah, maka
intervensi akan lebih mudah dilakukan, tenaga kesehatan juga
mempunya “waktu” dalam membuat rencana tindakan/ intervensi
yang tepat, terutama ketika harus melibatkan ibu/ keluarga. Bila
penyimpangan terlambat diketahui, maka intervensinya akan sulit
dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang bayi, balita,
dan anak pra sekolah tersebut.

Ada 3 jenis deteksi dini tumbuh kembang yang dapat dikerjakan


oleh tenaga kesehatan di tingkat puskesmas dan jaringannya, berupa:

a. Deteksi dini pemyimpangan pertumbuhan, yaitu untuk mengetahui/


menentukan status gizi kurang/ buruk dan mikro/ makrosepali.

b. Deteksi dini penyimpangan perkembangan, yaitu untuk mengetahui


gangguann perkembangan bayi dan balita (keterlambatan),
gangguan daya lihat, gangguan daya dengar.

c. Deteksi dini penyimpangan mental emosional, yaitu untuk


mengetahui adanya masalah mental emosional, autism, dan
gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas.

Adapun jadwal kegiatan dan jenis skrining/ deteksi dini adanya


penyimpangan tumbuh kembang pada bayi, balita, dan anak pra
sekolah oleh tenaga kesehatan adalah sebagai berikut:

Kelompok
No Jadwal Deteksi Dini
Umur
1 Bayi - Pada bayi umur 0 – 28 hari
- Pada bayi 1 – 11 bulan, deteksi dini dilakukan saat
umur 3 bulan, 6 bulan dan 9 bulan
2 Anak balita Deteksi dini dilakukan setiap 6 bulan, yaitu umur
12 bulan, 18 bulan, 24 bulan, 30 bulan, 36 bulan,

29
42 bulan, 48 bulan, dan 54 bulan
3 Anak Deteksi dini dilakukan setiap 6 bulan, yaitu umur
prasekolah 48 bulan, 54 bulan, 60 bulan, 66 bulan dan 72
bulan

7. Imunisasi
a. Pengertian
Imunisasi adalah suatu upaya untuk mndapatkan kekebalan
terhadap suatu penyakit dengan cara memasukkan kuman atau
produk kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan ke dalam
tubuh dan diharapkan tubuh dapat menghasilkan zat anti yang pada
saatnya digunakan tubuh untuk melawan kuman atau bibit penyakit
yang menyerang tubuh ( Sudarmanto Y. Agus, 1997).
Imunisasi pada bayi dan balita bertujuan untuk mencegah
penyakit pada bayi dan balita yang pada akhirnya akan
menghilangkan penyakit tersebut.
a. Jenis Imunisasi
1) Imunisasi Aktif
Tubuh akan membuat sendiri zat anti setelah adanya
rangasangan antingen dari luar tubuh, rangsangan virus yang
telah dilemahkan seperti pada imunisasi polio atau imunisasi
campak.
Tubuh anak tidak membuat zat antibody sendiri, tetapi
kekebalan tersebut diperoleh dari luar dengan cara penyuntikan
bahan/ serum yang telah mengandung zat anti, atau anak
tersebut mendapat zat anti dari ibunya semasa dalam
kandungan, setelah memperoleh penolakan zat penolak,
prosesnya cepat, tetapi tidak bertahan lama.
c. Jadwal Imunisasi
1) BCG ( Bacillus Calmette- Geurin).

30
Pemberian Imunisasi BCG dilakukan pada bayi baru lahir
dan dianjurkana paling lambat diberikan sebelum bayi berusia
3 bulan. Bagi bayi yang akan diberikan imunisasi BCG setelah
usia 3 bulan, harus dilakukan tes tuberculin terlebih dulu. Tes
Tuberkulin dilakukan dengan cara menyuntik protein kuman
TB (antingen) pada lapisan kulit lengan atas. Kulit akan
bereaksi terhadap antingen, bila sudah pernah terapapar kuman
TB. Reaksi tersebut berupa benjolan merah pada kulit di area
penyuntikan.

