You are on page 1of 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Hama Pasca Panen pada Beras

B. Hama Pasca Panen pada Kacang - Kacangan


1. Hama Pada Kacang Hijau (Callosobruchus chinensis L.)
Salah satu sumber bahan pangan yang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia
adalah kacang hijau. Kacang hijau (Phaeseolus radiatus L.) mempunyai nilai
ekonomi nomor tiga dalam kelompok tanaman kacang-kacangan di Indonesia,
setelah kedelai dan kacang tanah. Produksi kacang hijau di Indonesia masih
sangat rendah yaitu rata-rata 400 kg biji per hektar. Salah satu penyebab
rendahnya hasil tersebut karena serangan hama dan penyakit tanaman. Kerusakan
oleh hama dan penyakit tidak terbatas pada tanaman yang masih ada dilapangan,
tetapi juga pada hasil yang telah dipanen dan disimpan. Hama pasca panen yang
sering menimbulkan kerusakan pada kacang hijau, baik yang akan digunakan
untuk konsumai maupun untuk benih adalah serangga Callosobruchus chinensis
L. (Coleoptera:Bruchidae). Kerusakan yang ditimbulkan oleh serangga tersebut
mencapai 70 persen. (Dobie et.al 1991).
Klasifikasi Callosobruchus chinensis L. :
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Coleoptera
Family : Bruchidae
Genus : Callosobruchus
Spesies : C. chinensis (Pracaya,2005).

Hama gudang Callosobruchus maculatus (Coleoptera : Bruchidae) merupakan


salah satu hama gudang yang sangat penting. Dilaporkan bahwa penyebaran hama
ini paling banyak di daerah beriklim tropis dan subtropis. Salah satu komoditas
yang sering diserang C. maculatus adalah kacang hijau. Hama gudang C.
maculatus merupakan serangga yang mempunyai sifat holometabolic, dimana
terdiri dari stadia telur, larva dan imago. (Harahap I. S., 1993)

Imago betina meletakkan satu telur pada bagian kulit luar kacang hijau. Satu
telur C. maculatus berukuran ±0,75 mm, berbentuk oval atau gelondong, terang,
berkilau, dan menempel kuat pada kulit biji kacang hijau. Selanjutnya, telur
menetas menjadi larva dan larva menggali lapisan endosperma biji kacang hijau,
sehingga terbentuk lubang. Larva melubangi dan memakan lapisan endosperma
serta embrio biji kacang hijau atau hanya melubangi biji kacang hijau untuk
menyelesaikan fase pupa. (Harahap I. S., 1993)
Fase pupa merupakan fase sempurnanya metamorfosis untuk menjadi imago.
Imago membutuhkan waktu 24 sampai 36 jam untuk menyempurnakan fasenya.
Jantan menemui betina untuk mengiseminasi, dan sel telur disimpan oleh imago
betina. Imago jantan dan betina membutuhkan makanan dan minuman selama
menyelesaikan siklus hidupnya, yaitu selama 10−14 hari. (Harahap I. S. 2005)

Gambar : Stadia telur, larva, dan imago C. Maculatus (Sumber :


http://www.bio.fsu.edu//)

Mengingat besarnya persentase kerusakan yang ditimbulkan oleh serangga


Callosobruchus chinensis maka perlu dilakukan pengendalian. Tindakan ini
diperlukan untuk menjaga agar tingkat kerusakan tetap berada dibawah ambang
ekonomi. Pengendalian hama gudang biasanya dilakukan dengan insektisida
sintetik, seperti piretroid sintetik, metil bromida dan fosfin (Champ dan Dyte 1977
dalam Kim dan Ahn 2001). Sampai saat ini pengendalian hama pasca panen pada
biji kacang hijau umumnya melalui fumigasi dengan menggunakan insektisida
sintetik. Namun penggunaan insektisida sintetik yang kurang bijaksana dapat
menyebabkan efek samping seperti kematian organisme bukan sasaran, terjadinya
resistensi dan resurjensi, serta adanya residu insektisida pada bahan yang
disimpan. Oleh karena itu perlu upaya untuk mencari alternatif pengendalian lain
yang dapat menekan Callosobruchus spp. ini tapi mampu mengurangi efek
samping dari pengendalian yang dilakukan. (Saputro, 2005). Teknik alternatif
untuk pengendalian hama komoditas terdiri dari berbagai cara yaitu (1)
Pengelolaan hama terpadu (2) Perlakuan dingin (3) Perlakuan panas (4) Debu
lembam /inert dust (5) Atmosfir terkendali dan termodifikasi (6) Pestisida kontak
dan (7) Fosfin dan fumigan lain. (Saputro B., 2005).

2. Hama Pada Kacang Tanah (Corcyra Cephalonica )


Corcyra Cephalonica dikenal sebagai salah satu hama bahan makanan.
Serangga ini banyak dijumpai di kawasan tropis dan subtropis. Serangga ini
merusak bahan simpanan pada stadia larva. C. cephalonica menyerang lebih dari
30 jenis bahan makanan. Di Malaysia, serangga ini menyerang beras (Oryza
sativa), kopi (Coffea spp.), kelapa (Cocos nucifera), tepung dan sekam beras,
jagung (Zea mays) dan kacang tanah (Arachis hypogaea) (Osman dan Fong,
1988). Klasifikasi dari Corcyra Cephalonica :
Kingdom : Animalia
Phillum : Arthopoda
Kelas : Insekta
Ordo : Lepidoptera
Subordo : Mikrolepidoptera
Family : Pyralididae
Genus : Corcyra
Spesies : Corcyra cephalonica Stainton synonym Anerastia lineate.

Corcyra cephalonica merupakan serangga kosmopolit yang seringkali


menjadi hama penting di gudang dengan wujud kepompong khususnya di dalam
karung. Di Indonesia spesies ini ditemukan pada penggilingan beras, jagung,
tepung terigu, oat meal, semolina, kopra, kacang, bungkil, minyak kelapa, biji
kakao, coklat, tepung, biskuit, dan lainnya..Telur C. cephalonica berwarna putih
kekuningan dan diletakkan secara soliter (tidak berkelompok).
Setelah empat hari inkubasi, telur menetas menjadi larva yang memiliki
tungkai semu pada abdomen ruas ketiga hingga keenam dan kesepuluh. Larva
berwarna putih kelabu hingga kekuningan, aktif bergerak dan mensekresi benang-
benang sutera untuk mengikat kotoran dan butir-butir beras menjadi ruangan
tempat tinggalnya. Pada umumnya, larva terdiri dari enam instar dimana instar
pertama berkisar 4-5 hari, instar kedua berkisar 5-6 hari, instar ketiga 3-4 hari,
instar keempat 3-4 hari, instar kelima 5-7 hari , instar keenam 8-10 hari dan total
periode larva berkisar 28-36 hari. Pupa berwarna coklat yang terbentuk di dalam
kokon berwarna putih. Ngengat betina meletakkan telur secara terpisah pada
bahan simpanan. Seekor ngengat menghasilkan telur berkisar antara 100-300
butir. Perkembangan telur hingga dewasa sekitar 30-40 hari. Ngengat berumur 8-
10 hari.
Kopulasi C. cephalonica dimulai sesaat setelah imago muncul. Masa
preoviposisi sekitar 2 hari. Peletakan telur terjadi pada malam hari. Telur menetas
setelah 2-3 hari. Lingkungan yang optimum untuk perkembangan larva C.
cephalonica adalah 30-32.50 C dan kelembapan relatif 70% dengan waktu yang
diperlukan dari telur menetas sampai mago muncul sekitar 26-27 hari. Imago
keluar dari bagian anterior kokon yang terdapat garis halus,. Nisbah kelamin
imago C. cephalonica adalah 1:1. Imago bersifat nocturnal.
(sumber:repository.usu.ac.id/bitstream/handle)
Akhir-akhir ini, banyak dikaji penggunaan musuh alami parasitoid telur
dari famili Trichogrammatidae yang berpotensi sebagai agen pengendali hayati
yang efektif untuk C. cephalonica . Parasitoid telur mempunyai keuntungan
dibanding parasitoid larva, karena memarasit telur hama, sehingga dapat
mengendalikan hama pada fase paling awal sebelum hama merusak produk pasca
panen kacang tanah.
DAFTAR PUSTAKA

Dobie P, Haines CP, Hodges RJ, Prevet PF, Rees DP. 1991. Insect and Arachnids
of Tropical Stored Product, Their Biology and Identification (A. Training
Manual) United Kingdom, Natural Resources Institute.

Harahap I. S., 1993. Penuntun Praktikum Ilmu Hama Gudang (Kunci Identifikasi
Hama Gudang). Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas
Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Harahap I. S. 2005. Hama Primer dan Sekunder (Kuliah 2). Institut Pertanian
Bogor. Bogor.

Saputro B., 2005 Mortalitas dan Penghambatan Aktivitas Peneluran


Callosobruchus spp. (COLEOPTERA:BRUCHIDAE) Yang Diperlakukan
Tepung Dan Minyak Enam Spesies Tumbuhan.

http://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/infotek/callosobruchus-maculatus-hama-
gudang-kacang-hijau/ diakses pada 20 November 2018

http://www.bio.fsu.edu// diakses pada 20 November 2018

http://www.repository.usu.ac.id/bitstream/handle diakses pada 20 November 2018