BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Deman thipoid masih merupakan penyakit endemic di Indonesia.

Penyakit ini termasuk penyakit menular yang tercantum dalam Undang-Undang no 6 tahun 1962, tentang wabah. Kelompok penyakit menular ini merupakan penyakit yang mudah menular dan dapat menyerang banyak orang sehingga dapat menimbulkan wabah. Surveilans Departemen Kesehatan RI, frekuensi kejadian deman thipoid di Indonesia pada tahun 1990 sebesar 9,2 dan pada tahun 1994 terjadi peningkatan frekuensi menjadi 15,4 per 10.000 penduduk. Dari survey berbagai rumah sakit di Indonesia dari tahun 1981-1986 memperlihatkan peningkatan jumlah penderita sekitar 35,8 % yaitu dari 19.596 menjadi 26.606 kasus. Insiden demam thipoid berfariasi di tiap daerah dan biasanya terkait dengan sanitasi lingkungan ; di daerah rural (Jawa Barat) 157 kasus per 100.000 penduduk sedangkan di daerah urban di temukan 760-810 per 100.000 penduduk. Perbedaan insiden di perkotaan erhubungan erat dengan penyediaan air bersish yang belum memadai serta sanitasi lingkungan dengan pembuangan sampah yang kurang memenuhi sarat kesehatan lingkungan. Case fatality rate (CFR) demam thipoid di tahun 1996 sebesar 1,08 % dari seluruh kematian di Indonesia. Namun demikian berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga Departemen RI (SKRT depkes RI) tahun 1995 demam thipoid tidak termasuk dalam sepuluh penyakit dengan mortalitas tertinggi.

1

1.2 Tujuan 1) Untuk mengetahui bagaimana perjalanan penyakit thipoid. 2) Untuk mengetahui jalannya suatu proses asuhan keperawatan tentang demam thipoid

2

Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa. makanan dan minuman yang terkontaminasi. Typhoid adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type A.B. ( Bruner and Sudart. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella.Seoparman. 1996).M. B dan C yang dapat menular melalui oral.B. fecal.1 DEFINISI Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. 1994 ). oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansoer Orief. typhus dan para typhus abdominalis (. 1999 ). ( Syaifullah Noer. 3 . salmonella type A. typhoid disebut juga paratyphoid fever. Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella Thypi ( Arief Maeyer. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis. 1996 ). penularan terjadi secara pecal. enteric fever.C. Dari beberapa pengertian diatasis dapat disimpulkan sebagai berikut.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Typhoid adalah penyakit infeksi pada usus halus. Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A. 1999).C.

anorexia dan mual. Fly(lalat). Fingers(jari tangan/kuku). Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain.3 MANIFESTASI KLINIK Masa tunas typhoid 10 – 14 hari a Minggu I pada umumnya demam berangsur naik. dan melalui Feses.4 PATOFISIOLOGI Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat. Salmonella para typhi A. meteorismus. pinggirnya hiperemi). Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan 4 . hepatomegali. bradikardi.2. B dan C.2 ETIOLOGI Etiologi typhoid adalah salmonella typhi. terutama sore hari dan malam hari. kotor. nyeri kepala. ada dua sumber penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier. Fomitus (muntah). 2. Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun. perasaan tidak enak di perut. Dengan keluhan dan gejala demam. batuk. obstipasi / diare. epitaksis. penurunan kesadaran. dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. lidah yang khas (putih. yang dikenal dengan 5F yaitu Food(makanan). b Minggu II pada minggu II gejala sudah jelas dapat berupa demam. nyeri otot. 2.

Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung. lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. WOC Bakteri Sallmonella Typhi 5 . Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. kuman selanjutnya masuk limpa.makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. usus halus dan kandung empedu. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang. karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid.

peyeri reaksi inflamasi sistemik erosi pembuluh darah timbul gejala -Malaise -mialgia -sakit kepala -gangguan mental -koagulasi menembus perdarahan lapisan mukosa usus & otot perforasi mesenterial peritonitis Gangguan rasa nyaman:hiperte rmi hepatomegali Gangguan keseimbangan cairan dan nyeri tekan elektrolit gangguan rasa nyaman: nyeri 6 .Sebagian dimusnahkan dalam lambung dalam usus Bakteri mati berkembang biak lolos masuk ke bakteri Kuman bakteri dibawa ke plague peyeri ileum distal Kelenjar getah bening mesenterika Duktus torasikus Masuk sirkulasi darah (bakteriemi) Bakteri berkembang biak di ektraseluler Organ/sinusoid Hati Kandung empedu Lumen usus Sebagian keluar Melalui feses menembus usus makrofag suadah teraktivasi Hiperaktif melepas sitokin limpa endotoksin spenomegali Menempel mual tidak ada di reseptor sel nafsu makan endotel hiperplasi & nekrosis Gangguan pemenuhan nutrisi demam reaksi hyperplasia plek.

empiema. Diet. dan pleuritis. sindroma Guillain bare dan sidroma katatonia. sesuai dengan pulihnya tranfusi bila ada komplikasi perdarahan. tromboplebitis. pyelonepritis dan perinepritis. miokarditis. – – Perawatan. Komplikasi neuropsikiatrik : delirium. dan syndroma uremia hemolitik. Komplikasi pada tulang : osteomyolitis.6 PENATALAKSANAAN 1. Komplikasi paru : pneumonia. Komplikasi darah : anemia hemolitik.2. meningitis. trombosis. spondilitis dan arthritis. Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas. meningiusmus. Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis. trobositopenia. Komplikasi extra intestinal – – – – – – – Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis). polineuritis perifer. 7 .5 KOMPLIKASI a) Komplikasi intestinal – – – Perdarahan usus Perporasi usus Ilius paralitik a. kolesistitis. 2. osteoporosis. Klien diistirahatkan 7 hari sampai demam tulang atau 14 hari untuk mencegah komplikasi perdarahan usus. 2. Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis.

dapat diberikan secara oral atau intravena. Kloramfenikol. Dosis 2 x 2 tablet (satu tablet mengandung 400 mg sulfametoksazol dan 80 mg trimetoprim) – Ampisilin dan amoksilin. Dosis berkisar 50-150 mg/kg BB. Obat-obatan.– – – – Diet yang sesuai . selama 2 minggu – Sefalosporin Generasi Ketiga. sampai 7 hari bebas panas – – Tiamfenikol. Dosis yang diberikan adalah 4 x 500 mg perhari. Dosis yang diberikan 4 x 500 mg per hari.cukup kalori dan tinggi protein. – Kortimoksazol. dosis 3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc. Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring. Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari. Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim. diberikan selama ½ jam per-infus sekali sehari. selama 3-5 hari Golongan Fluorokuinolon Norfloksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 14 hari 8 . 3.

Pada kebanyakan kasus demam typhoid. (Widiastuti S. karena telah terbukti sering ditemukan dua macam organisme dalam kultur darah selain kuman Salmonella typhi. syok septik. 2) Pemeriksaan SGOT DAN SGPT 3) SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid. yang terdiri dari : 1) Pemeriksaan leukosit Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapat leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia tidaklah sering dijumpai. Hanya diindikasikan pada keadaan tertentu seperti: Tifoid toksik. 2001) 2. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid. 4) Biakan darah 9 . jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada batas-batas normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada komplikasi atau infeksi sekunder. peritonitis atau perforasi.Siprofloksasin : dosis 2 x 500 mg/hari selama 6 hari Ofloksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 7 hari Pefloksasin : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari Fleroksasin : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari Kombinasi obat antibiotik.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan laboratorium.