2) Hepatitis B
Hepatitis B diberikan sedini mungkin setelah lahir.
Pemberian imunisasi hepatitis B harus berdasarkan HbsAg ibu
pada saat melahirkan. Bayi yang lahir dari ibu status HbsAg
yang tidak diketahui akan diberikan vaksin recombinan atau
vaksin plasma derivate 10µg, intra muscular, dalam 12 jam
setelah lahir. Dosis kedua diberikan pada usia 1-2 bulan dan
dosis ketiga pada usia 6 bulan. Jika pada pemeriksaan
selanjutnya diketahui HbsAg – ibu positif, segera berikan 0,5
ml HBIG (sebelum 1 minggu).
Untuk bayi yang lahir dari ibu dengan HbsAg postif, dalam
jangka waktu 12 jam setelah lahir, secara bersamaan, diberikan
0,5 ml HBIG dan vaksin rekombinan per IM, disisi tubuh yang
berlainan. Dosis kedua diberikan 1-2 bulan sesudahnya dan
dosis ketiga diberikan pada usia 6 bulan.
3) DPT
Imunisasi DPT dasar diberikan 3 kali sejak usia 2 bulan
dengan interval 4-6 minggu. DPT 1 diberikan pada usia 2-4
bulan, DPT 2 pada usia 3-4 bulan, DPT 3 diberikan pada usia
4-6 bulan. Imunisasi selanjutnya (DPT 4) diberikan 1 tahun
detelah DPT 3, yaitu usia 18-24 bulan, dan DPT 5 pada saat
masuk sekolah usia 5-7 tahun.

31
4) Tetanus
Program eliminasi tetanus neonatorum (ETN) melalui
imunisasi DPT, DT atau TT dilaksanakan berdasarkan
perkiraan lama waktu perlindungan.
Imunisasi DPT 3 kali akan memberi imunitas 1-3 tahun
dengan 3 dosis toksoid tetanus pada bayi dihitung setara
dengan 2 dosis toksoid pada anak yang lebih besar dan dewasa.
Ulangan DPT pada usia 18-24 bulan (DPT 4) akan
memperpanjang imunitas hingga 5 tahun, yaitu sampai usia 6-7
tahun; 4 dosis toksoid tetanus pada bayi dan anak dihitung
setara dengan 3 dosis toksoid pada dewasa. Toksoid tetanus
kelima(DPT 5) diberikan pada usia sekolah yang akan
memperpanjang imunitas hingga 10 tahun sampai usia 17-18
tahun; 5 dosis toksoid tetanus anak dihitung setara dengan 4
dosis toksoid dewasa.
5) Polio
Untuk imunisasi dasar (polio 1,2,3) vaksin diberikan 2 tetes
per oral dengan interval tidak kurang 4 minggu. Polio 0
diberikan pada saat bayi akan dipulangkan dari rumah bersalin/
rumah sakit. Imunisais polio ulangan diberikan satu tahun sejak
imunisasi polio 4, selanjutnya saat masuk sekolah (5-6 tahun).
6) Campak
Vaksin Campak diberikan pada usia 9 bulan dalam satu
dosis 0,5 l yang diinjeksikan diarea subkutan dalam.
Dianjurkan untuk memberikan imunisasi campak ulang pada
saat anak masuk sekolah dasar (5-6 tahun).
7) MMR
Vaksin MMR diberikan pada usia 15-18 bulan, dalam 1 kali
dosis 0,5 ml persubkutan. Jika seorang anak telah mendapatkan
imunisasi MMR pada usia 12-18 bulan, imunisasi campaka
pada usia 5-6 tahun tidak perlu diberikan lagi. MMR ulangan
diberikan pada usia 10-12 tahun atau 12-18 tahun.

32
8) HIB ( H.Influenzae type B )
HIB diberikan pada usia 2 dan 4 bulan dosis ke3 6 bulan
tidak diperlukan. Vaksinasi ulangan vaksin HIB diberikan pada
usia 18 bulan. Jika anak datang pada usia 1-5 tahun, vaksin
HIB hanya diberikan 1 kali.
9) Demam Tifoid
Di Indonesia tersedia 2 jenis vaksin untuk demam tifoid,
yaitu vaksin polisakarida injeksi dan oral. Polisakarida injeksi
adalah vaksin lapsular V2 polysaccharide, yaitu Typhium Vi
(Aventus Pasteur) yang diberikan pada usia >2 tahun.
Vaksinasi ulangan dilakukan setiap 3 tahun.
10) Hepatitis A
Vaksin Hepatitis A diberikan pada daerah yang kurang
terpajan (under exposure) pada usia >2 tahun. Vaksin Hepatitis
A yang telah beredar ialah Havrix (Glaxo smith kline), Avaxim
(Aventus Pasteur), dan Vaqta (MSD).

C. Asuhan Ibu Postpartum di Rumah


1. Jadwal Kunjungan di Rumah
Ibu nifas sebaiknya paling sedikit melakukan 4 kali kunjungan
masa nifas dilakukan untuk menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir
dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah – masalah
yang terjadi. Dimana hal ini dilakukan untuk menjaga kesehatan ibu
dan bayinya, baik fisik maupun psikologik, melaksanakan skirining
yang komperhensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila
terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya, memberikan pendidikan
kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga
berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan
perawatan bayi sehat, serta memberikan pelayanan keluarga
berencana. (Prawirohardjo,2002)
Namun dalam pelaksanaan kunjungan masa nifas sangat jarang
terwujud dikarenakan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu keadaan

33
ini disebabkan karena faktor fisik dan lingkungan ibu yang biasanya
ibu mengalami keletihan setelah proses persalinan dan membutuhkan
waktu yang cukup lama untuk beristirahat, sehingga mereka enggan
untuk melakukan kunjungan nifas kecuali bila tenaga kesehatan dalam
hal ini bidan yang melakukan pertolongan persalinan datang
melakukan kunjungan ke rumah ibu. Dilihat dari faktor lingkungan
dan keluarga juga berpengaruh dimana biasanya ibu setelah
melahirkan tidak dianjurkan untuk berpergian sendiri tanpa ada yang
menemani sehingga ibu memiliki kesulitan untuk menyesuaikan
waktu dengan anggota keluarga yang bersedia untuk mengantar ibu
melakukan kunjungan nifas .
Kesehatan Ibu merupakan komponen yang sangat penting dalam
kesehatan reproduksi karena seluruh komponen yang lain sangat
dipengaruhi oleh kesehatan ibu. Apabila Ibu sehat maka akan
menghasilkan bayi yang sehat yang akan menjadi generasi kuat. Ibu
yang sehat juga menciptakan keluarga sehat dan bahagia.
Jadwal kunjungan rumah paling sedikit dilakukan 4x, yaitu
diantaranya :
1) Kunjungan 1 (6-8 jam setelah persalinan)
Kunjungan pertama dilakukan setelah 6-8 jam setelah persalinan,
jika memang ibu melahirkan dirumahnya. Kunjungan dilakukan
karena untuk jam-jam pertama pasca salin keadaan ibu masih rawan
dan perlu mendapatkan perawatan serta perhatian ekstra dari bidan,
karena 60% ibu meninggal pada saat masa nifas dan 50% meniinggal
pada saat 24 jam passca salin.
Adapun Tujuan dari dilakukan kunjungan tersebut ialah :
a. Mencegah perdarahan masa nifas karena anatomi uteri
b. Mendeteksi dan merewat penyebab lain pendarahan
c. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota
keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena
atomi uteri.
d. Pemberi ASI awal.

34
e. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir atau kontak
langsung antara ibu dengan bayi..
f. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi.

2) Kunjungan 2 (6 hari setelah persalinan)


Kunjungan kedua dilakukan setelah enam hari pasca salin dimana
ibu sudah bisa melakukan aktivitasnya sehari-hari seperti sedia kala.
Tujuan dari dilakukannya kunjungan yang kedua yaitu :
a. Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus
berkontraksi, fundus dibawah umbikalis, tidak ada perdarahan
abnormal, tida ada bau.
b. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan
abnormal.
c. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan
istirahat.
d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak
memperlihatkan tanda-tanda penyulit.
e. Memberikan konseling pada ibu mengenai seluruh asuhan pada
bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan merawat bayi
sehari-hari.
3) Kunjungan 3 ( 2 minggu setelah persalinan).
Kunjungan ke tiga dilakukan setelah 2 minggu pasca dimana untuk
teknis pemeriksaannya sama percis dengan pemeriksaan pada
kunjungan yang kedua. Untuk lebih jelasnya tujuan daripada
kunjungan yang ketiga yaitu :
a. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan
abnormal.
b. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan
istirahat.
c. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak
memperlihatkan tanda-tanda penyulit.

35
d. Memberikan konseling pada ibu mengenai seluruh asuhan
pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan merawat
bayi sehari-hari.
4) Kunjungan 4 (6 minggu setelah persalinan)
Untuk kunjungan yang ke empat lebih difokuskan pada penyulit
dann juga keadaan laktasinya. Lebih jelasnya tujuan dari kunjungan
ke empat yaitu :
a. Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau
ibu hadapi
b. Memberikan konseling untuk KB secara dini.

2. Manajemen Ibu Pospartum


Asuhan ibu post partum adalah asuhan yang diberikan pada ibu
segera setelah kelahiran sampai 6 minggu setelah kelahiran.Adapun
tujuannya yaitu untuk memberikan asuhan yang adekuat & terstandar
pada ibu segera setelah melahirkan dengan memperhatikan riwayat
selama kehamilan dalam persalinan dan keadaan segera setelah
melahirkan agar terlaksananya asuhan segera/rutin pada ibu post
partum termasuk melakukan pengkajian, membuat diagnosa,
mengidentifikasi masalah dan kebutuhan ibu, mengidentifikasi
diagnosa & masalah potensial, tindakan segera serta merencanakan
asuhan.
Bidan dalam melakukan asuhan kepada ibu postpartum harus
berdasarkan pada alur fikir yang jelas berupa proses manajemenn
kebidanan pada ibu post partum yaitu tujuh langkah varney dan
pendokumentasiannya.
Manajemen ibu postpartum antara lain :
I. Pengkajian/ Pengumpulan data didasarkan pada data subjektif daan
juga Objektif . Data subjektif yaitu data yang didapatkan langsung
daari pasien atau Pasien atau keluarganya langsung yang berbicara.
Sedangkan data Objektif adalah data yang dihasilkan dari hasil
pemeriksaan bidan atau tenaga kesehatan.

36
a. Melakukan pengkajian dgn mengumpulkan semua data yang
dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan ibu.
b. Melakukan pemeriksaan awal post partum.
c. Meninjau catatan/record pasien, seperti :
1) Catatan perkembangan antepartum dan intra partum
2) Berapa lama (jam/hari) pasien post partum
3) Keadaan suhu, nadi, respirasi dan Tekanan Darah postpartum
4) Pemeriksaan laboratorium & laporan pemeriksaan tambahan
5) Catatan obat-obat
6) Catatan bidan/perawat
d. Menanyakan riwayat kesehatan & keluhan ibu,seperti :
1) Mobilisasi
2) BAK dan BAB
3) Keadaan Nafsu makan
4) Ketidaknyamana/rasa sakit
5) Kekhawatiran
6) Makanan bayi
7) Reaksi pada bayi

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik meliputi :
a. Tekanan Darah, Suhu, nadi
b. Kepala, wajah, mulut dan Tenggorokan, jika diperlukan
c. Payudara & putting susu
d. Auskultasi paru2, jika diperlukan
e. Abdomen yang di lihat adalah kandung kencing, keadaan uterus
(perkembangannya)
f. Lochea yang dilihat adalah warna, jumlah dan bau
g. Perineum : edema, inflamasi, hematoma, pus, bekas luka
episiotomi/robek, jahitan, memar,hemorrhoid (wasir/ambeien).
h. Ekstremitas : varises, betis apakah lemah&panas,edema,reflek.

