You are on page 1of 9

1

PENGARUH SENAM OTAK TERHADAP


MEMORI JANGKA PENDEK MAHASISWA

Sari Eka Pratiwi, Willy Handoko, Ridha Rahmatania

Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura, jl. Prof. Hadari Nawawi Pontianak


E-mail : sepratiwi.md@gmail.com

Abstract: The Effect of Brain Gym On Short Term Memory Of Students. This study aimed to determine the
effect of brain gym on medical students of Universitas Tanjungpura’s short term memory. This study design was
One Group Pretest-Posttest Design with simple random sampling. The total sample in this study were 53 respond-
ents. This data was taken with.questionnaire and digit span. Statistical analysis used Wilcoxon test. The mean value
of short term memory score before and after brain gym were 10,66 and 11,55, respectively. Statistical analysis
showed significant increase in short term memory score before and after brain gym (p<0,05).

Abstrak: Pengaruh Senam Otak Terhadap Memori Jangka Pendek Mahasiswa. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui pengaruh senam otak terhadap memori jangka pendek pada mahasiswa Program Studi Pen-
didikan Dokter Universitas Tanjungpura. Penelitian ini menggunakan One-Group Pretest-Posttest Design degan
metode simple random sampling. Sampel penelitian berjumlah 53 orang responden. Pengambilan data ini dilaku-
kan menggunakan kuesioner dan digit span. Analisis statistik yang digunakan adalah uji Wilcoxon. Rerata skor
memori jangka pendek sebelum dan sesudah dilakukan senam otak adalah 10,66 dan 11,55. Terdapat peningkatan
bermakna skor memori jangka pendek antara sebelum dan sesudah senam otak (p<0,05).

Kata kunci: senam otak, memori jangka pendek, mahasiswa kedokteran, stress

Manusia tidak terlepas dari proses belajar dan meng- Memori jangka pendek ini sering diukur dalam
ingat. Dalam hal ini, memori berguna untuk menyim- rentang memori (digit span), yaitu jumlah item yang
pan informasi yang telah didapat dari proses belajar dapat diulang kembali dengan tepat sesudah satu pen-
dan informasi tersebut dapat dipanggil kembali untuk yajian tunggal. Materi yang dipakai merupakan rang-
dipergunakan beberapa waktu kemudian (Tortora, kaian urutan yang tidak berhubungan satu sama lain,
2009). Memori dapat dibagi menjadi tiga golongan berupa angka, huruf atau symbol (Guyton & Hall,
berdasarkan waktunya, yaitu memori jangka pendek, 2006).
memori jangka menengah, dan memori jangka pan- Sebagai mahasiswa kedokteran, diperlukan
jang (Guyton & Hall, 2006). fungsi kognitif yang baik. Bila fungsi kognitif tidak
Memori jangka pendek merupakan penyim- baik, maka akan menyebabkan penurunan prestasi
panan sementara peristiwa yang diterima dalam wak- akademik. Untuk menilai kemajuan prestasi belajar
tu sekejap, yakni kurang dari beberapa menit (Chiras, mahasiswa dapat dilihat dari Indeks Prestasi Kumu-
2011). Memori jangka pendek memiliki peranan da- latif (IPK). Berdasarkan penelitian Wicaksono, IPK
lam pikiran sadar. Jika secara sadar kita mencoba me- mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakul-
mecahkan suatu masalah, kita sering menggunakan tas Kedokteran Universitas Tanjungpura cenderung
memori jangka pendek sebagai ruang kerja mental tinggi di semester awal kemudian menurun di semes-
dan menggunakannya untuk menyimpan bagian-bagi- ter berikutnya (Wicaksono, 2012)
an masalah serta informasi yang diambil dari memori Mahasiswa kedokteran diasumsikan sebagai
jangka panjang. Selain itu, kecepatan proses kogni- populasi terpelajar yang memiliki banyak tekanan
tif diketahui bergantung dari derajat aktivasi memo- kerja (Sidhu, 2007). Mahasiswa ini akan mengalami
ri jangka pendek (Revlin, 2012: 889). Para ahli juga masa perubahan dari seorang murid menjadi seorang
berpendapat adanya peran memori jangka pendek dari praktisi. Selama masa perubahan ini, mahasiswa dap-
semua proses kognitif misalnya dalam memahami at mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkun-
bahasa serta mengerjakan tugas pemecahan masalah gannya dan mengalami stres (Effendi, 2008). Ber-
(Atkinson et al, 2011). dasarkan penelitian Viona yang dilakukan di Fakultas
22 jurnal vokasi Kesehatan, Volume II Nomor 1 Januari 2016, hlm. 1 - 9

Kedokteran Universitas Tanjugpura pada tahun 2013, an dapat menyebabkan gangguan atensi (Feinstein,
jumlah mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter 2014).
Fakultas Kedokteran yang mengalami stres adalah Dimensi pemusatan menyangkut tentang hubu-
29,5% (Viona, 2013). Stres pada mahasiswa kedok- ngan antara bagian atas dan bawah otak. Dimensi
teran dapat menyebabkan penurunan prestasi akade- pemusatan membuat kita dapat mengharmonisasikan
mik, penurunan konsentrasi belajar, dan penurunan emosi dengan pikiran rasional. Keahlian ini berhubu-
daya ingat (Abdulghani et al, 2011). ngan dengan pengorganisasian atau merasakan atau
Ada beberapa metode yang dapat digunakan mengekspresikan emosi dan akan merespon secara
untuk meningkatkan memori. Salah satunya adalah lebih rasional dan bukan berdasar emosi semata. Ger-
senam otak. Senam otak adalah serangkaian gerak akan senam otak diharapkan akan membuat badan
sederhana yang menyenangkan dan digunakan para dan otak menjadi relaks dan menyiapkan seseorang
murid di Educational Kinesiology (Edu-K) untuk untuk mengolah informasi tanpa pengaruh emosi
meningkatkan kemampuan belajar mereka dengan negatif (Dennison, 2004).
menggunakan keseluruhan otak. Gerakan-gerakan ini Senam otak dapat mengaktifkan otak sehing-
membuat segala macam pelajaran menjadi lebih mu- ga mampu berfungsi dengan lebih baik. Senam otak
dah, dan terutama sangat bermanfaat bagi kemamp- telah diakui sebagai salah satu teknik belajar yang
uan akademik (Dennison, 2004) paling baik oleh National Learning Foundation USA
Senam otak (brain gym) pertama kali dicipta- karena senam otak ini memberikan keuntungan yaitu
kan oleh Paul E. Dennison, Ph.D pada tahun 1980. memungkinkan belajar dan bekerja tanpa stres, dap-
Senam otak adalah serangkaian gerak sederhana yang at dilakukan dalam waktu singkat yaitu kurang dari
menyenangkan dan digunakan oleh para murid di Ed- 5 menit, tidak memerlukan bahan atau tempat yang
ucational Kinesiologi (EduK) untuk meningkatkan khusus, dapat dipakai dalam semua situasi belajar/
kemampuan belajar mereka dengan menggunakan bekerja juga dalam kehidupan sehari-hari, mening-
keseluruhan otak. Senam otak memiliki banyak man- katkan kepercayaan diri, menunjukkan hasil dengan
faat yaitu kemampuan berbahasa dan daya ingat men- segera, efektif dalam penanganan seorang yang men-
ingkat, orang menjadi lebih bersemangat, lebih krea- galami hambatan dan stres belajar, memandirikan
tif dan efisien, orang merasa lebih sehat karena stres seorang dalam belajar dan mengaktifkan seluruh po-
berkurang dan prestasi belajar dan bekerja meningkat tensi dan keterampilan yang dimiliki oleh seseorang
(Dennison, 2004). (Dennison, 2004).
Menurut Paul E. Dennison, Ph.D, otak manu- Beberapa penelitian senam otak misalnya, mel-
sia, seperti halogram, terdiri dari tiga dimensi dengan aporkan senam otak pada anak-anak dapat mening-
bagian-bagian yang saling berhubungan sebagai satu katkan konsentrasi dan kemampuan intelektual anak
kesatuan. Akan tetapi, otak manusia juga spesifik tu- (Wulandari, 2014: 40). Sidiarto memberikan senam
gasnya di mana ketiga dimensi tersebut dalam aplika- otak pada orang dewasa berumur 48-70 tahun seban-
si gerakan senam otak disebut dengan istilah dimensi yak 2 kali seminggu selama 8 minggu. Ditemukan
lateralitas, dimensi pemfokusan serta dimensi pemu- semua objek mengalami kenaikan bermakna dalam
satan (Dennison, 2004). lima tes kognitif termasuk di dalamnya yang men-
Tubuh manusia dibagi dalam sisi kiri dan sisi gukur fungsi memori jangka pendek (Sidiarto et al,
kanan. Sifat ini memungkinkan salah satu sisi mis- 2003).
alnya menulis dengan tangan kanan atau kiri, dan
juga untuk integrasi kedua sisi tubuh (bilateral inte- METODE
gration), yaitu untuk menyebrangi garis tengah tubuh
untuk bekerja di bidang tengah. Keterampilan dimen- Penelitian ini menggunakan One Group Pre-
si lateralitas adalah dasar untuk membaca, menulis, test-Posttest Design. yaitu suatu desain yang mel-
mendengar dan berkomunikasi. Dimensi ini penting akukan perlakuan pada satu kelompok kemudian
untuk gerakan seluruh tubuh serta kemampuan untuk diobservasi sebelum dan sesudah implementasi.
bergerak dan berpikir dalam waktu bersamaan (Den- Waktu penelitian dimulai dari dari bulan September
nison, 2004). 2015 sampai Januari 2016. Penelitian dilakukan di
Dimensi fokus menjelaskan hubungan antara lingkungan kampus Fakultas Kedokteran Universi-
area otak yang ada di belakang dan depan. Hal ini tas Tanjungpura Pontianak. Populasi dalam peneli-
berhubungan dengan kemampuan pemahaman, pen- tian ini adalah mahasiswa PSPD FK Untan angkatan
gertian dan konsentrasi (Dennison, 2004: 8). Dimen- 2012-2014. Sampel diambil dengan simple random
si pemfokusan juga dapat meningkatkan kemampuan sampling. Penentuan jumlah sampel dalam penelitian
untuk mengekspresikan diri dan menerima informa- ini menggunakan metode uji beda rerata 2 kelom-
si baru. Kurangnya kemampuan dimensi pemfokus- pok berpasangan. Berdasarkan perhitungan, besar
Pratiwi dkk, Pengaruh Senam Otak Terhadap Memori,... 33

sampel minimal untuk penelitian ini adalah sebesar Tabel 3.


