You are on page 1of 4

PENGUKURAN FAKTOR IKLIM, FISIKA, DAN KIMIA TANAH PADA

TIGA DAERAH (TERNAUNG, TRANSISI, DAN TERBUKA) DI


LINGKUNGAN UNIVERSITAS RIAU

Viola Vinca Valisa


Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA FKIP
Universitas Riau 28293
Email: viola.vdd@gmail.com

ABSTRAK
Faktor lingkungan memegang peranan penting dalam kelangsungan hidup
organisme. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui kondisi faktor
iklim, fisika, dan kimia tanah pada lingkungan mikro yang berbeda (ternaung,
transisi, dan terbuka) yang dilakukanpada hari Kamis tanggal 20 September
2018di Laboratorium Alam Universitas Riau. Metode yang digunakan adalah
metode observasi.Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk grafik serta di
analisis secara deskriptif. Data hasil praktikum mengenai pengukuran faktor
lingkungan pada daerah terbuka mendapatkan pancaran sinar matahari secara
langsung, sehingga menyebabkan suhu udara dan suhu tanahnya meningkat,
kelembaban udara dan kelembaban tanahnya menurun, intensitas cahayanya
tinggi, dan kadar air tanah yang dimiliki semakin rendah. Sedangkan kadar
organik tanah semakin rendah karena kurangnya vegetasi yang tumbuh sehingga
tidak mampu menahan cahaya matahari dan pH pada ketiga tanah yaitu 6
(Normal).

Kata kunci: Faktor Iklim, Faktor Fisika dan Kimia, Ternaung, Transisi, Terbuka

PENDAHULUAN
Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang struktur dan fungsi dari
alam, bahkan ekologi dikenal sebagai ilmu yang mempelajari tentang rumah
tangga makhluk hidup (Suyud Warno Utomo, 2015). Dalam hal ini, faktor
lingkungan memegang peranan penting dalam kelangsungan hidup organisme.
Secara garis besar, faktor lingkungan terbagi atas dua, yaitu faktor biotik dan
abiotik. Faktor biotik terdiri atas manusia, hewan, tumbuhan dan mikroorganisme.
Sedangkan faktor-faktor abiotik contohnya adalah tanah, air, cahaya, udara, suhu,
kelembaban, curah hujan, dan lain-lain.Semuanya merupakan faktor lingkungan
yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup(Soetjipta, 1993).
Faktor tanah dapat dikatakan sebagai faktor abiotik yang secara garis besar
dapat dibagi atas faktor fisika dan kimia.

BAHAN DAN METODE


Praktikum“Pengukuran Faktor Lingkungan” dilakukan di Laboratorium Alam
Universitas Riau, Jalan Bina Widya Km 12,5 Kelurahan Simpang Baru, Panam,
Pekanbaru pada tanggal 20 September 2018. Alat dan bahan yang digunakan
untuk penelitian ini adalah termohygrometer, soil tester, lux meter, termometer,
neraca analitik, oven, furnace muffle, mortar/wadah batu, alat tulis, dan sampel
tanah ternaung, tanah transisi, dan tanah terbuka.
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah observasi.Pada
pengamatan menggunakan termometer untuk pengukuran suhu udara,
termohygrometer untuk kelembaban udara, lux meter untuk mengukur intensitas
cahaya, dan soil tester sebagai pengukur pH tanah. Masing-masing pengukuran
dilakukan dua kali pengulangan dengan ketinggian 1 m dan 2m di atas permukaan
tanah dan suhu tanah dilakukan dengan pengukuran diatas permukaan tanah dan
di kedalaman tanah 30cm.

HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Pengukuran Faktor Iklim
35
Skala Pengukuran

34
33
32 1 meter
31 2 meter
30
Ternaung Transisi Terbuka
Faktor Lingkungan

80
Skala Pengukuran

60
40
1 meter
20
2 meter
0
Ternaung Transisi Terbuka
Faktor Lingkungan

1500
Skala Pengukuran

1000

500 1 meter
2 meter
0
Ternaung Transisi Terbuka
Faktor Lingkungan

Grafik 1. Hasil pengukuran temperatur udara, kelembaban relatif udara, dan intensitas cahaya
pada daerah ternaung, transisi, dan terbuka dengan ketinggian berbeda

Dari grafik di atas diperoleh hasil bahwa temperatur udara dan intensitas
cahaya pada daerah terbuka lebih tinggidibandingkan dengan temperatur udara
dan intensitas cahaya didaerah ternaung dan daerah transisi. Namun, pada
kelembaban udara didaerah terbukalebih rendah daripada daerah ternaung dan
daerah transisi. Hal ini dikarenakan pada daerah terbuka mendapatkan pancaran
sinar matahari. Menurut Mairisdawenti, dkk (2014) intensitas cahaya matahari
berbanding lurus dengan temperatur dan berbanding terbalik dengan kelembaban.

2. Pengukuran Faktor Fisika dan Kimia Tanah


40
Skala Pengukuran

30
20
Permukaan tanah
10
Dibawah permukaan tanah
0
Ternaung Transisi Terbuka
Tempeteratur tanah

80
Skala Pengukuran

60
40
Permukaan tanah
20
Dibawah permukaan tanah
0
Ternaung Transisi Terbuka
Kelembaban tanah

6.1
Skala Pengukuran

6
5.9
5.8
5.7
Ternaung Transisi Terbuka
pH tanah

Grafik 2. Hasil pengukuran temperatur tanah, kelembaban relatif tanah, dan pH tanah pada
daerah ternaung, transisi, dan terbuka

Dari tabel di atas, diperolehtemperatur tanah pada daerah ternaung lebih


rendah dibandingkan daerah transisi dan terbuka.Hal ini dikarenakan intensitas
cahayanya lebih rendah daripada daerah terbuka.karena sinar yang datang
tidak langsung diserap oleh permukaan tanah dikarenakan adanya tumbuhan yang
dapat menjadi penghalang/penghambat secara langsung.Keadaan tekstur tanah
dapat mempengaruhi pengikatan air oleh tanah sehingga akan mempengaruhi
kelembaban tanah. Tekstur tanah pada daerah ternaung tergolong tekstur remah
sedangkan pada daerah terbuka tergolong tanah kompak/pemadatan.Pengukuran
pH tanah yang dilakukan pada daerah ternaung, transisi, dan terbuka memperoleh
pH sebesar 6. Hal ini menunjukkan bahwa derajat keasaman tanah pada ketiga
daerah tersebut normal sehingga mendukung untuk pertumbuhan tanaman.
Kadar air tanah dan kadar organik tanah dipengaruhi oleh intensitas cahaya
matahari terhadap tanah pada suatu daerah. Kadar Air Tanah (KAT) pada daerah
ternaung, transisi, dan terbuka berturut-turut adalah 19.6%, 21.85%, dan 8.75%.
Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitas cahaya matahari yang
mempengaruhi suatu daerah maka semakin rendah kadar air tanah yang dimiliki
pada tanah di daerah tersebut. Kadar Organik Tanah (KOT) pada daerah ternaung,
transisi dan terdedah berturut-turut adalah 8.45%, 4.35%, dan 4.98%. Pada
pengukuran kadar organik tanah, daerah ternaung memiliki KOT yang tinggi. Hal
ini dikarenakan cahaya matahari tertahan oleh vegetasi yang tumbuh pada daerah
tersebut, banyak vegetasi yang tumbuh di daerah ternaung sehingga serasah yang
dihasilkan pun akan cukup banyak, yang cepat atau lambat akan mengalami
pembusukan yang akan menyebabkan kandungan organik tanah semakin tinggi.

KESIMPULAN
Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa pada
daerah terbuka mendapatkan pancaran sinar matahari secara langsung, sehingga
menyebabkan suhu udara dan suhu tanahnya meningkat, kelembaban udara dan
kelembaban tanahnya menurun, intensitas cahayanya tinggi, dan kadar air tanah
yang dimiliki semakin rendah. Sedangkan kadar organik tanah akan semakin
tinggi jika di daerah tersebut banyak vegetasi yang tumbuh sehingga mampu
menahan cahaya matahari.Pengukuran pH tanah yang dilakukan pada tiga daerah
tersebutdiperoleh pH normal sehingga mendukung untuk pertumbuhan tanaman.

DAFTAR PUSTAKA
Anggrainy, C. 2017. Pengaruh Faktor Fisika dan Kimia Lingkungan Mikro.
(online)https://caridokumen.com/download/pengaruh-faktor-fisika-dan-ki
mia-lingkungan-terhadap-lingkungan-mikrodocx-
_5a46d8b8b7d7bc7b7a22d890_pdf (diakses 29 September 2018).

Jizat, A. 2015. Laporan Ekologi Tumbuhan: Parameter Lingkungan.


(online)http://jizatwhiafans.blogspot.com/2015/11/laporan-ekologi-
tumbuhan-para meter.html (diakses 29 September 2018).

Mairisdawenti, dkk. 2014. Analisis Pengaruh Intensitas Radiasi Matahari,


Temperatur, dan Kelembaban Udara Terhadap Fluktuasi Konsentrasi Ozon
Permukaan di Bukit Kotobabang Tahun 2005-2010. Jurnal Fisika UNAND
Vol.3

Soetjipta. 1993. Dasar-dasar Ekologi Hewan. Yogyakarta: Depdikbud Dirjen


Dikti

Wirakusumah, S.2003. Dasar-dasar Ekologi. Jakarta: UI Press