37
II. MENGINTERPRETASIKAN DATA.
Melakukan identifikasi yang benar terhadap masalah adalah
diagnosa berdasarkan interpretasi yangg benar atas data yg telah
dikumpulkan. Diagnosa, masalah dan kebutuhan ibu postpartum
tergantung dari hasil pengkajian terhadap ibu.
III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA & MASALAH POTENSIAL
Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial yang mungkin akan
terjadi berdasarkan masalah atau diagnosa yang sudah diidentifikasi &
merencanakan antisipasi tindakan.
Contoh :
Diagnosa : Bendungan Payudara
Masalah potensial : Mastitis
Antisipasi Tindakan : kompres hangat payudara

IV. MENETAPKAN TINDAKAN SEGERA :


Mengidentifikasi dan menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan
atau dokter dan atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan
anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi pasien.
Contoh :
a. Ibu kejang, segera lakukan tindakan segera untuk mengatasi kejang
& segera berkolaborasi merujuk ibu untuk perawatan selanjutnya.
b. Ibu tiba2 mengalami perdarahan,lakukan tindakan segera sesuai
dengan keadaan pasien, misalnya : bila kontraksi uterus kurang
baik segera berikan uterotonika. Bila teridentifikasi adanya tanda2
sisa plasenta, segera kolaborasi dgn dokter utk tindakan curetage

V. MEMBUAT RENCANA ASUHAN


Yaitu dengan Merencanakan asuhan menyeluruh yang rasional sesuai
dengan temuan dari langkah sebelumnya.
Contoh :
Manajemen asuhan awal postpartum :
a. kontak dini dan sesering mungkin dengan bayi.

38
b. Mobilisasi/istirahat baring di tempat tidur
c. Gizi/diet
d. Perawatan perineum.

Asuhan lanjutan :
a. Tambahan vit atau zat besi atau keduanya jika diperlukan
b. Perawatan payudara
c. Pemeriksaan lab terhadap komplikasi jika diperlukan
d. Rencana KB
e. Kebiasaan rutin yang tidak bermanfaat bahkan membahayakan

VI. IMPLEMENTASI ASUHAN :


Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara efisien dan aman
daripada rencana asuhan tadi.

VII. EVALUASI
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan, ulangi
kembali proses manajemen dengan benar terhadap setiap aspek asuhan
yang sudah dilaksanakan tetapi belum efektif atau merencanakan kembali
asuhan yang belum terlaksana jika masih ada.

3. Postpartum Grup
Kadang-kadang ibu yang baru menjalani masa menjadi seorang ibu
yang ingin mencari kelompok khusus dari orang-orang yang sudah
berpengalaman. Kadangkala ibu postpartum yang sudah pernah bertemu
dalam kelas prenatal mulai bergabung untuk membentuk kelompok
pendukung yang saling membantu. Melihat hal tersebut, ternyata
kelompok pendukung merupakan kelompok yang sangat penting dalam
membantu seorang wanita yang mengalami transisinya dalam siklus
kehidupan.
Kelompok pendukung post partum atau yang disebut dengan
postpartum group adalah kumpulan pribadi yang sedang menjalani masa

39
post partum yang mencoba untuk memuaskan kebutuhan personal,
berinteraksi dengan menghargai tujuan bersama serta untuk mengalami
kenikmatan suatu hubungan yang interdipenden.
Para ibu yang mengalami post partum membutuhkan pengalaman
yang sesungguhnya, salah satunya yaitu diberikan dukungan dari
kelompok pendukung seperti ddukungan psikologis dan juga dukungan
fisik yang harus juga dipenuhi. Mereka membutuhkan kesempatan untuk
mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka dari situasi yang
menakutkan. Mungkin juga mereka membutuhkan pengobatan atau
istirahat, atau seringkali merasa gembira mendapatkan pertolongan yang
praktis dan dukungan dari kelompok dukungan postpartum. Dengan
bantuan dan dukungan teman ataupun keluarga, mereka mungkin perlu
mengatur atau menata kembali kegiatan rutin sehari-hari, atau mungkin
menghilangkan beberapa kegiatan disesuaikan dengan konsep mereka
tentang keibuan dan perawatan bayi. Bila memang diperlukan dapat
diperlukan dorongan dan pertolongan dari para ahli, misalnya dari seorang
psikologi atau konselor yang berpengalaman dalam bidang tersebut.
Para ahli obstetrik memegang peranan penting untuk
mempersiapkan para wanita kemungkinann terjadinya gangguan mental
post partum dan segera memberikan penanganan yang tepat bila terjadi
gangguan tersebut, bahkan merujuk para ahli psikologi atau konsseling
bila memang diperlukan. Kelompok pendukung yang memadai dari para
petugas obstetrik yaitu dokter dan bidan atau perawat sangat diperlukan,
misalnya dengan cara memberikan informasi yang memadai atau adekuat
tentang proses persalinan dan kehamilan,, termasuk penyulit-penyulit yang
mungkin timbul dalam masa-masa tersebut serta penanganannya.
Dibutuhkan penanganan menyeluruh atau holistik dan dukungan
dari kelompok pendukung dari penanganan para ibu yang mengalami post
partum. Pengobatan medis, konseling, emosional, dan bantuan-bantuan
praktis dan pemahaman secara intelektual tentang pengalaman dann
harapan-harapan pada saat tertentu. Secara garis besar dapat dikatakan
bahwa dapat dibutuhkan penanganan ditingkat prilaku,

40
emosional,intelektual, social dan psicologis serta bersama-sama dengan
melibatkan lingkungannya yaitu suami, keluarga, dan juga teman
dekatnya.
Cara dukungan untuk mengatasi postpartum dari kelompok
pendukung postpartum :
1. Cara pendekatan komunikasi terapeutik yang tujuannya untuk
menciptakan hubungan baik antara bidan dan jugapasien dalam rangka
kesembuhannya dengan cara :
a. Mendorong pasien mampu meredakan segala ketegangan emosi
b. Dapat memahami dirinya
c. Dapat mendukung tindakan konstruktif.
2. Cara peningkatan support mental post partum dapat dilakukan
keluarga misalnya :
a. Sekali-kali ibu meminta suami untuk ikut membantu dalam
mengerjakan pekerjaan rumah seperti membantu mengurus
bayinya, memasak, menyiapkan susu, dll.
b. Memanggil orang tua ibu bayi agar bisa menemani ibu dala,
menghadapi kesibukan merawat bayinya.
c. Suami seharusnya tahu permasalahan yang dihadapi istrinya dan
lebih perhatian terhadap istrinya.
d. Menyiapkan mental dalam menghadapi anak pertam yang akan
lahir.
e. Memperbanyak dukungan dari suami.
f. Suami menggantikan peran istri saat istri kelelahan.
g. Ibu dianjurkan untuk sering sharing dengan teman-temannya yang
baru saja melahirkan.
h. Bayi memakai pammpers untuk meringankan kerja ibu.
i. Mengganti suasana dengan bersosialisasi.
j. Suami sering menemani istri dalam mengurus bayinya.
3. Selain hal diatas dukungan post partum dari dirinya sendiri
diantaranya dengan cara :
a. Belajar tenang dengan menarik nafas panjang dan meditasi.

41
b. Tidurlah ketika bayi tidur.
c. Baeolahraga ringan.
d. Ikhlas dan tulus dengan peran baru ssebagai ibu.
e. Tidak perfectsionis dalam hal mengurus bayi,
f. Bicarakan rasa cemas dan komunikasikan.
g. Bersikap fleksibel.
h. Kesempatan merawat bayinya hanya datang satu kali.
i. Bergabung dengan kelompok ibu.

D. Pelayanan Kontrasepsi dan KB di Masyarakat


1. Peningkatan Pelayanan KB
Untuk mempertahankan dan meningkatkan cakupan peserta KB
perlu diupayakan pengelolaan program yang berhubungan dengan
peningkatan aspek kualitas, teknis dan aspek manajerial pelayanan
KB. Dari aspek kualitas perlu diterapkan pelayanan yang sesuai
standard an variasi pilihan metode KB, sedangkan dari segi teknis
perlu dilakukan pelatihan klinis dan non-klinis secara
berkesinambungan. Selanjutnya aspek manajerial, pengelola program
KB perlu melakukan revitalisasi dalam segi analisis situasi program
KB dan sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan KB.
Peningkatan pelayanan KB dapat dilakukan dengan cara:
a. Pelayanan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)
Pelayanan komunikasi, informasi dan edukasi dilakukan
dengan memberikan penerangan konseling, advokasi, penerangan
kelompok (penyuluhan) dan penerangan massa melalui media
cetak, elektronik.
Dengan penerangan, motivasi diharapkan meningkat
sehingga terjadi peningkatan pengetahuan, perubahan sikap dan
perilaku masyarakat dalam ber KB, melalui pendewasaan usia,
perkwawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan

42
keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga sehingga tercapai
Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS).
b. Pelayanan Kontrasepsi dan Pengayoman Peserta KB
Dikembangkan program reproduksi keluarga sejahtera. Para
wanita baik sebagai calon ibu atau ibu, merupakan anggota
keluarga yang paling rentaan mempunyai potensi yang besar
untuk mendapatkan KIE dan pelayanan KB yang tepat dan benar
dalam mempertahankan fungsi reproduksi.
Reproduksi sehat sejahtera adalah suatu keadaan sehat baik
fisik, mental, dan kesejahteraan sosial secara utuh pada semua hal
yang berhubungan dengan sistem dan fungsi, serta proses
reproduksi. Bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit dan
kecacatan serta dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah,
mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material,
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan
yang serasi, selaras, dan seimbang antar anggota dan keluarga
dengan lingkungan.
Dalam mencapai sasaran reproduksi sehat, dikembangkan
dua gerakan, yaitu : pengembangan gerakan KB yang makin
mandiri dan gerakan keluarga sehat sejahtera dan gerakan
keluarga sadar HIV/AIDS.
Pengayoman melalui program ASKABI (Asuransi Keluarga
Berencana Indonesia), tujuan agar merasa aman dan terlindung
apabila terjadi komplikasi dan kegagalan.
c. Peran Serta Masyarakat dan Institusi Pemerintahan
PMS ditonjolkan (Pendekatan Masyarakat), serta kerja sama
institusi pemerintah (Dinas Kesehatan, BKKBN, Depag, RS,
Puskesmas)
d. Pendidikan KB
Melalui jalur pendidikan (sekolah) dan pelatihan, baik tugas
KB, bidan, dokter berupa pelatihan konseling dan keterampilan.

43
E. Pelayanan Lansia yang berkaitan dengan Kesehatan Reproduksi
Masyarakat
Upaya pelayanan kesehatan reproduksi terhadap lansia meliputi azas,
pendekatan, dan jenis pelayanan kesehatan yang diterima.
1. Azas

Menurut WHO (1991) adalah to Add life to the Years that


Have Been Added to life, dengan prinsip
kemerdekaan (independence), partisipasi (participation),
perawatan (care), pemenuhan diri (self fulfillment), dan
kehormatan (dignity).

Azas yang dianut oleh Departemen Kesehatan RI adalah Add life to


the Years, Add Health to Life, and Add Years to Life, yaitu
meningkatkan mutu kehidupan lanjut usia, meningkatkan kesehatan,
dan memperpanjang usia.

2. Pendekatan

Menurut World Health Organization (1982), pendekatan yang


digunakan adalah sebagai berikut :

1) Menikmati hasil pembangunan (sharing the benefits of social


development)
2) Masing-masing lansia mempunyai keunikan (individuality of aging
persons)
3) Lansia diusahakan mandiri dalam berbagai hal (nondependence)
4) Lansia turut memilih kebijakan (choice)
5) Memberikan perawatan di rumah (home care)
6) Pelayanan harus dicapai dengan mudah (accessibility)
7) Mendorong ikatan akrab antar kelompok/ antar generasi (engaging the
aging)
8) Transportasi dan utilitas bangunan yang sesuai dengan lansia
(mobility)

44
9) Para lansia dapat terus berguna dalam menghasilkan karya
(productivity)
10) Lansia beserta keluarga aktif memelihara kesehatan lansia (self help
care and family care)

3. Jenis

Jenis pelayanan kesehatan terhadap lansia meliputi lima upaya


kesehatan, yaitupromotif, prevention, diagnosa dini dan pengobatan,
pembatasan kecacatan, serta pemulihan.

1) Promotif

Upaya promotif juga merupakan proses advokasi kesehatan untuk


meningkatkan dukungan klien, tenaga profesional dan masyarakat
terhadap praktek kesehatan yang positif menjadi norma-norma sosial.

Upaya perlindungan kesehatan bagi lansia sebagai berikut :

a) Mengurangi cedera
b) Meningkatkan keamanan di tempat kerja
c) Meningkatkan perlindungan dari kualitas udara yang buruk
d) Meningkatkan keamanan, penanganan makanan dan obat-obatan
e) Meningkatkan perhatian terhadap kebutuhan gigi dan mulut
2) Preventif

Pencegahan primer, meliputi :

a) program imunisasi
b) konseling
c) dukungan nutrisi
d) exercise
e) keamanan di dalam dan sekitar rumah
f) manajemen stress
g) menggunakan medikasi yang tepat.

45
Pencegahan sekuder, meliputi:

Pemeriksaan terhadap penderita tanpa gejala. Jenis pelayanan


pencegahan sekunder :

a) Kontrol hipertensi
b) Deteksi dan pengobatan kanker
c) Skrining : pemeriksaan rektal, mamogram, papsmear, gigi, mulut.

Pencegahan tersier dilakukan sesudah gejala penyakit dan cacat

Jenis pelayanan mencegah berkembangnya gejala dengan


memfasilisasi rehabilitasi, medukung usaha untuk mempertahankan
kemampuan anggota badan yang masih bnerfungsi

3) Rehabilitatif

Prinsip :

a) Pertahankan lingkungan aman


b) Pertahankan kenyamanan, istirahat, aktifitas dan mobilitas
c) Pertahankan kecukupan gizi
d) Pertahankan fungsi pernafasan
e) Pertahankan aliran darah
f) Pertahankan kulit
g) Pertahankan fungsi pencernaan
h) Pertahankan fungsi saluran perkemihaan
i) Meningkatkan fungsi psikososial
j) Pertahankan komunikasi
k) Mendorong pelaksanaan tugas

46
47
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
 Asuhan Intranatal adalah asuhan atau pertolongan persalinan oleh
tenaga kesehatan adalah pelayanan persalinan yang aman yang
dilakukan oleh tenaga kesehatan kompeten, yaitu dokter spesialis
kebidanan, dokter umum dan bidan.
 Kunjungan neonatus bertujuan untuk meningkatkan akses neonatus
terhadap pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin
komplikasi yang terjadi pada bayi sehingga dapat segera ditangani
dan bila tidak dapat ditangani maka dirujuk ke fasilitas yang lebih
lengkap untuk mendapatkan perawatan yang optimal.
 Dalam melakukan kunjungan rumah, bidan harus memperhatikan
kebutuhan higiene, memandikan bayi, memelihara tali pusat, pakaian
bayi, merawat kuku bayi, merawat mulut bayi, merawat telinga,
merawat hidung, kebutuhan makanan, dan kebutuhan tidur.
 Ibu nifas sebaiknya paling sedikit melakukan 4 kali kunjungan masa
nifas dilakukan untuk menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir dan
untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah – masalah
yang terjadi.
 Masa usia lanjut merupakan periode penutup dalam rentang hidup
seseorang, yaitu suatu periode dimana seseorang telah beranjak jauh
dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan atau beranjak dari
waktu yang penuh dengan manfaat.

B. Saran
Sebagai tenaga kesehatan , dalam memberikan asuhan kebidanan
komunitas haruslah sesuia dengan standar pelayanan kebidanan. Juga
diperlukannya persiapan-persiapan yang matang dalam memberikan
asuhan kebidanan, baik itu persiapan yang dilakukan oleh bidan, ibu,
keluarga serta masyarakat.

48
DAFTAR PUSTAKA

G.J. Tombokan, Sandra, dkk. 2014. Asuhan Kebidanan Komunitas. Bogor. In

Media

Maryam, R siti. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatanya. 2008. Jakatra: Salemba

medika

Syahlan,J,H..2006. Kebidanan Komunitas.Yayasan Bina Sumber Daya Kesehatan

Saifuddin, Abdul bari. (2006). Buku Panduan Praktik Pelayanan Kesehatan

Maternal dan Neonatal. YBPSP.

Yulifah, Rita. 2014. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta: Salemba Medika

Yulifah,Rita dan Trijohan Agus Yuswanto.2009.Asuhan kebidanan komunitas.

Jakarta:Salemba Medika.

49