You are on page 1of 11

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN MOBILITAS FISIK

TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian
Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk dapat bergerak dengan bebas
dan teratur untuk memenuhi kebutuhan sehat menuju kemandirian. Mobilisasi
mempunyai banyak tujuan seperti mengekspresikan emosi dengan gerakan non verbal,
pertahanan diri, pemenuhan kebutuhan dasar, aktivitas hidup sehari-hari dan kegiatan
rekreasi. Untuk mempertahankan mobilisasi fisik secara optimal maka sistem saraf,
otot, dan skeletal harus tetap utuh dan berfungsi baik (Potter & Perry, 2006).
Untuk dapat melakukan mobilisasi, tubuh memerlukan koordinasi antar organ,
biasa disebut dengan mekanika tubuh. Komponen yang berperan dalam mobilisasi
adalah tulang, otot, tendon, ligamen, kartilago, sendi dan sistem saraf. (Kasiati, 2016)
Apabila seseorang mengalami gangguan pada kemampuan mobilisasi, maka
orang tersebut dapat mengalami hambatan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
Kondisi tersebut disebut dengan imobilisasi, imobilisasi adalah ketidakmampuan klien
bergerak bebas yang disebabkan kondisi tertentu atau dibatasi secara terapeutik (Potter
dan Perry 2006). Imobilisasi merupakan suatu kondisi yang relatif. Maksudnya,
individu mungkin tidak kehilangan kemampuan geraknya secara total, tetapi tetap
mengalami penurunan aktivitas dari kebiasaan normalnya. (Kasiati, 2016)

2. Etiologi

Menurut NANDA, hambatan mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam gerakan
fisik atau satu atau lebih ekstremitas secara mandiri dan terarah. Kondisi patologis yang
dapat menyebabkan hambatan mobilitas fisik yaitu

1) Postur abnormal :
 Tortikolis : kepala miring pada satu sisi, di mana adanya kontraktur pada
otot sternoklei domanstoid.
 Lordosis : kurva spinal lumbal yang terlalu cembung ke depan/ anterior
 Kifosis : peningkatan kurva spinal torakal.

4) Trauma langsung pada sistem muskuloskeletal: kontusio. atau pasien yang mengalami hemiparese atau kelemahan pada sebagian ekstremitas. . Imobilisasi karena pengobatan: Imobilisasi pada penderita gangguang pernafasan atau jantung. Dan terjadi pada pasien yang mengalami lumpuh total akibat stroke .  Kiposkoliosis: tidak normalnya kurva spinal anteroposterior dan lateral. Pada klien tirang baring (bedrest) total. 3. Penurunan keterampilan motorik kasar . klien tidak boleh bergerak dari tempat tidur.  Footdrop: plantar fleksi.  Kipolordosis : kombinasi dari kifosis dan lordosis. Keuntungan dari tirah baring antara lain mengurangi kebutuhan oksigen sel-sel tubuh. Kesulitan membolak balik posisi . ketidakmampuan menekuk kaki karena kerusakan saraf peroneal. 3) Kerusakan sistem saraf pusat akibat benturan atau stroke dan penyakit lainnya. Penurunan keterampilan motorik halus . 2) Gangguan perkembangan otot. Penurunan rentang gerak . dan mengurangi respons nyeri. hambatan mobilitas fisik memiliki beberapa batasan karakteristik: . Ketidaknyamanan . Tanda dan Gejala Menurut tingkat imobilisasinya: . tidak samanya tinggi hip/ pinggul dan bahu. Imobilisasi parsial: Imobilisasi terjadi pada klien yang mengalami fraktur. dan duduk dikursi. seperti distropsi muskular. salah urat. Menurut NANDA 2018-2020. menyalurkan sumber energi untuk proses penyembuhan. berjalan. Waktu reaksi memanjang .  Skolioasis : kurva spinal yang miring ke samping. terjadi karena gangguan yang disebabkan oleh degenerasi serat otot skeletal. Gangguan sikap berjalan . Imobilisasi komplet: Imobilisasi terjadi pada individi yang mengalami gangguan tingkat kesadaran. dan fraktur.

