You are on page 1of 5

NAMA : DOBBY ALDINATHA JUCE

NIM :P07220116010

Adapun masalah – masalah yang dapat membahayaakan pribaidi, pisikologi,


dan kesejahtraan pada pekerja yang sering terjadi antara lain:

1. Pelecehan dan penganiayaan


Pelecehan mengacu pada berbagai perilaku yang tidak diinginkan dan
dianggap sebagai gangguan termasuk menganiaya, memaksa, mengganggu,
mengintimidasi dan menghina orang lain karena ras, usia, kecacatan, atau
jenis kelamin. Dalam segala bentuk, umumnya pelecehan terjadi karena
perbedaan dalam kekuatan misalnya seseorang (atau sekelompok orang)
dengan kekuasaan atau wewenangnya melecehkan seseorang yang
mempunyai posisi kurang kuat. Sering pelaku pelecehan melakukan tindak
pelecehan dengan caranya dan tidak peduli terhadap dampak yang terjadi
pada korban. Mereka percaya bahwa korban dalam posisi yang lemah, harus
siap dengan perilaku ini. Dalam kasus lain pelaku pelecehan sepenuhnya
menyadari dampak buruk tingkah lakunya dan ini dapat menjadi bagian dari
penyebab korban keluar dari pekerjaannya.
Pelecehan biasanya serangkaian insiden, bukan satu peristiwa dan mungkin
mencakup:
a. memukul atau mendorong.
b. berteriak, mengejek atau mengolok-olok orang.
c. mengancam untuk memberikan penilaian kinerja yang buruk.
d. menolak makan dengan seseorang.
e. kritik oleh seorang manajer secara publik.
f. memindahkan pekerja karena memiliki HIV.

2. Pelecehan seksual
Pelecehan seksual adalah perlakuan yang tidak diinginkan yang bersifat
seksual, atau berdasarkan jenis kelamin, mempengaruhi martabat
perempuan dan laki-laki di tempat kerja.
Pelecehan seksual bisa melibatkan segala sesuatu yang bersifat gender dan
tindakan seksual yang tidak diinginkan. Misalnya:
a. Penyerangan dan pemerkosaan seksual di tempat kerja-merupakan
pelecehan seksual dalam bentuk yang paling menonjol.
b. Pelecehan fisik, termasuk mencium, menepuk, menyentuh, atau mencubit
dengan cara seksual.
c. Pelecehan verbal , termasuk komentar yang tidak diinginkan tentang,
kehidupan penampilan pribadi atau badan seseorang , penghinaan dan
merendahkan didasarkan pada jenis kelamin seseorang dan lelucon
dicerita-kan dalam cara yang ofensif.
d. Sebuah permintaan untuk melakukan hubungan seks dengan imbalan
manfaat pekerjaan (kenaikan upah, promosi atau kesempatan pelatihan,
dll) atau hanya untuk menjaga pekerjaan korban. Bentuk pelecehan
seksual juga merupakan penyalahguna-an wewenang oleh majikan (atau
agen majikan) dan kadang-kadang digambarkan sebagai pemeras seksual.

3. HIV/AIDS Di Tempat Kerja


Kasus HIV/AIDS terdapat kecenderungan jumlahnya meningkat dari waktu
ke waktu. Jumlah kasus HIV/AIDS sebagian besar terdapat pada kelompok
usia kerja produktif yang akan berdampak negatif terhadap produktivitas
perusahaan. Maka untuk mengantisipasi dampak negatif dari kasus
HIV/AIDS di tempat kerja diperlukan upaya pencegahan dan
penanggulangan yang optimal.

4. Narkoba Di Tempat Kerja


Dari sekitar 4,2 juta penyalahguna narkoba di Indonesia, 70% penyalahguna
(setara dengan 2.940.000 orang) berada di tempat kerja. Penyalahgunaan
narkoba di tempat kerja, menimbulkan berbagai permasalahan baik terhadap
diri penyalahguna, terhadap kolega, dan pimpinan tempat kerja. (Hasil
Penelitian BNN dan Puslitkes UI, tahun 2011)

Beberapa faktor penyebab terjadinya penyalahgunaan narkoba di


lingkungan kerja, anatar lain karena pergantian waktu tugas (shiftwork),
resiko tinggi pekerja mengalami kecelakaan atau sakit di tempat kerja, ,
sangat bising, dan tidak terancang dengan baik, kesulitan mengoperasikan
peralatan, tekanan persyaratan untuk memenuhi target, kewajiban
(deadlines) yang ketat, pekerja takut kehilangan pekerjaan, konflik dengan
kolega kerja, konflik dengan kelompok pekerja, dengan atasan, dan dengan
supervisor, diperlakukan diskriminasi, dan prasangka, adanya tekanan dari
kelompok pekerja, bermasalah dalam hubungan perkawinan, bermasalah
dalam hubungan personal dan bermasalah dalam keuangan.
Adapun dampak dari penyalah gunaan narkoba di lingkungan kerja anntara
lain: meningkatnya jumlah pekerja yang terlambat masuk kerja, tidak masuk
kerja (absenteeism), menurunnya produktifitas kerja, mengalami kesulitan
dalam mengoperasikan peralatan, tidak bisa konsentrasi, sulit membuat
keputusan, dan sulit menangani situasi yang kompleks, meningkatkan resiko
kecelakaan, selain itu juga menurunkan tingkat kesehatan.
1. Pencegahan dan Penanganan Masalah – Masalah risiko pribadi
dan pisikologis pada pekerja