• Pengobatan dengan obat anti mikroba.Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid. hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan. Hal ini dikarenakan hasil biakan darah tergantung dari beberapa faktor : • Teknik pemeriksaan Laboratorium ` Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium yang lain. Pada waktu kambuh biakan darah dapat positif kembali. Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. 5) Uji Widal 10 . • Vaksinasi di masa lampau Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat menimbulkan antibodi dalam darah klien. Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan hasil biakan mungkin negatif. tetapi bila biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. • Saat pemeriksaan selama perjalanan Penyakit. Waktu pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat bakteremia berlangsung. antibodi ini dapat menekan bakteremia sehingga biakan darah negatif.

makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid. – Aglutinin H. 4. Pengobatan dini dengan antibiotika : pengobatan dini dengan obat anti mikroba dapat menghambat pembentukan antibodi. leukemia dan karsinoma lanjut. Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit: aglutinin baru dijumpai dalam darah setelah klien sakit 1 minggu dan mencapai puncaknya pada minggu ke5 atau ke-6. Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman). yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai kuman) Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosa. – Aglutinin Vi. Penyakit – penyakit tertentu : ada beberapa penyakit yang dapat menyertai demam typhoid yang tidak dapat menimbulkan antibodi seperti agamaglobulinemia. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. 3. 2. Faktor yang berhubungan dengan klien : 1. klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu : – Aglutinin O. yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman).Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Akibat infeksi oleh salmonella thypi. Faktor – faktor yang mempengaruhi uji widal : a. 11 . Keadaan umum : gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid.

2. 2. titer aglutinin O dan H dapat meningkat. Infeksi klien dengan klinis/subklinis oleh salmonella sebelumnya : keadaan ini dapat mendukung hasil uji widal yang positif. 8. Obat-obatan imunosupresif atau kortikosteroid : obat-obat tersebut dapat menghambat terjadinya pembentukan antibodi karena supresi sistem retikuloendotelial. 3. walaupun dengan hasil titer yang rendah. Aglutinin O biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1 tahun. Aglutinasi silang : beberapa spesies salmonella dapat mengandung antigen O dan H yang sama. Vaksinasi dengan kotipa atau tipa : seseorang yang divaksinasi dengan kotipa atau tipa. 7. b. Strain salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen : ada penelitian yang berpendapat bahwa daya aglutinasi suspensi antigen dari strain salmonella setempat lebih baik dari suspensi dari strain lain. sehingga reaksi aglutinasi pada satu spesies dapat menimbulkan reaksi aglutinasi pada spesies yang lain. Oleh sebab itu titer aglutinin H pada orang yang pernah divaksinasi kurang mempunyai nilai diagnostik. Faktor-faktor Teknis 1. sedangkan titer aglutinin H menurun perlahan-lahan selama 1 atau 2 tahun. Reaksi anamnesa : keadaan dimana terjadi peningkatan titer aglutinin terhadap salmonella thypi karena penyakit infeksi dengan demam yang bukan typhoid pada seseorang yang pernah tertular salmonella di masa lalu. Konsentrasi suspensi antigen : konsentrasi ini akan mempengaruhi hasil uji widal. 6.5.8 PENCEGAHAN 12 .

hindari minum air mentah.Cara pencegahan yang dilakukan pada demam typhoid adalah cuci tangan setelah dari toilet dan khususnya sebelum makan atau mempersiapkan makanan. hindari minum susu mentah (yang belum dipsteurisasi). rebus air sampai mendidih dan hindari makanan pedas 13 .

Keluhan utama. Panas berkurang setelah minum obat parasetamol. II. Pasien sudah merasa tidak enak badan dan kurang nafsu makan sejak tgl 12-10-2001. tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. tapi hanya sebentar kemudian panas lagi. jari tangan. Faktor presipitasi dan predisposisi Faktor presipitasi dari demam typhoid adalah disebabkan oleh makanan yang tercemar oleh salmonella typhoid dan salmonella paratyphoid A. Badan panas. muntah. pusing. Riwayat penyakit sekarang. badan panas. lalat dan feses. makan makanan yang tidak bersih dan pedas. B. B dan C yang ditularkan melalui makanan. mual.1 PENGKAJIAN I. serta muntah diperberat bila klien makan tidak teratur. perut terasa nyeri. Faktor predisposisinya adalah minum air mentah. Riwayat penyakit. 14 . Pada hari senin pasien dibawa ke RSU Banjarbaru dan dirawat inap. disertai dengan sakit kepala. A. dari wc dan menyiapkan makanan. tidak ada nafsu makan. sakit kepala. mual dan ada muntah.BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3.

muntah. Pemeriksaan Fisik A. pasien juga tidak pernah dirawat di RS. Keadaan umum 15 . Pasien juga diketahui sering pingsan bila merasa kelelahan. dan sembuh setelah minum obat biasa yang dijual di pasaran. Pola Fungsi kesehatan Pola nutrisi dan metabolisme Biasanya nafsu makan klien berkurang karena terjadi gangguan pada usus halus.C. Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami penyakit seperti sekarang ini. Riwayat Kesehatan Keluarga Apakah ada dalam keluarga pasien yang sakit seperti pasien. mual. pilek dan batuk. Riwayat penyakit terdahulu. F. E. Pola istirahat dan tidur Selama sakit pasien merasa tidak dapat istirahat karena pasien merasakan sakit pada perutnya. kadang diare. pernah sakit biasa seperti flu. Riwayat Psikososial Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas / sedih) Interpersonal : hubungan dengan orang lain. III. D.

Nadi. perkusi). akral hangat.Kesadaran dan keadaan umum pasien. sehingga dapat dihitung kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan. disamping itu juga penimbangan BB untuk mengetahui adanya penurunan BB karena peningakatan gangguan nutrisi yang terjadi. Respirasi. Kardiovaskuler B2 (blood) Irama jantung Nyeri dada Bunyi jantung Akral : teratur : tidak ada : tidak ada bunyi jantung tambahan : Tangan bentuk simetris. Pernafasan B1 (breath) Bentuk dada Pola nafas Suara nafas Sesak nafas Retraksi otot bantu nafas Alat bantu pernafasan : simetris : teratur : tidak ada bunyi nafas tambahan : tidak ada sesak nafas : tidak ada : tidak ada alat bantu pernafasan 2. palpasi. Tanda – tanda vital dan pemeriksaan fisik Kepala – kaki . 1. Kesadaran pasien perlu di kaji dari sadar – tidak sadar (composmentis – coma) untuk mengetahui berat ringannya prognosis penyakit pasien. tidak ada peradangan sendi dan oedem. dapat bergerak dengan bebas. tangan kanan 16 . auskultasi. B. Temperatur yang merupakan tolak ukur dari keadaan umum pasien / kondisi pasien dan termasuk pemeriksaan dari kepala sampai kaki dengan menggunakan prinsip-prinsip inspeksi.

rata-rata4-6 X sehari. mukosa hidung merah muda. konjungtiva tampak anemis.terpasang infus. mukosa lubang hidung merah muda. Penciuman (hidung) polip. Kesadaran : kompos mentis : Penciuman dapat membedakan bau-bauan. sekret tidak ada. Pencernaan B5 (bowel) 17 . produksi air mata (+). 5. tidak ada terlihat pembesaran mukosa atau 4. tidak menggunakan alat bantu penglihatan. Pendengaran (telinga) : Bentuk D/S simetris. dapat merespon setiap pertanyaan yang diajukan dengan tepat. tidak ada cairan dan serumen. Prsyarafan B3 (brain) Penglihatan (mata) : Gerakan bola mata dan kelopak mata simetris. Perkemihan B4 (bladder) Kebersiahan Bentuk alat kelamin Uretra Produksi urin : bersih : normal : normal : normal. akral hangat. tidak menggunakan alat bantu. 3. tidak ada pembatasan gerak dan oedem. tidak pernah ada keluhan batu atau nyeri. Kaki bentuk simetris. pupil bereaksi terhadap cahaya. sklera putih. BAK tidak menentu.

tidak teerlihat - Mukosa : pucat 6. Kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi atau informasi yang tidak adekuat. 18 . tidak ada pembengkakan gusi. Musculoskeletal/integument B6 (bone) - Kemampuan pergerakan sendi Kondisi tubuh : normal : kelelahan. c. lidah tampak kotor ( keputihan ). Intoleransi aktivitas berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolisme sekunder terhadap infeksi akut e.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa yang mungkin muncul pada klien typhoid adalah : a. Resiko tinggi gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi salmonella thypi. Resiko tinggi ketidakseimbangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan hipertermi dan muntah. d. b.- Nafsu makan Porsi makan Mulut pembesaran tonsil : anoreksia : ¼ porsi : Bibir tampak kering. gigi lengkap. malaise 3.

