You are on page 1of 15

PENGARUH KEADILAN PAJAK, KUALITAS PELAYANAN PAJAK,

KEMUNGKINAN TERDETEKSINYA KECURANGAN, SANKSI


PERPAJAKAN, DAN TARIF PAJAK TERHADAP PERSEPSI
WAJIB PAJAK MENGENAI PENGGELAPAN PAJAK

Oleh:
Chrisna Vionita Lumban Tobing
Pembimbing: Vince Ratnawati dan Rusli

Faculty of Economics Riau University, Pekanbaru, Indonesia


e-mail: chrisnavionita@yahoo.co.id

The Effect Of Tax Fairness, Quality Of Tax Service, Probability Of Fraud


Detection, Tax Sanction, And Tax Rates Against The Taxpayer Perceptions About
Tax Evasion

ABSTRACT

This study aims to examine the effect of tax fairness, quality of tax service,
probability of fraud detection, tax sanction, and tax rates against the taxpayer’s
perceptions about tax evasion. The population in this study is the micro, small,
and medium business entrepreneurs taxpayer in Pekanbaru and listed on KPP
Pratama Senapelan Pekanbaru. The sampling technique using convenience
sampling method nad determination of sampel size in this study was calculated by
formula slovin obtained by 100 respondents. The data of this research using
primary data directly through a questionnaires and analyzed using SPSS 17. The
data were analyzed to test the hypothesis using multiple linear regression analsys
approach. The result of this study showed that tax fairness, quality of tax service,
probability of fraud detection, and tax sanction have effect on taxpayer’s
perceptions about tax evasion. While the tax rates has no effect regarding on
taxpayer’s perceptions about tax evasion.

Keywords: tax fairness, quality of tax service, tax sanction, tax rates, and tax
evasion

PENDAHULUAN bagi sebesar-besarnya kemakmuran


rakyat.
Menurut UU No.16 Tahun Indonesia adalah negeri yang
2009 Tentang Ketentuan Umum dan kaya yang memiliki sumber daya
Tata Cara Perpajakan Pasal 1 ayat alam yang melimpah namun
(1) pajak adalah kontribusi Wajib kekayaan alam tersebut tidak mampu
Pajak kepada negara yang terutang menjadi sumber utama pembiayaan
oleh pribadi atau badan yang bersifat negara. Sama seperti negara-negara
memaksa berdasarkan undang- lainnya, Indonesia juga mengenakan
undang, dengan tidak mendapatkan pajak terhadap warga negaranya dan
imbalan secara langsung dan sampai saat ini pajak tetap menjadi
digunakan untuk keperluan negara prioritas utama bagi penerimaan

Jom FEKON Vol. 2 No. 2 Oktober 2015 1


negara. (www.pajak.go.id, 7 Pada tahun 2013 realisasi
Desember 2012). penerimaan pajak mencapai 96
Pajak yang dibayarkan persen dari target sepanjang tahun
masyarakat digunakan untuk lalu. Namun demikian, penerimaan
membiayai pembangunan dan pajak tersebut masih didominasi
pengeluaran umum lainnya, yang perusahaan besar dan dari sektor
berarti hal tersebut akan digunakan usaha kecil masih sangat kurang.
untuk menyejahterakan rakyat. Akan Direktur Jenderal Pajak Kementerian
tetapi, tidak banyak rakyat yang Keuangan Fuad Rachmany mengakui
merasakan apa yang telah mereka sektor informal termasuk UKM telah
keluarkan. Pada tahun 2012, menggenjot pertumbuhan ekonomi
ancaman pemboikotan pajak sempat Indonesia ke arah membaik. Namun
menjadi isu hangat ditengah demikian, kontribusi pajak dari
masyarakat. Timbulnya wacana sektor informal tersebut masih di
pemboikotan pajak tentunya bukan bawah 2 persen (Kompas.com, 06
tanpa sebab. Ketidakpercayaan Januari 2014).
sebagian masyarakat terhadap Penghindaran pajak mempu-
pemerintah dalam mengelola nyai arti yang berbeda dengan
keuangan negara menjadi alasan penggelapan pajak, penghindaran
masyarakat enggan membayar pajak. pajak atau tax avoidance dapat
Namun, tindakan tersebut bukanlah diartikan sebagai kegiatan penghin-
tindakan yang tepat dan justru akan daran pajak dengan memanfaatkan
membawa resiko yang lebih besar. celah–celah (loopholes) dari
Sebenarnya yang perlu diperbaiki peraturan–peraturan dan perundang–
adalah bagaimana mengelola undangan perpajakan yang berlaku di
penerimaan pajak secara optimal negara tempat masyarakat pembayar
untuk mencegah kebocoran dan pajak berada. Sulitnya penerapan tax
benar-benar dimanfaatkan demi avoidance membuat seorang wajib
kesejahteraan rakyat. Transparansi pajak cenderung untuk melakukan
pemerintah dalam pengelolaan penggelapan pajak (Ayu dan
keuangan negara, serta pengawasan Hastuti,2009).
aktif dari penegak hukum dan Timbulnya persepi wajib
masyarakat untuk mencegah pajak mengenai penggelapan pajak
penyimpangan, tentunya menjadi hal ini disebabkan oleh adanya fakta-
yang penting untuk mewujudkan hal fakta tentang petugas pajak yang
tersebut. Saat ini, pemerintah melakukan korupsi atas pembayaran
memang tengah berupaya untuk wajib pajak, sehingga mereka
mengembalikan kepercayaan memandang penggelapan pajak itu
masyarakat. Direktorat Jenderal etis karena uang yang mereka
Pajak (DJP) sebagai institusi yang bayarkan tidak digunakan untuk
mengemban tugas mengumpulkan membiayai pengeluaran negara. Jadi
penerimaan pajak diharapkan mampu percuma saja jika wajib pajak
melaksanakan tugas sebaik-baiknya membayar pajak tetapi di korupsi
dan memastikan tidak ada ada oleh petugas pajak (Murni et al,
kebocoran penerimaan negara 2013). Korupsi yang dilakukan oleh
(www.pajak.go.id, 7 Desember petugas pajak tentunya telah
2012). mengikis kepercayaan masyarakat
yang seharusnya sudah memiliki

Jom FEKON Vol. 2 No. 2 Oktober 2015 2


kesadaran yang tinggi dan partisipasi keadilan pajak terhadap persepsi
yang baik untuk melakukan wajib pajak mengenai penggelapan
pembayaran pajak. pajak. (2) Untuk menguji pengaruh
Penelitian ini merupakan kualitas pelayanan pajak terhadap
replikasi dari penelitian yang persepsi wajib pajak mengenai
dilakukan oleh peneliti sebelumnya penggelapan pajak. (3) Untuk
yaitu Murni, et al (2013), dengan menguji pengaruh kemungkinan
cakupan variabel keadilan pajak, terdeteksinya kecurangan terhadap
kualitas pelayanan pajak, dan persepsi wajib pajak mengenai
kemungkinan terdeteksinya kecura- penggelapan pajak. (4) Untuk
ngan pengaruh terhadap persepsi menguji pengaruh sanksi perpajakan
wajib pajak mengenai penggelapan terhadap persepsi wajib pajak
pajak. Perbedaan penelitian ini mengenai penggelapan pajak. (5)
dengan penelitian sebelumnya adalah Untuk menguji pengaruh tarif pajak
didalam penelitian ini menggunakan terhadap persepsi wajib pajak
variabel sanksi perpajakan dan tarif mengenai penggelapan pajak.
pajak sebagai tambahan variabel
independennya.Penambahan variabel
TELAAH PUSTAKA
sanksi perpajakan didasarkan pada
penelitian Rachmadi (2014) yang
Keadilan Pajak
menyatakan bahwa sanksi perpajak-
an berpengaruh terhadap persepsi Adil menurut Kamus Besar
Wajib Pajak atas penggelapan pajak. Bahasa Indonesia adalah (1) sama
Dan penambahan variabel tarif pajak berat, tidak berat sebelah, tidak
didasarkan pada penelitian memihak; (2) berpihak kepada yang
Permatasari (2013) yang menyatakan benar, berpegang pada kebenaran;
bahwa tarif pajak berpengaruh dan (3) sepatutnya, tidak sewenang-
terhadap penggelapan pajak. wenang. Sedangkan keadilan adalah
Adapun rumusan masalah sifat (perbuatan atau perlakuan) yang
dalam penelitian ini adalah: (1) adil. Jadi dapat disimpulkan bahwa
Apakah keadilan pajak berpengaruh keadilan pajak adalah sifat
terhadap persepsi wajib pajak (perbuatan atau perlakuan) yang
mengenai penggelapan pajak? (2) tidak sewenang wenang atau tidak
Apakah kualitas pelayanan pajak berat sebelah atas sistem perpajakan
berpengaruh terhadap persepsi wajib yang berlaku (Pris, 2010).
pajak mengenai penggelapan pajak? Jalan menuju keadilan dalam
(3) Apakah kemungkinan terdeteksi- perpajakan dimulai dari penentuan
nya kecurangan berpengaruh terha- objeknya serta ukuran yang cukup
dap persepsi wajib pajak mengenai jelas mengenai apa yang disebut
penggelapan pajak? (4) Apakah sebagai kemampuan untuk memba-
sanksi perpajakan berpengaruh yar. Keadilan dalam perpajakan
terhadap persepsi wajib pajak menghendaki penerapan suatu
mengenai penggelapan pajak? (5) standar yang berpegang kepada
Apakah tarif pajak berpengaruh kebebasan atau ketentuan khusus dan
terhadap persepsi wajib pajak tidak memihak, misalnya standar
mengenai penggelapan pajak?
atau kinerja apa yang digunakan
Adapun tujuan dari penelitian ini untuk menetapkan besarnya pajak
adalah: (1) Untuk menguji pengaruh penghasilan, apakah akan dikenakan
Jom FEKON Vol. 2 No. 2 Oktober 2015 3
persentase yang sama terhadap baik dan dapat memenuhi harapan
semua tingkat penghasilan, atau wajib pajak maka wajib pajak akan
persentasenya meningkat apabila cenderung patuh membayar pajak.
penghasilannya bertambah tinggi, Berdasarkan penelitian yang
atau persentasenya menurun apabila dilakukan Murni, et al (2013)
penghasilannya bertambah tinggi menyatakan bahwa kualitas
(Zain, 2005:26). pelayanan pajak berpengaruh
Berdasarkan penelitian yang ditemu- terhadap penggelapan pajak, yang
kan oleh Permatasari (2013) berarti semakin tinggi kualitas
menyimpulkan bahwa keadilan pajak pelayanan pajak, maka persepsi
berpengaruh terhadap persepsi wajib wajib pajak mengenai tax evasion
pajak dimana keadilan merupakan semakin rendah. Oleh karena itu,
salah satu faktor yang paling hipotesis kedua dalam penelitian ini
mempengaruhi seorang wajib pajak dapat dirumuskan sebagai berikut.
untuk membayar kewajiban H2: Kualitas pelayanan pajak
perpajakannya. berpengaruh terhadap persepsi
Oleh karena itu, hipotesis pertama wajib pajak mengenai
dalam penelitian ini dirumuskan penggelapan pajak.
sebagai berikut.
H1: Keadilan pajak berpengaruh Kemungkinan Terdeteksinya
terhadap persepsi wajib Kecurangan
pajak mengenai penggelapan Rahman (2013) kemungkinan
pajak. terdeteksinya kecurangan adalah
seberapa besar kemungkinan
Kualitas Pelayanan Pajak terdeteksi kecurangan jika dilakukan
Kualitas pelayanan adalah pemeriksaan. Ada bermacam cara
kemampuan suatu pihak yang dilakukan pemerintah dalam
menawarkan manfaat kepada pihak mendeteksi kecurangan yang terjadi
lain pada dasarnya tidak berwujud yaitu dengan melakukan
untuk memenuhi pengharapan dan pemeriksaan.
kebutuhan dari pihak lain tersebut Pemeriksaan yang dilakukan dengan
(Surliani dan Kardinal, 2014). sistem dan disiplin yang baik akan
Menurut Murni, et al (2013), membuat Wajib Pajak takut ataupun
pelayanan petugas pajak terhadap enggan untuk melakukan
wajib pajak cukup menentukan penggelapan pajak. Hal ini
dalam pengambilan keputusan wajib dikarenakan Wajib Pajak merasa
pajak membayar pajak. Hal tersebut lebih dikontrol dengan adanya
disebabkan karena wajib pajak telah pemeriksaan. Pemeriksaan yang
memberikan kontribusi yang besar dilakukan secara instensif ataupun
kepada negara dengan membayar dalam periode teratur maka
pajak. Ketika wajib pajak merasa penggelapan pajak akan semakin
pelayanan yang diberikan kepadanya kecil. Ketika Wajib Pajak
tidak sesuai dengan apa yang menganggap bahwa persentase
diharapkan, maka wajib pajak kemungkinan terdeteksinya kecura-
cenderung akan melakukan ngan melalui pemeriksaan pajak
kecurangan yaitu penggelapan pajak, yang dilakukan tinggi, maka wajib
dan sebaliknya jika pelayanan yang pajak akan cenderung untuk patuh
diberikan oleh petugas pajak sudah terhadap aturan perpajakan dan tidak

Jom FEKON Vol. 2 No. 2 Oktober 2015 4


melakukan penggelapan pajak. perilaku penggelapan pajak. Semakin
Karena jika diperiksa dan ternyata tegas sanksi pajak yang diberikan,
melakukan kecurangan, maka dana maka semakin kecil tingkat
yang akan dikeluarkan untuk kecurangan yang akan dilakukan
membayar denda akan lebih jauh oleh wajib pajak.
lebih besar daripada pajak yang Oleh karena itu, hipotesis keempat
sebenarnya harus ia bayar (Ayu dan dalam penelitian ini dapat
Hastuti, 2009). dirumuskan sebagai berikut.
Berdasarkan penelitian yang H4: Sanksi perpajakan berpengaruh
dilakukan Murni, et al (2013) terhadap persepsi wajib pajak
menyimpulkan bahwa kemungkinan mengenai penggelapan pajak.
terdeteksinya kecurangan berpeng-
aruh signifikan negatif terhadap tax Tarif Pajak
evasion. Hal ini membuktikan bahwa Peraturan Pemerintah (PP)
semakin tingginya kemungkinan No. 46 Tahun 2013 berisi tentang
terdeteksinya kecurangan maka Pajak Penghasilan dari usaha yang
semakin menurunkan tindak diterima atau diperoleh Wajib Pajak
penggelapan pajak. Oleh karena itu, yang memiliki peredaran bruto
hipotesis ketiga dalam penelitian ini tertentu. Peraturan Pemerintah No
dapat dirumuskan sebagai berikut. 46. Tahun 2013 berdasarkan Pasal 17
H3: Kemungkinan terdeteksinya ayat (7) UU PPh dan dalam Pasal 4
kecurangan berpengaruh ayat (2) huruf e UU No 36 Tahun
terhadap persepsi wajib pajak 2008 tentang pajak penghasilan.
mengenai penggelapan pajak. Dengan PP tersebut dapat ditetapkan
tarif pajak tersendiri atas penghasilan
Sanksi Perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
Sanksi yang diatur dalam Penjelasan Pasal 17 ayat (7) UU PPh.
Undang-Undang Perpajakan dikenal Ketentuan dalam ayat ini memberi
dengan nama Sanksi Administrasi wewenang kepada Pemerintah untuk
dan Sanksi Pidana. Sanksi Pajak menentukan tarif pajak tersendiri
diberikan karena Wajib Pajak atas penghasilan sebagaimana
melanggar ketentuan perpajakan dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2),
yang berlaku (Fitrios dan Rusli, sepanjang tidak lebih tinggi dari tarif
2012). pajak tertinggi sebagaimana diatur
Penerapan sanksi disini dimaksudkan dalam ayat (1). Keberadaan tarif
untuk memberikan hukuman positif pajak digunakan untuk menghitung
kepada Wajib Pajak yang telah lalai pajak terutang. Meskipun tarif pajak
dalam pemenuhan kewajiban digunakan untuk mengetahui jumlah
perpajakannya. Wajib Pajak akan pajak terutang, tidak berarti
memenuhi kewajiban perpajakannya mengesampingkan fungsi hukum
bila memandang bahwa sanksi pajak yang berupa keadilan,
perpajakan akan lebih banyak kemanfaatan, dan kepastian hukum.
merugikannya (Jatmiko, 2006). Berdasarkan penelitian yang
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Permatasari (2013)
dilakukan oleh Rachmadi (2014) menyatakan bahwa tarif pajak
menyatakan bahwa sanksi berpengaruh positif terhadap tax
perpajakan berpengaruh signifikan evasion. Semakin tinggi tarif pajak
terhadap persepsi wajib pajak atas semakin besar tingkat penggelapan

Jom FEKON Vol. 2 No. 2 Oktober 2015 5


pajak, sehingga pendapatan semakin Definisi Operasional dan
menurun. Oleh karena itu, hipotesis Pengukuran Variabel
kelima dalam penelitian ini dapat Penggelapan Pajak (Y)
dirumuskan sebagai berikut. Penggelapan pajak merupakan upaya
H5: Tarif pajak berpengaruh wajib pajak dengan penghindaran
terhadap persepsi wajib pajak pajak terutang secara illegal dengan
mengenai penggelapan pajak. cara menyembunyikan keadaan yang
sebenarnya, namun tidak aman bagi
METODE PENELITIAN wajib pajak, dimana metode dan
teknik yang digunakan sebenarnya
Populasi dalam penelitian ini tidak dalam koridor Undang-Undang
adalah jumlah wajib pajak UMKM dan Peraturan Perpajakan itu sendiri
yang ada di kota Pekanbaru dan (Pohan, 2011:14)
terdaftar di KPP Pratama Senapelan Variabel ini diukur dengan
Pekanbaru. Pengambilan sampel indikator yang dikembangkan oleh
dilakukan dengan metode Suminarsasi dan Supriyadi (2011)
convenience sampling yaitu dan Rahman (2013). Diukur denga
pengumpulan informasi dari anggota menggunakan skala likert (Likert
populasi yang dengan senang hati Scale) yang berkaitan dengan 10
bersedia memberikannya (Sekaran, (sepuluh) item pertanyaan yang
2006:136). Perhitungan penentuan diadopsi dari Ardyaksa (2014)
sampel menggunakan rumus Slovin dengan menggunakan 5 poin
dengan nilai kritis 0,1 atau (10%). penilaian, yaitu: (1) Sangat tidak
Teknik pengumpulan data primer Setuju, (2) tidak setuju, (3)Netral,
pada penelitian ini dengancara (4)Setuju, dan (5) Sangat Setuju.
membagikan kuesioner kepada
Wajib Pajak UMKM yang berada di Keadilan Pajak (X1)
kota Pekanbaru dan terdaftar di KPP Banu (2008) dalam Elmiza, et
Pratama Senapelan Pekanbaru yang al (2014) mengatakan keadilan pajak
dijadikan sampel dalam penelitian. adalah salah satu asas dalam aturan
Metode analisis data digunakan perpajakan, tetapi dalam pelaksanaan
analisis regresi liniear berganda hal tersebut sering dianggap
dengan rumus sebagai berikut. masyarakat tidak sesuai dengan
Y = α + b1X1+ b2X2 +b3X3 + maksud keadilan yang menjadi asas
b4X4+ b5X5 + e dari perpajakan.Variabel ini diukur
Keterangan: dengan menggunakan indikator yang
Y = Penggelapan Pajak dikembangkan oleh Ayu dan Hastuti
α = Konstanta (2009) dengan menggunakan skala
b = Koefisien arah regresi likert. Setiap responden diminta
X1 = Keadilan Pajak untuk menjawab pertanyaan yang
X2 = Kualitas Pelayanan Pajak berkaitan dengan 5 point penilian,
X3 = Kemungkinan yaitu: (1) Sangat Tidak Setuju, (2)
Terdeteksinya Tidak Setuju, (3) Netral, (4) Setuju,
Kecurangan (5) Sangat Setuju.
X4 = Sanksi Perpajakan
X5 = Tarif Pajak Kualitas Pelayanan Pajak
e = Variabel Pengganggu Menurut Murni, et al (2013)
(error term) kualitas pelayanan pajak adalah

Jom FEKON Vol. 2 No. 2 Oktober 2015 6


bentuk aktivitas atau kegiatan yang Setuju, (3) Netral, (4) Setuju, (5)
dilakukan oleh kantor pelayanan Sangat Setuju.
pajak terhadap pemenuhan
kebutuhan wajib pajak dalam Sanksi Perpajakan
mengimbangi harapan wajib pajak. Sanksi perpajakan merupakan
Variabel ini diukur dengan jaminan bahwa ketentuan peraturan
menggunakan indicator dikemuka- perundang-undangan perpajakan
kan oleh Fitria (2010). Variabel ini (norma perpajakan) akan
menggunakan instrumen pertanyaan dituruti/ditaati/dipatuhi (Mardiasmo,
yang diadopsi dari penelitian Yetmi, 2011). Untuk mengukur sanksi
et al (2014) dengan menggunakan perpajakan digunakan indikator yang
skala likert. Setiap responden dikemukakan Mutia (2014). Sanksi
diminta untuk menjawab 5 (lima) perpajakan merupakan jaminan
item pertanyaan yang berkaitan bahwa ketentuan peraturan
dengan 5 poin penilaian, yaitu: (1) perundang-undangan perpajakan
Sangat Tidak setuju, (2) Tidak (norma perpajakan) akan
Setuju, (3) Netral, (4) Setuju, (5) dituruti/ditaati/dipatuhi (Mardiasmo,
Sangat Setuju. 2011). Untuk mengukur sanksi
perpajakan digunakan indikator yang
Kemungkinan Terdeteksinya dikemukakan Mutia (2014). Dalam
Kecurangan penelitian ini digunakan skala Likert
Rahman (2013) kemungkinan 5 (lima) poin, yaitu : (1) Sangat
terdeteksinya kecurangan adalah Tidak Setuju, (2) Tidak Setuju, (3)
seberapa besar kemungkinan Netral, (4) Tidak Setuju, dan (5)
terdeteksi kecurangan jika dilakukan Sangat Setuju.
pemeriksaan. Pemeriksaan adalah
serangkaian kegiatan menghimpun Tarif Pajak
dan mengolah data, keterangan Tarif pajak adalah tarif untuk
dan/atau bukti yang dilaksanakan menghitung besarnya pajak terutang
secara objektif dan professional (pajak yang harus dibayar (Waluyo,
berdasarkan suatu standar 2011:17). Variabel ini diukur dengan
pemeriksaan untuk menguji menggunakan indikator yang
kepatuhan pemenuhan kewajiban dikemukakan oleh Permatasari
perpajakan dan/atau untuk tujuan (2013) dengan menggunakan
lain dalam rangka melaksanakan pertanyaan yang diadopsi dari
ketentuan peraturan perundang- Ardyaksa (2014). Setiap responden
undangan perpajakan (Mardiasmo, diminta untuk menjawab 4 item
2011). pertanyaan yang berkaitan dengan 5
Variabel ini diukur dengan indikator point penilian, yaitu: (1) Sangat
yang dikembangkan oleh Rahman Tidak Setuju, (2) Tidak Setuju, (3)
(2013) dengan menggunakan Netral, (4) Setuju, (5) Sangat Setuju.
kuesioner yang diadopsi dari
Ardyaksa (2014). Setiap responden HASIL PENELITIAN DAN
diminta untuk menjawab 5 (lima) PEMBAHASAN
item pertanyaan yang berkaitan
dengan 5 poin penilaian, yaitu: (1) Kuesioner dan Demografi
Sangat Tidak Setuju, (2) Tidak Jumlah kuesioner yang
disebar sejumlah 110 kuesioner. Dari

Jom FEKON Vol. 2 No. 2 Oktober 2015 7


seluruh kuesioner yang disebarkan Hasil Uji Asumsi Klasik
peneliti, jumlah kuesioner yang Hasil Uji Normalitas Data
kembali berjumlah 110 (100%). Untuk mengolah data digunakan Uji
Tingginya tingkat pengembalian Normalitas, yang menguji apakah
(respon rate) sebesar 100% tersebut, dalam sebuah model regresi, variabel
dikarenakan kuesioner disebarkan independen dan variabel dependen
langsung kepada responden. Jumlah atau keduanya mempunyai kontribusi
kuesioner yang dapat diolah adalah atau tidak. Penelitian ini
sebanyak 105 kuesioner atau (95%), menggunakan Normal Probability
sedangkan kuesioner yang tidak Plot untuk menguji data yang
dapat diolah berjumlah 5 kuesioner mempunyai distribusi normal atau
atau (5%). Penyebaran kuesioner ini tidak. Model regresi yang baik
berlangsung pada bulan Maret adalah data distribusi normal atau
sampai April 2015. mendekati normal, untuk mendeteksi
normalitas dapat dilakukan dengan
Hasil Uji Validitas Data melihat penyebaran data (titik) pada
Pada penelitian ini jumlah sumbu diagonal grafik (Ghozali,
sampel yang diperoleh sebanyak 105 2011:60).
responden sehingga degree of
freedom (df) diperoleh 103 dengan Gambar 1
taraf signifikansi 0,05 (α=5%), Uji Normalitas Data
didapat rtabel = 0,192. Berdasarkan
hasil uji validitas menggunakan
SPSS 17, seluruh item pertanyaan
dari masing-masing variabeldalam
penelitian ini adalah valid (rhitung >
rtabel).

Hasil Uji Reliabilitas


Pengujian reliabilitas
penelitian ini menggunakan koefisien
Cronbach Alpha dengan bantuan
program SPSS 17. Suatu konstruk
atau variabel dikatakan reliabel jika Pada grafik normal P-P Plot
memberikan nilai koefisien Alpha terlihat titik-titik menyebar di sekitar
lebih besar daripada 0,60 (Ghozali, garis diagonal, serta penyebarannya
2009). Jika nilai reliabilitas kurang mengikuti arah garis diagonal artinya
dari 0,6 maka nilainya kurang baik. model regresi layak dipakai karena
Artinya adalah bahwa alat ukur yang asumsi normalitas.
digunakan tidak reliabel.
Berdasarkan hasil uji realibilitas Hasil Uji Multikolinearitas
menggunakan SPSS 17, seluruh item Uji multikolineritas bertujuan
pertanyaan dari masing-masing untuk menguji apakah dalam suatu
variabel dalam penelitian ini adalah model regresi ditemukan adanya
reliabel (cronbach’s alpha > 0,6 ). korelasi antar variabel bebas
penelitian. Model regresi yang baik
seharusnya tidak terjadi korelasi di
antara variabel bebas. Multi-

Jom FEKON Vol. 2 No. 2 Oktober 2015 8


kolinearitas dapat dideteksi dengan bahwa titik-titik menyebar secara
melihat besaran VIF (Varian acak, serta tersebar baik di atas
Inflation Factor) dan nilai Tolerance. maupun dibawah angka nol pada
Jika nila VIF <10 atau nilai sumbu Y. Hal ini dapat disimpulkan
Tolerance > 0.10, berarti tidak bahwa tidak terjadi
terdapat multikolinearitas (Suharyadi heteroskedastisitas pada model
dan Purwanto, 2011:230). regresi.
Dalam penelitian ini tidak
terdapat multikolineraitas (nilai VIF Hasil Uji Autokorelasi
< 10 untuk semua variabel bebas, Tujuan pengujian ini adalah
begitu juga dengan nilai tolerance > untuk menguji apakah dalam model
0,10). regresi linear ada korelasi antara
kesalahan penganggu pada periode t
Hasil Uji Heteroskedastisitas dengan kesalahan penganggu pada
Untuk mendeteksi ada periode ke t-1 (sebelumnya). Untuk
tidaknya heteroskedastisitas dapat mendeteksi gejala autokorelasi
dilakukan dengan melihat grafik digunakan uji Durbin-Watson. Batas
Plot (Scatterplot) antara nilai tidak terjadinya autokorelasi adalah
prediksi variabel terikat (ZPRED) angka Durbin-Watson berada antara
dengan residual (SRESID). Jika -2 sampai dengan +2.
grafik plot menunjukkan suatu pola
titik yang bergelombang atau Tabel 1
melebar kemudian menyempit, maka Uji Autokorelasi
dapat disimpulkan bahwa telah Durbin-Watson N
terjadi heteroskedastisitas. Namun, 1,849 105
jika tidak ada pola yang jelas, serat Berdasarkan hasil diatas
titik-titik menyebar di atas dan di diketahui nilai dhitung (Durbin
bawah angka 0 pada sumbu Y, maka Watson) adalah sebesar 1.849, yang
tidak terjadi heteroskedastisitas terletak antara -2 dan 2. Sehingga
(Ghozali, 2011: 139). dapat disimpulkan, tidak terdapat
autokorelasi dalam model penelitian.
Gambar 2
Uji Heteroskedastisitas Pengujian Hipotesis
Dalam penelitian ini,
hipotesis diuji dengan menggunakan
model regresi linier berganda untuk
memperoleh gambaran menyeluruh
mengenai pengaruh variabel
sosialisasi perpajakan, pelayanan
fiskus, pengetahuan pajak, persepsi
pengetahuan korupsi, dan sanksi
perpajakan terhadap kepatuhan wajib
pajak dilakukan dengan bantuan
sofware SPSS (statistical product
and service solution) versi 17. Data
statistik olahan data SPSS versi 17
Dari grafik Scatterplot yang untuk pengujian secara parsial (uji t).
ada pada gambar di atas dapat dilihat

Jom FEKON Vol. 2 No. 2 Oktober 2015 9


Hasil Analisis Regresi Liniear yang menyatakan bahwa keadilan
Berganda pajak mempunyai pengaruh terhadap
persepsi wajib pajak mengenai
Tabel 2 penggelapan pajak.
Analisis Regresi Liniear Berganda
Pengaruh Kualitas Pelayanan
Pajak Terhadap Persepsi Wajib
Unstandardize
d Coefficients Pajak Mengenai Penggelapan
Std. Pajak
Model B Error T Sig. Dari tabel diatas terlihat
(Constant) 68,644 4.378 15.680 .000 bahwa thitung > ttabel yaitu -2.680 >
Keadilan Pajak -.464 .112 -4.152 .000 1.984 dengan signifikansi sebesar
Kualitas -.338 .126 -2.260 .009 0.009 dan tingkat kesalahan (alpha)
Pelayanan Pajak sebesar 0,05 yang berarti bahwa H1
Kemungkinan -.429 .137 -3.142 .002 diterima dan H0 ditolak. Sehingga
Terdeteksinya
Kecurangan dapat dikatakan bahwa kualitas
Sanksi -.734 .154 -4.775 .000 pelayanan pajak berpengaruh
Perpajakan terhadap persepsi wajib pajak
Tarif Pajak .293 .170 1.717 .089 mengenai penggelapan pajak.
Berdasarkan tabel di atas, Hasil penelitian ini sejalan
maka persamaan regresi linear dengan penelitian Murni, et al (2013)
berganda dari model penelitian yang menyatakan bahwa kualitas
menjadi sebagai berikut. pelayanan pajak berpengaruh
Y =68.644-0.464X1-0.0338X2- terhadap persepsi wajib pajak
0.429X3-0.734X4+0.293X5+ e mengenai penggelapan pajak. Hasil
penelitian menyatakan bahwa
Pengaruh Keadilan Pajak semakin tinggi kualitas pelayanan
Terhadap Persepsi Wajib Pajak pajak, maka persepsi Wajib Pajak
Mengenai Penggelapan Pajak mengenai penggelapan pajak akan
Dari tabel diatas terlihat semakin rendah. Penelitian ini
bahwa thitung > ttabel yaitu -4.152 > bertolak belakang dengan penelitian
1.984 dengan signifikansi sebesar Yetmi (2014) yang menyimpulkan
0.000 dan tingkat kesalahan (alpha) bahwa kualitas pelayanan pajak tidak
sebesar 0,05 yang berarti bahwa H1 berpengaruh terhadap persepsi wajib
diterima dan H0 ditolak. Sehingga pajak mengenai penggelapan pajak.
dapat dikatakan bahwa keadilan
pajak berpengaruh terhadap persepsi Pengaruh Kemungkinan
wajib pajak mengenai penggelapan Terdeteksinya Kecurangan
pajak. Terhadap Persepsi Wajib Pajak
Hasil penelitian ini bertolak Mengenai Penggelapan Pajak
belakang dengan penelitian Murni, et Dari tabel diatas terlihat
al (2013) dan Ayu (2009) yang bahwa thitung > ttabel yaitu -3.142 >
menyimpulkan bahwa keadilan tidak 1.984 dengan signifikansi sebesar
berpengaruh terhadap persepsi wajib 0.002 dan tingkat kesalahan (alpha)
pajak mengenai penggelapan pajak. sebesar 0,05 yang berarti bahwa H1
Penelitian ini sejalan dengan diterima dan H0 ditolak. Sehingga
penelitian yang dilakukan Yetmi, et dapat dikatakan bahwa kemungkinan
al (2014) dan Handayani (2014) terdeteksinya kecurangan berpeng-

Jom FEKON Vol. 2 No. 2 Oktober 2015 10


aruh terhadap persepsi wajib pajak terhadap persepsi wajib pajak
mengenai penggelapan pajak. mengenai penggelapan pajak.
Hasil penelitian ini sejalan
dengan penelitian Murni, et al (2013) Pengaruh Tarif Pajak Terhadap
dan Ayu dan Hastuti (2009) yang Persepsi Wajib Pajak Mengenai
menyatakan bahwa kemungkinan Penggelapan Pajak
terdeteksinya kecurangan berpeng- Dari tabel diatas terlihat
aruh terhadap persepsi wajib pajak bahwa thitung < ttabel yaitu 1.717 <
mengenai penggelapan pajak. 1.984 dengan signifikansi sebesar
Hasil penelitian menyatakan 0.000 dan tingkat kesalahan (alpha)
bahwa semakin tinggi kemungkinan sebesar 0,05 yang berarti bahwa H1
terdeteksinya kecurangan, maka ditolak dan H0 diterima. Sehingga
tingkat penggelapan pajak akan dapat dikatakan bahwa tarif pajak
semakin rendah. Penelitian ini tidak berpengaruh terhadap persepsi
bertolak belakang dengan penelitian wajib pajak mengenai penggelapan
Yetmi (2014) yang menyimpulkan pajak.
bahwa kemungkinan terdeteksinya Hasil penelitian ini bertolak
kecurangan tidak berpengaruh belakang dengan penelitian
terhadap persepsi wajib pajak Permatasari (2013) yang
mengenai penggelapan pajak. menyimpulkan bahwa tarif pajak
berpengaruh terhadap persepsi wajib
Pengaruh Sanksi Perpajakan pajak mengenai penggelapan pajak.
Terhadap Persepsi Wajib Pajak Namun, penelitian ini sejalan dengan
Mengenai Penggelapan Pajak penelitian Ardyaksa (2014) yang
Dari tabel diatas terlihat menyatakan bahwa tarif pajak tidak
bahwa thitung > ttabel yaitu -4.152 > berpengaruh terhadap persepsi wajib
1.984 dengan signifikansi sebesar pajak mengenai penggelapan pajak.
0.000 dan tingkat kesalahan (alpha) Hasil penelitian menunjukkan bahwa
sebesar 0,05 yang berarti bahwa H1 wajib pajak akan tetap melakukan
diterima dan H0 ditolak. Sehingga tindakan penggelapan pajak jika ada
dapat dikatakan bahwa sanksi kesempatan walaupun tarif pajak
perpajakan berpengaruh terhadap yang dikenakan rendah. Mayoritas
persepsi wajib pajak mengenai Wajib Pajak tidak setuju jika
penggelapan pajak. penurunan tarif pajak dapat yang
Hasil penelitian ini sejalan berlaku dapat meningkatkan
dengan penelitian Rachmadi (2014) kemampuan membayar pajak.
yang menyatakan bahwa sanksi
perpajakan berpengaruh terhadap Hasil Uji Koefisien Determinasi
persepsi wajib pajak mengenai (Adjusted 𝐑𝟐 )
penggelapan pajak. Hasil penelitian Koefisien determinasi (R2)
menyatakan bahwa semakin tegas adalah sebuah koefisien yang
sanksi pajak yang diberikan, maka menunjukkan persentase pengaruh
semakin kecil tingkat kecurangan semua variabel independen terhadap
yang akan dilakukan oleh wajib variabel dependen dalam
pajak. Penelitian ini bertolak menjelaskan variabel dependen.
belakang dengan penelitian Yetmi Nilai koefisien determinasi adalah
(2014) yang menyimpulkan bahwa antara nol dan satu.
sanksi perpajakan tidak berpengaruh

Jom FEKON Vol. 2 No. 2 Oktober 2015 11


Tabel 3 kecenderungannya untuk
Uji Koefisien Determinasi melakukan penggelapan pajak
(Adjusted R2) tinggi.
2. Hasil pengujian hipotesis kedua
Model R R Adjusted menemukan bahwa variabel
Square R Square
kualitas pelayanan pajak
1 .874a .764 .752
berpengaruh terhadap persepsi
wajib pajak mengenai
Berdasarkan tabel 3 di atas
penggelapan pajak. Hasil
diperoleh nilai R sebesar 0,874 dan R
penelitian ini mendukung
Square (R2) sebesar 0,764. Adjusted
penelitian Murni, et al (2013),
R Square (R2) sebesar 0,752
yang menyatakan bahwa semakin
memberi pengertian bahwa 75,2%
tinggi kualitas pelayanan pajak,
penggelapan pajak dipengaruhi oleh
maka persepsi Wajib Pajak
keadilan pajak, kualitas pelayanan
mengenai penggelapan pajak akan
pajak, kemungkinan terdeteksinya
semakin rendah.
kecurangan, sanksi perpajakan, dan
3. Hasil pengujian hipotesis ketiga
tarif pajak, sedangkan 24,8%
menemukan bahwa variabel
dipengaruhi oleh variabel lainnya.
kemungkinan terdeteksinya
Dari persentase tersebut dapat
kecurangan berpengaruh terhadap
dikatakan bahwa masih terdapat
persepsi wajib pajak mengenai
faktor individual lain sebesar 24,8%
penggelapan pajak. Hasil
yang dapat dijelaskan variabel lain
penelitian ini mendukung
yang dapat mempengaruhi persepsi
penelitian Murni, et al (2013) dan
wajib pajak mengenai penggelapan
Ayu dan Hastuti (2009) yang
pajak.
menyatakan bahwa semakin
tinggi kemungkinan terdeteksinya
SIMPULAN DAN SARAN
kecurangan, maka tingkat
penggelapan pajak akan semakin
Simpulan
rendah.
Berdasarkan analisis yang dilakukan
4. Hasil pengujian hipotesis keempat
pada bagian sebelumnya dapat
menemukan bahwa variabel
diambil beberapa kesimpulan, yaitu:
sanksi perpajakan berpengaruh
1. Hasil pengujian hipotesis pertama
terhadap persepsi wajib pajak
menemukan bahwa variabel
mengenai penggelapan pajak.
keadilan pajak berpengaruh
Hasil penelitian ini mendukung
terhadap persepsi wajib pajak
penelitian Rachmadi (2014) yang
mengenai penggelapan pajak. Hal
menyatakan bahwa semakin tegas
ini mendukung penelitian Yetmi,
sanksi pajak yang diberikan, maka
et al (2014) dan Handayani
semakin kecil tingkat kecurangan
(2014). Ketika manfaat dari
yang akan dilakukan oleh wajib
perpajakan yang dirasakan
pajak.
masyarakat tinggi , maka tingkat
5. Hasil pengujian hipotesis kelima
kecurangan yang dilakukan akan
menemukan bahwa variabel tarif
semakin kecil. Semakin tidak adil
pajak tidak berpengaruh terhadap
sistem pajak yang berlaku
persepsi wajib pajak mengenai
menurut persepsi seorang wajib
penggelapan pajak. Hasil
pajak, maka tingkat kepatuhannya
penelitian ini mendukung
akan semakin menurun dan
Jom FEKON Vol. 2 No. 2 Oktober 2015 12
penelitian Ardyaksa (2014) yang Ardyaksa, Theo Kusuma. 2014.
menyatakan bahwa wajib pajak Pengaruh Keadilan, Tarif
akan tetap melakukan tindakan Pajak, Ketepatan Pengalokasi
penggelapan pajak jika ada an, Kecurangan Teknologi
kesempatan walaupun tarif pajak dan Informasi Perpajakan
yang dikenakan rendah. Terhadap Tax Evasion.
Jurnal Akuntansi UNNES.
Saran
Berdasarkan analisis dan Ayu, Dyah Stephana dan Rial
pembahasan hasil pengujian Hastuti. 2009. Persepsi Wajib
hipotesis yang telah dilakukan, hasil Pajak: Dampak Pertentangan
penelitian ini masih memiliki Diametral Pada Tax Evasion
keterbatasan. Untuk itu terdapat Wajib Pajak Dalam Aspek
beberapa saran yang perlu Kemungkinan Terdeteksinya
dikemukakan, antara lain: Kecurangan, Keadilan,
1. Untuk meningkatkan hasil yang Ketepatan Pengalokasian,
akurat, penelitian ini perlu Teknologi,SistemPerpajakan,
pengembangan sampel yang luas, dan Kecenderungan Personal
seperti tidak hanya wajib pajak (Studi Wajib Pajak Orang
UMKM yang terdaftar di Kantor Pribadi). Jurnal ISSN Vol 1.
Pelayanan Pajak Pratama
Senapelan saja, namun dapat Elmiza, Mesri, Popi Fauzati,
diperluas wilayah penelitian. Yunilma. 2014. Pengaruh
Selain memperluas sampel, Keadilan, Sistem Perpajakan,
peneliti selanjutnya juga dapat dan Diskriminasi Terhadap
memastikan responden yang Persepsi Mengenai Etika
dipilih benar-benar tepat untuk Penggelapan Pajka (Tax
dijadikan sampel sehingga Evasion). Jurnal Universits
hasilnya dapat digeneralisir. Bung Hatta.
2. Metode pengumpulan data perlu
ditambahkan untuk mendapatkan Fitria, Verisca Dena. 2010. Pengaruh
data yang lebih lengkap yaitu bisa Pengetahuan Perpajakan,
dilakukan dengan teknik KualitasPelayanan,
wawancara agar data yang Pemeriksaan dan Kesadaran
dihasilkan dapat lebih valid dan Terhadap Kepatuhan Wajib
jujur. Pajak dalam Menyampaikan
3. Penelitian selanjutnya dapat Surat Pemberitahuan (SPT).
menambahkan variabel lainnya Skripsi Universitas Islam
yang belum pernah diteliti Negeri Syarif Hidayatullah.
sebelumnya dengan tujuan untuk
mengetahui variabel-variabel lain Fitrios, Ruhul dan Rusli. 2011.
yang dapat mempengaruhi Pengantar Hukum Pajak.
persepsi wajib pajak mengenai Pekanbaru: UNRI Press
penggelapan pajak.
Gozhali, Imam. 2009. Aplikasi
Daftar Pustaka Analisis Multivariate dengan
Program SPSS.

Jom FEKON Vol. 2 No. 2 Oktober 2015 13


Semarang:Universitas Terhadap Kepatuhan Wajib
Dipenegoro. Pajak Orang Pribadi. Jurnal
Universitas Negeri Padang.
Gozhali, Imam. 2011. Aplikasi
Analisis Multivariate dengan Permatasari, Inggrid. 2013.
Program SPSS. Minimalisasi Tax Evasion
Semarang:Universitas Melalui Tarif Pajak,
Dipenegoro. Teknologidan Informasi
Perpajakan, Keadilan Sistem
Handayani M , Annisa’ul. 2014. Perpajakan, dan Ketepatan
Analisis Faktor-Faktor Yang PengalokasianPengeluaran
Mempengaruhi Persepsi Pemerintah (Studi Empiris
pada Wajib Pajak Orang
Wajib Pajak Mengenai
Pribadi di Wilayah KPP
Penggelapan Pajak. Jurnal Patama Pekanbaru
UNDIP vol 3. Senapelan). Jurnal UNDIP
Vol 2.
Jatmiko, Agus Nugroho.2006.
Pegaruh Sikap Wajib Pajak Pohan, Chairil Anwar. 2011.
pada SanksiDenda, Pelayanan Optimizing Corporate Tax
Fiskus, dan Kesadaran Management: Kajian
Perpajakan terhadap Perpajakan dan Tax
kepatuhan Wajib Pajak Orang Planning-nya Terkini.
Pribadi di kota Jakarta: Bumi Aksara.
Semarang.Tesis Program
Pasca Sarjana Magister Sains Pris K, Andarini. 2010. Dampak
Ilmu Akuntansi Universitas Dimensi Keadilan Pajak
Dipenegoro. Terhadap Tingkat Kepatuhan
Wajib Pajak Badan. Skripsi
Mardiasmo. 2011. Perpajakan Edisi Universitas Diponegoro.
Revisi 2011. Yogyakarta:
Penerbit Andi. Rachmadi, Wahyu. 2014. Faktor-
Faktor yang Mempengaruhi
Murni, Linda Puspa Sari, Tarjo, dan Persepsi Wajib Pajak Orang
Muhammad Erfan. 2013. Pribadi Atas Perilaku
Pengaruh Keadilan, Kualitas Penggelapan Pajak (Studi
Pelayanan Pajak, dan Empiris pada Wajib Pajak
Kemungkinan Terdeteksinya Terdaftar di KPP Pratama
Kecurangan Terhadap Semarang Candisari. Jurnal
Persepsi Wajib Pajak UNDIP Vol 3.
Mengenai Tax Evasion.
Jurnal Akuntansi Universitas Rahman, Irma Suryani. 2013.
Trunojoyo Madura. Pengaruh Keadilan, Sistem
Perpajakan, Diskriminasi dan
Mutia, Sri Putri Tita. 2014. Pengaruh Kemungkinan Terdetksi
Sanksi Perpajakan, Kecurangan Terhadap
Kesadaran Perpajakan, Persepsi Wajib Pajak
Pelayanan Fiskus, dan Mengenai Etika Penggelapan
Tingkat Pemahaman
Jom FEKON Vol. 2 No. 2 Oktober 2015 14
Pajak (Tax Evasion). Skripsi Penghasilan atas Penghasilan
Universitas Syarif dari Usaha yang Diterima atau
Hidayatullah. Diperoleh Wajib Pajak yang
Memiliki Peredaran Bruto
Sekaran, Uma. 2006. Metodologi
Penelitian untuk Bisnis Edisi Tertentu.
Keempat. Jakarta: Salemba
Undang-Undang Republik Indonesia
Empat.
Nomor 36 Tahun 2008
Setiawan, Sakina Rakhma Diah. tentang Pajak Penghasilan.
2014. Realisasi Pendapatan
Pajak 2013 Capai Rp. 1.099. Undang-Undang Republik Indonesia
Triliun (www.kompas.com) Nomor 16 Tahun 2009
diakses 19 September 2014. tentang Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan.
Suharyadi dan Purwanto S.K. 2011.
Statistika untuk Ekonomi dan http://www.pajak.go.id/content/articl
Keuangan Modern. Edisi e/siapkah-membangun-
Kedua. Jakarta: Salemba negeri-ini-tanpa-pajak 7
Empat. Desember 2012. Diakses
pada 15 November 2014
Surliani dan Kardinal. 2014.
Pengaruh Pemahaman,
Kualitas Pelayanan,
Ketegasan Sanksi Pajak, dan
Pemeriksaan Perpajakan
Terhadap Kepatuhan Wajib
Pajak Pada KPP Ilir Barat.
Jurnal STIE MDP.

Waluyo. 2011. Perpajakan


Indonesia. Edisi Kesepuluh.
Jakarta: Salemba Empat.

Yetmi, Yosi Saftri, Yeasy


Darmayanti, Resti Yulistia
Muslim. 2014. Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Persepsi
Wajib Pajak Mengenai
Penggelapan Pajak. Jurnal
Universitas Bung Hatta.

Zain, Mohammad. 2005. Manajemen


Perpajakan. Jakarta: Salemba
Empat.

Peraturan Pemerintah Nomor 46


Tahun 2013 tentang Pajak

Jom FEKON Vol. 2 No. 2 Oktober 2015 15