You are on page 1of 17

TUGAS STASE INTERNA

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Rumah Sakit Umum Daerah Temanggung

Disusun Oleh :
Haidar Ali Arkhani
20184010142

Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Penyakit Dalam
RSUD Temanggung
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
2018

atau  Trauma di kanan Dada kanan tertinggal  Massa di kanan . DIAGNOSA FISIK PARU Pemeriksaan Fisik Paru (Pulmo) Tipe pernapasan Tipe Pernapasan Diagnosis Banding Thorakoabdominal Tak ada kelainan Paradoksal Pneumothoraks Inspeksi Hemithoraks yang patologis disebutkan terlebih dahulu. Pengembangan Dinding Dada (PD) Kesan Statis PD kanan = kiri  Tak ada kelainan  Trauma di kanan PD kanan < kiri  Massa di kanan  Trauma di kiri PD kiri < kanan  Massa di kiri Dinamis PD kanan = kiri  Tak ada kelainan PD kanan < kiri.

atau  Trauma di kiri Dada kiri tertinggal  Massa di kiri Palpasi Fremitus Raba (FR) Kesan Isi Dominan  Cairan FR meningkat  Massa FR normal  Jaringan paru FR menurun  Udara Perkusi Perkusi Kesan Isi Dominan Diagnosis Banding  Pneumothoraks Hipersonor  Udara  PPOK Sonor  Jaringan paru  Paru fisiologis  Hidrothoraks Redup  Cairan  Pyothoraks atau Empyema  Kilothoraks  Hematothoraks  Bronkopneumonia  Darah Pekak  Pneumonia  Padat  Massa mediastinum  Massa paru Auskultasi Suara Diagnosis Banding .PD kiri < kanan.

Suara dasar Vesikuler  Cairan  Hidrothoraks  Pyothoraks atau Empyema Vesikuler menguat/meningkat  Kilothoraks  Massa  Tumor  Jaringan paru Vesikuler normal  Tak ada kelainan  Udara Vesikuler melemah/menurun  Pneumothoraks  PPOK  Udara  Pneumothoraks Vesikuler hilang  Darah  Hematothoraks Bronkhial Bronkhovesikuler Suara tambahan  Asma  Udem pulmo Mengi (wheezing)  Dekompensasi kordis sinistra  Gagal jantung kongestif (CHF)  Udem pulmo Ronkhi basah kasar  Dekompensasi kordis sinistra .

(id) Standar Kompetensi Dokter. ISBN 979-15546-4-1. .  Gagal jantung kongestif (CHF)  Infeksi saluran napas akut (ISPA)  PPOK Ronkhi basah halus  Udem pulmo  Dekompensasi kordis sinistra  Gagal jantung kongestif (CHF) Daftar Pustaka 1. Jakarta: Konsil Kedokteran Indonesia. 2006.

enlargement (RVE) -Ke kaudolateral : Left ventricle enlargment (LVE) Perkusi Perkusi Batas Jantung Normal : Kiri atas: SIC II Linea Para Sternalis Sinistra Kiri bawah: SIC IV Linea Midclavicularis Sinistra Kanan Atas: SIC II Linea Para Sternalis Dextra Kanan Bawah: SIC IV Linea Para Sternalis Destra Melebar : -Ke lateral : Right ventricle enlargement (RVE) -Ke kaudolateral : Left ventricle enlargment (LVE) . -Ke lateral : Right ventricle epigastrium. Ictus Cordis Tidak Tampak : Normal Tampak : Kardiomegali. area +/. tidak terlalu besar hangat. DIAGNOSA FISIK JANTUNG Teknik Temuan Inspeksi Prekordium Posisikan pasien dan pastikan sudut penyinaran benar . pindah dari Bergeser : apex ke left sternal border. dengan tangan dipastikan Daya angkat. axillae. Gizi Kurang Palpasi Prekordium Posisikan pasien supine. palpasi dan rasakan pada prekordium impulse. right sternal border.1cm menggunakan setengah proximal semua jari atau bisa Tidak bergeser : Normal menggunakan seluruh telapak tangan.

Pulmonal : SIC 2 Parasternal Sinistra (ULSB) *Atrial fibrillation .Area Aorta : SIC 2 Parasternal Dextra Ireguler . * Infark myocarditis –Bunyi jantung II. ditimbulkan oleh penutupan – Intensitas bunyi jantung I mengeras katup-katup aorta dan pulmonal dan tanda pada: dimulainya fase diastole ventrikel. * Demam * Morbus basedow (grave’s disease) Bunyi jantung I di dengar bertepatan dengan * Orang kurus (dada tipis) terabanya pulsasi nadi pada arteri carotis.Auskultasi Bunyi jantung (BJ) I-II -Interval Normal : *Jantung terkompensasi Tidak normal *Atrial fibrillation -Keteraturan Reguler *Jantung terkompensasi Area Auskultasi . * Emfisema paru katup mitral dan trikuspidal. ditimbulkan oleh penutupan katup.Trikuspid : SIC 4-5 Parasternal Sinistra (LSB) -Mitral : Apeks jantung. Bunyi ini adalah tanda * Efusi perikard mulainya fase sistole ventrikel. – Intensitas bunyi jantung A 2 meningkat pada : * Hipertensi sistemik * Insufisiensi aorta – Intensitas bunyi jantung A 2 . SIC 5 Linea midclavicula – Intensitas bunyi jantung melemah pada : –Bunyi jantung I.

Seidel. biasanya P 2 menghilang Daftar Pustaka Bate's. Missouri: Elsevier. (2013). St. melemah pada : * Stenose aorta * Emfisema paru – Intensitas P 2 mengeras pada : * Atrial Septal Defect (ASD) * Ventricular Septal Defect (VSD) * Patent Ductus Arteriosus (PDA) * Hipertensi Pulmonal -Intensitas P 2 menurun pada : * Stenose pulmonal * Tetralogy Fallot. New York: Wolters Kluwer Health. (2015). Louis. . Guide to Physical Examination and History Taking. Physical Examination Handbook.

dan antibodi. atau gabungan ketiganya. dan terdapat nodul pada jaringan hati. 2. . hormon. dan kebocoran melalui kulit pada kasus luka bakar yang luas. penyakit bilier. penimbunan jaringan ikat. peradangan. Globulin Globulin merupakan unsur dari protein tubuh yang terdiri dari globulin alpha.Apabila terdapat gangguan fungsi sintesis sel hati maka kadar albumin serum akan menurun (hipoalbumin) terutama apabila terjadi lesi sel hati yang luas dan kronik. mengangkut nutrisi. penyakit hati. dan zat sampah dari tubuh. Peningkatan kadar albumin sangat jarang ditemukan kecuali pada keadaan dehidrasi. sel hati mengalami kerusakan arsitektur hati. malababsorbsi. atau penyakit ginjal. beta. Fungsi Ekskresi Bilirubin Bilirubin berasal dari pemecahan heme akibat penghancuran sel darah merah oleh sel retikuloendotel. dan gama. dan membran mukosa menyebabkan warna kuning yang disebut ikterus. dapat dijumpai rasio albumin : globulin terbalik. atau infeksi. lipid. Globulin berfungsi sebagai pengangkut beberapa hormon. Fungsi sintesis Albumin Albumin merupakan substansi terbesar dari protein yang dihasilkan oleh hati. sedangkan penurunan kadar globulin dapat dijumpai pada penurunan imunitas tubuh. usus akibat malabsorbsi protein. gangguan fungsi hati. logam. malnutrisi. Akumulasi bilirubin berlebihandi kulit. Kadar bilirubin lebih dari 3 mg/dL biasanya baru dapat menyebabkan ikterus. Hipoalbumin juga dapat disebabkan intake kurang. asam lemak. Penyebab lain hipoalbumin diantaranya terdapat kebocoran albumin di tempat lain seperti ginjal pada kasus gagal ginjal.Fungsi albumin adalah mengatur tekanan onkotik. sklera. PENILAIAN FUNGSI HATI 1. Ikterus mengindikasikan gangguan metabolisme bilirubin. Peningkatan globulin terutama gamadapat disebabkan peningkatan sintesis antibodi. Pada sirosis.

Hati berperan dalam detoksifikasi ammonia menjadi urea yang akan dikeluarkan oleh ginjal. Pengukuran Aktivitas Enzim 1. meskipun bukan merupakan uji fungsi hati sebenarnya pengukuran aktivitas enzim ini tetap diakui sebagi uji fungsi hati. Gangguan fungsi detoksifikasi oleh sel hati akan meningkatkan kadar ammonia menyebabkan gangguan kesadaran yang disebut ensefalopati atau koma hepatikum.2-4 Enzim ALT/SGPT terdapat pada sel hati.Porsi terbesar ditemukan pada sel hati yang terletak di sitoplasma sel . Kelainan laboratorium pada berbagai tipe ikterus 3. Fungsi Detoksifikasi Amonia Pada keadaan normal di dalam tubuh ammonia berasal dari metabolism protein dan produksi bakteri usus.Pengukuran aktivitas SGPT dan SGOT serum dapat menunjukkan adanya kelainan sel hati tertentu. Enzim Transaminase Enzim transaminase meliputi enzim alanine transaminase (ALT) atau serum glutamate piruvattransferase (SGPT) dan aspartate transaminase (AST) atau serum glutamate oxaloacetate transferase (SGOT). jantung. Tabel 1. otot dan ginjal.

dan pankreas. Kadar tertinggi terdapat did alam sel jantung.8 yang menandakan keruskan hati berat atau kronis. ginjal. hati. dan keruskan hati akibat obat atau zat toksin.8 yang menandakan kerusakan ringan. 2. Pada peradangan dan kerusakan awal (akut) hepatoseluler akan terjadi kebocoran membran sel sehingga isi sitoplasma keluar menyebabkan ALT meningkat lebih tinggi dibandingkan AST dengan rasio AST/ALT <0. kolangitis. Padasel hati gamma GT terdapat di retikulum endoplasmik sedangkan di empedu terdapat di sel epitel. AST 30% terdapat di dalam sitoplasma sel hati dan 70% terdapat di dalam mitokondria sel hati. Aktivitas ALP lebih dari 4 kali batas atas nilai rujukan mengarah kelainan ke arah hepatobilier dibandingkan hepatoseluler. iskemik hati yang disebabkan hipotensi lama atau gagal jantung akut. pankreas. Alkaline Phosfatase (ALP) dan gamma glitamyltransferase (GGT) Aktivitas enzim ALP digunakan untuk menilai fungsi kolestasis. hati. . Peningkatan SGPT atau SGOT disebabkan perubahan permiabilitas atau kerusakan dinding sel hati sehingga digunakan sebagai penanda gangguan integritas sel hati (hepatoseluler). otak. Kadar ALP tergantung umur dan jenis kelamin. dan kolestasis.AST/SGOT terdapat di dalam sel jantung. Kerusakan sel akan diikuti peningkatan kadar AST?SGOT dalam waktu 12 jam dan tetap bertahan dalam darah selama 5 hari. Enzim gamma GT terdapat di sel hati. ALP di sel hati terdapat di sinusoid dan memberan salauran empedu yang penglepasannya difasilitasi garam empedu. selain itu ALP banyak dijumpai pada osteoblast. dan plasenta. otot rangka. tetapi jika didapatkan peningkatan lebih dari 1000 U/L dapat dijumpai pada penyakit hati akibat virus. hati. Peningkatan enzim ALT dan AST sampai 300 U/L tidak spesifik untuk kelainan hati saja. limpa dan paru. Kolestasis adalah kegagalan aliran empedu mencapai duodenum. Rasio De Ritis AST/ALT dapat digunkan untuk membantu melihat beratnya kerusakan sel hati. Tingginya kadar AST/SGOT berhubungan langsung dengan jumlah kerusakan sel. ginjal. Enzimini terdapat di tulang. Peningkatan aktivitas GGT dapat dijumpai pada icterus obstruktif. Pada peradangan dan kerusakan kronis atau berat maka keruskan sel hati mencapai mitokondria menyebabkan peningkatan kadar AST lebih tinggi dibandingkan ALT sehingga rasio AST/ALT > 0.