maka rumusan perencanaan keperawatan pada klien dengan typhoid. tanda-tanda vital (TD. adalah sebagai berikut : Diagnosa. Kaji tanda vital Rasional : 19 . 1 Resiko tinggi gangguan ketidak seimbangan volume cairan dan elektrolit.3 RENCANA KEPERAWATAN Berdasarkan diagnosa keperawatan secara teoritis. tanda-tanda dehidrasi tidak ada Intervensi a. N dan RR) dalam batas normal.3. S. Awasi masukan dan keluaran perkiraan kehilangan cairan yang tidak terlihat Rasional: Memberikan informasi tentang keseimbangan cairan dan elektrolit penyakit usus yang merupakan pedoman untuk penggantian cairan b. Observasi kulit kering berlebihan dan membran mukosa turgor kulit dan pengisian kapiler Rasional: Menunjukkan kehilangan cairan berlebih atau dehidrasi c. kurang dari kebutuhan berhubungan dengan hipertermia dan muntah. Tujuan Ketidak seimbangan volume cairan tidak terjadi Kriteria hasil Membran mukosa bibir lembab.

Dorong tirah baring Rasional: Menurunkan kebutuhan metabolic untuk meningkatkan penurunan kalori dan simpanan energi b. Pertahankan pembatasan peroral. Anjurkan istirahat sebelum makan Rasional: 20 . konjungtiva dan membran mukosa bibir tidak pucat. 2 Resiko tinggi pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat Tujuan Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh tidak terjadi Kriteria hasil Nafsu makan bertambah. Kolaborasi utnuk pemberian cairan parenteral Rasional: Mempertahankan istirahat usus akan memerlukan cairan untuk mempertahankan kehilangan Diagnosa. tirah baring Rasional: Kalau diistirahkan utnuk penyembuhan dan untuk penurunan kehilangan cairan usus e. Intervensi a. nilai bising usus/peristaltik usus normal (6-12 kali per menit) nilai laboratorium normal. menunjukkan berat badan stabil/ideal.Dengan menunjukkan respon terhadap efek kehilangan cairan d.

Kolaborasi pemberian nutrisi. nadi dan pernafasan dalam batas normal bebas dari kedinginan dan tidak terjadi komplikasi yang berhubungan dengan masalah typhoid.Menenangkan peristaltic dan meningkatkan energi makan c. sementara memberikan nutrisi penting. Intervensi a. Diagnosa 3 Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi salmonella thypi Tujuan Hipertermi teratasi Kriteria hasil Suhu. terapi IV sesuai indikasi Rasional: Program ini mengistirahatkan saluran gastrointestinal. Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat Rasional: Nutrisi yang adekuat akan membantu proses f. Berikan kebersihan oral Rasional : Mulut bersih dapat meningkatkan nafsu makan d. Sediakan makanan dalam ventilasi yang baik. Pantau suhu klien Rasional: Suhu 380 C sampai 41.10 C menunjukkan proses peningkatan infeksius akut 21 . lingkungan menyenangkan Rasional: Lingkungan menyenangkan menurunkan stress dan konduktif untuk makan e.

b. berikan perawatan kulit yang baik Rasional: Meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk 22 . pantau suhu lingkungan. bergerak dan menunjukkan peningkatan kekuatan otot. mempertahankan suhu mendekati normal c. batasi atau tambahkan linen tempat tidur sesuai dengan indikasi Rasional: Suhu ruangan atau jumlah selimut harus dirubah. Berikan kompres mandi hangat Rasional : Dapat membantu mengurangi demam. d. Ubah posisi dengan sering. Kolaborasi pemberian antipiretik Rasional: Untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya hipotalamus Diagnosa 4 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolisme sekunder terhadap infeksi akut Tujuan Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktivitas Kriteria hasil Mampu melakukan aktivitas. Intervensi a. Tingkatkan tirah baring dan berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung Rasional: Menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan b.

tanda-tanda infeksi dan bebas dari sekresi purulen/drainase serta febris. N. bengkak. radio) Rasional: Meningkatkan relaksasi dan hambatan energy Diagnosa 5 Resti infeksi sekunder berhubungan dengan tindakan invasive Tujuan Infeksi tidak terjadi Kriteria hasil Bebas dari eritema. monitor tanda-tanda infeksi dan antiseptik sesuai dengan kondisi balutan infus.menurunkan resiko kerusakan jaringan c. Tingkatkan aktifitas sesuai toleransi Rasional : Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan karena keterbatasan aktifitas yang menganggu periode istirahat d. Berikan aktifitas hiburan yang tepat (nonton TV. RR dan RR). Diagnosa 6 23 . Intervensi Observasi tanda-tanda vital (S. dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti biotik sesuai indikasi. Observasi kelancaran tetesan infus.

cairan dan faktor pola hidup dapat mencetuskan gejala 3.Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurang informasi atau informasi yang tidak adekuat Tujuan Pengetahuan keluarga meningkat Kriteria hasil Menunjukkan pemahaman tentang penyakitnya. maka evaluasi yang di harapkan untuk klien dengan gangguan sistem pencernaan typhoid adalah : tanda-tanda vital stabil. Kaji ulang proses penyakit. melalui perubahan gaya hidup dan ikut serta dalam pengobatan. berikan nformasi tentang cara mempertahankan pemasukan makanan yang memuaskan dilingkungan yang jauh dari rumah Rasional: Membantu individu untuk mengatur berat badan b. sehingga kebutuhan pasien untuk waspada terhadap makanan.4 EVALUASI Berdasarkan implementasi yang di lakukan. klien 24 . Intervensi: a. tidak terjadi hipertermia. Tentukan persepsi tentang proses penyakit Rasional: Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadaran kebutuhan belajar individu c. kebutuhan cairan terpenuhi. kebutuhan nutrisi terpenuhi. penyebab/efek hubungan faktor yang menimbulkan gejala dan mengidentifikasi cara menurunkan faktor pendukung Rasional : Faktor pencetus/pemberat individu.

infeksi tidak terjadi dan keluaga klien mengerti tentang penyakitnya. 25 .dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri.

urinalisis.Interprestasi hasil reaksi Widal ditandai dengan adanya aglutinasi pada titer paling rendah. kimia klinis. Vaksinasi yang diberikan belum lama berselang dapat meningkatkan titer agglutinin. imunoserologis. Diagnosis laboratorium meliputi pemeriksaan dari hematologi. Penyakit ini endemis di Indonesia dan potensial berbahaya dengan penyulit yang dapat menyebabkan kematian. Penting untuk mengetahui kelebihan dan disesuaikan dengan waktu (sudah berapa hari sakit saat akan diperiksa) dengan beberapa metode pemerikasaan yang biasa digunakan yaitu Widal dan Eliza juga jenis bahan spesimen serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.2 EBP 26 . Telah dibahas gejala klinis dan diagnosis laboratorium penyakit demam tifoid yang disebabkan oleh infeksi Salmonella typhoid dan Salmonella paratyphoid. Salmonella yang mencari makanan dan minuman dapat berkembang biak dengan cepat karena keadaan lingkungan. Beberapa pakar menyatakan bahwa titer agglutinin sebesar 1/40 atau 1/80 masih dianggap normal. Salmonella merupakan kuman yang tersebar secara luas di sekeliling kita. Dari uraian di atas dapat di tarik kesimpulan mengenai hasil pengumpulan data bahwa di daerah yang kurang memperhatikan kebersihan lingkungan kemungkinan besar dapat dengan mudah terinfeksi Salmonella typhoid dan Salmonella paratyphoid yang datang baik dari unsur makanan dan minuman yang tela terkontaminasi oleh kuman tersebut. Kemampuan para tenaga medis untuk dapat mendiagnosis dini penting untuk penyembuhan dan pencegahan timbulnya penyulit. Maka dari itu kebersihan lingkungan maupun makanan sangatlah penting untuk menjaga agar tidak terinfksi. Oleh karena itu ada kemungkinan bahwa dalam darah seseorang yang tidak sakit dijumpai sejumlah antibody terhadap Salmonella. khususnya agglutinin H.BAB IV PENUTUP 4. 4. sehingga besar sekali kemungkinan seseorang terinfeksi tanpa diketahui.1 KESIMPULAN Wabah Salmonella dapat terjadi di mana-mana terutama didaerah yang tidak memperhatikan kebesihan makanan dan air. mikrobiologi biakan sampai PCR.