. bahan kimia. Arterosklerosis. Beberapa penyakit seperti hipertensi. . CT scan (Computed Tomography) menunjukkan rincian bidang tertentu tulang yang terkena dan dapat memperlihatkan tumor jaringan lunak atau cidera ligament atau tendon. listrik yang menyebabkan combustio (luka bakar) dan merusak jaringan kulit yang lebih dalam. menimbulkan sensasi nyeri terutama saat dilakukan pergerakan pada bagian tersebut sehingga terjadi hambatan mobilitas fisik. DM. Dispnea setelah aktivitas . Patofisiologis Gangguan pemenuhan kebutuhan dasar manusia dalam mobilisasi dapat disebabkan oleh trauma. dan perubahan hubungan tulang. tekstur. Penyebab lain karena kontak langsung yang terjadi antara tubuh dengan sumber panas ekstrem seperti air panas. kondisi patologis. Gerak tidak terkoordinasi 4. DM. Sinar –X tulang menggambarkan kepadatan tulang. Digunakan untuk mengidentifikasi lokasi dan panjangnya patah tulang didaerah yang sulit dievaluasi. embolis serta kontak antara bagian tubuh dengan sumber panas ekstrem. Arterosklerosis. Pemeriksaan Penunjang . . Tremor akibat bergerak . api. 5. Melakukan aktivitas lain pengganti pergerakkan . Terjadinya trauma dan kondisi patologis tersebut dapat menimbulkan adanya fraktur yang menyebabkan pergeseran fragmen tulang sehingga terjadi perubahan bentuk (deformitas) yang menimbulkan gangguan fungsi organ dan akhirnya menimbulkan hambatan mobilitas fisik. embolis dapat menyebabkan pembekuan darah dan terjadi penyempitan pembuluh darah sehingga aliran darah ke otak terganggu dan terjadi iskemia sel-sel otak yang menimbulkan stroke yang menyerang pembuluh darah otak bagian depan mengakibatkan penurunan kekuatan otot (hemiparesis) hingga hilangnya kekuatan otot (hemiplegia) yang akhirnya menimbulkan hambatan mobilitas fisik. beberapa penyakit yang beresiko menyebabkan stroke seperti hipertensi.

dan terjadinya lemah otot yang dapat menyebabkan proses metabolisme terganggu. Perubahan Sistem Pernafasan Akibat imobilisasi. Gangguan Fungsi Gastriointestinal Imobilisasi dapat menyebabkan gangguan fungsi gastrointestinal. seperti perut kembung. gelombang radio. Di samping itu. mual. b. Perubahan Kardiovaskuler . sehingga penurunan jumlah masukan yang cukup dapat menyebabkan keluhan. c. noninvasive. kreatinin dan SGOT ↑ pada kerusakan otot. berkurangnya perpindahan cairan dari intravascular ke interstisial dapat menyebabkan edema sehingga terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Ca↓ pada imobilisasi lama. d. . Perubahan Metabolisme Secara umum imobilisasi dapat mengganggu metabolisme secara normal. MRI (Magnetik Resonance Imaging) adalah tehnik pencitraan khusus. sehingga dapat memengaruhi gangguan oksigenasi sel. Hal tersebut dapat dijumpai pada menurunnya basal metabolism rate (BMR) yang menyebabkan berkurangnya energi untuk perbaikan sel-sel tubuh. dan nyeri lambung yang dapat menyebabkan gangguan proses eliminasi. ekspansi paru menurun. kadar hemoglobin menurun. dan computer untuk memperlihatkan abnormalitas (mis: tumor atau penyempitan jalur jaringan lunak melalui tulang Dll. Pemeriksaan Laboratorium: o Hb ↓pada trauma. mengingat imobilisasi dapat menyebabkan turunnya kecepatan metabolisme di dalam tubuh. Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit Terjadinya ketidakseimbangan cairan dan elektrolit sebagai dampak dari imobilisasi akan mengakibatkan persediaan protein menurun dan konsentrasi protein serum berkurang sehingga dapat mengganggu kebutuhan cairan tubuh. Komplikasi Dampak yang dapat terjadi pada pasien yang mengalami hambatan mobilitas menurut Potter dan Perry (2005) yaitu: a. 6. Alkali Fospat ↑. . yang menggunakan medan magnet. e. Hal ini disebabkan karena imobilisasi dapat menurunkan hasil makanan yang dicerna.

Jika klien dalam posisi rekumben atau datar. Adanya imobilitas juga dapat menyebabkan gangguan skeletal.  Gangguan Skeletal. Menurunnya massa otot sebagai dampak imobilitas dapat menyebabkan turunnya kekuatan otot secara langsung. g. Akibat kontraksi peristaltik ureter yang . Hipotensi ortostatik adalah penurunan tekanan darah sistolik 25 mmHg dan diastolik 10mmHg ketika klien bangun dari posisi berbaring atau duduk ke posisi berdiri. urine mengalir keluar dari pelvis ginjal lalu masuk ke dalam ureter dan kandung kemih akibat gaya gravitasi. Pada posisi tegak lurus. Sebagai contoh. misalnya akan mudah terjadinya kontraktur sendi dan osteoporosis. Ada tiga perubahan utama yaitu hipotensi ortostatik. Pada klien imobilisasi. Kontraktur merupakan kondisi yang abnormal dengan kriteria adanya fleksi dan fiksasi yang disebabkan atropi dan memendeknya otot. Perubahan Sistem Muskuloskeletal Perubahan yang terjadi dalam sistem muskuloskeletal sebagai dampak dari imobilisasi adalah sebagai berikut:  Gangguan Muskular. Perubahan Sistem Integumen Perubahan sistem integumen yang terjadi berupa penurunan elastisitas kulit karena menurunnya sirkulasi darah akibat imobilisasi dan terjadinya iskemia serta nekrosis jaringan superficial dengan adanya luka decubitus sebagai akibat tekanan kulit yang kuat dan sirkulasi yang menurun ke jaringan. dan pembentukan thrombus. Menurunnya fungsi kapasitas otot ditandai dengan menurunnya stabilitas. otot betis seseorang yang telah dirawat lebih dari enam minggu ukurannya akan lebih kecil selain menunjukkan tanda lemah atau lesu. peningkatan beban kerja jantung. dan penurunan respon otonom. terjadi penurunan sirkulasi volume cairan. ginjal dan ureter membentuk garis datar seperti pesawat. Ginjal yang membentuk urine harus masuk ke dalam kandung kemih melawan gaya gravitasi. Perubahan Eliminasi Eliminasi urine klien berubah oleh adanya imobilisasi. f. h. Kondisi berkurangnya massa otot dapat menyebabkan atropi pada otot. Sistem kardiovaskular juga dipengaruhi oleh imobilisasi. pengumpulan darah pada ekstremitas bawah.

emosional tinggi. Apabila klien tidak mempunyai control motorik volunteer maka perawat melakukan latihan rentang gerak pasif. posisi supinasi (terlentang). fleksi dan ekstensi lutut. Kesejajaran Tubuh Dalam mempertahankan kesejajaran tubuh yang tepat. depresi. rotasi pangkal paha. 7. fleksi dan ekstensi siku. cemas. fleksi dan ekstensi jari-jari. posisi lateral (miring). bingung. Mobilisasi sendi juga ditingkatkan dengan berjalan. digunakan untuk meningkatkan kekuatan. ketahanan otot. Mobilisasi Sendi Untuk menjamin keadekuatan mobilisasi sendi maka perawat dapat mengajarkan klien latihan ROM (Range Of Motion). antara lain timbulnya rasa bermusuhan. pronasi fleksi bahu. abduksi dan adduksi. Latihan ini baik ROM aktif maupun pasif merupakan tindakan pelatihan untuk mengurangi kekakuan pada sendi dan kelemahan otot. pronasi dan supinasi lengan bawah. dan memindahkan klien dengan posisi yang aman dari tempat tidur ke kursi atau brankar. Latihan-latihan itu. kecemasan. infersi dan efersi kaki fleksi dan ekstensi pergelangan kaki. yaitu : Fleksi dan ekstensi pergelangan tangan. tidak cukup kuat melawan gaya gravitasi. Posisi-posisi tersebut. posisi dorsal recumbent. yaitu : posisi fowler (setengah duduk). rotasi bahu. Perubahan Prilaku Perubahan perilaku sebagai akibat imobilisasi. posisi litotomi. perawat mengangangkat klien dengan benar. konsep diri. Terjadinya perubahan perilaku tersebut merupakan dampak imobilisasi karena selama proses imobilisasi seseorang akan mengalami perubahan peran. menggunakan teknik posisi yang tepat. . posisi sim. i. pelvis ginjal menjadi terisi sebelum urine masuk ke dalam ureter. Penatalaksanaan Therapy yang dapat dilakukan antara lain menurut Potter and Perry yaitu: a. posisi trendelenbeg (kepala lebih rendah dari kaki) b. dan menurunnya koping mekanisme. Pengaturan posisi dalam mengatasi masalah kebutuhan mobilitas. dan fleksibilitas sendi. dan lain-lain. perubahan siklus tidur. posisi pronasi (tengkurap).

Gangguan Hipertesi. dll) muskulo skeletal Kekuatan otot Sumbatan tidak maksumal pembuluh darah Rentang gerak tidak maksimal Suplai O2 ke jaringan otak turun Iskemia jaringan otak stroke Penurunan kekuata otot . Mengurangi Bahaya Mobilisasi Intervensi keperawatan klien imobilisasi harus berfokus mencegah dan meminimalkan bahaya imobilisasi. perkembangan vvvv Artherosklerosis. Pathway Penyakit (DM. c. Intervensi harus diarahkan untuk mempertahankan fungsi optimal pada seluruh sistem tubuh. 8.

.

ibu jari. siku. Pengkajian  Identitas  Riwayat penyakit  Pengkajian fungsional Gordon  Pemeriksaan Fisik o TTV o Pemeriksaan Head to Thoe o Pengkajian Mobilitas Pengkajian mobilisasi pasien berfokus pada rentang gerak. bahu. lengan. gaya berjalan. kontraksi otot dapat dipalpasi atau dilihat 2 25 Gerakan otot penuh melawan gravitasi. Proses Keperawatan a. jari kaki). dengan topangan 3 50 Gerakan yang normal melawan gravitasi 4 75 Gerakan penuh yang normal melawan gravitasi dan melawan tahanan minimal 5 100 Gerakan penuh yang normal melawan gravitasi dan melawan tahanan maksimal .9. pergelangan tangan. Skala Presentase Karakteristik Kekuatan Otot (%) 0 0 Paralisis sempurna 1 10 Tidak ada gerakan. jari-tangan. Pengkajian rentang gerak (range of motion-ROM) dilakukan pada daerah seperti: kepala (leher spinal servikal). pinggul. dan kaki(lutut. serta kesejajaran tubuh. Rentang gerak merupakan jumlah maksimum gerakan yang mungkin dilakukan sendi pada salah satu dari tiga potongan tubuh: sagittal. telapak kaki. latihan. frontal. dan transversal tubuh. dan toleransi aktivitas.

Ketidakmampuan mengambil Kondisi terkait perlengkapan mandi .Gaya hidup kurang gerak Defisit perawatan .Fisik tidak bugar .b.Kaku sendi .Gangguan fungsi kognitif .Ketidakmampuan membasuh .Malnutrisi .Instabilitas postur .Dispnea setelah beraktivitas aktivitas fisik .Kesulitan membolak-balik .Penurunan motivasi .Kurang dukungan .Gerakan tidak terkoordinir .Kurang pengetahuan nilai .Penurunan keterampilan tentang aktivitas yang tepat motorik kasar .Gangguan muskulo skeletal tubuh .Penurunan rentang gerak .Intoleran aktivitas Mobilitas Fisik .Penurunan ketahanan tubuh .Gangguan neuromuskular .Tremor akibat bergerak . Perumusan Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul No.Ketidakmampuan mengatur air .Penurunan keterampilan .Ketidakmampuan menjangkau .Depresi posisi .Penurunan kekuatan otot .Kendala lingkunngan sumber air .Gangguan sikap berjalan . Diagnosa yang Batasan Karakeristik Faktor yang Berhubungan Mungkin Muncul Ganggguan .Melakukan aktivitas lain lingkungan sebagai pengganti pergerakan .Ketidakmampuan .Nyeri .Nyeri .Penurunan massa otot .Ansietas diri kamar mandi .Ketidakmampuan mengakses .Waktu reaksi memanjang .Disuse .Ketidakmampuan mandi merasakan bagian tubuh .Ketidaknyamanan .Kelemahan mengeringkan tubuh .Ansietas motorik halus .Kepercayaan budaya .Gerakan lambat .

(2006). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep. Diagnosa NOC NIC Gangguan Mobilitas Setelah dilakukan intervensi Fisik selama Potter & Perry. dan Praktik. Jakarta: EGC. Proses.Volume 2.Alih Bahasa: Renata Komalasari. .c. Edisi 4. dkk. Perencanaan Tindakan Keperawatan No.