You are on page 1of 9

Jurnal AGRIJATI 3(1), Desember 2006

ANALISIS USAHATANI BIJI MELINJO DAN EMPING MELINJO (Gnetum gnemon L)

Andung Rokhmat Hudaya


Staf Fakultas Pertanian Unswagati Cirebon

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan pendapatan dan R/C usahatani biji
melinjo dan emping melinjo. Penelitian dilakukan terhadap 66 orang responden sebagai sampel
penelitian, terdiri dari 40 orang responden usahatani biji melinjo dan 26 orang usahatani emping
melinjo. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji – t beda dua rata-rata tidak berpasangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan usahatani biji melinjo sebesar Rp.
1.185.436,- dan rata-rata pendapatan emping melinjo Rp. 3.294.744,-. Melalui uji signifikan (uji – t)
diperoleh thitung (2,038) > ttabel0,05 (1,619), ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara
pendapatan usahatani biji melinjo dengan emping melinjo.
Nilai R/C untuk usahatani biji melinjo sebesar 2,67 dan R/C emping melinjo sebesar 2,81.
Secara statistika melalui uji – t diperoleh thitung (2,197) > ttabel 0,05 (1,619). Ini menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan yang nyata antara R/C usahatani biji melinjo dengan emping melinjo.
Kata Kunci : Usahatani, melinjo dan emping melinjo
__________________________________________________________________________________

PENDAHULUAN hasil olahannya berupa emping melinjo.


Melinjo di Jawa Barat dikenal dengan Dilihat dari minat konsumen dan harganya,
sebutan tangkil (Gnetum gnemon. L.) melinjo dan produk olahannya menjanjikan
merupakan tanaman yang banyak manfaatnya, keuntungan. Saat ini di Kabupaten Cirebon
hampir seluruh bagian tanaman mulai dari harga biji melinjo tua yang masih berkulit
daun, bunga, buah sampai batangnya dapat (klatak) sekitar Rp. 3.500/Kg serta setelah
bermanfaat untuk keperluan rumah tangga dan diolah menjadi emping mentah harga per
industri. kilogramnya sekitar Rp. 16.000,- dan pada hari
Daun, bunga, buah muda dan kulit buah tertentu seperti menjelang lebaran meningkat
yang tua dapat dijadikan sayuran. Biji tua menjadi Rp. 20.000,-/Kg. Permintaan akan
dapat dijadikan emping yang mempunyai nilai emping bukan saja dari pasar Cirebon saja,
ekonomi yang tinggi, kulit pohon dapat melainkan dari pasar-pasar luar Kabupaten
dijadikan tali dan kayunya untuk bahan Cirebon seperti Pekalongan, Bandung, dan
pembuat kertas. Tanaman melinjo juga Jakarta. (Cabang Dinas Pertanian Kecamatan
mengandung gizi yang cukup tinggi, selain Cirebon Utara, 2005).
karbohidrat juga mengandung lemak, protein, Kenyataannya peluang ini tidak dapat
mineral dan vitamin-vitamin. sepenuhnya memberikan peningkatan penda-
Luas tanaman melinjo di Kabupaten patan bagi petani melinjo, penanganan
Cirebon tahun 2005 yaitu 1783,5 Ha dengan produksi masih terbatas pada usaha penjualan
rata-rata hasil 1360 Kg/Ha, 139 Ha, di biji melinjo (klatak) dan emping. Pada
antaranya berada di Kecamatan Cirebon Utara umumnya petani melinjo di Desa Astana
yang tersebar di 10 desa. Seluas 98,5 Ha menjual hasil panen melinjo dalam bentuk
berada di Desa Astana rata-rata hasil 1.250 klatak dengan alasan ingin cepat memperoleh
kg/ha dan sisanya 40,5 Ha tersebar di 11 desa uang untuk membiayai kebutuhan hidupnya
lainnya. Dengan potensi alam yang dimilikinya bahkan ada yang mengijonkan hasilnya
tersebut, masyarakat Desa Astana menjadikan sebelum panen. Sedangkan untuk mengolah
melinjo sebagai usahataninya. (Cabang Dinas emping diperlukan biaya tambahan dan
Pertanian Kecamatan Cirebon Utara, 2005). keterampilan khusus. Kedua usahatani ini
Keberadaan komoditas melinjo di dilakukan secara naluri tanpa mengetahui
Kabupaten Cirebon, telah dikenal di luar berapa sebenarnya pendapatan yang diperoleh
Kabupaten Cirebon khususnya biji melinjo dan atau usaha mana yang lebih menguntungkan.

