You are on page 1of 42

1.

Mengetahui dan Menjelaskan Anatomi Sistem Reproduksi Wanita


1.1 Makroskopis Sistem Reproduksi Wanita
Genitalia Eksterna
Genitalia Eksterna Wanita memiliki 3 fungsi utama :
 Jalan masuk sperma kedalam tubuh
 Melindungi organ genitalia interna dari mikroorganisme
 Seksual

Gambar1. Organ reproduksi eksternal pada wanita.

Pudenda sering disebut sebagai vulva dan meliputi semua struktur yang terlihat diantara
pubis sampai perineum.
Mons Pubis ( mons veneris ) terdiri dari jaringan lemak yang berada pada dinding depan
abdomen diatas simfisis pubis.

Labium Majus
 Berbentuk lonjong dan menonjol, berasal dari mons veneris dan berjalan ke bawah dan
belakang
 Labia majora sinistra dan dextra bersatu di sebelah belakang dan merupakan batas depan
dari perineum, disebut : commisura posterior (frenulum)
 Terdiri dari 2 permukaan :
 Bagian luar, menyerupai kulit biasa dan ditumbuhi rambut
 Bagian dalam menyerupai selaput lendir dan mengandung banyak kelenjar
sebacea
 Homolog dengan scrotum laki - laki

Labium Minus. Berupa dua buah lipatan kulit yang berjalan dari klitoris dan menyatu
dibagian posterior untuk membentuk frenulum labia minora atau fourchette.

Klitoris. Berada di ujung anterior labia minor. Terdiri dari 2 buah corpus cavernosum yang
merupakan jaringan erektil di dalam selaput tipis jaringan ikat dan sebagian diantaranya
menyatu sepanjang tepi medial untuk membentuk korpus klitoris. Analog dengan penis laki-
laki.
Vestibulum vaginae. Berupa cekungan memanjang antara labia minor dan orifisium
vaginae. Lokasi klitoris berada dibagian ujung anterior vestibulum yang berbentuk segitiga.
Pada orang dewasa memiliki 6 buah lubang yaitu :
 Urethra
 Vagina
 2 buah saluran kelenjar Bartholine
 2 buah saluran kelenjar paraurethral (Skene)

Meatus urethra eksternus. Terletak 2 – 2.5 cm dibagian posterior basis klitoris. Pada kedua
sisi MUE terdapat 2 pasang saluran kelenjar paraurethralis (Skene’s) yang mempunyai arti
klinis dalam infeksi Gonococcus atau infeksi non-spesifik lain.

Bulbus vestibuli. Struktur jaringan erektil yang berada dikedua sisi orofisium vaginae yang
menempel dengan permukaan inferior diafragma urogenitalis dan tertutup oleh muskulus
Bulbocavernosus (sfingter vaginae).
Bulbus vestibuli berukuran panjang 3 – 4 cm dan diameter 1 – 2 cm. Mudah cedera saat
persalinan dan menyebabkan hematoma vulva atau perdarahan eksternal.

Glandula Bartholine. Sepasang kelenjar yang terletak pada kedua sisi orifisium vaginae.
Berupa masa bulat dengan ukuran bervariasi antara 0.5 – 1 cm. Masing-masing kelenjar
memiliki saluran sepanjang 2 cm dengan orifisum yang terletak diantara labia minor dan
orifisium vagina. Fungsinya adalah menghasilkan sekret pada saat libido meningkat. Mudah
mengalami infeksi dengan kuman Gonococcus. Struktur ini identik dengan glandula
Bulbourethral (Cowper’s) pada laki-laki.

Orifisium Vaginae. Terletak postero-inferior dari Meatus Urethrae Eksternus dengan bentuk
dan lebar yang derajatnya sesuai dengan virginitas – usia dan paritas.

Himen. Lipatan selaput membran tipis yang melingkari orifisium vagina. Terdapat berbagai
jenis lubang hymen: annular – cribiformis – septum – imperforatus.
Berupa lapisan yang tipis dan menutupi sebagian besar dari introitus vaginae. Biasanya
hymen berlubang sebesar ujung jari hingga getah dari genitalia interna dan darah haid dapat
mengalir ke luar. Bila hymen tertutup sama sekali disebut hymen occlusivum. Setelah partus,
hanya tinggal sisa – sisa kecil pada pinggir introitus dan disebut: carunculae myrtiformis.

Vagina. Saluran musculo-membrane yang terbentang dari vestibulum sampai uterus.


Berjalan kearah postero-superior dan membentuk sudut tajam dengan servik uteri sehingga
dinding posterior vagina akan lebih panjang (sekitar 1.5 – 3 cm) dibandingkan dengan
dinding anterior (6 – 7.5 cm).
Penonjolan servik kedalam vagina akan membentuk Cavum Douglassi dan membagi puncak
vagina menjadi fornix anterior - posterior dan lateralis.
• Ke dalam puncak vagina menonjol ujung dari cerviks.
• Bagian dari cerviks yang menonjol ke dalam vagina di sebut portio
• Oleh portio ini, puncak vagina dibagi dalam 4 bagian ialah : fornix anterior, fornix
posterior, dan fornix lateral kanan dan kiri

Di bagian anterior, vagina berbatasan dengan trigonum vesicalis ; dan di bagian posterior
dengan rektum.
Dibagian posterior, ¼ bagian distal vagina terpisah dari saluran anus dengan corpus
perinealis ; 2/4 bagian tengah vagina berhimpitan dengan ampula recti ; ¼ bagian proksimal
vagina dibelakang fornix posterior tertutup dengan peritoneum membentuk Cavum
Douglassi.
Lendir yang membasahi vagina berasal dari servik yang menjadi asam akibat fermentasi
glikogen epitel oleh bakteri vagina.
Sel – sel dari lapisan atas epithel vagina mengandung glycogen. Glycogen ini menghasilkan
asam susu oleh karena adanya bacil – bacil Doderlein hingga vagina mempunyai reaksi asam
dengan pH = 4,5 dan ini memberi proteksi terhadap invasi kuman – kuman.
• Pada dinding vagina terdapat lipatan – lipatan yang berjalan circulair dan disebut :
rugae, terutama pada bagian bawah vagina
• Setelah melahirkan, sebagian dari pada rugae akan menghilang

Vagina terdiri dari lapisan epitel pipih bertatah, otot dan jaringan ikat dibagian luar.
Fungsi vagina : organ copulasi, saluran keluar (darah haid), dan sebagai jalan lahir.

Gambar 5. Komponen superfisial perineum


Gambar 6. Komponen profunda perineum

Perineum.
Perineum dibentuk oleh sejumlah struktur seperti terlihat pada gambar 5 dan 6. Sebagian
besar fungsi penyangga perineum merupakan tugas dari diafragma pelvik dan diafragma
urogenitalis
Diafragma pelvik terdiri dari :
 mm. Levator Ani
 m. Coccygeus (dibagian posterior)
Diafragma urogenitalis terletak diluar diafragma pelvis dan meliputi daerah segitiga
antara tuberischiadica dan simfisis pubis. Diafragma urogenitalis terdiri dari :
 m. Tranversus perinealis profunda
 m. Constrictor urethrae
 fascia penutup bagian superfisial dan profunda.

Gambar 5 dan 6 memperlihatkan adanya kedekatan lokasi antara sfingter ani eksterna
dengan comissura posterior.

Pasokan darah pada perineum terutama berasal dari arteri Pudenda Interna dan
percabangannya antara lain a.rectalis inferior dan a.labialis posterior.
Inervasi perineum terutama melalui n.Pudendus dan percabangannya. N.Pudendus
berasal dari S 2-3-4

Genitalia Interna

UTERUS
Organ muskuler yang tebal, memiliki rongga dan berada di antara vesika urinaria disebelah
anterior dan rektum disebelah posterior. Panjang uterus 7.5 cm dan lebar 4 – 5 cm dengan
berat sekitar 60 gram.
Bagian uterus diatas isthmus disebut corpus uteri dan bagian dibawah isthmus disebut servik.
Bagian dari corpus uteri antara kedua pangkal tuba disebut fundus uteri (dasar rahim) Pinggir
kanan / kiri tidak tertutup oleh peritoneum karena berbatasan dengan parametrium kanan /
kiri.
Dalam keadaan normal posisi uterus adalah antefleksi – anteversi.
Servik uteri dibagi menjadi 2 bagian: pars vaginalis dan pars supravaginalis ; dibagian
dalam servik terdapat kanalis servikalis.
Corpus uteri. Merupakan bagian terbesar uterus ; dibagian anterior menempel pada
vesika urinaria dan dibagian posterior menempel pada intestinum ; dibagian lateral
menempel pada berbagai struktur yang berada didalam ligamentum latum ( tuba falopii –
ligamentum rotundum – ligamentum ovarii proprium – vasa uterina dan ureter).

Arteria uterina menyilang ureter sebelum berjalan di dinding lateral uterus. Titik
persilangan tersebut kira-kira 1.5 cm dari fornix lateralis. Cavum uteri berbentuk segitiga
dengan kubah yang berada pada bidang setinggi kedua ostium tuba falopii dan apex
bagian bawah setinggi ostium uteri internum. Dinding uterus terdiri dari 3 lapisan:
 Serosa ( peritoneum visceralis)
 Miometrium
 Endometrium
Selama kehamilan, serabut otot tersebut tidak bertambah banyak namun mengalami
hipertrofi.
Endometrium adalah lapisan berongga yang lunak yang mengandung sejumlah kelenjar
dan dilapisi dengan “ciliated collumnar epithelium” ; bentuk kelenjar dan stroma
bervariasi sesuai dengan siklus haid ; ketebalan pasca menstruasi dini ± 1 – 2 mm dan
menjelang menstruasi ± 4 – 7 mm.

Letak Uterus :
1. Ante dan retrofleksi uteri
Sumbu servix dan sumbu corpus uteri membentuk sudut. Jika sudut ini membuka ke
depan, disebut anteflexio, jika membuka ke belakang disebut retroflexio.
2. Ante dan retroversio uteri
Sumbu vagina dan sumbu uterus membentuk sudut. Jika sudut ini membuka ke depan,
disebut anteversio, jika membuka ke belakang disebut retroversio.
3. Positio
Uterus biasanya tidak terletak tepat pada sumbu panggul, bisa lebih ke kiri, lebih ke
kanan, lebih ke depan, lebih ke belakang, disebut sinistro, dextro, antero, dorso positio.
4. Torsio
Letak uterus biasanya agak terputar. Pembuluh darah uterus: A. uterine dan a. ovarica

LIGAMENTUM dan PENYANGGA UTERUS


LIGAMENTUM SACROUTERINA
Sepasang ligamentum yang melengkung terbentang dari permukaan postero-lateral servik
menuju permukaan anterior sacrum dan membentuk “short hammock”

Aspectus posterior uterus dan adneksa. Terlihat ligamentum sacro uterina dan
Ligamentum infundibulo pelvicum

LIGAMENTUM LATUM
Sepasang ligamen berjalan dari sisi lateral uterus menuju dinding lateral panggul yang
menyerupai sayap. 2/3 medial tepi atas ligamentum latum membentuk meso salphynx ;
1/3 lateral tepi atas ligamentum latum yang berasal dari ujung fimbriae tuba falopii
berjalan kearah dinding pelvic membentuk ligamentum infundibulo-pelvicum.
Dasar ligamentum latum berupa jaringan ikat keras dan menyatu dengan dasar panggul
disebut sebagai ligamentum Cardinale (Mackenrodt ).

Aspectus posterior dari struktur penyangga uterus dan adneksa


1. Ligamentum latum
Berupa lipatan peritoneum sebelah lateral Ka. Ki. Dari pada uterus, meluas sampai ke
dinding panggul dan dasar panggul, sehingga seolah – olah menggantung pada tubae.
Ruangan antara kedua lembar dari lipatan ini terisi oleh jaringan yang longgar, disebut :
parametrium, dimana berjalan arteria, vena uterina, pembuluh lympha dan ureter.
2. Ligamentum rotundum
Terdapat di bagian atas lateral dari uterus, caudal dari insertie tuba, kedua ligament ini
melalui canalis inguinalis ke bagian cranial lab. Majus. Terdiri dari jaringan otot polos
(identik dengan myometrium) dan jaringan ikat dan menahan uterus dalam antefleksi.
Pada waktu kehamilan mengalami hypertrophie dan dapat diraba dengan pemeriksaan
luar.

3. Ligamentum infundibulo pelvicum


2 buah kiri kanan dari infundibulum dan ovarium ke dinding panggul. Ligamentum ini
menggantungkan uterus pada dinding panggul. Antara sudut tuba dan ovarium terdapat
ligamentum ovarii proprium.

4. Ligamentum cardinale
Kiri kanan dari cervix setinggi ostium uteri
internum ke dinding panggul. Menghalangi
pergerakan ke kiri atau ke kanan.

5. Ligamentum sacro uterinum


Kiri kanan dari cervix sebelah belakang ke
sacrum mengelilingi rectum.

6. Ligamentum vesico uterinum


Dari uterus ke kandung kencing.

VASKULARISASI UTERUS
Pasokan darah uterus terutama berasal dari arteri uterina dan arteri ovarica.
Arteria Uterina
Adalah cabang utama arteria Iliaca Interna (arteria Hypogastrica) yang masuk uterus
melalui ligamentum latum. Pada tempat setinggi servik pars supravaginalis, arteria
Uterina terbagi menjadi dua, sebagian kecil menjadi arteria servicovaginalis kearah
bawah, dan sebagian besar berjalan kearah atas melalui dinding lateral uterus.
Kira-kira 2 cm lateral servik, arteria uterina menyilang ureter dan hal ini perlu
memperoleh perhatian saat melakukan histerektomi atau ligasi arteri uterina.

Arteria Uterina dan arteri lain yang berhubungan ( catatan : pada ganbar ini arteria
ovarica sudah di transeksi pada titik keluarnya dari ligamentum suspensorium ovarii )

Arteria Ovarica
Cabang langsung dari Aorta yang memasuki ligamentum latum melalui ligamentum
infundibulopelvicum. Didaerah hillus ovarii, arteria ovarica terbagi menjadi sejumlah
cabang kecil yang masuk ovarium. Cabang utama arteria ovarica selanjutnya berjalan
sepanjang mesosalphynx.

Pasokan darah pada ovarium , tuba falopiii dan sisi kiri uterus. Terdapat anastomosis
pembuluh arteri uterina dan ovarica . Perhatikan adanya arteri dan vena uterina yang
menyilang ureter didekat servik
TUBA FALOPII. Dua buah saluran muskuler yang terbentang dari sudut superior uterus
kearah lateral dengan panjang masing-masing sekitar 8 – 14 cm. Saluran ini
menghubungan cavum uteri dengan cavum peritoneale.

Tuba dapat dibagi menjadi 4 bagian :


- Pars interstitialis (intramuralis) : bagian tuba yang berjalan dalam dinding uterus,
mulai pada ostium internum tubae.
- Pars isthmica : bagian tuba setelah keluar dari dinding uterus, merupakan bagian tuba
yang lurus dan sempit
- Pars ampullaris : bagian tuba antara pars isthmica dan infundibulum merupakan bagian
tuba yang paling lebar dan berbentuk S.
- Infundibulum : ujung dari tuba dengan umbai – umbai yang disebut fimbriae, lubangnya
disebut ostium abdominale tubae.

Penampang melintang Tuba falopii pada wanita dewasa


c = isthmus uteri b = ampulla a = fimbriae
Dinding Tuba Falopii terdiri dari 3 lapisan :
Lapisan serosa
Lapisan muskularis
Lapisan mucosa
Mukosa tuba dilapisi selapis sel kolumnar yang sebagian memiliki bulu-getar (silia) dan
sebagian lain memiliki kelenjar.

OVARIUM. Ovarium (indung telur) adalah sepasang organ berbentuk seperti buah
almond yang berada disamping uterus didekat dinding lateral pelvis dan berada pada
lapisan posterior ligamentum latum, postero-caudal tuba falopii.
Panjang kira-kira 2.5 – 5.0 cm dengan lebar kira-kira 1.5 – 3.0 cm.
Masing-masing memiliki permukaan medial dan lateral

Masing-masing ovarium memiliki tepi anterior (mesovarium) dan tepi posterior yang
bebas.
- Permukaan medial yang menghadap ke arah cavum douglasi dan permukaan lateral
- Ujung atas yang berdekatan dengan tuba dan ujung bawah yang lebih dekat dengan
uterus (extremitas tubaria dan extremitas uterina)
- Pinggir yang menghadap ke muka (margo mesovaricus) melekat pada lembar belakang
lig. Latum dengan perantaraan mesovarium dan pinggir yang menghadap ke belakang
(margo liber).
Ovarium ini letaknya pada dinding lateral panggul dalam sebuah lekuk yang disebut fossa
ovarica Waldeyeri.

Ligamentum penyangga ovarium adalah :


 ligamentum suspensorium ovarii ( ligamentum infundibulo-pelvicum ) dan
 ligamentum Ovarii Proprium.

Pembuluh darah ovarium terutama berasal dari arteri ovarica yang merupakan cabang
aorta abdominalis dan selanjutnya dialirkan keluar ovarium melalui vena ovarica.
Ovarium terbungkus oleh tunica albuginea yang mirip dengan yang dijumpai pada testis.
Bagian luar ovarium disebut cortex yang memiliki gameet dan dibagian dalam disebut
medula yang mengandung banyak pembuluh darah besar serta syaraf.
Cortex ovarium relatif avaskular dan dijumpai sejumlah folikel ovarium kecil. Masing-
masing folikel mengandung ovum immature (oosit) yang terbungkus dengan satu atau
beberapa lapisan sel.
Bila oosit hanya dilapisi oleh satu lapisan sel, sel tersebut dinamakan sel folikel, bila
dilapisi oleh beberapa lapisan sel-sel tersebut dinamakan sel granulosa.

Dibagian cortex terdapat sejumlah folikel dengan berbagai derajat maturasi.


 Pada folikel primordial, oosit dilapisi oleh satu lapisan sel pipih (sguamoues epithelium).
 Folikel primer memiliki dua atau lebih lapisan sel granulosa kubis yang mengitari oosit.
 Folikel sekunder mengandung ruang-ruang berisi cairan diantara sel granulosa.
Ruangan tersebut sering mengalami penyatuan (coalesence) membuat cavum sentral yang
disebut sebagai antrum.
 Folikel d’graf atau folilkel vesikuler yang matur memiliki antrum yang sangat dominan
dan folikel biasanya menonjol keluar permukaan ovarium.
Setiap bulan, pada wanita dewasa, satu dari folikel yang masak mengeluarkan oosit dari
ovarium, peristiwa ini disebut ovulasi.

Ovarium terdiri dari bagian luar


Parametrium
Jaringan ikat yang terdapat antara kedua lembar lig. Latum disebut parametrium. Bagian
atas lig. Latum yang mengandung tuba disebut mesosalpinx dan bagian caudalnya yang
berhubungan dengan uterus disebut mesometrium.
Pada sisi depan lig. Latum berjalan lig. Teres uteri, pada permukaan belakang lig. Ovarii
proprium.
 Mesovarium merupakan lipat peritoneum untuk ovarium dan terdapat antara mesosalpinx
dan mesometrium.
 Lig. Suspensorium ovarii berjalan dari extremitas tubaria ovarii ke dinding panggul. Pada
parametrium ini berjalan ureter, a & v uterina.
 Parametrium sebelah bawah yang menyelubungi a & v uterina lebih padat dari jaringan
sekitarnya disebut lig. Cardinale.

1.2 Mikroskopis Sistem Reproduksi Wanita


Ovarium
Permukaan ovarium ditutupi oleh satu lapisan epitel kuboid, yang juga disebut
epitel germinal. Jaringan ikat fibrosa akan membentuk kapsul tipis, albuginea tunika,
langsung di bawah epitel. Di sebelah dalam terdapat tunika albugenia (jaringan ikat
penyebab ovarium berwarna putih).
Seperti organ lain, ovarium dibagi menjadi korteks luar dan medula. Korteks
terdiri dari stroma jaringan ikat yang sangat selular di mana folikel ovarium yang
tertanam. Medula terdiri dari jaringan ikat longgar, yang berisi pembuluh darah dan saraf.
Jaringan dasar ovarium disebut stroma.

Daerah korteks: mengandung banyak folikel telur yang masing-masing terdiri dari
sebuah oosit yang diselaputi oleh sel-sel folikel. Sel-sel folikel adalah oosit beserta sel
granulose yang mengelilinginya. Terdapat 3 macam folikel yaitu :
1. Folikel primordial : terdiri atas oosit primer yang berinti agak ke tepi yang dialapisi sel
folikel berbentuk pipih.
2. Folikel primer : terdiri oosit primer yang dilapisi sel folikel (sel granulose) berbentuk kubus
dan terjadi pembentukan zona pelusida. Adalah suatu lapisan glikoprotein yang terdapat
diantara oosit dan sel-sel granulose.
3. Folikel sekunder : terdiri oosit primer yang dilapisi sel granulose berbentuk kubus berlapis
banyak atau disebut staratum granulose.
4. Folikel tersier : terdiri dari oosit primer, volume stratum granulosanya bertambah besar.
Terdapat beberapa celah antrum diantara sel-sel granulose. Dan jaringan ikat stroma di luar
stratum granulose membentuk theca intern(mengandung banyak pembuluh darah) dan theca
extern (banyak mengandung serat kolagen).
5. Folikel Graff : disebut juga folikel matang. Pada folikel ini, oosit sudah siap diovulasikan
dari ovarium. Oosit sekunder dilapisi oleh beberapa lapis sel granulose berada dalam suatu
jorokan ke dalam stratum disebut cumulus ooforus. Sel-sel granulose yang mengelilingi oosit
disebut korona radiate.Antrum berisi liquor follicul yang mengandung hormone esterogen.

Corpus luteum
Korpus luteum dibentuk oleh sel-sel granulosa dan sel teka setelah ovulasi telah
terjadi. Dinding folikel runtuh ke dalam struktur dilipat, yang merupakan karakteristik
untuk korpus luteum. Vaskularisasi meningkat dan jaringan jaringan ikat yang terbentuk.
Teka interna dan sel granulosa tiga dalam ukuran dan mulai mengumpulkan lutein (Yang
hormon merangsang proses ini Dimana hormon ini diproduksi??) Dalam beberapa jam
setelah ovulasi. Mereka sekarang disebut sel granulosa lutein dan lutein teka sel dan
menghasilkan progesteron dan estrogen.
Sekresi hormon dalam korpus luteum berhenti dalam waktu 14 hari setelah
ovulasi jika oosit tidak dibuahi. Dalam kasus ini, korpus luteum berdegenerasi menjadi
albicans corpus - jaringan parut keputihan dalam ovarium. Sekresi hormon berlanjut
selama 2-3 bulan setelah ovulasi jika terjadi pembuahan.

Oviduk
Berdasar struktur histology terdiri dari lapisan mukosa, lapisan otot, dan lapisan
peritoneum.
 Lapisan mukosa : tersusun atas epitel kolumnar tinggi bersilia dan sel-sel kelenjar
 Lapisan otot : tersusun atas
 Lapisan otot intrinsic yang tebal mukosa
 Berkas otot menyerupai darah
 Lapisan sub peritoneal adalah serabut seperti kisis-kisi dan pita.
 Lapisan peritoneum :memungkinkan tuba uterine bergerak terhadap sekitarnya.

UTERUS
Saluran berdinding tebal, berfungsi untuk menyalurkan sperma ke tempat
fertilisasi, sebagai tempat terjadinya implantasi dan perkembangan embrio.
Dindingnya terdiri atas 3 lapis :
1. Endometrium (Mukosa) : bagian dalam dilapisi epitel selapis silindris bersilia dan terdapat
pula kelenjar uterus yang bermukosa dari permukaan.
2. Miometrium (dinding otot): terdapat 3 lapisan otot yang batas-batasnya kurang jelas. Tiga
lapisan otot tersebut adalah
 Lapisan Sub vascular : serat-serat otot tersusun memanjang
 Lapisan Vaskular : lapisan otot tengah tebal, serat tersusun melingkar dan serong
dengan banyak pembuluh darah.
 Lapisan Supravaskular : lapisan otot luar memanjang tipis.
3. Peritoneum : adalah serosa khas khas terdiri selapis sel mesotel yang ditunjang oleh jaringan
ikat tipis.
Vagina
Merupakan bagian terakhir dari saluran
reproduksi betina. Berbentuk pipa
panjang,untuk menerima penis terdiri dari 3
lapis yaitu :
1. Lapisan Mukosa : mempunyai lipatan
mendatar dan tersusun atas epitel berlapis
pipih tanpa lapisan tanduk. Dan terdapat
lamina propria yang tersusun atas jaringan
ikat padat dengan banyak serat elastin,
leukosit, limfosit dan nodulus limfatikus
(jarang terlihat).
2. Lapisan otot : terdiri dari berkas-berkas otot
polos yang tersusun berjalinan.
3. Lapisan Adventisia/ Serosa: berupa lapisan
tipis yang tersusun dari jaringan ikat yang
berbaur dengan adventisia organ sekitarnya.

2. Mengetahui dan Menjelaskan Fisiologi


Menstruasi dan Hormon-Hormon yang
Mempengaruhi
SIKLUS OVARIUM
Fase Folikuler
1. Siklus fungsi ovarium dengan pematangan
folikel-folikel, ovulasi, formasi corpus luteum
diatur oleh sistem kelenjar hypothalamo-
hipofise seperti halnya dengan mekanisme
intraovarial.
2. Hypothalamus memproduksi gonadotropin-releasing hormones (GnRH)
3. GnRH dibawa melalui sistem vena portal menuju kelenjar hipofise anterior
4. GnRH menyatu pada reseptor spesifik yang menginduksi sekresi luteotropic hormone
(LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH)
5. Pelepasan FSH dan LH bergantung pada GnRH dan terjadi setiap 90 menit (berkala)
6. Selanjutnya FSH menstimulasi pematangan folikel. Hanya satu folikel yang matang
sempurna.
Saat ovulasi
1. Selanjutnya folikel menghasilkan estrogen dan estrogen menekan produksi FSH
(negative feedback)
2. Akibatnya beberapa folikel selain satu folikel yang matur sempurna mengalami atresia.
3. Meningkatnya kadar estrogen mensitmulasi sekresi LH sehingga kadar LH melonjak di
pertengahan siklus (positive feedback)
4. Kadar LH yang tinggi menyebabkan degenerasi kolagen folikel  ovulasi setelah 16-24
jam lonjakan LH
Fase luteal
 Setelah 7-8 hari ovulasi,sel granulosa membesar,bervakuola dan berpigmen kuning
(lutein)  korpus luteum
 Corpus sel-sel granulosa dapat menggunakan kolesterol yang ada untuk
biosintesis progesteron
 Terdapat 2 sel di korpus luteum
 Luteinized granulosa cells : meningkatkan sekresi Progesteron
 Luteinized theca cells : meningkatkan sekresi Estrogen
 Level maksimum serum progesteron 15 ng/ml 6 sampai 8 hari setelah ovulasi
 Progesteron
 Mempersiapkan rahim untuk kehamilan (meningkatkan kelenjar sekretori uterus
dan menurunkan kontraksi uterus untuk mencegah expulsi pada ovum yang tertanam
 Meningkatkan sekresi mukosa tuba falopii untuk nutrisi ovum
 Meningkatkan perkembangan lobulus dan alveoli payudara
 Estrogen:
 Organ seks dan tubuh keseluruhan:mendorong perkembangan folikel,berperan
dalalm karakteristik seks sekunder, merangsang pertumbuhan uterus dan payudara
 Tulang : mencegah aktivitas osteoklas,meningkatkan matriks tulang,merangsang
penutupan epifisial plate,meningkatkan deposit calsium
 Berperan dalam penyimpanan lemak dan pengaturan produksi kolesterol oleh hati
sehingga menurunkan resiko atherosklerosis
 Meningkatkan vaskularisasi pada kulit sehingga kulit halus dan lembut
 Keseimbangan elektrolit: meningkatkan retensi Na dan air

SIKLUS ENDOMETRIUM
Pada siklus endometrium, terbagi jadi 3 fase, yaitu:
1. Masa menstruasi yang berlangsung selama 2-8 hari. Bila tidak terjadi pembuahan
sampai 2 hari sebelum akhir dari siklus bulanan maka corpus luteum akan beregresi dan
terbentuk jaringan parut (corpus albicans ) dengan berkurangnya kapiler-kapiler dan
diikuti menurunnya sekresi estrogen dan progesteron (involusi endometrium sebesar 65%
) pembuluh darah endometrium melepaskan material vasokonstriksi (Prostaglandins,
sitokinin, dan growth factors seperti TNF-beta , dan makrofag)  vasospasme
menyebabkan penurunan nutrisi endometrium  inisiasi nekrosis  darah merembes ke
lapisan pertama endometrium pendarahan (hemoragik) meningkat cepat dalam 24-36
jam  bagian nekrosis terpisah dari endometrium  deskuamasi peningkatan
kontraksi uterus pengeluaran darah menstruasi + deskuamasi pendarahan berhenti 4-
7 hari setelah menstruasi .
Siklus haid yang normal berlangsung antara 21-35 hari, selama 2-8 hari dengan jumlah
darah haid sekitar 25-80 ml/hari
2. Masa proliferasi dari berhenti darah menstruasi sampai hari ke-14. Fase
proliferasi ini dapat berkisar 7-21 post ovulasi.Setelah menstruasi berakhir, dimulailah
fase proliferasi dimana terjadi pertumbuhan dari desidua fungsionalis untuk
mempersiapkan rahim untuk perlekatan janin. Pada fase ini endometrium tumbuh
kembali. Antara hari ke-12 sampai 14 dapat terjadi pelepasan sel telur dari indung telur
(disebut ovulasi)
3. Masa sekresi. Masa sekresi adalah masa sesudah terjadinya ovulasi. Fase sekresi
biasanya tetap yaitu 14 hari. Hormon progesteron dikeluarkan dan mempengaruhi
pertumbuhan endometrium untuk membuat kondisi rahim siap untuk implantasi
(perlekatan janin ke rahim)
HORMON GONADOTROPIN

GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone)


GnRH merupakan hormon yang diproduksi oleh hypothalamus. GnRH akan merangsang
pelepasan FSH (folikel stimulating hormone) di hypophisis. Bila kadar estrogen tinggi,
maka estrogen akan memberikan umpan-balik (feed back mechanism) ke hypothalamus
sehingga kadar GnRH akan menjadi rendah, begitupun sebaliknya. Berikut ini merupakan
fungsi dari GnRH :
 Menstimulasi produksi folikel stimulating hormone (FSH) dan leutinizing
hormone (LH)
 Mengatur pelepasan FSH dan LH oleh kelenjar hypophisis
(Wilson dan Price, 2005)

FSH (Folikel Stimulating Hormone)


FSH diproduksi oleh sel gonadotropin pada kelenjar hypophiisis, pada lobus anterior
(adenohypophisis). Sel target dari FSH adalah testis (tubulus semineferus) pada laki-laki
dan ovarium pada perempuan. Fungsi dari FSH adalah :
Laki-laki
 Menstimulasi produksi sperma dengan cara mempengaruhi reseptor testosterone
pada tubulus semineferus
Perempuan
 Menstimulasi perumbuhan dan pematangan folikel
 Menstimulasi produksi estrogen pada corpus luteum
(Guyton and Hall, 1997)

LH (Leutinizing Hormone)
LH diproduksi oleh sel gonadotropin pada lobus anterior kelenjar hypophysis. Sel target
dari LH adalah tubulus semineferus testis pada laki-laki dan ovarium pada perempuan.
Fungsi LH adalah :
Laki-laki
 Menstimulasi produksi sperma dalam proses spermatogenesis dengan cara
menstimulasi sel intersisial leydig pada testis untuk mensekresikan testosterone
Perempuan
 Membentuk korpus luteum dari folikel yang telah pecah
 Menstimulasi produksi progesteron oleh korpus luteum
(Guyton and Hall, 1997)

Sekresi LH dan FSH dikontrol oleh GnRH yang merupakan pusat control untuk basal
gonadotropin, masa ovulasi dan onset pubertas pada masing-masing individu. Proses
sekresi basal gonadotropin ini dipengaruhi oleh beberapa macam proses:
 Episode sekresi (Episodic secretadon)
Pada pria dan wanita, proses sekresi LH dan FSH bersifat periodik, dimana terjadinya
secara bertahap dan pengeluarannya dikontrol oleh GnRH .

 Umpan balik positif (Positive feedback)


Pada wanita selama siklus menstruasi estrogen memberikan umpan balik positif pada
kadar GnRH untuk mensekresi LH dan FSH dan peningkatan kadar estrogen selama fase
folikular merupakan stimulus dari LH dan FSH setelah pertengahan siklus, sehingga
ovum menjadi matang dan terjadi ovulasi. Ovulasi terjadi hari ke 10-12 pada siklus
ovulasi setelah puncak kadar LH dan 24-36 jam setelah puncak estradiol. Setelah hari ke-
14 korpus luteurn akan mengalami involusi karena disebabkan oleh penurunan estradiol
dan progesteron sehingga terjadi proses menstruasi.

 Umpan balik negatif (Negative Feedback)


Proses umpanbalik ini memberi dampak pada sekresi gonadotropin. Pada wanita
terjadinya kegagalan pernbentukan gonad primer dan proses menopause disebabkan
karena peningkatan kadar LH dan FSH yang dapat ditekan oleh terapi estrogen dalam
jangka waktu yang lama.

Tujuan pemeriksaan FSH dan LH adalah untuk melihat fungsi sekresi hormon yang
dikeluarkan oleh hipotalamus dan mekanisme fisiologis umpan balik dari organ target
yaitu testis dan ovarium. Kadar FSH akan meningkat pada hipogonadism, pubertas
prekoks, menopause, kegagalan diferensiasi testis, orchitis, seminoma, acromegalli,
sidroma Turner. Serta menurun pada keadaan insufisiensi hipotalamus, disfungsi gonad,
anovulasi, insufisiensi hipofise, dan tumor ovarium. Faktor yang mempengaruhi kadarnya
adalah obat-obatan seperti steroid, kontrasepsi oral, progesteron, estrogen, dan testoteron.
Umpan balik positif dan negatif dalam pengaturan sekresi hormonal sistem HPO
Harga normal LH dan FSH bervariasi tergantung dari usia, jenis kelamin dan siklus ovulasi pada
pasien wanita. Kadarnya akan rendah sebelum pubertas dan jika sesudahnya akan meningkat.

Berikut harga normal kadar hormon FSH dan LH pada pria dan wamita berdasarkan usia dan
keadaan.

Wanita (dlm rentang umur) FSH (ng/L)


< 8 tahun 0,6 – 0,8
8 – 12 tahun 1,2 – 2,4
12 – 14 tahun 1,7 – 2,8
14 – 18 tahun 2,2 – 3,0

Dewasa
Midcycle 2,6 – 24
Kehamilan Tak terdeteksi
Premenopause 1,1 – 5,3
Pasca menopause 11,0 – 66
(Disadur dari Greenspan dan Strewler, 1997)

HORMON SEKS STEROID

Progesteron
Progesteron merupakan produk yang dihasilkan oleh korpus luteum. Fungsi dari
progesteron itu sendiri adalah :
1. Menyiapkan endometrium untuk implantasi blastokist
Endometrium yang sudah dipengaruhi estrogen karena pengaruh progesteron berubah
menjadi desidua dengan timbunan glikogen yang makin bertambah yang sangat penting
sebagai bahan makanan dan menunjang ovum
2. Mencegah kontraksi otot-otot polos terutama uterus dan mencegah kontraktilitas
uterus secara spontan karena pengaruh oksitosin
3. Cervix uteri menjadi kenyal, ostium uteri tertutup disertai dengan lendir yang
kental, sedikit, lekat, seluler dan banyak mengandung lekosit sehingga sukar dilalui
spermatozoa
4. Mempengaruhi tuba fallopi, dengan cara :
 Glikogen dan vitamin C tertimbun banyak di dalam mukosa tuba falopii
 Memperlemah gerakan peristaltik
5. Bersifat termogen, yaitu menaikkan suhu basal
6. Merangsang pertumbuhan asini dan lobuli glandula mammae pada fase luteal,
sedangkan estrogen akan mempengaruhi epitel saluran
7. Merangsang natriuresis dan menambah produksi aldosteron
8. Merangsang pusat pernafasan (medulla oblongata) sehingga terjadi peningkatan
proses respirasi
(H. Wiknjosastro, 1984)

Estrogen
Estrogen memegang peranan penting dalam perkembangan ciri-ciri kelamin sekunder dan
mempunyai pengaruh terhadap psikologi perkembangan kewanitaan. Efek utama estrogen
adalah pertumbuhan alat genital wanita dan kelenjar mamma. Vulva dan vagina
berkembang di bawah pengaruh estrogen. Hormone ini akan mempengaruhi jaringan epitel,
otot polos, dan merangsang pembuluh darah pada alat-alat tersebut. Estrogen juga
menyebabkan proliferasi epitel vagina, penimbunan glikogen dalam sel epitel yang oleh
basil doderlein diubah menjadi asam laktat sehingga menyebabkan pH vagina menjadi
rendah. (H. Wiknjosastro, 1984)
Disamping itu estrogen juga mempunyai fungsi sebagai berikut, yaitu :
1. Mempengaruhi hormone lain, seperti :
 Menekan produksi hormone FSH dan menyebabkan sekresi LH
 Merangsang pertumbuhan follikel didalam ovarium, sekalipun tidak ada FSH
2. Menimbulkan proliferasi dari endometrium baik kelenjarnya maupun stromanya
3. Mengubah uterus yang yang infantile menjadi mature
4. Merangsang pertumbuhan dan menambah aktifitas otot otot tuba fallopi
5. Cervix uteri menjadi lembek, ostium uteri terbuka disertai lendir yang bertambah
banyak, encer, alkalis dan aselluler dengan pH yang bertambah sehingga mudah dilalui
spermatozoa
6. Menyebabkan pertumbuhan sebagian lobuli alveoli dan saluran glandula mammae

Hormon-Hormon lain yang Berperan dalam Siklus Menstruasi Normal


Sistem hormonal yang mempengaruhi siklus menstruasi adalah:
1. FSH-RH (follicle stimulating hormone releasing hormone) yang dikeluarkan
hipotalamus untuk merangsang hipofisis mengeluarkan FSH
2. LH-RH (luteinizing hormone releasing hormone) yang dikeluarkan hipotalamus
untuk merangsang hipofisis mengeluarkan LH
3. PIH (prolactine inhibiting hormone) yang menghambat hipofisis untuk
mengeluarkan prolaktin

3. Mengetahui dan Menjelaskan Kelainan Menstruasi


3.1 Definisi Kelainan Menstruasi
Ada sejumlah gangguan menstruasi yang berbeda. Masalah dapat berkisar dari berat, haid yang
menyakitkan dan ada yang tidak haid sama sekali. Ada banyak variasi dalam pola menstruasi,
namun pada wanita umum harus prihatin ketika haid datang kurang dari 21 hari atau lebih dari 3
bulan terpisah, atau jika haid bertahan lebih dari 10 hari. Peristiwa tersebut dapat
mengindikasikan masalah ovulasi atau kondisi medis lainnya. (Simon, Harvey.2009a)

Siklus haid yang tidak teratur, yakni siklusnya tidak memiliki pola tertentu. Mungkin pada
awalnya siklus haid lebih dari 35 hari, namun kemudian akan timbul perdarahan haid diluar
siklus haid normal. Misalnya,siklusnya semula 35-40 hari tetapi bulan berikutnya bisa tidak haid
selama 3 bulan. Di sisi lain, ada pula yang dalam sebulan bisa mengalami haid lebih dari sekali.
Contoh, bulan ini haid terjadi tanggal 10, kemudian datang lagi pada tanggal 25 di bulan yang
sama. Haid yang berlangsung kurang dari 21 dikategorikan siklus pendek.

Baik siklus pendek maupun panjang, sama-sama menunjukkan ketidakberesan pada sistim
metabolisme dan hormonal. Dampaknya pun sama,yaitu jadi lebih sulit hamil. Pada siklus
pendek, ibu mengalami ”unovulasi” karena sel telur tidak terlalu matang sehingga sulit untuk
dibuahi. Pada siklus panjang, hal ini menandakan sel telur jarang sekali diproduksi atau ibu
mengalami ketidaksuburan yang cukup panjang. Jika sel telur jarang diproduksi berarti
pembuahan akan sangat jarang terjadi. (Hanifa W, 1997)
3.2 Epidemiologi Kelainan Menstruasi
Umur memainkan peran penting dalam gangguan menstruasi. Gadis-gadis yang mulai
menstruasi pada usia 11 atau lebih muda berada pada risiko tinggi untuk sakit parah,
periode haid yang lebih lama, dan siklus menstruasi lebih lama. Antara 20-90% dari gadis
remaja mengeluh mengalami nyeri haid,dan 15% yang sudah parah. Remaja dapat
berkembang menjadi amenorese belum siklus ovulasi mereka menjadi teratur.
Wanita yang menjelang menopause (perimenopause) juga dapat melewati periode haid.
Episode pendarahan berat sesekali juga umum saat perimenopause.

Faktor risiko lain termasuk:


•Berat badan, dapat meningkatkan risiko untuk dismenore dan amenore.
•Merokok dan Penggunaan Alkohol. Perokok memiliki risiko50% lebih tinggi daripada
bukan perokok untuk nyeri haid. Alkohol tidak menyebabkan nyeri haid, namun pada
wanita dengan dismenore, konsumsi alkohol dapat memperpanjang rasa sakit.
•Stres. Stres fisik dan emosional dapat menghalangi pelepasan hormon LH, menyebabkan
amenore sementara. Masalah emosional, termasuk riwayat penyalahgunaan seksual,
mungkinmenjadi predisposisi dismenore.
•Siklus dan aliran menstruasi. Siklus menstruasi lebih lama dan lebih berat dapat
menyebabkan dismenore.
•Riwayat kehamilan. Wanita yang memiliki sering hamilmemiliki risiko lebih tinggi
untuk menorrhagia. Wanita yang belum hamil memiliki risiko yang lebih tinggi untuk
dismenore, sementara wanita yang pertama kali melahirkan diusia muda berisiko rendah.
•Nyeri panggul kronis. Banyak wanita merasa sakit kronis didaerah panggul. Nyeri ini
dapat disebabkan oleh alasan ginekologi (seperti fibroid, endometriosis, atau penyakit
radang panggul) atau penyebab non-ginekologi (seperti sindrom iritasiusus, sistitis
interstisial, atau diverticulitis).
Latihan dan penggunaan kontrasepsi oral dapat membantu melindungi terhadap
dismenore.

(Simon, Harvey. 2009b)

3.3 Etiologi Kelainan Menstruasi


Kelainan dalam banyaknya darah dan lama perdarahan pada haid
HIPERMENOREA
Adalah perdarahan haid yang lebih banyak dan lebih lama dari normal (>8 hari).
Sebab kelainan ini terletak pada kondisi dalam uterus, misalnya adanya mioma uteri
dengan permukaan endometrium lebih luas dari biasa dan dengan kontraktilitas yang
terganggu, polip endometrium, gangguan pelepasan endometrium pada waktu haid
(endometrium shedding).

HIPOMENOREA
Merupakan perdarahan haid yang lebih pendek dan lebih kurang dari biasanya. Sebab-
sebabnya dapat terletak pada konstitusi penderita, pada uterus (misalnya sesudah
miomektomi), pada gangguan endokrin, dll.
Adanya hipomenorea tidak mengganggu fertilitas.
Kelainan siklus
POLIMENOREA
Pada polimenorea siklus haid lebih pendek dari biasa (< 21 hari).Perdarahan kurang lebih
sama atau lebih banyak dari haid biasa disebut polimenorea atau epimenoragia.
Dapat disebabkan oleh gangguan hormonal yang mengakibatkan gangguan ovulasi atau
menjadi pendek masa luteal. Sebab lain kongesti ovarium karena peradangan,
endometriosis, dan sebagainya.

OLIGOMENOREA
Siklus haid lebih panjang, >35 hari. Apabila siklusnya >3 bulan disebuta menorea.
Perdarahan biasanya berkurang. Pada kebanyakan kasus oligomenorea kesehatan wanita
tidak terganggu, fertilitas cukup baik.
Siklus haid biasanya dengan ovulatoar dengan masa proliferrasi lebih panjang dari biasa.

AMENOREA
Adalah keadaan dimana tidak adanya haid untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut. Lazim
diadakan pembagian amenorea primer dan amenorea sekunder.
1. Amenorea primer, apabila seorang wanita berumur 18 tahun ke atas tidak pernah
dapat haid, umumnya mempunyai sebab-sebab yang lebih berat dan lebih sulit
untuk diketahui, seperti kelainan kongenital, dan kelainan genetik.
2. Amenorea sekunder, apabila pernah mendapat haid, kemudian tidak pernah dapat
lagi, lebih menunjuk kepada sebab-sebab yang timbul kemudian dalam kehidupan
wanita, seperti gangguan gizi, gangguan metabolisme, tumor-tumor, penyakit
infeksi, dll.
Istilah kriptomenorea menunjuk kepada keadaan dimana tidak tampak adanya haid
karena darah tidak keluar berhubung ada yang menghalangi misal pada ginatresia
himenalis dll.

Perdarahan di luar haid


Yang dimaksud adalah perdarah yang terjadi dalam masa antara 2 haid. Perdarahan
tampak terpisah dan dapat dibedakan dari haid atau 2 jenis perdarahan yang menjadi satu,
yang pertama metroragia dan yang kedua menometroragia. Dapat disebabkan karena
kelainan organic pada alatgenital atau oleh kelainan fungsional.

Sebab-sebab organik
 Perdarahan dari uterus, tuba, dan ovarium disebakan oleh kelainan pada :
 Serviks uteri, seperti polipus servisis uteri, dll
 Korpus uteri, seperti polip endometrium dll.
 Tuba fallopi, seperti kehamilan ektopik terganggu dll.
 Ovarium, seperti radang ovarium, tumor ovarium dll.

Sebab-sebab fungsional
 Perdarahan dari uterus yang tidak ada hubungannya dengan sebab organic
dinamakan perdarahan disfungsional. Dapat terjadi pada setiap umur antara
menarche dan menopause, tetapi lebih seringdijumpai pada masa permulaan dan
masa akhir fungsi ovarium.

Gangguan lain yang ada hubungannya dengan haid


PREMENSTRUAL TENSION
Premenstrual tension merupakan keluhan-keluhan yang biasanya mulai satu minggu
sampai beberapa hari sebelum datangnya haid, dan menghilang sesudah haid datang,
walaupun kadang berlangsung terus sampai haid berhenti.
Etiologi
Etiologi premenstrual tension tidak jelas, akan tetapi mungkin satu faktor yang
memegang peranan ialah ketidakseimbangan antara estrogen dan progesteron dengan
akibat retensi cairan dan natrium, penambahan berat badan dan kadang-kadang edema.

VICARIOUS MENSTRUATION
Istilah ini dipakai untuk kasus-kasus tertentu yang jarang dijumpai,dimana terjadi
perdarahan ekstragenital dengan interval periodik yang sesuai dengan siklus haid.
Vicarious menstruation dapat juga terjadi pada berbagai alat, seperti :lambung, usus,
paru-paru, mammae, dan kulit.
Penangan dapat dilakukan apabila pada alat yang berdarah ada kelainan yang dapat
diangkat atau diobati.

MITTLESCHMERZ
Mittleschmerz atau nyeri antara haid terjadi kira-kira sekitar pertengahan siklus haid,
pada saat ovulasi.
Hal ini terjadi karena pecahnyafolikelGraff.
Lamanya bisa beberapa jam bahkan sampai 2-3 hari. Terkadang Mittelschmerz diikuti
oleh perdarahan yang berasal dari proses ovulasi dengan gejala klinis seperti kehamilan
ektopik yang pecah.
Diagnosa dibut berdasarkan saat terjadinya peristiwa dan bahwa nyerinya tidak
mengejang, tidak menjalar, dan tidak disertai mual atau muntah.
Penangananya umumnya terdiri atas penerangan pada wanita yang bersangkutan.

MASTALGIA
Gejala mastalgia ialah rasa nyeri dan pembesaran mamma sebelum haid.Sebabnya edema
dan hiperemi karena peningkatan relatif dari kadar estrogen.
Terapi biasanya terdiri atas pemberian deuretikum, sedang pada mastalgia keras kadang-
kadang perlu diberikan metiltestosteron 5 mg perhari secara sublingual. Bromokriptine
dalam dosis kecil dapat mengurangi penderitaan.

DISMENOREA
Dismenorea (Nyeri haid) mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering
menyebabkan wanita wanita muda pergi kedokter untuk konsultasi dan pengobatan.
Gangguan ini bersifat subjektif, berat atau untensitasnya sukar dinilai.Penyakit ini sudah
lama dikenal, tetapi sampai sekarang patogenesisnya belum dapat dipecahkan dengan
memuaskan.
Dismenorea dibagi atas :
Dismenorea Primer (esensial, intrinsik, ideopatik), tidak terdapat hubungan dengan
kelainan ginekologik. Adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa kelainan pada alat genital
yang nyata. Terjadi beberapa waktu setelah menarche, biasanya 12 bulan atau lebih, oleh
karena siklus-siklus haid pada bulan pertama setelah menarche umumnya bersifat
anovulatoar yang tidak disertai dengan rasa nyeri, rasa nyeri timbul tidak lama
sebelumnya atau bersama-sama dengan permulaan haid dan berlangsung untuk beberapa
jam. Rasa nyeri ialah kejang berjangkit- jangkit, biasanya terdapat pada perut bawah,
tetapi dapat menyebar kedaerah pinggang dan paha. Bersamaan dengan rasa nyeri disertai
dengan mual, sakit kepala, muntah dll.
Etiologi
Banyak teori telah dikemukakan untuk menerangkan penyebab disminorea primer, tetapi
patofisiologinya belum jelas dimengerti. Faktor penyebab dismenorea primer :
:
 Faktor kejiwaan
 Faktor Konstitusi
 Faktor obstruksi kanalis servikalis
 Faktor Endokrin-Faktor alergi

Dismenorea Sekunder (Ekstrinsik, yang diperoleh, acquired) disebabkan oleh kelainan


ginekologik.
Biasanya baru muncul kemudian yaitu jika ada penyakit yangdatang kemudian.
Penyebabnya adalah kelainan atau penyakit seperti :
 Infeksi rahim
 Kista/polip
 Tumor sekitar kandungan
 Kelainan kedudukan rahim yang menetap
Ada juga yang disebut endometriosis, yaitu kelainan letak lapisan dinding rahim,
sehingga apabila menjelang menstruasi, padasaat dinding rahim menebal, akan dirasakan
sakit yang luar biasa. Endometriosis bisa mengganggu kesuburan.
(Hanifa W, 1997)

3.4 Patofisiologi Kelainan Menstruasi


Patofisiologi BUD
1.PUD pada siklus avulatorik
Gangguan perdarahan ini biasanya terjadi pada wanita usia reproduksi dengan jenis
perdarahan yang terjadi dapat berupa: perdarahan siklus. Perdarahan akibat gangguan
pelepasan endometrium, perdarahan bercak pra dan pasca haid.
a.Fase proliferasi yang memendek, hal ini terjadi karena hipersensitif ovarium terhadap
FSH sehingga terjadi kenaikan kadar hormone E2 sampai mampu menimbulkan lonjakan
LH yang lebih awal dan ovulasi terjadi lebih awal. Perdarahan yang terjadi berupa
polimenorea.
b.Fase proliferasi yang memanjang, hal ini kurang sensitifnya ovarium terhadap FSH atau
timbul gangguan dari hipotalamus hipofise sehingga perkembangan folikel terhambat dan
kenaikan E2 terhambat sehingga ovulasi terhambat. Gangguan berupa perdarahan
pertengahan siklus haid, bercak pasca haid.
c.Kegagalan korpus luteum, berhubungan dengan rendahnya kadar FSH pada saat
lonjakan LH terjadi. Beberapa peneliti juga menghubungkan hal ini dengan tingginya
kadar prolaktin. Perdarahan yang terjadi berupa polimenore, hipermenore atau bercak pra
haid.
d.Aktivitas korpus luteum yang memanjang, disebabkan terganggunya umpan balik
negatif, kadar LH tetap tinggi sehingga fase sekresi berlangsung lama. Akibatnya kadar
progesterone tetap tinggi sehingga terjadi penurunan progesterone yang relatif. Keadaan
ini menyebabkan pelepasan endometrium terganggu sehingga menyebabkan
oligomenredan diikuti hipermenore.

2.PUD pada siklus anovulatrik


Ovulasi tidak terjadi, kurpus luteum tidak terbentuk, kadar progesteron berkurang,
estrogen meningkat. Pada masa premenopous anovulasi sering disebabkan kegagalan
ovarium dalam menerima rangsangan hormone FSHdan LH. Perdarahan yang terjadi
berupa perdarahan yang sedikit atau banyak bergumpal dalam siklus yang teratur maupun
yang tidak.

3.Perdarahan pada Folikel Persisten


Perdarahan dimaksud dengan folikel persiten adalah stagnasinya fase perkembangan
folikel dasatu fase ovulasi yang menyebabkan rangsangan yang terus menerus dan
menetap darai estrogen terhadap endometrium sehingga terjadi hiperplasi endometrium.
Hal ini sering terjadi pada masa perimenopouse. Perdarahan terjadi pada tingkat
hiperplasia endometrium lanjut, atau apabila folikel tidak mampu lagi menghasilkan
estrogen maka akan terjadi perdarahan lucut estrogen.

Amenore primer
Gambar1. (Sumber : Askep Gangguan Menstruasi)

Dismenorea
Gambar2. (Sumber : Askep Gangguan Menstruasi)

Premenstrual sindrom
Gambar3. (Sumber : Askep Gangguan Menstruasi)

3.5 Manifestasi Klinis Kelainan Menstruasi

1. Perdarahan lebih banyak atau lebih sedikit dari normal


2. Perdarahan lebih lama atau lebih pendek dari normal
3. Nyeri hingga mengganggu aktivitas, perut keram , kembung.
4. Gejala lainnya seperti menstruasi pada umumnya yaitu gejala Pra
Menstruasi Syndrome (PMS) dan nyeri haid (Disminorhea)

PMS (pre menstruasi syndrome) atau gejala pre-menstruasi, dapat menyertai sebelum
atau saat menstruasi. Antara lain:

 Perasaan malas bergerak, badan menjadi lemas, serta mudah merasa lelah.
 Nafsu makan meningkat dan suka makan makanan yang rasanya asam.
 Emosi menjadi labil. Biasanya kita mudah uring-uringan, sensitif, dan
perasaan-perasaan negatif lainnya.
 Mengalami kram perut (dismenorrhoe).
 Kepala nyeri.
 Pingsan.
 Berat badan bertambah, karena tubuh menyimpan air dalam jumlah yang
banyak.
 Pinggang terasa pegal.

3.6 Cara Mendiagnosis dan Diagnosis Banding Kelainan Menstruasi


Diagnosis
Anamnesa
Dokter akan menanyakan sejarah yang lengkap medis pasien. Informasi ini dapat
membantu menentukan apakah masalah menstruasi disebabkan oleh kondisi medis lain.
Sebagai contoh, non-menstruasi kondisi yang dapat menyebabkan sakit perut termasuk
usus buntu, infeksi saluran kencing, kehamilan ektopik, dan sindrom iritasi usus besar.
Endometriosis dan fibroids dapat menyebabkan perdarahan berat dan nyeri. Dokter
mungkin bertanya pertanyaan-pertanyaan mengenai:
1. Pola siklus menstruasi - panjang waktu antara periode, jumlah hari yang periode
terakhir, jumlah hari perdarahan berat atau ringan
2. Kehadiran atau sejarah dari setiap kondisi medis yang mungkin menyebabkan
masalah haid
3. Setiap riwayat keluarga masalah haid
4. Sejarah nyeri panggul
5. Regular penggunaan obat (termasuk vitamin dan over-the-counter obat-obatan)
6. Diet sejarah, kafein termasuk dan asupan alcohol
7. Masa lalu atau sekarang menggunakan kontrasepsi
8. Setiap stres peristiwa terakhir
9. Riwayat seksual
10. Harian menstruasi. Sebuah buku harian menstruasi adalah cara yang membantu
untuk 
 melacak perubahan dalam siklus menstruasi. Pasien dapat merekam saat
periode mereka mulai, berapa lama berlangsung, dan jumlah perdarahan dan nyeri
yang terjadi selama menstruasi.

Pemeriksaan panggul
Pemeriksaan panggul adalah bagian standar diagnosis. Tes Pap dapat dilakukan selama
ujian ini.

Pemeriksaan luar ginelkologi


Pemeriksaan fisik umum
1. Kesan umum : tampak sakit, kompos mentis, anemia, ikterus.
2. Kesadaran – komunikasi personal - tekanan darah – nadi – frekuensi nafas –
suhu 
 badan.
3. Pemeriksaan jantung dan paru

Pemeriksaan fisik lain yang dipandang perlu ( kelenjar thyroid, kelenjar getah bening
leher dsb nya)
1. Banyak ahli ginekologi yang secara rutin memeriksa keadaan kelenjar tiroid 

(pembesaran, pembengkakan, benjolan kecil)
2. Penyakit tiroid lebih sering mengenai wanita dan meningkat dengan semakin 

bertambahnya usia.
3. Beberapa gangguan haid berkaitan dengan disfungsi tiroid.

Pemeriksaan khusus ginekologi


Inspeksi abdomen
1. Pembesaran perut kearah depan yang berbatas jelas umumnya disebabkan 
 oleh
kehamilan atau tumor.
2. Pembesaran perut kearah samping umumnya terjadi pada asites.
3. Striae, jaringan parut, peristaltik.

Palpasi abdomen
1. Pasien diminta untuk mengosongkan kandung kemih dan atau rectum terlebih
dahulu.
2. Pasien diminta untuk berada pada posisi dorsal dan dalam keadaan santai.
3. Palpasi dilakukan dengan menggunakan seluruh telapak tangan berikut jari- jari 

dalam keadaan rapat yang dimulai dari bagian hipochondrium secara perlahan-lahan
dan kemudian diteruskan kesemua bagian abdomen dengantekanan yang meningkat
secara bertahap.
4. Melalui pemeriksaan ini ditentukan apakah : Terdapat “defance muscular” akibat
peritonitis atau rangsangan peritoneum yang lain.
5. Apakah ada rasa nyeri tekan atau nyeri lepas
6. Dengan tekanan yang agak kuat serta menggunakan sisi ulnar telapak tangan kanan

 dilakukan pemeriksaan untuk mencari kelainan lain dalam cavum abdomen.
7. Bila dijumpai adanya masa tumor dalam cavum abdomen, tentukan lebih lanjut 

mengenai:

Perkusi abdomen
Bila dijumpai adanya pembesaran perut, dengan perkusi dapat ditentukan apakah
pembesaran perut tersebut disebabkan oleh cairan bebas, udara (meteorismus) atau
tumor

Auskultasi abdomen
1. Penting untuk menyingkirkan kemungkinan kehamilan (dengan mencari denyut 

jantung janin).
2. Diagnosa ileus (paralitik atau hiperdinamik).
3. Menentukan pulihnya bising usus pasca pembedahan
Genitalia eksterna
Inspeksi genitalia eksterna
Pada posisi lithotomi, genitalia eksterna dapat dilihat dengan jelas
Keadaan vulva bagian luar:
- Kotor atau bersih, keadaan rambut pubis
- Terdapat ulkus, pembengkakan.
Cairan yang keluar dari vulva: pus, darah, leucorrhoea

Pemeriksaan penunjang
1. Darah dan Tes Hormonal
Tes darah dapat membantu menyingkirkan kondisi lain yang menyebabkan
gangguan menstruasi. Tes darah juga dapat memeriksa follicle- stimulating hormon,
estrogen, dan tingkat prolaktin. Pasien yang memiliki menorrhagia mungkin
mendapatkan tes untuk gangguan perdarahan. Jika pasien kehilangan banyak darah,
mereka juga harus mendapatkan diuji untuk anemia.
 Pasien yang memiliki
amenore mungkin perlu untuk menerima tes hormon khusus. Uji tantangan
progestasional menggunakan progesteron oral atau disuntikkan untuk menguji
lapisan rahim fungsional (endometrium):
a. Perdarahan yang terjadi sampai 3 minggu setelah dosis progesteron
menunjukkan 
 bahwa wanita memiliki tingkat estrogen yang normal tetapi
tidak berovulasi, terutama jika tiroid dan prolaktin tingkat normal. Dalam kasus
tersebut, dokter akan memeriksa stres, berat badan baru-baru ini, dan setiap
obat-obatan. Hasil tersebut juga bisa menyarankan ovarium polikistik atau stres.
b. Kegagalan untuk berdarah bisa menunjukkan rahim yang abnormal yang
mencegah keluar atau estrogen tidak cukup. Dalam kasus tersebut, langkah
berikutnya mungkin untuk mengelola estrogen diikuti oleh progestin. Jika
perdarahan terjadi setelah itu, penyebab amenore berkaitan dengan kadar
estrogen rendah. Dokter kemudian akan memeriksa kegagalan ovarium,
anoreksia, atau penyebab lain dari estrogen rendah. Jika pendarahan tidak
terjadi, dokter akan memeriksa penghalang yang mencegah aliran menstruasi.

USG
Teknik pencitraan yang sering digunakan untuk mendeteksi kondisi tertentu yang dapat
menyebabkan gangguan menstruasi. Imaging dapat membantu mendiagnosa fibroid,
endometriosis, atau kelainan struktur pada organ reproduksi.

USG dan Sonohysterography.


USG adalah teknik pencitraan standar untuk mengevaluasi rahim dan indung telur,
fibroid mendeteksi, kista ovarium dan tumor, dan penghalang menemukan dalam
saluran kemih. Ini menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar dari
organ-organ. USG tidak membawa risiko dan menyebabkan ketidaknyamanan sangat
sedikit.
Sonohysterography transvaginal USG menggunakan bersama dengan garam
disuntikkan ke dalam rahim untuk meningkatkan visualisasi rahim.

Prosedur Diagnostik Lainnya


1. Histeroskopi.
Histeroskopi adalah prosedur yang dapat mendeteksi keberadaan fibroid, polip, atau
penyebab lain dari perdarahan. Ini mungkin akan ketinggalan kasus kanker rahim,
bagaimanapun, dan bukan merupakan pengganti lebih banyak prosedur invasif,
seperti dilatasi dan kuretase (D & C) atau biopsi endometrium, jika kanker dicurigai.

 Hal ini dilakukan dalam suasana kantor dan tidak memerlukan sayatan. Prosedur
menggunakan tabung fleksibel atau kaku panjang yang disebut hysteroscope, yang
dimasukkan ke dalam vagina dan melalui leher rahim untuk mencapai rahim.
Sebuah sumber cahaya serat optik dan kamera kecil di tabung memungkinkan
dokter untuk melihat rongga. Rahim diisi dengan garam atau karbon dioksida untuk
mengembang rongga dan memberikan tampilan yang lebih baik. Hal ini dapat
menyebabkan kram. Histeroskopi adalah non-invasif, namun banyak wanita
menemukan prosedur yang menyakitkan. Penggunaan semprotan anestesi seperti
lidokain dapat membantu dalam mencegah sakit dari prosedur ini. Komplikasi lain
termasuk penyerapan cairan yang berlebihan, infeksi, dan perforasi uterus.
Histeroskopi juga dilakukan sebagai bagian dari prosedur bedah.

2. Laparoskopi
Diagnostik laparoskopi merupakan prosedur bedah invasif rendah, saat ini satu-
satunya metode definitif untuk mendiagnosa endometriosis, penyebab umum dari
dismenore. Hal ini juga dapat digunakan untuk mengobati endometriosis.
Laparoskopi biasanya memerlukan anestesi umum, walaupun pasien bisa pulang
hari yang sama. Prosedur ini melibatkan menggembungkan perut dengan gas
melalui sayatan perut kecil. Sebuah tabung serat optik dilengkapi dengan lensa
kamera kecil (laparoskop) kemudian dimasukkan. Dokter menggunakan laparoskop
untuk melihat rahim, ovarium, tuba, dan peritoneum (selaput panggul).

3. Biopsi endometrium.
Bila perdarahan berat atau abnormal terjadi, sebuah (rahim) biopsi endometrium
dapat dilakukan di kantor. Prosedur ini dapat membantu mengidentifikasi sel-sel
abnormal, yang menunjukkan bahwa kanker dapat hadir. Hal ini juga dapat
membantu dokter menentukan pengobatan hormonal terbaik untuk digunakan.
Prosedur ini mungkin sering dilakukan tanpa anestesi, atau lokal anestesi
disuntikkan.
a. Pasien terletak di punggungnya dengan kaki di sanggurdi. Sebuah alat
(speculum) 
 dimasukkan ke dalam vagina untuk terus terbuka dan
memungkinkan leher rahim 
 untuk dilihat.
b. Serviks dibersihkan dengan cairan antiseptik dan kemudian digenggam dengan

 instrumen (tenaculum) yang memegang rahim stabil. Sebuah perangkat yang
disebut dilator serviks mungkin diperlukan untuk meregangkan kanalis
servikalis jika ada sesak (stenosis). Sebuah tabung, plastik kecil berongga
kemudian lembut dilewatkan ke dalam rongga rahim.
c. Hisap lembut menghapus sampel lapisan. Sampel jaringan dan instrumen
dihapus. Spesialis yang disebut ahli patologi memeriksa sampel di bawah
mikroskop.

4. Dilatasi dan kuretase (D & C).


D dan C (dilatasi dan kuretase) adalah suatu prosedur dimana saluran vagina lembut
diadakan terbuka dengan spekulum, dan leher rahim membesar (melebar) dengan
batang logam. Sebuah kuret kemudian dilewatkan melalui kanalis servikalis ke
dalam rongga rahim di mana jaringan endometrium dikerok dan dikumpulkan untuk
pemeriksaan. Dilatasi dan kuretase (D & P) adalah prosedur yang lebih invasive:
1. A D & C biasanya dilakukan dalam suasana rawat jalan sehingga pasien dapat
pulang pada hari yang sama, tetapi kadang-kadang memerlukan anestesi umum.
Ini mungkin perlu dilakukan di ruang operasi untuk menyingkirkan kondisi
serius atau mengobati beberapa yang kecil yang dapat menyebabkan perdarahan.
2. Serviks (leher rahim) adalah berdilatasi (membuka).
3. Dokter bedah goresan lapisan dalam rahim dan leher rahim.

Prosedur ini digunakan untuk mengambil sampel pada jaringan tersebut dan untuk
meringankan perdarahan berat dalam beberapa kasus. A & C juga dapat efektif
dalam Scraping off polip endometrium kecil, tetapi tidak sangat berguna bagi
kebanyakan fibroid, yang cenderung lebih besar dan lebih melekat erat.

3.7 Tatalaksana Kelainan Menstruasi


Setelah menegakkan diagnosa dan setelah menyingkirkan berbagai kemungkinan
adalah melakukan prinsip-prinsip pengobatan sebagai berikut:
1. Menghentikan perdarahan.
2. Mengatur menstruasi agar kembali normal
3. Transfusi jika kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 8 gr%.
Menghentikan perdarahan
Langkah-langkah upaya menghentikan perdarahan adalah sebagai berikut:
Kuret (curettage). Hanya untuk wanita yang sudah menikah. Tidak bagi gadis dan tidak
bagi wanita menikah tapi “belum sempat berhubungan intim”. O b a t (medikamentosa)
1. Golongan estrogen.
Pada umumnya dipakai estrogen alamiah, misalnya: estradiol valerat (nama
generik) yang relatif menguntungkan karena tidak membebani kinerja liver dan tidak
menimbulkan gangguan pembekuan darah. Jenis lain, misalnya: etinil estradiol, tapi obat
ini dapat menimbulkan gangguan fungsi liver.
Dosis dan cara pemberian:
• Estrogen konyugasi (estradiol valerat): 2,5 mg diminum selama 7-10 hari.
• Benzoas estradiol: 20 mg disuntikkan intramuskuler. (melalui bokong)
• Jika perdarahannya banyak, dianjurkan nginap di RS (opname), dan diberikan Estrogen
konyugasi (estradiol valerat): 25 mg secara intravenus (suntikan lewat selang infus)
perlahan-lahan (10-15 menit), dapat diulang tiap 3-4 jam. Tidak boleh lebih 4 kali sehari.
Estrogen intravena dosis tinggi ( estrogen konjugasi 25 mg setiap 4 jam sampai
perdarahan berhenti ) akan mengontrol secara akut melalui perbaikan proliferatif
endometrium dan melalui efek langsung terhadap koagulasi, termasuk peningkatan
fibrinogen dan agregasi trombosit. Terapi estrogen bermanfaat menghentikan perdarahan
khususnya pada kasus endometerium atrofik atau inadekuat. Estrogen juga diindikasikan
pada kasus DUB sekunder akibat depot progestogen ( Depo Provera ). Keberatan terapi
ini ialah bahwa setelah suntikan dihentikan, perdarahan timbul lagi.
2. Obat Kombinasi
Terapi siklik merupakan terapi yang paling banyak digunakan dan paling efektif.
Pengobatan medis ditujukan pada pasien dengan perdarahan yang banyak atau
perdarahan yang terjadi setelah beberapa bulan amenore. Cara terbaik adalah
memberikan kontrasepsi oral ; obat ini dapat dihentikan setelah 3 – 6 bulan dan dilakukan
observasi untuk melihat apakah telah timbul pola menstruasi yang normal. Banyak pasien
yang mengalami anovulasi kronik dan pengobatan berkelanjutan diperlukan. Paparan
estrogen kronik dapat menimbulkan endometrium yang berdarah banyak selama
penarikan progestin . Speroff menganjurkan pengobatan dengan menggunakan kombinasi
kontrasepsi oral dengan regimen menurun secara bertahap.
Dua hingga empat pil diberikan setiap hari setiap enam hingga duabelas jam ,
selama 5 sampai 7 hari untuk mengontrol perdarahan akut. Formula ini biasanya
mengontrol perdarahan akut dalam 24 hingga 48 jam ; penghentian obat akan
menimbulkan perdarahan berat. Pada hari ke 5 perdarahan ini, mulai diberikan
kontrasepsi oral siklik dosis rendah dan diulangi selama 3 siklus agar terjadi regresi
teratur endometrium yang berproliferasi berlebihan. Cara lain, dosis pil kombinasi dapat
diturunkan bertahap ( 4 kali sehari, kemudian 3 kali sehari, kemudian 2 kali sehari )
selama 3 hingga 6 hari, dan kemudian dilanjutkan sekali setiap hari. Kombinasi
kontrasepsi oral menginduksi atrofi endometrium, karena paparan estrogen progestin
kronik akan menekan gonadotropin pituitari dan menghambat steroidogenesis endogen.
Kombinasi ini berguna untuk tatalaksana DUB jangka panjang pada pasien tanpa
kontraindikasi dengan manfaat tambahan yaitu mencegah kehamilan. Khususnya untuk
pasien perimenarche, perdarahan berat yang lama dapat mengelupaskan endometrium
basal, sehingga tidak responsif terhadap progestin. Kuretase untuk mengontrol
perdarahan dikontraindikasikan karena tingginya resiko terjadinya sinekia intrauterin (
sindroma Asherman ) jika endometrium basal dikuret. OC aman pada wanita hingga usia
40 dan diatasnya yang tidak obes, tidak merokok, dan tidak hipertensi.
3. Golongan progesterone
Pertimbangan di sini ialah bahwa sebagian besar perdarahan fungsional bersifat
anovulatoar, sehingga pemberian obat progesterone mengimbangi pengaruh estrogen
terhadap endometrium. Obat untuk jenis ini, antara lain:
• Medroksi progesteron asetat (MPA): 10-20 mg per hari, diminum selama 7 10 hari.
• Norethisteron: 3×1 tablet, diminum selama 7-10 hari.
• Kaproas hidroksi-progesteron 125 mg secara intramuskular
4. OAINS
Menorragia dapat dikurangi dengan obat anti inflamasi non steroid. Fraser dan
Shearman membuktikan bahwa OAINS paling efektif jika diberikan selama 7 hingga 10
hari sebelum onset menstruasi yang diharapkan pada pasien DUB ovulatori, tetapi
umumnya dimulai pada onset menstruasi dan dilanjutkan selama espisode perdarahan dan
berhasil baik. Obat ini mengurangi kehilangan darah selama menstruasi ( mensturual
blood loss / MBL ) dan manfaatnya paling besar pada DUB ovulatori dimana jumlah
pelepasan prostanoid paling tinggi.2
Mengatur menstruasi agar kembali normal
Setelah perdarahan berhenti, langkah selanjutnya adalah pengobatan untuk
mengatur siklus menstruasi, misalnya dengan pemberian: Golongan progesteron: 2×1
tablet diminum selama 10 hari. Minum obat dimulai pada hari ke 14-15 menstruasi.
Transfusi jika kadar hemoglobin kurang dari 8 gr%.
Terapi yang ini diharuskan pasiennya untuk menginap di Rumah Sakit atau klinik.
Sekantong darah (250 cc) diperkirakan dapat menaikkan kadar hemoglobin (Hb) 0,75
gr%. Ini berarti, jika kadar Hb ingin dinaikkan menjadi 10 gr% maka kira-kira perlu
sekitar 4 kantong darah

3.8 Komplikasi Kelainan Menstruasi


1. Anemia
2. Endometrial cancer
3. Uterine perforation

3.9 Prognosis Kelainan Menstruasi

Prognosis pada semua ketidakteraturan adalah baik bila diterapi dari awal.

4. Mengetahui dan Menjelaskan Pandangan Islam Terkait Menstruasi dan Istihadah


Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam diadukan oleh Hamnah
radhiallahu ‘anha tentang istihadlah yang menimpanya, beliau berkata : “Yang demikian
hanyalah satu gangguan/dorongan dari setan.”
Atau dalam riwayat Shahihain dari hadits Fathimah bintu Abi Hubaisy, beliau
mengatakan tentang istihadlah : “Yang demikian itu hanyalah darah dari urat bukan
haid.”
Hal ini menunjukkan bahwa istihadlah tidak sama dengan haid yang sifatnya
alami, artinya mesti dialami oleh setiap wanita yang normal sebagai salah satu tanda
baligh. Namun istihadlah adalah satu penyakit yang menimpa kaum hawa dari
perbuatannya syaithan yang berjalan di tubuh anak Adam seperti jalannya darah.
Syaithan ingin memberikan keraguan terhadap anak Adam dalam pelaksanaan ibadahnya
dengan segala cara. Kata Al Imam As Shan’ani dalam Subulus Salam (1/159) : “Makna
sabda Nabi : (‘Yang demikian hanyalah satu dorongan/gangguan dari syaithan’) adalah
syaithan mendapatkan jalan untuk membuat kerancuan terhadapnya dalam perkara
agamanya, masa sucinya dan shalatnya hingga syaithan menjadikannya lupa terhadap
kebiasaan haidnya.”
Al Imam As Shan’ani melanjutkan : “Hal ini tidak menafikkan sabda Nabi yang
mengatakan bahwa darah istihadlah dari urat yang dinamakan ‘aadzil karena
dimungkinkan syaithan mendorong urat tersebut hingga terpancar darah darinya.”
(Subulus Salam 1/159)
Keberadaan darah istihadlah bersama darah haid merupakan suatu masalah yang
rumit, kata Ibnu Taimiyyah, hingga harus dibedakan antara keduanya. Caranya bisa
dengan ‘adat (kebiasaan haid) atau dengan tamyiz (membedakan sifat darah).
Perbedaan antara darah istihadlah dengan darah haid adalah darah haid merupakan
darah alami, biasa dialami wanita normal dan keluarnya dari rahim sedangkan darah
istihadlah keluar karena pecahnya urat, sifatnya tidak alami (tidak mesti dialami setiap
wanita) dan keluarnya dari urat yang ada di sisi rahim. Ada perbedaan lain dari sifat darah
haid bila dibandingkan dengan darah istihadlah :
1. Perbedaan warna. Darah haid umumnya hitam sedangkan darah istihadlah umumnya merah
segar.
2. Kelunakan dan kerasnya. Darah haid sifatnya keras sedangkan istihadlah lunak.
3. Kekentalannya. Darah istihadlah mengental sedangkan darah haid sebaliknya.
4. Aromanya. Darah haid beraroma tidak sedap/busuk.

Darah Istihadah Menurut Penjelasan Ilmu Fiqh

Menurut Ustaz Sulaiman Endut dalam bukunya yang berjudul Asas-asas Fardhu Ain
mengatakan bahwa :

“Darah istihadhah ialah darah penyakit yang keluar dari faraj perempuan. Darah ini
bukanlah merupakan darah haid atau darah nifas. Ia adalah sejenis darah penyakit.
Seseorang perempuan yang ketika didatangi darah istihadhah, wajib berpuasa,
bersembahyang dan boleh mengerjakan ibadah lain sama seperti orang lain yang tidak
didatangi haid dan nifas.”

Rumusan yang dapat dibuat berdasarkan pendapat di atas, istihadah merupakan darah yang
keluar bukan pada masa haid dan nifas. Darah istihadah disifatkan sebagai darah penyakit.
Untuk mengetahui darah istihadah ialah darah yang keluar dari rahim perempuan yang
melebihi (15 hari dan malamnya) atau kurang (24 jam) dari tempoh haid dan nifas.
Dari Aisyah ra berkata :

“Fatimah Binti Abi Hubaisy telah datang menemui Nabi SAW dan berkata : Wahai
Rasulullah, aku telah beristihadhah, oleh itu aku tidak suci, maka adakah aku perlu
meninggalkan solat? Sabda Rasulullah SAW : Tidak, itu hanyalah darah penyakit dan
bukan darah haid. Ketika kedatangan haid hendaklah engkau meninggalkan solat, dan
apabila kadarnya telah berlalu, maka hendaklah engkau membasuh darah yang berada
pada diri engkau dan hendaklah engkau bersolat.” (Riwayat Al-Bukhari)

Darah ini membatalkan wuduk tetapi tidak mewajibkan wanita tersebut mandi hadas dan
tidak wajib meninggalkan solat serta puasa. Oleh itu wanita yang keluar darah tersebut
hendaklah membasuhnya, mengikat atau membalut tempat keluarnya dan hendaklah
berwuduk setiap kali hendak solat fardhu.
Faktor Istihadhah

Wanita yang mengeluarkan darah istihadhah adalah disebabkan kestabilan kesihatan tubuh
badan yang terganggu atau stamina tubuh tidak terjamin yang disebabkan oleh kerosakkan
organ-organ atau kelenjar-kelenjar yang berada dipersekitaran rahimnya. Kadang kala boleh
juga disebabkan oleh gangguan emosi wanita tersebut.

Darah istihadhah ini mengalir secara berterusan dan kadang kala ia berlarutan sehingga
beberapa minggu. Jika keadaan sebegini berterusan, maka lebih baik mendapatkan rawatan
dan nasihat doktor dengan segera untuk mengetahui apa puncanya.

Ciri-ciri Istihadhah

1. Wanita umur sembilan tahun yang mengeluarkan darah.


2. Wanita yang keluar darah melebihi batasan haid sebanyak 15 hari dan malamnya. Atau
wanita yang mengeluarkan darah kurang dari 24 jam atau satu hari dan malamnya.
3. Wanita yang mengeluarkan darah melebihi batasan masa nifas sebanyak 60 hari dan
malamnya.
4. Wanita didatangi darah sebanyak dua kali yang diselangi dengan masa suci kurang dari
15 hari dan malamnya.

Hukum Istihadhah

1. Tidak wajib mandi ketika ingin mengerjakan solat wajib ataupun sunat pada bila-bila
masa. Kecuali satu kali ketika haidnya sudah berhenti.
2. Orang Istihadhah wajib berwuduk setiap kali hendak mengerjakan solat.
3. Hendaklah ia membasuh kemaluannya sebelum berwuduk dan kemudian ia menutup
kemaluannya dengan sehelai kain atau kapas untuk menahan atau mengurangi najis
daripada terus keluar. Jika cara ini tidak berjaya menahan darah istihadhah, maka
hendaklah ia menyumbat atau mengikat kemaluannya supaya tidak bocor.
4. Tidak menjadi halangan bagi suami yang ingin menjimak isterinya ketika istihadhah. Ini
merupakan pendapat mejoriti para ulamak, kerana ia tidak mempunyai satu dalilpun yang
mengharamkannya.
5. Hukum wanita istihadhah sama sepertimana wanita yang suci daripada haid dan nifas.
wanita istihadhah boleh mengerjakan solat, puasa, tawaf, membaca Al-Quran, menyertuh
Al-Quran dan sebagainya.

Diriwayatkan oleh Aisyah, dia berkata : “Ummu Habibah binti Jahsy meminta fatwa
kepada Rasulullah.” Ummu Habibah berkata: “sesungguhnya saya terkena darah
penyakit?” Rasulullah berkata: “itu hanya darah, mandi dan sholatlah. Maka Ummu
Habibah mandi setiap akan melaksanakan sholat”. Al-Laits bin Sa’id berkata:”Ibu Syibah
tidak menyebutkan bahwa Rasulullah menyuruh Ummu Habibah binti Jahsy untuk mandi
setiap kali mau melaksanakan sholat, akan tetapi itu hanyalah perbuatan Ummu Habibah
sendiri.”
(HR.Muslim 63/334)
Haid
Definisi Haid.
Haid secara bahasa bermakna mengalir.
Adapun secara istilah, Al-Bahuti berkata, “Dia adalah darah kebiasaan wanita yang
berasal dari dasar rahim, pada waktu-waktu tertentu.” (Ar-Raudh Al-Murbi’ -Hasyiah
Ibni Qasim-: 1/370) Dan sebagian ulama ada yang menambahkan definisinya: Bukan
dikarenakan sebab melahirkan.

Ciri-Ciri Darah Haid.


Dia adalah darah tebal yang keluar dari rahim, berwarna hitam lagi busuk baunya, dan
setelah keluar tetap dalam keadaan cair.

Najisnya Darah Haid.


Darah haid adalah najis berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Mereka bertanya kepadamu
tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran (najis).” (QS. Al-Baqarah:
222). Adapun dari As-Sunnah, maka Rasulullah bersabda tentang pakaian yang terkena
darah haid, “Hendaknya dia mengeruknya lalu menggosoknya dengan air lalu
menyiramnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Asma` bintu Abi Bakr) Dan ini jelas
menunjukkan najisnya. Dan An-Nawawi menukil ijma’ kaum muslimin akan najisnya
darah haid.

Penentuan Masa Haid.


Ada dua perkara yang dijadikan sandaran dalam menentukan masa haid:
1. Adat. Yaitu lama biasanya darah haid keluar dari seorang wanita setiap bulannya.
Misalnya kalau setiap bulan darah haidnya keluar selama 7 hari, maka berarti adat
haidnya 7 hari. Kalau biasanya haid keluar setiap akhir bulan selama sekitar 5 atau 6 hari,
maka berarti adat dia setiap akhir bulan berkisar antara 5 atau 6 hari. Demikian
seterusnya.
Dalilnya adalah sabda Nabi -shallallahu alaihi wasallam- kepada Fathimah binti Jahsy,
“… akan tetapi tinggalkanlah shalat selama hari-hari yang biasanya kamu haid pada
hari-hari itu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah)
2.Tamyiz. Yaitu dengan memperhatikan darah yang keluar dari kemaluannya. Kalau
yang keluar sesuai dengan ciri-ciri haid yang telah disebutkan di atas maka berarti dia
sekarang terkena haid. Tapi kalau tidak sesuai dengan ciri-ciri haid maka berarti dia tetap
suci walaupun ada darah yang keluar. Dalilnya adalah sabda Nabi -shallallahu alaihi
wasallam- kepada Fathimah binti Abi Hubaisy yang terkena istihadhah, “Itu hanyalah
urat yang pecah dan bukan darah haid. Kalau darah haid sudah datang maka
tinggalkanlah shalat dan kalau dia sudah berlalu maka cucilah darah darimu lalu
shalatlah.” (HR. Al-Bukhari no. 306 dan Muslim no. 333)

Tanda Datang dan Selesainya Haid.


Datangnya haid ditandai dengan keluarnya darah hitam lagi busuk, pada waktu-waktu
yang biasanya dia haid di situ.
Adapun selesainya haid, maka bisa diketahui dengan dua cara:
1. Keluarnya al-qashshah al-baidha`, yaitu cairan putih yang keluar dari kemaluannya di
akhir masa adat haid.
Aisyah -radhiallahu anha- berkata kepada para wanita, “Janganlah kalian tergesa-gesa
(mandi suci) sampai kalian melihat al-qashshah al-baidha`,” yang dia maksudkan
adalah tanda suci dari haid. (HR. Malik hal. 59 dan Abdurrazzaq: 1/302)
2. Dengan al-jufuf, yaitu seorang wanita meletakkan kain katun atau yang semacamnya
ke dalam kemaluannya, kalau kainnya kering maka berarti dia telah suci.

Durasi Minimal dan Maksimal Masa Haid.


Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan
masa atau lamanya haid. Ada sekitar enam atau tujuh pendapat dalam hal ini.
Ibnu Al-Mundzir berkata, “Ada sekelompok ulama yang berpendapat bahwa masa haid
itu tidak mempunyai batasan berapa hari minimal atau maksimalnya”.
Pendapat ini seperti pendapat Ad-Darimi di atas dan menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah. Dan itulah yang benar berdasarkan Al Qur’an, Sunnah dan logika.” Selesai
ucapan Asy-Syaikh.
Jadi, tidak ada durasi minimal dan maksimal masa haid, akan tetapi semua ini
dikembalikan kepada adat kebiasaan seorang wanita. Dalilnya adalah firman Allah
Ta’ala, “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu
kotoran”, oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid,
dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci…” (QS. Al Baqarah: 222).
Dalam ayat ini, yang dijadikan Allah sebagai batas akhir larangan adalah kesucian, bukan
berlalunya sehari semalam, atau tiga hari, ataupun lima belas hari. Hal ini menunjukkan
bahwa illat (alasan) hukum (larangan menjauhui istri) adalah haid, yakni ada atau
tidaknya.
Jadi, jika ada haid berlakulah hukum itu dan jika telah suci (tidak haid) tidak berlaku lagi
hukum-hukum haid tersebut. Ini adalah pendapat Ali bin Abi Thalib, Imam Malik,
Maimun bin Mihran, Al-Auzai dan Daud Azh-Zhahiri, serta dikuatkan pula oleh Imam
Ibnu Al-Mundzir, Ibnu Rusyd, Ibnu Taimiah dan Ibnu Rajab.

Usia Minimal dan Maksimal Wanita Terkena Haid.


Tidak ada keterangan dari Al-Kitab dan As-Sunnah dalam masalah ini, maka yang
benarnya dikembalikan kepada adat kebiasaan seorang wanita. Kapan ada darah yang
keluar dari kemaluannya pada masa-masa yang biasanya dia haid di situ dan ciri-cirinya
adalah darah haid, maka itu dihukumi sebagai haid, berapapun usia wanita tersebut.
Asy-Syaikh Muhammad Al-Utsaimin berkata, “Usia haid biasanya antara 12 sampai 50
tahun. Dan kemungkinan seorang wanita sudah mendapatkan haid sebelum usia 12 tahun,
atau masih mendapatkan haid sesudah usia 50 tahun. Itu semua tergantung pada kondisi,
lingkungan dan iklim yang mempengaruhinya. Para ulama, berbeda pendapat tentang
apakah ada batasan tertentu bagi usia haid, di mana seorang wanita tidak mendapatkan
haid sebelum atau sesudah usia tersebut.