You are on page 1of 6

MEMBANGUN KEPERCAYAAN REMAJA

UNTUK BELAJAR MANDIRI
Ingin Bebas! free !
Seringkali kata-kata itu terlontar dari celotehan beberapa remaja
berseragam putih-biru atau putih-abu. Mereka seringkali merasa ingin
memperoleh autonomy atau kebebasan dalam hal apapun. Walaupun sebenarnya
pada usia mereka, orang tua justru ekstra hati-hati memberikan berbagai
kebebasan fisik maupun psikis, laki-laki maupun perempuan.
Melihat kondisi siswa yang notabene remaja, selama masa remaja
tuntutan terhadap kemandirian ini sangat besar dan jika tidak direspon secara tepat
bisa saja menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan bagi perkembangan
psikologis siswa di masa mendatang. Ditengah berbagai gejolak perubahan yang
terjadi di masa kini, betapa banyak remaja yang mengalami kekecewaan dan rasa
frustrasi mendalam terhadap orangtua karena tidak kunjung mendapatkan apa
yang dinamakan kemandirian (Mu’tadin, 2002).
Kemandirian berasal dari kata mandiri yang artinya berdiri sendiri.
Kartadinata (1998) menyatakan kemandirian sebagai kekuatan motivasional
dalam diri individu untuk mengambil keputusan dan menerima tanggung jawab
atas konsekuensi keputusan itu. Kemandirian sebagai bentuk sikap mental
kepribadian haruslah dimiliki oleh setiap orang. Di dalam kemandirian terdapat
unsur-unsur atau aspek yang perlu dikembangkan agar tumbuh menyatu dalam
menentukan sikap dan perilaku seseorang agar mampu berkembang seiring
dengan pemahaman dan konsep hidup yang mengarah pada kemauan,
kemampuan, keuletan serta ketekunan dalam bidangnya.
Kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh secara
kumulatif selama perkembangan, dimana individu akan terus belajar untuk
bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan, sehingga
individu pada akhirnya akan mampu berpikir dan bertindak sendiri. Dengan
kemandiriannya seseorang dapat memilih jalan hidupnya untuk dapat berkembang
dengan lebih mantap. Kemandirian, seperti halnya kondisi psikologis yang lain,
dapat berkembang dengan baik jika diberikan kesempatan untuk berkembang
melalui latihan yang dilakukan secara terus-menerus dan dilakukan sejak dini.
Latihan secara terus menerus baik dalam sosial maupun belajar lebih banyak
dilakukan oleh siswa dalam setting pendidikan. Proses pengasahan intelektual
juga dilakukan di sekolah, di beberapa jenjang pendidikan tersebut siswa mulai
bertindak sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Hal ini berarti siswa sudah
memiliki autonomy atau rasa ingin memiliki kebebasan secara utuh, baik pikiran
maupun tindakan termasuk juga bagaiamana siswa bertindak dalam proses belajar
sehingga memperoleh hasil belajar yang sesuai dengan harapan.
Proses pembelajaran itu sendiri merupakan inti dari kegiatan
penyelenggaraan pendidikan di sekolah, dunia pendidikan sering dihadapkan
kenyataan bahwa, dalam kehidupan sehari-hari terdapat siswa yang meskipun para
siswa telah diajari dengan menggunakan bahan pelajaran yang sama, waktu dan
tempat yang sama, dan metode yang sama pula, bahkan pengajaran remedial dan
pemberian tugas oleh guru, namun mereka tetap memperoleh prestasi belajar yang
tidak sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Bahkan bentukan
pribadi siswa pun tidak seperti yang diharapkan, siswa banyak yang membolos,
malas ke sekolah, tidak mengerjakan tugas, sehingga potensi yang dimilikinya
tidak berkembang.
Keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain disebut
sebagai sebuah kemandirian. Siswa dikatakan telah mampu belajar secara mandiri
apabila telah mampu melakukan tugas belajar tanpa ketergantungan dengan orang
lain. Kemandirian dalam belajar dapat diartikan sebagai aktivitas belajar dan
berlangsungnya lebih didorong oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri dan
tanggung jawab sendiri dari siswa. Kemandirian inilah yang akan mengantarkan
siswa menuju goal pendidikan, yakni mewujudkan cita-cita mereka menjadi pe-
belajar yang terus belajar seanjang hayatnya sesuai dengan kemauan dan minatnya
sendiri. Kemauan dan minat siswa ini juga mampu mengantarkan siswa menuju
pengarahan diri (Self-directed) sehingga siswa memiliki keyakinan bahwa mampu
mengatur dirinya sendiri, menentukan pilihan sendiri, bahkan mampu
menciptakan keterampilan-keterampilan tertentu yang disukainya.
Hasil penelitian Suherman (2007) mengenai kualitas pengarahan diri
(self direction) di beberapa SMA di Bandung, menunjukkan bahwa intensitas
masalah siswa dalam pengarahan diri sangat tinggi. Dari penelitian tersebut,
tersebut tampak memiliki masalah dalam pengarahan dirinya, antara lain dapat
dilihat dari : kekurangmampuan dalam mengatur waktu untuk menyelesaikan
tugas-tugas sekolah (85%), ketergantungan pada pihak lain dalam menemukan jati
dirinya (82%), mengabaikan tugas-tugas yang diberikan guru (79%), suka
melakukan kegiatan yang mengganggu tugas-tugas sekolah (76%), memiliki
kesulitan dalam memanfaatkan waktu secara efektif (74%), kurang memiliki
keberanian untuk mengemukakan pendapat (73%), merasa kesulitan dalam
memilih kegiatan yang menunjang cita-cita (72%), melakukan kegiatan tanpa
rencana (70%), ketidakpercayaan terhadap upaya sendiri (68%); kesulitan dalam
menggunakan waktu luang (67%), ketergantungan pada guru (64%), menunda-
nunda tugas-tugas sekolah (64%), kesulitan dalam mengatur kegiatan di luar
sekolah (61%), dan apabila mengalami kegagalan menyalahkan pihak di luar
dirinya (52%). Dari empat belas aspek yang diungkap dalam studi di atas
menunjukan bahwa siswa SMA masih menunjukan tingkat kemandirian dan
pengarahan diri siswa yang masih rendah.
Secara lebih spesifik, hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurrani
(2009) menunjukkan bahwa secara umum siswa SMK memiliki tingkat
kemandirian belajar yang tersebar pada setiap kategori pencapaian yaitu tinggi
sekali 1.39 %, tinggi 38,2 %, sedang 41 %, rendah 17,4 % dan rendah sekali 2.08
%; dari data penelitian diketahui bahwa siswa SMK belum mencapai kemandirian
belajar yang optimal yakni 60.5 % sedangkan siswa yang telah mencapai
kemandirian belajar secara optimal sebesar 39.6 %. Hal tersebut menunjukkan
bahwa tingkat kemandirian belajar siswa secara umum belum mencapai taraf
optimal.
Fenomena-fenomena yang dipaparkan di atas menggambarkan kondisi
nyata peserta didik yang jika ditinjau dari perspektif perkembangan belum
optimal, ini menunjukkan bahwa tanggung jawab siswa serta rasa percaya diri
siswa dalam mengerjakan tugas di sekolah kurang optimal, padahal telah
disebutkan bahwa kemandirian dalam belajar adalah suatu aktifitas belajar yang
berlangsungnya lebih didorong oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri, dan
tanggung jawab sendiri dari siswa. Selain itu juga pada fase ini keinginan remaja
untuk memiliki kemandirian semakin kuat namun kontradiktif dengan kenyataan
di lapangan bahwa kemandirian belajar siswa justru masih kurang optimal dan
akibatnya hasil belajar mereka kurang memuaskan. Sehingga untuk membantu
peserta didik mampu mengoptimalkan potensi diri dibutuhkan upaya
pendampingan secara psikologis dalam proses yang akan dilalui dalam fase
remaja ini.
