You are on page 1of 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Keberlangsungan berbagai macam bentuk aktivitas dalam masyarakat
serta sektor industri nasional, sangat tergantung terhadap tersedianya energi
listrik. Hal ini yang menyebabkan ketergantungan terhadap ketersediaan energi
listrik semakin hari semakin meningkat. Oleh karena itu sektor ketenagalistrikan
mempunyai peranan yang sangat strategis dalam menentukan upaya peningkatan
kesejahteraan masyarakat serta mendorong berjalannya roda perekonomian
nasional. Saat ini panas bumi (geotermal) mulai menjadi perhatian dunia.
Beberapa pembangkit listrik bertenaga panas bumi sudah dimanfaatkan di
banyak negara seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, Prancis, Italia, Swedia,
Swiss, Jerman, Selandia Baru, Australia, dan Jepang. Bahkan, sejak 2005 AS
sudah sibuk dengan riset besar mereka di bidang geotermal, yaitu Enhanced
Geothermal Systems (EGS). Saat harga minyak bumi melambung seperti saat ini,
panas bumi menjadi salah satu energi alternatif yang tepat bagi pembangkit listrik
di Indonesia. Panas bumi di Indonesia mudah didapat secara kontinu dalam
jumlah besar, tidak terpengaruh cuaca, dan jauh lebih murah biaya produksinya
daripada minyak bumi atau batu bara. Untuk menghasilkan 330 megawatt (MW),
pembangkit listrik berbahan dasar minyak bumi memerlukan 105 juta barrel
minyak bumi, sementara pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) hanya
mengolah sumber panas yang tersimpan di reservoir perut bumi.
Panas bumi sangat perlu untuk dikembangkan di Indonesia. Beberapa hal
yang menjadi sebab mengapa sumber energi ini perlu dikembangkan adalah
keterbatasan dan menurunnya cadangan energi fosil di Indonesia, sebagai sumber
energi pendamping energi fosil guna menjamin kelangsungan pemenuhan
kebutuhan energi nasional (energy security) dan mencapai daerah terpencil, dan
sifatnya yang terbaharui secara alami dan ramah lingkungan. Pengembangan
sumber daya panas bumi memerlukan investasi yang cukup besar, sehingga

1
pengembangannya relatif sangat lambat. Namun demikian, memiliki keunggulan
yaitu emisi CO2 yang dikeluarkan sangat rendah. Suatu investasi yang cukup
besar diperlukan untuk dapat mengembangkan energi panas bumi di Indonesia.

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana perkembangan energi panas bumi di Indonesia?
2. Apa keuntungan penggunaan energi panas bumi?
3. Apa kendala penggunaan energi panas bumi?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui perkembangan energi panas bumi di Indonesia.
2. Untuk mengetahui keuntungan penggunaan energi panas bumi.
3. Untuk mengetahui kendala penggunaan energi panas bumi

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sejarah Energi Panas Bumi


Energi panas bumi merupakan energi panas yang tersimpan dalam batuan
di bawah permukaan bumi. Energi panas bumi berasal dari aktivitas tektonik di
dalam bumi yang terjadi sejak bumi tercipta. Sebagian panas tersebut juga berasal
dari panas matahari yang diserap oleh permukaan bumi. Penggunaan energi panas
bumi bukanlah suatu hal yang baru dan telah dipergunakan sejak peradaban
Romawi untuk pemanas ruangan. Pangeran Piero Ginori Conti tercatat merupakan
orang pertama yang melakukan eksperimen penggunaan generator panas bumi
pada 4 Juli 1904 di wilayah panas bumi Larderello, Italia. Eksperimennya berhasil
menyalakan empat lampu listrik pada waktu itu. Pada tahun 1911 pembangkit
energi listrik panas bumi komersial pertama di dunia didirikan di Larderello,
Italia. Keberhasilan Italia kemudian diikuti oleh Eslandia (1930), Selandia Baru
(1958) dan Amerika Serikat (1962).
Upaya eksplorasi panas bumi di Indonesia sendiri telah dimulai sejak masa
pra kemerdekaan (1918), namun baru dilakukan secara luas pada tahun 1972.
Indonesia berhasil membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi komersial
pertama berlokasi di Kamojang, Jawa Barat pada tahun 1983 dengan bantuan
hibah dari Selandia Baru. Saat ini, energi panas bumi semakin populer
dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik. The Great Geyser di sebelah barat
daya Eslandia dan berlokasi dekat dengan kutub utara merupakan wilayah sumber
panas bumi terbesar di dunia.
Lima negara yaitu El Salvador, Kenya, Filipina, Eslandia dan Kosta Rika
menggunakan energi panas bumi untuk menyuplai lebih dari 15% kebutuhan
listriknya. Selandia Baru telah menggunakan energi panas bumi untuk
membangkitkan energi listrik sejak tahun 1958. Total pasokan energi listrik dari
panas bumi di Selandia Baru adalah sebesar 24,5%. Amerika Serikat membangun
pembangkit energi listrik panas bumi pertamanya pada tahun 1960 di wilayah The

3
Geysers, California dan mulai beroperasi pada tahun 1962. Perusahaan produsen
listrik panas bumi terbesar dunia adalah Chevron Corporation dengan pusat-pusat
pembangkit terletak di Pulau Jawa dan Filipina. Di samping Chevron terdapat
nama-nama produsen lain yang besar seperti Calpine, India’s Tata Group dan
General Electric. Wilayah panas bumi paling canggih di dunia ada di Geysers,
California. Ladang panas bumi di wilayah ini memiliki 155 pembangkit yang
seluruhnya dimiliki oleh perusahaan Calpine, dengan total listrik yang dihasilkan
sebesar 725 MW.

2.2. Energi Panas Bumi di Indonesia


Di Indonesia usaha pencarian sumber energi panasbumi pertama kali
dilakukan di daerah Kawah Kamojang pada tahun 1918. Pada tahun 1926 hingga
tahun 1929 lima sumur eksplorasi dibor dimana sampai saat ini salah satu dari
sumur tersebut, yaitu sumur KMJ3 masih memproduksikan uap panas kering atau
dry steam. Pecahnya perang dunia dan perang kemerdekaan Indonesia mungkin
merupakan salah satu alasan dihentikannya kegiatan eksplorasi di daerah tersebut.
Kegiatan eksplorasi panas bumi di Indonesia baru dilakukan secara luas
pada tahun 1972. Direktorat Vulkanologi dan Pertamina, dengan bantuan
Pemerintah Perancis dan New Zealand melakukan survey pendahuluan di seluruh
wilayah Indonesia. Dari hasil survey dilaporkan bahwa di Indonesia terdapat 217
prospek panas bumi, yaitu di sepanjang jalur vulkanik mulai dari bagian Barat
Sumatera, terus ke Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan kemudian membelok ke
arah utara melalui Maluku dan Sulawesi.

Gambar 2.1. Potensi Geotermal di Indonesia


(Sumber: Kementrian ESDM RI)

4
Survey yang dilakukan selanjutnya telah berhasil menemukan beberapa
daerah prospek baru sehingga jumlahnya meningkat menjadi 256 prospek, yaitu
84 prospek di Sumatera, 76 prospek di Jawa, 51 prospek di Sulawesi, 21 prospek
di Nusa Tenggara, 3 prospek di Irian, 15 prospek di Maluku dan 5 prospek di
Kalimantan. Sistem panas bumi di Indonesia umumnya merupakan sistem
hidrotermal yang mempunyai temperatur tinggi (>225oC), hanya beberapa
diantaranya yang mempunyai temperatur sedang (150-225oC).
Terjadinya sumber energi panas bumi di Indonesia serta karakteristiknya
dijelaskan oleh Budihardi (1998) sebagai berikut. Ada tiga lempengan yang
berinteraksi di Indonesia, yaitu lempeng Pasifik, lempeng India-Australia dan
lempeng Eurasia. Tumbukan yang terjadi antara ketiga lempeng tektonik
tersebuttelah memberikan peranan yang sangat penting bagi terbentuknya sumber
energi panas bumi di Indonesia. Tumbukan antara lempeng India-Australia di
sebelah Selatan dan lempeng Eurasia di sebelah Utara mengasilkan zona
penunjaman (subduksi) di kedalaman 160-210 km di bawah Pulau Jawa-Nusa
tenggara dan di kedalaman sekitar 100 km (Rocks et. al, 1982) di bawah Pulau
Sumatera. Hal ini menyebabkan proses magmatisasi di bawah Pulau Sumatera
lebih dangkal dibandingkan dengan di bawah Pulau Jawa atau Nusa Tenggara.
Karena perbedaan kedalaman jenis magma yang dihasilkannya berbeda.
Pada kedalaman yang lebih besar jenis magma yang dihasilkan akan lebih
bersifat basa dan lebih cair dengan kandungan gas magmatik yang lebih tinggi
sehingga menghasilkan erupsi gunung api yang lebih kuat yang pada akhirnya
akan menghasilkan endapan vulkanik yang lebihtebal dan terhampar luas. Oleh
karena itu, reservoir panas bumi di Pulau Jawa umumnyalebih dalam dan
menempati batuan vulkanik, sedangkan reservoir panas bumi di Sumatera terdapat
di dalam batuan sedimen dan ditemukan pada kedalaman yang lebih dangkal.

2.3. Sistem Hidrotermal


Sistem panas bumi di Indonesia umumnya merupakan sistemhidrotermal
yang mempunyai temperatur tinggi (>225oC), hanya beberapa diantaranya yang
mempunyai temperatursedang (150-225oC). Pada dasarnya sistem panas bumi

5
jenis hidrotermal terbentuk sebagai hasil perpindahan panas dari suatu sumber
panas ke sekelilingnya yang terjadi secara konduksi dan secara konveksi.
Perpindahan panas secara konduksi terjadi melalui batuan, sedangkan
perpindahan panas secara konveksi terjadi karena adanya kontak antara air dengan
suatu sumber panas. Perpindahan panas secara konveksi pada dasarnya terjadi
karena gaya apung (bouyancy). Air karena gayagravitasi selalu mempunyai
kecenderungan untuk bergerak kebawah, akan tetapi apabila air tersebut kontak
dengan suatu sumber panas maka akan terjadi perpindahan panas sehingga
temperatur air menjadi lebih tinggi dan air menjadi lebih ringan. Keadaan ini
menyebabkan air yang lebih panas bergerak ke atas dan air yang lebih dingin
bergerak turun ke bawah, sehingga terjadi sirkulasi air atau arus konveksi.Adanya
suatu sistim hidrotermal di bawah permukaan sering kali ditunjukkan oleh
adanyamanifestasi panasbumi di permukaan (geothermal surface manifestation),
seperti mata air panas, kubangan lumpur panas (mud pools), geyser dan
manifestasi panasbumi lainnya, dimana beberapa diantaranya, yaitu mata air
panas, kolam air panas sering dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk
mandi, berendam, mencuci, dan masak. Manifestasi panasbumi di permukaan
diperkirakan terjadi karena adanya perambatan panas dari bawah permukaan atau
karena adanya rekahan-rekahan yang memungkinkan fluida panasbumi (uap dan
air panas) mengalir ke permukaan.
Dibandingkan dengan temperatur reservoir minyak, temperatur reservoir
panasbumi relatif sangat tinggi, bisa mencapai 3500oC. Berdasarkan pada
besarnya temperatur, Hochstein (1990) membedakan sistem panasbumi menjadi
tiga, yaitu:
1. Sistim panas bumi bertemperatur rendah, yaitu suatu sistim yang reservoirnya
mengandung fluida dengan temperatur lebih kecil dari 125ºC.
2. Sistim/reservoir bertemperatur sedang, yaitu suatu sistim yang reservoirnya
mengandung fluida bertemperatur antara 125 ºC dan 225 ºC.
3. Sistim/reservoir bertemperatur tinggi, yaitu suatu sistim yang reservoirnya
mengandung fluida bertemperatur diatas 225 ºC.

6
Sistim panas bumi seringkali juga diklasifikasikan berdasarkan entalpi
fluida yaitu sistim entalpi rendah, sedang, dan tinggi. Kriteria yang digunakan
sebagai dasar klasifikasi pada kenyataannya tidak berdasarkan pada harga entalpi,
akan tetapi berdasarkan pada temperatur mengingat entalphi adalah fungsi dari
temperatur. Pada Tabel dibawah ini ditunjukkan klasifikasi sistim panasbumi yang
biasa digunakan.

2.4. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi(PLTP)


Pembangkit listrik tenaga panas bumi adalah pembangkit listrik yang
menggunakan panas bumi(geothermal) sebagai energi penggeraknya. Indonesia
dikaruniai sumber panas bumi yang berlimpah karena banyaknyagunung berapi
dari pulau-pulau besar yang ada, hanya pulau Kalimantan saja yang tidak
mempunyai potensi panas bumi (Andri, 2011).
Keuntungan teknologi ini antara lain,bersih, dapat beroperasi pada suhu
yang lebih rendah daripada PLTN, dan aman, bahkan geothermaladalah yang
terbersih dibandingkan dengan nuklir, minyak bumi dan batu bara. Pada
umumnya pembangkit listrik panas bumi berdasarkan jenis fluida kerja panas
bumi yang diperoleh dibagi menjadi 3, yaitu :
1) Vapor dominated system (sistem dominasi uap)
2) Flushed steam system
3) Binary cycle system (sistem siklus biner)
Air dan uap panas yang keluar ke permukaan bumi dapat dimanfaatkan
secara langsung sebagai pemanas. Selain bermanfaat sebagai pemanas, panas
bumi dapat dimanfaatkan sebagai tenaga pembangkit listrik. Air panas alami bila
bercampur dengan udara akan menimbulkan uap panas (steam). Air panas dan uap
inilah yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit tenaga listrik.
Agar panas bumi dapat dikonversi menjadi energi listrik maka diperlukan
pembangkit (power plants) (Firdaus, 2013).
Proses dalam pembangkit dimulai dari uap yangdiambil dari panas bumi
yang digunakan untuk memutar turbin. Jika uap tersebutbertemperatur diatas 370
ºC, maka PLTP menggunakan vapor dominated 7 system dimana uap dari panas
bumi langsung digunakan utuk memutar turbin. Jika bertemperatur sekitar 170

7
ºCsampai dengan 370 ºC, maka menggunakan flushed steam systemdimana uap
masih mengandung cairan dan harus dipisahkan dengan flush separator sebelum
memutar turbin. Dalam binary-cycle system uap panas bumi digunakan untuk
memanaskan gas dalam heat exchanger, kemudian gas ini yang akan memutar
turbin (Kevin, 2007).
Proses pembangkitan listrik dimulai dari uap yang diambil dari panas bumi
digunakan untuk memutar turbin. Jika uap tersebut bersuhu diatas 370ºC maka
PLTP menggunakan vapor dominated system dimana uap dari panas bumi
langsung digunakan utuk memutar turbin. Jika bersuhu sekitar 170ºC-370ºCmaka
menggunakan flushed steam system dimana uap masih mengandung cairan dan
harus dipisahkan dengan flush separator sebelum memutar turbin. Dalam binary
cycle system uap panas bumi digunakan untuk memanaskan gas dalam heat
exchanger kemudian gas ini yang akan memutar turbin. Prinsip kerja PLTP sama
saja dengan PLTU. Hanya saja uap yang digunakan adalah uap panas bumi yang
berasal langsung dari perut bumi. Karena itu, PLTP biasanya dibangun di daerah
pegunungan atau dekat gunung berapi, namun PLTP memerlukan biaya investasi
yang besar terutama untuk biaya eksplorasi dan pengeboran perut bumi.

2.5. Keuntungan Pemanfaatan Energi Panas Bumi


Jika dibandingkan dengan sumber energi lainnya, pemanfaatan geothermal
memiliki banyak keuntungan, terutama di sektor lingkungan maupun ekonomi.
Pada sektor lingkungan, pembangkit listrik energypanas bumi adalah pembangkit
listrik yang paling ramah lingkungan. Berbeda dengan PLTU, PLTP tidak
memerlukan bahan bakar, sehingga kebersihan lingkungan dapat lebih terjaga.
Limbah hasil produksi energi panas bumi hanya berupa air, jadi tidak
akanmenimbulkan polusi udara danmerusak atmosfer.
Selain itu, pembangkit listrik energi panas bumi juga tidak akan
mempengaruhi keberadaan air tanah, karena sisa buangan air disuntikkan ke bumi
dengan kedalaman yang jauh dari lapisan air tanah.Keuntungan lain dari
penggunaan PLTP adalah emisi karbon yang dihasilkan lebih sedikit dari PLTU.

8
Emisi karbon yang dihasilkan PLTP hanya sekitar 175 kg/MWh, sedangkan emisi
karbon yang dihasilkan dari PLTU adalah sekitar 980 kg/MWh.

Gambar 2.2. Emisi gas CO2


(Sumber: Suharmanto)
Pada sektor ekonomi, penggunaan energi panas bumi dapat menambah
devisa negara. Hal itu bukan hanya berarti kita mengekspor energy panas bumi.
Mengekspor energypanas bumi mungkin saja terjadi, namun pasti akan ada
beberapa kendala. Karena sifatnya yang tidak dapat diangkut jauh dari sumbernya.
Jika menggunakan PLTP, maka secara otomatis penggunaan bahan bakar fosil
akan terkurangi, sehingga bahan bakar fosil yang dihasilkan oleh pertambangan di
Negara Indonesia dapat diekspor ke luar negeri.

9
10
BAB III
METODOLOGI

3.1. Metode Geolistrik


Metode yang paling sering digunakan untuk penelitian dan eksplorasi
panas bumi adalah metode geolistrik, khususnya dengan mendeteksi tahanan jenis
dari suatu daerah yang diteliti. Hal ini bermanfaat karena dapat menentukan
distribusi tahanan jenis dari batuan-batuan yang ada di bawah permukaan bumi
dengan itu dapat diinterpretasi material-material yang ada di permukaan bumi.
Metode tahanan jenis terutama sangat berguna untuk daerah-daerah yang
mempunyai kontras atau perbedaan tahanan jenis yang cukup jelas dengan daerah
sekitarnya, seperti pada daerah suber daya panas bumi. Dengan metode geolistrik,
struktur di bawah permukaan daerah panas bumi dapat dipetakan guna
penyelidikan panas bumi. Struktur ini dapat diperlihatkan melaui penampang
tahanan jenis dari struktur bawah permukaan bumi yang mencerminkan sifat fisik
dari lapisan di dalam permukaan daerah tersebut. Metode geolistrik dilakukan
dengan pengukuran beda potensial pada titik-titik di permukaan yang dilakukan
dengan produksi langsung arus yang dialirkan ke bawah permukaan. Hal ini
dilakukan guna mengetahui perbedaan-perbedaan atau kontras tahanan jenis
material di bawah permukaan bumi dan kemudian digunakan untuk
mengiterpretasi material-material yang ada di bawah permukaan bumi.

3.2. Metode Gaya Berat (Gravity)


Studi gayaberat menggunakan perubahan rapat masa untuk melihat
karakteristik sifat bawah permukaan. Metode ini juga sangat baik diterapkan
untuk mengidentifikasi anomali bawah permukaan termasuk “body” granit, yang
mana sangat penting untuk menemukan potensi panas bumi. Metode gayaberat
juga juga dapat mengidentifikasi jalur patahan bawah permukaan. Jalur patahan
ini sering diidentifikasi sebagai lokasi pengeboran utama dengan rapatmassa yang
jauh lebih kecil daripada materi sekitarnya. Perubahan tingkat air tanah juga dapat

11
diukur dan diidentifikasi dengan metode gayaberat. Unsur resapan sangat penting
dalam menciptakan sistem panas bumi yang produktif.
Kerapatan dan kepadatan pori keseluruhan selanjutnya dipengaruhi oleh
aliran fluida sehingga mengubah medan gravitasi. Jika dikoreksi terhadap kondisi
cuaca, metoda ini dapat mengukur dan memodelkan perkiraan laju resapan dalam
reservoir panas bumi. Pengukuran CSAMT/Magnetotellurics (MT) dapat
mendeteksi anomali resistivitas terkait dengan struktur produktif panas bumi,
termasuk patahan dan adanya batuan perangkap, juga untuk estimasi suhu
reservoir panas bumi di berbagai kedalaman. CSAMT/MT telah berhasil
memberikan kontribusi terhadap pemetaan dan pengembangan sumber daya panas
bumi di seluruh dunia sejak awal 1980-an.
Materi geologi pada umumnya bersifat konduktor listrik lemah dan
memiliki resistivitastinggi. Namun, cairan hidrotermal dalam pori-pori dan
patahan bumi meningkatkan konduktivitas dari bahan bawah permukaan.
Perubahan konduktivitas ini digunakan untuk memetakan geologi bawah
permukaan dan memperkirakan kandungan bahan bawah permukaan.
Metode magnet dalam eksplorasi panas bumi melibatkan identifikasi
kedalaman titik curie atau suhu curie. Pada titik curie, bahan akan berubah dari
feromagnetik ke paramagnetic. Menemukan suhu curie untuk bahan bawah
permukaan memberikan perkiraan pada masa depan produktivitas. Misalnya,
titanomagnetite, bahan umum di bidang panas bumi, memiliki suhu curie antara
200-570°C. Anomali geometris sederhana dimodelkan pada kedalaman yang
berbeda untuk memperkirakan kedalaman curie.

3.3. Metode Geomagnet


Salah satu metode geofisika untuk melihat potensi tersebut adalah metode
geomagnet. Metode tersebut diterapkan untuk mengetahui sifat-sifat fisik batuan
yang ada di bawah permukaan. Dalam eksplorasi panas bumi, metode magnetik
digunakan untuk mengetahui variasi medan magnet di daerah penelitian. Variasi
magnet disebabkan oleh sifat kemagnetan yang tidak homogen dari kerak bumi.
Dimana batuan di dalam sistem panas bumi pada umumnya memiliki magnetisasi
rendah dibanding batuan sekitarnya. Hal ini disebabkan adanya proses

12
demagnetisasi oleh proses alterasi hidrotermal, dimana proses tersebut mengubah
mineral yang ada menjadi mineralmineral paramagnetik atau bahkan diamagnetik.
Nilai magnet yang rendah tersebut dapat menginterpretasikan zona-zona
potensial sebagai reservoar dan sumber panas Bumi. Sasaran utama dari penelitian
magnetik adalah untuk mendapatkan data bawah permukaan yang berkaitan
dengan manifestasi panas bumi di daerah penelitian dan sekaligus untuk
melokalisir daerah anomali magnetik rendah (low magnetic anomaly) yang
diperkirakan berkaitan erat dengan manifestasi panas bumi di daerah tersebut.

3.4. Metode Seismik


Berdasarkan Undang-undang Nomor 27 Tahun 2003, sumber energi panas
bumi atau yang sering disebut Geothermal adalah sumber energi panas yang
terkandung di dalam air panas, uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan
gas lainnya yang secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu
sistem panas bumi. Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi
geothermal terbesar di dunia dengan cadangan sekitar 40% dari cadangan energi
panas bumi dunia. Sesuai dengan Peraturan Presiden RI Nomor 5 Tahun 2006
tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) bahwasanya pemanfaatan panas bumi
ditargetkan menjadi energi primer yang optimal dengan pemanfaatan lebih dari
5% pada tahun 2025. Aktivitas kegempaan merupakan salah satu fenomena yang
terjadi pada area produksi Geothermal. Gempa kecil atau micro earthqauke terjadi
dengan magnitudo kurang dari 3 Mw.
Injeksi fluida pada saat proses produksi akan menghasilkan tekanan yang
melawan formasi batuan dan menciptakan hydraulyc fracture. Dari fracture yang
terbentuk akan menyebabkan timbulnya micro erathquake yang melepakan energi
gelombang seismic. Oleh karena adanya aktivitas kegempaan ini, untuk
melakukan monitoring pada zona reservoir Geothermal gunung Salak dapat
digunakan metode micro earthquake (MEQ) yang merupakan metode passive
seismic untuk melihat distribusi gelombang mikro yang terjadi pada zona
reservoir.
Melalui pengukuran dengan metode ini akan didapatkan nilai kecepatan
gelombang-p dan gelombang-s yang merambat pada medium bumi. Nilai ini dapat

13
digunakan untuk mengestimasi sebaran nilai Rasio poisson pada suatu batuan
pada zona reservoir Geothermal. Rasio poisson merupakan sifat mekanik batuan
yang mengindikasikan tingkat fracturing pada batuan tersebut yang mana nilai
Rasio poisson akan lebih tinggi dari kondisi normal pada batuan yang terisi liquid
(cairan). Nilai Rasio poisson digunakan untuk memprediksi prosentase saturasi air
sehingga dapat dilakukan evaluasi terhadap kondisi zona reservoir Geothermal.
Seperti halnya pencarian bahan tambang yang lain, untuk sampai kepada
tahap produksiperlu dilakukan survei atau eksplorasi. Cara untuk memperoleh
sumber panas bumiadalah dengan eksplorasi yang harus dilakukan dalam
beberapa tahap. Tahapan survei eksplorasi sumber panas bumi adalah seperti
berikut:
 Survei pendahuluan dengan interpretasi dan analisa foto udara dan citra
satelit
 Kajian kegunungapian atau studi volkanologi
 Pemetaan geologi dan strutur geologi
 Survei geokimia
 Survei geofisika
 Pemboran eksplorasi
Faktor penting yang sangat mempengaruhi keberhasilan produksi tenaga
listrik darienergi panas bumi adalah besarnya gradien geotermal serta besarnya
panas yangdihasilkan. Semakin besar gradien geotermal maka akan semakin
dangkal sumurproduksi yang dibutuhkan. Semakin tinggi temperatur yang dapat
ditangkap sampai kepermukaan akan semakin mengurangi beaya produksi di
permukaan.Selain temperatur, faktor-faktor lain yang biasanya dipertimbangkan
dalam memutuskanapakah suatu sumberdaya panas bumi layak untuk
dimanfaatkan sebagai pembangkitlistrik adalah sebagai berikut:
 Mempunyai kandungan panas atau cadangan yang besar sehingga mampu
memproduksi uap untuk jangka waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 25-
30 tahun.
 Menghasilkan fluida yang mempunyai pH hampir netral agar laju
korosinya relatif rendah, sehingga fasilitas produksi tidak cepat terkorosi.

14
 Kedalaman reservoir tidak terlalu besar, biasanya tidak lebih dari 300 m di
bawahpermukaan tanah.
 Berada di daerah yang relatif tidak sulit dicapai.

15
BAB IV
HASIL PENELITIAN

4.1. Kandungan Kimia dan Kualitas Uap


Uap yang dihasilkan PLTP memiliki kandungan kimia dan kualitas uap
yang apa adanya, tergantung dengan yang dihasilkan oleh sumur uap. Uap panas
bumi Kamojang termasuk salah satu yang memiliki kualitas uap yang terbaik di
dunia. Walaupun demikian, uap tersebut harus dianalisis kembali oleh pihak
PLTP Kamojang. Analisis dilakukan setiap seminggu sekali dengan tujuan untuk
memonitor kualitas uap yang akan dijadikan fluida kerja.
Ada beberapa cara yang biasa dilakukan untuk mengantisipasinya. Salah
satu cara yang digunakan untuk mengurangi lumpur dan material adalah dengan
cara pengelolaan sumur, dimana uap yang keluar dari sumur harus di blow off
tegak lurus selama selang waktu tertentu agar lumpur dan material lainnya tidak
terbawa karena perbedaan jenis.

4.2. Sistem Distribusi Transmisi Uap


BBPT sebagai pemasok uap yang akan digunakan oleh PLTP Kamojang
disalurkan melalui empat pipa yang langsung dipasang pada steam receving
header. Pipa tersebut mempunyai diameter antara 600-1000 mm. Pipa-pipa
tersebut diletakkan diatas permukaan tanah bertujuan untuk mempermudah
pengecekan apabila terjadi kebocoran pada pipa-pipa tersebut.
Dua lapangan yang telah terbukti termasuk ke dalam sistem dominasi uap
yaitu lapangan Kamojang Darajat yang terletak di Pulau Jawa. Kedua lapangan ini
memiliki temperatur reservoir 230°C sampai 246°C (Kamonja) dan antara 230°C
sampai 250°C (Darajat) dan kedalaman puncak reservoir panas bumi Kamojang
rata-rata berkisar antara 800 m sampai 1200 m dan sekitar 700 m sampai 1000 m
untuk Darajat.

16
4.3. Sistem Pembangkit PLTP
Sistem pembangkit PLTP merupakan sistem pembangkitan yang
memanfaatkan tenaga panas bumi yang berupa uap. Uap tersebut diperoleh dari
sumur-sumur produksi yang dibuat oleh BPPT. Uap dari sumur produksi mula-
mula dialirkan ke steam receiving header yang berfungsi menjamin pasokan uap
yang tidak mengalami gangguan meskipun terjadi perubahan pasokan dari sumur
produksi. Melalui flow meter uap tersebut dialirkan ke tiap unit melalui pipa-pipa.
Uap tersebut dialirkan ke separator untuk memisahkan zat-zat padat, silika, dan
bintik-bintik air yang terbawa di dalamnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari
terjadinya vibrasi, erosi, dan pembentukan kerak pada turbin.
Uap yang telah melewati separator tersebut kemudian dialirkan ke
demister yang berfungsi sebagai pemisah akhir. Uap yang telah bersih itu
kemudian dialirkan melalui main steam valve atau governor valve menuju ke
turbin. Di dalam turbin, uap tersebut berfungsi untuk memutar double flow
condensing yang dikopel dengan generator, pada kecepatan 3000 rpm. Proses ini
menghasilkan energi listrik dengan arus 3 fasa, frekuensi 50 Hz, dengan tegangan
11,8 KV. Melalui transformer step-up, arus listrik dinaikkan tegangannya hingga
150 KV, selanjutnya dihubungkan secara parallel dengan sistem penyaluran Jawa-
Bali (interkoneksi). Agar turbin bekerja secara efisien, maka exhaust steam atau
uap bekas yang keluar dari turbin harus dalam kondisi vakum, dengan
mengkondensasikan uap dalam kondensor kontak langsung yang dipasang di
bawah turbin. Untuk menjaga kevakuman kondensor, gas yang tak terkondensi
harus dikeluarkan secara kontinyu oleh sistem ekstraksi gas. Gas-gas ini
mengandung: CO2 85-90% H2S 3,5% dan sisanya adalah N2 dan gas-gas lainnya.
Disini sistem ekstaksi gas terdiri atas first stage dan second stage ejector. Gas-gas
yang tidak dapat dikondensasikan, dihisap oleh steam ejector tingkat 2 untuk
diteruskan ke aftercondensor, dimana gas-gas tersebut kemudian kembali disiram
oleh air yang dipompakan oleh primary pump.
Gas-gas yang dapat dikondensasikan dikembalikan kekondensor,
sedangkan sisa gas yang tidak dapat dikondensasikan di buang ke udara. Exhaust
steam dari turbin masuk dari sisi atas kondensor, kemudian terkondensasi sebagai

17
akibat penyerapan panas oleh air pendingin yang diinjeksikan lewat spray nozzle.
Level kondensat selalu dijaga dalam kondisi normal oleh dua buah main cooling
water pump lalu didinginkan dalam cooling water sebelum disirkulasikan
kembali. Air yang dipompakan oleh MCWP dijatuhkan dari bagian atas menara
pendingin yang disebut kolam air panas menara pendingin. Menara pendingin
berfungsi sebagai heat exchanger (penukar kalor) yang besar, sehingga
mengalami pertukaran kalor dengan udara bebas. Air dari menara pendingin yang
dijatuhkan tersebut mengalami penurunan temperatur dan tekanan ketika sampai
di bawah, yang disebut kolam air dingin (cold basin). Air dalam kolam air dingin
ini dialirkan ke dalam kondensor untuk mendinginkan uap bekas memutar turbin
dan kelebihannya (over flow) diinjeksikan kembali kedalam sumur yang tidak
produktif, diharapkan sebagai air pengisi atau penambah dalam reservoir,
sedangkan sebagian lagi dipompakan oleh primary pump, yang kemudian
dialirkan kedalam inter condensor dan after condenser. Untuk mendinginkan uap
yang tidak terkondensasi (non-condensable gas). Sistem pendingin di PLTP
Kamojang merupakan sistem pendingin dengan sirkulasi tertutup dari air hasil
kondensasi uap, dimana kelebihan kondensat yang terjadi direinjeksi ke dalam
sumur reinjeksi. Prinsip penyerapan energi panas dari air yang disirkulasikan
adalah dengan mengalirkan udara pendingin secara paksa dengan arah aliran tegak
lurus, menggunakan 5 fan cooling tower. Sekitar 70% uap yang terkondensasi
akan hilang karena penguapan dalam cooling tower, sedangkan sisanya
diinjeksikan kembali ke dalam reservoir. Reinjeksi dilakukan untuk mengurangi
pengaruh pencemaran lingkungan, mengurangi ground subcidence, menjaga
tekanan, serta recharge water bagi reservoir. Aliran air dari cold basin ke
kondensor disirkulasikan lagi oleh primary pump sebagai media pendingin untuk
inter cooler dan melalui after dan inter condensor untuk mengkondensasikan uap
yang tidak terkondensasi dikondensor, air kondensat kemudian dimasukkan
kembali ke dalam kondensor.

18
4.4. Aspek Lingkungan Lapangan Panas Bumi Kamojang
Prakiraan dampak penting dalam pembangunan PLTP Kamojang ini,
diantaranya pada tahap perencanaan Pembangunan PLTP ini dikhawatirkan
menimbulkan dampak keresahan sosial dan juga persepsi positif dan negatif pada
masyarakat setempat akibat dari pembangunan PLTP Kamojang, upaya yang
dilakukan adalah dengan memberikan penyuluhan pada masyarakat setempat
mengenai rencana kegiatan dan manfaat proyek terhadap lingkungan lokal.
Pada tahap konstruksi ada beberapa masalah lingkungan yang perlu
dijadikan pertimbangan, diantaranya adalah:
• Pembangunan Kantor/Bengkel dan Base camp, komponen lingkungan
yang terkena dampak antara lain Tanah, Air, Udara akibat dari limbah cair (oli),
karena mencemari kualitas air dan udara, Upaya yang dilakukan membuat khusus
untuk penampungan oli, membuat alat untuk pemisahan oli dan air dan menjual
oli bekas kepada pembeli yang telah memiliki ijin.
• Pembuatan Sumur juga berakibat buruk tehadap Udara dan Tanah, selain
menimbulkan kebisingan juga degradasi sempadan sungai, upaya yang dilakukan
menguragi kegiatan yang sifatnya berbenturan keras dengan sempadan sungai.
Pada tahap operasi PLTP Kamojang juga menimbulkan beberapa dampak
terhadap lingkungan diantaranya adalah:
• Main Transformer dan Switchyard Berakibat kebisingan dan getaran,
upaya yang dilakukan menetapkan batas maksimum kebisingan-kebisingan dan
Penggunaan alat Earplug atau Earmuff alat ini dapat mereduksi kebisingan
khususnya tenaga kerja yang kontak langsung.
• Water Supply dan Treatment, mempengaruhi kualitas dan kuantitas air di
dalam tanah. Upaya yang perlu dilakukan adalah menjaga kuantitas air tanah
dengan menginjekkan kemlai air yang sudah terkondensasi ke dalam tanah.
• Selama beroperasi PLTP menghasilkan gas buang yang mengandung
karbon (CO2), yang merupkan salah satu penyebab global warming. Akan tetapi
jumlah gas karbon yang dihasilkan jauh lebih rendah dari pada pembangkit
thermal lainnya. Pada tahap operasi ini pula PLTP Kamojang mempunyai dampak
lingkungan yang sekarang menjadi pusat perhatian dunia, yaitu mengenai

19
pemanasan global yang diakibatkan dari gas CO2. Panas bumi termasuk energi
terbarukan yang bersih lingkungan, akan tetapi PLTP juga masih menghasilkan
CO2. Apabila dibandingkan dengan pembangkit listrik dengan tenaga fossil, maka
PLTP mempunyai produksi CO2 yang lebih kecil dari pada pembangkit yang
lainnya.
Perlindungan terhadap kondisi lingkungan sangat diperlukan, hal ini
dikarenakan lingkungan merupakan tempat sumber energi. Apabila
lingkungannya rusak, maka sumber energi akan tercemar dan kontinuitas sumber
energi tidak akan berlangsung. Dengan ratifikasi “Kyoto Protocol” menunjukkan
komitmen negara maju terkait global warming untuk insentif atau carbon credit
terhadap pembangunan (clean development mechanism) berdasarkan seberapa
besar pengurangan CO2 dibandingkan dengan base line yang telah ditetapkan.
Penjualan carbon melalui mekanisme CDM (Clean Development Mechanism)
bertujuan untuk mengurangi efek rumah kaca yang menyebankan pemanasan
global diseluruh dunia. Selain itu sistem penjualan carbon dapat merangsang
pengembangan energi terbarukan panas bumi.

20
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Pemanfaatan energi terbarukan menjadi sangat penting dilakukan karena
hal ini terkait dengan tuntutan global. Energi terbarukan memiliki dampak yang
baik bagi ekonomi dan lingkungan. Energi panas bumi merupakan energi
terbarukan yang ramah lingkungan, sehingga pemanfaatannya bisa berkelanjutan.
Indonesia mempunyai 40% potensi cadangan energi panas bumi di dunia. Hal ini
dapat berpotensi besar untuk memanfaatkan panas bumi sebagai bahan bakar
pembangkit tenaga listrik pengganti energi fosil.

5.2. Saran
Diharapkan agar pengembangan energi panas bumi di Indonesia bisa
maksimal dan memberikan konstribusi energi untuk kepentingan bangsa.

21