You are on page 1of 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap manusia akan mengalami perkembangan dengan berbagai masa yang

berurutan di dalam siklus kehidupan, mulai dari masa kehamilan hingga masa tua.

Masa yang dilalui merupakan tahap-tahap yang saling berhubungan dan tidak dapat

dipisahkan serta tidak dapat diulang kembali. Hal-hal yang terjadi di tahap awal

perkembangan akan memberikan pengaruh terhadap tahap perkembangan

selanjutnya. Salah satu tahap akhir perkembangan yang pasti dilalui oleh individu

adalah lanjut usia (Lansia) .

Lansia menurut UU No.13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia Bab 1

Pasal 1 Ayat 2 adalah seseorang yang telah berusia di atas 60 tahun .World Health

Organization (WHO) mengklasifikasikan Lansia berdasarkan usia kronologis/biologis

menjadi 4 kelompok, yaitu usia pertengahan (middle age) dengan usia antara 45-49

tahun, lanjut usia (elderly) dengan usia antara 60-74 tahun, lanjut usia tua (old)

dengan usia antara 75-90 tahun, dan usia sangat tua (very old) dengan usia di atas 90

tahun. Jumlah Lansia secara global diprediksi terus mengalami peningkatan yang

bermakna dibandingkan dengan kelompok usia lainnya.

Secara umum, populasi penduduk lansia 60 tahun ke atas pada saat ini di

negara-negara dunia diprediksi akan mengalami peningkatan. Jumlah penduduk lanjut

usia di dunia saat ini diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata rata 60 tahun dan

diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar. Antara tahun 2007 dan

2050, presentasi jumlah penduduk lansia di Amerika Afrika diperkirakan mengalami

peningkatan dari 8,3% mencapai 11%, sementara itu perkiraan peningkatan jumlah
populasi lansia juga terjadi di Asia antara tahun 2007 dan 2050 dari 2,3% mencapai

7,8% (Meiner, 2011).

Indonesia termasuk lima besar negara dengan jumlah penduduk lanjut usia

terbanyak di dunia yakni mencapai 18,1 juta jiwa pada tahun 2010 atau 9,6 persen

dari jumlah penduduk dan diprediksi akan terus meningkat hingga dua kali lipat pada

tahun 2025 (Depkes, 2013). Hal ini dipengaruhi oleh majunya pelayanan kesehatan,

menurunnya angka kematian bayi dan anak, perbaikan gizi dan sanitasi dan

meningkatnya pengawasan terhadap penyakit infeksi (Nugroho, 2005).

Menurut data WHO, di kawasan Asia Tenggara populasi Lansia sebesar 8%

atau sekitar 142 juta jiwa. Pada tahun 2050 diperkirakan populasi Lansia meningkat 3

kali lipat dari tahun ini. Pada tahun 2000 jumlah Lansia sekitar 5,300,000 (7,4%) dari

total polulasi, sedangkan pada tahun 2010 jumlah Lansia 24,000,000 (9,77%) dari

total populasi, dan tahun 2020 diperkirakan jumlah Lansia mencapai 28,800,000

(11,34%) dari total populasi (Depkes, 2013).

Peningkatan populasi lanjut usia di Indonesia dimulai pada tahun 1971 sebesar

4,48%, pada tahun 2000 jumlah lansia di Indonesia sebesar 7,28%, kemudian pada

tahun 2010 meningkat menjadi 9,77%, dan pada tahun 2020 diproyeksikan menjadi

sebesar 11,34% (Astuti et al, 2007). Dilihat sebaran penduduk lansia menurut

provinsi, persentase penduduk lansia paling tinggi ada di Provinsi DI Yogyakarta

(13,04%), Jawa Timur (10,40%), Jawa Tengah (10,34%), sedangkan Sumatra Barat

menduduki posisi ke tujuh yaitu 8,8% (BPS, 2013). Sehingga Sumatera Barat disebut

wilayah berstruktur tua karena memiliki persentse lansia lebih dari 7%. Jumlah

penduduk di Sumatera Barat 5.079.451 jiwa dan dari jumlah tersebut yaitu sekitar

424.895 jiwa adalah penduduk lansia (Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Barat,

2014).
Jumlah populasi lansia yang mengalami proses penuaan, dimana pada lansia

terjadi penurunan kerja otak dan fungsi organ-organ tubuh menurun. Orang-orang

berusia lanjut menjadi kurang fleksibel secara fisik dan mental serta butuh waktu

lebih lama untuk memproses informasi. Terjadi perubahan daya ingat dan biasanya

menjadi lebih sulit untuk mengingat nama orang, tempat, dan hal-hal lain ketika

seseorang menua (Alzheimer’s Association, 2007).Persepsi ini muncul karena

memandang lanjut usia hanya dari kasus lansia yang sangat ketergantungan dan sakit-

sakitan. Kemunduran fisik yang sering sekali dijumpai pada lansia yaitu penglihatan

dan pendengaran lansia yang menurun, kulit tampak mengendur, aktivitas tubuh yang

menurun, penumpukan lemak di bagian perut dan panggul.

Proses kemunduran fisik pada lansia juga menyebabkan demensia. Demensia

merupakan suatu sindrom klinik yang meliputi hilangnya fungsi intelektual dan

ingatan/memori sedemikian berat sehingga menyebabkan disfungsi hidup sehari-hari

(Brocklehurst and Allen,1987 dalam Darmojo dan Martono 2006 ). Demensia ditandai

dengan perubahan memori terkait usia yaitu semakin mudah lupa, lebih sulit

mempelajari informasi baru, menurunnya kecepatan untuk membuat kode dan

menempatkan kembali informasi-informasi yang ada. Sebagian individu yang merasa

khawatir terhadap demensia yang dialaminya merasa membutuhkan perawat dan

profesi kesehatan lainnya (Watson, 2003).

Demensia menyebabkan perubahan perilaku diantaranya, keluyuran tanpa

tujuan, gangguan orientasi terhadap siang dan malam, kehilangan selera makan, atau

memakan makanan yang tidak tepat, ingin memakan makanan yang aneh dan

menjijikkan dari pada makanan biasanya (seperti makan makanan binatang, pot

tanaman dari tanah, dan kotoran). Tingkatan demensia yaitu, tingkat ringan hilangnya

memori terbaru yang menyebabkan sulitnya mendapatkan informasi baru, tingkat
sedang dimana ingatan saat ini dan ingatan masa lampau memburuk dan tingkat berat

lansia biasanya menjadi semakin terikat dengan kursi atau tempat tidur, otot-otot

semakin kaku, dapat terjadi kontraktur, dan refleks primitif sering terjadi (Darmajo &

Martono,2006).

Peningkatan angka kejadian demensia terjadi seiring bertambahnya usia.

Prevalensi demensia meningkat dua kali setiap pertambahan usia 5 tahun setelah

melewati usia 60 tahun. Terdapat 7,2% populasi kansia yang berusia 60 tahun keatas

pada tahun 2010 di Indonesia (Kemenkes RI, 2010). Diseluruh dunia jumlah orang

yang hidup dengan demensia pada tahun 2015 diperkirakan mencapai 47.470.000,

mencapai 75.630.000 pada tahun 2030 dan 135.460.000 pada tahun 2050. Tiga puluh

tujuh persen dari orang yang hidup dengan demensia di negara yang memiliki

penghasilan tinggi, serta 63% hidup di negara-negara rendah dan menengah (WHO).

Alzheimer’s Disease Internasional (ADI) memperkirakan Indonesia memiliki jumlah

penderita demensia sebesar 1,2 juta jiwa dan masuk dalam 10 negara dengan

demensia tertinggi di dunia dan Asia Tenggara pada tahun 2015 (Priherdityo, 2016)

Demensia juga dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari pada lansia.

Aktivitas sehari-hari lansia merupakan semua kegiatan yang dilakukan lanjut usia

setiap hari. Aktivitas sehari-hari digunakan untuk menentukan hasil tindakan dan

prognosis pada lanjut usia dan berguna untuk menggambarkan tingkat fungsional

klien (mandiri atau tergantung) dan secara objektif mengukur efek tindakan yang

diharapkan untuk memperbaiki fungsi (Luekenotte, 2000). Melakukan aktivitas fisik

merupakan hal yang sangat penting bagi lansia karena bertujuan untuk menjaga

kesehatan dan mempertahankan kemampuan untuk melakukan aktivitas serta

meningkatkan kulitas hidup (Luekenotte, 2000). Aktivitas sehari hari terdiri dari

aktivitas dasar (ADL) dan aktivitas instrumental (IADL).
Aktivitas sehari-hari lansia biasanya mengikuti indeks pengukuran yang

dikembangkan oleh Barthel, Kats, dan Lawton. Indeks ini didasarkan pada hasil

evaluasi terhadap tingkat kemandirian dan tingkat ketergantungan secara fungsional.

Indeks ini terdiri dari 7 tingkat, sebagai hasil penilaian terhadap perihal melakukan

kegiatan mandi, berpakainan, ke toilet, beranjak kontinensia dan makan. Menurut

Lawton adapun pengkajian yang dilakukan untuk mengukur kemandirian lansia yaitu,

menggunakan telepon, berbelanja, persiapan makan, memelihara rumah,mencuci

pakaian, model transportasi, tanggung jawab untuk pengobatan sendiri, kemampuan

untuk menangani keuangan (Noorkasiani & Tamher, 2009).

Tingkat kemandirian lansia akan berubah seiring dengan kondisi fisik lansia

yang mengalami perubahan sehingga lansia dianggap tidak dapat melakukan aktivitas

seperti biasanya. Banyak orang yang menganggap lansia tidak perlu melakukan

sesuatu karena keterbatasan fisiknya, sehingga aktivitas lansia menjadi berkurang. Hal

ini disebabkan oleh faktor internal atau dalam tubuh individu itu sendiri maupun

faktor eksternal yang berasal dari lingkungan. Akibatnya aktivitas tubuh lansia juga

tidak berjalan secara maksimal sehingga mempercepat proses kemunduran pada lansia

(Stanley & Beare, 2006).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah pada penelitian ini

apakah ada hubungan antara tingkat kejadian demensia dengan tingkat kemampuan

aktivitas dasar sehari-hari pada lansia.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara tingkat kejadian demensia dengan tingkat

kemampuan aktivitas dasar sehari-hari pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Kota

Bukittinggi.

2. Tujuan Khusus

a. Menegtahui angka kejadian Demensia pada lansia

b. Mengetahui gambaran aktivitas dasar sehari-hari

c. Mengetahui aktivitas dasar sehari-hari dengan kejadian Demensia

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Dinas Kesehatan

Meningkatkan pelayanan kesehatan atau keperawatan dengan melakukan upaya

pencegahan demensia pada lanjut usia sehingga dapat dijadikan dasar

pengembangan pelayanan kesehatan.

2. Bagi Tempat Penelitian

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang

gambaran tingkatan Demensia dan aktivitas sehari-hari pada lansia sehingga hasil

penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi lansia maupun keluarga

untuk lebih memperhatikan tingkat dimensia dan aktivitas sehari-hari pada lansia

guna meningkatkan kualitas hidup lansia.

3. Bagi Institusi Pensisikan STIKes Yarsi Bukittinggi

Dapat digunakan untuk menambah ilmu keperawatan gerontologi dan sebagai

acuan penelitian lanjutan yang berkaitan dengan faktor-faktor resiko yang

berhubungan dengan kejadian demensia pada lanjut usia.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai data dasar, menambah wawasan dan

informasi dan sebagai rujukan bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan
penelitian selanjutnya dengan variabel berbeda yang belum diteliti oleh peneliti

sebelumnya.