0 | P a g e

Tugas Kimia Analitik
Analisis BOD dan COD dalam Penentuan Baku Mutu Air
Limbah




ܓ
ܓ ܓ ܢ ܓ ܓ ܣ ܣ ܣ ܣ
ܓ ܡ ܡ ܓ ܓ ܢ ܓ ܣ ܣ ܣ ܣ
ܓ ܡ ܓ ܓ ܢ ܓ ܣ ܣ ܣ ܣ
ܓ ܓ ܓ ܢ ܓ ܣ ܣ ܣ ܣ ܤ
ܓ ܓ ܢ ܓ ܣ ܣ ܣ ܣ








©2010
Departemen Teknik Kimia
Fakultas Teknik
1 | P a g e

Universitas Sumatera Utara
Medan
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Di dalam kasus-kasus pencemaran perairan, baik itu laut, sungai, danau
maupun waduk, seringkali diberitakan bahwa nilai BOD dan COD perairan
telah melebihi baku mutu. Atau sebaliknya, pada kasus pencemaran lainnya
yang mendapat protes dari masyarakat sehubungan dengan adanya limbah
industri, ditanggapi dengan dalih bahwa nilai BOD dan COD perairan masih
memenuhi baku mutu.

Dalam salah satu harian (Kompas edisi Senin, 12 Desember 1994) juga
terdapat suatu berita dengan judul ³Sebaiknya, parameter BOD dan COD tak
dipakai penentu baku mutu limbah´ yang kurang lebih merupakan pendapat
dari salah satu pakar bioremediasi lingkungan dari Universitas Sriwijaya,
Palembang. Menurut pakar tersebut, dalam banyak kasus kesimpulan yang
hanya didasarkan pada hasil analisis BOD dan COD (juga pH) belum
merupakan jawaban ada tidaknya pencemaran lingkungan oleh suatu industri.
Di sisi lain, BOD dan COD adalah parameter yang menjadi baku mutu
berbagai air limbah industri selain beberapa parameter kunci lainnya.
Nampaknya terdapat persepsi pada sementara kalangan yang menempatkan
BOD dan COD agak berlebihan dari yang seharusnya.

1.2 Tujuan
Makalah ini dibuat untuk mengkaji apa itu sebenarnya BOD dan COD,
bagaimana cara atau prinsip pengukurannya, dan peranan BOD dan COD di
dalam penentuan baku mutu air limbah.

1.3 Manfaat
2 | P a g e

Agar dapat mengetahui dan memahami BOD dan COD serta peranannya
dalam penentuan baku mutu air limbah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pendahuluan
Kehidupan mikroorganisme, seperti ikan dan hewan air lainnya, tidak terlepas
dari kandungan oksigen yang terlarut di dalam air, tidak berbeda dengan
manusia dan mahluk hidup lainnya yang ada di darat, yang juga memerlukan
oksigen dari udara agar tetap dapat bertahan. Air yang tidak mengandung
oksigen tidak dapat memberikan kehidupan bagi mikro organisme, ikan dan
hewan air lainnya. Oksigen yang terlarut di dalam air sangat penting artinya
bagi kehidupan.

Untuk memenuhi kehidupannya, manusia tidak hanya tergantung pada
makanan yang berasal dari daratan saja (beras, gandum, sayuran, buah,
daging, dll), akan tetapi juga tergantung pada makanan yang berasal dari air
(ikan, kerang, cumi-cumi, rumput laut, dll).

Tanaman yang ada di dalam air, dengan bantuan sinar matahari, melakukan
fotosintesis yang menghasilkan oksigen. Oksigen yang dihasilkan dari
fotosintesis ini akan larut di dalam air. Selain dari itu, oksigen yang ada di
udara dapat juga masuk ke dalam air melalui proses difusi yag secara lambat
menembus permukaan air. Konsentrasi oksigen yang terlarut di dalam air
tergantung pada tingkat kejenuhan air itu sendiri. Kejenuhan air dapat
disebabkan oleh koloidal yang melayang di dalam air oleh jumlah larutan
limbah yang terlarut di dalam air. Selain dari itu suhu air juga mempengaruhi
konsentrasi oksigen yang terlarut di dalam air. Tekanan udara dapat pula
mempengaruhi kelarutan oksigen di dalam air. Tekanan udara dapat pula
mempengaruhi kelarutan oksigen di dalam air karena tekanan udara
mempengaruhi kecepatan difusi oksigen dari udara ke dalam air.
3 | P a g e


Kemajuan industri dan teknologi seringkali berdampak pula terhadap keadaan
air lingkungan, baik air sungai, air laut, air danau maupun air tanah. Dampak
ini disebabkan oleh adanya pencemaran air yang disebabkan oleh berbagai
hal seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Salah satu cara untuk menilai
seberapa jauh air lingkungan telah tercemar adalah dengan melihat
kandungan oksigen yang terlarut di dalam air.

Pada umumnya air lingkungan yang telah tercemar kandungan oksigennya
sangat rendah. Hal itu karena oksigen yang terlarut di dalam air diserap oleh
mikroorganisme untuk memecah/mendegradasi bahan buangan organik
sehingga menjadi bahan yang mudah menguap (yang ditandai dengan bau
busuk). Selain dari itu, bahan buangan organik juga dapat bereaksi dengan
oksigen yang terlarut di dalam air organik yang ada di dalam air, makin
sedikit sisa kandungan oksigen yang terlarut di dalamnya. Bahan buangan
organik biasanya berasal dari industri kertas, industri penyamakan kulit,
industri pengolahan bahan makanan (seperti industri pemotongan daging,
industri pengalengan ikan, industri pembekuan udang, industri roti, industri
susu, industri keju dan mentega), bahan buangan limbah rumah tangga, bahan
buangan limbah pertanian, kotoran hewan dan kotoran manusia dan lain
sebagainya.

