You are on page 1of 31

Kop Surat Ummi

KEPUTUSAN DIREKTUR UTAMA RUMAH SAKIT UMMI BOGOR
NOMOR:...........................................

TENTANG
PANDUAN KERJA DILEMA ETIK DAN DISIPLIN PROFESI
DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN
RUMAH SAKIT UMMI BOGOR

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
DIREKTUR UTAMA RUMAH SAKIT UMMI,

Menimbang : a. Bahwa dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan keperawatan di RS
Ummi dipandang perlu adanya Panduan Kerja Dilema Etik dan
Disiplin Profesi Keperawatan;
b. bhwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf
a, dipandang perlu menetapkan keputusan direktur utama Rumah Sakit
Ummi tentang panduan kerja dilema etik dan disiplin profesi dalam
praktik keperawatan rumah sakit Ummi Bogor;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan
Informasi Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008
nomor 61, Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4846);
2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112,
Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038);
3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan ( Lembaga
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, dan Tambahan
lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
4. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
(Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, dan
Tambahan Lembaga Negara Republik Indonesia Nomor 5072);
5. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 307,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5612);
6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2012;
7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 10 Tahun 2015 tentang
Standar Pelayanan Keperawatan
8. Kepmenkes RI No. 1239/Menkes/IX/2001 tentang Regsitrasi dan Praktik
Perawat;

MEMUTUSKAN
Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR UTAMA RS UMMI BOGOR TENTANG
PANDUAN KERJA DILEMA ETIK DAN DISIPLIN PROFESI
DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN RUMAH SAKIT UMMI
BOGOR

KESATU : Panduan kerja dilema etik dan disiplin profesi dalam praktik keperawatan RS
Ummi Bogor
KEDUA : Panduan ini menjadi acuan dalam menyelenggarakan etik dan disiplin profesi
keperawatan di RS Ummi
KETIGA : Keputusan ini berlaku mulai tanggal ditetapkan dengan catatan segala
sesuatunya akan diubah dan diatur kembali sebagaimana mestinya apabila ada
ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini.

Ditetapkan di Bogor
Pada Tanggal,.................
DIREKTUR UTAMA

dr. Nikmah Aziz MARS
RUMAH SAKIT UMMI BOGOR

PANDUAN KERJA DILEMA ETIK DAN DISIPLIN PROFESI
DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN

Jln. Empang II no. 2 Bogor Selatan
Telp. (0251) 8341600, Fax (0251) 834
Email: rsummi
Web: www.rsummi.com
BAB I
PENDAHULUAN
PANDUAN KERJA DILEMA ETIK DAN DISIPLIN PROFESI
DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN

A. LATAR BELAKANG
Perawat adalah seseorang yang memberikan pelayanan profesional berdasarkan ilmu dan
kiat keperawatan yang ditujukan pada individu, kelompok, keluarga dan masyarakat. Dalam
menjalankan tugasnya perawat harus memegang teguh etika dan disiplin profesi
sehingga asuhan keperawatan yang diberikan sesuai dengan kaidah-kaidah profesi.

Permenkes RI no. 49 tahun 2013 tentang komite keperawatan di rumah sakit pasal 11 terkait
Subkomite Etik dan Disiplin Profesi di bawah Komite Keperawatan rumah sakit
mempunyai tugas untuk menjaga etik dan disiplin profesi dengan cara mensosialisasi kode
etik keperawatan, merekomendasikan penyelesaian masalah pelanggaran disiplin dan
masalah etik dalam kehidupan profesi dalam pelayanan asuhan keperawatan.

Perawat yang tidak menjalankan etikdan disiplin profesi keperawatan dengan baik
kemungkinan dapat mengakibatkan kelalaian, kecerobohan ataupun kesengajaan ketika
melaksanakan asuhan keperawatan yang lazim disebut “malpraktik keperawatan”. Hal ini
menggambarkan kewajiban perawat tidak berjalan dengan semestinya serta tidak
terpenuhinya hak-hak pasien sehingga bertentangan dengan UUD no. 38 tahun 2014 tentang
keperawatan pasal 36 terkait hak dan kewajiban perawat, serta pasal 38 tentang hak dan
kewajiban pasien.

Tindakan malpraktik yang dilakukan oleh perawat menimbulkan masalah etik dan
kemungkinan adanya pelanggaran disiplin profesi, yang disebabkan perawat tidak
menjalankan prinsip-prinsip etik dengan baik. Apabila hal ini terjadi maka perawat dapat
terkena sanksi terkait pelanggaran dengan kategori pelanggaran ringan, sedang dan berat.

Pergeseran sikap dan pandangan masyarakat dalam menghadapi pelayanan kesehatan
khususnya asuhan keperawatan menyebabkan masyarakat menjadi sadar hukum akan adanya
perlindungan hukum terhadap hak-hak pasien/klien dan/atau keluarganya dalam
pelayanan keperawatan serta meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang standar
pelayanan, standar prosedur operasional dan kewajiban hukum yang dipatuhi oleh tenaga
keperawatan profesional.

Pembuatan panduan dilema etik dan disiplin profesi dalam praktik keperawatan bertujuan
untuk meningkatkan profesionalisme, pembinaan etik dan disiplin tenaga keperawatan guna
menjaga mutu pelayanan dan melindungi keselamatan pasien (patient safety).
B. DEFINISI

1. Etika

Adalah peraturan atau norma yang dapat digunakan sebagai acuan bagi perilaku
seseorang yang berkaitan dengan tindakan yang baik dan buruk yang merupakan
suatu kewajiban dan tanggung jawab moral. Etika atau Ethics berasal dari kata yunani,
yaitu etos yang artinya adat, kebisaan, perilaku atau karakter. Menurut kamus webster,
Etik adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang apa yang baik dan buruk secara moral.

Etik merupakan prinsip yang menyangkut benar dan salah, baik dan buruk dalam
hubungan dengan orang lain. Etik merupakan studi tentang perilaku, karakter dan motif
yang baik serta ditekankan pada penepatan apa yang baik dan berharga bagi semua orang

Secara umum, terminologi etik dan moral adalah sama. Etik memiliki terminologi
yang berbeda dengan moral bila istilah etik mengarahkan terminologinya untuk
penyelidikan filosofis atau kajian tentang masalah atau dilema tertentu. Moral
mendeskripsikan perilaku aktual, kebiasaan dan kepercayaan sekelompok orang atau
kelompok tertentu etik juga dapat digunakan untuk mendeskripsikan suatu pola atau
cara hidup, sehingga etik merefleksikan sifat, prinsip dan standar seseorang yang
mempengaruhi perilaku profesional. Cara hidup moral perawat telah dideskripsikan
sebagai etik perawatan. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa etik
merupakan istilah yang digunakan untuk merefleksikan bagaimana seharusnya
manusia berperilaku, apa yang seharusnya dilakukan seseorang terhadap orang lain.

2. Kode etik

Adalah pernyataan standar profesional yang digunakan sebagai pedoman perilaku dan
menjadi kerangka kerja untuk membuat keputusan. Aturan yang berlaku untuk seorang
perawat indonesia dalam melaksanakan tugas/fungsi perawat adalah kode etik nasional
indonesia, dimana seorang perawat selalu berpegang teguh terhadapat kode etik sehingga
kejadian pelanggaran etik dapat dihindarkan. Kaedah utama yang mejaga terjalinya
interkasi pemberi dan penerima jasa profesi yang wajar, jujur, adil dan terhormat.

3. Kode etik keperawatan Indonesia

Merupakan bagian dari etika kesehatan yang menerapkan nilai etika terhadap bidang
pemeliharaan atau pelayanan kesehatan masyarakat. Kode etik merupakan salah satu
ciri/persyaratan profesi, yang memberikan arti penting dalam penentuan, pemertahanan
dan peningkatan standar profesi. Kode etik menunjukan bahwa tanggung jawab dan
kepercayaan dari masyarakat telah diterima oleh profesi.
4. Nursing ethics/Etika Perawatan

Etika keperawaatan adalah suatu ungkapan tentang bagaimana perawat wajib bertingkah
laku. Etika keperawatan merujuk pada standar etik yang menunjukan dan menuntun
perawat dalam praktik sehari – hari seperti jujur terhadap klien/pasien, menghargai
klien/pasien atas hak – hak yang dirahasiakan dan beradvokasi atas nama klien/pasien
(Fry, 2004).

5. Advokasi

Arti advokasi menurut ANA (1985) adalah “melindungi klien atau masyarakat terhadap
pelayanan kesehatan dan keselamatan praktek tidak sah yang tidak kompeten dan
melanggar etika yang dilakukan oleh siapapun”. Advokasi merupakan dasar falsafah dan
ideal keperawatan yang melibatkan bantuan perawatan yang melibatkan bantuan
perawatan secara aktif kepada individu untuk secara bebas menentukan nasibnya sendiri.
Pada dasarnya peran perawat sebagai advokat pasien adalah memberi informasi dan
memberi bantuan kepada pasien atas keputusan apapun yang dibuat pasien . memberi
informasi berarti menyediakan penjelasan atau informasi sesuai yang dibutuhkan pasien.
Memberi informasi berarti menyediakan penjelasan atau informasi sesuai yang
dibutuhkan pasien. Memberi bantuan mengandung dua peran, yaitu peran aksi dan non
aksi.

6. Bioetik

Bioetik merupakan studi filosofi yang mempelajari tentang kontroversi dalam etik,
menyangkut masalah biologi dan pengobatan. Lebih lanjut, bioetik difokuskan pada
pertanyan etik yang muncul tentang hubungan antara ilmu kehidupan, bioteknologi,
pengobatan, politik, hukum, dan theology. Pada lingkup yang lebih sempit, bioetik
merupakan evaluasi etik pada moralitas treatment atau inovasi teknologi, dan waktu
pelaksanaan pengobatan pada manusia. Pada lingkup yang lebih luas, bioetik
mengevaluasi pada semua tindakan moral yang mungkin membantu atau bahkan
membahayakan kemampuan organisme terhadap perasaan takut dan nyeri, yang meliputi
semua tindakan yang berhubungan dengan pengobatan dan biologi. Isu dalam bioetik
antara lain : peningkatan mutu genetik, etika lingkungan, pemberian pelayanan kesehatan
Dapat disimpulkan bahwa bioetik lebih berfokus pada dilema yang menyangkut
perawatan kesehatan modern, aplikasi teori etik dan prinsip etik terhadap masalah-
masalah pelaksanaan kesehatan.

7. Clinical ethics/Etik klinik

Etik klinik bagian dari bioetik yang lebih memperhatikan pada masalah etik selama
pemberian pelayanan pada klien. Contoh clinical ethics : adanya persetujuan atau
penolakan, dan bagaimana seseorang sebaiknya merespon permintaan medis yang kurang
bermanfaat (sia-sia)
8. Utilitiran

Kebenaran atau kesalahan dari tindakan tergantung dari konsekwensi atau akibat
tindakan, Contoh : mempertahankan kehamilan yang beresiko tinggi dapat menyebabkan
hal yang tidak menyenangkan, nyeri atau penderitaan pada semua hal yang terlibat, tetapi
pada dasarnya hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayinya

9. Deontologi

Pendekatan deontologi berarti juga aturan atau prinsip, Prinsip-prinsip tersebut antara lain
autonomy, informed consent, alokasi sumber-sumber dan euthanasia Deontologi berasal
dari bahasa Yunani deon yang berarti tugas. Teori Ini berprinsip pada aksi atau tindakan.
Contoh penerapan deontologi adalah seorang perawat yang yakin bahwa pasien harus
diberitahu tentang apa yang sebenarnya terjadi, walaupun kenyataan tersebut sangat
menyakitkan. Contoh lain misalnya seorang perawat menolak membantu pelaksanaan
abortus dilakukan karena keyakinan agamanya yang melarang tindakan membunuh.
Penerapan teori ini perawat tidak menggunakan pertimbangan, misalnya seperti tindakan
abortus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa ibu, karena setiap tindakan yang
mengakhiri hidup (dalam hal ini calon bayi) merupakan tindakan yang secara moral
buruk. Prinsip etika keperawatan meliputi kemurahan hati (beneficence). Inti dari prinsip
kemurahan hati adalah tanggung jawab untuk melakukan kebaikan yang menguntungkan
pasien dan menghindari perbuatan yang merugikan atau membahayakan pasien

10. Etiket

Merupaka sesuatu yang telah dikenal, diketahui, diulangi serta menjadi suatu kebiasaan
didalam masyarakat, baik berupa kata-kata/suatu bentuk perbuatan yang nyata.

11. Moral

Adalah suatu kegiatan/prilaku yang mengarahkan manusia untuk memilih tindakan baik
dan buruk, dapat dikatakan etik merupakan kesadaran yang sistematis terhadap prilaku
yang dapat dipertanggung jawabkan (Degraf, 1988).
Perilaku yang diaharapkan masyarakat atau merupakan standar prilaku yang harus
diperhatikan seseorang menjadi anggota kelompok/masyarakat dimana ia berada atau
nilai yang menjadi pegangan bagi seseorang suatu kelompok dalam mengatur tingkah
lakunya.
12. Profesional

Seseorang yang memiliki kompetensi dalam suatu pekerjaan tertentu karakter,
spirit/metoda profesional, mencangkup pendidikan dan kegiatan berbagai kelompok yang
anggotanya berkeinginan menjadi profesional, suatu proses yang dinamis untuk
memenuhi/mengubah karakteristik kearah profesi.
13. Teleologi

Teleologi berasal dari bahasa Yunani telos yang berarti akhir. Pendekatan ini sering
disebut dengan ungkapan the end fustifies means atau makna dari suatu tindakan
ditentukan oleh hasil akhir yang terjadi. Teori ini menekankan pada pencapaian hasil
dengan kebaikan maksimal dan ketidakbaikan sekecil mungkin bagi manusia. Contoh
penerapan teori ini misalnya bayi-bayi yang lahir cacat lebih baik diizinkan meninggal
daripada nantinya menjadi beban di masyarakat.
BAB II
PRINSIP ETIK DAN DISIPLIN PROFESI
DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN

A. Prinsip – Prinsip Etik

Menurut Beauchamp & Childres (1994), terdapat beberapa prinsip etik yang meliputi :

1. Otonomi (Autonomy)

Otonomi berkaitan dengan hak seseorang untuk memilih bagi diri sendiri, apa yang
menurut pemikiran dan pertimbangannya merupakann hal yang baik. Menghormati
otonomi klien/pasien ditunjukan melalui perilaku perawat yang menghormati atau
menghargai klien/pasien dan keluarganya. Perawat harus menghargai hak – hak
klien/pasien seperti hak untuk terhindar dari bahaya dan mendapatkan penjelasan secara
benar. Penerapan “Informed-consent” secara tidak langsung menyatakan suatu trilogi hak
klien/pasien yaitu hak untuk dihargai, hak untuk dihargai, hak untuk menerima dan
menolak terapi. Penghargaan perawat terhadap klien/pasien termasuk menghormati hak
menolak terapi. Selain menghargai klien/pasien dan keluarganya, perawat juga harus
menghargai rekan – rekan kerjanya seperti dokter, ahli gizi dan lain – lain. Oleh karena
itu perawat seharusnya ikut terlibat dalam menyelesaikan masalah yang menyangkut
kesehatan dan kebutuhan klien/pasien , dengan demikian terdapat kesepakatan diantara
anggota tim tentang informasi yang akan disampaikan kepada klien/pasien dan
keluarganya secara realistis dan jujur. Karena perawat merupakan tenaga kesehatan yang
mempunyai kontak paling lama dengan klien/pasien, maka perawat dituntut untuk dapat
memberikan informasi yang tepat dan mudah dimengerti.

2. Berbuat baik (Beneficience)

Beneficience berarti melakukan tindakan untuk kebaikan klien/pasien merupakan dasar
dalam melakukan pelayanan kesehatan yang baik. Kebaikan, memerlukan pencegahan
dari kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain. Perawat,
dokter dan semua tenaga kesehatan lainnya bekerja untuk meningkatkan kesehatan
klien/pasien secara optimal. Perawat melakukan tindakan untuk kebaikan klien/pasien
ketika memberikan asuhan keperawatan dan memberikan dukungan emosional bila
klien/pasien cemas.

3. Keadilan (Justice)

Keadilan berkenaan dengan kewajiban untuk berlaku adil kepada semua orang. Perkataan
adil sendiri yang berarti tidak memihak atau tidak berat sebelah. Azas ini bertujuan untuk
melaksanakan keadilan dalam memberikan asuhan keperawatan, berarti setiap orang
harus mendapatkan perlakuan yang sesuai dengan menjungjung prinsip-prinsip moral,
legal dan kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam praktik profesional ketika perawat
bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktik dan keyakinan yang benar
untuk memperoleh kualitas pelayanan keperawatan

4. Tidak merugikan (Nonmaleficience)

Prinsip ini berkaitan dengan kewajiban perawat untuk tidak membahayakan dan tidak
menimbulkan kerugian atau cidera pada klien/pasien. Kerugian atau cidera dapat
diartikan adanya kerusakan fisik seperti nyeri, kecacatan, kematian, atau adanya
gangguan emosi antara lain adalah perasaan tidak berdaya, merasa terisolasi dan adanya
kekesalan. Kerugian dapat juga berkaitan dengan ketidak adilan, pelanggaran atau
berbuat kesalahan.

5. Kejujuran (Veracity)

Prinsip veracity berkaitan dengan kewajiban perawat untuk mengatakan suatu kebenaran,
tidak berbohong atau menipu orang lain. Nilai ini diperlukan oleh pemberi pelayanan
kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien dan untuk meyakinkan
bahwa klien sangat mengerti. Prinsip veracity berhubungan dengan kemampuan
seseorang untuk mengatakan kebenaran. Informasi harus ada agar menjadi akurat,
komprensensif, dan objektif untuk memfasilitasi pemahaman dan penerimaan materi yang
ada, dan mengatakan yang sebenarnya kepada klien tentang segala sesuatu yang
berhubungan dengan keadaan dirinya selama menjalani perawatan. Walaupun
demikian,terdapat beberapa argument mengatakan adanya batasan untuk kejujuran seperti
jika kebenaran akan kesalahan prognosis klien untuk pemulihan atau adanya hubungan
peternalistik bahwa “doctors knows best” sebab individu memiliki otonomi, mereka
memiliki hak untuk mendapatkan informasi penuh tentang kondisinya. Kebenaran
merupakan dasar dalam membangun hubungan saling percaya. Kejujuran adalah landasan
untuk “informed consent” yang baik.

6. Menepati janji (Fidelity)

Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan komitmenya terhadap
orang lain. Kewajiban perawat setia pada komitmennya dan menepati janji serta
menyimpan rahasia klien. Ketaatan, kesetiaan, adalah kewajiban seseorang untuk
mempertahankan komitmen yang dibuatnya. Kesetiaan, menggambarkan kepatuhan
perawat terhadap kode etik yang menyatakan bahwa tanggung jawab dasar dari perawat
dalam memberikan asuhan keperawatan antara lain dengan memberikan perhatian kepada
klien/pasien, meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan dan
meminimalkan penderitaan.

7. Kerahasiaan (Confidentiality)

Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus dijaga privasi
klien.segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan klien hanya boleh
dibaca dalam rangka pengobatan klien. Tidak ada seorangpun dapat memperoleh
informasi tersebut kecuali jika diijinkan oleh klien dengan bukti persetujuan. Perlu
dipahami bahwa menjelaskan informasi tentang klien/pasien dengan anggota kesehatan
lain yang ikut merawat klien/pasien dapat dilakukan “selama informasi tersebut relevan
dengan kasus yang ditangani”. Diskusi tentang klien/pasien diluar area pelayanan
menyampaikan pada teman atau keluarga tentang klien/pasien dengan tenaga kesehatan
lain harus dihindari

8. Akuntabilitas

Akuntabilitas mengandung arti dapat mempertanggung jawabkan suatu tindakan yang
dilakukan dan dapat menerima konsekuensi dari tindakan tersebut. Akuntabilitas
mengandung dua komponen utama, yaitu tanggung jawab dan tanggung jawab gugat. Ini
berarti bahwa tindakan yang dilakukan perawat dilihat dari praktek keperawatan, kode
etik dan udang-undang dibenarkan atau abash. Akuntabilitas merupakan standar yang
pasti bahwa tindakan seorang profesional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau
tanpa kecuali.

9. Loyalitas

Merupakan suatu konsep dengan berbagai segi, meliputi simpati, peduli, dan hubungan
timbal-balik terhadap pihak yang secara profesional berhubungan dengan perawat. Ini
berarti ada pertimbangan tentang nilai dan tujuan orang lain secara nilai dan tujuan
sendiri. Hubungan profesional dipertahankan dengan cara menyusun tujuan bersama
menepati janji, menentukan masalah dan prioritas, serta mengupayakan pencapaian
kepuasan bersama. Untuk mencapai kualitas asuhan keperawatan yang tinggi dan
hubungan dengan pihak yang harmonis, maka aspek loyalitas harus dipertahankan oleh
setiap perawat baik loyalitas kepada pasien, teman sejawat, rumah sakit maupun profesi.

B. DISIPLIN

Pengertian disiplin berawal dari bahasa latin Discare yang berarti belajar. Dari kata ini
timbul kata Disciplina yang berarti pengajaran atau pelatihan. Sekarang kata disiplin
mengalami perkembangan makna dalam beberapa pengertian. Pertama disiplin diartikan
sebagai kepatuhan terhadap peraturan atau tunduk pada pengawasan dan pengendalian.
Kedua disiplin sebagai latihan yang bertujuan mengembangkan diri agar dapat berprilaku
tertib.

Kedisiplinan perawat adalah sikap penuh kerelaan dalam mematuhi semua aturan dan
terhadap pelayanan kesehatan. Karena dengan kedisiplinan perawat akan berpengaruh
terhadap kepuasan pasien dan proses penyembuhan pasien.

1. Macam – macam kedisiplinan
a. Disiplin dalam menggunakan waktu
Maksudnya bisa menggunakan dan membagi waktu dengan baik. Karena waktu amat
berharga dan salah satu kata kunci kesuksesan adalah dengan bisa menggunakan
waktu dengan baik, dan melakukan tugasnya tepat waktu.
b. Disiplin diri pribadi
Disiplin mengandung beberapa unsur yaitu adanya sesuatu yang harus ditaati atau
ditinggalkan dan adanya proses sikap seseorang terhadap hal tersebut. Disiplin diri
merupakan kunci bagi kedisiplinan pada lingkungan yang lebih luas lagi. Contoh
disiplin diri pribadi yaitu tidak pernah meninggalkan ibadah kepada Tuhan Yang
Maha Kuasa.
c. Disiplin sosial
Pada hakekatnya disiplin sosial adalah disiplin dari dalam kaitanya dengan
masyarakat atau dalam hubungan dengan manusia. Contoh perilaku disiplin sosial
adalah melaksanakan siskamling, kerja bakti di lingkungan tempat tinggal.
d. Disiplin dalam mengikuti aturan yang telah ditetapkan
Taat dengan penuh kesadaran terhadap peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh
institusi tempat bekerja khususnya di rumah sakit

2. Prinsip – prinsip disiplin
a. Pemimpinan mempunyai prilaku positif
Untuk dapat menjalankan disiplin yang baik dan benar, seorang harus dapat menjadi
role model/panutan bagi bawahanya. Oleh karena itu seorang pimpinan harus dapat
mempertahankan perilaku yang positif sesuai dengan harapan staf.
b. Penelitian yang cermat
Dampak dari tindakan indisipliner (tidak patuh pada peraturan/melanggar disiplin
kerja) cukup serius, pimpinan harus memahami akibatnya. Data dikumpulkan secara
faktual, dapatkan informasi dari staf yang lain, tanyakan secara pribadi rangkaian
pelanggaran yang telah dilakukan, analisa, dan bila perlu minta pendapat dari
pimpinan lainnya.
c. Kesegaran
Pimpinan harus peka terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh bawahan sesegera
mungkin dan harus diatasi dengan cara yang bijaksana. Karena, bila dibiarkan
menjadi kronis, pelaksanaan disiplin yang akan dapat dianggap lemah, tidak jelas dan
akan mempengaruhi hubungan kerja dalam organisasi tersebut.
d. Lindungi Kerahasiaan (Privacy)
Tindakan indisipliner (tidak patuh pada peraturan/melanggar disiplin kerja) akan
mempengaruhi ego staf, oleh karena itu akan lebih baik apabila permasalahan
diduskusikan secara pribadi, pada ruangan tersendiri dengan suasana yang rileks dan
tenang. Kerahasiaan harus tetap dijaga karena mungkin dapat mempengaruhi masa
depanya.
e. Fokus pada masalah
Pimpinan harus dapat melakukan penekanan pada kesalahan yang dilakukan
bahawahan dan bukan pada pribadinya, kemukakan bahwa kesalahan yang dilakukan
tidak dapat dibenarkan.
f. Peraturan dijalankan secara konsisten
Peraturan dijalankan secara konsisten, tanpa pilih kasih, setiap pegawai yang bersalah
harus dibina sehingga mereka tidak merasa dihukum dan dapat menerima sanksi yang
dilakukan secara wajar.
g. Fleksibel
Tindakan disipliner (tidak patuh pada peraturan/melanggar disiplin kerja) ditetapkan
apabila seluruh informasi tentang pegawai telah dianalisa dan dipertimbangkan. Hal
yang menjadi pertimbangan antara lain adalah tingkat kesalahanya, prestasi pekerjaan
yang lalu, tingkat kemampuanya dan pengaruhnya terhadap organisasi.
h. Mengandung nasihat
Jelaskan secara bijaksana bahwa pelanggaran yang dilakukan tidak dapat diterima.
File pegawai yang berisi catatan khusus dapat digunakan sebagai acuan, sehingga
mereka dapat memahami kesalahanya.
i. Tindakan kontruktif (merusak)
Pimpinan harus yakin bahwa bawahan telah memahami perilakunya bertentangan
dengan tujuan organisasi san jelaskan kembali pentingnya peraturan untuk staf
maupun organisasi. Upayakan agar staf dapat merubah perilakunya sehingga tindakan
indisipliner (tidak patuh pada peraturan/melanggar disiplin kerja) tidak terulang lagi.
j. Follow Up (Evaluasi)
Pelanggaran dimensi disiplin adalah pelanggaran yang dilakukan terhadap standar
profesi keperawatan yang ditetapkan termasuk aturan pada institusi tempat kerja
tenaga kesehatan lain dalam memberikan asuhan keperawatan pada berbagai tatanan
pelayanan kesehatan yang dilandasi dengan substansi keilmuan khusus, pengambilan
keputusan dan keterampilan perawat berdasarkan aplikasi prinsip-prinsip ilmu
biologis, psikologi, sosial, kultural, dan spritual. Penilaian benar salah dilakukan oleh
Majelis disiplin. Sanksi yang dikenakan berupa kewenangan bekerja sampai
pemberhentian sebagai anggota profesi.

3. Dimensi Disiplin Keperawatan
Pelanggaran dimensi disiplin adalah pelanggaran yang dilakukan terhadap standar
profesi keperawatan yang ditetapkan termasuk aturan pada institusi tempat kerja, tenaga
kerja kesehatan lain dalam memberikan asuhan keperawatan pada berbagai tatanan
pelayanan kesehatan yang dilandasi dengan substansi keilmuan khusus, pengambilan
keputusan dan keterampilan perawat berdasarkan aplikasi prinsip-prinsip ilmu biologis,
psikologi, sosial, kultural dan spiritual. Penilaian benar salah dilakukan oleh Majelis
disiplin. Sanksi yang dikenakan berupa kewenangan bekerja sampai pemberitahuan
sebagai anggota profesi.
4. Penilaian kerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan kepada klien

Dalam menilai kualitas pelayanan keperawatan kepada klien diguanakan standar praktik
keperawatan yang merupakan pedoman bagi perawat dalam melaksanakan asuhana
keperawatan. Standar praktik keperawatan telah dijabarkan oleh PPNI (2000) yang
mengacu dalam tahapan proses keperawatan, yang meliputi 1) Pengkajian, 2) Diagnosa
keperawatan, 3) Perancanaan, 4) Implementasi, 5) Evaluasi, 6) Dokumentasi.

5. Pengaruh tingkat kedisplinan perawat terhadap pasien di rumah sakit

Perawat yang disiplin adalah perawat yang mentaati peraturan rumah sakit dan peraturan
profesi keperawatan. Perawat yang selalu ada teppat waktu untuk pasien sangat
memberikan kepuasan terhadap pasien akan pelayanan ruamah sakit. Dimana perawat
selalu datang tepat waktu saat psien memerlukan pertolongan perawat, melakukan
kunjungan ke pasien secra rutin, memberikan pengobatan sesuai aturan medis.
Kedisiplinan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien secara
psikologis sangat membantu dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien
secara psikologis sangat membantu dalam memberikan kenyamananan dan keamanan
kepada pasien sehingga pasien sangat terbantu dalam proses penyembuhan sakit yang
dideritanya.
BAB III
RUANG LINGKUP

Kode Etik Profesi merupakan pernyataan yang komprehensif dan bentuk tugas dan
pelayanan dari profesi yang memberi tuntunan bagi anggota (perawat dan bidan) dalam
melaksanakan praktik dibidang profesinya baik yang berhubungan dengan pasien, keluarga,
masyarakat dan teman sejawat, profesi dan diri sendiri. Dalam upaya mendorong profesi
keperawatan dan kebidanan agar dapat diterima dan dihargai oleh pasien, masyarakat atau
profesi lain, maka meraka harus memanfaatkan nilai-nilai keperawatan atau kebidanan dalam
menerapkan etika dan moral disertai komitmen yang kuat dalam mengemban peran
profesionalnya

Kode Etik

1. Perawatan dan klien
a. Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan menghargai harkat dan
martabat manusia, keunikan klien dan tidak terpengaruhi oleh pertimbangan
kebangsaan, kesukuan, warna kulit, jenis kelamin, aliran politik dan agama yang
dianut serta kedudukan sosial
b. Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan senantiasa memelihara
suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya istiadat dan
kelangsungan hidup beragama dari klien/psien.
c. Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka yang membutuhkan
asuhan keperawatan
d. Perawat wajib merasakan segala sesuatu yang diketahui sehubungan dengan
tugas yang dipercayakan kepdanya kecuali jika diperlukan oleh yang berwenang
sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

2. Perawat dan Praktik
a. Perawat memelihara dan meningkatkan kompetensi dibidang keperawatan
melalui belajar terus menerus.
b. Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai
kejujuran profesional dalam menerapkan pengetahuan serta keterampilan
keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien/pasien
c. Perawat dalam membuat keputusan didasarkan pada informasi yang adekuat dan
mempertimbangkan kemampuan serta kualifikasi seseorang bila melakukan
konsultasi, menerima delegasi dan memberikan delegasi kepada orang lain
d. Perawat senantisa menjungjung tinggi nama baik profesi keperawatan dengan
selalu menunjukkan perilaku profesional.
3. Perawat dan masyarakat
Perawat mengemban tanggung jawab bersama masyarakat untuk memprakarsai
dan mendukung berbagai kegiatan dalam memenuhi kebutuhan kesehatan
masyarakat.

4. Perawatan dan teman sejawat
a. Perawat senantisa memelihara hubungan baik dengan sesama perawat maupun
dengan tenaga kesehatan lainnya, dan dalam memelihara keserasian suasana
lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara
menyeluruh
b. Perawat bertindak melindungi klien dari tenaga kesehatan yang memberikan
pelayanan kesehatan secara tidak kompeten, tidak etis dan tidak legal.

5. Perawat dan profesi
a. Perawat mempunyai peran utama dalam menentukan standar pendidikan dan
pelayanan keperawatan serta menerapkan dalam kegiatan pelayanan dan
pendidikan keperawatan
b. Perawat berperan aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan profesi
keperawatan
c. Perawat berpartisipasi aktif dalam upaya profesi untuk membangun dan
memelihara kondisi kerja yang kondusif demi terwujudnya asuhan keperawatan
yang bermutu tinggi.
BAB IV
TATA LAKSANA

Peningkatan pengetahuan dan teknologi yang sedemikian cepat dalam segala bidang serta
meningkatnya pengetahuan masyarakat berpengaruh pula terhadap meningkatnya tuntutan
masyarakat akan mutu pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan dan kebidanan
dalam mengembangkan profesionallisme dalam memberikan pelayanan yang berkualitas.
Kualitas pelayanan yang tinggi memerlukan landasan komitmen yang kuat dengan basis pada
etik dan moral yang tinggi.

Setiap tenaga keperawatan harus memiliki disiplin profesi yang tinggi dalam memberikan
asuhan keperawatan dengan menerapkan standar pelayanan, prosedur operasional serta
menerapkan etika profesi dalam praktiknya. Profesionalisme tenaga keperawatan dapat
ditingkatkan dengan melakukan pembinaan dan penegakan disiplin profesi serta penguatan nilai-
nilai etik dalam kehidupan profesi.

Komite keperawatan memiliki 3 subkomite, salah satunya adalah subkomite etik dan
disiplin profesi. Subkomite etik dan disiplin profesi mempunyai peran yang sangat penting dalam
praktik keperawatan profesional agar asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien/pasien
aman dan nyaman.

I. Tugas Subkomite Etik dan Disiplin Profesi
1. Melakukan sosialisasi kode etik profesi tenaga keperawatan.
2. Melakukan pembinaan etik dan disiplin profesi tenaga keperawatan.
3. Melakukan penegakan disiplin profesi keperawatan.
4. Merekomendasikan penyelesaian masalah – masalah pelanggaran disiplin dan
masalah – masalah etik dalam kehidupan profesi dan asuhan keperawatan.
5. Merekomendasikan pencabutan kewenangan klinis dan atau surat penugasan
klinis (clinical appoitment).
6. Memberikan pertimbangan dalam mengambil keputusan etis dalam asuhan
keperawatan.

II. Kewenangan
Subkkomite etik dan disiplin profesi mempunyai kewenangan memberikan usul rekomendasi
pencabutan kewenangan klini (Clinical Privilege)tertentu, memberika rekomendasi perubahan
/ modifikasi rincian kewenangan klinis (Delineation of Clinical Privilege), serta memberikan
rekomendasi pemberian tindakan disiplin.

III. Mekanisme Kerja
1. Mengidentifikasi sumber laporan kejadian pelanggaran etik dan disiplin di
dalam rumah sakit.
2. Melakukan telaah atas laporan kejadian pelanggaran etik disiplin profesi.
a. Membuat keputusan, pengambilan keputusan pelanggaran etik profesi dilakukan dengan
melibatkan panitia adhoc.
c. Melakukan tindak lanjut keputusan berupa :
1. Pelanggaran etik direkomendasikan kepada organisasi profesi keperawatan di
rumah sakit melalui ketua komite keperawatan.
2. Pelanggaran disiplin profesi diteruskan kepada direktur medik dan keperawatan /
direktur keperawatan melalui komite keperawatan.
3. Rekomendasi pencabutan kewenangan klinis diusulkan kepada ketua komite
keperawatan untuk diteruskan kepada direktur rumah sakit.
d. Melakukan pembinaan etik dan disiplin profesi tenaga keperawatan meliputi :
1. Pembinaan ini dilakukan secara terus menerus melekat dalam pelaksanaan
praktik keperawatan sehari – hari.
2. Menyusun program pembinaan, mencakup jadwal, materi / topik dan metode
serta evaluasi.
3. Metode pembinaan dapat berupa diskusi, ceramah, lokakarya, “coaching”,
symposium, bedside teaching, diskusi refleksi kasus dan lain-lain.
e. Menyusun laporan kegiatan subkomite etik untuk disampaikan kepada ketua komite
keperawatan.

IV. Macam - macam pelanggaran etik
Berikut ini akan dijelaskan jenis-jenis pelanggaran berdasarkan kode etik keperawatan.
A. Pelanggaran Etik Ringan
1. Tanggung Jawab Perawat Terhadap Pasien
a. Membiarkan pasien dalam keadaan tidak rapi.
b. Memberi informasi yang tidak optimal.
c. Tidak mencuci tangan setiap kali akan dan selesai berkontak dengan
pasien atau melakukan tindakan.
d. Kurang menunjukan sikap empati.
e. Tidak memberi informasi pasien saat akan melakukan tindakan keperawatan.
f. Melakukan tindakan / perilaku yang dapat mengganggu kenyamanan atau
ketenangan kerja.
2. Tanggung Jawab Perawat Terhadap Tugas
a. Tidak berusaha memahami berbagai prosedur dan kebijakan rumah sakit
yang terkait dengan tugas sebagai perawat / bidan.
b. Tidak menggunakan kelengkapan seragam dinas dan tidak sesuai
ketentuan.
3. Tanggung Jawab Perawat Terhadap Sesama Perawat dan Profesi Lain
a. Berkomunikasi dengan kata-kata kassar sesama profesi atau profesi lain.
b. Kurang menghargai privacy, hasil kerja, martabat perawat lain atau profesi
lain.
c. Tidak mengikuti acara Rumah Sakit (sosialisasi terkait kebijakan,
klinik keperawatan, diklat dll).
B. Pelanggaran Etik Sidang
1. Tanggung Jawab Perawat Terhadap Pasien
a. Tidak memperhatikan kebersihan diri pasien, memandikan, menggosok gigi /
oral hygiene, vulva hygien.
b. Memberi informasi yang tidak bertanggung jawab membuat kecemasan pada
pasien dan keluarga.
c. Melakukan tindakan keperawatan tidak sesuai dengan protap yang dapat
merugikan pasien tetapi tidak membahayakan jiwa
d. Tidak membantu memenuhi kebutuhan eliminasi pada pasien yang butuh
bantuan.
e. Tidak melakukan prosedur teknik aseptik / antiseptik yang mengakibatkan
terjadi infeksi.
f. Tidak melakukan tindakan pencegahan dikubitus (mengubah posisi,
memberi pelembab, massage, mengganti alat tenun yang basah / kotor).
g. Bersikap judes dan tidak ramah dalam melayani pasien / keluarga (laporan
tertulis / lisan / kotak saran).
h. Tidak menjaga kerahasiaan pasien / keluarga pada profesi / orang yang berhak
mengetahui.

2. Tanggung Jawab Perawat Terhadap Tugas
a. Tidak melakukan tindakan pendokumentasian dalam format Asuhan
Keperawatan.
b. Tidak melakukan Tulis, Baca, dan Konfirmasi Tul Ba Kon (TBAK).
c. Memberikan obat tidak menggunakan prinsip 6 benar.
d. Memberikan penjelasan tidak sesuai dengan wewenang.
e. Melakukan Asuhan Keperawatan/Kebidanan tidak sesuai SPO.

3. Tanggung Jawab Perawat Terhadap Sesama Perawat dan Profesi Lain.
a. Tidak mau bekerjasama dalam tugas dengan sesama perawat atau profesi lain.
b. Tidak mau membantu perawat lain dalam menjalankan tugas saat dibutuhkan.
c. Melemparkan tanggung jawab kepada perawat lain.
d. Membicarakan kekurangan / keburukan perawat lain di depan / kepada pasien
/ keluarga
e. Berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata kasar tentang rekan kerja
maupun atasan melalui sosial media yang berhubungan dengan kedinasan.

C. Pelanggaran Etik Berat
1. Tanggung Jawab Perawat Terhadap Pasien
a. Tidak memenuhi kebutuhan nutrisi, cairan elektrolit.
b. Tidak memenuhi kebutuhan oksigenisasi, kebersihan jalan nafas.
c. Tidak memperhatikan / mempertahankan sirkulasi kardiovaskuler.
d. Tidak bertindak pada saat pasien dalam keadaan sekarat / henti jantung / pain
(kecuali keinginan keluarga).
e. Tidak memperhatikan keamanan pasien (pasien jatuh, tergelincir, keracunan,
salah obat, salah transfusi, dll).
f. Melakukan tindakan Keperawatan yang tidak sesuai prosedur tetap yang dapat
menyebabkan kematian / kecacatan.
g. Memberi informasi yang tidak benar / tidak dapat dipertanggung jawabkan
h. Meminta imbalan kepada pasien / keluarga.
i. Komunikasi yang tidak baik dan dimuat di media massa.

2. Tanggung Jawab Perawat Terhadap Tugas
a. Berulang kali (lebih 3 kali) melakukan tugas yang tidak sesuai dengan
prosedur tetap dan kebijakan rumah sakit yang dapat merugikan pasien secara
fisik / mental.
b. Tidak memegang teguh rahasia jabatan.
c. Pelanggaran/kesalahan yang dapat menimbulkan akibat yang fatal terhadap
pasien (salah obat, membuat resep palsu, salah memberikan transfusi darah) dan
terhadap RS.

3. Tanggung Jawab Perawat Terhadap Profesi Keperawatan
a. Mengkomersilkan / memperjual belikan harta rumah sakit untuk kepentingan
pribadi atau profesi Keperawatan.
b. Menjual nama organisasi profesi Keperawatan untuk kepentingan pribadi,
mencari dana atas nama profesi lain untuk kepentingan pribadi, promosi produk
tertentu dikaitkan dengan profesi untuk kepentingan pribadi.
c. Menggunakan obat-obat terlarang / alkohol saat bertugas.
d. Meninggalkan / tidak dinas ketika dinas pagi, sore, malam tanpa izin.
e. Meninggalkan / tidak dinas selama 7 hari berturut-turut dalam satu bulan tanpa
izin.

V. Pelaksanaan Pembinaan Etika Keperawatan
Pelaksanaan pembinaan etika Keperawatan yang dilakukan oleh komite keperawatan melalui
subkomite etik dan disiplin profesi meliputi :
1. Pembinaan Etika
Pembinaan etika dapat dilakukan terhadap individu dan kelompok sesuai dengan
dilema etik yang ditemukan.
2. Mekanisme dan waktu pembinaan etika
Pembinan dapat dilakukan secara periodik terstruktur dan tidak terstruktur (insidentil
atau sewaktu – waktu).
a. Terstruktur
1) Pembinaan etika melalui rapat koordinasi oleh Ketua Keperawatan
dengan Subkomite Etik dan Disiplin Profesi dilakukan minimal satu kali
setahun.
2) Bagi setiap perawat yang akan memasuki dunia kerja ditatanan
pelayanan kesehatan dan yang akan diregistrasi, diberikan pembekalan tentang
etika keperawatan dalam bentuk seminar atau sosialisasi lainnya.
3) Setiap mahasiswa keperawatan yang akan praktik lapangan harus
dibekali dengan pemahaman kode etik keperawatan oleh Subkomite Etik
dan Disiplin Profesi

b. Tidak terstruktur
Sewaktu – waktu baik secara individu maupun kelompok, perawat akan
mendapatkan pembinaan sesuai dengan dilema etik yang ada.

Penanganan masalah etika Keperawatan merupakan penanganan masalah yang dilakukan
untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan pelanggaran masalah
Kode Etik Keperawatan dan Kode Etik Kebidanan. Yang bertanggung jawab dalam
masalah etik adalah :
1. Direktur RS Ummi
2. Kepala Bidang Pelayanan Keperawatan/ Manager Keperawatan
3. Kepala Instalasi.
4. Kepala Ruangan.
5. Ketua Komite Keperawatan melalui Sub Komite Etik Komite Keperawatan.

3. Tahapan / penyelesaian masalah etika meliputi:
a. Tahapan pembuatan keputusan etik menurut Kozier, Erb, Berman &
Snyder ( 2004).
1. Mengembangkan data dasar dengan melakukan klarifikasi terhadap
kejadian.
2. Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut.
3. Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan
dan mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi dari tindakan
tersebut.
4. Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut dan siapa
pengambil keputusan yang paling tepat.
5. Mengidentifikasi kewajiban perawat.
6. Membuat keputusan.

b. Penyelesaian masalah secara berjenjang yaitu : Kepala Ruangan, Kepala Bidang
Pelayanan Keperawatan/Manager Keperarawatan, Direktur Rumah Sakit dengan
melibatkan sub komite etik komite keperawatan, dan organisasi profesi (PPNI
dan IBI).
1) Pelanggaran Etik Ringan
a) Pelanggaran ini ditangani / diselesaikan oleh kepala ruangan.
b) Perawat yang melakukan pelanggaran diberi teguran lisan.
c) Sampai 3 kali melakukan pelanggaran yang bersangkutan untuk
membuat pernyataan tertulis dan kepala Ruangan membuat teguran
tertulis.
d) Kepala ruangan membuat laporan / menyerahkan kronologis kepala
bidang pelayanan keperawatan dan harus diketahui oleh sub komite
etik komite keperawatan.

2) Pelanggaran Etik Sedang
a) Kepala ruangan membuat laporan / menyerahkan kronologis ke kepala
Instalasi dilanjutkan ke Kepala bidang pelayanan keperawatan/Manager
Keperawatan.
b) Pelanggaran ini ditangani oleh kepala bidang pelayanan keperawatan
dan harus diketahui oleh sub komite etik komite keperawatan.
c) Kepala bidang Pelayanan keperawatan memanggil perawat yang
melakukan pelanggaran dan wajib / harus membuat surat pernyataan,
serta memberikan sanksi tertulis kepada perawat yang membuat
pelanggaran.
d) Pelanggar akan dialihkan tanggung jawabnya.

3) Pelanggaran Etik Berat
a) Kepala Ruangan membuat laporan / menyerahkan kronologis ke kepala
Instalasi kemudian Kepala Instalasi menyerahkan kepada Kepala bidang
pelayanan keperawatan diketahui oleh Sub Komite Etik.
b) Bidang Keperawatan, Komite Keperawatan, Instalasi terkait dan Team
Adhoc melakukan sidang untuk mengidentifikasi pelanggaran.
c) Kepala bidang pelayanan keperawatan menyerahkan laporan yang
sebelumnya sudah diketahui oleh sub komite etik ke Direktur.
d) Kepala bidang pelayanan keperawtan, Sub komite etik komite
keperawatan, Direktur dan Tim Adhoc bersidang untuk menentukan
jenis pelanggaran.
e) Bila pelanggaran bersifat Perdata maka proses dilanjutkan ke bagian
Kepegawaian.
f) Bila pelanggaran bersifat Pidana maka di lanjutkan ke Komite Etik
dan Hukum RS Ummi.
4) Sanksi – sanksi pelanggaran
a. Sanksi ringan dapat berupa :
1) Teguran secara lisan.
2) Teguran secara tertulis dengan mengisi buku pelanggaran di
ruangan yang bersangkutan, sesua format terlampir
(Lampiran C).
3) Membuat pernyataan secara tertulis.
4) Pengurangan IKI

b. Sanksi sedang dapat berupa :
1) Pembinaan oleh atasan yang terkait.
2) Mengisi buku pelanggaran di Insalasi Perawatan, sesuai format
terlampir (Lampiran B).
3) Pemindahan tugas di tempat lain.
4) Penurunan IKI.

C. Sanksi berat dapat berupa :
1) Penundaan kenaikan gaji berkala, paling lama satu periode.
2) Penundaan kenaikan pangkat, paling lama satu periode.
3) Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri.
4) Pemberhentian dengan hormat atas permintaan sendiri.
5) Pemberhentian tidak dengan hormat.
BAB V
DOKUMENTASI

PENDOKUMENTASIAN:

Mekanisme penanganan pelanggaran etik keperawatan/kebidanan :

1. Bila seseorang melakukan pelanggaran, Kepala Ruangan atau Kepala Poli menegur
langsung secara lisan
2. Sampai tiga kali masih melakukan pelanggaran, yang bersangkutan diminta untuk
membuat pernyataan tertulis dan Kepala Ruangan membuat teguran tertulis (Lampiran
B)
3. Bila masih melakukan pelanggaran juga, maka Kepala Ruangan atau Kepala poli
membuat laporan tertulis kepada Kepala Instansi dari yang bersangkutan. Kepala
Instalasi mengadakan pembinaan bersama-sama Kepala Ruangan atau Kepala Poli dan
tenaga yang bersangkutan membuat pernyataan (Lampiran C).
4. Bila membuat pelanggaran lagi, Kepala Ruangan dan Kepala Instalasi melaporkan
kepada Kepala Bidang Perawatan tembusan Komite keperawatan untuk diproses lebih
lanjut (Lampiran A.)
5. Terakhir bila tenaga tersebut tidak dapat dibina di Bidang Perawatan, maka dikembalikan
ke Sub Bagian Keperawatan
6. Untuk kesalahan fatal, Kepala Ruangan atau Kepala Poli langsung melaporkan secara
tertulis kepada Kepala Instalasi Perawatan dan Kepala Bidang Perawatan untuk diambil
tindakan dan diteruskan ke Komite Keperawatan melalui Direktur Medik & Keperawatan
RS Ummi dan organisasi profesi
Lampiran A

FORMULIR PELAPORAN PELANGGARAN ETIK DAN DISIPLIN
DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN

1 Identitas Perawat
a. Nama : ……………………………………………

b. Tempat, tanggal lahir : ……………………………………………

c. NIP : ……………………………………………

d. NIRA : ……………………………………………

e. Jenis kelamin : Laki-laki/Perempuan

f. Pendidikan terakhir : D3 D3 S1 Ners Ners Spesialis

g. Pendidikan Non Formal : ……………………………………………

……………………………………………

……………………………………………

h. Alamat : ……………………………………………

……………………………………………

i. Telepon/HP : ……………………………………………

2 Masa kerja di rumah sakit ………………….., tahun masuk RS …………………..

3 Masa kerja di ruangan ……………………...., tahun masuk unit ………………….

4 Jenjang karir terakhir ………………………..., masa kerja kompetensi …………..

5 Surat penugasan klinis : A Ada Tidak

6 Tanggal dan waktu kejadian

Tanggal : …………………….... Waktu : ……………………....,

7 Tempat kejadian masalah

Unit kerja : …………………….... Ruangan : ……………………..

8 Jenis masalah

Dilema etik perawat Pelanggaran Standar Profesi

Perawat dan klien Standar manajemen

Perawat dan praktik Standar pelayanan

Perawat dan Masyarakat Standar asuhan

Perawat dan teman sejawat Standar Operasional Prosedur
LAPORAN Lampiran B
PERINGATAN TERTULIS

Peringatan tertulis ini diberikan kepada:

Nama : ……………………………………………………….

Tempat bekerja : ……………………………………………………….

Jenis pelanggaran : ……………………………………………………….

Nomor pelanggaran : ……………………………………………………….

Hari terjadinya pelanggaran : ……………………………………………………….

……………………………………………………….

……………………………………………………….

Tanggal terjadinya pelanggaran : ……………………………………………………….

Jam terjadinya pelanggaran : ……………………………………………………….

Pelanggaran tersebut disaksikan oleh : ……………………………………………………….

……………………………………………………….

……………………………………………………….

Bahwa pada waktu tersebut saudara/i telah melakukan pelanggaran yang dimaksud. Sebagai
peringatan bahwa pada waktu yang akan datang saudara/i dapat memperbaiki tingkah
laku/memelihara suasana kerja/hubungan kerja yang lebih baik. Bilamana dikemudian hari
saudara/i berbuat kesalahan/pelanggaran yang serupa atau lainnya,maka saya selaku kepala
ruangan akan mengambil tindakan yang lebih tegas sesuai peraturan yang berlaku.

Bogor, ……………
Yang diberi peringatan Yang memberikan peringatan

(………………………..) (………………………………...)

Tembusan:
1. Bidang Pelayanan Keperawatan
2. Komite Keperawatan
3. Yang Bersangkutan
LAPORAN Lampiran C
PEMBINAAN/KONSELING

Telah dilakukan pembinaan / konseling kepada :

Nama : ……………………………………………………….

Tempat bekerja : ……………………………………………………….

Hari : ……………………………………………………….

Tanggal : ……………………………………………………….

Jenis : ……………………………………………………….

Jenis Pelanggaran : ……………………………………………………….

Nomor pelanggaran : ……………………………………………………….

Pengarahan yang diberikan : ……………………………………………………….

Tanggapan yang dikonseling : ……………………………………………………….

Bogor, ……………………..
Yang diberi konesling Kepala Ruangan

(………………………..) (………………………………...)

Kepala Instalasi

(………………………..)

Tembusan:
1. Bidang Pelayanan Keperawatan
2. Komite Keperawatan
3. Yang Bersangkutan
4. Arsip
FORMAT BUKU CATATAN PELANGGARAN ETIK Lampiran D

TANGGAL TANDA
JENIS TINDAK
NO NAMA JABATAN NIK TANGAN SANGSI
PELANGGARAN KEJADIAN PERINGATAN LANJUT
YBS
ALUR PEMBINAAN PELANGGARAN ETIK TENAGA KEPERAWATAN
RS UMMI BOGOR

Pelanggaran
Etik Ringan
Kepala ruangan
memberikan teguran
secara lisan
(terdokumentasi) setelah
3 kali

Kepala ruangan akan membuat
Yang bersangkutan laporan kronologis yang ditujukan
membuat pernyataan kepada bidang keperawatan dan
secara tertulis diketahui komite etik
keperawatan

PENGURANGAN IKI
Pelanggaran Kepala Ruangan membuat
Etik sedang Laporan Kronolgis

Kepala Instalasi
dan dilanjutkan ke
Kepala bidang
Keperawatan

kepala bidang pelayanan
keperawatan menangani
pelanggaran dan harus
diketahui oleh sub komite
etik komite keperawatan

Pemindahan tugas di tempat lain
Penurunan IKI
Kepala ruangan
membuat laporan
Pelanggaran Kronologis dan
Etik Berat menyerahkan

Kepala Bidang
Ka Instalasi
Keperawatan

Ka Instalasi, Kabid
Keperawatan dan Komite
Keperawatan melakukan
sidang untuk mengidentifikasi
pelanggaran
Menyerahkan laporan
kronologis ke Direktur
utama dan diketahui
Sub Komite Etik
Keperawatan

Kepala bidang pelayanan keperawatan,
Kepala Ruangan, Sub komite etik
komite keperawatan, Direktur dan team
Adhock bersidang untuk menentukan
jenis pelanggaran

Perdata Pidana

Bag. Kepegawaian Komite Etik dan Hukum

PENUNDAAN KENAIKAN GAJI
BERKALA, PALING LAMA SATU
PERIODE.
Penundaan kenaikan pangkat,
paling lama satu periode.