51
Jurnal AGRIJATI 3(1), Desember 2006

Keadaan seperti ini sering dimanfaat- Buah atau biji melinjo varietas ini jauh
kan oleh para pedagang tengkulak untuk lebih besar daripada varietas kerikil,
memperoleh keuntungan, mereka akan bentuknya panjang jumlah buah tiap pohon
memborong biji klatak secara murah pada saat bisa lebat.
panen raya kemudian menjualnya di luar 3. Varietas Gentong
musin panen, tentunya dengan harga yang Buah atau biji melinjo varietas ini
berlipat ganda. Biasanya pedagang pengumpul ukurannya paling besar, dengan bentuk
menentukan harga yang sesuai dengan agak bulat, dengan jumlah buah tiap pohon
kemauannya, sebagai akibatnya petani tidak kurang lebat.
merasakan jerih payah usahataninya secara Di antara 3 varietas tersebut, yang
maksimal. paling disukai oleh para tengkulak atau para
Berdasarkan uraian tersebut di atas, produsen emping melinjo adalah varietas
maka penulis telah mengadakan penelitian Gentong, karena lebih mudah memasarkannya
tentang analisis usahatani biji melinjo dan dan harganya sedikit lebih tinggi, sedangkan
emping melinjo, di Desa Astana, Kecamatan oleh para produsen emping melinjo, varietas
Cirebon Utara, Kabupaten Cirebon. Gentong dirasakan lebih efisien secara
ekonomis karena memudahkan dalam proses
TINJAUAN PUSTAKA pembuatan emping.
Usahatani Melinjo Hasil biji melinjo per pohon untuk
Melinjo (Gnetum gnemon. L.) termasuk tanaman melinjo yang sudah dewasa bervariasi
tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) antara 15.000 – 20.000 biji (20 kg). Untuk
dengan tanda-tanda bijinya tidak terbungkus tanaman melinjo yang sudah berumur 15 tahun
daging, tetapi hanya terbungkus kulit luar atau lebih hasil buahnya mencapai 50 kg klatak
(Hatta Sunanto, 2001). Tanaman melinjo (buah yang telah dikupas kulitnya) sekali
dapat tumbuh baik di daerah-daerah yang panen, ini berarti hasil yang diperoleh klatak
hawanya panas, tetapi dapat juga tumbuh di 100 kg/pohon/tahun.
daerah pegunungan. Tanaman melinjo Dengan melihat potensi hasil melinjo
menghendaki curah hujan yang banyak yaitu dan pangsa pasar yang mulai digemari,
3.000 – 5.000 mm/tahun merata sepanjang usahatani melinjo dapat memberikan
tahun, di daerah dengan iklim seperti ini kesempatan kepada petani melinjo untuk
hasilnya lebih baik. Tanaman melinjo yang bersaing. Usahatani melinjo ini dapat dalam
dapat menghasilkan banyak buah melinjo bentuk penjualan biji melinjo (klatak), petani
adalah tanaman melinjo betina yang telah menjual melinjo dalam bentuk biji melinjo
mengalami proses penyerbukan kepala putik yang sudah dibuang kulitnya. Dalam usahatani
bunga betina oleh tepung sari bunga jantan biji melinjo (klatak) prinsip dasar yang harus
yang berasal dari tanaman jantan (Hatta dilakukan adalah melakukan penyortiran biji
Sunanto, 2001). tua sebagai bahan pembuatan emping dan biji
Untuk membedakan tanaman jantan dan melinjo yang akan dijadikan sayur. Sebagian
betina dapat terlihat dari bentuk bulir besar petani melinjo masih berhubungan
bunganya, bulir bunga jantan lebih kecil dan dengan tengkulak, walaupun konsekuensinya
penuh dengan tepung sari biasanya adalah menerima harga yang relatif rendah.
dimanfaatkan untuk sayuran. Sedangkan pada Hal ini sering terjadi, karena cara tersebut
bunga betina tampak jelas tonjolan bakal biji dianggap praktis dan mudah. Petani cukup
yang akan berkembang menjadi buah melinjo tingggal di rumah dan tengkulak datang ke
yang dapat dimanfaatkan sebagai sayuran dan tempat untuk melakukan pembelian biji
bahan utama pembuatan emping melinjo. melinjo, hal ini biasanya dilakukan secara
Menurut Hatta Sunanto (2001), ada 3 berlangganan dari musim ke musim.
(tiga) varietas melinjo yang dikenal, yaitu : Selain itu usaha melinjo ini dapat dalam
1. Varietas Kerikil bentuk emping melinjo, yaitu biji melinjo yang
Buah atau biji melinjo varietas ini telah diolah dan dipipihkan. Pengolahan biji
ukurannya kecil, bentuknya agak bulat. melinjo ini merupakan alternatif lain untuk
Jumlah buah tiap pohon bisa lebat. meningkatkan pendapatan petani, karena harga
2. Varietas Ketan emping melinjo di pasaran cukup stabil. Dalam
usaha emping melinjo ini, petani memerlukan

52
Jurnal AGRIJATI 3(1), Desember 2006

waktu serta keterampilan khusus dalam Sedangkan Makehan dan Malcolm


mengolah emping melinjo. Prinsip dasar (1998) dalam Ida Nuraeni dan Herman Hidayat
pembuatan emping melinjo adalah pengupasan (2002) mendefinisikan usahatani (Farm
kulit buah, pemanasan biji, pengupasan kulit Management) adalah cara bagaimana mengelo-
biji, pemukulan dan pemipihan biji, pelepasan la kegiatan-kegiatan pertanian. Dalam suatu
emping dari batu, penjemuran, dan sortasi usahatani aspek teknis dan ekonomis
emping (Tim Penyusun Penebar Swadaya, digabungkan dengan dukungan faktor manusia
2002). sebagai pelaksana, sehingga dapat meningkat-
Dalam pemasarannya, ada klasifikasi kan hasil dan keuntungan usahatani.
emping melinjo yang didasarkan pada Penentuan suatu usaha, harus memper-
kualitasnya. Semakin tinggi kualitasnya akan timbangkan biaya produksi yang dikeluarkan
semakin tinggi harganya. Untuk menjaga dengan keuntungan yang akan diperoleh.
kualitas emping melinjo, Departemen Menurut Abas Tjakrawiralaksana (2002)
Pertanian (1999/2000) menggolongkan atas menyatakan bahwa, keuntungan suatu usaha
tiga kualitas emping sebagai berikut: dapat dilihat dengan analisis imbangan atau
1. Kualitas 1 (emping super), dengan ciri-ciri Revenue Cost Ratio (R/C Ratio). Apabila dari
: tipis, ketebalan sama, rata, warna putih suatu usahatani tersebut diperoleh keuntungan,
bening dan ukuran seragam. Jenis emping maka usahanya layak untuk diusahakan, lebih
super ini jenis yang termahal harganya jelasnya dapat terlihat dari kriteria sebagai
2. Kualitas 2 dengan ciri lebih tebal dari berikut :
emping super, warna putih bening, ukuran 1. Apabila nilai R/C ratio lebih besar dari
kurang seragam. satu, maka usahatani tersebut menguntung-
3. Kualitas 3 dengan ciri agak tebal, kurang kan dan layak untuk diusahakan.
rata, ketebalan dan ukuran kurang 2. Apabila nilai R/C ratio sama dengan satu,
seragam, warna kekuningan dan kadang- maka usahatani tersebut tidak memperoleh
kadang ada noda-noda hitam. keuntungan dan tidak menderita kerugian
Perbedaan kualitas emping menyebab- (impas).
kan perbedaan harga. Perbedaan ini disebab- 3. Apabila nilai R/C ratio kurang dari satu,
kan cara penggarapan, tua mudanya melinjo maka usahatani tersebut mengalami
dan besar kecilnya biji melinjo juga jenis kerugian dan tidak layak untuk diusahakan.
melinjo yang dipergunakan. Selain faktor di atas yang tak kalah
pentingnya adalah rantai pemasaran melinjo,
Tingkat Kelayakan Usahatani Melinjo ternyata rantai pemasaran biji melinjo dari
Menurut Mosher. (1996) dalam Ida petani sampai produsen emping cukup
Nuraeni dan Herman Hidayat (2002) panjang. (Hatta Sunanto, 2001) menggambar-
menyebutkan bahwa usahatani adalah sebagian kan rantai pemasaran biji melinjo sebagai
dari permukaan bumi yaitu seorang petani, berikut :
sebuah keluarga tani atau badan usaha lainnya
bercocok tanam atau memelihara ternak.

Para Petani Melinjo

Para Tengkulak

Para Pedagang Para Pedagang di


Melinjo Pasar

Para Produsen Gambar 1. Rantai Pemasaran Biji Melinjo (Klatak)


Emping
53
Jurnal AGRIJATI 3(1), Desember 2006

Dengan mata rantai pemasaran seperti di atas, bisa ditempuh dengan memanfaatkan adanya
para tengkulak yang menentukan harga klatak. KUD (Koperasi Unit Desa). (Hatta Sunanto,
Dengan demikian yang mendapatkan 2001). KUD membeli dan menampung biji
keuntungan adalah tengkulak dan pedagang melinjo hasil petani dengan harga yang layak,
melinjo. kemudian KUD menjual kepada para produsen
Untuk meningkatkan pendapatan emping dengan harga yang layak pula (para
petani dan produsen emping (yang pada produsen emping itu sendiri diharapkan juga
umumnya keadaan ekonominya lemah) rantai anggota KUD).
pemasaran tersebut harus diperpendek. Hal ini

PARA PETANI MELINJO

K U D

PARA PRODUSEN EMPING

Jalur Biji Melinjo


Jalur Emping

Gambar 2. Rantai Pemasaran Emping Melinjo

Kelemahan konsep ini adalah : para METODOLOGI PENELITIAN


produsen emping itu sifatnya lokal, artinya Tempat penelitian dilaksanakan di
hanya terdapat di desa-desa tertentu saja di Desa Astana, Kecamatan Cirebon Utara,
seluruh daerah kabupaten. Oleh karena itu Kabupaten Cirebon, dengan pertimbangan
kita perlu mendidik dan melatih sebagian besar masyarakat taninya
masyarakat pedesaan menjadi produsen berusaha melinjo dan didukung dengan
emping melinjo, terutama di desa-desa Sumber Daya Alam (SDA) berupa
yang memiliki potensi memproduksi tanaman melinjo tersedia dengan produksi
melinjo, mengingat prospek komoditas yang cukup banyak. Sedangkan waktu
emping melinjo cukup cerah. Agar penelitian dilaksanakan dari bulan Mei
pendapatan produsen emping melinjo sampai dengan bulan Juli 2006.
layak, maka KUD sebaiknya juga
menampung produsen emping dari para Metode Penarikan Sampel
produsen emping (anggota KUD), dan Populasi dalam penelitian ini
menjualnya langsung ke pasaran. (Hatta adalah seluruh petani melinjo di Desa
Sunanto ,2003). Keuntungan dari usahatani Astana Kecamatan Cirebon Utara
biji melinjo adalah proses penjualan cepat, Kabupaten Cirebon yang berjumlah 197
tidak memerlukan biaya tambahan dan orang terdiri dari 118 orang usahatani biji
keterampilan khusus tetapi harga jual melinjo dan 79 orang usahatani emping
biasanya ditentukan oleh pembeli atau melinjo. Sedangkan sampel akan diambil
tengkulak. Sedangkan dalam usaha emping secara proporsional dari tiap kelompok tani
melinjo harga jual stabil sesuai dengan agar sampel benar-benar mewakili.Untuk
permintaan pasar tetapi diperlukan waktu menentukan besarnya ukuran sampel,
dan keterampilan khusus dalam proses digunakan rumus dari Taro Yamane dalam
produksi emping melinjo. Jalaluddin Rakhmat (1999) sebagai
berikut:
54
Jurnal AGRIJATI 3(1), Desember 2006

- Penyusutan alat, diukur dalam satuan


rupiah per musim (Rp/MT).
N Dihitung menggunakan Metode Garis
n = Lurus (Straight Line Methode) sesuai
Nd 2 + 1 yang dikemukakan oleh Ida Nuraeni
dan Herman Hidayat (1994), dengan
Dimana : rumus sebagai berikut :
n = Jumlah sampel
N = Populasi HA W - HA K
d = Presisi (10%) D =
WP
Dengan menggunakan rumus di atas,
dari jumlah populasi sebanyak 197 orang
responden dan tingkat kekeliruan (presisi) Dimana :
sebesar 10%, diperoleh banyaknya sampel
D = Depresiasi/penyusutan
penelitian (responden) :
HaW = Nilai awal barang/alat
197
n = HAK = Nilai akhir barang/alat
197 (0,1) 2 + 1 WP = n = Waktu pakai
- Bunga Modal, dihitung berdasarkan
197 bunga bank pada saat berlangsungnya
= kegiatan usahatani, dinilai dalam
2,97 rupiah (Rp).
= 66,33 3. Biaya Variabel (Variabel Cost), meliputi :
= 66 orang - Pemeliharaan, dihitung dalam satuan
rupiah (Rp).
Dari perhitungan di atas, diperoleh besarnya - Pengangkutan, dihitung dalam satuan
ukuran sampel sebanyak 66 orang, kemudian rupiah (Rp).
dilakukan perhitungan secara proporsional dari - Tenaga kerja, dihitung dalam satuan
tiap bagian sampel, dengan perhitungan Hari Orang Kerja (HOK) dinilai
sebagai berikut : dalam satuan rupiah (Rp).
4. Penerimaan (Revenue) adalah hasil yang
1. Besarnya sampel usahatani biji melinjo diperoleh dari perkalian antara total
118 produksi dengan harga satuan, dinyatakan
× 66 = 39,53 = 40 (dibulatkan) dalam satuan rupiah (Rp).
197 5. Pendapatan adalah hasil yang diperoleh
dari pengurangan antara total penerimaan
2. Besarnya sampel usahatani emping dengan biaya total selama proses produksi,
melinjo dihitung dalam satuan rupiah (Rp).
79 6. Revenue Cost Ratio (R/C Ratio) adalah
× 66 = 26,46 = 26 (dibulatkan)
197 perbandingan antara penerimaan dengan
biaya produksi, digunakan sebagai alat
Operasionalisasi Variabel untuk mengetahui tingkat kelayakan
Sesuai dengan permasalahan yang usahatani biji melinjo (klatak) dan emping
dikemukakan dalam identifikasi masalah, melinjo. Dengan kriteria, apabila nilai R/C
maka variabel-variabel yang akan diukur lebih besar dan satu (R/C > 1) maka usaha
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: tersebut layak untuk dikembangkan.
1. Biaya Total (Total Cost) adalah seluruh
biaya yang dikeluarkan selama berlang- Analisis Data
sungnya proses produksi, dinyatakan Data hasil penelitian diolah dengan
dalam rupiah (Rp). menggunakan statistik parametris sesuai
2. Biaya Tetap (Fixed Cost), meliputi : dengan jenis datanya yaitu data rasio dengan
- Pajak tanah diukur dalam satuan rupiah uji hipotesis komparatif dua sampel indepen-
per satuan lahan per musim. den.

55
Jurnal AGRIJATI 3(1), Desember 2006

Langkah-langkah yang dilakukan da- F0,05 dengan db besar (n – 1) dan db


lam pengolahan data secara statistik adalah kecil (n – 1), dengan ketentuan bila
sebagai berikut : Fhitung ≤ Ftabel maka varians (ragam)
1. Besarnya biaya produksi total yang tidak berbeda nyata (homogen).
digunakan dalam usahatani melinjo,
dihitung dalam satuan rupiah/musim, b. Uji Signifikan (Uji – t)
dihitung menggunakan rumus sebagai 1) Jika variansnya sama (homogen)
berikut: menggunakan rumus sebagai
TC = TFC + TVC, dimana : berikut (Walpole, R.E., 1990):
TC = Total Cost (Biaya Total)
TFC = Total Fixed Cost (Total Biaya X−Y
Tetap) t hit =
= ∑ Xi + HXi ( X = Input tetap, I ⎛ ⎞
SP ⎜ 1 + 1 ⎟
= 1, 2 ……….., i) ⎜ n n ⎟
⎝ x y

TVC = Total Variabel Cost (Total Biaya
Variabel)
= ∑ Xi + HXi ( X = Input tetap, I
= 1, 2 ……….., i) (n x - 1) S 2x + (n y - 1) S 2y
HXi = Harga input variabel ke-i SP =
2. Penerimaan (revenue), dihitung dari hasil ( n x + n y − 2)
produksi biji melinjo atau emping melinjo
dikalikan dengan harga yang berlaku pada
saat penjualan (dihitung dalam satuan
2) Jika variansnya tidak sama
rupiah).
(heterogen), maka menggunakan
R = HY . Y, dimana :
rumus sebagai berikut (Sugiyono,
R = Penerimaan (Revenue)
2002) :
HY = Harga biji melinjo atau emping
melinjo
Y = Jumlah produk X−Y
3. Besarnya pendapatan atau keuntungan t hit
=
(profit) dapat diketahui dari selisih S 2y
penerimaan dengan biaya produksi total,
S 2x
+
dengan rumus sebagai berikut: n n
π = R – C, dimana :
x y

π = Keuntungan (Profit)
R = Penerimaan (Revenue) Keterangan :
C = Biaya Produksi Total (Cost) Sx2 = Varians pendapatan
4. Perbedaan pendapatan penjualan melinjo usahatani biji melinjo
diketahui dengan melakukan analisis Sy2 = Varians pendapatan
komparatif antara penjualan biji melinjo usahatani emping melinjo
dengan emping melinjo dengan uji
signifikansi menggunakan uji beda dua X = Rata-rata pendapatan
rata-rata tidak berpasangan sebagai usahatani biji melinjo
berikut: Y = Rata-rata pendapatan usaha
a. Uji varians yaitu dengan uji statistik pengolahan emping melinjo
Fisher (Uji F); dikemukakan oleh SP = Simpangan baku gabungan
Sugiyono (2002) dengan rumus nx = Jumlah responden usahatani
sebagai berikut : biji melinjo
ny = Jumlah responden usaha
Varians Besar S 2x pengolahan emping melinjo
F hit = =
Varians Kecil S 2y

56
Jurnal AGRIJATI 3(1), Desember 2006

3) Kriteria Keputusan Rantai Tata Niaga Biji Melinjo (Klatak)


a) Jika thit ≤ ttabel Ho diterima, Hasil panen melinjo dijual sebagai
artinya terdapat perbedaan bahan baku emping dan sayuran, namun ada
tidak nyata antara pendapatan juga petani yang mengupas kulit buah melinjo
dan tingkat kelayakan usaha- tua kemudian kulitnya dijual bersama daun dan
tani biji melinjo dengan usaha bunganya sebagai sayuran. Sedangkan biji
pengolahan emping melinjo. yang tidak berkulit (klatak) dijual kepada
b) Jika thit > ttabel Ho ditolak, pengrajin emping, atau kepada pedagang
artinya terdapat perbedaan pengumpul yang datang langsung ke lokasi
nyata antara pendapatan dan dengan harga yang telah ditentukan oleh
tingkat kelayakan usahatani pedagang pengumpul. Sebagian petani menjual
biji melinjo dengan usaha hasil panennya ke pedagang pasar dengan
pengolahan emping melinjo. mengangkut sendiri hasil panennya. Harga biji
melinjo (klatak) tingkat petani responden Desa
HASIL DAN PEMBAHASAN Asyana berkisar antara Rp. 3.800 - Rp.
4.000/kg (Nopember – Desember 2005).
Rantai Tata Niaga Melinjo
Berikut rantai tata niaga bijo melinjo (klatak)
Dalam usahatani melinjo ini pada
petani Desa Astana, dapat terlihat dalam Tabel
umumnya para petani Desa Astana
1 di bawah ini.
menggunakan modal sendiri, meskipun pada
Berdasarkan Tabel 1, dapat diketahui
kenyataannya untuk mengembangkan
bahwa 26 orang (65,00%) petani responden
usahanya diperlukan modal tambahan. Belum
biji klatak menjual hasil panennya kepada
adanya suatu wadah atau organisasi yang
pedagang pengumpul, 9 orang (22,5%) ke
mengelola para petani dalam berusaha
pedagang di pasar dan sisanya 5 orang (12,5%)
menyebabkan tidak adanya koordinasi antar
menjual ke pengrajin emping yang ada di Desa
petani dalam menjalin kemitraan dengan pihak
Nangka atau luar desa dengan alasan harga
lain sehingga harga dan pangsa pasar
yang diberikan stabil.
dikendalikan para tengkulak.

Tabel 1. Rantai Tata Niaga Biji Melinjo (Klatak) Petani Responden Desa Astana.
Jumlah Petani Prosentase
No. Rantai Tata Niaga
Responden (%)
1. Petani → pedagang pengumpul 26 65,00
2. Petani → pasar 9 22,50
3. Petani → pengrajin emping 5 12,50
JUMLAH 40 100,00
Sumber : Pengolahan Data Primer (Hasil Survey), 2006.

Rantai Tata Niaga Emping Melinjo


1000 kg biji melinjo (klatak) menjadi 250 kg
Emping melinjo merupakan produk
emping, dengan harga per kilogram emping
olahan melinjo yang mulai digemari dan
melinjo di tingkat petani berkisar antara Rp.
terkenal di masyarakat. Selain itu harga jual
17.500 – Rp. 18.000. Emping melinjo yang
yang tinggi menjadikan usaha emping berpros-
dihasilkan petani responden, biasanya dijual
pek cerah, meskipun dalam pengolahannya
kepada pedagang pengumpul dan pedagang
diperlukan waktu, biaya dan keterampilan
pasar. Tabel 2 akan menyajikan rantai tata
khusus.
niaga emping melinjo petani responden Desa
Produksi emping melinjo yang
Astana.
dihasilkan petani responden Desa Astana dari

57
Jurnal AGRIJATI 3(1), Desember 2006

Tabel 2. Rantai Tata Niaga Emping Melinjo Petani Responden Desa Astana

Jumlah Petani Prosentase


No. Rantai Tata Niaga
Responden (%)

Petani → pedagang pengumpul


1. 19 73,08
Petani → pedagang pasar
2. 7 26,92
JUMLAH 26 100,00
Sumber : Pengolahan Data Primer (Hasil Survey), 2005.

Dari Tabel 2 di atas, terlihat bahwa 19 rata-rata biaya usahatani sebesar


orang petani responden atau 73,08% petani Rp. 1.785.525,- dengan rata-rata penerimaan
responden menjual produksi emping melinjo sebesar Rp. 5.080.269,-, sehingga diperoleh
ke pedagang pengumpul yang langsung datang rata-rata pendapatan sebesar Rp. 3.294.744,-.
ke lokasi, sehingga cepat dan praktis. Sisanya Hasil uji statistik beda rata-rata
sebesar 7 orang petani responden atau 26,92% pendapatan yang signifikan (uji-t) diperoleh
petani responden menjual produksi emping nilai thitung sebesar 2,038 lebih besar dari ttabel
melinjo ke pedagang pasar untuk mendapatkan 0,05 sebesar 1,619 9). Dengan demikian dapat
harga yang lebih tinggi meskipun harus disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang
mengeluarkan biaya transportasi. nyata antara usahatani biji melinjo (klatak)
Dari kedua rantai tata niaga di atas, dengan usaha pengolahan emping melinjo. Hal
dapat diketahui bahwa sebagian besar petani ini dapat terlihat dari usaha pengolahan
responden baik petani biji melinjo (klatak) emping melinjo yang mampu meningkatkan
maupun emping melinjo menjual hasil rata-rata pendapatan sebesar 56,2% dibanding
usahataninya ke pedagang pengumpul yang usahatani biji melinjo (klatak).
datang ke lokasi. Cara ini dianggap praktis dan Menurut Abdulah Hanafi (2003), bahwa
cepat, meskipun harga yang diperoleh suatu teknik baru akan diterima petani apabila
ditentukan oleh pedagang pengumpul. Untuk memberikan peningkatan hasil setidak-
itu perlu suatu kerja sama yang lebih harmonis tidaknya 25% atau 30%. Masyarakat yang
antara petani, pemerintah dan pembeli, masih sederhana tidak mungkin membedakan
sehingga dapat terbentuk suatu jalinan kerja apakah inovasi itu menguntungkan atau tidak,
sama yang bermanfaat bagi kedua belah pihak. jika peningkatan pendapatan relatifnya hanya
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah berkisar antara 5% - 10%. Berdasarkan
dengan dibentuknya Koperasi sebagai wadah keadaan yang diperoleh petani responden dan
dan perantara petani dalam melakukan dihubungkan dengan pendapat tersebut, maka
transaksi dengan pembeli. cukup beralasan bagi petani untuk usaha
pengolahan emping melinjo.
Analisis Perbandingan Pendapatan dan R/C
Analisis Perbandingan R/C Usahatani Biji
Analisis Perbandingan Pendapatan Usaha-
Melinjo (Klatak) dan Emping Melinjo
tani Biji Melinjo (Klatak) dan Emping
Dari nilai rata-rata penerimaan dan
Melinjo
rata-rata biaya baik pada usaha biji melinjo
Berdasarkan hasil penelitian dapat
(klatak) maupun usahatani emping melinjo,
diketahui bahwa besarnya rata-rata biaya
dapat ditentukan besarnya nilai R/C pada
usahatani biji melinjo (klatak) sebesar Rp.
masing-masing usahatani tersebut. Besarnya
718.664,- dengan rata-rata penerimaan sebesar
nilai R/C pada masing-masing usahatani,
Rp. 1.904.100,- sehingga diperoleh rata-rata
disajikan dalam Tabel 3 di bawah ini.
pendapatan sebesar Rp 1.185.436,-. Pada
usaha-tani emping melinjo diperoleh besarnya

58
Jurnal AGRIJATI 3(1), Desember 2006

Tabel 3. Rata-rata Besarnya Penerimaan, Biaya, Pendapatan dan R/C pada Usahatani Biji
Melinjo (Klatak) dan Emping Melinjo
No. Komponen Biji Melinjo (Klatak) Emping Melinjo
1. Penerimaan (Rp) 1.904.100,- 5.080.269,-
2. Biaya (Rp) 718.664,- 1.785.252,-
3. Pendapatan (Rp) 1.185.436,- 3.294.744,-
4. R/C 2,67 2,81
Sumber : Pengolahan Data Primer (Hasil Survey), 2006.

Berdasarkan Tabel 3 di atas, dapat melinjo dapat meningkatkan penerimaan


diketahui bahwa rata-rata nilai R/C usahatani sebesar Rp. 2,81. Dengan demikian usaha
biji melinjo (klatak) sebesar 2,67 sedangkan pengolahan emping melinjo dapat memberikan
emping melinjo sebesar 2,81, sehingga pendapatan yang lebih besar dibandingkan
diperoleh selisih nilai R/C sebesar 0,14. usahatani biji melinjo.
Nilai R/C tersebut menunjukkan Hasil uji statistik beda rata-rata R/C
besarnya tambahan kontribusi pendapatan dengan uji signifikan (uji t) di peroleh thitung
usahatani emping melinjo dibandingkan sebesar 2,197 lebih besar dari ttabel 0,05 sebesar
dengan usahatani biji melinjo (klatak). Pada 1,619. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat
usahatani biji melinjo (klatak), setiap perbedaan yang nyata antara R/C usahatani biji
peningkatan biaya rata-rata sebesar Rp. 1,- melinjo (klatak) dengan usahatani emping
akan meningkatkan penerimaan sebesar Rp. melinjo.
2,67,- sedangkan pada usahatani emping

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan pembahas- 2. Besarnya nilai R/C usaha pengolahan
an, maka diperoleh suatu kesimpulan sebagai emping melinjo 2,81 lebih tinggi
berikut : dibandingkan dengan nilai R/C usahatani
1. Terdapat perbedaan rata-rata pendapatan biji melinjo (klatak) sebesar 2,67 dengan
antara usahatani biji melinjo (klatak) selisih 0,14. Artinya setiap peningkatan
sebesar Rp. 1.185.430,- dengan usaha biaya rata-rata usaha pengolahan emping
pengolahan emping melinjo sebesar Rp. 3. melinjo sebesar Rp. 1,- akan mening-
3.294.744,-. Usahatani emping melinjo katkan penerimaan sebesar Rp. 2,81,
mampu meningkatkan rata-rata pendapat- sedangkan pada usahatani biji melinjo
an sebesar 56,2% dibanding rata-rata (klatak) hanya meningkatkan penerimaan
pendapatan usahatani biji melinjo (klatak). sebesar Rp. 2,67.

DAFTAR PUSTAKA Hatta Sunanto. 2001. Budidaya Melinjo dan


Abbas Tjakrawiralaksana. 2002. Ilmu Usaha Produksi Emping. Edisi ke-3.
Usahatani. Edisi ke-Empat. Departemen Kanisius. Yogyakarta.
Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Ida Nuraeni dan Herman Hidayat. 2002.
Fakultas Pertanian IPB. Bogor. Manajemen Usahatani. Universitas
Abdillah Hanafi. 2003. Memasyarakatkan Ide- Terbuka. Jakarta.
ide Baru. Cetakan ke-IV. Usaha Nasio- Jalaluddin Rakhmat. 1999. Metode Penelitian
nal. Jakarta. Komunikasi. Remaja Rosdakarya.
Cabang Dinas Pertanian Kecamatan Cirebon Bandung.
Utara. 2005. Data dan Laporan Tahunan Mosher A. T. 1996. Menggerakan dan
Dinas Pertanian Kec. Cirebon Utara. Membangun Pertanian. Edisi ke-IV. PT.
Departemen Pertanian. 1999/2000. Usahatani Yasaguna. Jakarta.
Melinjo. Departemen Pertanian. Jakarta. Tim Penyusun Penebar Swadaya. 2002.
Pembudidayaan dan Pengelolaan
Melinjo. Penebar Swadaya. Yogyakarta.

59