You are on page 1of 18

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN PROSES PIKIR: WAHAM


Disusun untuk Memenuhi Tugas Keperawatan Jiwa I

Disusun oleh :
1. Arisca Dewi Safitri P07120111003
2. Eva Suci Rohani P07120111012
3. Kartika Nuraini P07120111020
4. Nurul Fatimah P07120111027
5. Sunu Wijayanto P07120111034

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN KEPERAWATAN
2013
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Masalah Utama
Gangguan proses pikir: waham

B. Proses Terjadinya Masalah


1. Pengertian
Waham adalah keyakinan terhadap sesuatu yang salah dan secara kukuh
dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan
realita normal (Stuart dan Sundeen, 1998).
Waham adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi
dipertahankan dan tidak dapat diubah secara logis oleh orang lain. Keyakinan ini
berasal dari pemikiran klien yang sudah kehilangan kontrol (Depkes RI, 2000).
Jadi, delusi atau waham adalah suatu kelainan jiwa dimana adanya ide-ide
yang salah dan secara kokoh dipertahankan daripada mempertengkarkan secra
bukti walaupun bertentangan denga realita sosial.

2. Etiologi Waham (Doenges, 2006)


a. Faktor Predisposisi
1) Faktor Perkembangan
Hambatan perkembangan akan mengganggu hubungan interpersonal
seseorang. Hal ini dapat meningkatkan stress dan ansietas yang berakhir
dengan gangguan persepsi, klien menekan perasaannya sehingga
pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif
2) Faktor Sosial Budaya
Seseorang yang merasa diasingkan dan kesepian dapat menyebabkan
timbulnya waham.
3) Biologis
Pola keterlibatan keluarga relatif kuat yang muncul dikaitkan dengan
delusi tau waham. Dimana individu dari anggota keluarga yang
dimanifestasikan dengan gangguan ini berada pada resiko lebih tinggi
untuk mengalaminya dibandingkan dengan populasi umum. Studi pada
manusia kembar juga menunjukkan bahwa ada keterlibatan faktor
genetik.
4) Psikososial
a) Sistem Keluarga
Dikemukakan oleh Bowen dimana perkembangan skizofrenia sebagai
suatu perkembangan disfungsi keluarga. Konflik diantara suami istri
mempengaruhi anak. Beberapa ahli teori menyakini bahwa individu
paranoid memiliki orang tua yang dingin, perfeksionis, sering
menimbulkan kemarahan, perasaan mementingkan diri sendiri yang
berlebihan dan tidak percaya pada individu
b) Teori Interpersonal
Orang yang mengalami psikosis akan menghasilkan suatu hubungan
orang tua-anak yang penuh dengan ansietas tinggi.
c) Psikodinamika
Perkembangan emosi terhambat karena kurangnya rangsangan atau
perhatian ibu, dengan ini seorang bayi mengalami penyimpangan rasa
aman dan gagal untuk membangun rasa percayanya. Proyeksi
merupakan mekanisme koping paling umum yang digunakan sebagai
pertahanan melawan perasaan
b. Faktor Presipitasi
1) Faktor sosial budaya
Waham yang dipicu karena adanya perpisahan dengan orang yang
berarti atau diasingkan dari kelompok.
2) Faktor biokimia
Dopamin, norepineprin dan zat halusinogen lainnya diduga dapat menjadi
penyebab waham pada seseorang.
3) Faktor psikodinamis
Kecemasan yang memanjang dan terbatasnya kemampuan untuk
mengatasi masalah sehingga klien mengembangkan koping untuk
menghindari kenyataan yang menyenangkan.

