You are on page 1of 31

Referat

Gangguan Bipolar

Dosen Pembimbing:
dr. Linda kartikasari, Sp.KJ

Disusun oleh:
Asrianti Saddi Pairunan
112017170

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Periode 28 Mei - 30 Juni 2018

1
A. DEFINISI
Gangguan bipolar (GB) merupakan gangguan jiwa yang bersifat episodik dan ditandai oleh
gejala-gejala manik, hipomanik, depresi, dan campuran, biasanya rekuren serta dapat
berlangsung seumur hidup. Setiap episode dipisahkan sekurangnya dua bulan tanpa gejala
penting mania atau hipomania. Tetapi pada beberapa individu, gejala depresi dan mania dapat
bergantian secara cepat, yang dikenal dengan rapid cycling. Episode mania yang ekstrim dapat
menunjukkan gejala-gejala psikotik seperti waham dan halusinasi. 1-4

B. EPIDEMIOLOGI
Gangguan bipolar adalah gangguan yang lebih jarang dibandingkan dengan gangguan
depresif berat. Prevalensi gangguan bipolar di Indonesia hanya sekitar 2% sama dengan
prevalensi skizofrenia. Prevalensi antara laki-laki dan wanita sama besar. Onset gangguan
bipolar adalah dari masa anak-anak (usia 5-6 tahun) sampai 50 tahun atau lebih. Rata-rata usia
yang terkena adalah usia 30 tahun. Gangguan bipolar cenderung mengenai semua ras.3

C. ETIOLOGI
Penyebab gangguan bipolar multifaktor. Secara biologis dikaitkan dengan faktor genetik
dan gangguan neurotransmitter di otak. Secara psikososial dikaitkan dengan pola asuh masa
kanak-kanak, stress yang menyakitkan, stress kehidupan yang berat dan berkepanjangan, dan
banyak lagi faktor lainnya.2-4

 Faktor Genetik
Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa kemungkinan menderita suatu gangguan mood
menurun saat derajat hubungan kekeluargaan melebar. Sebagai contoh, sanak saudara derajat
kedua (sepupu) lebih kecil kemungkinannya dari pada sanak saudara derajat pertama.
Penurunan gangguan bipolar juga ditunjukkan oleh fakta bahwa kira-kira 50 persen pasien
gangguan bipolar memiliki sekurangnya satu orangtua dengan suatu gangguan mood, paling
sering gangguan depresif berat. Jika satu orangtua menderita gangguan bipolar, terdapat
kemungkinan 25 persen bahwa anaknya menderita suatu Gangguan mood. Jika kedua

2
orangtua menderita gangguan bipolar, terdapat kemungkinan 50-75 persen anaknya menderita
gangguan mood.2-4
Beberapa studi berhasil membuktikan keterkaitan antara gangguan bipolar dengan
kromosom 18 dan 22, namun masih belum dapat diselidiki lokus mana dari kromosom
tersebut yang benar-benar terlibat. Beberapa diantaranya yang telah diselidiki adalah 4p16,
12q23-q24, 18 sentromer, 18q22-q23, dan 21q22. Yang menarik dari studi kromosom ini,
ternyata penderita sindrom Down (trisomi 21) beresiko rendah menderita gangguan bipolar.2-4
Sejak ditemukannya beberapa obat yang berhasil meringankan gejala bipolar, peneliti
mulai menduga adanya hubungan neurotransmitter dengan gangguan bipolar.
Neurotransmitter tersebut adalah dopamine, serotonin, noradrenalin. Gen-gen yang
berhubungan dengan neurotransmitter tersebut pun mulai diteliti seperti gen yang mengkode
monoamine oksidase A (MAOA), tirosin hidroksilase, cathecol-ometiltransferase (COMT),
dan serotonin transporter (5HTT). Penelitian terbaru menemukan gen lain yang berhubungan
dengan penyakit ini yaitu gen yang mengekspresi brain derived neurotrophic factor (BDNF).
BDNF adalah neurotropin yang berperan dalam regulasi plastisitas sinaps, neurogenesis, dan
perlindungan neuron otak. BDNF diduga ikut terlibat dalam mood. Gen yang mengatur
BDNF terletak pada kromosom 11p13. Terdapat tiga penelitian yang mencari tahu hubungan
antara BDNF dengan Gangguan bipolar dan hasilnya positif.2-4

 Faktor Biologis
Kelainan di otak juga dianggap dapat menjadi penyebab penyakit ini. Terdapat perbedaan
gambaran otak antara kelompok sehat dengan penderita bipolar. Melalui pencitraan magnetic
resonance imaging (MRI) dan positron-emission tomography (PET), didapatkan jumlah
substansia nigra dan aliran darah yang berkurang pada korteks prefrontal subgenual. Tak
hanya itu, Blumberg dkk dalam Arch Gen Psychiatry 2003 pun menemukan volume yang
kecil pada amygdale dan hippocampus. Korteks prefrontal, amygdale, dan hippocampus
merupakan bagian dari otak yang terlibat dalam respon emosi (mood dan afek).2-4
Penelitian lain menunjukkan ekspresi oligodendrosit-myelin berkurang pada otak penderita
bipolar. Seperti diketahui, oligodendrosit menghasilkan membran myelin yang membungkus
akson sehingga mampu mempercepat hantaran konduksi antar saraf. Bila jumlah

3
oligodendrosit berkurang, maka dapat dipastikan komunikasi antar saraf tidak berjalan
lancar.2-4

 Faktor Lingkungan
Penelitian telah membuktikan faktor lingkungan memegang peranan penting dalam
gangguan perkembangan bipolar. Faktor lingkungan yang sangat berperan pada kehidupan
psikososial dari pasien dapat menyebabkan stress yang dipicu oleh faktor lingkungan. Stress
yang menyertai episode pertama dari gangguan bipolar dapat menyebabkan perubahan
biologik otak yang bertahan lama. Perubahan bertahan lama tersebut dapat menyebabkan
perubahan keadaan fungsional berbagai neurotransmitter dan sistem pemberian signal
intraneuronal. Perubahan mungkin termasuk hilangnya neuron dan penurunan besar dalam
kontak sinaptik. Hasil akhir perubahan tersebut menyebabkan seseorang berada pada resiko
yang lebih tinggi untuk menderita Gangguan mood selanjutnya, bahkan tanpa adanya stressor
eksternal.2,4

D. GEJALA KLINIS
Terdapat dua pola gejala dasar pada Gangguan bipolar yaitu, episode depresi dan episode
mania.
 Episode manik/mania:
Paling sedikit satu minggu (bisa kurang, bila dirawat) pasien mengalami mood yang elasi,
ekspansif, atau iritabel. Pasien memiliki, secara menetap, tiga atau lebih gejala berikut (empat
atau lebih bila hanya mood iritabel) yaitu4,5:
 Grandiositas atau percaya diri berlebihan
 Berkurangnya kebutuhan tidur
 Cepat dan banyaknya pembicaraan
 Lompatan gagasan atau pikiran berlomba
 Perhatian mudah teralih
 Peningkatan energi dan hiperaktivitas psikomotor
 Meningkatnya aktivitas bertujuan (sosial, seksual, pekerjaan dan sekolah)
 Tindakan-tindakan sembrono (ngebut, boros, investasi tanpa perhitungan yang matang)

