You are on page 1of 1

Patofisiologi

Pada saat berada di daerah ketinggian, tubuh kita merespon fisiologi yang efesien.
Sebagian besar masalahnya disebabkan oleh kekurangan oksigen. Karena tekanan atmosfer
menurun berbanding terbalik dengan ketinggian bertambah, pada ketinggian 2.000 M di
atas permukaan laut, setiap volume udara mengandung kira-kira 20% lebih sedikit oksigen,
dan pada ketinggian 4.000 M, udara mengandung 40% lebih sedikit oksigen. Kekurangan
oksigen mempengeruhi sebagian besar fungsi tubuh.

Pada saat O2 berkurang di sekitar kita, maka tubuh akan kekurangan O 2 . ini
menyebabkan sel sel tubuh kita terhambat dalam menjalankan fungsi metabolisme. Pada
otak akan memberi respon kepada otot-otot pernafasan untuk berkontraksi cepat karena
tubuh membutuhkan pasokan O2 yang lebih banyak. Hal ini menyebabkan frekuensi nafas
menjadi cepat bertujuan untuk mencukupi O 2 dalam menjalankan fungsi metabolism sel.
Jika ini terjadi secara terus menenrus akan menyebabkan kelelahan otot pada tubuh.
Resiko klinis akan menyebabkan hipoksia akut. Kondisi tersebut yaitu penurunan
kemampuan adaptasi peningkatan frekuensi pernapasan, denyut jantung naik. Jika berlanjut
terus terjadi gangguan pandangan, bahkan perubahan proses mental. Pada tahapan kritis,
tingkat kesadaran berangsur hilang, Pada tahap akhir bisa terjadi kejang dilanjutkan dengan
henti napas.