You are on page 1of 27

CRITICAL BOOK RIVIEW

MATA KULIAH FILSAFAT
PENDIDIKAN PTO-FT

Skor Nilai:

CRITICAL BOOK RIVIEW

NAMA MAHASISWA : ALVEN STAR HUTABARAT

NIM : 5183122024

DOSEN PENGAMPU : SILVIA MARIAH HANDAYANI S.Pd,.M.Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

NOVEMBER 2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkatNya
tugas critical book report filsafat pendidikan ini bisa saya selesaikan tepat waktu.

Pada kesempatan ini kami juga menyampaikan terimakasih kepada Dosen mata
kuliah filsafat pendidikan yang telah memberikan bimbingan dan saran-saran kepada
penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas critical book ini dengan baik. saya juga
bertermakasih kepada rekan-rekan mahasiswa yang lainnya telah memberiakan masukan
dan saran-saran sampai selesai penyusunan tugas ini.

Saya telah berupaya dengan semaksimal mungkin dalam menyelesaikan tugas ini.
Namun kami menyadari masih banyak kelemahan baik dari segi isi maupun tata bahasa,
untuk itu saya mengharapkan saran dan kritik yang bersifat yang membangun dari
pembaca demi sempurnanya tugas ini.

Kiranya tugas ini bermamfaat dan dapat menambah ilmu pengetahuan kita.Akhir
kata kami mengucapkan terimakasih.

Medan

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................ 2

DAFTAR ISI ............................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 4

1.1 Latar Belakang...................................................................... 4
1.2 Tujuan ............................................................................. 4
1.3 Manfaat ............................................................................. 5

BAB II RINGKASAN ISI BUKU

BAB III PEMBAHASAN

1.Komentar ................................................................................. 14

BAB IV PENUTUP ................................................................................ 16

1. Kesimpulan ............................................................................. 16
2. Saran ....................................................................................... 16
BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang diberikan kelebihan olehNya berupa akal
pikiran yang tidak dimiliki oleh makhluk ciptaanNya yang lainnya. Dan untuk mengolah
akal pikirnya diperlukan suatu pola pendidikan melalui suatu proses pembelajaran.

Pendidikan ini dialami oleh semua manusia dari semua golongan.Tetapi seringkali
orang melupakan makna dan hakikat pendidikan itu sendiri Masalah-masalah pendidikan
tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan, yang hanya terbatas pada pengalaman.
Dalam pendidikan akan muncul masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, dan lebih
kompleks, yang tidak terbatasi oleh pengalaman maupun fakta faktual, dan tidak
memungkinkan untuk dijangkau oleh ilmu.

TUJUAN

a. Untuk mengetahui filsafat- filsafat dalam ilmuan.
b. Untuk mengetahui seorang ilmuan yang mempunyai peran- peran dalam filsafat
kependidikan.
c. Untuk mengerti kenapa dikatakan bayi sebagai ilmuwan.

MANFAAT

a. Untuk menolong mendidik,
b. Untuk memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan
persoalan-persoalan dalam hidup sehari-hari.
c. Untuk memberikan pandangan yang luas
BAB II RINGKASAN ISI BUKU

BAB I

PENGERTIAN FILSAFAT DAN FILSAFAT PENDIDIKAN

B. Pengertian filsafat pendidikan
1. pengertian filsafat secara Etimolog

Kata filsafat yang dalam bahasa inggris philosophy, dan dalam bahasa arab
falsafash, yang keduanya berasal dari bahasa yunani yakni, philosophia. Yang terdiri atas
dua suku kata yakni philein dan Sophia.Philein berarti cinta (love) dan Sophia berarti
kebijaksanaan (wisdom).Dalam arti yang dalam adalah pecinta atau pencari kebijaksanaan.

2. pengertian terminology

Pengertian terminology adalah arti yang dikandung oleh istilah atau kata filsafat itu sendiri.
Berikut ini akan dikemukakan beberapa pengertian yang dikemukakan para ahli (surajiwo,
2008, 3-4)

a.Plato

filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli.

b.Aristoteles

filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya
ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi politik, dan estetika filsafat
keindahan.

Filsafat bertujuan untuk mencari hakikat dari suatu gejala atau fenomena secara
mandalam.Filsafat ingin menembus hingga inti masalah dengan mencari manakah factor-
faktor yang fundamental yang membentuk adanya sesuatu. Jadi fisafat ingin memandang
objeknya secara keseluruhan surajiwo,2008, 6-7.

b. ciri-ciri pikiran kefilsafatan

yaitu merupakan pemikiran tentang hal-hal serta proses-proses dalam hubungan yang
umum. Filsafat merupakan hasil menjadi sadarnya manusia mengenai dirinya sebagai
pemikir, dan menjadi kritisnya manusia terhadap diri sendiri sebagai pemikir di dalam
dunia yang di pikirkannya. Filsafat mencoba mengerti,menganalisa,menilai, dan
meyimpulkan semua persoalan-persoalan secara mendalam.

4. Alasan Berfilsafat

Ada tiga hal yang mendorong manusia untuk berrfilsafat yakni:

a. Keheranan
Misalnya Plato mengatan: mata kita memberi pengamatan tentang bintang-bintang.
Pengamatan ini memberi dorongan untuk menyelidiki.Dari penyelidikan inilah
berasal filsafat.
b. Kesangsian
Sikap ragu-ragu atau menyangsikan merupakan awal timbulnya dorongan untuk
menemukan agar keragu-raguan dan keasangsian dapat terjawab.
c. Kesadaran akan keterbatasan
Manusia mulai berfilsafat jika ia menyadari bahwa dirinya sangat kecildan lemah
terutama bila dibandingkan dengan alam sekelilingnya.

5. Peranan filafat

a. Pendobrak

Kehadiran filsafat telah mendobrak pintu dan tembok tradisi yang begitu sacral dan selama
itu tidak boleh tidak diterima. Namun telah membuahkan hasil yang mencengangkan,
yakni terjadi perubahan dalam pandangan dan sikap manusia tentang sesuatu.

b.Pembebas

filsafat membebaskan manusia dari belenggu cara berpikir yang mistis dan mite dan dari
ketidak tahuan dan kebodohannya. Filsafat membebaskan manusia dari cara berpikir yang
tidaak teratur dan tidak jernih, cara berpikir manusia yayng tidak kritis membuat manusia
mudah menerima berbagai kebenaran semua yang menyesatkan.

d, Pembimbing

Filsafat berperan sebagai pembimbing terhadap keluarnya manusia dari lingkungan yang
membelenggu manusia yang hendak mempersempit ruang gerak akal budinya.

C. pengertian filsafat Pendidikan
Filsafat pendidikan alam arti luas menurut mudyahardjo (2004, 5) dibedakan menjadi dua
macam yakni:

1. Filsafat praktek pendidikan yaitu analisis kritis dan komprehensif tentang
bagaimana seharusnya pendidikan diselenggarakan dalam kehidupan manusia.
2. Filsafat ilmu pendidikan yaitu analisis kritis dan komprihensif tentang
pendidikan dan konsep-konsep psikologi pendidikan yang berkaitan dengan
teori-teori belajar, pengukuran pendidikan, prosedur-prosedur sistematis tentang
penyusunan kurikulum, dan sebagainya yang akhirnya dapat menjadi teori
pendidikan.

Filsafat dilihat dari fuunngsinya secara praktis sebagai sarana bagi manusia untuk
memecahkan berbagai problema kehidupan yang dihadapinya, termasuk bidang
pendidikan.

BAB II

FILSAFAT PENDIDIKAN

A.FILSAFAT PENDIDIKAN SEBAGAI SISTEM

Filsafat ditandai dengan pemunculan atau lahirnya teori-teori atau system
pemikiran yang dihasilkan oleh para pemikir atau filsuf besar seperti Socrates, plato,
Aristoteles, Thomas Aquinas, Spinoza, Hegel, Karlmax, August Comte (Surajiyo, 2008, 5).
Filsafat pendidikan sebagai mana cabang filsafat lainnya mencakup sekurang-kurangnya
tiga cabang utama dari filsafat yakni, Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi. Ontologi
berasal dari kata Yunani “onta” yang berarti sesuatu yang sungguh-sungguh ada,
kenyataan yang sesungguhnya, dan “logos” yang berarti teori atau ilmu. Atas dasar
pengertian dari ontology tersebut , maka pandangan ontology dari pendidikan adalah
manusia, makhluk mulia, potensi, interaksi, budaya dan lingkungan. Epistemologi
menyelidiki secara kritis hakikat, landasan, batas-batas, dan patokan kesasihan
pengetahuan. Epistemologi pendidikan dimaksudkan mencari sumber-sumber
pengetahuandan kebenaran dalam praktek pelaksaaan pendidikan.Pengetahuan dan
kebenaran yang bersumber dari empirisme dapat diperoleh melalui praktek pelaksaaan
pendidikan yang sudah berlangsung selama ini.Landasan aksiologi dalam praktek
pelaksanaan pendidikan didasarkan pada nilai-nilai dasar yang terkandung dalam
pembukaan Undang-Undang Dasar 45 dan Undang-Undang Pendidikan.Praktek
pelaksanaan pendidikan harus berlandaskan nilai dan budaya, jangan mengarah pada
terbentuknya pengelompokan dalam praktek hidup dan kehidupan masyarakat.

Filsafat pendidikan terwujud dengan menarik garis linear antara filsafat dan
pendidikan.Dalam hal ini filsafat seolah-olah dijabarkan secara langsung kedalam
pendidikan dengan maksud untuk menghasilkan konsep pendidikan yang berasal dari satu
cabang atau aliran filsafat, misalnya dengan idealisme. Maka tujuan dari pendidikan itu
adalah mengutamakan perkembangan aspek-aspek spiritual dan kerohanian pada peserta
didik. Maka pendidikan adalah memberikan kebebasan kepada seseorang untuk
mengembangkan dirinya sendiri sesuai dengan potensi yang dimiliki.

B. SUBSTANSI FILSAFAT PENDIDIKAN

Kedudukan filsafat pendidikan dalam jajaran ilmu pendidikan adalah sebagai
bagian dari fundasi-fundasi pendidikan.Berarti bahwa filsafat pendidikan perlu
mengetengahkan tentang konsep-konsep dasar pendidikan. Pancasila dan Undang-Undang
Dasar 1945 dan undang-undang pendidikan merupakan dasar atau landasan terhadap
pelaksanaan pendidikan.Dengan berpijak pada pandangan tentang kedudukan filsafat dan
filsafat pendidikan Pancasila sebagai filsafat terbuka, maka sikap konvergensi atau
eklektik inkorparatif terhadap filsafat atau filsafat pendidikan yang berasal dari luar perlu
dikembangkan.

Roh dan jiwa Undang-Undang dasar 1945 harus mendasari landasan praksis dan praktik
pendidikan. Tujuan pendidikan semakin dipertegas dan diperjelas substansi dan arahnya
yakni menjadikan manusia cerdas, berbudi luhur, berakhlak mulia dan lainnya.Seharusnya
substansi filsafat pendidikan dan pendidikan adalah pengkajian dan pelaksanaan
bagaimana usaha yang dapat dilakukan untuk membina dan mengembangkan harkat dan
martabat manusia sebagai makhluk yang mulia agar hidup berbudi luhur dan berakhlak
mulia, serta cerdas. Dengan memperhatikan kedudukan filsafat pendidikan secara
fungsional terhadap keadaan atau perubahan serta perkembangan zaman dan alam, maka
tidak jarang filsafat pendidikan merupakan tumpuan atas berbagai pertanyaan yang
bersifat macro. Jadi dalam hal ini telah sepatutnya filsafat pendidikan, praksis pendidikan,
dan praktek pendidikan mengangkat topik tersebut sebagai substansi dan materi kajiannya.
C. HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN FILSAFAT PENDIDIKAN

Sudah merupakan pandangan atau pemahaman umum bahwa filsafat yang
dijadikan pandangan hidup oleh seseorang atau suatu masyarakat bahkan suatu bangsa
merupakan asas atau pedoman yang melandasi semua aspek hidup dan kehidupan orang
atau masyarakat tersebut ataupun bangsa itu sendiri, termasuk didalamnya bidang
pendidikan. Pendidikan sebagai suatu lembaga yang berfungsi menanamkan dan
mewariskan system-sistem norma tingkah laku perbuatan yang didasarkan pada dasar-
dasar filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan dan tenaga kependidikan (termasuk
guru didalamnya)dalam suatu masyarakat. Menurut John Dewey, filsafat merupakan teori
umum, sebagai landasan semua pemikiran umum mengenai pendidikan. Hasan
Langgulung (dalam Jalaluddin, 1997, 22) berpendapat bahwa filsafat pendidikan adalah
penerapan metode dan pandangan filsafat dalam bidang pengalaman manusia yang
disebutkan pendidikan.Filsafat dan filsafat pendidikan menjadi sangat penting, sebab
menjadi dasar, arah dan pedoman suatu sistem pendidikan. Filsafat pendidikan adalah
aktifitas pemikiran sebagai hasil pengkajian secara teratur dan mendalam yang menjadikan
filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan dan
mengharmoniskan dana menerangkan nilai-nilai dan tujuan yang akan dicapai.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hubungan fungsional antara filsafat
dan teori pendidikan adalah;

1. Filsafat dalam arti filosofis merupakan satu cara pendekatan yang dipakai dalam
memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori-teori pendidikan oleh
para ahli.
2. Filsafat berfungsi memberi arah bagi teori pendidikan yang telah ada menurut
aliran filsafat tertentu yang memiliki relevansi dengan kebutuhan yang nyata.
3. Filsafat dalam hal ini filsafat pendidikan, mempunyai fungsi untuk memberikan
petunjuk dan arah dalam mengembangkan teori-teori pendidikan menjadi ilmu
pendidikan (Jalaluddin, 1997, 23).

Filsafat pendidikan sudah seharusnya dipelajari dan didalami oleh setiap orang yang
memperdalam ilmu pendidikan, terlebih mereka yang memilih profesi sebagai tenaga
pendidik. Ada beberapa alasan yang mendasarinya, antara lain;
1. Adanya problema-problema pendidikan dari zaman ke zaman yang menjadi
perhatian para ahli masing-masing. Pendidikan adalah usaha manusia untuk
meningkatkan kesejahteraan lahir dan batin masyarakat dan bangsa.
2. Dapatlah diperkirakan bahwa bagi barang siapa yang mempelajari filsafat
pendidikan dapat mempunyai pandangan-pandangan yang jangkauannya
melampaui hal-hal yang diketemukan secara eksperimental dan empiric.
3. Dapat terpenuhi tuntutan intelektual dan akademik dengan landasan asas bahwa
berfilsafat adalah berpikir logis yang runtut teratur dan kritis, maka berfilsafat
pendidikan mempunyai kemampuan semacam itu. Oleh Karena itu diharapkan
dapat mempunyai pengaruh terhadap terbentuknya pribadi pendidik yang baik.

BAB III
ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN

Berikut ini akan di uraikan berbagai aliran filsafat pendidikan yang didasarkan pada
empat aliran pokok yakini; idealisme, realisme, materialisme dan pragmatisme .

1. Filsafat Pendidikan Idealisme

Idealisme berpendirian, bahwa kenyataan tersusun atas gagasan-gagasan (ideide)
atau spirit.Segala benda yang tampak berhubungan dengan kejiwaan dan segala
aktivitas adalah aktivitas kejiwaan.Dunia ini dipandang bukan hanya sebagai
mekanisme, tetapi dipandang sebagai sitim, dunia adalah keseluruhan (totalitas). Unsur
material tetap ada, tetapi hanya merupakan bagian yang saling bersangkut paut dengan
keseluruhan, segala penampakan serta materi hanya manifestasi dari pada aktivitas jiwa
.Jiwa mempunyai kedudukan yang utama dalam susunan keseluruhan.Segala fakta
empiris diakui adanya dan hal itu mengandung konsepsi yang serba mungkin.Tetapi
segala unsur dan materi dan fakta itu bukanlah sebagai realita yang sebenarnya.Karena
itu dunia ini bersifat anthropoligistis dan pada dasarnya selalu kebudayaan, bukan alam
(nature).Kebudayaan selalu berkembang dan perkembangn itu adalah ide.Dimana ide
itu bertujuan untuk mencari kenyataan tertinggi atau kenyataan terakhir, yaitu
kenyataan yang abadi.
Jiwa atau rohani yang disebut mind adalah hakekat manusia jiwa atau rohani
manusia merupakan suatu wujud yang mampu menyadari dunianya, dan sekaligus
sebagai pendorong dan penggerak semua aktivitas manusia; badan atau jasmani tanpa
jiwa atau rohani tidak ada apa-apanya,

Menurut paham idelaisme, guru harus membimbing atau mendiskusikan dengan
peserta didik bukan prinsip-prinsip eksternal, melainkan sebagi kemungkinan-
kemungkinan (bathin) yang perlu di kembangkan, juga harus di wujudkan sedapat
mungkin watak yang terbaik.Pendidikan bukan menjejalkan oengetahuan dari luar ke
dalam diri seseorang, melainkan memberi kesempatan untuk membangun atau
mengkonstruksi pengetahuan dan pengalaman dalam diri seseorang.