3. Proses Terjadinya Waham


a. Fase lack of human need
Terjadi karena terbatasnya kebutuhan-kebutuhan klien baik secara fisik
maupun psikis. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mendorong
untuk melakukan kompensasi yang salah.
b. Fase lack of self esteem
Terjadi karena tidak adanya pengakuan dari lingkungan dan tingginya
kesenjangan antara self ideal dengan self reality (kenyataan dengan harapan)
serta dorongan kebutuhan yang tidak terpenuhi sedangkan standar
lingkungan sudah melampaui kemampuannya. Misalnya, lingkungan sudah
banyak yang kaya, berpendidikan tinggi dan memiliki kekuasaan, seseorang
tersebut tetap memasang self ideal yang melebihi lingkungan tersebut
walaupun self realitynya sangat jauh.
c. Fase control internal external
Fase dimana klien mencoba berfikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau
apa yang ia katakan adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan tidak
sesuai dengan kenyataan. Menghadapi kenyataan bagi klien adalah sesuatu
yang sangat berat, karena kebutuhannya untuk diakui, kebutuhan untuk
dianggap penting dan diterima lingkungan menjadi prioritas dalam hidupnya,
karena kebutuhan tersebut belum terpenuhi sejak kecil secara optimal.
Lingkunga hanya menjadi pendengar pasif tetapi tidak mau kofrontatif dengan
alasan pengakuan klien tidak merugikan orang lain.
d. Fase environment support
Adanya beberapa orang yang mempercayai klien dalam lingkungannya
menyebabkan klien merasa didukung, lama kelamaan klien menganggap
sesuatu yang dikatakan tersebut sebagai suatu kebenaran karena seringnya
diulang-ulang. Dari sinilah mulai terjadinya kerusakan kontrol diri dan tidak
berfungsinya norma (super ego) yang ditandai dengan tidak ada lagi
perasaan dosa saat berbohong.
e. Fase comforting
Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta
menganggap bahwa semua orang sama yaitu akan mempercayai dan
mendukungnya. Keyakinan sering disertai halusinasi pada saat klien
menyendiri dari lingkungannya. Selanjutnya klien lebih sering menyendiri dan
menghindari interaksi sosial (isolasi sosial).
f. Fase Improving
Apabila tidk adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap waktu
keyakinan yang salahpada klien akan meningkat. Tema waham yang muncul
sering berkaitan dengana traumatik masa lalu atau kebutuhan-kebutuhan
yang tidak terpenuhi (rantai yang hilang). Waham bersifat menetap dan sulit
untuk dikoreksi. Isi waham dapat menimbulkan ancaman diri dan orang lain.
Penting sekali untuk mengguncang keyakinan klien dengan cara konfrontatif
serta memperkaya keyaakinan relegiusnya bahwa apa-apa yang dilakukan
menimbulkan dosa besar serta ada konsekuensi sosial.
4. Jenis-jenis Waham Menurut Mayer Gross
a. Waham Primer
Timbul secara tidak logis sama sekali, tanpa penyebab apa-apa dari luar.
Misal seseorang merasa istrinya sedang selingkuh sebab ia melihat seekor
cicak berjalan dan berhenti dua kali.
b. Waham Sekunder
Biasanya logis kedengarannya, dapat diikuti dan merupakan cara bagi
penderita untuk menerangkan gejala-gejala skizofrenia lainnya.

5. Klasifikasi Waham
a. Waham agama
Keyakinan klien terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan
berulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh, “ Tuhan telah
menunjuk saya menjadi wali, saya harus terus menerus memakai pakaian
putih setiap hari agar masuk surga”.
b. Waham kebesaran
Keyakinan klien yang berlebihan tentang kebesaran dirinya atau kekuasaan,
diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh, “ Saya
ini titisan Bung Karno, punya banyak perusahaan, punya rumah di berbagai
negara dan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit”.
c. Waham somatic
Keyakinan bahwa bagian tubuhnya tergannggu, terserang penyakit atau
didalam tubuhnya terdapat binatang.
d. Waham curiga
Waham curiga yaitu klien yakin bahwa ada orang atau kelompok orang yang
sedang mengancam dirinya, merugikan atau mencederai dirinya, diucapkan
berulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh, “ Banyak polisi
mengintai saya, tetangga ssaya ingin menghancurkan hidup saya, suster
akan meracuni makanan saya”.
e. Waham nihilistic
Waham nihilistik yaitu klien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada lagi di dunia
atau sudah meninggal dunia, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai
dengan kenyataan. Contoh, “ Saya sudah menghilang dari dunia ini, semua
yang ada disini adalah roh-roh, sebenarnya saya sudah tidak ada di dunia
ini”.
f. Waham somatik
Waham somatik yaitu meyakini bahwa tubuh klien atau bagian tubuhnya
terganggu, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Contoh, “ Sumsum tulang belakang saya kosong, saya pasti terserang
kanker, dalam tubuh saya banyak kotoran, tubuh saya telah membusuk,
tubuh saya menghilang”.
g. Waham sisip pikir
Waham sisip pikir yaitu klien yakin bahwa ada pikiran orang lain yang
disisipkan atau dimasukan kedalam pikiranya.
h. Waham siar pikir
Waham siar yaitu klien yakin bahwa orang lain megetahui isi pikiranya,
padahal dia tidak pernah menyatakan pikiranya kepada orang tersebut.
i. Waham kontrol piker
Waham kontrol pikir yaitu klien yakin bahwa pikiranya dikontrol oleh kekuatan
dari luar.