Tes TUBEX® merupakan tes aglutinasi kompetitif semi kuantitatif yang sederhana dan cepat (kurang lebih 2 menit) dengan menggunakan partikel yang berwarna untuk meningkatkan sensitivitas. pada penderita dewasa lebih banyak terjadi konstipasi dibandingkan dengan diare. badan lemah. pada penderita kulit putih 25% diantaranya menunjukkan adanya “rose spot” pada tubuhnya. Namun sebenarnya penyakit itu murni disebabkan bakteri yang menyerang usus halus (Siti M. (Prasetyo. 600. saat ini CFR kurang dari 1% jika segera diberikan pengobatan dengan antibiotika yang tepat. pendengaran berkurang dan parotitis. anoreksia. Thypoid Adalah penyakit sistemik yang disebabkan oleh bakteri ditandai dengan demam insidius yang berlangsung lama. CFR pada waktu belum ditemukannya antibiotika bisa mencapai 10 – 20%. sakit kepala yang berat. Demam timbul tanpa disertai keringat. hal ini sering terjadi pada penderita yang terlambat diobati. Insiden demam Thypoid di seluruh dunia menurut data pada tahun 2003 sekitar 16 juta per tahun. batuk tidak produktif pada awal penyakit. 27 . bradikardi relatif. Gejala lebih sering berupa gejala yang ringan dan tidak khas. splenomegali. Ada dua sumber penularan Salmonella thypi yaitu pasien yang menderita demam Thypoid dan carrier yaitu orang yang telah sembuh dari demam Thypoid namun masih mengeksresikan Salmonella thypii dalam tinja selama lebih dari satu tahun. kejadian meningkat setelah umur 5 tahun. Pada demam Thypoid dapat terjadi ulserasi pada plaques peyeri pada ileum yang dapat menyebabkan terjadinya perdarahan atau perforasi (sekitar 1% dari kasus).Penyakit Thypoid sering dihubungkan masyarakat awam dengan seseorang yang sering kelelahan seperti suka bergadang dan makan tidak teratur. 2009). Di Indonesia prevalensi 91% kasus demam Thypoid terjadi pada umur 3-19 tahun. gangguan berfikir. Spesifisitas ditingkatkan dengan menggunakan antigen O9 yang benar-benar spesifik yang ditemukan pada Salmonella serogrup D. 2006). Tes ini sangat akurat untuk diagnosis infeksi akut karena hanya mendeteksi antibodi IgM dan tidak mendeteksi antibodi IgG dalam waktu beberapa menit.000 di antaranya menyebabkan kematian.

Penelitian oleh Lim dkk (2002) mendapatkan hasil sensitivitas 100% dan spesifisitas 100%.Tes ini mempunyai sensitivitas dan spesifisitas lebih baik daripada uji Widal. Penelitian lain mendapatkan sensitivitas sebesar 78% dan spesifisitas sebesar 89%. terutama di negara berkembang 28 . dapat digunakan untuk pemeriksaan secara rutin karena cepat. Tes ini dapat menjadi pemeriksaan ideal. mudah dan sederhana.

DAFTAR PUSTAKA Sudoyo.wordpress.wordpress. 2007.EGC: Jakarta http://hanikamioji. Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK Universitas Indonesia : Jakarta Carpenito.com/2008/01/21/demam-tifoid/ 29 . Buku Saku Keperawatan. Edisi IV. Aru. L. J (1997).com/2009/04/23/askep-typhoid/ http://herymrt.W dkk. Edisi VI. Ilmu Penyakit Dalam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful