You are on page 1of 46

Manual

SISTEM JAMINAN HALAL

PT. SO GOOD FOOD

PT. SO GOOD FOOD UNIT BOYOLALI


Jl. Raya Solo - Boyolali KM 5 Dukuh Pomah
Desa Randusari, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali
2011
Manual
SISTEM JAMINAN HALAL

STATUS REVISI : 00
TGL. BERLAKU : 10 September 2011

PT. SO GOOD FOOD UNIT BOYOLALI

DIBUAT OLEH, DIPERIKSA DAN DISETUJUI OLEH,

Sasetyo Prambodo
(Koordinator Internal Halal Auditor) (Plant Manager)
No. Dokumen : IHA- SGF -01
Sistem Revisi : 00

Jaminan Halal Tanggal : 10 November 2011

PT. SO GOOD FOOD

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Industri daging olahan merupakan salah satu industri pengolahan
pangan yang sudah cukup berkembang di Indonesia, salah satu
industri yang terjun dalam industri daging olahan adalah PT. SO
GOOD FOOD UNIT BOYOLALI. Memproduksi produk halal adalah
bagian dari tanggung jawab perusahaan kepada konsumen muslim.
Kebutuhan akan Makanan Halal sekaligus juga sebagai bagian dari
Hak Asasi Manusia (HAM) yang diakui keberadaanya sehingga harus
dijamin dan dilindungi oleh semua pihak secara bertanggung jawab.
Dalam penyediaan produk makanan halal, aman, dan baik, identitas
produk sangat diperlukan supaya dapat diketahui informasi yang
dibutuhkan mulai dari proses penerimaan bahan mentah sampai
dengan pengiriman produk akhir, sehingga dapat menentramkan batin
konsumen.

Di Indonesia, untuk memberikan keyakinan kepada konsumen bahwa


produk yang di konsumsi adalah halal, maka perusahaan perlu
memiliki Sertifikat halal MUI. Label halal merupakan salah satu bentuk
jaminan atas tangggung jawab produsen makanan terhadap
konsumennya. Dengan jaminan tersebut konsumen dapat lebih
tentram bathinnya. Oleh karena itu sebelum mencantumkan label
Halal produsen terlebih dahulu mengajukan sertifikat halal.

Sebelum produsen mengajukan Sertifikat Halal bagi produknya,


terlebih dahulu menyiapkan suatu Sistem Jaminan Halal yang
didokumentasikan secara jelas dan rinci serta merupakan bagian dari
kebijakan manajemen perusahaan. Dalam pelaksanaannya, sistem
jaminan halal ini diuraikan dalam bentuk panduan halal (Manual Halal).
Tujuan
Tujuan pembuatan panduan halal adalah untuk memberikan uraian
sistem manajemen halal yang dijalankan di PT. SO GOOD FOOD
UNIT BOYOLALI dalam menjaga kesinambungan proses produksi
halal dengan konsisten, sehingga produk yang dihasilkan dapat selalu
dijamin kehalalannya sesuai dengan Syariat Islam yang telah
ditetapkan berdasarkan fatwa MUI.

Profil Perusahaan
PT SO GOOD FOOD UNIT BOYOLALI bergerak di bidang pemotongan
dan pengolahan karkas ayam serta produk-produk hasil olahan daging
ayam dan merupakan bagian dari PT. SO GOOD FOOD. Perusahaan
ini bernaung dalam JAPFA Group. JAPFA Group merupakan
perusahaan besar yang bergerak di bidang agroindustri seperti
pembibitan dan penetasan, pakan ternak, tambak udang, pengolahan
daging lanjutan dan lain-lain. JAPFA Group memiliki Moto Growing
Together Mutual Prosperity ( Berkembang Maju untuk Kepentingan
Bersama).
PT SO GOOD FOOD UNIT BOYOLALI memiliki kantor yang terletak
dalam satu area dengan poultry processing plant dan Further meat
processing plant, yang menempati area seluas 10.000 m 2 dengan luas
bangunan kurang lebih 3.000 m2. Masyarakat dapat mengenal produk-
produk yang dihasilkan di pasaran dengan merek dagang ”So Nice”.

Informasi Dasar Perusahaan

Nama lengkap Perusahaan : PT SO GOOD FOOD


Alamat : Jl. Raya Solo – Boyolali KM 5
Dusun Pomah,
Desa Randusari, Kecamatan Teras
Kabupaten Boyolali
Telp. : (+62276) 3294128
Fax : (+62276) 3294155

Jumlah Karyawan : 349 orang


Kapasitas Produksi : 60 ton per hari
Line : RTE Line ( So Nice )

Daerah Pemasaran : Nasional


Ruang Lingkup Penerapan
Halal Manual ini ditetapkan oleh Pimpinan PT. SO GOOD FOOD UNIT BOYOLALI
yang mengikat seluruh karyawan mulai dari Pengembangan dan Perencanaan,
pembelian dan penerimaan, proses Produksi, serta penyimpanan dan pengiriman.
No. Dokumen : IHA- SGF-01
Panduan Halal Revisi : 00

Tanggal : 10 November 2011

PT. SO GOOD FOOD

1. Kebijakan Halal

Produk - produk yang dihasilkan PT. So Good Food


diproses serta menggunakan bahan-bahan yang halal.
Oleh karena itu semua jajaran mulai dari bagian
pengembangan produk baru, perencanaan, pembelian,
pengolahan dan penyimpanan harus mengikuti kaidah-
kaidah pembuatan produk halal

Roy Heru Wibowo_


Head Of Unit

2. Panduan Halal

A. PENGANTAR
Sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi pangan, status bahan yang dulu
difatwakan halal, setelah ditemukan adanya hal-hal meragukan maka bisa menjadi
berubah fatwanya. Oleh karena itu dalam bab ini disampaikan kedudukan ketetapan
hukum dalam Islam agar dapat diterima mengapa hal tersebut dapat terjadi. Untuk
memberikan pemahaman tentang pengertian halal haram, dalam bab ini disampaikan
pula dasar hukum dari Al Quran serta fatwa MUI terbaru tentang status bahan.
Kedududkan ketetapan hokum dalam islam :

Al-Qur’an : hokumnya bersifat tetap, dan sebagiannya masih bersifat umum, sehingga
memerlukan penjelasan lebih lanjut.
Al-Hadist : merupakan penjabaran aplikatif dari kaidah-kaidah Qur’aniyyah yang
bersifat tetap, sekaligus juga penjelasan lebih lanjut terhadap kaidah-kaidah
yang bersifat umum.
Ijma Sahabat : merupakan kesepakatan para sahabat Nabi SAW dan ulama atas
permasalahan yang terjadi, karena meluasnya wilayah da’wah serta
perkembangan kehidupan social, dan tidak ada ketentuannya secara khusus di
dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Namun keputusan ijma’ itu tentu didasarkan
pada pemahaman mereka atas Al-Qur’an maupun Al-Hadits.
Qiyas : merupakan metoda penentuan hokum secara analogi yang diambil berdasarkan
pada kasus yang telah ditentukan Al-Qur’an maupun Al-Hadits.

Fatwa : adalah keputusan hukum agama yang dibuat dengan ijtihad (ulama), atas hal-
hal yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits berdasarkan kaidah-
kaidah pengambilan dan penentuan hukum, seperti dengan metode qiyas atau ijma’.

B. PENGERTIAN HALAL DAN HARAM


1. Halal adalah boleh. Pada kasus makanan, kebanyakan makanan termasuk halal
kecuali secara khusus disebutkan dalam Al-Qur’an atau Hadits.
2. Haram adalah sesuatu yang Allah SWT melarang untuk dilakukan dengan larangan
yang tegas. Setiap orang yang menentangnya akan berhadapan dengan siksaan
Allah di akhirat. bahkan terkadang juga terancam sanksi syariah di dunia ini.

C. PRINSIP-PRINSIP TENTANG HUKUM HALAL DAN


HARAM
1. Pada dasarnya segala sesuatu halal hukumnya.
2. Penghalalan dan pengharaman hanyalah wewenang Allah SWT semata.
3. Mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram termasuk perilaku syirik
terhadap Allah SWT.
4. Sesuatu yang diharamkan karena ia buruk dan berbahaya.
5. Pada sesuatu yang halal sudah terdapat sesuatu yang dengannya tidak lagi
membutuhkan yang haram.
6. Sesuatu yang mengantarkan kepada yang haram, maka haram pula hukumnya.
7. Menyiasati yang haram, maka haram hukumnya.
8. Niat baik tidak menghapuskan hukum haram.
9. Hati-hati terhadap yang syubhat agar tidak jatuh ke dalam yang haram.
10. Sesuatu yang haram adalah haram untuk semua.
D. HALAL DAN HARAM BERDASARKAN AL – QUR’AN
1. Al-Baqarah 168 : “ Hai sekalian umat manusia makanlah dari apa yang ada di bumi
ini secara halal dan baik. Dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syetan.
Sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagi kalian ”.
2. Al-Baqarah 172-173 : “ Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki
yang baik-baik yang Kami berikan dab bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar
kepada-Nya kalian menyembah. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagi
kalian bangkai, darah, daging, babi dan binatang yang disembelih atas nama selain
Allah. Barang siapa dalam keadaan terpaksa, sedangkan ia tidak berkehendak dan
melampaui batas, maka tidaklah berdosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Pengasih”.
3. Al-Anam 145 : “Katakanlah, saya tidak mendapat pada apa yang diwahyukan
kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi yang memakannya, kecuali bangkai,
darah yang tercurah, daging babi karena ia kotor atau binatang yang disembelih
dengan atas nama Allah. Barang siapa dalam keadaan terpaksa sedangkan ia tidak
menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidaklah berdosa.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih”.
4. Al-Maidah 3 : “Diharamkan bagi kalian bangkai, darah, daging babi, hewan yang
disembelih dengan atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh,
yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas kecuali yang kalian sempat
menyembelihnya. Dan diharamkan pula bagi kalian binatang yang disembelih di sisi
berhala”.
5. Al-Maidah 90-91 : “Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya meminumkan
khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah
perbuatan keji termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu
agar kalian mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syetan itu hendak
menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kalian lantaran meminum khamr
dan berjudi dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan shalat, maka apakah
kalian berhenti dari mengerjakan pekerjaan itu”.
6. Al-Maidah 96 : “Dihalalkan untuk kalian binatang buruan laut dan makanannya”.
7. Al-A’raf 157 : “Dia menghalalkan kepada mereka segala yang baik dan
mengharamkan kepada mereka segala yang kotor”.
E. FATWA MUI UNTUK BEBERAPA BAHAN
1. Khamr
a. Segala sesuatu yang memabukkan dikategorikan sebagai khamr.
b. Minuman yang mengandung minimal 1% ethanol, dikategorikan sebagai
khamr.
c. Minuman yang dikategorikan khamr adalah najis.
d. Minuman yang diproduksi dari proses fermentasi yang mengandung kurang
dari 1% ethanol, tidak dikategorikan khamr tetapi haram untuk dikunsumsi.

2. Ethanol
a. Ethanol yang diproduksi dari industri bukan khamr hukumnya tidak najis atau
suci.
b. Penggunaan ethanol yang berasal dari industri non khamr didalam produksi
pangan diperbolehkan, selam tidak terdeteksi pada produk akhir.
c. Penggunaan ethanol yang berasal dari industri khamr tidak diperbolehkan.

3. Hasil Sampingan Industri Khamr


a. Fusel oil yang berasal dari hasil sampingan industri khamr adalah haram dan
najis.
b. Komponen bahan yang diperoleh dari industri khamr melalui pemisahan
secara fisik adalah haram (contohnya iso amil alcohol), tetapi apabila
direaksikan untuk menghasilkan bahan baru, bahn baru tersebut adalah
halal.

4. Flavor Yang Menyerupai Produk Haram


Flavor yang menggunakan nama dan mempunyai profil sensori produk haram,
contonya flavor rum, flavor babi, dan lain-lain, tidak bisa disertifikasi halal serta
tidak boleh dikonsumsi walaupun ingredient yng digunakan adalah halal.

5. Produk Mikrobial
Produk microbial adalah halal selama ingredient medianya (mulai dari media
penyegaran hingga media produksi) tidak haram dan najis.
6. Penggunaan Alat Bersama
a. Bagi industri yang memproduksi produk halal dan non halal maka untuk
menghindari terjadinya kontaminasi silang, pemisahan fasilitas produksi harus
dilakukan mulai dari tempat penyimpanan bahan, formulasi, proses produksi,
dan penyimpanan produk jadi.
b. Suatu peralatan tidak boleh digunakan bergantian antara produk babi dan
produk non babi meskipun sudah melalui proses pencucian.

F. Beberapa Contoh Bahan Kritis


a. Daging
Daging yang berasal dari hewan halal dapat menjadi tidak halal jika disembelih
tanpa mengikuti aturan syari’at islam. Hal-hal yang menjadi titik kritis proses
penyembelihan adalah sebagai berikut:
a. Penyembelihan (harus seorang muslim yang taat dan melaksanakan syari’at
islam sehari-hari).
b. Pemingsanan (tidak menyebabkan hewan mati sebelum disembelih).
c. Peralatan atau pisau (harus tajam).
d. Proses pasca penyembelihan (hewan harus benar-benar mati sebelum proses
selanjutnya dan darah harus keluar secara tuntas).
Untuk daging impor perlu diperhatikan hal-hal dibawah ini :
a. Harus dilengkapi dengan sertifikat halal dari lembaga yang diakui LP POM MUI.
b. Harus dilengkapi dengan dokumen penghafalan dan dokumen (kesehatan, dan
sebagainya).
c. Harus ada kecocokkan antara sertifikat halal dengan dokumen lain.
d. Harus ada kecocokkan antara dokumen dengan fisik (kemasan, label, dan lain-
lain).
e. Harus ada kecocokkan nomor lot, plant number, tanggal penyembelihan, dan
sebagainya.

b. Bahan Turunan Hewani


Bahan turunan hewani berstatus halal dan suci jika berasal dari hewan halal yang
disembelih sesuai dengan syari’at islam, bukan berasal dari darah dan tidak
bercampur dengan bahan haram atau najis. Berikut ini disampaikan contoh-contoh
bahan turunan hewani / mungkin berasal dari turunan hewani:
a. Lemak
b. Protein
c. Gelatin
d. Kolagen
e. Asam Lemak dan turunannya (E430-E436)
f. Garam atau ester asam lemak (E470-E495)
g. Gliserol / gliserin (E422)
h. Asam amino (contoh : sistein, fenilalanin, dan sebagainya).
i. Edible Bone Phosphate (E521)
j. Di / Trikalsium fosfat
k. Tepung plasma darah.
l. Konsentarat globulin.
m. Febrinogen
n. Media pertumbuhan mikroba (contoh : blood agar)
o. Hormon (contoh: insulin)
p. Enzim dari pancreas babi / sapi (amylase, lipase, pepsin, tripsin)
q. Taurin
r. Plasenta
s. Produk susu, turunan susu, dan hasil sampingannya yang diproses
menggunakan enzim (contoh : keju, whey, laktosa, casein / caseinat)
t. Beberapa vitamin (contoh : vitamin A, B6, D, E)
u. Arang aktif
v. Kuas

c. Bahan Nabati
Bahan nabati pada dasarnya halal, akan tetapi jika diproses menggunakan bahan
tambahan dan penolong yang tidak halal, maka bahan tersebut menjadi tidak halal.
Oleh karena itu alur proses produksi beserta bahan tambahan dan bahan penolong
yang digunakan dalam memproses suatu bahan nabati. Berikut ini disampaikan
beberapa contoh bahan nabati yang mungkin menjadi titik kritis :
a. Tepung terigu dapat diperkaya dengan berbagai vitamin antara lain B1, B2,
Asam folat.
b. Oleoresin (cabe, rempah-rempah dan lain-lain) dapat menggunakan emulsifier
(contoh : polysorbate / tween & glyceril monooleat yang mungkin berasal dari
hewan), supaya dapat larut air.
c. Lesitin kedelai mungkin menggunakan enzim fosfo lipase dalam proses
pembuatannya untuk memperbaiki sifat fungsionalnya.
d. Hydrolyzed Vegetable Protein (HVP) perlu diperhatikan jika proses hidrolisisnya
menggunakan enzim.

d. Produk Hasil Sampingan Industri Minuman Beralkohol dan Turunannya


Produk / bahan hasil sampingan industri minuman beralkohol beserta turunannya
berstatus haram, jika cara memperolehnya hanya melalui perusahaan secara fisik
dan produk masih memiliki sifat khamr. Akan tetapi jika bahan / produk tersebut
direaksikan secara kimia sehingga menghasilkan senyawa baru, maka senyawa
barulah yang telah mengalami perubahan kimiawi statusnya menjadi halal.
Beberapa contoh produk hasil sampingan industri minuman beralkohol dan
turunannya yang merupakan titik kritis:
a. Cognac Oil (merupakan hasil sampingan destilasi cognac / brandy)
b. Fusel Oil (merupakan hasil sampingan destilled beverages) dan turunannya
seperti isoamil alcohol, isobutyl alcohol, propil alcohol, gliserol, asetaldehid 2,3
butanadiol, aseton, diasetil dan sebagainya)
c. Brewer yeast (merupakan hasil sampingan industri bir)
d. Tartaric Acid (hasil sampingan industri sampingan wine)

e. Produk Mikrobial
Status produk microbial dapat menjadi haram, jika termasuk dalam kategori berikut:
a. Produk microbial yang jelas haram, yaitu produk minuman beralkohol (khamr)
beserta produk sampingan dan turunannya.
b. Produk microbial yang menggunakan media dari bahan yang haram pada media
agar, propagasi dan produksi. Contoh media yang haram atau diragukan
kehalalannya diantaranya: darah, pepton (produk hasil hidrolisis bahan
berprotein seperti daging, kasein atau gelatin menggunakan asam atau enzim).
c. Produk microbial yang dalam proses pembuatannya melibatkan enzim dari
bahan yang haram.
d. Produk microbial yang dalam proses pembuatannya menggunakan bahan
penolong yang haram. Contohnya adalah penggunaan anti busa dalam kultivasi
mikroba yang dapat berupa minyak / lemak babi, gilserol atau bahan lainnya.
e. Produk mikroba rekombinan yang menggunakan gen yang berasal dari bahan
yang haram. Contohnya adalah sebagai berikut :
 Enzim -amilase dan protease yang dihasilkan oleh Saccharomyces
cerevisae dengan gen dari jaringan hewan.
 Hormon insulin yang dihasilkan oleh E. coli rekombinan dengan gen dari
jaringan pancreas babi.
 Hormone pertumbuhan (human growth hormone) yang dihasilkan oleh E. coli
rekombinan.

f. Bahan-Bahan Lain
Selain kelompok bahan-bahan di atas, berikut ini adalah contoh bahan/kelompok
bahan lain yang belum sering menjadi titik kritis :
a. Aspartam (terbuat dari asam amino fenilalanin dan asam aspartat)
b. Pewarna alami
c. Flavour
d. Seasoning
e. Bahan pelapis vitamin
f. Bahan pengemulsi dan penstabil
g. Anti busa
h. Dan lain-lain

3. Organisasi Manajemen Halal

Manajemen halal merupakan organisasi internal perusahaan yang mengelola seluruh


fungsi dan aktivitas manajemen dalam menghasilkan produk halal. Dalam mengelola
fungsi dan aktivitas tersebut perusahaan melibatkan seluruh departemen atau bagian yang
terkait dengan sistem berproduksi halal, mulai dari tingkat pengambil kebijakan tertinggi
sampai tingkat pelaksana teknis di lapangan.

Manajemen yang terlibat merupakan perwakilan dari manajemen puncak, Quality


Assurance (QA)/Quality Control (QC), produksi, research and development (R &
D),purchasing, PPIC serta pergudangan. Organisasi manajemen halal dipimpin oleh
seorang Koordinator Auditor Halal Internal (KAHI) yang melakukan koordinasi dalam
menjaga kehalalan produk serta menjadi penanggung jawab komunikasi antara perusahan
dengan LPPOM MUI.
Adapun struktur organisasi yang tergabung sebagai Tim Internal Halal Auditor (IHA)
terdiri dari karyawan PT. Japfa Santori Indonesia yang ditunjuk untuk memastikan bahwa
sistem halal berjalan dengan baik dan benar. Dengan susunan organisasi sebagai berikut :

Koordinator : Sasetyo Prambodo (Dept. QC)

Seksi Kesekretariatan : Febriarini Candra P (Dept. Purchasing)

Seksi Auditoriat : Septian Wijayanto (Dept. Produksi)

Prasetya Yoga P (Dept. Produksi)

Ryan Cahyono (Dept QC)

Margiyanto (Dept Logistic)

Struktur Organisasi Manajemen Halal PT. SO GOOD FOOD BOYOLALI


Persyaratan Auditor halal internal

a. Karyawan tetap perusahaan bersangkutan


b. Koordinator Tim Auditor halal Internal adalah seorang muslim yang mengerti dan
menjalankan syariat Islam
c. Berada dalam lingkup Manajemen Halal
d. Berasal dari bagian yang terlibat dalam proses produksi secara umum seperti bagian
QA/QC, R&D, Purchasing, Produksi dan Pergudangan.
e. Memahami titik kritis keharaman produk,ditinjau dari bahan maupun proses produksi
secara keseluruhan.
f. Diangkat melalui surat keputusan pimpinan perusahaan dan diberi kewenangan
penuh untuk melakukan tindakan yang diperlukan dalam melaksanakan SJH
termasuk tindakan perbaikan terhadap kesalahan sampai pada penghentian produksi
atau penolakan bahan baku, sesuai dengan aturan yang ditetapkan LPPOM MUI

Tugas dan tanggung jawab Auditor Halal Internal adalah:


1. Secara umum bertugas dan bertanggung jawab mengimplementasikan Sistem
Jaminan Halal yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
2. Memonitor proses produksi halal secara menyeluruh mulai dari pemilihan bahan
sampai produk jadi.
3. Mengetahui semua jenis bahan yang digunakan dalam proses produksi telah halal.
4. Memahami titik kritis keharaman produk, ditinjau dari bahan maupun proses
produksi secara keseluruhan.
5. Memahami dokumen-dokumen administrasi yang terkait dengan produksi halal.
6. Mengarsipkan dan memperbaharui dokumen-dokumen pendukung bahan.
7. Memeriksa kesesuaian dokumen dengan bahan.
8. Melakukan konsultasi dengan LPPOM MUI kila akan melakukan suatu perubahan
dalam proses produksi halal.
9. Membuat laporan berkala.
10. Mempersiapkan proses perpanjangan sertifikat halal.
11. Sosialisasi halal dalam perusahaan.

Hak yang diberikan oleh perusahaan terhadap IHA adalah :


1. Mengakses informasi dari seluruh bagian yang berkaitan dengan produksi halal.
2. Wewenang mengambil keputusan dalam hal yang berkaitan dengan produksi halal.
3. Mendapat jaminan perlindungan hokum atas segala keputusan yang diambil
perusahaan yang terkait dengan masalah kehalalan produk.
Uraian Tugas dan Wewenang Auditor halal internal berdasarkan fungsi setiap bagian
yang terlibat dalam struktur manajemen halal :

a. Manajemen puncak
a. Merumuskan kebijakan perusahaan yang berkaiatan dengan kehalalan
produk yang dihasilkan.
b. Memberikan dukungan yang penuh bagi pelaksanaan SJH di perusahaan.
c. Menyediakan fasilitas dan sarana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan SJH.
d. Memberikan wewengan kepada koordinator halal internal untuk melakukan
tindakan tertentu yang dianggap perlu berkaitan dengan pelaksanaan SJH
termasuk tindakan perbaikan terhadap kesalahan sampai pada penghentian
produksi atau penolakan bahan baku, sesuai dengan atutran yang ditetapkan
LPPOM MUI.

b. Riset dan pengembangan (R & D)


a. Menyususn sistem pembuatan produk baru berdasarkan bahan
yang telah disusun oleh KAHI dan diketahui oleh LPPOM MUI
b. Menyusun sistem perubahan bahan sesuai dengan dengan
ketentuan halal.
c. Mencari alternatif bahan yang jelas kehalalannya.
d. Melakukan komunikasi dengan KAHI dalam formulasi dan
pembuatan produk baru.

c.Pengendalian dan Pengawasan Mutu (Quality Assurance / Quality Control)


a. Menyusun dan melaksanakan prosedur pemantaun dan pengendalian untuk
menjamin konsisten produksi halal.
b. Melaksanakan pemeriksaan terhadap setiap bahan yang masuk sesuai
dengan sertifikat halal, spesikasi dan prosedurnya.
c. Melakukan komunikasi dengan KAHI terhadap setiap penyimpang dan
ketidakcocokan bahan dengan dokumen kehalalan.

d. Pembelian (Purchasing)
a. Menyusun prosedur dan melaksanakan pembelian yang
dapat menjamin
b. konsistensi bahan sesuai dengan daftar bahan yang
telah disusun oleh KAHI dan diketahui oleh LPPOM MUI.
c. Melakukan komunikasi dengan KAHI dalam pembelian
bahan baru dan atau pemilihan pemasok baru.
d. Melakukan evaluasi terhadap pemasok dan menyusun
peringkat pemasok berdasarkan kelengkapan dokumen halal.

e. Produksi (Production)
a. Menyusun prosedur produksi yang dapat menjamin kehalalan produk.
b. Melakukan pemantauan produksi yang bersih dan bebas dari bahan haram
dan najis.
c. Menjalankan kegiatan produksi sesuai dengan maktrik formulasi bahan yang
telah disusun oleh KAHI dan diketahui oleh LPPOM MUI.
d. Melakukan komunikasi dengan dengan KAHI dalam proses produksi halal.

f. Pergudangan/PPIC
a. Menyusun prosedur administrasi pergudangan yang dapat
menjamin kehalalan bahan dan produk yang disimpan serta menghindari
terjadinya kontaminasi dari segala sesuatu yang haram dan najis.
b. Melaksanakan penyimpanan produk dan bahan sesuai dengan
daftar bahan dan produk yang telah disusun oleh KAHI dan diketahui oleh
LPPOM MUI.
c. Melakukan komunikasi dengan KAHI dalam sistem keluar masuknya
bahan dari dan ke dalam gudang.

4. Standard Operating Prosedur


Standard Operating Procedurs (SOP) adalah suatu perangkat instruksi yang dibakukan

untuk menyelesaikan suatu proses kerja rutin tertentu. baru. Beberapa SOP dalam SJH

disajikan pada Lampiran .

5. Acuan Teknis

1. Acuan Teknis untuk Bagian Pembelian

a. Daftar bahan meliputi nama bahan, pemasok dan produsen yang telah disusun oleh
KAHI dan diketahui oleh LPPOM MUI.
b. Daftar Lembaga sertifikasi halal yang telah yang diakui LPPOM MUI.
c. Kebijakan dari masing-masing lembaga sertifikasi yang terkait dengan produk
(Sertifikat per pengiriman, wilayah berlakunya Sertifikat Halal, masa berlaku Sertifikat
Halal, logo halal pada kemasan dan lain-lainya).
d. SOP penambahan pemasok baru.

2. Acuan Teknis untuk bagian R & D


a. Daftar bahan meliputi nama bahan, pemasok dan produsen yang telah disusun oleh
KAHI dan diketahui oleh LPPOM MUI
b. Kebijakan dari masing-masing lembaga sertifikasi yang terkait dengan produk
(Sertifikat Halal, masa berlaku Sertifikat Halal, logo halal pada kemasan dan lain-
lain).
c. Tabel hasil identifikasi titik kritis keharaman bahan.
d. SOP penggunaan bahan baru.

3. Acuan Teknis untuk Bagian Produksi


a. Daftar bahan meliputi nama bahan, pemasok dan produsen yang telah disusun oleh
KAHI dan diketahui oleh LPPOM MUI
b. Formulasi/instruksi kerja produksi sesuai dengan matriks bahan.
c. Tabel hasil identifikasi peluang kontaminasi proses produksi dari bahan haram/najis
dan tindakan pencegahannya

4. Acuan Teknis untuk Bagian QC/QA


a. Daftar bahan meliputi nama bahan, pemasok dan produsen yang telah disusun oleh
KAHI dan diketahui oleh LPPOM MUI
b. Kebijakan dari masing-masing lembaga sertifikasi yang terkait dengan produk
(Sertifikat per pengiriman, wilayah berlakunya Sertifikat Halal, masa berlaku
Sertifikat Halal, dan lain-lainya)
c. SOP pemeriksaan bahan.

5. Acuan Teknis untuk Bagian Pergudangan


a. Daftar bahan meliputi nama bahan, pemasok dan produsen yang telah disusun
oleh KAHI dan diketahui LPPOM MUI.
b. Tanda pada kemasan logo, lot number, nama dan alamat / lokasi produksi) yang
harus disesuaikan dengan dokumen kehalalan.
c. Prosedur penyimpanan bahan/produk yang menjamin terhindarnya bahan / produk
dari kontaminasi oleh barang haram dan najis.
d. SOP penerimaan dan penyimpanan bahan.

6. SISTEM ADMINISTRASI
Perusahaan harus mendesain suatu sistem administrasi teringrasi yang dapat ditelusuri
(traceable) dari pembelian bahan sampai dengan distribusi produk. Persyaratan untuk
dokumentasi, termasuk yang dipersyaratkan dan juga disyaratkan oleh perusahaan,
didokumentasikan yang secara efektif diterapkan oleh semua bagian yang
berhubungan. Dokumen mencakup dokumen yang berbentuk hardcopy dan Soft Copy
(dokumen file komputer).

Gambar Struktur Dokumentasi PT. So Good Food

Company Manual

Prosedur terdokumentasi (Standard Operation Procedure)

Rekaman hasil kerja/hasil aktifitas verifikasi operasional

7. Sistem Dokumentasi

Pelaksanaan SJH di perusahaan harus didukung oleh dokumentasi yang baik dan mudah

diakses oleh pihak yang terlibat dalam proses produksi halal termsuk LPPOM MUI

sebagai lembaga sertifikat halal. Dokumen yang harus dijaga antara lain :

1. Pembelian Bahan
2. Penerimaan Bahan
3. Penyimpanan Bahan
4. Riset dan Pengembangan (Formulasi)
5. Produksi ( Proses Produksi dan Pembersihan Fasilitas Produksi)
6. Penyimpanam Produk
7. Distribusi Produk
8. Evaluasi dan Monitoring (laporan berkala)
9. Kegiatan Pelatihan dan Sosialisasi
10. Tindakan Perbaikan atas Ketidaksesuaian
11. Manajemen Review

Contoh dokumen dapat dilihat pada Lampiran.

8. Sosialisasi
SJH yang telah dibuat dan diimplementasikan oleh perusahaan harus disosialisasikan ke
seluruh pemangku kepentingan (stakeholdera) perusahaan termasuk kepada pihak ke
tiga (pemasuk makloon).
Tujuan kegiatan ini adalah agar seluruh pemangku kepentingan memiliki kepedulian
(awareness) terhadap kebijakan halal sehingga timbul kesadaran menerapkan di tingkat
operasional.
Metode sosialisasi yang telah dilakukan dapat berbentuk poster, leaflet, ceramah umum,
buletin internal, audit supplier atau memo internal perusahaan.

9. Pelatihan

Perusahaan perlu melakukan pelatihan bagi seluruh jajaran pelaksana SJH. Untuk
perusahan harus diidentifikasi kebutuhan pelatihan dalam periode tertentu. Pelatihan
harus melibatkan semua personal yang pekerjaannya mungkin mempengaruhi status
kehalalan produk. Pekerjaan yang mungkin mempengaruhi status kehalalan produk
harus diserahkan kepada personal yang kompeten sesuai dengan pendidikan, pelatihan,
dan pengalaman (dala hal ini di bidang pekerjaan dan hukum Islam).

Tujuan dari pelatihan adalah :


1. Meningkatkan pemahaman karyawan tentang pengertian halal haram, pentingnya
kehalalan suatu produk, titik kritis bahan dan proses produksi.
2. Memahami SJH

Bentuk-bentuk pelatihan yang dapat dilakukan :


1. Pelatihan eksternal
a. Pelatihan yang diselenggarakan oleh LPPOM MUI
b. Pelatihan lain yang relevan
2. Pelatihan internal
a. Pelatihan yang diselenggarakan oleh internal perusahaan
b. In-house training

10. Komunikasi Internal dan Eksternal


Perusahaan dalam melaksanakan SJH perlu melakukan komunikasi dengan berbagai
pihak yang terkait baik secara internal maupun eksternal. Untuk itu perusahaan harus
membuat dan melaksanakan prosedur untuk :
1. Melakukan komunikasi internal antara berbagai tingkatan dan fungsi organisasi.
2. Menerima, mendokumentasi, dan menanggapi komunikasi dari pihak luar termasuk
dengan LPPOM MUI.

11. Audit Internal


Pemantauan dan evaluasi SJH pelaksanaannya diwujudkan dalam bentuk audit
internal.
A. Tujuan Audit Internal
1. Menentukan kesesuaian SJH perusahaan dengan standar yang telah ditetapkan
oleh LPPOM MUI.
2. Menentukan kesesuaian pelaksanaan SJH perusahaan dengan perencanaanya.
3. Mendeteksi penyimpangan yang terjadi serta menentukan tindakan perbaikan dan
pencegahan.
4. Memastikan bahwa permasalahan yang ditemukan pada audit sebelumnya telah
diperbaiki sesuai dengan kerangka waktu yang telah ditetapkan.
5. Menyediakan informasi tentang pelaksanaan SJH kepada manajemen dan LPPOM
MUI.

B. Ruang Lingkup Audit Internal


1. Dokumentasi SJH
Pemeriksaan kelengkapan dan kesesuaian dokumen-dokumen pendukung
kehalalan produk yang menyangkut bahan, proses maupun produk di setiap bagian
yang terkait, seperti : daftar bahan, Spesifikasi, sertifikat halal, formula, dokumen
pembelian bahan, dokumen pergudangan, dan sebagainya. Hal-hal yang
diperhatikan adalah :
a. Kelengkapan dokumen SJH
b. Kelengkapan spesifikasi bahan
c. Kelengkapan, keabsahan dan masa berlaku sertifikat halal bahan
d. Kecocokan formula dengan daftar bahan halal
e. Kecocokan dokumen pembelian bahan dengan daftar bahan halal
f. Kelengkapan dan kecocokan dokumen produksi dengan daftar bahan dan
fomula bahan
g. Kelengkapan dan kecocokan dokumen pergudangan dengan daftar bahan
dan daftar produk halal
h. Uji mampu telusur (tracebility) sistem

2. Pelaksanaan SJH
Audit pelaksanaan SJH diperusahaan mencakup :
a. Organisasi Manajemen Halal
b. Kelengkapan Dokumen Acuan Teknis Pelaksanaan SJH
c. Implementasi dokumen
d. Pelaksanaan sosialisasi SJH
e. Pelatihan
f. Komunikasi internal dan eksternal dalam pelaksanaan SJH
g. Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan SJH
h. Pelaporan internal dan eksternal Pelaksanaan SJH
i. Pengambilan bukti berupa from-from atau hal-hal lain tentang pelaksanaan
SJH di perusahaan jka dianggap perlu
j.
Obyek dari audit adalah bukti-bukti pelaksanaan sistem pada setiap bagian yang
terkait mulai dari sistem pembelian bahan, penerimaan bahan, penyimpanan bahan,
pengembangan produk baru, perubahan bahan, perubahan vendor/supllier,
komunikasi internal dan eksternal, perencanaan produksi, proses produksi,
penyimpanan produk jadi, dan transportasi.

C. Pelaksanaan Audit Internal


1. Waktu Pelaksanaan
Audit Halal Internal dilaksanakan sekurang-kurangnya sekali setiap enam bulan atau
pada saat terjadi perubahan-perubahan yang mungkin mempengaruhi status kehalalan
produk seperti : perubahan manajemen, kebijakan, formulasi, bahan, proses maupun
keluhan dari konsumen.
2. Metode Pelaksanaan
Audit halal internal dapat dilaksanakan secara bersamaan dengan audit sistem yang
lain, tetapi formulir audit halal internal dan pelaporannya harus dibuat terpisah dari
audit sistem yang lain. Audit dilakukan dengan metode :
a. Wawancara
b. Pengujian dokumen
c. Observasi lapang dan fisik

3. Pelaksana (Auditor)
Audit Halal Internal dilakukan oleh Tim Auditor Halal Internal. Pelaksana audit internal
dilakukan olek AHI dari departemen yang berbeda (cross audit)
4. Pihak yang Diaudit (Auditee)
Pihak auditee adalah seluruh bagian yang terkait dalam proses produksi halal seperti :
a. Bagian pembelian (Purchasing/PPIC)
b. Bagian pengawasan mutu (QA/QC)
c. Bagian produksi
d. Bagian riset dan pengembangan (R & D)
e. Bagian pergudangan
f. Bagian transportasi
g. Bagian Pengembangan SDM

12. Tindakan Perbaikan


Tindakan perbaikan atas pelaksanaan SJH dilakukan jika pada saat dilakukan audit
halal internal ditemukan ketidaksesuaian pelaksanaannya. Tindakan perbaikan harus
dilakukan sesegera mungkin, jika temuan yang didapatkan berdampak langsung
terhadap status kehalalan produk. Semua bentuk tindakan perbaikan dilakukan oleh
perusahaan dengan dibuat berita acara dan laporannya dan terdokumentasikan
dengan baik.
13. Kaji Ulang Manajemen (Management Review)
Kaji ulang manajemen atas SJH secara menyeluruh harus dilakukan dalam kurun
waktu tertentu misalnya minimal 1 tahun sekali. Kaji ulang dilakukan karena berbagai
hal, antara lain :
1. Perubahan sistem manajemen perusahaan yang mempengaruhi peran SJH secara
menyeluruh atau sebagian, misalnya perubahan peranan auditor halal internal.
2. Ketidaksesuain yang sering ditemukan dalam pelaksanaan SJH.
Kaji ulang manajemen dilakukan dengan melibatkan seluruh bagian yang terlibat
dalam SJH termasuk manajemen puncak. Pertemuan kaji ulang dilaporkan dan
dibuat rekamannya.
LAMPIRAN
Standard Operation Procedure Purchasing
No Dokumen : PCH / SOP / SJHBY -01 Tgl Dibuat : 27 Oktober 2011

Internal Halal Auditor No Revisi : 00


Halaman : 24 dari 46 Tgl Revisi :
PT. SO GOOD FOOD

PENGADAAN,SELEKSI & EVALUASI SUPPLIER


I. TUJUAN

Prosedur ini menjelaskan tentang pelaksanaan pembelian barang atau jasa dari setiap
departemen terkait sesuai spesifikasi yang diminta, serta tentang cara seleksi dan evaluasi
supplier barang atau jasa agar barang atau jasa yang disuplai sesuai dengan persyaratan
spesifikasi..

II. RUANG LINGKUP

Prosedur ini berlaku mulai dari terbitnya PPBJ sampai diterimanya barang dengan baik oleh
departemen terkait dan permintaan seleksi supplier sampai diterbitkannya daftar supplier
terseleksi.

III. REFERENSI

LMH 2009
ISO 22000:2005

IV. DEFINISI

NO. ISTILAH PENJELASAN


1 Supplier Badan Usaha/ Pabrik/ Perorangan yang memasok barang
dan jasa kepada PT SO GOOD FOOD.

2 Forwarder Pihak ketiga, penyedia jasa pengurusan import & eksport.

3 Request for Quotation Permintaan penawaran

V. URAIAN PROSEDUR

A. Seleksi dan Evaluasi Suplier

1. Staf Purchasing menerima Permohonan Pembelian Barang / Jasa dari seluruh


departemen yang membutuhkan dan mencari suplier dari Vendor List dan LMH.

2. Jika terdapat dalam daftar supplier, maka lakukan Standart Operating Procedure
Pengadaan. Jika tidak ada maka mencari supplier dan meminta quotation kepada supplier.
Quotation didapatkan dari supplier berupa konfirmasi via telepon, fax, e-mail, surat.

3. Staf Purchasing dan departemen terkait menseleksi supplier berdasarkan kriteria :


a. Persetujuan R&D
b. Harga
c. Spesifikasi Produk
Standard Operation Procedure Purchasing
No Dokumen : PCH / SOP / SJHBY -01 Tgl Dibuat : 27 Oktober 2011

Internal Halal Auditor No Revisi : 00


Halaman : 25 dari 46 Tgl Revisi :
PT. SO GOOD FOOD

PENGADAAN,SELEKSI & EVALUASI SUPPLIER


d. Kelengkapan dokumen (termasuk dokumen halal)

4. Apabila supplier tidak sesuai dengan seleksi, maka staf Purchasing membuat permintaan
penawaran atau mencari supplier baru. Bila sesuai, buat atau masukan ke dalam daftar
supplier.

5. Staf Purchasing melakukan evaluasi terhadap supplier-supplier yang masuk ke dalam


daftar supplier setiap satu kali / tahun. Berdasarkan kriteria :

6. Kualitas dengan meminta masukan dari departemen terkait (misal kelengkapan sertifikat
halal bagi produknya).

7. Ketepatan waktu pengiriman dengan meminta masukan dari departemen Logistik.

8. Bagi supplier yang lulus evaluasi, tetap dimasukkan ke dalam daftar supplier. Bagi yang
tidak lulus, staf Purchasing akan membuat surat teguran.

9. Bagi supplier yang setelah 3 kali berturut – turut diberikan surat teguran dan tidak ada
perubahan maka supplier tersebut dihapus dari daftar supplier, kecuali apabila supplier
tersebut adalah single supplier.

B. PENGADAAN PEMBELIAN LOKAL

1. Staf Purchasing menerima Permohonan Pembelian Barang / Jasa) dari


seluruh departemen yang membutuhkan dan melihat kelengkapannya. Jika tidak lengkap,
maka menghubungi departemen terkait. Jika lengkap, hubungi supplier terpilih.

2. Pembelian ayam, bahan baku halal seperti daging ayam, daging sapi,
udang dari Japfa Group dan supplier lainnya (dengan melihat LMH).

3. Apabila supplier memenuhi persyaratan yang diminta, maka menerbitkan


Purchase Order (PO).

4. Setelah PO diterbitkan, staf Purchasing memantau kedatangan barang


dengan berkoordinasi dengan departemen Logistik.

5. Apabila kedatangan barang terlambat dan mengganggu proses produksi, staf Purchasing
segera memberikan informasi pada bagian terkait.
C. PENGADAAN PEMBELIAN IMPORT

1. Staf Purchasing pembelian barang import menyiapkan dokumen import


untuk clearance, setelah Po diterbitkan. Dokumen impor terdiri dari Invoice, B/L/ AWB,
Packing List, Halal Certificate, Certificate of Analysis, Surat Rekomendasi Impor dari Badan
POM (untuk raw material, bagi yang memiliki).
Standard Operation Procedure Purchasing
No Dokumen : PCH / SOP / SJHBY -01 Tgl Dibuat : 27 Oktober 2011

Internal Halal Auditor No Revisi : 00


Halaman : 26 dari 46 Tgl Revisi :
PT. SO GOOD FOOD

PENGADAAN,SELEKSI & EVALUASI SUPPLIER


2. Namun ada beberapa raw material yang tidak menggunakan Surat
Rekomendasi Impor dari Badan POM, atas dasar sistem National Single Windows
(Larangan Batas – LAR TAS).

3. Staf Purchasing menghubungi pihak forwarder untuk melakukan clearance barang yang
diimport.

Pastikan dilakukan pengisian, penulisan nama jelas dan penandatanganan secara lengkap
pada formulir-formulir yang berlaku.

VI. LAMPIRAN

A. FORMULIR

B. Purchase Order (PO) (PCH/SOP-02/FM-01)


C. Permohonan Pembelian Barang / Jasa (PCH/SOP-02/FM-02)

.
Standard Operation Procedure Logistik
No Dokumen : LOG / SOP / SJHBY -01 Tgl Dibuat : 27 Oktober 2011
Internal Halal auditor No Revisi : 00
Halaman : 27 dari 46 Tgl Revisi :
PT. SO GOOD FOOD

PENERIMAAN MATERIAL
I. TUJUAN

Prosedur ini menjelaskan proses penerimaan barang untuk memastikan bahwa barang yang
diterima sesuai dengan persyaratan.

II. RUANG LINGKUP

Prosedur ini berlaku untuk penerimaan barang kebutuhan pembuatan produk.

III. REFERENSI

ISO 22000:2005 :

1. Klausul 4.1. (Sistem Manajemen Keamanan Pangan) Persyaratan


Umum.
2. Klausul 4.2.1. (Persyaratan Dokumentasi) Umum.
3. Klausul 7.2 Prerequisite Programmes (PRPs)

IV. DEFINISI

NO. ISTILAH PENJELASAN


1 Material Semua bahan yang digunakan dalam proses produksi, baik
itu bahan baku, bumbu maupun bahan pembungkus.

2 Supplier / Vendor Lembaga atau perorangan yang mengirim material sesuai


perjanjian pesanan yang dibuat.

V. URAIAN PROSEDUR

1. Departemen Logistik menerima material / barang berdasarkan :


a. Surat Jalan dari supplier.
b. Salinan Purchase Order dari departemen Purchasing.
c. Packing list untuk material tertentu.
d. COA untuk material tertentu.
e. Sertifikat halal untuk material tertentu
2. Departemen Logistik dan QC melakukan pemeriksaan material yang
dibawa oleh supplier. Logistik (gudang) memeriksa kesesuaian antara Surat Jalan, salinan
PO dan barang, sedangkan QC memeriksa kondisi barang dan kendaraan sesuai dengan
Work Instruction Pemeriksaan Barang Masuk.

3. Jika tidak sesuai, maka akan diinformasikan kepada departemen


Purchasing. Namun jika sesuai, maka barang dapat dibongkar.

Standard Operation Procedure Logistik


No Dokumen : LOG / SOP / SJHBY -01 Tgl Dibuat : 27 Oktober 2011
Internal Halal auditor No Revisi : 00
Halaman : 28 dari 46 Tgl Revisi :
PT. SO GOOD FOOD

PENERIMAAN MATERIAL
4. Apabila material (Minced) diperlukan pengujian, maka QC akan
melakukan pengujian.

5. Hasil dari pengujian lulus, material dapat langsung disimpan. Bila


hasil pengujian tidak lulus, akan dilakukan standart operating prosedur Penanganan
Barang Tidak Sesuai.

6. Namun apabila tidak perlu dilakukan pengujian, maka dilakukan


pemeriksaan kualitas dan jumlah barang.

7. Jika material sesuai dalam kualitas dan jumlah, maka dapat


langsung disimpan.

8. Jika kualitas tidak sesuai, oleh QC dilakukan penanganan terhadap


barang tidak sesuai atau dikembalikan ke supplier. Jika jumlah tidak sesuai, oleh Logistik
(gudang) dibuatkan Bukti Barang / Jasa Masuk (BBJM) sesuai dengan jumlah material
yang diterima, kemudian material dapat disimpan. Atau material dikembalikan ke supplier.

9. Setelah material disimpan, departemen Logistik / gudang akan


melakukan up date (perbaharui) data SAP.

PENYIMPANAN MATERIAL

1. Sebelum disimpan, material diperiksa status barangnya.

2. Material disimpan berdasarkan jenisnya. Untuk material yang penyimpanannya dilakukan di


ruang pendingin, oleh inspektur QC dilakukan pemantauan dan pengukuran suhu.

Pastikan dilakukan pengisian, penulisan nama jelas dan penandatanganan secara lengkap
pada formulir-formulir yang berlaku.

VI. LAMPIRAN

A. WORK INSTRUCTION

e. Penerimaan Barang

B. FORMULIR
1. Bukti Barang / Jasa Masuk (BBJM)
2. Raw Material Receiving (Ingredient)
3. Raw Material Receiving (Wet Ingredient)
4. Raw Material Receiving (Carton, Plastik)
5. Raw Material Receiving (Chemical Agent)

Standard Operation Procedure Quality Control


No Dokumen : QC / SOP /SJHBY -01 Tgl Dibuat : 27 Oktober 2011
Internal Halal Auditur No Revisi : 00
Halaman : 29 dari 46 Tgl Revisi :
PT. SO GOOD FOOD

PENGUJIAN

I. TUJUAN

Prosedur ini menjelaskan tentang pengujian terhadap sampel yang diterima untuk memastikan
bahwa hasil pengujian dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.

II. RUANG LINGKUP

Prosedur ini berlaku untuk semua sampel yang diperiksa di laboratorium dan dari barang
datang (status Quality Inspection di SAP untuk pemeriksaan fisikal daging).

III. REFERENSI

ISO 22000:2005 :

1. Klausul 4.1. (Sistem Manajemen Keamanan Pangan) Persyaratan Umum.


2. Klausul 4.2.1. (Persyaratan Dokumentasi) Umum.
3. Klausul 7.2 Prerequisite Programmes (PRPs)

IV. DEFINISI

NO. ISTILAH PENJELASAN


1 Sampel Cuplikan contoh yang diambil mewakili lot tertentu.

2 CoA Sertifikat analisis yang berisi hasil pengujian fisik, kimia


atau mikrobiologi dari produk tertentu.

3 Penyimpangan Hasil pengujian tidak sesuai standar yang ditetapkan.

V. URAIAN PROSEDUR
A. PENGUJIAN SAMPEL LABORATORIUM

1. Inspektur QC menerima sampel yang berasal dari departemen-departemen atau


mengambil sampel langsung di lapangan untuk diperiksa dengan melengkapi formulir
Pengambilan Sampel QC.

2. Sampel yang telah diterima dicatat pada Logbook, sebelum sample dikirim ke
laboratoriumn Eksternal

3. Supervisor QC menerima Laporan Hasil Uji Eksternal.

Standard Operation Procedure Quality Control


No Dokumen : QC / SOP /SJHBY -01 Tgl Dibuat : 27 Oktober 2011
Internal Halal Auditur No Revisi : 00
Halaman : 30 dari 46 Tgl Revisi :
PT. SO GOOD FOOD

PENGUJIAN
4. Supervisor QC mengevaluasi hasil pengujian.

5. Apabila dari hasil pemeriksaan tidak terjadi penyimpangan, maka Supervisor QC


akan menginformasikan ke bagian terkait dan membuat CoA bila diperlukan.

6. Apabila hasil pengujian terjadi penyimpangan, maka Analis Laboratorium akan


mengulang pengujian jika diperlukan.

7. Jika tidak diperlukan pengujian ulang maka Supervisor QC akan menginformasikan


ke bagian terkait dan membuat CoA bila diperlukan.

8. Hasil pengujian yang diberikan berupa list kode sample dan hasil analisa

B. PENGUJIAN BARANG DATANG

1. Inspektur QC mengambil sampel langsung di lapangan untuk diperiksa apabila


hasil pemeriksaan kelengkapan dokumen (CoA, nama bahan, pemasok, dan produsen)
dengan referensi LMH yang terbaru telah lengkap dimana untuk sertifikat Halal harus
memperhatikan wilayah dan masa berlakunya sertifikat, serta sertifikat perpengiriman
lalu melengkapi:

a) Bon Permintaan Barang


b) Slip Penyerahan Barang

2. Inspektur QC melakukan pengujian sesuai dengan Work Instruction Pengujian


Barang Datang. Hasil pengujian dibuat pada formulir Raw Material Receiving dan
Inspeksi Fisik Bahan Mentah.

3. Supervisor QC mengevaluasi hasil pengujian.

4. Apabila dari hasil pengujian tidak terjadi penyimpangan, maka Supervisor QC


akan menginformasikan ke bagian terkait.

5. Jika hasil pengujian terjadi penyimpangan, maka Inspektur QC akan mengulang


pengujian jika diperlukan.
6. Jika tidak diperlukan pengujian ulang, maka Supervisor QC akan,
menginformasikan hasil pengujian ke departemen terkait.

7. Hasil pengujian yang diberikan berupa :


a. RMR untuk sampel dari Logistik.
b. Informasi lainnya berupa email diberikan ke bagian terkait. Contoh : informasi
penolakan barang karena hasil pengujian menyimpang, diberikan ke departemen
Purchasing.

Standard Operation Procedure Quality Control


No Dokumen : QC / SOP /SJHBY -01 Tgl Dibuat : 27 Oktober 2011
Pastikan dilakukan pengisian,Internal
penulisan nama jelas dan penandatanganan
Halal Auditur No Revisi : 00 secara lengkap
pada formulir-formulir
Halaman : 31 dari 46 yang berlaku.
Tgl Revisi :
PT. SO GOOD FOOD

PENGUJIAN
VI. LAMPIRAN

A. WORK INSTRUCTION

f. Pengujian Barang Datang

B. FORMULIR

3. Pengambilan Sampel QA
4. Tanda Terima Sampel Laboratorium
5. Laporan Hasil Laboratorium
6. Monitoring Incubator
Inspeksi Fisik Bahan Mentah Ayam (Minced)
Standard Operation Procedure Research & Development
Internal Halal Auditor Tgl Dibuat : 27 Oktober 2011
No Dokumen : RND/SOP/SJHBY-01 No Revisi : 00
Halaman : 32 dari 46 Tgl Revisi : -
PT. SO GOOD FOOD

PERENCANAAN PENGEMBANGAN
I. TUJUAN

Prosedur ini menjelaskan proses perencanaan pengembangan produk agar produk yang
dihasilkan dapat memenuhi ketentuan Halal.

II. RUANG LINGKUP

Prosedur ini berlaku untuk pengembangan produk regular dan pembuatan produk baru mulai
dari penerimaan permintaan sampai dengan dikeluarkan formulasi sementara.

III. REFERENSI

LMH 2009

ISO 22000:2005

IV. DEFINISI

NO. ISTILAH PENJELASAN


1 Formula Sementara Formulasi yang belum disetujui / disahkan.

3. URAIAN PROSEDUR

1. Departemen-departemen atau customer dapat memberikan usulan


produk baru / pengembangan dari produk lama kepada departemen R&D dengan
mengisi Formulir Permintaan Pengembangan Produk.

2. Departemen R&D menerima permintaan pengembangan produk dan


melakukan evaluasi kelayakan pengembangan.

3. Jika hasil evaluasi, usulan pengembangan produk tidak layak maka


dikembalikan pada pihak yang mengusulkan. Namun jika layak akan disetujui oleh
marketing, R&D, QA, Produksi, Plant Managerdan HOU. Sedangkan untuk permintaan
produk baru akan disetujui oleh juga oleh Product Manager. Kemudian dibuat jadwal
rencana pengembangan.

4. Departeman R&D mencari sampel bahan di supplier sesuai produk


yang akan dibuat. Samplel bahan dari suplier dapat dilihat dari LMH yang telah diketahui
LPPOM MUI, apabila tidak ada dalam daftar maka sampel bahan harus mempunyai
sertifikat halal, diagram alir proses, dan spesifikasi bahan. Sertifikat halal Sampel bahan
impor harus dari badan/lembaga yang telah diketahui LPOM MUI.

5. Departemen R&D membuat formula sementara untuk produk baru.


Standard Operation Procedure Research & Development
Internal Halal Auditor Tgl Dibuat : 27 Oktober 2011
No Dokumen : RND/SOP/SJHBY-01 No Revisi : 00
Halaman : 33 dari 46 Tgl Revisi : -
PT. SO GOOD FOOD

PERENCANAAN PENGEMBANGAN
6. Berdasarkan formula sementara, departemen R&D menyiapkan
bahan atau alat untuk melakukan laboratorium trial.

7. Setelah laboratorium trial, departemen R&D melakukan evaluasi dan


presentasi hasil trial. Evaluasi ini juga menetapkan keamanan design produk / bentuk
produk.

8. Kemudian departemen R&D melakukan evaluasi dan presentasi


terhadap hasil scale up

9. Apabila produk profile telah memenuhi harapan konsumen maka


dilanjutkan Registrasi halal & MD. Registrasi Halal dan MD, untuk produk permintaan
customer dan RPA dilakukan oleh IHA

Pastikan dilakukan pengisian, penulisan nama jelas dan penandatanganan secara lengkap
pada formulir-formulir yang berlaku.

VI. LAMPIRAN

A. FORMULIR

1. Permintaan Pengembangan Produk

2. Serah Terima Dokumen

.
Work Instruction Quality Control
No Dokumen : Tgl Dibuat : 27 Oktober 2011
Internal Halal Auditur No Revisi : 00
Halaman : 34 dari 46 Tgl Revisi :
PT. SO GOOD FOOD

PENGUJIAN BARANG DATANG


I. TUJUAN

Sebagai pedoman kerja bagi petugas dalam menguji barang yang datang ke PT. SO GOOD
FOOD UNIT BOYOLALI

II. RUANG LINGKUP

Pengujuan bahan baku dan bahan pengemas di PT SO GOOD FOOD UNIT BOYOLALI.

III. ALAT & BAHAN

 Termometer
 Tube
 Sticker
 Plastik PE
 Krat plastik
 Sendok
 Plastik Klip
 Timbangan
 Penggaris
 Cutter
 Pisau/golok
 Meja fisikal
 Kertas label
 Lakban

IV. URAIAN INSTRUKSI

A. KEDATANGAN BAHAN BAKU MINCED

 Periksa jenis item barang dan jumlahnya dari copy Surat Jalan dan jika ada Packing List
atau sertifikat halal maka periksa apakah tanggal produksi/tanggal pemotongan/POD
memenuhi spesifikasi atau tidak. Jika CoA disertakan, periksa apakah memenuhi
standar yang ada.
 Periksa suhu mobil dengan melihat display thermometer pada mobil.
 Periksa kondisi kendaraan meliputi lantai, atap dan dinding. Pastikan ada dalam kondisi
bersih dan tidak ada penyimpangan bau.
 Lakukan pengukuran suhu awal pada barang dari tiga (3) titik secara acak, perhatikan
juga kondisi barang dari tanda-tanda kemungkinan barang thawing.
 Ukur suhu pada barang di bagian tengah dan belakang mobil secara acak bersamaan
dengan pembongkaran barang.
 Lakukan inspeksi fisikal.
 Hasil pengujian dicatat pada form Raw Material Receiving dan Inspeksi Fisik
 Jika hasil memenuhi standar maka barang release, barang bisa diterima
 Jika diperlukan ambil secara aseptis 100 gram untuk sampel mikrobiologi.
 Jika hasil tidak memenuhi standar maka Inspector QC memberikan laporan kepada
Supervisor QC untuk ditindak lanjuti (tindakan lanjut dapat berupa Penolakan barang,
re-sampling atau sortir yang hasilnya akan diinformasikan melalui form RMR atau
email).

Catatan :
1. Jika CoA tidak disertakan pada saat barang datang, pemeriksaan hasil analisa
mikrobiologi dilakukan setelah supplier memberikan CoA.
2. Jika sertifikat halal tidak sertakan pada saat barang datang, maka lihat "List Material
Halal" untuk memastikan kehalalan barang.

B. KEDATANGAN BAHAN BAKU BUKAN DAGING

 Periksa jenis barang dan jumlahnya dari copy Surat Jalan.


 Periksa sertifikat halal, apakah sesuai dengan barang yang datang atau tidak. Jika tidak
ada sertifikat halal maka lihat "List Material Halal" untuk memastikan kehalalan barang.
 Periksa CoA apakah memenuhi standar atau tidak (fisik, kimia, mikrobiologi).
 Periksa kondisi kendaraan meliputi lantai, atap dan dinding. Pastikan dalam kondisi
bersih, tidak ada penyimpangan bau, tidak ada kutu/serangga dan barang non pangan.
 Jika ada penyimpangan, inspektor QC lapor ke Supervisor QC untuk keputusan lebih
lanjut.
 Jika keputusannya tidak diterima, maka barang tidak dibongkar dan dikembalikan ke
supplier
 Jika keputusannya diterima maka QC memeriksa identitas barang sesuai yang
tercantum dalam CoA dan umur barang sesuai dengan standar yang ditetapkan.
 Sampel diambil secara acak berdasarkan Tabel MIL STD 105 D GIL II.
 Periksa keutuhan kemasan (kemasan bersih, tidak terbuka/bocor, tidak ada tanda-tanda
kelembaban).
 Periksa kondisi barang (penampakkan, warna, bau, rasa, benda asing kutu/ serangga)
 Hasil pengujian dicatat pada form Raw Material Receiving (ingredient).
 Jika hasil memenuhi standar maka barang release dan dapat dibongkar.

 Jika diperlukan ambil secara aseptis 100 gram untuk sampel mikrobiologi dan retained
sampel sebanyak 100 - 300 gram.

C. KEDATANGAN BAHAN KEMASAN


1. Kemasan Plastik
 Periksa jenis item barang dan jumlahnya dari copy Surat Jalan. Jika CoA disertakan,
periksa apakah memenuhi standar yang ada.
 Periksa kondisi kendaraan meliputi lantai, atap dan dinding. Pastikan ada dalam kondisi
bersih, kering, tidak ada penyimpangan bau dan tidak ada kutu/serangga.
 Ambil sampel secara acak diambil per pallet (sesuai metode sampling bahan
kemasan).
 Lakukan inspeksi fisik terhadap warna dasar, kelengkapan label, keutuhan seal
kemasan, kebersihan kemasan dan kekuatan seal.
 Lakukan pengukuran terhadap berat, panjang, lebar dan tebal (3 pcs / kedatangan)
 Hasil pengujian dicatat pada form Raw Material Receiving.
 Jika hasil memenuhi standar maka barang release dan dapat dibongkar.
 Jika hasil tidak memenuhi standar maka barang ditolak (barang tidak dibongkar dan
dikembalikan ke supplier) atau barang berstatus HOLD, per pallet dipasang stiker
HOLD (tindakan lanjut dapat berupa re-sampling atau sortir yang hasilnya akan
diinformasikan melalui RMR atau email)

2. Kemasan Karton
 Periksa jenis item barang dan jumlahnya dari copy Surat Jalan. Jika CoA disertakan,
periksa apakah memenuhi standar yang ada.
 Periksa kondisi kendaraan meliputi lantai, atap dan dinding. Pastikan ada dalam kondisi
bersih, kering, tidak ada penyimpangan bau dan tidak ada kutu/serangga)
 Ambil sampel secara acak diambil per pallet (sesuai metode sampling bahan kemasan).
 Lakukan inspeksi fisik terhadap warna dasar, kelengkapan label, keutuhan seal dan
kebersihan kemasan.
 Lakukan pengukuran terhadap berat, panjang, lebar dan tebal (3 pcs / kedatangan).
 Hasil pengujian dicatat pada form Raw Material Receiving.
 Jika hasil memenuhi standar maka barang release dan dapat dibongkar.
 Jika hasil tidak memenuhi standar maka barang ditolak (barang tidak dibongkar dan
dikembalikan ke supplier) atau barang berstatus HOLD, per pallet dipasang stiker
HOLD. (tindakan lanjut dapat berupa re-sampling atau sortir yang hasilnya akan
diinformasikan melalui RMR atau email).
DIBUAT OLEH : DIPERIKSA &DISETUJUI OLEH :

Usman Artanto Sasetyo Prambodo


(Supervisor QC) (Head of QC)

Work Instruction Logistik


PT. SO GOOD FOOD
No Dokumen : LOG/SOP-01/WI-01 Tgl Dibuat : 10 Oktober 2008
No Salinan : 05 No Revisi : 01
Halaman : 37 dari 1 Tgl Revisi : 25 Maret 2010

PENERIMAAN BARANG

I. TUJUAN

Instruksi ini menjelaskan pedoman kerja dalam melakukan proses penerimaan barang.

II. RUANG LINGKUP

Ruang lingkup Work Instruction meliputi semua barang yang diterima PT. SO GOOD FOOD
UNIT BOYOLALI. Pelaksanaan Logistik (gudang) dan QC

III. PERALATAN

b. Forklift
c. Pallet mover

IV. URAIAN INSTRUKSI

d. Periksa surat jalan yang dibawa oleh pengirim material / barang yang bersangkutan.
e. Informasi pada Departemen QC bagian penerimaan barang, bahwa ada material /
barang yang dating.
f. Cocokan surat jalan yang dibawa pengirim dengan salinan PO / PO di system
g. Turunkan material / barang dari kendaraan jika sudah mendapatkan persetujuan
dari pihak QC.
h. Turunkan barang sambil dihitung jumlah barang, apakah sesuai dengan surat jalan
atau tidak.
i. Jika ada yang tidak tepat jumlahnya, informasikan pada bagian pengadaan maupun
administrasi penerimaan barang.
j. Administrasi logistik membuat Bukti Barang Jasa Masuk (BBJM) dan melakukan up
date (perbaharui) data pada SAP
k. Administrasi logistic membuat Transfer Order Put away untuk barang yang disimpan
di gudang dengan program WMS
l. Barang disimpan di gudang sesuai TO Putaway.
No. Dokumen : IHA- SGF-01

Lampiran Revisi : 00

Tanggal : 10 November 2011

PT. SO GOOD FOOD

Pohon Keputusan Untuk Identifiksi Titik Kritis

Keharaman

A. Identifikasi Titik Kritis Bahan

A.1. Identifikasi Titik Kritis Bahan Nabati


Bahan Nabati

Pengolahan ?

Tidak Ya

Non TK Kultivasi microbial ?

Ya Tidak

Fermentasi + bahan
khamr ? tambahan ?

Tidak Ya
Tidak Ya

TK Haram
Non TK TK

Catatan :
 TK : Titik Kritis
 Non TK : Tidak Kritis
 TK untuk Bahan dikaji lebih lanjut pada Prosedur Penetapan Status
Bahan
 Bahan nabati yang diperiksa dalam Penetapan Titik Kritis ini adalah
bahan nabati yang status awalnya halal, bukan bahan nabati yang sudah
mendapat status keharaman yang terlebih dahulu, seperti ganja, cocain,
opium, dan lain-lain.

No. Dokumen : IHA- SGF-01

Lampiran Revisi : 00

Tanggal : 10 November 2011

PT. SO GOOD FOOD

A.2. Identifikasi Titik Kritis Bahan Hewani

Bahan Hewani

Susu, Telur, Ikan Daging dan hasil samping (lemak, tulang, kulit,
dll)

Ada Pengolahan ? Apakah daging dan hasil samping berasal dari

Hewan Halal ?

Ya Tidak
Tidak Ya

TK Non TK
Haram
Apakah Hewan disembelih

sesuai dengan Syari’at Islam

dan memiliki SH MUI atau

Tidak
Ya

Tidak Boleh Digunakan

TK
Ya
Ada
Pengolahan
Lanjutan

Tidak

Non

TK
No. Dokumen : IHA- SGF-01

Lampiran Revisi : 00

Tanggal : 10 November 2011

PT. SO GOOD FOOD

A.3 Identifikasi Tiitk Kritis Produk Mikrobial

Produk
Mikrobial

TK

 Semua microbial merupakan titik kritis

 Titik kritis terletak pada media, baik media penyegaran hingga media

produksi ( Bisa nabati atau hewani )

A.4.Identifikasi Titik Kritis Bahan Lain-lain

Bahan Lain-lain

Bahan Sintetik Campura

TK
Organik
Non Organik

TK
Apakah mengandung bahan
Non TK penolong
Tidak ya

Non TK TK

No. Dokumen : IHA- SGF-01

Lampiran Revisi : 00

Tanggal : 10 November 2011

PT. SO GOOD FOOD

B. Identifikasi Titik Kritis Penyimpanan dan Line Produksi


Apakah semua produk disertifikasi halal ?

Ya
Tidak
Apakah ada peluang terkontaminasi
Apakah produk sejenis non sertifikasi
bahan-bahan haram/najis ?
menggunakan merk yang sama ?

Ya Tidak Ya Tidak

TK 1 Non TK
Tidak dapat Apakah bahan untuk produk

disertifikasi non sertifiksi mengandung

Tidak Ya

Apakah line produksi, penyimpanan bahan


Tidak dapat
dan produk untuk produk disertifikasi
disertifikasi
Ya Tidak

Non TK Apakah prosedur sanitasi yang

dilakukan dapat menghilangkan


Tidak Ya

Tidak dapat Apakah ada peluang


terkontaminasi bahan-
bahan haram/najis ?

Ya Tidak

TK 2 Non
TK

No. Dokumen : IHA- SGF-01

Lampiran Revisi : 00

Tanggal : 10 November 2011

PT. SO GOOD FOOD

Catatan :
1. LP POM MUI merekomendasikan agar perusahaan yang mengajukan
sertifikat halal mensertifikat semua produknya pada semua pabrik dan
line produksi yang dimilikinya.
2. Perusahaan harus menjga agar yang disertifikasinya tidak tercemar
dengan barang haram dan najis.
3. jika perusahaan hanya mensertifikasi sebagian produknya, maka produk
yang tidak disertifikasi tidak boleh menggunakan merek yang sama
dengan produk yang disertifikasi, tidak mengndung babi atau bahan
turunan babi.
4. line produksi, tempat penyimpanan bahan atau produk yang disertifikasi
dan yang tidak disertifikasi harus terpisah secara nyata.
5. TK 1 adalah kontaminasi dari lingkungan (hewan peliharaan, burung,
cicak dan lain-lain) dan karyawan (catering, makanan, minuman)
6. Untuk TK 1 perlu dilakukan pencegahan dengan cara :
1. Penutupan tempat-tempat terbuka yang memungkinkan terjadinya
kontaminasi.
2. Karyawan dilarang untuk membawa makanan dan minuman
keruang produksi.
7. TK 2 adalah kontaminasi silang dari bahan-bahan yang tidak disertifikasi
(bahan-bahan haram atau najis selain babi).
8. Untuk TK 2 perlu dilakukan pencegahan melalui pemisahan secara fisik
dan administrasi antara bahan untuk produk yang disertifikasi halal dan
yang tidak.

LAPORAN Internal Halal Auditor


KETIDAKSESUAIAN
PT. SO GOOD FOOD

NO. LK (nu/na/bln/thn) DEPT./BAGIAN AUDITEE


TANGGAL AUDIT KRETERIA AUDIT

Uraian Ketidaksesuaian (di isi Auditor)

Nama Tanda Tangan Tgl Penyelesaian Koreksi


Auditor
Auditee
Atasan Langsung
Atasan dari Atasan Langsung

ANALISIS PENYEBAB KETIDAKSESUAIAN (diisi Auditee)


KOREKSI (diisi Auditee)

TINDAKAN KOREKTIF (diisi Auditee)

TANGGAL PENYELESAIAN
NAMA TANDA TANGAN
TINDAKAN KOREKTIF
Auditee
Atasan Langsung
Atasan dari Atasan Langsung

VERIFIKASI KOREKSI DAN TINDAKAN KOREKTIF (diisi Auditor)

NAMA TANDA TANGAN TGL. VERIFIKASI

Auditor