You are on page 1of 60

1.

1 PENGERTIAN

Kesehatan Jiwa adalah Perasaan Sehat dan Bahagia serta mampu mengatasi tantangan hidup,
dapat menerima orang lain sebagaimana adanya serta mempunyai sikap positif terhadap diri
sendiri dan orang lain.
:
Kesehatan jiwa meliputi
· Bagaimana perasaan anda terhadap diri sendiri
· Bagaimana perasaan anda terhadap orang lain
· Bagaimana kemampuan anda mengatasi persoalan hidup anda Sehari - hari.

Beberapa pengertian manusia:

 Individu yang holistik: terdiri dari jasmani dan ‘rohani’.


 Terdiri dari komponen jasmani, akal, jiwa dan qalbu (ruh)
 Struktur jiwa manusia terdiri dari id (insting-prinsip kepuasan), ego (kesadaran
realitas-prinsip realitas), super ego/ moralitas-prinsip moralitas (Teori Freud)

________________________________________________________________

1.2 KRITERIA SEHAT MENTAL MENURUT YAHODA

 Sikap positif terhadap diri sendiri


 Tumbuh, berkembang dan aktualisasi
 Integrasi : Masa lalu dan sekarang
 Otonomi dalam pengambilan kupusan
 Persepsi sesuai kenyataan
 Menguasai lingkungan : mampu beradaptasi

___________________________________________________________

1.3 RENTANG SEHAT JIWA

1. Dinamis bukan titik statis


2. Rentang dimulai dari sehat optimal – mati
3. Ada tahap-tahap
4. Adanya variasi tiap individu
5. Menggambarkan kemampuan adaptasi
6. Berfungsi secara efektif : sehat
_____________________________________________________

1.4 PENGERTIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

a. Menurut American Nurses Associations (ANA)

Keperawatan jiwa adalah area khusus dalam praktek keperawatan yang menggunakan ilmu
tingkah laku manusia sebagai dasar dan menggunakan diri sendiri secara teraupetik dalam
meningkatkan, mempertahankan, memulihkan kesehatan mental klien dan kesehatan
mental masyarakat dimana klien berada (American Nurses Associations).

b. Menurut WHO
Kes. Jiwa bukan hanya suatu keadaan tdk ganguan jiwa, melainkan mengandung berbagai
karakteristik yg adalah perawatan langsung, komunikasi dan management, bersifat positif
yg menggambarkan keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yg mencerminkan
kedewasaan kepribadian yg bersangkutan.

c. Menurut UU KES. JIWA NO 03 THN 1966


Kondisi yg memungkinkan perkembangan fisik, intelektual emosional secara optimal dari
seseorang dan perkebangan ini selaras dgn orang lain.

Keperawatan jiwa adalah pelayanan keperawatan profesional didasarkan pada ilmu perilaku,
ilmu keperawatan jiwa pada manusia sepanjang siklus kehidupan dengan respons psiko-
sosial yang maladaptif yang disebabkan oleh gangguan bio-psiko-sosial, dengan
menggunakan diri sendiri dan terapi keperawatan jiwa ( komunikasi terapeutik dan terapi
modalitas keperawatan kesehatan jiwa ) melalui pendekatan proses keperawatan untuk
meningkatkan, mencegah, mempertahankan dan memulihkan masalah kesehatan jiwa
klien (individu, keluarga, kelompok komunitas ).

Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berusaha untuk meningkatkan dan
mempertahankan perilaku sehingga klien dapat berfungsi utuh sebagai manusia.

Prinsip keperawatan jiwa terdiri dari empat komponen yaitu manusia, lingkungan, kesehatan
dan keperawatan.

 Manusia

Fungsi seseorang sebagai makhluk holistik yaitu bertindak, berinteraksi dan bereaksi dengan
lingkungan secara keseluruhan. Setiap individu mempunyai kebutuhan dasar yang sama dan
penting. Setiap individu mempunyai harga diri dan martabat. Tujuan individu adalah untuk
tumbuh, sehat, mandiri dan tercapai aktualisasi diri. Setiap individu mempunyai kemampuan
untuk berubah dan keinginan untuk mengejar tujuan personal. Setiap individu mempunyai
kapasitas koping yang bervariasi. Setiap individu mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam
pengambilan keputuasan. Semua perilaku individu bermakna dimana perilaku tersebut
meliputi persepsi, pikiran, perasaan dan tindakan.

 Lingkungan

Manusia sebagai makhluk holistik dipengaruhi oleh lingkungan dari dalam dirinya dan
lingkungan luar, baik keluarga, kelompok, komunitas. Dalam berhubungan dengan
lingkungan, manusia harus mengembangkan strategi koping yang efektif agar dapat
beradaptasi. Hubungan interpersonal yang dikembangkan dapat menghasilkan perubahan diri
individu.

 Kesehatan

Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang menunjukkan salah satu segi
kualitas hidup manusia, oleh karena itu, setiap individu mempunyai hak untuk memperoleh
kesehatan yang sama melalui perawatan yang adekuat.

 Keperawatan

Dalam keperawatan jiwa, perawat memandang manusia secara holistik dan menggunakan diri
sendiri secara terapeutik.

Metodologi dalam keperawatan jiwa adalah menggunakan diri sendiri secara terapeutik dan
interaksinya interpersonal dengan menyadari diri sendiri, lingkungan, dan interaksinya
dengan lingkungan. Kesadaran ini merupakan dasar untuk perubahan. Klien bertambah sadar
akan diri dan situasinya, sehingga lebih akurat mengidentifikasi kebutuhan dan masalah serta
memilih cara yang sehat untuk mengatasinya. Perawat memberi stimulus yang konstruktif
sehingga akhirnya klien belajar cara penanganan masalah yang merupakan modal dasar
dalam menghadapi berbagai masalah.
Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Pemberian asuhan keperawatan merupakan proses
terapeutik yang melibatkan hubungan kerja sama antara perawat dengan klien, dan
masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal ( Carpenito, 1989 dikutip oleh
Keliat,1991).
Perawat memerlukan metode ilmiah dalam melakukan proses terapeutik tersebut, yaitu proses
keperawatan. Penggunaan proses keperawatan membantu perawat dalam melakukan praktik
keperawatan, menyelesaikan masalah keperawatan klien, atau memenuhi kebutuhan klien
secara ilmiah, logis, sistematis, dan terorganisasi. Pada dasarnya, proses keperawatan
merupakan salah satu teknik penyelesaian masalah (Problem solving).
Proses keperawatan bertujuan untuk memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan
kebutuhan dan masalah klien sehingga mutu pelayanan keperawatan menjadi optimal.
Kebutuhan dan masalah klien dapat diidentifikasi, diprioritaskan untuk dipenuhi, serta
diselesaikan. Dengan menggunakan proses keperawatan, perawat dapat terhindar dari
tindakan keperawatan yang bersifat rutin, intuisis, dan tidak unik bagi individu klien. Proses
keperawatan mempunyai ciri dinamis, siklik, saling bergantung, luwes, dan terbuka. Setiap
tahap dapat diperbaharui jika keadaan klien klien berubah.
Tahap demi tahap merupakan siklus dan saling bergantung. Diagnosis keperawatan tidak
mungkin dapat dirumuskan jika data pengkajian belum ada. Proses keperawatan merupakan
sarana / wahana kerja sama perawat dan klien. Umumnya, pada tahap awal peran perawat
lebih besar dari peran klien, namun pada proses sampai akhir diharapkan sebaliknya peran
klien lebih besar daripada perawat sehingga kemandirian klien dapat tercapai. Kemandirian
klien merawat diri dapat pula digunakan sebagai kriteria kebutuhan terpenuhi dan / atau
masalah teratasi.

Manfaat Proses Keperawatan Bagi Perawat.

a. Peningkatan otonomi, percaya diri dalam memberikan asuhan keperawatan.

b. Tersedia pola pikir/ kerja yang logis, ilmiah, sistematis, dan terorganisasi.

c. Pendokumentasian dalam proses keperawatan memperlihatkan bahwa perawat bertanggung


jawab dan bertanggung gugat.

d. Peningkatan kepuasan kerja.

e. Sarana/wahana desimasi IPTEK keperawatan.

f. Pengembangan karier, melalui pola pikir penelitian.

Bagi Klien

a. Asuhan yang diterima bermutu dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah.


b. Partisipasi meningkat dalam menuju perawatan mandiri (independen care).
c. Terhindar dari malpraktik.

Keperawatan Jiwa merupakan suatu bidang spesialisasi praktik keperawatan yang


menerapkan teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri sendiri secara
terapeutik sebagai kiatnya. Praktik keperawatan jiwa terjadi dalam konteks sosial dan
lingkungan. Perawat jiwa menggunakan pengetahuan dari ilmu-ilmu psikososial, biofisik,
teori-teori kepribadian dan perilaku manusia untuk menurunkan suatu kerangka kerja teoritik
yang menjadi landasan praktik keperawatan.
Kesehatan jiwa merupakan kondisi yang memfasilitasi secara optimal dan selaras dengan
orang lain, sehingga tercapai kemampuan menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain,
masyarakat dan lingkungan, keharmonisan fungsi jiwa, yaitu sanggup menghadapi problem
yang biasa terjadi dan merasa bahagia. Sehat secara utuh mencakup aspek fisik, mental,
sosial, dan pribadi yang dapat dijelaskan sebagi berikut.Kesehatan fisik, yaitu proses fungsi
fisik dan fungsi fisiologis, kepadanan, dan efisiensinya.
Indikator sehat fisik yang paling minimal adalah tidak ada disfungsi, dengan indikator lain
(mis. tekanan darah, kadar kolesterol, denyut nadi dan jantung, dan kadar karbon monoksida)
biasa digunakan untuk menilai berbagai derajat kesehatan.Kesehatan mental/psikologis/jiwa,
yaitu secara primer tentang perasaan sejahtera secara subjektif, suatu penilaian diri tentang
perasaan seseorang, mencakup area seperti konsep diri tentang kemampuan seseorang,
kebugaran dan energi, perasaan sejahtera, dan kemampuan pengendalian diri internal,
indikator mengenai keadaan sehat mental/psikologis/jiwa yang minimal adalah tidak merasa
tertekan/ depresi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kesehatan jiwa adalah bagian integral dari kesehatan dan
merupakan kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, dan sosial individu secara
optimal, dan selaras dengan perkembangan dengan orang lain.

Kesehatan sosial, yaitu aktivitas sosial seseorang. Kemampuan seseorang untuk


menyelesaikan tugas, berperan, dan belajar berbagai keterampilan untuk berfungsi secara
adaptif di dalam masyarakat. Indikator mengenai status sehat sosial yang minimal adalah
kemampuan untuk melaksanakan tugas dan keterampilan dasar yang sesuai dengan peran
seseorang.
Kesehatan pribadi adalah suatu keadaan yang melampaui berfungsinya secara efektif dan
adekuat dari ketiga aspek tersebut di atas, menekankan pada kemungkinan kemampuan,
sumber daya, bakat dan talenta internal seseorang, yang mungkin tidak dapat/ akan
ditampilkan dalam suasana kehidupan sehari-hari yang biasa.
Menurut pedoman asuhan keperawatan jiwa rumah sakit umum atau pusat kesehatan
masyarakat (puskesmas) sehat pribadi berarti bahwa di dalam diri seseorang terdapat potensi
dan kemampuan untuk memenuhi dan menyelesaikan dimensi lain dari dirinya, hal yang
tidak bersifat instrumental, dan yang memungkinkan perkembangan optimal seseorang.
Indikator minimal dari kesehatan pribadi adalah ada minat yang nyata terhadap aktivitas dan
pengalaman yang memungkinkan seseorang untuk menembus keadaan “status quo”.
Psikiatri dan kesehatan jiwa Indonesia menggunakan pendekatan elektik-holistik yang
melihat manusia dan perilakunya baik dalam keadaan sehat maupun sakit, sebagai kesatuan
yang utuh dari unsur-unsur organo-biologis (bio-sistem), psiko edukatif/ psikodinamik
(psiko-sistem), dan sosio-kultural (sosio-sistem).
Pendekatan ini berarti bahwa kita harus dapat melihat kondisi manusia dan perilakunya, baik
dalam kondisi sehat maupun sakit, secara terinci “detail” dalam ketiga aspek tersebut di atas
(ekletik), tetapi menyadari bahwa ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan merupakan satu
kesatuan yang utuh sebagai satu sistem (holistik).

Jadi jelas dengan pendekatan ini kita memperhatikan faktor psikologis dan sosial atau
psikososial di samping faktor biologis di dalam melaksanakan upaya kesehatan.

Proses keperawatan pada klien dengan masalah kesehatan jiwa merupakan tantangan yang
unik karena masalah kesehaan jiwa mungkin tidak dapat dilihat langsung, saperti pada
masalah kesehatan fisik yang memperlihatkan bermacam gejala dan disebabkan berbagai hal.
Kejadian masa lalu yang sama dengan kejadian saat ini, tetapi mungkin muncul gejala yang
berbeda dan kontradiksi. Kemampuan mereka untuk berperan dalam menyelesaikan masalah
juga bervariasi.
Hubungan saling percaya antara perawat dan klien merupakan dasar utama dalam melakukan
asuhan keperawatan pada klien gangguan jiwa. Hal ini penting karena peran perawat dalam
asuhan keperawatan jiwa adalah membantu klien untuk dapat menyelesaikan masalah sesuai
dengan kemampuan yang dimilikinya. Klien mungkin menghindar atau menolak berperan
serta dan perawat mungkin cenderung membiarkan, khususnya terhadap klien yang tidak
menimbulkan keributan dan tidak membahayakan.

Hal itu harus dihindari karena :

 Belajar menyelesaikan masalah akan lebih efektif jika klien ikut berperan serta.
 Dengan menyertakan klien maka pemulihan kemampuan klien dalam mengendalikan
kehidupannya lebih mungkin tercapai.
 Dengan berperan serta maka klien belajar bertanggung jawab terhadap pelakunya.

Peran dan Fungsi Perawat Jiwa Defenisi dan Uraian Keperawatan Jiwa

Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya meningkatkan dan


mempertahankan perilaku pasien yang berperan pada fungsi yang terintegrasi. Sistem pasien
atau klien dapat berupa individu, keluarga, kelompok, organisasi atau komunitas. ANA
mendefiniskan keperawatan kesehatan jiwa sebagai Suatu bidang spesialisasi praktik
keperawatan yang menerapkan teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan pengunaan diri
yang bermanfaat sebagai kiatnya. Praktik kontemporer keperawatan jiwa terjadi dalam
konteks sosial dan lingkungan.
Peran keperawatan jiwa profesional berkembang secara kompleks dari elemen historis
aslinya. Peran tersebut kini mencakup dimensi kompetensi klinis, advokasi pasien-keluarga,
tanggung jawab fiskal, kolaborasi antardisiplin, akuntabilitas sosial, dan parameter legal-etik.
Center for Mental Health Services secara resmi mengakui keperawatan kesehatan jiwa
sebagai salah satu dari lima inti disiplin kesehatan jiwa. Perawat jiwa menggunakan
pengetahuan dari ilmu psikososial, biofisik,, teori kepribadian, dan perilaku manusia untuk
mendapatkan suatu kerangka berpikir teoritis yang mendasari praktik keperawatan.

Berikut ini adalah dua tingkat praktik keperawatan klinis kesehatan jiwa yang telah
diidentifikasi.
1. Psychiatric-mental health registered nurse (RN)
adalah perawat terdaftar berlisensi yang menunjukkan keterampilan klinis dalam keperawatan
kesehatan jiwa melebihi keterampilan perawat baru di lapangan. Sertifikasi adalah proses
formal untuk mengakui bidang keahlian klinis perawat.

2. Advanced practice registered nurse ini psychiatric-mental health (APRN-PMH)


adalah perawat terdaftar berlisensi yang minimal berpendidikan tingkat master, memiliki
pengetahuan mendalam tentang teori keperawatan jiwa, membimbing praktik klinis, dan
memiliki kompetensi keterampilan keperawatan jiwa lanjutan. Perawat kesehatan jiwa pada
praktik lanjutan dipersiapkan untuk memiliki gelar master dan doktor dalam bidang
keperawatan atau bidang lain yang berhubungan.

3. Rentang Asuhan Tatanan Tradisional


Untuk perawat jiwa meliputi fasilitas psikiatri, pusat kesehatan jiwa masyarakat, unit psikitari
di rumah sakit umum, fasilitas residential, dan praktik pribadi. Namun, dengan adanya
reformasi perawatan kesehatan, timbul suatu tatanan alternatif sepanjang rentang asuhan bagi
perawat jiwa.

Banyak rumah sakit secara spesifik berubah bentuk menjadi sistem klinis terintegrasi yang
memberikan asuhan rawat inap, hospitalisasi parsial atau terapi harian, perawatan residetial,
perawatan di rumah, dan asuhan rawat jalan.
Tatanan terapi di komunitas saat ini berkembang menjadi foster care atau group home,
hospice, lembaga kesehatan rumah, asosiasi perawat kunjungan, unit kedaruratan, shelter,
nursing home, klinik perawatan utama, sekolah, penjara, industri, fasilitas managed care, dan
organisasi pemeliharaan kesehatan.

Tiga domain praktik keperawatan jiwa kontemporer meliputi :


(1) Aktivitas asuhan langsung
(2) Aktivitas komunikasi
(3) Aktivitas penatalaksanaan

Fungsi penyuluhan, koordinasi, delegasi, dan kolaborasi pada peran perawat ditunjukkan
dalam domain praktik yang tumpang tindih ini.Berbagai aktivitas perawat jiwa dalam tiap-
tiap domain dijelaskan lebih lanjut. Aktivitas tersebut tetap mencerminkan sifat dan lingkup
terbaru dari asuhan yang kompeten oleh perawat jiwa walaupun tidak semua perawat
berperan serta pada semua aktivitas.

Selain itu, perawat jiwa mampu melakukan hal-hal berikut ini:

1. Membuat pengkajian kesehatan biopsikososial yang peka terhadap budaya.


2. Merancang dan mengimplementasikan rencana tindakan untuk pasien dan keluarga
yang mengalami masalah kesehatan kompleks dan kondisi yang dapat menimbulkan
sakit.
3. Berperan serta dalam aktivitas manajemen kasus, seperti mengorganisasi, mengakses,
menegosiasi, mengordinasi, dan mengintegrasikan pelayanan perbaikan bagi individu
dan keluarga.
4. Memberikan pedoman perawatan kesehatan kepada individu, keluarga,dan kelompok
untuk menggunakan sumber kesehatan jiwa yang tersedia di komunitas termasuk
pemberian perawatan, lembaga,teknologi,dan sistem sosial yang paling tepat.
5. Meningkatkan dan memelihara kesehatan jiwa serta mengatasi pengaruh gangguan
jiwa melalui penyuluhan dan konseling.
6. Memberikan asuhan kepada pasien penyakit fisik yang mengalami masalah
psiokologis dan pasien gangguan jiwa yang mengalami masalah fisik.
7. Mengelola dan mengordinasi sistem asuhan yang mengintegrasikan kebutuhan pasien,
keluarga,staf, dan pembuat kebijakan.

___________________________________________________________________________
_
1. 5 PRINSIP-PRINSIP KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

 Roles and functions of psychiatric nurse : competent care (Peran dan fungsi
keperawatan jiwa : yang kompeten).
 Therapeutic Nurse patient relationship (hubungan yang terapeutik antara perawat
dengan klien).
 Conceptual models of psychiatric nursing (konsep model keperawatan jiwa).
 Stress adaptation model of psychiatric nursing (model stress dan adaptasi dalam
keperawatan jiwa).
 Biological context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan biologis dalam
keperawatan jiwa).
 Psychological context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan psikologis dalam
keperawatan jiwa).
 Sociocultural context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan sosial budaya
dalam keperawatan jiwa).
 Environmental context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan lingkungan
dalam keperawatan jiwa).
 Legal ethical context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan legal etika dalam
keperawatan jiwa).
 Implementing the nursing process : standards of care (penatalaksanaan proses
keperawatan : dengan standar- standar perawatan).
 Actualizing the Psychiatric Nursing Role : Professional Performance Standards
(aktualisasi peran keperawatan jiwa: melalui penampilan standar-standar professional)

1.6 PERKEMBANGAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

Menangani klien yang memiliki masalah sikap, perasaan dan konflik

Pencegahan primer

Penanganan multidisiplin

Spesialisasi keperawatan jiwa


DULU :
Pasien Gangguan Jiwa dianggap sampah, memalukan dipasung

SEKARANG :
- Meningkatkan Iptek
- Pengetahuan masyarakat tentang gangguan jiwa meningkat
- Perlu pemahaman tentang human right
- Penting meningkatkan mutu pelayanan dan perlindungan konsume

1.7 KONSEPTUAL MODEL KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

Tabel 1

Model View of Therapeutic Roles of a


behavioral process patient &
deviation therapist
Psychoanalytical Ego tidak Asosiasi Klien:
mampu bebas & mengungkapk
(freud, Erickson)
mengontrol analisa
an semua
ansietas, mimpi
pikiran &
konflik
Transferen mimpi
tidak selesai
untuk
Terapist :
memperba
menginterpret
iki
asi pikiran dan
traumatic
mimpi pasien
masa lalu
Interpersonal Ansietas Build feeling Patient: share
timbul & security anxieties
(Sullivan, peplau)
dialami
Trusting Therapist : use
secara
relationshi empathy &
interpersona
l, basic fear p& relationship
is fear of interperso
rejection nal
satisfactio
n
Social Social & Environment Pasien:
environment manipulati menyampaika
(caplan,szasz)
al factors on & n masalah
create social menggunakan
stress, support sumber yang
which cause ada di
anxiety masyarakat
&symptom
Terapist:
menggali
system social
klien
Existensial Individu Experience Klien: berperan
gagal in serta dalam
(Ellis, Rogers)
menemukan relationshi pengalaman
dan p, yang berarti
menerima conducted untuk
diri sendiri in group mempelajari
diri
Encouraged
to accept Terapist:
self & memperluas
control kesadaran diri
behavior klien
Supportive Therapy Faktor Menguatkan Klien: terlibat
biopsikosos respon dalam
(Wermon,Rockland)
ial & koping identifikasi
respon adaptif coping
maladaptiv
e saat ini Terapist:
hubungan
yang hangta
dan empatik
Medical Combination Pemeriksaan Klien: menjalani
from diagnostic prosedur
(Meyer,Kreaplin)
physiologic , terapi diagnostic &
al, genetic, somatic, terapi jangka
environmen farmakolo panjang
tal & social gik &
Terapist :
teknik
Therapy,
interperso
Repport
nal
effects,Diagn
ose illness,
Therapeutic
Approach

Berdasarkan konseptual model keperawatan diatas, maka dapat dikelompokkan ke dalam 6


model yaitu:

1. Psycoanalytical (Freud, Erickson)

Model ini menjelaskan bahwa gangguan jiwa dapt terjadi pada seseorang apabila
ego(akal) tidak berfungsi dalam mengontrol id (kehendak nafsu atau insting).
Ketidakmampuan seseorang dalam menggunakan akalnya (ego) untuk mematuhi tata
tertib, peraturan, norma, agama(super ego/das uber ich), akan mendorong terjadinya
penyimpangan perilaku (deviation of Behavioral).

Faktor penyebab lain gangguan jiwa dalam teori ini adalah adanya konflik intrapsikis
terutama pada masa anak-anak. Misalnya ketidakpuasan pada masa oral dimana anak
tidak mendapatkan air susu secara sempurna, tidak adanya stimulus untuk belajar berkata-
kata, dilarang dengan kekerasan untuk memasukkan benda pada mulutnya pada fase oral
dan sebagainya. Hal ini akan menyebabkan traumatic yang membekas pada masa dewasa.

Proses terapi pada model ini adalah menggunakan metode asosiasi bebas dan analisa
mimpi, transferen untuk memperbaiki traumatic masa lalu. Misalnya klien dibuat dalam
keadaan ngantuk yang sangat. Dalam keadaan tidak berdaya pengalaman alam bawah
sadarnya digali dengamn pertanyaan-pertanyaan untuk menggali traumatic masa lalu. Hal
ini lebih dikenal dengan metode hypnotic yang memerlukan keahlian dan latihan yang
khusus.

Dengan cara demikian, klien akan mengungkapkan semua pikiran dan mimpinya,
sedangkan therapist berupaya untuk menginterpretasi pikiran dan mimpi pasien.

Peran perawat adalah berupaya melakukan assessment atau pengkajian mengenai


keadaan-keadaan traumatic atau stressor yang dianggap bermakna pada masa lalu
misalnya ( pernah disiksa orang tua, pernah disodomi, diperlakukan secar kasar,
diterlantarkan, diasuh dengan kekerasan, diperkosa pada masa anak), dengan
menggunakan pendekatan komunikasi terapeutik setelah terjalin trust (saling percaya).

2. Interpersonal ( Sullivan, peplau)

Menurut konsep model ini, kelainan jiwa seseorang bias muncul akibat adanya ancaman.
Ancaman tersebut menimbulkan kecemasan (Anxiety). Ansietas timbul dan alami
seseorang akibat adanya konflik saat berhubungan dengan orang lain (interpersonal).
Menurut konsep ini perasaan takut seseorang didasari adnya ketakutan ditolak atau tidak
diterima oleh orang sekitarnya.

Proses terapi menurut konsep ini adalh Build Feeling Security (berupaya membangun rasa
aman pada klien), Trusting Relationship and interpersonal Satisfaction (menjalin
hubungan yang saling percaya) dan membina kepuasan dalam bergaul dengan orang lain
sehingga klien merasa berharga dan dihormati.

Peran perawat dalam terapi adalah share anxieties (berupaya melakukan sharing
mengenai apa-apa yang dirasakan klien, apa yang biasa dicemaskan oleh klien saat
berhubungan dengan orang lain), therapist use empathy and relationship ( perawat
berupaya bersikap empati dan turut merasakan apa-apa yang dirasakan oleh klien).
Perawat memberiakan respon verbal yang mendorong rasa aman klien dalam
berhubungan dengan orang lain.

3. Social ( Caplan, Szasz)

Menurut konsep ini seseorang akan mengalami gangguan jiwa atau penyimpangan
perilaku apabila banyaknya factor social dan factor lingkungan yang akan memicu
munculnya stress pada seseorang ( social and environmental factors create stress, which
cause anxiety and symptom).

Prinsip proses terapi yang sangat penting dalam konsep model ini adalah environment
manipulation and social support ( pentingnya modifikasi lingkungan dan adanya
dukungan sosial)

Peran perawat dalam memberikan terapi menurut model ini adalah pasien harus
menyampaikan masalah menggunakan sumber yang ada di masyarakat melibatkan teman
sejawat, atasan, keluarga atau suami-istri. Sedangkan therapist berupaya : menggali
system sosial klien seperti suasana dirumah, di kantor, di sekolah, di masyarakat atau
tempat kerja.

4. Existensial ( Ellis, Rogers)

Menurut teori model ekistensial gangguan perilaku atau gangguan jiwa terjadi bila
individu gagal menemukan jati dirinya dan tujuan hidupnya. Individu tidak memiliki
kebanggan akan dirinya. Membenci diri sendiri dan mengalami gangguan dalam Bodi-
image-nya

Prinsip dalam proses terapinya adalah : mengupayakan individu agar berpengalaman


bergaul dengan orang lain, memahami riwayat hidup orang lain yang dianggap sukses
atau dapat dianggap sebagai panutan(experience in relationship), memperluas kesadaran
diri dengan cara introspeksi (self assessment), bergaul dengan kelompok sosial dan
kemanusiaan (conducted in group), mendorong untuk menerima jatidirinya sendiri dan
menerima kritik atau feedback tentang perilakunya dari orang lain (encouraged to accept
self and control behavior).

Prinsip keperawatannya adalah : klien dianjurkan untuk berperan serta dalam memperoleh
pengalaman yang berarti untuk memperlajari dirinya dan mendapatkan feed back dari
orang lain, misalnya melalui terapi aktivitas kelompok. Terapist berupaya untuk
memperluas kesadaran diri klien melalui feed back, kritik, saran atau reward &
punishment.

5. Supportive Therapy ( Wermon, Rockland)

Penyebab gangguan jiwa dalam konsep ini adalah: factor biopsikososial dan respo
maladaptive saat ini. Aspek biologisnya menjadi masalah seperti: sering sakit maag,
migraine, batuk-batuk. Aspek psikologisnya mengalami banyak keluhan seperti : mudah
cemas, kurang percaya diri, perasaan bersalah, ragu-ragu, pemarah. Aspek sosialnya
memiliki masalah seperti : susah bergaul, menarik diri,tidak disukai, bermusuhan, tidak
mampu mendapatkan pekerjaan, dan sebagainya. Semua hal tersebut terakumulasi
menjadi penyebab gangguan jiwa. Fenomena tersebut muncul akibat ketidakmamupan
dalam beradaptasi pada masalah-masalah yang muncul saat ini dan tidak ada kaitannya
dengan masa lalu.

Prinsip proses terapinya adalah menguatkan respon copinh adaptif, individu diupayakan
mengenal telebih dahulu kekuatan-kekuatan apa yang ada pada dirinya; kekuatan mana
yang dapat dipakai alternative pemecahan masalahnya.

Perawat harus membantu individu dalam melakukan identifikasi coping yang dimiliki dan
yang biasa digunakan klien. Terapist berupaya menjalin hubungan yang hangat dan
empatik dengan klien untuk menyiapkan coping klien yang adaptif.

6. Medica ( Meyer, Kraeplin)


Menurut konsep ini gangguan jiwa cenderung muncul akibat multifactor yang kompleks
meliputi: aspek fisik, genetic, lingkungan dan factor sosial. Sehingga focus
penatalaksanaannya harus lengkap melalui pemeriksaan diagnostic, terapi somatic,
farmakologik dan teknik interpersonal. Perawat berperan dalam berkolaborasi dengan tim
medis dalam melakukan prosedur diagnostic dan terapi jangka panjang, therapist berperan
dalam pemberian terapi, laporan mengenai dampak terapi, menentukan diagnose, dan
menentukan jenis pendekatan terapi yang digunakan.

_________________________________________________________________

1.8 PERAN PERAWAT KESEHATAN JIWA

 Pengkajian yg mempertimbangkan budaya

 Merancang dan mengimplementasikan rencana tindakan


 Berperan serta dlm pengelolaan kasus
 Meningkatkan dan memelihara kesehatan mental, mengatasi pengaruh penyakit
mental - penyuluhan dan konseling
 Mengelola dan mengkoordinasikan sistem pelayanan yang mengintegrasikan
kebutuhan pasien, keluarga staf dan pembuat kebijakan
 Memberikan pedoman pelayana kesehatan

___________________________________________

1.9 ASUHAN YANG KOMPETEN BAGI PERAWAT JIWA ( COMPETENT OF


CARING )

 Pengkajian biopsikososial yang peka terhadap budaya.


 Merancang dan implementasi rencana tindakan untuk klien dan keluarga.
 Peran serta dalam pengelolaan kasus: mengorganisasikan, mengkaji, negosiasi,
koordinasi pelayanan bagi individu dan keluarga.
 Memberikan pedoman pelayanan bagi individu, keluarga, kelompok, untuk
menggunakan sumber yang tersedia di komunitas kesehatan mental, termasuk
pelayanan terkait, teknologi dan sistem sosial yang paling tepat.
 Meningkatkan dan memelihara kesehatanmental serta mengatasi pengaruh penyakit
mental melalui penyuluhan dan konseling.
 Memberikan askep pada penyakit fisik yang mengalami masalah psikologis dan
penyakit jiwa dengan masalah fisik.
 Mengelola dan mengkoordinasi sistem pelayanan yang mengintegrasikan kebutuhan
klien, keluarga, staf, dan pembuat kebijakan.
Senin, 23 April 2012

FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN JIWA

RUANG RAWAT : TANGGAL DIRAWAT :

I. IDENTITAS KLIEN :

a. Nama ( initial ) : ( L/P )

b. Umur :

c. Tanggal Pengkajian :

d. No. R.M :

II. ALASAN MASUK

a.
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………

III. FAKTOR PREDISPOSISI :

i. Pernah mengalami gangguan jiwa :

ii. Pengobatan sebelumnya

iii. Pernah mengalami pengalaman yang tidak


menyenangkan ?

iv. Adakah anggota keluarga mengalami gangguan jiwa


?

Masalah keperawatan : ………………………………………………………

IV. PEMERIKSAAN FISIK :

i. Tanda vital TD : ……. N : ……… P


; …….

ii. TB ; ……………… BB :

iii. Keluhan Fisik :


………………………………………
V. PSIKOSOSIAL :

a. Genogram :

Jelaskan :

Pola asuh dalam keluarga

Pengambilan keputusan dalam keluarga

b. Konsep Diri :

i. Gambaran
Diri:………………………………………………

ii. Identitas Diri :


………………………………………………

iii. Peran :
………………………………………………

iv. Ideal Diri :


………………………………………………

v. Harga Diri :
………………………………………………

Maslah Keperawatan : ………………………………………………

c. Hubungan Sosial :

i. Orang yang berarti :


…………………………………………..

ii. Peran serta dalam kegiatan kelompok/ masyarakat :


…………

iii. Hubungan dalam berhubungan dengan orang lain :


………….

Masalah Keperawatan : ……………………………………

d. Spiritual :

i. Nilai dan keyakinan :


……………………………………………

ii. Kegiatan Ibadah :


………………………………………….
1. Masalah Keperawatan : ………………………………….

VI. STATUS MENTAL

a. Penampilan : Tidak rapi, penggunaan pakaian tidak sesuai, cara berpakaian tidak seperti
biasanya .

i. Jelaskan : …………………………………….

b. Pembicaraan :

i. Cepat, Lambat, Keras, Gagap,


Inkoheren, Apatis, Membisu, Tidak mampu memulai pembicaraan.

Jelaskan : ……………………………………………..

ii. Aktivitas Motorik :

Lesu, Tegang, Gelisah, Agitasi, Tik, Grimasem, Tremor, Kompulsif .

iii. Alam Perasaan :

Sedih, Ketakutan, Putus Asa, Khawatir, Gembira Berlebihan,

Jelaskan : …………………………………………………

iv. Afek :

Datar, Tumpul, Labil, Tidak sesuai ,

Jelaskan : …………………………………………………

v. Interaksi selama wawancara :

Bermusuhan, tidak kooperatif, Mudah tersinggung, Kontak mata kurang, defensif,


Curiga,

Jelaskan :………………………………………………………..
vi. Persepsi :

Halusinasi : pendengaran, penglihatan, perabaan, pengecap, penghidu .

1. Berapa lama suara/ bayangan datang ?

2. Berapa kalai dalam satu hari datang ?

3. Pada saat bagaimana bayangan/ suara datang ?

4. Pada saat halusinasi datang suka atau takut ?

5. Apa yang biasa dilakukan kalau hallusinasi datang ?

6. Isi halusinasinya apa ?

7. Siapa yang datang pada saat halusinasi ?

vii. Proses fikir

Sirkumtansial, Tangensial, Kehilangan asosiasi, Flight of Idea, Blocking,


Pegulangan pembicaraan/ perseverasi.

viii. Isi Fikir

Obsesi , Fobia , Hipokondria, depersonalisasi, Ide yang terkait, Pikiran


magis, Waham

Jelaskan : …………………………………………………………..

ix. tingkat kesadaran :

Bingun, Sedasi, Stupor, , Disorientasi ( waktu, tempat, orang ).

Jelaskan ;……………………………………………………………

x. Memori :

Gangguan daya ingat jangka panjang, Gangguan daya ingat jangka pendek, Gangguan
daya ingat saat ini, Konfabulasi.

Jelaskan : ……………………………………………………..

xi. Tingkat konsentrasi dan berhitung :

Mudah beralih, Tidak mampu berkonsentrasi, Tidak mampu berhitung sederhana.

xii. kemampuan Penilaian :

Gangguan ringan, Gangguan bermakna

xiii. Daya tilik diri


Maengingkari penyakit yang diderita, Menyalahkan hal-hal diluar dirinya.

Jelaskan : ………………………………………………………..

VII. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG

a. Makan

i. Bantuan minimal , Bantuan total

b. BAB/BAK

i. Bantuan minimal, , Bantuan total

c. Mandi

i. Bantuan minimal, , Bantuan total

d. Berpakaian/berhias

i. Bantuan minimal, , Bantuan total

e. Istirahat dan tidur

i. Lama tidur siang : ……………s/d ………………

ii. Lama tidur malam : …………...s/d ……………..

iii. Kegiatan sebelum dan sesudah tidur

f. Penggunaan Obat

i. Bantuan minimal, Bantuan total

g. Pemeliharaan Kesehatan

i. Perawatan lanjutan

ii. Sistem pendukung

h. Kegiatan di dalam rumah :

i. Mempersiapkan makanan

ii. Menjaga kerapihan rumah

iii. Mencuci pakaian

iv. Penaturan keuangan

i. Kegiatan di luar rumah

i. Belanja
ii. Transportasi

iii. Lain-lain

Jelaskan : ……………………………………………………………

VIII. MEKANISME KOPING

a. Adaptif

i. Bicara dengan orang lain

ii. Mampu menyelesaikan masalah

iii. Teknik relokasi

iv. Aktivitas konstruktif

v. Olahraga

vi. Lainya ……………………………

b. Mal adaptif

i. Minum alcohol

ii. Reaksi lambat

iii. Bekerja berlebihan.

iv. Menghindar

v. Mencederai diri

vi. Lainnya ……………………………..

IX. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN

a. Masalah dengan dukungan kelompok spesifik

b. Masalah berhubungan dengan lingkungan spesifik

c. Masalah dengan pendidikan, spesifik

d. Masalah dengan pendidikan, spesifik

e. Masalah dengan pekerjaan, spesifik

f. Masalah dengan perumahan, spesifik


g. Masalah ekonomi, spesifik

h. Masalah dengan pelayanan kesehatan, spesifik

i. Masalah lainnya, spesifik

X. PENGETAHUAN KURANG TENTANG

a. Penyakit jiwa

b. Faktor presifitasi

c. Koping

d. Sistem pendukung

e. Penyakit fisik

f. Obat-obatan

g. Lainnya

ANALISA DATA

NO DATA MASALAH

1 Data Subjektif : …………………………

Data Objektif :

2 Data Subjektif : …………………………

Data Objektif

3 Data Subjektif : …………………………

Data Objektif
XI. ASPEK MEDIS :
……………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
XII. THERAPI MEDIS :
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………

XIII. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN

XIV. POHON MASALAH


XV. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN.

XVI. PERENCANAAN TERDAPAT DI S.O.P

1. Kesehatan Jiwa Direktorat Kesehatan Jiwa Ditjen Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa-
Depkes RI
2.
3. Glossary dari WHO World Health Report 2001: Mental health is state of wellbeing in
which the individual realises his or her own abilities , can cope with normal stress of life, can
work productively and fruitfully, and is able to make a contribution to his or her community
Ciri-ciri “Sehat Jiwa”: Menyadari sepenuhnya kemampuan dirinya Mampu menghadapi stres
kehidupan yg wajar Mampu bekerja produktif dan memenuhi kebutu han h idupnya Dapat
berperan serta dalam lingkungan hidupnya Menerima baik apa yang ada pada dirinya Merasa
nyaman bersama dengan orang lain
4. “ Hidup sehat secara fisik , mental dan sosial merupakan salah satu prasyarat guna
mendapatkan SDM Indonesia yang berkualitas, yang sangat kita perlukan dalam menghadapi
tugas-tugas pembangunan yang semakin besar ” . PRESIDEN SOEHARTO pada
pencanangan HKJS di Indonesia , 1993
5. PENCANANGAN HARI KESEHATAN SEDUNIA DI INDONESIA TANGGAL 9
OKTOBER 1993 OLEH PRESIDEN RI Menghormati hak-hak mereka yang menderita
gangguan jiwa Memperluas program pencegahan yang bertujua n untuk mengurangi
gangguan kesehatan jiwa diantara penduduk rentan Memperluas pelayanan yang memadai
bagi mereka yang m embutuhkan Meningkatkan upaya perbaikan kesehatan jiwa secara
optimal bagi masyarakat Untuk :
6. Life cycle MASALAH PSIKO-SOSIAL MASALAH GANGGUAN JIWA (ICD-X)
MASALAH PERKEMBANGAN MANUSIA YG HARMONIS DAN PENINGKATAN
KUALITAS HIDUP Masalah Kesehatan Jiwa
7. MASALAH KESWA /PSIKOSOSIAL Kriminal/kekerasan Kecelakaan/bunuh diri
Perceraian/mas.RT Penganiayaan anak Perjudian/sex bebas Konflik/bencana Kenakalan
remaja Narkoba/HIV/AIDS T awuran Ekonomi sulit Gangguan Kesehatan Jiwa Individu
Keluarga Masyarakat STRES PRODUKTIVITAS EKONOMI SULIT
8. Kemiskinan Ekonomi Sulit Pendidikan Rendah Pengangguran Ggn. Mental & Perilaku
Dampak Ekonomi Kebutuhan Kesehatan Kehilangan Pekerjaan Produktivitas HUBUNGAN
ANTARA KEMISKINAN DAN GGN JIWA
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15. "Mental and physical health across the life span" "there is no health
without mental health' World Mental health day, October 10th 2005
16.
17.
18. Keswa mulai dari
19. Depresi pada ibu pasca melahirkan Kesehatan dimulai untuk kehidupan: Keswa Ibu
dan Anak-Perinatal Dampak negatif pada interaksi ibu anak : Ibu gagal untuk berbicara,
bermain dan merawat anaknya Ibu gagal menyediakan lingkungan yang dapat menstimulasi p
roses tumbuh kembang Disiplin dan pengawasan tidak dapat dilakukan Bayi dari ibu depresi
juga terlihat kurang aktif Bayi dari ibu depresi berisiko terjadi penganiayaan dan ditolak
20.
21. Kesehatan dimulai untuk kehidupan: Bayi dan Balita Bayi dan Balita me m
perlihatkan gejala Gangguan jiwa, seperti: Pola tidur yang jelek Kesulitan makan Masalah
Pencernaan Kecemasan dan Rasa Takut Bila kebutuhan emosi pada usia ini tidak direspon
dengan cinta dan empati oleh pengasuhnya maka insiden gangguan jiwa akan meningkat
kemudian hari
22. Kesehatan dimulai untuk kehidupan: Anak usia sekolah 6-12 tahun Beberapa gejala
keswa yang dapat terjadi Takut pada orang asing, “hantu” sering merupakan gejala
kecemasan atau depresi Gangguan Hiperaktif dan Pemusatan perhatian Kesulitan belajar
Anak dengan HIV/AIDS yang ditularkan dari ibu Anak yang tinggal dengan keluarga yang
berisiko untuk: penyalahgunaan NAPZA, Kekerasan rumah tangga dan kemiskinan
23.
24. Kesehatan dimulai untuk kehidupan: Remaja Hampir 1 juta anak dan remaja usia 10-
19 tahun meninggal karena kecelakaan , bunuh diri , kekerasan , sakit dan penyakit yang
sebetulnya bisa dicegah WHO memperkirakan 70% kematian dini adalah remaja yang
disebabkan perilaku mereka selama masa remaja Remaja adalah usia awal terjadinya
gangguan jiwa berat seperti depresi dan psikotik Remaja juga dihadapkan pada masalah:
alkohol, rokok, NAPZA, Kehamilan remaja , Penyakit Menular Seksual dan HIV / AIDS.
Beberapa remaja terjadi stres akibat: tidak mampunya mengatasi stres, kecemasa n , agresi,
penyakit fisik, kurangnya keterampilan mengatasi masalah
25.
26. Kesehatan dimulai untuk kehidupan: Dewasa dan Lanjut usia WHO: Gangguan Jiwa
pada usia 45-64 tahun: 93/ 100.000 Gangguan Jiwa pada usia lanjut: 236/100.000
27. Masalah keswa mempunyai dampak pada berbagai masalah kesehatan Beban masalah
keswa berpengaruh besar terhadap masalah medik, sosial dan ekonom i Pengobatan yang
efektif tersedia untuk berbagai bentuk gangguan jiwa, termasuk: medikasi, psikoterapi,
pelayanan psikososial dan rehabilitasi Orang yang pernah mengalami gangguan jiwa berat
dapat tetap berpartisipasi secara penuh di masyarakat Kebutuhan khusus tersedia untuk
kelompok-kelompok seperti: anak, lansia, kaum perempuan, kelompok minoritas dan lain-
lain Mental health: Its Time Has Come
28. Penelitian Bank Dunia : B eban yang harus ditanggung akibat penyakit ( Global
Burden of Disease ) pada tahun 1995 di beberapa negara : 8,1 % masalah kesehatan jiwa,
tuberkulosis 7,2% kanker 5,8% penyakit jantung 4,4 % malaria 2,6 % Global Burden of
Disease
29. Angka mencerminkan persentase “disability- adjusted life years lost” Problem Kes.
jiwa 12 Problem Maternal/Perinatal 9.5 Problem pernapasan 9 Kanker 5.8 Problem
Serebrovaskuler 3.2 Penyakit Jantung 4.4 Malaria 2.8 Lain-lain 23.3 Distribusi Global dari
Beban Kesehatan* (2000) Problem berkaitan perilaku 9.5
30. Beban akibat gangguan dan ketidakmampuan yang diakibatkan dihitung dengan
indikator DALY ( Disability Adjusted Life Years ) atau hilangnya waktu produktif: Tahun
1995, 8,1% Tahun 2000, 12,3% Tahun 2020 , 15% (angka proyeksi) DALY’s
31. * Disability Adjusted Life Years ** Heroin dan kokain World Health Report, 2002
Masalah penyalahgunaan zat berhubungan secara significant dengan beban kesehatan
masyarakat (public health burden worldwide) 0.8% 0.4% Illegal** 4.0% 3.2% Alkohol 4.1%
8.8% Tembakau Semua Beban Kesehatan* Semua Kematian
32. 25% penduduk pernah mengalami ggn mental dan perilaku, hanya 40% yang
terdiagnosis Status Keswa global (Laporan WHO 2001)
33. 10% populasi orang dewasa pernah mengalami ggn mental dan perilaku 20% pasien di
puskesmas adalah penderita ggn mental Status Keswa global
34. 1 orang dari 4 rumah tangga mempunyai keluhan ggn perilaku Status Keswa global
35. SKRT tahun 1995 gangguan mental pada remaja dan dewasa per 1000 art 140
gangguan mental anak usia sekolah sebesar per 1000 a rt 104 Status Keswa Indonesia
36. Prevalensi Gangguan Jiwa (per 1000 ART) Psikosis 3 Demensia 4 Retardasi Mental 5
Ggn jiwa lain 5 Status Keswa global
37. Angka bunuh diri (di Indonesia) 1,6-1,8 per 100.000. Kualitas Hidup Masyarakat
Indonesia ( Human Development Index = HDI ) : 105 di antara 180 negara ( WHO 2001 )
Status Keswa global
38. Di Indonesia laporan gangguan jiwa yang datang berobat ke Puskesmas kurang dari
2% dari jumlah kunjungan (Data SP2TP 1999) Tambora (1985): 28 % Aceh (2002) 51,1%
Penelitian Bandung (2003): 36% WHO (2001) 30-50 % Status Keswa global
39. 1. Pelayanan keswa di yankes dasar (Puskesmas dan RSU) 2.Ketersediaan
psikofarmaka di berbagai tingkat pelayanan 3.Tersedianya perawatan keswa di masyarakat 4.
Pendidikan masayarakat dalam rangka meningkatkan kesadaran terhadap keswa 10
REKOMENDASI WHO DALAM THE WORLD HEALTH REPORT 2001
40. 5. Keterlibatan peran serta masyarakat dan keluarga 6. Menetapkan Kebijakan
Nasional 7 Pengembangan SDM 8. Jaringan antar sektor 9. Pemantauan Keswamas 10 .
Dukungan terhadap penelitian
41. SISTEM KESEHATAN YANKESWA PKJ TERINTEGRASI KE SISTEM
PELAYANAN UMUM PKJ BERBASIS MASYARAKAT PKJ INSTITUSIONAL PKJ DI
PUSKESMAS PKJ DI RSU PKJ BM FORMAL PKJ BM INFORMAL PKJ INSTITUSI
SPESIALISTIK RSJ GAMBARAN SISTEM PELAYANAN KESWA
42. Pelayanan di tingkat individudan keluarga PKJ Informal dan formal diluar sektor
kesehatan PKJ di Puskesmas PKJ Masyarakat oleh Tim Keswamas (Perawat Keswa) RSJ
PKJ di RSU 1 2 3 4 5 6 R R T T Jumlah kebutuhan pelayanan Biaya Tingkat Kebutuhan
Tingkat pelayanan keswa dan Intervensi
43.           RSU Kab PKM PKJ BERBASIS MASYARAKAT   Tim
Keswamas      Perawat Keswamas
44. Mengurangi stigma Membantu mengatasi kekurangan tenaga keswa Pengenalan dini
masalah kesehatan jiwa pada pasien dengan keluhan somatik Kesempatan keterlibatan
masyarakat Mudah di akses dan biaya kecil PKJ TERINTEGRASI KE SISTEM
PELAYANAN DASAR
45. Diperlukan investasi untuk pelatihan SDM Perlu menambah jumlah staf terlatih
Beberapa jenis ggn jiwa dapat ditangani dengan baik Dapat diterima dengan baik di
masyarakat Mudah dijangkau Biaya relatif lebih murah PKJ DI PELAYANAN
KESEHATAN DASAR
46. Dibutuhkan tenaga keswa Hasilnya bervariasi tergantung kualitas dan kuantitas
pelayanan Dapat diterima oleh penderita/masyarakat Pada umumnya dapat dijangkau Lebih
mahal dari Puskesmas tetapi lebih murah dari pelayanan spesialistik Pelayanan keswa
terintegrasi dengan pelayanan spesialistik lainnya ( liaison ) PKJ DI RSU
47. Jumlah Puskesmas (2002) Non perawatan : 5.374 unit, Perawatan : 1.869 Pembantu :
21.923 Keliling : 5.638 RS Umum Daerah hampir di tiap Kabupaten/Kota  Pelayanan
Kesehatan jiwa  belum dilakukan dengan baik Pelayanan Kesehatan Jiwa
48. RSJ 34 RSJ di 25 provinsi (7.736 tempat tidur, 4 TT per 100 ribu) 16 RSJ Swasta (605
tempat tidur) RS Ketergantungan Obat di Jakarta dengan 50 tempat tidur  Jumlah TT belum
cukup, pelayanan belum optimal baik jenis maupun mutu RS Umum (pemerintah dan swasta)
Berbagai tipe: 887 dengan 105.783 tempat tidur (1999) Sebagian besar belum mempunyai
unit Psikiatri, kecuali RS pendidikan (Profil 2000) Pelayanan Kesehatan Jiwa
49. SpKJ: 500-an, ratio per 100.000 penduduk adalah 0,24. Perawat psikiatri di RSJ 1.769
orang kebutuhan ideal 4.890 orang (pencapaian 36%). Tenaga psikolog, pekerja sosial,
konselor, pedagog, terapis okupasi, terapis wicara dan terapis fisiologis belum memadai
Distribusi tenaga kesehatan jiwa belum merata , banyak provinsi tidak ada ada p elayanan
keswa (Banten, NTT, Kalteng, Gorontalo, Papua, Maluku Utara , Kepulauan Riau, Sulawesi
Barat ) Tenaga Kesehatan Jiwa
50. KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN RI NOMOR 1457/MENKES/SK/X/2003
tentang Kewenangan Wajib (KW) dan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan
di Kabupaten Kota SPM bid . Kesehatan di Kab / Kota adalah tolok ukur kinerja Y an K es
yang diselenggarakan daerah dan target 2010. KW-SPM
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62. Bab II Pasal 2, ayat 2: … jenis pelayanan beserta indikator kinerja dan target Tahun
2010 huruf a s/d z f. Pelayanan Kesehatan Jiwa di sarana pelayanan kesehatan umum (15%)
v. Penyuluhan Pencegahan dan Penanggulangan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif
(P3NAPZA) berbasis masyarakat (15%) Bab IV PELAKSANAAN Pasal 5 (2) Standar
Pelayanan Minimal sebagaimana dimaksud dalam perencanaan program pada ayat (1)
dilaksanakan sesuai dengan Standar Teknis yang ditetapkan KW-SPM
63. Memberi acuan bagi petugas kesehatan di sarana yankes umum (Puskesmas, RS)
dalam memberikan pelayanan Kesehatan Jiwa dan Pencegahan dan Penanggulangan
Penyalahgunaan NAPZA Tujuan
64. Sasaran langsung : tenaga kesehatan di Puskesmas, RS Sasaran tidak langsung :
perantaranya adalah para pelaku yang terlibat dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan
jiwa seperti: Dinkes Kab/Kota yang akan melakukan pembinaan teknis, pemantauan dan
evaluasi terhadap upaya kesehatan jiwa dan NAPZA di sarana kesehatan Dinkes Provinsi
yang terlibat dalam pembinaan teknis pelayanan kesehatan jiwa dan NAPZA di wilayah
kerjanya. Unit Pusat Depkes yang akan melakukan kegiatan pembinaan teknis,
pengembangan pedoman dan SPM di daerah RSJ, yang akan berperan dalam memberikan
bimbingan teknis keswa dan NAPZA Sasaran
65. SPM Indikator Tahun 2003  1% Tahun 2004  2% Tahun 2005  3% Tahun 2006 
5% Tahun 2007  7% Tahun 2008  10% Tahun 2009  12% Tahun 2010  15 %
Kewenangan wajib dan Standar Pelayanan Minimal
66. INDIKATOR KINERJA Persentase (%) Pelayanan Kasus Gangguan Jiwa di Sarana P
elayanan Kesehatan Umum Kesehatan Umum, yaitu jumlah kunjungan Kasus g angguan jiwa
yang terdeteksi di Sarana Pelayanan Kesehatan Umum dibagi d engan jumlah seluruh K
unjungan di Sarana Pelayanan K esehatan Umum Nominator : Jumlah kunjungan kasus
gangguan jiwa yang terdeteksi di Sarana Pelayanan Kesehatan Umum Denominator : Jumlah
seluruh kunjungan di Sarana Pelayanan Kesehatan Umum KW-SPM PELAYANAN
KESEHATAN JIWA
67. Kunjungan Baru dan Lama pasien yang datang di Sarana Yankes Umum untuk
berobat. Kunjungan tersebut, dapat dideteksi gangguannya, untuk dilakukan Diagnosis (Fisik,
Psikosomatik dan Mental Emosional) dan Penatalaksaanya % Kasus Gangguan Jiwa =
Kunjungan kasus yang dapat di deteksi sebagai G.jiwa dibandingkan dengan jumlah seluruh
kunjungan di Sarana Yankes Umum % Pelayanan Kasus Gangguan Jiwa:
68. Puskesmas RS Tipe C dan D dan RS Swasta Praktek dokter Petugas: Dokter Perawat
Bidan Sarana pelayanan Mendapat pelatihan deteksi dini G.jiwa dan penatalaksanaan
gangguan jiwa di yankes dasar
69. KELUHAN UTAMA (SPONTAN) FISIK (F) PSIKOSOMATIK (PS) MENTAL
EMOSIONAL (ME) Kel F & DIDUGA ADA HUB DG M.E: PD KARDIOVASK PD GI PD
PERNAFASAN PD KULIT PD OTOT & TLG PD SIST.ENDOKRIN PD SIST.
UROGENITAL KEL. YG BERHUB DG ME (PERASAAN, PIKIRAN & PERILAKU): GG.
TDR NGAMUK, CURIGA, TAKUT >> NANGIS/TAWA CEMAS, PANIK , KEL. FM EL.
FISIK + KEL ME (KO-MORBI DITAS) Kel F & TDK ADA LTR BLKG M . E  T/ FISIK
1.>> 3 BLN 4. G. KEL/PEK/SEKOLAH 2. ADA STRES,>> PIKIRAN5. PENGGUNAAN
NAPZA 3. GAIRAH / SEMANGAT PERTANYAAN (AKTIF) D/ G.FISIK D/ G. PS D/
GM & P AKIBAT ZAT RM EPILEPSI. D/ PSIKOSIS 4.G.KESWARA D/ DEPRESI D/
CEMAS TANPA KEL. ORGANIK ADA KEL. ORGANIK FM (F1) FG (F2) F1 F2 >1YA
PETUNJUK ANAMNESIS & PEMERIKSAAN
70. A lcohol, S moking & S ubstance I nvolvement S creening T est Terdiri dari 8 item
kuesioner Waktu yang dibutuhkan ~5-10 menit Dirancang khusus bagi petugas kesehatan
dengan setting pelayanan kesehatan dasar (termasuk Lapas/Rutan, Sarana Rehab NAPZA)
Sudah diuji coba pada berbagai negara dan budaya Berhubungan dengan Intervensi singkat
ASSIST
71. Skrining untuk penggunaan semua jenis zat Alkohol, tembakau , kanabis, kokain,
amfetamin, sedatif, halusinogen, inhalansia, opioid, ‘jenis zat lain’ Menentukan skor masing-
masing zat Penggunaan saat ini (selama 3 bulan terakhir) Pernah menggunakan selama
kehidupannya Skor  memberikan kesempatan pada petugas utk berdiskusi dan melakukan
intervensi singkat dengan pasien tentang pola penggunaan zat mereka CARA KERJA
ASSIST?
72. Al k ohol Skor 0 - 10 = Risiko Rendah Skor 11 - 26 = Risiko Sedang Skor >27 =
Risiko Tinggi Semua zat Skor 0 - 3 = Risiko Rendah Skor 4 - 26 = Risiko Sedang Skor > 27
= Risiko Tinggi APA ARTI SKOR ASSIST ?
73. ( pernah menggunakan zat dengan meny untik?) Tidak, Tidak pernah Skor ‘0’ =
Risiko Rendah Ya , tapi tidak dalam 3 bulan terakhir Skor ‘1’ = Rendah – sedang. Risiko
(menggunakan penilaian klinis ) Ya, dalam 3 bulan terakhir Skor ‘2’, untuk menentukan pola
penggunaan menyuntik dan penilaian klinis Sekali seminggu atau kurang , atau kurang dari 3
hari berturut-turut = Risiko sedang Lebih dari sekali per minggu , 3 atau lebih hari berturut-
turut =Risiko Tinggi APA ARTI SKOR PADA IDU?
74. RISIKO RENDAH RISIKO SEDANG RISIKO TINGGI UMPAN BALIK &
INFORMASI UMPAN BALIK & INTERVENSI SINGKAT UMPAN BALIK &
PENGOBATAN LEBIH INTENSIF Ingat ! – Penilaian klinis tetap dibutuhkan
HUBUNGAN SKOR ASSIST DENGAN INTERVENSI YANG TEPAT
75. Gangguan Mental Organik (F00-F09) Demensia (F00) Delirium (F05) Gangguan
Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Psikoaktif (F10-F19) Skizofrenia (F20-F29)
Gangguan Depresi (F30-F39) Gangguan Kecemasan termasuk psikosomatik (F40-F48)
Gangguan Stres Pasca Trauma (F43.1) Retardasi mental (F70-F79) Autisme (F84) Gangguan
hiperkinetik (F90) Gangguan tingkah laku depresif (F92.0) Enuresis (F98.0) Jenis-jenis
Gangguan jiwa yang dimaksud
76.
77. P2 NAPZA : Narkotika, psikotropika, zat adiktif lainnya ( alkohol dan rokok)
78. Peristiwa Otak yang menimbulkan Perubahan Perilaku, Proses pikir dan Perasaan
Adiksi
79. TIAP-TIAP GOLONGAN NAPZA memberikan Reaksi yang berbeda pada OTAK
80. HEROIN, PUTAUW
81. KOKAIN
82. GANJA, HASHIS, KANABIS
83. ECSTASY
84. Ice (crystal, crystal meth) methamphetamine crystal or coarse powder manufactured:
Asia colour: translucent to white, may have tinge purity: high ATS
85. Speed (go, whiz) bubuk methamphetamine warna: putih-kuning, orange, coklat, pink
purity: low ATS
86. Base (paste, wax) oily, gluggy or pastey type of damp, sticky powder manufactured:
Australia colour: brownish tinge purity: relatively high can be difficult to dissolve without
heat ATS
87. Halusinogenik
88. Zat Toleransi & Putus zat Ketergantungan kronis Berubahnya fungsi dan struktur otak,
terutama di bagian korteks pra-frontal ( prefrontal cortex ); gangguan kognitif, volume otak
yang berkurang . Toleransi timbul akibat peningkatan metabolisme pada hati, dan perubahan
pada reseptor di otak. Gejala putus zat meliputi: gemetar, terengah-engah, keletihan, agitasi,
sakit kepala, mual, muntah, kejang-kejang, delirium tremens Alkohol (etanol)
89. Zat Toleransi & Putus zat Ketergantungan kronis Kerusakan memori Toleransi
terbentuk secara cepat untuk kebanyakan efek (kecuali anti-kejang), karena perubahan pada
reseptor. Putus zat ditandai ansietas, keterangsangan, kegelisahan, insomnia, kegembiraan
berlebih, kejang-kejang.Kerusakan memori Hipnotik dan sedatif
90. Ketergantungan kronis Toleransi & Putus zat Zat Efek-efek terhadap kesehatan akibat
merokok cukup banyak dicatat; sulit untuk memisahkan efek dari nikotin dengan komponen
lain dari tembakau. Toleransi terbentuk melalui faktor-faktor metabolis selain perubahan
reseptor. Putus zat ditandai oleh iritabilitas, kemarahan, ansietas, disforia, depresi, detak
jantung yang menurun, nafsu makan meningkat Nikotin
91. Zat Toleransi & Putus zat Ketergantungan kronis Perubahan jangka panjang terhadap
reseptor opioida dan peptida; adaptasi dalam respon-respon ganjaran, pembelajaran, stres
Toleransi terjadi sebagai akibat perubahan reseptor jangka pendek dan panjang, dan adaptasi
dalam mekanisme pensinyalan intraselular. Putus zat dapat berakibat hebat, dan ditandai oleh
mata dan hidung berair, menguap, berkeringat, kegelisahan, menggigil, kram, dan sakit pada
otot Opioid
92. Zat Toleransi & Putus zat Ketergantungan kronis Paparan ( exposure ) dalam jangka
panjang terhadap kanabis dapat menyebabkan kecacatan kognitif yang bertahan lama.
Terdapat pula risiko berupa bertambah parahnya penyakit jiwa. Toleransi terbentuk secara
cepat untuk kebanyakan efek. Putus zat jarang terjadi, mungkin karena masa paruh waktu
yang panjang dari kanabinoid Kanabinoid
93. Zat Toleransi & Putus zat Ketergantungan kronis Defisit kognitif, abnormalitas pada
daerah-daerah tertentu pada korteks, cacat dalam fungsi motorik, dan waktu reaksi yang
menurun. Toleransi akut berjangka pendek mungkin terjadi. Tidak banyak bukti dari adanya
putus zat, namun depresi lumrah terjadi pada mereka yang berhenti menggunakan Kokain
94. Zat Toleransi & Putus zat Ketergantungan kronis Gangguan tidur, ansietas, nafsu
makan menurun, perubahan dalam reseptor dopamin otak, perubahan metabolis regional,
cacat motorik dan kognitif Toleransi terbentuk secara cepat untuk efek-efek behavioral dan
fisiologis. Putus zat ditandai oleh kelelahan, depresi, ansietas, dan keinginan sangat kuat
untuk memperoleh zat Amfetamin
95. Zat Toleransi & Putus zat Ketergantungan kronis Perubahan dalam pengikatan dan
fungsi reseptor dopamin; fungsi kognitif yang menurun; masalah-masalah psikiatris dan
neurologis . Toleransi sampai taraf tertentu terbentuk, namun sulit untuk diperkirakan.
Terdapat kerentanan yang meningkat terhadap kejang-kejang saat putus zat Inhalansia
96. Zat Toleransi & Putus zat Ketergantungan kronis Episode psikotik akut atau kronis,
kilas balik atau mengalami kembali efek-efek dari zat lama sesudah penggunaannya.
Toleransi terbentuk secara cepat untuk efek-efek fisik dan psikologis. Tidak terdapat bukti
akan adanya putus zat Halusinogen
97. P enyakit menahun dan mudah kambuh ( chronic relapsing disease ) Diagnosis- ICD-
10 : Mental and behavioural disorder do to psychoactive substance use
KETERGANTUNGAN ALKOHOL, ROKOK, NARKOTIKA,PSIKOTROPIKA & ZAT
ADIKTIF LAINNYA
98. PENINGKATAN PENYEBARAN PENYAKIT PENINGKATAN MASALAH
SOSIAL KETERGANTUNGAN NARKOTIKA,PSIKOTROPIKA & ZAT ADIKTIF
LAINNYA MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT
99. TIGA STRATEGI PENANGGULANGAN Supply Reduction Harm reduction
Demand Reduction
100. Lingkungan Keadaan ekonomi Kontrol situasi Dukungan sosial Pengalaman hidup
yang positif Individual Kemampuan menangani masalah ( life skill ) Kepuasan diri dan Harga
Diri Persepsi terhadap risiko Optimisme Perilaku yang menyangkut kesehatan Kemampuan
menahan tekanan sosial Perilaku kesehatan pada umumnya Lingkungan Ketersediaan zat
Kemiskinan Perubahan sosial Kultur sebaya Pekerjaan Norma budaya, tingkah laku
Kebijakan yang menyangkut obat-obatan, tembakau, dan alkohol Individual Disposisi genetik
Korban penyalahgunaan anak Kelainan kepribadian Masalah keretakan dan ketergantungan
dalam keluarga Prestasi yang buruk di sekolah Pelecehan sosial Depresi dan perilaku yang
mengarah ke bunuh diri Faktor Proteksi & Risiko
101. KEWENANGAN WAJIB : Pencegahan dan Penanggulangan Penyalahgunaan
Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya ( P3 NAPZA ) JENIS PELAYANANYA :
Penyuluhan dibidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyalahgunaan Narkotika,
Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (P3NAPZA) KW-SPM P3NAPZA
102. INDIKATOR KINERJA : Persentase Upaya Penyuluhan dibidang Pencegahan dan
Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA oleh Petugas Kesehatan di Sarana Pelayanan
Kesehatan Umum, y aitu jumlah kegiatan penyuluhan di bidang Pencegahan dan
Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA dibagi dengan jumlah seluruh kegiatan
penyuluhan di bidang kesehatan KW-SPM P3NAPZA
103. Nominator : Jumlah kegiatan penyuluhan di bidang Pencegahan dan Penanggulangan
Penyalahgunaan NAPZA Denominator : Jumlah seluruh kegiatan penyuluhan di bidang
kesehatan TARGET Tahun 2003 1 % Tahun 2004 2 % Tahun 2005 3 % Tahun 2006 5 %
Tahun 2007 7 % Tahun 2008 10 % Tahun 2009 12 % Tahun 2010 15 %
104. Sarana Pelayanan Kesehatan Umum : Puskesmas RSU Type C dan D dan RSU
Swasta Dokter Praktek Swasta Yang melaksanakan upaya Penyuluhan P3 NAPZA : Dokter
Perawat Bidan Tenaga penyuluh kesehatan
105. usaha secara sadar dan berencana yang dilakukan untuk memperbaiki perilaku
manusia, sesuai prinsip pendidikan seseorang sebelum menggunakan NAPZA Terhindar dari
Penyalahgunaan NAPZA
106. TUJUAN UMUM: Meningkatnya ketahanan diri remaja sehingga terhindar dari
penyalahgunaan NAPZA TUJUAN KHUSUS: Memahami diri sendiri dan mengelola
perilaku, emosi dan waktu sehari-hari secara efektif Memahami faktor penyalahgunaan
NAPZA, alasan mengapa berbahaya dan cara menolak tawaran untuk menggunakan
Membantu menolong remaja lainnya menghindari penyalahgunaan NAPZA dan mendorong
mereka menolak tawaran Meningkatkan disiplin diri, tanggung jawab dan hubungan
interpersonal dengan orang lain
107. REMAJA KELOMPOK RISTI belum menjadi pemakai atau terlibat dalam
penggunaan NAPZA mempunyai risiko untuk terlibat hal tersebut Potential user / calon
pemakai/kelompok rentan SASARAN
108. Pengetahuan tentang prinsip perilaku gaya hidup bersih dan sehat (tidak
menggunakan NAPZA, rokok, alkohol dan melakukan hubungan seks pra nikah)
Pengetahuan dan keterampilan interpersonal untuk mampu mengambil keputusan dan
menolak bujukan /tawaran yang merugikan kesehatan Pengetahuan berbagai dampak (fisik,
mental dan sosial) dan jenis-jenis NAPZA bagi tubuh Perkembangan kepribadian dan
permasalahan remaja MATERI
109. Stres dan cara mengatasinya Keterampilan mengelola waktu dan pemanfaatan waktu
senggang Keterampilan berkomunikasi yang efektif dan asertif serta mampu membina
hubungan dengan orang lain Pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan NAPZA di
sekolah/lingkungan MATERI
110. Dialog interaktif Bermain peran (peragaan dan simulasi) Pembinaan kelompok
(karang taruna, OSIS, pramuka, organisasi keagamaan) Membentuk kelompok remaja
melalui kegiatan diluar gedung/di alam bebas Media cetak dan elektronik Pesan melalui seni
dan kesenian tradisonal Pesan melalui SMS ( short message services ) METODE
111. TUJUAN UMUM: Memahami dan menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif
untuk perkembangan Anak / Remaja TUJUAN KHUSUS: Mengembangkan kemampuan
membina keluarga harmonis dengan komunikasi efektif, Mengembangkan kemampuan
mengatasi masalah, Memahami pengaruh dan akibat penyalahgunaan NAPZA, Memahami
situasi di mana penyalahgunaan terjadi, Mengenali gejala dini penyalahgunaan dan mampu
merujuk ketempat yang tepat, Memahami cara pencegahan di rumah, Mengerti dan mampu
bersikap bila menghadapi kemungkinan anak menyalahgunakan NAPZA, Memantau perilaku
anak sehari-hari, Menjalin kerjasama yang baik dengan sekolah
112. Meningkatkan pengetahuan orang tua , guru dan toma/toga dalam perkembangan
jiwa remaja Meningkatkan keterampilan orang tua, misalnya: Menjadi Orang Tua Efektif
Pemberdayaan orang tua dalam pencegahan penyalahgunaan NAPZA, Pola asuh yang
mendukung perkembangan anak) METODE
113. TUJUAN UMUM: Memahami dan menciptakan lingkungan sekolah dan masyarakat
yang kondusif bagi perkembangan Remaja TUJUAN KHUSUS: Memahami bahwa seorang
penyalahguna NAPZA sebenarnya adalah seorang penderita penyakit yang memerlukan
bantuan, mereka bukan kriminal, tidak bermoral atau tidak beriman. Memahami upaya
penanggulangan di sekolah dan masyarakat Menciptakan situasi dan kondisi lingkungan di
wilayahnya untuk pencegahan penyalahgunaan NAPZA, Mengenali gejala dini dan mampu
merujuk ketempat yang tepat, Menggalang potensi yang ada di masyarakat yang dapat
membantu pelaksanaan penangulangan di sekolah/lingkungan Menciptakan kelompok remaja
yang mempunyai kegiatan yang positif melalui OSIS, karang taruna, palang merah remaja,
remaja mesjid atau remaja gereja, dan lain-lain
114. Pelatihan Bimbingan dan konseling bagi guru Pembinaan dasa wisma Simulasi Pesan
melalui seni dan kesenian tradisional Pesan melalui media cetak dan elektronik Ceramah,
tanya jawab METODE
115. Pengetahuan tentang prinsip perilaku hidup bersih dan sehat Menciptakan
komunikasi yang kondusif dalam keluarga Membina komunikasi yang baik antara murid,
orang tua dan guru Perkembangan jiwa remaja Informasi NAPZA yang sering
disalahgunakan Gejala dini penyalahgunaan NAPZA dan cara penanganannya Sikap guru,
tokoh masyarakat, tokoh agama jika mengetahui seorang anak menyalahgunakan NAPZA
Nama-nama lembaga dan orang yang bergerak dalam upaya pencegahan penyalahgunaan
NAPZA Daftar nama / alamat pusat-pusat terapi dan rehabilitasi Undang-undang narkotika
dan psikotropika MATERI BAGI ORTU, GURU, TOMA/TOGA
116. Program penanggulangan masalah alkohol, rokok dan NAPZA Pola asuh yang
mendukung tumbuh kembang anak Promosi Kesehatan jiwa remaja Keterampilan
interpersonal dalam pendidikan NAPZA Pemberdayaan orang tua dalam pencegahan
penanggulangan masalah NAPZA Implementasi ASSIST di sarana pelayanan kesehatan
117. Program Pola Asuh Anak Baik Salah Dasar k epribadia n kuat Tidak mudah p utus
asa Tangguh menghadapi tekanan hidup Rentan thdp stres  cemas, depresi,dll Mudah
terjerumus pd hal negatif spt: Seks bebas, tawuran, penyalahgunaan Narkoba
118. MENGASUH & MENDIDIK ANAK Komunikasi efektif pengasuhan anak yang
baik
119. Harga diri =
120.
121. melatih peserta tentang perilaku sosial yang diperlukan untuk mencapai kompetensi
sosial TUJUAN PROGRAM
122. Keterampilan individu dlm bersosialisasi  “ survive” di tengah kehidupan yang
penuh masalah Kurangnya keterampilan sosial : buruknya hubungan antar sesama, kesulitan
dalam menyelesaikan masalah dan perilaku lainnya. PROGRAM KETERAMPILAN
INTERPERSONAL
123. Memberikan kesempatan kpd remaja utk saling belajar dari sesama Kesempatan utk
menjadi model dari perilaku yg sesuai Tidak cukup bila hanya dilatihkan sekali saja, tapi
perlu dipraktekkan secara berulang-ulang utk mendapatkan kompetensi sosial PROGRAM
KETERAMPILAN INTERPERSONAL
124. Kemampuan utk berpikir kreatif Menentukan tujuan hidup Mengambil keputusan
Menjalankan komunikasi yang efektif Membina hubungan interpersonal Membangun harga
diri Mengelola stres Berperilaku asertif Bernegosiasi Berpikir positif Berempati
KETERAMPILAN SOSIAL MELIPUTI:
125.
126. memberikan pengetahuan dan keterampilan untuk memberdayakan orang tua dalam
mencegah penyalahgunaan NAPZA yang dimulai dari lingkungan keluarga dan rumah.
TUJUAN PROGRAM
127. PENGENALAN TERHADAP KEHIDUPAN KELUARGA Keluarga bahagia
memainkan peranan penting dalam mengembangkan SDM yang produktif dan dinamis
PROGRAM PEMBERDAYAAN ORANG TUA
128. Saling mengerti dan mencintai antara suami, istri dan anak-anak  membantu
keluarga terhindar dari salah pengertian dan perpecahan yang dapat menyebabkan anggota
keluarga terlibat dalam perilaku yang tidak sehat seperti penyalahgunaan NAPZA.
HUBUNGAN ANTAR PASANGAN
129. C ara pengasuhan berhubungan dengan membangun nilai-nilai moral yang baik,
tanggung jawab orangtua dan bagaimana cara berkomunikasi yang efektif dengan anaknya. D
iharapkan orangtua dapat menciptakan suasana yang menyenangkan untuk anak-anak mereka
dengan tujuan membangun citra diri yang positif dan mengembangkan potensi gaya hidup
yang bebas dari penyalahgunaan NAPZA. PENGASUHAN
130. Harga diri adalah penilaian individu terhadap nilai-nilai yang berharga dari dirinya
sendiri. Harga diri tinggi atau rendah dapat tergantung pada situasi. Kedua orangtua
bertanggung jawab untuk mengembangkan harga diri yang tinggi diantara anak-anaknya.
Pengasuhan yang positif menghasilkan anak dengan harga diri yang tinggi, begitu juga
sebaliknya. HARGA DIRI
131. TES URINE (DRUG TESTING) PENDAHULUAN MEMBANTU MENDETEKSI
APAKAH SESEORANG MENGGUNAKAN NAPZA TUJUAN : - DIAGNOSIS T.U
KONDISI GA-DAR & R/ TERAPI - ALAT BANTU MONITORING KEMAJUAN PS -
ALAT BANTU PENEGAK HUKUM - SKRINING PEGAWAI ATAU PROFESI
TERTENTU
132. TES URINE HARUS DISERTAI WAWANCARA DAN PEMERIKSAAN KLINIS
BEBERAPA KRITERIA DARI SASARAN TES URINE UTK NAPZA : MEREKA YANG
AKAN MENJALANI PROFESI TTT MEREKA YANG BERKAITAN MASALAH
HUKUM MEREKA YANG BERKAITAN DENGAN JABATAN POLITIK ATAU
PENGAMBIL KEPUTUSAN
133. TINJAUAN FARMAKOLOGI NAPZA ZAT MASUK TUBUH DGN BERBAGAI
CARA OTAK, HATI, GINJAL DAN ORGAN PENTING LAINNYA DARAH
METABOLISME OKSIDASI, HIDROLISA KONJUGASI, METILASI, DIMETILASI
DLL. EKSKRESI/SISA METABOLISME
134. JENIS NAPZA DAN SISA METABOLISME HEROIN --> TUBUH -->
HIDROLISA --> MORFIN --> KONJUGASI --> MORFIN GLUKURONAT -->
EKSKRESI DLM BTK MORFIN DLM JML KECIL ( 24-72 JAM ) KOKAIN --> TUBUH -
-> METILASI --> BENZYL DAN METIL ESTER --> EKSKRESI MLL URINE ( 45 - 72
JAM ) KANABIS (9 THK ) --> KARBOKSILASI --> KONJUGASI --> TERIKAT DLM
JAR. LEMAK --> EKSKRESI ( 2 - 3 MINGGU ) AMFETAMIN DAN TURUNAANNYA -
-> TUBUH --> BIOTRANSFORMASI DI HATI --> MCM-MCM BTK METABOLIT -->
PENYERAPAN TGT PH URINE --> ALKALI (5%) --> ASAM (60%) --> EKSKRESI
RATA-RATA ( 72 - 96 JAM )
135. BENZODIAZEPIN --> TUBUH --> BENZOPHENAR --> EKSKRESI ( 2 - 3 HARI
) TERGANTUNG JENI BENZODIAZEPIN KONSENTRASI ZAT DLM URINE UTK
HASIL POSITIF , DIPENGARUHI OLEH : 1. WAKTU ANTARA “INTAKE” TERAKHIR
DGN PENGAMBILAN URINE 2. TOTAL PRODUKSI URINE DLM PERIODE TTT 3.
JUMLAH ZAT YANG DIGUNAKAN (LANJUTAN….)
136. PEMBACAAN HASIL DAN VARIASINYA PEMERIKSAAN URINE POSITIF
NEGATIF TRUE POSITIF (BAGI YG GUNAKAN ZAT) FALSE POSITIF (BAGI YG
TDK GUNA KAN ZAT) TRUE NEGATIF (BAGI YG TDK GUNAKAN ZAT) FALSE
NEGATIF (BAGI YG GUNAKAN ZAT)
137. KESALAHAN HASIL DAPAT TERJADI KARENA : 1. INDIVIDU ATAU ALAT
YANG MENCATAT HASIL MEMBUAT KESALAHAN 2. KESALAHAN YANG
DIAKIBATKAN ALAT ITU SENDIRI --> KURANGNYA “ INTERNAL QUALITY
CONTROL” 3. KESALAHAN YANG BERKAITAN DENGAN SAMPEL URINE -->
PEMALSUAN, PENCAMPURAN DENGAN ZAT LAIN HASIL POSITIF PALSU 1 .
BIOLOGICAL FALSE POSITIVE --> SUBSTANSI KIMIA YANG ADA DLM URINE
NORMAL --> BIASANYA POSITIVE LEMAH 2. DRUG FALSE POSITIVE -->
ADANYA OBAT-OBATAN LAIN DI DALAM URINE
138. SURAT MENKES KE MENPAN NO: 221/MENKES/III/2002: 1.TES URIN TDK
DIANJURKAN SECARA MASSAL DAN TDK MRPKAN BAG PERSYARATAN
MASUK SEKOLAH/KULIAH ATAU JADI KARYAWAN 2. PENETAPAN
KETERGANTUNGAN SESEORG THD NAPZA DITENTUKAN ADANYA: G/ DAN
TANDA KLINIS PEM. FISIK, LAP.PIHAK KETIGA, PENEMUAN ZAT ATAU ALAT,
LAB. DIBUTUHKAN KETRAMPILAN PROFESIONAL UTK D/ TES URIN
139. I. SURAT MENKES KE MENPAN NO: 221/MENKES/III/2002: 3. BERHUB. >>
JENIS NAPZA  PERLU KETRAMPILAN UTK MENENTUKAN JENIS ZAT YG AKAN
DIPERIKSA LAMA ZAT DL TUBUH BERVARIASI (HEROIN: 24-72 JAM; KANABIS:
2-3 MG; AMFETAMIN: 72-96 JAM; BZP: 48-72 JAM) 4. TES URIN HANYA
DIGUNAKAN UTK KEPERLUAN KLINIS ( FOLLOW UP PS KETERGANTUNGAN
ATAU PELENGKAP UTK MEMBANTU DIAGNOSIS KLINIS) 5. UTK KEPENTINGAN
HUKUM DAN FORENSIK, HSL TES URIN YG POSITIF HRS DIKONFIRMASI DG
CONFIRMATION TEST TES URIN
140. SURAT MENPAN NO: 94.1/M.PAN/4/2002 PD SEMUA MENTERI KABINET
GTG ROYONG, PIMP LPND/ GUB/BUPATI/WALIKOTA SE INDONESIA: DALAM
RANGKA PEMBERANTASAN PENYALAHGUNAAN NAPZA DILINGKUNGAN
APARATUR NEGARA: 1. PEM/TES URINE MERPKAN BAG DR TES KES BAGI PNS
2. PARA ATASAN LSG PNS BERKEWAJIBAN MENGAWASI PNS
DILING.KERJANYA SEC. PREV MAUPUN REPRESIF BAGI PNS YG DIDUGA
MENGG.NAPZA 3.BAGI PNS YG SECARA (+) DAN TERBUKTI MENGGUNAKAN
NAPZA  DIJATUHI HUKUMAN DISIPLIN DAN SANKSI SPI PEMBERHENTIAN
TDK HORMAT 4.PEM. PENGGUNAAN NAPZA BAGI PNS HENDAKNYA MENGACU
PD SURAT MENKES N0: 221/MENKES/III/2002 TGL 26 MARET 2002 KPD MENPAN
TES URIN
141. SURAT BEBAS NARKOTIKA SURAT YANG DIBERIKAN OLEH SUATU
INSTITUSI YG MENYATAKAN PADA SAAT PEMERIKSAAN YBS. TDK
MENGALAMI PENYALAHGUNAAN ZAT PSIKOAKTIF PROSEDUR TES URINE UTK
SURAT BEBAS NARKOTIKA : 1. MEMBAWA SURAT PERMINTAAN (KHUSUSNYA
MAS. LEGAL) 2. IDENTIFIKASI KLIEN DGN BAIK DAN BENAR 3. WAWANCARA
TERMASUK RIW. PENGGUNAAN NAPZA/OBAT LAIN YANG DIMINUM 4.
MELAKUKAN PEMERIKSAAN FISIK DAN PSIKIATRIK
142. MELAKUKAN PENGAMBILAN URINE SESUAI PROSEDUR MELAKUKAN
PEMERIKSAAN URINE SESUAI ALAT YG TERSEDIA--> ASPEK LEGAL HARUS
KONFIRMASI BILA POSITIF HASIL PEMERIKSAAN BERSIFAT RAHASIA
(KHUSUSNYA UTK UTK PERMINTAAN INSTANSI TERTENTU) DALAM SBN
HARUS TERCANTUM BAHWA HASIL PEMERIKSAAN HANYA BERLAKU PADA
SAAT PEMERIKSAAN SAJ

Keperawatan Jiwa : Pelayanan Kesehatan Jiwa Di Indonesia PROGRAM PELAYANAN


KESEHATAN JIWA DI INDONESIA Prinsip pelayanan kesehatan jiwa Prinsip pelayanan
kesehatan jiwa dapat dibagi dalam tiga jenis pelayanan: a) Pelayanan bersifat mediko-psiko-
sosial, dimana digunakan pendekatan eklektik¬holistik yaitu pendekatan secara terinci dan
secara menyeluruh juga menerapkan prinsip-prinsip ilmu kedokteran, ilmu kedokteran jiwa
(psikiatri), ilmu perilaku (psikologi) dan ilmu sosial (sosiologi). b) Pelayanan bersifat
komprehensif, berupa pelayanan promosi kesehatan jiwa, pelayanan prevensi, kurasi dan
rehabilitasi gangguan kesehatan jiwa. c) Pelayanan paripurna yang terdiri dari: • Pelayanan
kesehatan jiwa spesialistik yang dilakukan oleh psikiater dan ada di RS Jiwa, RS
Ketergantungan Obat, RS Umum kelas A dan B, praktik swasta. • Pelayanan kesehatan jiwa
terpadu atau pelayanan kesehatan jiwa integratif yang dilakukan oleh dokter umum di
Puskesmas dan RS Umum kelas C dan D, praktik umum swasta. • Pelayanan kesehatan jiwa
yang bersumber daya masyarakat di Posyandu, PKK, LKMD, PMR, Pramuka, dilaksanakan
oleh guru, orangtua, tokoh masyarakat Kesehatan Jiwa (mental health) menurut pengertian
ilmu kedokteran pada saat ini adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik,
intelektual, dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras
dengan orang lain. Makna kesehatan jiwa adalah seseorang memiliki sifat-sifat yang
harmonis (serasi) dan memperhatikan semua segi dalam kehidupannya dan dalam
hubungannya dengan orang lain. Untuk mencapai kondisi tersebut perlu dilakukan upaya-
upaya antara lain : memelihara kesehatan jiwa dalam pertumbuhan dan perkembangan anak;
mengusahakan keseimbangan jiwa dengan menyesuaikan penempatan tenaga selaras dengan
bakat dan kemampuan; perbaikan tempat kerja dan suasana kerja; dan mempertinggi taraf
kesehatan jiwa seseorang dalam hubungannya dengan keluarga dan masyarakat. Pelayanan
Kesehatan Jiwa oleh dokter atau staf Puskesmas terhadap individu adalah memberikan obat-
obatan psikofarmaka bila diperlukan serta pemecahan masalah yang dihadapi oleh pasien dan
keluarga. Pengertian jiwa sehat dan jiwa sakit menurut pola sosial budaya suatu masyarakat
berbeda, disamping hampir semua penyakit fisik mengandung segi kejiwaan dan dengan
pendekatan kesehatan jiwa yang baik akan bermanfaat dalam menghadapi semua penderita.
Penderita gangguan jiwa tidak selalu abnormal tingkah lakunya, sering kelainan yang
ditunjukkan hanyalah berdasarkan keluhan saja. Oleh karena itu semua petugas puskesmas
sebaiknya memiliki pengetahuan dasar tentang kesehatan jiwa. Beberapa sifat yang dapat
dipakai sebagai pegangan dalam pemeriksaan seseorang yang sehat jiwanya, adalah : 1)
Mempunyai emosi yang tenang. Cukup bahagia dalam kehidupannya dan dapat bergaul baik
dengan anak-anaknya, keluarga, maupun lingkungan tempat tinggal atau tempat kerja. Suatu
waktu dapat saja merasa kurang gembira, bertengkar, marah-marah, tapi pada umumnya
relative bebas dari rasa khawatir, rasa benci dan rasa cemas. 2) Dapat memelihara
keseimbangan jiwa secara mantap, yaitu cukup tabah, penuh pengertian, serta dapat
mengambil keputusan dan memiliki tanggung jawab. 3) Mempunyai rasa kanak-kanak yang
bahagia. Tata cara kehidupan pada masa kanak-kanak adalah sangat penting artinya dalam
perkembangan menjadi dewasa. Beberapa hal penting yang harus diperoleh dalam masa
kanak-kanak adalah : cinta, kasih sayang, pujian dan dorongan serta disiplin yang sehat.
Kegiatan Pelayanan kesehatan jiwa, meliputi : 1) Kegiatan upaya kesehatan jiwa yang
terintegrasi dengan program Puskesmas lainnya. 2) Kegiatan diagnosis dan therapi pasien
dengan gangguan jiwa. Pelayanan kesehatan jiwa integratif dalam praktik umum Dalam
praktik kedokteran, pasien yang datang berobat selalu mempunyai keluhan utama. Keluhan
utama itu dapat kita bagi dalam: a) Keluhan fisik yaitu keluhan fisik tanpa jelas ada faktor
mental emosional. Seperti: kurus, kurang gizi; penglihatan kabur, katarak, bisul, koreng,
demam, muntaber, varices, wasir, perdarahan; patah tulang, cedera kepala; kencing manis;
benjolan di buah dada, keracunan singkong beracun; kelainan bawaan, thalasemia. Pada
keluhan fisik, bilajelas tak ada masalah mental emosional dibalik keluhan fisiknya, langsung
diterapi sesuai dengan diagnosis flsik. b) Keluhan psikosomatik yaitu keluhan fisik yang
berlatar belakang faktor mental emosional. Keluhan Psikosomatik berkaitan dengan sistem
organ: • Kardio-vaskuler: keluhan jantung berdebar-debar, cepat lelah • Gastro-intestinal:
keluhan ulu hati nyeri, mencret kronis • Respiratorlus: keluhan sesak napas, asma •
Dermatologi: keluhan gatal, eksim • Muskulo-skeletal: keluhan encok, pegal, kejang •
Endokrinologl: keluhan hipertiroidi, hipotiroidi, dismenorea • Urogenital: kehuhan masih
ngompoh, gangguan gairah seks • Serebro vaskuler: keluhan pusing, sering lupa, sukar
konsentrasi, kejang epilepsi Pada keluhan psikosomatik, biasanya dibalik keuhan flsiknya ada
masalah kejiwaannya; masalah kejiwaan yang paling sering menyertai keluhan psikosomatik
ini adalah gejala anxietas, dan gejala depresi. Keluhan mental emosional yaitu keluhan yang
berkaitan dengan fungsi mental seperti emosi, kognisi dan konasi. Keluhan mental emosional
dapat berupa: a) Gejala psikotik: halusinasi, waham, inkoherensi, katatonia, perilaku kacau,
gejala negatif b) Gejala anxietas: cemas, khawatir, berdebar, keringat dingin c) Gejala
depresif: murung, tak bergairah, putus asa, menyendiri, pasif, tak banyak bicara d) Gejala
manik: gembira, banyak bicara, aktif sekali e) Retardasi mental: bodoh, tak bisa mengikuti
pelajaran, sukar mengadakan adaptasi, sejak usia dibawah 18 tahun f) Pemakaian NAPZA:
teler, sakau, curiga (‘parno’), takut g) Anak dan remaja: kesulitan belajar, gangguan
perkembangan, gangguan makan, gangguan perilaku, masih mengompol pada anak diatas 5
tahun, gangguan interaksi, komunikasi, gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas
Pada pasien yang datang dengan keluhan psikosomatik dan keluhan mental emosional maka
yang perlu dilakukan oleh dokter adalah menetapkan: • Stresor (etlologi), organobiologik
atau psikososial • Ada atau. tidak adanya distres atau penderitaan atau keluhan pada pasien,
dan atau lingkungan atau keluarga • Ada atau tidak adanya gangguan fungsi seperti fungsi
pekerjaan atau akademik, fungsi sosial, fungsi sehari-hari Pembuatan diagnosis (kode
diagnosis lCD 10) secara cepat dan petunjuk terapi: • Kalau pasien hanjut usia (diatas 65 th)
datang dengan keluhan utama: gangguan daya ingat, tanpa penurunan kesadaran secara
patologik => Demensia (F00#). • Kalau pasien datang dengan kesadaran berkabut
(penurungan kesadaran secara patologik, dan kesadaran berkabut sampai koma),
berkurangnya kemampuan mengarahkan, memusatkan, mempertahankan dan mengalihkan
perhatian, bisa disertai halusinasi, waham, berlangsung kurang dari 6 bulan => Delirium
(F05) Terapi delirium adalah terapi kausal. Perlu dukungan fisik agar tidak timbul
kecelakaan, dukungan sensor agar tidak terlalu dirangsang atau terialu kurang dirangsang,
dan dukungan lingkungan yaitu perlu pendamping atau pengasuh biasa. Bila disertai gejala
psikotik rujuk saja ke RS Jiwa. • Kalau pasien datang dengan nwayat penggunaan zat
psikoaktif sampai saat ini => Gangguan Penggunaan Zat Psikoaktif (F10 alkohol, F11
opioida, F12 ganja, F13 hipnotika, F15 stimulansia); kemudian tentukan kondisi pada saat
datang apakah dalam keadaan intoksikasi akut, penggunaan yang merugikan, sindrom
ketergantungan, keadaan putus zat dengan / tanpa delirium, gangguan psikotik, atau sindrom
amnesik. • Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala psikotik yang
berlangsung lebih dan satu bulan => Skizofrenia (F20#) • Kalau pasien datang dengan
keluhan sesuai dengan gejala psikotik yang berlangsung kurang dari satu bulan => Gangguan
Psikotik Akut(F23) • Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala manik yang
berlangsung lebih dari satu minggu => Mania (Gangguan Bipolar) (F31) • Kalau pasien
datang dengan keluhan sesuai dengan gejala depresi yang berlangsung lebih dari dua minggu
=>Gangguan Depresif (F32#) • Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala
fobik (takut terhadap sesuatu obyek atau situasi tertentu) => Gangguan Fobik(F40) Terapi:
obat golongan benzodiazepin, antidepresan, SSRI, venlafaxine, dulocetine disertai dengan
terapi psikologik (terapi perilaku) • Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala
panik (gejala cemas yang memuncak dan berlangsung sesaat saja) => Gangguan Panik
(F41.0) • Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala anxietas (cemas disertai
gejala debar-debar, keringat dingin, tegang) => Gangguan Anxietas (F41.1). • Kalau pasien
datang dengan keluhan sesuai dengan gejala obsesif kompulsif (pikiran dan/atau perilaku
yang berulang, disertai kecemasan, dan tak bisa dihindarkan) => Gangguan Obsesif
Kompulsif (F42) • Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala anxietas atau
gejala depresi yang timbul segera setelah suatu kejadian/stresor berat => Reaksi Stres
Akut(F43.0). • Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala anxietas atau gejala
depresi yang timbul dalam kurun waktu 6 bulan setelah suatu kejadian traumatik/stresor/berat
=> Gangguan Stres Pasca Trauma (F43.1) • Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai
dengan gejala anxietas ataugejala depresi yang timbul karena perubahan situasi atau
lingkungan => Gangguan Penyesuaian dengan gejala anxietas/depresif (F43.2). • Kalau
pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala fisik tanpa kelainan struktural/organ yang
dilatarbelakangi oleh gejala anxietas atau depresi => Gangguan Somatoform (F45). • Kalau
pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala fisik dengan penyakit fisik yang
dihatarbelakangi oleh gejala anxietas atau depresi => Gangguan Psikosomatik, Gangguan
Makan, Gangguan Tidur, Disfungsi Seksual (F50#) • Kalau pasien datang dengan keluhan
sesuai dengan gejala perilaku yang cenderung menetap dan merupakan pola hidup yang khas
dalam hubungan dengan diri sendiri maupun pada orang lain, sehingga mengganggu norma
sosial, penaturan, etika, kewajiban => Gangguan kepribadian (F60#) • Kalau pasien datang
dengan keluhan kecerdasan yang kurang, disertai kemampuan adaptasi yang kurang, sejak
sebelum usia 18 tahun => Retardasi Mental (F70#). • Kalau pasien anak datang dengan
keluhan gangguan perkembangan khas berbicara, berbahasa, mengeja, membaca, berhitung,
motorik => Gangguan Perkembangan Psikologis (F80#). • Kalau pasien anak datang dengan
keluhan adanya gangguan interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku yang terbatas dan
berulang, sejak sebelum usia 3 tahun=> Autisme Masa Kanak (F84.O) • Kalau pasien anak
datang dengan keluhan adanya gejala berkurangnya kemampuan memusatkan perhatian,
disertai dengan hiperaktivitas > Gangguan Hiperkinetik (F90) atau Attention Deficit
Hyperactivity Disorder (ADHD). • Kalau pasien anak datang dengan keluhan adanya
kenakalan pada anak dan remaja => Gangguan tingkah laku pada anak dan remaja(F91) •
Kahau pasien anak datang dengan keluhan adanya gejaha mengompol pada anak diatas
5tahun => Enuresis Non-organik(F98.0) • Kalau pasien datang dengan keluhan kejang / tanpa
kejang, sadar/tak sadar, berulang => Epilepsi (G40#). UNDANG-UNDANG KESEHATAN
BAB V UPAYA KESEHATAN Bagian Ketujuh Kesehatan Jiwa Pasal 24 (1) Kesehatan jiwa
diselenggarakan untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara optimal baik intelektual maupun
emosional. (2) Kesehatan jiwa meliputi pemeliharaan dan peningkatan kesehatan jiwa,
pencegahan dan penanggulangan masalah psikososial dan gangguan jiwa, penyembuhan dan
pemulihan penderita gangguan jiwa. (3) Kesehatan jiwa dilakukan oleh perorangan,
lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan pekerjaan, Iingkungan masyarakat,
didukung sarana pelayanan kesehatan jiwa dan sarana lainnya. Pasal 25 (1) Pemenintah
melakukan pengobatan dan perawatan, pemulihan, dan penyaluran bekas penderita gangguan
jiwa yang telah selesai menjalani pengobatan dan atau perawatan ke dalam masyarakat. (2)
Pemerintah membangkitkan, membantu, dan membina kegiatan masyarakat dalam
pencegahan dan penanggulangan masalah psikososial dan gangguan jiwa, pengobatan dan
perawatan penderita gangguan jiwa, pemulihan serta penyaluran bekas penderita ke dalam
masyarakat. Pasal 26 (1) Penderita gangguan jiwa yang dapat menimbulkan gangguan
terhadap keamanan dan ketertiban umum wajib diobati dan dirawat di sarana pelayanan
kesehatan jiwa atau sarana pelayanan kesehatan lainnya. (2) Pengobatan dan perawatan
penderita gangguan jiwa dapat dilakukan atas permintaan suami atau istri atau wali atau
anggota keluarga penderita atau atas prakarsa pejabat yang bertanggung jawab atas keamanan
dan ketertiban di wilayah setempat atau hakim pengadilan bilamana dalam suatu perkara
timbul peesangkaan bahwa yang bersangkutan adalah penderita gangguan jiwa. Pasal 27
Ketentuan mengenai kesehatan jiwa dan upaya penanggulangannya ditetapkan dengan
Peraturan Pemerintah.

ASKEP CEMAS (ANSIETAS)

BAB I
PEMBAHASAN

A. DEFINISI.
Ansietas sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan
emosi ini tidak memiliki obyek yang spesifik. Kondisi dialami secara subyektif dan
dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal. Ansietas berbeda dengan rasa takut, yang
merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya. Ansietas adalah respon
emosional terhadap penilaian tersebut. Kapasitas untuk menjadi cemas diperlukan untuk
bertahan hidup, tetapi tingkat ansietas yang parah tidak sejalan dengan kehidupan (Stuart dan
Sundeen, 1990, hal 75).

Ansietas merupakan satu keadaan yang ditandai oleh rasa khawatir disertai dengan
gejala somatik yang menandakan suatu kegiatan berlebihan dari Susunan Saraf Autonomic
(SSA). Ansietas merupakan gejala yang umum tetapi non-spesifik yang sering merupakan
satu fungsi emosi. Sedangkan depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia
yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya termasuk perubahan
pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tak
berdaya, serta gagasan bunuh diri.

Ansietas dan gangguannya dapat muncul dalam berbagai tanda dan gejala fisik dan
psikologik seperti gemetar, rasa goyah, nyeri punggung dan kepala, ketegangan otot, napas
pendek, mudah lelah, sering kaget, hiperaktivitas autonomik seperti wajah merah dan pucat,
berkeringat, tangan rasa dingin, diare, mulut kering, sering kencing, rasa takut, sulit
konsentrasi, insomnia, libido turun, rasa mengganjal di tenggorok, rasa mual di perut dan
sebagainya. Gejala utama dari depresi adalah efek depresif, kehilangan minat dan
kegembiraan, dan berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah
(rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) serta menurunnya aktivitas.

Beberapa gejala lainnya dari depresi adalah:

1. konsentrasi dan perhatian berkurang;


2. harga diri dan kepercayaan diri berkurang;
3. gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna;
4. pandangan masa depan yang suram dan pesimistis;
5. gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri;
6. tidur terganggu;
7. nafsu makan berkurang.
Keadaan cemas biasanya disertai dan diikuti dengan gejala depresi. Untuk diagnosis
dibutuhkan penentuan kreteria yang tepat antara berat ringannya gejala, penyebab serta
kelangsungan dari gejala apakah sementara atau menetap. Pada gangguan cemas lainnya
biasanya depresi adalah bentuk akhir bila penderita tidak dapat menyelesaikan masalah yang
dihadapi. Pada cemas menyeluruh depresi biasanya bersifat sementara dan lebih ringan
gejalanya dibanding ansietas, gangguan penyesuaian memiliki gejala yang jelas berkaitan erat
dengan stres kehidupan.

Tingkat ansietas sebagai berikut:

1. Ansietas ringan.
Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan
seseorang menjadi waspada dan menghasilkan lahan persepsinya. Ansietas dapat memotivasi
bekpar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas.
2. Ansietas sedang.
Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan
mengesampingkan yang lain. Sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun
dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. Dengan kata lain, lapang persepsi terhadap
lingkungan menurun. Individu lebih memfokuskan pada hal yang penting saat itu dan
mengesampingkan hal lain.

3. Ansietas berat.
Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang cenderung untuk
memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak dapat berfikir pada hal lain.
Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Orang tersebut memerlukan banyak
pengarahan untuk dapat memusatkan pada satu area lain.
4. Tingkat panik dari ansietas.
Berhubungan dengan terperangah, ketakutan dari orang yang mengalami panik tidak
mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Panik melibatkan disorganisasi
kepribadian. Dengan panik, terjadi peningkatan aktifitas motorik, menurunnya kemampuan
untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran
yang rasional. Tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan, dan juga berlangsung
terus dalam waktu yang lama, dapat terjadi kelelahan yang sangat, bahkan kematian. Pada
tingkat ini individu sudah tidak dapat mengontrol diri lagi dan tidak dapat melakukan apa-apa
lagi walaupun sudah diberi pengarahan.

B. RENTANG RESPON ANSIETAS.

Gambar 1. Rentang Respon Ansietas (Stuart & Sundeen, 1990).

C. TINGKAT ANSIETAS.
Tingkat ansietas sebagai berikut:

1. Ansietas ringan.
Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan
seseorang menjadi waspada dan menghasilkan lahan persepsinya. Ansietas dapat memotivasi
bekpar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas.
2. Ansietas sedang.
Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan
mengesampingkan yang lain. Sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun
dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. Dengan kata lain, lapang persepsi terhadap
lingkungan menurun. Individu lebih memfokuskan pada hal yang penting saat itu dan
mengesampingkan hal lain.

3. Ansietas berat.
Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang cenderung untuk
memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak dapat berfikir pada hal lain.
Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Orang tersebut memerlukan banyak
pengarahan untuk dapat memusatkan pada satu area lain.
4. Tingkat panik dari ansietas.
Berhubungan dengan terperangah, ketakutan dari orang yang mengalami panik tidak
mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Panik melibatkan disorganisasi
kepribadian. Dengan panik, terjadi peningkatan aktifitas motorik, menurunnya kemampuan
untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran
yang rasional. Tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan kehidupan, dan juga berlangsung
terus dalam waktu yang lama, dapat terjadi kelelahan yang sangat, bahkan kematian. Pada
tingkat ini individu sudah tidak dapat mengontrol diri lagi dan tidak dapat melakukan apa-apa
lagi walaupun sudah diberi pengarahan.

BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN.
1. Faktor Predisposisi.
Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan asal ansietas :
a. Teori Psikoanalitik.
Ansietas adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian, ID dan
superego. ID mewakili dorongan insting dan impuls primitif seseorang, sedangkan superego
mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma- norma budaya seseorang.
Ego atau Aku, berfungsi menengahi hambatan dari dua elemen yang bertentangan dan fungsi
ansietas adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
b. Teori Interpersonal.
Ansietas timbul dari perasaan takut terhadap tidak adanya penerimaan dari hubungan
interpersonal. Ansietas juga berhubungan dengan perkembangan, trauma seperti perpisahan
dan kehilangan sehingga menimbulkan kelemahan spesifik. Orang dengan harga diri rendah
mudah mengalami perkembangan ansietas yang berat.
c. Teori Perilaku.
Ansietas merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan
seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Daftar tentang pembelajaran meyakini
bahwa individu yang terbiasa dalam kehidupan dininya dihadapkan pada ketakutan yng
berlebihan lebih sering menunjukkan ansietas pada kehidupan selanjutnya.
d. Kajian Keluarga.
Menunjukkan bahwa gangguan ansietas merupakan hal yang biasa ditemui dalam suatu
keluarga. Ada tumpang tindih dalam gangguan ansietas dan antara gangguan ansietas dengan
depresi.
e. Kajian Biologis.
Menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus benzodiazepine. Reseptor ini
mungkin membantu mengatur ansietas penghambat dalam aminobutirik. Gamma
neuroregulator (GABA) juga mungkin memainkan peran utama dalam mekanisme biologis
berhubungan dengan ansietas sebagaimana halnya endorfin. Selain itu telah dibuktikan
kesehatan umum seseorang mempunyai akibat nyata sebagai predisposisi terhadap ansietas.
Ansietas mungkin disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas
seseorang untuk mengatasi stressor.
2. Faktor Presipitasi.
Stressor pencetus mungkin berasal dari sumber internal atau eksternal. Stressor
pencetus dapat dikelompokkan menjadi 2 kategori :
a. Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan
datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktifitas hidup sehari- hari.
b. Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas, harga diri dan
fungsi sosial yang terintegrasi seseorang.
3. Perilaku.
Kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologi dan perilaku dan
secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping dalam upaya
melawan kecemasan. Intensietas perilaku akan meningkat sejalan dengan peningkatan tingkat
kecemasan.

Sistem Tubuh Respons


Ø Kardiovaskuler • Palpitasi.
• Jantung berdebar.
• Tekanan darah meningkat dan denyut nadi menurun.
• Rasa mau pingsan dan pada akhirnya pingsan.
Ø Pernafasan • Napas epat.
• Pernapasan dangkal.
• Rasa tertekan pada dada.
• Pembengkakan pada tenggorokan.
• Rasa tercekik.
• Terengah-engah.
Ø Neuromuskular • Peningkatan reflek.
• Reaksi kejutan.
• Insomnia.
• Ketakutan.
• Gelisah.
• Wajah tegang.
• Kelemahan secara umum.
• Gerakan lambat.
• Gerakan yang janggal.
Ø Gastrointestinal • Kehilangan nafsu makan.
• Menolak makan.
• Perasaan dangkal.
• Rasa tidak nyaman pada abdominal.
• Rasa terbakar pada jantung.
• Nausea.
• Diare.
Ø Perkemihan • Tidak dapat menahan kencing.
• Sering kencing.
Ø Kulit • Rasa terbakar pada mukosa.
• Berkeringat banyak pada telapak tangan.
• Gatal-gatal.
• Perasaan panas atau dingin pada kulit.
• Muka pucat dan bekeringat diseluruh tubuh.

Tabel 1. Respon Fisiologis Terhadap Ansietas.

Sistem Respons
Ø Perilaku • Gelisah.
• Ketegangan fisik.
• Tremor.
• Gugup.
• Bicara cepat.
• Tidak ada koordinasi.
• Kecenderungan untuk celaka.
• Menarik diri.
• Menghindar.
• Terhambat melakukan aktifitas.
Ø Kognitif • Gangguan perhatian.
• Konsentrasi hilang.
• Pelupa.
• Salah tafsir.
• Adanya bloking pada pikiran.
• Menurunnya lahan persepsi.
• Kreatif dan produktif menurun.
• Bingung.
• Khawatir yang berlebihan.
• Hilang menilai objektifitas.
• Takut akan kehilangan kendali.
• Takut yang berlebihan.
Ø Afektif • Mudah terganggu.
• Tidak sabar.
• Gelisah.
• Tegang.
• Nerveus.
• Ketakutan.
• Alarm.
• Tremor.
• Gugup.
• Gelisah.

Tabel 2. Respon Perilaku Kognitif.


4. Sumber Koping.
Individu dapat mengalami stress dan ansietas dengan menggerakkan sumber koping
tersebut di lingkungan. Sumber koping tersebut sebagai modal ekonomok, kemampuan
penyelesaian masalah, dukungan sosial dan keyakinan budaya dapat membantu seseorang
mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stress dan mengadopsi strategi koping
yang berhasil.
5. Mekanisme Koping.
Ketika mengalami ansietas individu menggunakan berbagai mekanisme koping untuk
mencoba mengatasinya dan ketidakmampuan mengatasi ansietas secara konstruktif
merupakan penyebab utama terjadinya perilaku patologis. Ansietas tingkat ringan sering
ditanggulangi tanpa yang serius.
Tingkat ansietas sedang dan berat menimbulkan 2 jenis mekanisme koping:
a. Reaksi yang berorientasi pada tugas, yaitu upaya yang disadari dan berorientasi pada
tindakan untuk memenuhi secara realitis tuntutan situasi stress.
b. Mekanisme pertahanan ego, membantu mengatasi ansietas ringan dan sedang, tetapi jika
berlangsung pada tingkat sadar dan melibatkan penipuan diri dan distorsi realitas, maka
mekanisme ini dapat merupakan respon maladaptif terhadap stress.
Sebuah sumber menjelaskan bahwa Ada dua mekanisme koping yang dikategorikan
untuk mengatasi ansietas :

a. Reaksi yang berorientasi pada tugas (Task Oriented Reaction).


Merupakan pemecahan masalah secara sadar digunakan untuk menanggulangi ancaman
stressor yang ada secara realistis, yaitu :
1) Perilaku menyerang (agresif).
Biasanya digunakan individu untuk mengatasi rintangan agar memenuhi kebutuhan.
2) Perilaku menarik diri.
Digunakan untuk menghilangkan sumber ancaman baik secara fisik maupun secara
psikologis.
3) Perilaku kompromi.
Digunakan untuk mengubah tujuan-tujuan yang akan dilakukan atau mmengorbankan
kebutuhan personal untuk mencapai tujuan.
b. Mekanisme pertahanan ego (Ego Oriented Reaction).
Mekanisme pertahanan Ego membantu mengatasi ansietas ringan maupun sedang yang
digunakan untuk melindungi diri dan dilakukan secara tidak sadar untuk mempertahankan
ketidakseimbangan.
Adapun mekanisme pertahanan Ego adalah :
1) Kompensasi.
Adalah proses dimana seseorang memperbaiki penurunan citra diri dengan secara tegas
menonjolkan keistimewaan/kelebihan yang dimilikinya.
2) Penyangkalan (Denial).
Menyatakan ketidaksetujuan terhadap realitas dengan mengingkari realitas tersebut.
Mekanisme pertahanan ini paling sederhana dan primitif.
3) Pemindahan (Displacemen).
Pengalihan emosi yag semula ditujukan pada seseorang/benda tertentu yang biasanya netral
atau kurang mengancam terhadap dirinya.
4) Disosiasi.
Pemisahan dari setiap proses mental atau prilaku dari kesadaran atau identitasnya.
5) Identifikasi (Identification).
Proses dimana seseorang mencoba menjadi orang yang ia kagumi dengan
mengambil/menirukan pikiran-pikiran,prilaku dan selera orang tersebut.
Intelektualisasi (Intelektualization).
6) Penggunaan logika dan alasan yang berlebihan untuk memghindari pengalaman yang
mengganggu perasaannya.
7) Introjeksi (Intrijection).
Mengikuti norma-norma dari luar sehingga ego tidak lagi terganggu oleh ancaman dari luar
(pembentukan superego)
8) Fiksasi.
Berhenti pada tingkat perkembangan salah satu aspek tertentu (emosi atau tingkah laku atau
pikiran)s ehingga perkembangan selanjutnya terhalang.
9) Proyeksi.
Pengalihan buah pikiran atau impuls pada diri sendiri kepada orang lain terutama keinginan.
Perasaan emosional dan motivasi tidak dapat ditoleransi.
10) Rasionalisasi.
Memberi keterangan bahwa sikap/tingkah lakunya menurut alasan yang seolah-olah
rasional,sehingga tidak menjatuhkan harga diri.
11) Reaksi formasi.
Bertingkah laku yang berlebihan yang langsung bertentangan dengan keinginan-
keinginan,perasaan yang sebenarnya.
12) Regressi.
Kembali ketingkat perkembangan terdahulu (tingkah laku yang primitif), contoh; bila
keinginan terhambat menjadi marah, merusak, melempar barang, meraung, dsb.
13) Represi.
Secara tidak sadar mengesampingkan pikiran, impuls, atau ingatan yang menyakitkan atau
bertentangan, merupakan pertahanan ego yang primer yang cenderung diperkuat oleh
mekanisme ego yang lainnya.
14) Acting Out.
Langsung mencetuskan perasaan bila keinginannya terhalang.
15) Sublimasi.
Penerimaan suatu sasaran pengganti yang mulia artinya dimata masyarakat untuk suatu
dorongan yang mengalami halangan dalam penyalurannya secara normal.
16) Supresi.
Suatu proses yang digolongkan sebagai mekanisme pertahanan tetapi sebetulnya merupakan
analog represi yang disadari;pengesampingan yang disengaja tentang suatu bahan dari
kesadaran seseorang;kadang-kadang dapat mengarah pada represif berikutnya.
17) Undoing.
Tindakan/perilaku atau komunikasi yang menghapuskan sebagian dari tindakan/perilaku atau
komunikasi sebelumnya merupakan mekanisme pertahanan primitif.

B. DIAGNOSA.
Adapun diagnosa yang biasanya muncul pada kecemasan adalah :
1. Penyelesaian kerusakan.
2. Kecemasan.
3. Pola napas tidak efektif.
4. Koping individu tidak efektif.
5. Diam.
6. Gangguan pembagian bidang energi.
7. Ketakutan.
8. Inkontinensial.
9. Stres.
10. Cedera resiko terhadap......
11. Perubahan nutrisi.
12. Respon pasca trauma.
13. Ketidakberdayaan.
14. Gangguan harga diri.
15. Gangguan pola tidur.
16. Isolasi sosial.
17. Perubahan proses berfikir.
18. Gangguan eliminasi urine.

C. INTERVENSI.
Ø Tujuan umum : Klien akan mengurangi ansietasnya dari tingkat ringan hingga panik.
Ø Tujuan khusus :
Klien mampu untuk ;
• Membina hubungan saling percaya.
• Melakukan aktifitas sehari-hari.
• Mengekspresikan dan mengidentifikasi tentang kecemasannya.
• Mengidentifikasi situasi yang menyebabkan ansietas.
• Meningkatkan kesehatan fisik dan kesejahteraannya.
• Klien terlindung dari bahaya.
1. Ansietas Ringan.
Deskripsi Batasan Karakter Intervensi
Ansietas ringan adalah a) Tidak nyaman. a) Gerakan tidak tenang.
ansietas normal dimana b) Gelisah. b) Perhatikan tanda
motivasi individu pada c) Insomnia ringan. peningkatan ansietas.
keseharian dalam batas d) Perubahan nafsu makan c) Bantu klien menyalurkan
kemampuan untuk ringan. energi secara konstruktif.
melakukan dan e) Peka. d) Gunakan obat bila perlu.
memecahkan masalah f) Pengulangan e) Dorong pemecahan
meningkat. pertanyaan. masalah.
g) Perilaku mencari f) Berikan informasi akurat
perhatian. dan fuktual.
h) Peningkatan g) Sadari penggunaan
kewaspadaan. mekanisme pertahanan.
i) Peningkatan persepsi h) Bantu dalam
pemecahan masalah. mengidentifikasi
j) Mudah marah. keterampilan koping yang
berhasil.
i) Pertahankan cara yang
tenang dan tidak terburu.
j) Ajarkan latihan dan
tehnik relaksasi.

2. Ansietas Sedang.
Deskripsi Batasan Karakter Intervensi
Ansietas sedang adalah a) Perkembangan dari a) Pertahankan sikap tidak
cemas yang mempengaruhi ansietas ringan. tergesa-gesa, tenang bila
pengetahuan baru dengan b) Perhatian terpilih dari berurusan dengan pasien.
penyempitan lapangan lingkungan. b) Bicara dengan sikap
persepsi sehngga individuc) Konsentrasi hanya pada tenang, tegas meyakinkan.
kehilangan pegangan tetapi tugas-tugas individu. c) Gunakan kalimat yang
dapat mengikuti d) Suara bergetar. pendek dan sederhana.
pengarahan orang lain. e) Ketidaknyamanan d) Hindari menjadi cemas,
jumlah waktu yang marah, dan melawan.
digunakan. e) Dengarkan pasien.
f) Takipnea. f) Berikan kontak fisik
g) Takikardia. dengan menyentuh lengan
h) Perubahan dalam nada dan tangan pasien.
suara. g) Anjurkan pasien
i) Gemetaran. menggunakan tehnik
j) Peningkatan ketegangan relaksasi.
otot. h) Ajak pasien untuk
k) Menggigit kuku, mengungkapkan
memukul-mukulkan jari, perasaannya.
menggoyangkan kaki dan i) Bantu pasien mengenali
mengetukkan jari kaki. dan menamai ansietasnya
3. Ansietas Berat.
Deskripsi Batasan Karakter Intervensi
Pada ansietas berat a) Perasaan terancam. a) Isolasi pasien dalam
lapangan persepsi menjadib) Ketegangan otot yang lingkungan yang aman
sangat menurun. Individu berlebihan. dan tenang.
cenderung memikirkan halc) Diaforesis. b) Biarkan perawatan dan
yang sangat kecil saja dand) Perubahan pernapasan. kontak sering sampai
mengabaikan hal yang lain.
e) Napas panjang. konstan.
Individu tidak mampu f) Hiperventilasi. c) Berikan obat-obatan
berfikir realistis dan g) Dispnea. pasien melakukan hal
membutuhkan banyak h) Pusing. untuk dirinya sendiri.
pengarahan, untuk dapat i) Perubahan
d) Observasi adanya tanda-
memusatkan pada daerah gastrointestinalis. tanda peningkatan agitasi.
lain. j) Mual muntah. e) Jangan mennyentuh
k) Rasa terbakar pada ulu pasien tanpa permisi.
hati. f) Yakinkan pasien bahwa
l) Sendawa. dia aman.
m) Anoreksia. g) Kaji keamanan dalam
n) Diare atau konstipasi. lingkungan sekitarnya.
o) Perubahan kardivaskuler.
p) Takikardia.
q) Palpitasi.
r) Rasa tidak nyaman pada
prekokardia.
s) Berkurangnya jarak
persepsi secara berat.
t) Ketidakmampuan untuk
berkonsentrasi.
u) Rasa terbakar.
v) Kesulitan dan
ketidaktepatan
pengungkapan.
w) Aktivitas yang tidak
berguna.
x) Bermusuhan.

4. Panik.
Deskripsi Batasan Karakter Intervensi
Adalah tingkat dimana a) Hiperaktif / imobilitasi a) Tetap bersama pasien ;
individu berada pada berat. minta bantuan.
bahaya terhadap diri b) Rasa terisolasi yang b) Jika mungkin hilangkan
sendiri dan orang lain serta ekstrim. beberapa stressor fisik dan
dapat menjadi diam atau c) Kehilangan desintegrasi psikologisdari lingkungan.
menyerang dengan cara kepribadian. c) Bicara dengan tenang,
kacau. d) Sangat goncang dan otot- sikap meyakinkan,
otot tegang. menggunakan nada suara
e) Ketidakmampuan untuk yang rendah.
berkomunikasi dengan d) Katakan pada pasien
kalimat yang lengkap. bahwa anda (staf) tidak
f) Distori persepsi dan akan membahayakan
penilaian yang tidak dirinya sendiri atau orang
realistis terhadap lain.
lingkungan dan ancaman. e) Isolasikan pasien pada
g) Perilaku kacau dalam daerah yang aman dan
usaha melarikan diri. nyaman.
h) Menyerang. f) Lanjut dengan
perawatan ansietas berat.
(Keperawatan) Askep Gangguan Pola Tidur

KONSEP DASAR

PENGERTIAN
Tidur adalah suatu keadaan tidak sadarkan diri yang relatif à bukan merupakan keadaan penuh
ketenangan tanpa kegiatan à merupakan suatu urutan siklus yang berulang. Tingkat kesadaran
berfluktuasi selama berbagai tahap/fase dalam tidur.
Fisiologi tidur = Tidur merupakan proses fisiologis yang bersiklus yang bergantian dengan
periode yang lebih lama dari keterjagaan.

J Pengaturan tidur
Terdapat dua sistem yang mengatur :
1. reticular Activating system (RAS)
2. bulbar Syndhronizing region (BSR)
keduanya bekerja secara bersamaan untuk mengontrol siklus alam tidur namun waktunya yang
berbeda.

J Circadian rhythms
Menjelaskan tentang perubahan/fluktuasi dari HR, tensi, temperatur tubuh, sekresi hoemone,
metabolisme, penampilan individu serta perasaan.
Circadian synchronization à ada, jika individu mengikuti pola tidur – bangun secara biologis.
Jika irama fisiologi & psikologi tinggi / lebih aktif à orang tersebut dalam keadaan bangun. Jika
irama rendah / lemah à orang tersebut dalam keadaan tidur.

J Stage of sleep
Ada 2 fase
1. Non rapid eye movement (NREM)
Gerak bola mata secara tidak cepat
2. Rapid Eye movement (REM)
Gerak bola mata secara cepat
Dapat dipelajari dan dianalisa dengan :
a. Electro Enchephalograph
b. Electro Oculogram
c. Electro Myogram

J Kebutuhan dan pola tidur


- bervariasi secara jelas dimasyarakat à standart umum ± 8 jam setiap malam à tidak ada rumus
tertentu
- Penting bagi setiap orang mengikuti suatu pola istirahat tertentu à untuk mempertahankan
kesehatan/kesegaran jasmani.
- Kebutuhan jam tidur tiap-tiap usia :
Bayi : 13-16 jam
Anak : 8-12 jam
Dewasa : 6-9 jam
Usia lanjut : 5-8 jam
J Fungsi tidur
Dikemukakan beberapa teori mengenai fungsi tidur :
1. Teori hipnotoksin
Pada saar kita bangun à hipnotoksin menumpuk dibadan kita à memacu keadaan mengantuk.
Hipnotoksin ini hanya dapat di detiksifikasi/ dinetralisasi waktu kita tidur

2. Meningkatkan fungsi imunitas

3. Regulasi suhu

4. Homeostasis
Diduga beberapa mediator ikut berperan untuk mediasi dorongan homeostasis untuk tidur,
yaitu : adenosin, interleukin, tumor necrosing faktor, ptostaglandin, lipopolisakarida, d (delta) –
producing faktor.

5. Teori konservasi energi


- Adanya penemuan bahwa sewaktu bangun nergi di otak (ATP, glikogen, Adenosin) menurun,
dan akan meningkat kembali sewaktu tidur.
- Waktu tidur penggunaan energi menurun sebanyak 15 – 20 % dan komsumsi oksigen
menurun

6. Teori restorasi
Tidur merupakan waktu untuk restorasi dan tumbuh bagi badan dan otak. Hormone
pertumbuhan ( growth hoemone ) dilepas waktu kita tidur

ª Gangguan yang umum pada pola tidur


Gangguan tidur adalah kondisi yang jika di obati, secara umum akan menyebabkan gangguan
tidur malam yang mengakibatkan munculnya salah satu dari ketiga masalah berikut : insomnea
: gerakan atau sensasi abnormal dikala tidur atau ketika terjaga di tengah malam ; atau rasa
mengantuk yang berlebihan di siang hari.
Gangguan pola tidur adalah keadaan ketika individu mengalami atau berisiko mengalami suatu
perubahan dalam kuantitas atau kualitas pola istirahatnya yang menyebabkan rasa tidak
nyaman atau mengganggu gaya hidup yang diinginkannya.
4 klasifikasinya adalah :
1. Primary sleep disorder
a. Insomnia
Adalah gejala yang dialami oleh klien yang mengalami kesulitan kronis untuk tidur, sering
terbangun dari tidur, dan/atau tidur singkat atau tidur nonrestoratif. Penderita insomnia
mengeluhkan rasa kantuk yang berlebihan di siang hari dan kuantitas dan kualitas tidurnya
tidak cukup. Namun, seringkali klien tidur lebih banyak dari yang disadarinya. Insomnia dapat
menandakan adanya gangguan fisik atau psikologis.

b. Hypersomnia
c. Narcolepsi
Adalah disfungsi mekanisme yang mengatur keadaan bangun dan tidur. EDS adalah keluhan
utama paling sering yang terkaitan dengan gangguan ini. Di siang hari seseorang dapat
merasakan kantuk berlebihan yang datang secara mendadak dan jatuh tertidur. Tidur REM
dapat terjadi dalam 15 menit sewaktu tertidur. Katapleksi, atau kelemahan otot yang tiba-tiba
disaat emosi sedang kuat seperti marah, sedih, atau tertawa, dapat terjadi kapan saja di siang
hari. Apabila serangan kata pleksi parah, klien dapat kehilangan kontrol oto volunter dan jatuh
ke lantai.

d. Sleep Apnea
Adalah gangguan yang dicirikan dengan kurangnya aliran udara melalui hidung dan mulut
selama periode 10 detik atau lebih pada saat tidur. Ada tiga jenis apnea tidur : apnea sentral,
obstruktif, dan campuran yang mempunyai komponen apnea sentral dan obstruktif.

2. Secondary sleep disorder


a. Hypothyroid
b. Hyperthyroid
c. Gangguan ginjal kronik
d. Depresi
Adalah masalah yang dihadapi banyak klien sebagai akibat disomnia. Penyebabnya dapat
mencakup penyakit, stres emosional, obat-obatan gangguan lingkungan, dan keanekaragaan
waktu tidur yang terkait dengar. Waktu kerja.
Hospitalisasi, terutama di unit perawatan intensif, membuat klien rentan terhadap gangguan
tidur ekstrinsik dan sirkadian. Deprivasi tidur melibatkan penurunan kuantitas dan kualitas
serta ketidakkonsistenan waktu tidur.

e. Schizoprenia
f. Lkoholisme
g. Anoreksia Nervosa
3. Parasomnia
Adalah masalah tidur yang lebih banyak terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa.
Sindrom kematian bayi mendadak, dihipotesis berkaitan dengan apnea, hipoksia, dan aritmia
jantung yang disebabkan disebabkan oleh abnormalitas dalam sistem saraf otonom yang
dimanifestasikan selama tidur.
Parasomnia yang terjadi pada anak-anak meliputi somnambulisme, terjaga malam, mimpi
buruk, enuresis nokturnal (ngompol), dan menggeretakkan gigi. Apabila orang dewasa
mengalami hal ini maka hal tersebut dapat mengindikasikan gangguan yang lebih serius. Terdiri
dari :
a. Somnabulisme
b. Sleep talking
c. Bruxisme
d. Eneurism nocturnal
4. Sleep disorder
a. REM Deprivasion
b. NREM
c. Total sleep

ETIOLOGI
Faktor-faktor yang mempengaruhi
Penyakit fisik
Setiap penyakit yang menyebabkan nyeri, ketidaknyamanan fisik (mis. Kesulitan bernapas),
atau masalah suasana hati, seperti kecemasan atau depresi, dapt menyebabkan masalah tidur.
Obat-obatan dan substansi
Dari daftar obat di PDR 1990, dengan 584 obat resep atau obat bebas menuliskan mengantuk
sebagai salah satu efek samping, 486 menulis imsomnia, dan 281 menyebabkan kelelahan.
Mengantuk dan deprsi tidur adalah efek samping mediksi yang umum. Mediksi yang diresepkan
untuk tidur seringkali menyebankan masalah daripada keuntungan.
Gaya hidup
Rutinitas harian seseorang mempengaruhi pola tidur. Individu yang bekerja bergantian
berputar (mis. 2 minggu siang diikuti 1 minggu malam) seringkali mempunyai kesulitan
menyesuaikan perubahan jadwal tidur.
Stres emosional
Kecemasan tentang masalah pribadi atau situasi dapat mengganggu tidur. Stres emosional
menyebabklan seseorang menjadi tegang dan seringkali mengarah frustasi apabila tidur. Stres
juga menyebabkan seseorang mencoba terlalu keras untuk tertidur, sering terbangun selama
siklus tidur, atau terlalu banyak tidur. Stres yang berlanjut dapat menyebabkan kebiasaan tidur
yang buruk.
Lingkungan
Lingkungan fisik tempat seseorang tidur berpengaruh peting pada kemampuan untuk tertidur
dan tetap tertidur. Ventilasi yang baik dalah esensial untuk tidur tenang. Ukuran, kekerasan,
dan posisi tempat tidur mempengaruhi kualitas tidur. Tempat tidur rumah sakit seringkali lebih
keras daripada di rumah. Suara juga mempengaruhi tidur. Tingkat suara yang diperlukan untuk
membangunkan orang tergantung pada tahap tidur.
Latihan fisik dan kelelahan
Seseorang yang kelelahan menengah (moderate) biasanya memperoleh tidur yang
mengistirahatkan, khususnya jika kelelahan adalah hasil dari kerja atau latihan yang
menyenangkan. Latihan 2 jam atau lebih sebelum waktu tidur membuat tubuh mendingin dan
mempertahankan suatu keadaan melelahkan yang meningkatkan relaksasi. Akan tetapi
kelelahan yang berlebihan yang dihasilkan dari kerja yang meletihkan atau penuh stres
membuat sulit tidur.
Asupan makanan dan kalori
Orang tidur lebih baik ketika sehat sehingga mengikuti kebiasaan makan yang baik adalah
penting untuk kesehatan yang tepat dan tidur. Makan besar, berat, dan/atau berbumbu pada
makan malam dapat menyebabkan tidak dapat dicerna yang mengganggu tidur. Kafein dan
alkohol yang dikomsumsi pada malam hari mempunyai efek produksi-insomnia sehingga
mengurangi atau menghindari zat tersebut secara drastis adalah strategi penting yang
digunakan untuk meningkatkan tidur.
Etiologi
a. Rasa tidak nyaman O.K. nyeri
b. Perubahan tidur
c. Perubahan lingkungan tidur
d. Perubahan siklus tidur
e. Penggunaan siklus tidur / alcohol sebelum tidur
f. Ketergntungan terhadap obat
g. Gejala-gejala dari penyakit fisik

DATA MAYOR DAN DATA MINOR


Data mayor
Kesukaran untuk tertidur atau tidur tetap
Data minor
Keletihan waktu bangun tidur atau sepanjang hari
Perubahan suasana hati
Tidur sejenak sepanjang hari
Agitasi

BAB II

1. ANALISA DATA
- PENGKAJIAN TIDUR
Kebanyakan individu dapat memberi perkiraan yang akurat dan beralasan tentang pola tidur
mereka, terutama jika terjadi suatu perubahan. Salah satu metode yng singkat dan efektif untuk
mengkaji kualitas tidur adala dengan menggunakan skala analog visul ( closs, 1988). Perawat
membuat sebuah garis horizontal sepanjang kira-kira 10 cm. Tulis pernyataan-pernyataan yang
berlawanan seperti ”tidur malam yang terbaik” dan ”tidur malam yang terburuk” pad setiap
ujung garis. Klien diminta untuk memberi tnda titik pada garis yang menandakan persepsi
mereka terhadap tidur malam.pengkajian juga dilakukan untuk mengetahui kebiasaan-
kebiasaan yng dilakukan sebalum tidur, apakah klien harus membaca dulu sebelum tidur, maka
perawat menawarkan buku bcaan kepada klien. Ataupun kebiasaan-kebiasaan yang lainnya.
Sumber untuk pengkajian tidur. Biasanya klien merupakan sumber yang terbaik untuk
menggambarkan masalah tidur dan sampai sejauh mana masalah tersebut mengubah pola tidur
dan bangun mereka yang biasa. Seringkali klien mengetahui penyebab masalah tidur tersebut,
seperti kebisingan lingkungan atau kekhawatiran akan suatu hubungan.
Pada saat merawat anak-anak, perawat perlu mencari informasi tentang pola tidur dari orang
tua karena biasanya mereka dlah sumber informasi yang baik tentang mengapa anak mereka
mengalami msalah tidur.

- Riwayat tidur
Untuk memulai perawat perlu terlebih dahulu memahami sifat dari masalah tidur, tnd dan
gejalanya, awitan dan durasinya, keparahannya, dan adanya faktor pencetus atau penyebab-
penyebabnya, serta efeknya secara umum pada klien. Pertanyaan-pertanyaan pengkajian antara
lain mencakup:
1. sifat dari masalah : beritahu saya jenis masalah tidur apa yng anda alami. Beritahu saya
mengapa anda beranggapan bahwa tidur anda tidak adekuat. Jelaskan pada saya tentang
karakteristik tidur malam anda. Seberapa jauh perbedaan tidur anda sat ini dari tidur anda yng
dulu ?
2. Tanda dan gejala : apakah anda mengalami kesulitan untuk tidur, tetap tidur atau untuk
bangun ?
3. Awitan dan durasi : kapan pertama kali anda menyadari masalah ini ?
4. Keparahan : berapa lama waktu yng anda butuhkan untuk tertidur?
5. Faktor pencetus : beritahu saya apa yang and lakukan sesaat sebelum tidur?
6. Efek pada klien : bagaimana pengaruh tidur ini bagi anda ?
Pola tidur biasa. Mengetahui pola tidur klien yang biasa dan disukai memungkinkan perawat
untuk mencoba menyesuaikan kondisi tidur dilingkungan layanan kesehatan dengan kondisi
tidur dirumah. Untuk menentukan pola tidur klien perawat mengajukan pertanyaan-pertanyaan
berikut :
1. Pukul berapa biasanya anda naik ketempat tidur setiap malam ?
2. Pukul berapa biasanya anda tertidur ? apakah abda melakukan sesuatu yang khusus untuk
membantu anda tertidur ?
3. Berapa kali anda terbangun dimalam hari ? mengapa anda beranggapan bhwa nd terbangun ?
apa yang anda lakukan terhdp hal yang membuat anda bangun tersebut ?
4. Pukul berapa biasanya anda terbangun di pagi hari ?
5. Pukul berapa anda turun dari tempat tidur setelah anda terbangun ?
6. Berapa jam rata-rata anda tidur disetiap malam ?
- Pengelompokan data
ª Data subjektif
a. klien mengatakan mengalami gangguan tidur insomnia
b. klien mengatakan tidurnya sering terbangun dan susah untuk tidur kembali
c. klien mengatakan saat terbangun kepalanya pusing dan sat pertama kali tidur kepala seperti
berputar-putar
d. klien mengatakan mengalami masalah tidur sejak 2 bulan yang lalu
e. klien mengatakan kesulitan tertidur setiap hri
f. klien mengatakan butuh waktu 2-4 jam untuk tertidur namun 1-3 kemudian terbangun dn
susah untuk tidur kembali
g. klien mengatakan sebelum tidur biasanya melihat tv sebentar
h. klien mengatakan saat beraktivitas merasa kelelahan dan keletihan

ª Data objektif
a. Klien terlihat kelelahan
b. Terlihat lingkar hitam disekitar mata
c. Wajah terlihat kusam
d. Terlihat gelisah
e. Tidur selalu terbangun
f. Tidur tidak pernah tenang

- Pemeriksaan fisik
1. Tingkat energi
a. terlihat kelelahan
b. kelemahan fisik
c. terlihat lesu
2. Ciri-ciri diwajah
a. mata sipit
b. kelopak mata sembab, mata merah
c. semangat
3. Ciri-ciri tingkah laku
a. oleng/ sempoyongan
b. menggosok-gosok mata
c. bicara lambat
d. sikap loyo
4. Data penunjang yang menyebabkan adanya masalah potensial
a. obesitas
b. deviasi septum
c. TD rendah
d. RR dangkal dan dalam

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Gangguan pola tidur : insomnia (kesulitan masuk tahap tidur) sd khawatir tentang keluarga
b. Gangguan pola tidur : insomnia ( kesulitan mempertahankan tidur) S/D lingkungan rumah
sakit yang gaduh
c. Gangguan pola tidur : insomnia ( bangun terlalu awal) S/D kurang pengetahuan tentang
bantuan-bantuan sebelum tidur (selain obat) dan ketagihan barbiturate
d. Gangguan pola tidur : hipersomnia b/d perubahan siklus, ketidakmampuan mengatasi stres
yng berlebihan
e. Gangguan pola tidur (kehilangan tidur REM ) S/D rasa tidak nyaman O.K. nyeri
f. Kecemasan s/d :
1. ketidakmampuan masuk dalam tahap tidur
2. ketidakmampuan mengontrol perilaku saat tidur
3. henti napas saaat tidur
g. Perubahan rasa nyaman s/d kehilangan / kkurangan waktu tidur
h. Koping individu tidak efektif s/d insomnia
i. Ketakutan s/d narcolesi
j. Potensi injury s/d narcolesi, somnabulisme, sleep apnea
k. Harga diri rendah s/d noctural eneurisme

3. INTERVENSI
- Kurangi kebisingan
- Atur prosedur untuk memberi jumlah terkecil gangguan selama periode tidur (mis. Sewaktu
individu bangun untuk pemberian obat juga lakukan tindakan dan ukur tanda vital)
- Jika berkemih malam mengganggu, batasi asupan cairan waktu malam dan berkemih sebelum
tidur.
- Tetapkan bersama individu suatu jadwal untuk program ktivitas sepanjang waktu (jalan,
terapi fisik)
- Batasi jumlah dan panjang waktu tidur jika berlebihan
- Kaji waktu rutin bersama individu, keluarga, atau oarang tua-waktu, praktik kebersihan, ritual
- Batasi asupan minuman yang mengandung kafein sore hari
- Hindari alkohol
- Pertahankan waktu tidur teratur dan waktu bangun
- Menyusun rutinitas untuk persiapan tidur
- Perthankan ruang tidur agak dingin
- Gunakan penutup telingan bila kebisingan menjadi masalah
- Jangan latihan dalan 3 jam

4. IMPLEMENTASI
Lingkungan yang aman
a. Memberikan ”comfortable bed”
· sprei harus bersih dan tegang/tidak banyak lipatan serta bahannya halus
· selimut harus aman, tidak berat/tidak menekan kaki dan bahannya lembut
b. Mengatur posisi tubuh klien sejajar / posisi tertentu yang rileks
c. Mengatur lingkungan yang aman untuk tidur : suasana tenang ; redup ; privacy ; situasi yang
mirip situasi rumah
d. Mengatur ventilasi kamar
e. Memelihara suhu kamar
Lingkungan yang aman dari suara
f. suara langkah orang berjalan
g. suara percakapan
h. lingkungan yang asing
i. pengunjung yang banyak
j. suara pintu yang ditutup
k. suhu lingkungan yang panas/sangat dingin
l. kamar yang sempit/pengap
m. kamar yang kurang privacy
Memenuhi keb. Psiko-spiritual
n. membaca majalah
o. mendengarkan radio
p. menonton tv
q. mendongeng
r. berdoa
s. gosok gigi, cuci muka/tangan/kaki
Pada anak-anak
t. memberikan mainan kesukaannya
u. mendengar dongeng
v. memberikan ”good night kiss”
w. berdoa bersama sebelum tidur

5. EVALUASI
Setiap kegiatan yang akan dilakukan perawat harus direncanakan, dilakukan dan yang terakhir
adalah mengevaluasi semua kegiatan atau proses keperawatan yang telah tilakukan apakah
proses tersebut berhasil atau tidak. Jika proses tersebut tidak berhasil maka harus
mengulangnya.