6. Tanda dan Gejala


a. Kognitif
1) Tidak mampu membedakan nyata dengan tidak nyata
2) Individu sangat percaya pada keyakinannya
3) Sulit berfikir realita
4) Tidak mampu mengambil keputusan
b. Afektif
1) Situasi tidak sesuai dengan kenyataan
2) Afek tumpul
c. Prilaku dan Hubungan Sosial
1) Hipersensitif
2) Hubungan interpersonal dengan orang lain dangkal
3) Depresi
4) Ragu-ragu
5) Mengancam secara verbal
6) Aktifitas tidak tepat
7) Streotif
8) Impulsive
9) Curiga
d. Fisik
1) Higiene kurang
2) Muka pucat
3) Sering menguap
4) BB menurun

C. Pohon Masalah

kerusakan komunikasi verbal

Perubahan proses pikir : waham kebesaran (masalah utama)

Gangguan harga diri : HDR

D. Pengkajian
1. Aktivitas atau istirahat
Gangguan tidur karena halusinasi atau delusi, bengun lebih awal, insomnia dan
hiperaktivitas.
2. Higyne
Akan ditemukan personal higyne yang kurang, nampak kusut & tidak terpelihara.
3. Neurosensori
Riwayat perubahan fungsi neurosensori selama paling kurang 6 bulan, termasuk
fase aktif dari gejla psikotik paling kurang selama 2 minggu. Laporan keluarga
tentang gejala psikologis ( terutama pada pikiran & persepsi) dan semakin buruk
dari gejala fungsi sebelumnya.
Yang perlu dikaji pada status neurosensori yaitu :
a. Pikiran : hilangnya kemapuan untuk menghubungkan sesuatu
b. Persepsi : halusinasi, ilusi
c. Afek : tumpul, datar, tidak sesuai, tidak tepat
d. Kemauan : tidak dapat memulai sesuatu sendiri atau berpartisipasi dalam
kegiatan yang berorientasi tujuan
e. Kapasitas untuk berhubungan dengan lingkungan : kemunduran mental atau
emosi dan isolasi ( autisme) dan atau aktivitas psikomotor dengan rentan
perbedaan yang khas sampai aktivitas tidak bertujuan, stereotype
f. Wicara : seringkali inkoheren, ekolalia mungkin dapat terlihat bahkan alogia (
tidak mapu untuk berbicara)
g. Perilaku : wajah meringis, terlalu sopan, mengeluhkan kesehatannya, menarik
diri secara drastic dan perilaku aneh.
h. Negatifisme : menolak semua petunjuk atau usaha untuk melakukan sesuatu
tanpa motif yang jelas.
i. Rigiditas : postur tubuh dipertahankan kaku meskipun dilakukan usaha untuk
menggerakkan klien
j. Sikap tubuh : sikap tubuh yang ganjil atau tidak pada tempatnya
k. Kegembiraan : aktivitas motorik tanpa tujuan yang tidak disebabkan oleh
stimulus eksternal
l. Emosi : cemas, marah, argumentatif, kekerasan yang tidak berfokus.
4. Pemeriksaan diagnostik
a. CT- Scan
Menunjukkan stuktur abnormalitas otak ( misalnya : atrrofi lobus temporal,
pembesaran ventrikel dengan rasio ventrikel otak meningkat yang dapat
dihubungkan dengan derajat gejala yang dapat dilihat)
b. Pemindai PET ( Positron Emission Tomografi)
Mengukur aktivitas metabolik dari area spesifik otak dan dapat menyatakan
aktivitas metabolic yang rendah dari lobus frontal terutama pada area
prefrontal dari korteks serebral.
c. MRI
Memberikan gambaran otak 3 dimensi, dapat memperlihatkan gambaran
yang lebih kecil dari lobus frontal, atrofi lobus temporal.
d. RCBF ( Regional Cerebral Blood Flow)
Memetakan aliran darah dan menyatakan intensitas aktivitas pada daerah
otak yang bervariasi.
e. BEAM ( Brain Electrical Aktivity Mapping)
Menunjukkan respon gelombang otak terhadap rangsangan yang bervariasi
disertai dengan adanya respon yang terhambat dan menurun kadang-kadang
di lobus temporal dan system limbik
f. ASI ( Addiction Severity Index )
Menetukan masalah-masalah ketergantungan ( ketergnatungan zat) yang
mungkin dikaitkan dengan penyakit mental dan mengindikasikan area
pengobatan yang diperlukan.
g. Uji Psikologi ( misalnya : MMPI)
Menyertakan kerusakan pada suatu area atau lebih
E. Diagnosa Keperawatan
Gangguan proses pikir: waham kebesaran

F. Rencana Tindakan Keperawatan


Tujuan umum: Waham klien terkontrol
Tujuan khusus:
1. Klien dapat Membina Hubungan Saling Percaya
2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
3. Klien dapat mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi
4. Klien dapat berhubungan dengan realitas
5. Klien mendapat dukungan dari keluarga
6. Klien dapat menggunakan obat dengan benar

Rencana tindakan keperawatan untuk klien:

1. Bina hubungan saling percaya


Rasional: Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran
hubungan interaksinya
a. Bina hubungan saling percaya (BHSP)
b. Tidak mendukung atau membantah waham klien
c. Yakinkan klien berada dalam keadaan yang aman dan terlindungi
d. Observasi pengaruh waham terhadap aktivitas sehari-hari
2. Identifikasi kemampuan yang dimiliki
Rasional: Dengan mengetahui kemampuan yang dimiliki klien, maka akan
memudahkan perawat untuk mengarahkan kegiatan yang bermanfaat bagi
klien dari pada hanya memikirkannya
a. Jika klien terus menerus membicarakan wahamnya, dengarkan tanpa
memberikan dukungan atau menyangkal sampai klien berhenti
membicarakannya
b. Berikan pujian bila penampilan dan orientasi klien sesuai dengan realitas
c. Diskusikan dengan klien kemampuan realistis yang dimilikinya pada saat
yang lalu dan saat ini
d. Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuan
yang dimilikinya
3. Identisikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi
Rasional: Dengan mengetahui kebutuhan klien yang belum terpenuhi perawat
dapat merencanakan untuk memenuhinya dan lebih memperhatikan
kebutuhan klien tersebut sehingga klien merasa nyaman dan aman
a. Diskusikan kebutuhan psikologis atau emosional yang tidak terpenuhi
sehingga menimbulkan kecemasan, rasa takut dan marah
b. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan fisik dan
emosional klien
4. Hubungkan klien dengan realitas
Rasional: Menghadirkan realitas dapat membuka pikiran bahwa realita itu
lebih benar dari pada apa yang dipikirkan klien sehingga klien dapat
menghilangkan waham yang ada
a. Berbicara dengan konteks realitas
b. Bila klien mampu memperlihatkan kemampuan positifnya dan berikan
pujian yang sesuai
5. Bantu klien agar dapat menggunakan obat dengan benar
Rasional: Penggunaan obat yang secara teratur dan benar akan
mempengaruhi proses penyembuhan dan memberikan efek dan efek
samping obat
a. Jelaskan pada klien tentang program pengobatan (manfaat, dosis
obat, jenis, efek samping dan cara minum obat yang benar)
b. Diskusikan akibat yang terjadi bila klien berhenti minum obat tanpa
konsultasi

Rencana tindakan keperawatan untuk keluarga:

1. Klien mendapat dukungan dari keluarga


Rasional: Dukungan dan perhatian keluarga dalam merawat klien akan
mambantu proses penyembuhan klien
a. Bina hubungan saling percaya (BHSP) dengan keluarga
b. Diskusikan dengan keluarga tentang waham yang dialami klien
(gejala waham klien)
c. Diskusikan dengan keluarga tentang :
1) Cara merawat klien waham di rumah
2) Follow up dan keteraturan pengobatan
3) Lingkungan yang tepat utk klien
d. Diskusikan dengan keluarga tentang obat klien (nama obat, dosis,
frekuensi,efek samping, akibat penghentian obat)
e. Diskusikan dengan keluarga kondisi klien yang memerlukan
konsultasi segera
f. Beritahu keluarga sumber-sumber pelayanan kesehatan yang
dapat dijangkau
STRATEGI PELAKSANAAN

A. Masalah: Waham Kebesaran

B. Proses Keperawatan
1. Kondisi Pasien
DS : pasien mengatakan bahwa dirinya adalah seorang angota DPR
DO: berperilaku seolah-olah seperti serang pejabat, membusungkan dada,
tertawa sendiri, berbicara sendiri.
2. Diagnosa Keperawatan
Gangguan proses pikir: waham kebesaran
3. Tujuan umum: Waham klien terkontrol
Tujuan Khusus:
a. Klien dapat Membina Hubungan Saling Percaya
b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
c. Klien dapat mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi
d. Klien dapat berhubungan dengan realitas
e. Klien mendapat dukungan dari keluarga
f. Klien dapat menggunakan obat dengan benar

C. Tindakan Keperawatan Pada Klien


1. Strategi pelaksanaan pertemuan pertama
a. Fase Orientasi
1) Salam terapeutik
“Selamat siang pak’
2) Evaluasi atau Validasi
“ Bagaimana kabar bapak hari ini? Bapak hari ini tampak segar sekali?
Sudah makan pagi apa belum? Menunya masih ingat apa tadi ?”
“ Kenalkan, nama saya Eva Suci Rohani, biasa dipanggil Eva. Nama
bapak siapa?, suka dipanggil siapa? O…nama bapak Joko Purnomo,
suka dipanggil pak Joko ya, baiklah.”
3) Kontrak
“Saya mahasiswa Keperawatan Poltekkes Jogja pak, saya bertugas di
sini selama lima hari, saya akan merawat bapak selama saya bertugas di
sini, tiap hari kita akan ketemu dan bincang-bincang”
“ Hari ini kita akan bincang-bincang untuk lebih saling mengenal,
waktunya ± 15 menit cukup tidak pak? Dimana kita bicara? Bagaimana
kalau sambil duduk di teras? Di depan sana pak, ok baiklah kalau begitu.”
b. Fase Kerja
“Bagaimana perasaan dan keadaan pak Joko hari ini?”
“Apakah ada yang dikeluhkan atau ditanyakan sebelum kita berbincang-
bincang? Pak tidak usah khawatir karena kita berada di tempat yang
aman. Saya dan perawat-perawat di sini akan selalu menjadi teman dan
membantu pak Joko” “Pak Joko, bisa saya tahu sekarang identitas
Bapak, baik. alamat, keluarga, hobi atau mungkin keinginan sekarang?”
“Nah karena kita sudah saling mengenal maka sekarang kita berteman,
jadi Pak Joko tidak perlu sungkan lagi bila ada masalah bisa diceritakan
pada saya, Pak Joko mau kan berteman dengan saya?”
“Saya mengerti kalau Bapak merasa bahwa bapak adalah seorang
anggota DPR, tetapi sulit bagi saya untuk mempercayainya karena
setahu saya semua anggota DPR itu bekerja di kantor dari jam 09.00
sampai jam 17.00 WIB,anggota DPR bekerja memakai jas dan dasi”
“Sekarang Bapak ada ditempat yang aman, saya dan keluarga Bapak
akan selalu menemani Bapak.”
“Wah... warna baju yang Bapak kenakan hari ini cocok sekali dengan
warna kulit Bapak ”
“Apa saja harapan Bapak selama ini, bisa Bapak ceritakan kepada saya?”
“Wah... ternyata harapan Bapak cukup banyak ya.”
“Bapak masih ingat siapa nama saya?”
“Bagus sekali Bapak dapat menyebutkan nama saya dengan tepat.
c. Fase Terminasi
1) Evaluasi Subyektif
“ Nah, sekarang coba sebutkan lagi siapa nama saya? Bagus sekali.
Mulai sekarang kalau ketemu saya jangan lupa panggil saya dengan
nama saya ya pak? Bagus.”
“ Wah, bagus sekali, Pak Joko bisa ingat nama saya.”
2) Evaluasi Obyektif
“Saya sangat senang bisa berkenalan dengan Pak Joko dan Pak Joko
sudah bisa mengungkapkan perasaan dengan baik dan mau
berkenalan dan berteman dengan saya. Bagaimana perasaan Pak
Joko setelah berbincang bincang dengan saya?”
3) Tindak Lanjut
“Besok kita ketemu lagi ya? Dan bincang-bincang lagi tentang cara
mempraktekkan membina hubungan dengan orang lain dan
membicarakan kemampuan yang bapak miliki atu hobi yang bapak
suka, jadi sebelum kita bertemu lagi Bapak coba ingat-ingat apa saja
hobi Bapak, tempatnya disini lagi jam 10.30 ya Pak, bagaimana pak
Joko setuju?”
“Baiklah, saya minta pamit dulu, terimakasih, sampai bertemu besok
ya?”

2. Strategi pelaksanaan pertemuan kedua


a. Fase orientasi
“Selamat pagi Bapak, sesuai dengan janji saya kemarin sekarang saya
datang lagi.”
“Apakah Bapak sudah mengingat-ingat apa saja hobi atau kegemaran
Bapak?”
“Bagaimana kalau kita bicarakan tentang hobi Bapak tersebut?”
“Berapa lama Bapak mau kita berbincang-bincang tentang hal tersebut?”
b. Kerja
“Apa saja hobi Bapak?”
“Wah...rupanya juga Bapak pandai melukis batik ya, tidak semua orang bisa
melukis batik lo pak ”
“Bisa Bapak ceritakan kepada saya kapan pertama kali Bapak belajar
melukis batik, siapa yang dulu mengajarkannya kepada Bapak, dimana?”
“Bisa Bapak peragakan kepada saya bagaimana melukis batik itu?”
“Wah...bagus sekali lukisan Bapak.”
“Bagaimana kalau sekarang Bapak teruskan kemampuan melukis batik
tersebut...”
“Coba kita buat jadwal untuk kemampuan Bapak ini ya, berapa kali sekali
sehari atau seminggu Bapak mau melukis batik?”
“Apa yang Bapak harapkan dari kemampuan melukis batik ini?”
“Ada tidak hobi atau kemamapuan Bapak selain melukis batik?”
c. Terminasi
“Bagaimana perasaan Bapak setelah kita bercakap-cakap tentang hobi dan
kemampuan Bapak?”
“Setelah ini coba Bapak mulai latihan melukis batik sesuai dengan jadwal
yang kita buat ya dan coba Bapak ingat-ingat apa saja obat yang Bapak
minum selama ini.”
“Besok siang pukul 14.00 WIB saya akan kembali mengunjungi Bapak ya?”
“Nanti kita akan membicarakan tentang obat yang harus Bapak minum,
setuju?”

3. Strategi pelaksanaan pertemuan ketiga


a. Fase orientasi
“Selamat siang pak, sesuai dengan janji saya kemarin pagi, sekarang saya
datang lagi.”
“Bagaimana Bapak sudah ingat apa saja obat yang selama ini Bapak
minum?”
“Sesuai dengan janji kita kemarin bagaimana kalau sekarang kita
membicarakan tentang obat yang Bapak minum?”
“Dimana kita mau berbicara?”
“Berapa lama Bapak mau kita berbicara?”
b. Fase kerja
“Bapak perlu minum obat ini agar pikirannya jadi tenang, dan tidurnya juga
tenang.”
“Obatnya ada tiga macam pak, yang warnanya orange namanya CPZ, yang
putih ini namanya THP, dan merah jambu ini namanya HLP, semuanya ini
harus Bapak minum 3 kali sehari, setiap jam 7 pagi, 1 siang dan 7 malam.”
“Bila nanti setelah minum obat mulut Bapak terasa kering, untuk
mengatasinya Bapak bisa mengisap-isap batu.
“Bila terasa mata berkunag-kunang, sebaiknya istirahat dan jangan
beraktivitas dulu.”
“Sebelum minum obat ini, Bapak lihat dulu label dikotak obat. Apakah benar
nama Bapak tertulis di sana, berapa dosis yang harus diminum, jam berapa
saja harus di minum. Baca juga apakah nama obatnya sudah benar.”
“Bapak, obat-obat ini harus diminum secara teratur dan kemungkinan besar
harus Bapak minum dalam waktu yang lama. Sebaiknya Bapak tidak
menghentikan sendiri obat yang harus diminum sebelum berkonsultasi
dengan dokter.”
c. Fase terminasi
“Bagaimana perasaan Bapak setelah kita bercakap-cakap tentang obat
yang Bapak minum?”
“Setelah ini coba Bapak minum obat sesuai dengan yang saya ajarkan
tadi.”
“Dua hari lagi saya akan kembali mengunjungi Bapak ya?”
“ Nanti saya akan bicara dengan istri Bapak.”
“Bagaimana bu, bisa kita ketemu dua hari lagi untuk membicarakan cara
merawat Bapak Joko dirumah?”
“Bagaiman kalau waktunya seperti sekarang ini saja, ibu setuju?”

B. Tindakan Keperawatan Pada Keluarga Klien


1. Strategi pelaksanaan
a. Fase Orientasi
“Selamat siang Bu, sesuai dengan janji saya dua hari yang lalu sekarang
saya datang lagi.”
“Bagaiman bu, apakah Bapak sudah minum obat secara teratur?”
“Sesuai dengan janji kita dua hari yang lalu bagaimana kalo kita
membicarakan tentang bagaimana cara merawat Bapak dirumah?”
“Dimana kita mau berbicara dan berapa lama ibu mau kita berbicara?”
b. Fase Kerja
“Baiklah Bu, saya akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai keadaan
Bapak, jadi Bapak mengalami suatu gangguan jiwa yang disebut waham.
Waham itu adalah keyakinan yang tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi
dipertahankan dan tidak dapat diubah secara logis oleh orang lain“.
“Bu sebaiknya ibu tidak perlu khawatir dalam menghadapi sikap Bapak
yang selalu mengaku-ngaku sebagai seorang anggota DPR. Hal yang
harus Ibu lakukan adalah setiap kali bapak berkata seperti itu, Ibu dapat
menanggapinya dengan: Ibu mengerti Bapak merasa bahwa Bapak adalah
seorang anggota DPR, tetapi sulit untuk Ibu mempercayainya karena
setahu Ibu semua anggota DPR itu bekerja di kantor dari jam 09.00 sampai
jam 17.00 WIB,anggota DPR bekerja memakai jas dan dasi, bisa kita
lanjutkan tentang kemampuan-kemampuan yang pernah Bapak miliki?”
“Bagaiman kalo dicoba lagi sekarang?” (jika Bapak bersedia mencoba istri
dapat memberi pujian.
“Lalu Ibu juga harus lebih sering memuji Bapak jika ia melakukan hal-hal
yang baik ya.”
“Hal-hal ini sebaiknya dilakukan oleh seluruh keluarga yang berinteraksi
dengan Bapak.”
“Bu Bapak perlu obat ini agar pikirannya lebih tenang sehingga, dapat tidur
dengan nyenyak.”
“Obat ini harus diminum secara teratur setiap hari dan jangan dihentikan
sebelum berkonsultasi sebelum berkonsultasi dengan dokter karena akan
menyebabkan Bapak kambuh kembali.”
(libatkan keluarga saat memberi penjelasan obat kepada klien.)
c. Fase terminasi
“Bagaimana perasaan Ibu setelah kita bercakap-cakap tentang keadaan
Bapak di rumah?”
“Setelah ini coba Ibu lakukan apa yang sudah saya jelaskan tadi dan
tolong bantu Bapak dalam minum obat sesuai yang saya ajarkan tadi.”
“Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang
ditampilkan oleh Bapak misalnya, mengaku sebagai anggota DPR terus-
menerus dan tidak memperlihatkan perbaikan, menolak minum obat atau
memperlihatkan perilaku yang membahayakan orang lain. Jika hal ini
terjadi segera hubungi saya atau hubungi nomor ini 085123456789.
“Kalau begitu saya permisi Bu”.
DAFTAR PUSTAKA

Keliat Budi Ana. 1999. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Edisi I. Jakarta : EGC

Doenges, M.E. 2006. Rencana Usaha Keperawatan Psikiatri edisi 3. Jakarta: EGC

Dorland. 1998. Kamus Saku Kedokteran. Jakarta: EGC

Townsend, M.C. 1998. Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri edisi 3. Jakarta:
EGC