Melihat latar belakang penyebab masalah siswa ada yang disebabkan
oleh kurangnya atau rendahnya kemampuan belajar mereka, ataupun kejenuhan
serta kepenatan siswa mengahadapi berbagai tugas yang sebenarnya dimaksudkan
agar siswa mampu belajar mandiri, justru menjadi masalah. Siswa masih belum
mampu mengembangkan kemandirian dan keterampilan belajarnya. Sehingga
siswa tidak memiliki tujuan yang jelas dalam belajar, enggan mengerjakan tugas,
sulit mengatur waktu belajar, mempersiapkan peralatan belajar, mengulang
kembali materi yang disampaikan di sekolah, serta memanfaatkan fasilitas yang
disediakan sekolah. Ini artinya, pendidikan saat ini belum sepenuhnya mampu
memberikan kontribusi nyata kepada siswa agar dapat mengapresiasi serta
mengkreasikan daya potensinya secara utuh melalui program pendidikan yang
memandirikan.
Masalah Kemandirian Belajar secara khusus bagi siswa Sekolah
Menengah Pertama berkaitan dengan rentan usia remaja. Pada masa perubahan
remaja dari kanak-kanak ke masa kedewasaan, dimana remaja memiliki
kecemasan tersendiri menghadapi proses belajar yang membingungkan antara
berkumpul dengan teman sebaya dengan pencapaian tugas-tugas di sekolah. Ada
beberapa alasan mengapa sekolah memainkan peranan yang berarti bagi
perkembangan siswa, diantaranya sekolah memberikan pengaruh kepada siswa
secara dini seiring dengan masa perkembangan konsep dirinya, siswa banyak
menghabiskan waktunya disekolah dari pada di tempat lain diluar rumah, sekolah
memberikan kesempatan kepada siswa untuk meraih sukses. Sebagai
perkembangan yang kontinum, maka perkembangan kemandirian seyogiannya
dapat dikembangkan sejak dini, terutama ketika siswa baru memasuki tingkat
SLTP dinama siswa mulai dituntut untuk memulai sistem pembelajaran yang
berbeda dengan tingkat SD yaitu belajar dengan ragam guru dan mata pelajaran
yang lebih kompleks.
Dalam lingkup pendidikan, Layanan bimbingan dan Konseling
mengambil posisi yang tak kalah penting jika dibandingkan dengan Guru mata
pelajaran. Di Setting Sekolah, Konselorlah yang berperan dalam proses
pendampingan, pembimbingan dan pengembangan peserta didik dengan
pendekatan psiko-paedagogis. Konselor memegang peranan penting untuk
mengetahui dan memahami sejauh mana pengembangan diri siswa terhadap
proses transfer belajar di sekolah yang dapat dimanifestasikan dalam kehidupan
sehari-harinya. Konselor harus mampu memberikan bimbingan secara tepat yang
sesuai dengan kebutuhan siswa terutama mengenai kemandirian belajar siswa.
Berhubungan dengan kemandirian belajar, Kemandirian belajar juga
dapat diartikan sebagai sifat dan sikap serta kemampuan yang dimiliki siswa
untuk melakukan kegiatan belajar secara sendirian maupun dengan bantuan orang
lain berdasarkan motivasinya sendiri untuk menguasai suatu kompetensi tertentu
sehingga dapat digunakannya untuk memecahkan masalah yang dijumpainya di
dunia nyata.
Menurut Candy (1975), belajar mandiri dapat dipandang baik sebagai
proses dan juga tujuan. Dengan kata lain, belajar mandiri dapat dipandang sebagai
metode belajar dan juga karakteristik pebelajar itu sendiri. Belajar mandiri sebagai
tujuan mengandung makna bahwa setelah mengikuti suatu pembelajaran tertentu
pebelajar diharapkan menjadi seorang pebelajar mandiri. Sedangkan belajar
mandiri sebagai proses mengandung makna bahwa pebelajar mempunyai
tanggung jawab yang besar dalam mencapai tujuan pembelajaran tertentu tanpa
terlalu tergantung pada guru (mandiri).
Kemandirian belajar merupakan suatu keadaan atau kondisi aktivitas
belajar dengan kemampuan sendiri, tanpa bergantung kepada orang orang lain. Ia
selalu konsisten dan bersemangat untuk belajar dimanapun dan kapanpun. Dalam
dirinya telah melembaga kesadaran dan kebutuhan belajar melampaui tugas,
kewajiban dan target jangka pendek, nilai serta prestasi. Kemandirian belajar
merupakan perilaku siswa yang bebas (otonom) dan bertanggungjawab dalam
menentukan tujuan belajar, merencanakan dan melaksanakan, memelihara serta
menilai hasil aktivitas belajarnya tanpa ada ketergantungan pada orang lain.
Sebuah proses di mana individu-individu mengambil inisiatif, dengan
atau tanpa bantuan orang lain, untuk mendiagnosis kebutuhan belajar mereka,
merumuskan tujuan pembelajaran, mengidentifikasi sumber daya untuk belajar,
memilih dan menerapkan strategi pembelajaran, dan mengevaluasi hasil
pembelajaran digambarkan sebagai proses Belajar mandiri (self-directed learning)
(Knowles, 1975).
Penelitian Guglielmino & Guglielmino (1991) menunjukkan bahwa
pelajar yang kemampuan belajar mandirinya tinggi memiliki beberapa
karakteristik : memiliki inisiatif, kemandirian dan persistensi dalam belajar;
menerima tanggung jawab terhadap belajarnya sendiri dan memandang masalah
sebagai tantangan, bukan hambatan; memiliki disiplin dan rasa ingin tahu yang
besar; memiliki keinginan yang kuat untuk belajar atau mengadakan perubahan
serta memiliki rasa percaya diri; mampu mengorganisasi waktu, mengatur
kecepatan belajar yang tepat dan mengembangkan rencana untuk penyelesaian
tugas; serta senang belajar dan memiliki kecenderungan untuk memenuhi target
yang telah ditentukan.
Adapun menurut Candy, ada empat dimensi kemandirian belajar yaitu :
otonomi pribadi (personal autonomy), manajemen diri dalam belajar (self-
management in learning), meraih kebebasan untuk belajar (the independent
pursuit of learning), dan kendali / penguasaan pebelajar terhadap pembelajaran
(learner-control of instruction).
Dimensi otonomi pribadi menunjukkan karakteristik individual dari
siswa yang mampu belajar mandiri. Siswa yang memiliki kemandirian adalah
siswa yang bebas dari tekanan baik eksternal maupun internal, memiliki
sekumpulan nilai-nilai dan kepercayaan pribadi yang memberikan konsistensi
dalam kehidupannya. Hal ini berarti siswa tersebut mampu membuat rencana atau
tujuan hidup, bebas dalam membuat pilihan, menggunakan kapasitas dirinya
untuk refleksi secara rasional, mempunyai kekuatan kemauan, berdisiplin diri dan
melihat dirinya sendiri sebagai individu yang mandiri.
Kedua, Dimensi manajemen diri menjelaskan adanya kemauan dan
kapasitas dalam diri seseorang untuk mengelola dirinya. Kapasitas tersebut
ditunjukkan dengan adanya keterampilan atau kompetensi dalam diri yang
mandiri. Dimensi yang ketiga, Dimensi meraih kebebasan dalam belajar
menggambarkan tentang adanya kebutuhan individu untuk memperoleh
kesempatan belajar. Dimensi ini menjelaskan bahwa individu memiliki kebutuhan
untuk meningkatkan diri melalui belajar berbagai hal dalam kehidupan. Sementara
itu, Dimensi kontrol terhadap pembelajaran, menjelaskan tentang peran siswa
pada situasi belajar formal yang melibatkan cara mengorganisasi tujuan
pembelajaran. Penjelasan dimensi ini dihubungkan dengan hal-hal yang dianggap
menjadi porsi pengawasan guru, yaitu pengorganisasian tujuan belajar, materi
belajar, kecepatan belajar, langkah-langkah belajar, metodologi belajar serta
evaluasi belajar.
Dimensi-dimensi belajar mandiri yang dikemukakan Candy tersebut
ternyata memiliki aspek yang jauh lebih luas dan bersifat umum. Luasnya
cakupan otonomi belajar yang dapat diperankan siswa juga dapat dijadikan
indikator kemandirian belajar siswa, yaitu otonomi siswa dalam hal
mengidentifikasi kebutuhan belajar, merumuskan tujuan, merencanakan kegiatan
belajar, mencari sumber-sumber belajar yang diperlukan, bekerja secara
kolaboratif dengan orang lain, memilih proyek-poyek belajar, merumuskan
masalah untuk dipecahkan, menentukan tempat dan waktu belajar, memanfaatkan
guru lebih sebagai pembimbing dari pada pengajar, belajar melalui sumber
belajar non-guru seperti bahan belajar mandiri, melaksanakan tugas mandiri,
dapat belajar di luar institusi pendidikan (misalnya di tempat kerja atau di rumah),
memutuskan kapan harus menyelesaikan belajar, merefleksi atau melakukan
evaluasi terhadap proses belajarnya, membuat keputusan-keputusan penting yang
berkaitan dengan belajarnya.
Kemandirian dalam belajar adalah aktivitas yang berlangsungnya lebih
didorong oleh kamauan sendiri, pilihan sendiri dan tanggung jawab sendiri dari
siswa. Pendidikan sendiri, selalu menuntut siswa untuk mempunyai kemandirian
belajar yang tinggi agar kompetensi yang diharapkan dapat tercapai. Karena itu,
kemandirian belajar siswa diperlukan agar mereka mempunyai tanggung jawab
dalam mengatur dan mendisiplinkan dirinya, selain itu dalam mengembangkan
kemampuan belajar atas kemauan sendiri. Sikap-sikap tersebut perlu dimiliki oleh
siswa sebagai peserta didik karena hal tersebut merupakan ciri dari kemandirian
siswa. Kemandirian belajar ditunjukkan oleh kemampuan siswa dalam mencapai
indikator kemandirian belajar, serta didukung oleh faktor dari luar diri siswa yaitu
lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah.
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematik
melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka
membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang
menyangkut aspek moral-spiritual, intelektual, emosional, maupun sosial serta
dalam rangka memfasilitasi siswa untuk menuntaskan tugas-tugas
perkembangannya. Layanan bimbingan merupakan bagian integral dari
Pendidikan, sehingga penyusunan programnya tidak akan terlepas dari sasaran
Pendidikan. Apabila tidak memiliki program yang bermutu, maka pelaksanaan
program bimbingan pun akan berimplikasi terhadap sasaran yang akan dicapai.
Oleh karena itu, perlu adanya penyusunan program layanan bimbingan belajar
yang bermutu melalui proses manajemen bimbingan belajar agar integritas
bimbingan dalam pendidikan dapat tersusun secara jelas.
Sebagai layanan yang profesional maka layanan Bimbingan saat ini
harus memperhatikan kebutuhan siswa, dalam hal ini adalah kemandirian siswa
dalam belajar. William J. Kolarik (Nurihsan, 2006) mengungkapkan bahwa
kualitas mutu layanan bimbingan akan mendapatkan pengakuan jika layanan
Bimbingan mampu memenuhi apa yang diharapkan oleh para konseli. Secara
lebih rinci Goetsch& Davis mengungkapkan bahwa mutu layanan bimbingan
merujuk pada proses dan produk layanan bimbingan belajar yang mampu
memenuhi harapan siswa, masyarakat, serta pemerintah. Dengan kata lain, dalam
penyusunan program layanan bimbingan harus memperhatikan banyak aspek, dan
hal yang paling pokok adalah program yang dikembangkan harus sesuai dengan
kebutuhan kemandirian siswa, dan tidak melenceng dari tujuan pendidikan. Oleh
karena itu penyusunan dan pengembangan program harus berdasar pada analisis
kebutuhan yang valid dan reliabel, sehingga data yang dihasilkan bisa dijadikan
dasar pengembangan program untuk meningkatkan kemandirian siswa.

“Awal dari Kemandirian berawal dari Belajar untuk Mandiri !”