4
Gejala yang derajatnya berat dikaitkan dengam penderitaan, gambaran psikotik,
hospitalisasi untuk melindungi pasien dan orang lain, serta adanya gangguan fungsi sosial dan
pekerjaan. Pasien hipomania kadang sulit didiagnosa sebab beberapa pasien hipomania justru
memiliki tingkat kreativitas dan produktivitas yang tinggi. Pasien hipomania tidak memiliki
gambaran psikotik (halusinasi, waham atau perilaku atau pembicaraan aneh) dan tidak
memerlukan hospitalisasi.4-5

 Episode Campuran
Paling sedikit satu minggu pasien mengalami episode mania dan depresi yang terjadi
secara bersamaan. Misalnya, mood tereksitasi (lebih sering mood disforik), iritabel, marah,
serangan panik, pembicaraan cepat, agitasi, menangis, ide bunuh diri, insomnia derajat berat,
grandiositas, hiperseksualitas, waham kejar dan kadang-kadang bingung. Kadang-kadang
gejala cukup berat sehingga memerlukan perawatan untuk melindungi pasien atau orang lain,
dapat disertai gambaran psikotik, dan mengganggu fungsi personal, sosial dan pekerjaan.4-5

 Siklus Cepat
Siklus cepat yaitu bila terjadi paling sedikit tiga episode yaitu depresi, hipomania, atau
mania dalam satu tahun. Seseorang dengan siklus cepat jarang mengalami bebas gejala dan
biasanya terdapat hendaya berat dalam hubungan interpersonal atau pekerjaan. 4,5

 Siklus Ultra Cepat
Mania, hipomania, dan episode depresi bergantian dengan sangat cepat dalam beberapa
hari. Gejala dan hendaya lebih berat bila dibandingkan dengan siklotimia dan sangat sulit
diatasi. 4,5

 Sindrom Psikotik
Pada kasus berat, pasien mengalami gejala psikotik. Gejala psikotik yang paling sering
yaitu4,5:
 Halusinasi (auditorik, visual, atau bentuk sensasi lainnya)

5
 Waham
Misalnya, waham kebesaran sering terjadi pada episode mania sedangkan waham nihilistik
terjadi pada episode depresi. Ada kalanya gejala psikotik tidak serasi dengan mood. Pasien
dengan gangguan bipolar sering didiagnosis sebagai skizofrenia. Ciri psikotik biasanya
merupakan tanda prognosis yang buruk bagi pasien dengan gangguan bipolar. Faktor berikut
ini telah dihubungkan dengan prognosis yang buruk seperti: durasi episode yang lama,
disosiasi temporal antara gangguan mood dan gejala psikotik, dan riwayat penyesuaian sosial
pramorbid yang buruk. Adanya ciri-ciri psikotik yang memiiki penerapan terapi yang penting,
pasien dengan symptom psikotik hampir selalu memerlukan obat anti psikotik di samping anti
depresan atau anti mania atau mungkin memerlukan terapi antikonvulsif untuk mendapatkan
perbaikan klinis. 4,5

E. KRITERIA
Berdasarkan DSM-IV, Gangguan bipolar digolongkan menjadi 4 kriteria6:
 Gangguan bipolar I
Terdapat satu atau lebih episode manik. Episode depresi dan hipomanik tidak diperlukan
untuk diagnosis tetapi episode tersebut sering terjadi.
 Gangguan bipolar II
Terdapat satu atau lebih episode hipomanik atau episode depresif mayor tanpa episode
manik.
 Siklotimia
Adalah bentuk ringan dari Gangguan bipolar. Terdapat episode hipomania dan depresi
yang ringan yang tidak memenuhi kriteria episode depresif mayor.
 Gangguan bipolar YTT
Gejala-gejala yang dialami penderita tidak memenuhi kriteria Gangguan bipolar I dan II.
Gejala-gejala tersebut berlangsung tidak lama atau gejala terlalu sedikit sehingga tidak
dapat didiagnosa gangguan bipolar I dan II.

F. DIAGNOSIS

6
Keterampilan wawancara dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis. Informasi dari
keluarga sangat diperlukan. Diagnosis ditegakkan berdasarkan kriteria yang terdapat dalam
DSM-IV atau ICD-10. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi
symptom gangguan bipolar adalah The Structured Clinical Interview for DSM-IV (SCID). The
Present State Examination (PSE) dapat pula digunakan untuk mengidentifikasi symptom sesuai
dengan ICD-10. 4,6
Pembagian menurut DSM-IV1:
 Gangguan mood bipolar I
 Gangguan mood bipolar I, episode manik tunggal
a) Hanya mengalami satu kali episode manik dan tidak ada riwayat depresi mayor
sebelumnya.
b) Tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, skizoafektif, gangguan
waham, atau dengan gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan.
c) Gejala-gejala tidak disebabkan efek fisiologik langsung zat atau kondisi medik umum
d) Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau
menimbulkan hendaya dalam sosial, pekerjaan dan aspek fungsi penting lainnya.
 Gangguan mood bipolar I, episode manik sekarang ini
a) Saat ini dalam episode manik
b) Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami satu kali episode manik, depresi, atau
campuran.
c) Episode mood pada kriteria a dan b bukan skizoafektif dan tidak bertumpang tindih
dengan skizofrenia, skizofreniform, Gangguan waham, atau dengan Gangguan psikotik
yang tidak dapat diklasifikasikan.
d) Gejala-gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologik langsung zat atau kondisi medik
umum.
e) Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau
menimbulkan hendaya dalam sosial, pekerjaan dan aspek fungsi penting lainnya.
 Gangguan mood bipolar I, episode campuran saat ini1
a) Saat ini dalam episode campuran
b) Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami episode manik, depresi atau campuran

7
c) Episode mood pada kriteria a dan b tidak dapat dikategorikan skizoafektif dan tidak
bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizifreniform, Gangguan waham, atau
Gangguan psikotik yang tidak diklasifikasikan
d) Gejala-gejala tidak disebabkan efek oleh fisiologik langsung zat atau kondisi medik
umum
e) Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau
menimbulkan hendaya dalam social, pekerjaan, atau aspek fungsi penting lainnya.
 Gangguan mood bipolar I, episode hipomanik saat ini
a) Saat ini dalam episode hipomanik
b) Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami satu episode manic atau campuran
c) Gejala mood menyebabkan penderita yang secara klinik cukup bermakna atau hendaya
social, pekerjaan atau aspek fungsi penting lainnya
d) Episode mood pada kriteria a dan b tidak dapat dikategorikan sebagai skizoafektif dan
tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, Gangguan waham, dan
dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan.
 Gangguan mood bipolar I, episode depresi saat ini
a) Saat ini dalam episode depresi mayor
b) Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami episode manik dan campuran
c) Episode mood pada kriteria a dan b tidak dapat dikategorikan sebagai skizoafektif dan
tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, Gangguan waham, dan
dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan.
d) Gejala-gejala tidak disebabkan efek fisiologik langsung zat atau kondisi medik umum
e) Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau
menimbulkan hendaya dalam social, pekerjaan, atau aspek fungsi penting lainnya.
 Gangguan mood bipolar I, Episode yang tidak dapat diklasifikasikan saat ini
a) Kriteria, kecuali durasi, saat ini, memenuhi kriteria untuk manik, hipomanik, campuran
atau episode depresi.
b) Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami satu episode manik atau campuran.

8
c) Episode mood pada kriteria a dan b tidak dapat dikategorikan sebagai skizoafektif dan
tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, Gangguan waham, atau
dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan di tempat lain.
d) Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau
menimbulkan hendaya dalam social, pekerjaan, atau aspek fungsi penting lainnya.

 Gangguan Mood Bipolar II
Satu atau lebih episode depresi mayor yang disertai dengan paling sedikit satu episode
hipomanik.

 Gangguan Siklotimia
a) Paling sedikit selama dua tahun, terdapat beberapa periode dengan gejala-gejala hipomania
dan beberapa periode dengan gejala-gejala depresi yang tidak memenuhi criteria untuk
Gangguan depresi mayor. Untuk anak-anak dan remaja durasinya paling sedikit satu tahun.
b) Selama periode dua tahun di atas penderita tidak pernah bebas dari gejala-gejala pada
kriteria a lebih dari dua bulan pada suatu waktu.
c) Tidak ada episode depresi mayor, episode manik, episode campuran, selama dua tahun
Gangguan tersebut
Catatan: setelah dua tahun awal, siklotimia dapat bertumpang tindih dengan manic atau
episode campuran (diagnosis GB I dan Gangguan siklotimia dapat dibuat) atau episode
depresi mayor (diagnosis GB II dengan Gangguan siklotimia dapat ditegakkan)
d) Gejala-gejala pada criteria a bukan skizoafektif dan tidak bertumpangtindih dengan
skizofrenia, skizofreniform, gangguan waham, atau dengan Gangguan psikotik yang tidak
dapat diklasifikasikan.
e) Gejala-gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologik langsung zat atau kondisi medik umum
f) Gejala-gejala di atas menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau
menimbulkan hendaya dalam social, pekerjaan atau aspek fungsi penting lainnya.

Pembagian menurut PPDGJ III7:
 F31 Gangguan Afek bipolar

9
 Gangguan ini tersifat oleh episode berulang (sekurang-kurangnya dua episode) dimana
afek pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, pada waktu tertentu terdiri dari
peningkatan afek disertai penambahan energi dan aktivitas (mania atau hipomania), dan
pada waktu lain berupa penurunan afek disertai pengurangan energi dan aktivitas (depresi).
Yang khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna antar episode. Episode
manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsug antara 2 minggu sampai 4-5 bulan,
episode depresi cenderung berlangsung lebih lama (rata-rata sekitar 6 bulan) meskipun
jarang melebihi 1 tahun kecuali pada orang usia lanjut. Kedua macam episode itu
seringkali terjadi setelah peristiwa hidup yang penuh stress atau trauma mental lainnya
(adanya stress tidak esensial untuk penegakan diagnosis).
 Termasuk: gangguan atau psikosis manik-depresif
Tidak termasuk: Gangguan bipolar, episode manic tunggal (F30)

 F31.0 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Klinik Hipomanik
 Episode yang sekarang harus memenuhi criteria untuk hipomania (F30); dan
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik , depresif, atau
campuran) di masa lampau.

 F31.1 Gangguan afektif Bipolar, Episode kini Manik Tanpa Gejala Psikotik
 Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania tanpa gejala psikotik (F30.1);
dan
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik, depresif, atau
campuran) di masa lampau.

 F31.2 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik dengan gejala psikotik
 Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania dengan gejala psikotik
(F30.2); dan
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik, depresif atau
campuran) di masa lampau

10
 F31.3 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Ringan atau Sedang
 Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresi ringan (F32.0)
atau pun sedang (F32.1); dan
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran di
masa lampau

 F31.4 gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala psikotik
 Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat tanpa gejala
psikotik (F32.2); dan
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran di
masa lampau

 F31.5 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat dengan Gejala Psikotik
 Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat dengan gejala
psikotik (F32.3);dan
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran
dimasa lampau

 F31.6 Gangguan Afektif Bipolar Campuran
 Episode yang sekarang menunjukkan gejala-gejala manik, hipomanik, dan depresif yang
tercampur atau bergantian dengan cepat (gejala mania/hipomania dan depresif yang sama-
sama mencolok selama masa terbesar dari episode penyakit yang sekarang, dan telah
berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu); dan
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran di
masa lampau

 F31.7 Gangguan Afektif Bipolar, kini dalam Remisi
 Sekarang tidak menderita gangguan afektif yang nyata selama beberapa bulan terakhir ini,
tetapi pernah mengalami sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau

11
campuran di masa lampau dan ditambah sekurang-kurangnya satu episode afektif lain
(hipomanik, manik, depres if atau campuran)

 F31.8 Gangguan Afektif Bipolar Lainnya

 F31.9 Gangguan Afektif Bipolar YTT

G. DIFFERENTIAL DIAGNOSIS
Terdapat beberapa gangguan mental lainnya yang memiliki gejala yang sama dengan
gangguan bipolar seperti skizofrenia, skizoafektif, intoksikasi obat, gangguan skizofreniform,
dan gangguan kepribadian ambang.4,8

H. PENATALAKSANAAN
 Farmakoterapi
Hingga sekarang masih belum ada pengobatan tuntas untuk bipolar, tetapi harus ada obat
untuk mengontrol mood dan gejala yang berkaitan. Oleh karena itu penyakit bipolar bisa
menyebabkan rekurensi dan pengobatannya berlaku sepanjang hayat. Bipolar merupakan
penyakit yang memerlukan pengobatan jangka panjang, walaupun pasien merasa sudah sembuh.
pengobatan haruslah di atur oleh psikiater. Pasien juga biasanya mendapat tim perawatan yang
terdiri dari psikolog , pekerja sosial, perawat psikater. Perawatan primer dapat berupa obat,
konseling peribadi, keluarga atau kelompok atau bisa juga edukasi dan support group.9,10
Paramedis mungkin akan mengambil langkah untuk merawat inapkan pasien dengan indikasi
jika pasien bertingkah berbahaya, atau pasien ingin bunuh diri atau menjadi psikotik. Obat yang
digunakan adalah obat yang berguna untuk menstabilkan mood dengan segera. Apabila gejala

12
telah membaik dan bisa dikontrol, psikiater akan mencoba pengobatan yang terbaik untuk jangka
panjang.9,10
Pengobatan rumatan digunakan untuk mencegah penyakit bipolar dalam jangka panjang.
Pasien yang tidak patuh pada pengobatan rumatan akan relaps dan timbul gejala bipolar atau
akan timbul perubahan mood yang minor dan bisa berganti dengan episode depresi dan episode
mania yang lengkap. Jika pasien mempunyai masalah penyalahgunaan zat atau alkohol,
pengobatannya juga akan berbeda karena harus memperbaiki keadaan penyalahgunaan zat. Jika
tidak, pengobatan akan menjadi lebih sulit karena harus memperkirakan zat yang
disalahgunakan.9,10
Pengobatan bipolar termasuk untuk menstabilkan mood pasien agar tidak berada dikutub
mood yaitu episode mania dan episode depresi. Oleh karena itu mood stabilizer diperlukan dalam
pengobatan, dan juga pengobatan yang dapat meghilangkan anxietas dan depresi. Berikut adalah
obat-obatan yang dapat digunakan pada gangguan bipolar.4,5,9

 Lithium
Lithium (lithobid) adalah merupakan obat yang efektif dalam menstabilkan mood dan
mencegah pasien berada dalam episode mania dan episode depresi, obat ini juga telah digunakan
sejak lama. Lithium biasannya digunakan pada pengobatan bipolar. Pada umumnya ia
merupakan pengobatan lini pertama untuk pengobatan bipolar. Lithium (escalith atau lithobid)
merupakan mood stabilizer yang pertama yang diluluskan oleh FDA di tahun 1970 untuk
pengobatan episode mania. Penggunaan lithium ini begitu efektif dalam mengawal symptom
episode manik dan mencegah terjadinya rekuren episode manik dan episode depresi. Penggunaan
lithium haruslah disertai dengan pemeriksaan darah rutin karena pengunaan litihium pada jangka
panjang bisa menyebabkan kegagalan ginjal dan masalah tiroid.4,9,10
-
Farmakologi
Sejumlah kecil lithium terikat dengan protein. Lithium diekskresikan dalam bentuk utuh
hanya melalui ginjal.
- Indikasi
Episode mania akut, depresi, mencegah bunuh diri, dan bermanfaat sebagai terapi rumatan
GB.9,12

13
- Dosis
Respons lithium terhadap mania akut dapat dimaksimalkan dengan mentitrasi dosis hingga
mencapai dosis terapeutik yang berkisar antara 1,0-1,4 mEq/L. Perbaikan terjadi dalam 7-14 hari.
Dosis awal yaitu 20 mg/kg/hari. Dosis untuk mengatasi keadaan akut lebih tinggi bila
dibandingkan dengan terapi rumatan. Untuk terapi rumatan, dosis berkisar antara 0,4-0,8 mEq/L.
Dosis kurang dari 0,4 mEq/L, tidak efektif sebagai terapi rumatan. Sebaliknya, gejala toksisitas
litium dapat terjadi bila dosis 1,5 mEq/L.9,10,12
- Efek samping
Efek samping yang dilaporkan adalah mual, muntah, tremor, somnolen, penambahan berat
badan, dan penumpulan kognitif. Neurotoksisitas, delirium, dan ensefalopati dapat pula terjadi
akibat lithium. Neurotoksisitas bersifat irreversible. Akibat intoksikasi litium, defisit neurologi
permanen dapat terjadi misalnya, ataksia, defisit memori, dan gangguan pergerakan. Untuk
mengatasi intoksikasi lithium, hemodialisis harus segera dilakukan. Litium dapat merusak
tubulus ginjal. Faktor resiko kerusakan ginjal adalah intoksikasi litium, polifarmasi dan adanya
penyakit fisik yang lainnya. Pasien yang mengkonsumsi litium dapat mengalami poliuri. Oleh
karena itu, pasien dianjurkan untuk banyak meminum air.9,12
- Pemeriksaan laboratorium
Sebelum memberikan lithium, fungsi ginjal (ureum dan kreatinin) dan fungsi tiroid, harus
diperiksa terlebih dahulu. Untuk pasien yang berumur di atas 40 tahun, pemeriksaan EKG harus
dilakukan. Fungsi ginjal harus diperiksa setiap 2-3 bulan dan fungsi tiroid dalam enam bulan
pertama. Setelah enam bulan, fungsi ginjal dan tiroid diperiksa sekali dalam 6-12 bulan atau bila
ada indikasi.9,12
- Wanita hamil
Penggunaan lithium pada wanita hamil dapat menimbulkan malformasi janin. Kejadiannya
meningkat bila janin terpapar pada kehamilan yang lebih dini. Wanita dengan GB yang
derajatnya berat, yang mendapat terapi lithium rumatan, dapat melanjutkan lithium selama
kehamilan bila ada indikasi klinis. Kadar lithium darahnya harus dipantau dengan seksama.
Pemeriksaan USG untuk memantau janin, harus dilakukan. Selama kehamilannya, wanita
tersebut harus disupervisi oleh ahli kebidanan dan psikiater. Sebelum kehamilan terjadi, risiko
litium terhadap janin dan efek putus litium terhadap ibu harus didiskusikan.4

14
 Valproat
Valproat merupakan obat antiepilepsi yang disetujui oleh FDA sebagai antimania. Asam
valproat atau divaproex (depatoke) diluluskan oleh FDA pada tahun 1995 digunakan untuk
mengobati mania, ia merupakan pengobatan yang popular karena bisa mengantikan lithium
untuk pengobatan bipolar karena ia juga berfungsi sebagai mood stabilizer. Dari segi efektifitas
asam valproat juga sama efektif dengan penggunaan lithium. Valproat tersedia dalam bentuk
:9,10,2
1. Preparat oral;
a. Sodium divalproat, tablet salut, proporsi antara asam valproat dan sodium valproat
adalah sama (1:1)
b. Asam valproat
c. Sodium valproat
d. Sodium divalproat, kapsul yang mengandung partikel-partikel salut yang dapat dimakan
secara utuh atau dibuka dan ditaburkan ke dalam makanan.
e. Divalproat dalam bentuk lepas lambat, dosis sekali sehari
2. Preparat intravena
3. Preparat sipusitoria
- Farmakologi
Terikat dengan protein. Diserap dengan cepat setelah pemberian oral. Konsentrasi puncak
plasma sodium valproat dan asam valproat dicapai dalam dua jam sedangkan sodium divalproat
dalam 3-8 jam. Absorbsi divalproat lebih cepat bila dibandingkan dengan tablet biasa. Absorbsi
menjadi lambat bila obat diminum bersamaan dengan makanan. Ikatan valproat dengan protein
meningkat bila diet mengandung rendah lemak dan menurun bila diet mengandung tinggi
lemak.9,12
- Dosis
Dosis terapeutik untuk mania dicapai bila konsentrasi valproat dalam serum berkisar antara 45
-125 mg/mL. Untuk GB II dan siklotimia diperlukan divalproat dengan konsentrasi plasma < 50
mg/mL. Dosis awal untuk mania dimulai dengan 15-20 mg/kg/hari atau 250 – 500 mg/hari dan
dinaikkan setiap 3 hari hingga mencapai konsentrasi serum 45- 125 mg/mL. Efek samping,

15
misalnya sedasi, peningkatan nafsu makan, dan penurunan leukosit serta trombosit dapat terjadi
bila konsentrasi serum > 100 mg/mL. Untuk terapi rumatan, konsentrasi valproat dalam plasma
yang dianjurkan adalah antara 75-100 mg/mL.9,10,12
- Indikasi
Valproat efektif untuk mania akut, campuran akut, depresi mayor akut, terapi rumatan GB,
mania sekunder, GB yang tidak berespons dengan lithium, siklus cepat, GB pada anak dan
remaja, serta GB pada lanjut usia.9,12
- Efek Samping
Valproat ditoleransi dengan baik. Efek samping yang dapat terjadi, misalnya anoreksia, mual,
muntah, diare, dispepsia, peningkatan (derajat ringan) enzim transaminase, sedasi, dan tremor.
Efek samping ini sering terjadi pada awal pengobatan dan bekurang dengan penurunan dosis atau
dengan berjalannya waktu. Efek samping gastrointestinal lebih sering terjadi pada penggunaan
asam valproat dan valproat sodium bila dibandingkan dengan tablet salut sodium divalproat.9,12

 Lamotrigin
Lamotrigin efektif untuk mengatasi episode bipolar depresi. Ia menghambat kanal Na+. Selain
itu, ia juga menghambat pelepasan glutamat.4,9,10
- Farmakokinetik
Lamotrigin oral diabsorbsi dengan cepat. Obat cepat melewati sawar otak dan mencapai
konsentrasi puncak dalam 2-3 jam. Sebanyak 10% lamotrigin dieksresikan dalam bentuk utuh.9,12
- Indikasi
Efektif untuk mengobati episode depresi, GB I dan GB II, baik akut maupun rumatan.
Lamotrigin juga efektif untuk GB, siklus cepat.
- Dosis
Berkisar antara 50-200 mg/hari.9,12
- Efek Samping
Sakit kepala, mual, muntah, pusing, mengantuk, tremor, dan berbagai bentuk kemerahan di
kulit.9,12

Antipsikotika Atipik

16
Antipsikotika atipik, baik monoterapi maupun kombinasi terapi, efektif sebagai terapi lini
pertama untuk GB. Beberapa antipsikotika atipik tersebut adalah olanzapin, risperidon,
quetiapin, dan aripiprazol.4,9,12

 Risperidon
Risperidon adalah derivat benzisoksazol. Ia merupakan antipsikotika atipik pertama yang
mendapat persetujuan FDA setelah klozapin.9,12
- Absorbsi
Risperidon diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian oral. Ia dimetabolisme oleh enzim
hepar yaitu CYP 2D6.9,12
- Dosis
Untuk preparat oral, risperidon tersedia dalam dua bentuk sediaan yaitu tablet dan cairan.
Dosis awal yang dianjurkan adalah 2 mg/hari dan besoknya dapat dinaikkan hingga mencapai
dosis 4 mg/hari. Sebagian besar pasien membutuhkan 4-6 mg/hari. Risperidon injeksi jangka
panjang (RIJP) dapat pula digunakan untuk terapi rumatan GB. Dosis yang dianjurkan untuk
orang dewasa atau orang tua adalah 25 mg setiap dua minggu. Bila tidak berespons dengan 25
mg, dosis dapat dinaikkan menjadi 37,5 mg - 50 mg per dua minggu.9,10,12
- Indikasi
Risperidon bermanfaat pada mania akut dan efektif pula untuk terapi rumatan.10,11
- Efek Samping
Sedasi, fatig, pusing ortostatik, palpitasi, peningkatan berat badan, berkurangnya gairah
seksual, disfungsi ereksi lebih sering terjadi pada risperidon bila dibandingkan dengan pada
plasebo. Meskipun risperidon tidak terikat secara bermakna dengan reseptor kolinergik
muskarinik, mulut kering, mata kabur, dan retensi urin, dapat terlihat pada beberapa pasien dan
sifatnya hanya sementara. Peningkatan berat badan dan prolaktin dapat pula terjadi pada
pemberian risperidon.9,12
 Olanzapin
Olanzapin merupakan derivat tienobenzodiazepin yang memiliki afinitas terhadap dopamin
(DA), D2, D3, D4, dan D5, serotonin 2 (5-HT2); muskarinik, histamin 1(H1), dan a1-
adrenergik.4,9,12

17
- Indikasi
Olanzapin mendapat persetujuan dari FDA untuk bipolar episode akut mania dan campuran.
Selain itu, olanzapin juga efektif untuk terapi rumatan GB.9,12
- Dosis
Kisaran dosis olanzapin adalah antara 5-30 mg/hari.9,10,12
- Efek Samping
Sedasi dapat terjadi pada awal pengobatan tetapi berkurang setelah beberapa lama. Efek
antikolinergik dapat pula terjadi tetapi kejadiannya sangat rendah dan tidak menyebabkan
penghentian pengobatan. Risiko terjadinya diabetes tipe-2 relatif tinggi bila dibandingkan
dengan antipsikotika atipik lainnya. Keadaan ini dapat diatasi dengan melakukan psikoedukasi,
misalnya merubah gaya hidup, diet dan latihan fisik.9,12

 Quetiapin
Berfungsi untuk mengurangkan simptom episode manik yang sudah berat dan episode manik
yang datang dengan tiba-tiba. Quetiapin merupakan suatu derivat dibenzotiazepin yang bekerja
sebagai antagonis 5-HT1A dan 5 -HT2A, dopamin D1, D2, histamin H1 serta reseptor
adrenergik a1 dan a2. Afinitasnya rendah terhadap reseptor D2 dan relatif lebih tinggi terhadap
serotonin 5-HT2A.9,12
- Dosis
Kisaran dosis pada gangguan bipolar dewasa yaitu 200-800 mg/hari. Tersedia dalam bentuk
tablet IR (immediate release) dengan dosis 25 mg, 100 mg, 200 mg, dan 300 mg, dengan
pemberian dua kali per hari. Selain itu, juga tersedia quetiapin-XR dengan dosis 300 mg, satu
kali per hari.9,10,1
- Indikasi
Quetiapin efektif untuk GB I dan II, episdoe manik, depresi, campuran, siklus cepat, baik
dalam keadaan akut maupun rumatan.9,12
- Efek Samping
Quetiapin secara umum ditoleransi dengan baik. Sedasi merupakan efek samping yang sering
dilaporkan, efek samping ini berkurang dengan berjalannya waktu. Perubahan berat badan

18
dengan quetiapin sedang dan tidak perlu dilakukan penghentian pengobatan. Peningkatan berat
badan lebih kecil bila dibandingkan dengan antipsikotika tipik.9,12

 Aripiprazol
Seperti olanzapine, aripiprazol juga dipakai untuk pengobatan antipiskotik dengan episode
campuran dan episode manik. Aripiprazole juga digunakan untuk pengobatan rumatan penyakit
bipolar, dan mempunyai sediaan injeksi yang digunakan sebagai usaha dalam penatalaksanaan
pada saat darurat. Ia juga digunakan pada episode manik yang datang dengan tiba-tiba dan juga
pada keadaan manik yang berat. Aripiprazol adalah stabilisator sistem dopamin-serotonin.4,9,12
- Farmakologi
Aripiprazol merupakan agonis parsial kuat pada D2, D3, dan 5-HT1A serta antagonis 5-
HT2A. Ia juga mempunyai afinitas yang tinggi pada reseptor D3, afinitas sedang pada D4, 5-
HT2c, 5-HT7, a1-adrenergik, histaminergik (H1), dan serotonin reuptake site (SERT), dan tidak
terikat dengan reseptor muskarinik kolinergik.9,12
- Dosis
Aripiprazol tersedia dalam bentuk tablet 5,10,15,20, dan 30 mg. Kisaran dosis efektifnya per
hari yaitu antara 10-30 mg. Dosis awal yang direkomendasikan yaitu antara 10-15 mg dan
diberikan sekali sehari. Apabila ada rasa mual, insomnia, dan akatisia, dianjurkan untuk
menurunkan dosis. Beberapa klinikus mengatakan bahwa dosis awal 5 mg dapat meningkatkan
tolerabilitas.9,10,12
- Indikasi
Aripiprazol efektif pada GB, episode mania dan episode campuran akut. Ia juga efektif untuk
terapi rumatan GB. Aripiprazol juga efektif sebagai terapi tambahan pada GB I, episode
depresi.9,12
- Efek Samping
Sakit kepala, mengantuk, agitasi, dispepsia, ansietas, dan mual merupakan kejadian yang
tidak diinginkan yang dilaporkan secara spontan oleh kelompok yang mendapat aripiprazol. Efek
samping ekstrapiramidalnya tidak berbeda secara bermakna dengan plasebo. Akatisia dapat
terjadi dan kadang-kadang dapat sangat mengganggu pasien sehingga sering mengakibatkan
penghentian pengobatan. Insomnia dapat pula ditemui. Tidak ada peningkatan berat badan dan

19
diabetes melitus pada penggunaan aripiprazol. Selain itu, peningkatan kadar prolaktin juga tidak
dijumpai. Aripiprazol tidak menyebabkan perubahan interval QTc.9,12

Antidepresan
Antidepresan efektif untuk mengobati GB, episode depresi. Penggunaannya harus dalam
jangka pendek. Penggunaan jangka panjang berpotensi meginduksi hipomania atau mania. Untuk
menghindari terjadinya hipomania dan mania, antidepresan hendaklah dikombinasi dengan
stabilisator mood atau dengan antipsikotika atipik. Tergantung pada simptom dokter yang
merawat mungkin akan merekomendasikan pasien untuk mengunakan anti depresan. Pada
beberapa pasien yang menderita gangguan bipolar, obat anti depresan juga bisa menyebabkan
tercetusnya episode manik. Dengan itu dokter yang merawat akan merekomendasikan juga
pengobatan dengan kombinasi mood stabilizer dan hal ini tidak menjadi satu masalah. Efek
samping anti depresan yang sering adalah penurunan kegairahan sex dan masalah untuk
mencapai orgasme. Anti depresan generasi terdahulu yang terdiri dari trisiklik dan inhibitor
MAO juga bisa menyebabkan efek samping yang berbahaya dan membutuhkan monitoring
pengobatan yang rutin. Fluoxetine (Prozac), paroxetine (paxil), sertraline (Zoloft) dan bupropion
(wellbutrin) adalah contoh anti depresan yang digunakan untuk pengobatan kelainan bipolar.10

Symbyax
Pengobatan symbyax ini terdiri dari dari kombinasi antidepresan fluoxetine dan atipsikotik
olanzepin. Ia berfungsi sebagai penggobatan depresi dan penstabil mood/mood stabilizer.
Symbyax juga teah diluluskan oleh FDA terutama pada pengobatan bipolar. Efek samping
symbyax termasuk peningkatan berat badan, pusing dan peningkatan nafsu makan Obat ini juga
dapat menyebabkan masalah seksual mirip dengan yang disebabkan oleh antidepresan.10

Benzodiazepin
Benzodiazepin merupakan suatu obat anti anxietas, dimana ia berfungsi untuk
mengurangkan anxietas dan memperbaiki kualitas tidur. Contoh obat golongan benzodiazepin
termasuk clonezepam (klonopin), lorazepam (ativan), diazepam (valium), chlordiazepoxide
(Librium) dan alprozolam (niravam, xanax). Benzodiazepin pada umumnya digunakan untuk

20
mengurangkan anxietas hanya pada jangka waktu yang pendek. Efek samping benzodiazepine
antaranya pusing, penurunan koodinasi otot, masalah keseimbangan dan memori.9-12

Tabel 1. FDA-approved Bipolar Disorder Treatments
Agents Manic Mixed Depression Maintenance

MOOD STABILISER

Lithium √ – – √

Divalproex DR √ – – –

Divalproex ER √ √ – –

Carbamazepine ER √ √ – –

ATYPICALS –

Risperidone √ √ – –

Olanzapine √ √ – √

Quetiapine √ – √ √

Ziprasidone √ √ – –

Aripiprazole √ √ – √

OTHER

Lamotrigine – – – +

Olanzapine/fluoxetine – – √ –

- Drugs listed in order of approval for a bipolar disorder indication. This chart does not
imply comparable efficacy or tolerability profiles.
- Physicians’ Desk Reference®. 60th ed. Montvale, NJ: Medical Economics Co; 2006

Pengobatan dalam kehamilan
Banyak obat-obatan yang digunakan pada terapi ganngguan bipolar bisa menyebabakan
defek kongenital pada janin. Pada wanita hamil, menjalani terapi farmakologi merupakan satu
cobaan yang sukar untuk para psikater. Dokter yang merawat haruslah mempertimbangkan
pengobatan dan resiko pada janin, namun jika terapi obat-obatan dihentikan, ia dapat
menyebabkan simptom bipolar timbul ketika usia kehamilan masih berjalan. Beberapa penelitian
mengatakan bahwa penggunaan lithium bersifat aman, namun ada juga penelitian yang

21
mengatakan ia bisa membahayakan janin di dalam kandungan. Dan kebanyakkan obat-obatan
untuk gangguan bipolar bisa menebusi ASI. Dengan itu regimen pengobatan yang lebih ketat
haruslah di lakukan. 4,11
Berikut merupakan efek samping pengobatan pada wanita yang sedang hamil :
 Asam valproate mempunyai resiko kepada fetus dan mempengaruhi perkembangan anak
tersebut.
 Carbamazepine mempunyai limitasi dalam efektifitas dan mempunyai resiko
membahayakan fetus.
 Lithium mempunyai resiko kepada bayi seperti masalah jantung.
 Iamotrigine mempunyai risko membahayakan fetus.
 Paroxetine memiliki reskio kepada fetus seperti masalah kadiovaskular malformation.
 Penggunanaan jangka masa panjang benzodiazepine bisa menyebabkan masalah kepada
anak seperti cleft plate dan floppy baby syndrome.

Penatalaksanaan Kedaruratan Agitasi Akut Pada Gangguan Bipolar
Terapi Lini 1:
- Injeksi IM aripiprazol efektif untuk pengobatan agitasi pada pasien dengan episode mania
atau campuran akut. Dosis adalah 9,75 mg/injeksi. Dosis maksimum adalah 29,25 mg/hari
(tiga kali injeksi perhari dengan interval dua jam). Berespon dalam 45-60 menit.
- Injeksi IM olanzapin efektif untuk agitasi pada pasien dengan episode mania atau
campuran akut. Dosis 10 mg/injeksi. Dosis maksimum adalah 30 mg/hari. Berespon dalam
15-30 menit. Interval pengulangan injeksi adalah dua jam. Sebanyak 90% pasien menerima
hanya satu kali injeksi dalam 24 jam pertama. Injeksi lorazepam 2 mg/injeksi. Dosis
maksimum Lorazepam 4 mg/hari. Dapat diberikan bersamaan dengan injeksi IM
Aripiprazol atau Olanzapin. Jangan dicampur dalam satu jarum suntik karena mengganggu
stabilitas antipsikotika.
Terapi lini 2:
- Injeksi IM Haloperidol yaitu 5 mg/kali injeksi. Dapat diulang setelah 30 menit. Dosis
maksimum adalah 15 mg/hari.

22
- Injeksi IM Diazepam yaitu 10 mg/kali injeksi. Dapat diberikan bersamaan dengan injeksi
haloperidol IM. Jangan dicampur dalam satu jarum suntik.

Penatalaksanaan Terapi Farmakologi Pada Mania Akut
Terapi lini 1:
- Litium, diivalproat, olanzapin, risperidon, quetiapin, quetiapin XR, aripiprazol, litium atau
divalproat + risperidon, litium atau divalproat + quetiapin, litium atau divalproat +
olanzapin, litium atau divalproat + aripiprazol.
Terapi lini 2:
- Karbamazepin, Terapi Kejang Listrik (TKL), litium + divalproat, paripalidon
Terapi lini 3:
- Haloperidol, klorpromazin, litium atau divalproat haloperidol, litium +karbamazepin,
klozapin.
-

23
Tabel 1. Algoritma Terapi Mania Akut pada Gangguan Bipolar

Penatalaksanaan Episode Depresi Akut pada Gangguan Bipolar 1
Terapi lini 1:
- Litium, lamotrigin, quetiapin, quetiapin XR, litium atau divalproat + SSRI, Olanzapin +
SSRI, litium + divalproat.
Terapi lini 2:
- Quetiapin + SSRI, divalproat, litium atau divalproat + lamotrigin
Terapi lini 3:
- Karbamazepin, olanzapin, litium + karbamazepin, litium atau divalproat + venlafaksin,
litium + MAOI, TKL, Litium atau divalproat atau AA + TCA, litium atau divalproat atau
karbamazepin + SSRI + Lamotrigin, penambahan topiramat.
Obat-obat yang tidak direkomendasikan : Gabapentin monoterapi, aripiprazol mono terapi

Rekomendasi terapi rumatan pada gangguan bipolar 1
Terapi lini 1:
- Litium, lamotrigin monoterapi, divalproat, olanzapin, quetiapin, litium atau divalproat +
quetiapin, risperidon injeksi jangka panjang (RIJP), penambahan RIJP, aripiprazol
Terapi lini 2:
- Karbamazepin, litium +divalproat, litium + karbamazepine, litium + divalproat +
olanzapin, litium + risperidon, litium + lamotrigin, olanzapin + fluoksetin
Terapi lini 3:
- Penambahan fenitoin, penambahan olanzapin, penambahan ECT, penambahan topiramat,
penambahan asam lemak omega-3, penambahan okskarbazepin
Obat-obatan yang tidak direkomendasikan: Gabapentin, topiramat atau antidepresan
monoterapi

Penatalaksanaan Depresi akut pada Gangguan Bipolar II
Terapi lini 1:
- Quetiapin

24
Terapi lini 2:
- Litium, lamotrigin, divalproat, litium atau divalproat + antidepresan, litium + divalproat,
antipsikotika atipik + antidepresan.
Terapi lini 3:
- Antidepresan mono terapi (terutama untuk pasien yang jarang mengalami hipomania)

Rekomendasi Terapi Rumatan pada Gangguan Bipolar II
Terapi lini 1:
- Litium, lamotrigin
Terapi lini 2:
- Divalproat, litium atau divalproat atau antipsikotika atipik + antidepresan, kombinasi dua
dari: litium, lamotrigin, divalproat, atau antipsikotika atipik.
Terapi lini 3:
- Karbamazepin, antipsikotika atipik, ECT
Obat-obatan yamg tidak dianjurkan: Gabapentin.

25
Tabel 2. Algoritma terapi Episode Depresi pada Gangguan Bipolar.

 Intervensi Psikososial

1. Penyuluhan Psikososial
Informasikan kepada orang dengan gangguan bipolar (tidak dalam episode manik akut) dan
pada anggota keluarga pasien gangguan bipolar.7

 Penjelasan : gangguan bipolar ialah suatu keadaan alam perasaan yang ekstrim dimana
dapat merasa sangat depresi, lemah, lesu kemudian beralih pada keadaan energik, sangat
semangat.
26
 Dalam keadaan ini diperlukan cara untuk mengawasi alam perasaan dalam waktu 1 hari
yang dapat terjadi marah, sensitif dan kesenangan yang berlebihan
 Penting untuk mengatur pola tidur yang normal (contohnya waktu saatnya tidur yang sama,
mencoba untuk tidur dalam kuantitas yang sama sebelum sakit serta hindari kebutuhan
tidur yang berlebihan dari biasanya).
 Kekambuhan perlu dicegah dengan mengenali gejala, seperti berkurangnya waktu tidur,
menghabiskan uang atau merasa lebih enegik dari biasanya dan segera mulai terapi jika hal
tersebut terjadi.
 Pasien yang berada dalam keadaan manik tidak sadar akan penyakit yang sedang
dideritanya dan merasa hebat serta energi yang meluap-luap, jadi pengasuh sangat perlu
menjadi bagian dalam upaya pencegahan.
 Hindari penggunaan alkohol maupun zat psikoaktif
 Perubahan gaya hidup sebaiknya terus dilanjutkan dan perlu diupayakan serta
direncanakan
 Pasien harus diberikan semangat untuk mencari dukungan setelah kejadian yang
menyedihkan dan mebicarakannya pada keluarga dan sahabat.
 Perencanaan untuk kembali bekerja atau bersekolah yang dapat menghindari pengurangan
waktu tidur, memperbaiki hubungan dukungan sosial, berdiskusi serta meminta pendapat
tentang keputusan penting misalnya tentang uang atau keputusan penting lainnya)
 Kesehatan fisik, sosial, jiwa anggota keluarga juga patut diperhatikan.
 Bangun kepercayaan: rasa percaya antara pasien dan staf perawat memegang peranan
penting dalam perawatan pasien dengan gangguan bipolar, dimana hubungan saling
percaya secara medis ikut membantu pemulihan pasien secara simultan.
2. Membangun hubungan sosial
 Mencari tahu kegiatan pasien, yang jika dianjurkan dapat mebantu secara langsung
maupun tidak langsung dukungan psikososial (contohnya pertemuan keluarga, bepergian
bersama teman, mengunjungi tetangga, berolahraga).
 Secara aktif memberi semangat kepada pasien untuk memulai kembali segala kegiatan
sosial yang pernah dijalaninya serta menasehati keluarga pasien tentang ini.7
3. Rehabilitation
27
 Memfasilitasi kesempatan kepada pasien dan perawatnya untuk berpartisipasi dalam
kegitan ekonomi, pendidikan serta kesenian di lingkungannya baik secara formal maupun
informal.
 Menyediakan lapangan pekerjaan bagi mereka yang sulit dalam usaha untuk mencari
pekerjaan yang baik.7
4. Follow-up
 Follow yang berkesinambungan wajib diperlukan. Tingkat kekambuhannya tinggi dan
pasien yang berada dalam keadaan manik seringkali tidak sadar untuk mencari pengobatan
bagi dirinya, jadi pengobatan serta perawatan yang tidak dilakukan secara bersamaan
sangat merugikan pada saat tertentu.
 Pada setiap follow up, gejala serta efek samping dari pengobatan dan kebutuhan akan
intervensi psikososial perlu dicantumkan.
 Pasien dengan gangguan manik sebaiknya melakukan evaluasi secara berkala. Evaluasi
harus lebih sering sampai episode manik berakhir.
 Kumpulkan informasi mengenai penyakit serta terapi dari pasien dan perawatnya,
khususnya yang tentang gejala dan tanda serta pengelolaan terapi secara bersamaan, saat
hilangnya gejala. Jika pasien tidak memiliki perawat yang merawatnya amak pemeriksaan
dilakukan secara berkala, diusahakan merekrut seorang perawat, idealnya yang berasal dari
lingkungannya dapat teman atau keluarganya.7
 Psikoterapi
Sedikit data yang menguatkan keunggulan salah satu pendekatan psikoterapi dibandingkan
yang lain dalam terapi gangguan mood masa anak-anak dan remaja. Tetapi, terapi keluarga
adalah diperlukan untuk mengajarkan keluarga tentang gangguan mood serius yang dapat terjadi
pada anak-anak saat terjadinya stress keluarga yang berat. Pendekatan psikoterapetik bagi anak
terdepresi adalah pendekatan kognitif dan pendekatan yang lebih terarah dan lebih terstruktur
dibandingkan yang biasanya digunakan pada orang dewasa. Karena fungsi psikososial anak yang
terdepresi mungkin tetap terganggu untuk periode yang lama, walaupun setelah episode depresif
telah menghilang, intervensi keterampilan sosial jangka panjang adalah diperlukan. Pada
beberapa program terapi, modeling dan permainan peran dapat membantu menegakkan

28
keterampilan memecahkan masalah yang baik. Psikoterapi adalah pilihan utama dalam
pengobatan depresi.
Beberapa jenis psikoterapi yaitu :7,8,9
a. Cognitive behavioral therapy (CBT) membantu penderita gangguan bipolar
untuk mengubah pola pikir dan perilaku negative.
b. Family-focused therapy melibatkan anggota keluarga. Terapi ini juga memfokuskan pada
komunikasi dan pemecahan masalah.
c. Interpersonal and social rhythm therapy membantu penderita gangguan
bipolar meningkatkan hubungan sosial dengan orang lain dan mengatur aktivitas harian
mereka.
d. Psychoeducation mengajarkan pada penderita gangguan bipolar mengenai penyakit yang
mereka derita beserta dengan penatalaksanaannya. Terapi ini membantu penderita
mengenali gejala awal dari episode baik manik maupun depresi sehingga mereka bisa
mendapatkan terapi sedini mungkin.

 Pendidikan dan Pencegahan
Pencegahan primer dapat dilakukan apabila diketahui bahwa dalam keluarga terdapat yang
mengalami gangguan ini, maka diharapkan pasien dan atau keluarganya melakukan antisipasi.
Pencegahan sekunder yaitu bila telah mengalami gangguan ini, diharapkan tetap berkonsultasi
dengan dokter yang merawat, mengikuti anjuran unruk mengkonsumsi obat sesuai anjuran.3,12

I. PROGNOSIS
Prognosis tergantung pada penggunaan obat-obatan dengan dosis yang tepat, pengetahuan
komprehensif mengenai penyakit ini dan efeknya, hubungan positif dengan dokter dan therapist,
kesehatan fisik. Semua faktor ini merujuk ke prognosis bagus. 4,11,12
Akan tetapi prognosis pasien gangguan bipolar I lebih buruk dibandingkan dengan pasien
dengan gangguan depresif berat. Kira-kira 40%-50% pasien gangguan bipolar I memiliki episode
manik Kedua dalam waktu dua tahun setelah episode pertama. Kira-kira 7% dari semua pasien
gangguan bipolar I tidak menderita gejala rekurensi, 45% menderita lebih dari satu episode, dan
40% menderita gangguan kronis. Pasien mungkin memiliki 2 sampai 30 episode manik,

29
walaupun angka rata-rata adalah Sembilan episode. Kira-kira 40% dari semua pasien menderita
lebih dari 10 episode. 4,13-16

KESIMPULAN
Gangguan bipolar (GB) merupakan gangguan jiwa yang bersifat episodik dan ditandai oleh
gejala-gejala manik, hipomanik, depresi, dan campuran, biasanya rekuren serta dapat
berlangsung seumur hidup. Penyebab gangguan bipolar multifaktor. Secara biologis dikaitkan
dengan faktor genetik dan gangguan neurotransmitter di otak. Secara psikososial dikaitkan
dengan pola asuh masa kanak-kanak, stress yang menyakitkan, stress kehidupan yang berat dan
berkepanjangan, dan banyak lagi faktor lainnya. Terdapat dua pola gejala dasar pada Gangguan
bipolar yaitu, episode depresi dan episode mania. Diagnosis ditegakkan berdasarkan kriteria
yang terdapat dalam DSM-IV dan PPDGJ III. Penatalaksanaan gangguan bipolar terdiri dari
farmakoterapi, intervensi psikososial dan psikoterapi. Prognosis tergantung pada penggunaan
obat-obatan dengan dosis yang tepat, pengetahuan komprehensif mengenai penyakit ini dan
efeknya, hubungan positif dengan dokter dan therapist serta kesehatan fisik.

Daftar Pustaka

1. Kaplan, Harold I, Benjamin J. Sadock dan Jack A. Grebb. Gangguan Delusional. Dalam:
synopsis psikiatri. Jilid satu. Jakarta: Binapura Aksara; 2010. hal. 474; 771 – 85.
2. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder Fourth Edition Text Revision. 2009.
Philadelphia : Lippincot Williams & Wilkins.
3. Rindi, Novi. Gangguan bipolar (Makalah Ilmiah). Medan: Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatra Utara; 2010.
4. Maslim, Rusli. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ III.
Jakarta : PT.Nuh Raya; 2001. hal. 52 – 3.
5. Amir, Nurmiati. Gangguan bipolar. Dalam: buku ajar psikiatri. Sylvia D.E, Gitayanti H.,
editor. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2010. hal. 172 – 3.
6. Mansjoer, Arif. Gangguan Psikotik. Dalam: kapita selekta kedokteran. Jakarta: Media
Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1999. hal. 199.
30
7. Chopra, Shivani dan Raheel A. Khan. Gangguan bipolar. 2011 Maret 10 (diakses 30 April
2018). Diunduh dari URL: http://emedicine.medscape.com/article/292991-
overview#aw2aab6b3.
8. Ulfandi, Devby. Gangguan bipolar (Makalah Ilmiah). Jakarta: Fakultas Kedokteran
Univeritas Trisakti.
9. Grover, Sandeep, Nitin Gupta dan Suhendra Kumar Matto. 2005. Delusional Disorder : An
Overview (diakses 30 April 2018). Diunduh dari URL: www.gjpsy.uni-goettingen.de.
10. Kesley, Jeffrey E, D Jeffrey Newport dan Charles B. Nemeroff. 2006. Prinsiples of
Psychopharmacology for Mental Health Professionals. Canada : Wiley-Liss Inc.
11. Maslim, Rusli. 2001. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ
III. Jakarta : PT.Nuh Raya
12. Mansjoer, Arif. Gangguan Psikotik. Dalam: kapita selekta kedokteran. Jakarta: Media
Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1999. hal. 199.

31