You are on page 1of 15

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

GAKY adalah masalah kesehatan masyarakat global yang endemik di daerah pegunungan

Eropa, Asia, Amerika Selatan dan Tengah dan Afrika Timur. Secara global, 241 juta anak-anak

sekolah menderita GAKY, sementara lebih dari 1,5 miliar orang berisiko terhadap gaky .

Demikian juga, GAKY diamati di antara 57 juta anak-anak Afrika . Di Afrika, terlepas dari

kepentingan kesehatan masyarakatnya, tingginya beban penyakit menular, krisis sosial ekonomi,

dan ketidakstabilan politik di masa lalu telah membuat penghapusan GAKY lebih menantang .

Di Ethiopia, GAKY tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat di kalangan anak-anak sekolah

selama beberapa dekade dan tingkat prevalensi telah mencapai 59,1% di Distrik Senbo, Ethiopia

barat daya. Juga, hal itu menyebabkan 37,3 kretin, 33,4 keguguran, dan 47,5 kelahiran dan

kematian neonatal per 1000 kelahiran hidup.

Menyadari masalah tersebut, Pemerintah Ethiopia telah merencanakan untuk

memberantas GAKY dan untuk mencapai pemanfaatan garam beryodium secara memadai

sampai 90% pada tahun 2015 . Selanjutnya, Kementerian Kesehatan Federal merancang Program

Nutrisi Nasional dan pedoman mikronutrien, dan mendukung sebuah pengumuman untuk

memastikan tersedianya garam beryodium, meskipun ada perubahan signifikan yang belum

dicapai . Dengan demikian, menyelidiki beban GAKY memiliki arti penting untuk mengevaluasi

kemajuan intervensi saat ini, namun literatur kurang diperhatikan, terutama di wilayah studi.

Oleh karena itu untuk mengisi kesenjangan pengetahuan, penelitian ini bertujuan untuk
2

memperkirakan prevalensi dan faktor terkait GAKY di antara anak-anak sekolah (6-12 tahun) di

Distrik Robe, tenggara Ethiopia.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian GAKY?

2. Apa factor resiko GAKY?

3. Berapa prevalensi anak yang terkena GAKY

4. Bagaimana penanggulangan dan Pencegahan GAKY?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian Gangguan Akibat kekurangan yodium

2. Untuk mengetahui factor resiko Gaky

3. Untuk mengetahui prevalensi anak terpapar GAKY

4. Untuk mengetahui cara pencegahan dan penanggulan GAKY
3

BAB II
PENDAHULUAN

2.1 Pengertian GAKY
Yodium adalah mikronutrien penting untuk mendukung fungsi fisiologis yang berbeda,

namun kekurangannya dikaitkan dengan masalah kesehatan yang lebih luas . Defisiensi Yodium

dianggap sebagai penyebab keterbelakangan mental yang paling umum dicegah, dan ini

berakibat pada penurunan resistensi terhadap infeksi, kinerja sekolah yang buruk, dan

kekurangan kekuatan fisik anak. Selain itu, laporan sebelumnya mengklaim bahwa GAKY

menyebabkan 25% dari Disability Adjusted Life Years (DALY's) yang terjadi di Afrika.

Akibatnya, ditemukan secara signifikan mempengaruhi perkembangan sosio-ekonomi bangsa

pada umumnya. Dibandingkan dengan segmen populasi lainnya, ibu hamil dan anak sekolah

adalah kelompok yang paling rentan untuk GAKY.

GAKY terutama disebabkan oleh kandungan yodium rendah dalam makanan, yang

berasal dari kadar yodium rendah di tanah, air, atau tanaman pangan . Selain itu, konsumsi zat

gondok yang mengandung makanan, seperti singkong dan millet , dan kekurangan mikronutrien

yang ada bersama (defisiensi besi, selenium dan vitamin A) , status sosial ekonomi rumah tangga

yang buruk, pendidikan ibu yang rendah, Tidak tersedianya jamban, usia lanjut dan jenis kelamin

anak adalah beberapa faktor yang terkait dengan GAKY.

Gangguan Akibat kekurangan Yodium (GAKY) menurut Depkes RI tahun 1997 adalah

sekumpulan gejala atau kelainan yang ditimbulkan karena tubuh menderita kekurangan yodium

secara terus-menerus dalam waktu lama yang berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan

mahluk hidup (manusia dan hewan) sedangkan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY)
4

atau Iodine DeficiencyDisorders (IDD) merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan

berbagai akibat dari kekurangan yodium pada suatu penduduk dan gangguan ini bisa dicegah

dengan mengatasi kekurangan yodium.

Iodine defisiensi disorder (IDD) atau gangguan akibat kurang yodium adalah istilah yang

lebih tepat untuk menggambarkan akibat defisiensi yodium. Istilah ini mencerminkan

pemahaman baru akan spectrum yang luas dari defisiensi yodium pada seluruh populasi mulai

dari fetus, neonatus, anak hingga usia dewasa (Hetzel, 1989)

2.2 Faktor Risiko Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY)

1. Faktor Konsumsi Makanan Zat Goitrogenik

Goitrogen adalah bahan kimia yang bersifat toksik terhadap tiroid atau dipecah

untuk menghasilkan bahan kimia toksik. Goitrogenik yaitu zat yang dapat menghambat

produksi ataupun penggunaan hormone tiroid. Zat goitrogenik tiosianat dapat

menyebabkan kejadian GAKY menjadi lebih parah. Tiosianat terdapat di berbagai

makanan, seperti singkong, kubis/kol, lobak cina, rebung. Thaha dkk (2000) menyatakan

bahwa Tiosianat atau senyawa mirip tiosianat terutama bekerja dengan menghambat

mekanisme transpor aktif yodium ke dalam kelenjar tiroid.

2. Kurangnya Konsumsi Makanan Kaya Yodium

Rata-rata konsumsi bahan makanan kaya yodium pada penduduk di desa-desa

lereng gunung daerah endemis GAKY di Pati dan Jepara 1-2 kali dalam seminggu,

sedangkan pada daerah dataran rendah konsumsi ikan laut 2-4 kali dalam seminggu. Hal

ini dipengaruhi oleh faktor kesediaan pangan, sosial ekonomi, dan kebiasaan penduduk

serta tingkat pengetahuan tentang GAKY yang rendah. (Fatimah dalam Ritanto, 2003)
5

3. Pengetahuan Orang Tua

Pada umumnya responden dalam studi tersebut menunjukan bahwa 66,7 % belum

pernah mendengar suntikan lipiodol baik di daerah gondok endemik sedang maupun

berat.

4. Defisiensi Zat Gizi Lain

Dalam berbagai kajian mutakhir ditemukan bahwa selain goitrogen juga didapati

adanya berbagai zat gizi yang berpengaruh terhadap metabolisme yodium, yang pada

gilirannya berpengaruh terhadap kejadian kegawatan dan prognosis GAKY. Klasifikasi

Nutrien Type l bersama-sama dengan zat gizi lain seperti besi, selenium, kalsium, tiamin

mempunyai ciri yang apabila kekurangan maka gangguan pertumbuhan bukan

merupakan tanda yang pertama melainkan timbul setelah tahap akhir dari kekurangan zat

gizi tersebut. Tanda yang spesifiklah yang pertama akan timbul, dalam hal ini apabila

kekurangan yodium dapat menyebabkan gangguan yang sering disebut Iodine Deficiency

Disorder (IDD). Sedangkan pada Type ll bersama-sama dengan zat gizi lain seperti

potasium, natrium, zink pertumbuhan akan terganggu terlebih dahulu, tetapi memberikan

penilaian biokimia cairan tubuh yang normal. Konsumsi makanan harian akan

menggambarkan status gizi seseorang, status gizi kurang atau buruk akan berisiko pada

biosintesis hormon tiroid karena kurangnya TBP (Thyroxin Binding Protein), sehingga

hormon tiroid akan kurang disintesis.

5. Kandungan Yodium dalam Garam Dapur

Program yodisasi garam adalah salah satu upaya yang ditempuh oleh Pemerintah

untuk menanggulangi Gangguan Akibat Kekurangan Yodium. Sejak awal dicetuskannya,

program iodisasi garam dititikberatkan pada pengadaan garam konsumsi beriodium,
6

sehingga seluruh garam konsumsi yang beredar di masyarakat mengandung yodium

dengan kadar KIO3 40 ppm

6. Kandungan Yodium dalam Air

Kandungan yodium dalam tanah pertanian pada daerah endemik gondok

berpengaruh secara bermakna terhadap kejadian gondok, ditunjukan dengan hasil

pengukuran kadar yodium dalam tanah di daerah endemik (rata-rata 0,13 μg/L) lebih

rendah dari pada kandungan yodium tanah daerah non endemik (ratarata 0,21 μg/L).

Penyebab GAKY di daerah endemik adalah rendahnya asupan sehari-hari yang

disebabkan oleh rendahnya kadar yodium di dalam bahan makanan dan air minum.

Meskipun kekurangan yodium merupakan faktor paling penting terhadap

terjadinya GAKY, tetapi ada beberapa faktor lain yang mempunyai pengaruh terhadap

menetap dan berkembangnya kasuskasus baru di berbagai daerah endemis, yang meliputi

:

1. Faktor Genetik

Terdapatnya prevalensi yang tinggi kejadian gondok pada beberapa anggota

keluarga disebabkan rendahnya efisiensi biologi tiroid. Ditemukannya antibodi

imunoglubolin (IgG) dalam serum penderita, antibodi ini mungkin diakibatkan karena

suatu kelainan imunitas yang bersifat herediter yang memungkinkan kelompok limfosit

tertentu dapat bertahan, berkembang biak dan mengekskresi imunoglobulin stimulator,

sebagai respon terhadap beberapa faktor perangsang.

2. Gangguan Metabolisme Fungsi tiroid

Fungsi tiroid merupakan salah satu komponen sistem yang sangat komplek. Bila

terjadi defek pada salah satu fase akan mempengaruhi status tiroid, misalnya pada pasien
7

dengan sindrom resistensi hormone tiroid sebenarnya memiliki fungsi tiroid yang normal

tetapi statusnya bisa berkisar dari hipotiroid sampai hipertiroid. Dengan kata lain baik

kekurangan maupun kelebihan asupan yodium akan memberikan dampak terhadap fungsi

maupun morfologi kelenjar tiroid.

2.3 Prevalensi anak yang terkena GAKY

Sebanyak 393 anak berpartisipasi dalam penelitian ini yang memberikan Tingkat

respon 93,1%. Rata-rata (± Standar Deviasi, SD) usia anak-anak adalah 9,15 (± 1,6)

tahun dan hampir Dua pertiga (46,7%) berusia 6-9 tahun. Sekitar dua pertiga (72,0%)

anak-anak memiliki lebih dari lima keluarga Anggota. Hampir semua ibu (90,6%) dan

ayah (95,2%) melek huruf (Tabel 1). Mayoritas (84,2%) anak-anak memiliki tiga reguler

Makan per hari, sedangkan sekitar 75,6% disajikan makanan segar. Pola diet sebagian

besar anak Sebagian besar didasarkan pada sereal (91,9%), dan kacang polong

(74,3%), diikuti sayuran (63,9%) dan produk susu (59,9%). Namun, konsumsi makanan

hewani Produk rendah, dimana sekitar seperempat (25,7, dan 23%, masing-masing) anak-

anak makan daging dan telur. Hanya Sedikit, 4,8%, mereka makan ikan dalam 24-jam

terakhir. Hampir semua (99,7%) orang tua memiliki jamban pribadi. Dan mengakses air

dari sumber yang aman (91,7%).

Kira-kira sepertiga (28,8%) orang tua memiliki berkebun di rumah untuk buah

dan sayuran. Dalam penelitian ini, kadar yodium urin median adalah 78 μg /L, dan sekitar

57% [95% CI: 48.0, 66.0%] anak-anak. Memiliki kadar yodium urin rendah (<100 μg /

L), menunjukkan ID. Dari anak-anak dengan ID, hampir setengah (42%) memiliki Kadar
8

iodin urin 50-99 μg / l, sedangkan sekitar 3,3 dan 11,7% memiliki kadar yodium urin <20

μg / l dan 20- 49 μg / l, masing-masing.

Selain itu, prevalensi keseluruhan gondok adalah 43,5% [95% CI: 33,9, 53,1%],

dimana sekitar 31,3 dan 12,2% Ditemukan dengan gondok kelas 1 dan kelas 2. Namun,

hanya 29% rumah tangga yang memiliki cukup garam beryodium. Rumah tangga dengan

garam beryodium kurang (71%), sekitar 2 dan 69% dari sampel garam. Ditemukan

dengan '0'ppm dan' <15 'ppm. Baik regresi logistik bivariat maupun multivariat Analisis

dilakukan untuk mengidentifikasi faktor - faktor penentu ID (kadar yodium urin <100 μg

/ l). Dengan demikian, hasil analisis regresi logistik bivariat menunjukkan umur dan jenis

kelamin dan status pendidikan sang ayah, Secara signifikan terkait dengan ID.

Akibatnya, kemungkinan ID di antaranya Anak usia 10-12 tahun adalah 2,1 kali

[AOR = 2,1; 95% CI: 1,44, 3,42] lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak berusia 6-9

tahun. Demikian juga, kemungkinan ID di antara laki-laki Anak-anak 2,2 kali [AOR =

2,2; 95% CI: 1,54, 3,55] Lebih tinggi dari pada rekan perempuan.

2.4 Pencegahan dan penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY)

Penanggulangan defisiensi yodium telah dilakukan selama lebih dari 85 tahun

yang lalu. Dimulai di Switzerland pada tahun 1921 dan di AS pada tahun 1924, hampir

semua industri garam nasional diperintahkan untuk menambahkan yodium. Di India

efektifitas program garam beryodium didemonstrasikan pada tahun 1950 pada studi

Landmark oleh Vulimiri Ramalinyaswami.
9

Ketika penanggulangan garam beryodium mulai diterima pada tahun 1980 agensi

Internasional seperti UNICEF mulai menekankan pemakaian garam beryodium disemua

rumah tangga di seluruh dunia

WHO (1993) menyatakan bahwa program pengendalian defisiensi yodium adalah

fortifikasi garam dengan potassium iodate dan pemberian suplemen dengan kapsul

minyak beryodium. Pemakaian garam beryodium diperuntukkan bagi semua lapisan

masyarakat dan program kapsul minyak beryodium diperuntukkan pada kelompok yang

spesifik seperti anak-anak dan ibu nifas.

Penanggulangan GAKY di Indonesia secara nasional dimulai pada tahun 1974

melalui program:

1. Strategi jangka panjang dengan pemberian garam beryodium (40 ppm).

2. Strategi jangka pendek dengan pemberian suntikan lipiodol setiap 4 tahun di daerah

endemik berat dan sedang. Pada tahun 1992 sampai sekarang dilakukan distribusi

kapsul minyak beryodium (kapsul lipiodol) sebagai ganti suntikan lipiodol (Soeharyo,

dkk).
10

Prioritas pemilihan wilayah penanggulangan GAKY seperti pada Tabel 6.

Tabel 6

Prioritas Wilayah Program Penanggulangan GAKY

Kapsul minyak beryodium diberikan satu kali setahun dengan kandungan 200 mg

yodium. Kadar yodium dalam garam yang diperbolehkan dikonsumsi adalah 30 - 80 ppm.

Proyek Intensifikasi Penanggulangan GAKY (IP-GAKY) telah dilaksanakan dengan

bantuan Bank Dunia sejak tahun 1997-2003 untuk mempercepat penurunan prevalensi

GAKY melalui pencapaian konsumsi garam beryodium untuk semua (Universal Salt

Iodization). Program yang dilaksanakan:

1. Pemantauan status yodium masyarakat

2. Peningkatan konsumsi garam beryodium

3. Peningkatan pasokan garam beryodium

4. Distribusi kapsul minyak beryodium pada sasaran tepat

Tahun 2002, sidang United Nations General Assembly (UNGASS) telah

menyepakati pembaharuan komitmen Word Summit for Children untuk pencapaian

eliminasi GAKY dan Universal Salt Iodization (USI), yaitu konsumsi garam beryodium

90 % secara berkesinambungan pada tahun 2005. Sedangkan target yang ditetapkan
11

dalam Indonesia Sehat adalah pencapaian USI pada tahun 2010 (Tim Penanggulangan

GAKY Pusat dalam rusnelly, 2006)

Mengingat dampak negatif yang ditimbulkan oleh masalah GAKY diketahui

secara langsung dalam penurunan kualitas sumber daya manusia, wajar bila pemerintah

Indonesia memberikan perhatian yang cukup besar dan serius pada masalah ini. Upaya

dilakukan pemerintah dalam pencegahan kekurangan unsur yodium sudah lama

dilakukan, tetapi belum memberikan hasil yang memuaskan, walaupun jumlah daerah

endemis sudah sangat menurun. Prevalensi gondok berdasar TGR yang semula 27,7%

(1990) menjadi 9,8% (1998). Salah satu upaya yang telah dilakukan mulai tahun 1974

sampai dengan tahun 1991 adalah penyuntikan larutan yodium dalam minyak (suntikan

lipiodol) pada penduduk berisiko tinggi di daerah gondok endemik sedang dan berat.

Suntikan lipiodol ini dapat diberikan setiap 4 tahun sekali. Wanita usia reproduktif dan

anak sekolah merupakan kelompok sasaran suntikan lipiodol. Pemberian suntikan

lipiodol sebenarnya sudah memberikan hasil yang cukup baik dan terbukti sangat efektif

untuk penanggulangan kekurangan yodium. Hal ini terlihat dari menurunnya angka

prevalensi gondok dan tercegahnya kretin endemic.
12

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Yodium dibutuhkan dalam sintesis dan regulasi Hormon tiroid dan diketahui bahwa

hormon ini ada penting untuk fungsi metabolik normal. Yodium adalah unsur yang harus

dicerna secara teratur dan harus dalam jumlah yang cukup di segala usia. Yodium tidak

disimpan Di tubuh manusia (1,15). Sekitar 25% populasi di dunia, termasuk penduduk Turki,

dihadapkan dengan

GAKY, dan termasuk masalah kesehatan masyarakat yang serius .

Ada beberapa tanda bahwa seseorang berada di daerah yang terpapar GAKY , yaitu

kecerdasan rendah Skor, penurunan tingkat intelektual, kekurangan dalam visual, Persepsi

dan koordinasi motor visual, gangguan bicara, Ketidakmampuan dalam keterampilan motorik

halus, gangguan keseimbangan, Ketulian terisolasi, gejala neurologis seperti tidak beraturan

Temuan electroencephalogram (EEG) .

Kekurangan dalam fungsi intelektual bervariasi tergantung pada waktu, durasi, dan

tingkat keterpaparan terhadap GAKY. Efek GAKY pada fungsi otak pada berbagai tahap

manusia

Kehidupan telah ditunjukkan dalam beberapa penelitian. Dengan cara Contoh, dampak paling

signifikan dari kretinisme endemik.

Pada komponen intelijen terjadi penurunan kecerdasan dan penurunan persepsi visual.

Telah ditunjukkan bahwa kelainan neurologis meningkat dan penurunan kecerdasan pada
13

anak yang terpapar ID, terutama di Indonesia. Yang terpapar pada periode neonatal. Studi di

beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa gaky moderat berdampak negatif

perkembangan kognitif bahkan pada anak normal dan mungkin menjadi penyebab penurunan

Kinerja sekolah.

3.2 SARAN

1. Perlu meningkatkan strategi pemberian penyuluhan pada masyarakat tentang bahan

makanan yang kaya akan kandungan zat gizi mikronutrient seng dan yodium, serta

penggunaan garam beryodium dengan benar.

2. Perlu dipertimbangkan pentingnya suplementasi mikronutrient (yodium dan atau seng

pada waktu penderita GAKY dalam kondisi status gizi baik (cukup konsumsi kalori

dan protein).

3. Perlu Adanya perhatian khusus pada daerah endemik GAKY agar prevalensi kejadian

GAKY dapat ditekan.
14

DAFTAR PUSTAKA

Bougma, Karim et all. 2013. Iodine and Mental Development of Children 5 Years Old and
Under: A Systematic Review and Meta-Analysis. ISSN 2072–6643
Hailu, Sintayehu et all. 2016. Iodine deficiency and associated factors among school children: a
cross-sectional study in Ethiopia. Vol. 74:46.
Kanık Yüksek, Saliha et all. 2016. Evaluation of Iodine Deficiency in Children with Attention
Deficit/ Hyperactivity Disorder.Vol. 8: 61 -66.
Kim, Bu Kyung et all. 2014. Current Iodine Nutrition Status and Awareness of
Iodine Deficiency in Tuguegarao, Philippines. Volume 2014, Article ID 210528, 7 pages
15

LAMPIRAN JURNAL