You are on page 1of 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Tingginya angka kematian bayi dan ibu di Indonesia (MDG 4 dan MDG5)
menjadikan negara ini masih tertinggal dalam pencapaian tujuan dan target ”Millenium
Development Goals”. Angka Kematian Bayi (AKB) mencapai 34 per 1000 kelahiran hidup
pada tahun 2008, sedangkan target 19 per 1000 pada tahun 2015. Sementara Angka Kematian
Ibu (AKI) masih 307 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2008, sangat jauh dari target 110
per 1000 pada tahun 2015.1
Di Negara berkembang, saat melahirkan dan minggu pertama setelah melahirkan
merupakan periode kritis bagi ibu dan bayinya. Sekitar dua per tiga kematian terjadi pada
masa neonatal, dua per tiga kematian neonatal tersebut terjadi pada minggu pertama, dan dua
per tiga kematian bayi pada minggu pertama tersebut terjadi pada hari pertama.1
Sejatinya, ada tindakan yang relatif murah dan mudah diterapkan untuk
meningkatkan kesehatan dan kelangsungan hidup bayi baru lahir. Salah satunya adalah
pemberian Air Susu Ibu (ASI) segera setelah lahir (IMD) serta pemberian ASI eksklusif.
Pernyataan ini didukung oleh United Nations Childrens Fund (UNICEF), bahwa sebanyak
30.000 kematian bayi di Indonesia dan 10 juta kematian anak balita di dunia pada tiap
tahunnya, bisa dicegah melalui pemberian ASI secara eksklusif selama enam bulan sejak
tanggal kelahirannya, tanpa harus memberikan makanan serta minuman tambahan kepada
bayi. Edmond (2006) selaras dengan pernyataan UNICEF tersebut, bahwa bayi yang diberi
susu formula, memiliki kemungkinan atau peluang untuk meninggal dunia pada bulan
pertama kelahirannya 25 kali lebih tinggi dibandingkan dengan bayi yang disusui oleh ibunya
secara eksklusif.1
Ironisnya, berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007,
hanya 32% bayi dibawah usia 6 bulan mendapatkan ASI eksklusif. Jika dibandingkan dengan
SDKI tahun 2003, proporsi bayi dibawah 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif menurun
sebanyak 6 poin. Bandingkan dengan target nasional untuk cakupan ASI Eksklusif pada
tahun 2010 adalah 80%. Rata-rata, bayi Indonesia hanya disusui selama 2 bulan pertama, ini
terlihat dari penurunan prosentase menyusui dari SDKI 2003 yaitu sebanyak 64% menjadi
48% pada SDKI 2007. Sebaliknya sebanyak 65% bayi baru lahir mendapatkan makanan
selain ASI selama tiga hari pertama.1

1
1.2 Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui, memahami dan menganalisa kebijakan ASI ekslusif.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ASI Ekslusif
2.1.1 Pengertian ASI Ekslusif
ASI eksklusif atau lebih tepat disebut pemberian ASI secara eksklusif adalah kondisi
bayi yang hanya diberi ASI tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu dan
air teh, air putih tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, bubur
nasi dan tim.2
ASI eksklusif yaitu pemberian ASI saja tanpa makanan dan minuman lain. ASI
Eksklusif dianjurkan sampai 6 bulan pertama kehidupan bayi.32 Memberikan ASI setelah
persalinan juga menunjukan perlindungan pada bayi baru lahir te4rhadap infeksi dan
pengaturan suhu tubuh. Pemberian ASI secara dini dan eksklusif sekurang-kurangnya 4-6
bulan akan membantu mencegah berbagai penyakit anak, termasuk gangguan lambung dan
saluran nafas, terutama asma pada anak-anak. Hal ini disebabkan adanya antibody penting
yang ada dalam kolostrum ASI (dalam jumlah yang lebih sedikit) akan melindungi bayi baru
lahir dan mencegah timbulnya alergi. Untuk alasan tersebut, semuabayi baru lahir harus mend
apatkan kolostrum.3
2.1.2 Manfaat Pemberian ASI
Pemberian ASI segera dan eksklusif memberikan manfaat pada ibu, bayi dan
lingkungannya. ASI bagi bayi merupakan sumber nutrisi. Komposisi ASI berbeda dan
disesuaikan dengan kondisi bayi. ASI kolostrum mengandung antibodi yang sangat
dibutuhkan bayi untuk menggantikan antibodi yang diperoleh dari ibu. Antibodi dari ibu akan
segera turun cepat sekali segera setelah bayi lahir. Sementara itu, badan bayi mampu
membuat zat kekebalan cukup banyak pada saat berusia 9-12 bulan. Bayi yang mendapat ASI
akan lebih cerdas. Mengingat kecerdasan anak berkaitan erat dengan otak maka jelas
perkembangan kecerdasan dipengaruhi oleh perkembangan otak. Faktor yang penting pada
perkembangan otak adalah nutrisi yang diberikan. Kesempatan mendapatkan ASI segera dan
eksklusif jelas sekali berhubungan dengan perkembangan otak sekaligus perkembangan
kecerdasan. Manfaat lain bagi bayi adalah meningkatkan jalinan kasih sayang ibu dan bayi
serta menunjang kepribadian yang cerdas, emosional dan kematangan spritual.2
Ibu yang memberikan ASI nya akan turun risiko terjadinya pendarahan, anemia,
terkena kanker. Jarak kehamilan menjadi jarang, rahim cepat mengecil, cepat langsing karena
proses menyusui yang dilaksankan segera dan eksklusif sampai dua tahun atau lebih.

3
Pemberian ASI juga berdampak ekonomis, tidak merepotkan, hemat waktu, portabel, praktis
dan memberi kepuasan pada ibu.2
Bayi yang diberi ASI oleh ibunya akan lebih sehat dibandingkan yang tidak diberi
ASI. Hal ini berdampak pada ibu yang bekerja. Ibu bekerja akan jarang bolos karena alasan
anak sakit. Jadi, pemberian ASI menyebabkan ibu lebih bisa berkonsentrasi bekerja dan
berpeluang untuk meningkatkan prestasi kerjanya. Bagi negara, pemberian ASI menghemat
devisa negara. Pengehematan devisa untuk membeli susu formula, penghematan biaya sakit
pada bayi dan ibu. Menciptakan generasi yang tangguh dan menghindari lost generation.
Pemberian ASI sangat ramah lingkungan. Dengan memberikan ASI tak perlu ada kaleng,
karton, botol, dot bekas.2
Manfaat ASI Eksklusif3
a. Bagi Bayi
1. Bayi mendapatkan kolostrum yang mengandung zat kekebalan terutama
immuniglobullin A (lgA) yang melindungi bayi dari berbagai infeksi terutama diare,
membatu pengeluaran meconium.
2. Makanan terlengkap untuk bayi, terdiri dari proporsi yang seimbang dan cukup
kuantitas semua zat gizi yang diperlukan untuk kehidupan 6 bulan pertama.35.36.37.38
3. Melindungi terhadap alergi karena tidak mengandung zat yang dapat menimbulkan
alergi.39.40
4. Pemberian ASI Eksklusif akan melindungi bayi baru lahir dari berbagai penyakit,
terutama alergi dan gangguan pencernaan.
5. Pemberian ASI eksklusif dapat mencegah hypotermia pada bayi baru lahir
6. Pemberian ASI eksklusif berarti mempertahankan pemberian ASI sekurangnya 4-6
bulan.
b. Bagi Ibu
1. Pemberian ASI memberikan 98% metode kontrasepsi yang efisien selama 6 bulan
pertama sesudah kelahiran bila diberikan hanya ASI saja dan belum terjadi menstruasi
kembali.43
2. Memberikan ASI segera (dalam waktu 60 menit) membatu meningkatkan produksi ASI
dan proses lactase
3. Pemberian ASI membantu mengurangi beban kerja ibu karena ASI tersedia kapan dan
dimana saja. ASI selalu bersih, sehat dan tersedia dalam suhu yang cocok.

4
c. Bagi Keluarga
1. Bayi sehat berarti keluarga mengeluarkan biaya lebih sedikit dalam perawatan
kesehatan dan berkurangnya kekhawatiran bayi akan sakit.42
2. Pemberian ASI pada bayi (meneteki) berarti hemat tenaga bagi keluarga sebab ASI
selalu siap tersedia.

2.1.3 Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat Pemberian ASI Eksklusif
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan menyusui adalah, sosial budaya,
psikologis dan biologis ibu sendiri. Selain itu faktor-faktor yang mempengaruhi ibu untuk
menyusui adalah :2
1. Faktor Psikologi
Status psikologi mendasari ibu dan pendukungnya untuk keberhasilan menyusui, termasuk
percaya diri dan komitmen menyusui.
2. Faktor dukungan Tenaga Kesehatan
Dukungan tenaga kesehatan yang diberikan dapat membangkitkan rasa percaya diri ibu
untuk membuat keputusan menyusui bayinya. Informasi tentang perawatan payudara
selama masa kehamilan, lama menyusui, inisiasi menyusui merupakan dukungan tenaga
kesehatan untuk menyukseskan kelangsungan pemberian ASI eksklusif.
3. Faktor Demograpi
Faktor demografi terbagi menjadi dua, yaitu faktor sosio demografi dan faktor biomedik.
Faktor sosio demografi terdiri dari umur, pendidikan, status perkawinan, suku, tingkat
sosial dan penghasilan. Faktor biomedik terdiri dari jumlah kelahiran, dan setelah
melahirkan.

2.2 Program Kebijakan.
Beberapa pengertian kebijakan dikemukakan oleh sejumlah penulis kebijakan
diantaranya pendapat Carl Friedrich, Kebijakan publik adalah suatu arah tindakan yang
diusulkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu yang
memberikan hambatan-hambatan dan kesempatan-kesempatan terhadap kebijakan dan
diusulkan untuk menggunakan dan mengatasi suatu tujuan atau merealisasikan suatu sasaran
atau maksud tertentu. Menurut James A Anderson, kebijakan publik adalah “a purposive
course of action followed by an actor or set of actors in deadling with a problem or mother
concern“ (Serangkaian tindakan yang mempunyai tujuan tertentu yang diikuti dan
dilaksanakan oleh seorang pelaku atau sekelompok pelaku guna memecahkan suatu masalah.3

5
Berdasarkan pada beberapa pemahaman dan telaah definisi diatas maka secara garis
besar kebijakan publik dapast diartikan sebagai serangkaian tindakan yang ditetapkan dan
dilaksanakan atau tidak dilaksanakan oleh pemerintah yang mempunyai tujuan atau orientasi
pada tujuan tertentu demi kepentingan seluruh masyarakat.3
Konsep implementasi kebijakan menurut George C.Edwards III : “Penerapan
kebijakan merupakan tahap antara diputuskannya suatu kebijakan publik dengan munculnya
konsekuensi-konsekuensi diantara orang-orang yang terkena kebijakan tersebut, “
Menurut Va Hom dan Van Meter mendefinisikan Implementasi adalah :
“Implementasi kebijakan meliputi tindakan- tindakan yang dilakukan oleh publik dan
individu-individu pribadi atau kelompok yang ditujukan untuk pencapaian sasaran yang
sebelumnya telah terlebih dahulu ditetapkan.” George C. Edward III berusaha menjawab dua
pertanyaan dengan mengkaji empat faktor atau variabel dari kebijakkan yaitu struktur
birokrasi, sumber daya, komunikasi dan disposisi.3
1. Birokrasi
Merupakan salah satu institusi yang paling sering bahkan secara keseluruhan menjadi
pelaksana kegiatan. Keberadaan birokrasi tidak hanya dalam struktur pemerintah, tetapi
juga ada dalam organisasi-organisasi swasta, institusi pendidikan dan sebagainya.
2. Sumber Daya
Syarat berjalannya suatu organisasi adalah kepemilikkan terhadap sumber daya. Sumber
daya diposisikan sebagai input dalam organisasi sebagai suatu sistem yang mempunyai
implikasi yang bersifat ekonomis dan teknologis.
3. Disposisi
Menurut Edward III mengemukakan kecenderungan-kecenderungan atau disposisi
merupakan salah satu faktor yang mempunyai konsekkuensi penting bagi implementasi
kebijakan yang efektif. Jika para pelaksana mempunyai kecenderungan atau sikap positif
atau adanya dukungan terhadap implementasi kebijakan akan terlaksana sesuai keputusan
awal.
4. Komunikasi.
Komunikasi merupakan salah satu variabel penting yang mempengaruhi implementasi
kebijakan publik, komuniaksi sangat menentukkan keberhasilan pencapaian tujuan dari
implementasi kebijakan publik. Implementasi yang efektif akan terlaksana, jika para
pembuat kepurusan mengetahui mengenai apa yang mereka kerjakan. Informasi yang
diketahui para pengambil keputusan hanya bisa didapat melalui komunikasi yang baik.

6
Terdapat 3 indikator yang dapat digunakan dalam mengukur keberhasilan variabel
komunikasi, yaitu :
a. Transmisi,
b. Kejelasan,
c. Konsistensi
Kinerja kebijakan dipengaruhi oleh beberapa variabel yang saling berkaitan, variabel-
variabel tersebut yaitu :3
1. Standar dan sasaran kebijakan/ukuran dan tujuan kebijakan
2. Sumber daya
3. Karakteristik oraganisasi pelaksana
4. Sikap para pelaksana
5. Komunikasi antar organisasi terkait dan kegiatan-kegiatan pelaksanaan.
6. Lingkungan sosial, ekonomi dan politik.

7
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Analisis Kebijakan.
Kebijakan ASI eksklusif Indonesia mengalami proses yang cukup panjang, tercatat
sampai saat ini terdapat beberapa peraturan terkait dengan pemberian ASI eksklusif di
Indonesia yaitu Permenkes RI No 240/MENKES/PER/V/1985 tentang Pengganti ASI,
Kepmenkes RI No. 237/Menkes/SK/IV/1997 tentang Pemasaran Pengganti ASI, Peraturan
Pemerintah No. 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan, dan Kepmenkes RI
No.450/Menkes/SK/IV/2004 tentang Pemberian ASI secara Eksklusif pada Bayi di Indonesia.
Dan yang terbaru adalah Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2012 tentang Pemberian ASI
Eksklusif.1
Dalam studi ini, kajian analisis akan dilakukan terhadap PP 33/2012 yang
diundangkan sekaligus mulai berlaku pada tanggal 1 Maret 2012. Kebijakan ini bersifat
regulatif, protektif dan promotif. Terdiri dari 10 bab, 43 pasal dengan total 55 ayat, dan
mengatur 7 hal pokok, yaitu 1) tanggung jawab pemerintah, pemerintah provinsi, dan
pemerintah kabupaten/kota; 2) Air Susu Ibu; 3) penggunaan susu formula dan produk bayi
lainnya; 4) tempat kerja dan tempat sarana umum; 5) dukungan masyarakat; 6) pendanaan;
dan 7) pembinaan dan pengawasan.1
3.2 Analisis proses.
Proses penyusunan kebijakan di Indonesia melibatkan setidaknya dua pihak, yaitu
pihak eksekutif dan pihak legislatif. Pihak eksekutif diwakili oleh kementrian teknis yang
bersangkutan sedangkan pihak legislatif adalah DPR-RI. Proses penyusunan legislasi tidak
selalu dibuka untuk publik sehingga prinsip transparansi tidaklah selalu dapat dipatuhi.
Demikian juga dengan pendokumentasian yang tidak dibuka untuk publik. Kalaupun ada,
prosesnya tidak tersosialisasi dengan baik. Dalam hal ini, peran media, pers, dan jurnalistik
menjadi sangat penting untuk dapat menyampaikan informasi mengenai proses penyusunan
suatu kebijakan.4
Di sisi lain, meskipun bersifat partisipatoris, tidak berarti kemudian penyusunan
kebijakan harus berjalan lamban. Proses penyusunan kebijakan di bidang ASI yang terakhir,
yaitu RPP Pemberian ASI (semula RPP Pemasaran Susu Formula) berjalan sangat lambat dan
tersendat, Pembahasan dimulai sejak pertengahan November 2006 dan sampai Januari 2010
belum juga selesai.4

8
3.3 Analisis Aktor.
Aspek partisipatoris dari proses penyusunan kebijakan terkait juga dengan aspek aktor
atau pemeran yang menentukan dalam implementasi kebijakan tersebut. Idealnya setiap aktor
yang terlibat harus jelas posisi dan perannya, kewenangan dan tanggung jawabnya, sehingga
tidak terjadi tumpang tindih peran atau malah kevakuman peran. Pemetaan aktor yang terlibat
mulai dari penyusunan sampai implementasi dan evaluasi harus jelas tercakup dalam suatu
kebijakan atau peraturan-peraturan yang menindaklanjutinya serta sesuai secara horisontal
(lintas sektoral) maupun vertikal (lintas level).4
Pemetaan aktor lebih luas lagi juga mencakup pertimbangan dan tinjauan terhadap
kemungkinan keberhasilan dan kegagalan implementasi kebijakan tersebut. Misalnya, dalam
hal PP Pemberian ASI, perlu dianalisis reaksi yang akan dimunculkan oleh pihak industri
susu formula serta kemungkinan kondisi dilematis yang dihadapi oleh tenaga kesehatan
penolong persalinan seperti bidan yaitu terkait tuntutan tugas ideal dan keterpaksaan dan
desakan ekonomi dan finansial.4
Penerapan kebijakan ini akan dapat berjalan dengan baik, bila memperhatikan ;
pertama, kesadaran dari para Ibu untuk merasa ‘harus’ memberikan ASI ekslusif saat bayinya
lahir serta dukungan dari pihak keluarga untuk mendorong para Ibu memberikan ASI
eksklusif. Kedua, kesadaran moral para tenaga kesehatan dengan sepenuh hati memberikan
edukasi dan informasi yang jelas kepada para Ibu. Ketiga, kesadaran dan ketaatan para
penyelenggara fasyankes untuk menerapkan RS pro ASI dengan menerapkan 10 langkah
Menuju Keberhasilan Menyusui. Keempat, kesadaran dan ketaatan para penyelenggara
tempat sarana umum dan pengurus tempat kerja mendukung pelaksanaan ASI eksklusif.
Kelima, kesadaran dan etika berbisnis para produsen susu formula dan para pekerjanya untuk
menjalankan bisnis yang beretika dengan mematuhi aturan PP No 33 tahun 2012. Tidak kalah
pentingnya juga, keenam,sistem mekanisme pembinaan dan pengawasan yang jelas dari
Pemerintah (Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Dinas Kesehatan kabupaten/kota),
BPOM dan organisasi profesi, yang dilakukan secara bersungguh-sungguh dan konsisten.
Ketujuh, dukungan aturan pelaksanaan yang jelas terkait tentang pemberian sanksi
administrative bagi tenaga kesehatan dan penyelenggara fasyankes. Dan terakhir, dukungan
peran serta masyarakat (LSM) dalam turut melakukan kontrol terhadap pelaksanaan PP No
33 tahun 2012.1
3.4 Analisis Konten.
Kepmenkes No. 237/1997 mengenai Pemasaran Pengganti ASI adalah keputusan yang
sangat ringkas karena hanya terdiri atas dua bab dan tiga pasal bab pertama berisi mengenai

9
ketentuan umum dan bab kedua mengenai peredaran. Dalam Ketentuan Umum
Kepmenkes tersebut mencakup istilah pengganti air susu ibu, makanan pendamping ASI,
susu formula bayi, susu formula lanjutan, bayi, botol, dot, pemasaran, dan promosi. Bab II
menegaskan bahwa pengganti ASI hanya dapat diedarkan setelah mendapatkan persetujuan
dari Ditjen POM Depkes RI.2
Peraturan Pemerintah No. 69/1999 tentang Label dan Iklan Pangan adalah legislasi
yang paling kuat dibanding yang lain dan juga paling lengkap karena sudah ada
pembagian kewenangan/tugas meskipun masih perlu dielaborasi dan ditindaklanjuti dengan
keputusan-keputusan di bawahnya yang mengatur aspek teknis. Dari segi konten PP ini terdiri
dari 8 bab dan 64 pasal. Bab pertama membahas mengenai ketentuan umum, bab kedua
mengenai label pangan, bab ketiga mengenai iklan pangan, bab empat mengenai pengawas-
an, bab lima mengenai tindakan administratif, bab enam mengenai ketentuan peralihan, bab
tujuh mengenai ketentuan khusus, dan bab delapan adalah ketentuan penutup.5
Secara umum, PP tersebut mengatur mengenai pelabelan dan iklan makanan dan
minuman secara keseluruhan. Aspek terkait ASI terutama secara eksplisit disebutkan pada
Bab III Pasal 47 Ayat 4 yaitu mengatur mengenai pelarangan iklan pangan bagi bayi
kurang dari satu tahun di media massa kecuali media cetak khusus kesehatan setelah
mendapat persetujuan Menkes. Iklan tersebut juga mewajibkan pencantuman peringatan
bahwa makanan tersebut bukanlah pengganti ASI.4
Kepmenkes No. 450/2004 tentang Pemberian ASI Secara Eksklusif pada Bayi
di Indonesia terdiri atas lima ketetapan termasuk penetapan mengenai pemberian ASI
eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan sampai dengan usia anak 2 tahun dengan pemberian
makanan tambahan yang seusai. Juga ditetapkan bahwa tenaga kesehatan agar
menginformasikan kepada ibu mengenai anjuran ASI eksklusif. Pemberian informasi
dianjurkan untuk mengacu pada 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM).6
Jika ditinjau dari peraturan yang memuat mengenai definisi peristilahan tampak
bahwa definisi yang dipakai merujuk pada definisi yang digunakan atau berlaku pada saat
keputusan tersebut dibuat. Dalam hal ini, perlu dipertimbangkan bahwa telah terjadi
perubahan- perubahan yang cukup cepat dalam hal pengertian dan peristilahan. Misalnya
saja, definisi ASI eksklusif pada Kepmenkes No. 237/1997 masih merujuk pada durasi
pemberian ASI saja selama 4 bulan. Padahal sejak tahun 2002 WHO telah
merekomendasikan durasi optimal ASI eksklusif selama 6 bulan. Terlepas dari apakah ada
bukti yang cukup kuat untuk mengadopsi rekomendasi WHO tersebut, tetapi updating
terhadap situasi keilmuan dan bukti di lapangan tetap harus dilakukan.7

10
Dari segi kelengkapan, di antara ketiga peraturan tersebut, yang paling
komprehensif adalah PP No.69/1999 mengenai Label dan Iklan Pangan. Hal ini dapat
disebabkan karena tingkat legislasinya yang lebih tinggi dibandingkan dua peraturan lainnya
yang hanya setingkat keputusan menteri. Namun masalahnya PP tersebut bukan PP yang
khusus mengenai ASI eksklusif dan IMD, tetapi PP yang mengatur mengenai makanan secara
keseluruhan dan pengaturan pelabelan dan iklannya. Perlu dicatat bahwa Kepmenkes No.
237/1997 dan Kepmenkes No. 450/2004 keduanya sangat ringkas dan kurang lengkap
sehingga masih perlu ditindak- lanjuti dengan aturan-aturan teknis yang dalam kenyataannya
tidak terdokumentasi dengan baik. Berbeda dengan PP, kedua Kepmenkes tersebut, tidak
memuat pendelegasian penugasan dan wewenang kepada instansi implementer serta tidak
dilengkapi dengan sanksi baik administratif, perdata, maupun pidana bagi pelanggar
keputusan tersebut.4
Sampai sejauh ini, aspek evaluasi dan pemantauan terhadap pelaksanaan peraturan-
peraturan tersebut belum tersedia informasinya. Hal ini dapat disebabkan oleh buruknya
sistem pendokumentasian dan diseminasinya bagi publik atau karena memang subsistem
evaluasi dan pemantauan tidak ada dalam sistem yang dimaksud dalam peraturan. Hal ini
merupakan kondisi yang mengkhawatirkan karena dalam setiap implementasi kebijakan,
harus selalu ada tahap evaluasi implementasi kebijakan tersebut.4
Tujuan Konten Kebijakan8
a. Menjamin pemenuhan hak Bayi untuk mendapatkan ASI Eksklusif sejak dilahirkan
sampai dengan berusia 6 (enam) bulan dengan memperhatikan pertumbuhan dan
perkembangannya;
b. Memberikan perlindungan kepada ibu dalam memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya;
c. Meningkatkan peran dan dukungan Keluarga, masyarakat, Pemerintah Daerah, dan
Pemerintah terhadap pemberian ASI Eksklusif.
10 (sepuluh) langkah menuju keberhasilan menyusui sebagai berikut:8
a. Membuat kebijakan tertulis tentang menyusui dan dikomunikasikan kepada semua staf
pelayanan kesehatan;
b. Melatih semua staf pelayanan dalam keterampilan menerapkan kebijakan menyusui
tersebut;
c. Menginformasikan kepada semua ibu hamil tentang manfaat dan manajemen menyusui;
d. Membantu ibu menyusui dini dalam waktu 60 (enam puluh) menit pertama persalinan;
e. Membantu ibu cara menyusui dan mempertahankan menyusui meskipun ibu dipisah
dari bayinya;

11
f. Memberikan asi saja kepada bayi baru lahir kecuali ada indikasi medis;
g. Menerapkan rawat gabung ibu dengan bayinya sepanjang waktu 24 (dua puluh empat)
jam;
h. Menganjurkan menyusui sesuai permintaan bayi;
i. Tidak memberi dot kepada bayi; dan
j. Mendorong pembentukan kelompok pendukung menyusui dan merujuk ibu kepada
kelompok tersebut setelah keluar dari fasilitas pelayanan kesehatan.
3.5 Analisis konteks.
Ditinjau dari segi konteks, tampaknya peraturan-peraturan yang dibahas dalam
analisis ini masih terlepas dari konteksnya baik konteks individu, keluarga, masyarakat,
maupun institusi. Dalam pelaksanaan di lapangan, faktor konteks atau lingkungan
memainkan peran yang sangat penting dan menentukan keberhasilan pelaksanaan ASI
eksklusif. Studi-studi menunjukkan bahwa di samping faktor internal ibu, situasi dan kondisi
lingkungan eksternal juga penting sebagai penentu keberhasilan pelaksanaan IMD dan ASI
eksklusif.9
Dalam hal ini perlu diperhatikan pergeseran-pergeseran yang terjadi pada ranah
demografi dan sosial-ekonomi. Pemberian ASI eksklusif bagi ibu pekerja, misalnya, belum
diakomodasi oleh peraturan yang ada. Padahal tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan
meningkat terus persentasenya dari 48,63% di tahun 2006 menjadi 49,52% di tahun 2007
dan 51,25% di tahun 2008.4 Dari segi peraturan ketenagakerjaan (Undang-Undang
Ketenagakerjaan No.13/2003 Pasal 81),8 lama cuti hamil dan melahirkan hanya 3 bulan.
ini tentu tidak cukup bagi pelaksanaan ASI eksklusif 6 bulan kecuali jika difasilitasi dengan
instrumen penyimpan ASI baik di rumah maupun di tempat kerja.
Indikator keberhasilan pembangunan kesehatan antara lain adalah penurunan angka
kematian Bayi dan peningkatan status gizi masyarakat. Status gizi masyarakat akan baik
apabila perilaku gizi yang baik dilakukan pada setiap tahap kehidupan termasuk pada Bayi.9
Situasi sosial-ekonomi masyarakat juga penting mendapatkan perhatian. Terutama
yang harus dicermati fenomena pergeseran norma sosial dan kultural terkait pemberian ASI
eksklusif, fenomena massifikasi dan kesetaraan pendidikan tinggi, dan variasi serta jurang
sosial-ekonomi pada berbagai kelompok masyarakat baik di wilayah urban maupun
pedesaan. Gencarnya pemasaran susu formula melalui kampanye terselubung, yaitu sebagai
hadiah kepulangan ibu dan bayi dari fasilitas persalinan dilaporkan masih marak terjadi.9
Lebih lanjut, studi kualitatif tentang praktik keberhasilan dan kegagalan ASI eksklusif di

12
Jakarta tahun 2009 menunjukkan bahwa yang sering menjadi korban dari kampanye demikian
adalah ibu-ibu berpendidikan rendah.4
Kesiapan sarana pelayanan kesehatan khususnya pelayanan kehamilan dan persalinan,
termasuk kesiapan SDM-nya perlu diperhatikan juga apakah peraturan- peraturan tersebut
sudah menyentuh peran dan mempertimbangkan situasinya. Jumlah rumah sakit sayang bayi
diperkirakan hanya sekitar 50-70% pada rumah sakit pemerintah dan 10-20% pada rumah
sakit swasta.4 Pelaksanaan IMD dan ASI eksklusif sangat bergantung pada tindakan yang
diambil oleh tenaga kesehatan dan fasilitas layanan kesehatan pada jam-jam pertama.
Berbagai studi menunjukkan peran vital tenaga kesehatan penolong persalinan dalam
keberhasilan pelaksanaan IMD dan ASI eksklusif.7 Dalam kenyataannya, tidak semua tenaga
kesehatan penolong persalinan baik bidan maupun dokter bebas dari peran sebagai ”agen”
susu formula.
Mengenai hambatan dan kendala pelaksanaan ASI eksklusif 6 bulan sebenarnya
sudah mulai banyak muncul pada dekade terakhir ini. Tetapi apakah yang ada juga dijadikan
bahan pertimbangan dalam mengadopsi kebijakan yang bermula dari studi WHO tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan mengenai kesesuaian konteks eksternal seperti telah diulas
sebelumnya perlu dijawab dan dicarikan penyesuaian-penyesuaian. Demikian juga perlu
kiranya diluncurkan studi yang mengkaji kesesuaian rekomendasi WHO dengan realita situasi
antropometri dan fisiologis ibu hamil di Indonesia dengan prevalensi Kurang Energi Kronis
pada ibu hamil yang tinggi yaitu masih sekitar 20%.Terdapat kemungkinan munculnya akibat
gizi yang merugikan baik bagi ibu maupun bayi jika dalam kondisi kekurangan gizi
dipaksakan melaksanakan ASI eksklusif selama 6 bulan.4
Diperlukan studi yang komprehensif untuk mengkaji situasi ini dan menguji
pertanyaan-pertanyaan realita kontekstual seputar ASI eksklusif. Kebijakan, selanjutnya,
disusun berdasarkan bukti-bukti empirik dan saintifik yang kuat sehingga tidak menyebabkan
kebijakan menjadi tidak realistis saat diterjemahkan menjadi program atau malah
menimbulkan dampak negatif yang merugikan masyarakat.4
Beberapa kendala dalam hal pemberian ASI Eksklusif adalah ibu tidak percaya diri
bahwa dirinya mampu menyusui dengan baik sehingga mencukupi seluruh kebutuhan gizi
Bayi. Hal ini antara lain disebabkan karena:9
1. Kurangnya pengetahuan ibu
2. Kurangnya dukungan Keluarga
3. Rendahnya kesadaran masyarakat tentang manfaat pemberian ASI Eksklusif

13
4. Kurangnya dukungan Tenaga Kesehatan, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan produsen
makanan bayi untuk keberhasilan ibu dalam menyusui bayinya.

14
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Analisis kebijakan menunjukkan bahwa kebijakan mengenai ASI eksklusif belum
lengkap dan belum komprehensif. Juga ditemukan bahwa IMD belum secara ekskplisit
dimasukkan dalam kebijakan. Analisis kerangka kerja koalisi advokasi mengonfirmasi
lemahnya aspek sistem eksternal dan subsistem kebijakan dalam penyusunan kebijakan ASI
eksklusif. Peraturan-peraturan yang dibahas dalam analisis ini masih terlepas dari konteksnya
baik konteks individu, keluarga, masyarakat, maupun institusi. Dari segi proses, penyusunan
kebijakan terlihat kurang transparan, lambat dan kurang partisipatoris. Belum ada pemetaan
pemeran (aktor) yang jelas terutama pengaturan kewenangan dan tanggung jawab yang
bersifat lintas sektoral dan lintas level. Analisis kerangka kerja koalisi advokasi
mengonfirmasi temuan-temuan hasil analisis dengan metode sebelumnya dengan tekanan
pada lemahnya aspek sistem eksternal dan subsistem kebijakan dalam penyusunan kebijakan
tentang ASI eksklusif. Kebijakan yang ada agar segera diperbarui supaya relevan dari segi
konten, konteks, proses dan aktor dan kebijakan mengenai ASI eksklusif harus memasukan
unsur IMD. Perlu ada desakan yang kuat dari berbagai komponen di masyarakat untuk
menyusun kebijakan ASI eksklusif baru yang mutakhir berbasis evidensi, transparan dan
partisipatoris. Kebijakan yang disusun harus memasukkan unsur sanksi dan reward serta
monitoring dan evaluasi sebagai upaya penguatan implementasi kebijakan di masyarakat.
Perkembangan dan dinamika kebijakan ASI eksklusif perlu terus menerus dicermati agar
dapat dilakukan pengawalan terhadap kebijakan tersebut sehingga dapat diimplementasikan
secara efektif.
4.2 Saran
Perlu peningkatan status hukum kebijakan ASI yang sudah ada. Penegakkan hukum
dibutuhkan dalam rangka meningkatkan komitmen peningkatan penggunaan ASI. Rancangan
Peraturan Pemerintah sebaiknya diganti dengan Undang-undang dimana mewajibkan semua
bayi mendapatkan ASI eksklusif kecuali kondisi tertentu, ibu meninggal, bayi bibir sumbing
atau yang lainnya. Selain itu perlu dibuat aturan yang melarang pemasaran dan penjualan
susu formula umur 0-6 bulan secara bebas.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Policy brief PP no 33 tahun 2012. Kunci Sukses Kebijakan Pemberian ASI
2. Helda. Kebijakan Peningkatan Pemberian ASI Eksklusif. Jurnal Kesehatan
Masyarakat Nasional Vol. 3, No. 5, April 2009
3. Daud Rumangun, Sri Achadi Nugraheni, Martha Irene Kartasurya. Analisis
Implementasi Program Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Remu
Kota Soron. Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia volume 01 tahun 2013.
4. Sandra Fikawati, Ahmad Syafiq. Kajian Implementasi dan Kebijakan Air Susu Ibu
Eksklusif Dan Inisiasi Menyusu Dini di Indonesia. Makara, Kesehatan, vol. 14, no. 1,
juni 2010: 17-24
5. Peraturan Pemerintah No. 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan.
6. Kepmenkes RI No. 450/Menkes/SK/IV/2004 tentang Pemberian ASI secara Eksklusif
pada Bayi di Indonesia.
7. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 237/Menkes/SK/IV/1997 tentang Pemasaran
Pengganti ASI.
8. Siska Fiany. Analisis Kebijakan Kesehatan PP No. 33 Tahun 2012 tentang Pemberian
ASI Eksklusif.
9. Fikawati S, Syafiq A. Praktik pemberian ASI eksklusif, penyebab-penyebab
keberhasilan dan kegagalannya. Jurnal Kesmas Nasional 2009; 4(3):120-131.
10. Undang-Undang Republik Indonesia tentang Ketenagakerjaan No 13/2003 Pasal 8

16
17