You are on page 1of 75

PELATIHAN ROAD DESIGN ENGINEER

(AHLI TEKNIK DESAIN JALAN)

MODUL
RDE - 03: PENGENALAN DAN
PEMBACAAN PETA

2005

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA
PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN
KONSTRUKSI (PUSBIN-KPK)

MyDoc/Pusbin-KPK/Draft1
Modul RDE-03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Kata Pengantar

KATA PENGANTAR

Pengenalan dan Pembacaan Peta merupakan suatu modul yang ditulis berupa
uraian, penjelasan atau prinsip-prinsip umum tentang simbol-simbol gambar
pelaksanaan dan gambar teknis jalan pada proyek jalan dan jembatan yang
pada umumnya dilakukan pada ruas-ruas jalan Nasional, Propinsi, maupun
Kabupaten / Kota.

Ada beberapa persyaratan gambar yang diketengahkan dalam modul ini yaitu
fungsi gambar, jenis gambar, penyajian gambar, kodefikasi gambar, legenda,
kelengkapan gambar, gambar teknik jalan dan desain serta sistematika gambar
beserta contoh-contohnya. Dengan memahami hal tersebut di atas diharapkan
juru ukur dapat memahami secara teknis hal-hal yang secara riil diperlukan
dalam membaca gambar pelaksanaan dan design pekerjaan jalan agar
diperoleh hasil yang tepat, dalam pengertian tidak ada hal yang tidak terekam
atau terlewatkan dalam penyusunan gambar pelaksanaan maupun gambar
terlaksana yang akan diserahkan serta pengaruhnya terhadap penghitungan
anggaran biaya konstruksi maupun tagihan pembayaran pelaksanaan sesuai
kontrak yang dilaksanakan.

Demikian mudah-mudahan modul ini dapat dimanfaatkan bagi yang
memerlukannya. Dan kami menyadari bahwa modul ini masih jauh dari
sempurna baik ditinjau dari segi materi sistematika penulisan maupun tata
bahasanya. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari para peserta
dan pembaca semua, dalam rangka perbaikan dan penyempurnaan modul ini.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) -i-
Modul RDE-03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Kata Pengantar

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) -ii-
Modul RDE-03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Kata Pengantar

LEMBAR TUJUAN

JUDUL PELATIHAN : Pelatihan Ahli Teknik Desain Jalan (Road
Design Engineer)

MODEL PELATIHAN : Lokakarya terstruktur

TUJUAN UMUM PELATIHAN :
Setelah modul ini dipelajari, peserta mampu membuat desain jalan mencakup
perencanaan geometrik dan perkerasan jalan termasuk mengkoordinasikan
perencanaan drainase , bangunan pelengkap dan perlengkapan jalan.

TUJUAN KHUSUS PELATIHAN :
Pada akhir pelatihan ini peserta diharapkan mampu:
1. Melaksanakan Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK dan UU Jalan.
2. Melaksanakan Manajemen K3, RKL dan RPL.
3. Mengenal dan Membaca Peta.
4. Melaksanakan Survei Penentuan Trase Jalan.
5. Melaksanakan Dasar-dasar Pengukuran Topografi
6. Melaksanakan Dasar-dasar Survei dan Pengujian Geoteknik.
7. Melaksanakan Dasar-dasar Perencanaan Drainase.
8. Melaksanakan Rekayasa Lalu-lintas.
9. Melaksanakan Dasar-dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap dan
Perlengkapan Jalan.
10. Melaksanakan Perencanaan Geometrik.
11. Melaksanakan Perencanaan Perkerasan Jalan.
12. Melakukan pemilihan jenis Bahan Perkerasan Jalan.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) -iii-
Modul RDE-03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Kata Pengantar

NOMOR : RDE – 03

JUDUL MODUL : PENGENALAN DAN PEMBACAAN PETA

TUJUAN PELATIHAN :

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU) :
Setelah modul ini dipelajari, peserta mampu mengimplementasikan
Pengetahuan Pengenalan dan Pembacaan Peta dalam memberikan instruksi
kegiatan penggambaran dan pembacaan gambar hasil pengukuran ke dalam
kertas gambar atau pemetaan.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK) :
Pada akhir pelatihan peserta mampu :
1. Menjelaskan pengertian prinsip umum gambar
2. Menjelaskan simbol kartografi dalam gambar
3. Melaksanakan prinsip rancangan peta dalam gambar
4. Melaksanakan prinsip skala, legenda dan site plan dalam gambar

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) -iv-
Modul RDE-03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Kata Pengantar

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... i
LEMBAR TUJUAN ............................................................................................. i
DAFTAR ISI v
DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL
PELATIHAN AHLI TEKNIK DESAIN
JALAN (Road Design Engineer)............................................... vii
DAFTAR MODUL ........................................................................................... viii
PANDUAN INSTRUKTUR ................................................................................ ix

BAB 1 PENDAHULUAN ..............................................................................1-1
1.1 Umum ....................................................................................1-1
1.2 Penglihatan dan Persepsi ......................................................1-1
1.3 Gambaran Visual ...................................................................1-2
1.4 Simbol-Simbol dan Batasan Perseptual.................................1-2

BAB 2 SIMBOL-SIMBOL KARTOGRAFI ....................................................2-1
2.1 Umum ....................................................................................2-1
2.2 Tipe-Tipe Simbol....................................................................2-1
2.3 Variabel Grafik .......................................................................2-2
2.4 Bentuk....................................................................................2-2
2.5 Dimensi ..................................................................................2-5
2.6 Warna ....................................................................................2-6
2.7 Tekstur (Raut) ........................................................................2-9
2.8 Simbol-Simbol dan Penggambaran .......................................2-9
2.9 Peta-Peta Topografi..............................................................2-10
2.10 Penggambaran dan Informasi Lokasi ...................................2-13

BAB 3 RANCANGAN PETA........................................................................3-1
3.1 Umum ....................................................................................3-1
3.2 Masalah-Masalah Rancangan Umum ....................................3-1
3.3 Prinsip-Prinsip Rancangan Kartografi ....................................3-3
3.4 Rancangan Simbol-Simbol Peta ............................................3-5
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) -v-
Modul RDE-03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Kata Pengantar

3.5 Ketinggian .............................................................................3-11
BAB 4 SKALA, LEGENDA DAN SITE PLAN .............................................4-1
4.1 Skala Gambar ........................................................................4-1
4.2 Legenda .................................................................................4-1
4.3 Site Plan (Rencana Tata Letak Lapangan) ...........................4-15

RANGKUMAN

DAFTAR PUSTAKA

HAND OUT

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) -vi-
Modul RDE-03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Kata Pengantar

DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL
PELATIHAN AHLI TEKNIK DESAIN JALAN
(Road Design Engineer)

1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja Ahli Teknik
Desain Jalan (Road Design Engineer) dibakukan dalam Standar
Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang didalamnya telah
ditetapkan unit-unit kerja sehingga dalam Pelatihan Ahli Teknik Desain
Jalan (Road Design Engineer) unit-unit tersebut menjadi Tujuan
Khusus Pelatihan.
2. Standar Latihan Kerja (SLK) disusun berdasarkan analisis dari masing-
masing Unit Kompetensi, Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja
yang menghasilkan kebutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap
perilaku dari setiap Elemen Kompetensi yang dituangkan dalam bentuk
suatu susunan kurikulum dan silabus pelatihan yang diperlukan untuk
memenuhi tuntutan kompetensi tersebut.
3. Untuk mendukung tercapainya tujuan khusus pelatihan tersebut, maka
berdasarkan Kurikulum dan Silabus yang ditetapkan dalam SLK, disusun
seperangkat modul pelatihan (seperti tercantum dalam Daftar Modul) yang
harus menjadi bahan pengajaran dalam pelatihan Ahli Teknik Desain
Jalan (Road Design Engineer).

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) -vii-
Modul RDE-03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Kata Pengantar

DAFTAR MODUL

Jabatan Kerja : Road Design Engineer (RDE)

Nomor
Kode Judul Modul
Modul
1 RDE – 01 Etika Profesi, Etos Kerja, UUJK, dan UU Jalan

2 RDE – 02 Manjemen K3, RKL dan RPL

3 RDE – 03 Pengenalan dan Pembacaan Peta
4 RDE – 04 Survai Penentuan Trase jalan

5 RDE – 05 Dasar-dasar Pengukuran Topografi

6 RDE – 06 Dasar-dasar Survai dan Pengujian Geoteknik

7 RDE – 07 Dasar-dasar Perencanaan Drainase Jalan

8 RDE – 08 Rekayasa Lalu Lintas

9 RDE – 09 Dasar-dasar Perencanaan Bangunan Pelengkap

10 RDE – 10 Perencanaan Geometrik

11 RDE – 11 Perencanaan Perkerasan Jalan

12 RDE – 12 Bahan Perkerasan Jalan

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) -viii-
Modul RDE-03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Kata Pengantar

PANDUAN INSTRUKTUR

A. BATASAN

NAMA PELATIHAN : AHLI TEKNIK DESAIN JALAN
(Road Design Engineer )

KODE MODUL : RDE - 03

JUDUL MODUL : PENGENALAN DAN PEMBACAAN PETA

DESKRIPSI : Modul ini membahas pengetahuan pengertian
tentang kartografi, skala, legenda dan site plan
(tata letak lapangan) yang perlu dipahami dan
dipraktekkan untuk pelatihan ahli teknik desain
jalan.

TEMPAT KEGIATAN : Ruangan Kelas lengkap dengan fasilitasnya.

WAKTU PEMBELAJARAN : 2 (Dua) Jam Pelajaran (JP) (1 JP = 45 Menit)

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) -ix-
Modul RDE-03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Kata Pengantar

B. KEGIATAN PEMBELAJARAN

KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG

1. Ceramah Pembelajaran

Pengantar  Mengikuti penjelasan TIU dan
 Menjelaskan TIK dan TIU serta TIK dengan tekun dan aktif OHT
pokok bahasan  Mengajukan pertanyaan
 Merangsang motivasi peserta untuk apabila kurang jelas.
mengerti/memahami dan
membandingkan pengalamannya

Waktu = 10 menit

2. Ceramah Bab I  Mengikuti penjelasan instruktur
dengan tekun dan aktif OHT
 Pendahuluan  Mencatat hal-hal yang perlu
 Pengertian Umum  Mengajukan pertanyaan bila
 Penglihatan dan Gambaran Visual perlu
 Simbol – simbol dan batasan –
batasan perseptual

Waktu = 15 menit

3. Ceramah Bab II
Simbol – simbol kartografi
 Mengikuti penjelasan instruktur
 Umum OHT
dengan tekun dan aktif
 Tipe – tipe simbol  Mencatat hal-hal yang perlu
 Variabel grafik  Mengajukan pertanyaan bila
 Dimensi perlu
 Warna
 Tekstur
 Simbol – simbol dan
Penggambaran
 Peta – peta topografi
 Penggambaran dan informasi lokasi

Waktu = 20 menit

4. Ceramah Bab III

 Umum  Mengikuti penjelasan instruktur OHT
 Masalah - masalah dengan tekun dan aktif
 Rancangan umum  Mencatat hal-hal yang perlu
 Prinsip – prinsip rancangan  Mengajukan pertanyaan bila
kartografi perlu
 Rancangan simbol-simbol peta
 Ketinggian

Waktu = 15 menit

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) -x-
Modul RDE-03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Kata Pengantar

KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG
5. Ceramah Bab IV
Skala Legend dan site
Plan
 Skala  Mengikuti penjelasan instruktur
 Legenda dengan tekun dan aktif
 Site plan  Mencatat hal-hal yang perlu
 Mengajukan pertanyaan bila OHT
Waktu = 20 menit perlu

6. Penutup
Review materi dan  Mengikuti penjelasan instruktur
Diskusi umum dengan tekun dan aktif
 Mencatat hal-hal yang perlu
Waktu = 10 menit  Mengajukan pertanyaan bila
perlu OHT

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) -xi-
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab 1 Pendahuluan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 UMUM

Menurut J.S. Keates dalam bukunya : Cartographic Design and Production, kartografi
telah didefinisikan sebagai ‘… seni, pengetahuan, dan teknologi pembuatan peta ...
menyangkut semua tahapan evaluasi, penghimpunan, perancangan, dan penyusunan
naskah yang dibutuhkan untuk menghasilkan peta baru atau perubahan dokumen peta
dari semua bentuk data dasar. Hal ini mencakup pula semua tahapan dalam
reproduksi peta.
Banyak buku tentang kartografi cenderung berisikan uraian yang menjelaskan praktek-
praktek sekarang ini dengan cara-cara deskriptif. Hal ini akan membawa kurang
jelasnya perbedaan antara prinsip-prinsip dan aplikasi serta kecenderungan untuk
mempertimbangkan bahan pembelajaran dari sudut pandangan tipe-tipe peta khusus.
Sasaran penulisan buku ini ialah untuk mengusahakan pemahaman secara sistimatik
dan memberikan analisis yang dapat dijadikan dasar studi lebih Ianjut. Buku ini ditulis
bagi mereka yang berkeinginan mempelajari kartografi, baik karena mereka berminat
menjadi ahli kartografi (atau memperluas pengetahuan kartografinya), atau karena
kartografi mempunyai hubungan iangsung dengan kegiatan mereka di lapangan.
Tiga aspek utama kartografi adalah (hal-hal yang bersifat) metrik, grafik dan teknik.
Karena peta-peta terutama menyangkut lokasi, maka penggambaran mengenai semua
atau sebagal permukaan bumi yang sistimatik dan berskala diperlukan sebagal dasar
bagi setiap peta. Hal ini hanya dapat dicapai dengan pengukuran dan perhitungan.
Mengingat aspek ini telah dianalisa secara menyeluruh, dan lagi pula banyak buku-
buku telah ditulis khusus untuk itu, make aspek metrik tak dibicarakan dalam buku ini.
Sebuah peta adalah gambaran grafik, dan informasi disampaikan melalui simbol-
simbol grafik yang dapat dipahami oleh pemakainya.

1.2 PENGLIHATAN DAN PERSEPSI

Penggunaan peta adalah proses komunikasi visual. Karena visual maka ia merupakan
proses persepsi, sebab ia tergantung pada kombinasi aktivitas indera lihat dan reaksi
yang timbul dalam otak. Walaupun kartografi terutama bersangkutan dengan
penciptaan rangsangan, hat itu jelas harus dilakukan sejauh mungkin atas dasar-dasar
apa yang diketahui tentang reseptor dan respon. Hal ini mencakup pengertian batas-
batas daya penglihatan dalam hubungannya dengan tipe-tipe gambaran visual yang

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-1
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab 1 Pendahuluan

menjadikan bahan tersusunnya peta; sebagian di antaranya berupa batas-batas fisis,
dan memberikan aturan-aturan tertentu. Memahami respon dalam otak adalah jauh
lebih kompleks, dan bagian proses komunikasi ini tidak sama sekali sepenuhnya
dipahami.

1.3 GAMBARAN VISUAL

Suatu gambaran visual adalah pola yang terbentuk pada retina mata, terdiri dari unsur-
unsur yang tercipta oleh refleksi atau pengiriman cahaya dari objek dalam medan
visual. Dalam hal dengan peta, dan hampir semua gambar grafik, medan visual ini
berupa bidang permukaan dua dimensi. Unsur-unsur visual dalam sebuah gambaran
grafik dapat berbeda dalam empat macam : dalam hal lokasinya dalam medan visual,
dalam hal bentuk, dalam hal dua dimensi, dan dalam hal warna. Karena gambaran
grafik bersifat statis, maka dimensi keempat, yaitu waktu, tidak tercakup.
Dalam sebuah gambaran grafik, unsur-unsur disusun dalam bentuk simbol-simbol
grafik dalam pola tersendiri; yaitu pada pola titik, pola garis, atau pola wilayah. Kom-
ponen-komponen ini bervariasi menurut faktor-faktor yang telah disebutkan di atas,
tetapi variasinya tidak sama betul untuk ketiga tipe tersebut. Secara teoritis, sebuah ti-
tik tidak mempunyai dimensi atau bentuk tetapi hanya lokasi; sebuah garis
membentang ke satu arah dan mempunyai bentuk; dan suatu area (wilayah)
membentang dalam dua dimensi dan mempunyai bentuk maupun dimensi. Dalam
kenyataan, agar dapat dikenali lewat indera, tiap komponen gambaran grafik harus
dapat dilihat dan harus mempunyai dimensi minimal tertentu dan karenanya juga
bentuk. Semua unsur-unsur tersebut dapat bervariasi dalam warna, tetapi
hubungannya dengan beberapa sifat warna adalah kompleks. Maka sebelum membuat
rancangan simbol peta, perlu memahami prinsip-prinsip penglihatan dan persepsi, agar
dengan demikian diketahui informasi apa yang dapat digunakan sebagai petunjuk
dalam menciptakan simbol-simbol peta.

1.4 SIMBOL-SIMBOL GARIS DAN BATASAN PERSEPTUAL

Aturan dasar agar dapat terbaca dengan jelas, yang merupakan sasaran utama dalam
rancangan simbol, ialah bahwa simbol-simbol harus dapat dikenali dengan mudah atau
jelas artinya dimana pun simbol tersebut berada. Tetapi agar kondisi itu lebih
memuaskan lagi, bergantung pada soal pengaturan kontras, perlu untuk memahami
bahwa dua simbol (yang sama) dalam keadaan serupa betul, dan dalam banyak hal
adakalanya dua simbol (yang berbeda) menunjukkan kemiripan dan hanya sedikit

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-2
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab 1 Pendahuluan

berbeda. Oleh sebab itu, pengungkapan hubungan yang demikian itu tidak semata-
mata memerlukan kontras tetapi juga kontinyuitas.

a. Identifikasi
Agar dapat menanggapi suatu simbol peta, maka pemakai yang memahami
gambar peta harus dapat mengidentifikasi tiap simbol dengan mudah. Hal ini
sebagian tergantung pada kemampuan membedakan simbol tersebut dari simbol-
simbol lain, dan sebagian lagi pada kemampuan mengingat karakteristiknya.
Dalam hal ini suatu simbol yang sangat kompleks kurang mudah diingat, dan
karenanya orang dapat mengidentifikasi dengan cepat bila dibanding dengan
sebuah simbol yang sederhana.

b. Perbedaan (Diskriminasi)
Kemampuan untuk membedakan antara gambar-gambar tergantung pada
persepsi mengenai kontras dan hubungan. Sebagaimana hal perlunya untuk
melihat bahwa dua buah gambar adalah berbeda, maka harus dimungkinkan pula
untuk melihat gambar-gambar lain yang sama keadaannya. Perbedaan-perbedaan
persepsi dalam ukuran dan warna dipengaruhi oleh posisi relatif. Bilamana simbol-
simbol itu sating berdekatan maka ada suatu penekanan kekontrasan di antara
mereka; hal ini dikenal sebagai kontras simultan atau peningkatan kontras.
Misalnya, apabila dua buah garis hanya memiliki sedikit perbedaan dalam ukuran,
maka perbedaan ini lebih mudah dilihat apabila garis-garis tersebut berdekatan
dibanding dengan apabila garis-garis tersebut berjauhan. Ketentuan yang sama
berlaku untuk variasi dalam kesan warna dan kesan bayangan. Hal ini sering
menyebabkan timbulnya masalah dalam pembandingan serangkaian simbol-
simbol titik, seperti yang digunakan untuk menyatakan isi atau dimensi lainnya.
Walaupun dalam penjelasan simbol-simbol, di mana semua variasi simbol adalah
berdekatan dan ukuran yang berbeda sedikit dapat dilihat, dua buah simbol yang
mirip menggambarkan jumlah yang sedikit berbeda dapat terletak secara terpisah
jauh dalam peta. Dalam keadaan yang demikian itu akan sulit menentukan apakah
mereka itu sama atau berbeda. Karenanya aturan yang dipakai ialah bahwa
perbedaan harus cukup untuk dapat dipakai pada semua situasi peta dan tidak
hanya bagi simbol-simbol yang bersama-sama berkelompok. Satu-satunya cara
pasti untuk menguji kelayakan ukuran dan bentuk simbol adalah dengan
memakainya dalam suah situasi peta dan tidak hanya dalam suatu spesifikasi.
Ukuran simbol juga mempengaruhi perbedaan persepsi dalam

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-3
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab 1 Pendahuluan

warna. Suatu wilayah yang sangat kecil dengan warna tertentu akan
kelihatan kurang jenuh dibanding dengan suatu wilayah yang luas,
sehingga mungkin tampak mempunyai kesan warna yang berbeda.
Sehubungan dengan itu, warna-warna harus ditetapkan dalam
kaitannya dengan keadaan daerah yang sebenarnya seperti yang
terpusat dalam peta., dan tidak hanya dalam kaitannya dengan
kotak-kotak simetris yang digunakan dalam spesifikasi saja.
Harus pula dicatat bahwa dalam banyak keadaan perbedaan dapat
ditingkatkan dengan perubahan-perubahan yang relatif kecil dalam
rancangan warna. Apabila suatu simbol yang khusus ternyata tidak
memuaskan, maka dalam banyak hal keadaannya dapat diperbaiki
dengan sedikit modifikasi pada kejenuhan dan ketercahayaannya.
Agar pengalaman dalam hal ini dapat dimanfaatkan, sangatlah pen-
ting ahli kartografi menelaah banyak rancangan peta dan
menganalisis warna-warna tidak hanya dalam istilah-istilah deskriptif
yang bersifat umum saja, tetapi seksama mungkin dengan
menggunakan peristilahan yang sistematik.

c. Pengenalan
Dalam praktek, pemakai peta tidak hanya mengidentifikasi dan membedakan
simbol-simbol secara sederhana. Keterbiasaan dengan sekelompok simbol akan
tercapai manakala pemakai peta dapat mengenali simbol-simbol itu. Pengenalan
mengandung arti penempatan simbol (atau arti yang terkait dengan simbol itu)
dalam suatu kelompok yang dikenali, atau menyepadankan dengan suatu
gambaran sama yang diingat, dan hal ini tergantung pada pengetahuan ataupun
pengenalan sebelumnya. Hal yang demikian diperoleh lewat pengamalan, dan
tergantung pada pemakai, tidak pada stimulusnya. Maka, meskipun praktek dalam
pembacaan peta mengarahkan orang pada pengenalan simbol-simbol dan dengan
demilk.ian dapat mengembangkan suatu kecenderungan untuk memilih simbol
yang lebih dikenalnya, namun pengenalan bukanlah satu kelengkapan bentuk gra-
fis itu sendiri.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) I-4
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab II Simbol-simbol Kartografi

BAB 2
SIMBOL-SIMBOL KARTOGRAFI

2.1 UMUM

Simbol-simbol dalam peta terdiri dari titik-titik. garisgaris, atau wilayah yang berdiri
sendiri. Kesemuanya mempunyai ukuran, bentuk dan warna. Sebagai tambahan infor-
masi yang terkandung simbol-simbol secara individual, simbol-simbol juga menyajikan
informasi yang bersifat kolektif, mengingat bahwa mempelajari simbol-simbol yang ter-
dapat pada satu wilayah peta akan dapat membawa orang pada pemahaman
mengenai bentuk, posisi relatif, distribusi, dan struktur. Lokasinya pada peta ditentukan
oleh posisinya di muka bumi atau hubungannya dengan hal tersebut; dan unsur ini,
meskipun kadang-kadang dimodifikasi, tidak dapat diubah. Maka rancangan simbol-
simbol harus memperhitungkan kemungkinan penjajarannya dan pemisahannya,
sebab hal ini akan mempengaruhi kenampakan aktualnya pada suatu titik tertentu.
Oleh sebab itu, perancangan simbol-simbol melalui dua tahapan. Kemungkinan grafik
yang membedakan satu simbol dengan lainnya harus telah diusahakan dan dimodifika-
si secara sistematik dengan mengingat hubungan-hubungan antara simbol-simbol
yang ada, dan variasi grafik ini harus dipakai dalam kaitannya dengan informasi yang
disajikan.

2.2 TIPE-TIPE SIMBOL

Semua simbol dapat diklasifikasikan menurut pola titik-titik, garis-garis, atau wilayah.
Batasan ini tidak mutlak retapi bersifat nisbi mengingat skala dan karakteristik ciri-ciri
yang digambarkan. Pada peta yang berskala besar sebuah gedung dapat ditunjukkan
dengan sebuah garis sesuai dengan ukuran-ukuran denah yang benar, yaitu "kerangka
denah" sebenarnya pada permukaan tanah. Ini merupakan simbol garis untuk
membedakan suatu wilayah, yaitu memisahkan satu permukaan bumi dari lainnya.
Informasi yang sama dapat diberikan dengan cara mewarnai permukaan wilayah di
mana gedung terletak tanpa memakai garis batas kelilingnya. Ini akan merupakan
penggunaan simbol wilayah di mana suatu perwujudan ciri pada peta dibedakan
dengan suatu perubahan kenampakan permukaan. Pada skala kecil, di mana ukuran
denah bangunan gedung, bila skalanya diperkecil, hanya akan menjadi lebih kecil dari
simbol yang terkecil yang dapat digambarkan pada skala peta tersebut, gedung itu
mungkin akan digambarkan dengan sebuah simbol titik. Ini berarti tidak lagi

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 1
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab II Simbol-simbol Kartografi

menunjukkan dimensi gedung, tetapi hanya merupakan satu dari kelompok
kenampakan yang dilukiskan secara kolektif sebagai bangunan gedung-gedung yang
terdapat pada tempat gedung-gedung itu berada.
Beberapa contoh tersebut menunjukkan bahwa klasifikasi ke dalam simbol-simbol titik,
garis, dan wilayah adalah hanya merupakan dasar umum, sedangkan kenampakan
aktual suatu simbol terutama ditentukan oleh skala dan informasi

2.3 VARIABEL GRAFIK

Simbol-simbol grafik dapat bervariasi dalam bentuk, dimensi, dan warnanya. Istilah
bentuk menunjukkan semua kemungkinan adanya variasi dalam bentuk, dan berlaku
untuk simbol-simbol titik dan simbol-simbol garis, yang mencakup pula simbol-simbol
garis yang digunakan untuk membatasi wilayah. Dengan simbol wilayah, bentuk,
sejauh menyangkut ukuran dua dimensi, adalah merupakan fungsi lokasi suatu
kenampakan. Dimensi-dimensi itu menunjukkan semua variasi ukuran; termasuk
ukuran-ukuran simbol titik dan ukuran atau lebar simbol-simbol garis. Istilah itu hanya
relevan bagi simbol-simbol wilayah terdiri dari pota-pola simbol titik dan garis yang
digunakan secara kolektif.

2.4 BENTUK

Bentuk dipakai dalam berbagai rupa dan struktur. Untuk simbol-simbol titik bentuk
dasarnya dapat teratur atau tidak beraturan. Bujur sangkar atau lingkaran merupakan
bentuk yang teratur; sedangkan simbol untuk sebuah pohon yang berdaun gugur
mungkin berupa bentuk yang tidak teratur. Kedua tipe dapat bersifat mewakili, dalam
arti bahwa dengan cara yang sangat disederhanakan dapat menggambarkan beberapa
unsur bentuk aktual atau kenampakan dari perwujudan ciri permukaan bumi. Oleh
sebab itu variasi dalam bentuk dapat dikaitkan dengan aspek-aspek yang berbeda dari
karakteristik perwujudan permukaan bumi, yang secara umurn dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :

a. Bentuk bagan (denah)
Gambar denah yang disederhanakan dapat dipakai sebagai dasar bentuk.
Misalnya, kebanyakan gedung-gedung bentuknya empat persegi panjang, oleh
karenanya bujur sangkar atau empat persegi panjang dapat dipakai untuk
menggambarkannya.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 2
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab II Simbol-simbol Kartografi

Sebuah sumur atau lubang air seringkali digambarkan dengan sebuah lingkaran
kecil, bentuk ini dipakai juga untuk sebuah lubang yang bentuknya cenderung
menyerupai sebagian lingkaran.

b. Profil
Dimensi lain yang paling nyata mengenai perwujudan ciri individual muka bumi
ialah ketinggiannya. Perwujudan ciri-ciri yang tampak di suatu bentang alam
karena bentangnya secara vertikal dapat digambarkan atas dasar aspek ini.
Misalnya, pepohonan dapat digambarkan dengan simbol-simbol dimana garis
vertikal menggambarkan tinggi suatu kenampakan yang berdiri. Apabila seluruh
profil memiliki bentuk yang tegas, seperti sebuah menara tinggi, maka simbol dapat
menggambarkan kenampakan- profil struktur yang disederhanakan.

c. Fungsi
Bentuk simbol dapat pula dihubungkan dengan suatu aspek yang amat berlainan,
yaitu fungsinya. Istilah ini dipakai secara meluas untuk menyatakan tujuan,
penggunaan atau peristiwa yang memberikan alasan dasar untuk mencantumkan
informasinya dalam peta. Abstraksi semacam itu adalah karakteristik bagi sesuatu
yang tidak ada atau begitu kecil kenampakannya di muka bumi. Misalnya, peng-
gunaan dua palu bersilangan untuk pertambangan, dua pedang bersilangan untuk
suatu medan perang, sebuah tabung reaksi untuk pabrik kimia, sebuah salib untuk
gereja. Dalam beberapa hal simbol-simbol tersebut menggambarkan simbolisasi
bentuk pada perwujudannya yang ekstrim, karena bentuk simbol individual tidak
lagi berdasarkan sesuatu aspek kenampakan fisiknya, tetapi berdasarkan konsep-
konsep yang artinya dapat diidentifikasi.

d. Bentuk dan arah (orientasi)
Dengan beberapa simbol titik mungkin pula untuk menentukannya dengan arah.
Umpamanya, sebuah empat persegi panjang dalam posisi ke atas adalah berbeda
dengar sebuah empat persegi panjang yang mempunyai posisi horisontal. Dua
macam simbol yang berbeda secara nyata dapat diperoleh meskipun secara
geometris keduanya mempunyai bentuk yang sama. Apabila sebuah simbol vertikal
pendek yang menggambarkan sebuah pohon ditampilkan dalam penjajaran sudut
menyudut, hat itu dapat menyatakan suatu kategori yang berbeda; misalnya
sebuah pohon yang terbakar atau roboh. Dalam hal ini jajaran simbol menyatakan
bentuk yang lain.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 3
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab II Simbol-simbol Kartografi

e. Bentuk dan simbol-simbol garis
Bentuk sebuah simbol garis secara esensial menyatakan kontinyuitas, baik yang
bersifat benar-benar kontinyu maupun yang tidak kontinyu. Ada sejumlah
kemungkinan variasi dalam kontinyuitas dan sebagai simbolsimbol garis
memberikan informasi yang cukup besar dalam banyak peta. Variasi-variasi ini
sangat penting dalam perancangan simbol.
Garis yang kontinyu merupakan pernyataan maksimum dari sebuah bentuk lurus
atau memanjang. Simbol garis kontinyu dapat direduksi sampai akhirnya menjadi
simbol-simbol titik. Atau dengan kata lain yang lebih tepat, variasi dalam bentuk
garis tergantung pada lebar pemisahan dari bagian-bagian dan panjang bagian-
bagian tersebut. Jika bagian-bagian itu diganti dengan tanda-tanda silang,
lingkaran, dan lain-lainnya maka garis tersebut menjadi serangkaian simbol-simbol
titik.

Simbol-simbol garis dalam sebuah peta

Oleh sebab itu, dalam banyak hal variasi dalam bentuk simbol garis perlu
dipertimbangkan dalam hubungannya dengan kontinyuitas kenampakan yang
digambarkan. Kontinyuitas ini dapat berkaitan dengan karakteristik kenampakan
yang sebenarnya ada, dengan hasil-hasil pengukuran yang digambarkan, serta
abstraksi yang digambarkan. Misalnya, garis biru yang kontinyu biasanya
digunakan untuk meng gambarkan sungai. Apabila hal itu masih tetap dipakai un-
tuk perairan yang mengalir, maka akan selalu ada perbedaan penggambaran
dalam bentang alam antara tanah dar perairan, dan yang selalu menjadi rintangan
bagi gerakan manusia. Apabila air mengalir tidak terus menerus sepanjang waktu,

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 4
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab II Simbol-simbol Kartografi

seperti yang terjadi pada sungai musiman. maka fenomena dapat digambarkan
secara baik dengan garis biru yang terpotong-potong.

Apabila garis batas suatu wilayah merupakan kenampakan yang kontinyu dalam
bentang alam dan ada secara konsisten sepanjang garis tertentu, seperti misalnya
sebuah pagar di sekeliling hutan, maka layak untuk menggambarkannya dengan
simbol garis yang kontinyu. Namun apabila batas wilayah merupakan suatu zona
transisi, seperti yang biasa dijumpai pada wilayah hutan alami, atau rawa-rawa,
maka penggambaran yang lebih konsisten ialah dengan garis yang tidak kontinyu.
Apabila garis-garis dipakai untuk menggambarkan nilai nilai, maka tata urutan
pengukuran harus dipertimbangkan. Garis tinggi (kontur) yang merupakan hasil
survai selengkapnya (biasanya digambar secara fotogrametrik sebagai suatu garis
yang memiliki ketinggian tetap) adalah sebuah garis dari ukuran yang kontinyu, dan
dapat diidentifikasi sebagai sebuah garis yang kontinyu.
Garis kontur yang diinterpolasi berasal dari hasil sejumlah kecil pengukuran.
Walaupun ditunjukkan sebagai sebuah garis yang menunjukkan ketinggian
tertentu, dasar informasinya adalah pada tata urutan yang lebih rendah dibanding
garis yang diukur tersebut. Maka tata urutan yang lebih rendah dapat dikenali
dengan menunjukkannya sebagai sebuah garis yang tidak kontinyu. Sebuah garis
kontur yang tergambar dalam sketsa adalah merupakan perkiraan pada tata urutan
yang lebih rendah lagi.

2.5 DIMENSI

Dalam tahapan ini menjadi lebih jelas bahwa dimensi sebuah simbol, dalam
hubungannya dengan dimensi-dimensi fisik sebuah kenampakan, hanya mempunyai
hubungan yang tepat pada skala-skala yang memungkinkan bentangan denah yang
benar sesuatu kenampakan dapat ditunjukkan. Dalam semua kasus lainnya dimensi
simbol berhubungan dengan karakteristik kenampakan lainnya.

a. Simbol titik-titik
Besarnya simbol titik dapat berkisar mulai dari yang terkecil (minimum) yang
dibutuhkan untuk menunjukkan letak sebuah titik, sampai pada sebuah simbol
yang dengan sengaja dibesarkan untuk menggambarkan sebuah nilai atau ukuran.
Apabila tujuannya hanya untuk menggambarkan lokasi, maka besarnya simbol
akan tergantung pada dua faktor : besar minimal sehingga ia nampak jelas, dan
besar yang dibutuhkan untuk menunjukkan tingkat arti pertingnya datam formasi

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 5
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab II Simbol-simbol Kartografi

peta. Besar minimum yang diperlukan adalah yang memungkinkan bentuknya
dapat dilihat. Sebuah bentuk lingkaran yang amat kecil tak dapat dibedakan dari
bujur sangkar yang kecil sekali. Apabila besar simbol ditingkatkan, maka hal ini
dilakukan dalam hubungannya dengan arti pentingnya atau dalam hubungannya
dengan simbol lainnya.

b. Simbol-simbol garis
Besarnya simbol garis adalah pada ukurannya, atau lebar garis. Dalam simbol
garis ganda, seperti garis rangkap untuk jalan, besarnya mencakup lebar kedua
garis dan jarak antaranya.

0.1 mm 0.1 x 0.2 x 0.1

0.15 mm 0.15 x 0.2 x 0.15

0.2 mm 0.2 x 0.2 x 0.2

0.3 mm 0.3 x 0.3 x 0.1

Variasi dalam dimensi garis
Aturan dasar yang sama berlaku, yaitu bahwa perbedaan ukuran garis haruslah
perbedaan yang dapat terlihat jelas, yang dapat ditemukan oleh pemakai peta.

c. Simbol-simbol wilayah
Variasi dalam dimensi tidak berlaku untuk simbol-simbol wilayah, sebab luasnya
dipengaruhi oleh lokasi. Penggunaan titik berulang dan simbol-simbol garis
merupakan hal khusus, yang akan dikemukakan kemudian.

2.6 WARNA

a. Simbol-simbol titik
Variasi dalam warna pada simbol-simbol titik secara esensial bergantung pada
variasi sifat warna. Kekontrasan antara warna-warni merupakan unsur dominan.
Pemilihan warna untuk suatu kategori simbol titik tertentu dipengaruhi oleh ukuran
simbol, kategori utamanya, pentingnya arti simbol, serta asosiasi warna. Misalnya,
simbol-simbol titik kecil harus ditunjukkan dengan warna yang kuat, yaitu warna

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 6
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab II Simbol-simbol Kartografi

yang memberikan kontras nyata terhadap warna putih, agar simbol-simbol tersebut
nampak jelas.

b. Simbol-simbol garis
Simbol garis tunggal juga tergantung terutama pada variasi warna, dan dalam hal
ini bertalian erat dengan simbol-simbol titik. Untuk alasan yang sama, warna harus
dipilih yang cukup kontras dengan warna lainnya. Karena batasan dalam
perbedaan yang dapat terlihat jelas ini alasan-alasan itu akan ditelaah dalam
bagian uraian di belakang), maka warna yang dipakai untuk mencetak peta ber-
warna dipilih terutama atas dasar persyaratan simbol-simbol titik dan garis.
Beberapa variasi dalam ketercahayaan dan kejenuhan dimungkinkan, yaitu dengan
mengubah garis berwarna yang kontinyu menjadi rangkaian titik-titik atau garis
coretan halus. Hal ini biasanya dipakai bila dikehendaki untuk menurunkan
perhatian pada simbol garis dengan membuatnya kurang menyolok secara visual.

c. Simbol-simbol wilayah
Semua variasi dalam kenampakan permukaan wilayah dapat dilukiskan sebagai
variasi dalam warna. Secara mendasar variasi dapat dibagi menjadi dua kelompok:
karakteristik permukaan yang berasal dari warna, ketercahayaan, dan kejenuhan;
dan karakteristik permukaan yang berasal dari pengulangan titik dan simbol-simbol
garis.
Wilayah dapat dibedakan dengan menggunakan warna-warna, baik pada tingkat
kejenuhan penuh atau penurunan tingkat kejenuhan. Penggunaan variasi yang
paling umum dalam warna untuk wilayah ialah dengan kejenuhan, sebab secara
teknis paling lebih mudah dicapai. Sementara itu, karena warna pada peta
berwarna itu biasanya dipilih bertalian dengan gambar garis, maka akan terlalu
kuat, yaitu terlalu jenuh untuk penggunaan meluas pada wilayah yang besar. Bila
digunakan tanpa penurunan tingkat kejenuhan, maka akan begitu menyolok
warnanya hingga akan mempengaruhi gambaran visual peta.
Suatu warna yang tak jenuh, seperti yang digunakan dalam peta, terdiri dari
sebuah kesan warna, yaitu berupa kombinasi titik-titik atau garis-garis berwarna
dan suatu proporsi warna kertas putih. Dengan mengubah kombinasi panjang
gelombang cahaya yang dipantulkan oleh wilayah peta sebagai suatu keseluruhan,
maka kenampakan yang terjadi adalah warna yang lebih lemah atau tidak jenuh. Ini
juga berarti bahwa sejumlah kesan warna dari sesuatu warna apapun dapat dibuat,
dan dapat dikaitkan dengan aneka macam kelompok kenampakan atau nilai yang

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 7
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab II Simbol-simbol Kartografi

berbeda-beda dari kenampakan yang sama. Perlu dicatat pula bahwa jumlah
perbedaan yang dapat terlihat dalam tingkat kejenuhan, yaitu jumlah efektif kesan
warna yang dapat dihasilkan untuk satu macam warna, tergantung pada warna
khusus.

Pengaruh visual dari daerah mempunyai warna sangat jenuh

Wilayah dapat pula dibedakan dengan mengubah ketercahayaan. Ini dapat
dilakukan dengan dua cara. Untuk peta warna hitam putih, pengubahan warna
hitam menjadi pola titik-titik atau garis-garis halus beraturan akan menghasilkan
perubahan ketercahayaan, sebab dengan dikuranginya proporsi warna hitam pada
suatu wilayah tertentu, maka jumlah cahaya yang dipantulkan ditingkatkan.

Peningkatan ketercahayaan, pengurangan kejenuhan

Variasi semacam itu berfungsi sama sebagai pengurangan kejenuhan warna
kromatik, dan penggunaannya memberikan serangkaian perbedaan-perbedaan
yang terlihat dalam warna abu-abu. Manakala warna dipakai, perubahan dalam
ketercahayaan hanya dapat dihasilkan dengan degradasi, yaitu dengan menambah
proporsi warna hitam di wilayah yang berwarna, atau melapiskan beberapa warna
tinta di wilayah yang sama. Dalam proses pencetakan, cara ini tak dapat dilakukan
dengan mencampur tinta sehingga pengaruh itu ditimbulkan dengan penambaban
warna abu-abu yang dibuat dari warna hitam pada wilayah yang sama, baik dalam
tingkat kejenuhan penuh atau dalam bentuk tidak jenuh. Oleh sebab itu, ada
kemungkinan mengkombinasikan perubahan-perubahan ketercahayaan warna
hitam dengan perubahan tingkat kejenuhan warna. Dalam kombinasi kedua proses
tersebut dapat memberikan serangkaian variasi warna yang ekstensif. Untuk
berbagai alasan praktis, degradasi warna (kesan bayangan) jarang digunakan
dalam rancangan peta, padahal itu dapat merupakan cara yang efektif dalam
variasi warna.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 8
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab II Simbol-simbol Kartografi

2.7 TEKSTUR (RAUT)

Variasi yang didasarkan pada penciptaan permukaan yang bercirikan simbol-simbol
titik atau garis-garis yang dikombinasikan atau diulang-ulang, benar-benar merupakan
perubahan kategori pertama. Perbedaan Visualnya, karena variasi itu menciptakan
tekstur, yaitu unsur-unsur komponen dalam pola dapat dilihat, sehingga dapat dibuat
kontras. Kesan warna dan kesan bayangan dihasilkan dengan pola-pola dan titik-titik
yang begitu halus sehingga tidak mudah terlihat oleh mata; mereka memberikan kesan
semu warna yang kontinyu. Apabila pola tersebut ditingkatkan kekasarannya sampai
tingkat unsur-unsurnya dapat dilihat, maka pola itu sendiri menjadi bagian identitas
simbol yang dapat dilihat. Apabila pola tersebut ditingkatkan lebih lanjut ukuran besar
unsur-unsurnya, maka titik-titik individual yang menyusun pola itu dapat disusun
sebagai simbol-simbol titik atau garis yang terpisah dengan memiliki bentuk serta
dimensinya sendiri.
Apabila simbol-simbol titik dan garis dipakai dalam cara ini, diperoleh tidak hanya
variasi dalam bentuk dan dimensi normal pada simbol-simbol, tetapi kombinasi itu me-
nimbulkan dua aspek lain. Misalnya, bila suatu wilayah hutan diberi suatu pola titik-titik
hijau halus (kecil tetapi secara visual berbeda) maka unsur-unsur grafis akan
mencakup warna, bentuk, dan dimensi titik, dan efek-efek kombinasinya tergantung
pada penjarakan dalam kaitannya dengan besarnya titik (setara dengan tingkat
kejenuhan). Dan keteraturannya (manakala distribusi terdiri dari titik-titik yang disusun
dnegan penjarakan yang beraturan).

2.8 SIMBOL-SIMBOL DAN PENGGAMBARAN

Setelah menelaah prinsip-prinsip dasar mengenai susunan simbol kartografis dan
cara-cara simbol-simbol grafis tersebut dapat digunakan untuk menyampaikan
informasi, maka perlu untuk mempertimbangkan bagaimana prinsip-prinsip tersebut
digunakan untuk situasi-situasi peta khusus. Hal ini mencakup hubungan antara isi
peta dan penggambaran grafiknya. Pada uraian ini tidaklah tepat untuk mencoba
menelaah semua aspek dari semua tipe-tipe peta; perhatian utama dalam bab ini
adalah pada permasalahan khusus mengenai penggambaran aneka macam informasi
dengan simbol-simbol peta.
Untuk menganalisis permasalahan tersebut perlu membuat beberapa pembagian
pokok bahasan peta. Ini dapat didekati dalam berbagai cara. Cukup mudah kiranya
untuk membedakan peta topografi dan menentukan isinya, karena peta topografi
merupakan peta dasar - dalam arti bahwa informasi topografis harus disajikan cukup

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 9
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab II Simbol-simbol Kartografi

luas dalam setiap tipe peta yang sebaiknya ditelaah terlebih dahulu. Di samping itu,
ada banyak sekali unsur-unsur lain yang dapat digambarkan dalam peta. Peta dapat
dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu : peta topografi untuk tujuan khusus, peta
subyek khusus tentang lingkungan fisik (alam), dan peta subyek tentang lingkungan
manusia.

2.9 PETA-PETA TOPOGRAFI

Topografi menunjukkan pengertian semua kenampakan permukaan bumi yang dapat
diidentifikasi, baik yang sifat alamiah ataupun buatan yang dapat diberi satu posisi
khusus. Posisi ini dinyatakan dalam hubungannya dengan permukaan topografi, yang
bervariasi dalam ketinggiannya, di atas ataupun di bawah datum (titik ataupun garis
permukaan nol). Oleh sebab itu, dua unsur utama itu; yang pertama ialah ukuran relief
yang didasarkan pada variasi dalam ketinggian; dan yang kedua ialah ukuran posisi
planimetrik suatu obyek atau kenampakan pada permukaan topografis. Relief diukur
berdasarkan tiga koordinat : x, y, dan z. Planimetri diukur dalam x dan y, yang hanya
mencatat posisinya dan tidak menggambarkan bentangan vertikal suatu kenampakan
khusus. Oleh karenanya, informasi planimetrik pada peta topografi didasarkan pada
pengukuran titik-titik tertentu, kenampakan-kenampakar memanjang, atau garis-garis
diskontinyuitas (garis kerangka).
Pada skala besar, di mana setiap kenampakan yang sebenarnya disurvei dapat diukur
sesuai dengan besarnya bagan, garis-garis hanya menggambarkan pembagian di
antara permukaan-permukaan, dan secara umum bukan menggambarkan karakteristik
kenampakan-kenampakan itu sendiri. Umpamanya, sebuah garis mungkin
menggambarkan suatu dinding atau sebuah pagar. Ini akan berlaku sebagai suatu
pembagian dalam bentang alam dan posisi planimetriknya ditentukan dalam survei
menurut garis pusatnva. Dinding luar sebuah bangunan diukur pada titik di mana
permukaan berubah dari horisontal ke vertikal. Simbol hanya menyatakan sesuatu di
sepanjang garis yang ditunjukkan, apa yang terdapat pada satu sisi berbeda dengan
yang terdapat pada sisi lainnya. Identifikasi atau klasifikasi kenampakan-kenampakan
individual biasanya diserahkan pada pemakai peta. la dapat menterjemahkan bentuk-
bentuk yang ditunjukkan di peta ke dalam identitas, baik berdasarkan pada
pengetahuannya mengenai struktur karakteristik wilayah yang berpenduduk padat,
ataupun melalui penyelidikan nyata di lapangan, dimana ia dapat menghubungkan
setiap garis individual dengan kenampakan khusus pada bentang alam.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 10
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab II Simbol-simbol Kartografi

Garis-garis dalam denah (bagan)

Walaupun petugas survei (surveyor) dapat memandang tipe informasi planimetrik ini
sebagai "tidak bersimbol", ditinjau dari sudut pandangan kartografis semua unsur da-
lam gambar grafik adalah simbol, oleh karenanya apa yang sebenarnya dinyatakan
dengan tipe gambar garis itu harus dimengerti. Meskipun denah skala besar dari
sebuah wilayah perkotaan nampak eksak dan jelas, denah yang berfungsi dengan cara
demikian itu hanya berlaku untuk seseorang yang telah mengenal secara baik
lingkungan wilayah perkotaan yang bersangkutan. Denah itu, mungkin tidak akan
dimengerti sama sekali bagi orang yang belum mengenalnya. Karena simbol-simbol
grafik digunakan untuk persyaratan informasi yang sangat terbatas. Contoh yang
serupa, sebuah hutan ditentukan di sepanjang garis di mana wilayah yang bercirikan
dengan adanya pohon-pohon berubah menjadi wilayah yang ditandai dengan tidak
adanya pepohonan. Ini merupakan juga suatu "bagan" dan bagian dari informasi
planimetrik. Tetapi karena tidak ada cara yang jelas bagi pemakai peta untuk dapat
menyimpulkan adanya wilayah hutan, maka pada peta skala besar pun perlu
digambarkan beberapa karakteristik wilayah hutan agar orang dapat
mengidentifikasikannya. Hal ini dapat dilakukan dengan memuat serangkaian simbol-
simbol yang memiliki karakteristik itu, seperti gambar pohon yang untuk menunjukkan
bahwa wilayah yang dilingkungi adalah mempunyai karakteristik dengan pohon-pohon
itu.
Dengan mengecilkan skala, hubungan planimetrik dengan informasi lainnya menjadi
semakin kompleks. Karena dengan demikian perlu untuk menghilangkan beberapa
kenampakan, atau rincian kecil dalam bentuk-bentuk planimetrik dan juga untuk
menyederhanakan posisinya dengan generalisasi. Maka menjadi sangat penting untuk
mengidentifikasi dan mengklasifikasi kenampakan-kenampakan individual yang telah
diabstraksikan dan dilambangkan dari keadaan keseluruhannya. Oleh sebab itu,
sebuah jalan mungkir tidak ditunjukkan menurut posisi planimetrik yang benar pada
bagian-bagian tepinya; ia akan dilambangkan sebagai salah satu kelompok obyek

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 11
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab II Simbol-simbol Kartografi

yang dikenal sebagai "jalan”, dan beberapa karakteristik lainnya yang mungkin
ditunjukkan. Simbol ini setalu mencakup faktor-faktor yang secara visual tidak
merupakan bagian identitasnya pada tiap titik, seperti klasifikasi jalurnya.

Dengan skala diperkecil, menunjukkan penyederhanaan dan klasifikasi

Dengan demikian, perbedaan antara informasi planimetrik dan informasi ketinggian
bertalian dengan sifat pengukuran yang dilakukan petugas survai, apakah secara tang-
sung di medan pada permukaan bumi atau secara tidak langsung dari potret udara;
dan materi pokok peta yang disebut planimetri diklasifikasikan demikian sesuai dengan
cara yang dipakai dalam pengukurannya. Dalam istilah yang sederhana, ia tak dapat
disamakan dengan setiap pengelompokan kenampakan-kenampakan topografis.

Lingkungan fisik dan lingkungan manusia
Agaknya sangat penting secara kartografis untuk membedakan kelompok-kelompok
utama kenampakan-kenampakan pada peta topografi, pembagian dasar antara unsur-
unsur fisik dan unsur-unsur manusia lebih berguna dibanding dengan yang didasarkan
pada ketinggian dan planimetri. Lingkungan fisik terdiri dari permukaan tanah dan
permukaan air. Kenampakan-kenampakan hidrografik adalah semua yang
karakteristiknya bertalian dengan adanya air. Relief permukaan topografi (yang dalam
beberapa peta mencakup wilayah di bawah permukaan air, yang dinyatakan sebagai
kedalaman di bawah rata-rata permukaan air laut atau permukaan air) adalah sebuah
unsur; sedang karakteristik permukaan daratan yang mencakup penegrtian tanah,
batuan, tumbuhan penutup, adalah unsur yang lain. Sejauh hal ini terdiri dari unsur-
unsur alamiah atau yang tergantung padanya (seperti kehidupan tumbuh-tumbuhan),
mereka dapat dipandang sebagai bagian lingkungan fisik, sekalipun telah diubah atau
dipengaruhi oleh manusia. Banyak aspek lingkungan fisik lain yang tidak harus

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 12
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab II Simbol-simbol Kartografi

terdapat secara nyata di permukaan bumi, baik dalam bentuk yang dapat dilihat atau
pun yang berwujud nyata, seperti misalnya gejala iklim. Maka hal yang demikian itu
menjadikan bagian materi pokok bagi peta-peta subyek khusus yang memusatkan
pada sajian mengenai lingkungan fisik.

2.10 PENGGAMBARAN DAN INFORMASI LOKASI

Pencantuman tiap unsur dalam sebuah peta memprakirakan bahwa terdapat cukup
informasi untuk kemungkinan pencantumannya. Dalam peta topografi alasan dasar ini
dapat diterima, sebab fungsi pengadaan survei adalah untuk memberikan informasi
sampai derajat keseksamaan yang diperlukan. Meskipun demikian, sebuah peta
berskala kecil diperoleh dari peta yang berskala lebih besar dan generalisasi secara
progresif akan mengubah posisi planimetrik dalam hubungannya dengan skala. Dalam
batas skala maka tujuan dasarnya adalah untuk menggambarkan kenampakan-
kenampakan menurut posisinya yang benar.
Untuk beberapa peta yang mempunyai subyek khusus, asumsi yang sama dapat
dibuat. Dalam peta geologi misalnya, batas berbagai formasi batuan telah akan
dilakukan survai di lapangan, dan informasi yang dicatat dalam hubungan dengan
kenampakan topografis yang ditunjukkan pada peta lainnya. Kondisi yang sama tak
harus berlaku untuk semua jenis peta yang mempunyai subyek khusus. Banyak
diantaranya dibuat dari data yang tidak diperoleh untuk tujuan pembuatan peta, dan
data semacam itu dapat mengandung kekurangan serius ditinjau dari sudut pandangan
kartografis. Walaupun benar bahwa peta dapat dibuat hampir untuk semua subyek,
namun benar pula bahwa hal itu berlaku hanya apabila informasi yang sesuai
diperoleh.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) II - 13
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab III Rancangan Peta

BAB III
RANCANGAN PETA

3.1 UMUM

Rancangan peta adalah sesuatu yang bertalian dengan penyajian grafis mengenai
informasi yang terkandung dalam peta. Fungsi rancangan tersebut adalah untuk
mengkomunikasikan informasi secara efektif kepada pemakai peta; oleh karenanya,
rancangan itu harus mempertimbangkan semua kondisi yang mempengaruhi proses
rancangan, yaitu tuntutan pemakai, perkiraan tingkat pemahaman, keadaan
pemakaian, kerumitan informasi, kemungkinan-kemungkinan teknis serta pembiayaan,
dan lain sebagainya. Dalam hal ini rancangan merupakan titik tempat semua faktor
dipertemukan bersama-sama sehingga ia merupakan bagian kritis bagi kegiatan ahli
kartografi. Rancangan bukan semata-mata merupakan suatu kegiatan yang
menjembatani antara penghimpunan atau pengumpulan data dan pelaksanaan teknis
pembuatan peta.
Rancangan meliputi dua tahap kegiatan. Tahap pertama menyangkut berbagai
pertimbangan umum yang mempengaruhi kenampakan peta dan cara penggambaran
isi peta. Tahap kedua meliputi penentuan-penentuan terinci mengenai simbol-simbol
tunggal yang menggambarkan informasi secara grafik. Meskipun ada beberapa
interaksi di antara kedua tahapan tersebut, namun secara umum dimungkinkan untuk
melihatnya secara terpisah.

3.2 MASALAH-MASALAH RANCANGAN UMUM

Keadaan-keadaan umum di mana ketentuan-ketentuan mengenai rancangan dasar
ditetapkan akan berbeda-beda sehubungan dengan keadaan produksi peta secara
keseluruhan. Walaupun kondisi-kondisinya nyata berbeda, tetapi dimungkinkan untuk
mengidentifikasi tiga situasi utama. Dalam produksi peta-peta topografi serta peta-peta
pembayaran dan penerbangan, ketentuan-ketentuan umum mengenai kenampakan
grafik pada peta dalam kaitannya dengan isi dan kegunaannya harus merupakan
tanggapan atas hasil perbincangan antara organisasi survai, pihak yang memerlukan
peta yang dengan itu mewakili pemakai, dan pengaturan kartografik. Dengan
tersedianya fasilitas teknis tertentu serta suatu tingkat pembiayaan, tidaklah mungkin
untuk memperoleh ketentuan-ketentuan umum mengenai isi tanpa mempertimbangkan

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 1
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab III Rancangan Peta

pula sejauh mana hal itu dapat diwujudkan secara grafik. Kegiatan awal untuk peta-
peta semacam itu harus mencakup pertimbangan, baik yang bertalian dengan isi
maupun cara-cara yang mungkin untuk menggambarkannya. Ini merupakan tugas ahli
kartografi mengenai isi. Apabila pihak pemakai menghendaki enam buah kategori
penggunaan tanah, maka ketentuan-ketentuan secara teknik grafik untuk itu harus
dibuat secara jelas.
Pada tempat kedua, banyak peta dibuat untuk menggambarkan tujuan-tujuan yang
bersifat ilmiah, dan hal ini dapat diklasifikasikan sebagai peta-peta subjek khusus.
Peta-peta ini dapat bervariasi mulai dari yang memuat data yang sangat khusus hingga
yang berupa peta-peta sederhana untuk atlas sekolah dasar. Dalam hal-hal tertentu, isi
dan tujuan peta akan ditentukan oleh penyusunan peta, baik yang benar-benar telah
mengenal kartografi maupun yang belum. Meskipun tanggung jawab isi terletak pada
penyusunan peta, kejelasan serta kenampakan grafik dalam peta menjadi tanggung
jawab para ahli kartografi. Karena keterkaitan antara skala, isi, dan simbol-simbol,
tidaklah dapat dipakai anggapan bahwa rancangan dapat dipikirkan secara terpisah
dari isinya, dan bila perlu isi dapat dimodifikasi disesuaikan dengan penggambarannya.
Situasi semacam ini benar-benar dapat terjadi dalam gambar-gambar peta hitam putih
berskala kecil, di mana kemungkinan penggambaran grafik hanya terbatas serta isi
informasi peta dengan mudah menjadi berkelebihan.
Peta-peta subyek khusus yang diproduksi oleh ahli-ahli kartografi secara langsung,
yang dalam hal demikian mereka bertindak sebagai pembuat dan sekaligus
perancang. Cara-cara semacam itu adalah yang paling mudah, sebab sejak semula
ahli kartografi telah memiliki konsep skala serta batasan-batasan isi peta, sehingga
pengumpulan dan evaluasi data dapat sekaligus mempertimbangkan kemungkinan-
kemungkinan serta keterbatasan-keterbatasan. Dalam situasi ini yang penting, ahli
kartografi tidak terperangkap untuk sampai pada suatu rancangan yang memuaskan,
namun secara esensial informasinya salah, yang dapat terjadi apabila ia tidak cukup
memahami bahan yang disajikan. Produk peta yang baik dan jelas hanya terancang
secara baik sejauh kebenaran informasi yang disajikan. Beberapa peta yang secara
teknis diproduksi dengan baik, ternyata setelah diteliti mungkin memiliki cacat dalam
hal isinya.
Akhirnya, situasi kartografis dapat menyangkut penciptaan sebuah peta atau seri peta
untuk seorang pelanggan yang tidak memiliki pengetahuan kartografi, sebagaimana
banyaknya peta dibuat untuk memenuhi pesanan. Dalam hal ini fungsi pertama ahli
kartografi ialah mengusahakan terpenuhinya tuntutan pemakai sejelas mungkin dalam
hubungannya dengan tingkat biaya yang bersangkutan. Hal ini sangat tergantung

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 2
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab III Rancangan Peta

kepadanya untuk memperjelas konsekuensi dipenuhinya tuntutan-tuntutan tertentu
secara memuaskan, terutama yang menyangkut kerumitan gambaran grafik. Dalam
situasi ini maka pembicaraan harus dipusatkan pada tujuan-tujuan yang harus
terpenuhi oleh peta; masalah penggambaran grafik selalu dipikirkan oleh ahli kartografi
sewaktu mendiskusikan bahan agar dapat memberikan pandangan yang pantas bagi
pelanggan, namun keputusan-keputusan mengenai rancangan harus tetap dipandang
sebagai bagian dari fungsi kartografi.

3.3 PRINSIP-PRINSIP RANCANGAN KARTOGRAFI

Sebelum keputusan-keputusan terperinci dibuat, perlu terlebih dahulu ditelaah faktor-
faktor yang mempengaruhi rancangan peta tertentu, serta membuat beberapa tujuan
dasar. Hal ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
a. Isi
Isi peta harus benar-benar ditelaah secara menyeluruh. Hal ini berlaku untuk
jenjang kenampakan-kenampakan fisik artificial, pokok materi khusus dan sub
klasifikasinya, daerah-daerah yang bercirikan distribusi yang rapat dan yang
jarang, serta tumpang-tindih distribusi yang satu terhadap lainnya. Misalnya, dalam
peta penggunaan tanah, citra yang dominan akan menggambarkan kategori-
kategori penggunaan tanah. Apabila dikehendaki untuk menggambarkan topografi
sebagai bagian dari informasi dasar, maka sejauh hal itu dapat dilakukan tanpa
mencampuri rincian tata guna tanah, haruslah ditentukan secara hati-hati. Hal ini
tentu akan mempengaruhi isi maupun metode yang digunakan untuk
menggambarkan relief. Dalam seri yang lebih luas karakteristik geografis yang
bersifat ekstrim harus dipertimbangkan, sebab suatu rancangan yang berlaku
secara baik dalam suatu daerah yang terbuka dan dengan sedikit ukuran
planimetri, mungkin akan ternyata kurang memadai untuk daerah-daerah
pembangunan. Bila peta diperoleh dan harus diproduksi sebagian besar melalui
seleksi dan generalisasi, maka suatu pemahaman secara jelas tentang
karakteristik geografis daerah dan materi pokoknya merupakan langkah pertama.
b. Tingkat-tingkat Visual
Dalam semua rancangan peta, sasaran harus memiliki lebih dari satu tingkat
visual; yaitu, materi pokok yang paling penting secara grafik harus nampak sebagai
gambaran “latar depan” yang paling jelas bagi pemakai, dan informasi penunjang
yang harus disajikan sebagai “latar belakang” pada suatu tingkat visual yang lebih
rendah. Hal ini dapat diperoleh dengan mengatur penekanan serta membuat
kontras dalam merancang simbol-simbol, namun hal itu harus dikerjakan atas

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 3
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab III Rancangan Peta

dasar pemisahan materi. Bahkan dalam peta-peta umum seperti peta-peta
topografi dan peta-peta referensi yang berskala kecil, meskipun tak ada peta yang
hanya memiliki tujuan pemakaian tunggal, maka ada kebenarannya bahwa
beberapa bagian dari isi peta mempunyai arti yang lebih dibanding dengan bagian
lainnya. Misalnya, dalam sebuah peta topografi kenampakan-kenampakan
lingkungan manusia, yang dalam bentuk kombinasi akan mendominasi informasi
planimetri, selalu digambarkan sebagai latar depan gambar. Pada peta-peta
dengan subjek khusus ada perbedaan nyata antara penggambaran informasi dasar
dalam bentuk permukaan topografi terpilih, dan bahkan sajian khusus yang secara
visual akan nampak dominan sebab berisikan informasi utama yang menjadi bahan
perhatian. Tingkat-tingkat tersebut akan sangat dipengaruhi oleh penggunaan
warna yang kontras, tebal tipisnya, dan perlakuan warna permukaan yang
digunakan untuk daerah.

a. Simbol-simbol garis yang tak dikembangkan, banyak
bentuk-bentuk yang membingungkan
b. Klasifikasi menurut simbol-simbol yang benar.
c. Sifat mudah dibaca disempurnakan dengan
pemakaian warna.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 4
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab III Rancangan Peta

c. Kekontrasan dan Perimbangan
Pembagian isi ke dalam tingkat-tingkat yang berbeda bergantung pada
kekontrasan. Sebagai suatu prinsip umum, rancangan awal harus menggunakan
derajat kekontrasan minimal yang dibutuhkan sehingga semua simbol dapat
terlihat, dan simbol-simbol yang dominan nampak menjadi dominan. Alasan untuk
itu ialah bahwa apabila sebagian di antara gambar diberi penekanan secara
berlebihan pada tingkat permulaannya, maka bagian lainnya mungkin harus dibuat
lebih kontras agar tetap dapat terlihat. Oleh karenanya, apabila suatu rancangan
dimulai dengan kontras yang berlebihan, maka akan terjadi akumulasi progresif
garis-garis yang lebih tebal serta warna-warna yang lebih tajam. Dalam kasus yang
ekstrim, sebagai akibatnya akan terwujud suatu rancangan yang padat dan tidak
menarik. Alasan lain untuk mengikuti prinsip tersebut ialah meskipun kebutuhan
peningkatan kekontrasan dapat dilihat dengan mudah bila rancangan aslinya
ditelaah, namun akan lebih sulit untuk mengetahui bahwa beberapa bagian pada
gambar memiliki kekontrasan yang berlebihan. Apabila sebuah simbol garis tidak
dapat tampil secara jelas pada suatu wilayah yang diberi kesan warna. Bobot akhir
gambar yang dominan akan berupa suatu akumulasi kekontrasan yang akan
menjadikannya tampak menonjol dari kemungkinan kombinasi warna yang
melatarbelakanginya. Suatu gambaran pada hanya dapat dihindarkan dengan
membuat rancangan awal yang memerlukan kekontrasan minimal. Dapat
ditambahkan pula bahwa sejauh menyangkut gambar cetak, maka makin
meningkatnya pemakaian tinta secara progresif akan mengurangi pemantulan dari
permukaan kertas. Harus pula dijaga agar tetap dalam kondisi minimal yaitu
dengan menghindarkan penggunaan warna yang cukup jenuh secara berlebihan,
terutama apabila digunakan untuk suatu wilayah.

3.4 RANCANGAN SIMBOL-SIMBOL PETA

Pengertian mengenai tujuan-tujuan umum tersebut akhirnya membawa pada ketetapan
mengenai simbol-simbol individual. Sebagaimana halnya seorang artis yang bekerja
mulai dari hal-hal yang bersifat umum menuju ke arah yang terinci, dan seorang
surveyor bekerja mulai dengan keseluruhan baru kemudian bagian-bagiannya, maka
seorang ahli kartografi merancang peta, mula-mula dengan menciptakan pola umum
dan kemudian memperhalus rinciannya. Kecuali untuk peta-peta yang sederhana,
rancangan tidak terjadi atas dasar pemahaman sekilas secara seketika, tetapi dimulai
dengan suatu hipotesis yang didasarkan pada penganalisisan isinya; mengujinya

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 5
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab III Rancangan Peta

dalam hubungannya dengan rincian khusus yang terdapat dalam bagian-bagian peta
yang berlainan; dan akhirnya memperhalusnya dengan penyesuaian-penyesuaian
kecil. Dalam beberapa kasus, penyesuaian tak akan menghasilkan jawaban yang
memuaskan, sebab dasar dugaannya salah, dan hal ini biasanya timbul disebabkan
skala peta tersebut sejak semula salah. Meskipun sekali sebuah hipotesis telah
dibentuk, dalam kebanyakan kasus sangat sulit untuk mengetahui bahwa dugaan itu
merupakan sumber malapetaka. Apabila suatu rancangan terbukti sulit, maka upaya
harus dibuat dengan mempertanyakan pada kerangka dasar dari seluruh struktur peta.

a. Kategori-kategori yang Konsisten
Tidak peduli tipe peta apa yang diurusi, ada beberapa aturan yang dapat
digunakan. Pokok bahasan harus dibagi menjadi kelompok-kelompok atau
kategori-kategori yang serupa; misalnya, semua kenampakan perairan harus
didaftar dan mendapat perlakuan sebagai suatu unsur dalam peta; semua sub
bagian yang diinginkan dalam suatu kategori harus ditempatkan dalam tata urutan.
Hal ini penting untuk dilaksanakan secara sistematik, dan dengan demikian tak
akan ada satupun kenampakan yang secara visual tidak ada hubungannya dengan
kategori utamanya. Dalam peta jalan (lalu-lintas) misalnya, semua simbol yang
menggambarkan kenampakan-kenampakan yang berkaitan dengan jalan harus
dikelompokkan, sehingga jumlah keseluruhan informasi mengenai jalan jelas
kelihatan, dan ketetapan membuat sub kelompok yang sesuai dapat dilakukan.
Dalam peta yang mempunyai warna beraneka macam, kelompok utama isianya
biasanya ditangani dengan menggunakan warna-warna khusus. Walaupun
demikian tidak mungkin atau tidak dikehendaki untuk menggambarkan semua sub
kelompok dalam satu warna, harus ada pernyataan unsur grafik yang
menggambarkan keseluruhan.

b. Bentuk-bentuk Dasar
Reaksi pertama dari setiap pemakai peta adalah mengidentifikasi keadaan fisik
wilayah yang tercakup dalam peta untuk menentukan “di mana ia terdapat”. Bagi
pemakai peta yang telah berpengalaman, ia akan memanfaatkan semua petunjuk
yang diberikan oleh tata susunan daratan dan perairan, relief, tempat-tempat
pemukiman, dan menyesuaikan pemikirannya dengan skala. Bagi pemakai peta
yang tak berpengalaman tak akan mudah menyesuaikan diri dengan skala, dan
mungkin tak memahami arti penting berbagai petunjuk yang tersajikan. Aspek
orientasi ini bergantung sebagian besar pada pengenalan bentuk-bentuk

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 6
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab III Rancangan Peta

kenampakan topografi utama. Hal ini dapat dicapai secara mudah dengan
membuat perbedaan visual yang jelas antara daratan dan perairan, sebab hal ini
merupakan perbedaan utama yang terdapat dalam bentang alam. Manakala
dimungkinkan, perbedaan ini harus dinyatakan dengan suatu perbedaan warna
permukaan dan bukan hanya pola garisnya saja. Sehubungan dengan itu, warna
permukaan menunjukkan setiap perbedaan wilayah yang ditimbulkan oleh
penggunaan warna pada setiap bentuk yang ada di seluruh permukaan. Ini
mencakup pula variasi warna abu-abu maupun variasi lainnya dalam warna,
ketercahayaan, dan kejenuhan.
Untuk wilayah kecil dengan berskala besar mungkin dapat terjadi bahwa
pembagian secara garis besar itu tidak akan terdapat dalam peta. Dalam kasus
semacam itu tak akan terdapat dalam peta. Dalam kasus semacam itu kontras
utama lain pada bentang alam perlu diberi penekanan; misalnya, dalam sebuah
kawasan pembangunan, yaitu dengan pembedaan antara wilayah yang dibangun
dan yang berupa tanah kosong. Pengenalan bentuk paling mudah ditentukan
dengan cara pemisahan permukaan secara visual dalam wilayah-wilayah yang
berbeda. Pembedaan ini tidak perlu disertai kekontrasan yang kuat; dalam banyak
hal dengan sedikit pengubahan warna permukaan sudah mencukupi, sebab mata
dengan sangat efisien dapat menangkap perbedaan-perbedaan itu. Penambahan
suatu kesan warna yang amat pucat untuk suatu perairan terbuka umumnya sudah
mencukupi untuk menghasilkan gambaran garis besar permukaan daratan.

c. Pengurangan/Reduksi Gambar Garis
Penggunaan warna permukaan dalam hubungannya dengan bentuk-bentuk global
terkait dengan aturan dasar yang lain. Dalam kebanyakan peta, sebagian besar
informasi ditampilkan dengan simbol-simbol garis. Dalam kenyataan banyak peta
yang hampir seluruhnya tersusun dari gambar-gambar garis. Pola-pola garis yang
sangat banyak dan bercampur baur merupakan unsur-unsur yang paling sulit bagi
pemakai peta untuk menguraikannya dan mendapatkan informasi dari pola simbol
itu. Oleh sebab itu, akan sangat baik untuk melakukan pengurangan gambar garis
sejauh mungkin. Hal ini dapat dilakukan dengan memisahkan berbagai wilayah
dengan menggunakan warna permukaan sebagai pengganti pemakaian garis-garis
pembatas. Maka prosedur yang ditunjuk di atas juga berkaitan dengan
pengurangan kerumitan gambar garis. Hal ini bertalian pula aturan mengenai
intensitas warna wilayah. Apabila wilayah digambarkan dengan warna-warna gelap
atau sangat jenuh maka jelas bahwa gambar garis perlu sesuai ketebalannya agar
cukup kontras. Dengan demikian penggunaan kesan warna muda dan warna-

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 7
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab III Rancangan Peta

warna pucat perlu sedapat mungkin dipertimbangkan penggunaannya dalam
rancangan dasar. Bilamana suatu wilayah ditentukan dengan suatu perubahan
dalam warna permukaan, maka setiap garis pembatas, sekiranya tercakup juga
dalam penggambaran, haruslah berupa garis halus. Hal ini disebabkan ia hanya
bertugas mempertajam bagian tepi atau pun merupakan garis peralihan, dan bukan
satu-satunya bukti visual pembagian wilayah-wilayah.

Pengurangan gambar garis yang kompleks
dengan menggunakan warna permukaan

Apabila wilayah itu cukup kecil dan memiliki bentuk yang rumit, maka penampilan
garis-garis halus untuk mempertajam tepi akan meningkatkan kejelasannya.

d. Penggunaan Warna Putih
Apabila prosedur ini digunakan maka ada pula konsekuensi-konsekuensinya. Yang
paling penting terletak dalam hal perlakuan umum permukaan kertas putih yang tak
tercetak. Secara sederhana ini dapat dipandang sebagai suatu latar belakang
“kosong”, yang sementara ini hanya merupakan hal yang tidak penting. Namun
dalam banyak peta, bila warna wilayah tersusun secara layak, maka warna putih
dapat dipakai sebagai bagian dari perbendaharaan grafik, baik dengan
mempertahankan wilayah tertentu itu hanya berwarna putih, atau pun untuk
memanfaatkan kekontrasannya dengan warna-warna lain. Misalnya, beberapa peta
topografi yang memakai warna permukaan secara meluas menggunakan jalan
yang berwarna “putih” sebagai bagian dari klasifikasi jalan. Dalam hal ini terdapat
perbedaan besar antara jenis hipotesis rancangan yang dengan sengaja
menggunakan warna permukaan dan warna putih, dengan hipotesis rancangan
yang membayangkan suatu gambar garis dan kemudian menambah dengan
sejumlah warna terbatas warna permukaan untuk simbol-simbol wilayah tertentu.
Dalam banyak hal, kebutuhan nyata akan lebih banyak warna bukanlah berpangkal
dari rumitnya informasi peta, tetapi dari tidak adanya kemampuan kartografis untuk

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 8
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab III Rancangan Peta

memanfaatkan pelukis yang ada secara efektif. Kebanyakan pemecahan masalah-
masalah ini didasarkan pada penanganan kondisi wilayah.

e. Subjek dan Latar Belakang
Perbedaan antara penggunaan gambar-gambar garis dan gambar-gambar wilayah
dapat dipakai pula untuk menunjukkan hubungan isi peta yang utama. Dalam suatu
peta subjek khusus, bila informasi yang digambarkan pada latar depan terdiri
terutama dari simbol-simbol titik dan garis, maka kekontrasan dapat dengan mudah
didapatkan dengan sejauh mungkin memanfaatkan perbedaan-perbedaan warna
wilayah sebagai latar belakang.

a. Latar depan gambar garis, warna sebagai latar belakang
b. Latar depan gambar wilayah, garis sebagai latar belakang

Misalnya, bila informasi utama terdiri dari pola-pola garis seperti garis isotermis,
maka latar belakangnya harus dirancang demikian rupa sehingga bagian-bagian
garis besar topografis digambarkan dengan variasi warna dan kesan-kesan warna.
Sebaliknya, bila gambar yang dominan terdiri atas serangkaian wilayah-wilayah
berwarna, maka relief permukaan tanah harus ditunjukkan dengan pola-pola garis,
seperti garis-garis kontur.

f. Penyebaran Tumpang-Tindih
Sebagai kelanjutan hal tersebut di atas, suatu situasi yang sulit akan timbul apabila
lebih dari unsur isi peta itu membutuhkan sejumlah kelas yang tersebar pada
wilayah dan digambarkan dengan perubahan dalam warna, ketercahayaan, atau
kejenuhan. Apabila sub kelompok tersebut digambarkan dengan variasi dalam
warna misalnya, maka dua macam penyebaran akan tampak bertentangan, dan
warna-warna yang jelas akan berubah. Ini akan terjadi misalnya, kalau terdapat
beberapa kategori vegetasi atau penggunaan tanah, dan juga kesan-kesan warna
hipsometrik akan dipakai untuk seluruh permukaan. Dalam situasi yang demikian,
maka perlu dipakai cara yang memanfaatkan kekontrasan antara kesan warna dan

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 9
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab III Rancangan Peta

tekstur. Jika satu penyebaran digambarkan dengan variasi dalam warna, yang
mungkin dinyatakan sebagai beberapa kesan warna dalam satu warna atau lebih,
maka penyebaran lainnya harus ditunjukkan dengan variasi dalam tekstur, yaitu
menggunakan pola-pola titik dan garis secara memadai dengan berbagai latar
belakang warna intensitas yang berbeda, sehingga dengan demikian kesan yang
membingungkan dapat dihindarkan.

Pengurangan gambar garis yang kompleks dengan menggunakan warna
permukaan

g. Penekanan
Penggunaan kontras dalam warna harus dihubungkan dengan kenampakan-
kenampakan visual yang dominan dan cukup penting. Dalam hal ini, warna-warna
paling menonjol harus digunakan secara hemat agar tetap menarik. Misalnya, bila
warna merah dipakai berlebihan, maka nilai penekanannya akan berkurang. Hal ini
sangat penting untuk menjamin agar unsur-unsur dominan yang kecil dalam
keluasan wilayah yaitu hanya memberikan kenampakan gambar yang kecil pada
mata tampak dalam warna yang betul-betul jenuh, sehingga akan dapat
memberikan kenampakan yang cukup kontras terhadap kenampakan-kenampakan
lainnya. Warna merah, jingga, dan ungu adalah warna-warna yang bermanfaat
untuk penekanan, terutama bila kenampakan-kenampakan terdapat ukuran kecil,
tetapi hanya akan menjadi efektif pada warna latar belakang yang relatif muda dan
tidak jenuh. Kontras-kontras utama secara visual perlu dipakai untuk hal-hal yang
tidak serupa, dan bukan untuk sub-sub kelompok dalam hal yang sama.
Sepanjang pengembangan perancangan, harus disertai pertimbangan seksama
mengenai perbedaan-perbedaan yang dapat terlihat dan pengaruh satu simbol
terhadap lainnya. Sebelum rancangan akhirnya ditetapkan bagi suatu spesifikasi, ia
harus diuji terhadap kemungkinan kombinasi serta pengaturan-pengaturan
susunan simbol. Pembentukan seperangkat simbol-simbol grafik individual,
khususnya bila setiap warna wilayah ditangani secara terpisah sebagai unit yang
simetris seperti dalam penjelasan mengenai simbol-simbol, jarang dapat dilakukan
dengan mengantisipasi pengaruh simbol-simbol itu dalam peta. Meskipun warna
kuning pucat mungkin dapat terlihat bila ia diperkecil sampai beberapa milimiter
persegi dengan berbagai garis-garis berwarna terletak di atasnya. Imajinasi ahli

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 10
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab III Rancangan Peta

kartografi akan diuji terutama dalam kemampuan melihat hubungan simbol-simbol
yang beraneka ragam dalam penataan-penataan yang berbeda-beda, dan hal ini
hanya dapat dicapai dengan tetap terus mempertimbangkan rancangan sebagai
suatu keseluruhan.

3.5 KETINGGIAN

Ketinggian suatu titik tertentu, menunjukkan kenyataan bahwa ia dapat diukur, dapat
dipandang sebagai atribut titik tersebut, yang dinyatakan dalam bentuk angka. Karena
informasi angka pada peta merupakan salah satu perluasan bentuk simbol grafik,
tampil dengan mengambil ruang di sekitarnya, maka ia hanya diperuntukkan bagi
sejumlah terbatas titik-titik penting yang benar-benar telah terseleksi. Pada setiap
skala, seleksi mengenai informasi ketinggian ini merupakan bagian penting dari peta
topografi. Perlu diingat bahwa meskipun titik-titik tinggi, seperti puncak-puncak gunung,
merupakan suatu pilihan yang jelas, mungkin sama perlunya untuk mencakup
informasi lokasi-lokasi lain, seperti jalan sempit yang melintas pegunungan,
pemukiman, dan bagian-bagian rendah (depresi). Informasi mengenai ketinggian
absolut sangat penting dalam tiga tipe utama peta, yaitu : peta pelayaran, peta
penerbangan, dan peta-peta perekayasaan yang berskala besar. Dalam peta-peta
tersebut, informasi mengenai ketinggian dan kedalaman merupakan bagian isi peta
yang bersifat sangat menentukan, dan oleh sebab itu memegang peranan yang lebih
penting dalam penggambaran relief.

a. Kontur
Di samping ketinggian-ketinggian tempat tertentu tersebut, ketinggian permukaan
daratan lainnya digambarkan menurut klasifikasi, yaitu dengan membaginya ke
dalam suatu seri wilayah yang ditentukan berdasarkan tingkat-tingkat
ketinggiannya. Garis-garis pembagi kelas-kelas wilayah itu disebut “kontur”, yaitu
garis-garis yang mempunyai ketinggian sama dalam kaitannya dengan garis dasar
peta. Meskipun garis kontur apabila selengkapnya diukur adalah merupakan suatu
garis yang mempunyai nilai tetap, fungsinya bersifat kolektif; artinya garis-garis
kontur tersebut merupakan alat untuk menggambarkan ketinggian setiap titik pada
peta yang terdapat dalam batas-batas kelas tertentu.

b. Jarak Antara (Interval) Kontur
Ukuran setiap tingkat dalam klasifikasi tergantung pada interval vertikal, yaitu jarak
vertikal di antara garis-garis kontur. Agar dapat efektif interval-interval kelas harus

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 11
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab III Rancangan Peta

sama, kalau tidak, tidaklah mungkin menghubungkan ukuran pada skala horisontal
dengan ukuran pada ska0000la vertikal. Oleh sebab itu, seleksi interval vertikal
merupakan suatu penetapan dasar dalam menggambarkan ketinggian. Ini
dipengaruhi oleh sifat medan, skala peta, tuntutan kegunaan peta, dan kesulitan
memperoleh informasi.
Bagaimana pun interval kontur, wilayah-wilayah yang memiliki perubahan
ketinggian secara cepat akan memiliki garis-garis kontur yang lebih banyak dalam
jarak tertentu daripada daerah-daerah yang mengalami perubahan ketinggian
secara lambat. Makin besar perbedaan lereng, makin sulit untuk menentukan
interval vertikal secara memuaskan. Suatu interval kontur yang besar mungkin
diperlukan bagi wilayah-wilayah yang mempunyai lereng-lereng curam, di mana
garis-garis kontur relatif masih akan saling berdekatan. Interval besar yang
digunakan untuk wilayah-wilayah yang landai ataupun tak berlereng akan
menghasilkan garis-garis kontur yang saling terpisah jauh yang sulit untuk
menghubungkannya secara visual, dan hanya memiliki suatu kaitan yang tidak
tetap dengan variasi bentuk nyata yang ada di lapangan.

Pemisahan kontur dan lereng

Secara teoritik agaknya diseyogyakan, paling tidak untuk peta topografi yang
berskala besar, untuk menggunakan interval kontur sekecil mungkin agar dapat
memberikan informasi ketinggian secara maksimal. Interval kontur yang kecil
benar-benar diperlukan bagi peta perekayasaan yang digunakan untuk menghitung
isi, dan hal ini biasa terjadi. Dalam berbagai situasi lainnya, intensitas informasi
kontur dibatasi oleh tuntutan penggunaan peta yang nyata, pembiayaan serta
sulitnya memperoleh informasi, dan pengaruh garis-garis kontur atas informasi
peta lainnya.
Kebanyakan penggunaan peta lebih bertalian dengan ketinggian relatif dibanding
dengan ketinggian absolutnya. Perbedaan ketinggian relatif menentukan lereng,

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 12
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab III Rancangan Peta

bentuk-bentuk permukaan secara terinci, arah aliran air, dan sebagainya. Pada
peta topografi berskala besar, tipe yang biasa digunakan untuk orientasi (yaitu
yang dipakai di lapangan), suatu interval kontur 10 meter berarti bahwa tiap titik
pada permukaan tanah dapat ditemukan dalam jarak 5 meter, atau separo dari
interval kontur. Dengan kata lain, bila garis-garis kontur yang bersebelahan dengan
suatu titik menunjukkan 30 dan 40 meter, maka tiap titik di antara garis-garis kontur
tersebut dapat ditandai dengan ketinggian sekitar 35 meter; dan ini tidak dapat
memiliki kesalahan lebih dari 5 meter. Hanya pada titik-titik khusus saja yang
agaknya memerlukan informasi yang lebih terinci dari ini. Pada skala-skala yang
lebih kecil, garis kontur digunakan terutama untuk memperoleh pengetahuan
tentang bentuk permukaan wilayah, sehingga ketentuan mengenai ketinggian
absolut menjadi kurang penting, sebab ia bukan merupakan aspek penggunaan
peta biasa. Oleh sebab itu, intensitas pembuatan kontur, yang biasanya
menghabiskan sebagian besar pembiayaan survai, harus ditetapkan dalam
kaitannya dengan kebutuhan minimal, dan bukan dengan kebutuhan maksimalnya.

c. Interval-interval Tambahan
Karena ketetapan mengenai interval vertikal merupakan suatu hasil kompromi,
maka pada situasi-situasi khusus ia harus dimodifikasi ataupun ditambah sampai
beberapa tingkat. Beberapa alternatif pemecahannya ialah dengan menggunakan
interval-interval berbeda untuk wilayah-wilayah topografi yang berlainan, yaitu
dengan menggunakan interval kontur yang tak sama. Cara terakhir hanya dipakai
dalam hubungannya dengan kesan-kesan warna pada skala kecil, yang nanti akan
dikemukakan pada topik tersendiri.
Informasi tambahan dapat berupa dalam dua macam bentuk; kontur-kontur
tambahan (yang sebenarnya yang merupakan kontur-kontur) yang diukur dengan
derajat keseksamaan yang sama sebagai kontur standar. Dengan demikian,
kontur-kontur itu merupakan informasi pada tingkat yang sama. Garis-garis bentuk
(form lines) dapat digambar dari hasil pengamatan di lapangan atau dari hasil
interpelasi yang didasarkan pada kontur standar. Kontur-kontur ini memiliki tingkat
ketepatan yang lebih rendah, oleh karenanya secara visual harus dibedakan dari
kontur-kontur standar. Penggunaan interval vertikal yang berbeda-beda untuk
daerah-daerah yang berlainan biasanya dijumpai pada peta-peta topografi yang
berskala besar dan sedang, yang pemakaiannya mencakup seluruh wilayah
negara atau pun daerah-daerah yang luas. Karena peta-peta semacam itu terdiri
dari seri lembar-lembar yang terpisah, maka dimungkinkan untuk membaginya
menjadi kelompok-kelompok yang bertalian dengan karakteristik topografi utama

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 13
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab III Rancangan Peta

wilayah; misalnya, seperti yang telah dibuat dalam seri peta topografi daerah
Perancis.

d. Gambar Kontur
Masalah penggambaran grafik harus mempertimbangkan kualitas informasi yang
dijadikan dasar garis-garis kontur, sifat informasi, perlu pemakai peta untuk
mengenali ketinggian tempat secara individual, serta pengaruh pola kontur pada
simbol-simbol lainnya.
Untuk pembicaraan dalam urutan sebaliknya, pengaruh pola kontur pada simbol-
simbol sangat bervariasi pada berbagai wilayah topografi. Di satu pihak, apabila
hanya terdapat sedikit garis kontur, adanya garis-garis halus yang tak teratur
mungkin sulit untuk dibedakan, sebab adanya simbol-simbol informasi lainnya. Di
lain pihak, garis-garis kontur yang mengelompok rapat akan sangat berpengaruh
pada keseluruhan warna peta, dan mungkin mempersulit pada keseluruhan warna
peta, dan mungkin mempersulit untuk mencakup simbol-simbol lainnya secara
jelas. Akibat-akibat grafik dari hal itu ialah pada daerah dengan relief rendah
khususnya yang berkarakteristik dengan banyak lereng kecil, mungkin memerlukan
kontur tambahan untuk membantu pengenalan polanya. Pada daerah yang
memiliki lereng-lereng curam, perlu untuk menggunakan garis-garis kontur yang
halus guna memperkecil pengaruh yang timbul. Walaupun garis kontur yang lebih
tebal akan menjadikan garis-garis kontur secara individual nampak jelas dalam
peta, namun hal itu akan menimbulkan kesulitan grafik mengingat kontur-kontur
tersebut saling berdekatan.
Meskipun garis-garis kontur sering digunakan secara kolektif untuk memperoleh
kesan umum mengenai bentuk-bentuk permukaan tanah, namun harus tetap dapat
mengidentifikasikan ketinggian-ketinggian daerah secara nyata. Karena secara
grafik tidak mungkin untuk mencakup informasi ini sebagai bagian dari simbol
garis, maka harus ditambah dengan menyelipkan angka-angka kontur. Bagaimana
hal ini dikerjakan akan tergantung pada frekuensi dan arahnya.

e. Pemberian Angka Garis-garis Kontur
Apabila garis-garis kontur digunakan untuk menggambarkan lereng, maka masalah
pertama dalam penggunaan peta biasanya ialah untuk menentukan arah lereng.
Mengingat angka-angka hanya dapat dibaca dalam satu arah, maka ada alasan
untuk menempatkan angka-angka sedemikian rupa sehingga selalu terbaca di
“bagian atas lereng”. Apabila peta diorientasikan di lapangan, maka jika angka-
angka kontur dapat dibaca pada suatu lereng, maka daerah permukaan tanah

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 14
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab III Rancangan Peta

menjadi makin tinggi di bagian yang terlebih jauh dari pengamat. Apabila angka-
angka kontur terletak di bagian bawahnya, maka daerah permukaan tanah itu
menjadi menurun. Akibatnya metode ini seringkali dipakai dalam peta-peta yang
sering digunakan untuk di lapangan. Untuk peta-peta berskala kecil, yang biasanya
tidak memiliki orientasi (arah) namun terbaca dalam standar arah baca, ada
kelaziman untuk menjajarkan angka-angka kontur sedekat mungkin dengan arah
baca tanpa mengingat arah lereng.
Frekuensi penomoran kontur harus dipertimbangkan, baik secara mendatar
maupun vertikal. Suatu kontur yang tersendiri mungkin harus terus ditelusuri
hingga dijumpai angka petunjuknya. Dalam pola-pola kontur yang tertutup, sekali
suatu angka tertentu telah terbaca, maka relatif akan mudah untuk menghitung,
baik ke atas maupun ke bawah, hingga mencapai tingkat yang diinginkan pada
suatu lereng tertentu. Untuk daerah semacam itu, pembacaan garis-garis kontur
dibantu dengan menyertakan angka-angka mendatar untuk setiap wilayah lereng
hingga setiap kontur dapat ditentukan secara tepat dengan membacanya dari
angka yang terdekat, dan pada kontur-kontur yang menimbulkan kesulitan
interpretasi selalu diberi angka-angka. Hal ini biasanya menjadi sangat penting
pada perubahan-perubahan dalam lereng serta pada lereng yang terputus-putus.
Pembacaan ketinggian tempat juga dibantu dengan adanya kontur indeks. Dari
namanya menunjukkan bahwa indeks-indeks kontur tersebut membantu membeda-
bedakan kontur-kontur lainnya. Kontur indeks digambarkan dalam garis-garis yang
lebih tebal; oleh sebab itu, lebih mudah untuk membedakan dan menghitungnya.
Dalam praktek biasanya disertakan angka-angka kontur untuk kontur-kontur indeks
pada suatu daerah lereng, dan menambahkan juga angka-angka kontur lain
sampai tingkat tertentu sesuai dengan kebutuhan pemakai peta; seperti yang dapat
diperkirakan sebelumnya oleh ahli kartografi. Kontur indeks juga membantu untuk
menguatkan visualisasi dalam penggambaran kontur. Dengan menampilkan
informasi pada dua tingkat visual, akan membuat lebih mudah membedakan
bentuk-bentuk utama dari yang terinci.

f. Informasi Kontur
Dalam banyak hal juga penting bagi pemakai peta untuk mengetahui ketepatan
informasi kontur suatu peta, yang akan mempengaruhi dalam pemanfaatannya. Hal
ini ditegaskan dengan pernyataan mengenai sifat informasi kontur di pinggir kota.
Perbedaan utama terdapat di antara kontur-kontur yang telah dihasilkan melalui
penelitian, baik dengan ukur tanah maupun dengan pengukuran fotogrametri, seta
kontur-kontur hasil interpelasi dari observasi sejumlah ketinggian tempat-tempat

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 15
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab III Rancangan Peta

tertentu. Apabila kedua-duanya tergambar pada peta yang sama, maka akan lebih
baik jika perbedaan itu dinyatakan secara grafik dengan simbol.

20 Index 20
10 Standard 10
5 Tambahan 5
Bentuk-bentuk dan angka-angka kontur

Bentuk grafik yang digunakan untuk menggambarkan garis-garis kontur dapat
diatur sebagai berikut. Suatu kontur standar yang diukur harus berupa garis halus
yang kontinyu. Suatu kontur tambahan yang diukur harus berupa garis kontinyu
yang lebih tebal, bisanya dua kali lipat dari ketebalan garis kontur standar. Kontur-
kontur interpelasi, baik yang standar, tambahan (suplemen), ataupun index, harus
merupakan garis yang terputus-putus.

g. Kontur dan Lereng
Dalam situasi yang ekstrim dapat menimbulkan sejumlah kesulitan mengenai
hubungan antara lereng dan kontur, baik dalam kaitannya dengan situasi
kartografis maupun penggunaan peta. Dalam hal yang pertama, karena kontur
harus berupa garis-garis yang dapat terbaca secara jelas, maka ada suatu batas
mengenai jumlahnya yang dapat ditunjukkan dalam suatu jarak datar tertentu. Ini
berarti bahwa untuk daerah karang terjal (cliff) ataupun lereng yang sangat curam
tidak mungkin digambarkan kontur-kontur yang ada. Untuk pemecahannya, kontur
pada kaki serta kontur di bagian puncak lereng harus tergambar, sedangkan
kontur-kontur yang ada di antara keduanya ditiadakan secara progresif. Untuk
suatu karang terjal, kontur bagian atas harus dipertahankan sedang lainnya
dihilangkan.

Eliminasi kontur untuk karang terjal lereng curam

Karena diperlukan adanya dua kontur agar dapat mengetahui ketinggian suatu titik
yang tidak terletak pada garis kontur, maka masalah timbul pada kontur-kontur
yang akhir, yaitu yang melingkungi suatu daerah. Tanpa informasi lain, tidak
mungkin untuk menentukan secara pasti, apakah daerah yang tertutup tersebut

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 16
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab III Rancangan Peta

lebih tinggi atau lebih rendah dibanding dengan yang terdapat pada nilai kontur.
Hal ini biasanya dicontohkan dengan bukti-bukti kecil atau depresi. Hal ini dapat
diatasi dengan menambah angka ketinggian tempat yang ada di dalam lingkungan
kontur, yang dapat diperbandingkan dengan nilai kontur; atau dengan merubah
bentuk kontur. Biasanya hal ini dilakukan dengan cara menambah tanda garis-garis
pendek pada sisi yang lebih rendah dibanding dengan kontur.

Kontur-kontur tertutup

h. Kontur dan Warna
Gambar kontur memberikan karakteristik suatu unsur tertentu dari permukaan
bumi, yaitu ketinggiannya. Walau demikian, ia dapat pula diklasifikasikan sebagai
termasuk salah satu kelompok besar atau kelas yang membedakan unsur-unsur
keadaan alami utama. Akibatnya, dalam praktek biasa dijumpai pada banyak peta
yang mencakup penggambaran relief pembuatan warna kontur yang berbeda
dalam hubungannya dengan klasifikasi permukaan bumi. Kebanyakan garis kontur
ditunjukkan dalam warna coklat yang secara umum menggambarkan sifat warna
tanah.
Mungkin juga garis-garis kontur digambarkan dalam warna yang lain, seperti warna
hitam dan biru, tergantung pada sifat permukaan bumi. Hitam biasa digunakan
untuk menunjuk batuan, dan biru tergantung pada sifat permukaan bumi. Hitam
biasa digunakan untuk menunjukkan batuan, dan biru dipakai untuk medan es atau
salju abadi. Terlepas dari pertimbangan-pertimbangan dalam tata ukuran warna,
seperti warna harus mempunyai derajat keseimbangan, sebab garis-garis kontur itu
harus bersinambungan dan kesinambungan itu harus nampak secara visual. Ini
merupakan alasan lain untuk menentukan warna-warna yang dipakai dalam
mencetak sebuah peta dalam hubungannya dengan kebutuhan simbol-simbol titik
dan simbol-simbol garis. Dalam berbagai hal pemakaian warna hitam merupakan
cara penggambaran salah, sebab warna hitam diperuntukkan bagi rincian
planimetrik kenampakan-kenampakan yang bersifat kultural. Tetapi untuk garis-
garis halus, diperlukan warna yang secara visual nampak kontras. Apabila warna
hijau digunakan untuk vegetasi dan warna merah untuk penekanan, maka hanya
tinggal satu kemungkinan warna netral, yaitu hitam. Dalam teori, akan lebih baik
dengan warna coklat, tetapi hal ini berarti memperkenalkan warna cetak yang lain
untuk memperoleh suatu hasil pengaruh yang sangat kecil. Namun pemakaian
warna hitam untuk garis kontur pada daerah batuan juga mempengaruhi warna
coklat yang terpilih untuk garis kontur lainnya.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) III - 17
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

BAB IV
SKALA, LEGENDA, DAN SITE PLAN

4.1 SKALA GAMBAR

Skala adalah perbandingan ukuran di gambar dengan ukuran sebenarnya
di lapangan. Untuk ilmu bangunan, dapat digunakan gambar dengan
skala:
 1:5
 1 : 10
 1 : 20
 1 : 50
 1 : 100
 1 : 200
 1 : 500
 1 : 1000
Untuk pembuatan peta, skala gambar yang digunakan adalah 1 : 500 dan
seterusnya hingga 1 : 50.000.
Sedangkan penggunaan skala untuk masing-masing jenis dan fungsi
gambar adalah :
 Gambar situasi menggunakan skala 1 : 500, 1 : 1000
 Gambar konstruksi menggunakan skala 1 : 200, 1 : 100, 1 : 50
 Gambar detail menggunakan skala 1 : 20, 1 : 10, 1 : 5

4.2 LEGENDA

Tanda-tanda untuk Gambar Ukur pada peta-peta yang tersebut berikut
hanya berlaku untuk perbandingan (skala) di bawah 1 : 2500 (1 : 100, 1 :
200, 1 : 250, 1 : 500, 1 : 1000 dan 1 : 2000).
Untuk perbandingan dari 1 : 2500 ke atas (1 : 1250), 1 : 2500, 1 : 10.000,
1 : 25.000, 1 : 50.000 dan sebagainya) terlebih baik pakailah Legenda
Topografi.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 1
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

Pada Gambar
Titik-Titik Ukur Pada Peta
Ukur
Titik tetap dari jaring segitiga, P =
Primair, S = Sekundari, T = Tertair,
Q = Quartair. T17 digambar hitam
dan digambar merah.
Titik perantaraan tetap baru, dibuat
dengan cara ke muka atau cara ke
belakang dari batu atau dari beton.
T.p. 19 digambar hitam dan
digambar merah.
Idem tidak tetap baru, dari kayu
atau dari bambu.
Titik polygon dari batu atau beton
warna merah.
Idem dari besi (pipa atau besi
masief) warna biru.
Idem dari kayu atau bambu (bersifat
sementara) warna hitam.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 2
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

Pada Gambar
Garis-Garis Ukur Pada Peta
Ukur
Garis ukur (garis konstruksi) lebih
tipis dari garis polygon.
Garis perpanjangan (p) lebih pendek
dan tipis dari garis ukur.
Garis tegak lurus, (t) lebih pendek
dari garis perpanjangan
Garis perpanjangan (p) ; setengah
panah merah sedapat mungkin di
sudut yang lancip.
Garis tegak lurus, dikira-kira atau
disikukan dengan buku (portepel).
(tidak diberi tanda)
Garis tegak lurus dengan prisma
atau siku-siku besar dari kayu
(pakai tanda siku) dengan merah.
Garis tegak lurus dibuat dengan
teropong (theodolisi) (tanda siku
berganda) dengan merah.
Garis tegak lurus (t) garis
perpanjangan (P).
Perpanjangan dari suatu garis
ukur (polygon) diberi tanda
panah merah.
Batas atau pagar lurus
berpotongan dengan garis ukur
diberi tanda merah setengah
oval.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 3
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

Pada Gambar
Angka-Angka Ukur Pada Peta
Ukur
Angka ukur biasa ditulis pada
Gambar Ukur di tempat pengukuran
(terrain) dengan potlot (H3) dan di

Angka-angka ukur pada peta tidak ditulis (juga tidak dengan potlot)
kantor atau di rumah, hari itu juga
harus ditinta (pada gambar hitam) di
153,90
atas, di bawah atau di sebelahnya
angka potlot tadi sehingga angka
potlot dan tinta dua-dua dapat
terang dibaca. Dalam peta angka-
angka ukur tidak ditulis.
129,40 Angka ukur yang diukur dua kali
129,40 harus ditulis dua kali pula.
Idem tetapi yang kedua kalinya
129,40 (c) diukur oleh orang lain. Diberi tanda
(c) merah di belakangnya.
Angka akhir dari suatu garis ukur
atau polygon diukur dengan pita
207,15
ukur (tidak begitu teliti), dicoret dua
hitam di bawahnya.
Idem, diukur dengan pegas ukur
271,14 (teliti), dicoret dua merah di
bawahnya.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 4
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

Pada Gambar
Angka-Angka Ukur Pada Peta
Ukur
Angka jarak dari suatu titik utama,

Angka-angka ukur pada peta tidak ditulis (juga tidak dengan potlot)
dicoret satu di bawahnya dengan
hitam atau merah, tergantung dari
87,31 alat ukur yang dipergunakan.
Dengan pita ukur dicoret hitam, dan
dengan pegas ukur dicoret merah di
bawahnya.
Sesuatu angka ukur yang diukur
kembali oleh orang lain (veri ficatie)
12,70 ditulis merah, coret satu atau dua
82,30 merah atau hitam di bawahnya
89,40 sama halnya seperti di atas,
tergantung dari alat ukur yang
dipergunakan.
Angka ukur dari garis miring
(hyoptenusa) atau diagonal atau
<26,31> garis kontrol yang mengukur dan
merah kalau diukur oleh orang lain
kembali.
Jarak dari batas pekarangan
(15,21) (perceel) diberi dari dan ke mana
diukur.
(-) Idem kalau tidak dapat diukur.
Kalau sudut miringnya lebih besar
dari T0 lebih baik tentukan jarak itu
secara trigonometris (kalau tidak
dapat jarak horizontal itu diukur
dengan cara dipotong-potong).

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 5
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

Pada Gambar
Angka-Angka Ukur Pada Peta
Ukur
Mengukur dengan rambu (afstand
meter baak) dalam keadaan luar
biasa tempo-tempo suatu jarak dari
ukuran detail diukur dengan cara
potis dengan rambu (baak). Ini
hanya dikerjakan kalau jarak yang
dikehendaki tidak begitu teliti, dan
sedapat mungkin jangan dilakukan.
Kalau terpaksa, maka ukurlah jarak
itu paling sedikit 4 kali dengan
rambu, sudut miring diukur pulang
balik, dan ditulis biru. Sudut
(horizontal) dari polygon ditulis
dengan merah. Kalau mengukurnya
mempergunakan formulir untuk
sudut-sudut dan jarak-jarak optis,
pengukuran (angka ukur) tidak perlu
digambar lagi pada gambar ukur,
cukup ditulis dalam formulir saja.
Pada Gambar
BATAS PEKARANGAN (Perceel) Pada Peta
Ukur
Batas pekarangan harus diukur
jaraknya, dan diberi tanda yaitu
untuk :
Pagar bambu = p.b.
Pagar papan = p.p.
Pagar kawat = p.k.
Pagar duri tiang kayu atau bambu =
k.d.k.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 6
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

Pada Gambar
BATAS PEKARANGAN (Perceel) Pada Peta
Ukur
Pagar duri tiang besi = k.d.b.
Pagar duri tiang tembok atau beton
= k.d.t.
Gulungan atau pematang = g.l.
Batas dibuat batu kali yang disusun
rapat. Dibuat biasanya kalau dua
pekarangan berlainan tingginya.
Batas pekarangan tidak berpagar.
Batas dari : Kampung (hijau),
Kawedanan (ungu), Karesidenan
(jingga), Propinsi (merah muda).
Pada Gambar TEMBOK PEKARANGAN
Pada Peta
Ukur (Perceel)
Pinggir jalan, selokan, tangga dan
lain-lain yang terbuat dari batu
(plesteran) tanda menunjukkan
sebelah mana yang ditembok.
Tembok pada skala 1:250 atau lebih
kecil (1:250, 1:200, 1:100, 1:50).
Tebal tembok ditulis di dalamnya,
diarsir dengan merah miring-miring
450 antara. Pada gambar ukur
digambar lebih besar dari
semestinya (tidak menurut skala).
Pada peta digambar menurut skala.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 7
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

Pada Gambar TEMBOK PEKARANGAN
Pada Peta
Ukur (Perceel)
Idem kalau salah satu sisi menjadi
batas pekarangan. Batas
pekarangan selamanya digambar
dengan tinta hitam, atau pada
gambar ukur digambar lebih tebal
dari sisi yang lain.
Idem pada skala lebih besar dari
1:250, (1:500, 1:1000, 1:2000).
Batas pekarangan melalui tengah-
tengah tembok pada skala 1:250
atau lebih kecil.
Idem pada skala lebih besar dari
1:250
Batas pekarangan melalui tembok
rangkap, pada skala lebih kecil dari
1:250, batas digambar dengan tinta
hitam, atau pada gambar ukur
digambar lebih tebal dari sisi yang
lain.
Idem pada skala lebih besar dari
1:250
Batas pekarangan tidak melalui
tengah-tengah tembok pada skala
1:250 atau lebih kecil.
Idem pada skala lebih besar dari
1:250.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 8
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

Pada Gambar
TUGU (PILAR) DAN JEMBATAN Pada Peta
Ukur
Tugu besar dari (0,40 m) digambar
dan diarsir dengan merah.
Tugu kecil dari batu (0,40 m)
digambar dan diarsir atau
seluruhnya dengan merah.
Tugu batu alam (dipahat), besar
dan kecil, digambar dengan merah.
Besi batas besar ( 0,0 m) digambar
dengan biru.
Besi batas kecil (0,0 m) digambar
dengan biru.
Piket, pancang tembok atau patok
besar, digambar dan diarsir dengan
[B.M. 235] hitam (0,10 m).nomor piket ditulis [B.M. 235]
dengan hitam.
Idem, kecil (0,10 m) digambar
[F.T. 54] [F.T. 54]
dengan hitam.
Piket Hektometer, dan Kilometer
dari D.K.A. atau P.U. (salah satu
sudut harus menghadap ke as jalan
(kereta api).
Piket tanda pengkolan dari D.K.A.
Pada gambar diukur : Digambar
hitam, dan semua tulisan yang
tertulis pada papan piket itu ditulis di
sebelahnya.
Pada peta : Tulisan ini tidak dibuat.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 9
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

Pada Gambar
TUGU (PILAR) DAN JEMBATAN Pada Peta
Ukur
Jembatan batu, diarsir dengan
merah, atau digambar seluruhnya
dengan merah.
Jembatan kayu, digambar hitam.
Jembatan bambu, digambar hitam.
Jembatan besi, digambar hitam
dengan diagonal biru.
Pengkolan untuk memuat dan
membongkar barang-barang D.K.A.
atau pelabuhan dari batu atau
beton, digambar hitam dengan
diagonal merah.
Idem dari kayu, digambar hitam
dengan diagonal hitam.
Idem dari besi, digambar hitam
dengan diagonal biru.
Pada Gambar
RUMAH-RUMAHAN Pada Peta
Ukur
Rumah batu atau beton (gedung).
Gambar Ukur : Pinggir garis merah
tipis (vermiljoen) dan arsir rangkap
(miring + 450) lebar + 2 mm dengan
potlot H/3.
Peta : Pinggir garis merah tipis
(vermiljoen) dan dicat merah muda
(carmyn) tipis sekali. Atap : dari
beton = (B).

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 10
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

Pada Gambar
RUMAH-RUMAHAN Pada Peta
Ukur
Rumah kayu lantai batu (ubin atau
beton). Atap Genteng = (G).
Gambar Ukur : Pinggir dengan tinta
hitam tipis dan arsiran dengan potlot
seperti di atas.
Peta : Pinggir merah (vermiljoen)
seperti di atas dan dicat tipis
dengan kuning muda.
Rumah kayu lantai tanah atau
rumah panggung. Atap dari ijuk = (I)
Gambar Ukur : Pinggir dengan tinta
hitam tipis, dan arsiran dengan
potlot seperti di atas.
Peta : Pinggir merah (vermiljoen)
seperti di atas dan dicat tipis
dengan kuning muda.
Rumah bambu lantai batu (ubin
atau beton). Atap seng (zeng) = (Z).
Rumah bambu lantai tanah atau
rumah panggung. Atap dari alang-
alang, atap, aren = (A).

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 11
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

Pada Gambar
RUMAH-RUMAHAN Pada Peta
Ukur
Rumah seng (zeng) lantai batu
(ubin atau beton). Pinggir garis
merah (vermiljoen) tipis. Dengan
arsiran horizontal antara + 2 mm
dan vertikal +4 mm dengan biru
(cobald). Atap dari Sirap = (S).
Rumah seng lantai tanah rumah
pangung. Pinggir garis hitam tipis
dan arsiran seperti di atas Atap
seng (zeng) = (Z).

Perhatian :
Kalau rumah terlalu besar untuk diarsir bolehlah arsiran-arsiran tersebut di atas
gambar hanya + 2 cm, keliling rumah. Panjang keliling rumah harus diukur
sungguhpun panjangnya itu dapat dihitung dari garis-garis perpanjangan atau
garis-garis tegak lurus. Demikian pula rumah tersebut tidak dapat dianggap siku
(900), jadi tiap-tiap sudut rumah harus dapat digambar dari garis-garis ukur
(garis konstruksi). Kalau sudut rumah terlihat nyata dengan mata tidak siku
diberi tanda titik siku dengan merah, yaitu :

Untuk sudut lancip

Untuk sudut tumpul

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 12
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

Pada Gambar
JALAN Pada Peta
Ukur
Jalan besar diperkeras dan diaspal.
Nama jalan ditulis hitam dan
dikurung dengan tanda, kalau nama
itu diambil dari papan nama di
pinggir jalan.
Jalan besar diperkeras tidak diaspal.
Jalan tidak diperkeras dan tidak
diaspal
Kalau jalan berpinggir batu (trottoir,
tangga batu atau kaki lima dari
gedung) diberi tanda dengan merah-
merah membelakangi ke tengah
jalan. Pinggir jalan digambar seperti
di atas dengan merah.
Jalan setapak (Voedpad).
Jalan Kereta Api (D.K.A.) atau tram
(lebih tebal dari garis polygon).
Sungguhpun yang diukur rail kereta
api, tetapi yang digambar hanya
asnya saja. Polygon (garis ukur)
sedapat mungkin sejajar dengan rail
D.K.A.
Batas tanah yang dipergunakan
oleh Jawatan Pemerintah untuk
kepentingan umum (D.K.A., Irigasi,
Listrik dan lain-lain)
(onteigeuninggrens).
As dari jalan kawat arus tinggi
(hhogspanningskabel).

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 13
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

Pada Gambar SUNGAI, SELOKAN dan
Pada Peta
Ukur sebagainya
Pinggir sungai, selokan, danau, dan
sebagainya dibuat dari batu atau
bahan digambar dengan merah.
Kalau pinggir dari tanah, tumpukan
(susunan) batu atau sasak,
digambar biru.
Tiap-tiap sungai, selokan dan
sebagainya harus diberi tanda arah
mengalirnya air, dan nama dari
sungai atau selokan itu, digambar
dengan biru.
Tanda untuk selokan dan lain-lain
yang tidak diketahui arah air
mengalirnya, digambar dengan biru.
Pinggir Laut

Danau (Situ)

Terusan air, selokan dan
sebagainya, yang melalui
terowongan atau yang tertutup di
atasnya.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 14
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

Pada Gambar SUNGAI, SELOKAN dan
Pada Peta
Ukur sebagainya
Terusan air, selokan, dan
sebagainya, yang diukur pinggir
atasnya.
Idem pakai tanggul.

Pipa minyak pada a di atas tanah,
dan pada b di dalam tanah.

Contoh-contoh mengukur

Mengukur dekat jalan kereta api
Buatlah polygon sedapat mungkin sejajar dengan as D.K.A. yang harus diukur
ialah : tanda hectometer, tanda pengkolan, jembatan, pekarangan (perceel) kiri
kanan as D.K.A. rumah dan lain-lain.

4.3 SITE PLAN (RENCANA TATA LETAK LAPANGAN)

a. Umum
Supaya terkoordinasi dan terintegrasi secara efisien dan efektif semua
komponen-komponen sarana dan prasarana yang menjadi bagian dari
pekerjaan persiapan proyek untuk menunjang kelancaran pelaksanaan
pekerjaan konstruksi, bangunan-bangunan sementara proyek dengan
nienggunakan sumber daya secara optimal, perlu dibuat konsep site
plan atau tata letak lapangan.
Di dalam menyiapkan suatu site plan harus berpijak dan mengacu pada :
1. Volume dari pekerjaan-pekerjaan yang dominan seperti dalam :
 pekerjaan galian
 pekerjaan timbunan
 pekerjaan grouting
 pekerjaan beton

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 15
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

 pekerjaan §tell structure
 pekerjaan pembesian
 pekerjaan bekisting
 pekerjaan pengeboran terowongan
 pekerjaan sarana dan prasarana jalan kerja
2. Waktu yang efektif untuk membawa material-material dari storage
area (borrow area) ke proyek dan diusahakan melalui jalan/ jarak
yang terpendek.
3. Lokasi general office dan ware house sedekat mungkin ke pintu utama
proyek supaya gampang dicari pihak luar / pihak ketiga dan juga
supaya lebih mudah mengamankan proyek dari pihak yang tidak
bertanggung jawab.
4. Bilamana area untuk ware house storage tidak memungkinkan di
dalam lokasi proyek, maka diusahakan pada lokasi yang dekat
dengan proyek.
5. Metode-metode pelaksanaan untuk pekerjaan yang dominan menjadi
dasar analisa teknis yang utama untuk didapatkan koordinasi kerja
dan ter-integrated item-item pekerjaan satu sama lain pada waktu
pelaksanaan pekerjaan di lapangan sesuai mutu, waktu dan biaya
yang telah ditetapkan.
6. Laboratorium untuk testing dan pengontrolan kualitas untuk
pekerjaan menjadi salah satu kunci keberhasilan tercapainya mutu
yang ditetapkan oleh spesifikasi teknik.
7. Mengacu pada kriteria-kriteria diterima site plan oleh pengawas
lapangan atau oleh bowher dengan memperhatikan prosedur dan
proses mutu pelaksanaan konstruksi seperti berikut.
8. Mengacu pada organisasi site proyek yang diperlukan

b. Survei lapangan
1. Sumber air kerja
o disediakan atau tidak
o membuat sumur
o menggunakan air sungai

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 16
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

o menggunakan PAM
o jarak sumber air kerja
2. Listrik
o menggunakan fasilitas PLN
o mengusahakan sendiri (genset)
3. Tenaga Kerja
o didapat dari daerah sekitar job site
o mendatangkan dari luar
o akomodasi yang diperlukan
o perlu ijin khusus / tidak
o perlu biaya khusus untuk jalan / tidak
4. Keadaan cuaca di site
o terang / kadang-kadang hujan / hujan terus menerus
o diperlukan data curah hrijan dari Radar; Meteorologi dan Geofisika
setempat
5. Data penyelidik tanah (sondir, boring loc isb)
o Jika tidak disertakan dalam dokumen tender, perlu ditanyakan ke
konsultan
o Perlu diketahui jenis tanah yang akan digali yang terlihat dari luar
(batu,
o tanah keras, dsb)
o Data air tanah (elevasi dan sifat air tanah)
6. Quarry Borrow Area
o disediakan atau mencari sendiri
o jika disediakan, apakah sudah memenuhi persyaratan teknis
(dilakukan test)
o ada berapa quarry / borrow area
o lokasi quarry (gunung / sungai / tanah datar / belukar) - jarak site
o jenis batuan / pasir / tanah timbun
o jalan menuju quarry / borrow area (ada, membuat baru, perlu
diperbaiki, perlu diperlebar, perlu membuat jembatan sementara,
perlu memperbaiki yang sudah ada) dan lain-lain
o apakah perlu ada biaya pembebasan tanah

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 17
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

o transpor material ke site (truck, dump truck, dipikul)
o biaya retribusi material (royalti) per m2.
o Bagaimana penernpatan alat-alat quarry / borrow area (bila
diperlukan)
o Cara pengambilan material (diledakkan, membeli dari leveransir,
membeli dari masyarakat setempat, mengambil di lokasi)
7. Survei harga bahan lokal
o ada / tidak ada pabrik kayu balok, papan, plywood
o pembayaran untuk kayu (kontan/tidak)
o harga bahan / Kayu loco di pabrik I dilokasi proyek
o harga pasir batu, split, tanah urug di lokasi pengambilan dan sampai
dengan
o di lokasi proyek berapa

c. Daftar Simak
Untuk memastikan site plan (Rencana Tata Letak Lapangan) telah
tersusun dengan tepat, lengkap dan efektif serta efisien dalam rangka
pelaksanaan proyek, dapat dibuat daftar simak (check list) rencana tata
letak lapangan seperti contoh berikut : Daftar Simak rencana tata
lapangan untuk pelaksanaan konstruksi.

CHECKLIST UNTUK PROSEDUR PELAKSANAAN KONSTRUKSI
Bab/
Sub Kegiatan yang diwajibkan Ada Tidak Catatan
Bab
1. Pekerjaan persiapan lapangan

Penetapan tempat kerja kontraktor
dan pengawas pekerjaan (untuk
pekerjaan besar, tempat kerja terdapat
dibeberapa tempat).
1. Dok, yang menyatakan bahwa Pimpro
bersama kontraktor telah menetapkan
tempat kerja/kantor lapangan, barak
pekerja, kantor pengawas lapangan
2. Dok, yang menyatakan bahwa
tempat kerja telah memenuhi syarat
keselamatan, kesehatan, tidak
mengganggu lingkungan dan

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 18
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

CHECKLIST UNTUK PROSEDUR PELAKSANAAN KONSTRUKSI
Bab/
Sub Kegiatan yang diwajibkan Ada Tidak Catatan
Bab
tersedia fasilitas bekerja
secukupnya sesuai dokumen kontrak
3. Dok, yang menunjukkan dan
menetapkan / penyerahan jalan
kerja dan lain prasarana untuk
pelaksanaan pek. Sesuai
kesepakatan / penjelasan dalam
dokumen kontrak.

2. Pengukuran lapangan (pada umumnya
jumlah buku ukur dan gambar ukur
yang diaudit cukup banyak)
1. Dok, yang menyatakan bahwa
rencana kerja pengukuran lapangan
telah dibuat oleh kontraktor dan
telah diperiksa dan disepakati oleh
pengawas pekerjaan.
2. Isi rencana kerja pengukuran yang
telah disepakati adalah :
1) Tahap-tahap pengukuran yang
akan dilakukan
2) Peta situasi rencana pengukuran
lapangan
3) Jadwal pengukuran setiap tahap
di lapangan
4) Metoda pengukuran yang
dilaksanakan
5) Daftar jenis peralatan ukur yang
digunakan
6) Daftar tenaga juru ukur yang
ditugaskan
3. Dok, yang menyatakan bahwa
telah dilakukan pengecekan
benchmark/titik tetap yang ditunjuk,
oleh kontraktor dan hasilnya telah
diperiksa dan disepakati Asisten
terkait.
4. Bilamana terdapat penambahan
atau perubahan benchmark harus
ada dok, tentang tambahan atau
perubahan benchmark yang telah
disepakati oleh asisten terkait.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 19
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

CHECKLIST UNTUK PROSEDUR PELAKSANAAN KONSTRUKSI
Bab/
Sub Kegiatan yang diwajibkan Ada Tidak Catatan
Bab
5. Perhitungan hasil ukur yang dicatat
dalam buku ukur telah diperiksa dan
didiskusikan, khususnya koordinat
dan elevasi bangunan tertentu dan
disepakati oleh Asisten terkait.
6. Gambar hasil pengukuran telah
memenuhi standar gambar yang telah
disepakati bersama dan telah
diperiksa dan disepakati oleh
pengawas pekerjaan.
7. Setiap koreksi Pengawas Pekerjaan
atas perhitungan maupun gambar
ukur telah dikerjakan kembali oleh
kontraktor dan telah disepakati
pengawas pekerjaan.
8. Dok, yang menyatakan bahwa
pelaksanaan pekerjaan pengukuran
dan penyerahan hasil ukur telah
sesuai dengan jadwal yang
disepakati.

3. Pembuatan gambar kerja dan konstruksi
(pada umumnya jumlah gambar
kerja/konstruksi yang diaudit cukup
banyak)
1. Semua gambar kerja dan konstruksi
telah dibuat oleh kontraktor dan
setelah diperiksa dan dikoreksi
kelengkapannya disepakati pengawas
pekerjaan.
2. Kelengkapan gambar yang telah
terpenuhi adalah standar gambar,
simbol gambar, ukuran dan skala
gambar sesuai dengan pedoman
gambar teknik yang ada.
3. Semua gambar kerja untuk
pekerjaan sementara/ darurat telah
disiapkan kontraktor dan telah
diperiksa dan disetujui, dilaksanakan
oleh pengawas pekerjaan.
4. Semua gambar telah diberi nomor
gambar, halaman gambar dan judul
gambar, tanggal dan nama
pembuat, penanggung jawab yang
menyetujui, baik untuk gambar
maupun gambar revisi.
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 20
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

CHECKLIST UNTUK PROSEDUR PELAKSANAAN KONSTRUKSI
Bab/
Sub Kegiatan yang diwajibkan Ada Tidak Catatan
Bab
5. Setiap koreksi pengawas pekerjaan
atas gambar yang diajukan telah
diperbaiki kembali oleh kontraktor
dan telah disepakati pengawas
pekerjaan.
6. Dok, yang menyatakan bahwa
penyelesaian gambar kerja /
konstruksi telah sesuai dengan
jadwal yang ditetapkan atau 7 hari
sebelum pekerjaan dimulai.
7. Setiap perubahan gambar kerja /
konstruksi selama pelaksanaan
pekerjaan telah dibuat kembali oleh
kontraktor dan telah diperiksa /
disetujui pengawas pekerjaan.
8. Gambar purna laksana telah
dipersiapkan oleh kontraktor dan
telah diperiksa pengawas pekerjaan
serta disetujui Pimpro.
9. Penyerahan gambar purna laksana
telah dilakukan sesuai dengan
jadwal yang disepakati atau
bersamaan dengan penyerahan
pekerjaan selesai kepada Pimpro.

4. Buku harian, buku pengawas (Direksi)
dan laporan mingguan (pada umumnya
jumlah buku harian / buku Direksi dan
laporan mingguan yang diaudit cukup
banyak)
1. Kontraktor telah memberitahu
kepada Pimpro bahwa buku harian
serta buku pengawas dan
disediakan di kantor kerja kontraktor.
2. Isi buku harian atau form laporan
harian yang telah ditulis :
1) Kedatangan bahan bangunan,
alat-alat dan tenaga kerja
2) Keadaan cuaca dan kendala
yang dihadapi
3) Kegiatan yang dilakukan pada
hari yang sama
4) Pencapaian progress pekerjaan
3. Isi buku pengawas yang telah ditulis:
1) Persetujuan atas rencana kerja
kontraktor
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 21
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

CHECKLIST UNTUK PROSEDUR PELAKSANAAN KONSTRUKSI
Bab/
Sub Kegiatan yang diwajibkan Ada Tidak Catatan
Bab
2) Perintah kerja bagi kontraktor
untuk suatu kegiatan
3) Persetujuan hasil kerja kontraktor
yang telah sesuai persyaratan
yang disepakati.
4) Teguran atau peringatan atas
penyimpangan atau
keterlambatan suatu kegiatan
pekerjaan atau keterlambatan
suatu kegiatan pekerjaan.
4. Buku harian/laporan harian telah
ditulis setiap hari serta
ditandatangani oleh kontraktor dan
pengawas pekerjaan.
5. Dokumen yang menyatakan buku
harian dan buku pengawas selalu
ada di kantor kontraktor, tidak
pernah dipindahkan.
6. Laporan mingguan telah dibuat
kontraktor dan diketahui dan
disetujui pengawas pekerjaan serta
telah dikirim tepat waktunya kepada
Pimpro.
7. Bilamana pekerjaan telah selesai,
buku harian dan buku pengawas
merupakan bagian dokumen yang
harus diserahkan kepada proyek.

5. Pembuatan rencana pekerjaan
sementara atau darurat (untuk
pekerjaan besar biasanya lebih dari
sebuah pekerjaan sementara yang
diaudit)
1. Dok, yang menunjukkan bahwa
kontraktor telah membuat rencana
kerja pembuatan pekerjaan
sementara yang isinya :
1) Jenis pekerjaan sementara yang
akan dibuat
2) Jadwal pembuatan setiap
rencana pekerjaan sementara
2. Dokumen yang menyatakan usulan
rencana setiap pekerjaan sementara
telah disampaikan oleh kontraktor
dan telah diperiksa, dikoreksi serta
disepakati pengawas pekerjaan.
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 22
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

CHECKLIST UNTUK PROSEDUR PELAKSANAAN KONSTRUKSI
Bab/
Sub Kegiatan yang diwajibkan Ada Tidak Catatan
Bab
3. Bagian pekerjaan sementara yang
perlu diperiksa pengawas.
1) Perhitungan teknis, kekuatan,
konstruksi dan bahannya
2) Gambar rencana teknis
konstruksi
3) Metode pelaksanaan yang akan
diterapkan
4) Jadwal pelaksanaan pekerjaan
5) Peralatan bekerja yang mungkin
akan digunakan
6) Rencana pemeliharaan selama
dipergunakan
4. Setiap koreksi atau petunjuk
pengawas pekerjaan atau Pimpro
atas rencana pekerjaan sementara
yang diusulkan telah disetujui dan
diselesaikan oleh kontraktor.
5. Setiap rencana pekerjaan sementara
sudah diserahkan kepada
pengawas 7 hari dengan jadwal
yang disepakati.
6. Pekerjaan sementara yang
menggunakan peralatan khusus,
sertifikasi alat kerjanya telah
diinformasikan kepada Pimpro dan
telah disepakati.

7. Perintah pembuatan pekerjaan
sementara / darurat telah diberikan
oleh pengawas pekerjaan kecuali
bilamana dianggap cukup berat
diberikan oleh Pimpro.

6. Penempatan dan pengujian bahan
bangunan (untuk pekerjaan besar
beberapa lokasi penimbunan bahan
bangunan dan cukup banyak hasil
pengujian bahan yang harus diaudit)
1. Kontraktor telah memberitahu
secara tertulis lokasi penimbunan
bahan bangunan dan telah disetujui
pengawas pekerjaan.
2. Persetujuan pengawas pekerjaan
diberikan untuk :

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 23
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

CHECKLIST UNTUK PROSEDUR PELAKSANAAN KONSTRUKSI
Bab/
Sub Kegiatan yang diwajibkan Ada Tidak Catatan
Bab
1) Tempat penimbunan bahan telah
aman dari gangguan keamanan
dan tidak mengganggu
lingkungan
2) Cara penyimpanan maupun
penimbunan telah sesuai standar
penimbunan maupun
penyimpanan
3. Setiap bahan bangunan yang
diterima telah memiliki surat bukti
pengujian bahan yang dilakukan
oleh pejabat yang berwenang
melakukan pengujian bahan dan
telah disetujui pengawas pekerjaan.
4. Bilamana terdapat bukti bahan
bangunan yang tidak memenuhi
persyaratan, harus ada dokumen
yang menyatakan penolakan dan
perintah pengeluaran dari wilayah
kerja kontraktor.
5. Dokumen yang menyatakan
pengiriman bahan bangunan telah
sesuai dengan jadwal dan volume
yang telah disepakati dan telah
diketahui pengawas pekerjaan.
6. Setiap keterlambatan pengiriman
serta penyimpangan dalam
penimbunan bahan bangunan telah
diberikan teguran tertulis dari
pengawas pekerjaan.

7. Pengkajian metode pelaksanaan atau
pemasangan (untuk pekerjaan yang
bersifat khusus harus ada dokumen
metode pelaksanaan atau
pemasangannya)
1. Dokumen metode pelaksanaan atau
pemasangan telah disiapkan
kontraktor dan setelah diperiksa
disetujui pengawas pekerjaan.
2. Persetujuan pengawas diberikan
untuk efektivitas dan efisiensi
pelaksanaan
1) Penentuan rekayasa
pelaksanaan atau pemasangan
2) Perhitungan dan pemilihan alat
Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 24
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

CHECKLIST UNTUK PROSEDUR PELAKSANAAN KONSTRUKSI
Bab/
Sub Kegiatan yang diwajibkan Ada Tidak Catatan
Bab
kerja dan tenaga manusia
3) Penetapan waktu yang
dialokasikan harus cukup efisien
4) Urutan kegiatan atau flow chart
kegiatan metode pelaksanaan
harus tepat waktu
3. Dokumen yang menyatakan bahwa
kontraktor telah melakukan
penyesuaian atas koreksi dan
petunjuk yang diberikan pengawas
pekerjaan atau Pimpro dan setelah
diperiksa kembali disetujui
pengawas pekerjaan Pimpro.

8. Penempatan alat-alat kerja dan alat
komunikasi (untuk proyek yang besar
penempatan alat kerja ini beberapa
lokasi)
1. Dokumen yang menyatakan usul
rencana penggunaan alat kerja dan
konstruksi dari kontraktor dan
setelah diteliti dan diperiksa
mendapat persetujuan dari pengawas
pekerjaan.
2. Yang diteliti dan mendapat
persetujuan pengawas adalah :
1) Rencana mobilisasi alat kerja dan
konstruksi
2) Rencana penempatan alat kerja
dan konstruksi
3) Jenis, jumlah dan kapasitas alat
kerja yang direncanakan
4) Rencana lokasi bengkel
pemeliharaan alat kerja
5) Jadwal penggunaan atau
pengoperasian dan
pemeliharaan alat kerja dan
konstruksi
6) Gambar situasi penempatan
dan bengkel alat kerja
3. Dokumen yang menyatakan bahwa
rencana pengoperasian alat kerja dan
konstruksi yang diusulkan telah
sesuai dengan metode pelaksanaan
pekerjaan yang disepakati.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 25
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

CHECKLIST UNTUK PROSEDUR PELAKSANAAN KONSTRUKSI
Bab/
Sub Kegiatan yang diwajibkan Ada Tidak Catatan
Bab
4. Dokumen yang menyatakan teguran
atau peringatan kepada kontraktor
bilamana terdapat penyimpangan atau
perubahan terhadap rencana yang
telah disetujui.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 26
Modul RDE 03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Bab IV Skala, Legenda dan Site Plan

Ilustrasi tata letak lapangan
Untuk lebih memudahkan fungsi dan manfaat dari site plan ini dapat dilihat
pada gambar berikut, contoh-contoh site plan dan penjelasannya.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) IV - 27
Modul RDE-03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Rangkuman

RANGKUMAN

1. Modul berisi uraian, penjelasan atau prinsip-prinsip umum tentang simbol-
simbol gambar perencanaan teknis atau pelaksanaan pekerjaan jalan pada
proyek jalan dan jembatan yang pada umumnya dilakukan pada ruas-ruas
jalan Nasional, Propinsi, maupun Kabupaten / Kota.

2. Peta adalah gambaran grafik, dan informasi disampaikan melalui simbol-
simbol grafik yang dapat dipahami oleh pemakainya.

3. Untuk bisa memahami arti suatu peta, perlu diketahui prinsip-prinsip dasar
ilmu kartografi: seni, pengetahuan, dan teknologi pembuatan peta ...
menyangkut semua tahapan evaluasi, penghimpunan, perancangan, dan
penyusunan naskah yang dibutuhkan untuk menghasilkan peta baru atau
perubahan dokumen peta dari semua bentuk data dasar.

4. Rincian cakupan modul:
► Pengertian Kartografi
► Penglihatan dan Persepsi
► Gambaran Visual
► Simbol – simbol Garis dan Batasan Perseptual
► Identifikasi simbol
► Perbedaan (diskriminasi) simbol
► Pengenalan simbol
► Penjelasan tentang simbol-simbol kartografi (pengertian umum, tipe–tipe
simbol, variabel grafik, bentuk, dimensi, warna, tekstur (raut).
► Penjelasan tentang pengertian peta topografi (semua kenampakan
permukaan bumi yang dapat di identifikasi, baik yang bersifat alamiah
atau buatan dan dapat diberi satu posisi khusus)
► Penjelasan tentang rancangan peta, prinsip rancangan kartografi,
rancangan simbol peta, ketinggian, skala, legenda pada peta

Pelatihan Road Design Engineer (RDE) R-1
Modul RDE-03 : Pengenalan dan Pembacaan Peta Daftar Pustaka

DAFTAR PUSTAKA

1. Brinker, Russell C, Section 12 Surveying (Merrit, Frederick S, Standard
Handbook for Civil Engineers, Second Edition, McGraw-Hill Inc.,New York,
1976)

2. Wongsotjitro, Soetomo, Ilmu Ukur Tanah, Penerbit Kanisius, Yogyakarta,
1991.

Pelatihan Road Design Engineer (RDE-03) DP-1