You are on page 1of 2

KEBIJAKAN ASESMEN PASIEN DI RUMAH

SAKIT
Posted on 04/03/2016 by admin

KEBIJAKAN ASESMEN PASIEN RUMAH SAKIT [NAMA RS] [ KOTA ]

Kebijakan Umum :
1. Asesmen pasien terdiri dari tiga proses utama :
 Pengumpulan informasi dan data mengenai status fisik, psikologis dan sosial
ekonomi serta riwayat kesehatan pasien.
 Analisis data dan informasi, termasuk hasil tes laboratorium dan pencitraan
diagnostik untuk identifikasi kebutuhan pelayanan pasien.
 Pengembangan rencana perawatan untuk memenuhi kebutuhan pasien yang
telah diindentifikasi.
2. Proses tersebut di atas dilakukan oleh ahli kesehatan yang bertanggung jawab
terhadap pasien.
3. Proses tersebut di atas dilakukan secara bersama – sama diantara para ahli
kesehatan tersebut.
4. Semua pasien yang dirawat oleh Rumah Sakit [NAMA RS] [ KOTA ]
diidentifikasi kebutuhan perawatan kesehatannya melalui proses asesmen yang
ditetapkan. Hal ini berlaku pada pasien rawat inap, rawat jalan, instalasi gawat
darurat dan perawatan 1 hari (one day care).
5. Semua pasien harus mendapatkan asesmen awal minimal 24 jam pertama
perawatan.
6. Semua pasien diases ulang berdasarkan interval tertentu sesuai kondisi dan
pengobatan yang diterimanya untuk mengetahui respon pasien terhadap
pengobatannya. Interval dapat ditetapkan dalam ukuran hari, minggu, bulan, atau
sewaktu – waktu (akut) tergantung kondisi pasien.
7. Asesemen pasien dilakukan juga untuk merencanakan perawatan lanjutan dan
pemulangannya.
8. Ahli kesehatan yang melakukan asesmen memenuhi kualifikasi yang ditetapkan
oleh RS [NAMA RS] [ KOTA ] dalam melaksanakan asesmen dan asesmen
ulang. Yang termasuk ahli kesehatan adalah dokter dan para medis (perawat, ahli
fisioterapis, ahli gizi, dan ahli farmasi).
9. Semua hasil asesmen (awal dan ulang) harus tertulis dalam rekam medis RS
[NAMA RS] [ KOTA ].
10. Semua hasil asesmen harus diberitahukan kepada pasien dan atau keluarga
pasien.
11. Pelayanan penunjang asesmen pasien (laboratorium dan pencitaraan diagnostik)
diatur sesuai kebijakan masing – masing pelayanan tersebut.
Kebijakan Khusus :
1. Asesmen tambahan :
 adalah asesmen yang dibuat setelah ada asesmen utama.
 dilakukan oleh ahli kesehatan yang telah ditetapkan RS [NAMA RS] [
KOTA ].
 harus tertulis dalam rekam medis yang ditetapkan RS [NAMA RS] [ KOTA
].
2. Asesmen nyeri :
 adalah asesmen untuk menilai tingkat nyeri pasien yang dirawat di RS
[NAMA RS] [ KOTA ].
 skala penyusunan nyeri VAS (Visual Analogue Scale).
 dilakukan oleh ahli kesehatan yang ditetapkan oleh RS [NAMA RS] [
KOTA ].
 harus tertulis dalam rekam medis yang telah ditetapkan oleh RS [NAMA
RS] [ KOTA ].
3. Asesmen Resiko Jatuh :
 adalah penilaian terhadap kondisi pasien yang menyebabkan pasien beresiko
jatuh selama perawatan di rumah sakit.
 pengukuran resiko jatuh menggunakan skala yang telah ditetapkan rumah
sakit
 dilakukan oleh ahli kesehatan yang ditetapkan oleh RS [NAMA RS] [
KOTA ].
 hasil asesmen harus tertulis dalam rekam medis yang telah ditetapkan oleh
RS [NAMA RS] [ KOTA ].
4. Asesmen Gizi :
 adalah pengkajian status gizi penderita awal, pertengahan dan akhir
perawatan di rumah sakit [NAMA RS] [ KOTA ].
 pengukuran resiko jatuh menggunakan skala yang telah ditetapkan rumah
sakit.
 dilakukan oleh ahli kesehatan yang ditetapkan oleh RS [NAMA RS] [
KOTA ].
 hasil asesmen harus tertulis dalam rekam medis yang telah ditetapkan oleh
RS [NAMA RS] [ KOTA ].
5. Asesmen dapat dibedakan berdasarakan usia pasien atau pun berdasarkan
kebutuhan khusus pasien.