Dengan melihat kandungan oksigen yang terlarut di dalam air dapat
ditentukan seberapa jauh tingkat pencemaran air lingkungan telah terjadi.
Cara yang ditempuh untuk maksud tersebut salah satunya adalah dengan uji
BOD dan COD.

2.2 Pengertian BOD dan COD
BOD atau Biochemical Oxygen Demand adalah suatu karakteristik yang
menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme
(biasanya bakteri) untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik
dalam kondisi aerobik (Umaly dan Cuvin, 1988; Metcalf & Eddy, 1991).
4 | P a g e

Ditegaskan lagi oleh Boyd (1990), bahwa bahan organik yang terdekomposisi
dalam BOD adalah bahan organik yang siap terdekomposisi (readily
decomposable organic matter). Mays (1996) mengartikan BOD sebagai suatu
ukuran jumlah oksigen yang digunakan oleh populasi mikroba yang
terkandung dalam perairan sebagai respon terhadap masuknya bahan organik
yang dapat diurai. Dari pengertian ini dapat dikatakan bahwa walaupun nilai
BOD menyatakan jumlah oksigen, tetapi untuk mudahnya dapat juga
diartikan sebagai gambaran jumlah bahan organik mudah urai (biodegradable
organics) yang ada di perairan.

Sedangkan COD atau Chemical Oxygen Demand adalah jumlah oksigen yang
diperlukan untuk mengurai seluruh bahan organik yang terkandung dalam air
(Boyd, 1990). Hal ini karena bahan organik yang ada sengaja diurai secara
kimia dengan menggunakan oksidator kuat kalium bikromat pada kondisi
asam dan panas dengan katalisator perak sulfat (Boyd, 1990; Metcalf &
Eddy, 1991), sehingga segala macam bahan organik, baik yang mudah urai
maupun yang kompleks dan sulit urai, akan teroksidasi. Dengan demikian,
selisih nilai antara COD dan BOD memberikan gambaran besarnya bahan
organik yang sulit urai yang ada di perairan. Bisa saja nilai BOD sama
dengan COD, tetapi BOD tidak bisa lebih besar dari COD. Jadi COD
menggambarkan jumlah total bahan organik yang ada.

2.3 Metode pengukuran BOD dan COD
Prinsip pengukuran BOD pada dasarnya cukup sederhana, yaitu mengukur
kandungan oksigen terlarut awal (DOi) dari sampel segera setelah
pengambilan contoh, kemudian mengukur kandungan oksigen terlarut pada
sampel yang telah diinkubasi selama 5 hari pada kondisi gelap dan suhu tetap
(20
o
C) yang sering disebut dengan DO5. Selisih DOi dan DO5 (DOi - DO5)
merupakan nilai BOD yang dinyatakan dalam miligram oksigen per liter
(mg/L). Pengukuran oksigen dapat dilakukan secara analitik dengan cara
titrasi (metode Winkler, iodometri) atau dengan menggunakan alat yang
disebut DO meter yang dilengkapi dengan probe khusus. Jadi pada prinsipnya
5 | P a g e

dalam kondisi gelap, agar tidak terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan
oksigen, dan dalam suhu yang tetap selama lima hari, diharapkan hanya
terjadi proses dekomposisi oleh mikroorganime, sehingga yang terjadi
hanyalah penggunaan oksigen, dan oksigen tersisa ditera sebagai DO5. Yang
penting diperhatikan dalam hal ini adalah mengupayakan agar masih ada
oksigen tersisa pada pengamatan hari kelima sehingga DO5 tidak nol. Bila
DO5 nol maka nilai BOD tidak dapat ditentukan.

Pada prakteknya, pengukuran BOD memerlukan kecermatan tertentu
mengingat kondisi sampel atau perairan yang sangat bervariasi, sehingga
kemungkinan diperlukan penetralan pH, pengenceran, aerasi, atau
penambahan populasi bakteri. Pengenceran dan/atau aerasi diperlukan agar
masih cukup tersisa oksigen pada hari kelima.

Karena melibatkan mikroorganisme (bakteri) sebagai pengurai bahanorganik,
maka analisis BOD memang cukup memerlukan waktu. Oksidasi biokimia
adalah proses yang lambat. Dalam waktu 20 hari, oksidasi bahan organik
karbon mencapai 95 ± 99 %, dan dalam waktu 5 hari sekitar 60 ± 70 % bahan
organik telah terdekomposisi (Metcalf & Eddy, 1991). Lima hari inkubasi
adalah kesepakatan umum dalam penentuan BOD. Bisa saja BOD ditentukan
dengan menggunakan waktu inkubasi yang berbeda, asalkan dengan
menyebutkan lama waktu tersebut dalam nilai yang dilaporkan (misal BOD7,
BOD10) agar tidak salah dalam interpretasi atau memperbandingkan.
Temperatur 20
o
C dalam inkubasi juga merupakan temperatur standard.
Temperatur 20
o
C adalah nilai rata-rata temperatur sungai beraliran lambat di
daerah beriklim sedang (Metcalf & Eddy, 1991) dimana teori BOD ini
berasal. Untuk daerah tropik seperti Indonesia, bisa jadi temperatur inkubasi
ini tidaklah tepat. Temperatur perairan tropik umumnya berkisar antara 25 ±
30
o
C, dengan temperatur inkubasi yang relatif lebih rendah bisa jadi aktivitas
bakteri pengurai juga lebih rendah dan tidak optimal sebagaimana yang
diharapkan. Ini adalah salah satu kelemahan lain BOD selain waktu
penentuan yang lama tersebut.
6 | P a g e


Metode pengukuran COD sedikit lebih kompleks, karena menggunakan
peralatan khusus reflux, penggunaan asam pekat, pemanasan, dan titrasi
(APHA, 1989, Umaly dan Cuvin, 1988). Peralatan reflux (Gambar 1)
diperlukan untuk menghindari berkurangnya air sampel karena pemanasan.
Pada prinsipnya pengukuran COD adalah penambahan sejumlah tertentu
kalium bikromat (K
2
Cr
2
O
7
) sebagai oksidator pada sampel (dengan volume
diketahui) yang telah ditambahkan asam pekat dan katalis perak sulfat,
kemudian dipanaskan selama beberapa waktu. Selanjutnya, kelebihan kalium
bikromat ditera dengan cara titrasi. Dengan demikian kalium bikromat yang
terpakai untuk oksidasi bahan organik dalam sampel dapat dihitung dan nilai
COD dapat ditentukan. Kelemahannya, senyawa kompleks anorganik yang
ada di perairan yang dapat teroksidasi juga ikut dalam reaksi (De Santo,
1978), sehingga dalam kasus-kasus tertentu nilai COD mungkin sedikit µover
estimate¶ untuk gambaran kandungan bahan organik.

Bilamana nilai BOD baru dapat diketahui setelah waktu inkubasi lima hari,
maka nilai COD dapat segera diketahui setelah satu atau dua jam. Walaupun
jumlah total bahan organik dapat diketahui melalui COD dengan waktu
penentuan yang lebih cepat, nilai BOD masih tetap diperlukan. Dengan
mengetahui nilai BOD, akan diketahui proporsi jumlah bahan organik yang
mudah urai (biodegradable), dan ini akan memberikan gambaran jumlah
oksigen yang akan terpakai untuk dekomposisi di perairan dalam sepekan
(lima hari) mendatang. Lalu dengan memperbandingkan nilai BOD terhadap
COD juga akan diketahui seberapa besar jumlah bahan-bahan organik yang
lebih persisten yang ada di perairan.

2.4 Contoh Perhitungan BOD dan COD
y Perhitungan BOD
Sampel sebanyak 5ml, sebelum diinkubasi kandungan oksigen yang
terlarutnya (DO) sebesar 150 ppm.
Setelah masa inkubasi selama 5 hari DO nya sebesar 125 ppm.
7 | P a g e


Jadi,
BOD = 5 X [ kadar { DO(0 hari) - DO(5 hari) }] mg/l
= 5 x [50-25] mg/l
= 125 ppm

y Perhitungan COD
Sampel sebanyak 5ml, dititrasi dengan FAS
Volume titrasi blanko = 10,5 ml
Volume titrasi sampel = 8,5 ml
C0B ൌ
ͺͲͲͲ ሺbǦsሻ n
volǤ sampel


ͺͲͲͲ ሺͳͲǡͷǦͺǡͷሻ Ͳǡͳ
ͷ ml

ൌ ͵ʹͲ
gi
ml


2.5 Baku Mutu Air Limbah
Dalam rangka konservasi lingkungan, pemerintah telah menetapkan baku
mutu limbah cair yang dihasilkan oleh berbagai industri dan kegiatan lainnya
dalam suatu Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. Dalam
surat keputusan Menteri Lingkungan Hidup KEP-51/MENLH/10/1995
(Ekonorma, 1996) ditetapkan baku mutu limbah cair dari 21 jenis kegiatan
industri, yang meliputi:
‡ industri soda kaustik
‡ pelapisan logam
‡ penyamakan kulit
‡ minyak sawit
‡ pulp dan kertas
‡ karet
‡ gula
‡ tapioka
‡ tekstil
‡ pupuk urea
8 | P a g e

‡ ethanol
‡ MSG
‡ kayu lapis
‡ susu dan makanan dari susu
‡ minuman ringan
‡ industri bir
‡ sabun, deterjen & produksi minyak nabati
‡ baterai kering
‡ industri cat
‡ farmasi, dan
‡ industri pestisida.

Selain itu juga telah ditetapkan baku mutu limbah cair atau air limbah
kegiatan-kegiatan lainnya seperti:
‡ kegiatan perhotelan (KEP-52/MENLH/10/1995),
‡ kegiatan rumah sakit (KEP-58/MENLH/12/1995),
‡ kegiatan minyak dan gas serta panas bumi (KEP-42/MENLH/10/1996),
‡ kegiatan domestik (Kep. MENLH No. 112 Tahun 2003), dan
‡ baku mutu air limbah kegiatan pertambangan batu bara (Kep. MENLH No.
113 Tahun 2003).
Di antara berbagai kegiatan tersebut hanya kegiatan industri soda kaustik,
pelapisan logam, eksplorasi dan produksi panas bumi, pengilangan LNG dan
LPG terpadu, serta kegiatan penambangan dan pengolahan batu bara yang
baku mutu air limbahnya tidak menggunakan parameter BOD dan COD. Pada
industri dan kegiatan lainnya, baku mutu air limbahnya menggunakan BOD
dan COD, di samping pH, TSS dan parameter kunci lainnya.






9 | P a g e

Tabel 2.1 Tabel Parameter yang Digunakan dalam Baku Mutu Air Limbah
Berbagai Industri atau Kegiatan


(SK MENLH tahun 1995, 1996, 2003)

Bila kita cermati baku mutu air limbah yang ada (Tabel 2.1), nampak bahwa
walaupun BOD dan COD terpakai sebagai parameter baku mutu air limbah
dari hampir semua kegiatan, tetapi keberadaannya adalah bersama-sama
dengan dua atau lebih parameter lain yang menjadi parameter kunci dari
kualitas air limbah kegiatan yang bersangkutan. Ini berarti, bukan hanya BOD
dan COD yang menjadi penentu pencemaran air limbah, tetapi kesemua
parameter yang menjadi baku mutu air limbah dari kegiatan yang
bersangkutan.

10 | P a g e

Dari Tabel 2.1 tersebut juga terlihat bahwa parameter pH dan TSS (total
suspended solids) misalnya, juga berperanan penting dalam baku mutu
limbah, yang lebih lanjut juga berarti berperan penting dalam penentuan
tingkat pencemaran perairan. Dari nilai pH akan dapat diketahui apakah telah
terjadi perubahan sifat asam-basa perairan dari nilai pH alaminya, bila
nilainya lebih tinggi lebih dari satu unit di atas normal berarti perairan
menjadi terlalu basa, sebaliknya bila terjadi penurunan maka perairan menjadi
terlalu asam. Bila ini terjadi, selain mengganggu biota atau ekosistem
perairan, juga akan mengurangi nilai guna air. Demikian juga TSS, bila
nilainya meningkat cukup signifikan, perairan akan tampak keruh dan
terkesan kotor sehingga tentu saja mengurangi daya guna airnya.

Dengan demikian, bila misalnya nilai BOD dan COD suatu perairan masih
normal atau memenuhi baku mutu, belum dapat disimpulkan bahwa tidak
terjadi pencemaran, bila parameter kunci lainnya tidak diketahui. Karena bila
parameter lainnya telah meningkat dan melebihi baku mutu, maka berarti ada
indikasi pencemaran di perairan. Hal ini dapat terjadi karena bila terdapat
bahan-bahan toksik (beracun) di perairan, logam berat misalnya (Mays, 1996;
APHA, 1989), nilai BOD bisa jadi rendah atau masih memenuhi baku mutu,
padahal dalam air atau perairan tersebut terkandung bahan beracun atau air
telah tercemar. Sebaliknya, bila nilai BOD dan COD telah cukup tinggi dan
melebihi baku mutu, maka sudah dapat diduga ada indikasi pencemaran
bahan organik.









11 | P a g e

BAB III
KESIMPULAN

1. BOD adalah parameter penduga jumlah oksigen yang diperlukan oleh
perairan untuk mendegradasi bahan organik yang dikandungnya, sekaligus
merupakan gambaran bahan organik mudah urai (biodegradable) yang ada
dalam air atau perairan yang bersangkutan. Bila uji BOD dilakukan tanpa
perlakuan tertentu dan dengan suhu inkubasi setara suhu perairan, maka BOD
dapat menggambarkan kemampuan perairan dalam mendegradasi bahan
organik.

2. COD adalah parameter penduga jumlah total bahan organik yang ada dalam
air atau perairan, baik yang mudah urai maupun yang sulit urai. Dengan
memperbandingkan nilai COD dan BOD, akan diketahui gambaran jumlah
bahan organik persisten (sulit urai) yang terkandung di dalamnya.

3. BOD dan COD masih diperlukan sebagai parameter dalam baku mutu air
limbah atau sebagai parameter pencemaran perairan, karena peranannya
sebagai penduga pencemaran bahan organik dan kaitannya dengan penurunan
kandungan oksigen terlarut perairan (oksigen penting bagi kehidupan biota
air dan ekosistem perairan pada umumnya). Peranan BOD dan COD bukan
sebagai penentu, tetapi setara dengan parameter lainnya yang menjadi
parameter kunci sehubungan dengan dugaan pencemaran oleh kegiatan
tertentu.







12 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA

BOYD, C.E. 1979. Water Quality in Warmwater Fish Ponds. Auburn University
Agricultural Experiment Station, Auburn, Alabama.
BOYD, C.E. 1990. Water Quality in Ponds for Aquaculture. Alabama
Agricultural Experiment Station, Auburn University, Alabama.
De SANTO, R.S. 1978. Concepts of Applied Ecology. Heidelberg Science
Library. New York: Springer-Verlag.
EKONORMA. 1996. Himpunan Peraturan Perundang-undangan Mengenai
Pengendalian Dampak Lingkungan. PPIPL BAPEDAL. Jakarta.
Harian Kompas edisi Senin, 12 Desember 1994. ³Sebaiknya, parameter BOD
dan COD tak dipakai penentu baku mutu limbah´ (artikel).
HARIYADI, SIGID. 2004. BOD dan COD sebagai Parameter Pencemaran Air
dan Baku Mutu Air Limbah. Institut Pertanian Bogor.
KEP-42/MENLH/10/1996. Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor KEP-42/MENLH/10/1996.
Kep. MENLH No. 112 Tahun 2003. Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 112 Tahun 2003.
Kep. MENLH No. 113 Tahun 2003. Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 113 Tahun 2003.
Kep. MENLH No. 51 Tahun 2004. Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 51 Tahun 2004.
MAYS, L.W. 1996. Water Resources Handbook. New York: McGraw-Hill.
METCALF & EDDY, INC. 1991. Wastewater Engineering: Treatment,
Disposal, Reuse. New York: McGraw-Hill.
UMALY, R.C. dan Ma L.A. CUVIN. 1988. Limnology: Laboratory and Field
Guide, Physico-chemical Factors, Biological Factors. National Book
Store, Inc.
Peraturan Pemerintah (PP) RI No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas
Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

Atau sebaliknya. 1. baik itu laut. dan peranan BOD dan COD di dalam penentuan baku mutu air limbah.Universitas Sumatera Utara Medan BAB I PENDAHULUAN 1. ditanggapi dengan dalih bahwa nilai BOD dan COD perairan masih memenuhi baku mutu. bagaimana cara atau prinsip pengukurannya. Nampaknya terdapat persepsi pada sementara kalangan yang menempatkan BOD dan COD agak berlebihan dari yang seharusnya. 1. Menurut pakar tersebut. seringkali diberitakan bahwa nilai BOD dan COD perairan telah melebihi baku mutu. Dalam salah satu harian (Kompas edisi Senin. Di sisi lain. 12 Desember 1994) juga terdapat suatu berita dengan judul ³Sebaiknya. dalam banyak kasus kesimpulan yang hanya didasarkan pada hasil analisis BOD dan COD (juga pH) belum merupakan jawaban ada tidaknya pencemaran lingkungan oleh suatu industri. Palembang. pada kasus pencemaran lainnya yang mendapat protes dari masyarakat sehubungan dengan adanya limbah industri. parameter BOD dan COD tak dipakai penentu baku mutu limbah´ yang kurang lebih merupakan pendapat dari salah satu pakar bioremediasi lingkungan dari Universitas Sriwijaya. BOD dan COD adalah parameter yang menjadi baku mutu berbagai air limbah industri selain beberapa parameter kunci lainnya.1 Latar Belakang Di dalam kasus-kasus pencemaran perairan. sungai.2 Tujuan Makalah ini dibuat untuk mengkaji apa itu sebenarnya BOD dan COD.3 Manfaat 1|Page . danau maupun waduk.

dll). manusia tidak hanya tergantung pada makanan yang berasal dari daratan saja (beras. 2|Page . melakukan fotosintesis yang menghasilkan oksigen. seperti ikan dan hewan air lainnya. Kejenuhan air dapat disebabkan oleh koloidal yang melayang di dalam air oleh jumlah larutan limbah yang terlarut di dalam air.Agar dapat mengetahui dan memahami BOD dan COD serta peranannya dalam penentuan baku mutu air limbah. yang juga memerlukan oksigen dari udara agar tetap dapat bertahan. daging.1 Pendahuluan Kehidupan mikroorganisme. ikan dan hewan air lainnya. Tekanan udara dapat pula mempengaruhi kelarutan oksigen di dalam air karena tekanan udara mempengaruhi kecepatan difusi oksigen dari udara ke dalam air. tidak berbeda dengan manusia dan mahluk hidup lainnya yang ada di darat. dll). oksigen yang ada di udara dapat juga masuk ke dalam air melalui proses difusi yag secara lambat menembus permukaan air. tidak terlepas dari kandungan oksigen yang terlarut di dalam air. Konsentrasi oksigen yang terlarut di dalam air tergantung pada tingkat kejenuhan air itu sendiri. Oksigen yang dihasilkan dari fotosintesis ini akan larut di dalam air. buah. kerang. akan tetapi juga tergantung pada makanan yang berasal dari air (ikan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Tekanan udara dapat pula mempengaruhi kelarutan oksigen di dalam air. sayuran. Selain dari itu. Selain dari itu suhu air juga mempengaruhi konsentrasi oksigen yang terlarut di dalam air. Tanaman yang ada di dalam air. gandum. cumi-cumi. Untuk memenuhi kehidupannya. dengan bantuan sinar matahari. Air yang tidak mengandung oksigen tidak dapat memberikan kehidupan bagi mikro organisme. Oksigen yang terlarut di dalam air sangat penting artinya bagi kehidupan. rumput laut.

industri susu. industri pengolahan bahan makanan (seperti industri pemotongan daging.Kemajuan industri dan teknologi seringkali berdampak pula terhadap keadaan air lingkungan.2 Pengertian BOD dan COD BOD atau Biochemical Oxygen Demand adalah suatu karakteristik yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme (biasanya bakteri) untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik (Umaly dan Cuvin. Hal itu karena oksigen yang terlarut di dalam air diserap oleh mikroorganisme untuk memecah/mendegradasi bahan buangan organik sehingga menjadi bahan yang mudah menguap (yang ditandai dengan bau busuk). kotoran hewan dan kotoran manusia dan lain sebagainya. Dengan melihat kandungan oksigen yang terlarut di dalam air dapat ditentukan seberapa jauh tingkat pencemaran air lingkungan telah terjadi. 3|Page . Cara yang ditempuh untuk maksud tersebut salah satunya adalah dengan uji BOD dan COD. baik air sungai. 1988. industri pembekuan udang. industri pengalengan ikan. bahan buangan limbah rumah tangga. Dampak ini disebabkan oleh adanya pencemaran air yang disebabkan oleh berbagai hal seperti yang telah diuraikan sebelumnya. industri roti. Selain dari itu. makin sedikit sisa kandungan oksigen yang terlarut di dalamnya. Salah satu cara untuk menilai seberapa jauh air lingkungan telah tercemar adalah dengan melihat kandungan oksigen yang terlarut di dalam air. industri penyamakan kulit. Pada umumnya air lingkungan yang telah tercemar kandungan oksigennya sangat rendah. bahan buangan organik juga dapat bereaksi dengan oksigen yang terlarut di dalam air organik yang ada di dalam air. air laut. air danau maupun air tanah. bahan buangan limbah pertanian. Bahan buangan organik biasanya berasal dari industri kertas. Metcalf & Eddy. industri keju dan mentega). 2. 1991).

yaitu mengukur kandungan oksigen terlarut awal (DOi) dari sampel segera setelah pengambilan contoh. 1990. Bisa saja nilai BOD sama dengan COD. Hal ini karena bahan organik yang ada sengaja diurai secara kimia dengan menggunakan oksidator kuat kalium bikromat pada kondisi asam dan panas dengan katalisator perak sulfat (Boyd. 1991). 2. Jadi pada prinsipnya 4|Page . Dari pengertian ini dapat dikatakan bahwa walaupun nilai BOD menyatakan jumlah oksigen. Metcalf & Eddy. Dengan demikian. Sedangkan COD atau Chemical Oxygen Demand adalah jumlah oksigen yang diperlukan untuk mengurai seluruh bahan organik yang terkandung dalam air (Boyd. Pengukuran oksigen dapat dilakukan secara analitik dengan cara titrasi (metode Winkler. Selisih DOi dan DO5 (DOi . tetapi BOD tidak bisa lebih besar dari COD. akan teroksidasi. 1990). kemudian mengukur kandungan oksigen terlarut pada sampel yang telah diinkubasi selama 5 hari pada kondisi gelap dan suhu tetap (20oC) yang sering disebut dengan DO5. Mays (1996) mengartikan BOD sebagai suatu ukuran jumlah oksigen yang digunakan oleh populasi mikroba yang terkandung dalam perairan sebagai respon terhadap masuknya bahan organik yang dapat diurai. baik yang mudah urai maupun yang kompleks dan sulit urai. selisih nilai antara COD dan BOD memberikan gambaran besarnya bahan organik yang sulit urai yang ada di perairan. Jadi COD menggambarkan jumlah total bahan organik yang ada.Ditegaskan lagi oleh Boyd (1990). tetapi untuk mudahnya dapat juga diartikan sebagai gambaran jumlah bahan organik mudah urai (biodegradable organics) yang ada di perairan. bahwa bahan organik yang terdekomposisi dalam BOD adalah bahan organik yang siap terdekomposisi (readily decomposable organic matter).DO5) merupakan nilai BOD yang dinyatakan dalam miligram oksigen per liter (mg/L). sehingga segala macam bahan organik.3 Metode pengukuran BOD dan COD Prinsip pengukuran BOD pada dasarnya cukup sederhana. iodometri) atau dengan menggunakan alat yang disebut DO meter yang dilengkapi dengan probe khusus.

sehingga kemungkinan diperlukan penetralan pH. Temperatur perairan tropik umumnya berkisar antara 25 ± 30oC. agar tidak terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan oksigen. maka analisis BOD memang cukup memerlukan waktu. Karena melibatkan mikroorganisme (bakteri) sebagai pengurai bahan organik. dan dalam suhu yang tetap selama lima hari. Ini adalah salah satu kelemahan lain BOD selain waktu penentuan yang lama tersebut. dan dalam waktu 5 hari sekitar 60 ± 70 % bahan organik telah terdekomposisi (Metcalf & Eddy. 5|Page . oksidasi bahan organik karbon mencapai 95 ± 99 %. 1991) dimana teori BOD ini berasal. pengukuran BOD memerlukan kecermatan tertentu mengingat kondisi sampel atau perairan yang sangat bervariasi. Yang penting diperhatikan dalam hal ini adalah mengupayakan agar masih ada oksigen tersisa pada pengamatan hari kelima sehingga DO5 tidak nol. Lima hari inkubasi adalah kesepakatan umum dalam penentuan BOD. Dalam waktu 20 hari. sehingga yang terjadi hanyalah penggunaan oksigen. dengan temperatur inkubasi yang relatif lebih rendah bisa jadi aktivitas bakteri pengurai juga lebih rendah dan tidak optimal sebagaimana yang diharapkan. dan oksigen tersisa ditera sebagai DO5. 1991). pengenceran. atau penambahan populasi bakteri.dalam kondisi gelap. Untuk daerah tropik seperti Indonesia. Bila DO5 nol maka nilai BOD tidak dapat ditentukan. Bisa saja BOD ditentukan dengan menggunakan waktu inkubasi yang berbeda. diharapkan hanya terjadi proses dekomposisi oleh mikroorganime. asalkan dengan menyebutkan lama waktu tersebut dalam nilai yang dilaporkan (misal BOD7. Temperatur 20oC dalam inkubasi juga merupakan temperatur standard. Pada prakteknya. Oksidasi biokimia adalah proses yang lambat. bisa jadi temperatur inkubasi ini tidaklah tepat. BOD10) agar tidak salah dalam interpretasi atau memperbandingkan. Pengenceran dan/atau aerasi diperlukan agar masih cukup tersisa oksigen pada hari kelima. aerasi. Temperatur 20oC adalah nilai rata-rata temperatur sungai beraliran lambat di daerah beriklim sedang (Metcalf & Eddy.

kelebihan kalium bikromat ditera dengan cara titrasi. Dengan demikian kalium bikromat yang terpakai untuk oksidasi bahan organik dalam sampel dapat dihitung dan nilai COD dapat ditentukan. pemanasan. Peralatan reflux (Gambar 1) diperlukan untuk menghindari berkurangnya air sampel karena pemanasan. Setelah masa inkubasi selama 5 hari DO nya sebesar 125 ppm. Bilamana nilai BOD baru dapat diketahui setelah waktu inkubasi lima hari.4 Contoh Perhitungan BOD dan COD y Perhitungan BOD Sampel sebanyak 5ml. sehingga dalam kasus-kasus tertentu nilai COD mungkin sedikit µover estimate¶ untuk gambaran kandungan bahan organik. 6|Page . penggunaan asam pekat. Selanjutnya. Umaly dan Cuvin. nilai BOD masih tetap diperlukan. 1988). 1989. Pada prinsipnya pengukuran COD adalah penambahan sejumlah tertentu kalium bikromat (K2Cr2 O7) sebagai oksidator pada sampel (dengan volume diketahui) yang telah ditambahkan asam pekat dan katalis perak sulfat. Dengan mengetahui nilai BOD. kemudian dipanaskan selama beberapa waktu. akan diketahui proporsi jumlah bahan organik yang mudah urai (biodegradable). Walaupun jumlah total bahan organik dapat diketahui melalui COD dengan waktu penentuan yang lebih cepat. dan titrasi (APHA. 2. Kelemahannya. Lalu dengan memperbandingkan nilai BOD terhadap COD juga akan diketahui seberapa besar jumlah bahan-bahan organik yang lebih persisten yang ada di perairan.Metode pengukuran COD sedikit lebih kompleks. sebelum diinkubasi kandungan oksigen yang terlarutnya (DO) sebesar 150 ppm. dan ini akan memberikan gambaran jumlah oksigen yang akan terpakai untuk dekomposisi di perairan dalam sepekan (lima hari) mendatang. 1978). maka nilai COD dapat segera diketahui setelah satu atau dua jam. senyawa kompleks anorganik yang ada di perairan yang dapat teroksidasi juga ikut dalam reaksi (De Santo. karena menggunakan peralatan khusus reflux.

Jadi. 1996) ditetapkan baku mutu limbah cair dari 21 jenis kegiatan industri. pemerintah telah menetapkan baku mutu limbah cair yang dihasilkan oleh berbagai industri dan kegiatan lainnya dalam suatu Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup.5 ml Volume titrasi sampel = 8. BOD = 5 X [ kadar { DO(0 hari) . yang meliputi: ‡ industri soda kaustik ‡ pelapisan logam ‡ penyamakan kulit ‡ minyak sawit ‡ pulp dan kertas ‡ karet ‡ gula ‡ tapioka ‡ tekstil ‡ pupuk urea 7|Page . dititrasi dengan FAS Volume titrasi blanko = 10. Dalam surat keputusan Menteri Lingkungan Hidup KEP-51/MENLH/10/1995 (Ekonorma.DO(5 hari) }] mg/l = 5 x [50-25] mg/l = 125 ppm y Perhitungan COD Sampel sebanyak 5ml.5 ml        „ •   ‘Ž •ƒ’‡Ž  Ž ‰” Ž   2.5 Baku Mutu Air Limbah Dalam rangka konservasi lingkungan.

113 Tahun 2003). pengilangan LNG dan LPG terpadu. ‡ kegiatan minyak dan gas serta panas bumi (KEP-42/MENLH/10/1996). serta kegiatan penambangan dan pengolahan batu bara yang baku mutu air limbahnya tidak menggunakan parameter BOD dan COD. dan ‡ baku mutu air limbah kegiatan pertambangan batu bara (Kep. 8|Page . eksplorasi dan produksi panas bumi. Pada industri dan kegiatan lainnya. 112 Tahun 2003). di samping pH. ‡ kegiatan domestik (Kep.‡ ethanol ‡ MSG ‡ kayu lapis ‡ susu dan makanan dari susu ‡ minuman ringan ‡ industri bir ‡ sabun. baku mutu air limbahnya menggunakan BOD dan COD. TSS dan parameter kunci lainnya. Di antara berbagai kegiatan tersebut hanya kegiatan industri soda kaustik. pelapisan logam. deterjen & produksi minyak nabati ‡ baterai kering ‡ industri cat ‡ farmasi. dan ‡ industri pestisida. MENLH No. ‡ kegiatan rumah sakit (KEP-58/MENLH/12/1995). MENLH No. Selain itu juga telah ditetapkan baku mutu limbah cair atau air limbah kegiatan-kegiatan lainnya seperti: ‡ kegiatan perhotelan (KEP-52/MENLH/10/1995).

2003) Bila kita cermati baku mutu air limbah yang ada (Tabel 2. 9|Page . Ini berarti.1 Tabel Parameter yang Digunakan dalam Baku Mutu Air Limbah Berbagai Industri atau Kegiatan (SK MENLH tahun 1995.1).Tabel 2. tetapi kesemua parameter yang menjadi baku mutu air limbah dari kegiatan yang bersangkutan. nampak bahwa walaupun BOD dan COD terpakai sebagai parameter baku mutu air limbah dari hampir semua kegiatan. bukan hanya BOD dan COD yang menjadi penentu pencemaran air limbah. tetapi keberadaannya adalah bersama-sama dengan dua atau lebih parameter lain yang menjadi parameter kunci dari kualitas air limbah kegiatan yang bersangkutan. 1996.

juga akan mengurangi nilai guna air. maka sudah dapat diduga ada indikasi pencemaran bahan organik. belum dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi pencemaran. Hal ini dapat terjadi karena bila terdap at bahan-bahan toksik (beracun) di perairan. bila nilainya lebih tinggi lebih dari satu unit di atas normal berarti perairan menjadi terlalu basa. Dari nilai pH akan dapat diketahui apakah telah terjadi perubahan sifat asam-basa perairan dari nilai pH alaminya. maka berarti ada indikasi pencemaran di perairan. Sebaliknya. Bila ini terjadi. 1996. Karena bila parameter lainnya telah meningkat dan melebihi baku mutu. bila parameter kunci lainnya tidak diketahui. yang lebih lanjut juga berarti berperan penting dalam penentuan tingkat pencemaran perairan. nilai BOD bisa jadi rendah atau masih memenuhi baku mutu. juga berperanan penting dalam baku mutu limbah. bila nilai BOD dan COD telah cukup tinggi dan melebihi baku mutu. perairan akan tampak keruh dan terkesan kotor sehingga tentu saja mengurangi daya guna airnya.Dari Tabel 2. selain mengganggu biota atau ekosistem perairan. padahal dalam air atau perairan tersebut terkandung bahan beracun atau air telah tercemar. APHA. 1989). 10 | P a g e . Dengan demikian.1 tersebut juga terlihat bahwa parameter pH dan TSS (total suspended solids) misalnya. bila misalnya nilai BOD dan COD suatu perairan masih normal atau memenuhi baku mutu. Demikian juga TSS. bila nilainya meningkat cukup signifikan. logam berat misalnya (Mays. sebaliknya bila terjadi penurunan maka perairan menjadi terlalu asam.

BOD dan COD masih diperlukan sebagai parameter dalam baku mutu air limbah atau sebagai parameter pencemaran perairan. baik yang mudah urai maupun yang sulit urai.BAB III KESIMPULAN 1. 11 | P a g e . 2. Bila uji BOD dilakukan tanpa perlakuan tertentu dan dengan suhu inkubasi setara suhu perairan. sekaligus merupakan gambaran bahan organik mudah urai ( biodegradable) yang ada dalam air atau perairan yang bersangkutan. BOD adalah parameter penduga jumlah oksigen yang diperlukan oleh perairan untuk mendegradasi bahan organik yang dikandungnya. maka BOD dapat menggambarkan kemampuan perairan dalam mendegradasi bahan organik. Peranan BOD dan COD bukan sebagai penentu. 3. Dengan memperbandingkan nilai COD dan BOD. COD adalah parameter penduga jumlah total bahan organik yang ada dalam air atau perairan. tetapi setara dengan parameter lainnya yang menjadi parameter kunci sehubungan dengan dugaan pencemaran oleh kegiatan tertentu. akan diketahui gambaran jumlah bahan organik persisten (sulit urai) yang terkandung di dalamnya. karena peranannya sebagai penduga pencemaran bahan organik dan kaitannya dengan penurunan kandungan oksigen terlarut perairan (oksigen penting bagi kehidupan biota air dan ekosistem perairan pada umumnya).

Wastewater Engineering: Treatment. 1978. Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP-42/MENLH/10/1996. De SANTO. 1990. PPIPL BAPEDAL. 1996. Reuse. Auburn University Agricultural Experiment Station. Kep. BOYD. METCALF & EDDY. 1988. 1996. New York: Springer-Verlag. Auburn University. Kep. Inc. MENLH No. 2004. R. BOD dan COD sebagai Parameter Pencemaran Air dan Baku Mutu Air Limbah. Auburn. Himpunan Peraturan Perundang-undangan Mengenai Pengendalian Dampak Lingkungan. 12 Desember 1994. KEP-42/MENLH/10/1996. Alabama. 51 Tahun 2004. Water Quality in Warmwater Fish Ponds.C. Peraturan Pemerintah (PP) RI No. 112 Tahun 2003. HARIYADI.W. 1991. L. Water Quality in Ponds for Aquaculture. 12 | P a g e . C.E. Kep. 113 Tahun 2003. New York: McGraw-Hill. Heidelberg Science Library. Alabama Agricultural Experiment Station. ³Sebaiknya. Physico-chemical Factors. MENLH No. New York: McGraw-Hill. 1979. National Book Store. Harian Kompas edisi Senin. MAYS. UMALY. C. Disposal.S. Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 113 Tahun 2003. INC. parameter BOD dan COD tak dipakai penentu baku mutu limbah ´ (artikel). MENLH No. Water Resources Handbook. Alabama. Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004. R. Jakarta. EKONORMA. SIGID. Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 112 Tahun 2003. Concepts of Applied Ecology.E.DAFTAR PUSTAKA BOYD. CUVIN. Institut Pertanian Bogor. dan Ma L.A. Biological Factors. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Limnology: Laboratory and Field Guide.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful