SISTEM INFORMASI MANAJEMEN UNIT GAWAT DARURAT (UGD) RUMAH SAKIT PERTAMINA JAYA

Tugas Mata Kuliah Sistem Informasi Manajemen

Disusun oleh: Oktaviani Resky Fitriyanti Siti Masfufah (0706165766) (0706273801) (0706274073)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK 2009
BAB I TINJAUAN PUSTAKA

Petugas yang mempunyai pengetahuan yang tinggi. Definisi Unit Gawat Darurat Unit Gawat Darurat (UGD) adalah bagian terdepan dan sangat berperan di Rumah Sakit. alat diagnostik dan alat penunjang diagnostik serta alat kesehatan untuk suatu tindakan medik. pelayanan gawat darurat berbeda dengan pelayanan non-gawat darurat karena memiliki karakteristik khusus. dari Kemampuan rumah suatu fasilitas dari kesehatan secara ini. keterampilan yang andal dan tingkah laku yang baik. mempunyai sasaran (output) serta dampak yang diinginkan (outcome). baik kuantitas maupun kualitas. ruang bedah sentral. baik buruknya pelayanan bagian ini akan memberi kesan secara menyeluruh mempunyai terhadap aspek pelayanan rumah sakit. ataupun bangsal perawatan. Untuk menuju pelayanan yang memuaskan dibutuhkan sarana dan prasarana yang memadai. Karakteristik Pelayanan Gawat Darurat Dipandang dan segi hukum dan medikolegal. Jika dibutuhkan. Sistem mengandung pengertian adanya komponen-komponen yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Unit Gawat Darurat berperan sebagai gerbang utama jalan masuknya penderita rujukan gawat darurat. Upaya Pertolongan terhadap penderita gawat darurat harus dipandang sebagai satu system yang terpadu dan tidak terpecah-pecah. Sistem yang bagus juga harus dapat diukur dengan melalui proses evaluasi atau umpan balik yang berkelanjutan.A. karena dispensasi di bidang ini sulit dilakukan. Beberapa isu khusus dalam pelayanan gawat darurat membutuhkan pengaturan hukum yang khusus dan akan menimbulkan hubungan hukum yang berbeda dengan keadaan bukan gawat darurat. Menurut segi pendanaan. Beberapa Isu Seputar Pelayanan . Penderita dari ruang UGD dapat dirujuk ke unit perawatan intensif. Disamping itu juga tidak kalah pentingnya sumber daya manusia yang memenuhi syarat. B. meliputi ruangan. Pelayanan gawat darurat hidup khusus karena mempertaruhkan kelangsungan seseorang. alat kesehatan utama. Oleh karena itu dan segi yuridis khususnya hukum kesehatan terdapat beberapa pengecualian yang berbeda dengan keadaan biasa. keseluruhan dalam hal kualitas dan kesiapan dalam perannya sebagai pusat penderita pra tercermin kemampuan unit Standarisasi Unit Gawat Darurat saat ini menjadi salah satu komponen penilaian penting dalam perijinan dan akreditasi suatu rumah sakit. nampaknya hal itu menjadi masalah. penderita dapat dirujuk ke rumah sakit lain.

Jika dokter spesialis gagal memenuhi kewajibannya . anak.Pengaturan Staf dalam Instalasi Gawat Darurat Ketersediaan tenaga kesehatan dalam jumlah memadai adalah syarat yang harus dipenuhi oleh UGD. Dokter yang bertugas di gawat darurat menempati urutan kedua setelah dokter ahli onkologi dalam menghadapi kematian. dll) untuk memberikan dukungan tindakan medis spesialistis bagi pasien yang memerlukannya. C. pada keadaan gawat darurat medik didapati beberapa masalah utama yaitu : • • • Periode waktu pengamatan/pelayanan relatif singkat Perubahan klinis yang mendadak Mobilitas petugas yang tinggi Hal-hal di atas menyebabkan tindakan dalam keadaan gawat darurat memiliki risiko tinggi bagi pasien berupa kecacatan bahkan kematian. kewajiban yang timbul pada dokter berdasarkan pada hubungan yang telah terjadi sebelumnya (pre-existing relationship). Dokter spesialis yang bertugas harus siap dan bersedia menerima rujukan dan UGD. Untuk itu perlu diperhatikan azas yang khusus berlaku dalam pelayanan gawat darurat yang tidak didasari atas azas voluntarisme. rumah sakit juga harus menyiapkan spesialis lain (bedah. penyakit dalam. Selain dokter jaga yang siap di UGD.Gawat Darurat yaitu. maka ia harus melakukannya hingga tuntas dalam arti ada pihak lain yang melanjutkan pertolongan itu atau korban tidak memerlukan pertolongan lagi. Dalam keadaan darurat hal di atas dapat tidak ada dan azas voluntarisme dan keduabelah pihak juga tidak terpenuhi. Apabila seseorang bersedia menolong orang lain dalam keadaan darurat. yaitu pasien dengan bebas dapat menentukan dokter yang akan dimintai bantuannya (didapati azas voluntarisme). D. Demikian pula dalam kunjungan berikutnya. Dalam keadaan biasa (bukan keadan gawat darurat) maka hubungan dokter pasien didasarkan atas kesepakatan kedua belah pihak. Hubungan Dokter Pasien dalam Keadaan Gawat Darurat Hubungan dokter pasien dalam keadaan gawat darurat sering merupakan hubungan yang spesifik. Dalam hal pertolongan tidak dilakukan dengan tuntas maka pihak penolong dapat digugat karena dianggap mencampuri/ menghalangi kesempatan korban untuk memperoleh pertolongan lain (loss of chance). Situasi emosional dari pihak pasien karena tertimpa risiko dan pekerjaan tenaga kesehatan yang di bawah tekanan mudah menyulut konflik antara pihak pasien dengan pihak pemberi pelayanan kesehatan.

29/2004 tentang Praktik Kedokteran. E. di mana seorang dokter wajib melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan. walaupun dalam UU No.23/1992 tentang Kesehatan sebagai berikut: tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki .585/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medis. Pengaturan Penyelenggaraan Pelayanan Gawat Darurat Ketentuan tentang pemberian pertolongan dalam keadaan darurat telah tegas diatur dalam pasal 5l UUNo. baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat (swasta). Masalah Lingkup Kewenangan Personil dalam Pelayanan Gawat Darurat Hal yang perlu dikemukakan adalah pengertian tenaga kesehatan yang berkaitan dengan lingkup kewenangan dalam penanganan keadaan gawat darurat. dan Peraturan Menteri Kesehatan No. Rumah sakit di Indonesia memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan pelayanan gawat darurat 24 jam sehari sebagai salah satu persyaratan ijin rumah sakit. orang terlantar dan kurang mampu.maka tanggung jawab terletak pada dokter itu dan juga rumah sakit karena tidak mampu mendisiplinkan dokternya.159b/1988 tentang Rumah Sakit. Peraturan Perundang-Undangan yang Berkaitan dengan Pelayanan Gawat Darurat Pengaturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pelayanan gawat darurat adalah UU No 23/1992 tentang Kesehatan. Selanjutnya.159b/1988 tentang Rumah Sakit. Tentunya upaya ini menyangkut pula pelayanan gawat darurat. Peraturan Menteri Kesehatan No. Pengaturan pelayanan gawat darurat untuk fase rumah sakit telah terdapat dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. Pengertian tenaga kesehatan diatur dalam pasal 1 butir 3 UU No. di mana dalam pasal 23 telah disebutkan kewajiban rumah sakit untuk menyelenggarakan pelayanan gawat darurat selama 24 jam per hari F. Dalam pelayanan gawat darurat tidak diperkenankan untuk meminta uang muka sebagai persyaratan pemberian pelayanan. Dalam penanggulangan pasien gawat darurat dikenal pelayanan fase pra-rumah sakit dan fase rumah sakit.23/1992 tentang Kesehatan tidak disebutkan istilah pelayanan gawat darurat namun secara tersirat upaya penyelenggaraan pelayanan tersebut sebenamya merupakan hak setiap orang untuk memperoleh derajat kesehatan yang optimal (pasal 4) Selanjutnya pasal 7 mengatur bahwa Pemerintah bertugas menyelenggarakan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat termasuk fakir miskin.

Dalam hal pertolongan tersebut dilakukan oleh tenaga kesehatan maka yang bersangkutan harus menemelakukanrapkan standar profesi sesuai dengan situasi (gawat darurat) saat itu. or whoever assumes the responsibility of bringing the patient to the hospital-remelakukanquires immediate medical attention. kesehatan yang mempunyai keahlian kewenangan untuk Ketentuan tersebut dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dari tindakan seseorang yang tidak mempunyai keahlian dan kewenangan untuk melakukan pengobatan/perawatan. sehingga akibat yang dapat merugikan atau membahayakan terhadap kesehatan pasien dapat dihindari.23/1992 bertugas tentang Kesehatan yang atau atas merumuskan kewenangan kesehatan yang menyelenggarakan Pengaturan di melakukan kegiatan kesehatan sesuai dengan bidang keahlian dan atau kesehatan bersangkuta. Masalah Medikolegal pada Penanganan Pasien Gawat Darurat Hal-hal yang disoroti hukum dalam pelayanan gawat darurat dapat meliputi hubungan hukum dalam pelayanan gawat darurat dan pembiayaan pelayanan gawat darurat karena secara yuridis keadaan gawat darurat cenderung menimbulkan privilege tertentu bagi tenaga kesehatan maka perlu ditegaskan pengertian gawat darurat. khususnya tindakan medis yang mengandung risiko. . his family. Pengaturan kewenangan tenaga kesehatan dalam melakukan tindakan medik diatur dalam bahwa tenaga pasal tenaga 50 UUNo.pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. menyangkut pelayanan gawat darurat pada fase di rumah sakit. G. Menurut The American Hospital Association (AHA) pengertian gawat darurat adalah “An emergency is any condition that in the opinion of the patient. This condition continues until a determination has been made by a health care professional that the patient’s life or well-being is not threatened”. di mana pada dasarnya setiap dokter memiliki kewenangan untuk melakukan berbagai tindakan medik termasuk tindakan spesifik dalam keadaan gawat darurat.23/1992 tentang Kesehatan dapat dilihat dalam pasal 32 ayat (4) yang menyatakan bahwa pelaksanaan pengobatan dan atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan hanya dan dapat dilakukan oleh tenaga itu. Pengaturan tindakan medis secara umum dalam UU No. Melihat ketentuan tersebut nampak bahwa profesi kesehatan memerlukan kompetensi tertentu dan kewenangan khusus karena tindakan yang dilakukan mengandung risiko yang tidak kecil.

Jadi. Dalam hal persetujuan tersbut dapat diperoleh dalam bentuk tertulis.585/1989). Bila tuduhan kelalaian tersebut dilakukan dalam situasi gawat darurat maka perlu dipertimbangkan faktor kondisi dan situasi saat peristiwa tersebut terjadi.23/1992 Kesehatan 53 Peraturan Kesehatan No. maka lembar persetujuan tersebut harus disimpan dalam berkas rekam medis. Sehubungan dengan hal itu perlu dibedakan antara false emergency dengan true emergency yang pengertiannya adaiah: A true emergency is any condition clinically determelakukanmined to require immediate medical care. bila pihak pasien menggugat tenaga kesehatan karena diduga terdapat kekeliruan dalam penegakan diagnosis atau pemberian terapi maka pihak pasien harus membuktikan bahwa hanya kekeliruan itulah yang menjadi penyebab kerugiannya/cacat (proximate cause). Hal itu telah diatur sebagai hak pasien dalam UU No. H. Hubungan Hukum dalam Pelayanan Gawat Darurat Dalam hal pertanggungjawaban hukum. Such conditions range from those requiring extensive immediate care and admission to the hospital to those that are diagnostic probmelakukanlems and may or may not require admission after work-up and observation. pada pada situasi dan kondisi yang sama pula. namun jika tenaga terbatas. Kematian pada Instalasi Gawat Darurat Pada prinsipnya setiap pasien yang meninggal pada saat dibawa ke UGD (Death on Arrival) harus dilaporkan kepada pihak berwajib.Adakalanya pasien untuk menempatkan dirinya dalam keadaan gawat darurat walaupun sebenarnya tidak demikian. Tenaga yang menangani hal tersebut yang paling ideal adalah dokter.585/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medis. I. Di negara AngloSaxon digunakan sistem koroner. di beberapa tempat dikerjakan oleh perawat melalui standing order yang disusun rumah sakit. Setiap tentang tindakan medis pasal harus ayat mendapatkan 2 dan persetujuan Menteri dari pasien (informed consent). yaitu setiap kematian mendadak yang tidak terduga (sudden unexpected death) apapun penyebabnya harus dilaporkan dan . tidak perLu persetujuan dari siapapun (pasal 11 Peraturan Menteri Kesehatan No. Untuk menilai dan menentukan tingkat urgensi masalah kesehatan yang dihadapi pasien diselengganakanlah triage. Dalam keadaan gawat darurat di mana harus segera dilakukan tindakan medis pada pasien yang tidak sadar dan tidak didampingi pasien. tepat atau tidaknya tindakan tenaga kesehatan perlu dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang berkuamelakukanlifikasi sama.

Dalam keadaan tersebut surat keterangan kematian (death certificate) diterbitkan oleh Coroner atau Medical Examiner. Pembiayaan dalam Pelayanan Gawat Darurat Dalam pelayanan kesehatan prestasi yang diberikan tenaga kesehatan sewajarnya diberikan kontra-prestasi. Dengan demikian pihak POLRI yang akan menentukan apakah jenazah akan diautopsi atau tidak. Kasus yang tidak boleh diberikan surat keterangan kematian adalah: • meninggal pada saat dibawa ke UGD • meninggal akibat berbagai kekerasan • meninggal akibat keracunan • meninggal dengan kaitan berbagai peristiwa kecelakaan Kematian yang boleh dibuatkan surat keterangan Kematiannya adalah yang cara kematiannya alamiah karena. RSB/RB di wilayah DKI Jakarta yang telah disempurnakan tanggal 9 Agustus 1989 telah ditetapkan bahwa semua peristiwa kematian rudapaksa dan yang dicurigai rudapaksa dianjurkan kepada keluarga untuk dilaporkan kepada pihak kepolisian dan selanjutnya jenazah harus dikirim ke RS Cipto Mangunkusumo untuk dilakukan visum etrepertum. Indonesia tidak menganut sistem tersebut.ditangani oleh Coroner atau Medical Exaniner. sesuai dengan Keputusan KepalaDinas Kesehatan DKI Nomor 3349/1989 tentang berlakunya Petunjuk Pelaksanaan Pencatatan dan Pelaporan kematian di Puskesmas. Di sini nampak bahwa jasa pelayanan kesehatan tersebut merupakan private goods sehingga masyarakat (pihak swasta) dapat diharapkan ikut membiayainya. sehingga fungsi semacam coroner diserahkan pada pejabat kepolisian di wilayah tersebut. baik pemerintah maupun swasta. Untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Pembiayaan pada fase ini diatasi pasien tetapi dapat juga diatasi perusahaan asuransi kerugian. Kondisi tersebut umumnya berlaku pada fase pelayanan gawat darurat di rumah sakit. Rumah Sakit. . Dokter yang bertugas di UGD tidak boLeh menerbitkan surat keterangan kematian dan menyerahkan permasalahannya path POLRI. Pihak rumah sakit harus menjaga keutuhan jenazah dan benda-benda yang berasal dari tubuh jenazah (pakaian dan benda lainnya) untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pejabat tersebut menentukan tindakan iebih lanjut apakah jenazah harus diautopsi untuk pemeriksaan lebih lanjut atau tidak. paling tidak segala biaya yang diperlukan untuk menolong seseorang. J. penyakit dan tidak ada tanda-tanda kekerasan. Hal itu diatur dalam hukum perdata.

Bentuk & peraturan perundang-undangan tersebut dapat berupa peraturan pemerintah yang merupakanjabaran dari UU No. BAB II GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT PERTAMINA JAYA A. Amino Gondohutomo (alm) yang ketika itu menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Pusat Pertamina. Tahun 1992 berdasarkan surat keputusan Direktur Utama Pertamina No. sebagai rumah sakit cabang segala . yaitu rawat inap pasien Psikiatri / penyakit Jiwa dan rawat inap pasien penyakit Paru.Realisasi pembiayaan melalui pengaturan secara hukum yang mewajibkan anggaran untuk pelayanan yang bersifat public goods tersebut. Tahun 1997 RSPJ telah melakukan Akreditasi Rumah Sakit dengan 4 (empat) standar pelayanan dasar.23/ 1992 dan atau peraturan daerah tingkat I (Perda Tk.Tahun 1990 RSPJ menambah fasilitas ruang rawat inap yang ada. RSPP. Profil Rumah Sakit Pertamina Jaya ( RSPJ ) diresmikan penggunaannya pada bulan April 1979 oleh dr. RSPJ merupakan rumah sakit tipe C plus. Kpts-024/C0000/92-S0 maka pengelolaan RSPJ diserahkan dari Direktorat P&T ke Direktorat Umum. dimana sebelumnya adalah rumah sakit bersalin yang dikelola oleh Direktorat Perkapalan dan Telekomunikasi (P&T) dengan jumlah tempat tidur sebanyak 54 buah. Tahun 2000 RSPJ menjadi salah satu cabang PT.I). Tahun 2001 RSPJ kembali melakukan Akreditasi Rumah Sakit dengan 12 (duabelas) standar pelayanan kesehatan lainnya. sehingga kapasitas tempat tidur menjadi 79 buah. Dengan perubahan status tersebut Rumah Sakit Pertamina Jaya memiliki otonomi untuk mengatur manajemen perusahaan secara mandiri.

yang walaupun “ mungil “ tetapi tetap indah dan bersih. Misi. Pelayanan Keperawatan & Rekam Medis. Pertamina Prabumulih. Pelayanan Rehabilitasi Medik. RS. K3. RS. Pertamina Jaya. RSPJ melaksanakan Akreditasi yang kedua untuk 16 (enambelas) layanan. RS. kelas IB sebanyak 2 TT. Tahun 2004 dilakukan renovasi terhadap sarana dan prasarana. efisien dan aman untuk menghasilkan nilai tambah bagi Stakeholders (pelanggan. Visi. Menjalankan kegiatan opersional secara efektif. meliputi Administrasi & Manajemen. Laboratorium. dan Nilai RSPJ VISI Menjadi institusi pemeliharaan kesehatan yang memberikan layanan PRIMA dan lebih baik dari institusi pelayanan kesehatan yang setara serta berlandaskan moral agamis MISI 1. kelas I A sebanyak 12 TT. RS. Pertamina Klayan. Radiologi. Kamar Operasi. Pertamina Tanjung. Pelayanan Gizi. 2. RSPP berubah namanya menjadi PT. kelas III sebanyak 19 TT dan ruang Isolasi sebanyak 2 TT. sehingga kapasitas tempat tidur RSPJ saat ini menjadi 70 tempat tidur dan poliklinik menjadi 27 ruang. B. RSPJ melakukan renovasi ruangan poliklinik dan ruang rawat secara bertahap sehingga poliklinik ada dilantai dasar dan ruang rawat ada dilantai dua yang meliputi : VIP sebanyak 2 TT. Akademi Keperawatan (AKPER) dan Manajemen Pengendalian Pemeliharaan Kesehatan (MPPK). Pusat Pertamina. Melaksanakan pelayanan kesehatan berdasarkan paradigma sehat sesuai kebutuhan pelanggan dengan standar pelayanan yang prima dan terpadu. Pada tahun 2005. Pengendalian di RS & Perinatal Resiko Tinggi. Pertamina Balikpapan. Pada tahun 2004 hingga 2005. kelas II sebanyak 19 TT.kebijakan RSP Jaya harus mengacu kepada PT. Pelayanan Gawat Darurat. Pertamedika Medical Center (PMC). Membangun SDM yang berkualitas melalui mekanisme pembelajaran berkesinambungan. TATA NILAI . pemilik dan masyarakat). Diharapkan RSPJ dapat meningkatkan kenyamanan bagi pelanggannya dengan menjadikan RSPJ menjadi sebuah rumah sakit. 3. pekerja. Pelayanan Medis. Tahun 2002 PT. mitra kerja. RS. Pelayanan Intensif dan Pelayanan Darah. RSPP. Farmasi. Pertamina Bina Medika (PERTAMEDIKA) yang membawahi RS.

Mutu. Meskipun tetap mengemban tugas utama untuk melayani masyarakat PERTAMINA. Ikhlas. Sebagai bagian dari PERTAMEDIKA. telah memperoleh Sertifikasi International Pemeriksaan Kesehatan untuk Pelayaran/Pelaut. mitra dan stakeholder.Tata nilai yang menjadi landasan RSP Jaya didalam memberikan pelayanan kesehatan tercermin pada motto: "We Care and We Cure" serta Core Values "La PRIMA" (Profesional. RS Pertamina Jaya berlokasi di Cempaka Putih.Disamping itu RSP Jaya juga memperoleh pujian dari banyak pengamat teknologi informasi akan sistem komputerisasi rumah sakit yang ditandai dengan perolehan Penghargaan Indonesia Go Open Source tahun 2004 dari Menteri Riset dan Teknologi atas peran serta dalam pengembangan dan pemanfaatan sistem informasi rumah sakit dengan open source di Indonesia. Pada tahun 2007 Persi Award diperoleh RSP Jaya dalam hal inovasi efisiensi Rumah Sakit. Pada tanggal 8 Agustus 2002 PT RSPP berubah nama menjadi PT Pertamina Bina Medika (PERTAMEDIKA). Jakarta Utara dan Jakarta Timur. Jakarta Pusat. Pada tanggal 16 Mei 2000 dibentuk PT RSPP sebagai anak perusahaan PERTAMINA. Deskripsi Organisasi Rumah Sakit Pertamina Jaya (RSP Jaya) adalah salah satu unit operasi dari PT. Untuk pelayanan MCU. RSP Jaya mempunyai keunggulan yaitu adanya jejaring dengan klinik-klinik Pertamedika Medical Centre (PMC) dan RS Pusat Pertamina (RSPP) sebagai pusat rujukan. RSP Jaya juga memberikan pelayanan kepada masyarakat umum lainnya dengan tarif kompetitif yang terjangkau. diapit kawasan bisnis dan hunian yaitu Kelapa Gading. PERTAMINA BINA MEDIKA (PERTAMEDIKA) yang telah beroperasi sejak 2 April 1979. dimana RSP Jaya telah tiga kali mengikutinya sejak tahun 1997. Pada tahun 2005 RSP Jaya telah memperoleh Sertifikasi Akreditasi Rumah Sakit Penuh Tingkat Lengkap (16 Layanan).000 meter2. Upaya menjaga mutu dan kepercayaan pelanggan dilaksanakan dengan mengikuti proses akreditasi rumah sakit dari Departemen Kesehatan. merupakan rumah sakit type madya menempati area kurang lebih seluas 5. RSP Jaya mempunyai 3 lantai. . Awalnya RSP Jaya merupakan bagian dari organisasi PERTAMINA. yaitu Bagian Kesehatan PERTAMINA. dimana RSP Jaya merupakan salah satu unit usahanya. C. yang mengedepankan kepuasan pelanggan. Ramah. Antusias). Demikian juga dalam bidang K3LL telah memperoleh penghargaan dari PT PERTAMINA sebagai Rumah Sakit yang berprestasi dalam pengelolaan aspek K3LL.

dan Keuangan. BAB III PEMBAHASAN A. unit teknologi informasi berada di bawah direktur RSPJ secara langsung. Mekanisme pemberian layanan kesehatan di RSP Jaya dilakukan secara langsung dan atau rujukan bila diperlukan tindakan atau penegakan diagnosa yang tidak tersedia di RSP Jaya. ICU. SDM dan umum. Apotik. Layanan Rawat Jalan Umum merupakan salah satu mata rantai layanan untuk pelayanan berbasis managed care. Layanan Rawat Inap memiliki kapasitas 69 Tempat Tidur yang terdiri atas Ruang Perawatan Umum. Dan Kamar Bayi. Untuk itu RSP Jaya juga memiliki Layanan Bedah. Keperawatan. Hemodialisa. Kedudukan Unit Teknologi Informasi (TI) di RS Pertamina Jaya Dalam struktur organisasi Rumah Sakit Pertamina Jaya (RSPJ).Tersedianya layanan primer di bawah satu atap sangat memudahkan pasien untuk mendapatkan layanan secara komprehensif. Gawat Darurat 24 jam dan Layanan Pemeriksaan Kesehatan. Layanan RSP Jaya merupakan rumah sakit kecil tetapi mempunyai layanan cukup lengkap. Rawat Gabung. Struktur organisasi unit TI terdiri seorang Kepala TI yang berhubungan secara langsung dengan direktur. Laboratorium.D. Direktur RSPJ juga membawahi Medis. Kepala TI membawahi dua bagian utama dalam unit TI. Hubungan TI dengan direktur mempunyai fungsi staffing karena posisinya yang berada dibawah direktur secara langsung. Layanan utama RSP Jaya adalah Layanan Rawat Jalan dan Layanan Rawat Inap. Selain membawahi TI secara langsung. . Fisioterapi. Radiologi. yaitu bagian pengawas pengembangan dan pengawas pemeliharaan.

Menciptakan sistem informasi rumah sakit yang mampu mengintegrasikan seluruh kebutuhan rumah sakit melalui pengembangan sistem dan prosedur proses bisnis RS. Sedangkan misi TI RSPJ adalah mewujudkan TI RSPJ sebagai unit pendukung strategis bagi peningkatan daya saing RSPJ.Pengawas pengembangan membawahi penata programmer sedangkan pengawas pemeliharaan membawahi penata software dan penata hardware. Visi dan Misi Unit TI RSPJ Visi TI RSPJ adalah menjadi salah satu fungsi penunjang strategis bagi RSPJ dalam meraih keunggulan yang lebih maju dari Rumah Sakit setara di Jabotabek. Tugas TI lain yang tidak kalah penting adalah melakukan pemeliharaan terhadap sistem informasi manajemen yang telah ada baik itu dari segi software maupun hardware. Jika sistem yang dikembangkan sudah jadi. D. melaksanakan dan mengevaluasi pengembangan dan pemeliharaan Sistem Informasi Manajemen untuk mewujudkan pencapaian visi. maka perlu adanya pemeliharaan terhadap sistem tersebut agar sistem dapat digunakan dengan baik dan tidak menjadi sia-sia dalam mengembangkan sistem tersebut. Hal ini dilakukan agar sistem informais manajemen yang ada tetap dapat memberikan manfaat bagi berlangsungnya kegiatan di RSPJ tersebut. misi dan tujuan RSPJ. mengkoordinasikan. Tugas dan Tanggung Jawab TI RSPJ Unit Teknologi Informasi RSPJ mempunyai tugas dan tanggung jawab diantaranya mendukung manajemen dalam hal pengambilan keputusan melalui penyediaan informasi serta merencanakan. Salah satu caranya adalah dengan mendevelop sistem baru. Secara terus menerus dan konsisten menyajikan data dan daya informasi saing. Tugas TI dalam melakukan pengembangan sistem informasi dilakukan oleh bagian pengawas pengembangan yang terus melakukan terobosan-terobosan terbaru untuk menemukan sistem informasi manajemen yang dapat membantu pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. C. B. yang terbaru dan untuk semakin meningkatkan keunggulan Peningkatan pengembangan kapabilitas sumberdaya internal (sumberdaya manusia dan teknologi) untuk memperkuat posisis internal.Tujuan Sistem Informasi Manajemen RSPJ • Mendukung operasional Rumah Sakit .

Pelaporan yang diterima di suatu unit dapat diketahui oleh unit lain tanpa unit tersebut meminta data ke unit yang bersangkutan. . medik dan keuangan Sistem Informasi Manajemen di RSPJ menerapkan konsep terintegrasi sehingga hubungan antar unit dapat berlangsung dengan baik. Hal ini dapat merugikan pasien. medik maupun keuangan secara otomatis didstribusikan ke unit-unit terkait. Tulisan dokter dalam membuat resep dikhwatirkan menimbulkan kesalahpahaman pada apoteker dalam menyiapkan obat.• Adanya sistem komputer yang handal dan dapat mengintegrasikan seluruh kegiatan operasional RSPJ dalam melayani pasien • • ada Peningkatan pelayanan terhadap seluruh pasien Memudahkan pengawasan dari manajemen terhadap seluruh fungsi yang E. Walaupun apoteker memahami tulisan tangan dokter namun tidak dapat dipngkiri bahwa suatu waktu apoteker bisa melakukan kesalahan dalam membaca resep walaupun hanya satu huruf. Data pelaporan. Bagi rumah sakit • Meningkatnya kualitas pelayanan Adanya sistem informasi manajemen di RSPJ menyebabkan kualitas pelayanan dapat meningkat karena segala pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di rumah sakit tersebut dapat berjalan secara efektif dan efisien • Memudahkan pelaporan administrasi. Semua proses kerja yang dilakuakan di RSPJ menggunakan komputer. • Mengurangi human error SIM di RSPJ membuat pekerjaan yang dilakuakn oelh tenaga kesehatan berbasis komputerisasi. karena resep dokter dapat diprint sehingga mmudahkan apoteker dalam membaca. human error seperti itu dapat dikurangi frekuensinya. Dengan adanya SIM. Mulai dari proses administrasi sampai proses pencatatan resep. baik itu administrasi. Manfaat SIM RSPJ 1.

Berkurangnya human error yang dilakukan oleh tenaga kesehatan menyebabkan kualitas pelayanan dapat meningkat. F. Bagi pasien • Menerima pelayanan yang lebih baik Adanya SIM di RSPJ membuat pelayanan yang diterima oleh pasien menjadi lebih baik. Terintegrasi Data yang diolah untuk seorang user harus sama dengan data untuk user yang lain. Adanya alert system dalam SIM yang selalu mengingatkan dokter memberikan pelayanan medis yang efektif dan efisien membuat pasien tidak perlu membayar untuk pelyanan yang tidak esensial bagi dirinya. Seperti contoh di atas. 2. Hal lain dapat dilihat dari system billing yang membuat tagihan pembayaran menjadi tepat karena segala tindakan medis yang diterima oleh pasien dapat terekam di billing system ini dengan baik. Dengan adanya sistem terintergrasi data yang dientry disuatu unit dapat diterima di unit-unit . Konsep managed care yang dapat meningkatkan proses efisiensi dapat tercapai dengan baik. obat dapat langsung diberikan tanpa perlu menunggu lama. Karakteristik Sistem 1. Ketika pasien datang. Segala kebutuhan pasien dapat tersedia dengan cepat. Sebelum pasien datang. • Pengendalian pelayanan bagi pelanggan Pelayanan yang diberikan oleh tenaga medis kepada pasien dapat dikendalikan secara baik dengan adanya SIM. • Kepuasaan terhadap pelayanan Kepuasaan pasien dapat meningkat dengan adanya SIM yang membuat pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Terlihat dari beberapa contoh di atas. seperti dalam contoh pengambilan obat di apotek. Jadi kepusaan pasien dapat meningkat dengan cepat. sehingga informasi yang dihasilkan konsisten. apoteker sudah mengetahui pesanan obat tersebut sehingga dapat langsung meracik sebelum orang tersebut datang. adanya SIM dapat mengurangi terjadinya human error yang dapat menghambat pekerjaan dan menimbulkan kerugian.• Meningkatkan patient safety Adanya SIM menyebabkan patient safety dapat meningkat. keamanan pasien dalam mendapatkan obat yang benar dapat terjamin dengan adanya resep yang diprint.

Pada tahun 1999 SIM mulai dikembangkan. Akan tetapi sistem harus tetap fleksibel tehadap mekanisme sharing data dan informasi. Alert system ini merupakan decision support system yang didapat dari entry data yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang menangani pasien tersebut sebelumnya. dokter juga harus mengentry data terkait dengan pelayanan yang diberikan kepada pasien untuk keperluan rekam medis. Sistem harus mampu menjaga agar perubahan pada data tidak menimbulkan kerancuan bagi useruser yang menggunakannya. 2. Data mengenai proses transaksi keuangan juga dapat diterima oleh bagian keuangan dengan baik. Valid Data yang diolah harus selalu dalam keadaan valid. 4. sehingga bagian keuangan dapat mebuat jurnal harian dengan cepat dan tepat. Hal ini dapat menyebabkan proses pekerjaan berjalan dengan efektif dan pelayanan medis dapat dilakukan dengan cepat dan akhirnya timbul kepuasaan dari pasien terhadap pelayanan yang diberikan kepadanya. Dalam memutuskan tindakan medis. riwayat penyakt pasien. Salah satu contoh sistem terintegrasi dapat dilihat dari data pasien yang dientry di bagian registrasi dapat diterima oleh dokter. Aman Sistem harus mampu menjaga data dan informasi dari akses oleh user yang tidak berhak. dokter juga dibantu oleh adanya alert system yang mengingatkan dokter tentang tindakan medis yang telah diterima pasien sebelumnya.Aplikasi Sistem Informasi Manajemen di Unit Gawat darurat RSPJ Sistem Informasi Manajemen di RSPJ mulai diberlakukan pada tahun 2001. Saat memberikan pelayanan medis kepada pasien. 3. namun SIM yang ada pada saat itu hanya billing system. G. Sistem informasi di RSPJ menggunakan opensource LINUX. . sehingga pihak rumah sakit tidak perlu mencatat sirkulasi keuangan secara manual.lain yang terkait. Nominal uang yang harus dibayar oleh pasien juga terekam dengan baik oleh billing system. Cepat dan Praktis Sistem ini harus mampu menampilkan informasi yang diminta secara cepat dan mudah dalam penggunaannya. dan obat-obat yang telah dikonsumsi oleh pasien. tanpa melakuakn entry data ulang. Resep obat yang diberikan oleh dokter juga secara otomatis diterima oleh bagian apotek sehingga obat dapat segera diracik atau diseediakan.

semua unit yang berkaitan dengan seorang pasien dapat menerima data yang di entry oleh suatu unit. Misalnya. Hal ini dapat membuat . Hal ini karena sistem informasi di RSPJ berdasarkan sistem terintegrasi. Ada beberapa rujukan bagi pasien yang masuk UGD seperti kamar operasi. data mengenai pasien yang ingin dioperasi tersebut secara otomatis dapat diterima oleh tenaga kesehatan yang bertugas di kamar operasi. poli rawat jalan atau rawat inap. dirujuk ke kamar operasi. namun untuk pasien yang ditempatkan di UGD tidak jauh berbeda tampilannya.sehingga dapat meminimalisir biaya untuk pengembangan system informasi di RSPJ. tanpa bagian lain melakukan entry data lagi. langsung ditempatkan di unit UGD. Pasien yang baru datang ke RSPJ mendatangi bagian administrasi untuk melakukan registrasi. Pasien yang membutuhkan pemberian tindakan medis dengan cepat karena sedang dalam kondisi darurat. Setiap data yang di entry di bagian registrasi dapat diterima oleh bagian lain yang terkait dengan pasien tersebut. seorang pasien di UGD. Gambar di atas adalah contoh data pasien yang ditempatkan di poliklinik. Berikut adalah contoh tampilan data pasien di bagian administrasi: Data pasien diatas berisi informasi dasar mengenai pasien. hanya ada tambahan mengenai rujukan pasien ke kamar operasi.

Berikut adalah tampilan data yang diterima oleh dokter F. Di bagain registrasi ini juga terdapat tampilan yang memberitahukan daftar tunggu pasien tersebut. Jadi. sehingga kecil kemungkinan terjadi complain pasien terhadap pelayanan yang lama karena semua pasien sudah mempunyai nomor urutnya masing-masing untuk mendapatkan pelayanan medis. Diagram Umum Sistem Informasi Rumah Sakit Skema diatas menjelaskan mengenai alur sistem informasi rumah sakit.tenaga kesehatan di kamar operasi tersebut dapat menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan operasi secara baik dan pelayanan juga dapat diberikan dengan cepat. Petugas registrasi dapat menentukan secara tepat nomor antrean pasien. Alur front office lebih menjelaskan mengenai sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit sedangkan alur back office menjelaskan tentang bisnis dan manajemen rumah sakit. Data yang dientry oleh petugas bagian registrasi dapat diterima secara otomatis oleh dokter di bagian poliklinik. setiap pasien tidak dapat berbuat curang untuk mendapatkan pelayanan terlebih dahulu. . Alur sistem informasi rumah sakit tersebut terdiri dari alur front office dan back office.

Selain dibutuhkan oleh bagian logistik. Setelah proses pengambilan obat atau dari unit farmasi bisa langsung ke kasir. Setelah proses itu kemudian dibuat laporan. Setelah mendapatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan maka pasien UGD bisa dirujuk ke rawat inap ataupun ke unit penunjang seperti kamar operasi dan layanan laboratorium. Kemudian bagian logistic menggunakan informasi tersebut untuk melakukan perencaaan dan pengadaan logistik yang dibutuhkan oleh rumh sakit. Unit penunjang ataupun dari UGD bisa ke unit farmasi untuk proses pengambilan obat. setelah proses registrasi pasien yang membutuhkan pelayanan gawat darurat tersebut memasuki UGD. Informasi dari bagian inventory juga bisa langsung dibuat laporan mengenai persediaan. . Informasi tersebut digunakan oleh bagian inventory sehingga diketahui jumlah persediaan obat saat ini.Alur sistem informasi front office menjelaskan dari permulaan masuk ke rumah sakit khususnya memasuki unit gawat darurat bermula dari registrasi. Dari rawat inap. informasi tersebut juga dibutuhkan untuk membuat jurnal mengenai pendapatan yang diperoleh rumah sakit. Dari rawat inap bisa langsung ke kasir tanpa ke unit penunjang ataupun ke unit farmasi. Alur sistem informasi back office dimulai dari informasi pada unit farmasi yaitu informasi mengenai jumlah obat yang sudah digunakan. Setelah proses penjurnalan informasi tersebut diposting dan kemudian dibuat laporan.

. Saran Setiap rumah sakit seharusnya mempunyai SDM yang berkompeten di bidang Teknologi Informasi agar dapat mengembangkan system informasi dengan baik. kinerja pegawai dan kepuasaan pasiendi rumah sakit tersebut. Pelayanan kesehatan di UGD mencerminkan kualitas pelayanan rumah sakit terebut secara keseluruhan. Pengembangan system informasi tidak memerlukan biaya yang mahal.BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. terutama di UGD. B. rumah sakit harus mempunyai sistem informasi yang baik. sudah menggunakan system informasi terintegrasi yang terkait dengan pelayanan di Penerapan sistem terintegrasi ini dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. perlu adanya kaderisasi terhadap SDM-SDM TI agar tidak hanya bergantung ke beberapa orang dalam mengembangkan sistem informasi. tetapi perlu didukung oleh SDM yang mampu mengembangkan system informasi secara efisien. Oelh karena itu. Kesimpulan Sistem pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Pertamina Jaya unit UGD. Selain itu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful