You are on page 1of 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Teori Umum

2.1.1 Definisi Tablet

Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang

biasanya dibuat dengan penambahan bahan tambahan yang sesuai, tablet

dapat berbeda ukuran, bentuk, berat, kekerasan dan ketebalan, daya

hancurnya dan aspek lain tergantung dengan pemakaian tablet dan cara

pembuatannya.

Tablet yang dibuat dengan metode apapun harus mempunyai sifat-

sifat yang baik yaitu : cukup kuat dan resisten terhadap gesekan, zat aktif

dalam tablet harus tersedia dalam tubuh, tablet harus mempunyai

keseragaman bobot dan keseragaman kandungan, tablet berpenampilan

baik dan memiliki karakteristik, tablet harus menunjukkan stabilitas fisik

dan kimia serta efikasi yang konsisten.

2.1.2 Definisi Parasetamol

Parasetamol adalah golongan obat analgesik non opioid yang dijual

secara bebas. Indikasi parasetamol adalah untuk sakit kepala, nyeri otot

sementara, sakit menjelang menstruasi, dan diindikasikan juga untuk

demam. Parasetamol itu aman terhadap lambung juga merupakan

Analgesik pilihan untuk ibu hamil maupun menyusui. Tapi bukan berarti

parasetamol tidak mempunyai efek samping. Efek samping parasetamol

berdampak ke liver atau hati. Parasetamol bersifat toksik di hati jika

digunakan dalam dosis besar.

Asetaminofen atau parasetamol memiliki efek antipiretik dan

nonnarkotik yang hampir sama dengan aspirin. Asetaminofen atau

parasetamol tidak menghambat agregasi trombosit juga tidak


menyebabkan distres atau pendarahan lambung. Ia hanya mempunyai

respons inflamasi yang lemah. Asetaminofen diabsorpsi oleh saluran

gastrointestinal dan dimetabolisme dalam hati untuk mengaktifkan zat-zat

metabolisme dalam hati. Waktu puncak bagi asetaminofen terjadi dalam 2

jam dan waktu paruhnya 3 jam.

2.1.3 Spektrofotometri UV-Vis

Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri

dari spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari

spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat

pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorpsi. Jadi,

spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika

energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai

fungsi dari panjang gelombang. Kelebihan spektrofotometer dibandingkan

fotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih dapat lebih terseleksi

dan ini diperoleh dengan alat penguat seperti prisma ataupun celah optis

(Rohman, 2007).

Spektrofotometer yang sesuai pengukuran di daerah spektrum

ultraviolet dan sinar tampak terdiri atas suatu sistem optik dengan

kemampuan menghasilkan sinar monokromatis dalam jangkauan panjang

gelombang 200-800 nm. .

2.1.4 Uji Disolusi Tablet

Disolusi didefenisikan sebagai proses suatu zat padat masuk ke

dalam pelarut menghasilkan suatu larutan. Secara sederhana, disolusi

adalah proses zat padat melarut. Secara prinsip, proses ini dikendalikan

oleh afinitas antara zat padat dan pelarut.

Secara singkat, alat untuk menguji karakteristik disolusi dan

sediaan padat kapsul atau tablet terdiri dari (1) motor pengaduk dengan
kecepata yang dapat diubah, (2) keranjang baja stainless berbentuk silinder

atau dayung untuk ditempelkan ke ujung batang pengaduk, (3) bejana dari

gelas, atau bahan lain yang inert dan transparan dengan volume 1000 ml,

bertutup sesuai dengan di tengah-tengahnya ada tempat untuk

menempelkan pengaduk, dan ada lubang tempat masuk pada 3 tempat, dua

untuk memindahkan contoh dan satu untuk menempatkan termometer, dan

(4) penangas air yang sesuai untuk menjaga temperatur pada media

disolusi (seperti yang dicantumkan dalam masing-masing monografi)

ditempatkan dalam bejana dan biarkan mencapai temperatur 37°C ± 0,5°C.

Kemudian satu tablet atau satu kapsul yang diuji dicelupkan ke

dalam bejana atau ditempatkan dalam keranjang dan pengaduk diputar

dengan kecepatan seperti yang ditetapkan dalam monografi. Pada waktu-

waktu tertentu contoh dari mesia diambil untuk analisis kimia dari bagian

obat yang terlarut. Tablet atau kapsul harus memenuhi persyaratan seperti

yang tertera dalam monografi untuk kecepatan disolusi (Ansel, 1989).

Metode dayung terdiri atas suatu dayung yang dilapisi khusus,

yang berfungsi memperkecil turbulensi yang disebabkan oleh pengadukan.

Dayung diikat secara vertikal ke suatu motor yang berputar dengan suatu

kecepatan yang terkendali. Tablet atau kapsul diletakkan dalam labu

pelarutan yang beralas bulat yang juga berfungsi untuk memperkecil

turbulensi dari media pelarutan. Alat ditempatkan dalam suatu bak air

yang bersuhu konstan, seperti pada metode basket dipertahankan pada

37°C. Posisi dan kesejajaran dayung ditetapkan dalam USP. Metode

dayung sangat peka terhadap kemiringan dayung. Pada beberapa produk

obat, kesejajaran dayung yang tidak tepat secara drastis dapat

mempengaruhi hasil pelarutan.Standar kalibrasi pelarutan yang sama


digunakan untuk memeriksa peralatan sebelum uji dilaksanakan (Agoes,

2008).

Dapus

Ansel, HC. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi Ke -4. Farida Ibrahim;

penerjemah. Jakarta : Universitas Indonesia Pr. Terjemahan dari Introduction to

Pharmaceutical Dosage Forms.

Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta : Departemen Kesehatan

Replubik Indonesia.

Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi Keempat. Jakarta : Departemen

Kesehatan Replubik Indonesia.

Abdul Rohman. (2007). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Agoes, G., 2008, Pengembangan Sediaan Farmasi, Edisi Revisi & Pelunasan, ITB, Bandung,