You are on page 1of 5

1.

Aedes
2. Anopheles sp.
Anopheles sp. merupakan vektor penyebaran malaria (Gambar 1).
Plasmodium sp. dapat berkembang dari tahap hametosit hingga sporozoid
di tubuh Anopheles sp. Betina tergantung dari kelembapan, suhu lingkungan
(suhu lebih tinggi mempercepat pertumbuhan nyamuk) (CDC, 2018).
Anopheles sp. Mencari makan pada malam hari, sekitar pukul 21.00-22.00
dan 04.00-05.00. Namun, ada beberapa spesies nyamuk ini yang selalu
ditemukan pada setiap jam. Habitat Anopheles sp. yaitu sungai, kubangan,
sawah, danau, kobakan, tapak kaki, kubangan kerbau, tapak kaki kerbau dan
genangan air (Kazwaini dan Mading, 2015).

Gambar 1. Morfologi Anopheles sp. (CDC, 2018)

Menurut CDC (2018), Anopheles sp. memiliki 4 siklus hidup, yaitu


telur, larva, pupa dan dewasa. Tiga tahap pertama adalah fase akuatik
selama 5-14 hari terakhir tergantung spesies dan suhu lingkungan,
sedangkan betina dewasa dapat hidup sampai satu bulan (atau lebih di
penangkaran) tetapi kemungkinan besar tidak hidup lebih dari 1-2 minggu
di alam. Betina dewasa mampu meletakkan telurnya di air sekitar 50-200,
menetas 2-3 hari, dan tidak tahan terhadap kering.
Larva Anopheles sp. memiliki kepala dengan mouth brush yang
digunakan untuk makan, toraks besar, perut yang tersegmentasi, dan tidak
punya kaki (Gambar 2). Berbeda dengan nyamuk lain, larva Anopheles sp.
tidak memiliki siphon pernafasan, sehingga tubuhnya sejajar dengan
permukaan air dan hanya menyelam saat terganggu. Larva bernafas melalui
spiracle yang terletak di segmen perut 8 dan karena itu harus sering datang
ke permukaan. Larva berkembang melalui 4 tahap, atau instars, setelah itu
mereka bermetamorfosis menjadi pupa. Pada akhir setiap instar, larva
berganti kulit, mengeluarkan eksoskeleton, atau kulit, untuk memungkinkan
pertumbuhan lebih lanjut.

Gambar 2. Larva Anopheles sp. (CDC, 2018)

Pupa Anopheles sp. Berbentuk seperti koma, cephalothorax dengan


perut melengkung. Setelah beberapa hari bentuk pupa, permukaan
dorsalnya akan pecah dan menjadi nyauk dewasa (Gambar 3). Nyamuk
dapat berkembang dari telur menjadi dewasa hanya dalam waktu 5 hari
tetapi biasanya memakan waktu 10-14 hari dalam kondisi tropis.

Gambar 3. Pupa Anopheles sp. (CDC, 2018)

Anopheles sp. dewasa memiliki tubuh ramping dibagi menjadi 3


bagian, yaitu kepala, dada, dan perut. Kepala dilengkapi dengan proboscis
dan anten. Pada toraks melekat tiga pasang kaki dan sepasang sayap. Perut
khusus untu pencernaan makanan dan perkembangan telur. Darah yang
dihisap akan digunakan sebagai sumber protein untuk produksi telur.
Palps, probosis dan sisik hitam pada sayap menjadi pembeda
morfologi Anopheles sp. dengan nyamuk lain. Anopheles sp. dewasa juga
dapat diidentifikasi dengan posisi istirahat khas, jantan dan betina
beristirahat dengan perut mencuat di udara daripada sejajar dengan
permukaan di mana mereka beristirahat (Gambar 4).

Gambar 4. Anopheles sp. Dewasa (CDC, 2018)

Siklus hidup parasit malaria melibatkan dua host (Gambar 5).


Selama menghisap darah, Anopheles sp. yang terinfeksi malaria
menginokulasi sporozoit ke manusia. Sporozoit menginfeksi hepatosit dan
menjadi skizon dewasa, yang pecah dan melepaskan merozoit. (Sebagai
catatan, pada P. vivax dan P. ovale, stadium dorman [hypnozoites] dapat
menetap di hepar dan menyebabkan relaps dengan menginvasi aliran darah
berminggu-minggu, atau bahkan bertahun-tahun kemudian.) Setelah
replikasi awal ini di hepar (skizogoni exo-erythrocytic ), parasit mengalami
perkalian aseksual dalam eritrosit (skizogoni eritrositik). Merozoit
menginfeksi eritrosit. Trofozoit fase cincin tumbuh menjadi skizon, yang
pecah melepaskan merozoit. Beberapa parasit berdiferensiasi menjadi tahap
eritrositik seksual (gametosit). Parasit tahap darah bertanggung jawab atas
manifestasi klinis penyakit. Gametosit, jantan (mikrogametosit) dan betina
(makrogametosit), tertelan oleh nyamuk Anopheles sp. saat menhisap darah.
Perbanyakan parasit pada nyamuk dikenal sebagai siklus sporogonic.
Sementara di perut nyamuk, mikrogametosit menembus makrogametosit
yang menghasilkan zigot. Zigot pada gilirannya menjadi motil dan
memanjang (ookinet) yang menyerang dinding midgut nyamuk dimana
mereka berkembang menjadi ookists. Ookists tumbuh, pecah, dan
melepaskan sporozoit, yang menuju kelenjar nyamuk air liur nyamuk.
Inokulasi sporozoit ke inang manusia baru melanjutkan siklus hidup malaria
(CDC, 2018)

Gambar 5. Siklus hidup Plasmodium sp. (CDC, 2018)

Daftar pustaka

CDC. 2018. Centers for Disease Control and Prevention.


https://www.cdc.gov/malaria/about/biology/index.html diakses pada 28
Oktober 2018
Kazwaini, M. dan Mading M. 2015. Jenis dan Status Anopheles spp. sebagai Vektor
Potensial Malaria di Pulau Sumba Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jurnal
Ekologi Kesehatan. Vol 14 No 2 : 96 — 1U5

3. Cullex