2. Oleskan pasta EKG pada elektroda untuk memperbaiki hantaran listrik. Maka misalnya diperlukan hasil EKG yang bebas dari efek. Penyakit paru pada penderita : posisi jantung dan voltase dari komplek- komplek EKG dapat dipengaruhi oleh adanya empisema pulmonum yang berat. Bersihkan daerah yang akan dipasang elektroda dengan kapas beralkohol g. e. sebab voltase berbanding berbalik dengan kuadrat jarak elektroda dengan sel otot jantung. Persiapan kertas dan alat EKG : 1. Tekanan darah dan keadaan umum penderita : Hal ini penting apakah peningkatan voltase pada komplek ventrikel kiri ada hubungannya dengan kemungkinan hipertofi dan dilatasi ventrikel kiri. . paling sedikit kita harus mempunyai data-data tentang hal -hal di bawah ini: a. berat dan bentuk badan : orang yang gemuk mempunyai dinding dada yang tebal. Pasien diminta membuka baju bagian dada d. Bila menggunakan perhiasan/logam supaya dilepas c. d. b. sehingga amplitudo semua komplek EKG lebih kecil. Persiapan. h. Tinggi. b. Kertas grafik garis horizontal dan vertikal dengan jarak 1 mm. Sebaiknya tidak merokok/makan 30 mnt sebelumnya Untuk membaca/interpretasi sebuah EKG. Sebaiknya istirahat 15 mnt sebelum pemeriksaan. bernafas normal. posisi pemeriksa berada di sebelah kiri pasien e. kalibrasi Persiapan probandus/pasien a. Pasien diusahakan untuk tenang. perlu dihentikan sekurang-kurangnya 3 minggu dari obat digitalis tersebut. Pasien dipersilakan tidur terlentang. Garis lebih tebal terdapat pada setiap 5 mm. Penggunaan obat digitalis dan derivatnya: akan sangat mempengaruhi bentuk EKG. Umur penderita : karena bentuk EKG normal pada bayi dan anak-anak sangat berbeda dengan EKG normal orang dewasa. CARA PEMASANGAN ELEKTROKARDIOGRAFI A. selama proses perekaman tidak boleh bicara f. pleuraleffusion dan lain-lain. digitalis. c.

Lead Ekstremitas Bipolar : Einthoven. dan seolah-olah terletak dipusat daripada segitiga sama sisi.3. Garis horizontal menggambarkan waktu 1 mm = 0. Garis vertikal menggambarkan voltase 1 mm = 0. .20 detik 4. 5mm = 0. B. Jenis lead yang sering digunakan pada EKG adalah: a. maka gambaran spesifik dari tiap pasang hubungan ini disebut lead (sadapan). 6. Lead (Sadapan) Bila elektrokardiografi dihubungkan dengan dua titik pada tubuh.04 detik. dimana dua sudut terletak sama tinggi di atas dan puncak ada di bawah. pada th 1913 menerangkan bahwa dipol jantung dapat digambarkan pada bidang frontal yang melalui jantung. bapak EKG. Kalibrasi 1 milivolt yang menghasilkan defleksi setinggi 10 mm.1 milivolt. 10mm = 1 milivolt 5. 3) Lead III : dimana poll negatif dihubungkan dengan pergelangan tangan kiri dan poll positif dengan pergelangan kaki kiri. sehingga terbentuk tiga lead ekstremitas bipolar untuk merekam perbedaan potensial arus bioelektrik jantung. Einthoven menggunakan tiga elektroda yang diletakkan pada pergelangan tangan dan kaki (limb). Orientasi polaritas dari sumbu lead ekstremitas bipolar adalah sbb: 1) Lead I : dimana poll negatif dari elektrokardiografi dihubungkan dengan pergelangan tangan kanan dan poll positif dihubungkan dengan pergelangan tangan kiri. 2) Lead II : dimana poll negatif dari elektrokardiografi dihubungkan dengan pergelangan tangan kanan dan poll positif dihubungkan dengan pergelangan kaki kiri. Kecepatan perekaman 25 mm/detik.

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa tubuh merupakan volume konduktor yang baik. Demikian pula lead II dan III masing-masing akan mengukur perbedaan potensial dari semua arus bioelektrik jantung yang membentuk sudut 60° dari kuadran kiri atas ke kanan bawah. Jadi lead I sebenarnya mengukur perbedaan potensial dari semua arus bioelektrik jantung yang merambat horizontal. dan dari kuadran kanan atas ke kiri bawah. sedangkan anggota ke 3 dihubungkan dengan terminal tahanan listrik positif sehingga terdapatlah 3 macam lead: a) aVR = bila terminal positif dihubungkan dengan lengan kanan b) aVL = bila terminal positif dihubungkan dengan lengan kiri c) aVF = bila terminal positif dihubungkan dengan kaki kiri . Dengan menggunakan tiga lead tersebut akan membentuk segitiga sama sisi dengan posisi jantung di tengah . b. Lead Ekstremitas Unipolar: Pada pencatatan ini 2 anggota dihubungkan dengan terminal tahanan listrik negative elektrokardiografi.

Dibedakan 6 macam lead prekordial. Pada elektroda indifferens ini dibuat selalu berpotensial nol (0). Lead Prekordial Pemeriksaan EKG juga memerlukan pemasangan lead pada dinding depan dada di atas jantung.c.i. yaitu: V1 = elektroda positif pada spatium intercostale (s.c V pada linea aksilaris medialis kiri .i. dan elektroda negatif atau disebut pula elektroda indifferens biasanya dihubungkan melalui tahanan listrik pada lengan kanan.i.c V pada linea medioklavikularis kiri V5 = elektroda positif pada s. Pemasangan lead hanya dengan satu elektroda yang aktif. Lead ini dihubungkan dengan terminal positif pada elektrokardiografi . IV lateral linea sternalis kanan V3 = antara V2 dan V4 V4 = elektroda positif pada s. lengan kiri dan kaki kiri bersamaan.i.i. c.c V pada linea aksilaris anterior kiri V6 = elektroda positif pada s. dinamakan unipolar lead.c) IV lateral linea sternalis kanan V2 = elektroda positif pada s.

II dan III dipasang pada pergelangan tangan kanan dan kiri serta pergelangan kaki kanan dan kiri 2) Pergelangan tangan kanan dipasang elektroda yang berwarna merah. 2) Pasang lead V2 pada spatium intercostale IV lateral linea sternalis kiri 3) Pasang lead V3 diantara V2 dan V4 4) Pasang lead V4 pada spatium intercostale V linea medioklavikularis kiri 5) Pasang lead V5 pada spatium intercostale V linea aksilaris anterior kiri 6) Pasang lead V6 pada spatium intercostale V linea aksilaris media kiri . Pergelangan kaki kanan dipasang elektroda yang berwarna hitam. selanjutnya dilakukan tahapan sbb: 1. Lead prekordial 1) Pasang lead V1 pada spatium intercostale IV lateral linea sternalis kanan. Pasang elektroda sesuai dengan lead masing-masing 1) Lead ekstremitas bipolar dan unipolar Lead I. Pergelangan tangan kiri dipasang elektroda yang berwarna kuning. Pergelangan kaki kiri dipasang elektroda yang berwarna hijau a.C. Pemasangan dan Perekaman EKG Setelah pasien dan mesin EKG dipersiapkan.

Auto : tekan start tunggu sampai tercetak semua lead dan kesimpulan interpretasi hasil EKG b. Manual : tekan start untuk merekam satu persatu setiap lead secara manual kemudian tekan stop 4. Lakukan interpretasi hasil EKG tersebut 5. 2. Isian untuk nomer ID : arahkan kursor ke tulisan ID kemudian tekan enter kemudian tekan ↑ atau ↓ b. Pilih mode auto/manual kemudian tekan enter kemudian tekan mode lagi untuk keluar a. Lepas semua lead dan bersihkan sisa pasta EKG dengan kapas beralkohol. Isian untuk umur : arahkan kursor pada tulisan umur kemudian tekan enter kemudian tekan ↑ atau ↓ c. Apabila tersedia komputer dan bisa disambungkan . Hasil akan terekam pada kertas EKG. Tekan tombol ID (Cardimax®) a. isikan nama probandus 3. Isian untuk jenis kelamin : arahkan kursor pada tulisan SEX kemudian tekan enter kemudian tekan → atau ← d. .