KONSEP DASAR PENYAKIT

1. DEFINISI
Demam dengue / DF dan demam berdarah dengue / DBD (dengue haemorrhagic fever / DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan / atrau nyeri sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopedia dan diatesis hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai oleh hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan dirongga tubuh. Sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrome) adalah demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan / syok. Demam dengue (dengue fever, selajutnya disingkat DF) adalah penyakit yang terutama terdapat pada anak remaja atau orang dewasa, dengan tanda – tanda klinis demam, nyeri otot dan / nyeri sendi yang disertai leukopedia, dengan / tanpa ruam (rash) dan limfadenopati, demam bifasik, sakit kepala yang hebat, nyeri pada pergerakan bola mata, rasa yang mengecap yang terganggu, trombositopenia ringan dan bintik – bintik pendarahan spontan. Dengue adalah penyakit virus didaerah tropis yang ditularkan oleh nyamuk dan ditandai dengan demam, nyeri kepala, nyeri pada tungkai, dan ruam (Brooker, 2001). Demam dengue/dengue fever adalah penyakit yang terutama pada anak, remaja, atau orang dewasa, dengan tanda-tanda klinis demam, nyeri otot, atau sendi yang disertai leukopenia, dengan/tanpa ruam (rash) dan limfadenophati, demam bifasik, sakit kepala yang hebat, nyeri pada pergerakkan bola mata, rasa menyecap yang terganggu, trombositopenia ringan, dan bintik-bintik perdarahan (ptekie) spontan (Noer, dkk, 1999). Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (Suriadi & Yuliani, 2001).

2. EPIDEMIOLOGI
Demam bedarah dengue tersebar di wilayah Asia tenggara, Pasifik barat dan Karibia. Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh wilayah tanah air. Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vector nyamuk genus aedes (terutama A. aegypti dan A. albopictus). Peningkatan kasus setiap tahunnya berkaitan dengan sanitasi lingkungan dengan tersediannya tempat perindukan bagi nyamuk betina yaitu bejana yang berisi air jernih (bak mandi, kaleng bekas dan tempat penampungan air lainnya). Beberapa factor diketahui berkaitan dengan peningkatan tranmisi virus dengue yaitu : 1. vector : perkembangan baikan vector, kebiasaan menggigit, kepadatan vector di lingkungan, transportasi vector dari satu tempat ke tempat lain. 2. pejamu : terdapatnya penderita di lingkungan / keluarga, mobilisasi dan paparan terhadap nyamuk, usia dan jenis kelamin. 3. lingkungan : curah hujan, suhu, sanitasi, dan kepadatan penduduk.

pembesaran hati (Hepatomegali) dan pembesaran limpa (Splenomegali). terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF. mual. sebaliknya jika tidak mendapatkan cairan yang cukup. Kemudian virus akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody. hemokonsentrasi. Dengan 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsung Perang Dunia ke-2. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen.3. sehingga pemberian cairan intravena harus dikurangi kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah terjadinya edema paru dan gagal jantung. sakit kepala. bersifat termolabil. PENYEBAB / ETIOLOGI Virus dengue tergolong dalam famili / suku / grup Flavividae dan dikenal ada 4 serotipe. ruam atau bintik-bintik merah pada kulit (petekie). . Keempat serotype telah ditemukan pada pasien – pasien di Indonesia. dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor meningkatnya permeabilitas dinding kapiler pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya perembesan plasma ke ruang ekstra seluler. pleura. penderita akan mengalami kekurangan cairan yang dapat mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan bisa mengalami renjatan. menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan faktor penyebab terjadinya perdarahan hebat . pegal-pegal diseluruh tubuh. nyeri otot. sensitive terhadap inaktivasi oleh dietileter dan natrium dioksikolat. dan pericard yang pada otopsi ternyata melebihi cairan yang diberikan melalui infus. hyperemia tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi seperti pembesaran kelenjar getah bening. dan hipoproteinemia serta efusi dan renjatan (syok). sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-1954. Dengue 3 merupakan serotype yang paling banyak beredar. Perembesan plasma ke ruang ekstra seluler mengakibatkan berkurangnya volume plasma. terjadi hipotensi. Virus dengue terbentuk batang. Terjadinya trobositopenia. Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler dibuktikan dengan ditemukannya cairan yang tertimbun dalam rongga serosa yaitu rongga peritoneum. Pertama-tama yang terjadi adalah viremia yang mengakibatkan penderita mengalami demam. stabil pada suhu 70o c. PATOFISIOLOGI TERJADINYA PENYAKIT Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty. peningkatan jumlah trombosit menunjukkan kebocoran plasma telah teratasi. Setelah pemberian cairan intravena. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a. Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit > 20 %) menunjukkan atau menggambarkan adanya kebocoran (perembesan) plasma sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk patokan pemberian cairan intravena. 4.

ditemukan tanda-tanda perdarahan hampir di seluruh tubuh.Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan timbul anoksia jaringan. seperti di kulit. PATHWAYS . saluran pencernaan dan jaringan adrenal. metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi dengan baik. paru. Pada otopsi penderita DHF. Gangguan hemostasis pada DHF menyangkut 3 faktor yaitu : perubahan vaskuler. trombositopenia dan gangguan koagulasi.

KLASIFIKASI .Virus Dengue Viremia Hipertermi Anoreksia Muntah Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan Hepatomegali Depresi Sumsum Tulang Manifestasi pendarahan Kehilangan Hipovolemia Resiko syok hipovolemia Kurang pengetahuan ansietas Permebilitas kapiler meningkat Nyeri Resiko pendarahan Efusi pluera ascites hemokontraksi Resti kekurangan volume cairan Syok Kematian Perubahan perfusi jaringan perifer 5.

Panas 2-7 hari. Ruam berikutnya mulai antara hari 3-6. ruam ini berkurang dan cepat menghilang. telinga. purpura. b. GEJALA KLINIS Gambaran klinis yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DHF dengan masa inkubasi antara 13 – 15 hari. Gejala perdarahan mulai pada hari ke-3 atau ke-5 berupa petekia. perdarahan melalui hidung.WHO. • Sistem Kardiovaskuler . terlihat jelas dimuka dan dada yang berlangsung selama beberapa jam dan biasanya tidak diperhatikan oleh pasien.gelisah.nadi cepat dan lemah). fotophobia. otot-otot sekitar mata terasa pegal. tidak ada nafsu makan.tekana darah menurun. hematuria. tetapi pembesaran hati tidak sesuai dengan beratnya penyakit. Sekitar mata mungkin ditemukan pembengkakan. perdarahan gusi. mula-mula pada awal demam (6-12 jam sebelum suhu naik pertama kali). Nadi pasien mula-mula cepat dan menjadi normal atau lebih lambat pada hari ke-4 dan ke-5. 0/0) d. pergerakan dada simetris. hematemesis. Juga terkadang terjadi syok yang biasanya dijumpai saat demam telah menurun antara hari ke-3 dan ke-7 dengan tanda anak menjadi makin lemah. 80/70. limpa dan kelenjar getah bening. tanda – tanda renjatan (sianosis. keraklest.mual. dan hemokonsentrasi. melena. lakrimasi. Uji tourniquet positif. c. Hati. (120/80 . Pada saat suhu turun normal. konstipasi. Derajat III : Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat (>120x/mnt ) tekanan nadi sempit (120 mmHg). Pada dasarnya hal ini terlihat pada lengan dan kaki. PEMERIKSAAN FISIK • • Sistem Pernapasan Sesak. bekas-bekasnya kadang terasa gatal. berkeringat dan kulit tampak biru. 120/100 . ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan seperti petekie. 80/0. pada auskultasi terdengar ronci. Derajat I : Demam disertai gejala klinis lain. Derajat IV : Nadi tidak teraba. gejala klinik timbul secara mendadak berupa suhu tinggi. hematemesis. trombositipenia. 7. 1986 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya menjadi 4 golongan. Sistem Persyarafan Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta pada grade IV dapat terjadi DSS.tetapi rata – rata 5-8 hari.serta kemudian timbul bercak-bercak petekia. hidung teraba dingin dan lembab. diare. epistaksis. 120/110. pernapasan dangkal. 6. 90/70. Bradikardi dapat menetap untuk beberapa hari dalam masa penyembuhan. Eksantem yang klasik ditemukan dalam dua fase. kadangkadang muntah dan batuk ringan. yaitu : a. lidah kotor. tanpa perdarahan spontan. ujung jari. tekanan darah tidak teratur (denyut 140x/mnt) anggota gerak teraba dingin. Sakit kepala dapat menyeluruh atau berpusat pada daerah supra orbital dan retroorbital. Derajat II : Sama dengan derajat I.capillary reffil time lebih dari dua detik. Nyeri dibagian otot terutama dirasakan bila otot perut ditekan. ekimosis. mula-mula berbentuk makula besar yang kemudian bersatu mencuat kembali.abdomen dan ulu hati. denyut nadi terasa cepat.kulit lembab dan dingin.nyeri pada otot tulang. epitaksis melena. kemudian menjalar keseluruh tubuh. tekanan darah menurun. Umumnya membesar dan nyeri tekan.ekimosis. perkusi sonor.

Pemeriksaan rontgen dada sebaiknya dalam posisi lateral decubitus kanan (pasien tidur pada posisi badan sebelah kanan). Fase kritis pada umumnya terjadi pada hari sakit ke-3. Pada pasien dengan 2 atau 3 patokan klinis disertai adanya trombositopenia dan hemokonsentrasi tersebut sudah cukup untuk klinis membuat diagnosis DHF dengan tepat. Asites dan efusi pleura dapat juga dideteksi gengan USG. Pemberian cairan awal sebagai pengganti volume plasma dapat diberikan larutan garam isotonis atau ringer laktat (RL). 9.000/ul atau kurang dari 1-2 trombosit/lpb (rata-rata dihitung pada 10 lpb) terjadi sebelum peningkatan hematocrit dan sebelum terjadi penurunan suhu. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK a. Peningkatan hematocrit 20% atau lebih mencerminkan perembesan plasma dan merupakan indikasi untuk pemberian cairan. efusi pleura dapat dijumpai pada kedua hemithoraks. hidung dan jari-jari. b. pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi. abdomen teregang.6 (art DHF). 10. PROGNOSIS Prognosis DBD terletak pada pengenalan awal terjadinya perembesan plasma. muntah. terjadi pethike. melena. Ada DBD derajat 1 dan 2.000/ml atau kurang) dan hemokonsentrasi yang dapat dilihat dan meningginya nilai hematokrit sebanyak 20 % atau lebih dibandingkan nila hematokrit pada masa konvalesen. uji tourniquet positif. Sistem Perkemihan Produksi urine menurun. kadang kurang dari 30cc/jam. pembesaran hati. Radiologi Pada foto thorac terdapat efusi pleura. nyeri tekan pada epigastrik. akan mengungkapkan nyeri saat kencing. Juga dijumpai leukopenia yang akan terlihat pada hari ke-2 atau ke-3 dan titik terendah pada saat peningkatan suhu kedua kalinya leukopenia timbul karena berkurangnya limfosit pada saat peningkatan suhu pertama kali.000/ul. cairan intra vena diberikan selam 12-24jam. yang dapat diketahui dari peningkatan kadar hematocrit. Penurunan jumlah trombosit sampai < 100. hipotensi. pembesaran limpa. Perhatikan khusus dan kasus dengan peningkatan hematocrit yang terus menerus dan penurunan jumlah trombosit < 50. pada grade I terdapat positif pada uji tourniquet. cyanosis sekitar mulut. mual. pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat diukur. dapat hematemesis. kesulitan menelan. penurunan nafsu makan. terutama pada hemithoraks kanan tetapi apabila terjadi perembesan plasma hebat. trombositipeni. nadi cepat. Pemeriksaan Laboratorium Terjadi trombositopenia (100. kencing berwarna merah. THERAPHY . pada grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit. yang kemudian dapat disesuaikan dengn berat ringan penyakit. lemah. nyeri saat menelan. kulit kering. 8. Sistem Pencernaan Selaput mukosa kering.• • • Pada grade I dapat terjadi hemokonsentrasi. Sistem Integumen Terjadi peningkatan suhu tubuh.

Untuk kasus yang menunjukan gejala dehidrasi disarankan minum sebanyak – banyaknya dan sesering mungkin.  Obat – obatan lain : antibiotika apabila ada infeksi lain. Infus cairan RL dengan dosis 75ml/kg BB/hari untuk anak dengan BB <10kg atau 50ml/kg BB/hari untuk anak BB <10kg bersama-sama diberikan minuman oralit. Dan dapat diulang maksimal 3 mg/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam. darah 15 cc/Kg BB/ hari pendarahan hebat. Apabila 1 jam setelah pemberikan RL 10 mL/Kg BB/1 jam keadaan tensi menurun lagi. PENATAKALSANAAN . Oral adilibitum b. Apabila anak tidak suka minum sama sekali sebaiknya jumlah jairan infus yang harus diberikan sesuai dengan kebutuhan cairan penderita dalam kurun waktu 24 jam yang diestimasikan sebagai berikut :  100 ml/Kg BB/24 jam. untuk anak dengan BB 31-40 Kg  50 ml/Kg BB/24 jam. antipiretik untuk anti panas. untuk anak dengan BB 26-30 Kg  60 ml/Kg BB/24 jam. akral dingin maka penderita tersebut harus memperoleh plasma atau plasma ekspander (dextran L / lainnya) sebanyak 10 mL/Kg BB/1 jam. air buah atau susu secukupnya. 11. tetapi masih terukur kurang 80 mmHg dan nadi cepat lemah.) Lanjutkan dengan RL 10 ml/Kg BB per 1 jam. Perhitungan kebutuhan cairan dalam 24 jam diperhitungkan sebagai berikut :  100 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB <25 Kg  75 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 26-30 Kg  60 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 31-40 Kg  50 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 41-50 Kg b. c. akral dingin maka penderita tersebut memperoleh plasma / plasma ekspanter (dextran L atau yang lainnya) sebanyak 10 mL / Kg BB per 1 jam dan diulang maksimal 30 mL/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam. Berikan infus RL 20 ml/Kg BB / 1 jam Apabila menunjukan perbaikan (tensi terukur lebih dari 80 mmHg dan nadi teraba denga frekuensi kurang dari 120 / menit dan akral tangan hangat.Belum atau tanpa renjatan : 1) Grade I dan II: a. Jika nadi dan tensi stabil lanjutkan infus tersebut dengan jumlah cairan dihitung berdasarkan kebutuhan cairan dalam kurun waktu 24 jam dikurangi dengan cairan yang telah masuk dibagi dengan sisa waktu (24 jam dikurangi waktu yang dipakai untuk mengatasi renjatan). Jika keadaan umum membaik dilanjutkan cairan RL sebanyak kebutuhan selama 24 jam – cairan yag sudah masuk dibagi sisa waktu setelah mengatasi renjatan. Apabila 1 jam setelah pemakaian RL 20 mL/Kg BB/1 jam keadaan tensi masih terukur kurang dari 80 mmHg dan nadi cepat lemah. untuk anak dengan BB 41-50 Kg. untuk anak dengan BB <25 Kg  75 ml/Kg BB/24 jam. Dengan renjatan : 2) Grade III a.

Monitor tanda-tanda dan renjatan meliputi keadaan umum. sirup dan beri penderita sedikit oralit. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut. d.5 liter/24 jam) dapat berupa : susu. b. Tirah baring atau istirahat baring. k. Periksa Hb. Pemberian antibiotik bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder. g. Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat. Infus diberikan pada pasien DBD tanpa renjatan apabila : a. Hematokrit yang cenderung mengikat. hasil pemeriksaan laboratorium yang memburuk. pernafasan) jika kondisi pasien memburuk. Ht dan trombosit setiap hari. Pasien terus menerus muntah. i. . c. b. Bila timbul kejang dapat diberikan Diazepam. e. Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminopen. Pada kasus dengan renjatan pasien dirawat di perawatan intensif dan segera dipasang infus sebagai pengganti cairan yang hilang dan bila tidak tampak perbaikan diberikan plasma atau plasma ekspander atau dekstran sebanyak 20 – 30 ml/kg BB. l. Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu. h. teh manis. amplitudo nadi cukup besar. nadi. Transfusi darah diberikan pada pasien dengan perdarahan gastrointestinal yang hebat. Cara pemberian sedikit demi sedikit dengan melibatkan orang tua. Apabila renjatan telah teratasi nadi sudah teraba jelas. tidak dapat diberikan minum sehingga mengancam terjadinya dehidrasi. kecepatan plasma biasanya dikurangi menjadi 10 ml/kg BB/jam. pemberian cairan merupakan hal yang paling penting bagi penderita DHF. Minum banyak (2 – 2. Pada DBD tanpa renjatan hanya diberi banyak minum yaitu 1½-2 liter dalam 24 jam. f. Indikasi pemberian transfusi pada penderita DHF yaitu jika ada perdarahan yang jelas secara klinis dan abdomen yang makin tegang dengan penurunan Hb yang mencolok. observasi ketat tiap jam. perubahan tanda-tanda vital. NaCl Faali) merupakan cairan yang paling sering digunakan. tekanan sistolik 20 mmHg. j. tensi.Penatalaksanaan penderita dengan DHF adalah sebagai berikut : a. Pemberian cairan intravena baik plasma maupun elektrolit dipertahankan 12 – 48 jam setelah renjatan teratasi. Diet makan lunak.

)Sakit kepala. sakit saat menelan. 4. 2)Mukosa mulut kering. epistaksis. observasi. a. 5. 1995 yaitu : 1. perdarahan gusi. 4)Hiperemia pada tenggorokan. mual. 5)Nyeri tekan pada epigastrik. sianosis perifer. konsultasi. rontgen). 7.KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 1. . lidah kotor.)Konstipasi (sembelit).)Nyeri pada otot dan sendi.)Nyeri ulu hati. nafas dangkal.)Panas atau demam. hipotensi. Data obyektif yang sering dijumpai pada penderita DHF antara lain : 1)Suhu tubuh tinggi. laboratorium.)Lemah.)Anoreksia. hematoma. Hasil pengkajian yang dilakukan perawat terkumpul dalam bentuk data.Data subyektif Adalah data yang dikumpulkan berdasarkan keluhan pasien atau keluarga pada pasien DHF. pengkajian merupakan dasar utama dan hal penting dilakukan oleh perawat. menggigil. haus. uji torniquet (+). ekstremitas dingin. b. 7)Pada renjatan (derajat IV) nadi cepat dan lemah. hematemesis. wajah tampak kemerahan. FOKUS PENGKAJIAN Dalam memberikan asuhan keperawatan. 3. pemeriksaan (fisik. 8. ekimosis. gelisah.Data obyektif : Adalah data yang diperoleh berdasarkan pengamatan perawat atas kondisi pasien. melena. 6.)Pegal-pegal pada seluruh tubuh. Adapun metode atau cara pengumpulan data yang dilakukan dalam pengkajian : wawancara. 3)Tampak bintik merah pada kulit (petekia). 2. 6)Pada palpasi teraba adanya pembesaran hati dan limpa. data obyektif yang sering ditemukan menurut Christianti Effendy.

8) Kurang pengetahuan tentang proses penyakit . 5) Resiko terjadi syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh. muntah. anoreksia. 4) Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma.2. 7) Kecemasan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yang dialami pasien. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan yang ditemukan pada pasien DHF (NANDA 2005) yaitu : 1) Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan inflamasi ditandai dengan peningkatan suhu tubuh (>37oC) 2) Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit. 6 ) Resiko terjadi pendarahan lebih lanjut berhubungan dengan trombositopenia. 3) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual.

3. RENCANA TINDAKAN DAN RASIONALISASI .

* 1.Hari/Tgl No Tujuan dan Dx criteria hasil 1 Suhu tubuh normal (36 – 370C). Dengan melakukan aktivitas lain pasien dapat melupakan perhatiannya terhadap nyeri yang dialami. Kaji keluhan mual. Membantu mengurangi kelelahan pasien dan meningkatkan asupan makanan 4. Kaji tingkat nyeri yang terpenuhi. 5. Pasien bebas dari demam Intervensi 1. Untuk mengurangi rasa nyeri 3. Berikan posisi yang nyaman. Untuk menetapkan cara mengatasinya 2. 2. Anjurkan untuk tidak memakai selimut dan pakaian yang tebal. Alihkan perhatian pasien dari rasa nyeri 1. Kaji keadaan umum pasien .Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien 2. 1. dan muntah yang dialami pasien. 4. Antiemetik membantu pasien mengurangi rasa mual dan muntah dan diharapkan intake nutrisi pasien meningkat.pernafasan)setiap 3 jam 2. Untuk menghindari mual.nadi. 4. untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami pasien 2. Berikan makanan yang mudah ditelan seperti bubur 4. 1. Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering. 3. pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tinggi 3. Berikan obat-obatan antiemetik sesuai program dokter. Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai program dokter. usahakan situasi ruangan yang tenang. pakaian tipis membantu mengurangi penguapan tubuh 5. Cara menghidangkan makanan dapat mempengaruhi nafsu makan pasien 3.Berikan kompres hangat 4.tekanan darah. Menetapkan data dasar pasien 4. 5. 5. dialami pasien Nyeri berkurang atau hilang. pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan posisi yang diberikan /dibutuhkan. Untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan nutrisi 6. Berikan obat-obat analgetik 3 Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi.Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapantubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupancairan yang banyak 3.observasi tanda vital(suhu. 3. Volume cairan terpe 1. 2 Rasa nyaman pasien 1. sakit menelan.Anjurkan pasien untuk banyak minum Rasional 1.Dengan vasodilatasi dapat meningkatkan penguapan yang mempercepat penurunan suhu tubuh 4. Kaji cara / bagaimana makanan dihidangkan. 2. Analgetik dapat menekan atau mengurangi nyeri pasien. Catat jumlah / porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien setiap hari. 6.

Pasien bebas dari demam 2) Rasa nyaman pasien terpenuhi. pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan posisi yang diberikan /dibutuhkan. 8) Kurang pengetahuan tentang proses penyakit 8.EVALUASI NO. 8) Klien dan keluarga mengenal gejala dini DHF Klien dan keluarga mengerti tentang proses penyakit . 5. 7) Kecemasan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yang dialami pasien. Jumlah trombosit meningkat. 7) Kecemasan berkurang. 3) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual. Evaluasi 1) Suhu tubuh normal (36 – 370C). 5) Resiko terjadi syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh. Keadaan umum baik 6) Tidak terjadi tanda-tanda perdarahan lebih lanjut. Nyeri berkurang atau hilang. Tanda-tanda vital dalam batas normal. 6 ) Resiko terjadi pendarahan lebih lanjut berhubungan dengan trombositopenia. 3. 4) Volume cairan terpe Nuhi 5) Tidak terjadi syok hipovolemik. Diagnosa 1. 2) Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit. 1) Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan inflamasi ditandai dengan peningkatan suhu tubuh (>37oC) 2. anoreksia. 4) Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma. 4. 7. 3) Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi. 6. muntah.

nurseid.html http://harnawatiaj.wordpress. Aru dkk. Jakarta 1996.com/2008/07/demam-berdarah-dengue-dbd. Balai Penerbit FKUI.com/2008/03/27/askep-dhf/ http://asuhan-keperawatan-patriani. Jakarta http://www. Ilmu Penyakit Dalam Jilid III edisi IV Hal : 1709-1713.DAFTAR PUSTAKA Sudoyo W.html . Pusat Penerbit Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UI. 2006.blogspot.co. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I edisi III Hal : 417-426.cc/2010/04/askep-demam-berdarah-dengeu-dhf.

5. SANG PUTU SUPARTAYASA (53) PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN . WAYAN DIARSA KM. WYN. AGUS SUPARTA ARIAWAN 7. AGUS BUDIANTARA 4. AYU WINDASARI 3. NANA TRISNA DEWI 11. 9. RENDRA WIDWAM SAMGRAHA MADE ARIANTI 10. KD. KADEK SUARA SUKA ADNYANA 8. AGUS KURNIAWAN 6. IRISH MARIA PINI (21) (22) (16) (17) (26) (50) (10) (20) (36) (39) 2.ASUHAN KEPERAWATAN DEMAM BERDARAH OLEH : A3F KELOMPOK 3 NAMA KELOMPOK: 1.

STIKES WIRA MEDIKA PPNI BALI TAHUN AJARAN 2010/2011 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful