You are on page 1of 14

SEJARAH ALMANAK

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas


Sejarah Perkembangan Ilmu Falak
Dosen pengampu: Dr Mahsun, M.Ag

Disusun Oleh:
Muhammad Imamul Umam
NIM :

PROGRAM MAGISTER ILMU FALAK


PASCASARJANA
UIN WALISONGO SEMARANG
2017
SEJARAH ALMANAK
Muhammad Imamul Umam
UIN Walisongo Semarang
em.im.um@gmail.com

Abstrak: Manusia merupakan makhluq yang memeiliki beberapa keutamaan


daripada makhluk-makhluk lain. Diantara keutamaan manusia adalah akal,
maka sudah menjadi keniscayaan bagi manusia yang berakal untuk
menggunakan hal tersebut untuk menunjang kelangsungan hidup. Adakalanya
untuk berpikir, merencanakan, membuat, mencari pengetahuan dan lainnya.
Alam semesta, merupakan sebuah tempat yang memang dipersiapkan untuk
manusia untuk menunjang kehidupannya, berupa bumi, langit, matahari, bulan
dan bintang. Dua hal diatas, manusia dan alam saling berinteraksi satu sama
lain yang kemudian membentuk sebuah peradaban. Manusia membutuhkan
alam untuk menunjang hidup, sedangkan alam membutuhkan manusia untuk
keberlangsungannya. Salah satu hasil peradaban yang lahir dari dua makhluq
tersebut adalah peradaban kalender yang muncul sebab manusia membutuhkan
tanda-tanda waktu (kalender/almanak) untuk menjalankan kehidupan. Maka,
dalam catatan sejarah di dunia akan banyak kita dapatkan macam-macam tanda
waktu (kalender/almanak) yang satu dengan lainnya berbeda.
Kata kunci: kalender, almanac, taqwim

Pendahuluan
Almanak /al·ma·nak/ mempunyai beberapa arti diantaranya: penanggalan
(daftar hari, minggu, bulan, hari-hari raya dalam setahun) yang disertai dengan
data keastronomian, ramalan cuaca, dan sebagainya.
Almanak (Bahasa Arab: ‫" ألمنناخ‬musim, iklim") adalah suatu publikasi
tahunan yang mengandung informasi tabular pada suatu atau beberapa topik
yang disusun sesuai dengan kalender. Data astronomi dan berbagai jenis
statistik juga ditemukan pada almanak, seperti waktu terbit dan tenggelamnya
matahari dan bulan, gerhana, waktu pasang tinggi, perayaan keagamaan, garis
waktu, dll. Asal kata bahasa Arabnya mencerminkan tujuan awal utama
almanak untuk memberikan informasi mengenai kalender dan cuaca untuk
dipergunakan bagi kepentingan pertanian.
Istilah kalender dalam literature klasik maupun kontemporer biasa
disebut tarikh, takwim, almanak dan penanggalan. Kemudian dalam Kamus
bahasa Indonesia, kalender berarti tanggal, penanggalan1, berupa jumlah
tanggal, hari dan bulan.2
Secara garis besar almanak mempunyai beberapa arti. Diantaranya:3
1. penanggalan (daftar hari, minggu, bulan, hari-hari raya dalam
setahun) yang disertai dengan data keastronomian, ramalan cuaca,
dan sebagainya.
2. penanggalan (daftar hari, minggu, bulan, hari-hari raya dalam
setahun) yang disertai dengan data keastronomian, ramalan cuaca,
dan sebagainya.
3. buku berisi penanggalan dan karangan yang perlu diketahui umum,
biasanya terbit tiap tahun; berupa dinding penanggalan yang
biasanya digantungkan atau ditempelkan di dinding, meja
penanggalan yang biasanya ditaruh di atas meja dan pelayaran
almanak untuk pelayaran yang berisi catatan tentang kejadian
astronomi, seperti posisi matahari, bulan, planet, dan bintang setiap
saat, siang dan malam sepanjang tahun
Seperti yang dikutip oleh Muh Nasiruddin dalam bukunya Kalender
Hijriyah Universal, mengemukakan bahwa kalender bermakna sebuah sistem
yang digunakan untuk menentukan permulaan, panjang dan bagian-bagian
tahun dan untuk menyusun tahun ke hari, minggu dan bulan. 4 Dalam bahasa
arab kalender biasa disebut taqwim5, yang berarti penjelasan dan penentuan
sejarah dan hari.
Menurut Susiknan Azhari kalender adalah sistem pengorganisasian
satuan-satuan waktu, untuk tujuan penandaan serta perhitungan waktu dalam
jangka panjang.6
Atau dengan kata lain, almanak adalah sebagai sebuah sistem untuk
mengatur kronologi waktu secara baik dengan mengelompokkan satuan-satuan

1
W.J.S Poerwardarminta, “Kamus Bahasa Indonesia”, (Jakarta: Balai Pustaka, 1976), 511.
2
L. Mardi Warsito, “Kamus Jawa Kuno Indonesia”, (Jakarta: Nusa Indah, 1978), 583
3
Muh Nasiruddin, “Kalender Hijriyah Universal” , (Semarang: RSP, 2013) 22.
4
Muh Nasiruddin, “Kalender Hijriyah Universal” , (Semarang: RSP, 2013) 23
5
http//:www.almaany.com diakses 10 Desember 2017
6
Susiknan Azhari, “Ensiklopedi Hisab Rukyat”, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), cet II, 115.
waktu dalam hari, minggu, bulan, tahun. Sistem kalender merupakan sebuah
sistem pengaturan dan pengorganisasian ahri untuk keperluan sosial, agama,
maupun umtuk kepentingan administrasi.7
Sejarah Kalender
Sejarah pembuatan Kalender secara umum berkaitan erat dengan faktor-
faktor berikut:
Pertama, Kalender berkembang baik dalam masyarakat yang sudah
mengalami kemajuan peradaban. Masyarakat yang memiliki peradaban yang
maju, baik dari segi ekonomi maupun kebudayaan memiliki kepentingan yang
sangat besar dengan pengroganisasian waktu yang baik. Dengan adanya
kalender yang disepakati dalam suatu masyarakat, mereka dapat melakukan
perencanaan terhadap semua kativitas mereka.
Kedua, Perkembangan kalender tidak akan lepas dari pengamatan
manusia atas fenomena alam yang selalu berulang, dilakukan terus menerus
dan dalam waktu yang panjang. Kebiasaan melakukan pengamatan benda-
benda langit pada umumnya sudah dilakukan ratusan atau bahkan ribuan tahun
yang lalu.
Ketiga, Perkembangan Kalender dalam suatu komunitas juga tidak lepas
dari perkembangan sistem bilangan, notasi bilangan, dan ilmu hitung atau
matematika dalam komunitas berikut.
Ukuran-ukuran mengenai waktu baik itu hari, bulan dan tahun tidak lepas
dari pengamatan manusia akan pergerakan alam, diantanranya:
1. Pergerakan Bumi berputar pada porosnya atau disebut Rotasi Bumi
2. Pergerakan Bumi mengelilingi Matahari atau disebut Revolusi Bumi
3. Pergerakan Bulan mengelilingi Bumi atau disebut Revolusi Bulan
Dari pengamatan ketiga pergerakan alam inilah muncul istilah-istilah
hari, Tahun Qomariyah dan Syamsiyah.8
Terdapat beberapa penanggalan yang berkembang di dunia sejak zaman
kuno hingga era modern. Menurut Susiknan Azhari, beberapa penanggalan
yang berkembang di dunia yaitu: sistem penanggalan primitif (primitive
calendar sistems), penanggalan Barat (Western calendar), penanggalan Cina
(Chinese calendar), penanggalan Mesir (Egyptian calendar), penanggalan
Hindia (Hindia calendar), penanggalan Babylonia (Babylonia calendar),

7
Muh Nasiruddin, “Kalender Hijriyah Universal” , 24.
8
Muhammad Muhammad Fayadl, “AtTaqowiim” ,(Nahdet Misr: 2002), 8.
penanggalan Yahudi (Jewish calendar), penanggalan Yunani (Greek calendar),
penanggalan Islam (Islamic calendar), dan terakhir penanggalan Amerika
Tengah (Middle American calendar)9.

Sistem Kalender
Sistem kalender yang berbeda-beda di atas, ternyata semua berpangkal
pada tiga kelompok besar yaitu:
1. Solar Calendar.
Sistem ini dalam istilah lain disebut penanggalan Syamsiah, Miladiah, atau
Masehi. Secara etimologi, solar calendar adalah sistem penanggalan yang
mengacu terhadap siklus Matahari, sehingga sebagian kalangan
menyebutnya penanggalan surya atau Matahari. Konsep perhitungan sistem
penanggalan ini didasarkan pada lama perjalanan revolusi Bumi mengorbit
Matahari yaitu selama yang membutuhkan waktu selama 365,2564 hari atau
365h 6j 9m 10d.10
2. Lunar Calendar.
Sistem lunar calendar merupakan sistem penanggalan yang perhitungannya
didasarkan pada pergerakan bulan, sehingga sistem ini disebut juga dengan
penanggalan kamariah. Konsep perhitungan sistem penanggalan ini
didasarkan pada lama perjalanan rotasi bulan mengelilingi bumi. Jumlah
rata-rata lama rotasi bumi adalah 29,530588 hari atau 29h 12j 44m 2,8d
(periode sinodis bulan)11. Jika menilik pergerakan bumi bersama-sama bulan
mengelilingi matahari, maka terjadi dua waktu peredaran yang dimiliki
bulan, periode sideris dan perode sinodis. Periode sideris adalah rentang
waktu yang dibutuhkan bulan untuk mengitari bumi satu lingkaran penuh
selama 27,32166 hari atau 27h 7j 43m. Sedangkan periode sinodis adalah
rentang waktu yang dibutuhkan oleh bulan antara satu fase bulan baru ke
fase bulan baru berikutnya (dua konjungsi) yaitu selama 29,530588 hari atau
29h 12j 44m 2,8d, maka dalam satu bulan kadang berumur 29 hari atau 30

9
Susiknan Azhari, “Ilmu Falak: Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern”,(Yogyakarta: Suara
Muhammadiyah, 2017), Cet. II, 94.
10
Moedji Raharto, “Sistem Penanggalan Syamsiyah/Masehi”, (Bandung: Penerbit ITB, 2001), 12.
11
Novi Sopwan (ed), “The Gradual Changes of Synodic Period of the Moon Phase”,
(Bandung: Penerbit ITB, 2008) 1-2.
hari.12 Penanggalan Hijriah hanya berumur 354,3667 hari dalam setahun,
artinya pada tiap tahun terdapat selisih kurang 11 hari.

3. Lunisolar Calendar.
Kalender yang merupakan gabungan antara solar calender dan lunar
calender, yaitu pergantian bulan berdasarkan pergantian bulan berdasarkan
siklus sinodis13 bulan dan beberapa tahun sekali disisipi tambahan bulan
(Intercalary Month) supaya kalender tersebut sama kembali dengan panjang
siklus tropis matahari, contohnya yaitu kalender cina, budha dll.
Kalender lunisolar adalah sebuah kalender yang menggunakan fase bulan
sebagai acuan utama namun juga menambahkan pergantian musim di dalam
perhitungan tiap tahunnya. Kalender ini biasanya ditandai dengan adanya
bulan-bulan kabisat beberapa tahun sekali ataupun berturut-turut. Dengan
demikian, jumlah bulan dalam satu tahun dapat mencapai 12 sampai 13
bulan.14

Sistem Almanak Dunia


Almanak yang ada di Dunia antara lain:15
1. Kalender Mesir Kuno
Kalender Mesir Kuno adalah kalender pertama yang ada di Bumi, dan
sebagai asas atau dasar penanggalan Julian dan Gregorius yang sekarang
digunakan di seluruh Dunia.
Penanggalan Mesir kuno menggunakan system tahun matahari dengan
panjang masa satu tahun = 365 hari (berarti kurang 0,2422 hari dari tahun
matahari sesungguhnya), namun berpedoman pada salah satu bintang bersinar
sangat masyhur di langit Mesir ketika malam-malam bulan musim panas
(summer). Bintang serius/sepdet (najm as syi'ra al yamaniyah) muncul
dibagian timur sekitar tanggal 19 juli dan mulai bersinar di akhir bulan
agustus.16
12
Novi Sopwan (ed), “The Gradual Changes…”. 2
13
Sinodis adalah waktu yang diperlukan bulan baru sampai bulan baru berikutnya, lamanya 29 hari 13 jam, lihat
Drs. P. Simamora, Ilmu Falak (Kosmografi) cet xxx,(Jakarta: C.V. Pedjuang Bangsa, 1985), hlm. 40
14
http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_suryacandra, diakses pada tanggal 4 Januari 2018
15
Muhammad Muhammad Fayadl, “AtTaqowiim”, 20 - 56
16
Muhammad Muhammad Fayadl, “AtTaqowiim”, 20.
Kenyataan bahwa kata Arab "syi'raa," yang merupakan padan kata
bintang Sirius, muncul hanya di Surat An Najm (yang hanya berarti "bintang")

َ‫رو أر نن هه هه رو رر ب‬
‫ب ال شش عع رر ىى‬
Artinya; dan bahwasanya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang Syi'ra
(QS. An Najm, 53: 49).

Ayat ini secara khusus sangatlah menarik. Sebab, dengan


mempertimbangkan ketidakteraturan dalam pergerakan bintang Sirius, yakni
bintang paling terang di langit malam hari, sebagai titik awal, para ilmuwan
menemukan bahwa ini adalah sebuah bintang ganda. Sirius sesungguhnya
adalah sepasang dua bintang, yang dikenal sebagai Sirius A dan Sirius B. Yang
lebih besar adalah Sirius A, yang juga lebih dekat ke Bumi dan bintang paling
terang yang dapat dilihat dengan mata telanjang.
Tapi Sirus B tidak dapat dilihat tanpa teropong. Munculnya bintang ini
secara bersamaan ditandai dengan datangnya banjir sungai Nil hingga
mencapai puncak Delta. Dengan terbanjirinya lahan-lahan bumi Mesir dengan
Lumpur-lumpurnya menjadikan bumi Mesir subur. Perhatian bangsa Mesir
kuno terhadap bintang dan datangnya banjir tersebut terus mengakar, hingga
menjadi pedoman untuk mengetahui masa tahunan, yang berikutnya menjadi
penanggalan yang terus digunakan selama berabad-abad.
Bangsa ini menetapkan masa satu tahun 365 hari dengan jumlah bulan
sebanyak 12 bulan dengan panjang hari seluruhnya sama yaitu 30 hari
(30x12=360). Sementara sisa 5 hari ditambahkan dipenghujung tahun, yang
disebut yaumu lawahiq yang sekaligus dijadikan hari libur tahunan. Satu tahun
dibagi menjadi 3 bagian yang stiap bagian mencakup 4 bulan, yaitu:
a. Ekht (‫ )أخت‬atau musim hujan, permulaan hari dalam tiap tahu.
b. Pret (‫ )برت‬atau musim tumbuhnya tanaman setelah musim hujan.
c. Shimw (‫ )شمو‬atau musim langka air atau kemarau kering.
Penanggalan ini dimulai bangsa Mesir kuno semenjak 4236 SM.
Sejak tahun 238 SM, Mesir kuno mulai menggunakan aturan tahun
kabisat, sekira menjadikan masa satu tahun = 365 hari 1/4 hari. Dengan
menjadikan tiap-tiap tahun keempat sebagai tahun kabisat dengan jumlah hari
366, meski penggunaan ini tidak dipatuhi secara konsisten namun terterapkan
secara konsisten di masa system penanggalan Julian dan Gregorius.
Ketika Imperium Romawi menguasai Mesir (sekitar tahun 284 M), Mesir
kuno mulai menggunakan system kalender Koptik (taqwim qibthi), yang
merupan lanjutan dari kalender Mesir kuno yang terus digunakan dan dikenal
hingga saat ini, dengan tetap berpedoman pada tahun Matahari dengan panjang
masa satu tahun 365 1/4 hari. Jejak lukisan Imperium ini tertempel di dinding
arca candi Loxor.
2. Kalender Romawi (Julian dan Gregorius)
a. Sejarah
Kalender Masehi merupakan almanak paling populer di antero bumi,
oleh karena itu semua perhitungan penanggalan sejarah dunia. Julius Caesar
adalah Penguasa Romawi yang sangat fenomenal, hal itu terbukti nama
belakangnya indentik dengan kekuasaan yaitu �Caesar, sehingga nama
tersebut menjadi gelar sebutan Penguasa Romawi. Maka untuk melihat
dengan runut, kita harus kilas balik ke belakang tentang Kekuasaan
(Kekaisaran) Roma.
Pertama, Romulus, pendiri kota Roma; adalah saudara kembar Romus
(mati di bunuh). Dalam satu tahun ada 10 bulan, nama bulannya adalah:
1. Mars (Nama ayahnya sebagai bulan pertama, 30 hari).
2. Aprilis (29 hari).
3. Meius (Dewi Maya, 30 hari).
4. Junius (Juno=Dewi Bulan, 29 hari).
5. Quintilis (Ratu / Penguasa, 30 hari).
6. Sestilis (Ses=Enam, 29 hari).
7. Septembre (Septo=Tujuh, 30 hari).
8. Oktobre (Oktav=Delapan, 29 hari).
9. Novembre (Nova=Sembilan, 30 hari).
10. Decembre (Deca=Sepuluh, 29 hari).
Maka dalam setahun berjumlah 304 hari.
Nama – nama bulan pertama sampai ke empat dinamai dengan nama-
nama Dewa, sedangkan bulan selanjutnya dinamai dengan tertib nomor.
Kedua, Numa Pompulius, Kaisar ini mengamati kalender Romulus
dirasa kurang cocok berkenaan dengan musim, maka dia menambahkan dua
masa sebagai bulan ke 11 dan 12, yaitu:
1. Januarius (Janus=Dewa bermuka dua, mulai datangnya musim
salju, 30 hari).
2. Februarius (Febro=Dewa Kematian, 29 hari, puncak musim salju
dan tanaman yang bertahan hidup adalah rumpun cemara).Maka
dalam setahun berjumlah 354 hari hampir seperti penanggalan
Qomariyah.
Ketiga, Julius Caesar (tahun 46 Sebelum Masehi), membuat
perombakan frontal, Nama dirinya dimasukkan dalam kelender
menggantikan bulan Quintilis. Kebesaran Dewa Mart di geser, Dewa
Bermuka Dua Si Janus ditaruh pada tempat terhormat, yaitu bulan pertama.
Karena dalam setiap lintasan tahun yang memegang kendali adalah Dewa
yang bisa melihat masa depan dengan tetap mempertimbangan masa lalu,
yaitu Janus. Tahun baru adalah sesuatu yang senantiasa diharap-harap dan
dinantikan, sebagai pintu gerbang rahasia nasib, akhirnya dalam urutan
bulan menjadi kaca-balau:
1. Januarius ( 31 hari).
2. Februarius (29 / 30 hari).
3. Mart (30 hari).
4. Aprilis (30 hari).
5. Meius (31 hari).
6. Junius (31 hari).
7. Julius (31 hari).
8. Sestilis ( Ses=Enam, 30 hari).
9. Septembre (Septo=Tujuh, 30 hari).
10. Oktobre (Oktav=Delapan, 30 hari).
11. Novembre (Nova=Sembilan, 31 hari).
12. Decembre (Deca=Sepuluh, 30 hari).
Maka dalam setahun menjadi 364 / 365 hari.
Keempat, Agustus (keponakan Julius Caesar), juga melakukan
perubahan tapi tidak begitu berarti: hanya nama dirinya dimasukkan,
menggantikan nama bulan Sestilis.

2. Asal Penamaan Bulan


Pada penanggalan Julaian dan Gegorius, penamaan bulan diambil
sebagian dari dewa-dewa mereka, yaitu:17
a. Januari, nama Dewa Janus bermakna penjaga pintu langit, Dewa
perang dan keselamatan pada masa Romulus. Janus digambarkan
sebagai dewa dengan dua wajah, menghadap dua arah berbeda.

17
Muhammad Muhammad Fayadl, “AtTaqowiim”, 28.
Disebutkan bahwa satu wajah memandang masa lalu, sedangkan
wajah lainnya memandang masa depan. Inilah alasan mengapa Bulan
Januari dijadikan permulaan Tahun baru.
b. Februari, berasal dari kata Febru are bermakna mensucikan diri,
atau dari kata Februra yang bermakna sesuci-sucinya. Orang-orang
Romawi melakukan hari raya pensucian diri dari dosa pada bulan ini,
tepat tanggal 15 dan sepanjang bulan ini juga orang Romawi
membersihkan rumah dan perabot mereka.
c. Maret, berasal dari kata Mars berasal dari nama Dewa Mars, Dewa
Perang yang sangat kuat. Dalam kepercayaan Romawi dewa Mars
membawa tombak ditangan kanan dan tameng ditangan kirinya.
Mereka juga mempercayai bahwa Dewa Mars adalah dewa yang
memenuhi hajat-hajat mereka. Atas kelebihan inilah, orang Romawi
meminta petunjuk kepadanya dengan hadiah-hadiah dan kurban.
d. April, bulan pembuka musim semi, tidak diketahui asal muasal
penamaan bulan ini. Pendapat yang lemah menyebutkan bahwa
nama April diambil dari istilah (‫ )أمنيننا إبريننل‬Omnia Aperil, yang
bermakna membuka segala sesuatu. Diduga kuat sebutan ini
berkaitan dengan musim bunga dimana kelopak bunga mulai
membuka. Juga diyakini sebagai nama lain dari Dewi Aphrodite atau
Apru, Dewi Cinta orang Romawi.
e. Mei, dinisbahkan kepada Dewi Maja. Anak dari Dewa Atlas dewa
penyangga Bumi dan Dewi Athorid (Mercury).
f. Juni, nama Dewa Juno Juno adalah dewi perempuan dan pernikahan
Romawi. Dia adalah pasangan dan istri Jupiter. Dia Dewi yang
terkenal kecatikannya dan glamor. Dinamai ini karena pada bulan
Juni keadaan alam sangat indah. Dimana matahari terbenam dengan
sinar yang terang dan bumi dipenuhi tumbuhan hijau dan bunga-
bunga.
g. Juli, Agustus, dinisbahkan kepada nama Julius Caesar dan Agustus
Caesar.
h. Sepetember, Oktober, Nopember, Desember pemberian ini
berdasarakan tertib nomor yang diberikan oleh Romulus pada masa
pemerintahannya.

3. Permulaan Tahun Masehi


Pada saat kekristenan menjadi populer di wilayah kekuasaan Romawi,
atas Perintah Justinian Sang Penguasa, Rahib (Pendeta) Dionysius Exiguus
disuruh menera kapan Mesias lahir, dan tanggal tersebut akan dinyatakan
sebagai tahun 0 sebagai perhitungan awal kalender Sang Mesias. Maka saat
itulah dinyatakan sebagai tahun 526 Masehi, karena waktu itu berdasarkan
perhitungan Sang Rahib adalah tahun 753 Julian.
Kalender produk Rahib Dionysius terlajur dipublikasikan, ternyata ada
kesalahan dalam perhitungan, lalu ada yang menghitung ulang bahwa pada
tahun tersebut dalam kalender Julian adalah tahun 749. Akhirnya
perhitungan yang dipercaya sampai sekarang adalah Yeshua Sang Mesias
lahir pada Tahun 4 Sebelum Masehi, bukan tahun 0.

3. Kalender Qibti
a. Sejarah
Kalender ini adalah kalender bangsa Mesir yang berdasarkan kalender
Mesir Kuno. Jumalah harinya 365,1/4 hari seperti dalam kalender julian.
Dibagi dalam 12 bulan, setiap bulan terdiri 30 hari dan Ayam Nasa’ atau
Syahru Qoshir lamanya 5 atau 6 hari, enam hari untuk tahun kabisat.
Awal tahun dimulai pada hari Jum’at tanggal 29 Agustus dan
tahunnya adalah tahun 284 Julian. Sebab dipilihnya tanggal ini adalah
tahun Diokletianus menjadi Kaisar Romawi, di mana pemerintahannya
ditandai dengan penganiayaan dan pembunuhan massal orang-orang
Kristen, terutama di Mesir. Karenanya, tahun Koptik diidentifikasi dengan
singkatan "A.M." (untuk Anno Martyrum atau "Tahun Martir" atau "Tahun
Syahid"). Singkatan "A.M." juga digunakan untuk tahun Yahudi (Anno
Mundi), tetapi kedua tahun ini tidak berhubungan.
Misal tahun 2008. Maka 2008-283=1725. Jadi tahun 2008 M adalah
tahun 1725 Qibti, yg mana awal tahun 1725 dimulai dari 12 September
2008.
b. Nama-nama Bulan
Nama-nama bulan dalam kalender Qibti sering diambil dari nama-
nama dewa dan hari-hari besar yang ada didalamnya, hanya ada lima dapat
ditelusiri maknanya dalam bahasa mesir, yaitu:
1. Thouth nama dewa, Pencatatnya para Dewa, yang menemukan
bilangan dan perhitungan tahun, Thoth bertugas menanyai orang
mati dan menimbang jantung mereka dan membandingkannya
dengan bulu Maat.
2. Phaophi dinisbahkan kepada Dewa Nil.
3. Athyr/Hathor adalah dewi cinta, tari, kebahagiaan, dan musik.
Hathor juga merupakan pelindung wanita. Dia digambarkan sebagai
seorang wanita dengan kepala sapi, atau seorang wanita yang
memakai tanduk sapi dengan piringan matahari di kepalanya.
4. Khoiak
5. Tybi
6. Mekhir
7. Phamenoth
8. Pharmouthi
9. Pakhon dinisbahkan kepada Dewa Bulan () merupakan dewa yang
disembah orang mesir.
10. Payni
11. Epiph
12. Mesore berasal dari kata (‫ المصرية ) مسى رع – مولد رع‬yang maknanya
adalah kelahiran Dewa Ra

4. Kalender Suryani (‫)السورياني‬


Kalender ini terkadang disebut kalender Seleusid (‫ )سيلوسننيد‬karena
dinisbahkan ke Seleucus Nicator. Seleukos I Nikator adalah seorang perwira
Makedonia bawahan Aleksander Agung dan merupakan salah seorang
Diadokhoi. Dalam Perang Diadokhoi yang terjadi setelah kematian
Aleksander, Seleukos mendirikan dinasti Seleukid dan Kekaisaran Seleukia
di mesopotamia.
Permulaan penaanggalan ini bertepatan dengan permulaan Oktober
312 SM. Dimana pada tahun ini, Seleukos menduduki kota Babilonia.
Penanggalan ini mendahului penanggalan masehi berkisar 311 tahun 3 bulan
(92 hari). Pada penanggalan ini, terdiri dari bulan, jumlah keseluruh harinya
adalah 365 hari pada tahun Basitah dan 366 hari pada tahun Kabisat.
Adapun nama-nama Bulan dan jumlah harinya adalah:
1) Tasyrin Awal (31 hari) = Oktober
2) Tasyrin Tsani (30 hari) = Nopember
3) Kanun Awal (31 hari) = Desember
4) Kanun Tsani (31 hari) = Januari
5) Syubat (28/29 hari) = Februari
6) Adzaar (31 hari) = Maret
7) Nasyan (30 hari) = April
8) Ayyar (31 hari) = Mei
9) Haziron (30 hari) = Juni
10) Tammuz (31 hari) = Juli
11) Aab (31 hari) = Agustus
12) ‘Ailuul (30 hari) = September

5. Kalender Persia
Kalender ini dinisbahkan kepada Yazdegerd Syahriar, soerang raja
pada masa akhir kekaisaran Sasanid di Persia. Permulaan kalender ini
bertepatan pada hari Selasa tanggal 16 Juni 632 Julian, bertepatan juga pada
hari Selasa 22 Robi’ul Awal tahun 11 Hijriah.
Setiap tahunnya terdiri dari 12 Bulan, setiap bulan terdapat 30 hari.
Setiap sampai bulan ke delapan ditambah 5 hari, dan kemudian dimulai lagi
bulan ke sembilan dengan jumlah 30 hari, sehingga panjang hari dalam
setahun adalah 365 hari.

Kesimpulan
Sebuah kalender adalah sebuah sistem untuk memberi nama pada sebuah
periode waktu (seperti hari sebagai contohnya). Nama-nama ini dikenal sebagai
tanggal kalender. Tanggal ini bisa didasarkan dari gerakan-gerakan benda
angkasa seperti matahari dan bulan. Kalender juga dapat mengacu kepada alat
yang mengilustrasikan sistem tersebut (sebagai contoh, sebuah kalender
dinding).
Sistem penanggalan dunia pada umumnya berdasarkan kalender Masehi.
Semua orang sudah lazim menggunakannya. Tetapi sebenarnya, ada beberapa
kalender yang digunakan oleh tiap-tiap bangsa sebelum kalender seperti yang
kita gunakan sekarang ini.
Daftar Pustaka
Nashirudin, Muh., Kalender Hijriah Universal; Kajian atas sistem dan
Prospeknya di Indonesia, ( Semarang: El-Wafa, 2013)
Fayadl, Muhammad Muhammad, “AtTaqowiim” ,(Nahdet Misr: 2002).
W.J.S Poerwardarminta, “Kamus Bahasa Indonesia”, (Jakarta: Balai Pustaka,
1976).
Warsito, L. Mardi, “Kamus Jawa Kuno Indonesia”, (Jakarta: Nusa Indah, 1978).
Azhari, Susiknan, “Ensiklopedi Hisab Rukyat”, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2008).
Azhari, Susiknan, “Ilmu Falak: Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern”,
(Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2017).
Raharto, Moedji, “Sistem Penanggalan Syamsiyah/Masehi”, (Bandung: Penerbit
ITB, 2001).
Sopwan, Novi (ed), “The Gradual Changes of Synodic Period of the Moon
Phase”, (Bandung: Penerbit ITB, 2008).
P. Simamora, Ilmu Falak (Kosmografi) cet xxx, (Jakarta: C.V. Pedjuang Bangsa,
1985).
http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_suryacandra, diakses pada tanggal 4 Januari
2018
http//:www.almaany.com diakses 10 Desember 2017
http//:www.wikipedia.com diakses 10 Desember 2017