56 orang. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah Distribusi IMT Responden Penelitian
mahasiswa yang mengalami stres. Kriteria eksklusi
Jumlah
pada penelitian ini adalah memiliki riwayat epilepsi IMT
(responden)
%
dan pengobatan epilepsi jangka panjang, mempunyai Underweight 2 3,8
Normal 34 64,2
riwayat trauma kepala, dan tidak bersedia ikut dalam Overweight 13 24,5
penelitian. Sampel penelitian ini berjumlah 53 orang Obesitas 1 4 7,5
Total 53 100,0
responden. Penilaian tingkat stres menggunakan kue-
sioner Depression Anxiety Stress Scale. Digit Span
Berdasarkan hasil penelitian ini, dari 53 orang
digunakan untuk membandingkan skor memori jang-
responden didapatkan proporsi tertinggi adalah re-
ka pendek sebelum dan sesudah senam otak. Analisis
sponden dengan indeks massa tubuh normal, yai-
statistik yang digunakan adalah uji Wilcoxon.
tu sebesar 64,2%. kemudian overweight sebanyak
24,5%, underweight sebanyak 3,8%, dan proporsi ter-
HASIL
endah yaitu obesitas 1 sebanyak 7,5%.
Tabel 1
Tabel 4
Distribusi Usia Responden Penelitian
Distribusi Tingkat Stres Responden Penelitian
Jumlah Jumlah
Usia % Tingkat Stres %
(Responden) (Responden)
18 tahun 6 11,3 Ringan 27 50,9
19 tahun 10 18,9 Sedang 16 30,2
20 tahun 17 32,1 Berat 8 15,1
21 tahun 19 35,8 Sangat Berat 2 3,8
22 tahun 1 1,9
Total 53 100,0 Berdasarkan hasil penelitian, dari 53 orang re-
sponden, proporsi responden tertinggi pada stress
Berdasarkan hasil penelitian, dari 53 orang re- ringan yaitu sebanyak 50,9%, kemudian stres sedang
sponden, proporsi responden tertinggi pada usia 21 30,2%, stres berat 15,1%, dan stres sangat berat se-
tahun yaitu sebanyak 35,8%, kemudian usia 20 tahun banyak 3,8%.
32,1%, usia 19 tahun 18,9%, usia 18 tahun 11,3% dan Tabel 5
proporsi terendah yaitu usia 22 tahun sebanyak 1,9%. Distribusi Tingkat Stres
Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 2
Distribusi Jenis Kelamin Responden Penelitian Tingkat Jenis Kelamin
Laki-laki Perempuan Total
Stres
n (%) n (%)
Jumlah Ringan 13 (24,5%) 14 (26,4%) 27
Jenis Kelamin %
(Responden) Sedang 2 (3,8%) 14 (26,4%) 16
Berat 3 (5,7%) 5 (9,4%) 8
Laki-Laki 20 37,7 Sangat
Perempuan 33 62,3 2 (3,8%) 0 2
Berat
Total 53 100,0 Total 20 (37,7%) 33 (62,3%) 53

Dari 53 orang responden didapatkan propor- Hasil pengukuran tingkat stres berdasarkan jenis
si tertinggi adalah responden dengan jenis kelamin kelamin menunjukkan bahwa tingkat stres paling
perempuan sebesar 62,3%. Responden dengan jenis banyak terdapat pada perempuan. Proporsi tertinggi
kelamin laki-laki adalah sebesar 37,7%. adalah pada responden perempuan dengan tingkat
stres ringan dan sedang , yaitu 14 orang (26,4%).

Tabel 5
Distribusi Tingkat Stres Berdasarkan IMT

IMT
Tingkat Stres Underweight Normal Overweight Obesitas 1 Total
n (%) n (%) n (%) n (%)
Ringan 1 (50,0%) 15(44,1%) 9 (69,2%) 2 (50,0%) 27
Sedang 0 11 (32,4%) 3 (23,1%) 2 (50,0%) 16
Berat 1 (50,0%) 6 (17,6%) 1 (7,7%) 0 8
Sangat Berat 0 2 (5,9%) 0 0 2
Total 2 (100,0%) 34 (100,0%) 13 (100%) 4 (100%) 53
44 jurnal vokasi Kesehatan, Volume II Nomor 1 Januari 2016, hlm. 1 - 9

Sebelum melakukan analisis terlebih dahulu rerata skor memori jangka pendek setelah diberikan
dilakukan uji normalitas terhadap sebaran data untuk senam otak adalah 11,55.
mengetahui apakah data yang diperoleh terdistribusi Analisis pengaruh penyuluhan dilakukan den-
normal atau terdistribusi tidak normal. Uji normali- gan melihat significancy perbedaan nilai pretest dan
tas sebaran data perlu dilakukan untuk menentukan posttest responden. Uji yang dilakukan untuk meng-
analisis data yang akan digunakan untuk menilai pen- etahui normalitas distribusi data adalah uji Kolmogo-
garuh senam otak terhadap memori jangka pendek re- rov-Smirnov. Berdasarkan hasil uji normalitas, dapat
sponden. Kemudian dilihat rerata skor memori jangka disimpulkan bahwa data berdistribusi tidak normal,
pendek sebelum dan sesudah pemberian senam otak. maka dalam hal ini uji bivariat yang digunakan adalah
Rerata skor memori jangka pendek responden sebe- uji Wilcoxon. Hasil yang diperoleh dari uji wilcoxon
lum diberikan senam otak adalah 10,66, sedangkan diatas dapat dilihat nilai Significancy (Sig) 0,002.

Gambar 1. Grafik Skor Memori Jangka Pendek Sebelum dan Sesudah Senam Otak

PEMBAHASAN hadir saat pretest, dan 2 orang diekslusikan dikarena-


kan tidak hadir saat posttest, sehingga total responden
Responden pada penelitian ini adalah mahasiswa yang diikutsertakan dalam pengolahan data adalah
pre-klinik Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas sebanyak 53 orang responden.
Kedokteran Universitas Tanjungpura angkatan 2012- Stres adalah respon adaptasi atas ketidakmam-
2014. Penelitian dilakukan pada tanggal 4 Septem- puan seseorang dalam mengatasi rasa ancaman pada
ber hingga 30 September 2015. Pengumpulan data mental, fisik, emosi, maupun spiritual (Seaward,
diawali dengan penjelasan terhadap responden men- 2014). Mahasiswa kedokteran dalam kegiatannya
genai penelitian yang akan dilakukan dan dilanjutkan tidak terlepas dari stres. Penyebab stres pada maha-
dengan pembagian kuesioner Depression Anxiety siswa dapat bersumber dari kehidupan akademiknya,
Stress Scale. Pengisian diawasi langsung oleh peneliti terutama dari tuntutan eksternal, dan tuntutan dari
dan langsung dikumpulkan setelah pengisian selesai harapannya sendiri. Stres pada mahasiswa kedokter-
dilakukan. Jika responden memiliki pertanyaan ten- an dapat menyebabkan penurunan prestasi akademik,
tang pengisian kuesioner maka dijawab langsung oleh penurunan konsentrasi belajar, dan penurunan daya
peneliti. Setelah pengumpulan kuesioner, dari 115 ingat (Abdulghani et al, 2011). Ada beberapa cara un-
orang mahasiswa yang mengisi kuesioner didapatkan tuk meningkatkan memori jangka pendek, salah sat-
sebanyak 56 orang mahasiswa yang memenuhi krite- unya adalah senam otak.
ria inklusi sebagai sampel penelitian. Pada penelitian ini dilihat pengaruh senam otak
Selanjutnya dilakukan pengukuran berat badan terhadap memori jangka pendek pada mahasiswa
dan tinggi badan serta pretest memori jangka pendek Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedok-
terhadap sampel penelitian. Setelah dilakukan pretest, teran Universitas Tanjungpura. Pemilihan sampel pe-
di minggu berikutnya dilakukan senam otak sebanyak nelitian dilakukan dengan simple random sampling.
empat kali dalam seminggu selama 2 minggu. Kemu- Selanjutnya dibagikan kuesioner Depression Anxiety
dian dilakukan posttest memori jangka pendek. Dari Stress Scale untuk menilai tingkat stres. Pada ma-
56 responden yang menjadi sampel penelitian, terdap- hasiswa yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan
at 1 orang responden diekslusikan dikarenakan tidak pretest untuk menilai skor memori jangka pendek
Pratiwi dkk, Pengaruh Senam Otak Terhadap Memori,... 55

sebelum senam otak. Kemudian responden peneli- biasaan belajar, proses pembelajaran, lingkungan be-
tian diberikan senam otak sebanyak empat kali dalam lajar yang baru, hubungan dengan tutor atau tenaga
seminggu selama dua minggu. Selanjutnya dilakukan pengajar, dan hubungan dengan teman sebaya da-
postest untuk menilai skor memori jangka pendek re- lam satu angkatan atau teman lain di lingkungan
sponden setelah pemberian senam otak. kampus yang tidak dalam satu angkatan (Moffat et
Berdasarkan hasil penelitian ini, dari total 53 re- al, 2004).
sponden penelitian didapatkan distribusi usia dalam Senam otak (brain gym) adalah rangkaian lati-
rentang 18-22 tahun. Pada usia ini seseorang memi- han berbasis gerakan tubuh sederhana. Senam otak
liki pengolahan memori yang baik (Germine, 2011: merupakan stimulasi yang baik dalam mengoptimal-
201). Puncak perkembangan memori jangka pendek kan fungsi otak, dimana gerakan pada senam otak
adalah pada usia 22 tahun (Hartshorne & Germine, cenderung ritmenya lambat dan mempunyai tujuan
2015). tertentu. Senam otak telah diakui sebagai salah satu
Berdasarkan distribusi jenis kelamin, responden teknik belajar yang paling baik oleh National Learn-
terbanyak adalah perempuan. Faktor jenis kelamin ing Foundation USA ((Dennison, 2004).
mempengaruhi ingatan seseorang. Hal ini disebab- Aplikasi gerakan-gerakan senam otak dalam
kan karena pengaruh hormonal, stres yang menye- kehidupan sehari-hari tergantung dari kebutuhan se-
babkan ingatan berkurang, hingga akhirnya mudah seorang. Gerakan yang dipilih adalah gerakan silang,
lupa (Horst, 2012: 725). Hal ini sejalan dengan hasil delapan tidur, putaran leher, burung hantu, pasang
penelitian yang dilakukan Abdulghani mengenai ting- kuda-kuda, pasang telinga, titik positif, dan sakelar
kat stres pada mahasiswa kedokteran di Saudi Arabia otak. Putranto di dalam penelitiannya juga menggu-
dimana prevalensi mahasiswa perempuan yang men- nakan gerakan senam otak khusus untuk meningkat-
galami stres adalah sebesar 75,7% sedangkan maha- kan memori jangka pendek (Putranto, 2009).
siswa laki-laki sebesar 57% (Abdulghani 2011). Pada penelitian ini didapatkan peningkatan skor
Berdasarkan distribusi indeks massa tubuh, re- memori antara sebelum dan sesudah senam otak. Hal
sponden terbanyak adalah status gizi normal. Hal ini ini sejalan dengan penelitian Drabben-Thiemann
sejalan dengan penelitian yang dilakukan Lakshmi yang memberikan senam otak kepada pada 24 pasien
mengenai prevalensi status gizi mahasiswa kedokter- Alzheimer di Clinics for Neurology and for Medical
an Sri Venkateswara Medical College Tirupati India. Rehabilitation and Geriatrics di Jerman. Hasilnya
Lakhsmi menemukan 59% mahasiswa kedokteran adalah 16 dari 24 pasien mengalami kenaikan fungsi
memiliki status gizi normal, 20% underweight, 11% kognitif (Drabben-Thiemann, 2002).
obesitas, dan 10% overweight (Lakshmi & Devi, Penelitian lain yaitu Cancela memberikan sen-
2015). am otak kepada lansia dengan rentang 65-80 tahun di
Distribusi sampel penelitian berdasarkan ting- Spanyol. Cancela memberikan senam otak seminggu
kat stres terbanyak terdapat pada tingkat stres ringan sekali selama 16 minggu. Hasilnya adalah ditemukan
(50,9%). Hal ini berbeda dengan penelitian Augesti peningkatan fungsi kognitif pada semua responden
yang menyatakan bahwa prevalensi tingkat gejala (Cancela et al 2015).
stres tertinggi pada mahasiswa kedokteran adalah Senam otak pada penelitian ini diberikan seban-
pada stres sedang (54,1%). Hal ini dapat disebab- yak empat kali seminggu selama dua minggu. Sejalan
kan oleh perbedaan instrumen penelitian dan jumlah dengan penelitian Verany yang memberikan senam
sampel yang digunakan. Pada penelitian ini diguna- otak dengan waktu yang sama pada 32 orang lansia
kan kuesioner Depression Anxiety Stress Scale den- di Panti Sosial Tresna Werdha Warga Tama Indralaya.
gan jumlah sampel 53 orang, sedangkan pada pene- Pada penelitiannya ditemukan peningkatan fungsi
litian Augesti menggunakan kuesioner HASS/Col kognitif sebelum dan sesudah dilakukannya terapi
untuk menilai tingkat stres dengan jumlah sampel 242 senam otak (Verany, 2013).
orang (Augesti et al, 2015). Sidiarto memberikan senam otak pada usia 48-
Penyebab stres pada mahasiswa dapat dari tu- 70 tahun dua kali seminggu selama dua bulan. Pada
gas-tugas kuliah, beban pelajaran, tuntutan orang penelitian Sidiarto, 70 warga di Jakarta diberikan sen-
tua untuk berhasil di kuliahnya, dan penyesuaian am otak, kemudian dilakukan tes performa kognitif
sosial di lingkungan kampusnya. Kompleksitas ma- sebelum dan setelah selesai program latihan tersebut.
teri perkuliahan yang semakin lama semakin sulit Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa semua
serta kemampuan mahasiswa dalam mengikuti pe- subjek mengalami kenaikan bermakna dalam tes kog-
lajaran juga dapat mengakibatkan stres (Heiman & nitif (Sidiarto et al, 2003).
Kariv, 2005). Putranto memberikan senam otak tiga kali sem-
Dalam penelitian lain, faktor yang juga dapat inggu selama dua bulan pada 37 siswa sekolah dasar
mencetuskan stres diantaranya adalah perubahan ke- MI Nasrul Fajar dan MI Muta’alimin Semarang yang
66 jurnal vokasi Kesehatan, Volume II Nomor 1 Januari 2016, hlm. 1 - 9

memiliki status ekonomi rendah. Hasilnya adalah postsinaptik. Selain itu gerakan terjadi melalui kon-
didapatkan peningkatan skor memori jangka pendek traksi otot memberikan pengaruh otak melalui jalur
dengan alat ukur digit span (Putranto, 2009). muscle spindle, kemudian rangsangan pada golgi ten-
Peningkatan skor memori pada penelitian ini don akan dilanjutkan ke central nervous system mel-
dapat disebabkan oleh adanya dominansi hemisfer alui jaras-jaras yang diperantarai oleh Brain-Derived
(Nielsen et al 2013: 71275). Pada keadaan tertentu Neurotrophic Faktor, dimana Brain-Derived Neuro-
seperti stres atau tahap awal dari proses belajar kita trophic Faktor tersebut akan mempengaruhi sinapsin
cenderung memakai hemisfer yang dominan. Jika I untuk mengeluarkan neurotransmitter (Macias et al,
kedua belah hemisfer dapat berfungsi optimal secara 2009). Kemudian menerima informasi berupa sen-
bersamaan, maka kita akan mencapai kemampuan soris dari perifer, visual, vestibular, muskuloskeletal
berpikir dan kreativitas yang tertinggi. Salah satu cara dan propioseptik selanjutnya diproses dan diintregasi-
untuk meningkatkan integrasi hemisfer adalah den- kan pada sistem saraf pusat. Informasi yang diterima
gan gerakan-gerakan fisik, salah satunya adalah sen- akan diintegrasikan di dalam sensoris di sub kortikal
am otak. Senam otak memanfaatkan dan membentuk dan disimpan di memori (Bekinschtein et al, 2013).
hubungan diantara otak dan tubuh. Otak mengontrol Senam otak juga dapat dikatakan sebagai lati-
semua fungsi tubuh. Jika kita melakukan gerakan-ger- han fisik. Latihan fisik memberi manfaat pada proses
akan untuk mengakses otak, semua area yang ber- belajar dan memori, serta melindungi sel saraf dari
hubungan dalam proses belajar dapat diintegrasikan proses neurodegenerative (Yau et al, 2014). Latihan
sehingga seseorang dapat meningkatkan kemampuan fisik meningkatkan plastisitas sinaptik dengan secara
untuk memaksimalkan kedua belah hemisfer (Sularyo langsung mempengaruhi struktur dan memperkuat
& Handryastuti, 2002) sinaptik maupun secara tidak langsung dengan men-
Senam otak juga dapat dikatakan sebagai latihan dukung sistem yang mendasari plastisitas, seperti neu-
fisik. Latihan fisik memberi manfaat pada proses be- rogenesis, metabolisme, dan fungsi vascular (Hötting
lajar dan memori, serta melindungi sel saraf dari pros- et al, 2012). Latihan fisik mempengaruhi perubahan
es neurodegeneratif.46 Manfaat lain dari latihan fisik struktur dan fungsi pada berbagai macam area otak
dalah membantu menurunkan depresi, kecemasan, dan area yang lebih dipengaruhi adalah area prefron-
dan stress (Yau et al, 2014). Senam otak membuat tal dan hippocampus (Jiang, 2004). Manfaat lain dari
seseorang menjadi relaks dan fokus dalam belajar se- latihan fisik dalah membantu menurunkan depresi,
hingga informasi yang didapat bisa dipindahkan ke kecemasan, dan stress (Cohen et al, 2009).
dalam memori jangka pendek (Sularyo & Handryas- Senam otak menggunakan istilah dimensi lat-
tuti, 2002). eralitas, dimensi pemfokusan, dan dimensi pemusatan
Otak sebagai pusat kegiatan tubuh akan meng- (Dennison, 2004). Dimensi-dimensi tersebut berke-
aktifkan seluruh organ dan sistem tubuh melalui pe- naan dengan fungsi otak yang spesifik dan menggam-
san-pesan yang disampaikan melewati serabut saraf barkan penggunaan otak secara menyeluruh dalam
secara sadar maupun tidak sadar. Pada umumnya otak proses belajar. Dimensi lateritas untuk belahan otak
bagian kiri bertanggung jawab untuk pergerakan ba- kanan dan otak kiri, dimensi pemfokusan untuk bagi-
gian kanan tubuh dan sebaliknya. Akan tetapi, otak an belakang otak (brainstem) dan bagian depan otak
manusia juga spesifik tugasnya, untuk aplikasi gera- (lobus frontal), dan dimensi pemusatan untuk sistim
kan senam otak dipakai istilah dimensi lateralis untuk limbis (midbrain) dan otak besar (korteks serebral)
belahan otak kiri dan kanan, dimensi pemfokusan un- (Sularyo & Handryastuti, 2002).
tuk bagian belakang otak (brain stem) dan bagian otak Lateralitas memungkinkan seseorang domi-
depan (frontal lobus), serta dimensi pemusatan untuk nansi salah satu sisi tubuh atau integrasi kedua sisi
sistem limbik (midbrain) dan otak besar (korteks ser- tubuh. Gerakan-gerakan menyeberangi garis tengah
ebral) (Dennison, 2004). yang mewakili dimensi lateralitas akan menstimulasi
Senam otak (brain gym) adalah rangkaian lati- koordinasi kedua belahan otak dan integrasi dua sisi
han berbasis gerakan tubuh sederhana (Muhammad, tubuh sehingga meningkatkan kemampuan membaca,
2010). Senam otak merupakan stimulasi yang baik menulis, komunikasi, dan kemampuan bergerak dan
dalam mengoptimalkan fungsi otak, dimana gera- berfikir secara bersamaan.11,43 Bila dua tugas dilak-
kan pada senam otak cenderung ritmenya lambat dan sanakan secara bersama-sama, dari pencitraan fMRI
mempunyai tujuan tertentu (Dennison, 2004). didapatkan adanya peningkatan aktivasi area prefron-
Gerakan dapat mempengaruhi plastisitas pada tal otak dan area-area lain dibandingkan bila tugas itu
otak (Perrey, 2013). Gerakan intensif dapat mening- dikerjakan sendiri-sendiri (Dennison, 2004).
katkan jumlah terminal presinaptik dan memperbe- Fokus merupakan kemampuan menyeberangi
sar ujung saraf sinaps pada neuron prasinaps, dan garis tengah partisipasi, garis bayangan vertikal di
meningkatkan jumlah cabang dendrit pada neuron tengah tubuh, yang memisahkan bagian depan-be-
Pratiwi dkk, Pengaruh Senam Otak Terhadap Memori,... 77

lakang tubuh dan otak. Seorang anak yang mengala- ingga memori atau ingatan tidak dapat bertahan lebih
mi fokus-kurang akan menghambat fokus anak ter- lama, bahkan salah saat dipanggil dan diinterpretasi-
hadap informasi yang didapatnya. Gerakan-gerakan kan otak saat kita membutuhkannya (Diekelmann &
meregangkan otot yang mewakili dimensi pemfoku- Born, 2010).
san membantu melepaskan hambatan fokus (Denni- Berdasarkan pembahasan di atas didapatkan
son, 2004). bahwa dengan latihan senam otak empat kali seming-
Pemusatan adalah kemampuan untuk menye- gu selama dua minggu dapat meningkatkan memori
berangi garis pisah antara bagian atas dan bawah jangka pendek pada mahasiswa preklinik Program
tubuh dan mengaitkan fungsi dari bagian atas dan Studi Pendidikan Dokter Universitas Tanjungpura.
bawah otak. Gerakan-gerakan meningkatkan energi Tidak hanya pada mahasiswa, senam otak juga dapat
dan sikap penguatan yang mewakili dimensi pemusa- dimanfaatkan untuk berbagai umur, ras, pada pasien
tan membantu membuat sistem tubuh menjadi relaks Alzheimer, dan juga pada orang yang mengalami
dan membantu menyiapkan seseorang untuk mengo- stres.
lah informasi tanpa pengaruh emosi negatif. Senam
otak membuat seseorang menjadi relaks dan fokus SIMPULAN
dalam belajar sehingga informasi yang didapat bisa
dipindahkan ke dalam memori jangka pendek (Den- Tingkat stres mahasiswa Program Studi Pen-
nison, 2004). didikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas
Namun, penelitian ini juga memiliki kekurangan Tanjungpura tertinggi pada stres ringan yaitu seban-
dimana pada penelitian ini tidak mengukur tingkat yak 50,9%, kemudian stres sedang 30,2%, stres berat
stres saat sebelum dilakukan posttest memori jangka 15,1%, dan stres sangat berat sebanyak 3,8%. Terdap-
pendek. Menurut penelitian, respon stres dapat meng- at peningkatan skor tes digit span setelah perlakuan
hasilkan keadaan yang menguntungkan atau dapat senam otak 4 kali seminggu selama 2 minggu pada
merugikan, sehingga terdapat perbedaan antara re- mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakul-
spon tubuh pada saat stres akut dan stres kronik. Pada tas Kedokteran Universitas Tanjungpura.
terjadinya stres akut, reaksi tubuh menghadapi respon
tersebut memiliki fungsi untuk melindungi tubuh dan DAFTAR RUJUKAN
fungsi otak serta menjaga homeostasis. Akan tetapi
jika terjadi terus menerus secara kronik, respon terh- Abdulghani HM, Abdulaziz AA. 2011. Stres and Its
adap stres akan tetap tinggi secara terus menerus atau Effects On Medical Students: A Cross-Sec-
terkadang pada akhirnya tubuh dapat gagal mengakh- tional Study At A College Of Medicine In
iri respon tersebut. Saat hal ini terjadi, respon tubuh Saudi Arabia. J Health Popul Nutr, 29(5):
akan kehilangan keseimbangannya sehingga menga- 516–22
kibatkan efek yang merugikan (Jamieson et al, 2012) Alkadhi K. 2013. Brain Physiology and Pathophys-
Pada kondisi stres yang terjadi secara kronik, iology in Mental Stress. ISRN Physiology
terjadi paparan berlebih dari kortisol yang dapat 2013: 1-23
mengakibatkan perlemahan otot beserta supresi pada Augesti G, Lisiswanti R, Saputra O, Nisa K. 2015.
berbagai sistem tubuh sehingga pada keadaan stres Perbedaan Tingkat Stres Antara Mahasiswa
kronik, kortisol akan meningkatkan terjadinya proses Tingkat Awal dan Tingkat Akhir Fakultas
inflamasi yang akan menambah beban pada keadaan Kedokteran Universitas Lampung. J major-
stres kronik sehingga dapat mencetuskan terjadinya ity, 4(4): 50-6
kerusakan otak pada daerah hippocampus, korteks Atkinson RL, Atkinson RC, Smith EE, Bem DJ. Pen-
prefrontal, dan amigdala (Guilliams & Edwards, gantar Psikologi, Jilid 1, Edisi ke-11. 2012.
2010). Kerusakan ini akan mengakibatkan kemundu- Batam: Interaksana
ran dalam proses belajar dan proses mengingat (Alka- Bekinschtein P, Cammarota M, Medina JH. BDNF
dhi, 2013). and memory processing. Neuropharmacol-
Pada penelitian ini juga tidak mengukur kualitas ogy 2013: 1-7
tidur. Prince menyatakan bahwa jumlah dan kualitas Cancela JM, Suárez HV, Vasconcelos J, Lima A, Ayán
tidur dapat mempengaruhi proses molekul dan seluler C. 2015. Efficacy of Brain Gym Training
yang ada di hippocampus sehingga dapat mempen- on The Cognitive Performance and Fitness
garuhi proses pembentukan memori (Prince & Abel, Level of Active Older Adults: A Preliminary
2013). Saat tidur terjadi proses konsolidasi yang dap- Study. J Aging Phys Act, 23 (4): 653-8
at mempengaruhi dan mempertahankan memori un- Chiras D. Human Biology, 7th ed. 2011. Sudbury:
tuk waktu lebih lama lagi. Oleh karena itu, tidur yang Jones & Bartlett Learning, LLC
kurang dapat mengganggu proses konsolidasi seh- Diekelmann S, Born J. 2010. The Memory Function
88 jurnal vokasi Kesehatan, Volume II Nomor 1 Januari 2016, hlm. 1 - 9

of Sleep. Nature Reviews Neuroscience, 11: roscience, 10:144


114-26 Meyer AND, Logan JM. 2013. Taking The Testing
Dennison PE, Dennison GE. 2004. Brain Gym, Sen- Effect Beyond The College Freshman: Ben-
am Otak Buku Panduan Lengkap. Jakarta: efits for Lifelong Learning. Psychology and
PT Grasindo Aging, 28(1): 142–47
Drabben-Thiemann G, Hedwig D, Kenklies M, Von Moffat KJ, Mcconnachie A, Ross S, Morrison JM.
Blomberg A, Marahrens A, Marahrens G, 2004. First Year Medical Student Stress
Hager K. 2002. The Effect of Brain Gym on and Coping in A Problem‐Based Learning
The Cognitive Performance of Alzheimer’s Medical Curriculum. Medical Education,
Patients. Brain Gym Journal 16(1): 10 38(5):482-91
Effendi E. 2011. Gambaran Tingkat Stres pada Ma- Muhammad A. 2010. Bila otak kanan dan otak kiri
hasiswa Pendidikan Sarjana Kedokteran seimbang. Yogyakarta: Diva Press
Universitas Sumatera Utara. Skripsi tidak Nielsen JA, Zielinski BA, Ferguson MA, Lainhart
diterbitkan. Medan: Universitas Sumatera JE, Anderson JS. 2013. An Evaluation of
Utara The Left-Brain Vs. Right-Brain Hypothesis
Feinstein S. 2014. From the brain to the classroom: With Resting State Functional Connectivity
the encyclopedia of learning. Santa Barbara: Magnetic Resonance Imaging. PLoS ONE,
ABC-CLIO, LLC 8(8): 71275
Germine LT, Duchaine B, Nakayama K. 2011. Where Perrey S. 2013. Promoting motor function by exercis-
Cognitive Development and Aging Meet: ing the brain. Brain Sci, 3: 101-22
Face Learning Ability Peaks After Age 30. Prince TM, Abel T. 2013. The Impact of Sleep Loss on
Cognition, 118: 201–10 Hippocampal Function. Cold Spring Harbor
Guilliams TG, Edwards L. 2010. Chronic Stress and Laboratory Press, 20:558–69
The Hpa Axis: Clinical Assessment and Purwanto S, Widyaswati R, Nuryati. 2009. Manfaat
Therapeutic Considerations. Point Institute, Senam Otak (Brain Gym) dalam Mengatasi
9(2): 1-12 Kecemasan dan Stres pada Anak Sekolah.
Guyton AC, Hall JE. 2006. Textbook of Medical Jurnal Kesehatan, 2(1): 81-90
Physiology, 11th Edition. Philadelphia: Else- Putranto PL. 2009. Pengaruh senam otak terhadap
vier Saunders memori jangka pendek anak dari keluar-
Hartshorne1 JK, Germine LT. 2015. When Does Cog- ga status ekonomi rendah. Tesis tidak di-
nitive Functioning Peak? The Asynchronous terbitkan. Semarang: Universitas Dipone-
Rise And Fall Of Different Cognitive Abil- goro
ities Across The Life Span. Psychological Revlin R. 2011. Cognition: Theory and Practice. New
Science; 1–11 York: Worth Publishers
Heiman, Kariv. 2005. Task-Oriented Versus Emo- Seaward BL. 2014. Essentials of managing stress 3th
tion-Oriented Coping Strategies: The Case edition. Burlington: Jones & Barlett Learn-
Of College Students. College Student ing
Journal, 39(1):72-89 Sularyo TS, Handryastuti S. 2002. Senam otak. Sari
Horst JP, Kloet ER, Schaiichinger H, Oitz MS. 2012. Pediatri, 4(1): 36-44
Relevance of Stress and Female Sex Hor- Sidhu JK. 2007. Effect of Stress on Medical Students.
mones for Emotion and Cognition. Cell Mol IeJSME, 1(1): 52-3
Neurobiol, 32:725–35 Sidiarto LD, Kusumoputro S, Samino, Munir R, Nu-
Jamieson JP, Mendes WB, Nock MK. 2012. Improv- groho W. 2003. The efficacy of specific pat-
ing Acute Stress Responses: The Power of terns of movements and brain exercises on
Reappraisal. APS, 20(10): 1-6 the cognitive performance of healthy senior
Lakshmi Y, Devi BV. 2015. A Study of Body Mass citizen in Jakarta. Med J Indones, 12(3):
Index Among Medical Students in a Ter- 156-61
tiary Care Teaching Hospital. IOSR-JDMS, Tortora GJ, Grabowski SR. 2009. Principles of Anat-
14(3): 14-7 omy and Physiology, 9th ed. Canada: John
Macias M, Nowicka D, Czupryn A, Sulejczak D, Wiley & Sons
Skup M, Skangiel-Kramska J. 2009. Exer- Wicaksono A. 2012. Hubungan Antara Indeks Prestasi
cise-induced motor improvement after com- Kumulatif dan Nilai Uji Kompetensi Dokter
plete spinal cord transection and its relation Indonesia pada Dokter Lulusan Universitas
to expression of brain-derived neurotrophic Tanjungpura. J-VIP, 7(1): 664-74
faktor and presynaptic markers. BMC Neu- Wulandari I. 2014. Penerapan permainan senam otak
Pratiwi dkk, Pengaruh Senam Otak Terhadap Memori,... 99

(brain gym) dalam mengoptimalkan otak


kanan anak usia dini. Jurnal Ilmiah PG-
PAUD IKIP Veteran Semarang, 2(2): 28-
42
Verany R, Santoso B, Fanada M. 2013. Pengaruh
Brain Gym Terhadap Tingkat Kognitif Lan-
sia Di Panti Sosial Tresna Werdha Warga
Tama Indralaya Tahun 2013. Skripsi tidak
diterbitkan. Palembang: Universitas Sriwi-
jaya
Viona. 2013. Hubungan Karakteristik Mahasiswa den-
gan Kualitas Tidur pada Mahasiswa PSPD
FK Untan. Skripsi tidak diterbitkan. Ponti-
anak: Universitas Tanjungpura