2. Filsafat Pendidikan Realisme

Realisme dalam berbagai bentuk menurut kattsof (1996:126) menarik garis
pemisah yang tajam antara yang mengetahui dan yang diketahui, dan pada umumnya
cenderung ke arah dualisme atau nonisme materialistik. Seorang pengikut materialisme
mengatakan bahwa jiwa dan materi sepenuhnya sama. Jika demikian halnya, sudah
tentu dapat juga sama-sama dikatakan “jiwa adalah materi” seperti halnya mengatakan
“materi adalah jiwa”.Tetapi apakah orang berusaha melacak roh sampai kepada materi
ataukah materi sampai kepada roh, tergantung pada manakah yang dianggap utama.
Jika orang mengatakan “jiwa adalah materi” dan karena materi tidak mungkin
mengandung maksud, maka juga tidak mungkin mengandung maksud.Dilain pihak jika
materi adalah jiwa, maka alam semesta dapat dipahamkan sebagai suatu yang
mengandung maksud atau dapat dikatakan bersifat “taleologis”.

Sistem kefilasafatan realisme percaya bahwa dengan sesuatu atau lain cara, dan hal-
hal yang adanya terdapat didalam dan tentang dirinya sendiri, dan yang hakekatnya
tidak perpengaruh oleh seseorang. Kebanyakan orang akan tegas-tegas mengadakan
pemilahan yang tajam antara tindakan akal yang menyadari suatu objek dan objeknya
itu sendiri, Defenisi kebenaran menurut penganut realisme adalah ukuran kebenaran
suatu gagasan mengenai barang sesuatu ialah menentukan apakah gagasan itu benar-
benar memberikan pengetahuan kepada kita mengenai barang sesuatu itu sendiri
ataukah tidak dengan mengadakan pembedaan antara apakah sesuatu itu yang
senyatanya dengan bagaimanakah tampaknya barang sesuatu itu. Kita akan mengetahui
apakah barang itu baik secara langsung maupun dengan jalan menyimpulkannya dari
yang menampak.

3. Filsafat Pendidikan Materialisme

Pada fokusnya aliran materialisme sebagaimana ditegaskan jalaludin dan Idi
(2002:53) mengutamakan benda dan segala berawal dari benda demikian juga nyata
hanya dunia materi. Segala kemyataan yang ada itu beradasarkan zat atau unsur dan
jiwa, roh, sukma (idea: idealisme) oleh aliran materialisme dianggap pula sejenis
materi, tetapi mempunyai sifat yang berbeda dibandingkan dengan sifat materi karena
jiwa, roh, sukma itu mempunyai naluri untuk bergerak dengan sendiri, sedangkan
mempunyai gerakan yang terbatas sehingga tidak bebas dan kaku.
Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani,
bukan spiritual, atau supranatural.Demokritos (460-360 SM), merupakan pelopor
pandangan materialisme klasik, yang disebut juga “atomisme”.Demokritos beserta para
pengikutnya beranggapan bahwa segala sesuatu terdiri dari bagian-bagian kecil yang
tidak dapat dibagi-bagi lagi (yang disebut atom-atom) atom-atom merupakan bagian
dari yang begitu kecil sehingga mata kita tidak dapat melihatnya.Atom-atom itu
bergerak, sehingga dengan demikian membentuk realitas pada panca indera kita.
Materialisme maupun positivisme, pada dasarnya tidak menyusun konsep
pendidikan secara eksplisit.Bahkan menurut Henderson (1959), materialisme belum
pernah menjadi penting dalam menentukan sumber teori pendidikan. Menurut Waini
Rasyidin (1992), filsafat positivisme sebagai cabang dari materialisme lebih cenderung
menganalisis hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi upaya dan hasil pendidikan
secara factual.
4. Filsafat Pendidikan Pragmatisme
Pragmatisme dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya
berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat
mengetahui apa yang manusia alami. Pendiri filsafat pragmatisme di Amerika
adalah Charles Sandre Peirce (1893-1914), Wiliam James (1842-1910), dan John
Dewey (1859-1952).
Realitas dan dunia yang kita amati, tidak bebas dari ide manusia dan
sekaligus juga tidak terikat kepadanya. Realitas merupakan interaksi antara
manusia denga lingkungannya. Manusia dan lingkungannya berdampingan, dan
memiliki tanggung jawab yang sama terhadap realitas.
Pragmatisme yakin bahwa akal manusia aktif dan selalu ingin meneliti,
tidak pasif dan tidak begitu saja menerima pandangan tertentu sebelum dibuktikan
kebenarannya secara empiris.Pikiran (rasio) tidak bertentangan dan tidak terpisah
dari dunia, melainkan merupakan bagian dari dunia.
Pragmatisme mengemukakan pandangannya tentang nilai, bahwa nilai itu
relatif.Kaidah-kaidah moral dan etik tidak tetap, melainkan selalu berubah, seperti
perubahan kebudayaan, masyarakat, dan lingkungannya. Pragmatisme
menyarankan untuk menguji kualitas nilai dengan cara yang sama seperti kita
menguji kebenaran pengetahuan dengan metode empiris.
Pragmatisme telah memberikan sumbangan besar terhadap teori pendidikan.
Menurut Dewey, terdapat dua teori pendidikan yang saling bertentangan antara satu
dengan yang lainnya. Kedua teori tersebut adalah paham konservatif dan ”unfolding
theory” (teori pemerkahan),

5. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
Filsafat eksistensialisme itu unik yakni memfokuskan pada pengalaman-
pengalaman individu. Filsafat-filsafat lain berhubungan dengan pengembangan
sistem pemikiran untuk mengidentifikasi dan memahami apa yang umum pada
semua realitas, keberadaan manusia dan nilai.
Eksistensialisme sangat menekankan individualitas dan pemenuhan diri
secara pribadi. Setiap individu dipandang sebagai makhluk yang unik, dan secara
unik pula ia bertanggung jawab terhadap nasibnya. Dalam hubungannya dengan
pendidikan, Sikun Pribadi (1971) mengemukakan bahwa eksistensialisme
berhubungan erat sekali dengan pendidikan, karena keduanya bersinggungan satu
dengan yang lainnya pada masalah-masalah yang sama, yaitu manusia, hidup,
hubungan antar manusia, hakikat kepribadian, dan kebebasan adalah kemerdekaan.
Pendidikan, Poses pembelajaran, harus berlangsung sesuai dengan minat
dan kebutuhan, peserta didik, tidak ada pemaksaan penguasaan pengetahuan, sikap
dan keterampilan, melainkan ditawarkan. Tuntunlah peserta didik agar dapat
menemukan dirinya dan kesadaran akan dunianya. Guru hendaknya memberikan
kebebasan kepada peserta didik untuk memilih dan memberi mereka pengalaman-
pengalaman yang akan membantu menemukan makna dari kehidupan mereka.
Manusia memiliki kesamaan hak dan kewajiban dalam keaneka ragaman oleh
karena latar belakang yang berbeda namun memiliki kedudukan yang sama dalam
tatanan kehidupan masyarakat sebagai anggota masyarakat dan warga negara.

6. Filsafat Pendidikan Progersivisme
Eksistensialisme sangat menekankan individualitas dan pemenuhan diri
secara pribadi. Setiap individu dipandang sebagai makhluk yang unik, dan secara
unik pula ia bertanggung jawab terhadap nasibnya. Dalam hubungannya dengan
pendidikan, Sikun Pribadi (1971) mengemukakan bahwa eksistensialisme
berhubungan erat sekali dengan pendidikan, karena keduanya bersinggungan satu
dengan yang lainnya pada masalah-masalah yang sama, yaitu manusia, hidup,
hubungan antar manusia, hakikat kepribadian, dan kebebasan adalah kemerdekaan.
Dalam praktek pelaksanaan pembelajaran hendaknya diberikan kesempatan
yang seluas-luasnya pada peserta didikuntuk menemukan pengalaman-pengalaman
yang tepat dalam belajar seperti; kunjungan lapangan, proyek kelompok kecil,
simulasi, bermain peran, eksplorasi internet, dan aktivitas lainnya yang
meimbulkan pengalaman yang berharga pada peserta didik yang dapat digunakan
pada masa yang akan dating.

7. Filsafat Pendidikan Perenialisme
Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada
abad ke dua puluh.Perennialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan
progresif.Perennialisme menentang pandangan Progresivisme yang menekankan
perubahan dan sesuatu-sesuatu yang baru.Perennialisme memandang situasi dunia
dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian dan ketidak teraturan, terutama dalam
kehidupan moral, intelektual, dan sosio cultural.Oleh karena itu, perlu ada usaha
untuk mengamankan ketidakberesan tersebut.
Perennilisme melihat bahwa akibat dari kehidupan jaman modern telah
menimbulkan banyak krisis diberbagai bidang kehidupan umat manusia.Untuk
mengatasi krisis ini Pernnialisme memberikan jalan keluar berupa kembali kepada
kebudayaan masa lampau, “regressive road to culture”. Oleh sebab itu
Perennialisme memandang penting peranan pendidikan dalam proses
mengembalikan keadaan manusia jaman modern ini kepada kebudayaan masa
lampau yang dianggap cukup ideal dan yang telah terpuji ketangguhannya.
Perennialisme dalam konteks pendidikan dibangun atas dasar suatu
keyakinan ontologisnya, bahwa batang tubuh pengetahuan yang berlangsung dalam
ruang dan waktu ini mestilah terbentuk melalui dasar-dasar pendidikan yang
diterima manusia dalam kesejarahannya. Robert M. Hutchins, salah seorang tokoh
perennialisme menyimpulkan bahwa tugas pokok pendidikan adalah pengajaran.
Pengajaran menunjukkan pengetahuan sedangkan pengetahuan itu sendiri adalah
kebenaran. Kebenaran pada setiap manusia adalah sama, oleh karena itu,
dimanapun dan kapanpun ia akan selalu sama.
Pola dasar pendidikan perennialisme hanya dibatasi pada prinsip-prinsip
umum dari teori dan praktek pendidikan yang dilaksanakan oleh penganut
Perennialisme.Bahkan harus diakui bahwa prinsip-prinsip pelaksanaan pendidikan
Perennialisme tidak selalu secara mutlak konsisten dengan asas-asas filosofis yang
menjadi dasar pandangannya.

8. Filsafat Pendidikan Esensialisme
Memandang bahwa nilai – nilai kependidikan harus bertumpu pada nilai
yang jelas dan tahan lama sehingga memberikan kesetabilan yang arahnya
jelas.Nilai – nilai humanisme yang dipegangi oleh essensialisme dijadikan tumpuan
hidup untuk menentang kehidupan yang materialistis, sekuler dan scientific yang
gersang dari nilai – nilai kemanusiaan.
Gerakan esensialisme muncul pada awal tahun 1930, dengan beberapa
orang pelopornya, seperti William C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed, dan
Isac L. Kandell.Pada tahun 1938 mereka membentuk suatu lembaga yang disebut
“The Esensialist Commite for the Advancement of American Education”. Bagley
sebagai pelopor esensialisme adalah seorang guru besar pada ”Teacher
College”, Columbia University. Ia yakin bahwa fungsi utama sekolah adalah
menyampaikan warisan budaya dan sejarah kepada generasi muda.
Gerakan back to basics yang dimulai pertengahan tahun 1970-an adalah
dorongan skala besar yang mutakhir untuk menerapkan program-program esensialis
di sekolah-sekolah dan tidak semua teori aliran ini berasal dari filsafat
esensialisme.Tujuan pendidikan aliran ini adalah untuk meneruskan warisan
budaya dan warisan sejarah melalui pengetahuan inti yang terakulmulasi dan telah
bertahan dalam kurun waktu yang lama, serta merupakan suatu kehidupan yang
telah teruji oleh waktu dan dikenal oleh semua orang.

9. Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan
progresivisme.Gerakan ini lahir didasari atas suatu tanggapan bahwa kaum
progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah
masyarakat yang ada pada saat sekarang ini. Rekonstruksionisme dipelopori oleh
George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat
baru, masyarakat yang pantas dan adil.
Dalam publikasinya “Dare the School Build a New Social Order”, George
mengemukakan bahwa sekolah akan betul-betul berperan apabila sekolah menjadi
pusat bangunan masyarakat baru secara keseluruhan, membasmi kemelaratan,
peperangan, dan kesukuan (rasialisme).
Aliran ini dalam satu prinsip sependapat dengan perenialisme, bahwa ada
satu kebutuhan yang amat mendesak untuk kejelasan dan kepastian bagi
kebudayaan zaman modern sekarang, yang sekarang mengalami ketakutan,
kebimbangan dan kebingungan
Aliran ini beranggapan bahwa usaha melakukan restorasi kehidupan
manusia perlu didukung oleh kesepakatan semua orang tentang tujuan utamanya,
yaitu untuk mengatur tata kehidupan umat manusia dalam pola tatanan yang baru.

BAB IV

FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA

Pandangan filsafat pancasila tentang manusia, masyarakat, pendidikan dan nilai

pancasila erupakan dasar dari pembentukan negara indonesia sebagaimana yang di
kemukakan oleh Bung Karno di dalam lahirnya pancasila. Pansaila sebagai ideologi
mempunyai otoritas untuk mengatur dan mengarahkan setiap kegiatan yang dilakukan baik
seara pribadi maupun kelompok.Fungsi pancasila dari suatu ideologi atau dogma yaitu
serangkaian nilai-nilai yang dijadikan pandangan oleh setiap warga negara untuk mengikat
seluruh anggotanya dalam satu organisasi negara Rpublik Indonesia.

1. Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Manusia

Pancasila sebagai dasar dan nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, bangsa
dan ngara Indonesia memandang bahwa manusia adalah makhluk tertinggi ciptaan Tuhan
Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia yang dianugrahi kemampuan atau potensi untuk
bertumbuh dan berkembang, baik ssebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat
atau sosial. Manusia sebagai individu membutuhkan manusia lainnya, yang berarti manusia
harus hidup saling membantu dalam keberagaman dan latar belakang yang berbeda- beda
dalam kehidupan berasam tidak mengenal adanya kelompok minorotas dan mayoritas
karena setiap individu manusia memiliki keungulan dan keterbatasan dlam hidup untuk
memenuhi kehidupan bersama menuju masyarakat adil, makmur aman-nyaman dan
sejahtera.

Selanjutnya Paulus Wahana (dalam Tilaar 2002: 191) menemukakan gambaran
manusia Pansaila sebagai berikut;

a) Sila pertama menunjukkan bahwa manusia perlu menyadari akan kedudukannya
sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dan oleh sebab itu harus mampu
menentukan sikapnya terhadap hubungannya dengan Penciptanya.
b) Sila kedua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab menuntut akan kesadaran
keluhuran harkat dan martabatnya yaitu dengan menghargai akan martabat sesama
manusia.
c) Sila persatuan indonesia berarti manusia indonesia adalah makhluk sosial yang
berada di dalam dunia Indonesia bersam-sam dengan manusia indonesia lainnya.
d) Sila keempat atau sila demokrasi dituntut manusia Indonesia yang saling
menghargai memiliki kebutuhan bersama didalam menjalankan dan
mengembangkan kehidupan.
e) Dala sila kelima manusia Indonesia dituntut saling memiliki kewajiban menghargai
orang lain dalam memanfaatkan sarana yang diperlukan bagi peningkatan taraf
kehidupan yang lebih baik.
2. Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Masyarakat

Didalam penjelasan hakekat masyarakat telah dijelaskan bahwa masyarakat-bangsa
dan negara indonesia menuju masyarakat madani yang aman, damai, sejahtera, terbuka
serta toleran, adil dan makmur. Berarti masyarakat indonesia berkembang dengan tetap
memperhatikan dan menghargai masing-masing budaya etnis yang ada di dalam
masyarakat mendaoatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk berkembang. Selanjutnya
Hamdi Muluk (dalam Tillar. 2002:76) mengemukakan program-program berikut ini

a. Didalam menyikapi dorongan etno-nasionalisme yang negatif maka di
hindarkan cara-cara pemecahan koerasif (militeristk), tetapi menggunakan
metode persuasive dan dialogis, serta mengikut sertakan masyarakat
setempat.
b. Pengakuan akan identitasa akan menyumbang kepada terwujudnya identitas
nasional bangsa Indonesia.
c. Menyadarkan kelompok-kelompok yang berkeinginan kepada separatisme
bahwa berpisah dengan negara dan bangsa indonesia akan merugikan.
d. Menghindari berbagai pelanggaran HAM dan menghormati hak asasi
manusia

3. Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Pendidikan

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional NO 20 Tahun 2003 dijelaskan
bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pngendalian diri, kepribadian kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Selanjutnya dalam UU Sisdiknas tahun 2003 BAB II Pasal 3 dijelaskan tujuan
pendidikan sebagai berikut; Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemempuan
dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi pesrta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jaawab.
4. Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Nilai

Menurut Kaelan, 2000, (dalam Surajiyo, 2008, 161) menjelaskan bahwa pancasila
merupakan satu kesatuan dari sila-silanya harus merupakan sumber nilai kerangka berpikir
serta asas moralitas bagi pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu,
sila-sila dalam pancasila menunjukkan sistem etika dalam pembangunan iptek, seperti
berikut ini;

a) Sila pertama menempatkan manusia dialam semesta bukan sebagai pusatnya,
melainkan sebagai bagian yang sistematik dari alam yang diolahnya.
b) Sila kedua menekankan bahwa pembangunan dan pelaksanaan pedidikan harus
menjaga keseimbangan antar daerah, keberadaan masyarakat dan warga negara.
c) Sila ketiga memberi kesadaran bagi bangsa indonesia bahwa rasa nasionalisme
merupakan modal dasar bagi persatuan dan kesatuan bangsa.
d) Sila keempat mendasari bahwa setiap warga negara memiliki kebebasan untuk
mengembangkan dirinya sesuai dengan potensinya, asing-masing warga negara
menghormati kebebasan berkarya demi kemajuan dan perkembangan bangsa yang
berdasarkan pancasila.
e) Sila kelima mengandung nilai bahwa manusia indonesia harus menjaga
keseimbangan keadilan dalam hubungannya dengan manusia lain.

PANDANGAN FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA TERHADAP SISTEM
PENDIDIKAN NASIOANAL

Pendidikan adalah sebagai suatu investasi bagi pengembangan sumber daya
manusia sebagai individu dan anggota masyarakat. Bangsa indonesia yang terdiri dari
berbagai etnis dan budaya yang berbeda merupakan modal atau aset nasional untuk
memajukan bangsa, akan tetapi dapat menjadi potensial sebagai sumber disentegrasi
bangsa apabila diabaikan pembentukan dan pengembangan sikap toleransi dan saling
mengasihi bagi setiap warga negara.

Hafid Abbas (2002) menyebutkan Sisdiknas belum dapat berfungsi untuk
mempersatukan manusia Indonesia. Agar dapat berfungsi seperti itu maka: (1) pendidikan
harus dikelola dengan prinsip keadilan; (2) pengelolaan pendidikan harus terbuka dalam
rangka mengakomodir partisipasi masyarakat banyak; (3) pengelolaan pendidikan harus
bersifat inklusif dan hindari jauh-jauh sifat ekslusif berlebihan.
Pendidikan sebaiknya dikelola dalam satu atap dibawah naungan Sisdiknas oleh
departement pendidikan nasional. Memang pendidikan adalah tanggung jawab bersama,
akan tetapi bukan berarti bahwa setiap badan atau lembaga melaksanakan pendidikan di
bidangnya sendiri-sendiri.

Mastuhu (1999: 94-98)vmenawarkan gagasan untuk mengantisipasi pendidikan abad 21,
yakni:

1. Pendidikan yang tidak deskriminatif, antar negri dan swasta.
2. Pendidikan dijadikan “panglima” pembangunan indonesia
3. Agar pendidikan diatur sepenuhnya dengan kewenangan akademik bukan
kewenangan kekuasaan apalagi sentralistik;
4. Pendidikan hendaknya menggunakan pendekatan yang beragam bukan yang serba
diseragamkan.
5. Pendidikan hendakanya berorientasi pada siswa bukan pada guru atau materi
pelajaran.
6. Pendidikan diubah untuk mengarahkan siswa “menjadi” bukan sekedar “memiliki”.

BAB V
HAKEKAT ILMU PENDIDIKAN
A. Hakekat Pendidikan
1. Pengertian Pendidikan
Pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok
Orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
2. Tujuan Pendidikan
Pertama, dengan merumuskan tujuan pendidikan dengan jelas.Kedua, keberhasilan
Pembelajaran ditentukan oleh pencapaian hasil sesuai dengan yang diharapkan.Ketiga,
penetapan metode pembelajaran.
3. Pilar Pendidikan
UNESCO mengemukakan bahwa pendidikan disokong oleh empat pilar pendidikan
Yakni ; Learning to Know, Learning to Do, Learning to Be, Learning to Live Together.
4. Aliran-Aliran Pendidikan
a. Nativisme
b. Naturalisme
c. Empirisme
d. Konvergensi
5. Lingkungan Pendidikan
a. Lingkungan Keluarga
b. Lingkungan Sekolah
c. Lingkungan Masyarakat

B. Pendidikan Karakter
1. Pengertian Karakter
Karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan
seseorang dari yang lain; tabiat; watak.
2. Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter ialah bagaimana menanamkan kebiasaan (habit) tentang hal-
hal yang baik dalam kehidupan .

C. Hakekat Manusia
1. Latar Belakang
Manusia adalah mahkluk ciptaan Tuhan sebagaimana juga mahkluk-makhluk yang
lain di muka bumi ini, dna setiap mahkluk memiliki ciri-ciri yang membedakan dengan
makhluk lain.
2. Beberapa Pandangan Tentang Manusia
a. Manusia itu adalah makhluk yang berpikir (Homo Sapiens)
b. Manusia adalah makhluk yang suka berbuat
c. Manusia juga disebut sebagai animal educandum
d. Manusia adalah makhluk yang suka berkawan
3. Eksistensi Manusia
a. Manusia sebagai makhluk individu
b. Manusia sebagai makhluk sosial
c. Manusia sebagai makhluk susila
d. Manusia sebagai makhluk religious
4. Pengembangan Dimensi-Dimensi Manusia Dalam Proses Pendidikan
a. Pengembangan diri sebagai makhluk individu
b. Pengembangan manusia sebagai makhluk sosial
c. Pengembangan manusia sebagai makhluk susila
d. Pengembangan manusia sebagai makhluk religius

D. Hakekat Masyarakat
Perubahan sosial yang terjadi pada kehidupan masyarakat sangat tergantung pada
perkembangan tatanan kehidupan masyarakat yang sudah semakin menyadari fungsi dan
peran masing-masing dalam kehidupan masyarakat.

E. Hakekat Peserta Didik
Sasaran aktivitas yang dilakukan adalah peserta didik; yang berarti bahwa peserta
didiklah yang menentukan bentuk dan arah kegiatan yang dilakukan.

