You are on page 1of 23

LAPORAN HASIL TUTORIAL

SKENARIO 1

NAMA ANGGOTA KELOMPOK:

1 Anak Agung Ayu Lie Lhianna M P H1A013001


2 Aditya Agung Pratama H1A013002
3 Ahia Zakira Rosmala H1A013003
4 Anabel Cahyadi H1A013006
5 Bayu Firdaus Siradz H1A013012
6 Fulqy Fatmala Saesal H1A013025
7 Lalu Ahmad Gamal Arigi H1A013033
8 Ni Komang Ayu Swanitri Wangiyana H1A013044
9 Putu Arthana Putra H1A013051
10 Qisthinadia Hazhiyah Setiadi H1A013053
11 Rosmeiti Emma Auliya H1A013057
12 Sri Rohmayana H1A013061

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA BAGIAN


MUATAN LOKAL KEDOKTERAN KEPULAUAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat
dan hidayah-Nya laporan tutorial skenario 1 ini dapat kami selesaikan dengan sebagaimana
mestinya.
Di dalam laporan ini kami memaparkan hasil kegiatan tutorial yang telah kami
laksanakan yakni berkaitan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi serta metode
pembelajaran berbasis pada masalah yang merupakan salah satu metode dalam Kurikulum
Berbasis Kompetensi.
Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan
dukungan serta bantuan hingga terselesaikannya laporan ini. Kami mohon maaf jika dalam
laporan ini terdapat banyak kekurangan dalam menganalisis semua aspek yang menyangkut
segala hal yang berhubungan dengan skenario serta Learning Objective yang kami cari. Oleh
karena itu kami mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun sehingga dapat
membantu kami untuk dapat lebih baik lagi kedepannya.

Mataram, 12 April 2018


Penyusun

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................................... 2


Daftar Isi .......................................................................................................................... 3
I. Pendahuluan
1.1 Keterangan Pelaksanaan Tutorial ......................................................................... 4
1.2 Skenario 1 ............................................................................................................. 5
1.3 Mind Map .............................................................................................................. 6
1.4 Learning Objective ............................................................................................... 7
II. Pembahasan
2.1 Fisiologi Penyelaman ............................................................................................ 8
2.2 Penyakit Akibat Menyelam………………………………………………........... 9
2.3 Tatalaksana Penyakit Akibat Menyelam ……………………………………… . 15
2.4 Analisis Skenario... ............................................................................................... 20
III. Penutup
Kesimpulan ........................................................................................................... 22
IV. Daftar Pustaka .......................................................................................................... 23

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 KETERANGAN PELAKSANAAN TUTORIAL


A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Tutorial 1 (Step 1-5)
Hari, tanggal : Senin, 9 April 2018
Waktu : 08.50 – 10.30 WITA
Tempat : Ruang Diskusi 7
Tutorial 2 (Step 7)
Hari, tanggal : Rabu, 11 April 2018
Waktu : 08.00 – 09.40 WITA
Tempat : Ruang Diskusi 7

B. Data Kelompok
Tutor : dr. Ida Ayu Eka Widiastuti, M.Fis
Ketua : Putu Arthana Putra (H1A013051)
Sekretaris : Ni Komang Ayu Swanitri W (H1A013044)
Scribber : Anabel Cahyadi (H1A013006)
Anggota : Anak Agung Ayu Lie Lhianna MP (H1A013001)
Aditya Agung Pratama (H1A013002)
Ahia Zakira Rosmala (H1A013003)
Bayu Firdaus Siradz (H1A013012)
Fulqy Fatmala Saesal (H1A013025)
Lalu Ahmad Gamal Arigi (H1A013033)
Qisthinadia Hazhiyah Setiadi (H1A013053)
Rosmeiti Emma Auliya (H1A013057)
Sri Rohmayana (H1A013061)

4
1.2 SKENARIO 1
Seorang laki-laki berusia 38 tahun dibawa oleh instruktur diver ke suatu klinik
swasta dokter praktek umum dengan keluhan kedua tungkai mendadak lemas, diikuti
berkurangnya sensasi raba dan rasa sejak 30 menit yang lalu. Selain itu terdapat pula
bercak-bercak merah kebiruan pada bagian dada dan paha pasien yang muncul tiga jam
sebelum datang ke IGD yang awalnya terasa gatal (lihat gambar). Pasien juga
mengeluhkan perut bagian bawah terasa nyeri dan pasien belum buang air kecil sejak
beberapa jam yang lalu. Pasien merupakan seorang wisatawan mancanegara yang
berkunjung ke Gili Terawangan untuk menyelam. Dua belas jam sebelumnya, pasien
melakukan scuba-diving pada kedalaman 55 kaki (16.7 m) selama 60 menit. Penyelaman
kedua dilakukan tujuh jam yang lalu pada kedalaman 50 kaki (15.24 m) selama 45 menit.
Pasien selesai menjalani briefing untuk penyelam rekreasional dan baru menyelam
pertama kali.

Bagaimana gejala-gejala tersebut dapat muncul setelah penyelaman? Bagaimana


penatalaksanaan awal dan penatalaksanaan lanjut pada kasus di atas?

5
1.3 MIND MAP

MENYELAM

Fisiologi Menyelam Penyakit Akibat Menyelam Tatalaksana

Hukum Hukum Barotrauma Arterial Gas Awal Lanjut


Boyle Henry Embolism

Terapi
Decompression Keracunan Hiperbarik
Sickness

6
1.4 Learning Objective
1. Apakah perbedaan antara decompression sickness dengan arterial gas embolism?
2. Bagaimana patofisiologi gejala dan tanda yang terjadi pada pasien di skenario?
3. Bagaimana prinsip tatalaksana awal pasien decompression sickness?
4. Bagaimana mekanisme terapi hiperbarik?
5. Apa indikasi dan kontraindikasi terapi hiperbarik?
6. Apa saja tipe terapi hiperbarik?

7
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 FISIOLOGI PENYELAMAN


Pada saat penyelaman tekanan atmosfer di permukaan laut dengan di dalam laut
berbeda. Tekanan atmosfer akan menurun pada ketinggian karena atmosfir diatasnya
berkurang, sehingga udara pun berkurang. Demikian sebaliknya tekanan akan meningkat
bila seorang menyelam di bawah permukaan air. Hal tersebut disebabkan perbedaan berat
dari atmosfir dan berat dari air di atas penyelam. Berdasarkan hukum pascal yang
menyatakan bahwa tekanan terdapat di permukaan cairan akan menyebar ke seluruh arah
secara merata dan tidak berkurang pada setiap tempat di bawah pemukaan laut. Tekanan
akan meningkat sebesar 760 mmHg (1 atmosfir) untuk setiap kedalaman 10 m (33 kaki).
Satuan-satuan dari jumlah tekanan adalah atmosfir absolut (ATA), sedangkan ukuran
tekanan (Gauge Pressure) menunjukkan tekanan yang terlihat pada alat pengukur dimana
terbaca 0 pada tingkat permukaan, karena tekanan tersebut selalu 1 atmosfer lebih rendah
daripada tekanan absolut.
Tabel 2.1 Ukuran tekanan pada berbagai kedalaman
Kedalaman (Depth) Tekanan Absolut (Gauge Pressure)
Dipermukaan 1 ATA 0 ATG
10 meter 2 ATA 1 ATG
20 meter 3 ATA 2 ATG
30 meter 4 ATA 3 ATG

Seorang penyelam yang menghirup napas penuh di permukaan akan merasakan


paru-parunya semakin lama semakin tertekan oleh air di sekelilingnya sewaktu penyelam
tersebut turun. Sebelum penyelaman, tekanan udara di dalam paru-paru seimbang dengan
tekanan udara atmosfer, yang rata-rata 760 mmHg atau 1 atmosfer pada permukaan laut.
Namun, pada saat menyelam udara mengalir ke dalam paru, tekanan udara di dalam paru
harus lebih rendah daripada tekanan udara atmosfer. Kondisi tersebut diperoleh dengan
membesarnya volume paru. Menurut hukum Boyle tekanan gas di dalam tempat tertutup
berbanding terbalik dengan besarnya volume. Bila ukuran tempat diperbesar, tekanan
udara di dalamnya turun. Bila ukuran diperkecil, tekanan udara di dalamnya naik. Hukum

8
Boyle berlaku terhadap semua gas-gas di dalam ruangan-ruangan tubuh sewaktu penyelam
masuk ke dalam air maupun sewaktu naik ke permukaan.
Di permukaan laut (1 ATA) dalam tubuh manusia terdapat kira-kira 1 liter larutan
nitrogen. Apabila seorang penyelam turun sampai kedalaman 10 meter (2 ATA) tekanan
parsial dari nitrogen yang dihirupnya menjadi 2 kali lipat dan akhirnya yang terlarut dalam
jaringan juga menjadi 2 kali lipat (2 liter). Waktu sampai terjadinya keseimbangan
tergantung pada daya larut gas di dalam jaringan dan pada kecepatan suplai gas ke dalam
jaringan oleh darah. Hal tersebut sesuai dengan hukum Henry yang menyatakan bahwa
pada suhu tertentu jumlah gas yang terlarut di dalam suatu cairan berbanding lurus dengan
tekanan partial dari gas tersebut di atas cairan. Pada kondisi di atas permukaan laut gas
nitrogen terdapat dalam udara pernapasan sebesar 79%. Nitrogen tidak mempengaruhi
fungsi tubuh karena sangat kecil yang larut dalam plasma darah, sebab rendahnya
koefisien kelarutan pada tekanan di atas permukaan laut. Tetapi bagi seorang penyelam
Scuba atau pekerja Caisson (pekerja pembangun saluran di bawah air) yang berada pada
kondisi udara pernapasan di bawah tekanan tinggi, jumlah nitrogen yang terlarut dalam
plasma darah dan cairan interstitial sangat besar. Hal tersebut mengakibatkan pusing atau
mabuk, yang disebut dengan gejala nitrogen narcosis.

2.2 PENYAKIT AKIBAT PENYELAMAN


Pekerjaan penyelaman selalu diincar bahaya baik sebagai akibat dari perubahan
tekanan, temperatur air, maupun terhadap kehidupan bawah air lainnya. Beberapa penyakit
akibat penyelaman dijelaskan di bawah ini.
A. Barotrauma
 Definisi
Barotrauma adalah kerusakan jaringan dan sekuelenya yang terjadi akibat
perbedaan antara tekanan udara (tekan barometrik) di dalam rongga udara fisiologis
dalam tubuh dengan tekanan di sekitarnya. Barotrauma paling sering terjadi pada
penerbangan dan penyelaman dengan scuba.
 Patofisiologi
Bumi diselubungi oleh udara yang disebut Atmosfer Bumi. Atmosfer itu
terbentang mulai dari permukaan Bumi sampai keketinggian 3000 km. Udara tersebut
mempunyai massa, dan berat lapisan udara ini akan menimbulkan suatu tekanan yang
disebut tekanan udara. Trauma akibat perubahan tekanan, secara umum dijelaskan

9
melalui Hukum Boyle. Hukum boyle menyatakan bahwa volume gas berbanding
terbalik dengan tekanan atau P1xV1 = P2xV2.
Ada bagian-bagian tubuh yang berbentuk seperti rongga, misalnya : cavum
tympani, sinus paranasalis, gigi yang rusak, traktus digestivus dan traktus
respiratorius. Pada penerbangan, sesuai dengan Hukum Boyle yang mengatakan
bahwa volume gas berbanding terbalik dengan tekanannya, maka pada saat tekanan
udara di sekitar tubuh menurun/meninggi, terjadi perbedaan tekanan udara antara di
rongga tubuh dengan di luar, sehingga terjadi penekanan terhadap mukosa dinding
rongga dengan segala akibatnya. Berdasarkan Hukum Boyle diatas dapat dijelaskan
bahwa suatu penurunan atau peningkatan pada tekanan lingkungan akan memperbesar
atau menekan suatu volume gas dalam ruang tertutup. Bila gas terdapat dalam struktur
yang lentur, maka struktur tersebut dapat rusak karena ekspansi ataupun kompresi.
Barotrauma dapat terjadi bilamana ruang-ruang berisi gas dalam tubuh (telinga
tengah, paru-paru) menjadi ruang tertutup dengan menjadi buntunya jaras-jaras
ventilasi normal.
Untuk Barotrauma yang terjadi pada tubuh, 5 kondisi di bawah ini harus
ditemukan:
- Harus ada udara
- Tempatnya harus dipisahkan oleh dinding yang keras
- Tempatnya harus tertutup
- Tempatnya harus memiliki pembuluh darah
- Terjadi perubahan tekanan dari lingkungan sekitar
Beberapa jenis barotrauma yang dapat terjadi seperti: barotrauma sinus,
barotrauma gigi, barotrauma paru, dan barotrauma usus.
 Manifestasi klinis
Gejala umum barotrauma adalah rasa sakit yang sering diikuti pendarahan
pada/ dari rongga udara yang mengalami barotrauma, dimana pendarahan yang terjadi
sering tidak disadari oleh penyelam. Rasa sakit pada telinga adalah indikator
(petunjuk) yang cukup sensitif untuk menunjukkan bahwa tubuh belum berhasil
melaksanakan adaptasi terhadap perubahan tekanan.

10
B. Penyakit Dekompresi/Decompression Sickness (DCS)
 Definisi
Penyakit dekompresi merupakan kondisi berbahaya dan mematikan yang
disebabkan oleh gelembung nitrogen yang terbentuk di dalam darah dan jaringan
tubuh seorang penyelam akibat naik ke permukaan terlalu cepat.
 Patofisiologi
Saat kita menyelam, akibat terjadinya peningkatan tekanan, maka udara yang
ktia hirup lebih banyak dari biasanya. Seperti kita ketahui bahwa udara yang kita
hirup saat menyelam adalah mayoritas Oksigen dan Nitrogen. Peningkatan oksigen
yang dihirup akan berdampak positif bagi metabolisme tubuh, namun gas nitrogen
tidak digunakan oleh tubuh kita. Maka akibatnya, gas Nitrogen akan terakumulasi
didalam tubuh penyelam proporsi dengan durasi menyelam dan kedalaman
penyelaman. Dengan kata lain, semakin dalam kita menyelam, semakin lama kita
menyelam, maka akumulasi nitrogen didalam tubuh penyelam akan semakin banyak.
Hukum Henry menyatakan bahwa kelarutan gas dalam cairan berbanding
lurus dengan tekanan yang didapat gas dan cairan tersebut. Ketika nitrogen di dalam
tangki udara penyelam larut ke jaringan lemak atau cairan sinovial di kedalaman laut,
nitrogen akan dilepaskan dari jaringan-jaringan tersebut seraya dengan naiknya
penyelam ke lingkungan dengan tekanan yang lebih rendah. Hal ini terjadi perlahan
dan bertahap bila penyelam juga naik dengan perlahan dan bertahap, lalu nitrogen
akan masuk ke sirkulasi menuju paru dan keluar saat ekspirasi. Namun bila penyelam
naik dengan cepat, nitrogen keluar dari jaringan dengan cepat juga lalu terbentuklah
gelembung-gelembung udara. Bila gelembung sudah terbentuk, mereka dapat
merusak jaringan dengan beberapa cara.
Gelembung udara dapat menyebabkan kerusakan melalui distorsi jaringan,
penyumbatan vaskular atau stimulasi mekanisme kekebalan yang menyebabkan
edema jaringan, hemokonsentrasi dan hipoksia. Penyakit dekompresi terjadi ketika
gelembung gas tersembunyi mengalir ke sirkulasi arteri, dikenal sebagai embolisme
gas arterial (AGE). Sistem saraf pusat sangat rentan terhadap jenis cedera ini.
Gelembung di sepanjang vaskular merusak endotelium vaskular akibat efek
ketegangan permukaan dengan menghilangkan lapisan surfaktan pelindung dan sel
endotel keseluruhan. Endotelium yang rusak merupakan stimulus kuat terjadinya

11
adhesi leukosit dan agregasi trombosit, dan membatasi aliran pada pembuluh darah
kecil.
 Manifestasi Klinis
Penyakit dekompresi dibagi menjadi 2 tipe. PDK tipe 1 dapat terjadi bila
gelembung udara terbentuk pada jaringan sekitar sendi kerangka tubuh. Gejala
biasanya berupa nyeri pada 1 atau beberapa sendi sisi unilateral. Tempat yang paling
sering terkena adalah lutus, siku dan bahu. Penyakit dekompresi juga dapat
bermanifestasi sebagai kelainan pada kulit. Gelembung nitrogen dapat menyebabkan
bintik-bintik benjolan maupun ruam. Gejala pada kulit menunjukkan adanya masalah
pada daerah lain. Tanda khusus pada kulit yang menggambarkan PDK serius adalah
kutis marmorata, dimana terdapat belang berwarna gelap yang dikelilingi area pucat
di sekelilingnya pada kulit, yang menandakan terbentuknya gelembung udara yang
cukup banyak di dalam tubuh. Jika dibiarkan tanpa penanganan, PDK tipe 1 dapat
menjadi tipe 2.
PDK tipe 2 menandakan terlibatnya sistem saraf pusat (SSP) dan/atau sistem
kardio-respirasi. Gejala serebral timbul karena adanya gangguan pasokan darah pada
bagian utama otak, diantaranya kebingungan, fungsi mental yang menurun dan
ketidaksadaran. Bila serebelum terkena akan muncul tremor, kehilangan
keseimbangan dan kurangnya fungsi koordinasi (ataksia). Keseimbangan juga dapat
terganggu bila terjadi cedera pada bagian vestibuler telinga dalam. PDK spinal
memiliki gejala nyeri punggung, parestese, paralisis dan hilangnya kontrol sfingter
perkemihan. Dekompresi type 2 ini gejalanya bisa lebih serius meliputi kelumpuhan,
kehilangan kesadaran (pingsan), mati rasa, bahkan kematian. Tanda dan gejala
biasanya muncul 15 menit–12 jam setelah penyelam naik ke permukaan, tetapi pada
kasus berat, gejala dapat timbul sebelum sampai ke permukaan atau segera
setelahnya.
C. Emboli Gas Arteri/Arterial Gas Embolism (AGE)
 Definisi dan Patofisiologi
Arterial Gas Emboli (AGE) adalah suatu keadaan yang terjadi ketika
gelembung gas udara masuk atau terbentuk di pembuluh darah arteri dan menyumbat
aliran darah sehingga menyebabkan iskemia organ. Selain itu AGE juga dapat
menyebabkan iskemia pada sistem saraf pusat sehingga dapat menyebabkan sesorang

12
kehilangan kesadaran. Emboli gas dapat masuk ke sirkulasi arteri dengan salah satu
cara berikut :
- Rupturnya alveoli setelah barotrauma pada paru
- Dari dalam sirkulasi arteri itu sendiri pada keadaan dekompression
sickness
- Melalui migrasi dari sirkulasi vena (emboli gas vena) baik melalui shunt
kanan ke kiri (paten foramen ovale, atrial septal defek)
 Gejala
Gejala biasanya muncul dalam beberapa menit (<10 menit) setalah muncul di
premukaan, dengan gejala neurologis seperti perubahan status mental, hemiparese,
defisit motorik fokal atau sensorik, kejang, kehilangan kesadaran, apneu dan syok,
kematian juga bisa mengikuti. Tanda-tanda barotrauma pulmonal atau decompression
sickness tipe II juga dapat ditemukan. Perbedaan antara AGE dengan DCS dapat
dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.2. Perbedaan antara AGE dengan DCS
Decompression Sickness (DCS) Arterial Gas Embolism (AGE)
Terjadi karena peningkatan tekanan Terjadi karena ekspansi udara paru yang
selama turun ke bawah laut, kemudian menyebabkan kerusakan paru karena
penurunan tekanan tiba-tiba saat naik ke naik ke permukaan secara cepat (Hukum
permukaan (Hukum Henry) Boyle)
Terjadi karena melewati batas limit Terjadi karena proses naik ke permukaan
dekompresi laut yang terlalu cepat
Dipengaruhi oleh kedalaman dan lama Tidak dipengaruhi oleh kedalaman dan
menyelam lama menyelam
Gejala muncul dalam 48 jam Gejala muncul dalam 10 menit
Predominan gejala spinal Predominan gejala serebral
Onset progresive Rapid onset
Gejala yang dapat muncul antara lain: Gejala yang dapat muncul antara lain:
 Nyeri kepala  Nyeri kepala
 Kelelahan  Hilang kesadaran
 Kelemahan ekstremitas, paralisis,  Kejang
parasthesia  Cardiac disritmia/ cardiac arrest
 Retensi urin, inkontinensia feses
 Nyeri sendi
 Vertigo

13
D. Keracunan
 Keracunan Oksigen
Kondisi yang sangat jarang terjadi dalam penyelaman, biasanya didahului dengan
nitrogen narcosis atau terjadi karena hiperventilasi dalam penyelaman. Gejalanya
biasanya perut mual atau muntah, kepala pusing halusinasi pandangan/pendengaran,
kebingungan, kejang-kejang halus otot-otot bibir dan wajah, hilangnya ingatan setelah
kejang.
Tabel 2.3. Gejala Toksisitas Oksigen

 Nitrogen Narcosis
Keracunan nitrogen dapat terjadi mulai kedalaman 30 meter atau lebih (PN2=3,2
ATA), dimana gejalanya seperti orang mabok alkohol akibat minum minuman keras.
Seterusnya setiap kedalaman bertambah 10 meter gejala keracunan akan bertambah
pula. Batas kadar PN2 yang menimbulkan Nitrogen Narcosis setiap penyelam sangat
bervariasi dan sangat tergantung pada kondisi fisik penyelam sebelum penyelaman
dimulai. Penurunan kedalaman yang cepat, kecemasan, konsumsi alkohol, konsumsi
obat sedatif, kelelahan, kurangnya pengalaman dalam menyelam dan kelebihan
karbon dioksida dapat mempermudah terjadinya keracunan N2.
Tabel 2.4 Gejala Nitrogen Narkosis

14
 Keracunan Karbondioksida (C02)
Bila udara segar yang masuk ke dalam kompresor (waktu mengisi tabung) tercemar
gas C02 dari mesin/pabrik maka akibatnya penyelam bisa keracunan. Gejalanya
diantaranya adalah sesak napas (napas pendek, cepat, dalam dan berat), letargi, koma ,
anestesia sampai kematian. Pada kadar PCO2 yang tinggi, kelebihan CO2 menekan
pernapasan daripada merangsangnya, sehingga menimbulkan lingkaran setan dan
dapat menyebabkan kematian

2.3 TATALAKSANA PENYAKIT AKIBAT MENYELAM


Pertolongan pertamanya dengan penilaian ABC, yaitu dengan menjaga patensi
jalan nafas (airways), penanganan bila terdapat gangguan pada pernafasan (breathing)
maupun sirkulasi (sirkulasi) berupa resusitasi jantung paru dan defibrilasi bila diperlukan,
serta pemberian oksigen 100% dengan masker tight fitting bila tersedia. Setelah pasien
stabil, segera rujuk penderita ke fasilitas terdekat untuk mendapatkan terapi definitif
penyakit ini, yaitu dengan pemberian oksigen hiperbarik (HBO therapy).
Tatalaksana Awal
- Selamatkan korban (airway, breathing, circulation)
- Berikan 100% Oksigen dengan masker sungkup atau pemberian oksigen 15 lpm
- Posisikan korban dengan posisi supine
- Berikan terapi rehidrasi dengan pemberian cairan ringer laktat intravena atau jika
tidak tersedia dan korban dalam kondisi sadar, berikan cairan melalui mulut.
- Ambil catatan dan catat vital sign korban setiap 15 menit, periksa kesadaran, dan
periksa deficit neurological
- Anamnesis penyelam (korban) dan pendamping untuk mendapatkan informasi
penyebab kondisi korban atau dengan membuat diver’s profile dalam 24 jam pertama
dan kumpulkan semua informasi medis korban
- kirim korban ke fasilitas medis yang memiliki chamber untuk rekompresi. Bila
transport yang digunakan harus melalui udara, maka penerbangan tidak boleh
dilakukan lebih dari 1000 kaki.
Tatalaksana Definitif
Terapi definitif penyakit ini, yaitu dengan pemberian oksigen hiperbarik (HBO
therapy). Kesulitan yang sering ditemukan dalam penanganan kasus ini antara lain
terbatasnya fasilitas kesehatan yang memiliki bilik oksigen hiperbarik, serta kurangnya
sosialisasi maupun aplikasi dive tabel 6 sebagai acuan untuk menyelam dengan aman di
15
pulau-pulau dengan mata pencaharian utama perikanan dan objek wisata menyelam.
Angka kesembuhan dari penyakit dekompresi tipe 2 bila ditangani dengan tepat, dapat
terlihat sampai 75% dari seluruh kasus, sisanya dapat menjadi gejala menetap sampai 3
bulan. Penurunan keberhasilan pengobatan dapat terjadi jika pengobatan definif tertunda
lebih dari 12 jam.
TERAPI HIPERBARIK
 Definisi
Terapi oksigen hiperbarik (TOHB) merupakan terapi medis dengan cara menghirup
oksigen 100% didalam suatu chamber yang diberikan tekanan di atas 1,4 ATA.
 Jenis Chamber
1. Monoplace/-lock :
- biasanya untuk terapi medis
- merupakan mobile chamber
- terdapat 1 ruangan, 2 seat
2. Multiplace/-lock :
- biasanya untuk terapi rekompresi
- merupakan fix chamber
- terdapat 2/lebih ruangan, 8-20 seat
 Mekanisme
Sebagian besar oksigen yang dibawa dalam darah terikat pada hemoglobin,
yaitu sekitar 97%, namun, beberapa oksigen dibawa dalam plasma, yang meningkat di
bawah kondisi hiperbarik karena hukum Henry. Pemberian 100% oksigen pada
tekanan normobarik meningkatkan jumlah oksigen yang terlarut dalam darah. Oleh
karena oksigen dalam plasma, ia dapat mencapai area dimana sel-sel darah merah
mungkin tidak dapat lewat dan juga dapat memberikan oksigenasi jaringan.
Terapi oksigen hiperbarik dengan indikasi rekompresi digunakan untuk
mengurangi ukuran gelembung, tidak hanya melalui tekanan, tetapi juga dengan
menggunakan gradien oksigen. Menurut hukum Boyle, volume gelembung menjadi
lebih kecil saat tekanan meningkat. Gelembung yang menyebabkan DCS diduga
terdiri dari nitrogen. Ketika tekanan atmosfer menurun, nitrogen merembes keluar
dari darah, jaringan, atau keduanya. Selama terapi hiperbarik, pasien menghirup 100%
oksigen, menciptakan darah kaya oksigen dan miskin nitrogen, yang menciptakan
perbedaan gradien nitrogen antara darah dan gelembung, sehingga nitrogen mengalir

16
dari gelembung ke dalam aliran darah, yang pada dasarnya membuat gelembung
menjadi lebih kecil.
Proses terapi hiperbarik dari awal sampai akhir menggunakan tabel terapi.
Tabel terapi yang saat ini direkomendasikan untuk tujuan terapi rekompresi adalah
tabel 5 dan 6 US Navy, sedangkan untuk terapi medis menggunakan tabel terapi
Kindwall.
TERAPI REKOMPRESI
Indikasi terapi tabel 5 antara lain:
- DCS tipe 1 (kecuali untuk cutis marmorata)
- Pemeriksaan neurologis tidak menunjukkan adanya kelainan lainnya. Setelah
tiba pada 60 feet pemeriksaan neurologis harus dilakukan untuk memastikan
tidak ada gejala neurologis (mis., kelemahan, mati rasa, kehilangan
koordinasi). Jika terdapat gejala neurologis maka harus diobati dengan
menggunakan Tabel Pengobatan 6.
- Follow up treatment untuk gejala sisa
- Keracunan karbon monoksida

Tabel 2.5. Tabel 5 US Navy

Tabel 5 merupakan tabel terapi rekompresi yang berlangsung 135 menit (2 jam
15 menit). Warna hijau merupakan tanda bahwa pasien menghisap masker
oksigen dengan oksigen 100% dengan flow 15 L/menit. Warna biru menunjukkan
tanda waktu istirahat, yaitu pasien menghirup udara atmosfer (udara dalam
chamber) dengan melepaskan masker oksigen.

17
Dalam terapi menggunakan tabel 5 terdapat tiga hal yang diterapkan, yaitu:
1. Gejala hanya terdiri dari nyeri sendi (assensment neurologis menunjukkan
hasil yang normal)
2. Onset gejala dalam waktu kurang dari 6 jam
3. Terdapat perbaikan gejala dalam waktu 10 menit saat mencapai kedalaman
rekompresi 60 fsw
Indikasi terapi tabel 6 diantaranya:
- Emboli gas arterial
- DCS tipe II
- DCS tipe I dimana jika dalam waktu 10 menit pada kedalaman 60 kaki tidak
terdapat perubahan gejala atau nyeri bertambah parah maka rekompresi
dengan tabel 6 harus bisa dilakukan
- Cutis marmorata
- Keracunan karbon monoksida berat, keracunan sianida, atau inhalasi asap
- Gejala kambuh pada kedalaman yang lebih dangkal yaitu kurang dari 60 fsw

Tabel 2.6. Tabel 6 US Navy

Tabel 6 merupakan tabel terapi rekompresi yang berlangsung 285 menit (4 jam
45menit). Warna hijau merupakan tanda bahwa pasien menghisap masker oksigen
dengan oksigen 100% dengan flow 15 L/menit. Warna biru menunjukkan tanda
waktu istirahat, yaitu pasien menghirup udara atmosfer (udara dalam chamber)
dengan melepaskan masker oksigen.

18
TERAPI KLINIS
Tabel 2.7. Tabel Klinis Kindwall

Terapi klinis digunakan pada semua indikasi medis selain indikasi rekompresi.
Tabel yang digunakan adalah tabel Kindwall atau modifikasinya. Terapi kindwall
berlangsung selama 2 jam 10 menit dengan kedalaman antara 14-18 meter (2,4-2,8
ATA) dan descent rate awal yang lambat sekitar 14 menit. Descent rate tidak perlu
secepat tabel rekompresi karena secara hipotesis tujuan utama tidak untuk
mengecilkan diameter bubbles.
 Indikasi dan Kontraindikasi Terapi Hiperbarik
Indikasi hiperbarik:
- Rekompresi:
o AGE
o DCS
- Medis:
o CO poisoning
o Gas gangrene
o Crush injury
o Anemia berat
o Abses intracranial
o Osteomyelitis
o Skin graft and flaps
o Thermal burn
o Necrotizing soft tissue infection
o Delayed radiation injury

19
o Idiophatic sudden sensorineural hearing loss
o Enhancement of healing
Kontraindikasi:
- Absolut : Pneumothorax
- Relatif :
o Sinusitis
o Caries padagigi
o Glaukoma
o Ibuhamil trimester I-II
o Hipermetroptinggi
o Skizofrenia
o Usia<3 bulan
o Chepalgiaberat
o Perforasi membrane timpani unilateral
o Claustrophobia
o Menstruasi
o Status epileptikus

2.4 ANALISIS SKENARIO


Patofisiologi Gejala pada Skenario
 Tungkai mendadak lemas, penurunan sensasi raba dan rasa, belum BAK
Gejala tersebut merupakan gejala spinal akibat akumulasi gelembung nitrogen.
Nitrogen larut dalam substansi lemak di membrane saraf, dan karena efek fisik
nitrogen dalam merubah aliran ion yang melewati membra, akan menurunkan
rangsangan saraf. Mekanisme lain yang mungkin menyebabkan timbulnya gejala
spinal adalah gelembung nitrogen yang terakumulasi di selubung myelin akan
menyebabkan edema vasogenik dan iskemia lokal sehingga menimbulkan neuropathy.
 Perut bagian bawah terasa nyeri
Salah satu dampak yang disebabkan karena proses naik ke permukaan laut terlalu
cepat saat menyelam adalah barotrauma, salah satunya adalah gastrointestinal
barotrauma. Hal ini terjadi karena ekspansi udara di usus halus dan kolon ketika
terjadi penurunan tekanan saat penyelam naik ke permukaan terlalu cepat. Sehingga
terjadi distensi di organ gastrointestinal yang menyebabkan timbulnya rasa nyeri

20
perut. Selain itu nyeri perut juga dapat disebabkan oleh retensi urin dan inkontinensia
feses akibat gangguan pada sistem saraf akibat akumulasi gelembung nitrogen di
dalam tubuh.
 Cutis marmorata
Terdapat beberapa mekanisme yang diduga mendasari terjadinya cutis marmorata
pada penyakit dekompresi tipe II, antara lain supersaturasi jaringan lemak subkutan
karena nitrogen paling larut dalam jaringan lemak dibandingkan jaringan lain, emboli
karena amplifikasi gelembung nitrogen di kapiler kutaneus sehingga menyebabkan
obstruksi aliran darah, dan adanya emboli gelembung nitrogen di batang otak yang
mengganggu kontrol otonom terhadap vasodilatasi dan vasokonstriksi pembuluh
darah.

21
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Penyakit akibat menyelam sering disebabkan oleh kelalaian penyelam dan
seringkali hal ini kurang disadari oleh banyak penyelam. Beberapa penyakit tersebut
diantaranya adalah barotrauma, emboli gas arteri, penyakit dekompresi dan keracunan.
Terapi definitif untuk penyakit ini adalah dengan terapi hiperbarik. Meskipun angka
kejadian penyakit akibat menyelam jarang, tingkat keparahan kasus yang mungkin terjadi
membuatnya banyak diteliti dalam usaha menemukan cara untuk mencegahnya. Penyelam
sebaiknya menggunakan tabel selam atau komputer selam untuk menentukan batas
paparan mereka terhadap tekanan dan kecepatan mereka naik ke permukaan dengan aman
untuk menghindari penyakit tersebut, serta diharapkan kepada semua penyelam hendaknya
mematuhi aturan-aturan yang sudah ditentukan sesuai prosedur penyelaman.

22
DAFTAR PUSTAKA

Bennelt M. How to treat decompression illness. Australian Rural Doctor; 2006. Available at:
https://powcs.med.unsw.edu.au/sites/default/files/powcs/group/2006DivingMedicine.
pdf
Bove et all, 2017. Arterial Gas Embolism (Air Embolism). Lewis Katz School of Medicine
Temple University. MSD and the MSD Manuals: USA. Available
at: https://www.msdmanuals.com/professional/injuries-poisoning/injury-during-
diving-or-work-in-compressed-air/arterial-gas-embolism
Emi Latham, 2016. Hyperbaric Oxygen Therapy [online]. Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/1464149
Guyton A.C. & J.E. Hall, 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta: EGC.
Lynch, JH., Bove, AB. 2009. Diving medicine: A review of current evidence. Journal of
American Board of Family Medicine, 22 (4) ,pp. 399 – 407
Marx JA. 2014. Rosen’s Emergency Medicine Concept and Clinical Practice. Philadelphia:
Elseveir.
National Oceanic and Atmospheric Administration. 2010. Diving physiology. Available at:
http://www.ehs.ucsb.edu/files/docs/ds/physio.pdf
Pulley, SA. 2016. Decompression sickness. [online]. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/769717-overview. Accessed 30 July 2016
Spira, A. 1999. Diving and Marine Medicine Review Part II: Diving Disease. Journal of
Travel Medicine, 6(3), pp.180-198.
Türkmen N, et al. Scuba diver deaths due to air embolism: two case reports. Soud Lek 2013;
58(2): 26–28. Available at: http://www.cspatologie.cz/docs/558-s-fulltext.pdf
UHMS. Indications for Hyperbaric Oxygen Therapy. Available at:
http://membership.uhms.org/?page=indications
U.S. Navy Diving Manual., 2016. USA. Available
at: http://www.navsea.navy.mil/LinkClick.aspx?fileticket=FvvZRd7DaAw%3D&tabi
d=20538&portalid=103&mid=48858

23