You are on page 1of 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Batuan Beku

Batuan beku adalah batuan yang terjadi dari pembekuan larutan silikat cair
liat, pijar, bersifat mudah bergerak yang kita kenal dengan nama magma.
Penggolongan batuan beku dapat di dasarkan kepada 3 patokan utama, yaitu
berdasarkan genetik batuan, berdasarkan senyawa kimia yang terkandung dan
berdasarkan susunan mineraloginya.

1.1.1 Batuan Beku Ekstrusi

Batuan beku sebagai hasil pembekuan magma yang keluar di atas
permukaan bumi baik di darat maupun di bawah muka air laut. Pada saat mengalir
di permukaan masa tersebut membeku relatif cepat dengan melepaskan
kandungan gasnya. Oleh karena itu sering memperlihatkan struktur aliran dan
banyak lubang gasnya (vesikuler).

1.1.2 Batuan Beku Intrusi

Batuan hasil pembekuan magma di bawah permukaan bumi. Ukuran
mineralnya kasar. > 1 mm atau 5 mm.

Gambar 1. Bentuk tubuh batuan beku ekstrusi dan Intrusi
1.2 PENGERTIAN MAGMA

Magma adalah cairan atau larutan silikat pijar yang terbentuk secara
alamiah bersifat mobile, bersuhu antara 900o – 1200o C atau lebih dan berasal dari
kerak bumi bagian bawah atau selubung bumi bagian atas ( F.F. Grouts, 1947 ;
Turner and Verhogen 1960, H. Williams, 1962)

Komposisi kimiawi magma dari contoh – contoh batuan beku terdiri dari :

a. Senyawa-senyawa yang bersifat non volatile dan merupakan senyawa oksida
dalam magma. Jumlahnya sekitar 99% dari seluruh isi magma, sehingga
merupakan mayor element, terdiri dari SiO2, Al2O3, Fe2O3, FeO, MnO,
CaO, Na2O, K2O, TiO2, P2O5.
b. Senyawa volatil yang banyak pengaruhnya terhadap magma, terdiri dari
fraksi-fraksi gas CH4, CO2, HCl, H2S, SO2 dsb.
c. Unsur-unsur lain yang disebut unsur jejak (trace element) dan merupakan
minor element seperti Rb, Ba, Sr, Ni, Li, Cr, S dan Pb.

Dally 1933, Winkler (Vide W. T. Huang 1962) berpendapat lain yaitu
magma asli (primer) adalah bersifat basa yang selanjutnya akan mengalami proses
diferensiasi menjadi magma yang bersifat lain.

Bunsen (1951, W. T. Huang, 1962) mempunyai pandapat bahwa ada dua
jenis magma primer, yaitu basaltis dan granitis dan batuan beku merupakan hasil
campuran dari dua magma ini yang kemudian mempunyai komposisi lain.

1.3 Reaksi Bowen Seri Dari Mineral Utama Pembentuk Batuan Beku

Seri Reaksi Bowen merupakan suatu skema yang menunjukan urutan
kristalisasi dari mineral pembentuk batuan beku yang terdiri dari dua bagian.
Mineral – mineral tersebut dapat di golongkan dalam dua golongan besar yaitu :

1. Golongan mineral berwarna gelap atau Mafik mineral.
2. Golongan mineral berwarna terang atau Felsik mineral.
Dalam proses pendinginan magma dimana magma itu tidak langsung
semuanya membeku, tetapi mengalami penurunan temperatur secara perlahan
bahkan mungkin cepat. Penurunan tempratur ini disertai mulainya pembentukan
dan pengendapan mineral – mineral tertentu yang sesuai dengan tempraturnya.
Pembentukan mineral dalam magma karena penurunan tempratur telah disusun
oleh Bowen.

Sebelah kiri mewakili mineral – mineral mafik, yang pertama kali terbentuk
dalam temperatur sangat tinggi adalah Olivin. Akan tetapi jika magma tersebut
jenh oleh SiO2 maka Piroksen lah yang terbentuk pertama kali. Olivin dan
Piroksen merupakan pasangan “ Incongruent Melting “ , dimana setelah
pembentukannya Olivin akan bereaksi dengan larutan sisa membentuk Piroksen.
Temperatur menurun terus dan pembentukan mineral berjalan sesuai dengan
temperaturnya. Mineral yang terakhir terbentuk adalah Biotit, ia dibentuk dalam
temperatur yang rendah.

Mineral disebelah kanan diwakili oleh mineral kelompok Plagioklas, karena
mineral ini paling banyak terdapat dan tersebar luas. Anorthite adalah mineral
yang pertama kali terbentuk pada suhu yang tinggi dan banyak terdapat pada
batuan beku basa seperti Gabro atau Basalt. Andesin terbentuk pada suhu
menengah dan terdapat pada batuan beku Diorit atau Andesit. Sedangkan mineral
yang terbentuk pada suhu rendah adalah albit. Mineral ini banyak tersebar pada
batuan asam seperti granit atau Riolit. Reaksi berubahnya komposisi plagioklas
ini merupakan deret : “Solid Solution” yang merupakan reaksi kontinu, artinya
kristalisasi plagioklas Ca – Plagioklas Na, jika reaksi setimbang akan berjalan
menerus. Dalam hal ini Anorthite adalah jenis plagioklas yang kaya Ca, sering
disebut juga “Calcic Plagioklas” sedangkan Albit adalah plagioklas kaya Na
(“Sodic Plagioklas/Alkali Plagioklas”).

Mineral sebelah kanan dan sebelah kiri bertemu pada mineral potasium
feldspar ke mineral Muscovite dan yang Terakhir mineral kwarsa, maka mineral
kwarsa merupakan mineral yang paling stabil diantara seluruh mineral felsik atau
mineral mafik, dan sebaliknya mineral yang terbentuk pertama kali adalah mineral
yang sangat tidak stabil dan mudah sekali terubah menjadi mineral lain.

Gambar 3. Skema yang menunjukan Seri Reaksi Bowen

1.4 Komposisi Mineral

Menurut Walker T. Huang, 1962, komposisi mineral dikelompokan menjadi
tiga kelompok mineral yaitu :

A. Mineral Utama

Mineral – mineral ini terbentuk langsung dari kristalisasi magma dan
kehadirannya sangat menentukan dalam penamaan batuan.

1. Mineral Felsic ( mineral berwarna terang dengan densitas rata – rata 2,5 – 2,7
), yaitu :
 Kwarsa (SiO2)
 Kelompok Feldspar, terdiri dari seri feldspar alkali (K, Na) AlSi3O8. Seri
feldspar alkali terdiri dari sanidin, anortoklas, ortoklas, adularia dan
mikroklin. Seri plagioklas terdiri dari albit, oligoklas, andesin, labradorit,
biwtonit dan anortit.
 Kelompok Feldspatoid (Na, K Alumina silika), terdiri dari nefelin, sodalit,
leusit.
2. Mineral Mafik (mineral – mineral feromagnesia dengan warna gelap dan
densitas rata – rata 3.0 – 3.6), yaitu :
 Kelompok Olivin, terdiri dari Fayalite dan Forsiterite.
 Kelompok Piroksen, terdiri dari Enstantite, Hipersenten, Augit, Pigoenit,
Diopsid.
 Kelompok Mika, terdiri dari Biotit, Muscovit, Plogopit.
 Kelompok Amfhibole, terdiri dari Anthofilit, Cumingtonit, Hornblende,
Rieberkit, Tremolit, Aktinolite, Glaukofan, dll.
B. Mineral Sekunder

Merupakan mineral –mineral ubahan dari mineral utama, dapat dari hasil
pelapukan, hidrotermal maupun metamorfisma terhadap mineral – mineral
utama. Dengan demikian mineral – mineral ini tidak ada hubungannya dengan
pembekuan magma (non pirogenetik).

Mineral sekunder terdiri dari :

 Kelompok Kalsit (kalsit, dolomit, magnesit, siderit), dapat terbentuk dari
hasil ubahan mineral plagioklas.
 Kelompok Serpentin (antigorit dan krisotil), umumnya terbentuk dari
hasil ubahan mineral mafik (terutama kelompok olivin dan piroksen).
 Kelompok Klorit (proktor, penin, talk), umumnya terbentuk dari hasil
ubahan mineral kelompok plagioklas.
 Kelompok Serisit sebagai ubahan mineral plagioklas.
 Kelompok Kaolin (kaolin, hallosyte), umumnya ditemukan sebagai hasil
pelapukan batuan beku.
C. Mineral Tambahan (Accesory Mineral)

Merupakan mineral – mineral yang terbentuk pada kristalisasi magma,
umumnya dalam jumlah sedikit. Termasuk dalam golongan ini antara lain :

 Hematit, kromit, muscovit, rutile, magnetit, zeolit, apatit dan lain – lain
1.5 Struktur Batuan Beku
Struktur batuan beku adalah bentuk batuan beku dalam skala yang besar,
seperti lava bantal yang terbentuk di lingkungan air(laut), seperti lava bongkah,
struktur aliran dan lain – lainnya. Suatu bentuk struktur batuan sangat erat sekali
dengan waktu terbentuknya. Macam – macam struktur batuan beku adalah :

a. Masif, apabila tidak menunjukan adanya fragmen batuan lain yang tertanam
dalam tubuhnya.
b. Pillow Lava atau Lava Bantal, merupakan struktur yang dinyatakan pada
batuan ekstrusi tertentu, yang dicirikan oleh masa berbentuk bantal dimana
ukuran dari bentuk ini adalah umumnya 30 – 60 cm dan jaraknya berdekatan,
khas pada vulkanik bawah laut.
c. Joint, struktur yang ditandai oleh kekar –kekar yang tertanam secara tegak
lurus arah aliran. Struktur ini dapat berkembang menjadi Columnar Jointing.
d. Vesikuler, merupakan struktur batuan beku ekstrusi yang di tandai dengan
lubang – lubang sebagai akibat pelepasan gas selama pendinginan.
e. Skoria, adalah struktur batuan yang sangat vesikuler (banyak lubang gasnya)
f. Amigdaliodal, struktur dimana lubang – lubang keluar gas terisi oleh mineral
– mineral sekunder seperti zeolit, karbonat dan bermacam silika.
g. Xenolith, struktur yang memperlihatkan adanya suatu fragmen batuan yang
masuk atau tertanam kedalam batuan beku. Struktur ini terbentuk sebagai
akibat peleburan tidak sempurna dari suatu batuan samping didalam magma
yang menerobos.
h. Autobreccia, struktur pada lava yang memperlihatkan fragmen – fragmen dari
lava itu sendiri.

1.6 Tekstur Batuan Beku
Tekstur dalam batuan beku merupakan hubungan antar mineral atau mineral
dengan masa gelas yang membentuk masa yang merata pada batuan. Selama
pembentukan tekstur dipengaruhi oleh kecepatan dan stadia kristalisasi. Yang
kedua tergantung pada suhu, komposisi kandungan gas, kekentalan magma dan
tekanan. Dengan demikian tekstur tersebut merupakan fungsi dari sejarah
pembentukan batuan beku. Dalam hal ini tekstur tersebut menunjukan derajat
kristalisasi (degree of crystallinity), ukuran butir (grain size), granularitas dan
kemas (fabric), (Williams, 1982).

A. Derajat Kristalisasi
Derajat kristalisasi merupakan keadaan proporsi antara masa kristal dan masa
gelas dalam batuan. Dikenal ada tiga kelas derajat kristalisasi, yaitu:
a. Holokristalin : apabila batuan tersusun seluruhnya oleh massa kristal.
b. Hipokristalin : apabila batuan tersusun oleh massa kristal dan gelas.
c. Holohyalin : apabila batuan seluruhnya tersusun oleh massa gelas

B. Granularitas
Granularitas merupakan ukuran butir kristal dalam batuan beku, dapat sangat
halus yang tidak dapat dikenal meskipun menggunakan mikroskop, tetapi dapat
pula sangat kasar. Umumnya dikenal dua kelompok ukuran butir, yaitu afanitik
dan fanerik.

a. Afanitik
Dikatakan afanitik apabila ukuran butir individu kristal sangat halus, sehingga
tidak dapat dibedakan dengan mata telanjang. Batuan dengan tekstur afanitik
dapat tersusun atas ,massa kristal, massa gelas, atau keduanya. Selain itu
dikenal pula istilah mikrokristalin dan kriptokristalin. Disebut mikrokristalin
apabila kristal individu dapat dikenal dengan mikroskop, sedangkan apabila
tidak dapat dikenal dengan menggunakan mikroskop disebut kriptokristalin.
b. Fanerik
Kristal individu yang termasuk kristal fanerik dapat dibedakan menjadi ukuran
– ukuran :
 Halus, ukuran diameter rata – rata kristal individu < 1 mm
 Sedang, ukuran diameter kristal 1 mm – 5 mm.
 Kasar, ukuran diameter kristal 5 mm – 30 mm
 Sangat Kasar, ukuran diameter kristal > 30 mm.

C. Kemas
Kemas meliputi bentuk butir dan susunan hubungan kristal dalam suatu
batuan.

a. Bentuk Kristal
Ditinjau dari pandangan dua dimensi, dikenal tiga macam :
 Euhedral, apabila bentuk kristal dari butiran mineral mempunyai bidang
kristal yang sempurna.
 Subhedral, apabila bentuk kristal dari butiran mineral dibatasi oleh sebagian
bidang kristal yang sempurna.
 Anhedral, apabila bentuk kristal dari butiran mineral dibatasi oleh sebagian
bidang kristal yang tidak sempurna.
b. Relasi

Merupakan hubungan antar kristal satu dengan yang lain dalam suatu batuan
dari ukuran dikenal :

1. Granularitas atau Equigranular, apabila mineral mempunyai ukuran butir
yang relatif seragam.
2. Inequigranular, apabila mineralnya mempunyai ukuran butir dari kristal-
kristal tidak sama.

1.7 Klasifikasi Batuan Beku

1.7.1 Klasifikasi berdasarkan kimiawi
Klasifikasi ini telah lama menjadi standar dalam geologi (C.J Hughes, 1962),
dan dibagi dalam empat golongan, yaitu :
a. Batuan beku asam, bila batuan beku tersebut mengandung lebih 66% SiO2.
Contoh batuan ini Granit dan Rhyolit.
b. Batuan beku menengah atau Intermediet, bila batuan tersebut mengandung
52% - 66% SiO2. Contoh batuan ini adalah diorit dan andesit.
c. Batuan beku basa, bila batuan tersebut mengandung 45% - 52% SiO2. Contoh
batuan ini adalah Gabro dan Basalt.
d. Batuan beku Ultra Basa, bila batuan beku tersebut mengandung kurang dari
45% SiO2. Contoh batuan tersebut adalah Peridotit dan Dunit.