1. Pelecehan dan penganiayaan serta pelecehan seksual


a. Waspada dan sadar
Pelecehan bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Semua orang di
tempat kerja perlu menyadari risiko dan tanda-tanda, dan siap untuk
melaporkannya. Pelecehan seksual adalah salah satu bentuk yang paling
umum dari pelecehan tetapi paling sedikit dilaporkan.
b. Mengambil tindakan untuk mengurangi risiko pelecehan
Tindakan mengurangi isolasi dapat membantu, seperti meningkatkan
pencahayaan di daerah yang temaram dan tidak memposisikan
kemungkinan korban pelecehan (seksual) di daerah terpencil di
perusahaan. Namun, yang paling efektif, tindakan perlu berdampak pada
peleceh potensial, yang berarti meningkatkan kesadaran dan
menunjukkan toleransi nol.
c. Menyediakan konseling dan dukungan
Konseling yang tepat dapat membantu para korban, sehingga perusahaan
dapat membantu pekerja dengan memberikan rincian kontak dari
organisasi-organisasi yang menyediakan konseling. Mengembangkan
kebijakan menggabungkan aturan kerja dan keluhan yang transparan dan
prosedur investigasi yang:
1) Mendefinisikan pelecehan dengan jelas, termasuk pelecehan seksual,
dan membuat jelas bahwa pelecehan tidak akan ditoleransi.
2) Menetapkan bahwa setiap pekerja berhak untuk diperlakukan dengan
hormat di tempat kerja
3) Menyediakan bagi individu untuk mengambil peran 'focal point'untuk
kasus-kasus pelecehan seksual, untuk memastikan bahwa para korban
mendengarkan dengan sensitivitas.
4) Jadilah subyek konsultasi dengan pekerja dan manajer dan berbagi
dengan semua staf dan semua rekrutan baru.
5) memberi perhatian manajer dan supervisor dan membuat jelas mereka
memiliki tugas untuk melaksanakan kebijakan dan akan diajarkan
bagaimana.
d. Tentukan prosedur yang harus diikuti jika insiden terjadi atau diduga. Ini
harus mencakup:
1) Sebuah proses langkah-demi-langkah untuk penanganan dan
menyelidiki keluhan dengan batas waktu pada setiap langkah.
2) Prosedur banding, pihak sehingga tidak puas (korban atau terdakwa)
dapat mengajukan banding hasil investigasi kepada otoritas yang lebih
tinggi.
3) Hapus aturan disiplin yang menyatakan hukuman yang akan
dikenakan jika keluhan ditemukan dibenarkan.

2. HIV/AIDS Di Tempat Kerja


Untuk melaksanakan upaya pencegahan dan penangglangan HIV/AIDS di
tempat kerja, pengusaha wajib:
a. Mengembangkan kebijakan tentang upaya pencegahan dan
penanggulangan HIV/AIDS.
b. Mengkomunikasikan kebijakan dengan cara menyebarluaskan informasi
dan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan.
c. Memberikan perlindungan kepada Pekerja/Buruh dengan HIV/AIDS dari
tindak dan perlakuan diskriminasi.
d. Menerapkan prosedur K3 khusus untuk pencegahan dan penanggulangan
HIV/AIDS sesuai denganperaturan perundang-undangan dan standar
yang berlaku.

Untuk petugas P3K di tempat kerja dalam memberikan pertolongan pertama


harus memperhatikan Universal Precaution, dimana bertujuan untuk
mengurangi risiko infeksi terutama yang ditularkan melalui darah dan cairan
tubuh tanpa membedakan status infeksi yang dapat dicapai dengan:

a. Hindari kontak langsung dengan darah/cairan tubuh korban dengan


menggunakan APD secara memadai.
b. Cuci tangan sebelum dan segera sesudah melakukan tindakan dengan air
mengalir dan sabun atau anti septik lainnya.
c. Bersihkan segera ceceran darah/cairan tubuh korban secepat mungkin
dengan disiram antiseptik, dan buang ke tempat pembuangan khusus dan
dianggap sebagai limbah berbahaya karena bersifat infeksius.
d. Pakaian dan peralatan yang kontak dengan darah/cairan tubuh korban
segera direbus/direndam air panas minimal 80 ͦC.

status HIV seseorang pekerja tidak boleh menyebabkan ia mengalami


diskriminasi di tempat kerja. Apalagi menjadi alasan untuk diberhentikan
dari pekerjaannya. Karena HIV/AIDS tidak akan menular kepada pekerja
lain dalam hubungan sosial sehari-hari dalam lingkungan kerja.
Upaya-upaya pencegahan HIV dan AIDS di tempat kerja akan dapat
mencegah penularan HIV terhadap para pekerja dan melakukan upaya-
upaya pendidikan kesehatan pada semua pekerja sehingga tetap produktif.
3. Narkotika di tempat kerja
Untuk mencegah dan menanggulangi pengaruh buruk terhadap kesehatan,
ketertiban, keamanan dan produktivitas kerja akibat penyalahgunaan dan
peredaran gelap narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya di tempat
kerja diperlukan upaya pencegahan dan penangggulangan yang optimal,
serta peran aktif pihak pengusaha dan pekerja.

Upaya aktif dari pihak pengusaha dalam pencegahan dan penanggulangan


penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, psikotropika dan zat adiktif
lainnya di tempat kerja adalah dengan penetapan kebijakan serta
penyusunan dan pelaksanaan program.

Narkoba dapat mempengaruhi kondisi kesehatan dan mengakibatkan


kecelakaan serta penurunan produktivitas. Dengan upaya pencegahan dan
penanggulangan penyalahgunaan Narkoba di tempat kerja maka pekerja
dapat terhindar dari bahaya naarkoba sehingga selalu sehat dan tetap
produktif.