F. Hekekat Guru atau Pendidik
Pendidik di lembaga pendidikan maupun di keluarga dan masyrakat tersebut
memperhatikan nilai dan norma-norma susila sehingga setiap perilaku dan tindakannya
memancarkan tindakan yang patut ditiru dan di contoh atau guru peserta didik yang dapat
membantu pertumbuhan dan perkembangan kepribadiannya.

G. Hakekat Pembelajaran
Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga
menimbulkan perubahan perilaku meliputi aspek pengetahuan (kognitif), sikap (afektif),
dan keterampilan (spikomotorik).

H. Landasan-Landasan Pendidikan
1. Landasan Agama
2. Landasan Filsafat
3. Landasan Sosiologi
4. Landasan Hukum
5. Landasan Moral
J. Asas-Asas Pendidikan
1. Asas Pendidikan Sepanjang Hayat (Long Life Education)
2. Asas Kasih Sayang
3. Asas Demokrasi
4. Asas Keterbukaan dan Transfaransi
5. Asas Tanggung Jawab
6. Asas Kualitas
7. Panca Darma Taman Siswa
8. Dasar-Dasar Pendidikan Mohammed Sjafei

BAB III PEMBAHASAN

KOMENTAR :

BAB I

Kelebihan

 Memiliki standar kompetensi dasar, kompetensi dasar serta indikator
 Tata bahasa yang mudah dipahami sehingga dapat memahami serta maksud dari isi
buku ini.
 Susunan kalimat dan paragraf yang rapi dan tidak berantakan serta meggunkan
huruf miring untuk istilah sehingga pembaca mudah membaca serta memahami isi
dalam buku.

Kelemahan

 Hanya menjelaskan arti saja
 Tidak terdapat kesimpulan atau rangkuman bab.
 Tidak terdapat latihan untuk mengevaluasi target pembelajaran
 Terlalu banyak pendapat dari ahli tertentu
 Artian tidak cukup satu
BAB II

Kelebihan

 Antara bab 1 dengan bab 2 memiliki keterkaitan yang erat.
 Menjelaskan semua materi dengan jelas.
 Memiliki standar kompetensi dasar, kompetensi dasar serta indikator
 Susunan jelas
 Bahasa yang digunakan jelas dan mudah dipahami

Kelemahan

 Pembahasannya terlalu panjang tapi tidak memperluas cakupan dalam materi yang
dibahas
 Bahasanya terkadang sulit untuk dipahami
 Hanya berisi artian saja tanpa ada ranngkuman bab atau kesimpulan bab.
 Tidak terdapat latihan untuk mengevaluasi target pembelajaran
 Terdapat seperti spidol hitam dalam kalimat didalam bab ini, sehingga
menghalangi pandangan dalam melihat kata yang dimaksud

BAB III

Kelebihan

 Menjelaskan semua materi dengan jelas.
 Memiliki standar kompetensi dasar, kompetensi dasar serta indikator
 Susunan jelas
 Bahasa yang digunakan jelas dan mudah dipahami

Kekurangan

 Pemberian materi- materi dalam bab ini dapat dikatakan sangat banyak dan
memiliki beragam- ragam sumber dari pembahasan bab ini mengakibatkan
pembaca menjadi kesusahan dalam pengambilan materi- materi inti dan bahasa
yang rumit untuk dipetik kesimpulan nya.
 Buku ini memiliki kata kata yang sukar dimengerti sehingga pembaca tidak
mengerti apa yang dijelaskan dalam pembahasan tersebut.
 Tidak terdapat kesimpulan atau rangkuman bab.
 Tidak terdapat latihan untuk mengevaluasi target pembelajaran

BAB IV

Kelebihan

 Menjelaskan semua materi dengan jelas.
 Memiliki standar kompetensi dasar, kompetensi dasar serta indikator
 Bahasa yang digunakan jelas dan mudah dipahami
 Penyampaian materi sangat bagus dalam hal pemberian teori- teori sangat rinci dan
detail
 Penggunaan tata bahasa dalam rangkuman bahasa inggris sangat jelas dan
memenuhi standart bahasa inggris oxdford.
 Memilliki latihan soal

Kekurangan

 Tidak terdapat rangkuman atau kesimpulan bab
 Terkadang susunan tidak jelas atau kurang rapi

BAB V

Kelebihan

 Menjelaskan semua materi dengan jelas.
 Memiliki standar kompetensi dasar, kompetensi dasar serta indikator
 Susunan jelas
 Adanya pemberian solusi dan keterangan-keterangan yang bersifat membangun
dari penulis untuk setiap promblema masalah- masalah dalam kehidupan kita
sehari- hari.
 Terdapat pencakupan materi-materi disamping dari judul bab yang ada kaitannya
dalam materi judul bab yang disampaikan dalam bab ini.

Kekurangan

 Materi yang cukup banyak
 Terdapat latihan bab
 Tidak terdapat rangkuman atau kesimpulan bab
BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN

Imu, pengetahuan, dan kognisi melibatkan Kesulitan endemik psikologi arus utama, dan
Piaget dan teori pembelajaran alam lainnya, serta yang disebut teori pikiran 'paradigma dan
psikologi evolusioner. kebingungan konseptual ini terkait dengan masalah yang lebih
mendasar dari komitmen antologis atau ideal agar psikologis penulis dan ahli psikologi
perkembangan, yang dalam hal mendasar adalah terakhir ini adalah yang paling
bermasalah. Cartesian ontologi sisanya jiwa pada dua asumsi utama. Yang pertama adalah
bahwa tubuh

A. SARAN

Semoga dengan pembuatan ctitical book inidapat bermanfaat dan dijadikan sebagai modal
dalam mempelajafi filsafat pendidikan.Jadikanlah filsafat sebagai penentuan terhadap
penentuan hidup dan pegangan fundamental dalam memecahkan masalah politik,
pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya yang terjadi dalam masyarakat yang setiap saat
berubah dan berkembang dalam konteks akselerasi dan modernisasi.